• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT GLOBAL INFOTECH SOLUTION. Laporan Keuangan Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PT GLOBAL INFOTECH SOLUTION. Laporan Keuangan Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

PT GLOBAL INFOTECH SOLUTION

Laporan Keuangan

Untuk Tahun yang Berakhir Pada

31 Desember 2019

(2)

Daftar Isi Halaman

Surat Pernyataan Direksi Laporan Auditor Independen

Laporan Keuangan

Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019

Laporan Posisi Keuangan 1

Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain 2

Laporan Perubahan Ekuitas 3

Laporan Arus Kas 4

Catatan Atas Laporan Keuangan 5 - 26

(3)

Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan

1 Paraf:

PT GLOBAL INFOTECH SOLUTION

LAPORAN POSISI KEUANGAN

Per 31 Desember 2019

(Dalam Rupiah Penuh, Kecuali Dinyatakan Lain)

Catatan 2019 2018

ASET Aset Lancar

Kas dan Bank 3, 21 6.648.960.395 4.862.063.526

Piutang Usaha 4, 20, 21 51.293.544.666 33.909.536.531

Piutang Lain-Lain 5, 20, 21 575.273.740 820.212.269

Persediaan 6 35.713.263.712 38.685.600.100

Pajak Dibayar di Muka 10.a 160.769.379 989.530.098

Uang Muka dan Beban Dibayar di Muka 7 2.759.235.715 450.412.776

Jumlah Aset Lancar 97.151.047.607 79.717.355.300

Aset Tidak Lancar

Aset Tetap 8 9.249.722.201 2.609.975.634

Aset Pajak Tangguhan 10.d 488.777.104 286.138.793

Aset Lain-Lain 9 1.079.135.285 540.102.284

Jumlah Aset Tidak Lancar 10.817.634.590 3.436.216.711

JUMLAH ASET 107.968.682.197 83.153.572.011

LIABILITAS DAN EKUITAS Liabilitas Jangka Pendek

Utang Usaha 11, 20, 21 75.044.555.897 52.850.232.551

Utang Pajak 10.c 246.592.506 179.382.311

Beban Akrual 12, 21 1.826.787.487 7.715.212.827

Utang Sewa Pembiayaan -

Bagian Jangka Pendek 13, 21 888.034.597 45.021.000

Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 78.005.970.486 60.789.848.689

Liabilitas Jangka Panjang Utang Sewa Pembiayaan - Setelah

Dikurangi Bagian Jangka Pendek 13, 21 1.067.764.335 --

Liabilitas Imbalan Pasca-Kerja 14 1.955.108.411 1.144.555.168

Utang Lain-Lain 21 495.687.170 --

Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 3.518.559.916 1.144.555.168

Jumlah Liabilitas 81.524.530.402 61.934.403.857

EKUITAS

Modal Saham - Nilai Nominal Rp100.000 per Saham Modal Dasar - 108.000 Saham

Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh - 4.500 Saham 15 4.500.000.000 4.500.000.000

Saldo Laba 21.944.151.795 16.719.168.154

Jumlah Ekuitas 26.444.151.795 21.219.168.154

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 107.968.682.197 83.153.572.011

(4)

Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan

(Dalam Rupiah Penuh, Kecuali Dinyatakan Lain)

Catatan 2019 2018

Pendapatan 16 155.366.962.179 154.283.463.873

Beban Pokok Pendapatan 17, 20 (123.885.342.353) (129.287.218.104)

Laba Bruto 31.481.619.826 24.996.245.769

Beban Usaha 18 (24.423.817.591) (17.777.602.851)

Laba Usaha 7.057.802.235 7.218.642.918

Beban Lain-Lain - Bersih 19 (98.343.240) (12.566.109)

Laba Sebelum Pajak Penghasilan 6.959.458.995 7.206.076.809

Beban Pajak Penghasilan 10.b (1.726.523.355) (1.888.574.399)

Laba Tahun Berjalan 5.232.935.640 5.317.502.410

Penghasilan (Kerugian) Komprehensif Lain

Pengukuran Kembali atas Program Imbalan Pasca-Kerja 14 (10.602.665) (17.393.038)

Manfaat Pajak Penghasilan Terkait 2.650.666 4.348.260

Jumlah Kerugian Komprehensif Lain (7.951.999) (13.044.778)

Laba Komprehensif Tahun Berjalan 5.224.983.641 5.304.457.632

(5)

Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan

3 Paraf:

PT GLOBAL INFOTECH SOLUTION

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019 (Dalam Rupiah Penuh, Kecuali Dinyatakan Lain)

Modal Saham Saldo Laba Total Ekuitas SALDO PER 31 DESEMBER 2017 4.500.000.000 11.414.710.522 15.914.710.522

Laba Tahun Berjalan -- 5.317.502.410 5.317.502.410

Penghasilan Komprehensif Lain, Setelah Pajak -- (13.044.778) (13.044.778) SALDO PER 31 DESEMBER 2018 4.500.000.000 16.719.168.154 21.219.168.154

Laba Tahun Berjalan -- 5.232.935.640 5.232.935.640

Penghasilan Komprehensif Lain, Setelah Pajak -- (7.951.999) (7.951.999) SALDO PER 31 DESEMBER 2019 4.500.000.000 21.944.151.795 26.444.151.795

(6)

Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan

(Dalam Rupiah Penuh, Kecuali Dinyatakan Lain)

Catatan 2019 2018

Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Penerimaan dari Pelanggan 137.982.954.044 136.390.001.705

Pembayaran kepada Pemasok dan Pihak Ketiga Lainnya (113.300.774.155) (119.622.354.625)

Pembayaran kepada Karyawan (12.381.293.252) (10.280.356.150)

Penerimaan Bunga 8.365.216 6.522.401

Pembayaran Pajak Penghasilan (1.982.042.411) (2.012.172.241)

Kas Bersih Diperoleh dari

Aktivitas Operasi 10.327.209.442 4.481.641.090

Arus Kas dari Aktivitas Investasi

Perolehan Aset Tetap 8 (6.298.484.620) (191.692.590)

Penjualan Aset Tetap 8 92.000.000 --

Perolehan Aset Lain-Lain 8

Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Yang Disewakan (265.760.927) (346.619.910)

Perangkat Lunak (122.299.679) (55.250.000)

Penempatan Bank Garansi 9 (160.512.258) --

Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi (6.755.057.484) (593.562.500)

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Pembayaran Utang Sewa Pembiayaan (1.910.777.932) (130.763.947)

Penerimaan dari Pihak Berelasi 125.522.842 262.532.812

Kas Bersih (Digunakan untuk) Diperoleh dari

Aktivitas Pendanaan (1.785.255.090) 131.768.865

Kenaikan Bersih Kas dan Bank 1.786.896.869 4.019.847.455

Kas dan Bank pada Awal Tahun 4.862.063.526 842.216.071

Kas dan Bank pada Akhir Tahun 6.648.960.395 4.862.063.526

Kas dan Bank pada Akhir Tahun terdiri dari:

Kas 2.770.700 3.472.750

Bank 6.646.189.695 4.858.590.776

Jumlah 6.648.960.395 4.862.063.526

(7)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019 (Dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)

FINAL DRAFT 5 Paraf:

1. Umum

1.a. Pendirian dan Informasi Umum

PT Global Infotech Solution (“Perusahaan”) didirikan di Jakarta berdasarkan Akta Notaris No. 1 tanggal 5 Maret 2015 yang dibuat di hadapan Herdardjo, SH, Notaris di Tangerang dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU-0011914.AH.01.01 tanggal 16 Maret 2015. Akta ini telah mengalami perubahan, terakhir berdasarkan Akta No. 10 tanggal 31 Juli 2019 yang dibuat dihadapan Herdardjo, SH, Notaris di Tangerang mengenai perubahan Direksi dan Komisaris. Perubahan ini telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perusahaan No. AHU-AH.01.03- 0309834 tanggal 7 Agustus 2019.

Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan adalah menjalankan usaha dalam bidang perdagangan yang meliputi perdagangan besar lokal, komputer dan alat elektronika, software dan hardware, peralatan transmisi telekomunikasi, peralatan listrik, pembangunan dan jasa.

Perusahaan berdomisili di Prince Center Building, Lantai 11, Jl. Jend. Sudirman Kav. 3-4, RT 10/RW 11, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta 10220.

1.b. Dewan Komisaris, Dewan Direksi dan Karyawan

Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi Perusahaan pada tanggal 31 Desember 2019 dan 2018 adalah sebagai berikut:

2019 2018

Dewan Komisaris

Komisaris : Chandra Marita Sari Chandra Marita Sari

Dewan Direksi

Direktur Utama : Amon Fernandes Amon Fernandes

Direktur : Yap, Japi Doris --

Pada tanggal 31 Desember 2019 dan 2018, Perusahaan mempunyai karyawan tetap masing-masing sebanyak 42 dan 41 orang (tidak diaudit).

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi Penting

2.a. Kepatuhan Terhadap Standar Akuntansi Keuangan

Laporan keuangan telah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia yang meliputi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan – Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK – IAI).

2.b. Dasar Pengukuran dan Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan keuangan disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha serta atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas. Dasar pengukuran dalam penyusunan laporan keuangan ini adalah konsep biaya perolehan, kecuali beberapa akun tertentu yang didasarkan pengukuran lain sebagaimana dijelaskan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.

Laporan arus kas disajikan dengan metode langsung (direct method) dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

Mata uang penyajian yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan ini adalah Rupiah (IDR) yang merupakan mata uang fungsional Perusahaan.

2.c. Pernyataan dan Interpretasi Standar Akuntansi Baru dan Revisi yang Berlaku Efektif pada Tahun Berjalan

Penerapan dari perubahan standar dan interpretasi akuntansi atas standar akuntansi berikut, yang berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 2019:

(8)

• PSAK 24: “Imbalan Kerja: Amandemen, Kurtailmen, atau Penyelesaian Program”

• PSAK 46 (Penyesuaian Tahunan 2018): “Pajak Penghasilan”

• PSAK 66 (Penyesuaian Tahunan 2018): “Pengaturan Bersama”

• ISAK 33: “Transaksi Valuta Asing dan Imbalan di Muka”

• ISAK 34: “Ketidakpastian dalam Perlakuan Pajak Penghasilan”.

Implementasi dari standar-standar tersebut tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap jumlah yang dilaporkan di periode berjalan atau tahun sebelumnya.

2.d. Transaksi dan Saldo dengan Pihak Berelasi

Pihak berelasi adalah orang atau entitas yang terkait dengan entitas pelapor yang meliputi:

a) Orang atau anggota keluarga terdekat mempunyai relasi dengan entitas pelapor jika orang tersebut:

i. memiliki pengendalian atau pengendalian bersama atas entitas pelapor;

ii. memiliki pengaruh signifikan atas entitas pelapor; atau

iii. personil manajemen kunci entitas pelapor atau entitas induk dari entitas pelapor.

b) Satu entitas berelasi dengan entitas pelapor jika memenuhi salah satu hal berikut:

i. Entitas dan entitas pelapor adalah anggota dari kelompok usaha yang sama (artinya entitas induk, entitas anak, dan entitas anak berikutnya terkait dengan entitas lain).

ii. Satu entitas adalah entitas asosiasi atau ventura bersama dari entitas lain (atau entitas asosiasi atau ventura bersama yang merupakan anggota suatu kelompok usaha, yang mana entitas lain tersebut adalah anggotanya).

iii. Kedua entitas tersebut adalah ventura bersama dari pihak ketiga yang sama.

iv. Satu entitas adalah ventura bersama dari entitas ketiga dan entitas yang lain adalah entitas asosiasi dari entitas ketiga.

v. Entitas tersebut adalah suatu program imbalan pasca-kerja untuk imbalan kerja dari salah satu entitas pelapor atau entitas yang terkait dengan entitas pelapor. Jika entitas pelapor adalah entitas yang menyelenggarakan program tersebut, maka entitas sponsor juga berelasi dengan entitas pelapor.

vi. Entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang diidentifikasi dalam huruf (a).

vii. Orang yang diidentifikasi dalam huruf (a) (i) memiliki pengaruh signifikan atas entitas atau personil manajemen kunci entitas (atau entitas induk dari entitas).

Perusahaan menetapkan bahwa personil manajemen kunci meliputi Direksi dan Komisaris Perusahaan, sedangkan anggota keluarga dekat meliputi suami, istri, anak, atau tanggungannya.

Seluruh transaksi yang dilakukan dengan pihak-pihak berelasi telah diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan.

2.e. Persediaan

Persediaan dinyatakan berdasarkan jumlah terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto. Biaya persediaan terdiri dari seluruh biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Biaya perolehan ditentukan dengan metode masuk pertama keluar pertama (FIFO). Nilai realisasi neto merupakan taksiran harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.

Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya perolehan menjadi nilai realisasi neto dan seluruh kerugian persediaan diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi neto, diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut.

Penyisihan untuk persediaan usang ditetapkan berdasarkan penelaahan berkala terhadap kondisi fisik persediaan.

(9)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan) Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019 (Dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)

7 Paraf:

2.f. Beban Dibayar di Muka

Beban dibayar di muka diamortisasi sesuai masa manfaat masing-masing beban dengan menggunakan metode garis lurus.

2.g. Aset Tetap

Aset tetap diakui sebesar biaya perolehannya termasuk pajak yang berlaku, bea masuk, biaya pengangkutan, biaya penanganan, biaya penyimpanan, biaya penyediaan lokasi, biaya pemasangan, biaya upah tenaga kerja internal, estimasi awal biaya pembongkaran, pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset tetap.

Setelah pengakuan awal dihitung dengan menggunakan model biaya dan dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai.

Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line) berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut:

Tahun

Kendaraan 8

Peralatan 4

Perabotan dan Perlengkapan 4

Biaya perbaikan dan pemeliharaan dibebankan pada laba rugi pada saat terjadinya biaya-biaya tersebut, sedangkan pemugaran dan penambahan dalam jumlah besar dan sifatnya meningkatkan kondisi aset secara signifikan dikapitalisasi.

Perusahaan melakukan evaluasi atas penurunan nilai aset tetap apabila terdapat peristiwa atau keadaan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatat aset tetap tersebut kemungkinan tidak dapat dipulihkan. Bila nilai tercatat suatu aset melebihi estimasi jumlah terpulihkan, nilai aset tersebut diturunkan menjadi sebesar estimasi jumlah terpulihkan, yang ditentukan berdasarkan nilai tertinggi antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakai.

Apabila suatu aset tetap tidak dipergunakan Iagi atau dijual, nilai perolehan dan akumulasi penyusutan aset tersebut dikeluarkan dari pencatatannya sebagai aset tetap, dan keuntungan atau kerugian yang terjadi diperhitungkan dalam laba rugi tahun berjalan.

Masa manfaat ekonomis, nilai residu dan metode penyusutan ditelaah pada setiap akhir tahun dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi tersebut berlaku prospektif.

2.h. Penurunan Nilai Aset Non - Keuangan

Pada setiap akhir periode pelaporan, Perusahaan menelaah nilai tercatat aset non-keuangan untuk menentukan apakah terdapat indikasi bahwa aset tersebut telah mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, jumlah terpulihkan dari aset diestimasi untuk menentukan tingkat kerugian penurunan nilai (jika ada). Bila tidak memungkinkan untuk mengestimasi jumlah terpulihkan atas suatu aset individual, Perusahaan mengestimasi jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas atas aset.

Estimasi jumlah terpulihkan adalah nilai tertinggi antara nilai wajar dikurangi biaya pelepasan dan nilai pakai. Dalam menilai nilai pakainya, estimasi arus kas masa depan didiskontokan ke nilai kini menggunakan tingkat diskonto sebelum pajak yang menggambarkan penilaian pasar kini dari nilai waktu uang dan risiko spesifik atas aset yang mana estimasi arus kas masa depan belum disesuaikan.

Jika jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset non-keuangan (unit penghasil kas) kurang dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aset (unit penghasil kas) dikurangi menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali dan rugi penurunan nilai diakui langsung ke laba rugi kecuali aset tersebut dicatat sebesar nilai revaluasi, dimana kerugian penurunan nilai diperlakukan sebagai penurunan revaluasi.

Ketika rugi penurunan nilai kemudian dibalik, nilai tercatat aset (atau unit penghasil kas) meningkat menjadi estimasi yang direvisi dari jumlah terpulihkan, akan tetapi peningkatan nilai tercatat tidak boleh melebihi nilai tercatat yang telah ditentukan tanpa ada kerugian penurunan nilai yang telah diakui untuk aset (atau unit penghasil kas) di tahun sebelumnya. Pembalikan rugi penurunan nilai

(10)

segera diakui dalam laba rugi, kecuali aset tersebut dicatat pada nilai revaluasi, dalam hal tersebut pembalikan rugi penurunan nilai diperlakukan sebagai kenaikan revaluasi.

2.i. Aset Takberwujud

Perangkat lunak dan lisensi perangkat lunak memiliki masa manfaat yang terbatas dan diukur sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi. Amortisasi dihitung dengan menggunakan metode garis lurus untuk mengalokasikan biaya perolehan sepanjang estimasi masa manfaatnya sebagai berikut:

Tahun Perangkat Lunak 4

2.j. Pengakuan Pendapatan dan Beban

Pendapatan penjualan barang dan jasa diakui pada saat risiko dan manfaat kepemilikan barang telah dipindahkan secara signifikan kepada pembeli.

Beban diakui pada saat terjadi (accrual basis).

2.k. Pajak Penghasilan

Beban pajak adalah jumlah gabungan pajak kini dan pajak tangguhan yang diperhitungkan dalam menentukan laba rugi pada suatu periode. Pajak kini dan pajak tangguhan diakui dalam laba rugi, kecuali pajak penghasilan yang timbul dari transaksi atau peristiwa yang diakui dalam penghasilan komprehensif lain atau secara langsung di ekuitas. Dalam hal ini, pajak tersebut masing-masing diakui dalam penghasilan komprehensif lain atau ekuitas.

Pajak Kini

Jumlah pajak kini untuk periode berjalan dan periode sebelumnya yang belum dibayar diakui sebagai liabilitas. Jika jumlah pajak yang telah dibayar untuk periode berjalan dan periode-periode sebelumnya melebihi jumlah pajak yang terutang untuk periode tersebut, maka kelebihannya diakui sebagai aset. Liabilitas (aset) pajak kini untuk periode berjalan dan periode sebelumnya diukur sebesar jumlah yang diperkirakan akan dibayar kepada (direstitusi dari) otoritas perpajakan, yang dihitung menggunakan tarif pajak (dan undang-undang pajak) yang telah berlaku atau secara substantif telah berlaku pada akhir periode pelaporan.

Pajak Tangguhan

Aset pajak tangguhan diakui untuk akumulasi rugi pajak belum dikompensasi dan kredit pajak belum dimanfaatkan sepanjang kemungkinan besar laba kena pajak masa depan akan tersedia untuk dimanfaatkan dengan rugi pajak belum dikompensasi dan kredit pajak belum dimanfaatkan.

Seluruh perbedaan temporer kena pajak diakui sebagai liabilitas pajak tangguhan, kecuali perbedaan temporer kena pajak yang berasal dari:

a) pengakuan awal goodwill; atau

b) pengakuan awal aset atau liabilitas dari transaksi yang bukan kombinasi bisnis dan pada saat transaksi tidak mempengaruhi laba akuntansi atau laba kena pajak (rugi pajak).

Aset pajak tangguhan diakui untuk seluruh perbedaan temporer dapat dikurangkan sepanjang kemungkinan besar laba kena pajak akan tersedia sehingga perbedaan temporer dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba dimaksud, kecuali jika aset pajak tangguhan timbul dari pengakuan awal aset atau pengakuan awal liabilitas dalam transaksi yang bukan kombinasi bisnis dan pada saat transaksi tidak mempengaruhi laba akuntansi atau laba kena pajak (rugi pajak).

Aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang diharapkan berlaku ketika aset dipulihkan atau liabilitas diselesaikan, berdasarkan tarif pajak (dan peraturan pajak) yang telah berlaku atau secara substantif telah berlaku pada akhir periode pelaporan.

Pengukuran aset dan liabilitas pajak tangguhan mencerminkan konsekuensi pajak yang sesuai dengan cara Perusahaan memperkirakan, pada akhir periode pelaporan, untuk memulihkan atau menyelesaikan jumlah tercatat aset dan liabilitasnya.

(11)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan) Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019 (Dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)

9 Paraf:

Jumlah tercatat aset pajak tangguhan ditelaah ulang pada akhir periode pelaporan. Perusahaan mengurangi jumlah tercatat aset pajak tangguhan jika kemungkinan besar laba kena pajak tidak lagi tersedia dalam jumlah yang memadai untuk mengkompensasikan sebagian atau seluruh aset pajak tangguhan tersebut. Setiap pengurangan tersebut dilakukan pembalikan atas aset pajak tangguhan hingga kemungkinan besar laba kena pajak yang tersedia jumlahnya memadai.

Perusahaan melakukan saling hapus aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan jika dan hanya jika:

a) Perusahaan memiliki hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk melakukan saling hapus aset pajak kini terhadap liabilitas pajak kini; dan

b) aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan terkait dengan pajak penghasilan yang dikenakan oleh otoritas perpajakan yang sama atas:

i. entitas kena pajak yang sama; atau

ii. entitas kena pajak yang berbeda yang bermaksud untuk memulihkan aset dan liabilitas pajak kini dengan dasar neto, atau merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitas secara bersamaan, pada setiap periode masa depan dimana jumlah signifikan atas aset atau liabilitas pajak tangguhan diperkirakan untuk diselesaikan atau dipulihkan.

Perusahaan melakukan saling hapus atas aset pajak kini dan liabilitas pajak kini jika dan hanya jika, Perusahaan:

a) memiliki hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang diakui; dan

b) bermaksud untuk menyelesaikan dengan dasar neto atau merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitas secara bersamaan.

2.l. Liabilitas Imbalan Kerja Imbalan Kerja Jangka Pendek

Imbalan kerja jangka pendek diakui ketika pekerja telah memberikan jasanya dalam suatu periode akuntansi, sebesar jumlah tidak terdiskonto dari imbalan kerja jangka pendek yang diharapkan akan dibayar sebagai imbalan atas jasa tersebut. Imbalan kerja jangka pendek mencakup antara lain upah, gaji, bonus dan insentif.

Imbalan Pasca-kerja

Imbalan pasca-kerja seperti pensiun, uang pesangon, uang pisah dan uang penghargaan masa kerja dihitung berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13/2003 (”UU 13/2003”).

Liabilitas imbalan pasti neto diakui sebesar nilai kini kewajiban imbalan pasti pada akhir periode pelaporan dikurangi nilai wajar aset program yang dihitung dengan menggunakan metode Projected Unit Credit.

Nilai kini liabilitas imbalan pasti ditentukan dengan mendiskontokan imbalan tersebut. Perusahaan mencatat tidak hanya kewajiban hukum berdasarkan persyaratan formal program imbalan pasti, tetapi juga kewajiban konstruktif yang timbul dari praktik informal entitas.

Biaya jasa kini, biaya jasa lalu dan keuntungan atau kerugian atas penyelesaian, serta bunga neto atas liabilitas (aset) imbalan pasti neto diakui dalam laba rugi.

Pengukuran kembali atas liabilitas (aset) imbalan pasti neto yang terdiri dari keuntungan dan kerugian aktuarial, imbal hasil atas aset program dan setiap perubahan dampak batas atas aset diakui sebagai penghasilan komprehensif lain dan tercermin segera dalam saldo laba ditahan dan tidak akan direklasifikasi ke laporan laba rugi.

2.m. Transaksi dan Translasi dalam Mata Uang Asing

Mata uang asing adalah mata uang selain mata uang fungsional. Transaksi-transaksi selama periode berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs spot yang berlaku pada saat terjadinya transaksi.

Pada tanggal laporan posisi keuangan, pos moneter dalam mata uang asing dijabarkan menggunakan penutupan kurs tengah Bank Indonesia yang berlaku pada tanggal 31 Desember 2019 dan 2018 yaitu masing-masing sebesar Rp13.901 dan Rp14.481 per 1 USD.

(12)

Keuntungan dan kerugian dari selisih kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dan penjabaran pos moneter dalam mata uang asing ke mata uang Rupiah, dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan. Sedangkan pos non moneter yang diukur dalam biaya historis dalam mata uang asing dijabarkan menggunakan kurs pada tanggal transaksi dan pos moneter yang diukur pada nilai wajar dalam mata uang asing dijabarkan menggunakan kurs pada tanggal ketika nilai wajar ditetapkan.

2.n. Instrumen Keuangan

Pengakuan dan Pengukuran Awal

Perusahaan mengakui aset keuangan atau liabilitas keuangan dalam laporan posisi keuangan, jika dan hanya jika, Perusahaan menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau liabilitas keuangan, Perusahaan mengukur pada nilai wajarnya. Dalam hal aset keuangan atau liabilitas keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, nilai wajar tersebut ditambah atau dikurang dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau liabilitas keuangan tersebut. Biaya transaksi yang dikeluarkan sehubungan dengan perolehan aset keuangan dan penerbitan liabilitas keuangan yang diklasifikasikan pada nilai wajar melalui laba rugi dibebankan segera.

Pengukuran Selanjutnya Aset Keuangan

Pengukuran selanjutnya aset keuangan tergantung pada klasifikasinya pada saat pengakuan awal.

Perusahaan mengklasifikasikan aset keuangan dalam salah satu dari empat kategori berikut:

i) Aset Keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar Melalui Laba Rugi (FVTPL)

Aset keuangan yang diukur pada FVTPL adalah aset keuangan yang dimiliki untuk diperdagangkan atau yang pada saat pengakuan awal telah ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi. Aset keuangan diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan jika diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat, atau bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek aktual saat ini, atau merupakan derivatif, kecuali derivatif yang ditetapkan dan efektif sebagai instrumen lindung nilai.

Setelah pengakuan awal, aset keuangan yang diukur pada FVTPL diukur pada nilai wajarnya.

Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar aset keuangan diakui dalam laba rugi.

ii) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif, kecuali:

a. pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan untuk dijual dalam waktu dekat dan yang pada saat pengakuan awal ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi;

b. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual; atau

c. pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman.

Setelah pengakuan awal, pinjaman yang diberikan dan piutang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

iii) Investasi Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (HTM)

Investasi HTM adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan, serta Perusahaan mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo.

Setelah pengakuan awal, investasi dimiliki hingga jatuh tempo diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

iv) Aset Keuangan Tersedia Untuk Dijual (AFS)

Aset keuangan AFS adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan dan piutang, (b)

(13)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan) Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019 (Dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)

11 Paraf:

investasi yang diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.

Setelah pengakuan awal, aset keuangan AFS diukur pada nilai wajarnya. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam penghasilan komprehensif lain, kecuali untuk kerugian penurunan nilai dan keuntungan atau kerugian akibat perubahan kurs, sampai aset keuangan tersebut dihentikan pengakuannya. Pada saat itu, keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui dalam penghasilan komprehensif lain direklasifikasi dari ekuitas ke laba rugi sebagai penyesuaian reklasifikasi.

Investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki harga kuotasian di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal diukur pada biaya perolehan.

Pengukuran Selanjutnya Liabilitas Keuangan

Pengukuran selanjutnya liabilitas keuangan tergantung pada klasifikasinya pada saat pengakuan awal. Perusahaan mengklasifikasikan liabilitas keuangan dalam salah satu dari kategori berikut:

i) Liabilitas Keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar Melalui Laba Rugi (FVTPL)

Liabilitas keuangan yang diukur pada FVTPL adalah liabilitas keuangan yang dimiliki untuk diperdagangkan atau yang pada saat pengakuan awal telah ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi. Liabilitas keuangan diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan jika diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat, atau bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek aktual saat ini, atau merupakan derivatif, kecuali derivatif yang ditetapkan dan efektif sebagai instrumen lindung nilai.

Setelah pengakuan awal, liabilitas keuangan yang diukur pada FVTPL diukur pada nilai wajarnya. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam laba rugi.

ii) Liabilitas Keuangan Lainnya

Liabilitas keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada FVTPL dikelompokan dalam kategori ini dan diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

Penghentian Pengakuan Aset dan Liabilitas Keuangan

Perusahaan menghentikan pengakuan aset keuangan, jika dan hanya jika hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan berakhir atau Perusahaan mengalihkan hak kontraktual untuk menerima kas yang berasal dari aset keuangan atau tetap memiliki hak kontraktual untuk menerima kas tetapi juga menanggung kewajiban kontraktual untuk membayar arus kas yang diterima tersebut kepada satu atau lebih pihak penerima melalui suatu kesepakatan.

Jika Perusahaan secara substansial mengalihkan seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan, maka Perusahaan menghentikan pengakuan aset keuangan dan mengakui secara terpisah sebagai aset atau liabilitas untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam pengalihan tersebut. Jika Perusahaan secara substansial tidak mengalihkan dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan tersebut dan masih memiliki pengendalian, maka Perusahaan mengakui aset keuangan sebesar keterlibatan berkelanjutan dengan aset keuangan tersebut. Jika Perusahaan secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan, maka Perusahaan tetap mengakui aset keuangan tersebut.

Perusahaan menghentikan pengakuan liabilitas keuangan, jika dan hanya jika, liabilitas keuangan tersebut berakhir, yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

Penurunan Nilai Aset Keuangan

Aset keuangan, selain aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi, dievaluasi terhadap indikator penurunan nilai pada setiap tanggal pelaporan. Aset keuangan diturunkan nilainya bila terdapat bukti objektif, sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan, dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.

(14)

Untuk aset keuangan lainnya, bukti obyektif penurunan nilai termasuk sebagai berikut:

• kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam; atau

• pelanggaran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga; atau

• terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjan akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan.

Untuk kelompok aset keuangan tertentu, seperti piutang, penurunan nilai aset dievaluasi secara individual. Bukti objektif dari penurunan nilai portofolio piutang dapat termasuk pengalaman Perusahaan atas tertagihnya piutang di masa lalu, peningkatan keterlambatan penerimaan pembayaran piutang dari rata-rata periode kredit, dan juga pengamatan atas perubahan kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan kegagalan pembayaran atas piutang.

Untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi, jumlah kerugian penurunan nilai merupakan selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang yang didiskontokan menggunakan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan. Nilai tercatat aset keuangan tersebut dikurangi dengan kerugian penurunan nilai secara langsung atas seluruh aset keuangan, kecuali piutang yang nilai tercatatnya dikurangi melalui penggunaan akun penyisihan penurunan nilai piutang. Jika piutang tidak tertagih, piutang tersebut dihapuskan melalui akun penyisihan penurunan nilai piutang. Pemulihan kemudian dari jumlah yang sebelumnya telah dihapuskan dikreditkan terhadap akun penyisihan. Perubahan nilai tercatat akun penyisihan penurunan nilai piutang diakui dalam laba rugi.

Reklasifikasi Aset Keuangan

Reklasifikasi hanya diperkenankan dalam situasi yang jarang terjadi dan dimana aset tidak lagi dimiliki untuk tujuan dijual dalam jangka pendek. Dalam semua hal, reklasifikasi aset keuangan hanya terbatas pada instrumen utang. Reklasifikasi dicatat sebesar nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi.

Saling Hapus antar Instrumen Keuangan

Aset keuangan dan liabilitas keuangan disajikan secara saling hapus dan nilai bersihnya disajikan di dalam laporan posisi keuangan jika terdapat hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut dan ada niat untuk menyelesaikan secara neto, atau merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitas secara simultan.

Metode Suku Bunga Efektif

Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari instrumen keuangan dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga selama periode yang relevan. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suku bunga efektif, biaya transaksi dan premium dan diskonto lainnya) selama perkiraan umur instrumen keuangan, atau, jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan pada saat pengakuan awal.

Pengukuran Nilai Wajar

Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran. Nilai wajar aset dan liabillitas keuangan diestimasi untuk keperluan pengakuan dan pengukuran atau untuk keperluan pengungkapan.

Nilai wajar dikategorikan dalam level yang berbeda dalam suatu hirarki nilai wajar berdasarkan pada apakah input suatu pengukuran dapat diobservasi dan signifikansi input terhadap keseluruhan pengukuran nilai wajar:

i. Harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik yang dapat diakses pada tanggal pengukuran (Level 1)

ii. Input selain harga kuotasian yang termasuk dalam Level 1 yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas, baik secara langsung maupun tidak langsung (Level 2)

iii. Input yang tidak dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas (Level 3).

(15)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan) Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019 (Dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)

13 Paraf:

Dalam mengukur nilai wajar aset atau liabilitas, Perusahaan sebisa mungkin menggunakan data pasar yang dapat diobservasi. Apabila nilai wajar aset atau liabilitas tidak dapat diobservasi secara langsung, Perusahaan menggunakan teknik penilaian yang sesuai dengan keadaannya dan memaksimalkan penggunaan input yang dapat diobservasi yang relevan dan meminimalkan penggunaan input yang tidak dapat diobservasi. Perpindahan antara level hirarki wajar diakui oleh Perusahaan pada akhir periode pelaporan dimana perpindahan terjadi.

2.o. Estimasi dan Pertimbangan Akuntansi yang Penting

Penyusunan laporan keuangan Perusahaan mengharuskan manajemen untuk membuat pertimbangan, estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah yang dilaporkan dari pendapatan, beban, aset dan liabilitas, dan pengungkapan atas liabilitas kontinjensi, pada akhir periode pelaporan. Ketidakpastian mengenai asumsi dan estimasi tersebut dapat mengakibatkan penyesuaian material terhadap nilai tercatat pada aset dan liabilitas dalam periode pelaporan berikutnya.

a. Pertimbangan

Dalam proses penerapan kebijakan akuntansi Perusahaan, Manajemen telah membuat pertimbangan-pertimbangan berikut ini, yang terpisah dari estimasi dan asumsi, yang memiliki perngaruh paling signifikan terhadap jumlah yang dicatat dalam laporan keuangan.

Pengelompokan Aset Keuangan dan Liabilitas Keuangan

Perusahaan menetapkan pengelompokan aset dan liabilitas tertentu sebagai aset dan liabilitas keuangan dengan pertimbangan bila definisi yang ditetapkan dalam PSAK No. 55 (Revisi 2018) terpenuhi. Dengan demikian, aset keuangan dan liabilitas keuangan diakui sesuai dengan kebijakan akuntansi Perusahaan.

b. Estimasi dan Asumsi

Asumsi utama masa depan dan sumber utama estimasi ketidakpastian lain membutuhkan pertimbangan manajemen pada tanggal pelaporan yang memiliki risiko signifikan bagi penyesuaian yang material terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas untuk tahun berikutnya diungkapkan di bawah ini.

Perusahaan mendasarkan asumsi dan estimasi pada parameter yang tersedia pada saat laporan keuangan disusun. Asumsi dan situasi mengenai perkembangan masa depan mungkin berubah akibat perubahan pasar atau situasi di luar kendali Perusahaan. Perubahan tersebut dicerminkan dalam asumsi terkait pada saat terjadinya.

Estimasi Umur Manfaat Aset Tetap

Perusahaan melakukan penelahaan berkala atas masa manfaat ekonomis aset tetap berdasarkan faktor-faktor seperti kondisi teknis dan perkembangan teknologi di masa depan.

Hasil operasi di masa depan akan dipengaruhi secara material atas perubahan estimasi ini yang diakibatkan oleh perubahan faktor yang telah disebutkan di atas.

Imbalan Pasca - Kerja

Nilai kini liabilitas imbalan pasca-kerja yang masih harus dibayar tergantung pada beberapa faktor yang ditentukan dengan dasar aktuarial berdasarkan beberapa asumsi. Asumsi yang digunakan untuk menentukan biaya (penghasilan) pensiun neto mencakup tingkat diskonto dan tingkat kenaikan gaji. Perubahan asumsi ini akan mempengaruhi jumlah tercatat imbalan pasca- kerja dan dana pensiun.

Perusahaan menentukan tingkat diskonto yang sesuai pada akhir periode pelaporan, yakni tingkat suku bunga yang harus digunakan untuk menentukan estimasi nilai kini arus kas keluar masa depan yang diharapkan untuk menyelesaikan liabilitas. Dalam menentukan tingkat suku bunga yang sesuai, Perusahaan mempertimbangkan tingkat suku bunga obligasi pemerintah yang didenominasikan dalam mata uang imbalan akan dibayar dan memiliki jangka waktu yang serupa dengan jangka waktu liabilitas yang terkait. Asumsi kunci liabilitas imbalan pasca-kerja sebagian ditentukan berdasarkan kondisi Perusahaan saat ini. Informasi mengenai asumsi yang digunakan dan nilai tercatat imbalan pasca-kerja diungkapkan pada Catatan 14.

(16)

Aset Pajak Tangguhan

Aset pajak tangguhan diakui atas jumlah pajak penghasilan terpulihkan (recoverable) pada periode mendatang sebagai akibat perbedaan temporer yang boleh dikurangkan. Justifikasi manajemen diperlukan untuk menentukan jumlah pajak tangguhan yang dapat diakui, sesuai dengan waktu yang tepat dan tingkat laba fiskal di masa mendatang sejalan dengan strategi rencana perpajakan ke depan.

Pajak Penghasilan

Dalam situasi tertentu, Perusahaan tidak dapat menentukan secara pasti jumlah liabilitas pajak mereka pada saat ini atau masa depan karena proses pemeriksaan, atau negosiasi dengan otoritas perpajakan. Ketidakpastian timbul terkait dengan interpretasi dari peraturan perpajakan yang kompleks dan jumlah dan waktu dari penghasilan kena pajak di masa depan.

Dalam menentukan jumlah yang harus diakui terkait dengan liabilitas pajak yang tidak pasti, Perusahaan menerapkan pertimbangan yang sama yang akan mereka gunakan dalam menentukan jumlah cadangan yang harus diakui sesuai dengan PSAK No. 57, “Provisi, Liabilitas Kontijensi dan Aset Kontijensi”. Pajak penghasilan telah diungkapkan dalam Catatan 10.

Nilai Wajar atas Instrumen Keuangan

Bila nilai wajar aset keuangan dan liabilitas keuangan yang tercatat pada laporan posisi keuangan tidak tersedia di pasar aktif, ditentukan dengan menggunakan berbagai teknik penilaian termasuk penggunaan model matematika. Masukan (input) untuk model ini berasal dari data pasar yang bisa diamati sepanjang data tersebut tersedia. Bila data pasar yang bisa diamati tersebut tidak tersedia, pertimbangan Manajemen diperlukan untuk menentukan nilai wajar. Pertimbangan tersebut mencakup pertimbangan likuiditas dan masukan model seperti volatilitas untuk transaksi derivatif yang berjangka waktu panjang dan tingkat diskonto, tingkat pelunasan dipercepat, dan asumsi tingkat gagal bayar.

(17)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan) Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019 (Dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)

15 Paraf:

3. Kas dan Bank

2019 2018

Kas 2.770.700 3.472.750

Bank Rupiah

PT Bank Permata Tbk 6.037.389.466 4.772.924.829

PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk 271.923.207 --

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 252.030.538 --

PT Bank DKI 1.000.000 --

PT Bank Mandiri Syariah 969.250 --

PT Bank BNI Syariah 735.000 --

USD

PT Bank Permata Tbk 82.142.233 85.665.947

Sub Jumlah Bank 6.646.189.695 4.858.590.776

Jumlah 6.648.960.395 4.862.063.526

4. Piutang Usaha

2019 2018

Pihak Ketiga

PT Sigma Metrasys Solution 35.464.000.000 17.441.600.000

PT Multipolar Technology Tbk 3.959.020.000 --

PT Sigma Cipta Caraka 3.107.500.000 9.936.300.000

PT Anugrah Sthala Nirmana 1.520.970.000 478.280.000

PT FWD Life Indonesia 1.389.481.030 --

PT Sukanda Jaya 1.212.089.604 1.052.633.604

PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia -- 1.438.105.115

PT Abyor International -- 1.119.600.000

PT Heinz ABC Indonesia -- 864.000.000

Lain-Lain 4.640.484.032 1.579.017.812

Jumlah 51.293.544.666 33.909.536.531

Berdasarkan penelahaan manajemen atas saldo piutang usaha secara individu pada akhir periode pelaporan, manajemen berkeyakinan bahwa piutang tersebut di atas dapat tertagih seluruhnya sehingga tidak dibentuk cadangan kerugian penurunan nilai piutang usaha.

5. Piutang Lain-Lain

2019 2018

Pihak Berelasi (Catatan 20) -- 125.522.842

Pihak Ketiga

PT Solusi Infra Kita 400.000.000 --

PT Klik DNA Mandiri 70.773.750 --

Piutang Karyawan 104.499.990 694.689.427

Jumlah 575.273.740 820.212.269

Berdasarkan penelaahan manajemen atas saldo piutang lain-lain pada akhir periode pelaporan, manajemen berkeyakinan bahwa piutang tersebut di atas dapat tertagih seluruhnya sehingga tidak dibentuk cadangan kerugian penurunan nilai piutang lain-lain.

(18)

6. Persediaan

Persediaan pada 31 Desember 2019 dan 2018 masing-masing sebesar Rp35.713.263.712 dan Rp38.685.600.100 terdiri dari perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware).

Persediaan Perusahaan tidak diasuransikan terhadap risiko kerugian kebakaran, kehilangan dan risiko lainnya yang mungkin terjadi.

Manajemen berpendapat tidak terdapat indikasi perubahan keadaan yang menyebabkan adanya penurunan nilai persediaan pada 31 Desember 2019 dan 2018.

7. Uang Muka dan Beban Dibayar di Muka

2019 2018

Uang Muka

Uang Muka Pegawai 1.593.045.368 392.621.121

Uang Muka Pembelian 581.203.026 --

Sub Jumlah 2.174.248.394 392.621.121

Beban Dibayar di Muka

Sewa Gedung 373.380.000 26.764.000

Kendaraan 144.826.979 --

Asuransi 46.739.612 24.168.040

Lainnya 20.040.730 6.859.615

Sub Jumlah 584.987.321 57.791.655

Jumlah 2.759.235.715 450.412.776

8. Aset Tetap

Saldo Penambahan Pengurangan Saldo Akhir

1 Januari 31 Desember

Biaya Perolehan

Kepemilikan Langsung

Peralatan 2.727.298.333 4.479.664.252 -- 7.206.962.585

Kendaraan 1.439.533.050 -- 188.647.160 1.250.885.890

Perabotan dan Perlengkapan 807.629.946 57.798.300 -- 865.428.246 Sub Jumlah 4.974.461.329 4.537.462.552 188.647.160 9.323.276.721 Sewa Pembiayaan

Kendaraan -- 3.671.800.000 -- 3.671.800.000

Sub Jumlah 4.974.461.329 8.209.262.552 -- 12.995.076.721

Akumulasi Penyusutan Kepemilikan Langsung

Peralatan 1.479.243.561 734.511.781 -- 2.213.755.342

Kendaraan 465.320.104 173.351.902 95.615.684 543.056.322 Perabotan dan Perlengkapan 419.922.030 200.993.840 -- 620.915.870 Sub Jumlah 2.364.485.695 1.108.857.523 95.615.684 3.377.727.534 Sewa Pembiayaan

Kendaraan -- 367.626.986 -- 367.626.986

Sub Jumlah 2.364.485.695 1.476.484.509 95.615.684 3.745.354.520

Nilai Tercatat 2.609.975.634 9.249.722.201

2019

(19)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan) Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019 (Dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)

17 Paraf:

Saldo Penambahan Pengurangan Saldo Akhir

1 Januari 31 Desember

Biaya Perolehan

Kepemilikan Langsung

Peralatan 2.539.801.543 187.496.790 -- 2.727.298.333

Kendaraan 1.439.533.050 -- -- 1.439.533.050

Perabotan dan Perlengkapan 803.434.146 4.195.800 -- 807.629.946

Sub Jumlah 4.782.768.739 191.692.590 -- 4.974.461.329

Akumulasi Penyusutan Kepemilikan Langsung

Peralatan 818.325.418 660.918.143 -- 1.479.243.561

Kendaraan 285.382.083 179.938.021 -- 465.320.104

Perabotan dan Perlengkapan 218.350.782 201.571.248 -- 419.922.030

Sub Jumlah 1.322.058.283 1.042.427.412 -- 2.364.485.695

Nilai Tercatat 3.460.710.456 2.609.975.634

2018

Seluruh beban penyusutan pada tahun 2019 dan 2018 dicatat pada beban usaha (Catatan 18).

Perusahaan tidak mengasuransikan aset tetap terhadap risiko kerugian kebakaran, kehilangan dan risiko lainnya yang mungkin terjadi kecuali atas aset kendaraan yang diperoleh Perusahaan di tahun 2019 melalui sewa pembiayaan. Aset kendaraan tersebut diasuransikan masing-masing kepada PT Asuransi Adira Dinamika dan PT Asuransi Astra Buana dengan nilai pertanggungan sebesar Rp15.948.080 dan Rp134.173.960.

Berdasarkan penelaahan aset tetap secara individual pada 31 Desember 2019 dan 2018, manajemen berpendapat bahwa tidak terdapat perubahan keadaan yang mengindikasikan adanya penurunan nilai aset tetap.

Penjualan aset tetap untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2019 dan 2018 adalah sebagai berikut:

2019 2018

Nilai Tercatat 92.358.505 --

Harga Jual 92.000.000 --

Rugi Penjualan Aset Tetap (358.505) --

9. Aset Lain-Lain

2019 2018

Jaminan Sewa 362.140.000 175.520.000

Bank Garansi 160.512.258 --

Sub Jumlah 522.652.258 175.520.000

Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Yang Disewakan

Nilai Perolehan 612.380.837 346.619.910

Akumulasi Amortisasi (221.520.807) (76.139.454)

Nilai Tercatat 390.860.030 270.480.456

Perangkat Lunak

Nilai Perolehan 270.051.472 147.751.793

Akumulasi Amortisasi (104.428.475) (53.649.965)

Nilai Tercatat 165.622.997 94.101.828

Jumlah 1.079.135.285 540.102.284

(20)

Perangkat keras dan perangkat lunak yang disewakan merupakan perangkat yang disewakan kepada pelanggan selama 4 tahun. Perangkat tersebut disusutkan selama masa sewa dengan menggunakan metode garis lurus.

Beban amortisasi perangkat keras dan lunak yang disewakan dicatat pada beban pokok pendapatan (Catatan 17).

Beban amortisasi perangkat lunak dicatat pada beban usaha (Catatan 18).

10. Perpajakan

a. Pajak Dibayar di Muka

Merupakan Pajak Pertambahan Nilai untuk tahun 2019 dan 2018 yang akan dikompensasikan di periode berikutnya.

b. Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan

2019 2018

Pajak Kini (1.926.511.000) (1.958.994.000)

Pajak Tangguhan 199.987.645 70.419.601

Jumlah (1.726.523.355) (1.888.574.399)

Rekonsiliasi antara laba sebelum pajak penghasilan menurut laporan laba rugi dengan taksiran laba kena pajak yang dihitung oleh Perusahaan untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2019 dan 2018 adalah sebagai berikut:

2019 2018

Laba Sebelum Pajak Penghasilan Sesuai Laporan

Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain 6.959.458.995 7.206.076.809 Koreksi Fiskal:

Beda Temporer:

Beban Imbalan Pasca-Kerja 799.950.578 636.422.087

Beda Tetap:

Pendapatan Jasa Giro (8.365.216) (6.522.401)

Pendapatan Sewa (45.000.000) --

Jumlah Koreksi Fiskal 746.585.362 629.899.686

Estimasi Penghasilan Kena Pajak 7.706.044.357 7.835.976.495

Estimasi Penghasilan Kena Pajak - Pembulatan 7.706.044.000 7.835.976.000

Beban Pajak Kini 1.926.511.000 1.958.994.000

Dikurangi: Pajak Penghasilan Dibayar di Muka

Pasal 22 33.677.732 --

Pasal 23 874.043.538 923.804.034

Pasal 25 1.006.924.110 967.792.935

1.914.645.380 1.891.596.969

Kurang Bayar Pajak Penghasilan Badan 11.865.620 67.397.031

Jumlah penghasilan kena pajak untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 yang diperhitungkan dalam laporan keuangan ini akan digunakan sebagai dasar pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan untuk tahun 2019.

Rekonsiliasi antara laba sebelum pajak penghasilan menurut laporan laba rugi komersial dengan beban pajak penghasilan adalah sebagai berikut:

(21)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan) Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2019 (Dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)

19 Paraf:

2019 2018

Laba Sebelum Pajak Penghasilan Sesuai Laporan

Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain 6.959.458.995 7.206.076.809 Pajak Dihitung dengan Tarif Pajak yang Berlaku (1.739.864.749) (1.801.519.202) Koreksi Fiskal dengan Tarif Pajak yang Berlaku 13.341.394 1.630.724

Penyesuaian Pajak Tangguhan -- (88.685.921)

Jumlah Beban Pajak Penghasilan (1.726.523.355) (1.888.574.399) Jumlah Koreksi Fiskal

(1.726.523.355) (1.888.574.399) c. Utang Pajak

2019 2018

Pajak Penghasilan

Pasal 4 (2) 37.270.789 13.983.480

Pasal 21 147.710.778 80.876.999

Pasal 23 38.703.807 17.124.801

Pasal 29 11.865.620 67.397.031

Pajak Pertambahan Nilai 11.041.512 --

Jumlah 246.592.506 179.382.311

d. Aset Pajak Tangguhan

2018 Dikreditkan Dikreditkan 2019

(Dibebankan) (Dibebankan) ke Laporan ke Penghasilan

Laba Rugi Komprehensif Lain

Imbalan Pasca-Kerja 286.138.793 199.987.645 2.650.666 488.777.104

Jumlah 286.138.793 199.987.645 2.650.666 488.777.104

2017 Dikreditkan Dikreditkan 2018

(Dibebankan) (Dibebankan) ke Laporan ke Penghasilan

Laba Rugi Komprehensif Lain

Imbalan Pasca-Kerja 122.685.011 159.105.522 4.348.260 286.138.793

Rugi Fiskal 88.685.921 (88.685.921) -- --

Jumlah 211.370.932 70.419.601 4.348.260 286.138.793

e. Administrasi

Undang-Undang Perpajakan yang berlaku di Indonesia mengatur bahwa masing-masing perusahaan menghitung, menetapkan dan membayar sendiri besarnya jumlah pajak yang terutang secara individu. Berdasarkan UU yang berlaku, Direktur Jendral Pajak (“DJP”) dapat menetapkan atau mengubah kewajiban pajak dalam jangka waktu tertentu. Untuk tahun pajak 2007 dan sebelumnya, jangka waktu tersebut adalah sepuluh tahun sejak saat terutangnya pajak tetapi tidak lebih dari tahun 2013, sedangkan untuk tahun pajak 2008 dan seterusnya, jangka waktunya adalah lima tahun sejak saat terutangnya pajak.

(22)

11. Utang Usaha

2019 2018

Pihak Berelasi (Catatan 20) 37.392.135.426 --

Pihak Ketiga

PT Blue Power Technology 21.667.926.538 35.638.222.315

PT Synnex Metrodata Indonesia 5.282.854.431 1.053.320.622

PT Ingram Micro Indonesia 2.496.160.307 --

PT Fusion Dinamika 2.257.550.250 842.688.000

PT Packet Systems Indonesia 2.009.559.000 --

PT Tos Information Systems Indonesia 1.508.586.461 696.025.000

PT IBM Indonesia 135.911.655 405.531.423

PT Tech Data Advanced Solutions Indonesia 7.502.000 12.692.279.159

PT Wilmar Consultancy Services -- 398.397.314

Lain-Lain 2.286.369.830 1.123.768.718

Sub Jumlah 37.652.420.472 52.850.232.551

Jumlah 75.044.555.897 52.850.232.551

12. Beban Akrual

2019 2018

Pembelian Persediaan 1.826.787.487 7.715.212.827

Jumlah 1.826.787.487 7.715.212.827

Akrual pembelian persediaan merupakan biaya pembelian perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) yang belum difakturkan.

13. Utang Sewa Pembiayaan

2019 2018

PT Astra Sedaya Finance 1.110.394.640 --

PT CIMB Niaga Auto Finance 666.944.444 --

PT Adira Dinamika Multi Finance 178.459.847 --

PT Toyota Astra Financial Service -- 45.021.000

Sub Jumlah 1.955.798.932 45.021.000

Bagian Jangka Pendek (888.034.597) (45.021.000)

Bagian Jangka Panjang 1.067.764.335 --

Pinjaman yang diperoleh Perusahaan adalah sebagai berikut:

a. Pinjaman dari PT Astra Sedaya Finance merupakan fasilitas sewa pembiayaan atas aset tetap kendaraan, berdasarkan Perjanjian Pembiayaan No. 900785, No. 900807, No. 900823, dan No. 901366 tanggal 2 Februari 2019 yang akan jatuh tempo pada bulan Februari 2022.

Pinjaman tersebut akan dikenakan bunga dengan tingkat bunga masing-masing sebesar 8,44%

- 8,49% per tahun.

b. Pinjaman dari PT CIMB Niaga Auto Finance merupakan fasilitas sewa pembiayaan atas aset tetap kendaraan, berdasarkan Perjanjian Pembiayaan dengan No. 414301900022 tanggal 23 Februari 2019 dan No. 414101901174 tanggal 6 Desember 2019 yang masing-masing akan jatuh tempo pada bulan Januari 2022 dan bulan November 2022. Pinjaman tersebut dikenakan bunga dengan tingkat bunga masing-masing sebesar 9,69% dan 10,54% per tahun.

Gambar

Tabel di bawah ini menyajikan nilai tercatat  dan estimasi nilai wajar masing-masing kategori aset  dan liabilitas keuangan:

Referensi

Dokumen terkait

Aset keuangan yang diukur pada FVTPL adalah aset keuangan yang dimiliki untuk diperdagangkan atau yang pada saat pengakuan awal telah ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar

Aset keuangan FVTPL termasuk aset keuangan untuk diperdagangkan dan aset keuangan yang ditetapkan pada saat pengakuan awal sebagai FVTPL disajikan dalam laporan

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi termasuk aset keuangan untuk diperdagangkan dan aset keuangan yang ditetapkan pada saat pengakuan awal sebagai kelompok

Aset keuangan yang diukur pada FVTPL adalah aset keuangan yang dimiliki untuk diperdagangkan atau yang pada saat pengakuan awal telah ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi termasuk aset keuangan untuk diperdagangkan dan aset keuangan yang ditetapkan pada saat pengakuan awal sebagai

Aset keuangan FVTPL termasuk aset keuangan untuk diperdagangkan dan aset keuangan yang ditetapkan pada saat pengakuan awal sebagai FVTPL disajikan dalam laporan posisi

Aset keuangan yang diukur pada FVTPL adalah aset keuangan yang dimiliki untuk diperdagangkan atau yang pada saat pengakuan awal telah ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar

Kelompok aset dan liabilitas diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset dan liabilitas keuangan dimiliki untuk diperdagangkan yang diperoleh atau dimiliki