• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Model Cooprative Learning Tipe Tebak Kata a. Pengertian Model

Model menurut Mills dalam Suprijono (2012: 45) adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu. Model pembelajaran menurut Joice dan Weil, seperti yang dikutip Sugandi (2005: 103) diartikan sebagai suatu rencana pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pembelajaran ataupun setting lainnya. Suatu pola berarti model mengajar, dalam pengembangannya di kelas membutuhkan unsur metode, teknik-teknik mengajar dan media sebagai penunjang.Sedangkan menurut Zaini (dalam Yusti, 2009) menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah sebuah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran.Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai acuan dalam merencanakan pembelajaran di kelas guna membantu siswa mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan cara bagaimana mengekspresikan ide. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa selama proses pembelajaran.

b. Model Cooperative Learning Tipe Tebak Kata

Pembelajaran kooperatif mengembangkan keterampilan berpikir maupun keterampilan sosial siswa seperti, bekerja sama, setia kawan dan mengemukakan pendapat. Keterampilan seperti ini sangat dibutuhkan secara berkelanjutan pada

(2)

kehidupan siswa. Keterampilan yang diperoleh siswa tidak hanya berhenti setelah pembelajaran usai melainkan pengalaman yang diperoleh selama bekerja kelompok dapat diterapkan kembali pada kelompok lainnya melalui perilaku yang positif dan akan diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan.

Kurniasih dan Sani (2016: 94), model pembelajaran cooperative learning sangat baik diterapkan dikelas yang aktif. Aktif yang dimaksud adalah siswa yang aktif, mau dan mampu berfikir dan bertanya jika menemukan kesulitan dalam materi pembelajaran, pada prinsipnya, siswa yang aktif adalah siswa mampu dan dapat bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan. Maka dari itu, berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar atau tidak terbatas pada empat dinding kelas. Melainkan pembelajaran dapat terlaksana dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik cinta terhadap lingkungan sekitar.

Model pembelajaran cooperative learning tipe tebak kata ini merupakan model pembelajaran yang menggunakan media kartu teka-teki yang berpasangan dengan kartu jawaban teka-teki. Permainana tebak kata dilaksanakan dengan cara siswa menjodohkan kartu soal teka-teki dengan kartu jawaban yang tepat. Melalui permainan tebak kata, selain anak menjadi tertarik untuk belajar juga memudahkan dalam menanamkan konsep belajar. Model pembelajaran ini tidak terlalu rumit untuk dilaksanakan, akan tetapi dalam praktiknya terdapat beberapa hal yang harus disiapkan, diantaranya: 1). persiapan materi yang akan disampaikan 2). persiapkan bahan ajar yang dibutuhkan dan 3). persiapkan kata kuci yang akan dipertanyakan.

Adapun media yang dipergunakan adalah media kartu dengan ukuran 10X10 cm. kemudian isilah cirri-ciri atau kata-kata lainya yang mengarah kepada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak.Buat kartu ukuran 5X2 cm untuk menulis kata- kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempelkan pada dahi atau diselipkan di telinga.

Jadi, model pembelajaran Tebak Kata merupakan salah satu model pembelajaran Cooperative Lerning, dengan proses pembelajaran yang dapat membuat siswa berminat atau tertarik untuk belajar, mempermudah dalam

(3)

menanamkan konsep-konsep dalam ingatan siswa. Selain itu siswa juga diarahkan untuk aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Dalam menerapkan model tebak kata ada beberapa hal yang harus disiapkan adalah sebagai berikut : a). siapkan materi yang akan di sampaikan. b). siapkan bahan ajar yang di butuhkan. c). siapkan kata kunci yang akan di pertanyakan.

Prinsip atau ciri-ciri model tebak kata (1). Pembelajaran berlangsung menyenangkan (2). Siswa diarahkan untuk aktif (3). Menggunakan media kartu c. Media yang Digunakan dalam Model Cooprative Learning Tipe Tebak Kata

Media yang digunakan, yaitu:

Buat kartu ukuran 10X10 cm dan isilah ciri-ciri atau kata-kata lainnya yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak.Buat kartu ukuran 5X2 cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempel pada dahi ataudiselipkan di telinga.

CONTOH KARTU:

Kartu Soal

Aku pondok atau pesantren yang dibangun dan didirikan oleh para ulama, kiai dan guru-guru agama.

Siapakah aku??

Kartu Jawaban

Persebaran Islam melalui jalur pendidikan

(4)

Gambar 2.1 Contoh Kartu Tebak Kata

d. Langkah-Langkah Pembelajaran Model Tebak Kata

Langkah-langkah pelaksanaan model tebak kata menurut Suprijono (2009:131) yaitu:

1). Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi ± 45 menit.

2). Guru menyuruh siswa berdiri berpasangan di depan kelas.

3). Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10×10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang siswa yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5×2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga.

4). Sementara siswa membawa kartu 10×10 cm membacakan kata-kata yang tertulis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10×10 cm. jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau telinga.

5). Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya.

6). Dan seterusnya.

e. Kelebihan dan Kekurangan dalam Pemanfaatannya

1). Kelebihannya : a). anak akan mempunyai kekayaan bahasa. b). Sangat menarik sehingga setiap siswa ingin mencobanya. c). Siswa menjadi tertarik untuk belajar d).memudahkan dalam menanamkan konsep pelajaran dalam ingatan siswa.

(5)

2). Kekurangannya : a). Memerlukan waktu yang lama sehingga materi sulit tersampaikan. b). Bila siswa tidak menjawab dengan benar maka tidak semua siswa dapat maju karena waktu terbatas.

Jadi, model pembelajaran Tebak Kata merupakan salah satu model pembelajaran Cooperative Lerning, dengan proses pembelajaran yang menarik dapat membuat siswa berminat atau tertarik untuk belajar, mempermudah dalam menanamkan konsep-konsep dalam ingatan siswa. Selain itu siswa juga diarahkan untuk aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Setelah mengetahui beberapa manfaat model pembelajaran tebak kata, guru perlu mencoba model tebak kata dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi komponen pemerintahan di Indonesia.

2. Keaktifan Belajar Siswa

a. Pengertian Keaktifan (active learning)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia keaktifan adalah kegiatan.

Keaktifan belajar dapat dilihat dari kegiatan siswa selama pembelajara. Zaeni menyebutkan bahwa pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti siswa yang mendominasi aktivitas pembelajaran, dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak dengan baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam persoalan yang ada dalam kehidupan nyata (Zaeni, 2007 : 16).

Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreatifitas perserta didik melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar.

Keaktifan belajar siswa merupakan unsure dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan (Sardiman, 2001 : 98).

Keaktifan siswa dalam kegiatan belajar tidak lain adalah untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Mereka aktif membangun pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses

(6)

pembelajaran. Dalam Kamus Besar Bhasa Indonesia aktif berarti giat ( bekerja, berusaha). Keaktifan diartikan sebagai hal ata keadaan dimana siswa dapat aktif.

Thorndike mengemukakan keaktifan belajar siswa dalam belajar dengan hukum “low of exercise”-nya menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan- latihan dan Mc Keachie menyatakan berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan “ manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu”(Dimyati, 2006: 45).

Dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa dalam belajae merupakan segala kegiatan yang bersifat fisik maupun non fisik siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar yang optimal sehingga dapat menciptakan suasana kelas menjadi kondusif.

Keaktifan belajar dapat dilihat dari keaktifan fisik dan mental siswa selama proses pembelajaran. Jika siswa sudah terlibat ecara fisik dan mental, maka siswa akan merasakan suasana belajar yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. Perlunya keaktifan dalam belajar merupakan prinsip atau azaz yang sangat penting didalam interaksi belajar mengajar sebagai rasionalitasnya hal ini mendapat pengakuan dari ahli pendidikan.

b. Klasifikasi Keaktifan

Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan cirri-ciri prilaku seperti berikut: 1) siswa sering bertanya kepada guru atau siswa lainnya 2) siswa mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru 3) siswa mampu menjawab peranyaan yang diberikan oleh guru 4) siswa senang diberi tugas oleh guru. (Rosaliya,2005:4).

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan sisw itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan ketrampilan yang mengarah pada peningkatan prestasi.

Salah satu penilaian proses pembelajaran adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Sudjana (2004: 61)

(7)

menyatakan keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal: a). turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya; b). terlibat dalam pemecahan maslah; c). bertanya kepada siswa lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya; d).

berusaha mencari beragai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah; e).

melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru; f). menilai kemampuan diriny dan hasil-hasil yang diperolehnya; g). melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis; g). kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperoleh dalam menyelessikan tugas atau persoalaan yang dihadapinya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan keaktifan siswa dapat dilihat dari berbagai hal seperti memperhatikan (visual activities), mendengarkan, berdiskusi, kesiapan siswa, bertanya, keberanian siswa, memecahkan soal (mental activities).

Indikator keaktifan belajar siswa dari segi fisik adalah sebagai berikut: (1).

Siswa bertanya kepada temannya. (2). Siswa berani mengemukakan pendapat. (3).

Siswa menyangah pendapat temannya. (4). Siswa mengemukakan ide/pendapat.

Sedangkan yang menjadi indicator keaktifan belajar siswa dari segi mental siswa adalah sebagai berikt: (1). Siswa selalu bersemangat dan gembira dalam belajar (2). Siswa tidak pernah putus asa (3). Siswa belajar dengan serius (4). Siswa bersemangat dalam memperhatikan penjelasn guru.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan

Keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, peserta didik juga dapat berlatih untuk berfikir kritis, dan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, guru juga dapat merekayasa system pembelajaran secara sisitematis, sehingga merangsang keaktifan peserta didik dalam proses pembelajran.

Keaktifan dipengaruhi oleh beberapa factor. Factor-faktor yang memengaruhi keaktifan belajar siswa adalah: 1) memberikan motivasi atau menarik perhatian peserta didik, sehingga mereka berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran; 2) menjelaskan tujuan intruksiaonal ( kemampuan dasar kepada peserta didik); 3) mengingatkan kompetensi belajar kepada peserta didik; 4) member stimulus (masalah, topic, dan konsep yang akan dipelajari; 5) memberikan petunjuk kepada

(8)

peserta didik cara mempelajari; 6) mememunculkan aktivitas , partisipasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran; 7) member umpan balik (feedback); 8) melakukan tagian-tagihan kepada peserta didik berupa tes sehingga kemampuan peserta didik selalu terpantau dan terukur; 9) menympulkan setiap materi yang disampaikan diakhir pembelajaran. Keaktifan dapat ditngkatkan dan diperbaiki dalam keterlibatan siswa pada saat belajar.

Cara untuk memperbaikinketerlibatan siswa dintaranya yaitu: abadikan waktu yang lebih banyak untuk kegiatan belajar mengajar, tingkatkan partisipasi siswa secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar, serta berikanlah pengajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan mengajar yang akan dicapai. Selain memperbaiki keterlibatan siswa juga dijelaskan cara meningkatkan keterlibatan siswa atau keaktifan siswa dalam belajar ( Usman, 2009: 26-27).

Cara meingkatkan ketelibatan atau keaktifan siswa dalam belajar adalah mngenali dan membantu anak-anak yang kurang terlibat dan menyelidiki penyebabnya dan usha apa yang bisa dilakuan untuk meningkatkan keaktifan siswa, sesuaikan pengajaran dengan kebutuhan-kebutuhan individual siswa. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan usaha dan keinginan siswa untuk berfikir secara akif dalam kegiatan belajar.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan keaktifan dipengaruhi oleh berbagai macam factor seperti menarik atau memberikan motivasi kepada siswa dan keaktifan juga dapat ditingkatkan, salah satu cara meningkatkan keaktifan yaitu dengan mengenali keadaan siswa yang kurang telibat dalam proses pembelajaran.

3. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar yang sering disebut dengan istilah “scholastic achievement” atau academic achievement” adalah seluruh kecakapan dan hasil yang dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah dan dinyatakan dengan angka-angka atau nilai- nilai berdasarkan tes belajar. Implementasi dari belajar adalah hasil belajar. Berikut di kaemukakan definisi hasil belajar menurut para ahli (Himitsuqalbu,2014).

(9)

1) Dimyati dan Mudjiono (2006) hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberikan tes hasil belajar pada setiap akhir pembelajaran. Nilai yang diperoleh siswa menjadi acuan untuk melihat penguasaan siswa dalam menerima materi pelajaran.

2) Djamara dan Zain (2006) hasil belajar adalah aa yang diperoleh siswa setelah dilakukan aktifitas belajar.

3) Hamalik (2008) hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat di amati dan di ukur bentuk pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Perubahan tersebut dapat di artikan sebagai terjadinya pningkatan dan pengembangan.

4) Mulyasa (2008) hasil belajar merupakan prestasi belajar siswa seara keseluruhan yang menjadi indicator kompetensi dan drajat perubahan prilaku yang bersangkutan. Kompetensi yang harus dikuasai siswa perlu diyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai sebagai wujud hasil belajar siswa yang mengacu pada pengalaman langsung.

5) Winkel (dikutip oleh apaurwanto, 2010) hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.

Dengan demikian, hasil belajar merupakan gambaran tentang apa yang harus digali, dipahami, dan dikerjakan siswa. Hasil belajar ini merefleksikan keluasaan, kedalaman, kerumitan dan hasil digambarkan secara jelas serta dapat diukur dengan teknik-teknik penilaian tertentu. (Arifin, 2011: 26)

Menurut (Bloom dalam Hasan, 1991: 23-27) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

1). Ranah Kognitif

Ranah kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi.

Proses belajar yang melibatkan kawasan kognisi meliputi kegiatan sejak dari penerimaan stimulus, penyimpanan dan pengolahan dalam otak menjadi informasi hingga pemangilan kembali informasi ketika diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Menurut Bloom secara hirarki tingkat hasil belajar kognitif mulai yang paling rendah dan sederahana yaitu hafalan sampai paling tinggi dan kompleks yaitu

(10)

evaluasi.Enam tingkatan itu adalah pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6).

a). Pengetahuan (knowledge) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan lain sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya.

b). Pemahaman (comprehension) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu itu diketahuai dan diingat melalui penjelasan dari kata-katanya sendiri.

c). Penerapan (application) yaitu kesanggupan seseorang untuk ide-ide umum, tata cara atau metode-metode, prinsip-prinsip, rumusan-rumusan, teori-teori, dan lain sebagainya dalam situasi yang baru dan konkret.

d). Sistesis (synthesis)adalah kemampuan berfikir memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjadi suatu pola yang baru dan terstruktur.

e). Evalusai (evaluation)adalah kemampuan tertinggi dalam ranah kognitf Bloom, kemampuan seseoarang untuk membuat pertimbangan terhadap situasi, nilai, atau ide, atas beberapa pilihan kemudian menentukan pilihan nilai atau ide yang tepat sesuai kreteria yang ada.

2). Ranah Afektif

Ranah afektif berhubungan dengan minat, perhatian, sikap, emosi, penghargaan, proses, internalisasi, dan pembentukan karakteristik diri. Krathwohl, Bloom dan Masia 1964 membagi ranah afektif dalam lima jenjang yaitu, a) penerimaan (receiving), b) penanggapan (responding), c) penghargaan (valuing), d) pengorganisasian (organizatiaon), e) penjatidirian (characterizatioan).

3). Ranah Psikomotorik

Beberapa ahli mengklarifikasikan dan menyusun hirarki dari hasil belajar psikomotorik. Hasil belajar disusun berdasarkan urutan mulai dari yang paling rendah dan sederhana sampai yang paling tinggi hanya dapat dicapai apa bila siswa telah menguasai hasil belajar yang lebih rendah. Simpason (Hasan, 1991:27)

(11)

mengklasifikasikan hasil belajar psikomotorik menjadi enam yaitu, a) persepsi (membedakan gejala), b) kesiapan (menempatkan diri untuk memulai suatu gerakan), c) gerakan terbimbing (meniru model yang dicontohkan),d) gerakan terbiasa (melakukan gerakan tanpa model hingga mencapai kebiasaan), e) gerakan kompleks (melakukan serangkaian gerakan secara berurutan), dan f) kreativitas (menciptakan gerakan dan kombinasi gerakan baru yang orsinil atau asli).

Penelitian ini yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil yang dicapai anak dalam usahanya untuk menguasai mata pelajaran dengan sengaja pada waktu tertentu. Jadi hasil belajar IPS adalah hasil dari kemampuan peserta didik dalam hal ini siswa kelas IV MI Al-Fatah Kemutug yang telah mengikuti proses pembelajaran dan merupakan gambaran dari penguasaan kemampuan peserta didik sebagaimana telah ditetapkan dalam mata pelajaran IPS pokok bahasan mengenal alat komunikasi dan alat transportasi yang dinyatakan dalam skor nilai tes atau angka. Hasil belajar IPS dalam penelitian ini lebih menitikberatkan pada ranah kognitif yakni C1 (pengetahuan), C2 (pemahaman), dan C3 (menerapkan).

Ada enam aspek yaitu gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif.Dalam penelitian ini hasil belajar yang digunakan adalah ranah kognitif, karena peneliti hanya mengukur kemampuan siswa berdasarkan hasil akhir dalam pembelajaran mengenai pengetahuan dan pemahaman terhadap materi pelajaran.

Menurut Sudjana (2010:22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut Suprijono (2012: 5) adalah “ pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-20 pengertian, sikap- sikap, apresiasi, dan keterampilan”. Menurut Anni, dkk (2007: 5), “ hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang diperoleh pembelajar setelaj mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung oleh apa yang dipelajari oleh pembelajar”.

Sejalan dengan pendapat-pendapat tersebut Bloom dalam Sudjana (2010: 22) membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah

(12)

psikomotoris.Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.

Ranah psikomotoris, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan, tidak hanya mencakup salah satu ranah melainkan banyak ranah yang ada dalam potensi manusia.Perubahan perilaku yang harus dicapai seorang pembelajar merupakan tujuan pembelajaran. Gerlach dan Ely (1980) dalam Anni dkk., (2006:5) menyatakan tujuan pembelajaran merupakan deskripsi perubahan perilaku yang diinginkan atau 21deskripsi produk yang menunjukkan bahwa belajar telah terjadi. Perubahan yang terjadi pada perilaku seseorang menunjukkan bahwa orang tersebut telah belajar.

Dalam setiap pembelajaran guru tentu mempunyai patokan apa yang harus dicapai siswa dari pembelajaran yang disampaikannya. Patokan tersebut ada dalam indikator pembelajaran dan dikembangkan sendiri oleh guru dalam tujuan khusus pembelajaran pada rencana pelaksanaan pembelajaran.

b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar IPS

Baik buruknya hasil belajar siswa banyak dipengaruhi oleh faktor internal dalam diri berupa faktor psikologis dan faktor eksternal. Kehadian factor psikologis dalam belajar akan memberikan andil yang cukup penting dalam memberikan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan belajar secara optimal.

Menurut (Slameto, 2003: 54-64) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor intern adalah faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar,sedangkan faktor ekstern faktor yang ada di luar individu.

1). Faktor-faktor intern, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri, meliputi:

(13)

a). Kesehatan

Sehat berarti dalam keadan baik segenap badan beserta bagian-bagainnya bebas dari penyakit. Proses belajar seseoarang akan terganggu jika kesehatan seseoarang terganggu, misalnaya cepat lemah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badanya lemah, kurang darah dan ada gangguan alat inderanya serta tubuhnya.

b). Inteligensi

Intelegensi besar pengaruhnya terhadap proses pencapaian hasil belajar siswa. Hal ini menurut seorang ahli mengatakan bahwa: ”faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemajuan belajar”.Ini bermakna bahwa seseorang yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.

c). Minat dan Motivasi

Minat diartikan sebagai kehendak, keinginan atau kesukaan. Motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti ”dasarnya” atau penggerak. Motivasi yang terdapat pada individu akan mewujudkan suatu perilaku untuk memenuhi

“keinginan atau kebutuhannya”. Kuatnya motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang motivasi memiliki daya tarik bagi kalangan pendidik terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja prestasi dan profesionalisme seseorang.

d). Tata Cara Belajar

Cara belajar seseorang juga mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Belajar tanpa memperhatikan teknik dan faktor fisiologis, psikologis, dan ilmu kesehatan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan. Cara belajar antara anak berbeda-beda.

Ada anak yang dapat dengan cepat menyerap materi pelajaran dengan cara visual atau melihat langsung, audio atau dengan cara mendengarkan dari orang lain dan

(14)

ada pula anak yang memilki cara belajar kinestetik yaitu dengan gerak motoriknya misalnya dengan cara berjalan-jalan dan mengalami langsung aktivitas belajarnya.

2). Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri, meliputi : a). Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan tumpuan dari setiap anak, keluarga merupakan lingkungan yang pertama dari anak dan dari keluarga pulalah anak menerima pendidikan karena keluarga mempunyai peranan yang sangat penting di dalam perkembangan anak. Keluarga yang baik akan memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan anak. Dalam buku psikologi pendidikan dijelaskan bahwa: ”situasi keluarga (ayah, ibu, saudara, adik, kakak serta famili) sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam keluarga. Pendidikan orang tua, status ekonomi, rumah kediaman, persentase hubungan orang tua, perkataan dan bimbingan orang tua, mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak. Dari pendapat ini jelaslah bahwa kondisi rumah yang tidak baik, tidak memungkinkan anak belajar dengan baik.Dan sebaliknya, kondisi lingkungan rumah yang asri atau damai dapat membantu anak untuk belajar secara lebih baik guna mencapai prestasi belajar yang lebih baik lagi.

b). Lingkungan Sekolah

Faktor sekolah yang mempengaruhi hasil belajar mencangkup metode mengajar, kesesuain kurikulum dengan kemampuan siswa, relasi guru dan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, dan fasilitas di sekolah.Lingkungan sekolah menunjukkan adanya pengaruh yang cukup besar dengan pencapaian hasil belajar anak.

c). Lingkungan Masyarakat

Keadaan masyarakat juga menentukan keberhasilan hasil belajar. Bila sekitar tempat tinggal keadaan masyarakatnya terdiri dari orang-orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya bersekolah tinggi dan bermoral baik, hal ini akan mempengaruhianak untuk giat belajar.

d). Lingkungan Sekitar

(15)

Kondisi yang tentram di lingkungan tempat tinggal juga menunjang untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Keadaan yang relatif tenang membuat keadaan belajar menjadi sangat tenang,sehingga kegiatan belajar di rumah berjalan maksimal.Lingkungan sekitar misalnya seperti bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, dan iklim dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar, sebaliknya tempat-tempat dengan iklim yang sejuk dapat menunjang proses belajar.

Faktor-faktor internal,eksternal belajar sangat mempunyai peran dalam mempengaruhi hasil belajar. Hal ini juga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar IPS sehingga faktor-faktor tersebut harus diperhatikan.Salah satu faktor eksternal yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar IPS adalah dengan penggunaan media pembelajaran.Mediator yang digunakan adalah media gambar foto.Dengan menggunakan media gambar foto memudahkan anak menerima materi yang diajarkan, sehingga anak dapat belajar mengamati langsung objek yang diamati tanpa harus keluar dari kelas, serta meningkatkan hasil belajar IPS siswa.

4. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial

Menurut Hidayati (2008:7) mengatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan suatu pendekatan interdisipliner dari pelajaran Ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. Pendapat yang hampir sama juga ditegaskan oleh Taneo (2009:1.8) yang menjelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan hasil perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, dan politik.

Mata pelajaran tersebut mempunyai ciri-ciri yang sama, oleh karena itu dipadukan menjadi satu bidang studi yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Menurut Depdiknas dalam ”Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22, 23, dan 24 Tahun 2006” (2008:162) disebutkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai pada jenjang SMP/MTs/SMPLB. Ilmu Pengetahuan Sosial mengkaji seperangkat

(16)

peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Berdasarkan dari berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan ilmu kajian tentang kahidupan manusia sebagai individu sekaligus sebagai makhluk sosial yang berinterkasi dengan lingkungannya. Dengan kata lain bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial memiliki kajian yang sangat kompleks tentang kehidupan manusia dan lingkungannya berserta aspek-aspek kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu peserta didik yang merupakan bagian dari masyarakat perlu diberikan menguasai Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai bekal hidupnya kelak.

b. Tujuan Pembelajaran IPS

Menurut Rudy Gunawan (2011: 37) mengemukakan bahwa: Pembelajaran IPS bertujuan membentuk warga negara yang berkemampuan sosial dan yakin akan kehidupannya sendiri di tengah-tengah kekuatan fisik dan sosial, yang pada gilirannya akan menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan ilmu sosial bertujuan menciptakan tenaga ahli dalam bidang ilmu sosial.

Banyak pendapat yang mengemukakan tentang tujuan pendidikan IPS, diantaranya oleh The Multi Consortium Of Performance Based Teacher Education di AS pada tahun 1973 Djahiri dan Ma’mun (Rudy gunawan, 2011: 20) menyatakan bahwa sebagai berikut :

1). Mengetahui dan mampu menerapkan konsep-konsep ilmu sosial yang penting, generalisasi (konsep dasar) dan teori-teori kepada situasi data yang baru.

2). Memahami dan mampu menggunakan beberapa struktur dari suatu disiplin atau antar disiplin untuk digunakan sebagai bahan analisis data baru.

3). Mengetahui teknik-teknik penyelidikan dan metode-metode penjelasan yang dipergunakan dalam studi sosial secara bervariasi serta mampu menerapkannya sebagai teknik penelitian dan evaluasi suatu informasi.

4). Mampu mempergunakan cara berpikir yang lebih tinggi sesuai dengan tujuan dan tugas yang didapatnya.

5). Memiliki keterampilan dalam memecahkan permasalahan (Problem Solving).

(17)

6). Memiliki self concept (konsep atau prinsip sendiri) yang positif.

7). Menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

8). Kemampuan mendukung nilai-nilai demokrasi.

9). Adanya keinginan untuk belajar dan berpikir secara rasional.

10). Kemampuan berbuat berdasarkan sistem nilai yang rasional dan mantap

Sementara menurut Wahab (Rudy gunawan, 2011: 21) menyatakan bahwa: Tujuan Pengajaran IPS disekolah tidak lagi semata-mata untuk memberi pengetahuan dan menghapal sejumlah fakta dan informasi akan tetapi lebih dari itu.

Para siswa selain diharapkan memiliki pengetahuan mereka juga dapat mengembangkan keterampilannya dalam berbagai segi kehidupan dimulai dari keterampilan akademiknya sampai pada keterampilan sosialnya.

Sedangkan menurut Chapin dan Messick (Isjoni, 2007: 39) secara khusus tujuan pengajaran IPS di sekolah dasar dapat dikelompokkan ke dalam empat komponen, yaitu :

a). Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.

b). Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan untuk mencari dan mengolah/memproses informasi.

c). Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat.

d). Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian/berperan serta dalam kehidupan sosia.

Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 (2011: 17), mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

(1). Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

(2). Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

(3). Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

(18)

(4). Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS adalah membantu tumbuhnya warga negara yang baik dapat mengembangkan keterampilannya dalam berbagai segi kehidupan dimulai dari keterampilan akademiknya sampai pada keterampilan sosialnya. Akan tetapi secara lebih khusus pada tujuan yang tertera pada KTSP, bahwa salah satunya adalah mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.

Mengenal konsep-konsep memerlukan pemahaman yang mendalam, oleh karena itu pemahaman suatu konsep dengan baik sangatlah penting bagi siswa, agar dapat mamahami suatu konsep, siswa harus membentuk konsep sesuai dengan stimulus yang diterimanya dari lingkungan atau sesuai dengan pengalaman yang diperoleh dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman-pengalaman yang harus dilalui oleh siswa merupakan serangkaian kegitan pembelajaran yang dapat menunjang terbentuknya konsep-konsep tersebut. Karena itu guru harus bisa menyusun pembelajaran yang didalamnya berisi kegiatan-kegiatan belajar siswa yang sesuai dengan konsep-konsep yang akan dibentuknya.

c. Ruang lingkup mata pelajaran IPS

Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

1). Manusia, Tempat, dan Lingkungan 2). Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan 3). Sistem Sosial dan Budaya

4). Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan.

B. Kajian Peneltian yang Relevan

Penulis mengambil beberapa hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya yang membahas topik yang sama antara lain

Pertama, Penelitian oleh Ajeng Melia Pertiwi (2013) yang berjudul “Penerapan Permainan “tebak kata” untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa arab siswa kelas VII SMPI 01 Pujon” terdapat 4 siklus. Pada kemampuan berbicara siswa setelah

(19)

dilaksanakan pembelajaran bahasa Arab menggunakan kartu tebak kata mengalami peningkatan yang cukup pada siklus I, dan pada siklus II peningkatannya lebih baik lagi dari siklus I. permainan kartu tebak kata ini membuktikan bahwa pengajaran bahasa. Arab dengan menggunakan media ini dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa.

Persamaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sama-sama menggunakan model tebak kata, sedangkan perbedaan dari penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu kalau penelitian di atas untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa pada mata pelajaran bahasa arab sedangkan penelitian yang akan dilakukan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

Kedua, Penelitian oleh Doni Harfiyanto,(2011) dengan judul “Perbedaan Hail Belajar menggunakan Metode Pembelajaran Permainan Tebak Kata dengan metode ceramah bervariasi pada bidang studi IPS Sejarah kelas VIII siswa SMP Nurul Salam Bantarbolang kabupaten Pemalang tahun Pelajaran 2010/2011” menyatakan bahwa permainan tebak kata dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Sejarah. Penelitian ini menghasilkan nilai rata-rata hasil pos test kelas eksperimen 8,16 dan kelas kontrol 7,65.

Sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan hasil belajar antara kelas yang diberi pembelajaran dengan metode permainan tebak kata dengan kelas yang diberi pembelajaran dengan metode ceramah.

Persamaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sama-sama menggunakan model tebak kata dan sama-sama pada mata pelajaran IPS, Sedangkan perbedaan dari penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu penelitian di atas perbandingan hasil belajar dengan menggunakan metode permainan tebak kata dengan metode ceramah bervarian pada mata pelajaran IPS sedangkan penelitian yang akan dilakukan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

Ketiga, Penelitian oleh Nif’atul Aulia.(2010) yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Menulis dari Mahasiswa Tahun Kedua MTs Ihyaul Islam Ujungpangkah Gresik melalui Permainan tebak kata”. Berdasarkan penemuan penelitian menunjukan bahwa strategi permainan tebak kata dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.

Peningkatan tersebuta dapat dilihat dari peningkatan nilai rat-rata menulis siswa yang bisa melewati nilai standar minimum untuk menulis. Skor rata-rata pada siklus I adalah 5,83, dan jumlah siswa yang mendapat lebih tinggi dari target skor adalah 10 siswa (43,4%).Dalam

(20)

siklus II skor rata-rata adalah 7,07 dan jumlah siswa yang mendapat nilai tinggi dari target skor adalah 19 siswa (82,6%). Selain hasil, strategi permainan menebak juga dapat meningkatkan partisipasi siswdan motivasi selama tugas menulis.

Persamaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sama-sama menggunakan model tebak kata, sedangkan perbedaan dari penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu penelitian di atas penemuan penelitian menunjukan bahwa strategi permainan tebak kata dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.sedangkan penelitian yang akan dilakukan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

C. Kerangka Pikir

Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti siswa yang mendominasi aktivitas pembelajaran, dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak dengan baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam persoalan yang ada dalam kehidupan nyata dengan kelas akan selalu aktif dan siswa akan lebih antusias dalam mengikuti pembelajara dikelas.

Dalam proses pembelajaran di kelas VII B di MTsN 1 Losari Cirebon cenderung pembelajarannya berpusat pada Guru (teacher Centered) serta penggunaaan media dan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang bervariasi, gurucenderung monoton menggunakan metode ceramah karena guru lebih mengutamakan target pencapaian materi sehingga menimbulkan beberapa akibat pada iswa seperti siswa cepat bosan, cepat mengantuk, cuek (tidak mau mendengarkan) dan kurang fokus saat guru memberikan pembelajaran IPS. Dan pada akhirnya siswa sulit untuk memahami materi pelajaran sehingga berakibat pada hasil belajar siswa hanya 65 belum mencapai Kriteria Ketuntasan Maksimum (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 70.

Di MTsN 1 Losari Cirebon belum pernah ada penelitian yang menerapkan model Cooprative Learning tipe Tebak Kata dalam pembelajaran IPS. Untuk itu diperlukan metode yang lebih baik untuk siswa dan menciptakan suasana belajar yang menarik keaktifan siswa

(21)

dalam belajar pada mata pelajaran IPS yaitu salah satunya dengan model Cooprative Learning tipe Tebak Kata.

Model cooperative learning tipe tebak kata merupakan sebuah model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan siswa dan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang menarik serta mempermudah dalam menanamkan konsep belajar. Sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Diterapkannya model cooperative learning tipe tebak kata ini akan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Secara jelas Krangka Pemikiran sebagai berikut:

Kerangka berpikir dapat digambarkan dengan skema berikut ini:

kok Tindakan Tujuan/hasil

Kondisi saat ini

 Guru mampu menerpakan

model

pembelajaran cooperative

learning tipe tebak kata

 Meningkatkan

Keaktifan dan hasil belajar siswa

 Penjelasan pembelajaran

cooperative learning tipe tebak kata

 Pelatihan pembelajaran cooperative learning tipe tebak kata

 Melaksanakan pembelajaran

cooperative learning tipe tebak kata

 Pembelajaran IPS

di kelas membosankan

 Sulit memahami materi

pembelajaran IPS

 Hasil belajar rata-rata 65 dibawah KKM 70

Penerapan pembelajaran

cooperative learning tipe tebak kkata Diskusi pemecahan

masalah

Penerapan Model Cooprative Learning Tipe Tebak Kata Dalam Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS

Kelas VII B di MTsN 1 Losari Kabupaten Cirebon

(22)

Gambar 2.2 Kerangka Pikir D. Hipotesis Tindakan

Menurut Arikunto (1992: 62) hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Sedangkan menurut Sudjana (1996: 219) hipotesis adalah asumsi atau dugaan sementara mengenai suatu hal yang dibuat untuk melanjutkan hal itu yang sering dituntut untuk melaksanakan pengecekan. Dari pengertian para ahli di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara atas suatu permasalahan penelitian yang sedang dilakukan.

Berdasarkan keterangan diatas, maka penulis merumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “ Penerapan Metode Cooprative Learnng Tipe Tebak Kata dapat Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar siswa pada Mata Pelajaran IPS di Kelas VII B MTsN 1 Losari Cirebon”

 

Evaluasi Akhir Evaluasi Efek

Evaluasi awal

    Meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa  

Referensi

Dokumen terkait

” Selanjutnya, dalam Artikel 133 Akta Sidang Sinode GKD XI 1969 nampak bahwa ada usul dari Klasis Surakarta Timur untuk menterjemahkan Kidung Pasamuwan

Apabila Saudara tidak hadir pada waktu yang telah ditentukan tersebut di atas, akan dinyatakan gugur / tidak memenuhi persyaratan kualifikasi. Demikian undangan ini

memperoleh pemahaman tentang komunikasi organisasi, sumber daya, dan sikap pelaksana yang merupakan dimensi dari implementasi kebijakan public (2). Memperoleh gambaran umum

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas IlmuPendidikan. © AnnisaNovitasari 2016 Universitas

Permasalahan lainnya adalah buah naga merupakan produk pertanian yang mudah rusak ( perishability ), musiman, membutuhkan ruang yang banyak, dan tidak seragam.

Yaitu mereka-mereka yang menulis suatu peristiwa yang baru terjadi kemudian menyusunnya menjadi sebuah berita yang bagus untuk di nikmati.Menulis aktual berperan penting

Dari hasil penelitia lanjut usia yang memiliki pasangan hidup mengalami sebagian besar tingkat kesepiannya adalah tingkat kesepian rendah 24 orang (60%) dan pada lanjut

Qur’an materi tajwid mad ‘iwadh , mad layyin, mad ‘ aridh lis-sukun di kelas VIII MTs Nurul Ulum Purajaya Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2017/2018.