• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1

Perlu kita sadari pendidikan jenjang SD tengah mengalami transisi dari model pengelolaan yang sentralistik-birokratik ke arah pemberian otonomi. Setidak-tidaknya pemberian wewenang yang semakin luas kepada pihak sekolah, di masa depan arah dan mutu pendidikan dasar kita akan ditentukan oleh kesiapan, dan secara lebih khusus kesiapan guru untuk mengembangkan program pembelajaran secara kreatif, bermakna, dan fungsional.2

Dewasa ini pelaksanaan otonomi atau wewenang yang semakin luas kepada masing-masing pihak sekolah, masing-masing lembaga pendidikan berlomba-lomba untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas pendidikan.

1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 114 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-undang Republik Imdonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung:Citra Umbara,2006), 72.

2 A. Supratiknya, “Menggugat Sekolah”. Kumpulan Esai Tentang Psikologi dan Pendidikan (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2006), 52.

(2)

Perlu diingat bahwa maju atau pesatnya keberhasilan yang dicapai tergantung kesiapan lembaga pendidikan itu sendiri.

Upaya yang dilakukan untuk memajukan kualitas pendidikan adalah penggunaan kurikulum yang disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di era global sekarang ini. Kurikulum yang telah ada adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan yaitu kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.3 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan juga termasuk salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah dan satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan masing-masing.4

Secara umum tujuan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Secara khusus tujuan diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah untuk:5

1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.

3 Badan Standar Nasional Pendidikan, Pedoman Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jakarta: Depdiknas, 2008), 3.

4 Mulyasa, Suatu Panduan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 21.

5 Ibid., 21-22.

(3)

2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.

3. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.

Prinsip dalam pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah pada potensi perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan dengan menegakkan lima pilar yaitu: imtaq kepada Tuhan Yang Maha Esa, belajar untuk memahami dan menghayati, belajar untuk mampu berbuat secara efektif, belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menenangkan, atau dalam artian suatu proses kegiatan belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi subjek didik seoptimal mungkin sehingga siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien.6

Untuk mewujudkan prinsip belajar melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, maka seorang pengajar harus membiasakan dan menanamkan suatu ilmu pada masa awal yaitu usia peserta didik sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga yang berada pada rentangan usia enam ssampai dengan sembilan tahun. Pada usia tersebut merupakan masa yang kritis bagi perkembangan.7

6 Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung:

Sinar Batu ALGENSINDO, 1996), 21.

7 Elfi Yuliani Rochmah, Psikologi Perkembangan (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2005), 141.

(4)

Pada masa ini pada diri anak banyak terdapat perkembangan- perkembangan lanjut yang sifatnya merupakan penyempurnaan fase sebelumnya. Menurut Piaget, sebagaimana dikutip Ratna Wilis Dahar, masa ini disebut dengan masa berpikir operasional konkret dan berakhir dengan berpikir operasional formal. Yang dimaksud dengan berpikir operasional konkret adalah anak sudah memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah konkret. Bila menghadapi suatu pertentangan antara pikiran dan persepsi, anak periode ini sudah mampu memilih pengambilan keputusan logis, bukan keputusan perseptual seperti anak periode sebelumnya. Sedangkan berpikir operasional formal adalah dimana anak sudah dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih kompleks. Pada saat itu, anak tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda-benda atau peristiwa-peristiwa konkret, karena dia sudah mempunyai kemampuan berpikir abstrak.8

Permasalahannya adalah bagaimana kita melatih atau membiasakan peserta didik agar tidak bosan saat pembelajaran, tetap semangat dan memperhatikan materi serta menumbuhkan ketrampilan dan kreativitas peserta didik. Dalam hal ini yang diperlukan adalah suatu cara atau metode pembelajaran yang dapat mentransfer ilmu secara efektif dan efisien kepada peserta didik. Di mana dengan adanya metode pembelajaran, peserta didik akan termotivasi dalam kegiatan belajar mengajar, meningkatkan daya serap

8 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), 313-314.

(5)

peserta didik terhadap materi pelajaran serta dapat juga dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.9

Dari hasil penjajagan awal pada tanggal 29 Januari 2009 di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Madiun telah diadakan pembelajaran yang bebasis keaktifan, kreatifitas, keefektifan, dan menyenangkan yang dilakukan oleh para pengajar yaitu pembelajaran yang diperuntukkan bagi kelas awal sekolah dasar (kelas satu, dua, dan tiga). Dan pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran tematik yang sudah berjalan ±3 tahun.10

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, maka peneliti memilih judul “PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS II DI MADRASAH IBTIDAIYAH ISLAMIYAH 03 MADIUN”.

B. Fokus Penelitian

Dari hasil penjajagan di lapangan tanggal 29 Januari 2009 di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun, peneliti ingin memfokuskan pada beberapa hal diantaranya mengenai: latar belakang pemilihan tema, langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran tematik, dan faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di MI Islamiyah 03 Madiun.

9 Syaifullah Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 82.

10 Hasil wawancara dengan Ellyn Yuliati, S.Pd pukul 08.30 WIB (guru sains) pada Kamis 29 Januari 2009, di ruang guru Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

(6)

C. Rumusan Masalah

Berdasakan latar belakang masalah dan faktor penelitian, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana latar belakang pemilihan tema dalam pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun?

2. Bagaimana langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun?

3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun?

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan latar belakang pemilihan tema dalam pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

2. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

3. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

(7)

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Melalui penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan sumbangan (contribution of knowledge) berkenaan dengan pengembangan suatu pembelajaran yang bermakna yakni pembelajaran yang mendorong keterlibatan peserta didik secara langsung dalam pembelajaran. Selain itu diharapkan juga mampu memberikan tambahan perspektif dari apa yang selama ini sudah ada.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Kepala Sekolah

Dengan penelitian ini semoga dapat dijadikan sebagai sumbangan pemikiran bagi kepala sekolah dalam memecahkan masalah yang dihadapi di lingkungan sekolah dan juga dapat digunakan sebagai dasar dalam upaya pengembangan kebijakan di lembaga pendidikan.

b. Bagi Guru

Melalui penelitian ini semoga dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam membimbing dan mendidik dalam proses pembelajaran sehingga dalam penerapannya bisa dilaksanakan dengan sebaik- baiknya.

(8)

c. Bagi Peneliti

Dengan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bekal untuk menambah pengetahuan dan dijadikan bahan penelitian lanjutan.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dengan mencermati fokus masalah yang hendak dijawab dalam penelitian ini, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena permasalahan belum jelas, holistik, dinamis, dan penuh makna.11 Selain itu dengan pendekatan kualitatif, akan diperoleh data yang lebih lengkap, dapat memahami situasi sosial secara mendalam, kredibel, dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat dicapai.12

Dalam hal ini jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian (studi kasus), yaitu suatu penelitian yang menggambarkan subjek penelitian di dalam keseluruhan tingkah laku, yakni tingkah laku itu sendiri beserta hal-hal yang melingkunginya, hubungan antara tingkah laku dengan riwayat timbulnya tingkah laku.13

2. Kehadiran Peneliti

Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan

11 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2005), 145

12 Ibid., 181

13 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), 314.

(9)

keseluruhan skenarionya.14 Di dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai aktor sekaligus pengumpul data. Sedangkan instrumen yang lain terbatas hanya sebagai pendukung.

3. Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun. Madrasah ini terletak di Jalan Hayam Wuruk Madiun No.14 A tepatnya Kelurahan Manguharjo Wilayah Kota Madya Madiun. Madrasah ini merupakan yayasan yang berbentuk perserikatan (terdiri dari MI Islamiyah I, II, III), dan masing-masing MI memiliki satu kepala sekolah.

Peneliti tertarik mengadakan penelitian di madrasah ini karena memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai di antaranya ruang kelas yang dilengkapi dengan ventilasi sehingga tercipta kenyamanan, perpustakaan, ruang UKS, Mushola, taman IPA, laboraturium bahasa, kamar mandi, WC, dan kantin. Selain itu madrasah ini menyajikan kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan rutin pada hari Sabtu, kegiatannya antara lain seni tari, seni musik, pramuka, karya ilmiah.

Dalam hal penyampaian informasi madrasah ini menggunakan speaker.15 4. Sumber Data

Sumber data utama dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lainnya.

14 Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), 3.

15 Hasil observasi pada Kamis, 29 Januari 2009, pukul 09.30 WIB di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

(10)

Sumber data dalam penelitian disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian. Sesuai dengan fokus penelitian, maka yang dijadikan sumber data adalah sebagai berikut: untuk didik kelas II dan kata-kata dari informan (pengajar), sedangkan sumber data tertulis, foto adalah sebagai sumber data tambahan.16

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (indepth interview) dan dimengerti maknanya secara baik, apabila dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara dan observasi. Di mana fenomena tersebut berlangsung dan di samping itu untuk melengkapi data diperlukan dokumentasi.

a. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.17 Wawancara digunakan apabila peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di mana hal ini bisa ditemukan melalui observasi.

Adapun orang-orang yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, para guru, dan peserta didik Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

16 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 1998),107.

17 Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 135.

(11)

Dalam hal ini wawancara ditujukan kepada kepala sekolah yaitu untuk mengetahui informasi mengenai pelaksanaan pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

Dari guru-guru dapat mengetahui informasi mengenai latar belakang pemilihan tema, langkah-langkah dan faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fokus permasalahan pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

b. Observasi

Observasi adalah alat pengumpul dan banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dalam penelitian ini observasi yang digunakan adalah observasi partisipatif, dalam artian bahwa peneliti terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang sedang diamati. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dam sampai mengetahui pada tingkat makna dari perilaku yang nampak.18

18 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, 64.

(12)

Dengan teknik ini peneliti mengamati aktivitas-aktivitas sehari-hari obyek penelitian, karakteristik fisik, situasi sosial, dan perasaan pada waktu menjadi bagian dari situasi tersebut. Selama peneliti di lapangan, jenis observasinya tidak tetap. Dalam hal ini peneliti mulai dari observasi deskriptif secara luas yaitu berusaha melukiskan secara umum situasi sosial dan apa yang terjadi di sana.

Setelah itu perekaman dan analisa data pertama peneliti menyempitkan pengumpulan datanya dan memulai melakukan observasi terfokus dan akhirnya setelah dilakukan lebih banyak lagi analisis dan observasi yang berulang-ulang di lapangan, peneliti dapat menyempitkan lagi penelitiannya dengan melakukan observasi selektif.

Dapat dikatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, jantungnya adalah catatan lapangan yang berisi gambaran tentang latar pengamatan, orang, tindakan dan pembicaraan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan fokus penelitian. Dan bagian deskriptif tersebut berisi beberapa hal di antaranya adalah gambaran diri, fisik, rekonstruksi dialog, deskripsi latar fisik, catatan tentang peristiwa khusus, gambaran kegiatan dan perilaku pengamat. Format rekaman hasil observasi catatan lapangan dalam penelitian ini menggunakan format rekaman hasil observasi.

(13)

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokuman bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.19 Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.

Adapun alasan-alasan teknik dokumentasi digunakan adalah sebagai berikut:

1. Sumber ini selalu tersedia dan murah terutama ditinjau dari konsumsi waktu.

2. Rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang stabil, baik keakuratannya dalam merefleksikan situasi yang terjadi di masa lampau, maupun dapat dianalisis kembali tanpa mengalammi perubahan.

3. Rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang kaya, secara kontektual relevan dan mendasar dalam konteksnya.

4. Sumber ini sering merupakan pernyataan yang legal yang dapat memenuhi akuntabilitas. Hasil pengumpulan data melalui cara dokumentasi ini dicatat dalam rekaman dokumentasi. Dalam hal ini dokumentasi dilakukan untuk mengetahui tentang sejarah, letak geografis, struktur organisasi, visi dan misi, keadaan guru, keadaan

19 Ibid, 82.

(14)

peserta didik, sarana-prasarana, dan program-program unggulan di MI Islamiyah 03 Madiun.

6. Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dalam membuat kesimpulan yang diceritakan kepada orang lain.

Tehnik analisis data dalam penelitian adalah mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman, yang mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data meliputi data reduction, data display, dan conclusion. 20

20 Ibid, 99.

(15)

Langkah-langkah analisis ditunjukkan pada gambar berikut:

Sedangkan menurut Spradley teknik analisis data disesuaikan dengan tahapan dalam penelitian. Pada tahap penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour question, analisis data dilakukan dengan analisis domain. Pada tahap menentukan fokus analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi. Pada tahap selection, analisis data dilakukan dengan analisis komponensial. Selanjutnya untuk sapai menghasilkan judul dilakukan dengan analisis tema.

7. Pengecekan Keabsahan Temuan

Pada bagian ini memuat tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Keabsahannya data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) serta derajat kepercayaan dan keabsahan data (kredibilitas data).

Uji kredibilitas data terhadap data hasil penelitian kualitatif dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan,

Pengumpulan data

Penyajian data

Kesimpulan- kesimpulan penarikan

verifikasi Reduksi data

(16)

triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus negatif dan pengecekan anggota.

Dalam bagian ini peneliti harus mempertegas teknik apa yang digunakan dalam mengadakan pengecekan keabsahan data yang ditemukan. Berikut beberapa teknik pengecekan keabsahan data dalam proses penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:

a. Keikutsertaan yang diperpanjang

Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri. Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Dalam hal ini keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan peneliti pada latar penelitian.

b. Pengamatan yang tekun

Ketekunan pengamatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari. Jadi kalau perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.

c. Triangulasi

Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan atau sebagai pembanding tehadap data itu. Ada empat macam

(17)

triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.

8. Tahapan-tahapan Penelitian

Tahapan-tahapan penelitian ini ada 3 (tiga) tahapan dan ditambah dengan tahapan terakhir dari penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap penelitian tersebut adalah:

a. Tahap pra lapangan, yang meliputi: menyususn rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan yang menyangkut persoalan etika penelitian.

b. Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data.

c. Tahap analisis data, yang meliputi analisis sselama dan setelah pengumpulan data.

d. Tahap penulisan hasil laporan penelitian.

G. Sistematika Pembahasan

Pembahasan pada penelitian ini terdiri dari lima bab dan masing-masing bab saling berkaitan erat yang merupakan kesatuan yang utuh, yaitu:

BAB I : Pendahuluan. Bab ini berfungsi untuk memaparkan pola dasar dari keseluruhan isi skripsi yang terdiri dari: latar belakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian,

(18)

manfaat penelitian, landasan teori dan atau telaah pustaka, metode penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan temuan dan tahapan-tahapan penelitian, serta sistematika pembahasan.

BAB II : Landasan teori. Bab ini berfungsi untuk mengetegahkan kerangka acuan teori yang digunakan sebagai landasan melakukan penelitian yang terdiri dari: pembelajaran tematik BAB III : Temuan penelitian. Bab ini memaparkan tentang temuan

peneliti di lapangan yang meliputi gambaran umum Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun yang mencangkup sejarah berdirinya, letak geografis, struktur organisasi, keadaan guru dan peserta didik, visi dan misi, sarana dan prasarana, serta program-program unggulan. Dan data khusus yang berisi latar belakang pemilihan tema dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran tematik, faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

BAB IV : Analisis data. Bab ini berisi tentang analisa latar belakang pemilihan tema dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, analisa langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran tematik, analisa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan

(19)

pembelajaran tematik kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Isalmiyah 03 Madiun.

BAB V : Penutup. Bab ini dimaksudkan untuk memudahkan bagi pembaca yang mengambil intisari dari skripsi yang berisi kesimpulan dan saran.

(20)

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Fokus Penelitian

1.3 Rumusan Masalah 1.4 Tujuan Penelitian 1.5 Manfaat Penelitian 1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian 1.6.2 Kehadiran Peneliti

1.6.3 Lokasi Penelitian 1.6.4 Sumber Data

1.6.5 Prosedur Pengumpulan Data 1.6.6 Analisa Data

1.6.7 Pengecekan Keabsahan Data 1.6.8 Tahapan-tahapan Penelitian 1.7 Sistematika Pembahasan

BAB II : LANDASAN TEORITIK DAN/ATAU TELAAH PUSTAKA 2.1 Pembelajaran Tematik

2.1.1 Pengertian Pembelajaran Tematik 2.1.2 Latar belakang Pembelajaran Tematik 2.1.3 Landasan Pembelajaran Tematik 2.1.4 Karakteristik Pembelajaran Tematik 2.1.5 Langkah-langkah Pembelajaran Tematik

(21)

2.1.6 Tujuan Pembelajaran Tematik

2.1.7 Kelebihan dan Kelemahan dalam Pembelajaran Tematik 2.2 Pembelajaran Sains

2.2.1 Pengertian Sains

2.2.2 Tujuan Pembelajaran Sains (IPA) 2.2.3 Sifat Sains (IPA)

2.2.4 Metode Ilmiah dan Implementasinya dalam Sains (IPA) 2.2.5 Kelebihan Perkembangan Sains (IPA)

2.2.6 Kelemahan Perkembangan Sains (IPA) BAB III : GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1 Paparan Data Umum 3.1.1 Sejarah Berdirinya 3.1.2 Letak Geografis 3.1.3 Struktur Organisasi 3.1.4 Visi dan Misi 3.1.5 Keadaan Guru

3.1.6 Keadaan Peserta Didik 3.1.7 Sarana dan Prasarana 3.1.8 Program-program unggulan 3.2 Paparan Data Khusus

3.2.1 Latar belakang Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Mata Pelajaran Sains Kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

(22)

3.2.2 Langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Mata Pelajaran Sains Kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

3.2.3 Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Mata Pelajaran Sains Kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

3.2.4 Manfaat Diperoleh dalam Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Mata Pelajaran Sains Kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

BAB IV : PEMBAHASAN

4.1 Analisa Data Tentang Latar Belakang Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Mata Pelajaran Sains Kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

4.2 Analisa Data Tentang Langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Mata Pelajaran Sains Kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

4.3 Analisa Data Tentang Faktor Pendukung DAN penghambat Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Mata Pelajaran Sains Kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

4.4 Analisa Data Tentang Manfaat yang Diperoleh dalam Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Mata Pelajaran Sains Kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun.

BAB V : PENUTUP

(23)

5.1 Kesimpulan 5.2 Saran

(24)

BAB II

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK

A. Pembelajaran Tematik 1. Pengertian

Sebelum memasuki pembahasan teori pembelajaran tematik, alangkah baiknya kita mengawalinya dengan pembelajaran. Ada beberapa pengertian pembelajaran diantaranya menurut Yunanto, “Pembelajaran adalah pendekatan belajar yang memberi ruang kepada anak untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar.” Menurut Degeng, pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa yang meliputi kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.21 Dalam Undang-Undang tentang SISDIKNAS tahun 2003, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.22 Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai suatu proses untuk meramu sarana dan prasarana pendidikan untuk mencapai kualitas yang diharapkan.23 Selain itu, definisi lain dari pembelajaran adalah upaya menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat

21 I Nyoman Sudana Degeng, Buku Pegangan Teknologi Pendidikan (Jakarta: Depdikbud RI, 1993), 1.

22 Ana Poedjiadi, Sains Teknologi Masyarakat, Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 76.

23 Saekhan Muchith, Pembelajaran Kontekstual (Semarang: Rasail Media Group, 2008), 145.

(25)

dipermudah pencapaiannya.24 Disamping itu ada pengertian lain dari pembelajaran yaitu suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi, yang memungkinkan generasi muda mengembangkan dirinya.25

“Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan”.26 Menurut Kunandar, “Tema merupakan alat atau wadah untuk mengedepankan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh”. Dalam pembelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik.27 Dari pengertian pembelajaran dan tema diatas apabila digabungkan maka akan terbentuk suatu pembelajaran yang dikenal dengan pembelajaran tematik, yaitu pembelajaran yang dikemas dalam suatu tema. Pendekatan tematik ini merupakan suatu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, kemahiran, dan nilai pembelajaran serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dengan kata lain pembelajaran tematik juga dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta

24 Dewi Salma Prawiradilaga dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan (Jakarta:

Kencana, 2004), 4.

25 Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM (Semarang: Rasail Media Group, 2008), 15.

26 Gorys Keraf, Komposisi (Semarang: Bina putera, 2001), 108.

27 Badan Standar Nasional Pendidikan, Model Pembelajaran Kelas Awal SD (Jakarta:

Depdiknas, 2008), 5.

(26)

didik.28 Pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar. Pembelajaran tematik lebih mengutamakan kegiatan pembelajaran peserta didik yakni melalui belajar yang menyenangkan tanpa tekanan dan ketakutan tetapi tetap bermakna bagi peserta didik.

Dalam menanamkan konsep ilmu pengetahuan dan keterampilan, peserta didik tidak harus diberi latihan hafalan berulang-ulang, tetapi ia belajar melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahaminya.29 Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pendekatan pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).30

Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama siswa dengan memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata

28 Madrasah Education Development Project, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jakarta: Depag RI, 2008), 151.

29 http://jeperis.blogspot.com/2007/06/pembelajaran-tematik-html. diakses tanggal 6 Juni 2008.

30 Madrasah Education Development Project, Kurikulum Tingkat Satuan., 152.

(27)

pelajaran. Pembelajaran ini dikenal juga dengan pembelajaran terpadu, yang pembelajarannya dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kejiwaan peserta didik. Maksud pembelajaran terpadu adalah kegiatan mengajar dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dalam KTSP, pemaduan materi pelajaran dalam satu tema disebut tematik. Dengan demikian maka pembelajaran terpadu adalah mengelola pembelajaran yang mengintegrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembicaraan yang disebut tema.

Selain itu, pembelajaran terpadu juga dapat diartikan sebagai suatu aplikasi salah satu strategi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan bermakna bagi peserta didik.

Pembelajaran terpadu didasarkan pada pendekatan inquiry yakni melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran mulai dari merencanakan, mengeksplorasi, dan brainstorming. Dengan menggunakan model terpadu ini peserta didik didorong untuk berani bekerja secara kelompok dan belajar dari hasil pengalamannya sendiri.31

Titik tolak dari uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran tematik atau pembelajaran terpadu merupakan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Pengalaman bermakna merupakan pengalaman langsung yang menghubungkan pengalaman yang telah

31 Prawiradilaga dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan., 383-384.

(28)

mereka miliki dengan pengalaman yang akan dipelajari dan memiliki nilai guna dalam kehidupan mereka pada saat ini maupun mendatang.

Pembelajaran terpadu lebih berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak. Anak sebagai individu memiliki karakteristik yang berbeda sehingga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda pula. Agar setiap individu memperoleh perkembangan yang optimal diperlukan perlakuan yang berbeda pula sesuai dengan kebutuhan dan taraf perkembangan anak.32

2. Latar Belakang Pembelajaran Tematik

Peserta didik yang berada pada Sekolah Dasar kelas satu, dua dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) dan memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I-III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu.

Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masuk melihat segala

32 Komunitas Sekolah Alam, Menemukan Sekolah Yang Membebaskan (Jakarta: Kawan Pustaka, 2005), 98.

(29)

sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah, muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit Taman Kanak-Kanak. Hal ini terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu Sekolah Dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-Kanak, dan berkurang dari 5% peserta didik berada pada pendidikan prasekolah lain.

(30)

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal Sekolah Dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas awal Sekolah Dasar dengan pendidikan prasekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan prasekolahpun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

Atas dasar pemikiran diatas dan dalam rangka implementasi standar isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal Sekolah Dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkrit, disiapkan model pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.

3. Landasan Pembelajaran Tematik

Pelaksanaan pembelajaran tematik merupakan implementasi dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pada saat

(31)

mempertimbangkan pelaksanaan pembelajaran ini didasari pada 3 landasan. Landasan tersebut mencakup:33

Landasan filosofis dari implementasi pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: a. Aliran Progressivisme, memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman peserta didik. b. Aliran Konstruktivisme, melihat pengalaman langsung peserta didik sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.

Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing peserta didik. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Keaktifan peserta didik yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. c. Aliran Humanime, melihat peserta didik dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.

Landasan psikologis, dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada peserta didik

33 Badan Standar Nasional Pendidikan, Model Pembelajaran Kelas Awal SD, 5.

(32)

psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada peserta didik dan bagaimana pula peserta didik harus mempelajarinya.

Landasar Yuridis, dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di Sekolah Dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b). Selain itu, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 ditekankan bahwa pembelajaran pada kelas I sampai dengan III dilaksanakan melalui pendekatan tematik.

4. Karakteristik Pembelajaran Tematik

Sebagai suatu model pembelajaran di Sekolah Dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteritik sebagai berikut:34

a. Berpusat pada anak.

34 Sosialisasi KTSP, Model Pembelajaran Tematik (Jakarta: Depdiknas, 2008), 6.

(33)

Pembelajaran tematik berpusat pada anak (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik untuk melakukan aktivitas belajar.

b. Memberikan pengalaman langsung

Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.

c. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.

Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas, karena dikaitkan dengan tema sebagai pemersatu dalam proses pembelajaran.

d. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran.

Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, peserta didik mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh.

Hal ini diperluan untuk membantu anak dalam memecahkan masalah- masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

e. Bersifat fleksibel

(34)

Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan anak dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan peserta didik berada.

f. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan anak

Peserta didik diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

g. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

5. Langkah-langkah Pembelajaran Tematik35

Langkah-langkah pembelajaran tematik melalui tiga tahapan, diantaranya: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan penilaian.

a. Tahap Persiapan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan terlebih dahulu persiapan pelaksanaan yang mencakup kegiatan pemetaan Kompetensi Dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

1) Pemetaan Kompetensi Dasar

Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator dari berbagai mata pelajaran yang

35 Ibid., 13-28.

(35)

dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:

a) Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam Indikator

Melakukan kegiatan penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

(1) Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.

(2) Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

(3) Dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diamati.

b) Menentukan tema.

(1) Cara penentuan tema

Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni:

Cara pertama, mempelajari Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.

(36)

Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan. Untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan siswa sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

(2) Prinsip penentuan tema

Dalam menentukan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:

(a) Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa.

(b) Dari yang termudah menuju yang sulit.

(c) Dari yang sederhana menuju yang kompleks.

(d) Dari yang konkrit ke abstrak.

(e) Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa.

(f) Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, minat, kebutuhan dan kemampuannya.

c) Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator.

Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi Standar dan Indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator terbagi habis.

(37)

2) Menatapkan jaringan tema.

Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan Kompetensi Dasar dan Indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, Kompetensi Dasar, dan Indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.

3) Penyusunan Silabus

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian.

4) Penyusunan Rencana Pembelajaran

Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Rencana Pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar peserta didik yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran.

Komponen Rencana Pembelajaran Tematik meliputi:

a) Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).

b) Kompetensi Dasar dan Indikator yang akan dilaksanakan.

c) Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai Kompetensi Dasar dan Indikator.

(38)

d) Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkrit yang harus dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Indikator, kegiatan inti tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup).

e) Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian Kompetensi Dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan Kompetensi Dasar yang harus dikuasai.

f) Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrument yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian).

b. Tahap Pelaksanaan 1) Tahapan kegiatan

Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35 menit).

(39)

a) Kegiatan Pendahuluan / awal / pembukaan.

Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong peserta didik memfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi.

b) Kegiatan inti

Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis, dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi. Metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.

c) Kegiatan penutup/akhir dan tindak lanjut

Sifat dari kegiatan penutup adalah menenangkan.

Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/ mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.

(40)

Tabel 2.1

Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Perhari

Kegiatan Jenis kegiatan

Kegiatan pembukaan

Anak berkumpul bernyanyi sambil menari mengikuti irama

Kegiatan inti 1. Kegiatan untuk pengembangan membaca.

2. Kegiatan untuk pengembangan menulis.

3. Kegiatan untuk pengembangan berhitung.

Kegiatan penutup

Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita.

2) Pengaturan Jadwal Kegiatan

Dalam pembelajaran tematik dapat disusun jadwal pelajaran. Penjadwalan dimaksudkan untuk memudahkan administrasi sekolah. Contoh penjadwalan di bawah ini dimaksudkan agar guru lebih memfokuskan kepada nilai-nilai, konsep dan keterampilan untuk mata pelajaran tersebut.

Penjadwalan disusun oleh guru bersama dengan guru mata pelajaran pendidikan agama, guru pendidikan jasmani, dan guru muatan lokal perlu bersama-sama menyusun jadwal pelajaran.

(41)

c. Penilaian 1) Pengertian

Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh peserta didik melalui program kegiatan belajar.

2) Tujuan

Tujuan penilaian pembelajaran tematik adalah:

a) Mengetahui pencapaian indikator yang telah ditetapkan.

b) Memperoleh umpan balik bagi guru, untuk mengetahui hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pembelajaran.

c) Memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari peserta didik.

d) Sebagai acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut (remedial, pengayaan, dan pemantapan).

3) Prinsip

a) Penilaian di kelas awal SD (kelas I-III) mengikuti aturan penilaian mata pelajaran lain di Sekolah Dasar. Mengingat bahwa peserta didik kelas I SD belum semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.

(42)

b) Kemampuan membaca, menulis dan berhitung merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas awal SD. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ketiga kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.

c) Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing-masing Kompetensi Dasar dari setiap mata pelajaran.

d) Penilaian dilakukan secara terus menerus dan selama proses belajar mengajar berlangsung, misalnya sewaktu siswa bercerita pada kegiatan awal, membaca pada kegiatan inti, dan menyanyi pada kegiatan akhir.

e) Hasil karya/kerja peserta didik dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi guru dalam mengambil keputusan mengenai tingkat kemampuan peserta didik misalnya: dalam hal penggunaan tanda baca, ejaan kata, maupun angka.

4) Alat Penilaian

Alat penilaian dapat berupa tes dan non tes. Tes mencakup:

tertulis, lisan atau perbuatan, catatan harian perkembangan siswa dan portofolio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuah buku bantu. Sedangkan tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, khususnya

(43)

untuk mengetahui tentang penggunaan tanda baca, ejaan kata atau angka.

Berikut contoh penilaian yang dapat dilakukan guru:

a) Kewarganegaraan dan pengetahuan sosial: tes lisan.

(1) Menyebutkan peristiwa/kegiatan yang dialami.

(2) Mengemukakan peristiwa/kegiatan yang berkesan.

(3) Mengekspresikan perasaan waktu memberi kesan.

b) Bahasa Indonesia: Perbuatan (1) Kelancaran membaca.

(2) Melafalkan kata.

(3) Melagukan/intonasi.

(4) Cara bertanya jawab tugas.

(5) Melengkapi kalimat.

c) Ilmu Pengetahuan Alam: perbuatan

(1) Mendemonstrasikan cara menggosok giri (lisan).

(2) Menyebutkan cara memelihara gigi.

(3) Menjelaskan manfaat menggosok gigi.

5) Aspek penilaian

Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan untuk mengkaji ketercapaian Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap- tiap mata pelajaran yang terdapat pada tema tersebut. Dengan demikian penilaian dalam hal ini tidak lagi terpadu melalui tema,

(44)

melainkan sudah terpisah-pisah sesuai dengan Kompetensi Dasar dan Indikator mata pelajaran.

Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan pada kompetensi mata pelajaran yang terdapat pada kelas awal SD (kelas I-III), yaitu: Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.

6. Tujuan Pembelajaran Tematik36

a. Pengalaman dan kegiatan belajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak.

b. Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan anak hasil belajar akan bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.

c. Mengembangkan keterampilan berpikir anak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi dan menumbuhkan keterampilan bekerjasama, toleransi, komunikasi, serta tanggap terhadap gagasan orang lain.

d. Pembelajaran tematik dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna dan utuh.

36 Ibid., 23.

(45)

e. Dalam pembelajaran tematik perlu mempertimbangkan beberapa hal antara lain: alokasi waktu setiap tema, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan yang ada di lingkungan.

f. Memilih tema yang terdekat dengan anak dan aktual.

g. Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai daripada tema.

7. Kelebihan dan Kelemahan Dalam Pembelajaran Tematik

Seorang guru perlu mengetahui kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran yang dipilih. Harapannya agar dapat dijadikan sebagai modal atau motivasi dalam penerapan pembelajaran tematik yang akan dilakukan. Berikut ini adalah beberapa kelebihan dan kekurangan pembelajaran tematik antara lain:37

a. Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu.

b. Peserta didik dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama.

c. Pemahaman terhadap materi pembelajaran lebih mendalam dan berkesan.

d. Kompetensi berbahasa bisa dikembangkan secara lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi anak.

37 Sutirdjo dan Sri Istuti Mamik, Tematik: Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004 (Malang: Bayu Media, 2005), 25-26.

(46)

e. Anak lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.

f. Anak lebih bergairah belajar karena mereka bisa berkomunikasi dalam situasi yang nyata.

g. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga kali pertemuan. Selebihnya waktu dapat dipergunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan atau pengayaan.

h. Belajar lebih realistis karena tema yang dipilih sesuai dengan kontekstual lingkungan siswa dan aktual.

i. Sarana yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melakukan diskusi dan kerjasama antar guru lintas bidang studi, bahkan peserta didik serta orang tua.

j. Melatih kepekaan peserta didik dan guru terhadap fenomena yang terjadi di sekitar anak.

Selain kelebihan pembelajaran tematik tidak terlepas dari kelemahan yaitu apabila pembelajaran tematik tersebut dilakukan oleh guru tunggal. Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga dalam pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan materi pokok setiap materi pelajaran. Disamping itu, jika skenario pembelajaran tidak menggunaman metode yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan

(47)

Kompetensi dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.

(48)

BAB III

PEMBELAJARAN TEMATIK

DI MADRASAH IBTIDAIYAH ISLAMIYAH 03 MADIUN

A. Data Umum

1. Profil Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun38

Pada tanggal 1 Maret 1920, KH. Bajuri selaku Penghulu Kantor Departemen Agama dibantu oleh Bupati Kepala Daerah yang pada saat itu mendirikan lembaga Pendidikan Islam yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Madiun dengan bangunan yang sangat sederhana di halaman masjid Jami’ “Baitul Hakim” Madiun.

Pada tahun 1924 terjadi perubahan kurikulum yang sangat mendasar ialah pendidikan agama yang semula 70% tinggal 10 % saja. Hal ini disebabkan oleh keadaan yang erat kaitannya dengan pemerintah kolonial waktu itu.

Kemudian pada tahun 1953 yang dipimpin oleh Bapak Moch . Syamsuri beserta Bapak Ridwan Mahalli baru tersusun kepengurusan rapi yang lengkap dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

Sedangkan sistem pembinaan dilaksanakan oleh pemerintah yang berhubungan dengan P dan Ka bila dibanding dengan Departemen Agama, baru pada tanggal 17 Februari 1979 Islamiyah resmi menjadi Madrasah

38 Lihat transkrip dokumentasi nomor: 01/D/26-III/2009 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

(49)

Ibtidaiyah dan mendapatkan piagam terdaftar dari Kantor wilayah Departemen Agama Propinsi Jawa Timur.

Maka pada tanggal 29 September 1987 tersusunlah kepengurusan yayasan Perserikatan Islamiyah sebagai berikut :

Pelindung : Bapak Walikota Tingkat II Kodya Madiun Bapak Kepala Kantor Departemen Agama Kodya Madiun.

Penasehat : Bapak Abdul Kholiq Ketua I : Bapak. H. Moch Kasim Ketua II : Bapak harun Thoyib, BA Sekretaris I : Bapak Moch Sidiq, BA Sekretaris II : Bapak H.D. Haryadi Bendahara I : Bapak Suparman Bendahara II : H. Kriswanto.

Sebenarnya yayasan sendiri telah memiliki sebidang tanah yang lengkap dengan bangunan sekolahnya yang terletak di jalan Mastrip Madiun, tetapi bangunan tersebut sampai saat ini masih dipinjam oleh SMA Muhammadiyah beserta STISIP Madiun. 39

2. Letak Geografis

Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun merupakan lembaga pendidikan yang terletak di Jl. Hayam Wuruk 14A Madiun. Adapun batas- batas geografis adalah :

39 Lihat transkrip dokumentasi nomor: 02/D/26-III/2009 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

(50)

Adapun batas-batas geografisnya adalah :

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kec. Sawahan Kabupaten Madiun

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kec. Taman Kota Madiun dan Kec Jiwan Kab. Madiun

Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kec. Madiun

Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kec. Jiwan Kab. Madiun

3. Struktur Organisasi

a. Kepala Sekolah : Drs. Ali Mustofa NIP. 150333065 b. Waka Kurikulum : Dra. Ellyn Yuliati

Waka Kesiswaan : Sudarsih, S.Pd

c. Tata Usaha (TU) : M. Sholeh Aminudin, S.Pd

4. Visi dan Misi a. Visi

“Menuju Insan bermulti dimensi Qur’ani, memiliki komitmen keislaman dan kecendekiaan”

b. Misi

1) Mendidik anak unggul dalam IMTAQ 2) Mendidik anak unggul dalam akademis 3) Mendidik anak unggul dalam prestasi

(51)

5. Keadaan/Data Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun

Keadaan guru dan tenaga kependidikan Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun berjumlah 31 orang, 14 laki-laki dan 17 perempuan.

Sedangkan data guru dan tenaga kependidikan menurut tingkat pendidikan dapat dilihat di lampiran.40

6. Data Siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun

Siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun terdiri dari kelas IIE yang berjumlah 38 anak, 23 laki-laki dan 15 perempuan.

Kelas IIF berjumlah 36 anak, 19 laki-laki dan 17 perempuan. Untuk data peningkatan penerimaan peserta didik dari tahun 2004-2009 dapat dilihat di lampiran.41

7. Data Sarana dan Prasarana di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun

Adapun sarana dan prasarana yang terdapat di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun antara lain ruang teori, praktik, labolatorium komputer (internet), perpustakaan, koperasi, UKS, guru, kepala madrasah (TU), lapangan bola basket, mushola, dan labolatorium bahasa.42

40 Lihat transkrip dokumentasi nomor: 03/D/26-III/2009 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

41 Lihat transkrip dokumentasi nomor: 04/D/F-5/02-IV/2009 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

42 Lihat transkrip dokumentasi nomor: 05/D/02-IV/2009 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

(52)

8. Program-Program Unggulan Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun

Adapun program-program unggulan yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah 03 Madiun diantaranya: TPA, kegiatan penanaman aqidah dan akhlak, everyday with Qur’an, study lapangan, full classic music classroom, full day school dan Sabtu ceria.43

B. Data Khusus

1. Latar Belakang Pemilihan Tema dalam Pembelajaran Tematik Kelas II di MI Islamiyah 03 Madiun

Setiap lembaga pendidikan pasti menginginkan suatu kemajuan atau peningkatan kualitas input dan output. Untuk mewujudkan kemajuan tersebut memerlukan aspek-aspek yang mendukung tercapainya keberhasilan. Adapun aspek-aspek yang perlu diusahakan antara lain sarana dan prasarana yang memadai, kualitas guru, metode yang bervariasi sesuai dengan tingkat kebutuhan peserta didik. Dalam artian bahwa peserta didik tidak hanya duduk untuk bersikap pasif dan menerima segala sesuatu yang diberikan oleh guru dalam proses belajar mengajar, tetapi diusahakan peserta didik dapat memperoleh suasana nyaman dan tidak membosankan.

Sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan disebutkan bahwa ada salah satu pembelajaran yang bertema atau dikenal dengan istilah

43 Lihat transkrip dokumentasi nomor: 06/D/F-3/02-IV/2009 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

(53)

pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik.

Mengingat pembelajaran tematik adalah pembelajaran bertema maka hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan tema-tema yang akan diberikan dalam pembelajaran. Terkait dengan latar belakang pemilihan tema dalam pelaksanaan pembelajaran tematik kelas II di MI Islamiyah 03 Madiun Ibu Ellyn Yuliati, S.Pd. (guru kelas MI Islamiyah 03 Madiun) menyampaikan jawabannya. Adapun hasil wawancaranya adalah sebagai berikut:

“Tema dalam pembelajaran tematik memegang peranan yang lebih penting, keberhasilan pembelajaran, sedikit banyaknya tergantung pada pemilihan tema.

Untuk latar belakang pemilihan tema disesuaikan dengan tingkat kesulitan materi pelajaran.”44

Tema merupakan gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan dalam suatu pembelajaran. Untuk anak usia awal sekolah dasar yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) sehingga pembelajarannya masih bergantung pada obyek-obyek konkrit dan pengalaman yang dialaminya. Maka tema yang diambil disesuaikan dengan tingkat, minat dan kebutuhan peserta didiknya. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Nurul Dhanuri, S.Ag. (guru kelas MI Islamiyah 03) hasil uriaannya adalah sebagai berikut:

“Dalam pembelajaran tematik, tema adalah unsur yang harus ada. Tema harus jelas, tidak terlalu sempit, dan tidak terlalu luas. Pemilihan tema ditentukan

44 Lihat transkrip wawancara nomor: 01/1-W/F-1/25-III/2009 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

Gambar

Gambar 1  Bagan Jaringan Tema

Referensi

Dokumen terkait

Proses pengamanan pesan pada citra digital aman dan tidak diketahui secara kasat mata, karena besar dari bitmap hasil steganografi tidak terlihat secara signifikan

produktif merupakan langkah yang progrssif guna mencapai tujuan wakaf. Kurang berperannya wakaf dalam memberdayakan ekonomi umat di Indonesia dikarenakan wakaf tidak

Semoga penelitian yang berjudul ” Hubungan Faktor Resiko Kematian Neonatusdengan kejadian kematian neonatus di R.S.D Ferdinand Lumban Tobing Sibolga tahun 2011

Investasi dalam aplikasi SI/TI penting untuk menopang strategi bisnis. ke depan IT enabled

Analisis kualitatif bertujuan untuk menen- tukan jenis unsur yang terkandung dalam endapan Sungai Code dengan cara mencocokkan energi gamma yang dihasilkan dari pencacahan cuplikan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis 2, yang menyatakan bahwa ambiguitas berpengaruh negatif pada kepuasan kerja didukung, maka pengaruh tersebut sesuai dengan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis serta pembahasan yang telah dilakukan oleh sebelumnya maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: bahwa

Pada Penilikan ke-2 ini, tidak ditemukan dokumen yang menunjukkan bahwa CV. Bintang Tiurma menerima dan mengolah kayu limbah, bekas hasil bongkaran, kayu hanyut atau hasil