II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Peternakan Sapi Potong
Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap daging setiap tahunnya maka usaha peternakan sapi potong juga mengalami perkembangan. Usaha peternakan sapi potong pada awalnya berkembang di beberapa daerah tertentu seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Bali. Dewasa ini usaha penggemukan sapi juga telah berkembang di Sumatera seperti di Lampung, Sumatera Barat dan Riau. Usaha peternakan sapi dilakukan secara perseorangan atau skala kecil maupun dalam skala besar yang dilakukan oleh perusahaan. Selama ini penyedia daging sapi di Indonesia adalah sebagian besar adalah peternak skala kecil karena peternak berskala menengah dan besar jumlahnya tidak banyak. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan dalam skala besar dan modern. Peternakan rakyat berskala kecil biasanya merupakan usaha sambilan dan mayoritas masih menggunakan pola tradisional.
Ada berbagai jenis sapi yang diusahakan oleh peternak di Indonesia sebagai bakalan dalam usaha penggemukan diantaranya: Sapi Bali, Sapi Ongole, Sapi Brahman Cross, Sapi Madura, Sapi Peranakan Limousin. Bakalan merupakan faktor penting karena sangat menentukan hasil akhir usaha penggemukan. Ciri-ciri bakalan yang baik adalah: (1) berumur di atas 2,5 tahun, (2) jenis kelamin jantan (3) bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm, tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm, (4) tubuh kurus, tulang menonjol tetapi tetap sehat (5) pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus dan (6) kotoran normal (Prabowo, 2007).
Ada beberapa sistem penggemukan yang digunakan untuk sapi, perbedaannya terletak pada teknik pemberian pakan, luas lahan yang tersedia, umur dan kondisi sapi yang akan digemukkan serta lama penggemukan (Siregar, 2009):
a. Sistem Pasture Fattening
Pasture Fattening merupakan suatu sistem penggemukan sapi yang dilakukan dengan cara menggembalakan sapi di padang pengembalaan. Teknik
pemberian pakan dalam sistem ini adalah dengan pengembalaan. Pakan hanya berupa hijauan yang terdapat di padang pengembalaan tanpa pemberian konsentrat maupun biji-bijian. Oleh karena itu di padang pengembalaan harus ditanami leguminosa agar kualitas hijauan lebih tinggi. Di Indonesia, jenis leguminosa yang disarankan adalah Arachis, Centrocema, Lamtoro, Siratro dan Desmodium trifoluim. Pada sistem ini kandang hanya berfungsi sebagai tempat berteduh sapi pada malam hari.
b. Sistem Dry Lot Fattening
Dry Lot Fattening adalah sistem penggemukan sapi dengan pemberian pakan yang mengutamakan biji-bijian seperti jagung, sorgum atau kacang- kacangan. Dewasa ini penggemukan sapi dengan sistem ini tidak hanya memberikan satu jenis biji-bijian saja tetapi campuran dari berbagai jenis bahan pakan konsentrat. Bahan yang digunakan bisa terdiri dari jagung giling, dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, ampas tahu dan sebagainya. Bahan- bahan tersebut dicampur dengan bahan mineral dan garam dapur sehingga membentuk konsentrat, tetapi pemberian pakan konsentrat tidak boleh lebih dari 60 persen. Pakan hijauan dibatasi jumlahnya (minimal 0,5-0,8 persen dari bobot sapi) dalam sistem ini sehingga tidak mengganggu proses pencernaan sapi.
c. Kombinasi Pasture dan Dry Lot Fattening
Sistem kombinasi ini dilakukan dengan pertimbangan musim dan ketersediaan pakan. Sistem ini bisa juga dilakukan dengan cara menggembalakan sapi pada padang penggembalaan beberapa jam pada siang hari dan pada sore dan malam hari sapi dikandangkan dan diberi pakan konsentrat.
d. Kereman
Penggemukan sapi dengan sistem kereman dilakukan dengan cara menempatkan sapi dalam kandang secara terus menerus selama beberapa bulan.
Sistem ini yang umumnya digunakan oleh peternak di Indonesia. Pemberian pakan dan air minum dilakukan dalam kandang yang sederhana selama proses penggemukan. Pemberian Pakan dan konsentrat dilakukan dengan perbandingan yang tergantung pada ketersediaan pakan dan konsentrat tersebut. Konsentrat yang digunakan dalam sistem kereman masih sederhana, yakni terdiri dari satu
atau dua jenis bahan pakan saja, misalnya dedak padi saja atau ampas tahu saja.
Ada juga peternak yang hanya memberi pakan berupa hijauan saja.
Pertambahan bobot badan yang bisa dicapai dengan sistem kereman bervariasi tergantung pada pakan yang diberikan. Pemberian pakan berupa hijauan ditambah konsentrat akan menyebabkan pertambahan bobot badan lebih tinggi dibanding pakan berupa hijauan saja. Berdasarkan penelitian di Wonogiri pertambahan bobot badan sapi rata-rata 0,8 kg/hari dengan pemberian hijauan dan konsentrat jadi ditambah ampas brem. Pemberian hijauan saja pada sapi peranakan ongole dan jantan sapi perah diperoleh pertambahan bobot badan masing-masing 0,52 kg/hari dan 0,4 kg/hari (Siregar, 2009)
Pemeliharaan dengan sistem kereman juga harus mempertimbangkan bangunan kandang yang baik, karena akan berpengaruh terhadap pertambahan bobot sapi. Secara umum kandang memiliki dua tipe yaitu individu dan kelompok (Prabowo, 2007). Pada kandang individu, setiap sapi memiliki tempatnya sendiri berukuran 2,5 x 1,5 m. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan tipe kandang ini adalah terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh karena mendapatkan lebih banyak pakan.
2.1.2 Budidaya Ikan Patin
Ikan patin adalah nama lokal dari ikan asli Indonesia dengan nama ilmiah Pangasius. Secara umum saat ini nama patin dipakai untuk sebagian besar ikan keluarga pangasidae. Ciri utama ikan patin di Indonesia pada umumnya adalah bentuk badan sedikit memipih, tidak bersisik, mulut kecil dan bersungut. Kerabat patin di Indonesia cukup banyak diantaranya pangasius polyuranodo (ikan juaro), pangasius macronema (ikan rios, riu, lancang), pangasius mocronemus (wakal, riuscaring), pangasius nasutus (pedado), pangasius nieuwenhuisii (lawang).
Selain itu ada juga patin siam atau jambal siam (pangasius sutchi) dan ikan patin hibrida dengan nama pasupati (persilangan patin jambal dengan siam) yang diperkenalkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (Susanto, 2009).
Daerah pengembangan budidaya patin di Indonesia antara lain Jawa Barat, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Budidaya ikan patin secara garis besar meliputi kegiatan pembenihan dan
pembesaran. Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih ikan pada ukuran tertentu. Sedangkan kegiatan pembesaran merupakan kegiatan menghasilkan ikan yang siap untuk dikonsumsi. Kegiatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat adalah kegiatan pembesaran. Kegiatan pembesaran bisa dilakukan pada berbagai media seperti kolam, jala apung, pen maupun karamba.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada budidaya pembesaran patin sistem monokultur di kolam (Susanto, 2009):
a. Konstruksi kolam
Tidak ada kriteria khusus untuk kolam pembesaran sistem monokultur, yang penting adalah kolam tersebut berair tenang dan tidak mengalir deras. Ukuran kolam minimal 200 m2, karena ikan patin tergolong ikan yang berukuran bongsor.
Pematang kolam dibuat dengan ukuran yang memadai sesuai dengan luas kolam.
Kolam juga harus dilengkapi dengan kamalir di sekeliling dan ditengah kolam secara diagonal. Kamalir dapat menjadi tempat berkumpul ikan saat panen dan sebagai tempat berlindung ikan dari serangan hama dan sinar matahari.
b. Persiapan kolam
Persiapan kolam pembesaran ikan dimulai dengan melakukan pengeringan kolam. Kolam dikeringkan dan dibiarkan selama 3-7 hari sampai dasar kkolam menjadi retak supaya bibit penyakit dan parasit mati.
c. Pengapuran dan pemupukan
Pengapuran diperlukan untuk memperbaiki pH tanah dan mematikan penyakit maupun hama ikan. pH yang cocok berkisar antar 6,7 – 8,6. Pemberian pupuk dilakukan untuk merangsang pakan alami patin seperti Rotifera dan organisme air lainnya dapat tumbuh di kolam. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang maupun pupuk buatan.
d. Pengisian air
Setelah pemupukan selesai, kolam diairi setinggi 20 cm dan dibiarkan selama beberapa hari. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada pitoplankton dan organisme air lainnya agar tumbuh dengan baik. Kedalaman air kolam sebaiknya mencapai 1,5 m dan dilakukan secara bertahap agar pematang tidak rusak.
e. Penebaran ikan
Penebaran ikan dapat dilakukan setelah kondisi air di kolam diperkirakan sudah stabil. Kepadatan penebaran untuk patin yang dibesarkan secara monokultur adalah 1 ekor/m2 untuk benih berukuran 100g/ekor. Kepadatan ini juga tergantung pada ukuran benih. Penebaran ini dilakukan ketika suhu air rendah yaitu sekitar 250 C. Suhu ini biasanya terjadi pada pagi atau sore hari.
f. Pemberian pakan tambahan
Pemberian pakan tambahan pada prosese pembesaran patin di kolam sangat mutlak untuk memacu pertumbuhan. Pakan tambahan bisa berupa pelet atau sisa- sisa kegiatan dapur. Jumlah pakan tambahan biasa 3-4 persen dari bobot total ikan perhari.
g. Panen
Pemanenan dilakukan bila ikan sudah dipelihara di kolam pembesaran selama 6 bulan. Pada umur ini biasanya ikan patin sudah mencapai ukuran konsumsi. Semakin besar ukuran benih yang ditebarkan semakin singkat masa pemeliharaannya. Pemanenan dilakukan dengan cara mengeringkan kolam dengan cara perlahan-lahan agar ikan tidak stres. Saluran pemasukan air ditutup sedangkan saluran pengeluaran dibuka.
2.1.3 Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Patin dan Sapi Potong 2.1.3.1. Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Sapi Potong
Konsumsi daging sapi per kapita masyarakat Indonesia saat ini mencapai 1,87 kg. Angka ini termasuk rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri Indonesia memerlukan minimal 448.000 ton daging sapi per tahun. Dari total jumlah tersebut Indonesia masih harus mengimpor sebesar 30 persen dari Australia (75 persen), Selandia Baru (20 persen) dan dari Amerika Serikat (5 persen). Ketergantungan terhadap daging sapi impor akan menguras devisa negara disamping itu juga menyebabkan kemandirian dan kedaulatan pangan hewani khususnya daging sapi semakin jauh dari harapan. Impor dari negara lain juga membuka peluang bagi masuknya penyakit-penyakit ternak yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. Oleh karena itu Kementerian Pertanian Indonesia
mencanangkan program PSDSK (Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau). Pada awalnya program ini dicanangkan untuk tahun 2010, tetapi karena adanya berbagai permasalahan maka program tersebut direvisi menjadi tahun 2014.
Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka swasembada daging 2014 masih belum mampu mengurangi kesenjangan antara konsumsi dan produksi daging nasional. Beberapa strategi yang ditetapkan oleh pemerintaha dalam rangka Pencapaian swasembada daging 2014 yaitu:
1. Peningkatan atau penambahan populasi sapi betina produktif melalui A).
Mengoptimalkan potensi sapi betina lokal yang ada melalui peningkatan produksi dan produktivitas dengan cara aplikasi teknologi inovatif bidang pakan dan reproduksi. B). Menambah populasi sapi bibit betina, upaya penambahan populasi sapi bibit betina produktif melalui importasi dilaksanakan dengan memanfaatkan dana pemerintah maupun swasta.
2. Penyelamatan populasi sapi betina produktif
3. Sejalan dengan peningkatan populasi sapi dalam negeri maka penyelamatan populasi sapi betina produktif perlu ditempuh melalui upaya : (A) Optimalisasi pencegahan pemotongan betina produktif di RPH. (B) Optimalisasi pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis (Brucellosis dan IBR). (C) Optimalisasi penanganan gangguan reproduksi agar tidak di culling.
4. Menekan angka kematian (pedet dan sapi muda) 5. Peningkatan berat hidup sapi siap potong
6. Peningkatan kualitas pelayanan RPH
Sejak tahun 1974 impor daging Indonesia selalu meningkat setiap tahunnya.
Peningkatan impor ini akan menyebabkan peternakan dalam negeri menjadi tergusur, hal ini disebabkan karena harga daging impor lebih murah dari daging lokal. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut maka Ditjen Peternakan menetapkan suatu kebijakan dalam pengaturan kebutuhan daging pada tahun 1995, dalam pertemuan tahunan Ditjen Peternakan dengan seluruh Dinas Peternakan Provinsi serta kedua Asosiasi yaitu Asosiasi Produsen daging dan Feedlot Indonesia (APFINDO) dan Asosiasi Pengimpor Daging Indonesia
(ASPIDI) di Lampung yang dikenal dengan konsep Tiga Ung (Gaung) yakni : (1) peternakan rakyat tetap merupakan tulang punggung, (2) industri peternakan rakyat menjadi pendukung, dan (3) impor daging sebagai penyambung penawaran dan permintaan (Indrayani, 2011). Berdasarkan kebijakan ini pemerintah mengatur jumlah daging yang bisa diimpor (kuota) untuk memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri. Pada awal 2012 pemerintah bahkan memangkas kuota impor daging dari 94.000 ton menjadi 34.000 ton.
Dalam rangka melindungi produsen dalam negeri, pemerintah juga memberlakukan kebijakan pengenaan bea masuk berupa tarif impor pada komoditas daging. Pemerintah Indonesia secara bertahap akan melakukan penyesuaian terhadap tarif impor sebagaimana yang telah diusulkan dalam Asian Vision Toward 2020. Pada tahun 1990 tarif impor daging sapi sebesar 30 persen, tahun 1995 turun menjadi 25 persen, dan tahun 1997 turun menjadi 20 persen.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeaan untuk periode 1 Januari 1997 sampai dengan 31 Desember 2003 (kesepakatan AFTA), tarif impor daging sapi akan diturunkan menjadi 5 persen (Dirgantoro dalam Indrayani, 2011). Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 132.PMK.0.10/2005 tentang Program Harmonisasi Tarif 2005-2010 menetapkan tarif impor daging sapi dari tahun 2005-2010 sebesar 5 persen. Sedangkan tarif impor untuk sapi bakalan dari 15 persen turun menjadi nol persen berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan Nomor 522/1991.
Kebijakan tentang pakan ternak di Indonesia mengacu pada Undang- Undang No.6 Tahun 1967 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Undang- Undang ini hanya memuat tanaman pakan sebagai pakan ternak, padahal pakan dan bahan baku pakan tidak hanya tanaman pakan tetapi juga pakan tambahan.
Setelah direvisi, Undang-undang ini memuat: definisi pakan, jenis pengusahaan dan distribusi pakan, keamanan pakan, perizinan pengusahaan pakan dan peraturan-peraturan dengan instansi yang berhubungan dengan seluruh aspek mutu pakan. Peraturan tentang ekspor-impor pakan belum ada, hal ini penting sekali untuk dipertimbangkan karena pakan, bahan baku pakan dan feed additive sering dikenakan biaya cukup tinggi dalam perdagangan internasioan (Indrayani, 2011).
2.1.3.2. Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Ikan Patin
Seiring dengan penurunan hasil produksi perikanan tangkap di Indonesia maka usaha budidaya perikanan (akuakultur) menjadi andalan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat petani dan nelayan. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkomitmen penuh untuk meningkatkan produksi dan produktivitas perikanan budidaya yang berdaya saing, berkeadilan, berkelanjutan diiringi produk yang memenuhi standar mutu pangan (food safety). Komitmen ini terlihat dengan menempatkan komoditas udang, rumput laut, bandeng dan patin sebagai komoditas utama mendukung industrialisasi perikanan melalui program revitalisasi bidang perikanan.
Revitalisasi dibidang perikanan adalah program minapolitan yang merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan sistem dan manajemen kawasan dengan prinsip integrasi, efisiensi, kualitas dan akselarasi.
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh industri akuakultur adalah banyaknya produk impor perikanan yang sejatinya bisa diproduksi di dalam negeri. Untuk budidaya patin dalam negeri belum mampu bersaing dengan produk patin dari Vietnam yang saat ini menguasai lebih dari 90 persen pasar patin dunia.
Disamping itu kendala lain adalah kontinuitas pasokan ikan yang belum terjamin.
Beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan produktivitas perikanan di Indonesia yaitu (1) ekstensifikasi, memperluas dan menambah unit usaha budidaya (2) intensifikasi, meningkatkan produktivitas dari setiap unit usaha budidaya (3) diversifikasi, menambah jenis/
komoditas yang diusahakan (Ditjen Perikanan Budidaya)
Selama ini yang menjadi kendala terbesar bagi pembudidaya ikan khususnya patin adalah mahalnya harga pakan buatan pabrik. Mahalnya harga pakan terkait dengan kebijakan pemerintah yang masih mengenakan PPN atas bahan baku paku pakan. Disamping itu sampai saat ini Indonesia masih mengimpor 70 persen tepung ikan sebagai bahan baku pakan. Harga pakan yang tinggi juga menyebabkan biaya produksi tinggi sehingga hasil produksi kurang kompetitif. Oleh karena itu diperlukan kebijakan untuk menurunkan harga pakan ikan sehingga bisa menurunkan biaya produksi.
2.1.4. Keunggulaan Komparatif
Pada dasarnya setiap negara di dunia saling tergantung antara satu dengan yang lainnya, karena suatu negara tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri akibat keterbatasan sumber daya dan keahlian. Dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam maka muncullah perdagangan antar negara atau perdagangan internasional
Teori perdagangan internasional klasik menyatakan bahwa setiap negara akan memperoleh manfaat perdagangan karena melakukan spesialisasi produksi.
Suatu negara akan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak, serta mengimpor barang jika negara tersebut tidak memiliki keunggulan mutlak. Hal ini dikemukakan oleh Adam Smith (1723-1790) yang dikenal dengan teori keunggulan absolut atau mutlak (Krugman dan Obstfeld, 2004). Kelebihan dari teori keunggulan absolut yaitu terjadi perdagangan bebas antara dua negara yang saling memiliki keunggulan absolut yang berbeda dimana terjadi interaksi ekspor dan impor. Kelemahannya adalah apabila hanya satu negara yang memiliki keunggulan absolut maka perdagangan internasional tidak akan terjadi karena tidak ada keuntungan (Oktaviani dan Novianti, 2009).
Teori Adam Smith ini disempurnakan oleh David Ricardo dengan teori keunggulan komparatif (The Law of Comparative Advantagse) baik secara efesiensi tenaga kerja maupun produktivitas tenaga kerja. Teori ini didasarkan pada nilai tenaga kerja yang menyatakan bahwa hanya satu faktor produksi yang penting yang menentukan nilai suatu komoditas yakni tenaga kerja. Suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional apabila melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana barang tersebut dapat berproduksi relatif lebih efesien serta mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi relatif kurang atau tidak efesien. Kelemahan teori ini adalah Ricardo tidak dapat menjelaskan mengapa terdapat perbedaan fungsi produksi antara dua negara. Sedangkan kelebihannya adalah perdagangan internasional antara dua negara tetap dapat terjadi walaupun hanya satu negara yang memiliki keunggulan mutlak asalkan masing-masing negara tersebut memiliki perbedaan dalam keunggulan biaya komparatif dan keunggulan komparatif produksi.
Teori Ricardo tentang keunggulan komparatif kemudian disempurnakan lebih modern oleh Heckscher Ohlin yang didasari oleh kepemilikan faktor produksi serta dampak perdagangan internasional terhadap distribusi pendapatan (Oktaviani dan Novianti, 2009). Menurut teori H-O bahwa perbedaan opportunity cost suatu produk antara satu negara dengan negara lain dapat terjadi karena adanya perbedaan jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing- masing negara. Adanya perbedaan opportunity cost tersebut dapat menimbulkan tejadinya perdagangan internasional. Negara yang memiliki faktor produksi yang relatif banyak atau murah cenderung akan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor produknya. Sebaliknya mengimpor barang yang memiliki faktor produksi yang relatif langka atau mahal. Teori modern H-O ini disebut dengan teori proporsi faktor (factor proportions theory).
2.1.5. Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif (Competitive Advantage) merupakan alat untuk mengukur daya saing suatu kegiatan berdasarkan pada kondisi perekonomian aktual. Keunggulan kompetitif digunakan untuk mengukur kelayakan suatu kegiatan dimana keuntungan privat diukur berdasarkan harga pasar dan nilai uang yang berlaku berdasarkan analisis finansial. Harga pasar adalah harga yang sebenarnya dibayar oleh produsen untuk membeli faktor produksi dan harga yang benar-benar diterima dari hasil penjualan output. Konsep keunggulan kompetitif didasarkan pada asumsi bahwa perekonomian yang tidak mengalami distorsi sama sekali sulit ditemukan di dunia nyata dan keunggulan komparatif suatu kegiatan ekonomi dari sudut pandang atau individu yang berkepentingan langsung (Salvator, 1997).
Konsep keunggulan kompetitif pertama kali dikembangkan oleh Porter pada tahun 1980 dengan bertitik tolak dari kenyataan-kenyataan perdagangan internasional yang ada. Porter menyatakan bahwa kekuatan kompetitif menentukan tingkat persaingan dalam suatu industri baik domestik maupun internasional yang menghasilkan barang dan jasa. Menurut Porter (1990), keunggulan perdagangan antar negara dengan negara lain di dalam perdagangan internasional secara spesifik untuk produk-produk tertentu sebenarnya tidak ada, kenyataan yang ada adalah persaingan antara kelompok-kelompok kecil industri
yang ada dalam suatu negara. Disamping itu keunggulan kompetitif tidak bergantung pada kondisi alam suatu negara, namun lebih ditekankan pada produktivitasnya. Hal ini disebabkan karena tidak ada korelasi langsung antara dua faktor produksi seperti sumber daya alam yang melimpah dan sumberdaya yang murah. Porter menyebutkan bahwa disamping faktor produksi, peran pemerintah juga sangat penting dalam peningkatan daya saing.
Keunggulan kompetitif suatu negara ditentukan oleh empat faktor yaitu keadaan faktor-faktor produksi, permintaan dan tuntutan kualitas, industri terkait dan pendukung yang kompetitif dan strategi, struktur dan sistem penguasaan antar perusahaan (Halwani, 2002). Selain empat faktor penentu tersebut, keunggulan kompetitif juga ditentukan oleh faktor eksternal yaitu sistem pemerintahan dan terdapatnya kesempatan. Faktor-faktor ini secara bersama-sama akan membentuk sistem dalam peningkatan keunggulan kompetitif suatu negara. Suatu komoditas dapat memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sekaligus yang berarti komoditas tersebut menguntungkan untuk diproduksi dan diusahakan serta dapat bersaing di pasar internasional. Akan tetapi bila suatu komoditas yang diproduksi suatu negara hanya mempunyai keunggulan komparatif namun tidak memiliki keunggulan kompetitif, maka di negara tersebut dapat disumsikan terjadi distorsi pasar atau terdapat hambata-hambatan yang mengganggu kegiatan produksi sehingga merugikan produsen seperti prosedur administrasi, perpajakan dan lain- lain. Oleh karena itu pemerintah perlu untuk mengadakan deregulasi yang dapat menghilangkan hambatan atau distorsi pasar tersebut.
2.1.6. Analisis Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah ditetapkan untuk meningkatkan ekspor ataupun sebagai usaha untuk melindungi produk dalam negeri agar dapat bersaing dengan produk luar negeri. Kebijakan tersebut biasanya diberlakukan untuk output maupun input yang menyebabkan terjadinya perbedaan harga input dan harga output yang diminta produsen (harga privat) dengan harga yang sebenarnya terjadi jika dalam kondisi perdagangan bebas (harga sosial). Kebijakan yang ditetapkan pemerintah pada suatu komoditas ada dua yaitu subsidi dan hambatan perdagangan. Kebijakan berupa subsidi terdiri dari subsidi positif dan subsidi negatif (pajak), sedangkan hambatan perdagangan berupa tarif dan kuota.
Monke dan Pearson (1989) menjelaskan pengaruh intervensi pemerintah pada harga komoditi yang membagi kedalam delapan tipe kebijakan subsidi dan dua kebijakan perdagangan yang terlihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Klasifikasi Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Komoditi Instrumen Dampak pada Produsen Dampak pada
Konsumen Kebijakan Subsidi
1. Tidak merubah harga pasar dalam negeri
2. Merubah harga pasar dalam negeri
Subsidi pada Produsen 1. Pada barang-barang
subsitusi impor (S + PI; S – PI)
2. Pada barang-barang orientasi ekspor (S + PE; S – PE)
Subsidi pada Konsumen
1. Pada barang-barang subsitusi impor (S + CI; S – CI)
2. Pada barang-barang orientasi ekspor (S + CE; S – CE)
Kebijakan Perdagangan (merubah harga pasar dalam negeri)
Hambatan pada barang impor (TPI)
Hambatan pada barang ekspor (TCE)
Sumber : Monke dan Pearson (1989).
Keterangan :
S+ PI = Subsidi PE = Produsen Barang Orientasi Ekspor S - PI = Pajak CI = Konsumen Barang Substitusi Impor PI = Produsen Barang Subsitusi Impor CE = Konsumen Barang Orientasi Ekspor TCE = Hambatan Barang Eskpor TPI = Hambatan Barang Impor
Kebijakan harga (price policies) terdiri dari tiga kriteria yaitu : (1) subsidi atau kebijakan perdagangan; (2) penerimaan atau keuntungan yang akan diperoleh produsen dan konsumen; dan (3) kriteria ekspor atau impor. Implementasi dari kebijakan tersebut dapat mempengaruhi kemampuan suatu negara untuk memanfaatkan peluang ekspor suatu komoditi dan kemampuan negara tersebut untuk melindungi produsen atau konsumen dalam negeri.
1. Kebijakan Harga Subsidi atau Kebijakan Perdagangan
Menurut Salvator (1997) subsidi merupakan pembayaran dari atau untuk pemerintah. Kebijakan subsidi terdiri dari subsidi positif dan subsidi negatif (pajak). Pajak atau subsidi negatif merupakan pembayaran kepada pemerintah, sedangkan subsidi positif merupakan pembayaran dari pemerintah. Tujuan dari subsidi yaitu untuk melindungi konsumen atau produsen agar harga domestik berbeda dengan harga internasional.
Kebijakan perdagangan adalah pembatasan yang diterapkan pada impor atau ekspor suatu komoditi (Monke dan Pearson, 1989). Kebijakan perdagangan yang dapat diterapkan dapat berupa tarif dan kuota. Tarif yaitu harga komoditi yang diperdagangkan, sedangkan kuota merupakan pembatasan jumlah komoditi yang diimpor. Tujuan diterapkannya kedua kebijakan tersebut adalah untuk menurunkan kuantitas barang yang diperdagangkan secara internasional (komoditi impor) dan untuk menciptakan perbedaan harga di pasar internasioanl dengan harga di pasar domestik. Sedangkan kebijakan perdagangan ekspor dimaksudkan untuk melindungi konsumen dalam negeri karena harga domestik yang lebih rendah bila dibandingkan dengan harga di pasar internasional.
Komponen utama yang menjadi dasar dalam diterapkannya salah satu kebijakan perdagangan adalah perbedaan harga komoditi di pasar internasional dan domestik. Apabila harga suatu komoditi di pasar internasional lebih murah dibandingkan dengan harga domestik, maka kebijakan yang tepat dilakukan adalah kebijakan perdagangan impor. Penetapan tarif impor maupun kuota impor dilakukan agar produk impor yang dijual dalam negeri harganya menjadi lebih mahal dan jumlahnya terbatas. Kebijakan impor ini bertujuan untuk melindungi produsen domestik. Sedangkan kebijakan perdagangan ekspor dimaksudkan untuk melindungi konsumen dalam negeri karena harga domestik yang lebih rendah bila dibandingkan dengan harga di pasar internasional.
2. Kebijakan Berdasarkan Penerimaan
Kebijakan berdasarkan penerimaan adalah kebijakan yang dikenakan pada produsen dan konsumen. Suatu kebijakan subsidi dan kebijakan perdagangan menyebabkan terjadinya transfer antara produsen, konsumen dan anggaran pemerintah (Monke dan Pearson, 1989). Anggaran pemerintah tidak dibayarkan seluruhnya untuk transfer, hal ini mengakibatkan produsen mengalami kerugian.
Akan tetapi dengan adanya transfer akan menyebabkan keuntungan yang diperoleh lebih kecil dari kerugian yang diterima.
3. Kebijakan Berdasarkan Komoditi
Kebijakan berdasarkan komoditi bertujuan untuk membedakan antara komoditas yang dapat di ekspor dan komoditas yang dapat di impor. Kebijakan pemerintah dapat diterapkan pada input maupun output komoditas pertanian.
Penerapan kebijakan (subsidi atau hambatan perdagangan) yang tepat mampu memperbaiki kesejahteraan produsen (petani) maupun konsumen.
2.1.7. Kebijakan Output
Kebijakan yang ditetapkan terhadap output baik berupa subsidi maupun pajak dapat diterapkan pada barang ekspor maupun impor. Kebijakan pemerintah terhadap output dijelaskan dengan menggunakan Transfer Output (TO) dan Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO). Dampak subsidi positif terhadap produsen dan konsumen pada barang impor dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2(a) merupakan gambar subsidi positif untuk produsen barang impor. Harga pasar dunia (Pw) lebih rendah dari harga domestik (Pd). Tingkat subsidi sebesar Pd – Pw kepada produsen menyebabkan produksi akan meningkat dari Q1 menjadi Q2 namun kondisi akan tetap pada Q3 karena kebijakan subsidi ini tidak merubah harga dalam negeri. Subsidi ini akan menyebabkan impor turun dari Q2 ke Q3. Transfer pemerintah kepada produsen sebesar Q2 x (Pd – Pw) atau sebesar PdABPw. Subsidi menyebabkan barang yang seharusnya diimpor akan diproduksi sendiri dengan biaya korbanan sebesar Q1CAQ2, sedangkan opportunity cost yang diperoleh jika barang tersebut diimpor adalah sebesar Q1CBQ2. Subsidi tersebut akan memberikan dampak terjadinya kehilangan efesiensi sebesar CAB.
Gambar 2(b) menunjukkan subsidi untuk produsen barang ekspor. Adanya subsidi dari pemerintah menyebabkan harga yang diterima produsen lebih tinggi dari harga yang berlaku di pasar dunia. Harga yang tinggi berakibat pada peningkatan output produksi dalam negeri dari Q3 ke Q4, sedangkan konsumsi menurun dari Q1 ke Q2 sehingga jumlah ekspor meningkat dari Q3 ke Q4. Tingkat subsidi yang diberikan pemerintah adalah sebesar GBAH.
(a) S + PI (b) S + PE
(c ) S + CI (d) S + CE Sumber : Monke dan Pearson (1989)
Keterangan :
Pw : Harga di Pasar Internasional Pd : Harga di Pasar Domestik
S + PI : Subsidi kepada Produsen untuk Barang Impor S + PE : Subsidi kepada Produsen untuk Barang Ekspor S + CI : Subsidi kepada Konsumen untuk Barang Impor S + CE : Subsidi kepada Konsumen untuk Barang Ekspor Gambar 2. Dampak Subsidi Positif Terhadap Produsen dan Konsumen
Barang Impor dan Barang Ekspor
P P
S B Pd H
S
F A E
Pw G A
B Pd
Pw C
Q4
Q3
Q2 Q1 Q
D Q3
Q2
Q1 Q
D
P P
S S
C B Pw
Pc A G
E A F
Pw
H D Pd B
D
Q Q1 Q2 Q
Q4
Q3
Q1
Q2
Gambar 2 ( c ) menunjukkan subsidi positif pada konsumen untuk barang impor.
Harga di pasar dunia (Pw) lebih tinggi daripada harga domestik (Pd). Tingkat subsidi positif sebesar Pw – Pd kepada konsumen menyebabkan produksi menurun dari Q1 menjadi Q2, tetapi konsumsi akan meningkat dari Q3 menjadi Q4
Karena kebijakan subsidi akan merubah harga dalam negeri menjadi lebih murah.
Subsidi ini akan menyebabkan peningkatan impor dari Q3-Q1 menjadi Q4-Q2. Transfer pemerintah sebesar PwGHPd terdiri dari dua bagian yaitu transfer dari produsen ke konsumen sebesar PwABPd dan transfer dari pemerintah ke konsumen sebesar ABHG, sehingga akan terjadi inefesiensi ekonomi pada sisi konsumsi dan produksi. Pada produksi, output turun dari Q2 menjadi Q1
menyebabkan hilangnya pendapatan sebesar Q2FAQ1 atau sebesar Pw x (Q2 – Q1) sedangkan besarnya input yang dapat dihemat sebesar Q2BFQ1 sehingga terjadi inefesiensi sebesar AFB. Pada konsumsi, menunjukkan terjadi opportunity cost akibat meningkatnya Q3 menjadi Q4 adalah sebesar Pw x (Q4 – Q3) atau sebesar Q3EGHQ4 dengan kemampuan membayar konsumen sebesar Q3EHQ4 sehingga terjadi inefesiensi sebesar EGH sehingga total inefesiensi yang terjadi sebesar AFB dan EGH.
Gambar 2 (d) menunjukkan subsidi untuk barang ekspor, pada gambar tersebut menunjukkan harga dunia lebih besar (Pw) dari harga yang diterima produsen (Pp). Harga yang lebih rendah menyebabkan konsumsi untuk barang ekspor menjadi meningkat dari Q1 menjadi Q2. Perubahan ini menyebabkan terjadi opportunity cost sebesar Pw x (Q2 – Q1) atau area yang sama dengan kemampuan membayar konsumen yaitu Q1CAQ2 dengan inefesiensi yang terjadi sebesar CBA.
2.1.8. Kebijakan Input
Kebijakan pemerintah juga diberlakukan pada variable input tradable dan non tradable. Pada kedua input tersebut, kebijakan dapat berupa subsidi positif dan subsidi negatif, sedangkan kebijakan hambatan perdagangan tidak diterapkan pada input domestik (non tradable) karena input domestik hanya komoditas yang diproduksi dan dikonsumsi di dalam negeri. Perubahan yang terjadi akibat adanya intervensi pemerintah dalam bentuk subsidi dan kebijakan perdagangan akan mengakibatkan perubahan harga barang, jumlah barang, surplus produsen dan
konsumen berubah (Monke dan Pearson, 1989). Perubahan tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.
(a) S – IT (b) S + IT Sumber : Monke dan Pearson (1989)
Keterangan :
Pw : Harga Q di Pasar Dunia
S – IT : Pajak Input untuk Barang Tradable S + IT : Subsidi Input untuk Barang Tradable Gambar 3. Subsidi dan Pajak Input Tradable
Gambar 3(a) menunjukkan adanya pajak pada input menyebabkan biaya produksi meningkat sehingga pada tingkat harga output yang sama, output domestik turun dari Q1 ke Q2 dan kurva supply bergeser ke atas. Efesiensi ekonomi yang hilang adalah ABC. Perbedaan antara nilai output yang hilang Q1CAQ2 dengan biaya produksi untuk menghasilkan output tersebut adalah sebesar Q2BCQ1.
Gambar 3(b) menunjukkan dampak subsidi pada input tradable yang digunakan. Apabila kondisi perdagangan bebas harga yang berlaku adalah Pw dengan produksi sebesar Q1. Adanya subsidi pada input tradable menyebabkan biaya produksi lebih rendah dan penggunaan input lebih intensif, sehingga kurva supply bergeser ke bawah (S’) dan produksi meningkat dari Q1 menjadi Q2. Inefesiensi yang terjadi adalah sebesar ABC yang merupakan pengaruh perbedaan
P P
S S’
S’
S
C
B A A
C Pw
Pw
D D B
Q Q
Q3
Q2
Q1
Q3
Q1
Q2
antara biaya produksi setelah output meningkat yaitu Q1ACQ2 dengan penerimaan output yang meningkat yaitu Q1ABQ2.
Pada input non tradable, intervensi pemerintah berupa halangan perdagangan tidak tampak karena input non tradable hanya diproduksi di dalam negeri. Intervensi pemerintah adalah subsidi positif dan subsidi negatif (pajak) yang dapat dilihat pada Gambar 4.
(a) S – N (b) S + N Sumber : Monke dan Pearson (1989)
Keterangan :
Pd : Harga Domestik Sebelum Diberlakukan Pajak dan Subsidi
Pc : Harga di Tingkat Konsumen Setelah Diberlakukan Pajak dan Subsidi Pp : Harga di Tingkat Produsen Setelah Diberlakukan Pajak dan Subsidi S-N : Pajak untuk Barang Non Tradable
S+N : Subsidi untuk Barang Non Tradable
Gambar 4. Dampak Subsidi dan Pajak pada Input Non Tradable
Gambar 4(a) menunjukkan bahwa sebelum diberlakukannya pajak terhadap input, harga dan jumlah keseimbangan dari penawaran input non tradable adalah Pd,Q1. Adanya pajak Pc – Pp menyebabkan produk yang dihasilkan turun menjadi Q2. Harga di tingkat produsen turun dari Pp dan harga yang diterima konsumen naik menjadi Pc. Efesiensi ekonomi dari produsen yang hilang sebesar ABD dan dari konsumen yang hilang sebesar CBA.
P S P S
Pp C
Pc C
Pd A B
B A
Pd
Pp D Pc D
D
D Q
Q Q1 Q2
Q1
Q2
Gambar 4(b) menunjukkan bahwa sebelum diberlakukannya subsidi terhadap input, harga dan jumlah keseimbangan dari penawaran dan permintaan input non tradable berada pada Pd,Q1. Adanya subsidi menyebabkan produksi meningkat dari Q1 ke Q2, harga yang diterima produsen naik menjadi Pp dan harga yang diterima konsumen turun menjadi Pc. Efesiensi yang hilang dari produsen sebesar ABC dan konsumen sebesar ABD.
2.1.9. Matriks Analisis Kebijakan (Policy Analysis Matrix/PAM)
Matriks Analisis Kebijakan (Policy Analysis Matrix, PAM) digunakan untuk menganalisis keadaan ekonomi ditinjau dari sudut usaha swasta (private profit) dan sekaligus memberi ukuran tingkat efesiensi ekonomi usaha atau keuntungan sosial (social profit) dan besarnya intensif atau intervensi pemerintah serta dampaknya pada sistem komoditas pada aktivitas usahatani, pengolahan dan pemasaran secara keseluruhan dengan sistematis.
Policy Analysis Matrix membantu memberikan informasi tentang apakah sistem pertanian kompetitif di bawah teknologi dan harga-harga yang berlaku saat ini. Apakah petani, pedagang dan pengelola memperoleh keuntungan ketika menghadapi harga aktual pasar. Kebijakan harga akan mengubah harga dari output atau biaya input serta pula probabilitas privat dalam skistem. PAM dapat menunjukkan efek secara individual maupun kolektif dari harga dan kebijakan faktor. Selain itu PAM memberikan informasi yang penting untuk analisis keuntungan biaya dari suatu investasi pertanian. Selanjutnya model PAM dapat pula digunakan untuk menganalisis efesiensi ekonomi dan besarnya insentif atau intervensi pemerintah serta dampaknya pada sistem komoditas secara bersamaan (Monke and Pearson, 1989).
Analisis PAM dapat digunakan pada sistem komoditas dengan berbagai wilayah, tipe usahatani dan teknologi. Matriks PAM terdiri dari tiga baris, dimana baris pertama adalah perhitungan dengan private price (harga pasar/aktual) yaitu harga yang diterima petani, baris kedua merupakan perhitungan social price (harga bayangan) yaitu harga yang menggambarkan nilai sosial atau nilai ekonomi yang sesungguhnya bagi unsur biaya maupun hasil dari dua perhitungan tersebut masing-masing dihitung keuntungan. Keuntungan merupakan perbedaan antara penerimaan dan biaya. Perbedaan perhitungan
antara private price dengan social price disebabkan terjadinya kegagalan pasar atau masuknya kebijakan pemerintah yang terletak pada baris ketiga. Jika kegagalan dianggap faktor yang tidak begitu berpengaruh, maka perbedaan tersebut lebih banyak disebabkan adanya insentif kebijakan yang dapat dianalisis (Monke and Pearson, 1989).
Setiap matriks memiliki empat kolom yaitu kolom pertama adalah penerimaan, kolom kedua adalah kolom biaya yang terdiri dari biaya input yang dapat diperdagangkan (tradable input) dan biaya faktor domestik. Input yang digunakan seperti pupuk, pestisida, benih/bibit, peralatan dan lain-lain dipisahkan menjadi input yang dapat diperdagangkan dan faktor domestik (Pearson, 2005).
Tabel 7. Policy Analysis Matrix (PAM)
Uraian Penerimaan
Biaya (Cost)
Keuntungan Tradable
Input
Faktor Domestik
Harga Privat A B C D
Harga Sosial E F G H
Dampak Kebijakan dan Distorsi Pasar
I J K L
Sumber : Monke and Pearson, 1989) Keterangan :
1. Keuntungan privat (D) = A – B – C 2. Keuntungan sosial (H) = E – F – G 3. Transfer output (I) = A – E
4. Transfer input untuk Tradable (J) = B – F 5. Transfer faktor non Tradable (K) = C – G 6. Transfer bersih (L) = D – H = I – J – K 7. Rasio biaya privat (PCR) = C/(A – B)
8. Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRCR) = G/(E – F) 9. Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) = A/F 10. Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) = B/F 11. Koefisien Proteksi Efektif (EPC) = (A - B)/(E - F) 12. Koefisien Keuntungan (PC) = D/H
13. Rasio Subsidi Bagi Produsen (SRP) = L/E 2.2. Tinjauan Empiris
Suatu produk memiliki daya saing yang tinggi salah satu cirinya adalah produk tersebut dapat diproduksi secara efisien. Jika suatu produk telah diproduksi secara efisien maka biaya produksi akan menurun sehingga keuntungan akan semakin meningkat. Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negera di dalam perdagangan internasional.
Krugman dan Obstfeld (2004) menjelaskan bahwa setiap negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan utama, yang masing-masing menjadi sumber bagi adanya keuntungan perdagangan (gains from trade) bagi mereka.
Alasan pertama negara-negara berdagang adalah karena mereka berbeda satu sama lain. Bangsa-bangsa di dunia ini, sebagaimana halnya individu-individu, selalu berpeluang memperoleh keuntungan dari perbedaan-perbedaan di antara mereka melalui suatu pengaturan sedemikian rupa sehingga setiap pihak dapat melakukan sesuatu secara relatif lebih baik. Kedua, negara-negara berdagang satu- sama lain dengan tujuan untuk mencapai apa yang lazim disebut sebagai skala ekonomis (economics of scale) dalam produksi. Seandainya setiap negara bisa membatasi kegiatan produksinya untuk menghasilkan sejumlah barang tertentu saja, maka mereka berpeluang memusatkan perhatian dan segala macam sumber dayanya sehingga ia dapat menghasilkan barang-barang tersebut dalam skala yang lebih besar dan karenanya lebih efisien dibandingkan dengan jika negara tersebut mencoba untuk memproduksi berbagai jenis barang secara sekaligus.
2.2.1. Studi Daya Saing Sapi Potong
Penelitian mengenai daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) telah banyak dilakukan diantaranya Simatupang dan Hadi (2004) menyimpulkan bahwa diproyeksikan Indonesia tahun 2020 akan mengalami defisit produksi daging sapi sebesar 2.7 juta ekor. Sebagai negara kepulauan, Indonesia kurang mempunyai keunggulan komparatif untuk mengembangkan sistem peternakan berbasis pakan rumput seperti sapi potong, kerbau, kambing dan domba, sehingga daya saing usaha peternakan di Indonesia terletak pada pakan asal biji-bijian yaitu ayam ras pedaging dan petelur. Oleh karena itu untuk mengembangkan usaha
sekaligus daya saing peternakan di Indonesia, dengan mempertimbangkan keragaman biofisik wilayah dan potensi sosial ekonomi diperlukan pengembangan teknologi.
Nalle (1996) terhadap pengusahaan ternak sapi potong di wilayah Nusa Tenggara Timur, memperlihatkan bahwa baik untuk sistem pengembalaan maupun sistem ikat serta pada orientasi substitusi impor dan perdagangan antar wilayah nilai Koefisien Biaya Sumberdaya Domestik (KBSD) nya lebih kecil dari satu. Hal ini berarti bahwa pengusahaan komoditi ternak sapi potong di Nusa Tenggara Timur adalah layak dan memiliki keunggulan komparatif. Namun Nefri (2000) menghasilkan bahwa keunggulan kompetitif dan komparatif terhadap kinerja usaha peternakan sapi potong di Indonesia, memperlihatkan tingkat daya saing yang relatif masih rendah baik sebelum atau sesudah perbaikan pakan, dimana nilai efisiensi ongkos produksi (C/P ratio) adalah sebesar 0.87-0.88 dan tingkat pengembalian modal (ROI) 12-13 persen serta Koefisien Biaya Sumberdaya Domestik (KBSD) 0.52-0.56.
Penelitian yang dilakukan Perdana (2003) menghasilkan bahwa usaha penggemukan sapi menguntungkan secara sosial dan dengan sendirinya memiliki keunggulan komparatif. Selain itu tingkat keuntungan yang diperoleh antar skala usaha (kecil, sedang, dan besar) tidak berbeda nyata. Widodo (2006) menghasilkan pengelolaan sapi potong model Sistem Integrasi Pertanian Ternak (SIPT) memiliki keunggulan komparatif dengan indikator nilai Koefisien Biaya Sumberdaya Domestik (KBSD) atau Domestic Resources Cost Coeficient (DRCC) < 1.0 yaitu 0.57. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kebijakan diarahkan pada upaya mempertinggi harga bayangan sapi potong (harga batas) dan memperendah harga input. Mempertinggi harga bayangan daging sapi dilakukan dengan penerapan tarif impor sehingga output sapi domestik mampu bersaing secara kompetitif dengan sapi impor. Hal ini dapat diterapkan karena kebijakan tarif pemerintah masih rendah yaitu di bawah lima persen.
Sunandar (2006) melakukan penelitian di Kabupaten Gunung Kidul untuk mengetahui keunggulan komparatif usaha ternak sapi potong, menemukan bahwa usaha ternak sapi ptong di Gunung Kidul tidak memiliki keunggulan komparatif.
Nilai KBSD besar dari satu (KBSD>1) menunjukkan bahwa dari penggunaan
sumberdaya domestik yang ada, usaha ternak sapi potong tidak layak untuk dikembangkan karena secara sosial merugikan masyarakat. Comparative disadvantages yang dialami usaha ternak sapi potong tidak terlepas dari adanya distorsi harga sapi potong akibat dumping atau subsidi ekspor oleh negara pengekspor produk sapi potong ke Indonesia
Indrayani (2011) menemukan bahwa variabel yang berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot sapi potong di Kabupaten Agam adalah jumlah hijauan, konsentrat, umur sapi bakalan dan penguasaan ternak. Peternakan sapi potong pada dua kecamatan yang diteliti mempunyai keunggulan komparatif dengan PCR < 1 serta keunggulan kompetiti dengan DRC < 1. Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap daya saing sapi potong adalah harga output.
Dimana penurunan harga output sebesar 15 persen menyebabkan usaha penggemukan sapi potong tidak memiliki keunggulan komparatif lagi.
2.2.2. Studi Daya Saing Perikanan
Penelitian daya saing perikanan khususnya patin belum banyak dilakukan.
salah satunya di lakukan oleh Mastuti (2011), penelitian ini dilakukan di Bogor Jawa Barat tentang daya saing usaha pembenihan ikan patin yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Mastuti menemukan bahwa usaha pembenihan ikan patin tersebut memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif selama tahun 2008- 2009, hal ini ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRC kurang dari satu. Penurunan keunggulan kompetitif terjadi disebabkan oleh naiknya UMR 7%, naiknya harga input 4%, dan menurunnya harga output 20%. Sedangkan penurunan keunggulan komparatif disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.
Prawitasari (2009) meneliti tentang daya saing benur di Kabupaten Situbondo, hasilnya menunjukkan bahwa komoditas benur mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif. Adanya kebijakan pemerintah terhadap input berupa pemberian subsidi pupuk menyebabkan harga input produsen benur lebih rendah dari harga dunia. Sedangkan pemberlakuann tarif ekspor produk perikanan sebesar 7-13 persen menyebabkan produsen harus menanggung biaya ekspor lebih tinggi.
Penelitian tentang dampak keunggulan kompetitif dan komparatif pada komoditi ikan hias dilakukan oleh Suprapto (2005), hasil analisis menggunakan
metode PAM menunjukkan bahwa pengusahaan ikan hias (Betta) menguntungkan secara finansial dan ekonomi. Hasil analisis secara kompetitif maupun komparatif menunjukkan bahwa usaha ikan hias mempunyai daya saing yang tinggi sebagai komoditas ekspor karena nilai PCR dan DRC lebih kecil dari satu. Dampak kebijakan pemerintah terhadap output menyebabkan penurunan penerimaan karena harga output yang diterima lebih rendah dari harga yang sesungguhnya.
Harga input yang dibayar juga lebih besar dari harga ekonominya. Dengan adanya kebijakan pemerintah maka keuntungan yang diterima lebih rendah dari harga yang seharusnya.
Esmaeili (2008) melakukan analisis daya saing budidaya udang di Iran.
Hasil analisis menunjukkan bahwa budidaya udang memperoleh keuntungan privat yang positif sedangkan keuntungan sosial negatif. Hal ini disebabkan karena harga sosial input seperti BBM, listrik dan pupuk lebih tinggi dari harga pasar, sedangkan harga pakan lebih rendah dari harga pasar. Hal ini juga menunjukkan bahwa meskipun pemerintah pemerintah memberi subsidi pada input produksi udang, produsen udang juga sebagai pembayar pajak untuk biaya input total.
2.2.3. Studi Aspek Kebijakan
Studi tentang aspek kebijakan menyangkut tentang dampak kebijakan pemerintah terhadap suatu komoditi dengan menggunakan matriks análisis kebijakan (PAM). Emilya (2001) melakukan kajian tentang pengusahaan komoditas tanaman pangan di Provinsi Riau. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengusahaan padi, kedelai dan jagung memiliki keuntungan secara privat dan sosial serta memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Nilai EPC untuk ketiga komoditas lebih besar dari satu artinya kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah terhadap output dan input telah efektif melindungi produsen.
Novianti (2003) melakukan penelitian analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas unggulan sayuran. Hasil penelitian dengan menggunakan metode PAM, dimana kebijakan pemerintah dibidang perdagangan komoditas sayuran khususnya kentang dan kubis menyebabkan harga kedua komoditas tersebut lebih murah dibanding dengan harga sosial yang seharusnya diterima petani. Hal ini berkaitan dengan tiga faktor klasik yaitu (1)
lembaga pemasaran output belum berfungsi efektif dan tidak transparan sehingga rantai pemasaran panjang dan biaya pemasaran tinggi, (2) posisi tawar petani lemah sehingga petani hanya penerima harga yang pasif serta hanya menerima keputusan harga dari pedagang, dan (3) mental usahatani masih bermental subsidi sehingga menjadi kendala untuk mandiri, maju dan bersaing dengan pasar global.
Yao (1997) melakukan penelitian tentang dampak kebijakan pemerintah terhadap produksi padi Thailand yang mempunyai kompetisi dengan kedelai dan kacang hijau yang dilakukan di dua lokasi yang berbeda. Hasil penelitian menginformasikan bahwa kebijakan pemerintah Thailand adalah melindungi produsen padi melalui pemberian subsidi pada input tradable demikian pula dengan komoditi kedelai dan kacang hijau. Bahkan untuk produksi kedelai, pemerintah Thailand memberikan subsidi sebesar 21.6 persen.
Mohanty, Fang dan Caudhari (2003) tentang Daya Saing Kapas di India.
Hasil penelitian tersebut adalah produksi kapas India tidak efesien tanpa intervensi pemerintah dan kemungkinan terjadi pergeseran tanaman kapas digantikan oleh tanaman tebu dan kacang tanah yang lebih menguntungkan, sehingga dianjurkan agar kebijakan India lebih menjaga ketersediaan kapas murah untuk sector hadloom dan tekstil.
Penelitian yang dilakukan oleh Ali dan Khan (2012) menggunakan NPC, EPC, PSE dan SRP untuk mengukur intervensi pemerintah di Pakistan pada sektor tebu di wilayah pertanian tebu tiga besar yaitu Pakistan Punjab, Sindh dan Khyber Pakhtunkhwa dan Pakistan secara keseluruhan. Hasil analisis mengungkapkan bahwa di bawah rezim substitusi impor, terjadi transfer output maupun input dari produsen tebu kepada masyarakat dan wajib pajak ekspor. Di bawah rezim promosi ekspor, transfer ini berasal dari masyarakat dan pembayar pajak kepada produsen tebu. Ini menyiratkan bahwa kebijakan pertanian dan ekonomi makro tidak konsisten dengan keuntungan komparatif dari produksi tebu baik pada rezim substitusi impor maupun promosi ekspor.
2.3. Kerangka Pemikiran Operasional
Program revitalisasi pertanian yang dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 2005 telah menunjukkan pencapaian cukup memuaskan, hal ini terlihat dari pertumbuhan beberapa subsektor pertanian yang cukup pesat. Di Kabupaten Indragiri Hulu subsektor pertanian yang mengalami pertumbuhan cukup pesat pada tahun 2011 disamping subsektor perkebunan adalah subsektor perikanan (10,96 persen) dan peternakan (6,75 persen). Subsektor perikanan dan peternakan ini layak untuk diprioritaskan pengembangannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang nantinya akan berkontribusi pada peningkatan PDRB daerah ini.
Di Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau, komoditi patin dan sapi potong merupakan komoditi unggulan sehingga masih punya potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di masa yang akan datang. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh usaha budidaya patin maupun usaha peternakan sapi potong di Kabupaten Indragiri Hulu sehingga akan berdampak pada eksistensi usaha dan daya saingnya. Untuk itu perlu dikaji mengenai daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap usaha budidaya patin dan peternakan sapi potong yang selama ini telah dikembangkan oleh masyarakat daerah ini.
Analisis yang dapat digunakan untuk menganalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah adalah analisis Policy Analysis matrix (PAM). Metode PAM menganalisis keuntungan baik secara privat maupun sosial, analisis daya saing (keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif) dan analisis dampak kebijakan yang mempengaruhi sistem komoditas. Setelah melakukan analisis PAM, selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas. Tujuan analisis sensitivitas adalah untuk mengetahui apakah budidaya patin dan peternakan sapi potong masih tetap memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif jika terjadi perubahan pada harga output dan adanya perubahan produksi. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka kerangka penelitian operasional dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Kerangka Pemikiran Operasional
Produk Unggulan Sektor Peternakan dan Sektor Perikanan Kabupaten Indragiri Hulu
Implikasi Kebijakan Daya Saing Budidaya Patin dan
Usaha Peternakan Sapi Potong
Policy Analysis Matrix (PAM)
Analisis Sensitivitas
Usaha Budidaya Patin Usaha Peternakan Sapi Potong
Kondisi Usaha Budidaya Patin saat ini:
• Kesulitan modal
• Mahalnya harga pakan
• Bibit sebagian besar impor
• Harga cenderung tidak stabil
Usaha Peternakan Sapi Potong saat ini:
• Peternakan rakyat skala kecil dan Usaha sambilan
• Produktivitas masih rendah
• Teknologi pengolahan pakan tidak ada
• Periode pemeliharaan terlalu lama