• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. permukaan seperti air sumur dangkal, air sungai, air danau, air rawa; air tanah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. permukaan seperti air sumur dangkal, air sungai, air danau, air rawa; air tanah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air bersih (sanitation water) adalah air yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan pada sektor rumah tangga seperti untuk mandi, mencuci dan kakus. Pengertian ini harus dibedakan dengan pengertian air minum, yakni air yang memenuhi syarat-syarat kesehatan sehingga dapat langsung diminum (Soekidjo, 2011).

Sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat antara lain: air permukaan seperti air sumur dangkal, air sungai, air danau, air rawa; air tanah seperti mata air, air sumur dalam dan lain-lain; air hujan. Tidak semua sumber air tersebut dapat langsung dipergunakan untuk itu perlu dilakukan pengolahan terutama pada daerah perkotaan.

Air bersih dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan non domestik. Air bersih yang digunakan untuk kebutuhan domestik digunakan untuk kegiatan sehari – hari seperti mencuci peralatan makan, menyiram tanaman serta keperluan toilet. Air bersih yang digunakan untuk kebutuhan non domestik digunakan untuk kebutuhan institusional (perkantoran, sekolah), kebutuhan komersial (pasar, hotel, pertokoan), kebutuhan industri (proses produksi) serta kebutuhan fasilitas umum (tempat ibadah, terminal).

PT.Beton Elemen Persada merupakan industri yang memproduksi beton ringan seperti panel lantai ringan, panel dinding, bata ringan interlock dan juga

(2)

mortar sebagai semen instan. Jumlah tenaga kerja di PT.Beton Elemen Persada adalah 293 jiwa yang terdiri dari pria sebanyak 267 jiwa dan wanita sebanyak 26 jiwa.

PT.Beton Elemen Persada menggunakan air bersih untuk kebutuhan non domestik dan domestik. Air bersih untuk kebutuhan domestik digunakan untuk kegiatan mencuci peralatan memasak dan peralatan makan di pantry/dapur kantor.

Meskipun kebutuhan air bersih ini hanya digunakan untuk kegiatan mencuci peralatan makan dan memasak, namun kualitas bakteri dari air tersebut harus tetap diperhatikan sebab bila air yang digunakan tersebut mengandung mikroorganisme yang tidak diinginkan seperti E.coli maka air tersebut dapat menyebabkan penyakit seperti diare. Apabila air yang digunakan untuk mencuci peralatan makan dan peralatan masak mengandung bakteri maka dapat mengakibatkan terkontaminasinya peralatan tersebut oleh bakteri yang nantinya dapat mengakibatkan kontaminasi pada makanan yang akan disajikan.

Berdasarkan permenkes nomor 416/menkes/per/IX/1990 tentang Syarat- syarat dan Pengawasan Kualitas Air, parameter fisik yang harus dipenuhi diantaranya bau, kekeruhan, rasa dan warna. Parameter kimia yang harus dipenuhi diantaranya alumunium, besi, mangan, kesadahan, klorida dan lainnya. Parameter biologi yang harus dipenuhi diantaranya bakteri dan virus sedangkan parameter radioaktif yang harus dipenuhi diantaranya aktivitas alfa dan aktivitas beta. Batas maksimum bakteri yang diperbolehkan untuk parameter biologi air bersih dalam hal ini total koliform (MPN) ialah 0/100 ml sampel air.

(3)

Hasil pemeriksaan air bersih pada bulan maret 2017, kandungan E.coli dan Coliform air bersih di pantry ialah 11,5 koloni/100 ml sampel air. Hal ini

menunjukkan bahwa air tersebut tidak memenuhi syarat kualitas mikrobiologi air bersih menurut PERMENKES nomor 416/menkes/per/IX/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air yakni 0 koloni/100 ml sampel air. Dari hasil pemeriksaan tersebut maka perlu dilakukan pengolahan air dengan cara desinfeksi.

Menurut (Jaka Rukmana, 2015) pada penelitiannya yang berjudul Aplikasi Teknologi Membran untuk Desinfeksi Air, proses menghilangkan bakteri patogen

dapat dilakukan dengan cara desinfeksi. Hal yang perlu diperhatikan dalam konteks desinfeksi adalah bagaimana mencegah terjadinya pemindahan bibit penyakit ke tubuh manusia melalui air bersih dengan memutus rantai antara keduanya dengan cara desinfeksi. Desinfeksi harus memenuhi persyaratan seperti dapat membunuh berbagai jenis dan semua populasi patogen yang ada di dalam air bersih dalam waktu dan suhu tertentu, selain itu desinfeksi tidak bersifat racun pada manusia dan juga kadarnya dalam air mudah dianalisa dan diketahui. Air dapat di desinfeksi dengan berbagai cara yaitu pemanasan, penyaringan menggunakan membran, pemaparan ke sinar ultraviolet, dan reaksi dengan bahan kimia oksidasi, ion logam, asam atau basa, dan bahan aktif permukaan.

Salah satu cara sederhana untuk menghilangkan bakteri patogen pada air bersih adalah dengan cara pembubuhan kaporit, cara ini merupakan cara sederhana dan tidak membutuhkan tenaga serta biaya yang besar dalam penggunaan dan pemeliharaannya dibandingkan dengan cara desinfeksi lainnya. Tujuan dari klorinasi (pemberian kaporit/klorin) adalah sebagai upaya sanitasi air yang dapat membunuh bakteri dan mikroorganisme lain yang mencemari air.

(4)

Salah satu kelemahan desinfeksi menggunakan kaporit adalah terbentuknya senyawa organo halogen seperti trihalomethan (THMs). Trihalomethan merupakan senyawa karsinogenik dan mutagenik. Ada korelasi positif antara konsentrasi kaporit yang diaplikasikan dengan konsentrasi terbentuknya THMs. Semakin tinggi konsentrasi kaporit, semakin tinggi pula konsentrasi THMs dilingkungan tersebut.

Untuk mengantisipasi pelepasan klor yang berlebih tersebut diperlukan penentuan Breakpoint clorination (BPC) atau titik retak klorinasi. BPC adalah konsentrasi klor

aktif yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik, bahan anorganik (amoniak) dan bahan lain yang dapat dioksidasi serta membunuh mikroorganisme jika masih ada sisa klor aktif pada konsentrasi tersebut.

Cara menghindari adanya senyawa trihalomethan (THMs) dalam air pada prinsipnya mencegah terjadinya reaksi antara senyawa klor dan asam humus (koloid organik) atau mencegah pencemaran/pengotoran air. Berbagai upaya untuk mencegah terbentuknya trihalomethan dalam air diantaranya menghilangkan senyawa humus dengan menggunakan proses adsorpsi karbon aktif, menggunakan oksidator ozon sebelum dilakukan khlorinasi, dan menghilangkan senyawa – senyawa langsung atau tidak langsung yang dapat menyebabkan terbentuknya trihalomethane misalnya senyawa organik (COD, BOD) amoniak dengan cara proses awal (Said, 2002)

Menurut (Puti sri Komala dan Ajeng Yanarosanti, 2014) pada penelitiannya yang berjudul Inaktivasi Bakteri Escherichia coli Air Sumur Menggunakan Desinfektan Kaporit, pembubuhan kaporit dengan 5 variasi dosis kaporit yairu 10 mg/L, 20 mg/L, 30 mg/L, 40 mg/L dan 50 mg/L serta menggunakna 5 variasi waktu kontak yaitu 10 menit, 20 menit, 30 menit, 40 menit dan 50 menit, efisiensi

(5)

pembubuhan kaporit tertinggi diperoleh pada dosis 50 mg/L selama waktu kontak 30 menit.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengolahan air bersih dengan cara desinfeksi menggunakan kaporit dengan waktu kontak 30 menit. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Puti sri Komala dan Ajeng Yanarosanti, 2014 adalah dosis kaporit yang digunakan berbeda yaitu 1,3 ml/L.

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut “apakah ada perbedaan waktu kontak kaporit terhadap penurunan kandungan E.coli pada air bersih di pantry PT.Beton Elemen Persada”

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui perbedaan waktu kontak kaporit terhadap penurunan kandungan E.coli pada air bersih di pantry PT.Beton Elemen Persada.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui jumlah bakteri E.coli pada air bersih di pantry PT.Beton Elemen Persada sebelum penambahan kaporit

2. Mengetahui jumlah bakteri E.coli pada air bersih di pantry PT.Beton Elemen Persada setelah penambahan kaporit

3. Mengetahui perbedaan waktu kontak kaporit terhadap penurunan kandungan E.coli pada air bersih di pantry PT.Beton Elemen Persada

(6)

4. Mengetahui faktor yang mempengaruhi kualitas bakteriologi air bersih di PT.Beton Elemen Persada

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Industri

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi solusi/referensi bagi pihak industri untuk mengolah air bersih dengan cara penambahan desinfektan.

1.4.2 Bagi Instansi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam penyehatan air.

1.4.3 Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman tentang ilmu yang telah diberikan khususnya mengenai pengolahan air bersih

1.5 Ruang Lingkup

Jenis penelitian yang dilakukan ialah eksperimen dengan pretest - posttest with design. Sampel air bersih yang diambil berasal dari kran pantry PT.Beton Elemen Persada. Penelitian ini difokuskan pada penurunan kandungan E.coli pada air bersih di pantry PT.Beton Elemen Persada dengan menggunkaan desinfektan yaitu kaporit dosis 1,3 ml/L.

Referensi

Dokumen terkait

Berikan penjelasan kepada pasien tentang bagaimana penggunaan peralatan medis yang tepat.. Evaluasi kemampuan pasien dalam menggunakan peralatan medis

Proses ini dilakukan setelah proses pengumpulan data dilakukan, hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam proses pengembangan aplikasi, pada proses ini ketua

e) Herbert A. Simon adalah ilmuan politik dan sosial berkebangsaan Amerika. Simon mencatat bahwa kebanyakan dari prinsip klasik tidak lebih dari pada pepatah saja

+em!agi pasar men'adi !e!erapa kelompok pem!eli yang !er!eda yang memerlukan produk atau marketing mix yang !er!eda pula. Segmentasi pasar perlu dilakukan mengingat

Hasil pengujian hipotesis (H-3) terbukti bahwa ada pengaruh antara disiplin kerja terhadap kinerja karyawan. Hal ini dapat di- buktikan bahwa nilai t hitung sebesar 2,665 dengan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2015 Tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit.. Departemen Kesehatan

Jarak Ibukota Kecamatan ke Pusat Pemerintahan (Ibukota) Kabupaten Bantul adalah 8 Km. Kecamatan Sewon beriklim seperti layaknya daerah dataran rendah di daerah tropis