1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Investasi merupakan suatu alternatif untuk menambah nilai aset kita di masa yang akan datang serta salah satu strategi untuk meminimalisir risiko inflasi.
Karena dengan berinvestasi kita akan mendapatkan return atas aset yang kita investasikan pada sebuah instrumen investasi yang kita pilih, salah satu instrumen investasi yang memberikan return cukup tinggi adalah investasi di saham yang mana sifatnya high risk-high return. Saham merupakan instrumen investasi di pasar modal yang memberikan imbal hasil (return) dan risiko (risk) paling tinggi dibandingkan yang lainnya. (Yuliah et al., 2019). Saham juga merupakan tanda kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.
Artinya jika seseorang atau badan memiliki saham suatu perusahaan maka seseorang atau badan tersebut tercatat sebagai pemilik perusahaan tersebut dan berhak untuk ikut andil dalam menyampaikan suaranya yang berkaitan dengan setiap kebijakan yang akan diambil oleh perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Sebelum seorang investor memutuskan untuk membeli saham suatu perusahaan, tentu harus melakukan analisa terlebih dahulu terhadap saham perusahaan yang akan masuk kedalam portofolionya tersebut mengingat saham memiliki sifat high risk-high return yang artinya disamping memberikan return yang tinggi akan tetapi disisi lain saham juga memiliki risiko yang tinggi pula, maka dengan melakukan analisa terlebih dahulu investor dapat meminimalisir risiko yang akan dihadapinya. Terdapat dua teknik analisis yang biasa dipakai oleh investor untuk mengetahui apakah suatu saham layak dibeli pada saat tertentu atau tidak yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal (Yuliah et al., 2019). Analisis fundamental merupakan analisis yang menilai suatu perusahaan dari berbagai faktor baik dari prospek bisnis, analsisis industri, maupun analisis mikro dan makro
ekonomi untuk mengukur bahwa saham tersebut dalam kondisi undervalued (murah) atau dalam kondisi overvalued (mahal), analisis ini biasanya digunakan untuk waktu jangka panjang (long-term). Sedangkan analisis teknikal merupakan analisis yang menggunakan data history pergerakan harga saham sebelumnya untuk menilai bahwa saham tersebut dalam kondisi overbought (jenuh beli) atau dalam kondisi oversold (jenuh jual), biasanya analisis ini digunakan untuk waktu jangka pendek.
Analisis fundamental digunakan untuk mengetahui valuasi saham, berapa nominal rupiah saham itu layak dihargai (Pratama et al., 2014). Sehingga dengan melakukan valuasi menggunakan analisis fundamental kita akan mengetahui harga wajar suatu saham (intrinsic value of stock). Untuk menentukan harga wajar saham tersebut maka analisis fundamental pada penelitian ini menggunakan metode Dividen Discount Model (DDM) dan Price Earning Ratio (PER)
Setelah mengetahui nilai intrinsik dari suatu saham maka investor dapat membandingkan dengan harga pasarnya, sehingga investor dapat menyimpulkan dan menilai apakah saham tersebut berada dalam kondisi overvalued (mahal) atau undervalued (murah). Overvalued merupakan suatu kondisi dimana nilai pasar lebih besar dibanding nilai intrinsiknya maka saham tersebut dapat dikatakan dalam kondisi mahal, sedangkan undervalued merupakan suatu kondisi dimana nilai intrinsiknya lebih besar dibanding nilai pasarnya maka saham tersebut dapat dikatakan dalam keadaan murah. Sehingga ketika saham tersebut dalam kondisi undervalued maka akan mendorong investor untuk membeli (buy) atau menahan (hold) saham tersebut dengan harapan nilai pasarnya akan bergerak mendekati nilai intrinsiknya dengan demikian investor akan mendapatkan return sesuai analisanya tersebut, sedangkan apabila suatu saham berada dalam kondisi overvalued maka cenderung akan mendorong investor untuk melakukan aksi jual (sell) terhadap saham tersebut, karena nilai pasarnya lebih mahal dibanding nilai intrinsiknya.
Sejak masuknya covid-19 ke indonesia pada bulan januari 2020 dan pengumuman dari World Health Organization (WHO) terkait pandemi covid-19 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami penurunan bahkan sampai ke level terendahnya ditahun 2020 yaitu pada tanggal 24 Maret 2020 yang mencapai
3.938. Level ini juga merupakan level terendah jika dibandingkan dengan lima tahun terakhir. Berikut grafik return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode 31 Januari 2011 sampai 29 Januari 2021 :
Gambar 1.1 Grafik Return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Sumber: Indonesian Stock Exchange (IDX)
Dengan melihat grafik tersebut, kita dapat melihat bahwa ketika pandemi covid-19 ini berlangsung IHSG terkoreksi cukup dalam, artinya banyak saham-saham yang mengalami koreksi yang cukup dalam pula termasuk consumer goods sector. Maka penelitian ini dilakukan untuk mencari harga wajar saham pada Sektor Consumer Goods Industry yang mana sektor ini merupakan sektor yang dapat dikategorikan Defensive karena setiap emiten yang berada didalamnya memiliki produk yang dibutuhkan oleh setiap orang dan biasa dikonsumsi atau digunakan sehari-hari, serta jika dilihat pada periode 2009-2019 sektor Consumer Goods Industry memiliki return lebih tinggi dibandingkan dengan indeks LQ45 maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yaitu sebesar 205,77% (IDX Fact Sheet Consumer Goods, 2019) yang dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 1.2 Grafik Return Saham Sektor Consumer Goods Industry 2009-2019 Sumber: Indonesian Stock Exchange (IDX)
Dengan demikian Sektor Consumer Goods Industry dapat dikatakan menarik untuk menjadi pilihan para ivestor untuk berinvestasi saham, namun perlu untuk kita ketahui harga wajar sahamnya terlebih dahulu kemudian dibandingkan dengan harga sekarang saat pandemi covid-19 apakah sudah dalam kondisi undervalued (murah) ataukah masih overvalued (mahal) dan menjadi bahan pertimbangan dalam memutuskan investasi di masa pandemi covid-19. Maka judul dari penelitian ini adalah “Analisis Dividen Discount Model (DDM) dan Price Earning Ratio (PER) dalam Menentukan Harga Wajar Saham”
1.2 Rumusan Masalah
Menurut Alhazami (2020:139) Pada saat pandemi covid-19 melakukan valuasi harga saham atau menilai harga wajar saham merupakan hal yang dibutuhkan dengan tujuan agar mengurangi risiko kerugian. Terjadinya pandemi covid-19 membuat pasar modal global bergejolak termasuk pasar modal indonesia yang pada tanggal 24 Maret 2020 menyentuh level terendahnya dibandingkan lima tahun terakhir yaitu mencapai 3.938. Maka penelitian ini untuk menilai harga wajar saham sektor consumer goods industry pada masa covid-19.
Berdasarkan Masalah yang telah dijelaskan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah harga saham pada sektor Consumer Goods Industry dimasa pandemi covid-19 ini sudah termasuk undervalued atau overvalued?
2. Apakah Metode Dividen Discount Model (DDM) atau Price Earning Ratio (PER) yang menjadi metode terbaik dalam menentukan harga wajar saham?
3. Bagaimana keputusan investasinya berdasarkan dengan kondisi saham setelah nilai intrinsiknya diketahui?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui kondisi saham yang berada pada sektor Consumer Goods Industry dimasa pandemi termasuk undervalue atau overvalue.
2. Untuk menentukan metode Dividen Discount Model (DDM) atau Price Earning Ratio (PER) yang menjadi metode terbaik dalam menentukan harga wajar saham pada sektor Consumer Goods Industry.
3. Untuk menentukan keputusan investasinya sesuai dengan kondisi saham setelah nilai intrinsiknya diketahui.
1.4 Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini diselesaikan semoga dapat memberikan manfaat bagi pembaca diataranya:
1. Manfaat Teoritis
Bisa menjadi dasar dalam mengembangkan ilmu valuasi saham untuk mencari nilai wajar saham, khususnya dalam menganalisa suatu saham menggunakan analisa fundamental.
2. Manfaat Praktis
Metode dalam penelitian ini diaharapkan dapat menjadi referensi serta menambah wawasan dalam hal menentukan nilai wajar saham suatu perusahaan yang kemudian menjadi bahan pertimbangan untuk memutuskan investasi dimasa pandemi covid-19.
1.5 Sistematika Penulisan Skripsi
Adapun sistematika penulisan skripsi pada penelitian ini tentu sesuai dengan aturan sistematika penulisan yang telah ditetapkan oleh pihak Universitas Pelita Bangsa, maka dapat ditentukan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan menjelaskan landasan teori dari variabel penelitian yaitu teori harga wajar saham, Dividend Discount Model (DDM) dan Price Earning Ratio (PER)) serta penelitian-penelitian terdahulu yang relevan.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini akan dijelaskan tentang jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, kerangka konsep yang meliputi desain penelitian dan deskripsi operasional variabel penelitian, menjelaskan tentang populasi dan sampel penelitan, metode pengumpulan data, metode analisis data yang meliputi tahap pengolahan data kuantitatif dan tahap pengujian instrumen penelitian.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan menjelaskan mengenai hasil penelitian yang terdiri analisis data dan pembahasan.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini menjelaskan tentang kesimpulan dan saran bagi pihak- pihak yang terkait seperti saran bagi penelitian selanjutnya agar lebih baik lagi dan diakhiri dengan daftar pustaka serta lampiran-lampiran.