• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Perencanaan Pajak Penghasilan Pada PT CRS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Evaluasi Perencanaan Pajak Penghasilan Pada PT CRS"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1

PT CRS

Elindia Farahiya Adani

Komplek Cipulir Permai Blok N No. 11 – Jakarta Selatan, 081294630023, [email protected]

Drs. Hery Gunawan, M.M.

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yang dilaksanakan pada PT CRS.

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui penerapan strategi perencanaan pajak terhadap Pajak Penghasilan Terutang Badan pada PT CRS dan mengefisiensikan pembayaran pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu diperoleh dengan cara mengumpulkan, menyusun data yang diperoleh kemudian diinterprestasikan dan menganalisis Laporan Keuangan sehingga mampu memberikan informasi yang lengkap bagi pemecah masalah yang dihadapi. Hasil dari penelitian ini ditemukan permasalahan seperti kesalahan dalam memperhitungkan biaya entertainment, penyusutan, kredit pajak dalam negeri, piutang tak tertagih, biaya pajak, pendapatan bunga bank, dan salah dalam melakukan perhitungan pajak di tahun 2013 karena telah berlakunya peraturan perpajakan no. 46 Tahun 2013. Oleh sebab itu, perencanaan pajak yang bisa diterapkan oleh perusahaan yaitu perusahaan harus membuat daftar norminatif, memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan agar terhindar dari sanksi pajak,dan melakukan koreksi positif pada biaya penyusutan.

Kata kunci : Perencanaan pajak, Pajak penghasilan badan, Koreksi fiskal, PT.

Maxistar Intermoda Indonesia

PENDAHULUAN

Pajak memiliki peranan yang sangat penting bagi suatu negara. Untuk melaksanakan dan membiayai seluruh pelaksanaan pembangunan serta pengeluaran rutin lainnya, maka negara membutuhkan sumber pendapatan. Dengan melihat dari sudut pandang tersebut, maka peranan pajak menjadi sangat penting karena bagi negara, pajak merupakan salah satu sumber pendapatan terbesar. Dengan adanya kesadaran dari Wajib Pajak untuk membayar pajak sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan yang berlaku maka penerimaan negara dari pajak diharapkan dapat meningkat.

(2)

Dengan melihat bahwa pajak semakin dirasakan penting sebagai sumber pendapatan negara, maka setiap tahun target penerimaan pajak dari Wajib Pajak semakin ditingkatkan. Namun, perusahaan sebagai Wajib Pajak menganggap pajak adalah beban yang dapat mengurangi laba perusahaan. Dalam pemenuhan kewajiban perpajakan, perusahaan memiliki tujuan untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya dengan mengeluarkan biaya sekecil-kecilnya termasuk biaya pajak sehingga perusahaan akan mencoba melakukan penghematan pembayaran pajak dengan melakukan perencanaan pajak (Tax Planning) yang dimana perusahaan akan mencoba mengefisiensikan beban pajaknya dengan berbagai cara.

Perusahaan dapat melakukan perencanaan pajak untuk mengefisiensikan beban pajaknya tanpa melanggar Peraturan Perundang-undangan perpajakan yang berlaku (Tax Avoidance) atau dengan melakukan pelanggaran terhadap Peraturan Perundang-undangan Perpajakan yang berlaku (Tax Evasion).

Dengan perencanaan pajak yang dilakukan oleh perusahaan, diharapkan tujuan pelaksanaan pajak dapat tercapai dimana biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat ditekan seminimal mungkin sehingga dapat mengefisiensikan beban pajak yang akan ditanggung perusahaan tanpa harus melakukan pelanggaran terhadap Peraturan Perundang-undangan Perpajakan.

Perumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas oleh penulis dalam penelitian ini adalah sejauh mana perusahaan sebagai Wajib Pajak dapat melakukan penerapan perencanaan pajak untuk mengefisiensikan beban pajak yang harus dibayarkan kepada negara. Dengan melihat masalah yang ada, maka yang menjadi fokus penelitian adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana cara membenarkan jumlah atau total pajak yang harus dibayar oleh Wajib Pajak?

2. Bagaimana gambaran tentang perencanaan pajak (Tax Planning)?

3. Bagaimana cara mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengefisiensikan beban pajak?

4. Apa Perencanaan Pajak yang dilakukan sudah sesuai dengan Undang-Undang Perpajakan?

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Membenarkan jumlah atau total pajak yang harus dibayar oleh Wajib Pajak.

2. Untuk memberikan gambaran tentang perencanaan pajak (Tax Planning).

(3)

3. Membenarkan jumlah atau total pajak yang harus dibayar oleh Wajib Pajak.

4. Mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengefisiensikan beban pajak.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian kualitatif.

Didalam penelitian kualitatif peneliti membutuhkan data sekunder dan data primer.

Yang dimaksut dari data sekunder adalah data yang diambil bersumber dari buku- buku Referensi Perpajakan. Sedangkan, data primer adalah data yang diambil dari perusahaan terkait, dalam peneliti ini data primer diambil di PT CRS.

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yakni sebagai berikut : 1. Studi Lapangan (Field Research)

Studi yang dilakukan dengan cara bertemu lansung kepada pihak-pihak terkait agar mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan mengumpulkan data-data secara langsung dari PT CRS agar lebih mendalam menganai objek perencanaan pajak penghasilan tersebut. Dalam upaya memberikan suatu analisis terhadap masalah yang ada, penelitian untuk penulisan ini dilakukan dengan metode sebagai berikut:

a. Wawancara (interview)

Mengadakan tanya jawab langsung dengan pihak-pihak yang berwenang dan terkait dengan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini.

b. Observasi (observation)

Melakukan penelitian secara langsung ke perusahaan agar mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam perushaan yang menjadi bahan dari penulisan skripsi ini.

c. Dokumentasi

Menelusuri bukti-bukti atas transaksi, keterangan-keterangan, general ledger, laporan keuangan perusahaan, Surat Pemberitahuan, Surat Setoran Pajak, dan dokumen-dokumen lain yang dibutuhkan.

d. Penghitungan ulang (Reperformance)

Membahas data yang ada seperti laporan keuangan, SPT tahunan, dan dokumen- dokumen lain yang mendukung penelitian. Dengan melakukan perhitungan kembali perhitungan perpajakan yang disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.

(4)

HASIL DAN BAHASAN

Perencanaan pajak PT CRS dapat dilakukan dengan cara tidak legal (tax avoidance/evasion) dan cara legal (Tax Planning). Perusahaan tidak menggunakan sebagian perencanaan pajak sesuai undang-undang yang berlaku untuk tahun 2012 dan 2013. Sehingga dalam penulisan ini diulas dalam mematuhi peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, tentu saja hal ini dilakukan untuk menghindari sanksi-sanksi perpajakan maupun dengan memanfaatkan celah- celah yang ada dalam peraturan perpajakan yang telah ditetapkan. Perencanaan- perencanaan yang mungkin dapat diterapkan oleh perusahaan adalah sebagai berikut:

1. Mengingat adanya perbedaan antara perlakuan akuntansi yang diterapkan secara komersial dengan perlakuan akuntansi secara fiskal, maka sebaiknya perusahaan dalam menentukan besarnya pajak penghasilan terhutang tidak hanya mengandalkan laporan keuangan komersial saja seperti tahun 2012 dan tahun 2013. Sebaiknya perusahaan membuat laporan keuangan fiskal yang sudah melalui tahap koreksi fiskal yang didasarkan pada UU Perpajakan yang berlaku saat sekarang agar dapat dilakukan perencanaan pajak yang tepat dan efektif.

2. Sebelum Peraturan Pemerintah no 46 Tahun 2013 untuk peredaran usaha Rp0 – Rp4.800.000.000 atas pengeluaran biaya Operasional berupa biaya entertainment seperti biaya jamuan tamu perusahaan, maka perencanaan pajak yang dapat dilakukan perusahaan adalah membuat daftar nominatif untuk biaya entertainment agar biaya tersebut tidak dianggap fiktif sehingga bisa dibiayakan oleh perusahaan untuk mengurangi penghasilan bruto. Daftar Nominatif harus dibuat secara lengkap atas transaksi yang terjadi dan dilampirkan dalam SPT Tahunan PPh. Isi dari daftar nominatif sesuai dengan SE-27/PJ.22/1986. Namun setelah diberlakukan Peraturan Pemerintah no. 46 Tahun 2013 biaya operasional ini harus dikoreksi secara positif karena peredaran usaha yang kurang dari Rp4.800.000.000 bersifat final maka harus dikoreksi negatif untuk peredaran usaha dan koreksi positif untuk biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan.

3. Sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah no. 46 Tahun 2013 biaya Telepon merupakan biaya yang pada dasarnya dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto jika biaya- biaya tersebut dikeluarkan perusahaan dalam

(5)

rangka kegiatan operasional perusahaan. Perusahaan harus melakukan koreksi positif jika terdapat biaya telepon yang dikeluarkan perusahaan untuk biaya voucher/pulsa dari perusahaan tersebut. Biaya ini dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% dari jumlah biaya perolehan sebagaimana telah dimaksud dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-220/PJ./2002 tentang perlakuan Pajak Penghasilan atas biaya pemakaian telepon seluler.

Perencanaan pajak yang seharusnya dilakukan perusahaan adalah dengan mengganti biaya pulsa handphone para karyawan menjadi tunjangan komunikasi dalam bentuk uang tunai kepada para karyawan, jika penghasilan netto karyawan rata-rata tarif 5%. Bagi para karyawan, hal ini bisa menjadi penambah penghasilan akan tetapi bagi perusahaan menjadi pengurang penghasilan sehingga dapat menghemat beban pajak penghasilan. Tunjangan ini dapat dijadikan pengurang biaya dalam menghitung Penghasilan kena Pajak. Hal ini sesuai dengan UU PPh No. 36 Tahun 2008 tentang biaya- biaya yang dapat menjadi pengurang penghasilan bruto, salah satunya adalah tunjangan dalam bentuk uang tunai. Setelah berlakunya Peraturan Pemerintah no. 46 Tahun 2013 biaya telepon untuk kepentingan karyawan tertentu sesuai dengan jabatannya menjadi tidak berpengaruh. Sehingga harus dikoreksi secara positif karena peredaran usaha yang kurang dari Rp4.800.000.000 bersifat final maka harus dikoreksi negatif untuk peredaran usaha dan koreksi positif untuk biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan.

4. Sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah no. 46 Tahun 2013 Biaya Bensin dan Transportasi. Ketika oleh karyawan tertentu yang mendapat fasilitas membawa pulang kendaraan maka harus dilakukan koreksi sebesar 50%. Sebaiknya Transportasi tersebut jangan dibawa pulang dan biaya bensin yang di reimbursement perusahaan harus sesuai dengan kegiatan operasional perusahaan.

Dan setelah berlakunya Peraturan Pemerintah no. 46 Tahun 2013 untuk peredaran usaha Rp0 – Rp4.800.00.000 menjadi tidak berpengaruh jika kendaraan tersebut dibawa pulang atau tidak. Karena bersifat final maka harus dikoreksi negatif untuk peredaran usaha dan koreksi positif untuk biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan.

(6)

5. Sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah no. 46 Tahun 2013 Biaya Pajak, Berdasarkan UU PPh Pasal 9 ayat 1 (h) yaitu mengenai pajak penghasilan yang bukan merupakan pengurang penghasilan bruto. Dalam hal ini jika perusahaan menanggung PPh, termasuk PPh Pasal 21 karyawannya, dimana PPh pasal 21 bukan merupakan biaya fiskal. Sebaiknya perusahaan menggunakan metode Gross Up yaitu dengan metode pemotongan pajak dimana perusahan memberikan tunjangan tunai yang sama besar dengan jumlah pajak yang dipotong karyawan, , jika penghasilan netto karyawan rata-rata maksimal tarif 10%. Setelah berlakunya Peraturan Pemerintah no. 46 Tahun 2013 biaya pajak yang berkaitan dengan PPh 21 sebaiknya juga ditanggung pemberi kerja tidak perlu mempertimbangkan metode gross up karena biaya pajak nantipun akan dikoreksi positif karena peredaran usaha pada perusahaan ini belum melebihi Rp4.800.000.000.

6. Sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah no. 46 Tahun 2013 biaya piutang tak tertagih ini timbul dari transaksi bisnis yang wajar sesuai dengan bidang usahanya maka sebaiknya biaya Piutang Tak Tertagih harus sesuai dengan kriteria Permenkeu 57/PMK.03/2010,yaitu :

a. Piutang yang timbul dari transaksi bisnis yang wajar sesuai dengan bidang usahanya,

b. Yang nyata-nyata tidak dapat ditagih meskipun telah dilakukan upaya-upaya penagihan yang maksimal atau terakhir oleh WP

c. tidak termasuk piutang yang berasal dari transaksi bisnis dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan WP

Syarat pembebanan:

a. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial

b. Harus menyerahkan daftar piutang tsb kepada Ditjen Pajak; dan (pilih salah satu)

c. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara

d. Terdapat perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur

(7)

e. Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus

f. Adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu

g. Persyaratan tidak berlaku bagi nilai piutang : - s.d. Rp100 Juta (Debitur Kecil)

- s.d. Rp5 Juta (Debitur Kecil Lainnya)

Setelah memenuhi kriteria biaya piutang tak tertagih ini dapat dibebankan dan biaya piutang tak tertagih ini akan menjadi pengurang dalam peredaran usaha. Dan setelah berlakunya Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013 Biaya piutang tak tertagih menjadi tidak berpengaruh ketika memenuhi kriteria ataupun tidak yang telah diatur oleh Permenkeu 57/PMK.03/2010. Karena peredaran usaha yang tidak melebihi Rp4.800.000.000 bersifat final maka harus dikoreksi negatif untuk peredaran usaha dan koreksi positif untuk biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan.

7. Setelah dan Sebelum Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013 biaya Penyusutan merupakan akun untuk mencatat penyusutan atas asset yang dimiliki oleh perusahaan, seperti seperti kendaraan, mesin kantor, dan peralatan kantor.

Perusahaan telah melakukan penghitungan atas biaya penyusutan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan no. 96/PMK.03/2009. Namun terjadi banyak kesalahan dalam perhitungan biaya penyusutan menurut perusahaan biaya penyusutan. Sehingga harus dilakukan koreksi.

Pada tahun 2012 total penyusutan adalah sebesar Rp12.814.829 biaya penyusutan untuk 2013 adalah sebesar Rp56.996.225 dan biaya penyusutan tahun 2014 adalah sebesar Rp202.240.367,-.

Pada Tahun 2012, perusahaan tidak menghitung depresiasi terhadap motor yang dibeli pada bulan Januari 2008 dan mengelompokkan motor sebagai kelompok 2, sementara berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan no.

96/PMK.03/2009, motor ke dalam kelompok 1. Dengan menggunakan metode Garis Lurus perusahaan salah dalam menghitung besarnya depresiasi pada Tahun 2012 seperti laptop, Komputer Kaio, Laptop Jalu, dan Komputer. Sehingga, menurut penulis, perlu dilakukan koreksi. Pada tahun 2013, perusahaan

(8)

melakukan kesalahan dalam menghitung depresiasi pada IMAC. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan no. 96/PMK.03/2009 IMAC adalah sejenis laptop yang mempunyai masa manfaat 4 tahun sedangkan perusahaan menulis IMAC mempunyai manfaat sebesar 8 Tahun. Dan terdapat kesalahan dalam perhitungan depresiasi pada Mobil, Komputer Dea, Mesin Laminating, dan Komputer Mesin Indoor. Oleh sebab itu, atas biaya penyusutan dilakukan koreksi negatif sebesar Rp2.662.218,00 untuk tahun 2010 dan sebesar Rp23.083.601,00 untuk tahun 2011.

Pada tahun 2014, perusahaan melakukan kesalahan dalam menghitung depresiasi pada Mobil APV. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan no.

96/PMK.03/2009 kendaraan roda empat mempunyai masa manfaat 8 tahun sedangkan perusahaan menghitung kendaraan roda empat mempunyai manfaat sebesar 4 Tahun. Terdapat kesalahan penggolongan pada Mesin mimaki, Mesin Polaris, Mesin Cutting Plotar Mimaki perusahaan menggolongkan sebagai kelompok 1, sedangkan Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan no.

96/PMK.03/2009 mesin adalah kelompok 2. Oleh sebab itu, atas biaya penyusutan dilakukan koreksi sebesar Rp1.839.351,- untuk tahun 2012, sebesar Rp5.312.185,- untuk tahun 2013, dan sebesar Rp91.167.059,- untuk tahun 2014.

Setelah Peraturan Pemerintah 46 Tahun 2013 Biaya penyusutan juga tidak berpengaruh karena harus dikoreksi secara positif. Namun, kesalahan-kesalahan dalam perhitungan dalam perusahaan harus dikoreksi.

8. Sebelum Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013 kredit pajak dalam negeri harus terdapat kredit pajak dilaporkan pada SPT induk halaman depan bagian 8a.

Perusahaan harus merincikan bukti kredit pajak dalam negeri tersebut pada lampiran – III SPT Tahunan sehingga kredit pajak dalam negeri dapat dijadikan pengurang sebagai pengurang pajak. Setelah berlaku Peraturan Pemerintah 46 Tahun 2013 walaupun terdapat kredit pajak dan dirincakan dilaporan pada SPT induk halaman depan bagian 8a tetap tidak berpengaruh karena diperaturan ini hanya dilihat dari peredaran usaha perusahaan tersebut.

Berikut adalah perbandingan rekosiliasi fiscal antara perusahaan dan penulis:

Tabel 4.23 Perbandingan Rekonsiliasi Fiskal

Perbandingan Rekonsiliasi Fiskal

(9)

Keterangan Perusahaan Penulis 2012 2013 2014 2012 2013 2014

Biaya Penyusutan   

Pendapatan Bunga Bank 

Kredit Pajak Dalam Negeri 

Sehingga Setelah dilakukan langkah-langkah diatas, Perencanaan Pajak Penghasilan Perusahaan sebagai berikut:

Tabel 4.24 Koreksi Fiskal terhadap Laporan Laba Rugi dari Hasil Analisis Biaya Tahun 2012

PT CRS Laporan Laba Rugi Periode Jan s/d Desember 2012

Keterangan Fiskal Perusahaan

Koreksi Fiskal Seharusnya

Fiskal Seharusnya

Koreksi Tax Planning

Fiskal Tax Planning

Pendapatan

Pendapatan Usaha 1.760.774.654 1.760.774.654 1.760.774.654

Potongan Penjualan (164.087.973) (164.087.973) (164.087.973)

Penjualan Bersih 1.596.686.681 1.596.686.681 1.596.686.681

Harga Pokok Penjualan -

Pembelian 1.217.201.700 1.217.201.700 1.217.201.700

Potongan Pembelian (7.685.216) (7.685.216) (7.685.216)

Pembelian bersih 1.209.516.484 1.209.516.484 1.209.516.484

Biaya Umum dan

Administrasi -

(10)

Biaya gaji karyawan 137.150.000 137.150.000 137.150.000

Biaya Listrik 33.359.892 33.359.892 33.359.892

Biaya Telepon 33.721.486 33.721.486 33.721.486

Biaya lain-lain 39.289.500 39.289.500 39.289.500 Biaya Bensin dan

Transportasi 40.424.400 40.424.400 40.424.400

Biaya pajak 14.073.400 14.073.400 14.073.400

Biaya operasional 46.197.043 46.197.043 46.197.043

Biaya penyusutan 12.814.829 1.839.351 10.975.478 1.839.351 10.975.478 Biaya piutang tak tertagih 19.806.000 19.806.000 - 19.806.000 Total beban umum dan

Administrasi 376.836.550 21.645.351 355.191.199 1.839.351 374.997.199

Laba/Rugi Operasional 10.333.647 31.978.998 12.172.998

Pendapatan Non

Operasional

Pendapatan Luar Usaha:

Pendapatan Bunga Bank 1.309.487 (1.309.487) (1.309.487)

Pendapatan Lain-lain 4.011.170 4.011.170 4.011.170

Total Pendapatan luar

Usaha 5.320.657 (1.309.487) 4.011.170 (1.309.487) 4.011.170

Laba/Rugi Bersih

(Sebelum Pajak) 15.654.304 35.990.168 16.184.168

PPh terutang 2012 1.956.768 4.498.771 2.023.021

Pajak Kurang Bayar 2.542.003

Selisih Tax Saving 2.475.750

(11)

Tabel 4.25 Koreksi Fiskal terhadap Laporan Laba Rugi dari Hasil Analisis Biaya Tahun 2013

PT CRS Laporan Laba Rugi Periode Januari s/d Juni 2013

Keterangan Jan-Jun Fiskal

Perusahaan

Koreksi Fiskal Seharusnya

Fiskal Seharusnya

Koreksi Tax Planning

Fiskal Tax Planning

Pendapatan

Pendapatan Usaha

Penjualan 1.134.450.191 1.134.450.191 1.134.450.191 1.134.450.191

Potongan Penjualan (331.239) (331.239) - (331.239) (331.239)

Penjualan Bersih 1.134.118.952 1.134.118.952 1.134.118.952 - 1.134.118.952

Harga Pokok Penjualan

Pembelian 608.600.850 608.600.850 608.600.850 608.600.850

Potongan Pembelian (506.583) (506.583) (506.583) (506.583)

Beban Operasional 107.561.766 107.561.766 107.561.766 - 107.561.766

Pembelian bersih 715.656.032 715.656.032 715.656.032 715.656.032

Laba Kotor 418.462.920 418.462.920 418.462.920 - 418.462.920

- - - Biaya Umum dan

Administrasi - - - Biaya gaji karyawan 205.225.000 205.225.000 205.225.000 - 205.225.000

Biaya Listrik 12.639.713 12.639.713 12.639.713 12.639.713

Biaya Telepon 14.584.832 14.584.832 14.584.832 - 14.584.832

Biaya alat tulis kantor 3.917.350 3.917.350 3.917.350 3.917.350

Biaya Keamanan 2.190.000 2.190.000 2.190.000 2.190.000

Biaya Sewa 30.000.000 30.000.000 30.000.000

- 30.000.000

(12)

Biaya Entertainment 761.781 761.781 761.781 - (761.781) 761.781 Biaya Fotocopy dan

percetakan 5.018.650 5.018.650 5.018.650 5.018.650

Biaya perjalanan dinas 23.341.650 23.341.650 23.341.650 - 23.341.650

Biaya lain-lain 2.260.500 2.260.500 2.260.500 2.260.500

Biaya bensin dan

transportasi 15.165.150 15.165.150 15.165.150 - 15.165.150

Biaya Reklame 14.348.498 14.348.498 14.348.498 - 14.348.498

Biaya Kantor 866.550 866.550 866.550 - 866.550

Biaya Penyusutan 28.498.113 28.498.113 5.312.185 23.185.928 - 23.185.928 Total beban umum dan

Administrasi 358.817.786 358.817.786 6.073.966 352.743.820 (761.781) 353.505.601 Laba/Rugi

Operasional 59.645.134 59.645.134

(6.073.966) 65.719.100 761.781 64.957.319 Pendapatan Non

Operasional

Pendapatan Luar Usaha:

Pendapatan Bunga Bank

Pendapatan Lain-lain

Total Pendapatan luar

Usaha

Laba/Rugi Bersih

(Sebelum Pajak) 59.645.134 59.645.134 (6.073.966) 65.719.100 761.781 64.957.319

PPh terutang 7.455.642 7.455.642 (759.246) 8.214.888 95.223 8.119.665

Kredit Pajak dalam Negeri 7.291.055 7.291.055 7.291.055 - 7.291.055 7.291.055 PPh yang harus dibayar

sendiri 164.587 164.587 9.255.311 828.610

Pajak Kurang Bayar 9.090.724

Selisih Tax Saving 8.426.701

(13)

Tabel 4.26 Koreksi Fiskal terhadap Laporan Laba Rugi dari Hasil Analisis Biaya Tahun 2013

PT CRS Laporan Laba Rugi Periode Juli s/d Desember 2013

Keterangan Juli - Desember Fiskal Perusahaan

Koreksi Fiskal Seharusnya

Fiskal Seharusnya

Koreksi Tax Planning

Fiskal Tax Planning

Pendapatan

Pendapatan Usaha

Penjualan 1.134.450.191 1.134.450.191 1.134.450.191 - - -

Potongan Penjualan (331.239) (331.239) (331.239) - - -

Penjualan Bersih 1.134.118.952 1.134.118.952 1.134.118.952 - - -

Harga Pokok Penjualan

Pembelian 608.600.850 608.600.850 608.600.850 - - -

Potongan Pembelian (506.583) (506.583) (506.583) - - -

Beban Operasional 107.561.766 107.561.766 107.561.766 - - -

Pembelian bersih 715.656.032 715.656.032 715.656.032 - - -

Laba Kotor 418.462.920 418.462.920 418.462.920 - - -

- -

Biaya Umum dan

Administrasi

- -

Biaya gaji karyawan 205.225.000 205.225.000 205.225.000 - - -

Biaya Listrik 12.639.713 12.639.713 12.639.713 - - - Biaya Telepon 14.584.832 14.584.832 14.584.832 - - - Biaya alat tulis kantor 3.917.350 3.917.350 3.917.350 - - - Biaya Keamanan 2.190.000 2.190.000 2.190.000 - - - Biaya Sewa 30.000.000 30.000.000 30.000.000 - - - Biaya Entertainment 761.781 761.781 761.781 - - -

(14)

Biaya Fotocopy dan

percetakan 5.018.650 5.018.650 5.018.650

- -

- Biaya perjalanan dinas 23.341.650 23.341.650 23.341.650 - - - Biaya lain-lain 2.260.500 2.260.500 2.260.500 - - - Biaya bensin dan

transportasi 15.165.150 15.165.150 15.165.150

- -

- Biaya Reklame 14.348.498 14.348.498 14.348.498 - - - Biaya Kantor 866.550 866.550 866.550 - - - Biaya Penyusutan 28.498.113 28.498.113 28.498.113 - - - Total beban umum dan

Administrasi 358.817.786 358.817.786 358.817.786 - - -

Laba/Rugi

Operasional 59.645.134 59.645.134 59.645.134 - - -

Pendapatan Non

Operasional

Pendapatan Luar Usaha:

Pendapatan Bunga

Bank

Pendapatan Lain-lain

Total Pendapatan luar

Usaha

Laba/Rugi Bersih

(Sebelum Pajak) 59.645.134 59.645.134 59.645.134 - - -

PPh terutang 7.455.642 7.455.642 - -

Kredit Pajak dalam

Negeri 7.291.055 7.291.055

- -

PPh yang harus dibayar

sendiri 164.587 164.587 11.341.190 11.341.1

90

PPh Kurang Bayar 11.176.602

(15)

Tabel 4.27 Koreksi Fiskal terhadap Laporan Laba Rugi dari Hasil Analisis Biaya Tahun 2014

PT CRS Laporan Laba Rugi

Periode Januari s/d Desember 2014

Keterangan Fiskal

Perusahaan

Koreksi Fiskal Seharusnya

Fiskal Seharusnya

Koreksi Tax Planning

Fiskal Tax Planning

Pendapatan

Pendapatan Usaha

Penjualan 3.163.221.320 3.163.221.320 -

Potongan Penjualan - - -

Penjualan Bersih 3.163.221.320 3.163.221.320 -

-

Harga Pokok Penjualan - -

Beban Produksi 2.394.431.013 2.394.431.013 -

Laba Kotor 2.394.431.013 2.394.431.013 -

-

Biaya Umum dan

Administrasi

Biaya gaji karyawan 244.400.000 244.400.000 -

Biaya Telepon + Internet 39.345.800 39.345.800 -

Biaya Listrik 29.743.800 29.743.800 -

Biaya Keamananan+

Kebersihan 3.540.000 3.540.000

-

Biaya Entertainment 7.049.700 7.049.700 -

Biaya Transportasi 36.824.500 36.824.500 -

Biaya ATK 37.880.900 37.880.900 -

Biaya Lain-lain 1.359.600 1.359.600 -

(16)

Biaya Administrasi Bank 1.386.000 1.386.000 -

Beban Perbaikan mesin 1.609.000 1.609.000 -

Beban Penyusutan 202.240.367 111.073.308 -

Zakat 7.755.300 7.755.300 -

Total Beban Umum dan

Administrasi 613.134.967 521.967.908

-

Laba/Rugi Operasional 155.655.340 246.822.399 -

Pendapatan Non Operasional

Pendapatan Luar Usaha:

Pendapatan Bunga Bank 57.503 - - -

Pendapatan Lain-Lain 818.372 818.372 -

Total Pendapatan luar

Usaha (760.869) (818.372)

-

Laba/Rugi Bersih

(Sebelum Pajak) 154.894.471 246.004.027

-

Penghasilan yang memiliki peredaran Bruto dibawah 4.8 Milyar per 46 Tahun 2013

31.632.213 31.632.213 31.632.213

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Kesimpulan adalah tahap akhir setelah melakukan penelitian. Setelah melakukan pengamatan, perhitungan dan evaluasi didalam penulisan ini ada beberapa kesimpulan untuk perusahaan:

1. Terjadi perubahan ketentuan perpajakan sebelum dan setelah 1 Juli 2013 dengan berlakunya PP 46

2. Perubahan tersebut mengakibatkan perubahan pelaksanaan kewajiban perpajakan untuk perusahaan dengan omzet 0 – Rp4.800.000.000 menjadi sangat signifikan.

3. Perubahan Peraturan Pemerintah 46 Tahun 2013 tersebut, juga mengakibatkan perubahan dalam perencanaan pajak (Tax Planning) .

(17)

4. PT CRS belum maksimal dalam melaporkan pajaknya. Perusahaan menginginkan pajak yang serendah-rendahnya namun tidak sesuai dengan UU ketentuan Perpajakan yang berlaku. Sehingga terjadi kesalahan dalam melaporkan pajaknya.

5. Perusahaan menanggung biaya pajak yang didalam nya terdapat PPh pasal 21 karyawannya. Hal ini merugikan perusahaan karena PPh Pasal 21 yang ditanggung perusahaan tidak dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto perusahaan.

6. Pemberian fasilitas untuk karyawan tertentu harus dikoreksi fiskal positif sebesar 50%. sesuai dengan KEP-220/PJ/2002 tentang perlakuan Pajak Penghasilan atas pemakaian telepon sellular berupa voucher dan biaya pemeliharaan yang termasuk biaya pemeliharaan kendaraan yang dapat dibawa pulang juga harus dikoreksi fiskal positif 50%.

7. PT CRS tidak membuat daftar nominatif atas biaya yang berkaitan dengan biaya Operasional, Entertainment, perjalan dinas sehingga tidak dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto.

8. PT CRS tidak memenuhi syarat dalam melaporkan Piutang Tak Tertagih.

Sehingga Piutang Tak Tertagih tidak dapat dijadikan pengurang penghasilan bruto.

9. PT CRS tidak melampirkan bukti kredit pajak dalam negeri pada SPT induk halaman depan bagian 8a. Sehingga kredit pajak dalam negeri tidak bisa dijadikan pengurang pajak.

Saran

1. Sebaiknya perusahaan melakukan review secara berkala atas pelaksanaan dan perencanaan pajak untuk mencegah dan memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi.

2. Sebaiknya perusahaan harus melakukan tax planning. Sehingga terdapat selisih penghematan pajak sebesar Rp2.475.750 pada Tahun 2012, Rp8.426.701 pada Tahun 2013 periode Januari – Juni , Rp11.176.602 pada Tahun 2013 periode Juli – Desember.

(18)

REFERENSI

Agoes, S. & Trisnawati, E. (2009). Akuntansi Perpajakan. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Alika, N. (2014). Penerapan Perencanaan Pajak Penghasilan Pada PT DA. Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Ameliasari, C. (2014). Analisis Penerapan Perencanaan Pajak Penghasilan Badan di PT Starindo Cleaning Technologies. Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Anwar, C. (2013). Manajemen Perpajakan, Strategi Perencanaan Pajak dan Bisnis.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Gunadi (2009). Akuntansi Pajak, Sesuai Dengan Undang-Undang Pajak Baru. Jakarta:

Gramedia Widiasarana Indonesia.

Ilyas, W.N., Burton, R. (2011). Hukum Pajak, cetakan kedua, Edisi 5 , Salemba Empat, Jakarta.

Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep – 220/PJ./2002 Tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler dan Kendaraan Perusahaan.

Keputusan Menteri Keuangan Nomor KMK.138/KMK.03/2002 Tanggal 8 April 2002 yang telah diubah menjadi Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK.96/PMK.03/ Tahun 2009 Tanggal 15 Mei 2009 Tentang Jenis-Jenis Harta Yang Termasuk Dalam Kelompok Harta Berwujud Bukan Bangunan Untuk Keperluan Penyusutan.

Mardiasmo. (2009). Perpajakan Edisi Revisi 2009. Jakarta: Andi Offset.

Muljono, D. (2009). Tax Planning Menyiasati Pajak Dengan Bijak. Yogyakarta: Andi Offset.

Pardiat (2008). Akuntansi Pajak Lanjutan. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 02/PMK.03/2010 Tentang Biaya Promosi Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto.

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 57/PMK.03/2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 Tentang Piutang Yang Nyata-Nyata Tidak Dapat Ditagih Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto.

(19)

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

Priantara, Diaz (2011). Kupas Tuntas Pengawasan, Pemeriksaan, Dan Penyidikan Pajak. cetakan kedua. PT Indeks, Jakarta

Resmi, Siti. (2014). Perpajakan Teori dan Kasus. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Sidarta, Yohanes E. (2012). Perencanaan Pajak Penghasilan Badan Periode 2008-2010 (Studi Kasus : PT. DLP). Tesis S1 Tidak Dipublikasikan, Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Suandy, E. (2013). Perencanaan Pajak. Edisi 5. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE – 27/PJ.22/1986 Tentang Biaya

“Entertainment” dan Sejenisnya (Seri PPh Umum 18)

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008, tentang perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.

Waluyo. (2008). Perpajakan Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.

Waluyo. (2012). Akuntansi Pajak. Jakarta: Salemba Empat.

RIWAYAT PENULIS

Elindia Farahiya Adani lahir di kota Jakarta pada 27 April 1993. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Ekonomi Akuntansi pada tahun 2015.

Gambar

Tabel 4.24 Koreksi Fiskal terhadap Laporan Laba Rugi dari Hasil Analisis  Biaya Tahun 2012
Tabel 4.25 Koreksi Fiskal terhadap Laporan Laba Rugi dari Hasil Analisis Biaya  Tahun 2013
Tabel 4.26 Koreksi Fiskal terhadap Laporan Laba Rugi dari Hasil Analisis Biaya  Tahun 2013
Tabel 4.27 Koreksi Fiskal terhadap Laporan Laba Rugi dari Hasil Analisis Biaya  Tahun 2014

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat Beliau, penulis dapat menyelesaikan skripsi penulis yang berjudul “Peranan The Green

Sesuai hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penambahan KI pada media 2% NaCl yang mengandung 10 mg/L kitosan sebagai

Dalam hal ini, penulis juga mendapati bahwa melalui pernyataan “apakah anda menceritakan pada orang tua anda mengenai pengalaman anda melakukan hubungan seksual

Sesuai dengan tugasnya yang menghim- pun dana dan menyalurkan kem-bali ke masyarakat, Dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank merupakan sumber dana terbesar bagi

Tujuan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan tentang teknik pembesaran ikan nila genetic male tilapia (GMT) dengan fermentasi pakan

ERD adalah model konseptual yang mendeskripsikan hubungan antara penyimpanan. ERD digunakan untuk memodelkan struktur data dan hubungan antar data. Dengan ERD, model

DOWHUQDWLI VWUDWHJL GLJXQDNDQ PDWULNV 6:27 XQWXN PHPEDQWX PHODNXNDQ SHQFRFRNNDQ DQWDU NHNXDWDQ GDQ SHOXDQJ VWUDWHJL 62 NHNXDWDQ GDQ DQFDPDQ VWUDWHJL 67 SHOXDQJ GDQ NHOHPDKDQ

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang, Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Banyuasin dan