• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI PEMANASAN AIR DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI PANAS DARI GAS BUANG MOTOR DIESEL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "POTENSI PEMANASAN AIR DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI PANAS DARI GAS BUANG MOTOR DIESEL"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Halaman 229 dari 352 POTENSI PEMANASAN AIR DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI

PANAS DARI GAS BUANG MOTOR DIESEL

Harman 1, Mukhlis A. Hamarung2 Akademi Teknik Soroako1,2 [email protected]2

Pada setiap mesin termal, pendistribusian energi pada umumnya terdiri dari 4 bagian. Dari 100 persen energi yang dihasilkan oleh pembakaran, hanya 20 persen yang dipakai untuk menghasilkan daya poros, sedangkan sisanya sebagai losses. Diantara yang hilang, 30 persen keluar bersama dengan gas pembuangan. Temperatur gas buang mesin diesel untuk jenis Ranger 2 cylinder, dapat mencapai 300oC bahkan lebih tergantung beban mesin. Panas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber panas untuk memanaskan air. Cara yang dapat dilakukan adalah mengalirkan air kedalam pipa yang berbentuk lilitan dan meletakkannya di dalam saluran gas buang yang bertemperatur tinggi untuk menaikkan entalpy air tersebut. Dengan desain yang sederhana alat dapat berfungsi sebagai heater namun lebih ekonomis karena tidak lagi menggunakan energi listrik tetapi memanfaatkan panas gas buang dari mesin yang beroperasi. Energi yang dibawa oleh gas buang hasil pembakaran Motor Diesel pada Mesin Las type Ranger 8 setara dengan pemanas air berkekuatan 3.9 kW.

Kata Kunci : Motor Diesel, Energi, Temperature Gas Buang

1. Pendahuluan

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah air bersih. Dengan meningkatnya peradaban manusia, kebutuhan air bersih terus meningkat pula. Pada awalnya manusia hanya butuh 5 liter air perhari untuk kebutuhan makan minum saja, namun seiring dengan pertambahan waktu serta peradaban, kemudian kebutuhan meningkat untuk cuci piring dan gelas, cuci pakaian serta mandi bahkan untuk membersihkan barang-barang lainnya. Sehingga secara umum, kebutuhan air perkapita adalah 120-150 liter dalam 24 jam (BSN, 2005)

Secara prinsip, jika kebutuhan air meningkat sedangkan persediaan air terbatas, maka perlu pemikiran untuk mengefisienkan serta mengefektifkan penggunaan air. Sebagai contoh, sejumlah air hangat lebih efektif untuk melarutkan lemak dan sabun jika dibandingkan dengan air dingin. Jadi untuk mencuci piring yang berlemak, maka dengan sejumlah air hangat saja sudah mampu membersihkan piring tersebut dengan baik dibandingkan jika harus menggunakan air dingin. Juga untuk kenyamanan atau demi kesehatan, air hangat dibutuhkan untuk mandi (Rahardjo, 1999). Bahkan Indonesia menentukan standar minimum pemakaian air sesuai penggunaan gedung seperti tabel berikut;

(2)

Halaman 230 dari 352

Tabel 1. Pemakaian air panas minimum (BSN, 2005) No Penggunaan Gedung Pemakaian

air (L/org/hr)

1 Rumah tinggal 50

2 Rumah susun 50

3 Hotel 110

4 Rumah sakit 130

5 6 7

Kantor Pabrik Restoran

20 20 10

Gas buang yang dihasilkan mesin diesel masih memiliki kandungan potensi energi termal yang cukup besar, yaitu sekitar 30 % dari kalor hasil pembakaran dengan suhu berkisar 300oC – 700oC tergantung pemakaian beban mesin (Zainuddin, dkk., 2013; Teguh Kristanto, dkk., 2014).

Gambar 1. Distribusi hasil pembakaran mesin diesel

Keuntungan pemanfaatan gas buang sebagai pemanas air adalah dapat memperkecil biaya proses pemanasan dan juga dapat menurunkan temperature gas buang sebelum dilepas ke udara atmosfir sehingga memperkecil pencemaran thermal udara lingkungan (Zainuddin, dkk., 2013). Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain alat penukar kalor yang dapat digunakan untuk memanaskan air yang pemanasannya bersumber dari energy gas buang mesin Diesel Ranger. Dengan harapan kebutuhan akan air panas bagi manusia khususnya yang bekerja di area terbuka dapat terpenuhi.

Pemanfaatan energi gas buang telah banyak dlakukan oleh para peneliti, diantaranya;

Rahardjo Tirtoatmojo, melakukan penelitian tentang pemanfaatan energi gas buang motor diesel stationer untuk pemanas air. Dengan menggunakan pipa tembaga berukuan 3/8 inci yang dililit seperti lawat nyamuk, diperoleh hasil pemanasan dengan

(3)

Halaman 231 dari 352 temperature air keluar maksimal 97oC. Namun tidak diketahui berapa waktu yang diperlukan untuk melakukan pemanasan dalam satuan volume tertentu (Rahardjo, 1999).

Muardi, dkk., Melakukan penelitian tentang pemanfaatan panas gas buang mesin diesel untuk pengeringan ikan. Kajian dilakukan dengan mendesain heat exchanger sebagai laluan gas buang mesin yang ditempatkan pada ruang pengeringan kemudian dianalisis melalui variasi beban pengguanaan mesin. Hasil yang diperoleh bahwa, Kadar air ikan semakin menurun seiring dengan peningkatan beban yang secara otomatis meningkatkan rpm mesin. Namun juga tidak ditemukan informasi tentang berapa waktu yang diperlukan untuk menurunkan kadar air ikan untuk mencapai kadar air yang disyaratkan (Muardi, dkk., 2013)

Kajian Pustaka

Tabel 2. Standar temperature air panas sesuai jenis pemakaiannya (BSN, 2005)

No Jenis Pemakaian Temperatur

(oC)

1 Minum Bak 50 - 55

2 Mandi: Dewasa Anak

42 - 45 40 - 42

3 Pancuran Mandi 40 - 43

4 Cuci muka dan cuci tangan 40 - 42 5 Dapur: Macam-macam keperluan

Proses Pencucian Proses Pembilasan

45 45 - 60 70 - 80

Gas buang yang mengalir secara turbulen didalam saluran buang memindahkan energi panasnya ke dinding heat exchanger terutama secara konveksi, radiasi dan konduksi. Dinding luar heat exchanger yang menerima panas ini meneruskan panas ini ke dinding dalam secara konduksi. Dari dinding dalam heat exchanger ini kalor diteruskan ke air dengan ketiga cara yaitu konduksi, konveksi dan radiasi (Rahardjo, 1999). Sedangkan Proses perpindahan panas yang terjadi pada gas buang dalam knalpot mesin merupakan proses perpindahan panas konveksi paksa karena gerakan gas buang disebabkan oleh dorongan torak dari dalam mesin (Samsudi, dkk., 2004)

a. Rumus-rumus perpindahan kalor (Holman, 1991) Konduksi

Perpidahan kalor dari suatu partikel ke partikel lainnya dimana keduanya saling bersentuhan satu sama lain. Besar laju perindahan panasnya yaitu:

𝑞 = −K . A .dT

dx [W

m2]

(4)

Halaman 232 dari 352 Konveksi

Perpindahan panas antara satu bagian fluida ke bagian fluida lainnya karena adanya pergerakan fluida itu sendiri, sedangkan perpindahan panas secara konveksi sendiri terdiri dari konveksi alamiah dan konveksi paksa. Besar laju perindahan panasnya yaitu:

𝑞 = h . A . ∆T [W

m2] Radiasi

Merupakan perpindahan panas yang terjadi antara dua badan secara gelombang elektromagnetik tanpa tergantung pada medium penghantar. Besar energy yang dipancarkan per satuan luas yaitu:

I = e . σ . T4 [ W

m2 ] b. Alat penukar kalor (Heat Exchanger)

Heat Exchanger merupakan peralatan yang digunakan untuk perpindahan panas antara dua atau lebih fluida. Banyak jenis heat exchanger yang dibuat dan digunakan dalam pusat pembangkit tenaga, unit pendingin, unit pengkondisi udara, proses di industri, sistem turbin gas, dll. Dalam heat exchanger tidak terjadi pencampuran seperti halnya dalam suatu mixing chamber. Hampir pada semua heat exchanger, perpindahan panas didominasi oleh konveksi dan konduksi dari fluida panas ke fluida dingin, dimana keduanya dipisahkan oleh dinding. Perpindahan panas secara konveksi sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri heat exchanger dan tiga bilangan tak berdimensi, yaitu bilangan Reynold, bilangan Nusselt dan bilangan Prandtl fluida. Besar konveksi yang terjadi dalam suatu double-pipe heat exchanger akan berbeda dengan cross-flow heat exchanger atau shell-and-tube heat exchanger atau compact heat exchanger atau plate heat exchanger untuk beda temperatur yang sama. Sedang besar ketiga bilangan tak berdimensi tersebut tergantung pada kecepatan aliran serta properti fluida yang meliputi massa jenis, viskositas absolut, panas jenis dan konduktivitas panas (Holman, 1991). Telah banyak dilaporkan dalam literatur bahwa tingkat perpindahan panas dalam Helical Coil yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada di tabung lurus. Karena struktur kompak dan koefisien perpindahan panas yang tinggi, penggunaan tipe ini yang sangat luas dalam aplikasi industri seperti pembangkit listrik, industri nuklir, tanaman proses, sistem pemulihan panas, pendingin, industri makanan, dll (J. S. Jayakumar, 2012).

(5)

Halaman 233 dari 352 c. Perancangan Heat Exchanger tipe Helical Coil

Menurut Amitkumar (2015), prosedur dan analisis untuk mendesain penukar kalor tipe Helical Coil, mengikuti langkah-langkah sebagai berikut (Amitkumar, 2015):

1. Panjang coil yang diperlukan [mm]

𝐿 = 𝜋 x 𝐷𝑐 x 𝑁 2. Diameter Hydraulic [mm]

𝐷 = 𝐷𝑜2− 𝜋𝐷𝑐𝑑𝑜2𝛾−1 𝐷𝑜+ 𝜋𝐷𝑐𝑑𝑜𝛾−1 3. Rasio Kelengkungan

𝛿 = 𝑑𝑖 𝐷𝑐 4. Pitch Ratio

𝛾 = 𝑏 𝜋𝐷𝑐

5. Analisis perpindahan kalor (Giacomo Bonafoni, 2015; Amitkumar, 2015)

- Kalor yang dibawa oleh Gas buang [kW]

𝑄𝑔𝑏 = 𝑚𝑔𝑏̇ x 𝐶𝑝𝑔𝑏 x ∆𝑇𝑔𝑏 - Kalor yang dibawa oleh air dingin [kW]

𝑄𝑤𝑐 = 𝑚𝑤𝑐̇ x 𝐶𝑝𝑐 x ∆𝑇𝑤 - Kalor rata-rata yang dapat dihasilkan oleh sistem [kW]

𝑄𝐴𝑣𝑔 = (𝑄𝑔𝑏 + 𝑄𝑤𝑐 )/2 - Kalor Maksimal yang dapat dihasilkan oleh sistem [kW]

𝑄𝑚𝑎𝑥 = 𝑚𝑚𝑖𝑛̇ x 𝐶𝑚𝑖𝑛 x (𝑇𝑔𝑏𝑖−𝑇𝑤𝑖) - Efektifitas Heat Exchanger

∈= 𝑄𝐴𝑣𝑔 𝑄𝑚𝑎𝑥 - Log mean temperature difference (LMTD)

𝐿𝑀𝑇𝐷 = (𝑇𝑔𝑏𝑖−𝑇𝑤𝑜) − (𝑇𝑔𝑏𝑜−𝑇𝑤𝑖) ln (𝑇𝑔𝑏𝑖−𝑇𝑤𝑜

𝑇𝑔𝑏𝑜−𝑇𝑤𝑖)

- Koefisien perpindahan panas menyeluruh (Permukaan luar pipa) [W/m2K]

(6)

Halaman 234 dari 352

1

𝑈𝑜 = 𝐴𝑜 𝐴1 1 +

𝐴𝑜 ln (𝑑𝑜 𝑑𝑖) 2πkL + 1

𝑜 𝑈𝑜 = 𝑄𝐴𝑣𝑔

𝐴𝑜 x LMTD 𝐴𝑜 = 𝜋 x 𝑑𝑜 x 𝐿

Dengan menggunakan grafik dan formula wilson diperoleh A1, dan h1

sehingga nilai ho dapat diperoleh.

- Waktu yang diperlukan untuk melakukan pemanasan (Daniel Santoso, 2013):

∆t =𝑚𝑤 . 𝐶𝑝𝑤 𝐴𝑜 x ℎ𝑜 2. Metode Penelitian

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental dan analisis terhadap kinerja Heat Exchanger. Dengan memanfaatkan panas gas buang dari mesin tersebut, didesain alat pemanas seperti skema pada gambar 2.

Alat uji terdiri dari:

- Tangki penyimpanan yang dilengkapi dengan pengukur volume - Pompa air mini

- Pipa tembaga sebagai laluan air

- Pipa tembaga sebagai alat penukar kalor

- Saluran gas buang yang dihubungkan ke exhaust manifold

(7)

Halaman 235 dari 352

Air dingin Masuk Air Panas

Keluar

Penukar Kalor Reservoir

Air Panas

Motor Diesel Ranger 8

Saluran Gas Buang Pompa

Gambar 2. Skema pemanas air a. Prinsip Kerja Sistem

Saluran gas buang (Knalpot) mesin diesel yang standar, diganti dengan saluran gas hasil rancangan seperti pada gambar 1. Pada mulanya, air dingin masuk ke tangki penyimpanan hingga kurang lebih 7/8 dari volume tangki. Dengan menggunakan pompa mini, air dari tangki penyimpanan kemudian dialirkan melewati pipa tembaga dan masuk ke pipa spiral yang berfungi sebagai heat exchanger. Pipa spiral diletakkan di dalam saluran gas buang mesin diesel dan pada saat mesin bekerja, gas buang yang bertemperatur tinggi memanaskan area sekitar termasuk pipa spiral yang diletakkan dalam saluran gas buang. Karena pipa spiral yang dialiri air mengalami pemanasan terus-menerus, maka terjadi perpindahan kalor dari gas ke pipa dan dari pipa ke air.

Temperatur air mengalami kenaikan sesuai besar perpindahan kalor dari heat exchanger. Hal ini tejadi terus-menerus sehingga jika temperatur air dalam tangki

(8)

Halaman 236 dari 352

dianggap cukup sesuai kebutuhan, maka air dapat dikeluarkan melalui saluran yang telah disiapkan.

b. Bahan dan Alat

- Bahan heat Exchanger adalah Pipa Tembaga diameter 3/8 inch

Gambar 3. Heat Exchanger Coil

- Spesifikasi mesin diesel yang digunakan pada tabel berikut;

Tabel 3. Spesifikasi Mesin Diesel (Lincoln Electric, 2002)

No Uraian Spesifikasi

1 Make/Model Ruggerini RD 201, Diesel Engine

2 Description 2 Cylinder, 4 cycle, Air Cooled Diesel, Direct Injection, Diecast Aluminium Crankcase

3 Speed (RPM) High Idle 3700

Low Idle 2200 Full Load 3500

4 Displacement 51.9 cu.in (851 cc)

5 Horse Power 18.4 hp @ 3600 rpm

6 Starting system 12VDC battery

7 Capasities Fuel : 9.0 gal (34.0 L)

Oil : 3.2 qts (3.0 L) 8 Dimensions (HxWxD) 30.75 in x 19.09 in x 48.03 in

[781.1 mm x 484.9 mm x 1220.0 mm]

9 Weight 695 lbs. (315 kg)

- Spesifikasi pompa mini yang digunakan pada tabel berikut:

Tabel 4. Spesifikasi Pompa Mini

No Uraian Spesifikasi

1 Make/Model EARTH/ZQ-2203-1

2 Debit aliran 3.1 L/min

3 Tegangan/Arus 12 VDC/2.2A

- Untuk mengukur kecepatan gas, digunakan Anemometer merk/model:

CEM DT-8894 dengan spesifikasi seperti pada gambar 4 berikut:

(9)

Halaman 237 dari 352 Gambar 4. Anemometer

- Untuk mengukur temperatur gas maupun air, digunakan Thermocople merk/model: Krisbow KW06-283 dengan spesifikasi seperti pada gambar 5 berikut:

Gambar 5. Thermometer with Thermocouple

- Untuk mengukur putara mesin saat bekerja, digunakan Tachometer merk/model: SHIMPO DT-207LR-S12 dengan spesifikasi seperti pada gambar 5 berikut:

Gambar 6. Tachometer SHIMPO

(10)

Halaman 238 dari 352

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dari hasil perhitungan, untuk memperoleh Coil Heat Exchanger, yang akan dipasang pada knalpot gas buang, diperlukan pipa tembaga sepanjang 6284 mm dengan jumlah lilitan sebanyak 25. Spesifikasi seperti pada gambar 7 berikut:

Gambar 7. Heat Exchanger type Coil and Shell

Hasil pengukuran dari parameter-paremeter yang diperlukan untuk berbagai putaran tanpa beban, terlihat pada gambar 8 berikut:

Gambar 8. Grafik hubungan antara putaran mesin terhadap karasteristik gas buang Dari pengujian diperoleh bahwa temperatur gas buang akan semakin tinggi seiring dengan naiknya putaran mesin. Pada putaran 1600 RPM, temperature gas buang mencapai 146oC, sedangkan pada putaran 2200 temperatur gas buang mencapai 261oC. Hal ini terjadi karena pada putara tinggi, konsumsi bahan bakar akan tinggi pula. Pada penelitian yang dilakukan oleh Muardi dkk, diperoleh bahwa pada putaran

0 20 40 60 80 100

0 50 100 150 200 250 300

1400 1600 1800 2000 2200 2400

Temperatur (oC)

Putaran (RPM)

Grafik hubungan antara

putaran mesin Vs karasteristik gas buang

Suhu Gas Buang

Kecepatan keluar gas

(11)

Halaman 239 dari 352 1600 RPM, konsumsi bahan bakar 0.58 kg/jam sedangkan kalor bahan bakar sebesar 6.7457 kJ/s. Dari keseimbangan energi, jika diperkirakan 30% energi maka potensi energi yang terkandung pada gas buang pada putaran 1600 RPM sebesar 2.024 kJ/s.

Demikian halnya pada putaran 2200 RPM, konsumsi bahan bakar 1,102 kg/jam dan kalor bahan bakar 12.8169 kJ/s. sehingga potensi energi yang terkandung pada gas buang sebesar 3.863 kJ/s. Potensi energi yang terkandung dalam gas buang juga akan mengalami peningkatan seiring dengan penambahan beban mesin seperti pada saat digunakan melakukan proses pengelasan.

Komposisi gas buang pada hasil pembakaran hidrokarbon sebahagian besar Carbon dioksida (CO2). Sifat-sifat fisik CO2 dievaluasi berdasarkan temperatur pada tekanan atmosfir. Gambar 9 menunjukkan bahwa dengan meningkatnya putaran mesin, akan meningkatkan pula laju aliran massa gas buang. Besaran ini sangat penting karena sangat mempengaruhi kinerja sistem.

Gambar 9. Grafik hubungan antara putaran mesin terhadap laju aliran massa gas buang

Untuk mengetahui besarnya penyerapan kalor oleh air dingin terhadap gas buang serta efektifitas Heat Exchanger, maka perlu dilakukan pengukuran lanjutan pada sesi cairan yang mengalir dalam pipa.

4. Kesimpulan

Berdasarkan analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa energi yang dibawa oleh gas buang hasil pembakaran Motor Diesel pada Mesin Las type Ranger 8 sangat

0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05

1400 1600 1800 2000 2200 2400

Laju aliran massa (kg/s)

Putaran (RPM)

Grafik hubungan antara

putaran mesin Vs laju aliran massa gas

laju aliran massa gas

(12)

Halaman 240 dari 352

potensial untuk digunakan sebagai pemanas air yaitu setara dengan pemanas air berkekuatan 3.9 kW , khususnya untuk kebutuhan pekerja lapangan.

Daftar Pustaka

[1] Amitkumar S. Puttewar, & A.M. Andhare 2015. Design and Thermal Evaluation of Shell and Helical Coil Heat Exchanger. International Journal of Research in Engineering and Technology. eISSN: 2319-1163 pp. 416-423.

[2] Badan Standardisasi Nasional. 2005. Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing.

SNI-03-7065-2005

[3] Daniel Santoso, dan F. Dalu Setiaji 2013. Pemanfaatan Panas Buang Pengkondisi Udara Sebagai Pemanas Air dengan Menggunakan Penukar Panas Helikal. Jurnal Ilmiah Elektroteknika 12 (2), ISSN : 1412-8292 pp. 129–

140

[4] Giacomo Bonafoni, & Roberto Capata 2015. Proposed Design Procedure of a Helical Coil Heat Exchanger for an Orc Energy Recovery System for Vehicular Application. Mechanics, Materials Science & Engineering Journal. ISSN 2412- 5954 pp. 416-423

[5] Holman, J., P., 1991, Perpindahan Kalor, Terjamahan jasjfi, E., Erlangga, Jakarta.

[6] J. S. Jayakumar. 2012. Helically Coiled Heat Exchangers, Heat Exchangers - Basics Design Applications, Dr.Jovan Mitrovic (Ed.), ISBN: 978-953-51-0278- 6, pp 311-342

[7] Lincoln Electric. 2002. Operator’s Manual RANGER 8+DIESEL, Ohio, USA [8] Muardi, Duma Hasan, dan Wahyu H. Piarah. 2013. Heat Exanger Sebagai Alat

Pengering Ikan dengan Memanfaatkan Panas Gas Buang Mesin Diesel, Jurnal Pasca Sarjana Unhas. http://www.pasca.unhas.ac.id/jurnal

[9] Rahardjo Tirtoatmodjo. 1999. Pemanfaatan Energi Gas Buang Motor Diesel Stasioner untuk Pemanas Air. Jurnal Teknik Mesin 1(1).

http://puslit.petra.ac.id/journals

[10] Samsudi Rahardjo; Julian Al Fijar; dan Purnomo. 2004. Peluang Pemanfaatan Panas Gas Buang Mesin Diesel untuk Memanasi Air. Prosiding Seminar Nasional. Vol. 1(2). http://Jurnal.unimus.ac.id

[11] Teguh Kristianto, dan Samsul Kamal. 2014. Studi Pemanfaatan Gas Buang Untuk Refrigerasi Sistem Absorpsi bagi Penyimpanan Dingin Industri Perikanan. Proceedings Seminar Nasional Teknik Mesin Universitas Trisakti.

Jakarta, ISBN: 978-602-70012-0-6

[12] Zainuddin; Jufrizal; dan Samsul Kamal. 2013. Perpindahan Panas dan Kerugian Tekanan pada Alat Penukar Kalor Double Pipe Bersirip Helical Sebagai Pemanas Air dengan Memanfaatkan Gas Buang Mesin Diesel. Jurnal SAINTEK Vol. 27(2) Institut Teknologi Medan, ISSN: 0854-4468 pp 10-17

Gambar

Tabel 1. Pemakaian air panas minimum (BSN, 2005)  No  Penggunaan Gedung  Pemakaian
Gambar 2. Skema pemanas air  a.  Prinsip Kerja Sistem
Gambar 3. Heat Exchanger Coil
Gambar 5. Thermometer with Thermocouple
+3

Referensi

Dokumen terkait

Kemunculan kembali wacana negara maritim ini menarik untuk dikaji dari sisi nasionalisme, sebagai sebuah upaya untuk membentuk kembali imajinasi identitas kebangsaan

Sosialisasi dan pelatihan mengenai pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran dan penjualan dilakukan kepada pengerajin cangkang kerang di Sentra Ikan Bulak yang

Arbitrase sangat erat kaitannya dengan kewenangan dari suatu badan peradilan untuk menangani suatu perkara yang diterimanya. Kewenangan dari suatu badan peradilan

Habitus pada petarung sabung ayam terjadi melalui proses eksternalisasi internalisasi yang terjadi dalam invidu itu sendiri yang dipengaruhi oleh lingkungan dan

Jalankan program S60Bible, ketika menjalankan untuk pertama kali, Anda akan mendapatkan pesan “Bible Not Found”, pastikan Anda telah memasukkan file-file Alkitab ke dalam

- Adanya perbedaan skor stres antara sebelum dan sesudah akupunktur, dan didapatkannya hubungan antara jumlah akupunktur dengan penurunan skor stres yakni semakin

"Upaya meningkatkan penguasaan konsep dan kompetensi sosial siswa melalui pembelajaran aktif berbasis model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada marta