• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang perlu dan sangat penting untuk dipelajari, baik dalam pendidikan formal maupun nonformal.

Sifatnya yang menyeluruh dan mencangkup banyak aspek pengetahuan, membuat bahasa ini memiliki intensitas yang tinggi dan peran yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Bloomfield (Pamungkas, 2012: 4) juga menambahkan bahwa bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Ini berarti bahwa tanpa adanya bahasa kita tidak dapat berkomunikasi atau menyampaikan isi hati kepada orang lain. Bahasa dapat diwujudkan dalam ragam tulis dan ragam nontulis (Rohmadi, 2009: 3). Jadi, apapun yang diucapkan atau tertulis akan memiliki makna bagi pembaca atau pendengarnya.

Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik, serta merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.

Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya dan lingkungannya, mengemukakan ide yang ada dalam pikirannya, berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat, serta mengasah kemampuan imaginatif sehingga kemampuan intelektualnya dapat berkembang dengan lebih baik. Dengan demikian, siswa mampu menguasai, memahami dan dapat mengimplementasikan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Saddhono dan Slamet (2014: 5) mengatakan bahwa dalam penggunaan bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan dasar berbahasa yaitu: menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Keempat keterampilan tersebut saling terkait antara yang satu dengan yang lain. Dalam arti lain yang sepadan, bahasa tersebut harus memiliki bobot yang sama. Kemudian, pada kenyataanya sangatlah berbeda, banyak orang yang menganggap keterampilan menulis jauh lebih susah atau sulit

(2)

yang harus melibatkan kemampuan berbahasa yang lainnya.

Keterampilan menulis ialah salah satu keterampilan yang sangat baik guna melahirkan pemikiran-pemikiran yang cerdas dalam pembangunan masa depan.

Lewat tulisan kita dapat mengungkapkan segala yang ada dipikiran. Dengan demikian, tulisan ialah bentuk komunikasi secara tidak langsung. Hal ini sependapat dengan Dalman (2014: 3) yang menyatakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan (informasi) secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Ketika menulis, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi yang dialaminya.

Pemikiran yang dihasilkan melalui kegiatan menulis ialah sesuatu yang benar- benar dipikirkannya. Selain itu, menulis juga harus disertai wawasan yang luas dari penulisnya, terlebih untuk tulisan yang bersifat estetis atau menampilkan unsur keindahan. Tulisan-tulisan yang dihasilkan itulah yang nanti dapat menarik dan menghibur pembacanya.

Hasil dari proses kreatif menulis biasanya disebut dengan karangan atau tulisan (Dalman, 2014: 3). Karangan sendiri ialah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca (Gie, 1992: 17). Hal ini juga didukung oleh pendapat Jauhari (2013: 24) yang menyatakan bahwa menulis adalah pengungkapan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan seseorang yang diwujudkan dengan lambang-lambang fonem yang telah disepakati bersama.

Karangan dapat disajikan dalam lima bentuk atau ragam wacana: (1) narasi ialah mengisahkan suatu cerita atau kejadian; (2) deskripsi ialah menggambarkan sesuatu; (3) eksposisi ialah memaparkan informasi; (4) persuasi ialah ajakan untuk meyakinkan; dan (5) argumentasi ialah pendapat tentang sesuatu disertai bukti-bukti. Kenyataan masing-masing bentuk itu tidak selalu dapat berdiri sendiri. Misalnya, dalam sebuah karangan narasi mungkin saja terdapat bentuk deskripsi atau eksposisi. Dalam karangan eksposisi bisa saja terkandung bentuk deskripsi dan narasi. Dan begitulah seterusnya. Penamaan

(3)

3 ragam suatu karangan lebih didasarkan pada otak yang paling dominan pada karangan tersebut (Saddhono dan Slamet, 2014: 159).

Karangan deskripsi adalah karangan yang menggambarkan atau melukiskan benda atau peristiwa dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasakan, mencium dan mendengarnya. Karangan jenis ini bermaksud memberikan kesan kepada pembaca sehingga pembaca dapat membayangkan apa yang sedang terjadi (Jauhari, 2013: 45). Selain itu Saddhono dan Slamet (2014: 159) juga mengemukakan bahwa deskripsi (pemerian) adalah ragam wacana yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan kesan- kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya. Karangan deskripsi memiliki ciri yaitu memiliki struktur berpikir, pernyataan umum, dan uraian bagian-bagiannya. Setiap bagian menjelaskan uraian pokok atau bagian umum di awal paragraf (Mahsun, 2014: 28).

Kurikukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kelas XI semua jurusan menyebutkan bahwa pembelajaran menulis karangan deskripsi terdapat dalam silabus berupa Kompetensi Dasar 2.12 yaitu menulis wacana yang bercorak naratif, deskriptif, ekspositoris, dan argumentatif. Kompetensi ini mengharapkan siswa mampu menulis sebuah karangan dengan terlebih dahulu mengerti pengertian, tujuan, dan ciri-ciri karangan tersebut. Menulis karangan deskripsi juga harus memiliki kemampuan berbahasa yang baik seperti menggunakan pilihan kata yang tepat sehingga menciptakan daya khayal atau imajinasi bagi pembacanya.

Di SMK Batik 2 Surakarta, terutama kelas XI AP1 merupakan salah satu sekolah yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan mengajarkan pembelajaran menulis. Ketika pembelajaran membuat tulisan yang baik, siswa dilatih secara terpadu untuk melakukan praktik menulis. Keberhasilan pembelajaran menulis tidak hanya dari faktor kurikulum atau lembaga. Pengajar atau guru juga harus mampu membuat pembelajaran menjadi bermanfaat dan lebih menarik. Hal ini menuntut pengajar harus mampu berperan aktif dalam

(4)

pembelajaran. Mulai dari memberi materi, latihan soal, dan terakhir penugasan harus dilakukan secara berkesinambungan.

Guru harus memiliki aspek dan skala penilaian yang berguna dalam evalusi pembelajaran untuk mengetahui kemampuan siswa dalam praktik menulis.

Menulis karangan memerlukan aspek penilaian yang meliputi: (1) isi gagasan yang relevan dengan judul; (2) organisasi isi yang koheren dan kohesif; (3) penguasaan kalimat efektif; (4) kosakata meliputi pemilihan kata dan ungkapan yang tepat; dan (5) mekanik berisi tentang ejaan dan tanda baca. Dengan adanya aspek dan skala penilaian, di harapkan kualitas pembelajaran menjadi lebih baik.

Permendikbud (2014: 10) menerangkan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki peran antara lain untuk membantu peserta didik mengetahui capaian pembelajaran (learning outcomes). Hal ini juga ditambahkan oleh (Widoyoko, 2014: 1) yang menyatakan bahwa sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi peserta didik untuk belajar yang lebih baik.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI PADA SISWA KELAS XI AP1 SMK BATIK 2 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah gambaran kemampuan menulis karangan deskripsi dilihat dari aspek isi, organisasi, penguasaan kalimat efektif, kosakata, dan mekanik pada siswa kelas XI AP1 SMK Batik 2 Surakarta tahun pelajaran 2015/2016?

2. Bagaimanakah persentase hasil kemampuan menulis karangan deskripsi dilihat dari aspek isi, organisasi, penguasaan kalimat efektif, kosakata, dan mekanik pada siswa kelas XI AP1 SMK Batik 2 Surakarta tahun pelajaran 2015/2016?

(5)

5 3. Apakah kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis karangan deskripsi dilihat dari aspek isi, organisasi, penguasaan kalimat efektif, kosakata, dan mekanik pada siswa kelas XI AP1 SMK Batik 2 Surakarta tahun pelajaran 2015/2016?

4. Bagaimanakah cara mengatasi kesulitan siswa dalam menulis karangan deskripsi dilihat dari aspek isi, organisasi, penguasaan kalimat efektif, kosakata, dan mekanik pada siswa kelas XI AP1 SMK Batik 2 Surakarta tahun pelajaran 2015/2016?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah peneliti paparkan di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan kemampuan menulis karangan deskripsi dilihat dari aspek isi, organisasi, penguasaan kalimat efektif, kosakata, dan mekanik pada siswa kelas XI AP1 SMK Batik 2 Surakarta tahun pelajaran 2015/2016.

2. Mendeskripsikan persentase hasil kemampuan menulis karangan deskripsi dilihat dari aspek isi, organisasi, penguasaan kalimat efektif, kosa kata, dan mekanik pada siswa kelas XI AP1 SMK Batik 2 Surakarta tahun pelajaran 2015/2016.

3. Mendeskripsikan kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis karangan deskripsi dilihat dari aspek isi, organisasi, penguasaan kalimat efektif, kosa kata, dan mekanik pada siswa kelas XI AP1 SMK Batik 2 Surakarta tahun pelajaran 2015/2016.

4. Mendeskripsikan cara mengatasi kesulitan siswa dalam menulis karangan deskripsi dilihat dari aspek isi, organisasi, penguasaan kalimat efektif, kosakata, dan mekanik pada siswa kelas XI AP1 SMK Batik 2 Surakarta tahun pelajaran 2015/2016.

(6)

D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoretis

Untuk mengetahui kemampuan menulis karangan deskripsi siswa melalui aspek dan skala penilaian hasil pembelajaran.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru dan Calon Guru

Memberikan masukan kepada guru dan calon guru dalam menilai dan mengatasi kendala atau kesulitan dalam menulis karangan deskripsi siswa yang sesuai dengan indikator hasil pembelajaran.

b. Bagi Siswa

Memberikan pengetahuan bagaimana menulis yang baik terutama menulis karangan deskripsi serta meyakinkan siswa bahwa menulis itu mudah, yaitu melalui kegiatan latihan menulis terpadu.

c. Bagi Peneliti Lain

Menambah pengetahuan dan referensi tentang aspek dan skala penilaian kemampuan menulis karangan terutama karangan deskripsi.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, permasalahan yang sering dihadapi peserta didik yang menyebabkan kesulitan dalam belajar praktikum adalah dalam memahami petunjuk praktikum, mungkin dari desain,

Kesalahan yang banyak ditemukan dalam karangan narasi ekspositoris peserta didik adalah kesalahan pada penulisan huruf kapital, kata hubung, tanda baca, kalimat

Berkenaan dengan itu, ditemukan juga kesulitan dalam memahami kalimat majemuk bahasa Jepang jika dibentuk oleh klausa subordinatif yang menerangkan nomina (meishi

Dari beberapa fenomena yang peneliti jumpai tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kosakata dan pola kalimat yang dituturkan pada siswa di TK

Penggunaan verba berprefiks ber- pada cerpen karangan siswa, penulis menemukan sebuah fenomena bahwa 40 cerpen dari 52 cerpen karangan siswa menggunakan

Siswa biasanya dalam hal menulis teks eksplansi tidak berpedoman dengan struktur dan ejaan yang benar sehingga karangan atau hasil tulisan tidak sesuai dengan ketentuan

pemilhan kata atau diksi, dalam penggunaan tanda baca, pembentukan kata, penggunaan ejaan dan penguasaan kalimat efektif, sebagai salah satu faktor kebahasaan yang

Pengamatan lapangan dilakukan untuk mengetahui proses penguasaan dan pemilikan tanah timbul oleh penggarap di pesisir Laut Patimban, kendala yang dihadapi para penggarap dan solusi