• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN NORMATIF DALAM STUDI HUKUM ISLAM. Mohsi STAI Miftahul Ulum Pamekasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDEKATAN NORMATIF DALAM STUDI HUKUM ISLAM. Mohsi STAI Miftahul Ulum Pamekasan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

STAI Miftahul Ulum Pamekasan Email: [email protected]

Abstrak

Sebagaimana agama yang lain Islam memiliki dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu dimensi esoterik yang pada dimensi ini agama islam melampaui ruang dan waktu, melampaui rasionalitas, bersifat transinden dan mutlak. Dan kedua memiliki dimensi eksoterik, hal ini agama berwujud dalam bentuk yang terstruktur, ada dalam ruang dan waktu, rasionalitas, terbatas dan relatif. Dengan dua dimensi inilah Agama islam mampu memberikan ruang yang luas kepada pemeluknya untuk selalu melakukan penelitian dan pemantapan melalui pemahaman yang baik dengan salah satu tujuan merestorasi segala tradisi islam yang tetap terjaga walaupun dinamisasi masa sangat laju.

Kata Kunci: Pendekatan Normatif, Studi Hukum Islam Abstract

Like other religions, Islam has two dimensions that cannot be separated, namely the esoteric dimension in which Islam transcends space and time, transcends rationality, is transindent and absolute. And secondly, it has an exoteric dimension, this is religion exists in a structured form, exists in space and time, rationality, is limited and relative. With these two dimensions, Islam is able to provide wide space for its adherents to always carry out research and stabilization through good understanding with one of the goals of restoring all Islamic traditions that are maintained even though the dynamics of the times are very rapid.

Keywords: Normative Approach, Islamic Law Studies Pendahuluan

Produk hukum yang handal dan fix memberikan segala kesalehan para penganutnya dengan memandang segala aspek kehidupan manusia berlandaskan keadilan dan tidak memihak terhadap kepentingan personal yang dianggap kuat dengan mengucilkan pihak

(2)

yang lain, dan itupun harus berlandaskan hukum yang ada. Sebagaimana disebutkan diberbagai leteratur hukum bahwa suatu undang-undang hukum akan menjadi suatu pradigma yang baik dalam menata kehidupan manusia apabila produk hukum tersebut yang dianutnya sangat solid dan memihak kepada kemanusiaan dan berpradigma moral, karena kondisi hukum yang carut marut tidak terlepas dari kehidupan hukum yang masih cendrung berkiblat pada pradigma kekuasaan.1 Dengan pola yang mengedapankan moral akan tercipta suatu hukum yang demokratis disuatu negara. Tercapainya suatu kometmen diatas diperlukan adanya penelitian dengan berbagai pendekatan, karena sebagaimana agama yang lain, islam datang dengan dua dimensi yagn tidak dapat dipisahkan, yaitu pertama esoterik dengan artian dapat melampaui ruang dan waktu, melampaui rasionalitas, bersifat transindental, dan mutlak. Kedua islam memiliki dimensi eksoterik yang mana agama islam terwujud dalam bentuk yang terstruktur, ada dalam ruang dan waktu, rasionalitas, terbatatas dan relatif.2 Sehingga dengan bentuk relatif dan kemutlakannya islam akan selalu hadir memberikan kesimpulan hukum atas tuntutan zaman yang dihadapinya, oleh karenanya maka setiap pendekatan studi hukum islam tidak hanya terfokus pada satu titik pendekatan, melainkan harus mengedepankan berbagai metode pendekatan yang solutif.

1 Sirajuddin, “ membangun paradigma hukum yang berbasis pancasila sebagai cita hukum bangsa Indonesia”, dalam Membangun negara hukum yang bermartabat (Malang:setara press, 2013), 156.

2 Syafiq A Mughni, “pengantar berpikir holistik dalam studi islam”, dalam studi Islam perspektif Insider/outsider , ed, M arfan Muammar dan Abd Wahid Hasan (Jogjakarta:

IRCiSoD, 2013), 5.

(3)

Kekaffahan agama islam dalam sektor hukum tidak menjamin adanya sikap lapang dada dari para umat Islam didalam menerimanya, sebagaimana dinamisasi problem hidup yang semakin kompleks, menuntut adanya sikap hukum yang baru pula dan mampu memberikan rasionalisasi kepada masyarakat islam, agar supaya Islam dalam sisi kekaffahannya sangat diterima. Disamping itu sebagian umat islam senantiasa melahirkan sikap kriticle rasional terhadap suatu undang- undang hukum yang sifatnya masih taukifi dan ittibai. Apalagi Sepanjang sejarah,Islam lahir dinobatkan sebagai agama yang dianut oleh manusia memberikan corak yang fundamental dan exelent, dan menampakkan jati dirinya pada pemeluknya bahwa didalam Islam merupakan suatu agama yang sangat saleh dan mengandung solusi yang hebat, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

ۡمُكَنيِد ۡمُكَل ُتۡلَمۡكَأ َمۡوَيۡلٱ ِِۚنۡو َشۡخٱَو ۡمُهۡو َشۡخَت اَلَف ۡمُكِنيِد نِم ْاوُرَفَك َنيِذَ لٱ َسِئَي َمۡوَيۡلٱ َرَو يِتَمۡعِن ۡمُكۡيَلَع ُتۡمَمۡتَ َ نِإَف ٖمۡثِإِ ل ٖفِناَجَتُم َرۡيَغ ٍة َصَمۡخَم يِف َ رُط ۡضٱ ِنَمَف ۚاٗنيِد َمََٰلۡسِإۡلٱ ُمُكَل ُتيِض أَو

ٞميِحَ ر ٞروُفَغ َ َ للّٱ ٣

Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksaKarena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang3.

3Al-Qur`ȃn, 5:3.

(4)

Redaksi ayat di atas adalah bagian bukti terhadap kesempurnaan agama Islam dan segala hal yang menjadi bagian dari agama tersebut, namun atas kesempurnaan agama islam yang selalu bertambah problema hidup manusia akan meneghadapi tantangan dan persoalan baru yang semakin kompleks dan menuntut adanya sikap yang solid dan bijaksana dalam memberikan putusan dan konsekwensi hukum terhadap persoalan hidup manusia.

Hukum merupakan salah satu pilar dari pilar kedaulatan suatu negara,4 dan bagian terpenting dalam rangka terwujudnya suatu kemayarakatandan untuk menyikapi persoalan hidup manusia demi melindungi jiwa, ruh, harta, dan hak-hak kemanusiaan, dan melaksanakan undang-undang dan supremasi hukum untuk menciptakan keamanan yang istiqomah, keselamatan, dan menciptakan keadilan dalam hidup bermasyarakat.5Oleh karenanya komposisi hukum yang ditawarkan oleh penyelenggara negara atau hakim harus betul-betul memihak kepada kepentingan rakyat dan menjungjung tinggi keadilan. Sebagai produk hukum yang handal dan mampu memberikan keadilan yang merata kepada penganutnya. Maka, dituntut adanya suatu formulasi hukum yang mengedepankan berbagai pola atau paradigma hukum yang sejatinya sangat dibutuhkan agar hukum yang dijalankan sangat nampak nilai-nilai yang dikandungnya, dan tidak hanya memiliki satu nilai saja. Salah satu pradigma yang harus dikedepankan oleh produk hukum adalah pendekatan normatif, atau

4Ismail, M. U., Rohman, M. M., & Mohsi, M. (2020). TAQNĪN AL-AHKĀM (Telaah Sejarah Legislasi Hukum Perdata Islam dalam Hukum Nasional Indonesia). Ulumuna: Jurnal Studi Keislaman, 6(1), 85-109.

5 Moh Az-Zuhaili, Tȃrikhul Qodȃ` Fil Islȃm (Lebanun: Darul fikr, 1998), 15.

(5)

pendekatan hukum yang bersifat norma atau aturan-aturan yang disusun melalui krangka teks atau low in the book sebagai kaidah hukum. Indonesia merupakan negara yang penduduk muslimnya masuk bagian terbesar di dunia, oleh karenanya pijakan hukum yang diterapkan menuai nilai-nilai yang berhaluan dengan agama islam, sedangkan hukum islam merupakan suatu produk yang didalamnya memuat berbagai kesimpulan hukum dengan pendekatan yang heterogen dan tidak monogen. Dengan begini, Maka. Makalah ini akan membahas tentang Pendekata hukum islam dengan Paradigma Normatif.

Pembahasan

Apakah yang dimaksud dengan islam normatif?

Sebagai makhluk tuhan (Allah) pasti membutuhkan agama (Islam)dalam menyandarkan segala kehidupannya serta menjadikan pijakan dalam kehidupan sehari-hari.6 Selain dari pada itu Agama Islam merupakan agama samawi yang dinobatkan oleh Allah sebagai agama penyempurna terhadap agama-agama sebelumnya, dan menvonis agama samawi lainnya seperti yahudi dan nasroni sudah tidak berlaku kembali setelah islam menjadi agama satu-satunya yang dianut oleh umat islam. Sehingga dinamisasi berbagai persoalan hidup yang dihadapi manusia saat ini dan yang akan dating Islam harus memberikan penawaran suatu keputusan dan susunan undang-undang yang sangat aplikatif.

6 Musyarrofah, “Approaches to Islam in Religious Studies: Kontribusi Charles J. Adams dalam Studi Islam” dalam studi Islam perspektif Insider/outsider , ed, M arfan

Muammar dan Abd Wahid Hasan (Jogjakarta: IRCiSoD, 2013), 81.

(6)

Dalam mendivinisikan agama sangat dibutuhkan adanya pengkajian yang sangat simultan dan kompleks, karena memberikan suatu nama pada hal yang dimaksud harus memandang aspek faidah dan manfaaat yang ditimbulkan, serta madlulnya nampak.7 selain itu agama juga merupakan suatu nama yang tunggal yang sifatnya masih universal yang keaneka ragaman maksudnya masih membutuhkan obyek pelengkap sebagai wujud maksudnya. Oleh karena kesulitan tersebut maka membuka adanya kemungkinan yang sangat besar kepada para peneliti untuk terus melakukan kajian yang mendalam untuk mendevinisikan agama tersebut, kesulitan tersebut juga diungkapkan oleh Mukti Ali, dengan ungkapan bahwa “tidak ada kata yang paling sulit diberikan pengertian dan devinisi selain dari kata agama8”oleh karenanya devinisi agama sampai saat ini masih beragam belum memberikan kesimpulan mutlak dan paten.

Ada beberapa devinisi Agama yang ditawarkan oleh peneliti diantaranya adalah agama diartiakan sebagai jaminan keamanan dan ketenangan dari rasa takut. Agama memiliki makna prinsip-prinsip yang menjadi dasar integrasi sosial. Sedangkan harun nasution memberikan ajaran yang diwahyukan tuhan kepada manusia melalui seorang rosul.

Sehingga secara mutlak agama sebagai kepercayaan terhadap tuhan (religion is belief in god). Namun yang paling penting dalam menumukan titik temu yang pas dan ideal, maka paling tidak ada dua

7 Moh Ad-Dusuqỉ, Hȃsyiah Al-Dusuqỉ Alȃ Ummỉ al-Barỏhin, (Indonesia: al- Haromain, tt), 74. lihat juga dalam Mohsi, M. (2019). PENCATATAN PERKAWINAN SEBAGAI REKONSEPTUALISASI SYSTEM SAKSI PERKAWINAN BERBASIS MASLAHAH. Al-'Adalah: Jurnal Syariah dan Hukum Islam, 4(2), 134-148.

8 Mukti Ali, Beberapa pendekatan memahami Agama, (bandung: Mizan, 1990), 3.

(7)

aspek yang menjadi dasar suatu agama. Pertama; faith (keyakinan): hal ini sebagai aspek internal, tak terkatakan, orientasi transinden, dan dimensi kehidupan beragama. Kedua; tradition(tradisi): aspek eksternal keagamaan yang titik tumpunya adalah aspek sosial dan historis agama yang dapat di observasi dalam masyarakat.9 Dua aspek ini adalah kompsisi ideal yang dikedepankan dalam menentukan agama, sehingga dapat ditemukan maksud yang dituju termasuk juga agama islam.

Agama islam merupakan kepercayaan yang berasal dari tuhan melalui wahyu yang mutlak benar dan absolut. Yang didalamnya memiliki nilai-nilai transidental yang melampui batas ruang dan waktu.

Sedangkan Pendekatan normatif merupakan pendekatan yang dijiwai motivasi dan tujuan keagamaan yang palekaunya memahami agama dengan tujuan mengajak orang lain agar mengakui apa yang menjadi keyakinannya.10 Pendekatan ini sudah biasa dilakukan oleh para pembesar agama untuk mengajak para pengikutnya agar mempercayai apa yang menjadi pemahamannya dan memberikan pemantapan kepada pengikutnya dengan menyuguhkan berbagai bukti yang dianggap cocok dengan keyakinanya. Dalam memahami agama islam maka tindakan pertama adalah menggunakan pendekatan normatif, dengan arti mengedepankan aturan-aturan pokok dari suatu ajaran yang tertata rapi melalui kitab-kitab yang sudah terkonsep, namun upaya menghasilkan pemahaman dari sektor normatif ini maka ada tiga hal yang perlu di jelaskan sebagai bagian dari pendekatan normatif ini.

9 Musyarrofah, “Approaches to Islam in Religious Studies: Kontribusi Charles J. Adams dalam Studi Islam” dalam studi Islam perspektif Insider/outsider , ed, M arfan

Muammar dan Abd Wahid Hasan (Jogjakarta: IRCiSoD, 2013), 83.

10 Musyarrofah, “Approaches to Islam in Religious Studies: Kontribusi Charles J. Adams dalam Studi Islam, …. 85.

(8)

pertama: pendekatan misionaris tradisional. pendekatan ini muncul saat maraknya aktivitas misionaris dikalangna greja dan sekte kristen dalam merespons perkembangan politik, ekonomi, dan meliter negara eropa diasia dan afrika. Pendekatan ini menggunakan metode komparasi antara keyakinan islam dengan keyakinan kristen yang senantiasa merugikan islam. Hal ini terjadi pada abad ke 19. kedua:

pendekatan apologetis.respon ummat islam atas situasi moderen, dengan menampilkan islam suesuai dengan moderenitas, bahkan peradaban islam pun harus sesuai dengan peradaban barat.pendekatan ini diupayakan mempertemukan kebutuhan masyarakat islam terhadap dunia modern, dengan tujuan pendekatan ini membawa umat islam kearah yang lebih cerah dan modern. ketiga: pendekatan simpatik (ironi). Pendekatan ini lahir sebagaia respons berkembangnya gerakan yang berbeda di dunia barat yang diwakili kelompok agam dan universitas, yang tujuannya adalah memberikan apresiasi terhadap agama islam dan membawa sikap baru terhadap islam. Upaya ini dilakukan untuk membanah dan menghilangkan sikap negatif kalangan barat krisen yang meremehkan, dan berperasangka buruk terhadap tradisi islam.

Bagaimana studi hukum Islam dengan pendekatan normatif?

Norma hukum Islam adalah perangkat aturan yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh umat islam11. Sebagai wujud dari ketaatan terhadap tuhannya (Allah) dan tunduk terhadap peraturan yang dibebankannya. Agama islam memuat aturan-aturan manusia baik dari

11 Misbahul Munir, Dkk, Studi Hukum Islam, (Surabaya, IAIN Sa Press, 2011), 12.

(9)

sisi inward experience dan outward behavior, hubungan manusia dengan tuhannya ataupun hubungan manusia dengan sesama manusianya. Baik yang sifatnya Inward experinc ataupun outward behavior akan dibahas dalam makalah ini, namun titik tekannya prihal hubungan manusia yang sifatnya outward behavior yaitu perbuatan manusia yang nampak dan responsif hukum islam melalui karangka yang ditawarkan oleh ulama’ sebagai acuan dari segala perbuatan manusia yang sifatnya personal, sosial dan ekonomi. Para pemerhati agama Islam masa dahulu memberikan tawaran empat norma hukum Islam yang sampai sekarang masih diberlakukan dalam ranah hukum islam untuk menjadi rujukan para umatnya ketika dihadapkan pada masalah yang bersifat perdata, pidana, ataupun lingkup yang lain mengenai manusia dengan manusia. Empat norma tersebut adalah Alqur`an, Al-Hadits, Ijma`, dan Qiyas. Pertama: Al-qur`an. sebagaimana dikemukakan diberbagai leteratur arab bahwa Al-Qur`an adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi muhammad yang dapat melemahkan walaupun dengan satu surat dari pada al-Qur`an. 12arti i`jaz dalam konteks lebih luas tidak hanya terfokus kepada pelemahan atau penentangan atas redaksi-redaksi jahiliyah, melainkan al-Qur`an berupaya untuk melemahkan persoalan hidup manusia yang masih debatebel sehingga salah satu tujuannya adalah untuk meluruskan dan memutuskan perkara yang terjadi pada manusia baik saat terdahulu, sekarang dan seterusnya. Karena Al-Qur`an akan selalu merespons dan memberikan kesimpulan yang solutif terhadap permasalahan manusia

12Muhammad Ibn Alawỉ, al-Qowȃidul Asȃsiyah fỉ Ulủmil Qur’ȃn, (mekkah, tt.ttm), 9.

(10)

yang dihadapinya, karena kemukjizatan Al-Quran akan terus terpelihara sampai masa yang tidak ditentukan.

Sebagai bukti akan kesentralan al-Quran, Allah menyebutkannya didalam berbagai surat alam al-Quran, diantaaranya adalah:

ِئٓاَخۡلِ ل نُكَت اَلَو ُۚ َ للّٱ َكَٰىَرَأ ٓاَمِب ِساَ نلٱ َنۡيَب َمُكۡحَتِل ِ قَحۡلٱِب َبََٰتِكۡلٱ َكۡيَلِإ ٓاَنۡلَزنَأ ٓاَ نِإ ِصَخ َنيِن

اٗمي

٥٠١ Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang Telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat13.

Ayat lain menyebutkan dengan redaksi yang berbeda namun secara madlul menunjukkan sama, yaitu:

َو ِِۖط ۡسِقۡلٱِب ُساَ نلٱ َموُقَيِل َناَزيِمۡلٱَو َبََٰتِكۡلٱ ُمُهَعَم اَنۡلَزنَأَو ِتََٰنِ يَبۡلٱِب اَنَلُسُر اَنۡلَسۡرَأ ۡدَقَل يِدَحۡلٱ اَنۡلَزنَأ

ِهيِف َد

ۡيَغۡلٱِب ۥُهَلُسُرَو ۥُهُر ُصنَي نَم ُ َ للّٱ َمَلۡعَيِلَو ِساَ نلِل ُعِفََٰنَمَو ٞديِدَش ٞسۡأَب ٞزيِزَع ٌّ يِوَق َ َ للّٱ َ نِإ ِِۚب

٥١

Sesungguhnya kami Telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang

13 Al-Qur’an, 4:105.

(11)

menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa14.

Kedua: Al-Hadits.dalam kamus bahasa arab Hadits adalah lawan dari pada Qodim, sedangkan arti termenologi adalah sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad, baik berbentuk perkataan, pekerjaan, ataupun pengakuan atau ssesuatu itu disandarkan kepada Sahabat Nabi atau para Tabi`in. Ada juga yang menyebutkan hal itu adalah sunnah sebagai kata sinonim dari kata hadits, sampai pada masa saat ini Hadits berada pada posisi nomer dua dalam menjadi pijakan hukum islam, selain dari pada itu Al-Quran sebagai pentafsir atau penjelas kandunagan Al-Qur`an.

Dalam al-Quran sering disebutkan berbagai indikasi atas peran pentingnya rosul dalam memutuskan segala hal yang dihadapkan kepadanya, diantaranya ayat memiliki arti Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.15

Sebagaimana tugas nabi muhammad adalah menyampaikan segala apa yang diperintahkan Allah melalui berbagai cara, salah satunya melalui hadits, menunjukkan manusia sebagai ummat rosul, tidak mempunyai kemampuan untuk mengambil suatu putusan terhadap persoalan hidup yang dihadapinya. Sehingga lahirnya rosul

14 Al-Qur’an, 57:25.

15 Al-Qur’an, 5:67.

(12)

atas agama Islam diharapkan adanya sandaran umat islam ketika dihadapkan pada permasalahan baik perdata ataupun pidana, oleh karenanya terbentuklah Hadits yang bertujuan sebagai penjelas dan pentakwil terhadap Al-Qran yang redaksinya masih mujmal dan mutasyabih. Ibn Qoyyim berkata. Allah mengutus rosul dan menrunkan Al-Quran, untuk menegakkan keadilan dimuka bumi. Ketika keadilan telah jelas dan proporsional dan berjalan di rellnya, maka syariah islam telah ditegakkan. Selain dari pada itu hadirnya sosok nabi muhammad adalah juga sebagai moderator atau penengah, pentasheh, dan dan Qodi atas persoalan yang diahadapi Ummat islam melalui hadits yang dimilikunya.

Ketiga: Ijma`. adalah sepakatnya Ulama` ahli masa terhadap hukum yang baru datang, kalangan elit sering menyebutnya dengan sebutan konsensus. Difinisi lain adalah sepakatnya mujtahidnya umat setelah wafatnya nabi muhammad pada masa mujtahid tersebut walaupun dilakukan oleh imam yang tidak maksum, tidak sampai pada derajat mutawatir, tidak ada sifat adil, ataupun bukan golongan sohabat.16 Devinisi ini sebagai pernyataan terhadap keabsahannya metode konsensus yang dilakukan oleh para pemuka agama islam pada masanya, sebagai respon terhadap persoalan masa kini yang tidak ditemukan secara gamblang dalam Al-Quran dan hadits, karena dinamisasi problema hidup manusia menuntut adanya metode pengambilan hukum yang solid sehingga dapat mewakili dan pelengkap atas putusan undang-undang yang ada dikedua produk hukum diatas.

16 Zakȃriya Yahyȃ, Syarhu Ghȃyatul Wusủl (Indonesia, Dảru Ihyail Kutủb Al-Arỏbiyah, tt, ttm), 107.

(13)

Oleh karenanya maka ulama` sepakat terhadap ijmak sebagai patoakan hukum ketiga dalam islam setelah Al-gur`an dan hadits.

Ijma` adalah suatu metode pengambilan kesimpulan hukum yang berafiliasi dalam kehidupan umat islam, sehingga pelaku ijma`

semuanya dari kalangan ummat islam, hal itu disebabkan agama islam adalah syarat dari pada mujtahid, oleh karennaya maka kumpulan orang kafir dan kesepakatannya tidak bisa dikategorikan sebagai ijma`, selain dari pada itu ijma` hanya bisa dilakukan oleh kalangan mujtahid yang mampu menggali hukum dan menjadikan undang-undang, maka setiap kesepakatan yang dilakukan oleh bukan mujtahidin tidak dapat disebut sebagai ijma` sama sekali. Ijma` dapat dilakukan dan dianggap sah secara syar`iy apabila memenuhi empat rukun sebagaimana berikut:17

 Adanya jumlah mujtahid dimasa terjadinya masalah

 Kesepakatnya harus dinyatakan oleh setiap mujtahid, baik berupa perkataan atau pekerjaan.

 Para mujtahid dimasa itu harus sepakat atas hukumnya maslah yang terjadi pada waktu itu.

 Kesepakatannya para mujtahid atas hukum tersebut harus nyata.

Jumlah ijma` ditinjau dari cara mennghasilkannya suatu hukum itu ada dua, yaitu:

 Ijma` soreh, atau ijma` hakiki;

 Ijma` suskuti.

17 Abd Wahab kholȃf, Ilmu Usủlil Figh, (Indonesia, al-Harỏmain, 2004), 46.

(14)

Keempat: Qiyas. adalah, menanggungkan maklum terhadap maklum karena ada kesamaan didalam illat hukum,18 qiyas adalah hujjah didalam masalah keduniaan dan masalah syariah. untuk dapat dijadikan bagian sumber hukum islam. Jumhur ulama` berpendapat bahwa Qiyas merupakan hujjah syariyah atas hukum-hukum amaliyah manusia.19Dalam urutannya ada pada posisi keempart setelah Ijma`.

Qiyas ini dilakukan dalam rangka mencari dan memutuskan maslah yang tidak ditemukan hukumnya dalam Nash ataupun dalam Ijma`.

Dalam rangka membuktikan bahwa kedudukan Qiyas adalah bagian yang diperbolehkan dalam islam adalah penulis kemuakan ayat diabawah ini.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya20.

Dalam ayat di Atas menunjukan bahwa Allah memerintahkan para pemeluk agama Islam jika berselisih tentang sesuatu dan tidak ada nashnya, maka dilakukanlah penyamaan kasus tersebut yang tidak ada dalam nash dengan kasus yang sudah ada nashnya, dengan catatan ada kesamaan dari sisi illatnya.Petunjuk yang sama atas disahkanya Qiyas, berada Dalam hadits nabi yaitu hibn hadits yang diceritakan oleh muadz ibn Jabal ketika ia diutus oleh rosul untuk pergi ke yaman. Rosul

18 Abd Wahab kholȃf, Ilmu Usủlil Figh, …. 110.

19 Abd Wahab kholȃf, Ilmu Usủlil Figh, …. 54.

20 Al-Qur’an, 4:59.

(15)

bertanya kepada muadz: apakah hukum yang akan kamu jadikan pijakan? Saya berpedoman pada kitabullah, jika tidak ditemukan, maka denagan sunnah rosulullah, jika tidak ditemukan maka dengan pendapat sendiri. Hadits diatas menunjukan bahwa rosulullah memngakui dan membolehkan muadz untuk melakukan ijtihad sendiri jika tidak ditemukan dalam dalam nash sunah rosul.

Tidak serta merta Qiyas itu dilakukan, akan tetapi harus memneuhi syarat-syarat sebagaimana berikut:

 Asal, dalam menganalogikan suatu permasalahan harus ada suatu pijakan masalah dasar atau ada kejadian utama, yang dianggap cocok dengan kasus yang akan diqiyaskan. Ada juga yang berpendapat asal tidak menjadi syarat terhadapa bolehnya melakukan analogi hukum, bahkan juga tidak disyaratkannya harus ada kesamaan dalam illatnya.

 Hukum asal. Ketika ada permasalahan dasar atau kejadian asal, maka seacara otomatis ada hukum asal yang menjadi titik tumpu dalam mengqiyaskan perkara, dalam hukum asal ini tidak diperbolehkan kesimpulannya berasal dari qiyas juga, walaupun hasil dari konsensus.

 Furu` atau cabang yang akan diqiyaskan. Setiap yang ingin di analogikan harus betul-betul ada, atau tempat keserupaan antara cabang dan furu` dalam sisi hukumnya.

 Illat atau muarrof. Adalah suatu sifat terhadap asal yang dapat dijadikan landasnan hukum. Oleh karenanya Hukum asal yang dijadikan pijakan harus mengandung illat atau alasan dimana hukum itu disimpulkan, dan diantara asal dan furu` yang dianalogiakan dituntut adanya alasan yang sama.

(16)

Berbagai pijakan hukum normatif lain, yang biasa dilakukan dan dijadikan pijakan oleh para ulama` namun dikalangan sebagian ulama`

saja dan masih menuai kontroversi atau debateble. Diantaranya adalah istihsan, maslahah mursalah, dan adat istiadat. Studi islam nirmatif adalah pendekatan atau pradigma yang bertitik tumpu kepada leteratur-leteratur yang sudah paten dan disepakati oleh para ulama’

terdahulu yaitu pendekatan hokum kepada Al-Quran, Al-Hadits, Ijma’

Dan qiyas. Keempat dari komponen ini telah diformulasikan dan diabadikan melalui kitab-kitab turots para ulama’ terdahulu. Dan salah satu hasil ijma’ dan analogi para ulama’ telah dikumpulkan pula dan sampai saat ini tetap menjadi rujukan utama didalam menggali dan menyimpulkan sebuah kasus hokum yang sifatnya dinamis.

Sebagaimana telah dibuktikan oleh berbagai leteratur arab bahwa dinamisasi kasus hokum tidak menjadikan fakumnya produk hokum yang sudah berabad-abad telah berbentuk karya besar sebagai rujukan yang hebat oleh para uama’ masa kini, dan dijadikannya kiblat didalam segala kasus kehidupan manusia, karena maksud dari pada sebuah karya bukanlah pada bentuk lafal yang dituangkan dalam kitab tersebut, melainkan semangat yang terkandung dalam karya tersebut dan selalu jaya dari masa kemasa yang tidak dapat dibatasi oleh keadaan dan waktu. Sebagai sarana didalam memahami teks yang ditawarkan maka dibutuhkan berbagai potensi yang hebat dan mampu menginterpretasikan kata yang sifatnya masih kompleks, sehingga ilmu tentang kebahasaan sangatlah dibutuhkan sebagai pondasi agar fanatisme tidak mengangkangi kehidupan berfikir.

Kesimpulan

(17)

Sebagaimana agama yang lain Islam memiliki dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu dimensi esoterik yang pada dimensi ini agama islam melampaui ruang dan waktu, melampaui rasionalitas, bersifat transinden dan mutlak. Dan kedua memiliki dimensi eksoterik, hal ini agama berwujud dalam bentuk yang terstruktur, ada dalam ruang dan waktu, rasionalitas, terbatas dan relatif. Dengan dua dimensi inilah Agama islam mampu memberikan ruang yang luas kepada pemeluknya untuk selalu melakukan penelitian dan pemantapan melalui pemahaman yang baik dengan salah satu tujuan merestorasi segala tradisi islam yang tetap terjaga walaupun dinamisasi masa sangat laju.

Hukum islam adalah suatu produk yang senantiasa merespons kasus-kasus yang terjadi dimasa dahulu sampai masa yang tidak ditentukan, dengan berpijak kepada al-Qur`an pijakan tumpuan utama, Hadits adalah pentafsir pertama terhadap Al-Qur`an, ijma`(konsensus) adalah metode kesepakatan para ulama` atas persoalan kekinian, dan Qiyas (analogi) adalah pijakan hukum keempat. Hal ini menunjukakkan bahwa undang-undang agama islam akan selalu berupaya memberikan respon terhadap persoalan ummat walaupun pergantian masa mengakibatkan kompleksitas persoalan manusia dimasanya.

Sebagaimana sabda rosul bahwa islam itu tinggi dan tidak akan ada yang mengungguli terhadap ketinggian Islam. Ungkapan ini menunjukan bahwa kemutlakan undang-undang islam baik yang sifatnya normatif al- Quran atau hasil ijma` merupakan pijakan yang semestinya dijadikan dalil oleh semua umat islam dalam segala hal yang ia hadapi. Upaya memahami dan menelaah hukum islam dengan pendekatan normatif ini, sangat bervareasi, diantaranya adalah dilakukan dengan metode deduksi, induksi, verifikasi, komparasi dan kontemplasi. Usaha ini dapat

(18)

dilakukan oleh siapa saja yang mempunyai kompetensi yang hebat dalam memahami persoalan dan mampu mengambil kesimpulan hukum jitu dan hebat.

Daftar Pustaka

A Mughni, Syafiq. 2013. Pengantar Berpikir Holistik Dalam Studi Islam.

dalam Muammar dan Abd Wahid Hasan (Ed.), studi Islam perspektif Insider/outsider (hlm.5). Jogjakarta: IRCiSoD

Addusuqi, Mohammad. T.t. Hȃsyiah Al-Dusuqỉ Alȃ Ummỉ al-Barỏhin.

Indonesia: Al-Haromain.

Al-Qur`an.

Al-Zuhaili, Mohammad. 1998. Tȃrikhul Qodȃ` Fil Islȃm. Lebanon: Darul fikr.

Ibn Alawỉ, Mohammad. T.t. al-Qowȃidul Asȃsiyah fỉ Ulủmil Qur’ȃn.

Malang.

Ibn Alawi, Mohammad. T.t. Qowaidul Asasiyah Fi Ilmi Mustolahul Hadits.

Malang.

Musyarrofah, 2013. Approaches to Islam in Religious Studies: Kontribusi Charles J. Adams dalam Studi Islam. dalam Muammar dan Abd Wahid Hasan (Ed.), studi Islam perspektif Insider/outsider (hlm.81-85). Jogjakarta: IRCiSoD.

Sirajuddin. 2013. Membangun Paradigma Hukum Yang Berbasis Pancasila Sebagai Cita Hukum Bangsa Indonesia. Dalam Membangun negara hukum yang bermartabat Malang: Setara Press.

(19)

Subandi, Bambang. Dkk. 2011. Studi Hukum Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.

Wahab, Kholaf Abdu. 2004. Ilmu Usủlil Figh. Indonesia: Alharomain Linnasyri Wat Tauzik.

Yahyȃ, Zakȃriya. T.t. Syarhu Ghȃyatul Wusủl. Indonesia: Daru Ihyail Kutub.

Mohsi, M. (2019). PENCATATAN PERKAWINAN SEBAGAI REKONSEPTUALISASI SYSTEM SAKSI PERKAWINAN BERBASIS MASLAHAH. Al-'Adalah: Jurnal Syariah dan Hukum Islam, 4(2), 134-148.

Referensi

Dokumen terkait

Metode purposive sampling adalah penentuan sampel berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti (Siagian dan Sugiarto, 2002:120). Kriteria perusahaan

Penggunaan nilai sekarang untuk menilai hasil yang akan datang karena adanya perbedaan nilai antara kekayaan yang dimiliki saat ini dengan kekayaan yang dimiliki

5) Sertifikat Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) dan atau sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dengan surat keterangan penggunaan fasilitas

Substansi laporan pengelolaan limbah B3 untuk kegiatan Pengolahan limbah B3 (Pasal 143 PP 101 Tahun 2014) paling sedikit memuat:. sumber, nama, jumlah, dan karakteristik

Karakter morfologi akar yang potensial untuk menunjukkan resistensi tanaman terhadap kekurangan air ialah pemanjangan akar ke lapisan tanah yang lebih dalam,

Pendapatan Keluarga yang Bersumber dari Pekarangan Pendapatan keluarga yang bersumber dari pekarangan dalam penelitian ini adalah pendapatan yang dihasilkan oleh

Teori dan Program dengan judul : Pusat Kebudayaan Suku Dayak Kalimantan Timur.. di Samarinda ini benar – benar merupakan hasil karya saya sendiri, bebas

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul