KAJIAN
PEMENUHAN HONORARIUM PENANGANAN PERKARA HAKIM AGUNG, PEMENUHAN KESEJAHTERAAN HAKIM,
PENYESUAIAN TUNJANGAN PANITERA DAN JURUSITA, DAN PENYESUAIAN TUNJANGAN KINERJA
(REMUNERASI) BERDASARKAN PERATURAN
PERUNDANGAN–UNDANGAN YANG BERLAKU
SISTEMATIKA PENYAJIAN
1. PEMENUHAN HONORARIUM PENANGANAN PERKARA BAGI HAKIM AGUNG (PP 55/2014 Jo. PP 56/2016)
2. PEMENUHAN KESEJAHTERAAN HAKIM (PP 94/2012 Jo.
PP 74/2016)
3. PENYESUAIAN TUNJANGAN PANITERA DAN JURUSITA (PERPRES 24/2007 DAN PERPRES 25/2007)
4. PENYESUAIAN TUNJANGAN KINERJA / REMUNERASI
(Permenpan 63/2011 Jo SK KMA 177/KMA/SK/XII/2015)
BAGIAN I:
PEMENUHAN HONORARIUM
PENANGANAN PERKARA BAGI HAKIM
AGUNG (PP 55/2014 Jo. PP 56/2016)
• Latar Belakang: PP 56/2016 hanya memberikan honorarium penyelesaian perkara bagi Hakim MK, sedangkan Hakim MA sama sekali tidak memperoleh honorarium tersebut meski jumlah perkara yang ditangani sangat banyak.
• Analisis: Adanya perbedaan perlakuan terhadap dua jabatan yang setara adalah bertentangan dengan rasa keadilan, oleh karenanya perlu diatur honorarium penyelesaian perkara di MA.
• Rekomendasi: Perlu adanya perubahan keempat atas PP No.
55/2014, dengan ketentuan bagi Hakim Agung diberikan
honorarium dalam menangani perkara Kasasi, perkara tentang
kewenangan mengadili, perkara Peninjauan Kembali, dan
Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Usulan Perubahan:
Menambahkan 1 (satu) ayat pada Pasal 13A PP 55/2014 jo. PP 56/2016, sebagai berikut:
“(3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud Pasal 13, bagi Hakim Agung diberikan honorarium dalam hal:
a. Penanganan perkara kasasi;
b. Penanganan perkara pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang;
c. Penanganan perkara tentang kewenangan mengadili;
d. Penanganan perkara peninjauan kembali putusan Pengadilan yang telah memperoleh ketentuan hukum tetap; atau
e. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.”
BAGIAN II:
PEMENUHAN KESEJAHTERAAN HAKIM
(PP 94/2012 JO. PP 74/2016)
PERMASALAHAN
1. Ketentuan Dan Besaran Gaji Hakim
2. Ketentuan Dan Besaran Pensiun Hakim 3. Penyesuaian Tunjangan Jabatan Hakim 4. Pemenuhan Fasilitas Rumah Negara 5. Pemenuhan Fasilitas Transportasi 6. Penyesuaian Tunjangan Kemahalan 7. Pemenuhan Jaminan Kesehatan
8. Pemenuhan Jaminan Keamanan 9. Penyesuaian Tunjangan Keluarga
10.Pemberian Tunjangan Penanganan Perkara
PEMBAHASAN
1. KETENTUAN DAN BESARAN GAJI HAKIM
• Latar Belakang: Pasal 3 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) PP 94/2012 Jo. PP 74/2016 Telah Dibatalkan Oleh Mahkamah Agung
• Analisis: Hakim adalah personifikasi negara dalam menyelenggarakan kekuasaan kehakiman yang kewenangannya diperoleh secara atributif dari konstitusi, sehingga Negara wajib menciptakan kewibawaan jabatan Hakim sebagai instrument pokok dalam mewujudkan independensi Kekuasaan Kehakiman.
• Rekomendasi: Perlu Pengaturan bahwa Gaji Hakim Diatur
Tersendiri Dengan Besaran 3 (tiga) Kali Lipat Gaji PNS.
2. Ketentuan Dan Besaran Pensiun Hakim
• Latar Belakang: Pasal 11, 11A, 11B, 11C, 11 D, dan 11E PP 94/2012 Jo. PP 74/2016 Telah Dibatalkan Oleh Mahkamah Agung
• Analisis: Hak pensiun Hakim adalah bagian integral dari jaminan independensi dan perwujudan kewibawaan (dignity) jabatan Hakim, sehingga jaminan pensiun yang baik akan berkontribusi menekan potensi pelanggaran Kode Etik Hakim yang diakibatkan kekhawatiran masa tua yang tidak pasti atau dengan disparitas kondisi yang sangat jauh dibandingkan pada masa aktif.
• Rekomendasi: Perlu Pengaturan bahwa Pensiun Hakim Diatur
Tersendiri Dengan Besaran 100% atau sama dengan besaran gaji
pokok yang terakhir diterima.
3. Penyesuaian Tunjangan Jabatan Hakim
• Latar Belakang: Besaran Tunjangan Hakim sebagaimana Pasal 4 (1) &
(2) dan lampiran II PP 94/2012 jo PP 74/2016 Tidak Pernah Disesuaikan Sejak Tahun 2012; Adanya penurunan tunjangan jabatan bagi Hakim tunjangan tertentu yang promosi/dapat kedudukan baru bukan karena demosi; dan Tidak ada nomenklatur tentang Hakim Tinggi Yustisial yang diperbantukan di MA pada batang tubuh PP 94/2012 jo PP 74/2016.
• Analisis: tidak adanya kenaikan tunjangan jabatan hakim sejak tahun 2012 dan adanya konflik norma berkaitan dengan PP 94/2012 jo PP 74/2016 merupakan alasan untuk melakukan perubahan PP 94/2012 jo PP 74/2016 maupun beberapa ketentuan yang terkait.
• Rekomendasi: Perlu adanya penyesuaian tunjangan Hakim sebesar + 36,19% dari besaran tunjangan saat ini (berdasarkan akumulasi inflasi tahun 2012 – 2019) dan penataan ulang kelas jabatan yang disesuaikan dengan pola promosi dan mutasi Hakim.
4. Pemenuhan Fasilitas Rumah Negara
• Latar Belakang: mayoritas hakim tidak memperoleh Rumah Dinas maupun Tunjangan Rumah Dinas sebagai penggantinya, padahal tugasnya berpindah-pindah sehingga rentan intervensi/intimidasi.
Meski UU Kekuasaan Kehakiman dan 3 UU Lingkungan Peradilan menjamin fasilitas ini, namun PP 94 belum memenuhinya.
• Analisis: Hakim adalah personifikasi negara dalam menyelenggarakan kekuasaan kehakiman yang kewenangannya diperoleh secara atributif dari konstitusi, sehingga Negara wajib menciptakan kewibawaan jabatan Hakim, diantaranya dengan pemberian fasilitas rumah dinas.
• Rekomendasi: Pembangunan Rumah Dinas Baru, atau Sewa Rumah Dinas sebesar 25 Juta, atau Pemberian Tunjangan Perumahan sebagaimana Hakim Pajak.
5. Pemenuhan Fasilitas Transportasi
• Latar Belakang: Kecuali Ketua dan Wakil, Semua hakim tidak memperoleh Kendaraan Dinas maupun Tunjangan Kendaraan Dinas sebagai penggantinya. Meski UU Kekuasaan Kehakiman dan 3 UU Lingkungan Peradilan menjamin fasilitas ini, namun PP 94 belum memenuhinya.
• Analisis: Hakim adalah personifikasi negara dalam menyelenggarakan kekuasaan kehakiman yang kewenangannya diperoleh secara atributif dari konstitusi, sehingga Negara wajib menciptakan kewibawaan jabatan Hakim sebagai instrumen pokok dalam mewujudkan independensi Kekuasaan Kehakiman, diantaranya dengan pemberian fasilitas transportasi milik negara.
• Rekomendasi: Pengadaan Mobil Dinas, Sewa Mobil Dinas, atau Pemberian Tunjangan Transportasi sebesar 3,3 juta/bulan sebagaimana Hakim Pajak.
6. Penyesuaian Tunjangan Kemahalan
• Latar Belakang: Tunjangan Kemahalan sebagaimana PP 94/2012 Jo PP 74/2016 tidak pernah mengalami kenaikan sejak Tahun 2012;
zonasi wilayah yang memperoleh Tunjangan Kemahalan kurang memenuhi rasa keadilan; dan belum adanya klasifikasi tunjangan kemahalan bagi pengadilan yang baru dibentuk.
• Analisis: selain adanya inflasi rata-rata setiap tahun sebanyak 5.17 persen sejak tahun 2012 sampai 2018 sehingga nilai tunjangan yang diterima sudah tidak sesuai lagi dengan indeks kebutuhan, pembedaan zonasi wilayah Tunjangan Kemahalan yang tidak sesuai dengan indeks kebutuhan dirasa kurang memenuhi rasa keadilan.
• Rekomendasi: Penyesuaian Tunjangan Kemahalan sebesar +36.19%
dan pemberian Tunjangan Kemahalan untuk semua Zona.
7. Pemenuhan Jaminan Kesehatan
• Latar Belakang: Pasal 10 PP No. 94/ 2012 menyatakan Hakim Diberi Jaminan Kesehatan, yang dalam praktek hanya berupa BPJS, yang fasilitasnya kerap dirasakan kurang.
• Analisis: Sebagai Pejabat Negara yang berpindah-pindah, semestinya Hakim diberikan Pelayanan Kesehatan Paripurna (Perpres 105/2013 dan Perpres 106/2013 Jo. Perpres 68/2014 dan PMK No.
167/PMK.02/2014). Dengan adanya fasilitas tersebut, kesehatan Hakim akan lebih baik dan akan mampu melaksanakan tugasnya menegakkan keadilan dengan lebih baik.
• Solusi: Perubahan Perpres, PMK, dan aturan turunannya, dg memasukkan definisi “Hakim pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan dibawahnya”; dan pemindahan penerimaan manfaat fasilitas kesehatan yang diperoleh hakim dari BPJS ke Asuransi.
8. Pemenuhan Jaminan Keamanan
• Latar Belakang: Meski UU KK, UU 3 Lingkungan Peradilan dan Pasal 7 PP 94/2012 jo PP 94/2016 telah mengatur tentang jaminan keamanan bagi hakim, namun dalam kenyataannya Hakim pada tingkat pertama dan tingkat banding belum mendapatkan Jaminan Kemanan tersebut.
• Analisis: Prasyarat terwujudnya Independensi Hakim adalah adanya jaminan keamanan bagi hakim dalam melaksanakan tugasnya (freedom from). Khusus Hakim Agung, berdasarkan PP 55/2014, pemberian fasilitas Keamanan bagi Hakim Agung diatur dengan SK Sekma, yang semestinya secara muatis-mutandis dapat diterapkan juga untuk Hakim tingkat pertama dan banding.
• Rekomendasi: Sekretaris MA menerbitkan SK tentang pemberian fasilitas keamanan bagi semua Hakim pada Mahkamah Agung dan seluruh Badan Peradilan di bawahnya.
9. Penyesuaian Tunjangan Keluarga
• Latar Belakang: Berdasarkan Pasal 9 PP 94/2012 jo PP 74/2016, Tunjangan Keluarga (Anak) bagi ASN lebih besar dibandingkan dengan Tunjangan Keluarga (Anak) bagi Hakim.
• Analisis: Hakim yang mendapatkan tunjangan keluarga (Anak) lebih sedikit (tunjangan anak sebesar 2% untuk paling banyak 2 orang anak) dibandingkan ASN (tunjangan anak sebesar 2 % untuk maksimal 3 orang anak), adalah tidak memenuhi rasa keadilan.
• Rekomendasi: agar dilakukan revisi atas PP 94/2012 khususnya
terkait Tunjangan Keluarga (Anak), yang setidak- tidaknya sama
dengan yang didapatkan oleh ASN yaitu Tunjangan Keluarga
(Anak) sebanyak 3 (tiga) orang.
10. Pemberian Tunjangan Penanganan Perkara
• Latar Belakang: Hakim yang menangani perkara yang bersifat khusus memiliki beban, resiko dan tanggungjawab yang berbeda, namun penghasilannya sama persis, sehingga menimbulkan ketidakadilan yang berdampak pada etos kerja Hakim yang bersangkutan.
• Analisis: penghargaan atas beban, resiko dan tanggungjawab bagi hakim yang menangani perkara khusus harus diwujudkan dalam pemberian Tunjangan Penanganan Perkara.
• Rekomendasi: penerbitan PMK yang mengatur tentang Hak
Keungaan Khusus bagi Hakim yang menangani perkara khusus,
sebagaimana telah diterima oleh Hakim Pajak.
BAGIAN III:
PENYESUAIAN TUNJANGAN PANITERA DAN JURUSITA (PERPRES 24/2007
DAN PERPRES 25/2007)
• Latar Belakang: Tunjangan Jabatan Panitera/PP dan Jurusita/JSP (Perpres 24/2007 dan 25/2007) belum pernah mengalami perubahan sampai saat ini, sedangkan besaran tunjangan tersebut sudah tidak sesuai dengan kebutuhan hidup.
• Analisis: Panitera, Panitera Pengganti, Juru Sita dan Juru Sita Pengganti adalah jabatan yang fungsinya menjadi satu kesatuan dalam proses memeriksa dan mengadili perkara. Peningkatan kesejahteraan diharapkan akan menjadi faktor meningkatnya kinerja, kompetensi dan integritas Panitera, Panitera Pengganti, Juru Sita dan Juru Sita Pengganti.
• Rekomendasi: Revisi Perpres 24/2007 dan 25/2007 dengan
ketentuan adanya kenaikan tunjangan Panitera, Panitera
Pengganti, Juru Sita dan Juru Sita Pengganti sebesar 5 (lima) kali
dari yang diterima saat ini.
BAGIAN IV:
PENYESUAIAN TUNJANGAN KINERJA / REMUNERASI
(Permenpan 63/2011 Jo. SK KMA
177/KMA/SK/XII/2015)
• Latar Belakang: Remunerasi Pegawai Negeri di lingkungan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya belum pernah mengalami peningkatan, meskipun capaian kinerja Mahkamah Agung sudah semakin meningkat.
• Analisis: Mahkamah Agung sebagai salah satu pilot project pelaksanaan Reformasi Birokrasi bersama dengan Kementerian Keuangan dan BPK, maka penyesuaian remunerasi sangat relevan untuk dilakukan. Apalagi dengan adanya capaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK untuk Mahkamah Agung selama 6 (enam) kali berturut-turut, dan adanya sertifikasi Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi untuk 7 Pengadilan.
• Rekomendasi: Mengusulkan penyesuain tunjangan khusus kinerja (remunerasi) berdasarkan benchmark pada Kementerian Keuangan dengan besaran presentasenya adalah 90% (sembilan puluh persen) dari benchmark.