BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan informasi yang terjadi pada bidang akuntansi menyebabkan berkembangnya kebutuhan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan dibutuhkannya proses serta kinerja yang baik dalam menghasilkan informasi yang berkualitas. Selain itu, dewasa ini banyak perusahaan yang mengalami kendala dalam pelaksanaan sistem informasi akuntansi yaitu saat proses menghasilkan informasi tersebut. Pada proses menghasilkan informasi akuntansi sehari-hari dilaksanakan menurut sistem yang diterapkan pada setiap perusahaan masing- masing dan pelaksanaannya tidak terlepas dari permasalahan, seperti para pemakai yang belum mengerti cara pengoperasikan sistem sehingga kinerja sistem informasi yang dilakukanpun belum maksimal sesuai dengan yang diharapkan dan tidak cocoknya sistem yang digunakan di suatu perusahaan.
Perubahan lingkungan bisnis yang ditandai oleh perkembangan teknologi komunikasi maupun teknologi informasi merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh perusahaan saat ini. Kemajuan pesat dalam teknologi memberikan kemudahan dalam pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan. Sistem Informasi Akuntansi (SIA) banyak digunakan oleh organisasi bisnis untuk mendukung proses bisnisnya. Kebutuhan akan SIA tergantung pada jenis proses bisnis dan kompleksitas informasi yang di inginkan. Ditinjau dari hal tersebut, SIA merupakan
suatu proses yang menghasilkan informasi baik untuk kepentingan managerial maupun eksternal berbasis data akuntansi.
Menurut Widjajanto (2001:4) yang mengartikan bahwa sistem informasi akuntansi sebagai susunan dari berbagai dokumen, alat komunikasi, tenaga pelaksana, dan berbagai laporan yang didesain untuk mentransformasikan data keuangan dari sebuah perusahaan atau organisasi menjadi informasi keuangan yang berguna dan bermanfaat. Sedangkan, menurut Romney dan Steinbart (2015:10), sistem informasi akuntansi merupakan suatu sistem yang mengumpulkan, mencatat, menyimpan, dan mengolah data untuk menghasilkan informasi bagi pengambil keputusan. Sistem ini meliputi orang, prosedur, dan instruksi, data, perangkat lunak, infrastruktur teknologi informasi, serta pengendalian internal dan ukuran keamanan.
Dalam penerimaan dan pengeluaran kas diperlukan prosedur yang baik yang nantinya akan sesuai dengan kebijakan manajemen yang telah diatur. Penerimaan dan pengeluaran kas yang dilakukan di luar prosedur yang telah ditetapkan, akan memungkinkan terjadinya penyelewengan, pencurian dan penggelapan kas. Dapat disimpulkan bahwa semakin baik prosedur penerimaan dan pengeluaran kas yang dilaksanakan perusahaan, maka akan semakin dipercaya besarnya akun kas yang dilaporkan pada Laporan Keuangan perusahan. Disamping itu, dengan baiknya prosedur pengelolaan kas, maka kemungkinan tingkat penyelewengan kas akan mudah ditelusuri.
Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara merupakan badan yang berfungsi sebagai Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) dan Bendahara Umum Daerah (BUD) serta pemberi dukungan penyelenggaraan pemerintah. Tugas badan ini membutuhkan suatu perencanaan kas yang efektif dan efisien. Dengan berperannya kas dalam kegiatan perusahaan, maka perusahaan harus memastikan bahwa apakah penerimaan dan pengeluaran kas sudah berjalan dengan baik. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis ingin melakukan pembahasan melalui tugas akhir ini dengan meneliti “Sistem Informasi Akuntansi Kas pada Badan Pengelola Keuangan Dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah adalah sebagai berikut : Bagaimana Sistem Informasi Akuntansi Kas di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Bagaimana Sistem Informasi Akuntansi Kas pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai sistem informasi akuntansi kas pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara.
b. Bagi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara, dapat menjadi bahan bacaan dan referensi untuk semakin meningkatkan kualitas sistem informasi akuntansi kas pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara.
c. Bagi calon peneliti, dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dalam melakukan penelitian mengenai sistem informasi akuntansi kas pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara pada waktu yang akan datang.
1.4 Rencana Penulisan
1. Jadwal Survey/ Observasi
Penelitian ini dilakukan di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara di P. Diponegoro No. 30 Medan. Jadwal penelitian terdiri dari berbagai kegiatan yang dimulai dari persiapan melaksanakan penelitian, pelaksanaan bimbingan untuk pengelolaan data, pelaporan bimbingan untuk penulisan tugas akhir, dan penyempurnaan tugas akhir. Untuk lebih
jelasnya jadwal survey/observasi ini dapat dilihat pada Tabel 1.4 berikut:
Tabel 1.4
Jadwal Survey/Observasi dan Penyusunan Tugas Akhir
No Kegiatan April Mei Juni
II IV I II III 1 Pengesahan Penulisan Tugas Akhir
2 Pengajuan Judul 3 Permohonan Izin Riset
4 Penunjukan Dosen Pembimbing 5 Pengumpulan Data
6 Penyusunan Tugas Akhir 7 Bimbingan Tugas Akhir 8 Penyelesaian Tugas Akhir
2. Sistematika Penelitian
Sistematika penelitian berisi suatu perincian sederhana mengenai isi dari masing - masing bab dalam tugas akhir ini yang disusun secara sistematis sehingga uraian dapat lebih terarah.
Untuk itu peneliti membagi pokok pembahasan dalam 4 (empat) bab, dimana setiap bab saling berkaitan. Hal ini sesuai dengan
kebutuhan dan tuntutan pembuatan tugas akhir yang telah ditetapkan bahwa susunan tugas akhir harus praktis dan sistematis.
Oleh karena itu, laporan penelitian tugas akhir ini disusun sebagai berikut :
BAB 1 : Pendahuluan
Bab ini menerangkan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan rencana penulisan.
BAB II : Profil Badan Pengelola Keuangan Dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara
Bab ini membahas tentang sejarah ringkas, struktur organisasi, dan uraian tugas (job description) BPKAD Provinsi Sumatera Utara.
BAB III : Sistem Informasi Akuntansi Kas pada Badan Pengelola Keuangan Dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara Dalam bab ini, peneliti akan menguraikan hasil penelitian sesuai dengan tema yang dipilih berdasarkan bidang studi mahasiswa dan penulis akan mencoba menguraikan Pengertian Sistem, Pengertian Kas, Sistem Penerimaan Kas, dan Sistem Pengeluaran Kas.
BAB IV : Kesimpulan Dan Saran
Dalam bab ini, membahas tentang kesimpulan dan saran yang merupakan inti dari pembahasan penelitian dan yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi di masa yang akan datang.
BAB II
PROFIL BADAN PENGELOLA KEUANGAN DAN ASET DAERAH (BPKAD) PROVINSI SUMATERA UTARA
2.1 Sejarah Singkat dan Kegiatan Operasional Perusahaan
Pada zaman pemerintahan Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernment van Sumatera dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatera, dipimpin oleh seorang Gubernur berkedudukan dikota Medan. Setelah kemerdekaan, dalam sidang pertama Komite Nasional Daerah (KND), Provinsi Sumatera kemudian dibagi menjadi tiga sub provinsi, yaitu: Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Provinsi Sumatera Utara sendiri merupakan penggabungan dari tiga daerah administratif yang disebut Keresidenan, yaitu: Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur, dan Keresidenan Tapanuli. Dengan diterbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia (R.I) No.10 Tahun 1948 pada tanggal 15 April 1948, ditetapkan bahwa Sumatera dibagi menjadi tiga provinsi yang masing - masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu: Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Tengah, dan Provinsi Sumatera Selatan. Tanggal 15 April 1948 selanjutnya ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Sumatera Utara.
Pada awal tahun 1949, dilakukan kembali reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I Nomor 22 /Pem/PDRI pada tanggal 17 Mei 1949, jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan.
Selanjutnya dengan Ketetapan Pemerintah Darurat Republik Indonesia pada
tanggal 17 Desember 1949, dibentuk Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur. Kemudian, dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - undang No.5 Tahun 1950 pada tanggal 14 Agustus 1950, ketetapan tersebut dicabut dan dibentuk kembali Provinsi Sumatera Utara.
Dengan Undang – Undang R.I No.24 Tahun 1956 yang diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956, dibentuk Daerah Otonom Provinsi Aceh, sehingga wilayah Provinsi Sumatera Utara sebahagian menjadi wilayah Provinsi Aceh.
Motto Daerah, adalah Tekun Berkarya, Hidup Sejahtera, Mulia Berbudaya.
Sementara BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah) Provinsi Sumatera Utara adalah SKPD ( Satuan Kerja Perangkat Daerah ) yang baru dibentuk berdasarkan tindak lanjut Peraturan Pemerintah No 18 tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara merupakan pergantian nama yang baru di kantor Gubernur Sumatera Utara. Sebelum berganti nama menjadi BPKAD adalah dulunya dinamakann Biro Keuangan. Sedangkan ASN ( Aparatur Sipil Negara ) terdiri dari eks Biro Perlengkapan dan Pengelolaan Aset Setdaprovsu dan sebagian berada di Biro Umum. Adapun Visi dan Misi terlampir sebagai berikut:
1. Visi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara:
Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan harapan yang ingin dicapai dilandasi oleh kondisi dan potensi serta prediksi tantangan dan peluang pada masa yang akan datang. Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa
depan berisi cita dan citra yang ingin diwujudkan oleh Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provsu.
Bertitik tolak dari tugas, fungsi dan tanggung jawab Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara dalam Penyelenggaraan, pembinaan, fasilitasi, monitoring, evaluasi, koordinasi dan pengendalian administrasi perbendaharaan dan kas daerah, anggaran, akuntansi dan aset serta anggaran keuangan daerah Kabupaten/Kota, sekaligus merupakan identitas masa depan, artikulasi citra, nilai, arah dan tujuan yang akan memandu masa depan yang realistik dan kredibel serta menjadi budaya organisasi.
Selaras dengan itu, maka visi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provsu adalah : “Terwujudnya Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah yang Professional, Akuntabel dan Transparan, Berbasis Teknologi Informasi serta Sesuai dengan Ketentuan yang Berlaku.”
2. Misi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara:
Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah sesuai dengan Visi yang telah ditetapkan agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil guna dengan baik. Dengan misi tersebut diharapkan seluruh aparatur dan pihak yang berkepentingan dapat mengetahui akan peran dan program-program serta hasil yang hendak dicapai di waktu yang akan datang dari visi yang telah ditetapkan tersebut.
Untuk merealisasikan visi dan memberikan kebijakan tentang tujuan yang akan diwujudkan, serta untuk memberikan fokus terhadap program yang akan dilaksanakan serta memantapkan etos kerja, maka misi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provsu adalah :
a. Meningkatkan kemampuan profesionalisme disiplin aparatur dalam pengelolaan keuangan dan aset daerah.
b. Meningkatkan kualitas perencanaan, disiplin anggaran, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan dan aset daerah.
c. Mewujudkan sistem pengelolaan keuangan dan aset daerah berbasis teknologi informasi.
3. Makna Logo Provinsi Sumatera Utara
Gambar 2.1 Logo Pemprovsu
Sumber : http://bpkad.sumutprov.go.id
Pengertian lambang daerah pemerintah Provinsi Sumatera Utara :
1. Kepalan tangan yang diacungkan ke atas dengan menggenggam rantai beserta perisainya, melambangkan kebulatan tekad perjuangan rakyat
Provinsi Sumatera Utara melawan imperialisme/kolonialisme, feodalisme, dan komunisme.
2. Batang Bersudut Lima, Perisai dan Rantai, melambangkan kesatuan masyarakat membela dan mempertahankan Pancasila.
3. Pabrik, Pelabuhan, Pokok Karet, Pohon Sawit, Daun Tembakau, Ikan, Daun Padi dan Tulisan “SUMATERA UTARA”, melambangkan daerah yang indah, permai dan masyhur dengan kekayaan alamnya yang melimpah-limpah.
4. Tujuh Belas Kuntum Kapas, Delapan Sudut Sarang laba - laba dan Empat Puluh Lima Butir Padi, menggambarkan tanggal bulan dan tahun kemerdekaan dimana ketiga - tiganya ini berikut tongkat dibawah kepalan tangan melambangkan watak.
5. Kebudayaan, yang mencerminkan kebesaran bangsa, patriotisme, pencinta, keadaan, dan pembela keadilan.
6. Bukit Barisan yang Berpuncak Lima, melambangkan tata kemasyarakatan yang berkepribadian luhur, bersemangat, persatuan kegotongroyongan yang dinamis.
2.2 Struktur Organisasi
Setiap instansi perkantoran pasti memiliki struktur organisasi, struktur organisasi sangat penting di dalam perkantoran karena berfungsi sebagai landasan bagi seluruh fungsi yang ada dalam organisasi untuk melaksanakan tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari setiap fungsi.
Dengan demikian, setiap anggota dapat mengetahui kedudukan, tugas, dan tanggung jawab serta batas dari wewenang masing – masing dalam melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau perusahaan ataupun instansi. Adapun Struktur Organisasi pada BPKAD Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat sebagai berikut.
Gambar 2.2
Struktur Organisasi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Sumber : http://bpkad.sumutprov.go.id
2.3 Deskripsi Tugas Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara
1. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provsu mempunyai tugas sebagai berikut:
Merumuskan kebijakan teknis Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, melaksanakan pembinaan, koordinasi, monitoring, evaluasi dan pengendalian Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, melaksanakan fungsi sebagai Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD) dan Bendahara Umum Daerah (BUD) serta pemberian dukungan penyelenggaraaan Pemerintah.
2. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provsu Menyelenggarakan fungsi:
a. Menyelenggarakan koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi dan pengendalian pelaksanaan kebijakan Kepala Daerah di bidang perbendaharaan dan kas daerah, anggaran, akuntansi dan pengelolaan aset;
b. Penyelenggaraan pengolahan bahan/data untuk penyempurnaan dan penyusunan kebijakan sesuai standar dalam urusan pengelolaan aset;
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas dalam bidang pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah;
d. Pelaksanaan tugas pambantuan dibidang Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah;
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan Gubernur, sesuai dengan tugas dan fungsinya.
3. Sekretariat
1) Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris yang mempunyai tugas mengkoordinasikan penyusunan program dan Penyelenggaraan tugas bidang-bidang secara terpadu serta tugas pengelolaan administrasi perkantoran, keuangan dan aset Badan.
2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Sekretariat Menyelenggarakan fungsi:
a. Penyelenggaraan koordinasi dan menyiapkan bahan-bahan penyusunan perencanaan dan program kerja masing-masing bidang secara terpadu.
b. Penyelenggaraan pengelolaan dan pengendalian administrasi umum, administrasi kepegawaian dan administrasi keuangan.
c. Penyelenggaraan urusan umum dan perlengkapan dan ketatalaksanaan, kearsipan dan perpustakaan.
d. Penyelenggaraan koordinasi, pembinaan, pengendalian, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kegiatan unit kerja.
e. Penyelenggaraan dan pengendalian tata usaha pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, perawatan barang inventaris dan aset sesuai ketentuan yang berlaku.
f. Penyelenggaraan sistem informasi publik.
g. Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan.
3) Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Sekretaris mempunyai uraian tugas :
a. Menyelenggarakan pembinaan, bimbingan dan arahan kepada staf di lingkungan Sekretariat.
b. Menyelenggarakan pengolahan dan penyajian bahan/data dalam Penyelenggaraan kesekretariatan.
c. Menyelenggarakan penyiapan penyusunan rencana dan program kegiatan dalam Penyelenggaraan urusan kesekretariatan sesuai ketentuan peraturan perundang undangan.
d. Menyelenggarakan penyusunan penetapan kebijakan umum ketatausahaan, keuangan, urusan umum dan kepegawaian, program, akuntabilitas dan informasi publik sesuai ketentuan peraturan perundang undangan.
e. Menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, memfasilitasi, monitoring, evaluasi, pengendalian dan kebijakan pada Sekretariat.
f. Menyelenggarakan pengkajian dan analisa pengelolaan Sekretariat.
g. Menyelenggarakan konsultasi dan asistensi Sekretariat.
h. Menyelenggarakan inventarisasi dan identifikasi Sekretariat.
i. Menyelenggarakan pemantauan dan observasi peneyelenggaraan Sekretariat.
j. Menyelenggarakan pengembangan informasi dan komunikasi publik dalam Penyelenggaraan urusan Sekretariat sesuai peraturan perundang undangan.
k. Menyelenggarakan bimbingan teknis sumber daya aparatur urusan keuangan.
l. Menyelenggarakan fasilitasi Penyelenggaraan rapat rapat internal dan eksternal.
m. Menyelenggarakan penyusunan dan penyempurnaan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan, sesuai bidang tugas dan fungsinya.
n. Menyelenggarakan penyampaian saran dan pertimbangan kepada atasan baik lisan maupun tulisan sebagai bahan masukan guna kelancaran pelaksanaan tugas.
o. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan.
p. Menyelenggarakan penyusunan laporan dan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya, sesuai standar yang ditetapkan.
4) Untuk melaksanakan tugas, fungsi dan uraian tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Sekretaris dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh :
1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.
2. Sub Bagian Keuangan.
3. Sub Bagian Program, Akuntabilitas dan Informasi Publik
4. Bidang Pengelolaan Anggaran
1) Bidang Pengelolaan Anggaran dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam rangka pengelolaan anggaran daerah Provinsi Sumatera Utara.
2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Pengelolaan Anggaran mempunyai fungsi:
a. Penyelenggaraan dan membantu Kepala Badan dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah bidang pengelolaan anggaran;
b. Penyelenggaraan dan membantu Kepala Badan dalam menyusun Rancangan APBD dan Perubahan APBD;
c. Penyelenggaraan dan membantu Kepala Badan dalam melaksanakan fungsi BUD;
d. Penyelenggaraan tugas lainnya berdasarkan kuasa atau petunjuk dari atasan.
3) Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Kepala Bidang Pengelolaan Anggaran mempunyai uraian tugas :
a. Menyelenggarakan dan menyusun konsep kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD;
b. Menyelenggarakan verifikasi RKA-SKPD/RKA-PPKD;
c. Menyelenggarakan verifikasi DPA-SKPD/DPA-PPKD, DPPA- SKPD/DPPA-PPKD dan DPA-L;
d. Menyelenggarakan konsep SPD;
e. Menyelenggarakan koordinasi penyiapan konsep kebijakan pinjaman dan piutang daerah;
f. Menyelenggarakan informasi anggaran daerah;
g. Menyelenggarakan tugas-tugas administrasi perkantoran.
4) Untuk melaksanakan tugas, fungsi dan uraian tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Kepala Bidang Pengelolaan Anggaran dibantu oleh :
1. Sub Bidang Pengelolaan Anggaran I 2. Sub Bidang Pengelolaan Anggaran II 3. Sub Bidang Pengelolaan Anggaran III
5. Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah
1) Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah dipimpin seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam Penyelenggaraan urusan Perbendaharaan dan Kas Daerah.
2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Perbendaharaan Kas Daerah mempunyai fungsi :
a. Penyelenggaraan pembinaan, bimbingan dan arahan kepada staf pada lingkup Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah;
b. Penyelenggaraan pengolahan data dibidang perbendaharaan dan kas Daerah;
c. Penyelenggaraan penyusunan rencana program kegiatan bidang perbendaharaan dan kas daerah;
d. Penyelenggaraan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan dibidang perbendaharaan dan kas daerah;
e. Penyelenggaraan penyusunan laporan dan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya sesuai standar yang ditetapkan.
3) Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Kepala Bidang Perbendaharaan Kas Daerah mempunyai uraian tugas :
a. Menyelenggarakan kebijakan teknis dibidang Perbendaharaan dan Kas Daerah;
b. Menyelenggarakan program kegiatan Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Menyelenggarakan koordinasi proses pengajuan pencairan dana-dana yang berasal dari pemerintah pusat ke pemerintah provinsi dan sumber dana lainnya;
d. Menyelenggarakan penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D);
e. Menyelenggarakan penempatan uang daerah dengan membuka rekening kas umum daerah;
f. Menyelenggarakan pelaksanaan dan pengendalian penerimaan, penyimpanan dan pembayaran atas beban rekening kas umum daerah;
g. Menyelenggarakan Pelaksanaan verifikasi atas penerimaan dan pengeluaran kas daerah;
h. Menyelenggarakan persiapan dan penerbitan SKPP;
i. Menyelenggarakan Pembuatan laporan realisasi penerimaan dan pengeluaran Kas Daerah;
j. Menyelenggarakan Penyusunan laporan aliran kas;
k. Menyelenggarakan Pelaksanaan pemungutan/pemotongan dan penyetoran PFK;
l. Menyelenggarakan Pengelolaan piutang dan utang daerah;
m. Menyelenggarakan Pelaksanaan analisis pemberdayaan dan penempatan uang daerah melalui investasi jangka pendek dalam rangka penerimaan daerah;
n. Menyelenggarakan Pelaksanaan rekonsiliasi data penerimaan dan pengeluaran kas serta pemungutan dan pemotongan atas SP2D dengan instansi terkait;
o. Menyelenggarakan Pelaksanaan penempatan uang daerah dan pengelolaan/penatausahaan investasi jangka pendek;
p. Menyelenggarakan Pelaksanaan konsultasi dan asistensi pengelolaan Perbendaharaan dan Kas Daerah;
q. Menyelenggarakan hubungan kerja sama dan kemitraan dalam Penyelenggaraan pengelolaan perbendaharaan dan kas daerah antar satuan kerja perangkat daerah, instansi vertikal, yayasan, lembaga, perbankan, pemerintah kabupaten/kota;
r. Menyelenggarakan bimbingan tehnis sumber daya aparatur pengelola urusan perbendaharaan dan kas daerah;
s. Menyelenggarakan persiapan pengangkatan dan penggantian Pengguna Anggaran dan Kuasa Pengguna Anggaran, bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran, bendaharan penerimaan pembantu dan bendahara pengeluaran pembantu;
t. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan kepala badan sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.
4) Untuk melaksanakan tugas,fungsi dan uraian tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Kepala Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah dibantu:
1. Sub Bidang Perbendaharaan I 2. Sub Bidang Perbendaharaan II 3. Sub Bidang Kas Daerah
6. Bidang Akuntansi
1) Bidang Akuntansi dipimpin seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas menyusun dan Menyelenggarakan kebijakan pelaksanaan akuntansi pemerintah daerah serta menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Akuntansi Menyelenggarakan fungsi :
a. Penyelenggaraan koordinasi penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD;
b. Penyelenggaraan koordinasi penyusunan kebijakan akuntansi Pemerintah Daerah;
c. Penyelenggaraan koordinasi, pembinaan, fasilitasi, serta monitoring dan evaluasi Penyelenggaraan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah;
d. Penyelenggaraan sosialisasi dan bimbingan teknis pengembangan sumber daya aparatur dalam bidang akuntansi pemerintahan;
e. Penyelenggaraan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan.
3) Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Kepala Bidang Akuntansi mempunyai uraian tugas:
a. Menyelenggarakan konsep kebijakan dan pedoman pelaksanaan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD;
b. Menyelenggarakan koordinasi penyiapan konsep kebijakan dan pedoman pelaksanaan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;
c. Menyelenggarakan evaluasi terhadap konsep dan pedoman pelaksanaan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;
d. Menyelenggarakan informasi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;
e. Menyelenggarakan pembinaan tentang penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;
f. Menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, fasilitasi, serta monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah;
g. Menyelenggarakan sosialisasi dan bimbingan teknis pengembangan sumber daya aparatur dalam bidang akuntansi pemerintahan;
h. Menyelenggarakan tugas-tugas administrasi perkantoran.
4) Untuk melaksanakan tugas,fungsi dan uraian tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Kepala Bidang Akuntansi dibantu oleh:
1. Sub Bidang Akuntansi I;
2. Sub Bidang Akuntansi II;
3. Sub Bidang Akuntansi III
7. Bidang Aset
1) Bidang Aset dipimpin seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam penyelenggaraan analisis dan kebutuhan aset, Pengelolaan aset serta Penghapusan aset Pemerintah Provinsi.
2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Aset menyelenggarakan fungsi :
a. Penyelenggaraan koordinasi dalam rangka pengelolaan barang milik daerah (BMD) / Aset;
b. Penyelenggaraan koordinasi dan kerjasama dalam rangka pelaksanaan penatausahaan barang milik daerah;
c. Penyelenggaraan monitoring, penelitian dan evaluasi terhadap barang milik daerah;
d. Penyelenggaraan koordinasi dan review laporan terhadap barang dan data barang milik daerah;
e. Penyelenggaraan bimbingan teknis, konsultasi dan asistensi dalam rangka penataan administrasi, pengembangan dan peningkatan urusan pengelolaan barang milik daerah;
f. Penyelenggaraan konsep ketentuan dan peraturan tentang barang milik daerah sesuai peraturan perundang undangan.
g. Penyelenggaraan dan membantu pejabat penatausahaan barang milik daerah sebagai unsur Tim Anggaran Pemerintah Daerah;
h. Penyelenggaraan pembinaan dan penataan administrasi dalam penyelnggaraan analisis kebutuhan, pengelolaan asset dan penghapusan.
3) Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Kepala Bidang Aset mempunyai uraian tugas:
a. Menyelenggarakan pembinaan, bimbingan dan arahan kepada staf pada lingkup bidang aset;
b. Menyelenggarakan pengolahan bahan, data dan informasi untuk penyusunan kebijakan, sesuai standar dan ketentuan peraturan perundang-undangan pengelolaan barang milik daerah;
c. Menyelenggarakan penyusunan peraturan pengelolaan barang milik daerah dan penyempurnaan standar, norma dan kriteria dalam penyelenggaraan urusan bidang aset;
d. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, sosialisasi, monitoring, investigasi dan evaluasi, pengelolaan dan kebijakan penyelenggaraan urusan analisis kebutuhan, pengelolaan aset dan penghapusan sesuai ketentuan peraturan peerundang-undangan dan standar yang ditetapkan;
e. Menyelenggarakan pengkajian dan analisis atas kebutuhan pengadaan dan pemeliharaan barang daerah untuk ditetapkan menjadi daftar kebutuhan dan pemeliharaan barang setiap tahun anggaran;
f. Menyelenggarakan, meneliti RKA dan DPA SKPD berpedoman pada daftar kebutuhan barang milik daerah (DKBMD) dan daftar kebutuhan pemeliharaan barang milik daerah (DKPBMD) yang telah ditetapkan;
g. Menyelenggarakan koordinasi, konsultasi pengelolaan aset Provinsi, Kab/Kota dan BUMD Provinsi, sesuai ketentuan perundang-undangan;
h. Menyelenggarakan penatausahaan, penggolongan dan kodefikasi barang daerah/aset sesuai standar yang ditetapkan;
i. Menyelenggarakan penetapan status penggunaan barang daerah kepada unit pemakai barang hasil pengadaan/pembelian, sesuai ketentuan dan peraturan perundang-undangan;
j. Menyelenggarakan informasi dan komunikasi publik, dalam penyelenggaraan bidang asset sesuai ketentuan perundang-undangan;
k. Menyelenggarakan penyusunan Standar Satuan Harga sesuai peraturan perundangundangan;
l. Menyelenggarakan koordinasi, monitoring dan evaluasi pemindahtanganan, pemusnahan dan penghapusan barang milik daerah;
m. Menyelenggarakan koordinasi, monitoring dalam pelaksanaan penjualan barang milik daerah secara langsung atau lelang umum, sesuai ketentuan dan peraturan perundang-undangan;
n. Menyelenggarakan koordinasi, fasilitasi, penilaian dan atau penaksiran terhadap barang milik daerah dengan pihak lain, sesuai ketentuan dan peraturan perundangundangan;
o. Menyelenggarakan penyusunan laporan barang persediaan dan aset tetap di lingkungan Satuan Kerja Perangkat Daerah;
p. Menyelenggarakan sosialisasi dan bimbingan tahunan tentang pengelolaan barang milik daerah;
q. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, dan melakukan proses pemindahtanganan, pemusnahan dan penghapusan BMD atas usulan SKPD, sesuai ketentuan yang berlaku;
r. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi dan evaluasi dan melakukan penilaian dan atau penaksiran harga BMD dalam rangka pemindahtanganan, pemusnahan dan penghapusan BMD, sesuai ketentuan yang berlaku;
s. Menyelenggarakan konsultasi dan asistensi penyelenggaraan pengembangan analisis kebutuhan, pengelolaan aset dan penghapusan;
t. Menyelenggarakan hubungan kerjasama dan kemitraan atas penyelenggaraan analisis kebutuhan, pengelolaan aset dan penghapusan;
u. Menyelenggarakan fasilitasi dan koordinasi penyelenggaraan rapat- rapat internal dan eksternal di bidang aset;
v. Menyelenggarakan penyusunan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan, sesuai bidang tugas dan fungsinya;
w. Menyelenggarakan pemberian masukan kepada Kepala Badan, sesuai bidang tugas dan fungsinya;
x. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan Kepala Badan, sesuai bidang tugas dan fungsinya;
y. Menyelenggarakan penyusunan laporan dan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya sesuai standar yang ditetapkan.
4) Untuk melaksanakan tugas,fungsi dan uraian tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Kepala Bidang Aset dibantu oleh:
1. Sub Bidang Analisis dan Kebutuhan Aset;
2. Sub Bidang Pengelolaan Aset;
3. Sub Bidang Penghapusan Aset.
8. UPT Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Tidak Bergerak
1) UPT Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Tidak Bergerak dipimpin oleh seorang Kepala UPT yang mempunyai tugas membantu Kepala Badan untuk urusan pemanfaatan dan pengamanan barang tidak bergerak.
2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala UPT Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Tidak Bergerak menyelenggarakan fungsi:
a. Penyelenggara pembinaan, koordinasi, fasilitasi, evaluasi kebijakan ketatausahaan dan teknis pemanfaatan dan pengamanan barang milik daerah;
b. Penyelenggara pelayanan informasi dan komunikasi pengelolaan Barang Milik Daerah serta pengaturan pemanfaatan dan pengamanan Barang Milik Darah;
c. Penyelenggara pembinaan bukti kepemilikan Barang Milik Daerah serupa sertifikat;
d. Penyelenggara penyusunan tata tertib pengendalian, pengawasan, penyimpanan barang pada gudang penyimpanan.
3) Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala UPT Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Tidak Bergerak mempunyai uraian tugas:
a. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring evaluasi dan meneliti pemanfataan Barang Milik Daerah berupa sebagian tanah dan bangunan yang masih digunakan pengguna barang dan atau selain tanah dan bangunan dengan persetujuan pengelola;
b. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi pada SKPD dalam rangka pemasangan tanda letak tanah / pemagaran, pengurusan bukti kepemilikan (Sertifikat, BPKB) dan pengurusan tanah yang sudah memiliki sertifikat namun belum atas nama Pemerintah Daerah sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku;
c. Menyelenggarakan pembinaan koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi pengendalian urusan ketatausahaan / administrasi, dokumentasi pemanfaatan dan pengamanan Barang Milik Daerah;
d. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, valuasi dan meneliti pemanfaatan Barang Milik Daerah yang tidak dipergunakan sesuai tugas dan fungsi SKPD dalam bentuk sewa, pinjam pakai, KSSP, BGS atau BSG dan KSPI kepada pihak ketiga dengan tidak merubah status kepemilikannya.
4) Untuk melaksanakan tugas,fungsi dan uraian tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Kepala UPT Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Tidak Bergerak dibantu oleh :
1. Sub Bagian Tata Usaha;
2. Seksi Pemanfaatan Aset Tidak Bergerak;
3. Seksi Pengamanan Aset Tidak Bergerak.
BAB III
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI KAS PADA BADAN PENGELOLA KEUANGAN DAN ASET DAERAH (BPKAD)
PROVINSI SUMATERA UTARA
3.1 Pengertian Sistem Informasi Akuntansi
Sistem Informasi Akuntansi (SIA) merupakan kegiatan yang melibatkan pengumpulan, penyimpanan, dan pemrosesan data keuangan. Sistem informasi akuntansi merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan dikarenakan sistem ini menyediakan berbagai elemen penting dalam siklus akuntansi. Sistem ini mencakup data yang berhubungan dengan pendapatan, pengeluaran, informasi pelanggan, informasi karyawan, dan informasi pajak dari perusahaan.
Data spesifik lainnya seperti pesanan penjualan dan laporan analisis, permintaan pembelian, faktur, inventaris, daftar gaji, dan neraca saldo harus masuk ke dalam sistem ini.
Umumnya, sistem ini adalah metode berbasis komputer untuk melacak aktivitas akuntansi. Sistem informasi akuntansi ini menggabungkan praktik akuntansi tradisional, seperti penggunaan prinsip akuntansi yang diterima secara umum dengan sumber daya teknologi informasi modern. Hasil dari dilaksanakannya sistem ini, nantinya akan digunakan untuk melaporkan informasi keuangan kepada investor, penyedia layanan kredit, dan semua pihak yang terlibat dalam sistem keuangan perusahaan tersebut. Selain itu, hasil dari SIA bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan ketika ingin mengambil keputusan baru bagi perusahaan.
Komponen - Komponen Sistem Informasi Akuntansi:
Sistem informasi akuntansi terdiri dari lima komponen, ialah sebagai berikut:
(Romney dan Steinbart, 2006:3).
1. Orang-orang yang mengoperasikan sistem tersebut dan melakukan berbagai macam fungsi.
2. Prosedur-prosedur, baik manual maupun yang terotomatisasi, yang dilibatkan dalam mengumpulkan, memproses, dan menyimpan data tentang aktivitas-aktivitas organisasi.
3. Data tentang proses-proses bisnis organisasi.
4. Software yang dipakai untuk memproses data organisasi.
5. Infrastruktur teknologi informasi, termasuk komputer, peralatan pendukung (peripheral device), dan peralatan untuk komunikasi jaringan.
Unsur-unsur Sistem Informasi Akuntansi:
Unsur-unsur sistem informasi akuntansi menurut Cushing (2007:24) sebagai berikut:
1. Sumber Daya Manusia
Sistem informasi akuntansi membutuhkan sumber daya untuk dapat berfungsi. Sumber daya dapat diklasifikasikan sebagai alat, data, bahan pendukung, sumber daya manusia dan dana.
2. Peralatan
Peralatan merupakan unsur sistem informasi akuntansi yang berperan dalam mempercepat pengolahan data, meningkatkan ketelitian kalkulasi atau perhitungan dan kerapihan bentuk informasi.
3. Formulir
Formulir merupakan unsur pokok yang digunakan untuk mencatat semua transaksi yang tejadi. Formulir sering disebut dengan istilah dokumen.
4. Catatan
Catatan terdiri dari beberapa bagian, yaitu sebagai berikut:
a. Jurnal
Merupakan catatan akuntansi yang pertama digunakan untuk mencatat, mengklasifikasi dan meringkas data keuangan dan data yang lainnya.
b. Buku besar
Terdiri dari rekening-rekening yang digunakan untuk meringkas data keuangan yang telah dicatat sebelumnya kedalam jurnal.
5. Prosedur
Prosedur merupakan urutan atau langkah-langkah untuk menjalankan suatu pekerjaan, tugas atau kegiatan.
6. Laporan
Hasil akhir dari sistem informasi akuntansi adalah laporan keuangan dan laporan manajemen.
3.2 Pengertian Kas
Kas adalah komponen dari aktiva paling aktif dan sangat mempengaruhi setiap transaksi yang terjadi. Ini dikarenakan setiap transaksi memerlukan suatu dasar pengukuran yaitu kas. Bahkan walaupun perkiraan kas tidak langsung terlibat dalam transaksi tersebut besarnya nilai transaksi tetap diukur dengan kas.
Kas juga bersifat tidak produktif. Oleh karena itu, kas harus dijaga agar jumlahnya tidak terlalu besar sehingga tiada kas yang menganggur. Di samping itu kas merupakan suatu aktiva yang paling mudah diselewengkan dan digunakan dengan tidak semestinya oleh karyawan perusahaan karena kas merupakan aktiva yang paling bernilai dibanding dengan aktiva lainnya serta yang paling mudah dipindah tangankan. Kas terdiri dari saldo kas (cash and hand) dan rekening giro setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid berjangka pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko perubahan-perubahan yang signifikan. (IAI, 2007 : 22).
Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan sistem informasi akuntansi kas adalah kesatuan yang melibatkan bagian-bagian, formulir- formulir, catatan-catatan, prosedur-prosedur, dan alat-alat yang saling berkaitan satu sama lain yang digunakan perusahaan untuk menangani penerimaan dan pengeluaran kas yang terjadi dalam perusahaan.
3.3 Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas BPKAD Provinsi Sumatera Utara
1. Sistem Akuntansi Penerimaan Kas
Penerimaan kas merupakan kas yang diterima oleh perusahaan baik berupa uang tunai maupun surat-surat berharga yang mempunyai sifat dapat segera digunakan, yang asalnya dari transaksi perusahaan maupun penjualan tunai, pelunasan piutang atau transaksi lainnya yang bisa menambah kas perusahaan. “Sumber penerimaan kas terbesar suatu perusahaan dagang berasal dari transaksi penjualan tunai.” (Mulyadi, 2013: 455).
Menurut Mulyadi dalam bukunya yang berjudul Sistem Akuntansi bahwa berdasarkan sistem pengendalian intern yang baik, sistem penerimaan kas dari penjualan tunai mengharuskan:
1. Penerimaan kas dalam bentuk tunai harus segera disetor ke bank dalam jumlah penuh dengan cara melibatkan pihak lain selain kasir untuk melakukan cek internal.
2. Penerimaan kas dari penjualan tunai dilakukan melalui transaksi kartu kredit, yang melibatkan bank penerbit kartu kredit dalam pencatatan transaksi penerimaan kas.
Tabel 3.3
Penerimaan Kas pada BPKAD Provinsi Sumatera Utara
Kegiatan:
a. Memerintahkan Kasubbid Kas daerah untuk membuat laporan harian mingguan bulanan penerimaan daerah.
b. Mencetak rekening koran dan memberikan ke staf yang mengelola penerimaan daerah.
Kabid Kasubbid Staf Kaban Kelengkapan Waktu Output
Disposisi 5 menit Disposisi
Disposisi 5 menit Disposisi
Disposisi Rekening koran STS
Laporan penerimaan daerah
30 menit
Rekening koran Draft Laporan harian,mingguan dan bulanan
Rekening koran Draft Laporan harian,mingguan dan bulanan
10 menit
Draft Laporan harian,mingguan dan bulanan
Draft Laporan harian,mingguan dan bulanan
10 menit
Laporan harian,mingguan dan bulanan
Laporan
harian,mingguan dan bulanan
5 menit
Laporan harian,mingguan dan bulanan
Untuk laporan bulanan akan disampaikan ke Kaban untuk ditandatangani Pelaksana
Keterangan Mutu Baku
Ya Tidak
Ya
c. Menyesuaikan Surat Tanda Setoran (STS)/laporan penerimaan daerah dengan Rekening koran jika sesuai mencetak laporan harian,mingguan dan bulanan kemudian diparaf diteruskan ke kasubbid untuk disetujui.
d. Memeriksa laporan harian,mingguan dan bulanan. Jika ya akan membubuhkan paraf, jika tidak akan dikembalikan ke Staf untuk diperbaiki.
e. Memeriksa Surat Tanda Setoran (STS)/laporan penerimaan daerah. Jika ya akan ditandatangani dan diteruskan ke Kasubbid untuk diarsipkan, jika tidak akan dikembalikan ke Kasubbid untuk diperbaiki.
f. Mengarsipkan laporan penerimaan daerah harian, mingguan dan bulanan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka menurut penulis Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan Kas yang diterapkan oleh Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara telah berjalan dengan baik.
Karena perusahaan telah menetapkan prosedur yang jelas.
2. Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas
Secara garis besar, pengeluaran kas perusahaan dilakukan melalui dua sistem, yaitu: sistem pengeluaran kas dengan cek dan sistem pengeluaran kas dengan uang tunai melalui dana kas kecil. Pengeluaran kas yang dilakukan dengan uang tunai biasanya relatif kecil.
Menurut Baridwan (2009:187), “Prosedur pengeluaran kas adalah prosedur pengeluaran cek untuk melunasi utang yang sudah disetujui dan mencatat pengeluaran kas, serta pengeluaran-pengeluaran lain yang berhubungan dengan kegiatan operasional perusahaan”
Pengeluaran kas dengan cek, dinilai lebih aman dibanding dengan pengeluaran kas dengan uang tunai. Adapun kebaikan pengeluaran kas melalui cek ditinjau dari pengendalian internnya, sebagai berikut:
1. Dengan menggunakan cek atas nama, pengeluaran cek akan diterima oleh pihak yang namanya tertulis dalam formulir cek.
2. Dengan menggunakan cek, pencatatan transaksi pengeluaran kas juga akan direkam oleh pihak Bank.
3. Jika sistem perbankan mengembalikan cancelled check kepada check issuer, pengeluaran kas dengan cek memberi manfaat tambahan bagi perusahaan dengan dapat digunakannya cancelled check sebagai tanda terima kas dari pihak yang menerima pembayaran.
Sistem akuntansi pengeluaran kas adalah kesatuan yang melibatkan bagian-bagian, formulir-formulir, catatan-catatan, prosedur-prosedur, dan
alat-alat yang saling berkaitan satu sama lain yang digunakan perusahaan untuk menangani pengeluaran kas.
Tabel 3.3
Pengeluaran Kas pada BPKAD Provinsi Sumatera Utara
Kabid Kasubbid Staf Kelengkapan Waktu Output
Disposisi 5 menit Disposisi
Disposisi 5 menit Disposisi
Disposisi Rekening koran SP2D Laporan
pengeluaran Daerah
30 menit
Rekening koran Draft Laporan harian,mingguan dan bulanan
Rekening koran Draft Laporan harian,mingguan dan bulanan
10 menit
Draft Laporan harian,mingguan dan bulanan
Draft Laporan harian,mingguan dan bulanan
10 menit
Laporan harian,mingguan dan bulanan
Laporan
harian,mingguan dan bulanan
5 menit
Laporan harian,mingguan dan bulanan Pelaksana
Keterangan Mutu Baku
Ya
Tidak
Kegiatan:
a. Memerintahkan Kasubbid Kas Daerah untuk membuat laporan harian mingguan bulanan pengeluaran Daerah.
b. Mencetak rekening koran dan memberikan ke Staf yang mengelola pengeluaran Daerah.
c. Menyesuaikan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)/laporan pengeluaran Daerah dengan Rekening koran jika sesuai mencetak laporan harian,mingguan dan bulanan kemudian diparaf diteruskan ke kasubbid untuk disetujui.
d. Memeriksa laporan harian,mingguan dan bulanan. Jika ya akan membubuhkan paraf, jika tidak akan dikembalikan ke Staf untuk diperbaiki.
e. Memeriksa Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)/laporan pengeluaran Daerah. Jika ya akan ditandatangani dan akan diarsipkan oleh kasubbid, jika tidak akan dikembalikan ke Kasubbid untuk diperbaiki.
f. Mengarsipkan laporan pengeluaran daerah harian, mingguan dan bulanan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka menurut penulis Sistem Informasi Akuntansi Pengeluaran Kas yang diterapkan oleh Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara telah berjalan dengan baik.
Karena perusahaan telah menetapkan prosedur yang jelas.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka berdasarkan hasil penelitian terhadap Sistem Informasi Akuntansi Kas pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara, disimpulkan sebagai berikut :
1) Penerimaan dan Pengeluaran Kas pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara berjalan dengan lancar, efektif, efisien dan telah memenuhi ketentuan pemerintah.
Prosedur tersebut telah memberikan jaminan keamanan atas penerimaan dan pengeluaran kas, sehingga penyalahgunaan dan penyelewengan kas dapat dihindari.
2) Penerimaan dan Pengeluaran Kas di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara telah memenuhi syarat karena telah dilaksanakan dengan mengikuti peraturan yang berlaku.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis akan mengemukakan saran kepada perusahaan sekiranya bermanfaat.
1) Tetap mempertahankan sistem dan prosedur yang sudah diatur sesuai peraturan yang berlaku dalam penerimaan dan pengeluaran kas daerah sebagai wujud pengelolaan keuangan daerah yang baik oleh Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara.
2) Untuk proses penerimaan kas, diharapkan ketegasan dari pegawai Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Medan agar lebih tegas kepada dinas, badan dan sebagainya (klien) bersangkutan dalam pengelolaan keuangan daerah untuk lebih disiplin terhadap tugasnya, agar tidak terjadi penumpukan pekerjaan bagi pegawai Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Utara.
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. 2009. Sistem Akuntasi Penyusunan Prosedur dan Metode.
Yogyakarta. BPFE.
Cushing, Barry E. 2007. Sistem Informasi Akuntansi dan Organisasi Perusahaan, Edisi Ketiga. Diterjemahkan oleh: Kosasih, Ruchyat. Jakarta. Erlangga Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Standard Akuntansi Keuangan. Jakarta. Salemba
Empat.
Mulyadi. 2001. Sistem Akuntansi, Edisi Ketiga. Jakarta. Salemba Empat.
Mulyadi. 2013. Sistem Akuntansi, Edisi Ketiga, Cetakan Keempat. Jakarta.
Salemba Empat.
Romney, Marshall B. dan Steinbart. 2015. Sistem Informasi Akuntansi, Edisi 13.
Diterjemahkan oleh: Safira, Kikin SN. dan Puspasari, Novita. Jakarta.
Salemba Empat.
Widjajanto, Nugroho. 2001. Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta. Erlangga.
Website:
(http://bpkad.sumutprov.go.id/ 1 April 2020 /20.15)
(http://www.jurnal.id/id/blog/sistem-informasi-akuntansi-dalam-perusahaan/
9 Juni 2020 / 22.03)