L A P O R A N
PENGGUNAAN DANA DEKONSENTRASI
PROGRAM KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
SATUAN KERJA (417665) DINAS KESEHATAN PROVINSI KALTARA TAHUN 2020
DINAS KESEHATAN PROVINSI KALTARA
BIDANG PELAYANAN KESEHATAN DAN SDK
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas semua limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Laporan Penggunaan Dana Dekonsentrasi Satker (417665) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan dapat diselesaikan.
Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawab terhadap publik dan dalam rangka mencapai tata pemerintahan yang baik dan bersih (Good Governance). Selain itu, laporan ini juga menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan kinerja tahun berikutnya secara lebih produktif, efektif dan efisien, baik dari aspek perencanaan, pengorganisasian, manajemen keuangan maupun koordinasi pelaksanaannya terutama untuk mensukseskan dan mendukung program-program prioritas nasional dan daerah.
Tahun 2020, Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan memasuki tahun keenam dalam pembangunan kesehatan periode 2020-2024, program ini didesain untuk mencapai sasaran meningkatnya akses, kemandirian, dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan, maka untuk mewujudkan program tersebut sejumlah kegiatan telah dilaksanakan oleh Satker (417665) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Sejumlah kemajuan dan pencapaian terhadap indikator program telah dihasilkan walaupun dalam pelaksanaannya tentu tidak terlepas dari berbagai kekurangan, untuk itu dalam laporan ini juga disampaikan sejumlah permasalahan yang dihadapi sebagai masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan laporan ini kami mengucapkan terimakasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat dalam memberikan gambaran pelaksanaan Program Kefarmasian serta meningkatkan kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, khususnya Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Tanjung Selor, 05 Januari 2021 KepalaDinasKesehatan
Provinsi Kalimantan Utara
Usman,SKM.,M.Kes Pembina Utama Muda/ IVc NIP. 19680817 199312 1 004
IKHTISAR EKSEKUTIF
Laporan ini menyajikan gambaran dan memberikan informasi penggunaan dana Dekonsentrasi Satker (417665) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2020 sebagaibagian dari pencapaian sasaran strategis Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada Rencana Stategis (Renstra) Kementerian Kesehatan 2020-2024. Laporan ini juga merupakan hasil konkrit dalam pelaksanaan berbagai program/kegiatan di Seksi Kefarmasian, dan Alat Kesehatan yang disusun sebagai pertanggungjawaban atas Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang tertuang dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2020.
Sasaran Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan dan target capaian indikator sasaran tahun 2020 yang tertuang dalam Renstra Kemenkes 2020-2024 sebagai berikut :
1. Meningkatkan akses, kemandirian dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan, dengan target indikator adalah:
a. Persentase Puskemas dengan ketersediaan obat dan vaksin esensial 90 % b. Jumlah bahan baku obat dan obattradisionalsertaalatkesehatan (alkes) yang
diproduksi di dalam negeri sebesar 30 Jenis.
c. Jumlah bahan baku sediaan farmasi yang siap diproduksi didalam negeri dan Jumlah jenis alat kesehatan yang diproduksi didalam negeri 21 Jenis
d. Persentase produk alat kesehatan dan PKRT di peredaran yang memenuhi syarat sebesar 86%.
2. Meningkatnya pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional di fasilitas kesehatan, dengan target indikator adalah:
a. Persentase Puskemas yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar 60 %.
b. Persentase penggunaan obat rasional di Puskemas 70 %.
3. Tersedianya obat, vaksin dan perbekalan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau di pelayanan kesehatan pemerintah, dengan target indikator adalah:
a. Persentase ketersediaan obat dan vaksin di Puskemas 90 %.
b. Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten / Kota yang melakukan manajemen pengelolaan obat dan vaksin sesuai standar 75 %.
4. Meningkatnya pengendalian pra dan pasca pemasaran alat kesehatan dan PKRT, dengan target indikator adalah:
a. Persentase produk alkes dan PKRT diperedaran yang memenuhi syarat 83%.
b. Jumlah alkes yang diproduksi di dalam negeri.
c. Persentase sarana produksi alat kesehatan dan PKRT yang memenuhi cara pembuatan yang baik (GMP/CPAKB).
d. Persentase penilaian pre market tepat waktu sesuai Good Review Practices 75%.
5. Meningkatnya produksi bahan baku dan obat local serta mutu sarana produksi dan distribusi kefarmasian, dengan target indikator adalah:
a. Jumlah bahan baku obat dan obat tradisional yang diproduksi dalam negeri.
b. Jumlah industri yang memanfaatkan bahan baku obat dan obat tradisional produksi dalam negeri.
6. Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas lainnya pada program kefarmasian dan alat kesehatan, dengan target indikator adalah:
a. Pesentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen 95 %.
Untuk mencapai sasaran program tersebut, maka telah ditetapkan sasaran kegiatan, indikator kinerja dan target melalui Perjanjian Kinerja, dengan capaian Tahun 2020 sebagai berikut :
NO SASARAN
KEGIATAN INDIKATOR TARGET 2020
CAPAIAN sampai Desember
1 Peningkatan Pelayanan Kefarmasian
Fasyankes yang Mampu dalam Melaksanakan Pelayanan
Kefarmasian Sesuai Standar
58 Fasyankes 58 Fasyankes
2
PeningkatanTata Kelola Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan
Dinas Kesehatan Provinsi dan Kab/Kota yang Melaksanakan Program Tata Kelola Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan
1 Provinsi 1 Provinsi
3
Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Layanan Perencanaan, Konsolidasi dan
Evaluasi Terhadap Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya
1 Provinsi 1 Provinsi
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan didukung oleh anggaran dana Dekonsentrasi Tahun 2020 sebesar Rp 1.557.569.000
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
IKHTISAR EKSEKUTIF ... ii
DAFTAR ISI ... iv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. MAKSUD DAN TUJUAN ... 2
C. ASPEK STRATEGIS PROGRAM KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN ... 3
D. STRUKTUR ORGANISASI ... 4
E. SISTEMATIKA ... 4
BAB II. PERENCANAAN KINERJA ... 6
A. RENCANA STRATEGIS ... 6
B. PERJANJIAN KINERJA ... 8
BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA ... 11
A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI ... 11
B. REALISASI ANGGARAN ... 14
BAB IV. PENUTUP ... 15
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Laporan pelaksanaan dana Dekonsentrasi Satker (417665) Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2020 disusun sebagai wujud pertanggungjawaban atas kinerja berdasarkan perencanaan strategis yang telah ditetapkan. Laporan kinerja ini disusun sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Biro krasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2416/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Kesehatan.
Visi Organisasi
Sejalan dengan visi pembangunan kesehatan Provinsi Kalimantan Utara serta visi dan misi gubernur Kalimantan Utara tahun 2020-2024, sesuai pula dengan tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, maka visi dinas kesehatan Provinsi Kalimantan Utara adalah, “Mewujudkan masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”.
Misi Organisasi
1. Memfasilitasi pemeliharaan dan peningkatan upaya kesehatan yang bermutu, terjangkau dan berkeadilan merata mencakup perbatasan
2. Mendorong dan menggerakkan pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat dan membangun kemitraan dengan lintas sektor dalam dan luar wilayah NKRI
3. Mengembangkan sumber daya kesehatan yang memadai dan berkesinambungan sesuai kebutuhan
4. Memantapkan manajemen kesehatan yang dinamis dan akuntabel
Adapun rincian tugas Seksi Kefarmasian, Makanan Minuman dan Alat Kesehatan adalah :
1. Menyiapkan rencana kegiatan berdasarkan tugas, permasalahan dan kebijakan sebagai bahan penyusunan Renstra SKPD.
2. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan berdasarkan Renstra SKPD.
3. Membagi tugas kepada bawahan sesuai jabatan/tugasnya secara jelas, rinci, sistematis dan tepat agar dapat dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
4. Menyelia (membimbing, mengarahkan, mengawasi) penyusunan rumusan pedoman pelaksanaan kebijakan di bidang pelayanan farmasi komunitas, farmasi klinik dan kerja sama profesi serta di bidang penggunaan obat tradisional dan essensial Nasional.
5. Menyelia (membimbing, mengarahkan, mengawasi) penyusunan rumusan pedoman pelaksanaan kebijakan di bidang pengadaan dan pengelolaan obat publik untuk pelayanan Kesehatan dasar serta pengadaan alat dan perbekalan Kesehatan skala Provinsi dan lintas Kabupaten/Kota.
6. Menyiapkan bahan perumusan kebijakan dan pelaksanaan koordinasi, pembinaan dan pengendalian teknis produksi, pengadaan, distribusi dan penggunaan obat, obat tradisional, kosmetika, alat dan perbekalan Kesehatan serta Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT), makanan & minuman, zat adiktif, narkotika dan bahan berbahaya skala Provinsi.
7. Melaksanakan pengawasan terhadap alat dan perbekalan Kesehatan termasuk perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT).
8. Melaksanakan pengelolaan (meliputi perencanaan, pengadaan penyimpanan, pendistribusian, monitoring, evaluasi dan pelaporan) obat, alat dan perbekalan Kesehatan bagi pelayanan Kesehatan skala Provinsi.
9. Menilai bawahan sesuai peraturan dan pedoman yang ada untuk mengetahui kinerja bawahan.
10. Melakukan pembinaan pegawai untuk peningkatan kinerja dan kapasitas.
11. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan berdasarkan rencana dan realisasinya untuk mengetahui tingkat pencapaian program dan permasalahan yang dihadapi serta alternatif pemecahan masalahnya.
12. Melaksanakan tugas lain sesuai bidang tugas.
13. Melaporkan pelaksanaan tugas secara lisan dan atau tertulis kepada atasan.
Berdasarkan TUPOKSI tersebut yang melaksanakan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara adalah Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
Laporan pelaksanaan dana Dekonsentrasi Tahun 2020 merupakan bentuk akuntabilitas dari pelaksanaan tugas dan fungsi yang dipercayakan atas penggunaan anggaran, memberikan informasi kinerja yang terukur atas kinerja yang telah dan
seharusnya dicapai dan sebagai upaya perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan kinerja.
C. ASPEK STRATEGIS PROGRAM KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN Dalam rangka meningkatkan capaian indikator kinerja Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan melaksanakan beberapa kegiatan dengan sumber dana APBN dan APBD. Kegiatan pembinaan Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan secara berkelanjutan terus dilakukan kepada stakeholder terkait sesuai Renstra 2020 - 2024. Adapun gambaran program Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2020 adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan ketersediaan di tingkat Instalasi Farmasi Kabupaten/kota terus meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun demikian, ketersediaan obat dan vaksin belum terdistribusi secara merata baik antar puskesmas, antar kabupaten/kota. Hal ini mencerminkan belum optimalnya manajemen logistik obat dan vaksin. Untuk itu perlu didorong pemanfaatan sistem pengelolaan logistik online serta skema relokasi obat-vaksin antar Puskesmas/Kabupaten/Kota/Provinsi yang fleksibel dan akuntabel.
2. Perbaikan manajemen logistik obat dan vaksin telah dimulai dengan adanya pengimplementasian e-catalogue dan e-logistic obat. Melalui e-logistic pemantauan ketersediaan obat dan vaksin akan semakin real time dan memudahkan pengelolaannya bagi pelaksanaan program kesehatan. Adapun jumlah item obat yang tersedia dalam e-catalogue semakin meningkat dari tahun ke tahun.
3. Pelayanan Kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan pada umumnya masih belum sesuai standar. Untuk itu terus dilakukan peningkatan pembinaan dalam pelayanan kefarmasian. Penggunaan obat generik sudah cukup tinggi, tetapi penggunaan obat rasional di fasilitas pelayanan kesehatan masih harus ditingkatkan. Hal ini terutama disebabkan oleh masih rendahnya penerapan formularium dan pedoman penggunaan obat secara rasional.
4. Dalam upaya peningkatan ketersediaan obat dan alat kesehatan yang aman, bermutu dan berkhasiat tersebut, pemerintah telah menyusun Formularium Nasional (Fornas) dan e-catalogue untuk menjamin terlaksananya penggunaan obat rasional. Konsep Obat Esensial diterapkan pada Formularium Nasional sebagai acuan dalam pelayanan kesehatan, sehingga pelayanan kefarmasian dapat menjadi
cost effective. Fornas selalu direview dan diperbaiki menyesuaikan dengan standar pelayanan kedokteran terbaru.
5. Pembinaan terhadap distribusi alat kesehatan terus dilakukan, dimana Alat Kesehatan dan PKRT yang memenuhi syarat keamanan, mutu dan manfaat terus meningkat.Selain itu, hal ini juga meningkatkan sarana produksi alkes dan PKRT yang memiliki sertifikat Good Manufacturing Process terkini dan memenuhi cara produksi yang baik.
6. Pembinaan dan pengawasan terhadap sarana produksi dan distribusi kefarmasian tahun 2020 telah dilaksanakan belum dapat dilaksanakan secara maksimal karena keterbatasan dana yang ada.
D. STRUKTUR ORGANISASI
Untuk menjalankan Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang dibantu oleh beberapa orang staf Program dan Pengelola Keuangan. Selengkapnya Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara adalah sebagai berikut :
Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara
KEPALA DINAS
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL KABID SDK &
YANKES
KASI YANKES
KASI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
KASI SUMBER DAYA MANUSIA
KESEHATAN
KABID KESMAS
KASI KESGA & GIZI
KASI PROMKES
KASI KESLING, KESJA &
OLAHRAGA
KABID P2P
KASI SURVEILANS DAN IMUNISASI
KASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR
KASI PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR DAN KESEHATAN
JIWA UPTD GUDANG
FARMASI SEKRETARIS
KASUBAG PERENCANAN & KEUANGAN KASUBAG UMUM & KEPEGAWAIAN
E. SISTEMATIKA
Sistematika laporan kinerja Seksi Kefarmasian dan Alkes Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2020 sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini disajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama yang sedang dihadapi organisasi.
Bab II Perencanaan Kinerja
Pada bab ini diuraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja tahun yang bersangkutan.
Bab III Akuntabilitas Kinerja A. Capaian Kinerja Organisasi
Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis organisasi sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan analisis capaian kinerja.
B. Realisasi Anggaran
Pada sub bab ini diuraikan realisasi anggaran yang digunakan dan yang telah digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja.
Bab IV Penutup
Pada bab ini diuraikan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.
BAB II
PERENCANAAN KINERJA
A. RENCANA STRATEGIS
Sesuai Undang-Undang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 25 Tahun 2004, Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah.
Pembangunan kesehatan periode 2020 – 2024 dilaksanakan untuk mencapai sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan. Dalam pencapaian sasaran tersebut, Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan berperan melalui meningkatkan akses, kemandirian, serta mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan.
Dalam mewujudkan peningkatan akses, kemandirian, serta mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan, Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan memiliki tiga tujuan utama, yaitu: 1) Terwujudnya peningkatan ketersediaan obat dan vaksin di puskesmas, yang dicapai melalui meningkatnya kapasitas supply chain management obat di Instalasi Farmasi kabupaten/kota, meningkatnya promosi penggunaan obat rasional, dan meningkatnya mutu pelayanan kefarmasian di puskesmas; 2) Terwujudnya kemandirian bahan baku obat, obat tradisional, dan kemandirian alat kesehatan, yang dicapai melalui menguatnya upaya kemandirian di bidang bahan baku obat dan obat tradisional serta meningkatnya daya saing industry farmasi dan alat kesehatan; dan 3) Terjaminnya mutu Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) di peredaran, yang dicapai melalui meningkatnya pengawasan pre-market serta post-market Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT).
Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Urusan Kesehatan merupakan urusan pemerintahan yang dilakukan bersama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota (konkuren). Sejalan dengan kebijakan pembangunan kesehatan, upaya- upaya pelaksanaan Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan diselenggarakan dengan mengedepankan unsur keterpaduan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota. Penerapan keterpaduan tersebut, salah satunya dilaksanakan dengan dekonsentrasi.
Dekonsentrasi merupakan pelimpahan wewenang Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah. Dengan demikian, dekon sentrasi disusun untuk mempercepat pencapaian tujuan dan target program. Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan mengalokasikan dana dekonsentrasi untuk mendukung tercapainya prioritas nasional dan target-target Rencana Kerja Pemerintah tahun 2020, melalui peran serta pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota. Peran serta tersebut tertuang dalam bentuk kegiatan yang sudah ditetapkan, sehingga bila dilaksanakan dengan baik akan mendukung tercapainya peningkatan akses, kemandirian, dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan.
Adapun Kegiatan Seksi Kefarmasian dan Alkes yang bersumber APBN yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan Pelayanan Kefarmasian;
2. Peningkatan Tata Kelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan;
3. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
NO KEGIATAN TARGET 2018 2019 2020
INDIKATOR TATA KELOLA OBAT PUBLIK
1
Persentase Puskesmas dengan ketersediaan obat dan vaksin esensial
Persentase puskesmas yang memiliki 80% obat dan vaksin essensial (pemantauan dilaksanakan terhadap 20 item obat indikator)
90% 90% 90%
2
Persentase instalasi farmasi Provinsi dan Kabupaten /Kota yang menerapkan sistem informasi logistik obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)
Instalasi farmasi provinsi dan kabupaten/kota yang melaporkan ketersediaan obat dan BMHP melalui aplikasi berbasis database
30% 40% 50%
INDIKATOR PENINGKATAN PELAYANAN KEFARMASIAN
1
Persentase (%) Kab/Kota yang menerapkan POR di Puskesmas
Persentase Kabupaten / Kota dengan minimal 20%
puskesmas di wilayahnya memperoleh nilai penggunaan obat rasional di Puskesmas minimal 60%
40% 43% 43%
2
Persentase (%) Puskesmas yang melaksanakan Pelayanan Kefarmasian sesuai standar
Puskesmas yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar adalah Persentase puskesmas yang melaksanakan pemberian informasi obat dan/atau konseling
30% 35% 35%
3
Persentase (%) Rumah Sakit yang Melaksanakan Pelayanan Kefarmasian Sesuai Standar
Rumah Sakit yang
melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit yang melaksanakan Pelayanan Informasi Obat dan Konseling
20% 22% 22%
INDIKATOR KEGIATAN DUKUNGANMANAJEMEN DAN TUGAS TEKNIS LAINNYA PADA PROGRAM KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
1
Persentase layanan dukungan manajemen yang diselesaikan tepat waktu
90 90 90
B. PERJANJIAN KINERJA
Perjanjian Kinerja merupakan lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja.Melalui perjanjian kinerja, terwujudlah komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja yang terukur berdasarkan tugas, fungsi, dan wewenang serta sumber daya yang tersedia.
Perjanjian Kinerja Pengelola Dana Dekonsentrasi Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Tahun 2020 dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI
Pengukuran tingkat capaian penggunaan dana Dekonsentrasi Satker (417665) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2020 dilakukan dengan cara membandingkan antara target Indikator Kinerja yang telah ditetapkan dalam Perjanian Kinerja dengan realisasinya, merupakan hasil yang dicapai secara nyata oleh instansi pemerintah dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan.
Analisis capaian kinerja dari masing-masing Indikator Kinerja Tahun 2020 (Januari s/d Desember 2020) adalah sebagai berikut :
1. Fasyankes yang Mampu dalam Melaksanakan Pelayanan Kefarmasian Sesuai Standar
Realisasi indikator kinerja ini adalah 58 Fasyankes dari target yang telah ditetapkan yaitu sebanyak 58 fasyankes, capaian target indikator kinerja tersebut didapatkan dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, yaitu :
a. Dilakukan percetakan dan pendistribusian ke masing-masing Fasyankes yang ada di Provinsi Kalimantan Utara.
b. Kesepakatan atau Rencana Tindak Lanjut yang dihasilkan adalah :
Tersosialisasinya penggunaan obat secara benar pada masyarakat dalam rangka Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) sehingga dapat meningkatkan penggunaan obat rasional pada masyarakat.
Apoteker Agent of Change terpilih diharapkan membuat laporan setiap melakukan pendampingan dan pemberian KIE tentang penggunaan obat secara benar. Laporan ditembuskan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi untuk dilakukan pemantauan dan evaluasi.
Lintas sektor, organisasi profesi dan perwakilan masyarakat yang sdh mendapatkan sosialisasi GeMa CerMat akan turut menyebarluaskan informasi tentang GeMa CerMat untuk diterapkan di keluarga dan masyarakat dilingkungannya melalui forum-forum seperti pengajian, arisan dan forum lainnya.
2. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kab/Kota yang Melaksanakan Program Tata Kelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
Target indikator kinerja ini yaitu 1 Provinsi akan dicapai pada akhir tahun, yaitu : a. Workshop E-Monev katalog dalam mendukung perencanaan kebutuhan obat
(RKO)
Dilaksanakan di Provinsi dalam bentuk penyampian materi dan diskusi. Peserta sebanyak 51 (lima puluh satu) orang, terdiri dari:
- Seksi Kefarmasian & Alkes, IFP, Program Prov : 12 orang - Seksi Kefarmasian & Alkes Kab/Kota : 10 orang - Pengelola program Dinkes Kabupaten/Kota : 15 orang - Rumah Sakit Kabupaten/Kota : 10 orang - Apotek Program Rujuk Balik (PRB) : 4 orang
Waktu pelaksaan kegiatan
Kegiatan dilaksanakan pada tgl 19 – 21 Februari 2020
Narasumber dan materi yang disampaikan yaitu :
Direktorat tata kelolaobat publik dan perbekes, dengan materi Kebijakan Penyediaan Obat
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, dengan materi Singkronisasi Rencana Kebutuhan Obat
b. Monitoring ketersediaan obat dan vaksin dan hasil Capaian Program Pelayanan Kefarmasian di Fasyankes.
Monev dilaksanakan setiap tiga bulan ke kab/kota.
3. Layanan perencanaan, konsolidasi dan evaluasi terhadap manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya
Target indikator kinerja ini yaitu 1 Provinsi akan dicapai pada akhir tahun, walaupun bebarapa kegiatan telah dilaksanakan, yaitu :
1. Rapat Koordinasi Nasional Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Kegiatan ini dilaksanakan di Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan, dalam bentuk penyampaian materi dan diskusi.
Dikuti oleh 5 (lima) orang dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara dan 6 (enam) orang dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota .
RAKORNAS mengangkat tema “Penguatan Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Guna Mendukung Upaya Preventif dan Promotif Kesehatan untuk Mewujudkan SDM Unggul”
Materi – materi yang disampaikan oleh Narasumber (terlampir) yaitu : - Arahan Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan - Rancangan Renstra Kementerian Kesehatan 2020-2024
- Penguatan Dukungan Manajemen Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan
- Peningkatan Kegiatan Tata Kelola Obat Publik dan Perbekkes Tahun 2020 melalui Implementasi Digital Inventory Nasional
- Optimalisasi Pelayanan Kefarmasian dalam Pelayanan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
- Sinergisme dan aksesibilitas dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan obat tradisional sebagai upaya promotif preventif
- Sinergisme peran pusat dan daerah dalam mendorong penggunaan alkes dalam negeri guna mendukung promotif preventif kesehatan untuk mewujudkan SDM unggul
- Penguatan Peran Pusat dan Daerah dalam Pengawasan Peredaran dan Penggunaan Alat Kesehatan
- Kesiapsiagaan Menghadapi COVID-19 dalam rangka Menjaga Ketahanan Nasional
- Implementasi Permendagri No. 90 Tahun 2019 dalam Bidang Kesehatan - Peran PTSP dalam Perizinan Sarana Produksi dan Distribusi Kefarmasian
dan Alat Kesehatan
- Permenkes No. 3 Tahun 2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit
- Implementasi Pengendalian Digitalisasi Supply-Chain, dan - Penguatan Pengawasan Pelaksanaan DAK Bidang Kesehatan
Rangkuman hasil kegiatan yaitu : -
- Prioritas kesehatan yang harus diselesaikan, yaitu penurunan stunting, Angka Kematian Ibu dan Bayi, Pengelolaan Jaminan Kesehatan Nasional, Penguatan Pelayanan Kesehatan, serta Pemenuhan Ketersediaan Obat dan Pemanfaatan Alat Kesehatan Dalam Negeri.
Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan berperan dalam penyelesaian prioritas kesehatan tersebut melalui jaminan akses terhadap sediaan farmasi dan alat kesehatan serta mendorong kemandirian dan pemanfaatan alat kesehatan di dalam negeri.
- Unsur pusat dan daerah perlu memberikan dukungan penuh untuk meningkatkan efektivitas pencapaian indikator kefarmasian dan alkes, dimana Ditjen Farmalkes selaku unsur pusat akan memperkuat pengaturan, pembinaan dan pengawasan.
- OSS telah menyediakan fitur izin usaha bagi pelaku usaha perseorangan / UMKM maupun badan hukum. Dalam hal terdapat kesulitan terhadap persyaratan perizinan perorangan, dapat disampaikan kepada BKPM untuk penyempurnaan sistem OSS.
- Permendagri 90/2019 merupakan acuan daerah untuk penyusunan perencanaan dan anggaran sesuai dengan nomenklatur program yang ada.
Hendaknya pelaksanaan Permendagri ini dimanfaatkan dalam penguatan program kefarmasian dan alat kesehatan di daerah.
- Permenkes Nomor 3 Tahun 2020 perlu dipahami secara menyeluruh dengan tatanan regulasi yang ada. Unsur pusat akan melakukan kunjungan ke beberapa RS untuk melihat dampak implementasi Permenkes ini terhadap pelayanan kefarmasian di RS.
- Pengembangan sistem pengelolaan obat secara digital diarahkan pada output yang dituju, stakeholder terkait, inventarisir tujuan/harapan dan kendala/permasalahan yang ada. Investasi pengembangan sistem pengelolaan logistik secara digital yang handal dan user friendly merupakan investasi yang tidak mahal apabila dibandingkan kemudahan akan didapatkan secara berkelanjutan.
- Penguatan pelaksanaan DAK perlu dilakukan, mulai dari pengusulan, realisasi, pemantauan, pelaporan, dan evaluasi. Penguatan pengawasan DAK diharapkan dapat menjadi masukan bagi upaya-upaya penguatan yang akan dilakukan.
- Dalam menghadapi wabah COVID-19, seluruh pihak harus meningkatkan kesiapsiagaan. Pengelola program kefarmasian dan alat kesehatan di pusat dan daerah harus menjaga ketahanan nasional melalui pengelolaan ketersediaan serta pemenuhan kebutuhan obat, BMHP dan reagen yang dibutuhkan. Selain itu perlu dilakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, penguatan komitmen, dan kolaborasi Pusat dan Daerah dalam upaya jaminan akses obat, BMHP dan reagen bagi kewaspadaan terhadap wabah COVID-19.
- Peserta merekomendasikan RAKONAS Regional Timur Tahun 2021 agar dilaksanakan di Provinsi Jawa Timur
2. Administrasi Kegiatan Dekon Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan
- Kegiatan ini berupa pemabayaran honor pengelola Satker dan Opersional Satker.
- Telah dilaksanakan sampai dengan bulan Desember 2020.
3. Pemutakhiran data Kefarmasian dan Alkes Tk. Provinsi-Profil Kefarmasian serta perencanaan dan evaluasi dana alokasi khusus (DAK) sub bidang pelayanan kefarmasian.
- Kegiatan ini tidak bisa dilaksanakan dikarenakan adanya efisiensi untuk peralihan dana penaganan percepatan Covid-19.
B. REALISASI ANGGARAN
Realisasi keuangan Satker (417665) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara Program Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Tahun 2020 sebesar Rp. 327.766.634 (90.66%) dari jumlah anggaran setelah di efesiensi sebesar Rp.361.520.000.
BAB IV PENUTUP
Laporan penggunanaan dana Dekon sentrasi Satker (417665) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, Program Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Tahun 2020 disusun sebagai wujud pertanggungjawaban atas kinerja berdasarkan Perjanjian Kinerja yang telah ditetapkan.
Laporan ini disusun sesuai amanat Keputusan Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Dekonsentrasi Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2020
Laporan penggunanaan dana Dekonsentrasi ini menggambarkan pencapaian kinerja (417665) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, Program Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Tahun 2020 dalam mencapai indikator kinerja sebagaimana yang telah ditetapkan didalam dokumen perjanjian kinerja dan dokumen perencanaan.
Untuk meningkatkan pencapaian indikator kinerja pada tahun berikutnya dibutuhkan adanya pembenahan dan penyempurnaan dalam mendukung pelaksanaan program meliputi pemenuhan tenaga sesuai kualifikasi yang dibutuhkan.