• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI TADRIS KIMIA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ANTASARI BANJARMASIN MARET 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI TADRIS KIMIA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ANTASARI BANJARMASIN MARET 2020"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK 18225)

PERCOBAAN II

IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI SENYAWA ORGANIK MELALUI KELARUTAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Kimia Organik (TPK 18225)

Dosen Pengampu:

Ratna Kartika Irawati,S.Pd., M.Pd

Asisten Praktikum:

Rahmiati Raudatul Jannah

Disusun Oleh:

Salamiyah 180101090538

PROGRAM STUDI TADRIS KIMIA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN ANTASARI BANJARMASIN

MARET 2020

(2)

PERCOBAAN III

Judul : Identifikasi Gugus Fungsi Senyawa Organik Melalui Kelarutan Tujuan : Mahasiswa dapat mengidentifikasi gugus fungsi senyawa organik

melalui kelarutannya melalui percobaan dengan tepat.

Hari/Tanggal : Rabu/ 11 Maret 2020

Tempat : Laboratorium Kimia FTK UIN Antasari Banjarmasin

I. LANDASAN TEORI

Kandungan utama dalam senyawa organik adalah atom karbon dan atom hidrogen, ditambah nitrogen, oksigen, belerang dan atom unsur lainnya. Senyawa induk untuk semua senyawa organik adalah hidrokarbon, yaitu alkana (mengandung ikatan tunggal), alkena(mengandung ikatan rangkap karbon-karbon), alkuna (mengandung ikatan rangkap tigakarbon- karbon), dan hidrokarbon aromatik (mengandung cincin benzena).Ikatan karbon -karbon dan ikatan karbon-hidrogen adalah umum untuk semua senyawa organik.Faktanyaikatan-ikatan ini tidak mempunyai peranan penting dalam senyawa organik. Hal sebaliknya terjadi pada ikatan karbon dengan atom lain yang menimbulkan kereaktifan dalam suatu struktur organik. Kedudukan kereaktifan ini dalam suatu molekul disebut gugus fungsi. Senyawa dengan gugus fungsi yang sama cenderung mengalami suatu reaksi kimia yang sama(Fessenden dan Fessenden, 1982).

Senyawa organik yang mempunyai gugus fungsi yang sama akan mempunyai sifat yang sama. Hal inilah yang akan menjadi dasar dalam menentukan gugus suatu senyawa berdasarkan pada sifat fisik dan kimianya. Cara umum untuk mendukung keperluan identifikasi senyawa yang belum diketahui terdiri dari beberapalangkah :

1. Penentuan konstanta sifat fisika.

2. Analisa kualitatif unsur yaitu menentukan unsur-unsur yang ada dalam suatu senyawa.

3. Penentuan sifat kelarutan dari senyawa tersebut.

4. Analisis gugus fungsi dengan bantuan spektrofotometer inframerah.

(3)

5. Uji karakteristik kimia yaitu untuk menentukan golongan (keton, alkohol, dan lain-lain)bahan yang belum diketahui.

6. Penelusuran literatur untuk senyawa yang mempunyai golongan yang sama dapat dipastikan dengan mudah nama senyawa yang tidak diketahui.

7. Pembuatan senyawa turunan yaitu untuk memastikan senyawa yang diidentifikasi.

Sekali pun telah banyak ditemukan unsur yang terdapat di alam.

Namun unsur yang ada dalam senyawa organik pada umumnya meliputi unsur-unsur nitrogen, klorida, iodida, belerang,hidrogen, oksigen dan karbon (Vogel, 1990).

Suatu senyawa akan larut dalam air, jika senyawa tersebut ionik atau berukuran relatif kecil (mengandung sebanyak-banyaknya 5 atau 6 atom karbon), atau gugus fungsi polar jamak (mengandung beberapa gugus fungsi polar). Jika senyawa larut dalam air, kemudian diuji dengan kertas lakmus atau kertas indikator universal untuk menentukan apakah bersifat asam (asam karboksilat atau fenol), basa (amina), ataukah netral (mengandung gugus fungsi yang lain). Senyawa yang mula-mula tidak larut dalam air (karena terlalu besar dan non polar) akan larut dalam air jika bermuatan. Misalnya, amina yang bersifat basa akan larut dalam air jika terprotonasi; asam karboksilat akan larut dalam air jika terdeprotonasi. Jadi amina larut dalam asam klorida 5%. Asam karboksilat larut dalam natrium hidroksida 5% dan larutan natrium bikarbonat 5%. Fenol yang merupakan asam lemah, memerlukan basa kuat agar terdeprotonasi, sehingga fenol larut dalam larutan natrium hidroksida 5 % tetapi tidak larut dalam larutan natrium bikarbonat 5%. Jika senyawa tidak larut dalam air, larutan asam klorida 5%, larutan natrium hidroksida 5% atau larutan natrium bikarbonat 5% senyawa tersebut berukuran besar dan netral. Pengujian dengan asam sulfat pekat akan menentukan apakah senyawa tersebut mempunyai gugus halida. Hanya hidrokarbon dan halida yang tidak bereaksi dan tidak larut dalam asam sulfat pekat. Sebagian besar senyawa lain, misalnya alkohol, keton, amida dan alkena, terprotonasi dan larut dalam asam sulfat pekat.

(4)

II. HIPOTESIS

Adapun hipotesis pada praktikum ini mengenai gugus fungsi yang terkandung dalam cuka apel, pembersih kuku, pembersih tangan, pengawet mayat, dan desinfektan:

1. Cuka apel terdapat asam asetat yang memiliki gugus fungsi –COOH.

2. Pembersih kuku terkandung golongan keton yang gugus fungsinya – CO-.

3. Pembersih tangan terdapat alkohol yang memiliki gugus fungsi –OH.

O 4. Pengawet mayat terkandung golongan karbonil aldehida –C – H.

5. Desinfektan mengandung gugus fungsi –COH,-OH, golongan halogen yang mengandung gugus –X.

III. ALAT DAN BAHAN 3.1 Alat:

1. Tabung reaksi 5 buah

2. Pipet tetes 6 buah

3. Kertas indikator universal 5 lembar 4. Rak tabung reaksi 1 buah 5. Batang pengaduk kaca 1 buah

6. Gelas ukur 1 buah

3.2 Bahan:

1. Larutan cuka apel (A) 2. Larutan pembersih kuku (B) 3. Larutan pembersih tangan (C) 4. Desinfektan (D)

5. Larutan pengawet mayat (E) 6. Larutan NaOH 5%

7. Larutan NaHCO3 5%

8. Asam sulfat pekat 9. Aquades

(5)

IV. PROSEDUR KERJA 4.1. Uji Kelarutan dalam air

Tambahkan 10 tetes larutan sampel (A, B, C, D atau E, secara bergantian) ke dalam 1 mL aquades dalam tabung reaksi. Kemudian aduk perlahan dengan batang pengaduk kaca dan amati apakah sampel larut atau tidak larut. Jika sampel larut, uji pH nya dengan indikator universal. Uji juga pH air sebagai kontrolnya.

4.2. Uji Kelarutan dalam NaOH 5%

Jika sampel tidak larut dalam aquades, tambahkan 10 tetes larutan sampel (A, B, C, D atau E, secara bergantian) ke dalam 1 mL NaOH 5% , Kemudian aduk perlahan dengan batang pengaduk kaca dan amati apakah sampel larut atau tidak larut. Jika sampel tidak larut, tambahkan NaOH 5% ke dalam tabung reaksi tersebut sampai asam. Catat apakah terbentuk endapan (kekeruhan).

4.3. Uji Kelarutan dalam NaHCO3 5%

Tambahkan 10 tetes larutan sampel dalam tabung reaksi kemudian tambahkan 1 mL NaHCO3 5% Amati gelembung yang ada pada permukaan larutan. Aduk larutan dengan batang pengaduk kaca. Catat apakah sampel membebaskan CO2 dan larut atau tidak membebaskan CO2 dan tidak larut.

4.4. Uji Kelarutan dalam HCl 5%

Tambahkan HCl 5% sebanyak 1 mL secara berturut-turut hingga 3 mL pelarut ke dalam 10 tetes sampel. Senyawa yang bersifat basa akan membentuk hidroklorida yang larut dalam air, tetapi akan mengendap pada kelebihan asam. Jika sampel tidak larut, pisahkan cairan supernatant, dengan menggunakan pipet. Kemudian tambahkan NaOH 5% sampai bersifat basa.

4.5. Uji Kelarutan dalam H2SO4

Masukkan 3 mL H2SO4 ke dalam tabung reaksi kering. Tambahkan 210 tetes mL cairan sampel. Kemudian kocok beberapa lama.

Selanjutnya amati perubahan yang terjadi, apakah sampel perubahan warna atau endapan.

(6)

Tafsirkan apakah perubahan warna atau endapan yang terbentuk?

Adanya perubahan warna, pembebasan gas, polimerisasi yang disertai dengan pengendapan.

V. HASIL PENGAMATAN

No. Perlakuan Hasil Pengamatan

1. Kelarutan dalam air:

a. Cuka apel b. Pembersih kuku c. Pembersih tangan d. Desinfektan e. Pengawet mayat

a. Larut b. Larut c. Larut d. Tidak larut e. Larut 2. Kelarutan dalm NaOH 5%:

a. Cuka apel b. Pembersih kuku c. Pembersih tangan d. Desinfektan e. Pengawet mayat

a. Larut b. Larut c. Larut d. Larut e. Larut 3. Kelarutan dalam NaHCO3:

a. Cuka apel b. Pembersih kuku c. Pembersih tangan d. Desinfektan e. Pengawet mayat

a. Larut b. Larut c. Larut d. Tidak larut e. Larut 4. Kelarutan dalam HCl 5%

a. Cuka apel b. Pembersih kuku c. Pembersih tangan d. Desinfektan e. Pengawet mayat

a. Larut b. Larut c. Larut d. Tidak larut e. Larut

(7)

VI. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Pada percobaan ini dilakukan uji kelarutan dalam (1) air, (2) NaOH, (3) NaHCO3, (4) HCl 5%, dan (5) H2SO4. Pengujian dilakukan terhadap 5 sampel yaitu sampel A (cuka apel), sampel B (pembersih kuku), sampel C (pembersih tangan), sampel D (desinfektan), sampel E (pengawet mayat).

Percobaan yang pertama yaitu uji kelarutan dalam air terhadap kelima sampel. Langkah pertama yaitu memasukkan 10 tetes larutan sampel-sampel ke dalam 1 mL air dalam tabung reaksi, kemudian aduk dengan batang pengaduk atau dikocok. Pada kelima sampel yang diuji terdapat empat sampel yang larut dalam air yaitu (1) cuka apel, (2) pembersih kuku, (3) pembersih tangan,dan (4) pengawet mayat. Sedangkan sampel yang tidak larut dalam air yaitu desinfektan. Langkah selanjutnya yaitu pengukuran pH menggunakan indikator universal dan didapatkan hasil yaitu (1) cuka apel pH 2, (2) pembersih kuku pH 7, (3) pembersih tangan pH 7,(4) densifektan pH 9, dan (5) pengawet mayat pH 6.

Percobaan yang kedua yaitu uji kelarutan dalam air terhadap kelima sampel. Langkah pertama yaitu memasukkan 10 tetes larutan sampel-sampel ke dalam 1 mL NaOH dalam tabung reaksi, kemudian aduk dengan batang pengaduk atau dikocok. Pada kelima sampel yang diuji terdapat semua sampel larut dalam NaOH.

Percobaan yang ketiga yaitu uji kelarutan dalam air terhadap kelima sampel. Langkah pertama yaitu memasukkan 10 tetes larutan sampel-sampel ke dalam 1 mL NaHCO3 dalam tabung reaksi, kemudian aduk dengan batang pengaduk atau dikocok. Pada kelima sampel yang diuji terdapat empat sampel yang larut dalam NaHCO3 yaitu (1) cuka apel, (2) pembersih kuku, (3) pembersih tangan,dan (4) pengawet mayat. Sedangkan sampel yang tidak larut dalam NaHCO3 yaitu desinfektan.

Percobaan yang keempat yaitu uji kelarutan dalam air terhadap kelima sampel. Langkah pertama yaitu memasukkan 10 tetes larutan sampel-sampel ke dalam 1 mL HCl dalam tabung reaksi, kemudian aduk dengan batang pengaduk atau dikocok. Pada kelima sampel yang diuji

(8)

terdapat empat sampel yang larut dalam HCl yaitu yaitu (1) cuka apel, (2) pembersih kuku, (3) pembersih tangan,dan (4) pengawet mayat. Sedangkan sampel yang tidak larut dalam HCl yaitu desinfektan.

Percobaan yang kelima yaitu uji kelarutan dalam air terhadap kelima sampel. Langkah pertama yaitu memasukkan 10 tetes larutan sampel-sampel ke dalam 1 mL H2SO4 dalam tabung reaksi, kemudian aduk dengan batang pengaduk atau dikocok. Pada kelima sampel yang diuji hasil yang didapatkan yaitu (1) cuka apel: tidak berwarna, agak keruh, dan tidak ada endapan, (2) pembersih kuku: kuning muda dan tidak ada endapan, (3) pembersih tangan: kuning keruh dan tidak ada endapan,(4) densifektan:

berwarna coklat dan terdapat endapan hitam, dan (5) pengawet mayat: tidak ada warna dan tidak terbentuk endapan.

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, maka dapat kita lihat pada tabel di bawah:

Kelarutan Air pH NaOH 5%

NaHCO3

5%

HCl 5%

H2S O4

Cuka apel

Larut 2

(Asam) Larut Larut Larut Larut Pembersih

kuku Larut 7

(Netral) Larut Larut Larut Larut Pembersih

tangan Larut 7

(Netral) Larut Larut Larut Larut Desinfektan Tidak

Larut

9

(Basa) Larut Tidak Larut

Tidak Larut

Tidak Larut Pengawet

mayat Larut 6

(Asam) Larut Larut Larut Larut Berdasarkan tabel tersebut dapat dihubungkan dengan dasar teori di atas bahwa pada senyawa yang larut dalam air memiliki gugus fungsi polar sedangkan yang tidak larut dalam air memiliki gugus fungsi non polar.

Kemudian pada pengukuran pH larutan dalam air, apabila pH asam maka larutan memiliki gugus fungsi asam karboksilat atau fenol, pH basa memiliki gugus fungsi amina, dan pH netral memiliki gugus fungsi

(9)

selainnya. Pada senyawa yang larut dalam NaOH dan NaHCO3 memiliki gugus fungsi asam karboksilat, sedangkan senyawa yang larut dalam NaOH dan tidak larut NaHCO3 memiliki gugus fungsi fenol. Senyawa yang larut dalam HCl memiliki gugus fungsi amina. Selanjutnya senyawa yang tidak larut dalam H2SO4 memiliki gugus hidrokarbon dan halida, sedangakan yang larut dalam H2SO4 memiliki gugus alkohol, keton, amida, dan alkena.

Pada kelima sampel yang diuji dapat dianalisis mengenai gugus fungsinya. Sampel A (cuka apel) mengandung gugus fungsi asam karboksilat karena larut pada kelima pelarut dan memiliki pH asam. Sampel B (pembersih kuku) mengandung gugus fungsi keton karena larut dalam kelima pelarut dan memiliki pH netral. Sampel C (pembersih tangan) mengandung gugus fungsi alkohol karena larut dalam kelima pelarut dan memiliki pH netral. Sampel D (densinfektan) mengandung gugus fungsi fenol karena hanya larut dalam NaOH dan memiliki pH basa. Kemudian pada sampel E (pengawet mayat) mengandung gugus fungsi aldehid karena larut dalam kelima pelarut dan memiliki pH asam.

VII. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari percobaan praktikum yang dilakukan sebagai berikut:

1. Identifikasi gugus fungsi senyawa organik dapat dilakukan melalui uji kelarutan dalam (1) air serta pH kelarutan dalam air (2) NaOH, (3) NaHCO3, (4) HCl 5%, dan (5) H2SO4. Gugus fungsi dapat diperoleh dari hasil larut atau tidaknya sebuah larutan dalam pelarut-pelarut tersebut

2. Pada percobaan ini mendapatkan data bahwa: (1) sampel A (cuka apel) memiliki gugus fungsi asam karboksilat, (2) sampel B (pembersih kuku) memiliki gugus fungsi keton, (3) sampel C (pembersih tangan) memiliki gugus fungsi alkohol, (4) sampel D (desinfektan) memiliki gugus fungsi penol, dan (5) sampel E (pengawet mayat) memiliki gugus fungsi aldehid.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Fessenden, RJ & J. Fessenden. 1982. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga Vogel. 1990. Analisis Anorganik Kualitatif. Jakarta: Kalman Media Pustaka.

(11)

LAMPIRAN FOTO

Uji Kelarutan dalam Air

1. Sampel A larut dalam air. 2. Sampel B larut dalam air.

3. Sampel C larut dalam air. 4. Sampel D tidak larut dalam air.

5. Sampel E larut dalam air. 6. pH sampel A = 2

7. pH sampel B = 7 8. pH sampel C = 7

(12)

9. pH sampel D = 9 10. pH sampel E = 6

Uji Kelarutan dalamNaOH 5%

1. Sampel A larut dalam NaOH 5%.

2. Sampel B larut dalam NaOH 5%.

3. Sampel C larut dalam NaOH 5%.

4. Sampel D larut dalam NaOH 5%.

5. Sampel E larut dalam NaOH 5%.

(13)

Uji Kelarutan dalam HCl 5%

1. Sampel A larut dalam HCL 5%. 2. Sampel B larut dalam HCL 5%.

3. Sampel C larut dalam HCL 5%.

4. Sampel D tidak larut dalam HCL 5%.

5. Sampel E larut dalam HCL 5%.

Uji Kelarutan dalam H2SO4 Pekat

1. Sampel A larut, tidak berwarna namun agak keruh.

1. Sampel B larut, warna larutan kuning muda.

(14)

2. Sampel C larut, warna larutan kuning keruh.

3. Sampel D ada endapan berwarna hitam dan larutan

berwarna coklat.

4. Sampel E larut, tidak berwarna.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis daya serap CO pada vegetasi yang ada di hutan kota di Kabupaten Karanganyar dilakukan dengan cara mengalikan jumlah pohon dengan kemampuan pohon tersebut dalam menyerap

Melakukan identifikasi permasalahan yang ada di Program Studi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, yang akan

Sedangkan jika menggunakan indikator universal bentuk kertas untuk mengetahui sifat asam, basa atau garam adalah dengan cara mencelupkan kertas tersebut ke dalam larutan yang

Pada uji adanya sulfur, langkah yang dilakukan yaitu menambahkan CH 3 COOH ke dalam filtrat I peleburan logam Na, sehingga membentuk larutan tidak berwarna,

“Relevansi Program Kerja Unit Kegiatan Mahasiswa dengan Kompetensi Guru pada Mahasiswa Program Studi PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin”

Berdasarkan hal tersebut maka timbul permasalahan apakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana pembunuhan dalam keluarga di wilayah hukum Polresta Denpasar,

Sertifikasi Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan yang selanjutnya disebut Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat kepada Usaha

Geommetri lereng mencakup tinggi lereng dan sudut kemiringan lereng, lereng yang terlalu tinggi akan mengakibatkan menjadi tidak mantap dan cenderung untuk