1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehadiran New Media sangat erat kaitannya dengan berkembangnya teknologi internet. Media baru atau yang lebih sering kita kenal sebagai New Media tumbuh dengan sangat pesatnya. Berkembangnya dunia komunikasi massa juga didasari oleh perkembangan internet yang banyak menimbulkan perubahan. Cara pandang masyarakat dalam mendapatkan informasi melalui media konvensional telah banyak berubah akibat datangnya media baru. Selain itu, media baru bersifat real time dimana terdapat kemudahan akses di dalamnya. Selain itu, dengan
adanya perkembangan teknologi internet ini menyebabkan menjamurnya media online yang ada di Indonesia. Asosisasi Media Siber Indonesia atau yang biasa dikenal sebagai AMSI menyebut bahwa saat ini terdapat kurang lebih 47 ribu media siber yang ada di Indonesia. Namun, dari jumlah tersebut setidaknya hanya ada 2 sampai 3 ribuan yan telah terverifikasi oleh Dewan Pers (Redaksi, 2019). Selain dengan berkembangnya teknologi internet yang menyebabkan munculnya media baru, hal ini juga mengakibatkan bertambahnya jumlah pengguna internet yang ada di Indonesia. APJII atau yang lebih kita kenal sebagai Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia dalam situs databoks pada November 2020 tercatat bahwa sebanyak 196,7 juta jumlah pengguna internet yang ada di Indonesia (Bayu, 2020).
Secara garis besar, dunia dapat disatukan melalui sebuah internet dimana dunia seakan tidak memiliki batas lagi. Perumpamaannya adalah apabila dahulu sebuah pemberitaan memakan waktu hampir berminggu minggu untuk masuk
2 kedalam sebuah surat kabar atau koran, dengan datangnya internet maka sebuah pemberitaan dapat ter-update secara sangat cepat tanpa menunggu waktu yang lama. Setiap jenis lapisan masyarakat dapat memanfaatkan internet sebagai bentuk dari new media untuk kepentingan apapun. Seperti yang kita tahu, internet juga turut berperan dalam bidang politik. Owen beranggapan bahwa internet merupakan cikal bakal dimulainya era new media. (Situmorang, 2012). Berbicara mengenai bidang politik, tentu saja bidang ini sangat membutuhkan sebuah publisitas sehingga kegiatan promosi dari seorang tokoh politik ataupun partai politik banyak menggunakan media internet. Tak hanya sampai di sini, segala kebijakan serta peristiwa perpolitikan yang ada di negara ini secara nyata telah termuat dalam media online yang ada di Indonesia. Pemanfaatan media yang potensial dalam meningkatkan popularitas seorang tokoh maupun partai politik, secara serta merta akan dimanfaatkan oleh tokoh atau partai politik tersebut. Penggunaan media oleh tokoh politik dan partai politik dikenal dengan istilah Komunikasi Politik.
Penggunaan media oleh seorang pemerintah dan partai politik dalam mendapat dukungan atau disebut juga kampanye dalam hal pemilihan umum termasuk dalam cakupan komunikasi politik (Situmorang, 2012). Sederhananya, pelibatan pesan- pesan dalam hal komunikasi politik serta actor politik, yang bahkan berkaitan dengan kekuasaan pemerintahan dan kebijakan pemerintah dikenal juga sebagai komunikasi politik. Singkatnya, komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”.
Salah satu contoh kecil dalam kehidupan sehari – hari yang sering kita jumpai di mana fenomena mengenai kenaikan harga BBM, yang menyebabkan berbagai pendapat dan analisis dari orang awam ataupun masyarakat mengenai
3 kenaikan harga BBM. Hal tersebut termasuk dalam contoh kecil bentuk Komunikasi Politik dimana sikap pemerintah untuk menaikan harga BBM telah melalui proses komunikasi politik dengan mendapatkan persetujuan DPR (Halawa, 2013).
Pada penelitian kali ini, peneliti tidak akan membahas mengenai kenaikan harga BBM seperti pemaparan di atas, hal tersebut merupakan contoh kecil dari bentuk komunikasi politik yang ada di negara ini. Fenomena yang akan menjadi pembahasan pada penelitian kali ini adalah kasus “Omnibus Law”. Masih ingatkah dengan istilah tersebut ?. Jika kita telaah bersama, pada tanggal 20 Oktober 2019 saat pelantikan Presiden Joko Widodo, istilah Omnibus Law muncul untuk pertama kalinya. Secara pengertiannya, Omnibus Law merupakan konsep pembentukan dan penggabungan undang undang utama dalam mengatur masalah dimana yang sebelumnya diatur dalam sejumlah UU yang kemudian sekaligus direvisi menjadi satu UU. Perampingan regulasi Undang Undang ini dari segi jumlah dimaksudkan agar lebih tepat sasaran, yang kemudian pada bulan Januari tahun 2020 terdapat dua Omnibus Law yang akan diajukan pemerintah yakni : “ Omnibus Law tentang Cipta Lapangan Kerja dan Omnibus Law tentang Perpajakan” (Rizal, 2020).
Selain itu, dilansir dari situs yang sama, dapat dilihat dari trending topic di aplikasi jejaring social Twitter bahwa aksi penolakan terhadap Omnibus Law Cipta Kerja masih terus berlangsung. Salah satu pemberitaan pada situs Jakpusnews.com juga mengungkapkan bahwa “ Trending Tagar TolakOmnibusLaw di Twitter tidak pengaruhi RUU Ciptaker di sahkan”, yang pada akhirnya pada Senin 5 Oktober 2020 dilakukan pengesahan Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi Undang- Undang oleh DPR. Jagat dunia maya jejaring sosial Twitter juga turut serta
4 melakukan aksi penolakan Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi Undang – undang. Bahkan hashtag #TolakOmnibusLaw, #MosiTidakPercaya,
#TolakRUUCiptaKerja, #GagalkanOmnibusLaw, #JegalSampaiGagal menjadi trending topic di Twitter. Berdasarkan tangkapan layar atau screenshoot jejaring social Twitter oleh Jakpusnew.com terpantau jumlah cuitan dalam aplikasi tersebut mencapai 1 M Tweets pada masing masing hashtag dan diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah (Purbaya, 2020).
Tak hanya ramai di media social, pada Selasa ( 10/11 ) aksi demonstrasi di seberang Istana Negara juga dilakukan oleh Gebrak atau yang kita kenal sebagai Gerakan Buruh Bersama Rakyat yang juga tergabung dalam massa buruh , beserta para petani, dan aliansi mahasiswa bersatu hingga elemen masyarakat dari kalangan pemuda dan perempuan pejuang (Indonesia C. , 2020). Selain itu di berbagai penjuru daerah yang ada di Indonesia, Aliansi Mahasiswa juga bergerak dan turut serta melakukan aksi demo di masing masing wilayah. Buntut dari aksi masa penolakan Omnibus Law RUU Cipta Kerja ini tak lain adalah kerusuhan yang terjadi di masing – masing wilayah dan berujung terjadinya bentrok antara demonstran dengan aparat yang mengamankan aksi demonstrasi. Katadata juga menghimpun mengapa hal ini dianggap merugikan buruh dan memaparkan setidaknya ada 9 Alasan dimana organisasi buruh menolak Omnibus Law Cipta Kerja dimana yang salah satunya paling disoroti adalah Ketentuan upah minimum di kabupaten/kota yang telah hilang. Berdasarkan RUU Cipta Kerja ( sebelumnya Cipta Lapangan Kerja ) yang diterima Katadata.co.id pasal 88C ayat (2) hanya mengatur Upah Minimum Provinsi ( UMP ). Sedangkan, Peraturan Pemerintah ( PP ) Nomor 78 Tahun 2015, penetapan upah dilakukan di provinsi serta
5 Kabupaten/Kota, di dalam Omnibus Law memang masih ada Upah Minimum melalui UMP. Tapi itu tidak dibutuhkan oleh buruh kecuali di DKI Jakarta, Yogyakarta, “ujar Iqbal (Ramadhan, 2020). Selain itu, suarasumsel.id dalam pemberitaannya juga menyebutkan bahwa, anggapan dari serikat buruh bahwa terdapat pasal RUU Cipta Kerja yang merugikan pekerja. Isi Omnibus Law Cipta Kerja dianggap merugikan karena menghapus ketentuan upah minimum kabupaten/kota dan juga dapat menurunkan nilai pesangon ketika mengalami Pemutusan Hubungan Kerja ( PHK ) (Tasmalinda, 2020).
Selain ramai diperbincangkan di jejaring media social dan aksi demonstrasi terkait penolakan Omnibus Law Cipta Kerja, hal ini juga turut membuat portal berita online menyajikan sejumlah pemberitaan terkait aksi tersebut. Tentu saja setiap masing – masing portal berita online memiliki ciri khas dan gaya penyampaian berita sesuai dengan ciri khas tempat media tersebut bernaung. Sebut saja salah satu Portal Media Online yang bernama “Opini.id”, salah satu dari sekian media yang mendeklarasikan dirinya sebagai “Media Perspektif yang Kritis, Kreatif, Tajam dan Berani dalam mengangkat hal social, politik dan budaya. Pada situs Opini.id terdapat salah satu dari sekian program yang bernama Mr.Kece ( Ketahuan Cerdasnya ) dulunya merupakan Mr.Ngehek ( 2018 ). Selain itu dalam kontennya, Mr. Kece kerap kali membahas hal – hal terkait politik dan pemerintahan di Indonesia. Konten ini juga dapat diakses melalui situs Opini.id dan kanal Youtube Opini.id. Dalam video perkenalannya yang diunggah pada 14 September 2018 silam pada situs Opini.id dan kanal Youtube Opini.Id , Mr. Kece mengatakan “ Intinya gue ini adalah jeritan hati kalian semua. Yang gedeg sama kelakuan pejabat yang konyol!”. Sejak di upload nya video ini pada kanal Youtube
6 tersebut, video ini telah mendapatkan 152.184 views, likes sebanyak 5.900, dan dislike sejumlah 101.
Program Mr. Kece pada situs Opini.id ini dibawakan dengan humor kritis yang tajam dan terdapat sebuah gaya bahasa di dalamnya berupa sindiran atau yang lebih kita kenal sebagai “Satire”. Penulis berpendapat bahwa konten konten kritik kebijakan yang dikemas dalam humor dimana di dalamnya terdapat sindiran sindiran sangat disukai oleh masyarakat. Oxford Dictionary juga mengatakan bahwa satire memiliki tujuan sebagai fungsi kritik serta mengekspos kesalahan seseorang ( Berger, 1997) (Wadipalapa, 2015).
Seperti yang kita tahu selama ini pemerintah sangat memegang kendali terhadap segala macam pemberitaan, bahkan tak segan untuk memiliki media media yang ada di Indonesia, kita mengenalnya dengan istilah Konglomerasi Media. Hal ini menyebabkan sterotip yang berkembang di kalangan masyarakat Indonesia, di mana media dianggap tidak fair dalam melakukan pemberitaan. Masyarakat menyadari bahwa pemberitaan terkait pemerintah atau kalangan atas cenderung lebih sedikit daripada kalangan bawah.
Dalam video perkenalannya, Mr. Kece juga berpesan bahwa kritik yang diberikan berdasarkan fakta dan data yang ada di lapangan dan bukan berlandaskan kebencian. Secara garis besar, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian program Mr. Kece pada situs Opini.id dalam tema kasus “Omnibus Law”. Terdapat 3 video yang dibawakan oleh Mr. Kece sejak tanggal 8 – 22 Oktober 2020 dimana setidaknya memiliki total kurang lebih 380.796 views, 16.200 likes dan 420 dislike.
Peneliti menyimpulkan bahwa setidaknya penonton atau masyarakat yang melihat
7 video tersebut banyak menyukainya dikarenakan hal tersebut mengandung unsur komedi maupun sindiran terhadap pemerintah. Selain karena kontennya berbentuk video, figuran Mr. Kece disini hanyalah bentuk visual pendukung dimana kritik satire yang dilakukan cenderung ke arah verbal. Sehingga pada video yang didapati di atas, peneliti ingin meneliti pesan sindiran namun lebih fokus kepada ucapan atau verbal yang diungkapkan yang kemudian dijadikan menjadi sebuah skrip.
Dalam jurnal International Conference on Communication, Media, technology and Design juga disebutkan bahwa pesan sindiran dalam konten media
cenderung menjadi cara yang efektif, jujur dan terbuka bagi warga negara untuk mengekspresikan kritikus mereka. Hal ini biasanya terdapat di New Media, karena memiliki ruang virtual untuk membagikan pesan sindiran terhadap orang penguasa (Rahmiati, 2012). Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti ingin mengkaji bagaimana dominasi pesan satire politik yang muncul pada program Mr. Kece dalam situs Opini.id dengan tema kasus Omnibus Law, sehingga didapatilah judul penelitian “ Political Satire Criticism dalam Kasus Omnibus Law pada Situs Opini.id ( Analisis isi pada Program Mr. Kece edisi 8 – 22 Oktober 2020 )”.
1.2 Rumusan Masalah
Setelah peneliti melakukan pemaparan terkait latar belakang penelitian, kemudian didapati rumusan masalah sebagai berikut; “Seberapa banyak dominasi pesan satire politik pada program Mr. Kece dalam situs Opini.id terkait kasus Omnibus Law ?”.
8 1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin didapati adalah, untuk mengetahui seberapa banyak dominasi pesan satire politik yang muncul pada program Mr. Kece dalam situs Opini.id dengan tema kasus Omnibus Law.
1.4 Manfaat Penelitian
Peneliti berharap dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun secara praktis terhadap penelitiannya, yang kemudian dijabarkan sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Memberikan manfaat pengetahuan mengenai konsep-konsep satire politik serta menambah wawasan dan pengetahuan mengenai konsep pesan satire politik. Selain itu, dalam penelitian ini hasilnya juga dapat dijadikan sebagai wawasan penelitian dominasi pesan satire politik yang muncul pada program Mr. Kece dalam situs Opini.id dengan tema kasus Omnibus Law.
Selain itu dapat memberikan informasi dan sumbangsih pemikiran maupun pengetahuan dalam bidang Ilmu Komunikasi.
2. Manfaat Praktis
Manfaat secara praktis diharapkan, nantinya penelitian ini dapat membuahkan hasil serta dapat memberikan inspirasi dan menjadi referensi bagi pembaca dan penulis. Serta tak lupa penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pemakai bahasa ditinjau dari pesan satire politik yang muncul pada program Mr. Kece dalam situs Opini.id dengan tema kasus Omnibus Law.