The article is published with Open Access at: http://ejournal.iaingawi.ac.id/index.php/inisiasi
KORELASI MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA DENGAN MUTU PENDIDIKAN DI MA SYARIFATUL’ULUM KATERBAN
(Studi kasus Madrasah Aliyah Syarifatul Ulum Katerban Ngawi)
Eka Binti Mahmudah
1, Zuhriana Widya Rahayu Ning Tyas
2, Dewi Menur
3Institut Agama Islam (IAI) Ngawi
Email : [email protected]
Abstract: The dynamics of education begins with the demand for quality improvement, so that better improvements and new innovations must be made. Efforts are being made to improve both the facilities and infrastructure provided by schools that are more appropriate and meet standards. This is very important to support and support the implementation of education, both in the learning process and other activities, especially student learning. In general, facilities and infrastructure that are complete and meet standards can improve the quality of education through the process of delivering knowledge to be more effective. The purpose of this study was to determine the management of facilities and infrastructure at MA Syarifatul Ulum Katerban, to determine the quality of education at MA Syarifatul Ulum Katerban, to determine the correlation of facilities and infrastructure management with the quality of education at MA Syarifatul Ulum Katerban. This research method is a quantitative research, correlational between two variables, X and Y. The results of the study 1) the infrastructure at the institution is fairly good, 2) the quality of education at the institution is very good, 3) there is a low positive influence or there is a correlation between the management of infrastructure and facilities with the quality of education at MA Syarifatul 'Ulum Katerban.
Key Words : Correlation, Management of Facilities and Infrastructure, Quality of Education
Abstrak: Dinamika Pendidikan bermula dari tuntutan peningkatan mutu, sehingga perbaikan yang lebih baik dan inovasi baru harus dilakukan. Upaya yang dilakukan dengan berbenah baik sarana maupun prasarana yang disediakan sekolah yang lebih layak dan memenuhi standar. Hal ini sangat penting untuk mendukung dan menunjang pelaksanaan pendidikan, baik dalam proses pembelajaran maupun kegiatan-kegiatan lainnya terutama belajar siswa. Pada umumnya sarana dan prasarana yang yang lengkap dan memenuhi standart dapat meningkatkan mutu pendidikan melalui proses penyampaian ilmu pengetahuan menjadi lebih efektif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui manajemen sarana prasarana di MA Syarifatul Ulum Katerban, untuk mengetahui mutu pendidikan di MA Syarifatul Ulum Katerban, untuk mengetahui korelasi manajemen sarana dan prasarana dengan mutu pendidikan di MA Syarifatul Ulum Katerban. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, korelasional antara dua variabel, X dan Y. Hasil penelitian 1) sarpras pada lembaga tersebut terbilang baik, 2) mutu pendidikan pada lembaga tersebut terbilang sangat baik, 3) terdapat pengaruh positif yang rendah atau ada korelasi manjemen sarpras dengan mutu pendidikan di MA Syarifatul ‘Ulum Katerban.
Kata Kunci : Korelasi, Manajemen Sarana dan Prasarana, Mutu Pendidikan
Received 2 August 2021; Accepted 15 August 2021 ; Published 5 September 2021
Citation: Eka Binti Mahmudah1, Zuhriana Widya Rahayu Ning Tyas2, Dewi Menur3 (2021). KORELASI MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA DENGAN MUTU PENDIDIKAN DI MA SYARIFATUL’ULUM KATERBAN (Studi kasus Madrasah Aliyah Syarifatul Ulum Katerban Ngawi). Inisiasi : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1(1), 1 – 8.
Copyright ©2021 Inisiasi : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Published by Institut Agama Islam Ngawi. This work is licensed under the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Vol. 1, No. 1, September 2021 |
2
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kegiatan manusia yang telah ada sejak zaman dahulu, sehingga pendidikan hampir sama tuanya dengan kehidupan manusia dalam berbagai rentang kehidupan.
Pendidikan yang dimaksud adalah untuk menjadikan manusia lebih baik, yaitu untuk memanusiakan manusia dan merubah perilaku, yang semuanya bermuara pada peningkatan mutu dan kualitas manusia memperoleh kesejahteraan hidup.
Gejala dunia pendidikan saat ini tidak sedikit yang mengalami perubahan, dimana perubahan tersebut bukan adanya peningkatan mutu pendidikan, melainkan masalah keterbelakangan pendidikan yang disebabkan keterbatasan kemampuan sekolah. Sebagaimana realitas menunjukkan pendidikan sekolah-sekolah di daerah pinggiran beda kualitasnya dengan sekolah-sekolah yang berada di perkotan.
Lebih luas lagi mutu pendidikan di Indonesia masih tertinggal dibanding dengan negera-negara lain di Asia. Mutu pendidikan kita masih jauh dari masih jauh dari yang diharapkan.
Pendidikan memang menjadi salah satu penopang dalam memajukan SDM. Peningkatan SDM menjadi keharusan untuk dilakukan dalam menyiapkan manusia Indonesia yang unggul untuk siap bersaing dengan negara lain. Pendidikan sebagai sarana utama masyarakat mendapat pengetahuan dan kapasitas di era modern saat ini. Pengembangan SDM dilakukan melalui proses edukasi yang relevan berdasarkan tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat. Dari sanalah manusia menjadi berkembangan intelektualnya dengan berpengetahuan dan berwawasan yang luas, aspek emosionalnya menjadikan perlaku dan sikap lebih harmonis selaras dengan nilai-nilai dan norma, aspek keterampilan lebih terampil hard skill dan soft skillnya.
Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an telah dijelaskan pada Surat Al-Mujadalah (28) Ayat 11 yang berbunyi :
Artinya : “Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang- orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Mutu pendidikan dapat diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak sebatas pada aktivitas di kelas, namun aktivitas itu dilakukan di manapun di laboratorium, di perpus, di bengkel kerja, di tamana dan lain sebagainya. Kesimpulannya keberadaan sarana dan prasarana (sarpras) sangat mutlak dalam pendidikan, dimana sarpras tersebut tidak bisa dipisahkan dalam proses pembelajaran.
Kegiatan belajar mengajar dikelas guru juga menggunakan fasilitas sarana sebagai alat pengajaran dan media pengajaran yang sesuai dengan metode pembelajaran.
MA Syarifatul ‘Ulum adalah embrio dari sebuah Pondok Pesantren Syarifatul ‘Ulum Katerban, Sekaralas, Widodaren, Ngawi. Lembaga pendidikan Islam tingkat menengah atas ini yang berdiri sejak tahun 2008 dibawah naungan Lembaga Pendidikan Syarifatul ‘Ulum yang terletak di daerah perdesaan yang secara geografis berada di lereng gunung lawu. Meskipun letknya di pedesaan, namun madrasah ini sangat diminati dan banyak siswa yang ingin bersekolah di madrasah tersebut. Siswa yang ingin bersekolah dimadrasah tersebut tidak hanya berasal dari desa sekitar saja melainkan dari luar kota dan
3 | Inisiasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
provinsi. Hal ini sangat menarik dimana sarpras tersedia yang masih belum memadai, namun prestasi yang sudah diraih sudah sangat membanggakan.
Pengelolan sarpras madrasah sangat penting untuk diupayakan dalam mewujudkan cita-cita yakni pendidikan yang bermutu. Secara umum sarpras madrasah jika tidak dikelola dengan efektif dan efisisen dapat mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Mengingat masih minimnya sarpras di madrasah, maka manajemen sarpras menjadi hal yang wajib dilakukan. Sedangkan untuk meningkatan mutu pendidikan perlu dipersiapkan sarpras harus memadahi demi berbelangsungan praktek pendidikan dan proses pembelajaran menjadi penunjang mewujudkan mutu pendidikan di madrasah tersebut.
Konsep manajemen sebagaimana dalam berbagai literatur bahwa diliat dari segi etimologi, berasal dari bahasa Prancis Kuno dari kata menagement, yang berarti seni melaksanakan dan mengatur.1 Manajemen juga dipahami sebagai kegiatan dalam mengelola beberapa sumber daya secara bekerja sama melalui keterlibatan beberapa orang dengan menerapkan kegaiatan-kegiatan yang relevan untuk mewujudkan suatu tujuan organisasi dengan efektif dan efisien2. Mulyani A. Nurhadi berpendapat bahwa, manajemen sebagai suatu proses yang dilakukan untuk meraih tujuan yang telah dicanangkan sebelumnya, yang mencakup tujuan umum dan tujuan khusus3.
Sarana pendidikan terdapat beberapa macam diantaranya perabotan, bahan, perlengkapan, dan peratalan yang secara langsung dipakai dalam kegiatan belajar mengajar, baik yang mampu bergerak maupun tidak bergerak untuk mencapaian tujuan pendidikan agar dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien4, seperti penggunaan media pembelajaran, bangku sekolah, alat pengajaran dan lain sebagainya. Sedangkan prasarana pendidikan adalah semua fasilitas yang secara tidak langsung bersentuhan atau menunjang proses kegiatan pendidikan atau pengajaran5, seperti ruang kelas, ruang laboratorium, gudang, ruang guru, ruang UKS, dan lain sebagainya.
Sarpras merupakan bagian penting menunjang proses belajar mengajar baik secara langsung maupun tidak langsung. Tanpa adanya sarpras pendidikan maka proses belajar mengajar tidak dapat berjalan dengan maksimal. Oleh sebab itu sarpras dalam pendidikan perlu ditingkatkan sesuai berkembangnya zaman agar proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan secara maksimal, efektif dan efisien.
Manajemen sarpras dapat diartikan sebagai serangakaian kegiatan pengadaan dan pendayagunaan berbagai komponen yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung menunjang penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien6, Menurut Riduone mengemukakan bahwa manajemen sarpras pendidikan dapat diartikan sebagai proses bekerja sama dalam mendayagunakan beberapa sarpras pendidikan secara efektif dan efisien.
Sedangkan menurut Juhairiyah, manajemen sarpras itu adalah beberapa komponen yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri7. Suatau tujuan pendidikan mampu diwujudkan secara efektif dan efisien manakala sarpras mampu dikelola dengan baik. Sehingga hal yang menjadi tujuan utama dalam kegiatan manajemen sarpras ialah bagaimana sarpras pendidikan yang tersedia di sekolah atau madrasah mampu dimanfaatkan dan berkontribusi terhadap kegiatan pendidikan, sehingga mampu mawujudkan tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
1 http://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Manajemen-Mb_28887_p2k-unkris.html, diakses pada tanggal 10 Maret 2021
2 Barbawi, M. Arifin, Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012, hal. 13
3 Irjus Indrawan, Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah, (Yogyakarta: Deepublish, 2015). hal. 11
4 Barbawi, M. Arifin, Manajemen Sarana dan Prasarana, hal 50
5 Irjus Indrawan, Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana, hal. 15
6 Barbawi, M. Arifin, Manajemen Sarana dan Prasarana, hal. 48
7 Daryanto dan Mohammad Farid, Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Sekolah, cet. Ke-1 (Yogyakarta: Penerbit Gava Media, 2013), hal. 120.
Vol. 1, No. 1, September 2021 |
4
Mutu pendidikan berhubungan dengan syarat atau standart yang ditetapkan untuk dicapai oleh sekolah atau madrasah. Pengertian mutu itu sendiri adalah sebagai sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran hasil yang dicapai. Mutu pendidikan yang dimaksud disini adalah segala kemampuan yang dikerahkan oleh sekolah atau madrasah melalui pemberdayaan segala potensi atau sumber pendidikan yand dimiliki untuk memperoleh hasil seoptimal mungkin. Menurut Crosby berpendapat bahwa mutu ialah conformance to requirement, yaitu sesuatu yang sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan. Suatu produk memiliki mutu apabila sesuai dengan standar atau kriteria mutu yang telah ditentukan. Standar mutu tersebut memiliki bahan baku, proses produksi, dan produk jadi8. Dengan demikian dapat dipahami bahwa mutu pendidikan adalah sebagai kualitas pendidikan serta terpenuhinya kepuasan kepada konsumen sesuai dengan yang diharapkan, prestasi belajar yang diraih baik oleh sekolah maupun peserta didik.
Manajemen mutu madrasah perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan oleh setiap lembaga, sehingga mampu berdaya saing dengan lembaga yang lain. Manajemen peningkatan mutu madrasah bermula dari kesadaran bersama akan pentingnya mutu pendidikan. Hal yang tidak kalah penting adalah kepala selaku leader memberikan kesempatan bagi semua pihak untuk terlibat, berkontribusi sesuai peran dan fungsinya. Secara khusus manajemen peningkatan mutu sekola/madrasah bertujuan adalah tujuan secara khusus yaitu : (1) Melalui peningkatan kemandirian, fleksibilitas, partisipasi, keterbukaan, kerja sama, akuntabilitas, sustainabilitas, dan inisiatif madrasah dalam mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan sumber daya yang tersedia diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan. (2) Pengambilan keputusan bersama dengan meningkatkan keterlibatan pihak dari unsur madrasah dan pihak masyarakat dalam penyenggaraan pendidikan. (3) tanggung jawab madrasah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah ditingkatkan dalam rangka peningkatan mutu madrasah. (4) Kompetisi yang sehat antar madrasah ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan9. Dengan demikian tujuan mutu pendidikan adalah untuk memandirikan dan memberdayakan sumber daya yang ada serta meningkatkan partisipasi dalam pengambilan keputusan.
METODE
Pendekatan dan jenis dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, korelasional antara dua variabel, X dan Y. Teknik Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan angket. Teknik Analisis penelitian menggunakan rumus product moment.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian lapangan mengenai korelasi manjemen sarpras terhadap mutu pendidikan di MA Syarifatul ‘Ulum Katerban. Penelitian lapangan ini dengan menyabar angket (kuesioner) sebanyak 15 item pertanyaan/pernyataan yang diberikan kepada responden. Manajemen sarpras MA Syarifatul Ulum Katerban merupakan variabel independen (bebas) atau bisa disebut variabel X. Sedangkan Mutu pendidikan MA Syarifatul Ulum Katerban merupakan variabel dependen (terikat) atau bisa disebut variabel Y. Variabel X diatas mempunyai jumlah nilai kriteria ideal (kritrium) untuk seluruh item adalah nilai 4 x 15 x 47 = 2820 (jika semua responden menjawab item dengan nilai 4. Jumlah yang diperoleh dari penelitian adalah 2059. Berdasarkan data tersebut, maka tingkat persetujuan terhadap sarpras
8 Abdul Hadist dan Nurhayati, Manajemen Mutu Pendidikan, Jakarta: Alfabeta, 2014, hal. 85
9 Prim Masrokan Muthohar, Manajemen Mutu Sekolah Strategi Peningkatan Mutu Dan Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hal. 133
5 | Inisiasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
adalah 2059 : 2820 x 100% = 73%. Dilihat dari hasil presentase tersebut dapat disimpulkan bahwa sarpras masuk kedalam kategori baik.
Sedangkan Variabel Y diatas mempunyai jumlah nilai kriteria ideal (kritrium) untuk seluruh item adalah nilai 4 x 15 x 47 = 2820 (jika semua responden menjawab item dengan nilai 4. Jumlah yang diperoleh dari penelitian adalah 2303. Berdasarkan data tersebut, maka tingkat persetujuan terhadap sarpras adalah 2303 : 2820 x 100% = 81,6%. Dilihat dari hasil presentase tersebut dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan masuk kedalam kategori sangat baik.
Berdasarkan penghitungan, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah nilai rhitung= 0,306 dipadukan dengan N sejumlah 47 responden pada rtabel berada ditaraf signifikansi 5% dengan nilai sebesar 0,288, maka nilai rhitung lebih besar dari pada rtabel, jadi hasil hipotesa kerja (Ho) ditolak dan (Ha) diterima artinya ada pengaruh positif dan signifikan. Apabila dipadukan dengan N = 47 pada taraf signifikan 1%
senilai 0,372, maka nilai rhitung lebih kecil dari pada rtabel, jadi hasil hipotesa kerja (Ha) ditolak dan (Ho) diterima artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa manajemen sarpras di MA Syarifatul ‘Ulum Katerban sudah baik. Hal ini dapat ditunjukkan dari rata-rata jumlah keseluruhan jawaban dari responden yaitu sebesar 73,0%. Manajemen sarpras merupakan pengelolaan sarpras yang dilakukan oleh pihak sekolah sehingga dapat menunjang berjalannya proses belajar mengajar baik akademik maupun yang bukan akademik.
Mutu pendidikan di MA Syarifatul ‘Ukum Katerban dapat diketahui dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa mutu pendidikan di MA Syarifatul ‘Ulum Katerban terbilang sangat baik. Hal ini dapat diketahui dari hasil presentase rata-rata jawaban responden yaitu sebesar 81,5%. Mutu pendidikan adalah kualitas proses dalam memperbaiki keluaran/kelulusan yang berkualitas baik dibidang akademik maupun non akademik.
Berdasarkan observasi peneliti mutu pendidikan MA Syarifatul ‘Ulum Katerban terbilang sangat baik, hal ini bisa dilihat dari hasil prestasi yang didapatkan oleh peserta didik MA Syarifatul ‘Ulum Katerban. Selain mengembangkan bidang akademik MA Syarifatul ’ulum juga mngembangkan dibidang non akademik seperti ekstrakulikuler, dan kajian kitab sehingga madrasah ini mempunyai nilai plus (+) yaitu selain mendapatkan ilmu formal juga mendapatkan ilmu informal yaitu bidang agama yang lebih unggul.
Hubungan sarpras dengan pendidikan dapat dikatakan bahwa sarpras sangat berperan penting proses pendidikan, guna dapat terpenuhinya kebutuhan pendidikan dan terwujudnya tujuan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Oleh sebab itu sarpras perlu didayagunakan dan ditingkatkan karena keberadaannya sangat mendukung dalam proses belajar mengajar hal ini berjuan agar dapat terpenuhinya kebutuhan pendidikan dan peningkatan minat dan kualitas atau kepuasan peserta didik dalam menikmati proses belajar mengajar yang ada dimadrasah tersebut.
Peneliti menyimpulkan dari penjelasan di atas, jika dihubungkan dengan penelitian yang mengukur korelasi manajemen sarpras terhadap mutu pendidikan di MA Syarifatul ‘Ulum Katerban dengan menggunakan rumus korelasi product moment ditemukan hasil tingkat signifikan sebesar 0,30 yang berarti pengaruhnya rendah.
Adapun hasil penelitian menunjukkan nilai rhitung= 0,306 dipadukan dengan N sejumlah 47 responden pada rtabel berada ditaraf signifikansi 5% dengan nilai sebesar 0,288, maka nilai rhitung lebih besar dari pada rtabel, jadi hasil hipotesa kerja (Ho) ditolak dan (Ha) diterima artinya ada pengaruh positif dan signifikan. Apabila dipadukan dengan N = 47 pada taraf signifikan 1% senilai 0,372, maka nilai rhitung lebih kecil dari pada rtabel, jadi hasil hipotesa kerja (Ha) ditolak dan (Ho) diterima artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan.
Vol. 1, No. 1, September 2021 |
6
Hasil rhitung = 0,30 berada diantara taraf signifikan 5% dan 1%. Oleh karena itu, untuk memperjelas dan menyimpulkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti memilih hasil penelitian yaitu berada ditaraf signifikan 5% dengan N = 47 senilai 0,288. Bahwa nilai rhitung lebih besar dari pada rtabel, jadi hasil hipotesa kerja (Ho) ditolak dan (Ha) diterima artinya ada pengaruh positif dan signifikan atau bisa dikatakan bahwa ada korelasi antara manajemen sarpras dengan mutu pendidikan di MA Syarifatul
‘Ulum Katerban Tahun Pelajaran 2020/2021.
Interpretasi
Dari tabel pedoman interpretasi diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah nilai rhitung = 0,30 berada diklasifikasi antara nilai 0,20 sampai dengan nilai 0,399 yang artinya bahwa antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang rendah, yang artinya hipotesa kerja (Ha) diterima yaitu ada pengaruh positif dan signifikan yang rendah antara manajemen sarpras dengan mutu pendidikan di MA Syarifatul
‘Ulum Katerban tahun pelajaran 2020/2021.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan yang sudah peneliti dipaparkan pada bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, manajemen sarpras di MA Syarifatul ‘Ulum Katerban pada tahun 2020/2021 memiliki nilai rata-rata 73,0%, sehingga sarpras pada lembaga tersebut terbilang baik. Kedua, Mutu pendidikan di MA Syarifatul ‘Ulum Katerban pada tahun 2020/2021 memiliki nilai rata-rata 81,5% mutu pendidikan pada lembaga tersebut terbilang sangat baik. Ketiga, Pada korelasi manajemen sarpras di MA Syarifatul ‘Ulum Katerban pada tahun 2020/2021 memiliki nilai pebedaan yang signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rhitung = 0,30 dipadukan dengan rtabel dengan N = 47 responden berada ditaraf signifikan 5% dengan nilai sebesar 0,288. Maka dapat dinyatakan bahwa thitung > ttabel (0,30 > 0,288). Sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh positif yang rendah atau ada korelasi manjemen sarpras dengan mutu pendidikan di MA Syarifatul ‘Ulum Katerban Tahun Pelajaran 2020/2021.
DAFTAR PUSTAKA
Barnawi & M. Arifin. Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012
Daryanto dan Mohammad Farid. Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Sekolah Cet. Ke-1 Yogyakarta: Penerbit Gava Media, 2013
Hadis, Abdul, Nurhayati. Manajemen Mutu Pendidikan. Jakarta: Alfabeta, 2014
http://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Manajemen-Mb_28887_p2k-unkris.html, diakses pada tanggal 10 Maret 2021
Indrawan, Irjus. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. Yogyakarta: Deepublish, 2015
Muthohar, Prim masrokan. Manajemen Mutu Sekolah Strategi Peningkatan Mutu Dan Daya
Saing Lembaga Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013
7 | Inisiasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi dengan Metode R&D. Bandung: Alfabeta, 2017.
Zahra, Aminatul. Total Quality Manajemen Teori dan Praktik Manajemen Untuk Mendongkrak
Mutu Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014.Vol. 1, No. 1, September 2021 |