• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : Ratu Bilqis NIM : Dosen Pembimbing : Indra Rahmatullah SH.I., M.H.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh : Ratu Bilqis NIM : Dosen Pembimbing : Indra Rahmatullah SH.I., M.H."

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Meraih Gelar Sarjana Hukum Pada Program Studi Hukum Keluarga

Oleh : Ratu Bilqis NIM : 11170440000067

Dosen Pembimbing : Indra Rahmatullah SH.I., M.H.

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H/2021 M

(2)

i

GUGAT CERAI DI PENGADILAN AGAMA AKIBAT KEBIJAKAN PEMBATASAN SOSIAL BERSKALA BESAR

SELAMA PANDEMI COVID-19

(STUDI DI PENGADILAN AGAMA SERANG) SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh:

RATU BILQIS NIM. 11170440000067

Dibawah Bimbingan

Indra Rahmatullah SH.I., M.H.

NIDN. 2021088601

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H/2021 M

(3)
(4)

iii

LEMBAR PERNYATAAN

Nama : Ratu Bilqis

NIM : 11170440000067

Tempat/Tanggal Lahir : Serang, 31 Maret 1999

Jurusan : Hukum Keluarga

Fakultas : Syariah dan Hukum

Alamat : Jl. KH. Amin Jasuta, No. 73, Kaloran Brimob, RT.

001/RW. 013, Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten.

Judul : Gugat Cerai Di Pengadilan Agama Akibat Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar Selama Pandemi Covid-19 (Studi Di Pengadilan Agama Serang)

Dengan ini saya menyatakan:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S-1) Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang ada dalam penulisan ini telah saya canumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti karya ini bukan karya asli saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullh Jakarta.

Jakarta, 19 April 2021

RATU BILQIS 11170440000067

(5)

iv H/2021 M.

Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan serta menganalisis mengenai alasan yang melatarbelakangi terjadinya peningkatan perkara cerai gugat yang disebabkan oleh adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), akibat dari adanya pandemi covid-19 yang sedang melanda Indonesia. Kebijakan pemerintah mengenai PSBB pada masa pandemi covid-19 yang bertujuan untuk memelihara kesehatan keluarga ternyata sebagai penyebab terjadinya peningkatan perkara perceraian. Hal ini terjadi akibat dari adanya dampak ekonomi yang ditimbulkan dari kebijakan PSBB ini.

tidak sedikit para pelaku usaha baik mikro maupun makro yang mengalami kerugian besar. akibatnya para pencari nafkah yang kehilangan pekerjaannya dan tidak dapat mendapatkan penghasilan selama masa pandemi covid-19, dan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan sampingan atau pekerjaan baru

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Normatif – Empiris dengan menggunakan pendekatan peraturan perundang – undangan (Statute Approach) dan pendekatan kasus (Case Approach) dengan menggunakan teknik pengumpulan data studi wawancara dan library research dengan melakukan pengkajian terhadap peraturan perundangan, buku – buku, dan kitab – kitab fikih yang berkaitan dengan judul skripsi ini.

Hasil penelitian menunjukan bahwa alasan terjadinya peningkatan cerai gugat yang terjadi di Pengadilan Agama Serang ini dilatarbelakangi karena faktor ekonomi.

Banyak para pencari nafkah yang terkena PHK akibat adanya kebijakan PSBB ini.

akibatnya hal ini menimbulkan pertengkaran secara terus menerus yang terjadi antara suami dan istri dikarenakan suami yang tidak mampu untuk menafkahi keluarganya karena tidak mempunyai pekerjaan dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru.

Alasan kedua tertinggi yang menjadi penyebab terjadinya perkara cerai gugat ialah karena perselingkuhan atau adanya pihak ketiga. Hal ini kerap terjadi pada pasangan yang bekerja diluar kota.

Kata Kunci: Cerai Gugat, PSBB, Covid-19 Pembimbing: Indra Rahmatullah, SH.I., M.H.

(6)

v

PEDOMAN TRANSLITERASI

Transliterasi merupakan alih aksara melalui tulisan asing (terutama Bahasa Arab) ke dalam tulisan latin. Pedoman ini diperlukan untuk karya tulis ilmiah yang menggunakan beberapa istilah Bahasa Arab yang belum dapat diakui sebagai kata Bahasa Indonesia atau lingkup yang penggunannya terbatas.

a. Padanan Aksara

Daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin, sebagai berikut:

Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

ا Tidak dilambangkan

ب B Be

ت T Te

ث Ts Te dan Es

ج J Je

ح H Ha dengan garis bawah

خ Kh Ka dan ha

د D De

ذ Dz De dan Zet

ر R Er

ز Z Zet

س S Es

ش Sy Es dan ye

(7)

vi

ظ Z Zet dengan garis bawah

ع ‘ Koma terbalik di atas hadap

kanan

غ Gh Ge dan ha

ف F Ef

ق Q Qo

ك K Ka

ل L El

م M Em

ن N En

و W we

ه H Ha

ء ` Apostrop

ي Y Ya

b. Vokal

Arti vokal dalam Bahasa Arab sama seperti dalam Bahasa Indonesia, yaitu memiliki vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

Ketentuan alih aksara untuk vokal tunggal atau monoftong, sebagai berikut:

(8)

vii

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ــــــَـــــ a Fathah

ـــــِــــــ i Kasrah

ـــــُـــــ u dammah

Ketentuan alih aksara vokal rangkap atau diftong, sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ي ـــــَــــــ Ai a dan i

و ـــــَــــــ Au a dan u

c. Vokal Panjang

Ketentuan alih aksara vokal panjang atau madd dalam Bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

Tanda Vokal Arab

Tanda Vokal Latin

Keterangan

َاـــــ â a dengan topi di atas

ۑــــــــِـــــــــــــ î i dengan topi di atas وـــــــــــــ ُــــــــــــــــ ȗ u dengan topi di atas

d. Kata Sandang

Kata sandang, yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam (لا), dialihakasarakan menjadi huruf “I” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah atau huruf qomariyyah. Misalnya:

داهتجلاا = al-ijtihâd

(9)

viii

tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:

ةعفشلا = al-syuf’ah, tidak ditulis asy-syuf’ah.

f. Ta Marbûtah

Jika ta Marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri (lihat contoh 1) atau diikuti oleh kata sifat (na’t) (lihat contoh 2), maka huruf ta Marbûtah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika huruf ta Marbûtah tersebut diikuti dengan kata benda (isim), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “t” (lihat contoh 3)

No Kata Arab Alih Aksara

1 ةعي رش syarî‘ah

2 ةيم لاس لإلا ةعي شلا al-syarî‘ah al-islâmiyyah 3 بهاذملا ةنراقم muqâranat al-madzâhib

g. Huruf Kapital

Huruf kapital digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Perlu diperhatikan jika nama yang didahului dengan kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Contoh ىراخبلا = al-Bukhâri tidak ditulis Al-Bukhâri.

Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau

(10)

ix

cetak tebal. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kata nama tersebut berasal dari bahasa Arab. Misalnya Nuruddin al-Araniri, tidak ditulis Nûr al-Dîn al-Rânîrî.

h. Cara Penulisan Kata

Setiap kata, baik kata kerja (fi’il), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas:

No Kata Arab Alih Aksara

1 تاروظحملا حيبث ةرورضلا Al-darûrah tubîhu al-mahzûrât 2 يملاسلإا د اصتقلإا Al-iqtisâd al-islâmî

3 هقفلا لوصأ Usûl al-fiqh

4 ةح ابلإا ءايشلأا يف لصلأا al-‘asl fî al-asyyâ’ al-ibâhah 5 ةلس رملا ةحلصملا Al-maslahah al-mursalah

(11)

x

begitu banyak karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat waktu. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan nabi besar Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing kita dari zaman jahiliyah hingga zaman addinul islam yang penuh dengan rahmat ini.

Penulis bersyukur dan bahagia, karena telah menyelesaikan tugas akhir dalam jenjang pendidikan S1 ini, sehingga bisa memperoleh gelar Sarjana Hukum lulusan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis juga meminta maaf yang sedalam-dalamnya apabila ada kesalahan dalam penulisan skripsi ini dan apabila ada yang kurang berkenan dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata kesempurnaan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi ini, baik dorongan yang berupa moril maupun materiil. Oleh karena itu penulis secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Ibu Prof. Dr.

Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., MA.

2. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie S.Ag, S.H, M.A., selaku Dekan dari Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 3. Dr. Mesraini, M.Ag, dan Ahmad Chairul Hadi, M.A., selaku Ketua Program

Studi Hukum Keluarga dan Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum. Atas jasa, dukungan, dan doa yang mampu membuat penulis bersemangat menjadi mahasiswa yang rajin dan bermanfaat, dan memberikan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini secara tepa waktu.

(12)

xi

4. Dra. Maskufa M.A., dan Dr. Abdul Halim, M. Ag., CM selaku Dosen Penasihat Akademik dan juga selaku dosen Metode Penelitian yang selalu membimbing penulis dengan penuh kesabaran ditengah-tengah kesibukan beliau. Selalu memberi arahan dan masukan yang sangat positif dan bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, sehingga merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi penulis karena beliau berdua telah membimbing dengan sabar dan ikhlas.

5. Indra Rahmatullah, SH.I., M.H., selaku Dosen Pembimbing Skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih untuk beliau karena selalu membimbing dan memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis. Memberikan arahan dan masukan yang positif bagi penulis untuk memberikan semangat dalam menulis skirpsi ini. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi penulis karena telah dibimbing beliau yang telah sabar dan dosen yang hebat dalam bidangnya.

6. Kepada para dosen Fakultas Syariah dan Hukum yang telah mendidik penulis dan memberikan ilmunya sehingga adanya inspirasi dalam judul dan penulisan skripsi ini.

7. Pimpinan perpustakaan, pengelola perpustakaan, Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakrta yang telah memberi fasillitas untuk mengadakan studi kepustakaan 8. Kepada para staff Pengadilan Agama Serang, dan terutama kepada Ibu hakim

Dra. Hj. Hulailah, M.H. dan Ibu Dra. Nurnanungsih, S.H, serta Bapak Drs. H.

Baehaki, M.Sy selaku panitera Pengadilan Agama Serang yang telah memberikan data wawancara terkait dengan penelitian penulis. Semoga selalu dalam keberkahan dalam hidupnya.

9. Kedua orang tua penulis yaitu H. TB. Safroni Toyyib, S.Pd.I (Alm) dan Muyasaroh S.Pd.AUD serta kakak penulis yaitu Ratu Firda Aulia dan adik penulis yaitu Ratu Farah Dzibba dan juga keluarga yang telah memberikan

(13)

xii

Aufal Jundi, Rohmah Hidayanti, Eiga Irwana, Rizky Amalia, Syafiqa Muftia Hannin, Indi Niluvar, Oceania Hasanah yang telah membantu dan memberikan semangat kepada penulis.

Akhir kata penulis berharap segenap semoga Allah SWT membalas jasa-jasa mereka, kebaikan mereka, dan melindungi mereka baik di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga skripsi ini membawa keberkahan dan bermanfaat bagi para pembaca, walaupun masih banyak kekurangan dan belum sempurna dalam penulisan. Kekurangan milik manusia dan kesempurnaan hanyak milik Allah SWT.

Jakarta, 19 April 2021

Ratu Bilqis Penulis

(14)

xiii DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ...iii

ABSTRAK... . iv

PEDOMAN TRANSLITERASI ... v

KATA PENGANTAR ...x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Rumusan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 6

G. Kajian Pustaka ... 6

1. Studi Terdahulu ... 6

2. Kerangka Teori dan Konseptual ... 8

H. Metode Penelitian ... 11

1. Jenis Penelitian ... 11

2. Metode Pendekatan ... 11

3. Teknik Pengumpulan Data ... 12

4. Sumber Bahan Hukum... 12

5. Analisis Data ... 13

6. Teknik Penulisan ... 13

I. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II PERCERAIAN DI INDONESIA ... 15

A. Pengertian Perceraian ... 15

B. Dasar Hukum Perceraian di Indonesia ... 19

C. Syarat dan Tata Cara Perceraian ... 22

(15)

xiv

2. Hukum Khulu’ ... 30

3. Rukun dan Syarat Khulu’ ... 32

BAB III KEBIJAKAN PEMBATASAN SOSIAL BERSKALA BESAR (PSBB) DI MASA PANDEMI COVID-19... 39

A. Pandemi Covid-19 ... 39

B. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ... 43

C. Problematika Penerapan PSBB di Kota Serang ... 46

BAB IV RELEVANSI KEBIJAKAN PEMBATASAN SOSIAL BERSKALA BESAR (PSBB) DAN PENINGKATAN PERKARA CERAI GUGAT PADA MASA COVID- 19...54

A. Faktor Penyebab Terjadinya Peningkatan Perceraian pada Masa Pandemi Covid-19 ... 54

B. Relevansi Kebijakan PSBB dan Peningkatan Perceraian di Masa Pandemi Covid-19 ... 58

BAB V PENUTUP ... 64

A. Simpulan ... 64

B. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 66

LAMPIRAN - LAMPIRAN………..……….72

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Awal Tahun 2020 wabah virus covid-19 telah melanda dunia. World Health Organization mengumumkan keadaan pandemi setelah virus baru bernama Covid-19 yang menyebar dengan cepat di negara – negara di berbagai benua.1 Di Indonesia sendiri virus Covid-19 telah ada sejak awal maret 2020. Sejak saat itu pemerintah menetapkan kebijakan baru mengenai percepatan penanganan Covid-19 yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar. Pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan Sosial Distancing dengan menerapkan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah, hal ini menjadi salah satu strategi dari pemerintah yang digunakan untuk memperlambat laju penyebaran virus covid-19.2 Adanya virus Covid-19 mengharuskan masyarakat menerapkan sosial distancing dan karantina mandiri dirumah sehingga menyebabkan masyarakat harus tetap tinggal dirumah setiap harinya.

Kebijakan pemerintah mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar pada masa pandemi covid-19 yang bertujuan untuk memelihara kesehatan keluarga ternyata sebagai penyebab terjadinya peningkatan perkara perceraian. Hal ini terjadi akibat dari para pencari nafkah yang kehilangan pekerjaannya dan tidak dapat mendapatkan penghasilan selama masa pandemi covid-19. Perceraian dengan alasan ekonomi ini dari waktu ke waktu menjadi topik pembahasan yang cukup penting. Dalam kehidupan berumah tangga, uang memang bukan segalanya, namun jika tidak memiliki uang akan memicu sejumlah persoalan yang cukup fatal dalam kehidupan berumah tangga.3

1 Jusuf Wanandi, Kerjasama ASEAN-China di Masa Pandemi Covid-19, dalam buku Indonesia dan Covid-19: Pandangan Mmulti Aspek dan Sektoral, (Jakarta : CSIS Indonesia, 2020), h. 12

2 Daud, Sosial Distancing dan Negara Kita, dalam buku Pandemik Covid-19: Persoalan dan Refleksi di Indonesia, (Medan: Yayasan Kita Menulis, 2020), h. 40

3 Fenni Febiana, Perceraian dengan Alasan Ekonomi Perspektif Maqashid Syariah, (Equitable Jurnal Ilmiah : Jurisprudence Approach Vol. 3 No. 1, 2018), h. 101

(17)

Adanya faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian terlebih di masa pandemi ini ialah Perbedaan pendapat, pertengkaran, percekcokan, perselisihan terus menerus yang menyebabkan hilangnya rasa cinta dan kasih sayang. Pertengkaran menyebabkan bersemainya rasa benci dan buruk sangka terhadap pasangan. Pertengkaran yang meluap-luap menyebabkan hilangnya rasa percaya dan terus memicu perceraian.

Penyebab perceraian juga dipicu maraknya pernikahan di bawah umur. Pernikahan di bawah umur membuat mereka belum siap mengatasi pernik-pernik pertikaian yang mereka jumpai.4

Adanya kebijakan PSBB membuat kondisi terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Menurut penuturan Sekjen PBB Antonio Guteres (Awaliyah & Rostanti, 2020) bahwa terdapat kekhawatiran atas naiknya KDRT di beberapa negara dimana hal ini dikarenakan banyak orang yang terperangkap di rumah dengan pasangan yang kasar. Terdapat faktor-faktor yang menyebabkan KDRT selama pandemi COVID-19 ini seperti faktor sosial, ekonomi, dsb. Faktor ekonomi menjadi penyebab yang paling utama saat pandemi covid-19 ini karena aktivitas ekonomi juga berkurang bahkan terhenti. Banyak terjadi Pemutus Hubungan Kerja (PHK) sehingga ekonomi keluarga yang di PHK mengalami tidak adanya pemasukan untuk membiayai hidup sehari-hari.

Dari masalah tersebut maka dapat memicu tekanan dan menyebabkan emosi berlebih pada pencari nafkah yang dapat berujung pada kekerasan fisik yang mengakibatkan terjadinya perceraian5

Perceraian yang terjadi pada masa Covid-19 mayoritas terjadi pada perkara cerai gugat. Hal ini disebabkan oleh faktor utama yaitu adanya Perselisihan dan perbedaan pendapat, adanya perselingkuhan, dan faktor ekonomi. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara cerai gugat dan cerai talak di Pengadilan Agama Serang, sebagaimana

4 Armansyah Matondang, Faktor – Faktor yang mengakibatkan perceraian dalam perkawinan, (Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik, Vol. 2, No. 2, 2014), h. 142

5 Theresia Vania Radhitya, dkk, Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga, (Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, 2020), h. 112

(18)

3

terdapat di dalam Data statistik Pengadilan Agama Serang Tahun 2020 sebagai berikut:6

NO BULAN CERAI GUGAT CERAI TALAK

1 Januari 291 59

2 Februari 201 48

3 Maret 167 43

4 April 73 17

5 Mei 97 29

6 Juni 334 74

7 Juli 288 69

8 Agustus 253 71

9 September 307 73

10 Oktober 230 49

11 November 260 58

12 Desember 178 39

Pada bulan Maret – Mei terdapat pembatasan perkara yang masuk di Pengadilan Agama Serang dikarenakan adanya penerapan Kebijakan PSBB yang sudah diterapkan di Pengadilan Agama Serang. Sedangkan pada bulan Juni – Desember terdapat peningkatan perkara perceraian yang terjadi setelah Kebijakan PSBB diberlakukan, terutama pada perkara cerai gugat.

6 Data Statistik Pengadilan Agama Tahun 2020

(19)

Kondisi keluarga pada saat pandemi covid-19 berdasarkan hasil survey online oleh Dept IKK-Fema-IPB, 2020 bahwa kondisi pekerjaan, keuangan, dan makanan menjadi lebih buruk 36,9-55%, suami marah ke istri sekitar 61% dan istri marah ke suami sekitar 70%, suami memukul istri sebanyak 2% dan istri memukul suami sebanyak 1%.

Hal tersebut menjelaskan bahwa adanya pengaruh negative terhadap keluarga pada saat pemberlakuan Pembatasan Sosial berskala Besar yang dilakukan oleh pemerintah.7

Selama pandemi Covid-19 kasus perceraian meningkat, banyak faktor yang melatarbelakngi peningkatan kasus perceraian, tapi yang mendominasi saat ini karena masalah ekonomi. Pengadilan Agama Serang mencatat bahwa Pengajuan kasus perceraian di dominasi oleh pasangan usia muda. Hal tersebut di sebabkan salah satunya karena lemahnya ketahanan keluarga yang ada pada keluarga pasangan muda yang tidak mampu bertahan dalam perubahan struktur, fungsi dan peranan keluarga.

Studi terkait dengan perceraian terutama pada perkara cerai gugat umumnya melihat dari berbagai faktor yaitu: Pertama, faktor ekonomi yang terjadi di dalam rumah tangga (Irma Garwan,dkk 2018)8, Kedua, adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dilakukan oleh suami (Moh Makmun dan Imam Rofiqin, 2018)9, dan masih terdapat banyak factor yang melatarbelakanginya. Namun, studi ini memberi perhatian khusus terhadap peningkatan perkara cerai gugat masa pandemi virus19.

Studi ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan jumlah perceraian di Pengadilan Agama terutama pada perkara cerai gugat dan kaitannya dengan kebijakan pemerintah mengenai PSBB pada masa pandemi covid-19 untuk memelihara kesehatan keluarga ternyata sebagai penyebab terjadinya peningkatan perceraian. Studi terhadap hal ini belum menjadi perhatian para peneliti sebelumnya terutama kaitannya dengan

7 Herien Puspitawati, Ketahanan Keluarga Melawan Pandemi Covid-19, (PPT oleh Kepala Divisi Ilmu Keluarga Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB, 2020), h. 15

8 Irma Garwan,dkk, Tingkat Perceraian Dan Pengaruh Faktor Ekonomi Di Kabupaten Karawang, (Jurnal Ilmiah Hukum, Vol. 3, No. 1, 2018), h. 52

9 Moh Makmun dan Imam Rofiqin, Cerai Gugat Akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Putusan Hakim Di Pengadilan Agama Gresik), (Jurnal Hukum Keluarga Islam, Vol. 3, No.2, 2018), h. 185

(20)

5

kebijakan pembatasan sosial berskala besar dan kaitannya dengan peningkatan perceraian dalam masyarakat muslim termasuk di Indonesia.

Kajian ini mengajukan argumentasi bahwa Kebijakan pemerintah mengenai PSBB pada masa pandemi covid-19 yang bertujuan untuk memelihara kesehatan keluarga ternyata berubah menjadi faktor peningkatan perceraian di Pengadilan Agama. Oleh sebab itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mencari apa yang menjadi penyebab meningkatnya perceraian di masa pandemi covid-19. Studi ini memiliki kebaruan karena melakukan analisis terhadap kasus gugat cerai di Pengadilan Agama dan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar masa Covid-19.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Apa kebijakan yang telah di keluarkan pemerintah pada masa Covid-19?

2. Bagaimana efektivitas kebijakan PSBB dalam lingkup keluarga?

3. Faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya perceraian?

4. Berapa banyak presentase kondisi keluarga pada masa pandemi covid-19?

5. Peningkatan Gugat Cerai dan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar Pada Masa Pandemi Covid-19.

6. Mengapa banyak yang mengajukan perceraian pada kisaran usia muda?

7. Apa relevansi Kebijakan PSBB dengan peningkatan perkara perceraian?

C. Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah pembahasan dalam penulisan skripsi ini, maka penulis membatasi masalah yang akan dibahas sehingga pembahasan akan lebih jelas dan terarah. Penulis hanya akan membahas mengenai Gugat Cerai dan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar Pada Masa Pandemi Covid-19.

(21)

D. Rumusan Masalah

Fokus pada penelitian ini peningkatan cerai gugat di Pengadilan Agama dan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar masa Covid-19. Untuk membantu menjawab rumusan masalah perlu diajukan beberapa pertanyaan, diantaranya:

1. Apa yang menjadi faktor penyebab peningkatan gugat cerai pada masa covid- 19;

2. Apakah kebijakan PSBB memiliki kaitan dengan jumlah perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama pada masa Covid-19?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka studi ini bertujuan untuk:

1. Untuk menganalisis faktor penyebab peningkatan gugat cerai pada masa covid- 19

2. Untuk menganalisis kebijakan PSBB dan kaitannya dengan jumlah peningkatan perkara perceraian di Pengadilan Agama pada masa Covid-19 F. Manfaat Penelitian

Dapat memberikan kontribusi pemikiran serta gagasan kepada para akademisi untuk menambah literature serta dapat menambah wawasan terkait Cerai Gugat dan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar Selama Masa Covid-19.

G. Kajian Pustaka 1. Studi Terdahulu

Studi mengenai kajian perceraian sudah banyak dilakukan, diantaranya;

Theresia Vania Radhitya, dkk (2020), menyatakan bahwa terdapat berbagai persoalan yang terdampak dari pandemi COVID-19, secara umum ialah pada bidang perekonomian yang membuat masyarakat sulit mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan pendapatan untuk kebutuhan sehari – hari. Secara khusus masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan keluarga yaitu kekerasan dalam rumah tangga,

(22)

7

sebagai akibat dari adanya penerapan Sosial Distancing dan diam dirumah saja.10 Rizqi Maulida Amalia, dkk (2017), menyatakan bahwa Faktor ketidak harmonisan di dalam keluarga menjadi salah satu sebab terjadinya perceraian keluarga.

Ketidak harmonisan keluarga ini disebabkan oleh adanya pergeseran nilai perkawinan. Pasangan suami istri kurang memahami esensi tujuan pernikahan dan berkeluarga yang menjadi salah satu nilai dalam ketahanan keluarga. Hal itu menyebabkan adanya ketidakcocokan, perselisihan, akhlak yang buruk, cemburu dan gangguan fihak luar serta adanya faktor ekonomi.11 Haijan, dkk (2020), menyatakan tindak kekerasan terhadap istri disebabkan oleh hubungan suami istri yang bersifat struktura; komunikasi yang tidak baik diantara suami dengan istri dan adanya budaya patriarki yang telah mengakar dalam diri masyarakat.

Sedangkan, perceraian yang disebabkan karena faktor ekonomi atau nafkah memang biasa terjadi dikarenakan suami yang tidak bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhannya dan istri yang menyikapinya dengan tidak sabar.12

Siti Nikmah Marzuki (2013), menyatakan banyak dari keluarga mengalami tekanan ekonomi, hal tersebut terjadi karena suami tidak mampu untuk memenuhi kewajibannya untuk menafkahi keluarga, hal ini menimbulkan konflik berkepanjangan yang berujung pada perceraian. Angka perceraian di kabupaten Bone sangat tinggi, tak terkecuali factor ekonomi. Masalah yang kemudian muncul adalah kesejahteraan keluarga.13 Witono (2020) menyatakan bahwa Individu dan keluarga yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang ketahanan keluarga yang baik, akan mampu bertahan dengan perubahan struktur, fungsi dan peranan keluarga meskipun terdapat beberapa kendala seperti adanya pandemi covid-19 .

10 Theresia Vania Radhitya, dkk, Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga, h. 111

11 Rizqi Maulida Amalia, dkk, Ketahanan Keluarga dan Kontribusinya Bagi Penanggulangan Faktor terjadinya perceraian, (Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, Vol. 4 No. 2, 2017), h. 129

12 Haijan, dkk, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Perceraian Dengan Alasan Ekonomi Dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Di Pengadilan Agama Kota Malang 2019), (Hikmatina : Jurnal Ilmiah Hukum Keluarga Islam, Vol. 2, No. 3, 2020), h. 8

13 Siti Nikmah Marzuki, Relevansi Kesejahteraan Ekonomi Keluarga dengan Peningkatan Perceraian di Kabupaten Bone, (Al-Risalah : Jurnal Hukum Keluarga Islam, Vol. 2 No. 2, 2019), h. 179

(23)

Berkenaan dengan itu, dalam usaha mewujudkan ketahanan keluarga penting dikembangkan kebijakan dalam rangka peningkatan ketahanan keluarga secara sosial dan mental spiritual. Kebijakan diarahkan pada pengembangan jejaring di kelompok-kelompok masyarakat yang diinisiasi pemerintah maupun kelambagaan sosial yang tumbuh secara alamiah untuk mendapatkan ketahanan keluarga seperti yang diinginkan.14

Dari studi terdahulu, maka perbedaan dan ruang kosong sisi pada penelitian ini yaitu terkait pembahasan Gugat Cerai dan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar Selama Pandemi Covid-19.

2. Kerangka Teori dan Konseptual a. Perceraian

Perceraian ialah putusnya perkawinan yang artinya melepaskan atau meninggalkan perkawinan. Bercerai dapat disebabkan oleh kematian, karena keadaan rumah tangga yang tidak cocok dan pertengkaran selalu menghiasi kehidupan rumah tangga.15

Di dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak terdapat definisi yang tegas mengenai perceraian secara khusus. Di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 115 dan pasal 39 ayat(1) UU No.1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua pihak.

Di dalam UU No.7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam, di kenal 2 (dua) macam perceraian, yaitu cerai talaq, dan cerai gugat. Cerai talaq adalah cerai yang dijatuhkan oleh suami terhadap isterinya, sehingga perkawinan mereka menjadi putus. Seorang suami yang bermaksud

14 Witono, Partisipasi Masyarakat dalam Ketahanan Keluarga pada Masa Pandemi Covid-19, (Jurnal Masyarakat Mandiri, Vol. 4, No. 3, 2020), h. 396

15 Boedi Abdullah Dan Beni Ahmad Saebani, Perkawinan Dan Perceraian Dalam Keluarga Muslim, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), h. 49.

(24)

9

menceraikan isterinya mereka harus terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Pengadilan Agama, sedangkan cerai gugat adalah cerai yang didasarkan atas adanya gugatan yang diajukan oleh isteri, agar perkawinan dengan suaminya menjadi putus. Seorang isteri yang bermaksud bercerai dari suaminya harus lebih dahulu mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama.

b. Cerai Gugat

Cerai Gugat adalah ikatan perkawinan yang putus sebagai akibat permahonan yang diajukan oleh istri ke Pengadilan Agama, yang kemudian termohon (suami) menyetujuinya, sehingga pengadilan agama mengabulkan permohonan dimaksud. 16 Dalam hukum islam pun menjelaskan bahwa orang (istri) yang meminta kepada suaminya untuk memutuskan atau menceraikannya itu dinamakan Khuluk. Khuluk yang berasal dari Bahasa Arab secara etimologi berarti menanggalkan atau membuka pakaian. Secara istilah khuluk ialah Lepasnya hubungan perkawinan suami atau istri diserupakan dengan lepasnya pakaian sebagaimana al-Quran menyatakan bahwa istri merupakan pakaian suami begitupun juga sebaliknya suami menjadi pakaian istri17

Alasan yang melatarbelakangi terjadinya cerai gugat ialah:

a. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut- turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya dapat diajukan setelah 2 tahun terhitung sejak tergugat meninggalkan rumah, gugatan dapat diterima apabila tergugat menyatakan atau menunjukkan sikap tidak mau lagi kembali ke rumah kediaman bersama.

b. Antara suami istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga dapat

16 Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika,2009), h. 81

17 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Antara Fiqih Munakahat dan UU Perkawinan), (Jakarta: Prenada Media, 2007), h. 231

(25)

diterima apabila telah cukup jelas bagi Pengadilan Agama mengenai sebab-sebab perselisihan dan pertengkaran itu dan setelah mendengar pihak keluarga serta orang-orang yagn dekat dengan suami istri tersebut.

c. Suami mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang berat setelah perkawinan berlangsung, maka untuk mendapatkan putusan perceraian sebagai bukti penggugat cukup menyampaikan salinan putusan pengadilan yang memutuskan perkara disertai keterangan yang menyatakan bahwa putusan itu telah mempunyai kekuatan hukum tetap c. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar pada masa Covid-19

Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menekan jumlah kasus terinfeksi covid-19. Salah satu langkah awal yang dilakukan pemerintah ialah mensosialisasikan gerakan Sosial Distancing yang mengharuskan masyarakat menjaga jarak dan berinteraksi dengan masyarakat lainnya minimal 2 meter, tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain, serta tidak melakukan kerumunan massal yang akan beresiko menularkan virus covid-19.18

Untuk memutus mata rantai penularan virus covid-19 pemerintah Indonesia telah mengeluarkan beberapa kebijakan diantaranya ialah Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar yang membuat masyarakat harus menjalankan bekerja, beribadah dan sekolah dari rumah masing – masing dan tidak di perbolehkan untuk keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Langkah ini diambil untuk memutuskan mata rantai penyebaran covid-19.

Dengan dikeluarkannya kebijakan PSBB ini banyak masyarakat yang setuju karena di yakini dapat membantu untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 di Indonesia. Tetapi, tidak sedikit juga masyarakat

18 Dana Riksa Buana, “Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Virus Corona (Covid-19) dan Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa”, (Salam: Jurnal Sosial dan Budaya Syari FSH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Vol. 7, No. 3, 2020), h. 218

(26)

11

yang mengeluhkan dikeluarkannya kebijakan ini karena dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai macam akibat di bidang lain seperti di bidang ekonomi. Banyak para pencari nafkah yang mengalami kesulitan ekonomi akibat kebijakan PSBB yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia pada masa covid-19 ini.

H. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan penulis ialah penelitian normatif – empiris (applied law research). Menurut Abdulkadir Muhammad yang dimaksud dengan penelitian hukum normatif – empiris ialah penelitian yang menggunakan studi kasus hukum yang berupa penerapan dari suatu produk hukum. Pokok kajiaan penelitian ini adalah pelaksanaan atau implementasi dari suatu produk hukum tertentu secara faktual pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.19 Penelitian ini juga merupakan suatu penelitian yang menggabungkan penelitian normatif dengan menambahkan beberapa unsur dalam penelitian empiris, sehingga dalam penelitiannya terdapat gabungan dua tahap kajian, yaitu:

A. Kajian mengenai hukum normatif yang berlaku

B. Penerapan pada peristiwa yang konkrit guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penerapan tersebut dapat diwujudkan melalui perbuatan nyata dan dokumen hukum. Hasilnya akan menciptakan pemahaman realisasi pelaksanaan ketentuan – ketentuan hukum yang telah dijalankan secara patut atau tidak.

2. Metode Pendekatan

Pendekatan penelitian ini menggunakan dua metode pendekatan penelitian hukum, yaitu:

19 Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian, Cet. I., (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2004), h. 52

(27)

A. Pendekatan peraturan perundang – undangan (Statute Approach) merupakan penelitian yang dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundangan yang berkaitan dengan permasalahan (isu hukum) yang sedang di hadapi

B. Pendekatan kasus (Case Approach) merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mempelajari norma – norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum, melakukan telaah pada kasus – kasus yang berkaitan dengan isu hukum yang sedang di hadapi.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu data yang digunakan menggunakan data yang diambil dari lapangan melalui wawancara dengan pihak berkepentingan.20 Serta menggunakan penelitian pustaka (library research), yaitu menelusuri dan menemukan data yang sesuai dengan penelitian. Data yang diambil dari lapangan ialah wawancara dengan Hakim dan Panitera Pengadilan Agama Serang. Setelah data terkumpul maka penulis akan memaparkan data tersebut dan menganalisa.

4. Sumber Bahan Hukum

Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari studi kepustakaan dan mempunyai kekuatan yang mengikat. Sumber bahan hukum ini terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer ialah bahan hukum yang bersifat autoratif artinya yang mempunyai otoritas yang merupakan hasil dari tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang untuk itu.21 Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendapat para ulama,

20 Mukti Fajar dan Yulianto, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010), h. 192

21 Djulaeka dan Devi Rahayu, Buku Ajar: Metode Penelitian Hukum, (Surabaya : Scopindo Media Pustaka, 2020), h. 89

(28)

13

Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Inpres No. 1 Tahun1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar

b. Bahan Hukum Sekunder

Data sekunder yang digunakan ialah data yang diambil dari studi kepustakaan dengan cara membaca, mengutip dan menelaah skripsi, buku – buku, jurnal, artikel, dokumen, kamus yang berkenaan dengan permasalahan yang akan dibahas.

5. Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penulisan kali ini ialah metode analisis data kualitatif analitis. Dimana menggunakan tulisan, gambar, keterangan responden serta tingkah laku yang nyata.

6. Teknik Penulisan

Teknik penulisan yang digunakan dalam menyusun penelitian ini berpacu pada Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah Dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

I. Sistematika Penulisan

Penulis membuat sistematika penulisan yang disusun perbab, hal ini bertujuan agar penulisan skripsi ini menjadi lebih terarah. Dalam skripsi ini terdapat lima bab, yang setiap sub babnya memiliki penjelasannya masing – masing. Pada bagian pertama ini membahas mengenai pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan studi pustaka terdahulu dan kerangka konseptual, dan metodologi penelitian serta sistematika penelitian. Bagian ini digunakan sebagai acuan untuk bab selanjutnya

Pada bab kedua membahas mengenai perceraian di Indonesia. Selanjutnya pada bab ketiga menguraikan mengenai kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada masa pandemi covid-19. Selanjutnya pada bab keempat menjelaskan relevansi kebijakan PSBB dengan peningkatan perkara cerai gugat pada masa covid- 19. Bagian lima penelitian ini berisi mengenai penutup yang memuat simpulan dan

(29)

saran. Simpulan ini diperoleh dari analisa yang telah dilakukan dalam memaparkan data pada bab sebelumnya.

(30)

15 BAB II

PERCERAIAN DI INDONESIA A. Pengertian Perceraian

Perceraian merupakan suatu perbuatan yang sadar dan dilakukan dengan sengaja oleh pasangan suami istri untuk memutus atau mengakhiri hubungan ikatan perkawinan mereka.22 Menurut Subektiperceraian adalah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim atau tuntutan salah satupihak dalam perkawinan.23Peceraian secara yuridis yang termuat dalam Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 38 terdapat kata perceraian yang bersifat fakultatif dapat diartikan dengan “perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan atas putusan pengadilan”. Dalam Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 39 perceraian dirumuskan dalam tiga ayat:

a) Penegasan bahwa perceraian akan dianggap sah apabila diikrarkan di depan sidang pengadilan setelah diupayakan damai yang ditempuh dengan jalan mediasi teteapi tidak berhasil atau gagal

b) Menegaskan bahwa perceraian bisa dilakukan dengan alasan yang cukup bahwa suami istri tidak bisa lagi hidup rukun dan damai

c) Tata cara perceraian yang mengatur perceraian dilakukan di hadapan sidang pengadilan diatur dalam peraturan perundangan tersendiri.24

Ketentuan lain tentang perceraian juga diatur dalam PP No. 9 Tahun 1975 sebagai aturan pelaksana dari Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 116 yang menyebutkan mengenai alasan – alasan perceraian, yaitu:

1. Salah satu pihak yang berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan

22 Moch. Isnaeni, Hukum Perkawinan Indonesia, (Bandung: Refika Aditama, 2016), h. 100

23 R. Subekti, Pokok – Pokok Hukum Perdata, Cet. XXIX, (Jakarta: PT Intermasa, 2001), h. 42

24 Nabiela Naily, dkk, Hukum Perkawinan Islam Indonesia, (Jakarta: Prenadamedia Grup, 2019), h. 228

(31)

2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut – turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya

3. Salah satu pihak mendapat hukuman 5 (lima) tahun atau hukuman yan lebih berat setelah perkawinan berlangsung

4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain

5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri

6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga

7. Suami melanggar taklik talak

8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Pasal 117 KHI menyatakan bahwa perceraian harus di ikrarkan oleh suami di depan majelis sidang Pengadilan Agama barulah perkawinan dinyatakan putus. Di Indonesia putusnya perkawinan dapat dilakukan dengan talak maupun cerai gugat.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 1975 Pasal 28 dan 30 membedakan mengenai perceraian dengan talaq dan cerai gugat (khulu’). Diantara perbedaan keduanya ialah sebagai berikut:

1. Cerai Talak

Cerai talak menurut Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 ialah cerai khusus yang beragama islam yang diinisiasikan oleh suami yang mengajukan perceraian ke Pengadilan Agama untuk memeperoleh izin menjatuhkan talak kepada istri dengan mengajukan permohonan menjatuhkan ikrar talak kepada istri di depan Pengadilan Agama.25 Berdasarkan pasal 67 Undang – Undang No. 7 Tahun 1989 tentang

25 Adib Bahari, Prosedur Gugatan Cerai, Pembagian Harta Gono – Gini, Hak Asuh Anak.

(Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2012), h. 17

(32)

17

Peradilan Agama permohonan cerai talak memuat nama, umur dan tempat kediaman pemohon (suami) dan termohon (istri) serta alasan – alasan yang menjadi dasar cerai talak dan merupakan permohonan yang di inisiasi oleh suami terhadap istri.

Apabila perceraian terjadi dengan kehendak suami (talaq) yang tercantum dalam pasal 149 KHI, maka bekas istri berhak mendapatkan nafkah lahir dari bekas suaminya selama masa iddah dan nafkah mutah yang layak kepada bekas istri, kecuali bekas istri telah dijatuhi talak ba’in atau nusyuz dalam keadaan tidak hamil.

2. Cerai Gugat

Cerai gugat pada system hukum perkawinan di Indonesia mengadopsi ketentuan khulu’. Namun terjadi beberapa modifikasi sehingga pada akhirnya terdapat perbedaan antara cerai gugat dan khulu’. Cerai gugat secara umum ialah istri mengajukan perceraian kepada suaminya dengan menggugat untuk bercerai melalui pengadilan, yang kemudian pihak pengadilan mengabulkan gugatan tersebut sehingga putus hubungan perkawinan anatara suami dan istri.26

Gugatan cerai yang diajukan oleh pihak istri dapat dianggap sebagai salah satu upaya tuntutan yang telah dirugikan haknya oleh suaminya, sehingga ia memerlukan perlindungan hukum yang pasti dan adil kepada pengadilan yang berwenang untuk memeriksa, mengadii dan memutus hubungan perkawinannya.27

Cerai Gugat diajukan oleh istri atau kuasa hukum yang mewakilinya kepada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya mewilayahi tempat tinggal istri. Apabila istri meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa izin suami, dalam hal tergugat berada di luar negeri, maka ketua Pengadilan Agama memberitahukan gugatan tersebut melalui Perwakilan Republik Indonesia Setempat.28 Gugatan mengenai hak asuh anak (hadhonah), nafkah anak, nafkah istri, dan harta bersama suami istri dapat

26 Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h. 96

27 Sudikno Martokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty Press, 2006), h. 53

28 Salim H.S, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), h. 80

(33)

diajukan bersama dengan gugatan perceraian atau setelah diterbitkannya putusan perceraian yang berkekuatan hukum tetap.

Menurut pasal 136 KHI menyebutkan bahwa selama berlangsungnya proses perceraian atas permohonan penggugat atau tergugat dapat menimbulkan bahaya, Pengadilan Agama dapat mengizinkan suamii istri tersebut untuk tidak tinggal bersama, serta selama masa proses gugatan perceraian atass permohonan dari penggugat atau tergugat Pengadilan Agama dapat menentukan:

1. Menentukan nafkah yang harus ditanggung oleh suami

2. Menentukan hal – hal yang perlu untuk menjamin terpeliharanya barang – barang yang menjadi hak bersama suami istri atau barang – barang yang menjadi hak suami atau barang – barang yang menjadi hak istri.29

Ketentuan hukum lain yang berlaku di Indonesia mengenai khulu’ terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 148 yang ketentuannya berbunyi:

1. Seorang istri yang mengajukan gugatan perceraian dengan jalan khulu’, menyampaikan permohonannya kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggalnya disertai alasan atau alasan – alasannya

2. Pengadilan Agama selambat – lambatnya satu bulan memanggil istri dan suaminya untuk didengar keterangannya masing – masing

3. Dalam persidangan tersebut Pengadilan Agama memberikan penjelasan tentang akibat khulu’, dan memberikan nasehat – nasehatnya

4. Setelah kedua belah pihak sepakat tentang besarnya ‘iwadh atau tebusan, maka Pengadilan Agama memberikan penetapan tentang izin bagi suami untuk mengikrarkan talaknya didepan sidang Pengadilan Agama. Terhadap penetapan itu tidak dapat dilakukan upaya banding dan kasasi

5. Penyelesaian selanjutnya ditempuh sebagaimana yang diatur dalam pasal 131 ayat (5)

29 P.N.H. Simanjuntak, Hukum Perdata Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2017), h. 102

(34)

19

6. Dalm hal tidak tercapainya kesepakatan tentang besarnya tebusan atau ‘iwadh Pengadilan Agama memeriksa dan memutuskan sebagai perkara biasa.

B. Dasar Hukum Perceraian di Indonesia

Dalam ketentuan hukum positif yang berlaku di Indonesia perceraian dapat dilakukan dengan alasan – alasan yang cukup jelas. Menurut Pasal 39 Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 perceraian dianggap sah apabila didasarkan atas putusan pengadilan yang sudah incracht (mempunyai kekuatan hukum tetap).

Hukum perceraian bagi umat islam di Indonesia diatur dalam beberapa Undang – Undang yaitu:30

1. Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Dalam Undang – Undang perkawinan dasar hukum mengenai perceraian yang terdapat dalam pasal 39 yang menjelaskan bahwa:

a. Perceraian akan dianggap sah apabila dilakukan di depan sidang pengadilan setelah diupayakan damai yang ditempuh melalui jalan mediasi tetapi tidak berhasil

b. Perceraian dapat dilakukan jika terdapat alasan yang jelas diantara suami dan istri tidak dapat menjalankan rumah tangganya dengan rukun dan damai c. Tata cara mengenai perceraian telah diatur dalam perundang – undangan

tersendiri

2. Intruksi Presiden Nomor. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam Dasar hukum mengenai perceraian yang tercantum dalam KHI terdapat di dalam bab XVI tentang putusnya perkawinan, sebagai berikut:

a. Suatu ikatan perkawinan dapat putus dengan sebab kematian, perceraian, dan atas putusan pengadilan. Hal ini terdapat dalam pasal 113

30 Qurrotul Ainiyah dan Imam Muslih, Dilema Hukum Keluarga di Indonesia (Studi Analisis Kasus Perceraian di Indonesia), (Jurnal Istiqro: Jurnal Hukum Islam, Ekonomi, dan Bisnis, Vol. 6, No.

1, 2020), h. 75

(35)

b. Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena adanya cerai talak yang diajukan oleh suami atau cerai gugat yang diajukan oleh istri ke pengadilan. Hal ini berdasarkan pasal 114

c. Perceraian akan dianggap sah apabila dilakukan dimuka sidang pengadilan.

Hal ini terdapat dalam pasal 123

3. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang pelaksana Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 20 – 36, yang menjelaskan mengenai tata cara perceraian sebagai berikut:

a. Gugatan perceraian dapat diajukan oleh suami atau istri atau kuasanya kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat. Apabila tempat kediaman tergugat tidak jelas, tidak diketahui, tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap, atau bertempat kediaman diluar negeri. Maka, pengajuan gugatan perceraian diajukan kepada pengadilan yang bertempat di kediaman penggugat.

b. Gugatan perceraian yang terjadi karena salah satu pihak suami atau istri mendapat hukuman penjara selama lima tahun atau lebih maka untuk mendapatkan putusan perceraian sebagai bukti penggugat cukup menyampaikan salinan putusan Pengadilan yang memutuskan perkara disertai keterangan yang menyatakan bahwa putusan itu telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap

c. Selama berlangsungnya proses gugatan perceraian, pengadilan dapat:

(1) Mengizinkan suami dan istri untuk tidak tinggal dalam satu rumah jika di khawatirkan akan adanya bahaya yang ditimbulkan

(2) Menentukan nafkah yang harus ditanggung oleh suami

(3) Menentukan hal – hal yang perlu untuk menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak

(36)

21

(4) Menentukan hal – hal yang perlu menjamin terpeliharanya barang – barang yang menjadi hak bersama suami istri atau barang – barang yang menjadi hak suami atau barang – barang yang menjadi hak istri

d. Gugatan perceraian dapat gugur apabila suami atau istri meninggal sebelum adanya Putusan Pengadilan mengenai gugatan tersebut

e. Dalam hal pemanggilan para pihak pengadilan telah mengutus petugas untuk menyampaikan panggilan sidang kepada pribadi yang bersangkutan selambat – lambatnya tiga hari sebelum sidang dibuka. Panggilan ini dilampiri dengan sallinan surat gugatan.

f. Apabila yang bersangkutan tidak dapat dijumpainya, panggilan disampaikan melalui Lurah atau yang dipersamakan dengan itu. Apabila tempat kediaman yang bersangkutan tidak jelas, tidak diketahui, tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap. Maka, panggilan dilakukan dengan cara menempelkan gugatan pada papan pengumuman di Pengadilan dan mengumumkannya melalui satu atau beberapa surat, kabar atau media massa lain yang ditetapkan oleh Pengadilan. Hal ini dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dengan tenggang waktu satu bulan antara pengumuman pertama dan kedua. Apabila yang bersangkutan bertempat kediaman di luar negeri, maka panggilan dapat disampaikan melalui Perwakilan Republik Indonesia setempat.

g. Sidang pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan selambat – lambatnya tiga puluh hari setelah diterimanya berkas/suat gugatan perceraian. Apabila tergugat berada di luar negeri, maka sidang pemeriksaan gugatan perceraian ditetapkan sekurang – kurangnya enam bulan sejak dimasukkannya gugatan perceraian pada kepaniteraan pengadilan

h. Pada sidang pemeriksaan gugatan perceraian, suami dan isteri datang sendiri atau mewakilkan kepada kuasanya.

i. Hakim yang memeriksa gugatan perceraian berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak pada setiap sidang, selama belum diputuskan. Dalam hal

(37)

upaya mendamaikan terhadap kedua pihak suami dan istri ini terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi selama persidangan berlangsung, diantaranya:

(1) Apabila tercapai perdamaian, maka tidak dapat diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan atau alasan-alasan yang ada sebelum perdamaian dan telah diketahui oleh penggugat pada waktu dicapainya perdamaian

(2) Apabila tidak dapat dicapai perdamaian, pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan dalam sidang tertutup.

j. Putusan mengenai gugatan perceraian diucapkan dalam sidang terbuka dan mempunyai kekuatan hukum yang tetap

C. Syarat dan Tata Cara Perceraian 1. Syarat Syarat Perceraian

Syarat – syarat perceraian tercantum dalam Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perceraian pasal 39, sebagai berikut:

1. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak 2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa suami istri itu tidak

akan hidup rukun sebagai suami istri

3. Tata cara perceraian di depan sidang pengadilan diatur dalam peraturan perundangan tersendiri.

Ketentuan mengenai syarat – syarat juga tercantum dalam KUH Perdata pasal 209 yang menyebutkan bahwa perceraian tidak boleh terjadi hanya karena persetujuan antara istri dan suami, tetapi juga harus berdasarkan alasan – alasan yang mendasarinya. Terdapat 4 (empat) macam alasan tersebut, yaitu:31

a. Zina (Operspel)

31 Zaeni Asyhadie, dkk., Hukum Keperdataan dalam Perspektif Hukum Nasional, KUH Perdata (BW), dan Hukum Adat, Cet. II, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2019), h. 181

(38)

23

b. Ditinggalkan dengan sengaja (Kwaadwillige vertaling)

c. Penghukuman yang melebihi lima tahun karena dipersalahkan melakukan suatu kejahatan

d. Penganiayaan berat atau membhayakan jiwa.

Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang pelaksana Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 19 menambahkan dua alasan, yaitu:

a. Salah satu piha mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri

b. Antara suami dan istri menerus terjadi perselisihan atau pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Kompilasi Hukum Islam dalam mengatur mengenai syarat – syarat perceraian memakai alur yang sama dengan Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, namun ketentuan yang di atur dalam KHI menjelaskan lebih rinci. Hal ini dijelaskan dalam Bab XVI yang memuat mengenai masalah putusnya perkawinan.

2. Tata Cara Perceraian

Hukum positif di Indonesia mengatur bahwa perceraian harus di lakukan di hadapan sidang Pengadilan, dan juga mengatur mengenai tata cara perceraian. Jika dilihat dari subjek hukum atau pelaku yang mengawali terjadinya perceraian, tata cara perceraian dibagi dalam dua aspek, yaitu:32

a. Cerai Talak (suami yang bermohon untuk cerai)

Permohonan suami untuk menceraikan istrinya ke Pengadilan Agama yang kemudian disetujui oleh istrinya, maka hal ini disebut sebagai Cerai Talak.

Ketentuan mengenai tata cara cerai talak sebagaimana yang tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 129 – 131 , yang menyatakan sebagai berikut:

32 Zaeni Asyhadie, dkk., Hukum Keluarga Menuruut Hukum Positif di Indonesia, Cet. I, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2020), h. 186-194

(39)

1. Perceraian yang di inisiasi oleh suami yang menjatuhkan talak kepada istrinya dengan mengajukan permohonak baik lisan maupun tulisan kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri

2. Pengadilan Agama dapat menolak atau mengabulkan permohonan tersebut, dan pemohon dapat mengajukan upaya hukum banding dan kasasi terhadap keputusan yang telah ditetapkan

3. Pengadilan Agama yang bersangkutan memanggil para pihak selambat - lambatnya tiga puluh hari untuk meminta penjelasan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan maksud menjatuhkan talak

4. Pengadilan Agama yang bersangkutan berusaha mendamaikan kedua belah phak dalam proses berlangsungnya permohonan talak agar tidak terjadi perceraian. Apabila Pengadilan Agama tidak berhasil untuk mendamaikan para pihak, maka Pengadilan Agama menjatuhkan keputusannya tentang izin bagi suami untuk menjatuhkan ikrar talak di depan sidang Pengadilan 5. Setelah keluar putusan mengenai cerai talak yang telah dikabulkan yang

mempunyai kekuatan hukum tetap, maka suami mengikrarkan talaknya di depan sidang Pengadilan Agama, dihadiri oleh istri atau kuasanya

6. Apabila suami tidak mengucapkan ikrar talak dalam kurun waktu enam bulan sejak putusan Pengadilan Agama tentang izin ikrar talak baginya yang mempunyai kekuatan hukum tetap, maka hak suami untuk mengikrarkan talak gugur dan ikatan perkawinan tetap utuh.

7. Setelah sidang penyaksian ikrar talak, Pengadilan Agama membuat penetapan tentang terjadinya Talak rangkap empat yang merupakan bukti perceraian bagi bekas suami dan isteri. Helai pertama beserta surat ikrar talak dikirimkan kepada Pegawai Pencatat Nikah yang mewilayahi tempat tinggal suami untuk diadakan pencatatan, helai kedua dan ketiga masing‐masing diberikan kepada suami isteri dan helai keempat disimpan oleh Pengadilan Agama.

(40)

25

b. Cerai Gugat (istri yang bermohon untuk bercerai)

Perceraian yang diinisiasi oleh istri yang mengajukan ke pengadilan agama, yang kemudian disetujui oleh tergugat (suami), sehingga pengadilan agama mengabulkan gugatan tersebut ialah cerai gugat. Tata cara mengajukan cerai gugat terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 132 - 148, sebagai berikut:

1. Gugatan perceraian di ajukan oleh istri atau kuasa hukumnya pada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya mewilayahi tempat tinggal penggugat, kecuali istri meninggalkan kediaman bersama tanpa izin suami.

2. Gugatan diberikan kepada tergugat oleh Pengadilan Agama. Apabila tergugat bertempat kediaman diluar negeri, Ketua Pengadilan Agama memberitahukan gugatan tersebut kepada tergugat melalui perwakilan Republik Indonesia setempat. Apabila tempat kediaman tergugat tidak jelas atau tergugat tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap, panggilan dilakukan dengan cara menempelkan gugatan pada papan pengumuman di Pengadilan Agama dan mengumumkannya melalui satu atau bebrapa surat kabar atau masa media lain yang dilakukan sebanyak dua kali tenggang waktu satu bulan antara pengumuman pertama dan kedua yang ditetapkan oleh Pengadilan Agama.

3. Pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan oleh hakim selambat‐lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya berkas atau surat gugatan perceraian 4. Pada sidang pemeriksaan perkara gugatan perceraian, hakim berusaha

mendamaikan kedua pihak melalui jalan mediasi. Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan selama berlangsungnya proses mediasi, diantaranya:

a. Apabila terjadi pedamaian, maka tidak dapat diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan atau alasan‐alasan yang ada sebelum perdamaian dan telah diketahui oleh penggugat pada waktu dicapainya perdamaian b. Apabila tidak dicapai perdamaian, pemeriksaan gugatan perceraian

dilakukan dalam sidang tertutup.

(41)

5. Putusan mengenai gugatan perceraian dilakukan dalam sidang terbuka. Akta putusan perceraian yang telah dikeluarkan oleh Pengadilan Agama mempunyai kekuatan hukum tetap

6. Setelah perkara perceraian itu diputuskan, Panitera Pengadilan Agama menyampaikan Salinan surat putusan tersebut kepada suami istri atau kuasanya dengan menarik Kutipan Akta Nikah dari masing – masing yang bersangkutan dan mengirimkan satu helai salinan putusan Pengadilan Agama yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap tanpa bermaterai kepada Pegawai Pencatat Nikah yang mewilayahi tempat tinggal isteri untuk diadakan pencatatan

7. Panitera Pengadilan Agama membuat catatan dalam ruang yang tesedia pada Kutipan Akta Nikah yang bersangkutan bahwa mereka telah bercerai. Catatan tersebut berisi tempat terjadinya perceraian, tanggal perceraian, nomor dan tanggal surat putusan serta tanda tangan panitera

Dalam hal istri mengajukan gugatan perceraian melalui jalan khuluk, terdapat beberapa ketentuan yang mengatur mengenai hal tersebut, yang tertuang dalam pasal 148 Kompilasi Hukum Islam, sebagai berikut:

1. Seorang isteri yang mengajukan gugatan perceraian dengan jalan khuluk, menyampaikan permohonannya kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggalnya disertai alasan atau alasan‐alasannya.

2. Pengadilan Agama selambat‐lambatnya satu bulan memanggil isteri dan suaminya untuk didengar keterangannya masing‐masing.

3. Dalam proses berlangsungnya persidangan, Pengadilan Agama menjelaskan mengenai akibat yang akan ditimbulkan, dan memberikan nasihat – nasihat kepada kedua belah pihak

4. Setelah kedua belah pihak sepakat tentang besarnya iwadl atau tebusan, maka Pengadilan Agama memberikan penetapan tentang izin bagi suami untuk

(42)

27

mengikrarkan talaknya didepan sidang Pengadilan Agama. Terhadap penetapan itu tidak dapat dilakukan upaya banding dan kasasi.

5. Dalam hal tidak tercapai kesepakatan tentang besarnya tebusan atau iwadl Pengadilan Agama memeriksa dan memutuskan sebagai perkara biasa.

D. Perceraian dalam Hukum Islam

Dalam hukum islam kata perceraian merupakan terjemah dari kata talak. Secara terminologis talak ialah lepasnya ikatan perkawinan yang dikehendaki oleh salah satu pihak atau kedua pihak dalam hubungan suami istri.33 Ibrahim al-Badjuri mendefinisikan thalak ialah lepasnya ikatan perkawinan secara sukarela serta bersifat maknawi.34 Sayyid Sabiq mengatur perceraian dengan batasan bahwa perceraian merupakan alternatif terakhir yang ditempuh dan sudah tidak ada jalan lain atau celah lagi dalam menyelamatkan ikatan tali perkawinan, perceraian hanya bisa dilakukan dalam keadaan terpaksa (darurat), misalnya suami mencurigai istrinya telah melakukan zina atau perselingkuhan.35

Dalam Islam perceraian bukan merupakan hak suami semata, tetapi istri pun diberi hak untuk menuntut cerai dari suaminya apabila ia sudah tidak bisa menempuh jalan kehidupan pernikahan dengan suaminya karena berbagai alasan yang melatarbelakangi. Perceraian ini ditempuh dengan jalan cerai tebus (khulu’).36 1. Pengertian Khulu’

Khulu’ secara Bahasa berasal dari lafadz علخ yang berarti menanggalkan atau membuka pakaian. Dihubungkannya dengan arti khulu’ menanggalkan pakaian karena dalam al-Quran disebutkan bahwa suami merupakan pakaian bagi istrinya, dan istri merupakan pakaian bagi suaminya, sebagaimana yang termaktub dalam Q.S. al-Baqarah: 187 yang berbunyi:

33 Ali Imron, Memahami Konsep Perceraian dalam Hukum Keluarga, (Jurnal Buana Gender, Vol. I, No. I, 2016), h. 20

34 Al-Badjuri Syaikh Ibrahim, Hasyihya al Badjuri ‘ala Ibn Qasim al Ghuzi, Jilid II (Bandung:

Syirkah al Ma’arif, ), h. 139

35 Sayyid Sabiq, Fiqih al Sunnah, Jilid VIII, (Bandung: Daar al Ma’arif, 2007), h. 10

36 Ahmaad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2004), h. 81

Gambar

Gambar 1. Grafik Perkembangan Covid-19 di Indonesia
Gambar 2. Kasus Covid-19 Per Provinsi
Gambar 3. Data PHK dan Perubahan Pendapatan Buruh/Pegawai/Karyawan  Menurut Jenis Kelamin, Usia, dan Lapangan Pekerjaan
Gambar 4. Data PHK dan Perubahan Pendapatan Buruh/Pegawai/Karyawan  Menurut Sektor Pekerjaan dan Lokasi Pekerjaan
+4

Referensi

Dokumen terkait

Telekomunikasi Indonesia Tbk, hal ini disebabkan karena nilai utang lancar perusahaan lebih besar dari nilai modal sendiri, sehingga mengakibatkan peningkatan pada nilai

Penelitian mengenai konsep karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi remaja yang mengalami perilaku conduct disorder ini menggunakan subyek penelitian yang ada

Dari data salinitas bulan Februari 2021 menunjukkan bahwa nilai rata-rata salinitas musim penghujan lebih rendah dibandingkan dengan musim kemarau pada bulan Juli

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7) peraturan Pemerintah Republik

Efektifitas Bakteri Pelarut Fosfat dalam Kompos Terhadap Peninkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung.. Program

Berdasarkan teori-teori diatas, dapat simpulkan bahwa kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk mengevaluasi prestasi yang telah dicapai perusahaan

Tujuan dari studi ini adalah untuk seleksi primer SSR yang polimorfik, mencari primer SSR yang memiliki alel spesifik untuk Pisifera dan mengevaluasi keragaman genetik