• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP DISIPLIN BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMK NEGERI 1 BASO TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP DISIPLIN BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMK NEGERI 1 BASO TESIS"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP DISIPLIN BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMK NEGERI 1

BASO

TESIS

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

Guna melanjutkan penelitian dalam rangka penyusunan tesis Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

SAIFUL YERI, S.Pd.I NIM: 201.16.030

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

2017

(2)

ABSTRAK

Tesis ini berjudul “Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap Disiplin Belajar PAI Siswa SMK Negeri 1 Baso”, yang disusun oleh Saiful Yeri NIM : 201.160.30 Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Adapun latar belakang penelitian ini berdasarkan dari hasil observasi yang peneliti lakukan, permasalahan yang dialami oleh peserta didik adalah berkaitan dengan disiplin belajarnya, masih ada siswa yang tidak disiplin walaupun sudah diberikan reward dan punishment. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh a) reward terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso, b) punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso, c) reward dan punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui a) pengaruh reward terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso, b) pengaruh punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso, c) pengaruh reward dan punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan atau field research yang bersifat deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode korelatif.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan dan kemudian menganalisanya dan hasilnya menggunakan angka-angka yang berbentuk korelasional. Jumlah populasi sebanyak 135 orang dan julah sampelnya 60 orang diambil dengan menggunakan teknik random sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan skala. Analisis kuantitatif meliputi uji validitas dan realibilitas, uji persyaratan analisis, uji hipotesis lewat uji f dan uji t, serta uji analisis koefisien determinasi (r2). Teknik analis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda yang bertujuan untuk membuktikan hipotesis penelitian dengan menggunakan SPSS 20

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) reward memiliki pengaruh yang signifikan dengan disiplin belajar, besar hubungannya adalah 42,5%. 2) punishment memiliki pengaruh yang signifikan dengan disiplin belajar, besar hubungannya adalah 24.8%. 3) reward dan punishment memiliki pengaruh yang signifikan terhadap disiplin belajar, besar hubungannya adalah 44.2%.

Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan disiplin belajar siswa dibutuhkan pemberian reward dan punishment.

(3)

ABSTRACT

This thesis is entitled "The Influence of Reward and Punishment on Students' PAI Learning Discipline of SMK Negeri 1 Baso", compiled by Saiful Yeri NIM: 201.160.30 Islamic Education Master Program (PAI), Tarbiyah Faculty and Teacher Training (FTIK) Islamic Institute Negeri (IAIN) Bukittinggi

The background of this research is based on the observations that the researchers did, the problems experienced by students are related to the discipline of learning, there are still students who are not disciplined even though they have been rewarded and punished. The formulation of the problem of this study is how much influence a) rewards the discipline of learning Islamic Student Education in SMK Negeri 1 Baso, b) punishment for the learning discipline of Islamic Education students of SMK Negeri 1 Baso, c) reward and punishment for the learning discipline of Religious Education Islam students of SMK Negeri 1 Baso.

The purpose of this study was to determine a) the effect of reward on the learning discipline of Islamic Religious Education students of SMK Negeri 1 Baso, b) the influence of punishment on the discipline of learning Islamic Education of students of SMK Negeri 1 Baso, c) the influence of reward and punishment on the discipline of learning Islamic Education students of SMK Negeri 1 Baso

This study uses a type of field research or field research that is quantitative descriptive using a correlative method. This study aims to look at the relationship and then analyze it and the results use correlational figures. The population is 135 people and the sample number is 60 people taken by using random sampling technique. This research instrument uses scale. Quantitative analysis includes the test of validity and reliability, test requirements analysis, test hypotheses through f test and t test, and test the analysis of the coefficient of determination (r2). The data analysis technique used is multiple regression analysis which aims to prove the research hypothesis using SPSS 20

Based on the results of the study showed that: 1) reward has a significant influence with the discipline of learning, the relationship is 42.5%. 2) punishment has a significant influence with the discipline of learning, the relationship is 24.8%. 3) reward and punishment have a significant influence on the discipline of learning, the relationship is 44.2%. Based on the results above it can be concluded that to improve the discipline of student learning requires the provision of reward and punishment

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil’alamin penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena dengan Rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Rasulullah SAW, keluarganya, dan para sahabatnya yang telah membimbing umatnya menuju jalan yang diridhai Allah SWT, serta mengangkat harkat dan martabat manusia dari kebiadapan ke alam yang penuh peradaban.

Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini, baik berupa arahan, petunjuk, semangat, dan dorongan kepada penulis. Ucapan terima kasih tersebut penulis tujukan kepada:

1. Ibu Dr. Ridha Ahida, M.Hum, selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi yang telah memberikan berbagai fasilitas selama menempuh pendidikan diprogram pascasarjana.

2. Bapak Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc. M.Ag selaku dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, yang telah memberikan bagi penulis untuk dapat mengikuti perkuliahan pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK)

3. Bapak Dr. H. Ismail, M.Ag, selaku Direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, yang telah membawa program pascasarjana kearah yang lebih baik dan berkualitas serta menyediakan fasilitas bagi penulis untuk dapat mengikuti kuliah diprogram pascasarjana ini.

4. Bapak Dr. Iswantir M, M.Ag, selaku Ketua Pascasarjana Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Bukittinggi

5. Bapak Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc.,M.A sebagai pembimbing I dan Dr.

Junaidi, M.Pd sebagai pembimbing II, dengan kesabaran dan keikhlasan meluangkan waktu dan pikiran, perhatian serta arahan untuk membimbing penyusunan tesis ini

6. Bapak Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc.,M.A selaku penasehat akademik yang telah membantu penulis baik berupa motivasi, arahan da perhatian.

(5)

7. Seluruh Dosen, Staf dan Karyawan IAIN Bukittinggi yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama perkuliahan

8. Pimpinan dan seluruh staf administrasi perpustakaan IAIN Bukittinggi yang telah banyak memberikan pinjaman buku-buku yang penulis gunakan dalam referensi dalam penyusunan tesis ini.

9. Kepada ayahanda Bapak Rajunis Malin Marajo dan Ibu Yermisni beserta keluarga besar yang telah memberikan dorongan dan motivasi baik berupa materi maupun non materi sehingga penulis menyelesaikan tesis ini

10. Kepada istriku Gusnita Darmawati, S.Pd.,M.Kom yang senantiasa memberikan dorongan dan motivasi sehingga penulis menyelesaikan tesis ini.

11. Bapak Camat Baso dan Kepada kepala SMK Negeri 1 Baso yang telah memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian ini.

12. Kepada Bapak Drs. Roslan, M.Pd selaku Kepala SMK Negeri 1 Baso yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini.

13. Kepada Ibu Darmiwanti, S.Ag.,M.Pd selaku guru Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 1 Baso, yang telah memberikan izin untuk diteliti.

14. Kepada sahabatku Pascasarjana PAI B Angkatan 2016, tanpa disebutkan satu persatu, terima kasih banyak telah menolong, membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan tesis ini.

Penulis telah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk kesempurnaan tesis ini, namun bila ada kekurangan penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun. Penulis tetap berharap kiranya tesis ini dapat menambah intelektual agama, terutama dalam bidang pendidikan.

Bukittinggi, Juli 2018 Penulis

Saiful Yeri NIM. 201.16.030

(6)

DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

SURAT PERNYATAAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Batasan dan Rumusan Masalah ... 6

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

E. Definisi Operasional... 7

F. Sistematika Penulisan ... 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 10

1. Reward ... 10

a. Pengertian Reward ... 10

b. Bentuk-bentuk Pemberian Reward ... 12

c. Metode Penerapan Reward dalam Pendidikan Agama Islam .. 16

d. Indikator Pemberian Reward... 17

2. Punishment ... 18

a. Pengertian Punishment ... 18

b. Bentuk-bentuk Punishment ... 20

c. Metode Penerapan Punishment dalam Pendidikan Agama Islam 23 d. Indikator Pemberian Punishment ... 27

(7)

3. Disiplin Belajar ... 29

a. Pengertian Disiplin Belajar ... 29

b. Macam-macam Disiplin Belajar ... 31

c. Unsur-unsur Disiplin Belajar ... 33

d. Indikator Disiplin Belajar ... 34

e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disiplin Belajar ... B. Penelitian yang Relevan ... 35

C. Kerangka Berpikir ... 42

D. Hipotesis Penelitian ... 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 44

B. Metode Penelitian... 44

C. Tempat Penelitian... 45

D. Populasi dan Sampel ... 45

E. Variabel Penelitian ... 47

F. Teknik Pengumpulan Data ... 47

G. Instrumen Peneltian ... 51

H. Teknik Analisa Data ... 53

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data penelitian ... 59

B. Uji Persyaratan Analisis ... 87

C. Pengujian Hipotesis ... 92

D. Pembahasan ... 101

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 107

B. Implikasi Penelitian ... 108

C. Saran ... 108

(8)

DAFTAR PUSTAKA ... 109

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(9)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar yang terencana dalam penyampaian peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertaqwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur’an dan al Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta pengunaan pengalaman.1 Sedangkan pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Islam berisi ajaran tentang kehidupan manusia yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia yang mencakup berbagai aspek kehidupan seperti akhlak dan tingkah laku.2

Berdasarkan pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu: Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan yang dilakukan secara sistematis berencana dan sadar atas tujuan membentuk anak didik supaya hidup sesuai dengan ajaran Islam. Keberhasilan Pendidikan Agama Islam dalam dunia pendidikan sangat tergantung pada komponen-komponen pendidikan salah satu komponen pendidikan adalah guru.

Guru merupakan pendidik yang propesional. Karena implicit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagai tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua.

Pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al- tarbiyah, al-ta’dib, dan al-ta’lim. Dari ketiga isltilah tersebut term yang paling populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term al-tarbiyah.

Sedangkan term al-ta’dib dan al-ta’lim jarang sekali digunkan. Penggunaan isltilah al-tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak

1 Sulaiman, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Banda Aceh, Pena, 2017), cet. 1, hal. 27

2 Abhamda Amra, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam, (Batusangkar: Stain Batusangkar Press, 2013), hal. 2

(10)

arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makan tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.3

Uraian di atas mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai “pendidik” seluruh cipt- aan-Nya, termasuk manusia. Pengertian Pendidikan Islam yang terkandung dalam term al-tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu: (1) memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh). (2) mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan. (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan. (4) melaksanakan pendidikan secara bertahab.4

Pendidikan itu mempunyai tujuan masing-masing, termasuk pendidikan Islam. Tujuan artinya sesuatu yang dituju, yaitu yang akan dicapai dengan suatu kegiatan atau usaha.5 Dalam bahasa arab dinyatakan dengan ghayat atau maqasid.

Sedang dalam bahasa Inggris, istilah tujuan dinyatakan dengan “goal atau purpose atau objective” Suatu kegiatan akan berakhir, bila tujuannya sudah tercapai.

Kalau tujuan tersebut bukan tujuan akhir, kegiatan selanjutnya akan segera dimulai untuk mencapai tujuan selanjutnya dan terus begitu sampai kepada tujuan akhir

Menurut Al-Abrasyi, tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu:

1. Membentuk akhlak mulia.

2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat.

3. Persiapan untuk mencari rezki dan memelihara segi kemamfaatannya.

4. Menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik.

5. Mempersiapkan tenaga propesional yang terampil.6

Menurut Zakiah Darajat tujuan pendidikan Islam adalah kepribadian muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam.7

3 Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hal. 26

4 Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan IslamPendekatan Historis, Teoritis dan Praktis,... hal. 26

5 Zakiah Darajat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bumi Aksara, 1996), hal, 72

6 Al-Rasyidin, dan Samsul Nizar,. Filsafat Pendidikan IslamPendekatan Historis, Teoritis dan Praktis,... hal. 37

(11)

Berkepribadian muslim dalam Al-Qur’an disebut “muttaqim”. Karena itu pendidikan Islam berarti juga pembentukan manusia yang bertaqwa. Ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk manusia Pancasilais yang bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Mencapai tujuan pendidikan Islam tersebut dibutuhkan strategi dalam pelaksanaan pendidikan dilakukan dalam bentuk kegiatan bimbingan, pengajaran, dan maupun latihan-latihan. Bimbingan ini, diberikan dengan pemberian bantuan, arahan, motivasi, nasihat serta penyuluhan agar diharapkan siswa/peserta didik mampu mengatasi, memecahkan masalah, maupun mengatasi kesulitan sendiri.

Sedangkan pengajaran merupakan bentuk kegiatan yang menjalin hubungan interaksi dalam proses belajar mengajar antara pengajar dengan peserta didik dalam mengembangkan perilaku yang sesuai dengan tujuan pendidikan.8

Bentuk dari beberapa metode pembelajaran dalam proses usaha mencapai tujuan pendidikan adalah reward and punishment.9 Metode pembelajaran merupakan suatu teknik untuk mencapai tujuan pendidikan, dengan adanya metode pembelajaran yang tepat diharapkan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan, namun kenyataannya masih ada siswa yang tidak fokus pada pelajaran, terutama pelajaran Pendidikan Agama Islam, untuk itu diperlukan metode yang sesuai dan dapat meningkatkan disiplin belajar siswa. Berdasarkan wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMK Negeri 1 Baso Kabupaten Agam, Adapun salah satu metode yang digunakan oleh guru di SMK Negeri 1 Baso sudah diberlakukan pemberian reward dan punishment. Diharapkan dapat meningkatkan disiplin belajar siswa, karena dengan pemberian reward dan punishment akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan diharapkan dapat menertibkan siswa yang mengganggu dalam proses pembelajaran.10

7 Zakiah Darajat, Metodologi Pengajaran Agama Islam,... hal. 72

8 Oemar Malik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 2

9 Wahyu Setiawan, Reward dan Punishment dalam Perspektif Islam, Vol. 4 No 2, Januari 2018, hal. 185

10 Wawancara dengan Ibuk Darmiwanti, S.Ag.,M.Pd, senin 19 Juli 2018 M di Kantor Majelis Guru SMK Negeri 1 Baso

(12)

Pemberian reward dan punishment tidak terlepas dari Peran guru, guru dibutuhkan dalam menanamkan dan menumbuhkan kedisiplinan pada siswa.

Undang-Undang No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 1 menyebutkan bahwa pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Salah satu tugas dari guru adalah mendidik, yang diantaranya adalah mendidik siswa agar dapat berperilaku disiplin.

Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMK Negeri 1 Baso, pemberian reward dan punishment di SMK Negeri 1 masih kurang maksimal, dan masih ada siswa yang tidak disiplin belajar, misalnya tidak Patuh dan menentang peraturan, malas belajar, menyuruh orang lain bekerja demi dirinya, suka berbohong, mencontek, berbuat keributan, terlambat datang kesekolah, tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, sering keluar kelas, dan membolos.11

Mengatasi permasalahan siswa yang tidak disiplin belajar Pendidikan Agama Islam, maka diadakan upaya pencegahan dalam berbagai macam seperti pemberian reward dan Punishment. Pemberian reward misalnya pemberian pujian, penghargaan dan hadiah, dan Punishment yang diberikan pada siswa adalah dengan pemberitahuan, teguran, peringatan dan hukuman. Reward dan punishment adalah sebagai salah satu alat pendidikan untuk membentuk displin dan memberikan motivasi belajar pada siswa serta mempergiat usaha siswa dalam memperbaiki atau mempertinggi prestasi yang telah dicapai.

Maslow mengatakan bahwa penghargaan adalah salah satu dari kebutuhan pokok yang mendorong seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya.12 Penghargaan adalah unsur disiplin yang sangat penting dalam pengembangan diri dan tingkah laku anak. Seseorang akan terus berupaya meningkatkan dan mempertahankan disiplin apabila pelaksanaan disiplin itu menghasilkan prestasi dan produktivitas yang kemudian mendapatkan penghargaan.

11 Observasi, selasa 20 Juli 2018

12 Maria J. Wantah, Pengembangan Disiplin dan Pembentukan Moral pada Anak Usia Dini, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005), hal. 164

(13)

Penegakkan kedisiplinan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan cara penerapan reward (ganjaran) dan punishment (hukuman), reward dan punishment merupakan dua kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Hidayatullah “Jika penerapannya terpisah maka tidak akan berjalan efektif, terutama dalam menegakkan kedisiplinan. Sebagai contoh seorang guru atau orang tua sering memberikan hadiah kepada murid tetapi pada saat murid kita melakukan kesalahan guru tidak melakukan peneguran atau sanksi apapun, maka yang terjadi ialah guru kehilangan wibawanya. Demikian pula apabila kita sering memberikan sanksi tanpa diimbangi dengan hadiah atau penghargaan maka akan menimbulkan murid-murid yang penakut atau benci kepada guru atau orang tua tersebut”.13

Melalui pemberian punishment tersebut dapat mencegah berbagai pelanggaran terhadap peraturan atau sebagai tindakan peringatan keras yang sepenuhnya muncul rasa takut terhadap ancaman hukuman.

M. Ngalim Purwanto memberikan pendapat bahwa hukuman adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru, dan sebagainya) sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan.14 Pelanggaran bisa berupa pelanggaran terhadap aturan yang berlaku. Masalah hukuman merupakan masalah yang etis, yang menyangkut soal buruk dan baik serta norma-norma

Punishment adalah usaha edukatif untuk memperbaiki dan mengarahkan siswa kearah yang benar, bukan praktik hukuman dan siksaan yang memasung kreativitas. Melainkan, hukuman yang dilakukan harus bersifat pedagogies, yaitu untuk memperbaiki dan mendidik ke arah yang lebih baik.. Berdasarkan pengertian diatas, punishment yang diberikan bukan untuk balas dendam kepada siswa melainkan untuk memperbaiki tingkah laku siswa yang kurang baik ke arah yang lebih baik dan dapat memberikan motivasi belajar siswa.

13 Furqan Hidayatullah, Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), hal. 54

14 M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 186

(14)

Punishment merupakan imbalan dari perbuatan yang tidak baik atau mengganggu jalannya proses pendidikan. Dapat dikatakan juga bahwa punishment adalah penilaian kegiatan belajar murid yang bersifat negatif, sedang reward adalah penilaian yang bersifat positif. Contoh konkret punishment yaitu seperti menasehati, memberi arahan, melarang melakukan sesuatu, menegur, membentak, memukul tidak keras, bahkan meminta wali murid memberi sanksi.

Berdasarkan permasalahan di atas penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai apakah terdapat pengaruh reward dan punishment terhadap disiplin belajar siswa dalam bentuk judul “Pengaruh Reward, Punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam Siswa SMK Negeri 1 Baso”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat penulis identifikasi masalahnya sebagai berikut:

1. Masih ada siswa tidak disiplin belajar misalnya tidak Patuh dan menentang peraturan, malas belajar, menyuruh orang lain bekerja demi dirinya, suka berbohong, mencontek, berbuat keributan, terlambat datang kesekolah, tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, sering keluar kelas, dan membolos.

walaupun sudah diberlakukan reward

2. Masih ada siswa tidak disiplin belajar misalnya tidak Patuh dan menentang peraturan, malas belajar, menyuruh orang lain bekerja demi dirinya, suka berbohong, mencontek, berbuat keributan, terlambat datang kesekolah, tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, sering keluar kelas, dan membolos.

walaupun sudah diberlakukan punisment

3. Pemberian reward dan punishment dari guru PAI kepada siswa masih kurang maksimal

(15)

C. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Agar lebih terarah uraian di atas, maka penulis membatasi pokok masalahnya, yaitu: pengaruh reward dan punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam Siswa SMKN 1 Baso.

2. Rumusan Masalah

Mengingat luasnya cakupan permasalahan ini, penulis merumuskan persoalan sebagai berikut:

1. Seberapa besar pengaruh reward terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso?

2. Seberapa besar pengaruh punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso?

3. Seberapa besar pengaruh reward dan punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan Penelitian dengan melihat dan memperhatikan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk Mengetahui pengaruh reward terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso.

2. Untuk Mengetahui pengaruh punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso.

3. Untuk Mengetahui pengaruh reward dan punishment terhadap disiplin belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMK Negeri 1 Baso.

Manfaat Penelitian ini adalah:

1. Secara akademik, untuk memperoleh gelas Magister Pendidikan dan jadi bahan referensi bagi peneliti yang lain, guna meneliti hal-hal yang berkaitan motivasi dan disiplin belajar siswa.

(16)

2. Di lembaga, menjadi masukan dan evaluasi dalam penerapan reward dan punishment terhadap siswa di lembaga pendidikan, yaitu di SMK Negeri 1 Ba`so

3. Di masyarakat, menjadi acuan alternatif dalam mengembangkan konsep motivasi dan disiplin di dunia pendidikan.

E. Definisi Operasional

Untuk menghindarkan keraguan dan kesalahpahaman dalam memahami judul proposal ini, penulis akan menjelaskan beberapa istilah di dalamnya, yaitu:

1. Reward

Reward adalah hadiah terhadap perilaku baik dari anak dalam proses pendidikan.15

2. Punishment

Menurut Purwanto punishment (hukuman) adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orangtua, guru, dan sebagainya) sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan.16

3. Disiplin Belajar

Ketaatan (kepatuhan) dari siswa kepada aturan, tata tertib atau norma di sekolah yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar.17 4. Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam yakni upaya mendidikan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.18

15 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,... hal. 127

16 M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan teoretis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 186

17 Darmadi, pengembangan Model Metode Pembelajaran dalam Dinamika Belajar Siswa, ( Yogyakarta: Deepublish, 2017), hal. 321-322

18 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hal. 7-8

(17)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori

Sehubungan dengan masalah penelitian, maka uraian yang akan dibahas dalam landasan teori ini adalah: (1) reward, (2) punishment, (3) disiplin belajar.

Ketiga teori tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

1. Reward (Penghargaan)

Berkaitan dengan reward, teori yang akan diuraikan pada bagian ini adalah (a) pengertian reward, (b) bentuk-bentuk reward, (c) metode penerapan reward.

a. Definisi Reward (Penghargaan)

Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan, bahwa ganjaran adalah 1.

Hadiah (sebagai balas jasa), 2. Hukuman, balasan.19 Dari definisi ini dapat dipahami bahwa reward (ganjaran) dalam bahasa indonesia bisa dipakai untuk balasan yang baik dan buruk.

Sedangkan dalam bahasa Inggris pengertian reward berarti ganjaran atau penghargaan. Ganjaran adalah alat pendidikan preventif dan represif yang menyenangkan dan bisa menjadi pendorong atau motivator belajar bagi murid.20 Jadi disamping fungsi ganjaran sebagai alat pendidikan yang preventif dan represif, ganjaran merupakan alat motivasi ekstrinsik. Ganjaran dapat menjadikan pendorong bagi anak untuk belajar lebih baik.

Menurut istilah, ganjaran adalah hadiah terhadap perilaku baik dari anak dalam proses pendidikan.21 Istilah ganjaran dapat bermacam-macam, ada yang mengatakan ganjaran sama dengan hadiah, dan ada pula yang mengistilahkan ganjaran dengan “tsawab”. Seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an. Firman

19 Hasan Alwi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007) Edisi ke-3, hal. 332

20 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta Selatan:

Ciputat Pers, 2002), cet. 1, hal. 127

21 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,... hal. 127

(18)

Allah dalam surat Ali Imran ayat 148, Al Zalzalah ayat 7-8 dan surah Al Ankabut ayat 58, secara jelas mengungkapkan bahwa:

نينسحملا بحي اللهو ةرخلآا باوث نسحو ايندلا باوث الله مهاتآف

Artinya :

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S.

Ali Imran: 148).22

هري ارش ةرذ لاقثم لمعي نمو هري اريخ ةرذ لاقثم لمعي نمف .

Artinya:

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya (7) Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.(8). (Q.S Al Zalzalah: 7-8)

راهنلأا اهتحت نم يرجت افرغ ةنجلا نم مهنئوبنل تاحلاصلا اولمعو اونمآ نيذلاو نيلماعلا رجأ معن اهيف نيدلاخ

Artinya:

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (Q.S.

Al Ankabut: 58)

Istilah lain dari hadiah adalah “targhib” yaitu janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan.23 dapat dipahami targhib adalah hal atau sesuatu yang dapat menyenangkan hati sesorang yang diterimanya setelah

22 Ahmad Mustafa Al-Maraqhi, Tafsir Al-Maraqhi, (Semarang: Pt Karya Toha Putra, 1993), cet. Ke-2, hal. 142

23 Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 146

(19)

melakukan suatu hasil kerja yang baik dan membuatnya lebih untuk berbuat yang lebih baik.

Jadi, dari pengertian reward di atas dapat kita pahami bahwa ganjaran itu adalah suatu alat pendidikan yang menyenangkan untuk mendidik anak didik agar termotivasi untuk belajar dan berbuat yang lebih baik.

Setelah mengetahui pengertian ganjaran, jelaslah bahwa setiap orang pasti selalu mengaharap ganjaran dari apa yang telah dilakukannya. Hal ini diilustrasikan mengapa Nabi Muhammad Saw, hanya mengharapkan balasan dari Allah Swt., sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Ibnu Majjah, bahwa orang yang berilmu dan muta’alim yang belajar adalah perseketuan dijalan Allah pasti akan mendapat pahala dari Allah. Karena ganjaran atau pahala merupakan sesuatu yang sangat diharapkan dan Allah memberikan ganjaran kepada setiap orang yang melakukan perbuatan menuntut ilmu tidak pernah kenal usia.

b. Bentuk-Bentuk Pemberian Reward (penghargaan)

Guru sebagai pendidik, dalam pemberian reward (pengharaan), hendaknya bermacam-macam, ada yang berbentuk verbal dan non verbal.

Hasbullah menyatakan bahwa anggukan kepala dengan wajah berseri, menunjukkan jempol si Pendidik sudah merupakan suatu hadiah.24

Teknik verbal yaitu pemberian penghargaan berupa motivasi, pujian, dukungan, dorongan atau pengakuan. Bentuk-bentuknya sebagai berikut:

a. Kata-kata, misal: bagus, benar, betul, tepat, ya, baik dan sebagainya.

b. Kalimat, misal: Prestasimu baik sekali!, penjelasanmu sangat baik!, dan sebagainya.

Sedangkan yang berbentuk non-verbal yaitu pemberian penghargaan melalui:

24 Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2001), hal. 29

(20)

a. Gestur Tubuh

Yaitu mimik dan gerakan tubuh, seperti senyuman, anggukan, acungan jempol, dan tepukan tangan.

b. Cara mendekati

Yaitu guru mendekati siswa untuk menunjukkan perhatian atau kesenangannya terhadap pekerjaan atau penampilan siswa

c. Sentuhan

Misalnya dengan menepuk-nepuk bahu, menjabat tangan dan mengelus kepala.

d. Kegiatan yang menyenangkan

Yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan suatu kegiatan yang disenanginya sebagai penghargaan atas prestasi atau untuk belajarnya yang baik.

e. Simbol atau benda

Misalnya komentar tertulis secara tertulis pada buku siswa piagam penghargaan, dan hadiah.

f. Penghargaan tak penuh

Yaitu diberikan kepada siswa yang memberikan jawaban kurang sempurna atau hanya sebagian yang benar. Dalam hal ini sebaiknya mengatakan: “ ya jawabanmu sudah baik, tetapi masih perlu di perbaiki lagi”.25

Ada beberapa pendapat tentang macam-macam reward (ganjaran), yaitu:

Amir Daien Indrakusuma membedakan ganjaran itu kedalam empat macam, yaitu:26

a. Pujian

25 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hal. 123

26 Amir Dien Indrakusuma, Pengantar ilmu Pendidikan,... hal. 159-160

(21)

Pujian adalah suatu bentuk ganjaran yang paling mudah dilaksanakan.

Pujian dapat beruapa kata-kata seperti baik, bagus, bagus sekali, dan sebagainya, tetapi dapat juga berupa kata-kata yang bersifat sugestif.

Misalnya: “nah lain kali akan lebih baik lagi” dan “kiranya kau sekarang telah lebih rajin belajar”. Disamping berupa kata-kata, pujian dapat pula berupa isyarat-isyarat tau pertanda-pertanda. Misalnya dengan menunjukkan ibu jari (jempol) dengan menepuk bahu anak, dengan tepukan dan sebagainya.

b. Penghormatan

Ganjaran berupa penghormatan dapat berbentuk dua macam, pertama berbentuk semacam penobatan, yaitu anak yang mendapat penghormatan diumumkan dihadapan teman-temannya. Kedua penghormatan berbentuk pemberian kekuasaan untuk melakukan sesuatu seperti anak yang rajin diserahi wewenang untuk mengurus perpustakaan sekolah.

c. Hadiah

Ganjaran yang berbentuk pemberian berupa barang, seperti pencil, pengaris, buku pelajaran, baju, dan kadang-kadang berupa uang.

d. Tanda penghargaan

Tanda penghargaan disebut juga dengan ganjaran symbolis. Ganjaran syimbolis dapat berupa surat-surat tanda penghargaan, surat-surat tanda jasa, sertifikat-sertifikat, piala-piala, dan sebagainya.

Menurut Ramyulis menjelaskan contoh-contoh penghargaan yang dapat diberikan oleh guru dengan cara bermacam-macam, antara lain:

1. Guru mengangguk-angggukan kepala tanda senang

2. Guru memberikan kata-kata yang mengembirakan (pujian)

3. Guru memberikan benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak didik27

27 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal.210

(22)

Sedangkan dalam buku Armai Arief, bentuk-bentuk pemberian ganjaran adalah:28

a. Memberikan hadiah

Memberi hadiah dilakukan agar memberikan dorongan kepada anak-anak yang berprestasi dan akan memacu prestasi lagi. Tetapi bagi orang tua maupun guru hendaknya bisa menentukan kegiatan apa yang harus mendapat hadiah.

Jangan semua kegiatan harus diberi hadiah, tetapi kegiatan yang bersifat kompetitif atau persaingan. Misalnya: lomba cerdas cermat dan sebagainya.

b. Pemberian Pujian

Memuji adalah salah satu segi mendidik yang sangat menyenangkan dan menguntungkan, jika cara tersebut diterapkan dengan kondusif, maka cara itu membentuk sesuatu yang indah dalam pergaulan dan kehidupan, karena pujian dapat menumbuhkan kepercayaan diri anak, membuatnya besar hati, merasa aman dan terlindung. Adapun pujian yang dapat membangun adalah pujian yang jujur dari hati yang tulus ikhlas, wajar, memebri dorongan dan semangat, dan biasanya disertai juga dengan menunjukkan kelemahan-kelemahan orang yang sedang dipuji, sehingga ia dapat mengetahui dimana letak kelemahannya. Namun jika pujian itu bersifat destruktif bisa merugikan serta merusak pergaulan dan pertumbuhan tabiat, karena pujian tersebut bersifat berlebih-lebihan dan kadang- kadang pujian itu menjengkelkan. Sehingga dalam memberikan pujian harus ada patokannya, misalnya pujian hanya mengangkut hasil yang telah dicapai anak bukan menyangkut watak dan kepribadiannya.

Memuji anak hendaknya dilakukan dengan empat mata, jika di depan teman-temannya akan menimbulkan kekacauan hubungan baik diantara anak-anak itu sendiri, seperti rasa cemburu. Pujian tersebut memang sangat perlu untuk memberikan semangat sehingga anak-anak bergairah melakukan perbuatan baik, positif dan terlebih pula mendorong untuk meningkatkan prestasi dalam pelajaran disekolah.

Adapun beberapa saran bagaimana memuji anak dengan baik, yaitu:

28 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,... hal. 127

(23)

1. Pujian sangat efektif jika diungkapkan dengan sepenuh hati dan dengan ikhlas

2. Usahakan kontak mata atau bertemu mata dengan anak waktu memberikan pujian kepadanya.

3. Berilah pujian dengan segera, khususnya ketika ia sedang melakukan perbuatannya yang baik dan berhasil dengan gemilang

4. Hindarkan pujian yang berlebih-lebihan dengan menambahkan suatu komentar yang negatif atau perbandingan

5. Ketika memberi pujian kepada anak, beri alasan yang tepat sehingga jelas bahwa anda memang memujinya dengan tulus bukan memberi sanjungan yang dibuat-buat

c. Pemberian Penghargaan

Pada dasarnya anak mempunyai hak untuk diperlakukan dengan penuh pengahargaan dan pengertian terhadap apa yang telah dilakukannya. Karena memang semua orang yang hidup suka memperoleh penghargaan dari teman manusia lainnya. Karena penghargaan ini merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar.

Setiap manusia berusaha memperoleh hasil yang lebih baik dari yang dikerjakannya karena dengan keberhasilan yang dicapai ia merasa orang lain menghargainnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Langgunlung, keberhasilan adalah tujuan orang yang merasa perlu kepada penghargaan.29

Jadi dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang termasuk reward (ganjaran) adalah pemberian hadiah, penghargaan, pujian, dan pengormatan

c. Cara Pemberian Reward (Penghargaan) dalam Pendidikan Agama Islam Menurut Sukadi ada beberapa cara dalam memberikan Reward, yaitu:30 1. Kaitkan reward dengan perilaku tertentu

29 Hasan Langgulung, Teori-teori Kesehatan Mental, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1992), hal. 53

30 Sukadi, Guru Propesional Masa Depan, (Bandung: Qolbu, 2006), hal. 109

(24)

Contoh, seorang guru memuji siswa yang baru saja menjawab pertanyaan dengan benar dengan pujian “jawabanmu sangat tepat, ibu senang mendengarkannya!” dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan reward mengaitkan dengan perilaku tertentu yang kita ucapkan.

2. Berikan secepatnya

Reward diberikan apabila diberikan segera setelah perilaku baik di kerjakan, jangan menunda-nunda dalam memberikan reward, karena reward yang ditunda-tunda tidak akan efektif. Misalnya seorang siswa yang menjawab pertanyaan guru dengan benar, maka pemberian pujian langsung dilakukan.

3. Berikan reward dengan ikhlas

Reward hendaknya diberikan secara ikhlas, karena reward yang tidak ikhlas akan terlihat sebagai ejekan.

4. Publikasikan di depan umum

Setiap individu sangat menyenangi apabila dipublikasikan. Oleh karena itu dalam pempublikasikan pemberian reward dapat memperoleh dan merasa terhormat dan dihargai teman-temnnya.

5. Variasikan pemberiannya

Pemberian reward efektif apabila dalam pempublikasiannya dilakukan dengan bervariasi, baik cara, bentuk maupun jumlahnya.

d. Indikator Pemberian Reward

Mengukur pemberian reward diperlukan indikator-indikator, indikator- indikator tersebut dapat dilihat Berdasarkan pendapat Wasty Soemanto bahwa teknik pemberian reward (penghargaan) terbagi dua, yaitu teknik verbal dan non verbal. Teknik verbal yaitu pemberian penghargaan berupa motivasi, pujian, dukungan, dorongan atau pengakuan. Bentuk-bentuknya sebagai berikut:

(25)

1. Kata-kata, misal: bagus, benar, betul, tepat, ya, baik dan sebagainya.

2. Kalimat, misal: Prestasimu baik sekali!, penjelasanmu sangat baik!, dan sebagainya.

Sedangkan yang berbentuk non-verbal yaitu pemberian penghargaan melalui:

1. Gestur Tubuh

Yaitu mimik dan gerakan tubuh, seperti senyuman, anggukan, acungan jempol, dan tepukan tangan.

2. Cara mendekati

Yaitu guru mendekati siswa untuk menunjukkan perhatian atau kesenangannya terhadap pekerjaan atau penampilan siswa

3. Sentuhan

Misalnya dengan menepuk-nepuk bahu, menjabat tangan dan mengelus kepala.

4. Kegiatan yang menyenangkan

Yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan suatu kegiatan yang disenanginya sebagai penghargaan atas prestasi atau untuk belajarnya yang baik.

5. Simbol atau benda

Misalnya komentar tertulis secara tertulis pada buku siswa piagam penghargaan, dan hadiah.

6. Penghargaan tak penuh

Yaitu diberikan kepada siswa yang memberikan jawaban kurang sempurna atau hanya sebagian yang benar. Dalam hal ini sebaiknya mengatakan: “ ya jawabanmu sudah baik, tetapi masih perlu di perbaiki lagi”.31

31 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Lanadasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hal. 123

(26)

Jadi dapat disimpulkan bahwa pemberian reward berupa teknik verbal dan non verbal adalah indikator untuk mengukur pemberian reward

2. Punishment (Hukuman)

Berkaitan dengan punishment, teori yang akan diuraikan pada bagian ini adalah (a) pengertian punishment, (b) bentuk-bentuk punishment, (c) metode penerapan punishment, (d) indikator pemberian punishment

a. Pengertian Punishment

Menurut bahasa hukuman berasal dari bahasa inggris yaitu dari kata punishment yang berarti hukuman atau siksaan.32 Menurut Kamus lengkap Bahasa Indonesia, hukuman memiliki arti peraturan resmi yang menjadi pengatur.33

Sedangkan menurut istilah punishment (hukuman) adalah salah satu bentuk reinforcement negatif yang menjadi alat motivasi jika diberikan secara tepat dan bijak sesuai dengan prinsip-prinsip pemberian hukuman”.34 Menurut Purwanto punishment (hukuman) adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orangtua, guru, dan sebagainya) sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan.35

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa punishment (hukuman) adalah suatu bentuk reinforcement negatif yang diberikan kepada anak didik yang bermaksud untuk meperbaiki kesalahan.

Berkaitan dengan hukuman disebutkan dalam Al Qur’an berbagai bentuk lafaz, seperti lafaz ‘iqab, ‘adzab dan rijz, yaitu:

32 John M. Echole dan Hasan Shadiliy, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1996), hal. 456

33 Ananda S dan S. Priyanto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Kartika Putra Press, 2010), hal. 196

34 Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), Hal. 94

35 M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan teoretis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 186

(27)

مَل اَمِب اوُّمَه َو مِهِملا سِإ َد عَب او ُرَفَك َو ِر فُك لا َةَمِلَك اوُلاَق دَقَل َو اوُلاَق اَم ِّللَاِب َنوُفِل حَي نِإ َو مُهَل ا ًر يَخ ُكَي اوُبوُتَي نِإَف ِهِل ضَف نِم ُهُلوُس َر َو ُّاللَ ُمُهاَن غَأ نَأ لاِإ اوُمَقَن اَم َو اوُلاَنَي لا َو يِل َو نِم ِض رلأا يِف مُهَل اَم َو ِة َر ِخلآا َو اَي نُّدلا يِف اًميِلَأ اًباَذَع ُّاللَ ُمُه ب ِذَعُي ا وّل َوَتَي ري ِصَن

Artinya:

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi, (Q.S. At Taubah: 74)

ديِدَش ّاللَ َو مِهِبو ن ذِب ّاللَ م هَذ َخَأَف اَنِتاَيآِب او بّذَك مِهِل بَق نِم َنيِذّلا َو َن وَع رِف ِلآ ِب أَدَك ِباَقِع لا

Artinya:

(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Firaun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. ( Q.S.

Ali Imran: 11)

نئل كدنع دهع امب كبر انل عدا ىسوم اي اولاق زجرلا مهيلع عقو املو ليئارسإ ينب كعم نلسرنلو كل ننمؤنل زجرلا انع تفشك

Artinya:

Dan ketika mereka ditimpa adzab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata: "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan adzab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israel pergi bersamamu". (Q.S Al ‘Araf:

134)

(28)

b. Bentuk-Bentuk Punishment

Bentuk-bentuk atau macam-macam punishment, yaitu:36

1. Punishment preventif, yaitu pun` ishment yang dilakukan dengan maksud agar tidak atau jangan terjadi pelanggaran. punishment ini bermaksud untuk mencegah jangan sampai terjadi pelanggaran dan tujuan dari hukuman ini adalah untuk menjaga agar hal-hal yang dapat menghambat atau menganggu kelancaran dari proses pendidikan bisa dihindarkan.

Adapun yang termasuk alat pendidikan preventif menurut Indrakusuma yaitu:37

1. Tata tertib, yaitu sederetan peraturan-peraturan yang harus ditaati dalam suatu situasi atau dalam suatu tata kehidupan, misalnya saja, tata tertib di dalam kelas, tata tertib ujian sekolah, tata tertib kehidupan keluarga, dan sebagainya.

Tata tertib yang ada di sekolah itu mengatur segenap tingkah laku para siswa selama mereka bersekolah untuk menciptakan suasana yang mendukung pendidikan. Dikalangan siswa ada beberapa kriteria yang harus diamati, yakni ketertiban dalam keteraturan terhadap peraturan sekolah dapat berbentuk seperti, menepati jam pelajaran, sikap terhadap seragam, sikap terhadap administrasi, tata rias wajah, sikap terhadap penggunaan bahasa dan sikap terhadap janji dan waktu. Tata tertib diartikan pula, merupakan sederetan peraturan– peraturan yang harus ditaati dalam suatu situasi atau dalam tata kehidupan tertentu. Atau susunan peraturan yang mempunyai sangsi bila tidak diindahkan.

2. Anjuran dan perintah, yaitu suatu saran atau ajakan untuk berbuat atau melakukan sesuatu yang berguna. Misalnya, anjuran untuk belajar setiap hari, anjuran untuk selalu menepati waktu, anjuran untuk berhemat, dan sebagainya. Sedangkan perintah adalah suatu keharusan untuk berbuat

36 M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan teoretis dan Praktis..., hal 189

37 Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), hal. 140-145

(29)

sesuatu yang bermanfaat. Misalnya, perintah untuk melaksanakan ibadah shalat, perintah untuk mematuhi peratuan lalu lintas, dan lain sebagainya.

3. Larangan. Larangan sebenarnya sama saja dengan perintah. Apabila perintah merupakan suatu keharusan untuk berbuat sesuatu yang baik, maka larangan merupakan suatu keharusan untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan. Misalnya, larangan untuk bercakap-cakap di dalam kelas, larangan untuk berkawan dengan anak-anak malas.

4. Paksaan adalah suatu perintah dengan kekerasan terhadap siswa untuk melakukan sesuatu. Paksaan dilakukan dengan tujuan agar jalannya proses pendidikan tidak terganggu dan terhambat.

5. Disiplin, yaitu adanya kesediaan untuk mematuhi peraturan-peraturan dan larangan-larangan. Kepatuhan di sini bukan hanya patuh karena adanya tekanan-tekanan dari luar, melainkan kepatuhan yang didasari oleh adanya kesadaran nilai dan pentingnya peraturan-peraturan dan larangan tersebut.

2. Punishment represif, yaitu punishment yang dilakukan oleh karena adanya pelanggaran, oleh adanya dosa yang telah diperbuat. Jadi punisment dilakukan karena adanya pelanggaran atau kesalahan.

Adapun yang termasuk alat pendidikan represif menurut Indrakusuma adalah sebagai berikut:38

1. Pemberitahuan, yaitu pemberitahuan kepada siswa yang telah melakukan sesuatu yang dapat mengganggu atau menghambat jalannya proses pendidikan. Misalnya, siswa yang bercakap-cakap di dalam kelas pada waktu kegiatan belajar mengajar berlangsung. Mungkin sekali siswa tersebut belum tahu bahwa di dalam kelas bila kegiatan belajar mengajar berlangsung dilarang bercakap-cakap dengan siswa yang lain. Oleh karena itu guru memberi tahu terlebih dahulu kepada siswa bahwa hal itu tidak diperbolehkan.

38 Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan,... 144

(30)

2. Teguran. Jika pemberitahuan tersebut diberikan kepada siswa yang mungkin belum mengetahui tentang suatu hal, maka teguran itu berlaku bagi siswa yang telah mengetahui.

3. Peringatan. Peringatan diberikan kepada siswa yang telah beberapa kali melakukan pelanggaran, dan telah diberikan teguran atas pelanggarannya.

4. Hukuman yaitu apabila teguran dan peringatan belum mampu untuk mencegah siswa melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Pendapat lain tentang macam-macam punishment adalah pendapat Wiliam Stern membedakan tiga macam punishment yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak-anak yang menerima punishment, yaitu:39

a. Punishment asosiasif, umumnya orang mengasosiasikan antara punishment dan kejahatan atau pelanggaran antara penderitaan yang diakibatkan oleh punishment dengan pelanggaran yang dilakukan.

b. Punishment logis, punishment dipergunakan terhadap anak-anak yang sudah agak besar. Punishment ini, anak mengerti bahwa punishment itu adalah akibat yang logis dari pekerjaan atau perbuatannya yang tidak baik.

c. Punishment normatif, yaitu punishment yang bermaksud memperbaiki moral anak-anak. Punishment ini dipergunakan terhadap pelanggaran- pelanggaran mengenai norma-norma, etika, seperti berdusta, menipu dan mencuri

Jadi dari macam-macam pinishment yang dijelaskan di atas, bahwa punishment itu bertujuan agar tidak terjadi kesalahan yang dilakukan oleh perserta didik atau mencegah perserta didik untuk tidak melakukan kesalahan.

c. Metode Penerapan Punishment (Hukuman) Dalam Pendidikan Agama Islam

39 M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan teoretis dan Praktis..., hal 190

(31)

Akan halnya hukuman yang diterapkan para pendidik di rumah atau disekolah adalah berbeda-beda dari segi jumlah dan tata caranya, tidak sama dengan hukuman yang diberikan kepada orang-orang umum.

Di bawah ini metode yang dipakai Islam dalam upaya memberikan hukuman kepada anak:40

1. Lemah lembut dan kasih sayang adalah dasar mu’amalah dengan anak.

Al-Bukhari dalam Al-Adabu ‘l-Mufrid meriwayatkan: “ hendaknya kamu bersikap lemah lembut, kasih sayang, dan hindarilah sikap keras dan keji”.

Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah mengutusnya bersama Mua’adz ke negeri Yaman, dan Rasulullah Saw. Berkata kepada mereka berdua: “permudahlah dan janganlah kalian persukar, ajarkanlah ilmu dan janganlah kalian berlaku tidak simpati”

Jadi kelembutan dan kasih kasih sayang dalam dalam menjalin hubungan dengan manusia atau dengan anak adalah hal yang sangat penting, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

2. Menjaga tabiat anak yang salah dalam menggunakan hukuman

Anak-anak dilihat dari segi kecerdasannya berdeda, baik lenturan maupun pemberian tanggapannya. Juga berbeda dari segi pembawaannya, tergantung pada masing-masing anak, diantara mereka ada yang berpembawaan tenang dan ada perpembawaan emosional dan keras. Dan hal ini semua tergantung pada keturunan, pengaruh lingkungan, faktor pertumbuhan, dan pendidikan.

Sebagian anak cukup dengan menampilkan muka cemberut di dalam melarang dan memperbaikinya. Anak lain, tidak bisa dengan cara itu, tetapi harus dengan kecaman dalam upaya menghukumnya.

Bagi kebanyakan ahli pendidikan Islam di antaranya Ibnu Sina, Al Abdari dan Ibnu Kaldun, melarang pendidik menggunakan metode hukuman kecuali dalam keadaan sangat darurat. Hendaknya tidak segera menggunakan pukulan,

40 Abdullah Nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, edisi terjemah, (Fathan Prima Media, Depok, 2016), cet 1, hal. 690-692

(32)

kecuali seteleh mengeluarkan ancaman, peringatan dan memerintah orang-orang yang disegani untuk mendekat, sehingga mampu merubah sikapnya.

Ibnu Khaldun menetapkan bahwa sikap keras yang berlebihan terhadap anak, berarti membiasakan anak bersikap penakut, lemah dan lari dari tugas-tugas kehidupan.

Jadi, pendidik hendaknya bijaksana dalam menggunakan cara hukuman yang sesuai, tidak bertentangan dengan tingkat kecerdasan anak, pendidikan dan pembawaannya. Di samping itu hendaknya guru tidak segeramenggunakan hukuman, kecuali setelah menggunakan cara-cara lain.

3. Dalam upaya memperbaiki, hendaknya dilakukan secara bertahab-tahab, dari yang paling ringan hingga yang paling keras.

Pendidik ibarat dokter, pendidik harus memperlakukan anak dengan perlakuan yang sesuai dengan perlakuan yang sesuai dengan tabiat dan pembawaannya dan mecari faktor yang menyebabkan kesalahan, pendidikan dan lingkungan sekitarnya.

Rasulullah Saw. Telah meletakkan metode dan tata cara bagi para pendidik untuk memperbaiki penyimpangan anak, mendidik, meluruskan kebengkokannya, membentuk moral dan spiritualnya. Metode yang diberikan Rasulullah Saw. Tersebut adalah seperti di bawah ini:41

1. Menunjukkan kesalahan dengan pengarahan

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abi salmah ra. Ia berkata:

ِلوُس َر ِر جَح يِف اًم َلاُغ ُت نُك ُلوُقَي ُه نَع ُالله َي ِض َر َةَمَلَس يِبَأ ِن ب َرَمُع نَع ّصلا يِف ُشيِطَت يِدَي تَناَك َو َمّلَس َو ِه يَلَع ُ ّاللَ ىّلَص ِ ّاللَ

ُلوُس َر يِل َلاَقَف ِةَف ح

اَمَف َكيِلَي اّمِم لُك َو َكِنيِمَيِب لُك َو َ ّاللَ ِ مَس ُم َلاُغ اَي َمّلَس َو ِه يَلَع ُ ّاللَ ىّلَص ِ ّاللَ

يراخبلا ظفل اذهو ملسمو يراخبلا هاور( ُد عَب يِتَم عِط َك لِت تَلا َز

Dari Umar Bin Abi Salamah RA berkata: Ketika aku kecil di dalam asuhan Nabi SAW dan ketika itu tanganku mengacak-acak di atas nampan. Maka

41 Abdullah Nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam,... hal. 693-695

(33)

Rasulullah SAW berkata kepadaku: Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa yang dihadapanmu, maka begitulah cara makanku sesudah itu (HR Bukhori dan Muslim dan ini Lafadz Bukhori)

2. Menunjukkan kesalahan dengan keramahtamahan

Rasulullah Saw. Mengajari anak mengenai bagaimana bersopan santun kepada orang dewasa (orang tua) dalam mendahulukan mereka untuk mendapatkan minuman dengan mengurbankan haknya. Dan ini adalah yang terbaik. Dengan ramah tamah Rasulullah saw. Telah minta izin kepada anak.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.

“ Al-Fadhal pernah mengikuti Rasulullah saw. Pada suatu hari datanglah seorang wanita dari Khuts’un yang membuat Al-Fadhal memandangnya, dan wanita itupun memandangnya. Maka Rasulullah saw. Memalingkan muka Al- Fadhal ke arah lain”

3. Menunjukkan kesalahan dengan kecaman

Rasulullah Saw. Memperbaiki kesalahan Abu Dzar ketika mencaci seseorang dengan menyebutnya “ anak wanita hitam”. Rasulullah Saw.

Mengecam dengan perkataanya, “ wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu masih berperilaku jahiliyah”. Kemudian Rasulullah Saw. Memberinya nasihat yang sesuai dengan tempat dan serasi dengan pengarahan.

4. Menunjukkan kesalahan dengan memutuskan hubungan

Suatu riwayat dikatakan bahwa salah seorang sauadar Ibnu Mughaffal melempar dengan telunjuk dan ibu jari. Maka Rasulullah Saw. Melarangnya dan bersabda:

“Sesungguhnya Rasulullah saw. Melarang melempar dengan telunjuk dan ibu jari, dan berkata, ‘sesungguhnya lemparan itu tidak akan mengenai buruan”.

Kemudian ia mengulangi dan berkata, “bukankah aku sudah beritahu kamu bahwa Rasulullah Saw. Melarangnya, kemudian kamu kembali mengulanginya?

Sama sekali aku tidak akan berbicara lagi dengamu”.

5. Menunjukkan kesalahan dengan memukul

Abu Daud dan Al hakim meriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari ayanya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

(34)

مُه َو اَه يَلَع مُهوُب ِر ضا َو ، َنيِنِس ِع بَس ُءاَن بَأ مُه َو ِةلاّصلاِب مُكَدلا وَأ اوُرُم ِع ِجاَضَم لا يِف مُهَن يَب اوُق ِ رَف َو ، ر شَع ُءاَن بَأ

“Suruhlah anak-anak kalian mengerjakan shalat sejak mereka berusia tujuh tahun dan pukulah mereka jika melalaikannya. Ketika mereka berusia sepuluh tahun dan pisahkan mereka dari tempat tidurnya”.

6. Menunjukkan kesalahan dengan memberikan hukuman yang menjerakan Al-Qur’an menetapkan prinsip hukuman yang menjerakan dalam firman- Nya:

ِنا ّزلا ُةَي يِنا ّزلا َو اوُدِل جاَف

ّلُك د ِحا َو اَمُه نِم َةَئا ِم ةَد لَج لا َو مُك ذُخ أَت اَمِهِب

ةَف أ َر ِنيِد يِف

ِّاللَ

نِإ مُت نُك َنوُن ِم ؤُت ِّللَاِب

ِم وَي لا َو ِر ِخلآا

دَه شَي ل َو اَمُهَباَذَع

ةَفِئاَط َن ِم َنيِن ِم ؤُم لا

Artinya:

“perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera...”(Q.S. An Nur: 2)42

Pemberian punishment (hukuman) dalam upaya penegakan kedisiplinan memang perlu, kendatipun kadang-kadang hukuman kurang efektif dari reward (ganjaran) yang perlu diambil. Karena itu hukuman yang diberikan peserta didik yang melanggar peraturan hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip Ornsten dan Eggen yang dikutip oleh Maman Rahman, sebagai berikut:

1. Hukuman diberikan secara hormat dan penuh pertimbangan 2. Berikan kejelasan kenapa hukuman diberikan’

3. Hindarkan pemberian hukuman pada saat mara atau emosional

4. Hukuman hendaknya diberikan pada awal kejadian dari pada akhir kejadian

5. Hindari hukuman yang bersifat badaniah/fisik

6. Jangan menghukum kelompok apabila kesalahan dilakukan oleh seseorang.

7. Jangan memberi tugas tambahan sebagai hukuman

42 Al-Qur’an dan Terjemahannya, Mujamma’ Al Malik Fadh li Thiba’at Al Mush-haf Asy- Syarif, hal. 543

(35)

8. Yakini hukuman sesuai dengan kesalahan 9. Pelajari tipe hukuman yang diijinkan sekolah 10. Jangan menggunakan standar hukuman ganda 11. Jangan mendendam

12. Konsisten dengan pemberian hukuman

13. Jangan mengancam dengan ketidakmungkinan 14. Jangan memberi hukuman berdasar selera.43

Jadi dengan memperhatikan prinsip-prinsip dalam penerapan punishment, maka pemberian punishment itu dapat berjalan dengan baik, apakah berkaitan dengan waktu pemberian punishment maupun keadaan peserta didik yang menerima punishment tersebut.

d. Indikator Pemberian Punishment

Mengukur pemberian punisment diperlukan indikator-indikator, indikator- indikator tersebut dapat dilihat berdasarkan bentuk-bentuk atau macam-macam punishment, ada beberapa pendapat mengenai macam-macam punishment, yaitu:

punishment preventif dan represif.

Adapun yang termasuk punishment preventif menurut Indrakusuma yaitu:44

1. Tata tertib, yaitu sederetan peraturan-peraturan yang harus ditaati dalam suatu situasi atau dalam suatu tata kehidupan, misalnya saja, tata tertib di dalam kelas, tata tertib ujian sekolah, tata tertib kehidupan keluarga, dan sebagainya.

Tata tertib yang ada di sekolah itu mengatur segenap tingkah laku para siswa selama mereka bersekolah untuk menciptakan suasana yang mendukung pendidikan. Dikalangan siswa ada beberapa kriteria yang harus diamati, yakni ketertiban dalam keteraturan terhadap peraturan sekolah dapat berbentuk seperti, menepati jam pelajaran, sikap terhadap

43 Saifuddin, Pengelolaan Pembelajaran Teoritis dan Praktis, (Yogyakarta: Deepublish, 2014), cet. 1, hal. 66

44 Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), hal. 140

(36)

seragam, sikap terhadap administrasi, tata rias wajah, sikap terhadap penggunaan bahasa dan sikap terhadap janji dan waktu. Tata tertib diartikan pula, merupakan sederetan peraturan– peraturan yang harus ditaati dalam suatu situasi atau dalam tata kehidupan tertentu. Atau susunan peraturan yang mempunyai sangsi bila tidak diindahkan.

2. Anjuran dan perintah, yaitu suatu saran atau ajakan untuk berbuat atau melakukan sesuatu yang berguna. Misalnya, anjuran untuk belajar setiap hari, anjuran untuk selalu menepati waktu, anjuran untuk berhemat, dan sebagainya. Sedangkan perintah adalah suatu keharusan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat. Misalnya, perintah untuk melaksanakan ibadah shalat, perintah untuk mematuhi peratuan lalu lintas, dan lain sebagainya.

3. Larangan. Larangan sebenarnya sama saja dengan perintah. Apabila perintah merupakan suatu keharusan untuk berbuat sesuatu yang baik, maka larangan merupakan suatu keharusan untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan. Misalnya, larangan untuk bercakap-cakap di dalam kelas, larangan untuk berkawan dengan anak-anak malas.

4. Paksaan adalah suatu perintah dengan kekerasan terhadap siswa untuk melakukan sesuatu. Paksaan dilakukan dengan tujuan agar jalannya proses pendidikan tidak terganggu dan terhambat.

5. Disiplin, yaitu adanya kesediaan untuk mematuhi peraturan-peraturan dan larangan-larangan. Kepatuhan di sini bukan hanya patuh karena adanya tekanan-tekanan dari luar, melainkan kepatuhan yang didasari oleh adanya kesadaran nilai dan pentingnya peraturan-peraturan dan larangan tersebut.

Berdasarkan pendapat di atas yang termasuk indikator pemberian punishment preventif adalah tata tertib, anjuran dan perintah, larangan, paksaan dan disiplin

Adapun yang termasuk dalam punishment represif menurut Indrakusuma adalah sebagai berikut:45

45 Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan,... 144

Gambar

Gambar 2.1  Bagan Kerangka Berfikir
Tabel 3.2  Sampel
Tabel 3.13 Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r. 70
Tabel  4.13  Statistics  X 1  (Reward)  N  Valid  60  Missing  0  Mean  79,28  Std. Error of Mean  1,255  Median  80,77  Mode  82 a Std
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menyusun kubus menyerupai stupa, digunakan untuk , mengenalkan warna mengenalkan jumlah motorik halus konsentrasi Harga Rp.45.000,- Menara Balok Digunakan untuk :

Dari hasil analisis yang dilakukan, maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, yaitu: secara garis besar manajemen risiko pada PTNL sudah berjalan dengan baik,

1) Penelitian yang berbentuk jurnal di akses pada 04-10-2016 (19:37): Karya dari Faizal Ramadhan Syah Pusadan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta tentang “Hubungan

Benang merah yang dapat ditarik dari keseluruhan penghargaan yang diberikan seperti gaji pokok dan insentif cenderung mengabaikan internal equity yang mempunyai beban kerja yang

Argumen-argumen Ibn Taymiyah tersebut, jika ditinjau secara selintas, memang mengesankan bahwa ia mendukung Islamisasi politik dalam Islam dan ini membuat pemikiran politiknya

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nofiarsyah (2009) dan Labbase (2010) yang menyatakan bahwa pengalaman kerja memiliki

Berdasarkan uji analisis yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa variabel perencanaan karir berpengaruh positif pada pengembangan karir dan manajemen

Bangunan Trans Studio merupakan wahana terbesar dan terlengkap di kota bandung sehingga kegiatan ekonomi di wilayah ini sangat pesat perkembangannya sehingga akan