6 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Didalam Penelitian berikut yang dilaksanakan Hasyim (2019) mengenai analisis harga pokok produksi memakai metode full costing, bahwa metode full costing memasukan unsur biaya produksinya seperti penentuan biaya bahan bakunya, harga pokok produksi, biaya overhead pabrik serta biaya tenaga kerja langsung. Didalam penelitiannya menunjukkan bahwa perusahaan didalam menentukannya harga pokok produksi cuma perkiraan saja. Sehingga hal ini mengakibatkan kesalahan perhitungan terhadap keuntungan yang diperoleh bahkan dapat mengalami kerugian. Dalam menentukan harga pokok produksi perusahaan cuma memasukan biaya bahanbaku dan biaya tenaga kerja tanpa memperhitungkan biaya penyusutan serta biaya overhead. Maka dari itu perusahaan memperhitungkan harga pokok produksi dengan baik serta benar supaya bisa menentukannya harga jual sesuai dengan target laba dan dapat bersaing dengan perusahaan pesaing lainya. Selanjutnya supaya bisa mengikuti perubahannya dari harga kacang kedelai yang tak stabil. Alangkah baiknya perusahaan melaksanakan perhitungan harga pokok produksi, hingga biaya dari produksi bisa di ketahui secara tepat serta benar. Dengan perhitungan harga pokok hingga harga jual bisa ditentukannya secara tepat hingga perusahaan tak terkena kerugian serta dapat menganalisis perencanaan keuntungan yang akan digunakan.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Hassanah & Daud (2019) mengenai perencanaan keuntungan Cost volume profit ialah alat yang cukup bermanfaat dalam perencanaan serta pengambilan keputusan menekankan kuantitas yang terjual, harga jual, keterkaitan antara biaya serta informasi keuangan yang ada diperusahaan. Dalam penelitan Hassanah & Daud (2019) perusahaan harus melakukan pembatas diantara biaya variabel ataupun biaya tetap yang ada pada tiap UMKM secara teliti misalnya biaya penyusutannya, biaya
perawatan mesin serta biaya lain-lain. Hasil penelitian membuktikan biaya variabel yang dikeluarkannya cukup besar dibandingkan biaya tetapnya. Biaya variabel akan memberi pengaruh kepada besar ataupun kecil keuntungan kontribusi. Sehingga perlu adanya pemisahan biaya serta perincian biaya lain yang belum dihitung oleh perusahaan serta pemisahan-pemisahan diantara biaya variabel serta biaya tetap.
Berdasarkan penjabaran dari penelitian sebelumnya, peneliti akan melakukan penelitian mengenai penentuan harga pokok produksi serta anlisis cost volume profit pada UKM Tahu Santoso sehingga diperoleh rumusan masalah penentuan harga pokok produksi bagi UKM dan perencanaan laba untuk perusahaan kedepanya.
B. Tinjauan Pustaka
1. UKM dan UMKM Beserta Kriterianya
UMKM ialah singkatan dari Usaha Mikro, Kecil hingga Menengah.
Sedangkan UKM ialah singkatan dari Usaha Kecil Menengah. Didalam perekonomian indonesia peran UKM sangat penting karena UKM dapat menyediakan lapangan pekerjaan lebih banyak dibandingkan dengan usaha besar.
Tidak hanya itu saja, peran UKM dalam PDB (Produk Domestik Bruto) juga lebih besar dibandingkan dengan usaha skala besar. Sesuai datanya Kementrian Koperasi serta UKM dikuartal awal 2021 tercatat sejumlah Usaha Kecil Menengah diindonesia ada 64.2 juta. Kontribusi kepada PDB hingga 61.07%
ataupun bernilai Rp 8.573,89triliun. UKM serta UMKM juga bisa menyerap 97%
dari total tenaga kerja serta menghimpunan 60.4% dari totalnya investasi.
Dengan yang ada diundang-undang N0.20 ditahun 2008, UKM ataupun Usaha Kecil Menengah terbagi jadi 3 kelompok, yakni Mikro, Kecil, hingga Menengah. Pertama, usaha mikro merupakan usaha didirikan oleh perorangan serta badan usaha milik perorangan usaha mikro mempunyai penghasilan tahunan
dibawah Rp.300 juta. Jumlah tenaga kerjayang dimiliki oleh usaha mikro berjumlah 1 sampai dengan 5 tenaga kerja.
Kedua, usaha kecil ialah bentuk usaha yang didirikannya oleh perorangan ataupun berkelompok dan tidak sebagai cabang atau anak perusahaan. Usaha yang masuk kedalam kategori mikro memiliki penghasilan pertahunnya antara Rp.300juta sampai maksimal Rp.2,5milyar. Berdasarkan Badan Pusat Statistik tenaga kerja yang dimiliki oleh usaha kecil sebanyak 6 hinga 19 tenaga kerja.
Ketiga, usaha menengah merupakan usaha dalam ekonomi produktif dengan total kekayaan bersih yang dimiliki berkisar antara Rp.500juta sampai maksimal Rp.10milyar tidak termasuk bangunan serta tanah. Hasil penjualan yang diperoleh usaha menengah sejumlah minimal Rp.2,5milyar dan maksimal Rp.50milyar.
2. Pengertian dan Klasifikasi Biaya
Biaya ialah sesuatu hal yang cukup penting serta wajib dikeluarkan saat menjalankan suatu usaha. Suatu perusahaan memerlukan biaya agar dapat mempertahankan tujuan serta menentukan besaran keuntungan yang dibutuhkan perusahaan.
Mursyidi (2008) mengatakan biaya adalah bentuk pengorbanan sumber ekonomi tidak memiliki wujud maupun bisa diukurnya didalam satuan uang, yang sudah terjadi ataupun akan terjadi buat mencapainya tujuan tertentu. Biaya ialah engorbanan ataupun pengeluaran oleh perseorangan atau perusahaan yang memilikk tujuan mendapatkan manfaat dari aktivitasnya yang dilaksanakan tersebut (Raharjaputra, 2009). Hansen dan Mowen (2006) mengatakan biaya merupakan nilai kas yang dikorbankannya buat dapat barang ataupun jasa yang diharapkannya dapat memberikan manfaat saat ini ataupun dimasa yang mendatangv untukperusahaan.
3. Harga Pokok Produksi
Didalam menjalankan suatu usaha, harga pokok produksi termasuk didalam elemen penting. Harga pokok produksi menuntun dalam pengambilan
keputusan mengenainya strategi produk dan harga produk. Harga pokok produksi membantu untuk pengendalian, perencanaan, penetapan harga dan untuk menilai persediaan.
Menurut Mulyadi (2013) Harga pokok produksi ialah biaya yang dibebankan didalam pengelolaan bahan baku serta proses produksi dalam pembuatan produk. Menurut penjelasan lain Nafarin (2009) harga pokok produksi ialah keseluruhannya biaya yang ada kaitannya dengan barang (produk) yang didapatkan, dan didalam adanya unsur biaya produk yang berbentuk biaya overhead pabrik , biaya bahan baku, serta biaya tenaga kerja langsung.
4. Metode Perhitungan Full Costing
Metode full costing ialah metode penentuan biaya produksi dengan memasukkan semuanya unsur biaya produksi didalam perhitungan biaya komoditas (Mulyadi, 2012). Ketika menghitungnya biaya produksi memakai metode full costing maka mencakup biaya bahan baku variabel dan tetap, biaya tenaga kerja langsung serta biaya overhead pabrik. Biaya yang ditentukan menakai metode full costing terdiri dari biaya produksi seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik tetap dan variabel dan biaya non produksi seperti biaya manajemen umum dan pemasaran. Untuk melakukan perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode full costing maka dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Biaya bahan baku Rp. –
Biaya tenaga kerja Rp. –
BOP Variabel Rp. –
BOP tetap Rp. – +
HPP Rp. –
5. Metode Perhitungan Variabel Costing
Perhitungan harga pokok produksi dengan memakai metode variabel costing ialah penentuan harga pokok produksi yang cuma memperhitungkannya
biaya yang bersifat variabel. Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah-ubah dengan cara lurus degan perubahan jumlah produksi.
Didalam metode variable lcosting, memakai pendekatan perilaku yang memiliki arti perhitungan harga pokok produksi serta penyajian didalam laba rugi di dasarkannya atas prilaku biaya-biayanya. Biaya yang dibebankannya didalam metode berikut ialah biaya non produksi. Berikut perhitungan harga pokok produksi dengan memakai metode variabel costing :
Biaya bahan baku Rp. –
Biaya tenaga kerja Rp. –
BOP Variabel Rp. – +
HPP Rp. –
Mulyadi (2009) menjelaskan, metode variabel costing berfungsi dalam keadaan sebagai berikut :
a. Berfungsi pada saat perencanaan laba jangka pendek
b. Berfungsi untuk mengetahui apakah ada ketidaksesuaian biaya dari rencana biaya yang telah ditentukan sebelumnya
c. Berfungsi dalam mengambil keputusan, hal ini dikarenakan biaya yang dilaporkan pada variabel costing akan mengalami perubahan sesuai dengan volume kegiatan.
6. Harga Jual
Harga jual merupakan beban jumlah konsumen ataupun pelanggan atas barang maupun jasa yang dijual ataupun disediakan oleh suatu unit usaha (Supriyono, 2013). Harga jual ditentukannya untuk menentukan harga pokok produksi barang dan tingkat keuntungan yang ditargetkan.
7. Analisis CVP
Analisis Cost Volume Profit membantu didalam merencanakan keuntungan bisnis dengan melakukan perhitungan yang membutuhkan data
keuangan berupa keuntungan yang dipengaruhi oleh perubahan volume atau biaya penjualan. Menurut Mulyadi (2013), analisis cost volume profit digunakan untuk menghitung dampak perubahan volumenya, biaya dan harga jual terhadap keuntungan perusahaan, membantu mengelola rencana keuntungan jangka pendek.
Analisis cost volume profit memiliki komponen saling berhubungan satu sama lain, diantaranya:
1. Volume penjualan 2. Harga satuan jual 3. Total fixed cost 4. Variable cost per unit
5. Jenis produk atau jasa yang dijual
8. Margin Contribution
Margin kontribusi merupakan total biaya yang tersisa setelah dikuranginya biaya variabel dari total penjualan. Dengan demikian, margin kontribusi merupakan jumlah sisa biaya buat menutupi biaya tetap perusahaan, dan sisa ini merupakan keuntungan bersih perusahaan. Perusahaan akan mengalami kerugian apabila margin kontribusi tak cukup buat menutupi biaya tetap ataupun apabila margin kontribusi cukup rendah dari biaya tetapnya (Garrison et al., 2013).
Rumus yang digunakan dalam perhitungan margin kontribusi ialah sebagai berikut ini :
Margin Kontribusi = Penjualan – Biaya Variabel
9. Break Even Point
Break even point merupakan keadaan bisnis di mana pendapatannya dan biaya yang dikeluarkannya adalah sama. Oleh karena itu break even point membuktikan jumlah pendapatan yang dihasilkan saat keuntungan perusahaan adalah nol (Garrison et al., 2013). Maka, secara kesimpulan, break even point
merupakan tahapan buat mengetahuiny jumlah penjualan serta produksi yang tidak merugi atau untung suatu perusahaan. Artinya total keuntungan yang diperoleh sama dengan total biaya dikeluarkan.
Perhitungan untuk menentukan break even point digunakan rumus sebagai berikut:
Break Even Point =
10. Margin Of Safety
Margin of safety merupakan anggaran yang melebihi titik impas penjualan didalam dolar ataupun aktual diatas titik impas nilai penjualan didalam dolar (Garrinison, et al 2013). Oleh sebab tersebut, margin pengaman digunakan ketika ingin mengetahui seberapa besar penurunan volume penjualan, tetapi ketika perusahaan tak mengalami kerugian. Makin tinggi margin of safety, semakin tinggi resiko perusahaan akan mengalami kerugian kecil ataupun gagal pada titik impas.Perhitungan dalam menentukan margin of safety menggunakan rumus sebagai berikut :
Margin Pengaman = Total penjualan – Penjualan titik impas
11. Leverage Operasi
Leverage operasi merupakan suatu ukuran mengenai sensitivitas keuntungan neto operasi kepada perubahan nilai penjualan. Apabila leverage operasi tinggi hingga peningkatannya presentase yang terkecil dipenjualannya bisa menaikkan keuntungan neto menggunakan jumlah presentase yang jauh cukup besar (Garrison et al., 2013) Maka, leverage operasi merupakan penggunaan porto permanen guna membentuk presentase keuntungan yang cukup tinggi saat kegiatan penjualan meningkat. Makin besar taraf pengungkit operasi
juga makin banyak perubahannya pada kegiatan penjualan yang akan memberikan penaruh pada keuntungan.
DOL =
12. Perencanaan Keuntungan
Rencana keuntungan merupakan pembuatan rencana operasional yang tujuan utamanya adalah untuk mencapai tujuan perusahaannya (Carter, 2009). Salah satunya tujuannya ialah memperoleh keuntungan. Maka dari itu, manajemen wajib bisa mengelola rencana keuntungan secara baik saat mengambil keputusan.
13. Analisis Target Keuntungan
Analisis Target Keuntungan merupakan salah pengunaaan pokok yang penting dari analisis biaya volume keuntungan. Analisis target keuntungan memperkirakan peningkatan penjualan yang diperlukan untuk mencapai target keuntungan yang ditargetkan (Garrisonet al, 2013).
Rumus perhitungan analisis target keuntungan adalah sebagai berikut : Target Keuntungan =