TEGAR MEKAR
DI BUMI PORODISA
17 TAHUN GEREJA MASEHI INJILI TALAUD BERSINODE
(23 Oktober 1997 s/d 23 oktober 2014)
Arnold A. Abbas,
Pengantar
para Zendeling (Misionaris) telah memperkenal Injil di Kepulauan Talaud, sehingga masyarakat di kepulauan Talaud dapat menerima Kabar Keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus tsb.
Tulisan ini dibuat untuk memperkenalkan sedikit sejarah Pekabaran Injil di wilayah Kepulauan Talaud yang tahun ini sudah berusia 155 (seratus lima puluh lima) tahun, dan sekaligus berdirinya Gereja Masehi Injili Talaud (GERMITA) pada 17 (tujuh belas) tahun silam. Diharapkan dengan membaca dan mengenal sejarah pekabaran Injil di kepulauan Talaud, dan juga sejarah berdirinya GERMITA, maka warga jemaat, dan khususnya generasi muda, akan mendapatkan inspirasi dan motivasi untuk melaksanakan tugas panggilan sebagai pemberita-pemberita Injil di abad ke-21 ini dengan segala dinamikanya, sehingga Berita Injil itu tetap akan selalu menjadi “garam” dan “terang” di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, khususnya di tengah kehidupan masyarakat yang ada di wilayah kepulauan Talaud, sebagai wilayah perbatasan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai.
Pendahuluan
Latar belakang historis Gereja Masehi Injili Talaud (GERMITA) dapat ditelusuri di dalam sejarah Pekabaran Injil pada abad ke-16, dan terutama pada abad ke-19 serta awal abad ke-20. Abad ke-19, seperti yang ditulis oleh Kenneth Scott Latourette, seorang sarjana sejarah gereja Amerika yang terkenal, disebut sebagai The Great Century (Abad yang besar). Pada abad inilah kesadaran pekabaran Injil dibangunkan dalam gereja Protestan di negeri-negeri Barat, yang mengakibatkan timbulnya lembaga-lembaga pekabaran Injil, yang kemudian bersamaan dengan kemajuan-kemajuan teknik dan meluasnya hubungan lalulintas dunia, maka Injil pun dikabarkan keseluruh penjuru bumi dan pelosok dunia oleh para utusan lembaga-lembaga Misi dari Benua Eropa tersebut.1
para Zendeling pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, telah meninggalkan jejaknya di kepulauan Nusantara, berupa warisan kerohanian (spiritual) dan budaya (culture) yang sebagian masih dilestarikan oleh jemaat-jemaat di Indonesia. Pengaruh kehadiran para Misionaris (Zendeling) tersebut, dapat dilihat antara lain dalam berbagai bentuk arsitektur gedung gereja, pakaian jabatan pendeta, tata ibadah dan nyanyian-nyanyian jemaat, bahkan dalam batas-batas tertentu juga dalam pemahaman teologis zending yang masih berpengaruh hingga dewasa ini. Walaupun harus dicatat bahwa sejak tahun 70-an, khususnya sejak Konsultasi Teologi di Sukabumi yang diselenggarakan oleh DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, sekarang PGI), Gereja-gereja di Indonesia telah menetapkan paradigma baru berteologi yang dikenal dengan nama “Pergumulan Rangkap”, yaitu pada satu pihak Gereja bergumulan dengan hakikat panggilannya atau kesetiaanya kepada Tuhan yang tidak berubah, dan pada pihak lain gereja bergumul dengan dunia di sekitarnya, yang selalu berubah. Dengan demikian, Injil (Kabar Gembira) itu harus menyapa pergumulan real jemaat dan masyarakat dalam semua aspek kehidupannya, tidak hanya aspek rohaninya (spiritualnya), tetapi tetapi juga aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, Hukum, HAM, dsb, pendeknya, Injil itu harus berpengapa dengan konteks masyarakat Indonesia di mana Gereja-gereja melaksanakan tugas panggilannya.2
Walaupun umat Kristiani di Talaud telah menetapkan tanggal, 1 Oktober 1859 sebagai hari “masuknya Injil” di kepulauan Talaud, namun sebenarnya kehadiran kekristenan telah dimulai sejak abad ke-16. Oleh karena itu penulisan sejarah Gereja di wilayah kepulauan Talaud ini akan dimulai pada masa Portugis dalam abad ke-16 dan ke-17, kemudian zaman VOC, dan usaha-usaha PI pada zaman Indische Kerk (Gereja Negara) di era Pemerintahan Kolonial Belanda. Sesudah itu barulah PI pada zaman Zendeling Tukang, yaitu dengan kedatangan empat orang Zendeling Tukang dari negeri Belanda pada, 1 Oktober 1859. Mereka adalah: A.C. van Essen, P.Gunther, W. Richter dan K.E.W.Tauffmann. Para Zendeling Tukang (Zendeling-werkman)3 tersebut di utus oleh Badan Zending dari negeri Belanda yang
2 Lihat, S.A.E. Nababan, Pergumulan Rangkap, Laporan Konsultasi Teologi Sukabumi,23-28 November 1970, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1970).
bernama: KOMISI ZENDELING TUKANG pada 23 November 1857. Pada zaman keempat Zendeling Tukang itulah Injil (Kabar Baik) tersebut, diberitakan kepada masyarakat yang ada di Kepulauan Talaud sehingga Injil disambut, bertumbuh dan berkembang di lingkungannya yang baru, yakni lingkungan sosial masyarakat Talaud dengan segala adat dan budaya-nya, serta keadaan alamannya yang sangat menantang. Dua orang tokoh Zendeling Tukang di kepulauan Talaud, yaitu: P.Gunter dan W.Richter pada akhirnya kawin dengan putri-putri Talaud sehingga mereka menjadi bagian dari masyarakat kepulauan Talaud. Kedua Zendeling Tukang tersebut sampai akhir hidup-nya melayani di Kepulauan Talaud. Zeneling P. Gunther meninggal di Mangaran (di Pulau Kabarauan), dan kuburan-nya sekarang berada di samping gedung gereja Jemaat GERMITA Maranatha Mangaran, sedangkan Zendeling W.Richter meninggal di Beo (di Pulau Karakelang) dan dimakamkan di pekuburan keluarga besar Tamawiwi yang terletak persis di depan Gedung Gereja Jemaat GERMITA Imanuel Beo.
Bab. I. Gambaran Umum Wilayah Kepulauan Talaud
Sebelum mengisahkan sejarah pekabaran Injil dan sejarah Gereja Masehi Injili Talaud, maka ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu wilayah kepulauan Talaud yang menjadi tempat dan pusat pelayanan GERMITA.
A. Nama Talaud.
Di kalangan masyarakat Talaud terdapat berbagai legenda tentang asul usul nama Talaud. Nama “Talaud”, berasal dari akar kata : melaude yang berarti jauh ke laut, mendapat awalan Ta yang berarti tidak. Talaud berarti tidak jauh.4 Secara etimologis, nama Talaud berasal dari akar kata Tau ditambah dengan Led, sama dengan Tau ditambah dengan Laud (e), yang berarti Samudrawan.5
Nama lain daerah kepulauan Talaud adalah “Porodisa”, yang berasal dari bahasa Spanyol “paradijs” = Firdaus (taman eden), yang berarti memiliki keindahan dan kedamaian. Pengertian ini menurut Prof.R.R.Tingginehe memang sangat berlebihan, namun tidak bisa sangkal bahwa panorama alam di kepulauan Talaud sangat indah di pandang mata, apalagi
4 Shinzo Hayase,Domingo M.Non and Alex J.Ulaen, Silsilas/Tarsilas (Genealogies) And Historical Narratives In Saranggani Bay And Davao Gulf Regions, South Mindanao, Philippines, And Sangihe Talaud Islands North Sulawesi Indonesia, Jepang: Kyoto University: Center For Southeast Asian Studies, 1999, hlm.245
kalau dilihat pada waktu matahari baru terbit, dan pada di sore hari dikala matahari akan terbenam.6 Adapula yang mengartikan Porodisa dari bahasa Talaud: Porrossa, dissa. Kata “porrossa” = potong, pancung, dan kata “dissa” = serang. Kata ini konon diucapkan dalam teriakan yang hebat, gemuruh penuh semangat melawan bangsa penjajah Portugis/Spanyol, kemudian Belanda dan Jepang. Dengan kata lain, kata Porodisa berarti “maju menentang penjajah dan perangi saja”. Jadi dari arti “Firdaus” (taman eden), diberi konotasi perjuangan atau perlawanan rakyat pribumi terhadap kaum penjajah, untuk mempertahankan tanah leluhur Porodisa.7
Nama lain dari daerah Porodisa tersebut adalah “Taloda”atau “Taranusa u Taloda”. “Taloda” dari bahasa Talaud “talo”, artinya kantong makanan yang teranyam, sedang “loda” artinya menunjuk ke arah laut. Jadi Taloda artinya di sana tersimpan makanan, di atas bukit dan gunung, turun ke arah laut, mendiami pesisir pantai, teluk dan Selat di Kepulauan Talaud.8
B. Asal usul Penduduk Talaud
Ahli Purbakala berkebangsaan Inggris yang bertugas sebagai guru besar di Universitas Canbera, Mr. Peter Bellwood bersama-sama dengan petugas dari Direktorat Kepurbakalaan Pusat dan petugas-petugas kepurbakalaan tingkat Propinsi Sulawesi Utara telah melakukan penggalian kepurbakalaan di kepulauan Sangihe dan Talaud. Survey tersebut diadakan antara lain di gua Buiduanne di Lirung-Musi, gua Tuwomane’e di Arangkaa, gua Totombatu di Kecamatan Beo, gua Balangingi di Rainis, gua di Banada, dan juga gua Bowoleba dan Bowonsolo di Kecamatan Tabukan Selatan. Dari hasil penggalian tersebut ditemukan pecahan-pecahan krewang dari tanah liat, fosil-fosil, kerang-kerang, kapak perunggu flake dan blade. Dari hasil penemuan tersebut disimpulkan bahwa 6000 s.M. daerah kepulauan Sangihe dan Talaud sudah didiami oleh manusia.9
Berdasarkan mitos yang beredar di masyarakat, ada anggapan bahwa manusia Talaud berasal dari keturunan Wando Ruata, yaitu seorang manusia gaib yang berasal dari Surga. Wando Ruata kemudian menurunkan penduduk yang ada di kepulauan Talaud, wuassu Tinonda sara Napombaru. Tinonda sebutan untuk pulau-pulau Nanusa di bagian Utara, dan Napombaru adalah sebutan untuk pulau yang ada di bagian Selatan. Ada juga mitos yang menceritakan asal usul manusia Talaud dari sepasang suami istri yang bernama “Gahing Duata” dan “Singka Duata”. Gahing Duata artinya “wajah ilahi” dan Singka Duata artinya
6 R.R.Tingginehe dan Andreas Maanema, Talaud Setangkai Melati Pertiwi, 1984, hlm.34
7 Joseph F.J.Wayangkau, Menapak Kemandirian Bersinode GERMITA (SK Manado Post, Edisi 21 Agustus 1997) 8 Lihat, Ivan R.B. Kaunang, Bulan Sabit di Nusa Utara: Perjumpaan Islam dan Agama Suku di Kepulauan Sangihe dan talaud, Lintang Rasi Aksara Books, Jogyakarta, 2013, hlm.32-34.
“Pengetahuan ilahi”. Sepasang suami istri yang bernama Gahing Duata (wajah ilahi) dan singka Duata (pengetahuan ilahi) tersebut, kemudian menurunan penduduk atau masyarakat yang ada di Kepulauan Talaud.10 Namun dari asal usul silsilah (geneologis) penduduk kepulauan Talaud, memiliki hubungan erat dengan penduduk yang ada di kepulauan Sangihe dan Philipina Selatan.11
C. Keadaan geografis, luas wilayah dan jumlah penduduk
Wilayah kepulauan Talaud, secara geografis terletak di antara negara tetangga Philipina Selatan (Mindanau) dan Pulau Sulawesi Utara. Terdiri dari 16 pulau (besar dan kecil), terbentang dari Utara ke selatan dengan posisi 3 32 sampai 5 34 Lintang Utara dan 126 15 sampai 127 12 Bujur Timur.
Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan daerah bahari dengan luas lautnya sekitar 37.800 Km² (95,24%) dan luas wilayah daratan 1.251,02. Terdapat tiga pulau utama di Kabupaten Kepulauan Talaud, yaitu Pulau Karakelang, Pulau Salibabu, dan Pulau Kabaruan.
Adapun batas-batas wilayah kepulauan Talaud adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Philipina Selatan (Pulau Mindanau);
sebelah Timur dengan Samudera Pasifik;
sebelah Selatan dengan Laut Maluku dan;
sebelah Barat dengan Laut Sulawesi.
Gugusan pulau-pulau Talaud, bersama-sama dengan kepulauan Sangihe, Siau dan Tagulandang, membetuk semacam “jembatan” yang menghubungkan ke dua daratan besar, yaitu daratan Sulawesi Utara-Indonesia dan Mindanau (Filipina bagian Selatan). Keadaan penduduk Talaud, berdasarkan data dari BPS Kabupaten Talaud sampai dengan tahun 2013 berjumlah 85.984 jiwa. Distribusi / persebaran penduduk di 19 kecamatan terlihat bervariasi, jumlah penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Melonguane (ibu Kota Kabupaten Talaud) dengan jumlah 12.215 jiwa atau sekitar 4,12 persen dari jumlah penduduk kabupaten kepulauan Talaud. Dan memiliki tingkat kepadatan sebesar 157,84 orang perkilometer persegi. Sedangkan tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Talaud sebesar 68,73 jiwa perkilometr persegi. Rasio jenis kelamin penduduk kabupaten kepulauan Talaud pada tahun 2013 sebesar 104. Hal ini menggambarkan jumlah penduduk Laki-laki lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan.12 Wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud termasuk dalam 199 daerah tertinggal di Indonesia dan masih terisolir karena berbagai 10 Penuturun A.G. Ulaen, Ratum Banua (Tokoh Adat) di salah satu desa yang ada di kepulauan Talaud.
keterbatasan infrastruktur dasar, ekonomi, sosial budaya, perhubungan, telekomunikasi dan informasi serta pertahanan keamanan.
Gambar 1 (Peta Wilayah Kepulauan Talaud).
Jauh sebelum para “zendeling tukang” tiba di kepulauan Talaud pada pertengahan abad ke-19, bahkan para Misionaris Portugis abad ke-16, wilayah ini sudah didatangi oleh para pelaut dan pedagang dari bangsa Melayu dan bangsa Tiongkok. Daerah kepulauan Sangihe dan Talaud sudah menjadi jalur perdagangan yang cukup strategis dari para pelaut Melayu, bahkan dari pelaut asal negeri Cina (Tiongkok). Menurut A.J. Ulaen, seorang sejarawan asal Nusa Utara, sejak abad ke-10 wilayah Kepulauan Sangihe dan Talaud sudah menjadi jalur (route) perlayaran yang cukup ramai dari para pelaut dan pedagang yang berbahasa Melayu (Kuno). Kemudian dari penyiar agama Islam dari Melayu pada abad ke-14-15, para pedagang/Peniaga Cina pada abad ke-15, dan terakhir adalah para pedagang dari Eropa Barat (Portugis, Spanyol dan Belanda). Daerah kepulauan Sangihe dan Talaud merupakan wilayah lintasan dari para pelaut tsb, yang antara lain, mengambil route pelayaran dari Philipina Selatan (Mindanao) menuju ke kepulauan Maluku (sumber rempah-rempah) dan sebaliknya dari Maluku menuju ke Philipina Selatan, kemudian selanjutnya menuju ke negeri Cina bagi Para pedagang Cina (Lihat, J.A.Ulaen,dkk, Sejarah Wilayah Perbatasan: Miangas-philipina, 2012). Tentu saja kehadiran para pelaut di wilayah tsb, turut membawa pengaruh peradaban terhadap masyarakat yang di lintasinya. Namun, yang paling besar pengaruhnya adalah peradaban Eropa, melalui aktifitas para Misionaris atau Zendeling.
Gambar 4. Tradisi budaya Mane’e (menangkap ikan di sebuah teluk yang telah “dipagari” dengan janur (daun kelapa) yang sudah diayam sehingga ikan tidak bisa keluar dari teluk lalu ditangkap dengan menggunakan tombak atau jala).
Gambar 5: Tradisi budaya Mane”e Talaud, ikan geropa yang sudah ditangkap oleh masyarakat
E. Struktur sosial tradisional
Di samping warisan kebudayaan tersebut, masyarakat suku Talaud juga mengenal stratifikasi sosial (susunan masyarakat), walaupun dewasa ini hal tersebut sudah mengalami pergeseran karena adanya perkembangan di dalam masyarakat Talaud. Stratifikasi sosial suku Talaud tersebut meskipun telah mengalami pergeseran, namun tetap menjaga warisan dari leluhurnya.
wuassu Tinonnda sara Napombaru, dikenal istilah “Ratum Patiuppu Taloda”. Mengenai istilah Ratum Patiuppa memang pernah diperdebatkan, namun sejak Talaud menjadi satu kabupaten tersendiri lepas dari Kabupaten Sangihe pada tahun 2002, istilah tsb mulai dipergnakan oleh para Tokoh adat Talaud dan hanya dikenakan kepada Bupati Talaud.
Peranan tokoh-tokoh adat tersebut sangat besar di setiap kampung, mereka tidak hanya memimpin penyelenggaraan pemerintahan adat dan upacara-upacara adat, tetapi juga berperan dalam melestarikan adat budaya masyarakat suku Talaud, bahkan juga menyelesaikan persoalan-persoalan di dalam masyarakat kampung bersama dengan pemerintah setempat (kepala desa atau Apitalau) dan para Majelis jemaat setempat. Adanya peranan dari Tokoh-tokoh adat tersebut masih terasa hingga dewasa ini, sehingga di setiap kampung di Talaud kita menemukan adanya tiga lembaga yang tetap eksis, yaitu: Pertama, lembaga Gereja (Jemaat setempat) yang terbentuk dari hasil pekerjaan para Zendeling Eropa (Belanda); Kedua, lembaga Pemerintahan Desa (Kepala desa di Talaud disebut Apitalau), yang merupakan bentukan pemerintah R.I., dan Ketiga, lembaga Adat, yang dipimpin oleh Ratum Banua dan Inangngu Wanua, serta Timmadu Ruanganna (kepala suku/marga). Setiap warga atau anggota masyarakat kampung (desa), biasanya mereka menjadi salah satu anggota dari suku (marga/klan) tertentu yang ada di dalam kampung tersebut. Apabila ada orang baru yang datang dari luar kampung tinggal menetap di kampung tersebut, maka yang bersangkutan diminta untuk menjadi anggota salah satu klan atau marga di dalam kampung tersebut.
Keberhasilan dalam pembangunan di setiap Kampung di ke pulauan Talaud, sangat ditentukan oleh kerjasama di antara tiga komponen atau lembaga tersebut (Tokoh-tokoh adat, Gereja/jemaat dan Pihak pemerintah desa).
F. Keadaan Pemerintahan
dengan kondisi dan pembobotan/penilaian kriteria desa tertinggal oleh Kementrian Negara PDT, desa sangat tertinggal berjumlah 48 desa (34 %), desa tetinggal 72 desa (54%) dan desa maju 17 desa (12%). Ibu kota kabupaten yaitu Melonguane terletak di sisi selatan pulau Karakelang.
G. Keadaan Pendidikan
Kondisi pendidikan dilihat dari jumlah prasarana yakni :
TK 84 Unit
SD 114 Unit
SMP 30 Unit
SMU 9 Unit
SMK 7 Unit
SD/SMP Satu Atap 7 Unit
Perguruan Tinggi 2 Unit, yaitu:
o Universitas Terbuka
o Community College
H. K eadaan k esehatan
Kabupaten Kepulauan Talaud telah memiliki fasilitas kesehatan berupa 2 unit RSUD tipe C di Melonguane dan Gemeh, puskesmas 19 unit, pustu 36 unit. Jumlah tenaga medis sangat terbatas. Saat ini Pemerintah membuat kontrak dengan beberapa dokter ahli, antara dokter ahli anak dan kandungan, serta dokter ahli penyakit dalam untuk memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat di kepulauan Talaud. Para dokter ahli tersebut bertugas di rumah sakit Mala-Melonguane Talaud.
Gambar 2 (Perahu Van Boat para Nelayan di Talaud)
Demikianlah gambaran umum wilayah Kepulauan Talaud yang menjadi konteks pelayanan GERMITA dewasa ini, dengan segala dinamikanya.
BAB.II. ZAMAN SEBELUM ZENDELING TUKANG (Masa Portugis, VOC dan Pemerintah Hindia Belanda).
1. Masa Portugis
Sebagaimana sudah dijelaskan di atas bahwa persentuhan masyarakat di kepulauan Talaud dengan kekristenan (Orang Eropa-Barat) sebetulnya sudah berlangsung sejak abad ke-16. Hal itu ditandai dengan kedatangan orang-orang Portugis di wilayah kepulauan Nusantara pada sekitar tahun 1500-san, dan khususnya di wilayah kepulauan Sangihe dan Talaud.
Penulis sejarah asal Nusa Utara, Alex John Ulaen, mengatakan bahwa “pada 1521, armada Firdinand Magelhaes (Pelaut Portugis, yang mengabdikan dirinya untuk raja Spanyol), melewati daerah ini dalam perjalanan dari Mindanao (Philipina Selatan) menuju ke Ternate (Maluku). Magelhaes singgah membaptis beberapa raja antara lain raja Siau, yang bernama Posuma dengan nama Baptis Don Jeronimo, dan tidak lama kemudian rakyat-nya juga dibaptis. Kemudian pada tahun 1545, Ruy Lopes de Villalobos memimpin ekspedisi dan menyusuri sisi bagian Timur Mindanao dan melewati pulau-pulau Miangas, Nanusa (di Talaud) dan langsung ke Gilolo (Jailolo) dan Tidore (di Maluku). Sebelumnya, pada 1537 ekspedisi Loyasa yang dinakhodai oleh Adres de Urdaneta, melayari route ini, yaitu menyusuri sisi Timur Mindanao, ia hanya mencatat pulau Sangihe dan Talaud” (A.J. Ulaen, Ibid, hlm.12)
Jadi orang Portugislah bangsa Barat pertama yang tiba di wilayah kepulauan Talaud. Terutama melalui kehadiran dan aktifitas para Misionaris mereka memperkenalkan kekristenan di kepulaunTalaud, namun usaha tersebut gagal karena berbagai sebab. Sebagaimana ditulis oleh Daniel Brilman, dalam bukunya: Wilayah-Wilayah Zending Kita: Zending di Kepulauan Sangihe dan Talaud,13 mengatakan bahwa dalam Laporan Ds.Montanus, seorang Zendeling Belanda yang bekerja sekitar tahun 1676, disebutkan bahwa
menggunakan kekerasan sehingga masyarakat dipaksa masuk Kristen, jadi bukan karena kesadarannya sendiri. Hal kedua, karena pelaksanaan Pekabaran Injil yang sering waktunya relative singkat di mana para Misonaris hanya datang sewaktu-waktu saja, artinya tidak intensif, sehingga kekristenan tidak dapat berkembang di kepulauan Talaud. Akibatnya ketika para Misionaris itu meninggal daerah tersebut, maka masyarakat kembali lagi kepada kepercayaan/agama suku setempat.
2. Masa VOC (Verenigde Oost-Indisce Compagnie)
Sejak 1600 keadaan di wilayah kepulauan Nusantara mulai berubah, karena munculnya “pemain” baru yakni bangsa Belanda. Pada waktu itu Belanda dan Inggris telah merebut kuasa di laut dari Spanyol dan Portugis. Di Belanda sendiri sejak tahun 1602 dibentuk kongsi perkapalan yang dikenal dengan nama VOC (Verenigde Oost-Indisce Compagnie). Pemerintah Belanda memberikan tugas kepada VOC untuk antara lain, memperhatikan perluasan agama Kristen di daerahnya. Oleh karena itu, ketika VOC menjadi penguasa di Nusantara, mereka mengirim tenaga gerejani di Indonesia sekaligus membiayai pelaksanaan pekerjaan-nya (misi-nya).
Di zaman VOC tersebut, juga ada usaha untuk membawa agama Kristen di kepulaun Talaud, melalui para pendeta yang didukung dan dibiayai oleh VOC. Daniel Brilman mencatat beberapa pendeta belanda yang menaruh perhatian terhadap pelayanan di wilayah kepulauan Talaud, antara lain Cornelis de Leuw yang bekerja di Manado. Brilman menulis demikian, “Terutama Ds.Cornelis de Leuw, yang bekerja di Manado pada tahun 1680-1689 menaruh perhatian atas kesejahteraan rohani pulau-pulau ini. Ia menempatkan guru pertama di Talaud..”14 Guru tersebutlah kemudian memperkenalkan Injil kepada masyarakat di kepulauan Talaud. Tapi sangat disayangkan tidak tersedia informasi yang memadai, sehingga kita tidak dapat mengetahui lebih banyak tentang pekerjaan guru tersebut dalam usahanya untuk memperkenalkan Injil di Talaud. Namun, menurut Brilman bahwa ketika seorang Pendeta Belanda pada zaman VOC, yaitu: Ds.A. Brand pada sekitar tahun 1705 sempat melakukan kunjungan sampai di kepulauan Talaud, dia menemukan ada sekitar 2000 orang Kristen di Talaud. Tapi ketika para Zendeling Tukang tiba di Talaud pada 1859, jadi sekitar satu abad lebih, di Talaud tidak ada lagi sisa-sisa kekristenan di sana.15
Banyaknya kekurangan dalam pekerjaan Pemberitaan Injil pada zaman VOC disebabkan karena lembaga tersebut, memang bukanlah sebuah lembaga yang bergerak atau memfokuskan dirinya dalam penyebaran agama Kristen. VOC, sesuai dengan maksud pembentukannya adalah lembaga yang bergerak di bidang perdagangan semata yaitu: mencari keuntungan lewat usaha dagang mereka di Nusantara, dan tidak dapat memberikan perhatian yang serius untuk tugas pemberitaan Injil. Sehingga tidak bisa diharapkan terlalu banyak keberhasilan pekerjaan Pemberitaan Injil di zaman VOC. Ketika VOC bangkrut dan dibubarkan pada 1799, banyak orang-orang Kristen yang ditinggalkan oleh VOC, terlantar dan menderita karena tidak mempunyai gembala (pendeta) yang melayani mereka. Kondisi tersebut mengalami perubahan ketika kekuasaan VOC di Nusantara diganti oleh Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai sekitar tahun 1800-an.
3. Masa Pemerintahan Hindia Belanda.
VOC dibubarkan pada tahun 1799, maka tanggung jawab untuk menyebarkan agama Kristen diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda, yang menjadi penguasa atas seluruh wilayah Nusantara. Kebijakan Pemerintah Hindia Belanda terhadap Gereja dapat dikatakan, meneruskan kebijakan pada zaman VOC, yaitu bertanggung jawab memelihara jemaat-jemaat, baik yang berkebangsaan Belanda maupun pribumi. Pemerintah kemudian membentuk Indisce Kerk atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Protestan Indonesia.
dianggap merugikan dirinya sendiri dan terutama bertentangan dengan hakikat-nya sebagai Gereja.16
Pada zaman Pemerintah Hindia Belanda tersebut, dapat dilihat adanya usaha untuk menyiarkan agama Kristen sampai di kepulauan Talaud melalui kunjungan para pendeta dan penginjil yang ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda dan NZG (Nederlandch Zending Genooschap=Lembaga para pekabar Injil Belanda)). Mengenai kunjungan para pendeta atau Penginjil NZG pada zaman pemerintah Hindia Belanda, Daniel Brilman mencatat:
“Demikianlah dapat dijelaskan, bahwa dalam babakan waktu itu (zaman pemerintah Hindia Belanda) kepulauan Sangi dan Talaud dikunjungi baik oleh pendeta yang ditugaskan oleh pemerintah, maupun oleh Zendeling-zendeling dari NZG dan bahwa NZG ini setiap kali diberitahu tentang pengalaman-pengalaman yang diperoleh kedua pihak ini dengan maksud supaya melibatkan pulau-pulau ini dalam pekerjaan Zending”.17
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pada zaman pemerintah Hindia Belanda, terbentuklah sebuah badan Zending di Negeri Belanda yang bernama Nederlandch Zendeling Genootschap (NZG), 19 Desember 1797. Lembaga Zending ini kemudian bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda turut memainkan peranan penting dalam perkembangan kekristenan di Indonesia. NZG banyak mengirim tenaga Zendeling ke Indonesia, antara lain yang terkenal adalah Joseph Kam (1869-1833), yang dijuluki “Rasul Maluku”. Menurut Th Van den End, “Dialah satu-satunya pendeta di seluruh Indonesia Timur, yang berhak melayangkan sakramen-sakramen di jemaat-jemaat yang terbentang dari kepulauan Sangir di Utara hingga pulau Wetar dan kepulauan Tanimbar di selatan”.18
Menurut Daniel Brilman, pada tahun 1821, Joseph Kam sempat mengirim seorang Zendeling yang bernama J.C. Jungmichel untuk mengunjungi kepulauan Sangihe dan Talaud. Kemudian berturut-turut datang berkunjung Ds.van der Dussen, yang meninggal di pulau Siau dan kuburnya di gereja di Ondong. Juga Ds.G.J.van Hallendoorn, pejabat pendeta di Manado di temani J.F. Riedel dari Minahasa, namun semua kunjungan tersebut tidak membawa hasil yang menggembirakan. Kemudian tahun 1854 Ds.Buddingh mengadakan kunjungan selama Sembilan hari, dan terakhir tahun 1855, NZG mengutus S.D.van der Velde van Capellen untuk menyelidiki keadaaan jemaat-jemaat di kepuauan Sangihe dan Talaud.
16 Lihat, BPH GPI, Landasan Historis, Teologis dan Eklesiologis Gereja Protestan di Indonesia, , 2012
Daniel Brilman melukiskan dengan sangat menarik tentang kunjungan van der Velde van Capllen khususnya di pulau Tagulandang, Ia disambut di tepi pantai oleh penduduk dan anak-anak sekolah sambil menyanyikan lagu dari Mazmur 42 “Seakan Rusa Berdahaga, haus dan letih lesu”. Lagu tsb mengekspresikan kerinduan pendudukan setempat akan berita Injil.19
Brilman memberi catatan, bahwa van der Velde van Capllen, tidak sempat mengunjungi Talaud, namun yang didengarnya di sana (di Talaud, dan juga Sangihe) tidak ada lagi Zendeling seorang jua pun yang bertugas untuk memberitakan Injil kepada masyarakat setempat. Berdasarkan kunjungan tersebut, van der Velde van Capllen memberikan laporan kepada NZG tentang situasi di kepulauan Sangihe dan Talaud, serta untuk mempertimbangkan daerah kepulauan Sangihe dan Talaud untuk menjadi salah satu wilayah penginjilan NZG. Namun hal itu tidak terjadi, karena pelayanan kepulauan Sangihe dan Talaud akan ditangani oleh Badan Zending yang bernama Komisi Zendeling Tukang.20
B. ZAMAN ZENDELING TUKANG DAN SANGIHE AND TALAUD COMITTE (STC)
1. Masa Zendeling Tukang (zendeling Werkleiden)
Pekerjaan penginjilan di kepulauan Talaud mulai mendapat perhatian lebih baik dengan hadirnya para Zendeling Tukang yang diutus oleh Komisi Zendeling Tukang dan kemudian dilanjutkan oleh Sangihe and Talaud Comitte (Komite Sangihe dan Talaud). Komisi Zendeling Tukang (Zendeling Werkleiden) dibentuk pada 1848 di Belanda,
sedangkan Komite Sangihe dan Talaud (Sangihe and Talaud Comitte (STC), yang melanjutkan pekerjaan Zendeling Tukang tsb, dibentuk pada 21 januari 1891.
Laporan tentang penderitaan dan kemelaratan kerohanian yang dialami oleh masyarakat Sangihe dan Talaud, sampai juga di negeri Belanda, baik kepada NZG sendiri, maupun kepada pemerintah Belanda. Daniel Brilman menulis, bahwa “sementara para pengurus NZG sibuk memikirkan usul-usul untuk memasukkan pulau-pulau Sangihe dan Talaud ke dalam lingkungan kerja mereka, maka mereka mendapat kabar dari mentri jajahan, bahwa kesusahan menyangkut masalah rohani penduduk pulau-pulau ini akan ditanggulangi dengan pengutusan empat orang Zendeling-werkleiden (zendeling tukang atau utusan tukang).”21
Komisi Zendeling Tukang dibentuk di kota Amsterdam pada tahun 1848 oleh Pdt.O.G. Heldring dan rekan-rekan-nya, yang tergabung dalam sebuah komunitas yang bernama “Christeljke Vrieden” (Sahabat-sabahat Kristen). Komunitas tersebut mempunyai sebuah majalah yang bernama: “Christelijke stemmen” (Suara Kristen), yang memuat secara luas berita tentang kegiatan-kegiatan di lapangan penginjilan.
Termotivasi oleh keadaan jemaat-jemaat tanpa gembala dari zaman VOC, serta menimnya biaya untuk mendukung pekerjaan Pekabaran Injil pada zaman itu, maka Pdt.Heldring menggagas sebuah rencana baru yaitu: mempersiapkan pemuda-pemuda tangguh yang diperlengkapi dengan berbagai ketrampilan, seperti: pertukangan, membuat cepatu,dsb. sehingga mereka dapat membiayai dirinya sendiri setibanya di daerah penginjilan, tanpa tergantung pada badang Zending yang mengutus mereka. Dengan cara itu, maka kehidupan mereka juga akan menjadi contoh, menjadi garam dan terang bagi penduduk setempat. Metode ini bukan hal baru, hal seperti itu sudah dipraktekkan oleh para saudara Herrhutter Broedergemeenten, dan juga oleh J.E. Gosnner di Berlin-Jerman, yang memiliki “benkel” pendidikan ketrampilan untuk para Zendeling Tukang, yaitu para penginjil yang diperlengkapi dengan ketrampilan, seperti pertukangan,dsb.
Pada tahun 1851 dimulailah tugas pengutusan para zendeling Tukang oleh Komisi tsb. Dalam usianya yang singkat, yaitu antara tahun 1848-1858 Komisi Zendeling Tukang dapat mengutus tidak kurang dari lima puluh orang zendeling, antara lain diutus ke Jawa sebanyak 29 orang, ke Irian 2 orang, ke kepulauan Sangihe dan Talaud 9 orang, 4 orang ke Makasar dan satu orang ke Flores.22
Khusus untuk kepulauan Sangihe dan Talaud, pengutusan Zendeling Tukang di bagi dalam dua rombongan, yaitu, rombongan pertama untuk kepulauan Sangihe terdiri dari 4 orang yakni: Carl W.L.M. Schroder, E.T. Steller, F. Kelling dan A.Grohe.Pada tanggal, 21 Ibid
17 desember 1854 mereka ditahbiskan di Jerman, kemudian mereka berangkat ke Belanda. Pada 27 Maret 1885 empat orang pemuda tersebut dengan Kapal “Stad Scheveningen” bertolak dari kota Rotterdam menuju ke Indonesia, dan tiba di Indonesia pada tanggal, 3 Juli 1855.
Sedangkan rombongan kedua untuk kepulauan Talaud, berangkat dari negeri Belanda pada tanggal, 23 Nopemner 1857, terdiri lima orang pemuda adalah: A.C. Van Essen, P. Gunther, W. Richter, K.E.W. Tauffmann dan Fischer. Mereka tiba di Batavia pada 12 April 1858. Untuk Fischer, Komisi harus memanggilnya kembali ke Belanda karena kekurangan sikapnya selama dalam perjalanan, dan mengembalikan ongkos perjalanannya kepada pemerintah sebanyak 536 Gulden. Oleh karena mereka tidak diteguhkan dan ditahbiskan di Belanda sebelum berangkat, maka mereka tidak diberi Qualificatie-acte (hak sebagai pendeta) oleh penguruh Gereja Protestan, seperti rekan-rekan mereka untuk tujuan Sangihe. Kita dapat membayangkan bagaimana mereka melaksanakan tugas pemberitaan Injil tanpa akte sebagai pendeta. Walaupun demikian, Brilman mencatat bahwa, ”terdesak oleh keadaan, mereka sering melayani baptisan, walaupun tanpa akte itu, tetapi tidak pernah melayani perjamuan asya yang kudus karena situasi kerja.”23
Keempat Zendeling Tukang yang sudah kita sebut di atas, tiba di kepulauan Talaud pada tanggal, 1 Oktober 1859. Brilman menulis bahwa “ mereka untuk sementara waktu tinggal di Lirung, di pulau Salibabu”.24 Jadi para zendeling tukang tersebut, untuk pertama kalinya mendarat di pulau Salibabu, dan kemudian menyebar ke wilayah pelayanan mereka masing-masing yang ada di wilayah kepulauan Talaud.
Bagaimana sikap penduduk setempat menerima kehadiran para Zendeling tukang tersebut? Brilman menulis, bahwa pada mulanya penduduk mengesamping diri dari utusan-utusan Injil, tetapi hanya beberapa bulan saja. Pada tanggal, 15 Desember 1859 telah datang seorang raja yang bernama Bine”ada dari Dalum, sebagian dari desa Salibabu yang terletak dekat Lirung, akan memintakan seorang Zendeling. Jika ada zendeling yang tinggal di wilayahnya maka ia akan membantunya. Tidak lama kemudian datanglah juga permintaan-permintaan yang sama dari raja-raja lain, sehingga rupanya kesempatan untuk bekerja mulai diberikan. Mereka sepakat untuk membagi wilayah itu sedemikian rupa, sehingga Van Essen mendapat pulau Salibabu dan Gunther di pulau
Kabaruan. Pulau besar Karakelang dilayani oleh Tauffman dan Richter. Tauffman tinggal di Beo, sedangkan Richter di Rainis, di sebelah Timur pulau karakelang.25
Keempat Zendeling-Tukang tersebut, segera diperhadapkan dengan tantangan yang berat. Baru satu tahun mereka berada di Talaud, yaitu tahun 1860, terjadi wabah penyakit cacar yang menimpa masyarakat Talaud, sehingga menimbulkan korban yang luar biasa. Brilman menulis, bahwa penderitaan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, jumlah kematian begitu besar, syukurlah para Zendeling tidak terkena penyakit tersebut dan mereka sempat memberi pertolongan dimana-mana.” Kemudian menyusul wabah kelaparan, tahun 1862. Tahun berikutnya masyarakat harus menghadapi serangan dari 300 orang perompak dari Mindanao (Philipin Selatan). Dan kebetulang ada kapal Perang Hindia Belanda yang bernama “Reteh, yang sementara mengunjungi Talaud dan mengusir para perompak tersebut. Dalam perang tersebut, seorang Letnan Laut I, Joly, tewas pada tanggal, 18 April 1862. Ia dikuburkan di pulau kecil Nusa Dalam dekat desa Lobbo dan kuburnya diberi bentuk seperti tempat Komando di Kapal, dan pulau itu diberi nama pulau Joly.
Tantangan yang dihadapi oleh keempat Zendeling Tukang tsb, tidak hanya berkaitan dengan masalah sosial, wabah penyakit, kelaparan dan peperangan, tetapi juga kesulitan hubungan (komunikasi) dan transportasi, baik dengan Manado, yang mengakibatkan pengiriman bahan makanan tidak mungkin dilakukan secara teratur, sehingga mereka harus menyesuaikan diri dengan makan makanan penduduk setempat. Demikian pula hubungan dengan Badan Zending di Belanda sangat sulit, sehinga mereka jarang mendapat kiriman dari Belanda, padahal mereka sangat membutuhkan bantuan untuk keperluan-keperluan pengembangan pendidikan (sekolah) dan jemaat, serta kebutuhan lain, seperti pakaian dan bahan makanan. Pada tanggal, 26 Nopember 1862 akhirnya Van Essen meletakkan pekerjaannya dan menerima pekerjaan sebagai wakil kepala gudang pada gubernemen di Tondano-Minahasa. Pada kemudian hari ia membuka sebuah toko di Manado, di mana ia membantu dengan meneruskan barang-barang kiriman untuk saudara-saudara di Talaud.26
Tempat lowong dari Van Essen di Lirung, kemudian diganti oleh Tauffman dari Beo. Pada tahun yang sama, Maret 1862, istri dari Tauffman meninggal di Manado. Tauffman kemudian menikah lagi dengan nona Helena winter dan memulai pekerjaannya di Lirung pada 1863. Namun tidak berapa lama kemudian, ketika Grohe dari Siau pindah ke Tamako di Sangihe, maka Tauffman meninggalkan Lirung untuk berdiam di Siau. Maka
tinggallah dua orang Zendeling yang melayani seluruh kepulauan Talaud yaitu: Gunther di kabaruan dan Richter di Rainis. Dari Rainis di sebelah Timur, Richter kemudian pindah ke Essang di sebelah barat pulau Karakelang, dengan harapan di tempat yang baru tersebut dia akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugas pemberitaan Injil.
Namun tidak beberapa lama kemudian, raja Sariu dari Beo menjemputnya untuk tinggal dan melayani di Beo, dimana ia tiba di Beo pada 4 Mei 1864. Zendeling Richter kemudian menikah dengan Carolina, putri raja Sariu di Beo. Sedangkan Zendeling Gunther juga menikah dengan Rosalina Samawi, gadis dari Mangaran. Kedua Zendeling tersebut, menjadi bahagian dari masyarakat kepulauan Talaud sampai akhir hidup mereka tinggal dan bekerja di Talaud.27 Dengan menikahi putri-putri Talaud tersebut, kedua Zendeling Tukang tersebut mulai belajar hidup dengan cara kehidupan orang Talaud, baik dalam soal makan dan minum, dalam pergaulan sehari-hari, maupun dalam memahami serta mempelajari adat budaya masyarakat Talaud. Walaupun tanpa kiriman bantuan makanan, minuman dari Belanda, karena praktis mereka tidak lagi mendapat bantuan dari Komisi Zendeling Tukang, yang sudah tidak aktif lagi setelah Pdt.O.G.Heldring meninggal beberapa tahun setelah para zendeling tukang itu tiba di Talaud, namun mereka bisa hidup di Talaud, karena dukungan keluarga dan masyarakat Talaud. Sudah tentu dalam keseharian hidup mereka, selalu terjadi interaksi dan sosialisasi dengan masyarakat setempat. Sudah tentu pula mereka harus belajar cara hidup, adat budaya atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat Talaud, dan sementara itu mereka harus memperkenalkan Injil dalam konteks masyarakat Talaud zaman itu.
yang baru, yaitu masyarakat kepulauan Talaud, dengan segala tantangan yang dialami-nya. Dikemudian hari interaksi yang dinamis antara Injil (kekristenan) dan adat budaya masyarakat Talaud, menghasilkan sebuah bentuk kekristenan yang khas suku Talaud, yang sampai saat ini tetap eksis di tengah arus globalisasi.
W.Richter meninggal pada tanggal 25 Mei 1885 dan dikeburkan di Beo, sedang P.Gunther meninggal di Mangaran, tiga tahun sesudah Richter dipanggil oleh Sang Pengutusnya. Gunther dikuburkan di Mangaran, dan kuburnya sekarang ini berada di samping gedung Gereja (GERMITA) Maranatha Mangaran. Hasil pekerjaan dan pengabdian kedua Zendeling tersebut, ternyata tidak sia-sia. Mereka telah meletakkan fondasi Kekristenan di kepulauan Talaud, di sebuah wilayah di NKRI yang perbatasan dengan Negara tentangga Philipina. Pekerjaan mereka di kemudian hari dilanjutkan oleh para zendeling yang diutus oleh Sangihe and Talaud Comite (Komite Sangihe dan Talaud).
2. MASA SANGI-EN TALAUD COMITE (STC)
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa Komisi Zendeling Tukang yang dibentuk oleh Pdt.Heldring hanya bekerja dalam waktu yang singkat, yaitu: antara tahun 1848-1858. Hal tersebut mengakibatkan berbagai kesulitan dan penderitaan bagi para Zendeling Tukang yang diutus keberbagai daerah, termasuk di kepulauan Talaud. Para Zendeling Tukang tersebut kemudian kehilangan hubungan dengan lembaga yang mengutus mereka, karena lembaga atau badan yang mengutus mereka sudah tidak aktif lagi. Ketrampilan bertukangan (membuat kereta atau sepatu) yang dimiliki oleh para Zendeling Tukang tersebut, tidak bisa digunakan karena masyarakat di tempat mereka bekerja belum memiliki kebiasaan memakai sepatu dan tidak mempunyai Kereta. Syukurlah pemerintah Belanda bersedia membantu biaya kehidupan para zendeling, dengan memberikan 400 Gulden setiap tahunnya untuk para Zendeling Tukang di Talaud.
Setelah Para Zendeling Tukang meninggal, maka kesulitan-kesulitan akan tenaga Zendeling di kepulauan sangihe dan Talaud ditangani oleh sebuah Komite, yang disebut: Komite Sangihe dan Talaud atau Sangi- en Talaud Comite (STC).28 Komite ini dibentuk pada tanggal 30 Maret 1887 oleh beberapa lembaga Zending di negeri Belanda, yaitu: NZG, NZV (Nederlandse Zendings Vereniging), UZV (Uthrechte Zendingsverenining) dan Komite Jawa di Belanda. Jadi sebenarnya kesulitan tenaga Zending di Kepulauan
28 Untuk uraian pada bagian ini dapat dilihat dalam Daniel Brilman, halaman 132-138; Lihat juga Th.van den End dan J.Weitjens, RAGI CARITA 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an Sekarang,
Sangihe dan Talaud, telah mendorong dimulainya kerjasama antara beberapa lembaga atau Badan Zending di negeri Belanda. Hasil kerjasama beberapa lembaga zending tersebut adalah terbentuknya Sangi-en Talaud Comite (STC) atau Komite Sangihe dan Talaud. Komite tersebut, ternyata cukup berperan dalam melakukan usaha-usaha penginjilan di kepulauan Sangihe dan Talaud. Komite itu juga bekerja dengan lancar, sehingga tidak kurang dari 11 (sebelas) orang pemuda diutus, di antaranya 7 (tujuh) orang diutus di kepulauan Talaud.
Pengutusan pertama oleh Sangi-en Talaud Comite (STC), berlangsung pada tanggal, 6 Oktober 1887 di gereja Nieuwe Kerk Amsterdam, dimana M.Kelling, W.T.Vonk dan J.C.G. Ottow ditahbiskan untuk tugas pekerjaan mereka. Mereka ini segera berangkat, tiba pada tanggal, 22 Desember 1887 di Batavia dan sampai di tempat tugas mereka pada permulaan tahun 1888. W.T. Vonk dan J.C.G. Ottow ditempatkan di Talaud, sedangkan M. Kelling di Tamako, Sangihe Besar.
Pendeta J.C.G.Ottow berdiam di Beo di pulau Karakelang, ia telah menikah dengan Nona Adr. Van der Sluys. Sedangkan Pendeta W.T.Vonk tinggal di Moronge di pulau Salibabu. Mereka meneruskan pekerjaan Richter dan Gunther. Lebih dari satu tahun setelah kedatangan Pdt.Vonk, yaitu pada bulan Agustus 1888, ia memberitahukan bahwa sudah ada 350 orang dibaptisnya. Di sampaing itu juga sudah mulai terjadi perubahan dalam kehidupan masyarakat yang suka perang, membunuh, namun kini tidak terjadi lagi. Vonk tidak bekerja lama karena pada 1890 ia harus kembali ke negeri Belanda karena sakit.
Sementara itu, Pendeta Ottow di Beo mulai membuka sekolah. Ia mengangkat seorang guru dari Sangihe, yang bernama D.Kathiandagho yang dikirim oleh Pendeta Steller, menjadi kepala sekolah.Para pemimpin dan masyarakat sangat senang dengan pemimpin baru tersebut, namun tidak terlintas dalam pemikiran untuk membuat sebuah rumah yang layak untuk sang Zendeling. Ottow menyesuaikan hidupnya dengan masyarakat setempat. Pernah ia menukar kiriman kain bajunya dengan biji (buah) kelapa dan dengan buah kelapa tersebut ia membuka kebun jemaat. Pernah pula Ottow menukar kiriman yang berisi makanannya dari Eropa ditukarnya untuk keperluan sekolah.
33 (tiga puluh tiga) orang anggota sidi di Salibabu. Itulah pelayanan perjamuan Kudus pertama di kepulauan Talaud. Ottow kemudian menyerahkan tugas kepada penggantinya pada tanggal, 4 September 1892, dan keluarga Ottow berangkat ke Jawa dimana ia menerima tugas sebagai guru sekolah negeri.
Pada tanggal, 28 Agustus 1892, tibalah seorang Zendeling baru yaitu Pendeta J.R.van Bovenkamp, sebagai pengganti Pendeta W.T.Vonk. Bovenkamp adalah zendeling kedua yang diutus oleh STC dari negeri Belanda. Ia datang bersama istrinya (Nona van der Wilde), seorang pendidik (guru) dan mereka tinggal di desa Moronge, pulau Salibabu. Bovenkamp melanjutkan tugas Pendeta Ottow dan Pendeta Vonk, melayani serta mengembangkan jemaat yang sudah ada di Moronge dan di tempat yang lain di pulau Salibabu. Bovenkamp, sebagaimana ditulis oleh Brilman adalah seorang laki-laki yang berpendirian sangat teguh, yang sangat selektif membaptis orang dewasa, tetapi juga tidak bersedia membaptis anak di luar nikah, dengan maksud untuk menentang kehidupan asusila dari masyarakat Talaud.29
Sementara itu istri dari Pdt. Bovenkamp, yaitu: van der Wilde, sebagai seorang guru memberikan perhatian besar terhadap pendidikan/pengajaran bagi para pemuda dan pemudi, pendidikan anak-anak sekolah minggu, serta pelayanan kepada orang-orang sakit. Pendeta Bovenkamp bersama istrinya, bekerja dengan penuh dedikasi dan penuh semangat, serta sungguh-sungguh merasakan penyertaan Tuhan dalam pekerjaan mereka. Pada tahun 1896 van der Wilde, istri Bovenkamp dipanggil oleh Sang Pemilik Hidup, kembali ke rumah Bapa, dan dikuburkan di desa Moronge, bersama dengan anak mereka yang masih kecil. Bovenkamp kemudian mengirim seorang anak satu-satunya ke negeri Belanda, sedang Ia sendiri tetap melayani di Talaud, sampai akhir hidupnya. Ia dikuburkan disamping istrinya, dan anaknya yang ia kasihi. Kuburan keluarga Zendeling tersebut berada di halaman gedung Gereja jemaat GERMITA Nazareth Moronge, yang sampai hari ini kuburan tersebut tetap dirawat, dipelihara oleh jemaat di Moronge.
Sementara itu, tugas pelayanan Zendeling di Beo (pulau karakelang) ditangani oleh Pendeta G.E. Schroder, yang tiba pada tanggal 14 Mei 1894. Namun dua tahun kemudian, Schroder berangkat ke pulau Sangir Besar untuk melanjutkan tugas Tauffmann. Tugas tersebut diganti oleh J.P.D.den Houter, yang menerima tanggung jawab untuk seluruh pulau Karakelang. Tugas pemberitaan Injil di kepulauan Talaud berkembang terus sehingga pada tahun 1899 sudah seperti tiga penduduk Talaud di Baptis.
Dalam tahun 1899, Komitte mengutus seorang Zendeling lagi untuk Talaud, yaitu Pdt. Abr.Pennings, yang tiba di Talaud pada tanggal, 30 Juni 1900, dan bertempat tinggal di
Rainis, di pantai Timur pulau karakelang. Tidak berapa lama kemudian Pennings pindah ke Beo untuk menggantikan Den Houter yang berangkat ke Belanda karena sakit, yang kemudian meninggal di Makasar pada 21 Pebruari 1903. Demikianlah Zendeling yang ketiga di utus oleh Komitte tinggal Pennings seorang diri melayani Talaud. Dari Beo, Pennings kemudian pindah ke Lirung. karena di Lirung ada hubungan kapal yang lebih baik dengan Manado. Dalam tahun 1903 tempat zendeing di Beo ditempati oleh Pendeta J.P. Talens, yang segera memindahkan tempat kerjanya di desa Kiama, bagian selatan pulau Karakelang. Pekerjaan J.P. Talens, diteruskan oleh H.J. Stokking yang melayani pulau Salibabu sampai pulau-pulau Nanusa, J.A. Zwaan di Kiama, W. van de Beek, K. Seibold, Daniel Brilman di Beo tahun 1938 dan Pendeta W.B. de Weerd di Lirung dan melayani sampai kepulauan Nanusa (1938-1947). Sesudah mereka pekerjaan Misi dilanjutkan oleh para pendeta pribumi, antara lain Pendeta Madellu, Pendeta Lumente dan Pendeta S.P.Majusip.
Karya para Zende;ing Eropa pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 akhirnya membuahkan organisasi pelayanan dengan berdirinya Gereja Masehi Injili Sangihe dan Talaud (GMIST) pada tanggal, 25 Mei 1947. Jemaat-jemaat di Talaud yang terbentuk melalui karya pekerjaan para Zendeling Tukang tersebut, diintegrasikan ke dalam wilayah pelayanan GMIST yang berpusat di Tahuna (Sangir Besar).
C. ZAMAN GMIST (1947-1997)
GMIST ke IV tahun 1951 di Tahuna. Saya mengutip panjang lebar tentang tulisan dalam buku Sejarah Ringkas Berdirinya GERMITA tersebut, demikian:
“Fakta sejarah mencatat bahwa pada tahun 1951 tepatnya tanggal, 26-27 Juni, dalam satu rapat di Lirung Talaud yang dihadiri ketua Sinode GMIST – Pendeta Jahya Salawati, telah muncul kesepakatan: PEMBENTUKAN GEREJA PROTESTAN TALAUD (disingkat, GPT). Atas pengakuan GMIST terhadap keberadaan GPT sehingga dalam sidang sinode GMIST di Tahuna dari tanggal, 2-6 Juli 1951, utusan GPT diundang secara resmi untuk hadir. Undangan resmi Badan Pekerja Sinode GMIST kepada GPT melalui surat yang ditandatangani oleh Pendeta Pietres Lantemona selaku Sekretaris Sinode GMIST waktu itu, atas nama ketua sinodenya. Isi surat tersebut antara lain mengatakan: “Adalah suatu kesukaan di dalam hati kami anggota-anggota Sinode, bahwa adalah datang utusan yang akan membawa suara GPT, bagai bunyi kokok ayam pada fajar raya yang akan memaklumkan bahwa terang akan terbit” (Arsip asli surat tersebut ada pada file sinode GERMITA sampai kini).31
Namun demikian ternyata nantilah di Sidang Sinode Tagulandang barulah sinode Talaud diakui dan diterima dengan nama Dewan Djemaat Masehi Talaud (DDMT). Bahkan keputusan Sinode tersebut ditindak lanjuti dengan adanya penunjukkan dan pengangkatan Dewan Pengurus DDMT dengan surat Keputusan Ketua Sinode GMIST no.15/P.C tanggal, 30 desember 1952 dan dinyatakan berlaku surat terhitung tanggal, 1 Nopember 1952. Badan Pengurus DDMT tersebut terdiri dari: Ketua Pdt.R. Megansa, Penulis sekaligus Bendahara S.P. Majusip dan Pembantu terdiri dari Pdt.E. Lumeling, Pdt.Johanes Riung dan Guru Injil D. Bambulu.”32.
Disebutkan juga alasan (motivasi) pembentukan DDMT tersebut, dituliskan demikian:
“Dalam Konsiderans Surat Keputusan tersebut, amat jelas dinyatakan dua alasan pembentukan Dewan Djemaat Masehi Talaud, yaitu: Pertama, Kesulitan hubungan transportasi antara pulau Sangir dan Talaud sebagai konsekwensi logis dari keadaan geografis. Sangat sulit bagi Pengurus Sinode yang berpusat di Tahuna untuk menjangkau jemaat-jemaat di pulau-pulau Talaud dan hal ini berakibat fatal terbengkalainya pelayanan bagi jemaat-jemaat di pulau Talaud. Kedua, agar terjamin pekerjaan pelayanan Gereja Tuhan secara `lancar, efektif dan bertanggung jawab”.33
Walaupun secara konstitusional pembentukan DDMT telah disetujui oleh Sidang Sinode GMIST V di Tagulandang, namun dalam kenyataannya di lapangan tidak dapat dilakukan sehingga pelayanan terhadap jemaat-jemaat di kepulauan Talaud tetap dilaksanakan oleh BPS GMIST, yang berpusat di Tahuna.
Waktu berjalan terus, aspirasi pembentukan Sinode Talaud kemudian diangkat lagi dalam Sidang Sinode Lengkap GMIST XVIII di Beo-Talaud, 1986. Ketua Sinode GMIST Pdt.E. Salamate, S.Th selaku pimpinan Sidang menanggapi aspirasi dan kerinduan berdirinya sinode Talaud dalam forum SSL GMIST, tersebut, mengatakan: “Tentang Sinode Talaud, perlu ada pembahasan dan percakapan yang lebih luas dan mendalam, yang penting mana yang terbaik “.34 Selanjutnya dicatat dalam notulen sidang tersebut, bahwa :”mendengar usul tentang pembentukan Sinode Talaud, hal ini menjadi perhatian Badan Pekerja Sinode, namun dalam masa bakti ini (1986-1991) belum waktunya untuk dikembangkan”.35 Dalam sidang di Beo itu, turut hadir Sekum MPH PGI Pdt.Dr.Fridolin Ukur dan Sekretaris Sinode Am SAG Sulutteng, Pdt.J.R. Sumakul, S.Th. bersama beberapa Ketua SInode SAG Sulutteng.
Dalam Sidang Sinode Lengkap GMIST XIX Tahun 1991 di Tagulandang melanjutkan diskusi dan pembahasan Sinode Talaud, dengan hasilnya yaitu: Sidang menugaskan Badan Pengurus Lengkap Sinode GMIST masa bakti 1991-1995 untuk membentuk Panitia Studi Kelayakan bagi persiapan pendirian Sinode Talaud. Amanat Sidang tersebut dilaksanakan oleh BPS GMIST, yang kemudian hasil Panitia Study Kelayakan tersebut, dilaporkan dalam SSL GMIST XX di Moronge Talaud tahun 1996, untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pembentukan Sinode Talaud.
Puncak pergumulan Gereja sekitar persiapan pembentukan Sinode Talaud terjadi dalam Sidang Sinode Lengkap GMIST XX Tahun 1996 di Moronge Talaud. Sidang Sinode Lengkap GMIST ini berlangsung pada tanggal, 24-30 Oktober 1996. Aspirasi dan kerinduan jemaat-jemaat di Talaud untuk berdiri sendiri sebagai satu Sinode dalam rangka mendekatkan pelayanan di kepulauan Talaud, akhirnya diterima oleh seluruh peserta Sidang Sinode Lengkap GMIST tsb, dengan sebuah keputusan yaitu membentuk PROTO SINODE TALAUD.
Gambar 7: Pakaian adat budaya masyarakat Talaud dalam acara syukur memasuki Tahun baru (Marangkattu Tonna) di Beo Talaud.
D. BERDIRINYA SINODE GERMITA (1997- Sekarang)
Jemaat-jemaat di Kepulauan Talaud meyakini bahwa berdirinya GERMITA adalah buah dari pekerjaan Roh Kudus sendiri melalui umat-Nya, demi dan untuk kemuliaan nama TUHAN. Pengakuan ini ditulis dalam Pembukaan Tata Dasar GERMITA, sebagai ungkapan iman jemaat-jemaat di Talaud bahwa berdirinya GEREJA adalah atas kehendak Tuhan Allah sendiri melalui pergumulan dan kerja keras umat-Nya di kepulauan Talaud.
Setelah melewati masa perjalanan yang sangat panjang melalui pergumulan dari sidang ke sidang pada masa GMIST, pada akhirnya aspirasi pembentukan Sinode Talaud tersebut diterima dalam Sidang Sinode Lengkap GMIST XX Tahun 1996 di Moronge Talaud. Sidang Sinode lengkap memutuskan Pembentukan PROTO SINODE TALAUD, sebelum menuju kepada satu sinode yang mandiri. Untuk keperluan tersebut, maka dibentuk Komisi Proto Sinode Talaud, dengan maksud mempersiapkan segala sesuatunya untuk pembentukan Sinode Talaud, dengan Ketua adalah Pdt.F. Majusip, M.Th dan sekretarisnya Pdt. W.B. Pandenaa.
Dua buah surat Keputusan Pimpinan Sidang Sinode Lengkap XX GMIST terbit dalam rangka menindak lanjuti amanat SSL GMIST XX di Moronge 1996, yaitu:
Sesudah Sidang Sinode Lengkap GMIST di Moronge-Talaud, Komisi kerja ini bekerja secara maksimal dan sangat serius mengadakan persiapan-persiapan kearah pembentukan sinode Talaud, dengan mengadakan kajian-kajian study kelayakan, seminar-seminar dan lokakarya. Berbagai pihak dilibatkan dalam study, seminar-seminar dan lokakarya, termasuk mengembangkan hasil studi kelayakan dari Sinode Am (SAG) Sulutteng (Sulawesi Utara dan Tengah).
Untuk mempersiapkan pembentukan Sinode Talaud, maka dibentuk Panitia Persiapan Talaud Bersinode, yang akan membantu tugas Komisi Kerja Proto Sinode Talaud. Tugas Panitia tersebut antara lain adalah: 1. Menyusun Tata Gereja dan Peraturan Gereja; 2. Menyusun Garis-Garis Besar Tugas Panggilan GERMITA untuk masa 5 (lima) tahun; 3. Menyusun RAPB (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja) GERMITA; dan 4. Merumuskan Sistem Pelayanan, Bentuk dan Struktur Organisasi GERMITA dan Tata laksana keuangannya. Dalam waktu kurang lebih satu tahun semua tugas tersebut dapat dikerjakan oleh Panitia Persiapan Talaud Bersinode, sehingga ketika GERMITA terbentuk pada tanggal, 23 Oktober 1997, semua yang berhubungan dengan kelengkapan organisatoris (kelembagaan Gereja), Tata Dasar/Peraturan Gereja, Garis-Garis Besar Program, Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB),dan lain sebagainya, sudah siap untuk ditetapkan dalam sidang sebagai dokumen resmi gereja.
Kedua, sesudah pelaksanaan Sidang Sinode Lengkap GMIST XX 1996, maka terjadi pergantian pimpinan GMIST untuk masa bakti 1996-2001. Badan Pekerja Sinode GMIST yang baru inipun mengeluarkan Surat Keputusan tentang Komisi Kerja Proto Sinode Talaud lewat Surat Keputusan bernomor: 001/KPTS/IV.2/G/1997 tertanggal, 20 Oktober 1997, jumlah anggota Komisi 21 orang, kemudian diramping menjadi 15 orang. Komisi ini dilantik oleh Ketua Sinode GMIST (Pdt.M.A.Lamorahan, S,Th) dalam sebuah ibadah Raya di lapangan PAMIL Lirung pada tanggal, 23 Oktober 1997 jam 10.00 Wita, bertepatan dengan perayaan syukur “Injil Masuk” Talaud yang ke 138.
Sinode Talaud. Sidang Proto Sinode Talaud pada akhirnya mengeluarkan keputusan tentang:
1. Tata Tertib Sidang dan Pimpinan Sidang (Keputusan No.001/SPTS/X/1997. 2. Pembentukan Sinode Talaud (Keputusan No.002/SPTS/X/1997.
Atas kesepakatan seluruh peserta Sidang Proto Sinode Talaud, maka sidang tersebut ditingkatkan menjadi Sidang Sinode GERMITA I, yang menetapkan beberapa keputusan penting, yaitu:
1. Menetapkan Naskah Tata Dasar GERMITA (Keputusan Sidang Sinode I GERMITA no.001/SSL-I/X/1997);
2. Naskah Garis-Garis Besar Tugas Panggilan Gereja (Keputusan Sidang Sinode I GERMITA no.002/SSL-I/X/1997);
3. Seruan Penggembalaan (Keputusan Sidang Sinode I GERMITA no.003/SSL-I/X/1997);
4. Hasil Pemilihan Majelis Pimpinan (Pengurus) Sinode GERMITA periode 1997-2002. (Keputusan Sidang Sinode I GERMITA no.004/SSL-I/X/1997);
Sidang Sinode GERMITA I diakhiri dan ditutup dengan ibadah sekaligus pelantikan dan peneguhan Majelis Pimpinan Sinode GERMITA, oleh Pendeta tertua Pdt.Th. Puansalaing. Dan sebagai Ketua Sinode GERMITA pertama adalah: Pdt.F. Majusip, M.Th dan Sekretaris Umumnya adalah Pdt.W.B. Pandenaa.
Sesudah pelaksanaan Sidang Sinode GERMITA I, maka Majelis Lengkap Sinode memulaikan tugasnya, memimpin Bahtera GERMITA mengarungi lautan pelayanan yang luas di tengah dunia ini, khususnya di tengah-tengah masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang bereformasi. GERMITA sebagai organisasi keagamaan terbesar yang melayani di Kabupaten Kepulauan Talaud, sebagai daerah Perbatasan Negara Negara Republik Indonesia, berjuang, bersaksi dan melayani untuk mewujudkan Visi-nya, yaitu: Terwujudnya Masyarakat Syalom di Talaud dan dunia pada umumnya.
(Sidang MPL-PGI). Sidang MPL PGI tersebut di laksanakan di Melonguane, ibu kota Kabuapten Kepulauan Talaud, dan mengambil tema: “Merkuat Nasionalisme Dengan Membangun Daerah Perbatasan”. Pesta iman tersebut berlangsung dengan lancar, aman dan sukses, serta menghasilkan berbagai keputusan penting untuk memperkokoh gerakan oikumene dan nasionalisme dengan memperhatikan pembangunan daerah perbatasan, antaranya wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe,Talaud dan Sitaro, sebagai wilayah perbatasan dengan negara tetangga Philipina.
Dalam hubungan dengan kemitraan gereja di luar negeri, GERMITA sampai sekarang membangun hubungan kerjasama dengan lembaga Mission 21 (M21) yang berpusat di Swiss, dan Gereja di Belanda (PKN, Protestanstse Kerk in Nederland), yang dulunya melaui Sinode Am Gereja-gereja Sulawesi Utara dan Tengah (SAG Sulutteng) dan sekarang melalui MPH PGI.
Dalam rangka tugas panggilannya di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka GERMITA bersedia membangun hubungan kerjasama dengan semua elemen masyarakat, termasuk di dalam NGO (Non Goverment Organitation), dan dengan pihak pemerintah guna bersama-sama memperjuangan kehidupan masyarakat Indonesia yang maju, adil, sejahtera, demokratis, menghargai Hak-hak asasi manusia, kesetaraan gender serta turut menjaga keutuhan ciptaan Tuhan (Justice, peace, and Ingtrity of Creation). GERMITA berkomitmen agar kehadirannya di dunia ini sungguh-sungguh “bermakna” bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, dan khususnya bagi masyarakat di Kepulauan Talaud, sebagai daerah perbatasan Negara Indonesia.
PENUTUP
Demikianlah gambaran umum sejarah GERMITA, yang diawali dengan proses pekabaran Injil dari para Misionaris Portugis pada abad ke-16, dan terutama secara intensif oleh para zendeling dari negeri Belanda dan Jerman pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dan, setelah kurang lebih hampir lima puluh tahun berada di dalam naungan Gereja Masehi Injili Talaud, maka sejak 23 Oktober 1997 jemaat-jemaat di kepulauan Talaud berdiri sendiri menjadi sebuah gereja yang mandiri untuk bersaksi dan melayani di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya di kabupaten kepulauan Talaud.
R.I. ke-7 (Jokwi-JK), hanya berpaut tiga hari. Hal ini mengisyaratkan bahwa momentum perayaan HUT GERMITA tahun ini tidak harus dirayakan dengan segala macam pesta pora, tetapi dengan penuh kesederhanaan dan penuh hikmat, sambil berefleksi tentang arti dan makna kehadiran-nya di tengah-tengah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang sedang melakukan agenda-agenda reformasi (pembaharuan), tetapi juga sedang diperhadapkan dengan berbagai masalah sosial, seperti: kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, radikalisme, traffiking, kerusakan alam,dsb. Tema: “TUHAN mengangkat kita dari Samudera Raya” (Band. Mazmur 71:20b), menjadi kekuatan dan pengharapan kita bahwa di tengah-tengah berbagai persoalan tersebut, TUHAN tidak pernah meninggal kita dalam menghadapi berbagai masalah tersebut. Ia akan mengangkat, menolong dan memampukan kita untuk dapat menjadi “garam” dan “terang” bagi dunia di sekitarnya (Matius 5:13-14). Semoga GERMITA akan semakin menjadi berkat bagi masyarakat yang ada di “bumi Porodisa”, di Kabupaten kepulauan Talaud, bahkan di dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara
Indonesiapadaumumnya.
Penulis, Pendeta GERMITA, sedang mengikuti program study S3 di Program Pasca Sarjana Teologi UKIT- Tomohon.
Bersama Pdt.Gomar Gultom (Sekum PGI) di depan gedung gereja
SUMBER BACAAN
1. Badan Pekerja Harian Gereja Protestan di Indonesia, Sejarah Gereja Protestan Di Indonesia, Jakarta, 2005
2. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kepulauan Talaud, Kepulauan Talaud Dalam Angka 2014.
3. Brilman, Daniel, Wilayah-Wilayah Zending Kita: Zending Di Kepulauan Sangi dan Talaud, Tahuna, Badan Pekerja Sinode GMIST, 1986
4. Bosch, J. David, Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi Yang Mengubah dan Berubah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997
5. Enklaar, I.H. dan Berkhof, H, Sejarah Gereja, BPK Gunung Mulia, 1996
6. Kaunang, Ivan R.B., Bulan Sabit di Nusa Utara, Perjumpaan Islam dengan Agama Suku di Kepulauan Sangihe dan Talaud, Yogyakarta: Lintang Rasi Aksara Book, 2013
7. Mengkelo, Ilham Daeng, Kota Seribu Gereja: Dinamika Keagamaan dan Penggunaan Ruang di Kota Manado, Yogyajarta: Penerbit Ombak, 2010
8. MPH Sinode GERMITA, Sejarah Ringkas Berdirinya GERMITA (Gereja Masehi Injili Talaud), Unit Percetakan Sinode GERMITA, 2000
9. Roeroe, W.A., Peranan Para Tua-tua dalam Naskah-naskah Perjanjian Lama, Tomohon: UKIT Press, dan Lembaga Telaah Agama dan Kebudayaan (LETAK), 2008
10. ____________, Menghidupkan Yang Remuk Hatinya: Khotbah Pembukaan Sidang-Sidamg Sinode Gereja Masehi Injili Minahasa 1979-1990, Tomohon-Kakaskasen, 1990
11. Siwu, R.A.D, et.al., Melayani Gereja dan Masyarakat Secara Utuh: Buku Penghormatan 80 Tahun Pdt.Prof.W.A.Roeroe, Tomoho: UKIT Press, 2013
12. Soleiman, Yusak, Historical Research for Our Churches – Current situation (paper), Het Utrechts Archief- 7-9 April 2010.
13. ---, How to put the Documents in contexts (paper), Jakarta and Utrecht, Maret-April 2010, dalam Huub Lems (ed.), Mission History and Mission Archives, Amersfoort, 2012.
14. Tingginehe, R.R dan Maanema,A, Talaud Setangkai Melati Pertiwi, Pulman AS, 1984
15. Tontey, Max Edward, Hinggilrindang, Hintalrunang Dan Hintakinang: Nilai Kultur dan Kekristenan Bantik Minanga-Malalayang, dalam R.A.D. Siwu, dkk, Melayani Gereja dan Masyarakat Secara Utuh: Buku Penghormatan 80 Tahun Pdt.Prof.Dr.W.A. Roeroe, Tomohon:
16. Ukur, Fridolin, Tuaiannya Sungguh Banyak: Sejarah Gereja Kalimantan Evanglis Sejak 1835, BPK Gunung Mulia, 2000
17. Ulaen, J. Alex, Nusa Utara Dalam Peta Sejarah Bahari (Kumpulan Tulisan 2003-2004),
Pusat Kajian Komunitas Adat dan Budaya Bahari, Manado, 2010
18. Ulaen, J.A. dkk., Sejarah Wilayah Perbatasan Miangas-Filipina 1928-2010, Dua Nama Satu Juragang, Jakarta: Gramata Publishing, 2012
19. Ulaen, J.A, & Hayaze, Sinsho,Silsilas/Tarsilas (Genealogies) And Historical Narratives In Saranggani Bay And Davao Gulf Regions, South Mindanao, Philippines, And Sangihe Talaud Islands North Sulawesi Indonesia, Jepang: Kyoto University: Center For Southeast Asian Studies, 1999
20. Van den End, Th, Harta Dalam Bejana, Sejarah Ringkas, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997
21. ______________, Ragi Carita 1, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999
22. ______________, Ragi Carita 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012
23. Wengert, Timothy.J, and Brockwell, Charles. W, (ed.), Telling the Churches’ Stories: Ecumenical Perspektives on Writting Christian History, William B.Eerdmans Pubhlishing Company, Grand Rapids, Michigan/Cambrige, U.K., 1995
24. Yewangoe, A.A., Potret Kekristenan di Indonesia, dalam Lempas, Jeffrie.A.A, dkk (ed.),