1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penggunaan verba merupakan salah satu komponen penting untuk membentuk sebuah kalimat. Penggunaan verba pada kalimat dianggap sangat penting karena verba dapat dimungkinkan untuk menduduki fungsi predikat atau sebagai inti predikat dalam sebuah kalimat verba, contohnya yaitu Ibu memasak ikan. Pada kalimat tersebut kata ibu berkategori sebagai subyek, kemudian kata memasak merupakan verba yang berkategori sebagai predikat, dan kata ikan yang berkategori sebagai objek.
Verba terbagi atas dua bentuk yaitu verba dasar dan verba turunan. Verba dasar merupakan verba yang belum mendapatkan tambahan afiks contohnya makan. Kata makan termasuk verba dasar karena verba tersebut dapat berdiri sendiri dan memiliki makna bahkan tanpa diberi imbuhan afiks ataupun reduplikasi, sedangkan verbaturunan yaitu verba yang sudah mendapatkan tambahan afiks (Kridalaksana, 1994:51). Verba turunan yang sudah mendapat tambahan afiks menghasilkan verba berafiks, setelah verba berafiks mengalami proses prefiksasi akan menghasilkan verba berprefiks (Wedhawati,dkk., 2006:107). Contohnya kata berkuda. Kata berkuda merupakan verba berprefiks karena verba tersebut merupakan hasil pengimbuhan bentuk dasar dengan prefiks ber-.
2
golongan kata kerja (Putrayasa, 2010:17). Verba prefiks ber- banyak digunakan dalam karangan siswa. Peneliti menemukan sebuah fenomena ketika sedang melaksanakan PPL (5 Agustus - 4 November). Contohnya ada pada karangan siswa dengan nomor 25 yang bernama Naufal Gian S, salah satu siswa kelas 9H di SMP Negeri 2 Purwokerto. Pada cerpen karangannya yang berjudul Tiga bersaudara ditemukan 18 kata yang mengandung verba berprefiks ber-. Contohnya: bersaudara, belajar, bertanya, berkarate, berusaha, berlari, berlatih, bertanding, berenang, berjuang,
berpisah, bernama berencana, berbunga-bunga, bercanda, berkata, bertiga, dan berdua. Dari 18 kata yang mengandung verba berprefiks ber- tersebut terdiri dari 10
kata menggunakan bentuk dasar verba (kata kerja), enam kata menggunakan bentuk dasar nomina (kata benda), dan dua kata menggunakan bentuk dasar numerial (kata bilangan). Dengan demikian, dapat dibenarkan jika dalam karangan siswa banyak ditemukan penggunaan verba beprefiks ber-.
3
lainnya karena jika siswa salah dalam menafsirkan makna verba berprefiks ber- yang ada pada sebuah karangan, maka informasi atau pesan yang terdapat pada karangan atau wacana tidak dapat tersampaikan dengan baik.
Terkait dengan penggunaan verba berprefiks ber- dalam cerpen karya siswa, penulis menemukan fenomena menarik dalam karangan siswa dengan nomor urut 25 yang bernama Naufal Gian S. Contoh kalimat verba berprefiks ber- sebagai berikut :
(1) “Bima pun menjawab sambil bercanda”
(2) “Betul Ibu, tidak seperti Alan, hahaha. Becanda Lan”
Pada contoh di atas, kata bercanda dan becanda memiliki makna yang sama walaupun penulisannya berbeda. Penggunaan prefiks ber- yang benar ada pada kalimat pertama yaitu ber- + canda menghasilkan bentuk bercanda bukan becanda karena prefiks ber- yang bertemu dengan fonem /c/ tidak akan mengalami perrubahan apapun.
Penulis juga berhasil menemukan fenomena lainnya, yaitu ketika penulis sedang mengajar, tepatnya saat PPL (Program Pengalaman Lapangan) di SMP Negeri 2 Purwokerto kelas 7A dan 7B penulis mencoba memancing dan mengetes siswa dengan memberi pertanyaan yang berhubungan dengan penggunaan verba berprefiks ber- yang ada dalam sebuah cerpen yang diambil dari buku paket siswa. Ketika penulis bertanya mengenai apa perbedaan penggunaan afiks pada kata belati dan berlatih. Pada kata berlatih para siswa sepakat bahwa kata berlatih terbentuk dari ber-
4
terlihat mudah tetapi jika siswa tidak jeli dan teliti siswa kan mudah keliru untuk membedakan mana kata yang merupakan bentuk dasar dan mana yang merupakan verba berprefiks ber-. Kesalahan penafsiran yang terjadi pada siswa akan menjadi sebuah gangguan dalam proses pembelajaran.
Fenomena yang lain juga ditemukan oleh penulis terdapat pada cerpen kaya siswa bernomor urut 15 yang bernama Ilham Afie Fadhilah, salah satu siswa kelas 9H di SMP Negeri 2 Purwokerto. Fenomena yang ditemukan adalah sebagai berikut:
(1) “Fikri kini menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai karyawan”.
Kata bekerja pada kalimat di atas terbentuk dari: ber- + kerja (verba) = bekerja (verba)
Prefiks ber- pada kata bekerja berfungsi sebagai pembentuk kata kerja. Kata bekerja merupakan verba yang memiliki makna bahwa seseorang melakukan sebuah proses, pekerjaan, dan kegiatan.
5
kata. Maka dari itu, penulis menganalisis penggunaan verba berprefiks ber- yang digunakan dalam kalimat yang ada pada wacana cerpen karya siswa di SMP Negeri 2 Purwokerto.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Apa sajakah bentuk verba berprefiks ber- yang digunakan dalam kalimat-kalimat yang ada pada wacana cerpen karya siswa kelas 7 di SMP Negeri 2 Purwokerto? 2. Apa sajakah makna verba berprefiks ber- yang digunakan dalam kalimat-kalimat
yang ada pada wacana cerpen karya siswa kelas 7 di SMP Negeri 2 Purwokerto?
C. Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan bentuk verba berprefiks ber- yang digunakan dalam kalimat-kalimat yang ada pada wacana cerpen karya siswa kelas 7 di SMP Negeri 2 Purwokerto.
2. Mendeskripsikan makna verba berprefiks ber- yang digunakan dalam kalimat-kalimat yang ada pada wacana cerpen karya siswa kelas 7 di SMP Negeri 2 Purwokerto.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
6
melengkapi teori tentang makna prefiks ber- dalam bahasa Indonesia. Menambah pemahaman dan memperluas wawasan tentang bentuk dan makna prefiks ber- dalam bahasa Indonesia.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi pelajar dan mahasiswa hasil penelitian ini dapat dijadikan pengetahuan tambahan di bidang materi ilmu kebahasaan, khususnya pada materi verba berprefiks ber- yang ada pada cerpen.