Daftar Isi
Skenario 1
Kata Sulit 2
Pertanyaan 2
Jawaban 2
Hipotesis 4
Sasaran Belajar
LI.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Saluran Pernafasan Atas LO1.1 Makroskopis
LO1.2 Mikroskopis
LI.2 Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Pernafasan dan Mekanisme Pertahanan Saluran Pernafasan Atas
LI.3 Memahami dan Menjelaskan Rhinitis Alergi LO3.1 Definisi dan Klasifikasi Rhinitis Alergi LO3.2 Etiologi Rhinitis Alergi
LO3.3 Epidemiologi Rhinitis Alergi LO3.4 Patofisiologi Rhinitis Alergi LO3.5 Manifestasi Klinis Rhinitis Alergi
LO3.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding Rhinitis Alergi LO3.7 Tatalaksana Rhinitis Alergi
LO3.8 Pencegahan Rhinitis Alergi LO3.9 Komplikasi Rhinitis Alergi LO3.10 Prognosis Rhinitis Alergi
LI.4 Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam tentang Pernafasan Daftar Pustaka
Skenario
Seorang laki-laki, umur 20 tahun, selalu bersin-bersin di pagi hari, keluar ingus encer, gatal di hidung dan mata. Keluhan juga timbul bila udara berdebu. Keluhan ini sudah dialami sejak kecil. Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit serupa, kecuali penyakit asma pada ayah pasien.
(Skenario bertingkat, informasi selanjutnya tentang scenario tanyakan ke tutor)
Kata Sulit
1. Asma: Serangan berulang dispnea paroksismal dikarenakan peradangan jalan napas dan kontraksi spasmodik bronkus.
Pertanyaan
1. Apa hubungan penyakit asma ayahnya dengan penyakit dia sekarang?
2. Mengapa bersin terjadi di pagi hari?
3. Mengapa mata terasa gatal?
4. Apa saja faktor resiko dari penyakit ini?
5. Apakah ada hubungannya memasukkan air ke dalam hidung dengan penyakit ini?
6. Apakah berbahaya atau tidak jika terjadi secara kronik?
7. Mengapa concha nasalis inferior mengalami udem?
8. Apa saja tanda rhinitis alergi?
9. Apa saja faktor pencetus rhinitis alergi?
10. Apakah rhinitis alergi bisa sembuh total?
11. Apa patofisiologi rhinitis alergi?
12. Apa saja pemeriksaan yang dibutuhkan?
13. Apa saja penanganan dan pencegahannya?
Jawaban
1. Karena a
nak dengan rhinitis alergi biasa dilahirkan dengan keluarga yang memiliki riwayat atopi (dermatitis eksimatosa, urtikaria, asma).
2. Karena suhu di pagi hari rendah dan tungau yang ada pada kasur dapat merangsang bersin.
3. Tubuh terpapar alergen untuk pertama kali sehingga IgE berikatan pada sel mast, pada paparan kedua alergen akan berikatan dengan IgE yang nantinya akan mengaktifasi pengeluaran histamin. Histamin akan memberikan reaksi alergi pada tubuh seperti gatal, udem, bersin dll.
4. Suhu, genetik, ras.
5. Ada hubungannya, karena wudhu membersihkan alergen tapi tidak menyebabkan penyakit.
6. Berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit lain seperti polip, sinusitis.
7. Sama seperti nomor 3.
8. Mayor: muka terasa seperti tertekan, anosmia/hiposmia, rasa seperti tersumbat, hidung tersumbat, sekret purulen, sekret purulen pada pemeriksaan, demam pada stadium akut.
Minor: batuk, demam pada stadium yang bukan akut, halitosis, lesu, sakit kepala, sakit gigi, otalgia.
Minimal 2 mayor atau 1 mayor + 2 minor.
9. Polusi, tungau, musim (penyebaran serbuk sari), jamur, makanan, bulu hewan.
10. Bisa apabila imunoterapi tapi resiko terkena anafilaksis.
11. Hipersensitivitas 1 fase sensitasi, aktivasi, efektor histamin, leukotrien, prostaglandin hipersekresi mukosa, kongesti pada saluran
pernapasan (ductus nasolacrimalis lacrimasi, OPTA otalgia, n.
olfactorius anosmia).
12. Darah lengkap, sitologi sekret mukosa, radioimmunosorbent test, pemeriksaan fisik rhinoskopi anterior dan posterior.
13. Tatalaksana: antihistamin, natriumkromalin, dekongestan, kortikosteroid, glukokortikoid.
Pencegahan: jauhi pencetus, imunoterapi.
Hipotesis
Rhinitis alergi adalah penyakit yang dipicu oleh alergen berupa polusi, tungau, jamur dan mempunyai faktor resiko seperti kelainan genetik. Ditandai dengan gejala mayor seperti anosmia dan gejala minor seperti batuk. Gejala tersebut terjadi karena reaksi hipersensitivitas 1. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan darah lengkap. Penyakit ini diatasi dengan mengkonsumsi antihistamin, dicegah dengan menjauhi alergen dan memperbanyak berwudhu.
Sasaran Belajar
LI.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Saluran Pernafasan Atas LO1.1 Makroskopis
Hidung
Organ hidung merupakan organ yang pertama berfungsi dalam saluran napas.
a. Dua buah nares anterior = apertura nasalis anterior (lubang hidung)
b. Vestibulum nasi, bagian hidung tempat muara nares anterior pada mukosa hidung. Terdapat cilia yang berfungsi sebagai saringan udara.
Bagian dalam rongga hidung yang berbentuk terowongan disebut dengan cavum nasi, yaitu mulai dari nares anterior sampai ke nares posterior (choanae).
Dilanjutkan ke daerah nasofaring. Cavum nasi (rongga hidung) berbentuk terowongan dari depan ke belakang. Sekat antara kedua rongga hidung dibatasi oleh dinding yang berasal dari tulang dan mukosa disebut septum nasi. Yang dibentuk oleh tulang – tulang :
a. Kartilago septum nasi b. Os. Vomer
c. Lamina perpendicularis os ethmoidalis
Dalam ilmu THT pemeriksaan hidung ada dua cara, yaitu memakai head lamp : a. Rhinoscopy Anterior, melihat secara langsung cavum nasi serta isinya b. Rhinoscopy Posterior, secara tidak langsung dari orofaring memakai kaca Pada rhinoscopy anterior, dalam cavum nasi pada sisi lateral terdapat concha – concha nasalis yang terbentuk dari tulang tipis dan ditutupi mukosa yang dapat mengeluarkan lendir. Ada empat buah concha nasalis :
a. Concha nasalis suprema b. Concha nasalis superior c. Concha nasalis media d. Concha nasalis inferior
Dan tiga buah saluran keluar cairan melalui hidung :
a. Meatus nasalis anterior (antara concha nasalis superior dan media) b. Meatus nasalis media (antara concha nasalis media dan inferior)
c. Meatus nasalis inferior (antara concha nasalis inferior dan dinding atas maxilla)
Sinus – sinus yang berhubungan dengan cavum nasi dikenal dengan Sinus Paranasal, antara lain :
a. Sinus sphenoidalis, mengeluarkan sekresinya melalui meatus superior b. Sinus frontalis, mengeluarkan sekresinya ke meatus media
c. Sinus maxillaris, mengeluarkan sekresinya ke meatus media
d. Sinus ethmoidalis, mengeluarkan sekresinya ke meatus superior dan media Bila terdapat infeksi pada sinus dinamakan dengan sinusitis.Yang sering terjadi pada komplikasi penderita infeksi rongga hidung dan sakit gigi (rhinitis kronik), yaitu sinusitis maxillaries.Pada sudut mata medial terdapat hubungan hidung dan mata melalui duktus nasolakrimalis, tempat keluarnya air mata ke hidung melalui meatus inferior. Pada nasofaring terdapat hubungan antara hidung dengan rongga telinga melalui osteum pharyngeum tuba auditiva austachii (o.p.t.a), torus tubarius.
Persarafan hidung
Persarafan sensorik dan sekremotorik hidung:
1. Bagian depan dan atas cavum nasi mendapat persarafan sensorik dari cabang nervus opthalmicus (N. V 1)
2. Bagian lainnya termasuk mukosa hidung cavum nasi dipersarafi oleh ganglion sfenopalatinum
3. Daerah nasofaring dan concha nasalis mendapat persarafan sensorik dari cabang ganglion pterygopalatinum
Nervus olfactorius (nervus I) memberikan sel – sel reseptor untuk penciuman yang terletak pada sepertiga bagian atas depan mukosa hidung, septum nasi dan concha nasalis, masuk cavum nasi melalui lamina cribosa os ethmoidalis. Serabut – serabut nervus olfactorius bukan untuk mensarafi tapi hanya untuk fungsional penciuman.
Vaskularisasi hidung
Pendarahan hidung berasal dari cabang – cabang A. opthalmica dan A. maxillaris interna
1. Arteri ethmoidalis anterior dengan cabang – cabangnya sebagai berikut : a.
nasalis externa dan lateralis, a. septalis anterior
2. Arteri ethmoidalis posterior dengan cabang- cabangnya : a. nasalis posterior, lateral dan septal, a. palatinus majus
3. Arteri sphenopalatinum cabang arteri maxillaris interna
Ketiga pembuluh darah tersebut pada mukosa hidung membentuk anyaman kapiler pembuluh darah yang dinamakan Plexus Kisselbach. Plexus ini mudah pecah oleh trauma atau infeksi sehingga menjadi sumber epitaxis (perdarahan hidung terutama pada anak).
Laring
Daerah yang dimulai dari aditus laryngis sampai batas bawah cartilago cricoid.
Rangka laring terbentuk oleh tulang dan tulang rawan ; 1. Os. Hyoid (1 buah)
a. Terbentuk dari jaringan tulang seperti besi telapak kuda b. Mempunyai dua buah cornu, yaitu cornu majus dan minus
c. Dapat diraba pada batas antara batas atas leher dengan pertengahan dagu d. Berfungsi tempat perlekatan otot mulut dan cartilago thyroid
2. Cartilago Thyroid (1 buah)
a. Terletak di bagian depan dan dapat diraba tonjolan yang dikenal dengan prominen’s laryngis atau Adam’s apple sehari – hari disebut jakun dan lebih jelas pada laki – laki
b. Melekat ke atas dengan os hyoid dan ke bawah dengan cartilago cricoid, ke belakang dengan arytenoid
c. Jaringan ikatnya adalah membrana thyrohyoid d. Mempunyai cornu superior dan inferior
e. Pendarahan dari arteri thyroidea superior dan inferior 3. Cartilago Arytenoid (2 buah)
a. Terletak posterior dari lamina cartilago thyroid di atas dari cartilago cricoid
b. Mempunyai bentuk seperti burung penguin, ada cartilago cornuculata dan cuneiforme
c. Kedua arytenoid dihubungkan oleh musculus arytenoideus transversus 4. Epiglottis (1 buah)
a. Tulang rawan berbentuk sendok
b. Melekat di antara kedua cartilago arytenoid c. Berfungsi membuka dan menutup aditus laryngis
d. Berhubungan dengan cartilago arytenoid melalui musculus aryepiglotica e. Pada waktu biasa epiglottis tebuka, tapi pada waktu menelan epiglottis
menutup aditus laryngis agar makanan tidak masuk ke larynx 5. Cartilago Cricoid
a. Batas bawah cartilago thyroid (daerah larynx)
b. Berhungungan dengan thyroid dengan ligamentum cricothyroid dan musculus cricothyroid medial lateral
c. Batas bawah adalah cincin pertama trachea
d. Berhubungan dengan cartilago arytenoid dengan otot musculus cricoarytenoideus posterior dan lateral
LO1.2 Mikroskopis
Sistem pernapasan merupakan sistem yang berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dalam tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan homeostasis. Fungsi ini disebut sebagai respirasi. Sistem pernapasan dimulai dari rongga hidung/mulut hingga ke alveolus, di mana pada alveolus terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida dengan pembuluh darah.
Sistem pernapasan biasanya dibagi menjadi 2 daerah utama:
1. Bagian konduksi, meliputi rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan bronkiolus terminalis
2. Bagian respirasi, meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveolus.
Saluran pernapasan, secara umum
Dibagi menjadi pars konduksi dan Pars respirasi
Sebagian besar bagian konduksi dilapisi epitel respirasi, yaitu epitel bertingkat silindris bersilia dengan sel goblet. Dengan menggunakan mikroskop elektron dapat dilihat ada 5 macam sel epitel respirasi yaitu sel silindris bersilia, sel goblet mukosa, sel sikat (brush cells), sel basal, dan sel granul kecil.
Epitel respiratorik, Berupa epitel bertingkat Silindris bersilia dengan Sel goblet
Rongga hidung
Rongga hidung terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis. Pada vestibulum di sekitar nares terdapat kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu hidung). Epitel di dalam vestibulum merupakan epitel respirasi sebelum memasuki fosa nasalis. Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang dibagi dua oleh septum nasi pada garis medial, terdapat konka (superior, media, inferior) pada masing-masing dinding lateralnya. Konka media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan konka superior ditutupi oleh epitel olfaktorius yang khusus untuk fungsi menghidu/membaui.
Epitel olfaktorius tersebut terdiri atas sel penyokong/sel sustentakuler, sel olfaktorius (neuron bipolar dengan dendrit yang melebar di permukaan epitel olfaktorius dan bersilia, berfungsi sebagai reseptor dan memiliki akson yang bersinaps dengan neuron olfaktorius otak), sel basal (berbentuk piramid) dan kelenjar Bowman pada lamina propria. Kelenjar Bowman menghasilkan sekret yang membersihkan silia sel olfaktorius sehingga memudahkan akses neuron untuk membaui zat-zat. Adanya vibrisa, konka dan vaskularisasi yang khas pada rongga hidung membuat setiap udara yang masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan penghangatan sebelum masuk lebih jauh.
Epitel olfaktori, khas pada konka superior