• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pasal 1 poin ke 1 dan pada bab II pasal 2 poin ke 1, rupiah merupakan mata uang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pasal 1 poin ke 1 dan pada bab II pasal 2 poin ke 1, rupiah merupakan mata uang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rupiah Kertas sebagai Media Komunikasi

Berdasarkan undang-undang nomer 7 tahun 2011 tentang mata uang bab I pasal 1 poin ke 1 dan pada bab II pasal 2 poin ke 1, rupiah merupakan mata uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Didasarkan dari bahan bakunya, dijelaskan dalam bab II pasal 2 poin ke 2, rupiah dibagi menjadi 2 jenis yaitu; a.) Uang Logam b.) Uang Kertas (Sinungan, Muchdarsyah, 1987: 10).

Seperti mata uang negara lain pada umumnya, rupiah juga memiliki ciri khas sendiri. Salah satu tujuannya adalah digunakan sebagai penyampai identitas dari Negara Indonesia, seperti yang tertulis dalam bab I pasal 1 poin ke 5. Pada penjelasan undang-undang nomer 7 tahun 2011 poin (a) pada bagian penimbangan, menjelaskan bahwa fungsi dari mata uang rupiah adalah sebagai simbol dari kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari kedua jenis rupiah berdasarkan bahan bakunya, rupiah kertas merupakan yang paling banyak memuat simbol sebagai penunjuk dari identitas Negara Indonesia. Menurut undang-undang nomer 7 tahun 2011 bab III bagian kesatu tentang ciri rupiah pasal 5 poin kesatu, kemudian ditambahkan menurut penjelasan dalam booklet Panduan Uang Rupiah dan Booklet Kenali Rupiah Anda Emisi 2016 yang dikeluarkan oleh Bank Indoenesia, berikut beberapa ciri khas dari rupiah kertas yang berfungsi sebagai penyampai identitas dari Negara Indonesia:

1. Gambar Utama “Tokoh Pahlawan”

2. Gambar Belakang tentang keragaman budaya Indonesia

(2)

9

3. Gambar Lambang Negara “Garuda Pancasila”

4. Frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia

5. Teks “DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA MENGELUARKAN RUPIAH SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN YANG SAH DENGAN NILAI

Pada kajian komunikasi simbol, ikon, tulisan merupakan bentuk pesan dalam kategori sifat komunikasi non verbal atau komunikasi yang menggunkan bahasa non verbal atau non lisan . Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Bernard Barelson dan Gary A. Steiner memberikan penjelasan mengenai pengertian komunikasi, yang merupakan sebuah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, ketrampilan dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol atau kata-kata, gambar, figur grafik dan sebagainya (Mulyana Deddy, 2008: 68- 69). Sedangkan sebuah alat atau sarana yang digunakann sebagai saluran penyampai pesan untuk diterima kepada penerima pesan atau komunikan dinamakan dengan media komunikasi (Morrisan, 2013: 20). Menurut Aphra Behn seorang dramawan dalam buku sejarah uang karya Jack Weatherford yang sudah diterjemahkan oleh Noor Cholis (2005), menyatakan bahwasannya uang dapat berbicara dalam sebuah bahasa yang dimengerti semua bangsa. Sebuah kalimat bahasa yang dimengerti semua bangsa tersebut, memiliki arti bahwa uang merupakan sebuah benda yang dapat mengrimkan sebuah pesan yang terkandung sebuah makna yang dapat dipahami oleh setiap negara. Hal ini dapat memberi bukti bahwa uang memiliki fungsi salah satunya sebagai media komunikasi.

(3)

10

2.2 Penempatan Gambar Tokoh Rupiah Kertas

Arti penempatan menurut KBBI adalah menyangkut proses, cara, perbuatan menempati atau menempatkan sesuatu, jadi dapat dikatakan penempatan gambar tokoh pahlawan dapat diartikan sebagai sebuah tempat atau bagian yang ditempati oleh gambar tokoh pahlawan yang telah melalui berbagai proses penggambaran tokoh. Sebelum dicetak oleh Peruri, gambar tokoh yang menjadi gambar utama pada visual mata uang rupiah, dibentuk dengan melalui proses teknik ukir engraving. Menurut Pak Mujirun yang merupakan mantan engraver untuk mata uang rupiah, bahwa untuk menyelesaikan satu gambar tokoh membutuhkan waktu sampai 4 sampai 6 bulan (https://news.detik.com/tokoh/d- 3226511/kiprah-mujirun-sang-pengukir-gambar-uang-kertas-indonesia). Pelukis gambar tokoh untuk mata uang disebut delinavit atau engraver (http://harian.analisadaily.com/seni/news/dibalik-gambar-uang-kertas

indonesia/416568/2017/09/17). Berdasarkan jurnal penelitian yang dikarang oleh Herman seorang mahasiswa Pendidikan Seni Kriya, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakartamengenai “ENGRAVING MATA UANG KERTAS REPUBLIK INDONESIA MASA PASCA KEMERDEKAAN TAHUN 1945-1965”, engraving adalah teknik pencukilan pada plat logam. Engraving dapat menghasilkan serangkaian nialai warna yang lengkap tergantung dengan jarak dan kedalamannya. Penggunaan teknik enggraving untuk menggambar tokoh yang akan dituangkan dala visual rupiah tersebut, juga difungsikan sebagai tanda pengaman rupiah kertas.

(4)

11

Penempatan gambar tokoh pahlawan dalam visual rupiah merupakan salah satu bentuk bukti, tanda bahwa rupiah memiliki peran sebagai media komunikasi untuk menyampaikan sejarah tokoh yang memiliki jasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia. Seperti yang dijelaskan oleh Mary Smith yang merupakan seorang jurnalis Amerika, bahwa gambar orang dapat menunjukkan sebuah cerita, dan menambahkan penjelasan dari Jacob Lew yang merupakan sekertaris perbendaharaan Amerika serikat periode tahun 2013-2017 menyatakan bahwa, mata uang kita merupakan cara sebuah negara memberikan pernyataan mengenai siapa identitas mereka dan tentang hal-hal yang pernah mereka perjuangkan (https://tirto.id/gambar-pada-uang-bukan-urusan-sepele-bKtD). Hal tersebut yang menjadikan penempatan gambar seorang tokoh dalam visual uang sangat penting, dan menjadi keputusan untuk mata uang rupiah untuk menjadikan gambar tokoh pahlawan sebagai gambar utama dalam visual depan uang rupiah kertas dalam UU keputusan presiden no. 31 tahun 2016 bab III pasal 7 ayat 1.

Berdasarkan artikel yang dipublikasikan dalam situs resmi Bank Indonesia menjelaskan bahwa penempatan gambar pahlawan, merupakan sebuah bentuk tanda penghargaan terhadap jasa tokoh-tokoh yang gambar dirinya dituangkan dalam visual rupiah, sehingga dari gambar tersebut diharapkan dapat menampilkan nilai kepatriotisme yang dapat dicontoh oleh generasi muda Indonesia berikutnya (https://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran- pers/Pages/sp_1810416.aspx). Pada artikelnya yang lainnya Biro Humas Bank Indonesia juga menjelaskan bahwa, fungsi lain dari penempatan gambar tokoh dalam visual rupiah kertas, adalah sebagai pesan pengenalan tokoh Indonesia baik

(5)

12

untuk Masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional (http://www.bi.go.id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp%20710805.aspx).

Gambar tokoh pahlawan ini dalam visual rupiah sebelum tahun emisi 2016, memang lebih sering ditempatkan pada jenis rupiah uang kertas. Setiap emisi atau pengeluaran rupiah kertas terbaru, akan disertai pula perubahan penuangan gambar tokoh yang berbeda dari emisi tahun rupiah kertas sebelumnya. Perubahan penempatan gambar tokoh tersebut hanya berlaku untuk visual pecahan nominal seribu hingga lima puluh ribu rupiah kertas saja, kecuali untuk visual seratus ribu rupiah kertas yang ditetapkan sebagai pecahan nominal rupiah kertas yang hanya bisa ditempati oleh gambar tokoh Ir.Soekarno dan Drs.

Moh Hatta. Hal tersebut ditujukan sebagai tanda pengormatan kepada kedua tokoh tersebut selaku bapak proklamator Indonesia, seperti yang dijelaskan pada peraturan Keputusan Presiden Republik Indonesia nomer 22 tahun 2014 tentang penempatan gambar tokoh pahlawan nasional DR. (H.C.) IR. SOEKARNO DAN DR. (H.C.) DRS. MOHAMMAD HATTA dalam rupiah kertas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.3 Gambar Tokoh sebagai Pesan Citra Ikon

Menurut buku seni budaya gambar merupakan proses perekaman objek pada bidang dua dimensi melalui media dengan kriteria antara lain: ketepatan atau kemiripan bentuk dan warna, dengam memperhatikan perspektif, proporsi, komposisi, gelap terang, serta bayang-bayang obyek yang digambarkan (Tim Abdi Guru; 2006). Pada kajian komunikasi menurut Pierce suatu tanda yang mewakilkan objek atau yang memiliki kemiripan rupa (resemblance) atau keserupaan dengan objek yang sebenarnya disebut ikon. Ikon berasal dari bahasa

(6)

13

yunani yang berarti citra atau potret. Segi kemiripan ini diambil dari kemiripan karakteristik objek atau kualitas dari objek. Bentuk ikon dibuat didasarkan pada kemiripan yang telah diketahui secara umumnya atau telah membudaya, oleh karena itu ikon juga disebut dengan produk kultural. Pemahaman mengenai gambar sebagai ikon ini juga diyakini oleh Charles Morris, yang ia meyakini gambar tersusun dari tanda –tanda ikon (Budiman: 2011). Unsur visual torehan warna, garis, dan lainnya yang berpadu satu di dalam gambar, yang membuat bentuk gugusan ikonik membentuk suatu objek yang dikenali. Tanda ikon sebelum peirce menggunakan istilah ini untuk mengacu pada jenis tanda yang spesifik, ikon digunakan dalam seni untuk mengacu pada imaji tokoh atau peristiwa religious. Ikon dipercaya bersifat sacral dalam dirinya dan karenanya dapat menuntun umat untuk mengadakan kontak dengan sosok yang diwakilinya (Danesi; 2012: 34). Ikon memang dibentuk berdasarkan pada ciri objek yang aslinya yang dikenal secara umum, namun tetap untuk penilaian ikon yang dibentuk tergantung pada penilaian interpreter (manusia) berdasarkan bentuk kode atau tanda tertentu.

Bentuk pesan komunikasi yang terdapat dalam jenis tanda ikon disebut dengan citra. Seperti pada hakekat tanda pada kajian semiotika dalam kajian komunikasi, di dalam citra tanda ikon memiliki penanda visual atau wujud minimal representasi visual melalui titik, garis, dan bentuk yang dapat dikombinasikan dalam bermacam cara untuk mempresentasikan wajah manusia (Danesi; 2012:

87). Penanda tersebut yang merupakan sebagai konotatornya dan petanda yang bersifat konotasi dan disebut sebagai ideologi dari konotatornya. Bentuk konotasi

(7)

14

pada citra ini menurut Barthes sendiri diwujudkan dengan memggunakan unsur fotografi, yaitu meliputi (Budiman;2011: 43-44):

a. Trick effect, missal dengan memadukan dua gambar sekaligus secara artisial

b. Pose, semisal dengan mengatur arah pandangan mata atau gesture pada gambaran objek

c. Objek, semisal dengan menyeleksi dan menata objek tertentu yang dapat menggambarkan sesuatu. Misal memilih objek buku sebagai makna intelektualitas

d. Fotogenia, semisal dengan mengatur manipulasi pencahayaan, atau manipulasi teknik cetak

e. Estestisme, semisal dengan menerapkan dengan teknik posterisasi yaitu membuat foto seolah seperti lukisan

Pesan ikon yang terbentuk dalam citra tersebut biasa dibantu dengan struktur teks lain, yang biasa disertakan dalam gambar berupa bentuk caption atau judul atau balon kata-kata. Perpaduan antara gambar dan struktur teks lain bertujuan sebagai (Budiman; 2011: 45-46) :

1. Fungsi Penambat, dimaksudkan teks dalam gambar difungsikan untuk mengarahkan interpretasi atau mengarahkan pembaca atau penikmat seni untuk memberikan makna

2. Fungsi Pemancar, dimaksudkan bahwa teks untuk melengkapi gambar agar terbentuk sebuah plot cerita

(8)

15 2.4 Dekoding

Dekoding merupakan kegiatan atau proses untuk menerjemahkan atau menginterpretasikan pesan-pesan ke dalam suatu bentuk yang memiliki arti bagi penerima (Morissa,2013: 21). Proses dekoding ini merupakah sebuah langkah sebelum proses penerimaan pesan oleh komunikan atau audience itu terjadi.

Dekoding dalam proses komunikasi juga dapat dikatakan sebagai kemampuan khalayak untuk menerima pesan dan membandingkan pesan tersebut dengan makna yang sebelumnya telah disimpan di dalam ingatan mereka (Morissa,2013:

548). Pada tahapan proses decoding individu berusaha memberikan arti atau makna dengan mengkategorisasikan atau mengkontruksi pesan yang mereka terima, sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan mereka dalam mengkontruksi makna sebelumnya dalam ruang lingkup sosial dan budaya mereka masing- masing. Hal ini yang menjadi jawaban dari adanya perbedaan penangkapan makna yang berbeda oleh tiap individu atau khalayak, ketika sebuah pesan dikirimkan kepada oleh komunikator.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian terkait pemaknaan Komunitas Ngalam Numismatik tentang penempatan gambar tokoh pahlawan rupiah kertas ini merupakan penelitian baru, yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Adapun penelitian terdahulu yang peneliti bisa temukan kesamaannya dengan penenlitian peneliti adalah terkait pemaknaan, namun perbedaanya terletak pada objek penelitian, teori dan dasar penelitian.

(9)

16

Tabel 1. Acuan Penelitian Terdahulu

Nama peneliti, Judul dan Tahun penelitian

Posisi Penelitian

No Penelitian Terdahulu Penelitian Peneliti

1 Fajar Setiawan, Penerimaan Fans terkait Perubahan Logo Club Milan (Studi resepsi pada milanisti Indonesia sezione Malang), 2016.

Menjelaskan terkait pemaknaan dalam posisi penerimaan fans milan atau milanisti Indoensia sezione Malang terhadap perubahan logo sebagai

simbol untuk

memperbarui

rebranding tim sepak bola Milan

Mengetahui dan menjelaskan terkait pemaknaan dalam posisi penerimaan masyarakat yang tergabung dalam dunia numismatik tentang penempatan

gambar tokoh

pahlawan dalam rupiah kertas emisi 2016.

(10)

17 2 Ria Avriyanti, Analisis

Penonton Di Youtube Terhadap Konstruksi Gender Dalam Video Musik If I Were a Boy Karya Beyonce Knowles, 2012

Mendeskripsikan kode- kode permasalahan gender yang dapat dilihat dalam video If I were a Boy dan mengetahui pemaknaan komentar penonton di Youtube terhadap kontruksi gender yang diciptakan dalam video musik ini

Mengetahui dan menjelaskan terkait pemaknaan dalam posisi penerimaan masyarakat yang tergabung dalam dunia numismatik tentang penempatan

gambar tokoh

pahlawan dalam rupiah kertas emisi 2016.

2.6 Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini diarahkan pada pemaknaan anggota komunitas ngalam numismatik terkait penempatan ketujuh gambar tokoh pahlawan dalam rupiah kertas tahun emisi 2016. Ketujuh gambar tokoh pahlawan tersebut yang mendapat pemaknaan dari tiap anggota Ngalam Numismatik, terletak pada rupiah kertas mulai dari pecahan nominal 1000, 2000, 5000, 10000, 20000, 50000, dan 100000, terkait meliputi ekspresi gambar pahlawan, atribut yang tertuang, gradasi warna yang disertakan di dalamnya, hingga arti posisi penempatan gambar tokoh pahlawan tersebut. Masing-masing pemaknaan anggota Ngalam Numismatik tersebut kemudian dikaitkan dengan pengalaman mereka, yang memiliki pengaruh

(11)

18

terhadap pemaknaan mereka terkait penempatan gambar tokoh dalam rupiah kertas tahun emisi 2016.

2.7 Asumsi Dasar Penelitian

Adanya perbedaan pemaknaan dari anggota Komunitas Ngalam Numismatik terkait posisi pemaknaan mereka terhadap penempatan gambar tokoh pahlawan dalam rupiah kertas emisi tahun 2016, dikarenakan perbedaan latar pengalaman, pengetahuan.

Referensi

Dokumen terkait

Potensi unggulan lainnya adalah perikanan, dengan produk perikanan yang dihasilkan berupa ikan segar hasil penangkapan, budi daya sebagai bahan makanan untuk

Mengenai status hukumnya dalam Islam, menurutnya jika dilihat dari sisi utang piutang maka seharusnya tidak boleh, karena dengan cara pembayarannya yang berupa gabah itu

segar dan kering tajuk yang berbeda nyata terhadap naungan 0% dan 50% (Tabel 2). Intensitas cahaya yang dibutuhkan tumbuhan cukup beragam, ada tanaman yang

Putusan lepas dari segala tuntutan hukum adalah putusan yang dijatuhkan terhadap terdakwa dimana hakim berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti,

Agama Yahudi adalah salah satu agama yang sudah ada di Arab sebelum datangnya Islam.. Ajaran agama Yahudi

nadi kuat distres pernafasan TD stabil tek nadi <20 mmHg diuresis cukup Tanda vital memburuk diuresis krg/tdk ada. TATALAKSANA DBD DERAJAT I ATAU

Hasil yang diperoleh dari keseluruhan sampel uji dari kulit kayu alaban (Vitex pubescens Vahl) dengan pengujian senyawa aktif yang bereda yaitu flavanoid, tanin,

Terbuat dari bahan Microfiber yang dapat mengangkat minyak dan debu tanpa cairan pembersih, Tidak meninggalkan serat kain dan mudah dicuci... Lap Alat Makan Microfiber