TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengukuran Kerja
Menurut Sritomo, pengukuran kerja adalah : “metoda penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan.
Salah satu pengukuran kerja adalah pengukuran waktu kerja (time study).
Secara garis besar teknik-teknik pengukuran waktu dibagi ke dalam dua bagian, pertama secara langsung dan kedua secara tidak langsung.
2.1.1 Pengukuran waktu kerja secara langsung
Pengukuran waktu jenis ini disebut langsung karena pengamat waktu berada di tempat dimana objek pengukuran sedang diamati. Dengan demikian, secara langsung pengamat melakukan pengukuran atas waktu kerja yang dibutuhkan oleh seorang operator (objek pengamatan) dalam menyelesaikan pekerjaan
Pengukuran waktu kerja secara langsung dapat dibagi atas dua cara pengukuran, yaitu :
1. Cara jam henti 2. Sampling pekerjaan
2.1.2 Pengukuran waktu kerja secara tak langsung
Pengukuran waktu secara tidak langsung melakukan perhitungan tanpa harus berada ditempat kejadian, yaitu dengan cara membaca tabel-tabel yang tersedia, asalkan mengetahui jalannya pekerjaan melalui elemen-elemen pekerjaan atau atau elemen-elemen gerakan.
Secara garis besar pengukuran waktu secara tidak langsung dapat dikelompokan kedalam dua kelompok, yaitu:
1. Data waktu baku 2. Data waktu gerakan
Yang termasuk data waktu gerakan antara lain sebagai berikut:
a. Analisis waktu gerakan (Motion Time Analysis) b. Waktu gerakan baku (Motion Time Standard) c. Waktu gerakan dimensi (Dimention Motion Time) d. Faktor kerja (Work Faktor)
e. Pengukuran waktu metoda (Motion Time Measurement) f. Pengukuran waktu gerakan dasar (Basic Motion Time)
2.2 Pengukuran Waktu Jam Henti
Sesuai dengan namanya, pengukuran waktu ini menggunakan jam henti (stopwatch) sebagai alat utamanya. Ada beberapa aturan pengukuran yang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang baik. Aturan-aturan tersebut dijelaskan dalam langkah-langkah berikut ini.
2.2.1 Langkah-langkah sebelum melakukan pengukuran
Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka tidak cukup sekedar melakukan beberapa kali pengukuran dengan menggunakan jam henti, apalagi jam biasa.
Banyak faktor yang harus diperhatikan agar akhirnya diperoleh waktu yang pantas untuk pekerjaan yang bersangkutan seperti yang berhubungan dengan kondisi kerja, cara pengukuran, jumlah pengukuran dan lain-lain. Di bawah ini adalah sebagian langkah yang perlu diikuti agar maksud di atas dapat tercapai.
1. Penetapan tujuan pengukuran
Penetapan tujuan pengukuran harus ditentukan terlebih dahulu untuk memberikan kejelasan untuk apa pengukuran dilakukan. Penetapan tujuan akan mempengaruhi tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan hasil pengukuran.
Sebagai contoh, pengukuran waktu baku sebagai dasar penentuan upah perangsang memerlukan tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang cukup tinggi karena menyangkut prestasi dan pendapatan buruh disamping keuntungan bagi perusahaan.
2. Melakukan penelitian pendahuluan
Yang dicari dari pengukuran waktu adalah waktu yang pantas diberikan kepada pekerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu kerja yang
pantas merupakan waktu kerja yang didapat dari kondisi kerja yang baik.
Pengamatan/penelitian pendahuluan yang diperlukan untuk memastikan bahwa sistem kerja yang diamati sudah merupakan yang terbaik. Pengamatan pendahuluan juga diperlukan agar pada saat pengukuran dilakukan, pengamat tidak perlu susah payah untuk mencari informasi berkenaan dengan pekerjaan yang sedang diteliti.
3. Memilih operator
Operator yang akan melakukan pekerjaan yang diukur bukanlah orang yang begitu saja diambil dari tempat kerja. Orang ini harus memenuhi beberapa persayaratan tertentu agar pengukuran dapat berjalan dengan baik dan dapat diandalkan hasilnya. Syarat-syarat tersebut adalah berkemampuan normal dan dapat diajak bekerja sama.
4. Melatih operator
Melatih operator bila kondisi dan cara kerja yang dipakai tidak sama dengan yang biasa dijalankan operator. Sebelum melakukan pengukuran waktu kerja, operator harus sudah terbiasa dengan kondisi dan cara kerja yang telah ditetapkan (telah dibakukan). Waktu penyelesaian pekerjaan dapat didapat, berasal dari penyelesaian secara wajar dan bukan penyelesaian dari orang yang bekerja kaku dengan berbagai kesalahan.
5. Mengurai pekerjaan atas elemen pekerjaan
Disini pekerjaan dipecah menjadi elemen pekerjaan, yang merupakan gerakan bagian dari pekerjaan yang bersangkutan . Elemen-elemen inilah yang diukur waktunya. Waktu siklusnya adalah jumlah dari waktu setiap elemen ini.
Waktu siklus adalah waktu penyelesaian satu satuan produk sejak bahan baku mulai diproses ditempat yang bersangkutan.
6. Menyiapkan perlengkapan pengukuran
Setelah kelima langkah di atas dijalankan dengan baik, tibalah sekarang pada langkah terakhir sebelum melakukan pengukuran, yaitu menyiapkan perlengkapan yang diperlukan. Hal-hal tersebut adalah:
a. Jam henti
b. Lembaran-lembaran pengamatan c. Pena atau pensil
d. Papan pengamatan
2.2.2 Melakukan pengukuran waktu
Pengukuran waktu adalah pekerjaan mengamati dan mencatat waktu- waktu kerja baik setiap elemen ataupun siklus dengan menggunakan alat-alat yang telah disiapkan di atas. Hal pertama yang dilakukan adalah pengukuran pendahuluan. Tujuan melakukan hal ini ialah agar nantinya mendapatkan perkiraan statistikal dari banyaknya pengukuran yang harus dilakukan untuk tingkat-tingkat ketelitian dan keyakinan yang diinginkan.
Pengukuran pendahuluan tahap pertama dilakukan dengan melakukan beberapa buah pengukuran yang banyaknya ditentukan oleh pengukur. Biasanya enam belas kali atau lebih.
Setelah pengukuran tahap pertama dijalankan tahap-tahap kegiatan menguji keseragaman data dan menghitung jumlah pengukuran yang harus
dilakukan. Bila jumlah pengukuran yang dilakukan belum mencukupi, dilanjutkan dengan pengukuran tambahan, yaitu mengukur lagi untuk mengejar jumlah minimum yang diperlukan. Untuk kecermatan, setelah pengukuran memenuhi syarat kecukupan data seperti yang telah dihitung, dilakukan lagi uji keseragaman data dan uji kecukupan data. Bila kali ini data yang ada terhitung cukup, barulah pengukuran dihentikan.
Langkah-langkah dalam menentukan Time Study adalah sebagai berikut:
1. Kelompokkan data ke dalam subgrup-subgrup yang diperoleh secara berturut- turut dan hitung harga rata-ratanya.
Contoh :
Tabel 2.1 Pengelompokan Data Subgrup
ke Waktu penyelesaian berturut-turut Harga rata-rata x1 x2 x3 ……. xj
1 x11 x12 x13 ……. x1j ̅̅̅
2 x21 x22 x23 ……. x2j ̅̅̅
3 x31 x32 x33 ……. x3j ̅̅̅
N xn1 xn2 xn3 ……. xnj ̅̅̅
Jumlah ∑ ̿
Sumber : Iftikar Z. Sutalaksana, Teknik Perancangan Sistem Kerja
Cara menghitung harga rata – rata subgroup n : ̅̅̅ ∑
2. Hitung rata-rata dari harga rata-rata subgrup dengan:
̿ ∑ ̿
dimana: ̿ adalah harga rata-rata dari subgrup ke-i
k adalah harga banyaknya subgrup yang terbentuk
3. Hitung standar deviasi sebenarnya dari waktu penyelesaian dengan:
√∑ ̿
dimana : N adalah jumlah pengamatan pendahuluan yang telah dilakukan, adalah waktu penyelesaian yang teramati selama pengukuran pendahuluan yang telah dilakukan.
4. Hitung standar deviasi dari distribusi harga rata-rata subgrup dengan:
√
dimana: n adalah besarnya subgrup
5. Tentukan batas kendali atas (BKA) dan batas kendali bawah (BKB) dengan:
̿ ̿
Batas-batas kendali ini merupakan batas “seragam” tidaknya subgrup.
Selanjutnya adalah menghitung banyaknya pengukuran yang diperlukan, yaitu dengan menggunakan rumus:
√ ∑ (∑ )
∑
dimana N adalah jumlah pengukuran yang telah dilakukan. Rumus ini adalah untuk tingkat ketelitian 5% dan tingkat keyakinan 95%.
2.2.3 Tingkat ketelitian, tingkat keyakinan, dan pengujian keseragaman data
Berbicara tentang tingkat ketelitian, dan pengujian keseragaman data, sebenarnya adalah pembicaraan tentang pengertian statistik. Karenanya untuk memahami secara mendalam diperlukan beberapa pengetahuan statistik. Tetapi yang akan dikemukakan adalah pembahasan ke arah pengertian yang diperlukan dengan cara sederhana.
1. Tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan
Tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan adalah pencerminan tingkat kepastian yang diinginkan oleh pengukur setelah memutuskan tidak akan melakukan pengukuran yang sangat banyak. Tingkat ketelitian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari waktu penyelesaian sebenarnya. Hal ini biasanya dinyatakan dalam persen (dari waktu penyelesaian sebenarnya yang harus dicari). Sementara tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi. Ini pun dinyatakan dalam persen. Jadi, tingkat ketelitian 10% dan tingkat keyakinan 95% memberi arti bahwa pengukur membolehkan rata-rata hasil pengukurannya menyimpang sejauh 10% dari rata-rata sebenarnya; dan kemungkinan berhasil mendapatkan hal ini adalah 95%. Dengan kata lain pengukur sampai memperoleh rata-rata pengukuran
yang menyimpang lebih dari 10% dari yang seharusnya, hal ini dibolehkan terjadi hanya dengan kemungkinan 5% (=100%-95%).
2. Pengujian keseragaman data
Secara teoritis apa yang dilakukan dalam pengujian ini adalah berdasarkan teori-teori statistik tentang peta kontrol yang biasanya digunakan dalam melakukan pengendalian kualitas di pabrik atau tempat kerja lain. Batas-batas kontrol yang dibentuk dari data merupakan batas seragam atau tidaknya data.
Sekelompok dikatakan seragam bila berada di antara kedua batas kontrol. Bila diluar batas-batas itu, yang secara statistikal disebut berasal dari sistem sebab yang berbeda, yang dinyatakan sebagai data-data yang tak seragam.
2.2.4 Melakukan perhitungan waktu baku (standar)
Jika pengukuran-pengukuran telah selesai, yaitu semua data yang didapat memiliki keseragaman yang dikehendaki, dan jumlahnya telah memenuhi tingkat ketelitian dan keyakinan yang diinginkan, maka selesailah kegiatan pengukuran waktu. Langkah selanjutnya adalah mengolah data tersebut sehingga memberikan waktu baku. Cara untuk mendapatkan waktu baku dari data yang terkumpul itu adalah sebagai berikut.
1. Hitung waktu siklus, yang tidak lain adalah waktu penyelesaian rata-rata selama pengukuran:
∑ ̿
dimana ̿ dan N menunjukkan arti yang sama dengan yang telah dibahas sebelumnya.
2. Hitung waktu normal dengan:
dimana p adalah faktor penyesuaian. Faktor ini diperhitungkan jika pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan kecepatan tidak wajar, sehingga hasil perhitungan waktu perlu disesuaikan atau dinormalkan dulu. Tujuannya untuk mendapatkan waktu siklus rata-rata yang wajar. Jika pekerja bekerja dengan wajar, faktor penyesuaiannya, p, sama dengan 1. Jika bekerjanya terlalu lambat maka untuk menormalkannya pengukur harus member harga p
< 1, dan sebaliknya p > 1, jika dianggap bekerja cepat.
3. Hitung waktu baku
Setelah perhitungan di atas selesai, waktu baku bagi penyelesaian pekerjaan kita dapatkan dengan:
dimana adalah kelonggaran atau allowance yang diberikan kepada pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya disamping waktu normal. Kelonggaran ini diberikan untuk tiga hal, yaitu kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique, dan gangguan-gangguan yang mungkin terjadi yang tidak dapat dihindarkan oleh pekerja. Umumnya kelonggaran dinyatakan dalam persen dari waktu normal.
2.3 Penyesuaian dan kelonggaran
Dalam melakukan pengukuran waktu kerja, seluruh data waktu siklus yang telah diolah, diubah berturut-turut menjadi waktu normal dan kemudian waktu
baku. Untuk mengubah kedalam waktu normal (Wn), diberikan suatu faktor yang kemudian disebut sebagai faktor penyesuaian. Sedangkan untuk menghasilkan waktu baku (waktu standar), diperlukan adanya penambahan faktor kelonggaran.
Dengan demikian bahwa untuk mengukur berapa standar waktu yang dibutuhkan oleh seorang operator dalam menyelesaikan pekerjaannya, tidak cukup hanya dilakukan dengan menghitung nilai rata-rata waktu siklus. Hal ini dapat dimengerti, mengingat bahwa ternyata terdapat banyak aspek yang masih harus diperhitungkan, karena aspek-aspek tersebut mempengaruhi lama tidaknya waktu penyelesaian suatu pekerjaan. Hal yang harus diperhatikan bahwa waktu baku yang telah ditetapkan haruslah memilki sifat fair atau adil, sehingga disatu sisi hal ini akan menguntungkan pihak manajemen, namun disisi lain tidak memberatkan pekerja. Sifat adil ini, dalam jangka panjang, akan merupakan jembatan yang mempengaruhi kepentingan perusahaan serta kepentingan pekerja.
2.3.1 Pengertian Penyesuaian
Menurut Sritomo, penyesuaian adalah : “suatu proses dimana pada saat melakukan pengukuran, pengamat mengukur dan membandingkan performansi (kecepatan atau tempo) kerja operator terhadap konsep kecepatan kerja yang dimiliki oleh pengamat. Sifat dari pemberian faktor penyesuaian ini adalah
„judgement’ yang benar-benar berdasarkan kemampuan pengamat. Sifat ini tidak dihindarkan dalam melakukan perhitungan waktu normal. Unsur „subyektif‟
pengamat akan masuk kedalam proses penentuan waktu normal tersebut.
Operator yang berbeda dapat menunjukan kecepatan kerja yang berbeda pula. Hal ini tidak jauh berbeda untuk jalan menempuh suatu jarak tertentu.
Besarnya penilaian kita atas kenormalan banyak dipengaruhi oleh kemampuan kita dalam menguasai pekerjaan tersebut. Semakin berpengalaman seorang pengukur maka semakin pekalah inderanya dalam melakukan penyesuaian.
Konsep kerja yang normal yaitu jika seorang pekerja yang dianggap berpengalaman bekerja tanpa usaha-usaha yang berlebihan sepanjang hari kerja, menguasai cara kerja yang ditetapkan, dan menunjukan kesungguhan dalam menjalankan pekerjaan.
2.3.2. Cara menentukan faktor penyesuaian
Pemberian penyesuaian dapat dilakukan dengan mengalikan waktu siklus rata-rata dengan faktor penyesuaian (p). Pemberian faktor penyesuaian ini dapat dilakukan dengan cara persentase, cara shumard, westinghouse, maupun cara objektif.
1. Metode persentase
Besarnya penyesuaian sepenuhnya ditentukan oleh pengukur melalui pengamatannya selama melakukan pengukuran. Cara ini adalah cara yang paling sederhana, dan melibatkan unsur subjektif pengukur. Namun demikian untuk yang terlatih, hal ini tidak menjadi masalah.
2. Metode shumard
Cara ini bersifat lebih objektif, karena penilaian penyesuaian didasarkan atas patokan-patokan tertentu. Patokan-patokan tersebut berupa kelas-kelas kinerja kerja dengan setiap kelas mempunyai nilai masing-masing.
Tabel 2.2
Penyesuaian Menurut Cara Shumard Kelas Penyesuaian Kelas Penyesuaian Superfast 100 Good - 65
Fast + 95 Normal 60
Fast 90 Fair
+ 55
Fast - 85 Fair 50 Excellent 80 Fair - 45
Good + 75 Poor 40
Good 70
Sumber : Iftikar Z. Sutalaksana, Teknik Perancangan Sistem Kerja
3. Metode westinghouse
Metode ini membagi kecepatan kerja operator kedalam empat faktor yang mempengaruhinya, yaitu : keterampilan (skill), usaha (effort), kondisi kerja (condition), dan konsistensi (consistency). Keterampilan atau skill didefinisikan sebagai kemampuan mengikuti cara kerja yang ditetapkan. Yang dimaksud usaha atau effort di sini adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan operator ketika melakukan pekerjaannya. Kondisi kerja atau condition adalah kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan pencahayaan, suhu dan kebisingan ruangan. Faktor konsistensi atau concistency perlu diperhatikan karena pada setiap pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama, waktu penyelesaian yang ditunjukkan pekerja
selalu berubah-ubah dari satu siklus ke siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari ke hari. Pengamat kemudian mengamati kerja operator berdasarkan empat faktor tersebut, dan kemudian memberikan penilaian atas tiap kelompok faktor tersebut.
Tabel 2.3
Penyesuaian Menurut Westinghouse
Faktor Kelas Lambang Penyesuaian
Keterampilan
Superskill A1 +0,15
A2 +0,13
Excellent B1 +0,11
B2 +0,08
Good C1 +0,06
C2 +0,03
Average D 0,00
Fair E1 -0,05
E2 -0,10
Poor F1 -0,16
F2 -0,22
Usaha
Excessive A1 +0,13
A2 +0,12
Excellent B1 +0,10
B2 +0,08
Good C1 +0,05
C2 +0,02
Average D +0,00
Fair E1 -0,04
E2 -0,08
Poor F1 -0,12
F2 -0,17
Kondisi Kerja
Ideal A +0,06
Excellent B +0,04
Good C +0,02
Average D 0,00
Fair E -0,03
Poor F -0,07
Konsistensi
Perfect A +0,04
Excellent B +0,03
Good C +0,01
Average D 0,00
Fair E -0,02
Poor F -0,04
Sumber : Sutalaksana, Iftikar Z. 2006. Teknik Perancangan Sistem Kerja. hal. 165
.3.3 Kelonggaran
Kelonggaran pada dasarnya adalah suatu faktor koreksi yang harus diberikan kepada waktu kerja operator, karena dalam melakukan pekerjaannya operator terganggu oleh hal-hal yang tidak diinginkan namun sifatnya alamiah.
Sifat alamiah menyebabkan waktu kerja menjadi cenderung bertambah lama, karena „gangguan-ganguan‟ ini muncul tidak dapat dihindarkan.
Kelonggaran secara umum dapat dibagi kedalam 3 hal, yaitu : kelonggaran untuk kebutuhan pribadi, kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatigue atau kelelahan, serta kelonggaran untuk hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan.
1. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi
Beberapa aktivitas yang termasuk kedalam kebutuhan kelonggaran untuk kebutuhan pribadi, antara lain : minum sekedarnya untuk menghilangkan rasa haus, ke kamar kecil, bercakap-cakap dengan teman untuk menghilangkan ketegangan atau kejemuan dalam kerja, dan lain sebagainya. Aktivitas- aktivitas ini sifatnya alamiah dan mutlak.
2. Kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatigue
Dalam mendesain tempat dan cara kerja, kadang-kadang terdapat hal yang terlewatkan, sehingga hal ini mendorong pekerja cepat merasa lelah. Untuk itu pekerja harus diberi kesempatan istirahat sekedarnya, bahkan bila perlu pergi keluar ruangan kerja untuk menghilangkan kelelahan. Hal ini adalah alamiah dan wajar untuk diberikan, mengingat bahwa kelelahan yang berlangsung terus menerus tanpa dikompensasi oleh istirahat, akan menyebabkan turunnya kualitas maupun kuantitas kerja.
3. Kelonggaran untuk hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan
Dalam melaksanakan pekerjaannya, pekerja tidak akan lepas dari berbagai hambatan. Ada hambatan yang dapat dihindarkan seperti mengobrol yang berlebihan dan menganggur dengan sengaja. Ada pula hambatan yang tidak dapat dihindarkan karena berada di luar kemampuan pekerja untuk mengendalikannya. Bagi hambatan yang pertama, jelas tidak ada pilihan selain menghilangkannya, sedangkan bagi yang terakhir walaupun harus diusahakan serendah mungkin, hambatan akan tetap ada dan karenanya harus diperhitungkan dalam waktu baku. Beberapa contoh yang termasuk ke dalam hambatan yang tak dapat dihindarkan, antara lain :
1. Menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas.
2. Melakukan penyesuaian-penyesuain mesin.
3. Memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti mengganti alat potong yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya.
4. Mengasah peralatan potong.
5. Mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus dari gudang.
6. Hambatan-hambatan karena kesalahan pemakaian alat ataupun bahan.
7. Mesin berhenti karena matinya aliran listrik.
Besarnya hambatan untuk kejadian-kejadian seperti itu sangat bervariasi dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lain bahkan satu sistem kerja ke sistem kerja lain karena banyaknya penyebab seperti mesin, kondisi mesin, prosedur kerja, ketelitian suplai alat dan bahan, dan sebagainya.
2.3.4 Menyertakan kelonggaran dalam perhitungan waktu baku
Langkah pertama adalah menentukan besarnya kelonggaran untuk ketiga hal di atas yaitu kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatigue, dan hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Dua hal yang pertama antara lain dapat diperoleh dari tabel yaitu dengan memperhatikan kondisi-kondisi yang sesuai dengan pekerjaan yang bersangkutan. Untuk yang ketiga dapat diperoleh melalui pengukuran khusus seperti sampling pekerjaan. Kesemuanya, masing-masing dinyatakan dalam persentase, dijumlahkan dan kemudian mengalikan jumlah ini dengan waktu normal yang telah dihitung sebelumnya.
Tabel 2.4
Besarnya kelonggaran berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh
Faktor Contoh Pekerjaan
Ekivalen
Beban Kelonggaran (%)
A.
Tenaga yang
dikeluarkan Pria Wanita
1) Dapat diabaikan Bekerja di meja, duduk tanpa
beban 0,0-6,0 0,0-6,0 2) Sangat ringan Bekerja di meja, berdiri 0-2,5 kg 6,0-7,5 6,0-7,5 3) Ringan Menyekop, ringan 2.25-9 7,5-12 7,5-16,0
4) Sedang Mencangkul 9-18 12-19 16,0-30,0
5) Berat Mengayun palu yang
berat 18-27 19-30
6) Sangat berat Memanggul beban 27-50 30-50 7) Luar biasa Memanggul karung
berat >50 kg
B. Sikap kerja
1) Duduk Bekerja duduk, ringan 0,00-1,0
2) Berdiri di atas
dua kaki Badan tegak, ditumpu
dua kaki 1-2,5
3) Berdiri di atas
satu kaki Satu kaki mengerjakan
alat control 2,5-4
4) Berbaring
Pada bagian sisi, belakang atau depan
badan 2,5-4
5) Membungkuk Badan dibungkukkan bertumpu
pada kedua kaki 4-10
C. Gerakan kerja
1) Normal Ayunan bebas dari palu 0
2) Agak terbatas Ayunan terbatas dari
palu 0-5
3) Sulit
Membawa beban berat 0-5
dengan satu tangan
4)
Pada anggota- anggota badan
terbatas Bekerja dengan tangan
di atas kepala 5-10
5)
Seluruh anggota badan terbatas
Bekerja di lorong pertambangan yang
sempit 10-15
D. Kelelahan mata *) Pencahayaan Baik Buruk
1)
Pandangan yang terputus-
putus Membawa alat ukur 0-6 0-6
2)
Pandangan yang hampir
terus-menerus Pekerjaan-pekerjaan
yang teliti 6-7.5 6-7.5
3) Pandangan yang hampir terus-menerus dengan fokus tetap
Pemeriksaan yang
sangat teliti 7.5-12 7.5-16
4) Pandangan yang hampir terus-menerus dengan fokus berubah-ubah
Memeriksa cacat-cacat
pada kain 12-19 16-30
5) Pandangan yang hampir terus-menerus dengan konsentrasi tinggi dan fokus tetap
19-30
6) Pandangan yang hampir terus-menerus dengan konsentrasi tinggi dan fokus berubah- ubah
30-50
E.
Keadaan suhu
tempat kerja **) Suhu (°C) Kelelahan normal Berlebihan
1) Beku di bawah 0 di atas
10 di atas 12
2) Rendah 0-13 10-0 12-5
3) Sedang 13-22 5-0 8-0
4) Normal 22-28 0-5 0-8
5) Tinggi 28-38 5-40 8-100
6) Sangat tinggi di atas 38 >40 > 100
F.
Keadaan atmosfer
***)
1) Baik Ruang yang berventilasi baik, udara
segar 0
2) Cukup Ventilasi kurang baik, ada bau-
bauan (tidak berbahaya) 0-5
3) Kurang baik Ada debu-debuan beracun atau tidak beracun tetapi banyak 5-10
4) Buruk
Adanya bau-bauan berbahaya yang mengharuskan menggunakan alat
pernapasan 10-20
G.
Keadaan
lingkungan yang
baik
1) Bersih, sehat, cerah dengan kebisingan
rendah 0
2) Siklus kerja berulang-ulang antar 5-10
detik 0-1
3) Siklus kerja berulang-ulang antar 0-5
detik 1-3
4) Sangat bising 0-5
5) Jika faktor-faktor yang berpengaruh dapat
menurunkan kualitas 0-5
Keterangan:
*) Kontras antara warna hendaknya diperhatikan
**) Tergantung juga pada keadaan ventilasi
***) Dipengaruhi juga oleh ketinggian termpat kerja dari permukaan laut dan keadaan iklim
Catatan pelengkap : kelonggaran untuk kebutuhan pribadi bagi : pria = 0- 2,5% dan wanita = 2-5%
Sumber : Sutalaksana, Iftikar Z. 2006. Teknik Perancangan Sistem Kerja. hal. 170
2.4 Dasar Line Balancing
Salah satu tujuan dasar dalam menyusun lintas produksi, yang dikenal dengan nama line balancing adalah untuk membentuk atau menyeimbangkan beban yang dialokasikan pada setiap stasiun kerja. Tanpa keseimbangan seperti ini, maka akan terjadi sejumlah ketidakefisiensian karena beberapa stasiun kerja akan mempunyai beban kerja yang lebih banyak dari yang lainnya. Hal ini akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja.
Pada umumnya, merencanakan suatu keseimbangan didalam sebuah lintas perakitan meliputi usaha yang bertujuan untuk mencapai suatu kapasitas yang 6) Terasa adanya
getaran lantai 5-10
7) Keadaan-keadaan yang luar biasa (bunyi,
kebersihan, dll) 5-15
optimal, dimana tidak terjadi penghamburan fasilitas. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila:
1. Lintas perakitan bersifat seimbang, dengan stasiun mendapat tugas yang sama nilainya diukur dengan waktu.
2. Stasiun-stasiun kerja berjumlah minimum.
3. Jumlah waktu menganggur disetiap stasiun kerja sepanjang lintas perakitan minimum.
2.4.1 Pendefinisian masalah line balancing
Masalah line balancing timbul dari produk masa, dimana tugas yang akan dilakukan dalam proses produksi harus diatur sedemikian rupa sehingga batas kerja yang diterima stasiun kerja adalah sama. Penyeimbang juga berguna untuk penentuan jumlah pekerja yang ditimbulkan untuk tingkat produksi tertentu atau bagaimana memaksimumkan tingkat produksi.
2.4.2 Kendala utama line balancing
Dalam lintasan produksi pada umumnya terdapat suatu kondisi baru yang biasanya muncul. Pertama tidak ada keterkaitan dari komponen-komponen dalam proses pengerjaannya. Jadi setiap komponen mempunyai kesempatan untuk dilaksanakan pertama kali. Dengan kata lain tidak ada precedence untuk setiap benda kerja. Batasan praktisnya hanya ada satu dari komponen-komponen ini yang akan dikerjakan pertama kali dan disini dibutuhkan prosedur penyelesaian untuk menentukan prioritas. Kedua adalah apabila satu komponen telah dipilih
untuk dirakit, maka urutan merakit komponen lain akan dimulai. Disini dinyatakan batasan precedence untuk pengerjaan komponen-komponen.
2.5 Kriteria Pembuatan Line Balancing
2.5.1 Precedence diagram
Diagram jaringan kerja adalah suatu jaringan kerja yang berisi lintasan – lintasan dan urutan – urutan kegiatan dalam suatu proses perakitan. Notasi yang digunakan dalam jaringan kerja adalah notasi yang memperlihatkan urutan operasi pekerjaan. Adapun notasi – notasi adalah sebagai berikut:
1. Notasi elemen kerja yaitu suatu lingkaran yang berisi nomer elemen kerja.
Berarti elemen kerja nomer 01.
2. Notasi penghubung yang berupa panah yang menghubungkan suatu elemen ke elemen yang lain. Notasi ini terdiri dari 2 bagian yaitu :
a. Hubungan yang teratur
Berarti elemen 01 harus mendahului elemen 02.
b. Hubungan yang tidak teratur
Elemen 01 harus mendahului elemen 02 dan 03, tetapi tidak ada hubungan keterkaitan antar elemen.
01
01 02
01
03 02
3. Notasi waktu yaitu angka yang menunjukkan berapa lama elemen dikerjakan.
Berarti elemen kerja 01 lamanya 15 detik.
Waktu disini bisa berdasarkan jam, menit ataupun detik.
2.5.2. Penentuan waktu siklus
Waktu yang dihubungkan untuk menyelesaikan pekerjaan pada masing- masing stasiun kerja biasanya disebut services time atau station time. Sedangkan waktu yang tersedia pada masing-masing stasiun kerja disebut waktu siklus.
Waktu siklus biasanya sama dengan waktu stasiun kerja paling besar. Untuk menentukan nilai waktu siklus dalam suatu proses produksi, dapat dilakukan dengan membandingkan antara kapasitas produksi dan periode waktu yang dibutuhkan.
Maka secara matematis waktu siklus dapat diuraikan sebagai berikut:
dimana : T = waktu yang tersedia
Q = jumlah produksi yang dibutuhkan
2.5.3 Perhitungan matematis dalam line balancing
Didalam pemekaian metode line balancing terdapat beberapa perhitungan yang umum digunakan oleh metode-metode line balancing yang ada. Secara matematis perhitungan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Jumlah stasiun kerja minimal
Untuk mengetahui jumlah stasiun kerja minimal secara teoritis.
15
01
∑ dimana : Wi = waktu sebenarnya pada stasiun ke-i
Ws = waktu siklus i = 1, 2, 3, …., n
2. Perhitungan presentasi efisiensi stasiun kerja (Station Efficiency)
Bertujuan untuk mengetahui berapa besar persentasi efisiensi kerja pada stasiun tertentu.
3. Efisiensi lintasan (Line Efficiency)
Untuk mengukur efektivitas output terhadap input yang diberikan didasarkan atas waktu.
∑
dimana n = jumlah stasiun kerja
4. Waktu mengganggur untuk setiap stasiun
Untuk menunjukan berapa jumlah waktu yang tidak digunakan dari waktu yang tersedia oleh operator.
a. Waktu mengganggur (idle time), menunjukan lamanya waktu yang tidak digunakan oleh masing-masing stasiun.
b. Rata-rata waktu menganggur, menunjukan berapa rata-rata waktu yang tidak digunakan oleh masing-masing stasiun.
∑
c. Presentase idle time untuk setiap stasiun.
d. Total waktu menganggur
∑
5. Keseimbangan waktu senggang (Balance Delay)
Memberikan gambaran mengenai apakah pada pembuatan produk tersebut telah tercapai keseimbangan yang baik.
∑
6. Smoothness Index (SI)
Merupakan suatu index yang menunjukkan kelancaran relative dari suatu keseimbangan lini perakitan. Suatu smoothness index sempurna jika nilainya 0 atau disebut perfect balance.
√∑
Perhitungan-perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan rumus- rumus tersebut diatas merupakan kriteria untuk mengukur performansi keseimbangan lintasan suatu produk.
2.6 Metode Line Balancing
Line balancing adalah merupakan suatu kondisi operasi produksi yang saling berinteraksi antara satu operasi dengan operasi yang lainnya dan mempunyai waktu penyelesaian atau waktu siklus (cycle time) yang sama atau mendekati kesamaan, sehingga diharapkan proses penyelesaian produk dari suatu operasi ke operasi selanjutnya berjalan dengan kecepatan yang tetap dan sama.
Dalam menyeimbangkan lintasan terdapat beberapa metode atau cara pendekatan yang berbeda-beda, akan tetapi mempunyai tujuan yang pada dasarnya sama yaitu mengoptimumkan lintasan agar didapat penggunaan tenaga kerja dan fasilitas yang sebaik mungkin.
2.6.1. Metode Heuristic
1. Metode Largest Candidate Rule
Langkah-langkah yang dilakukan untuk metode Langest Candidate Rule (LCR) adalah sebagai berikut :
a. Membuat data seluruh elemen yang terdiri dari elemen kerja, waktu setiap elemen, dan aktivitas elemen yang mendahuluinya.
Penempatan waktu elemen tersebut mengikuti aturan bahwa elemen yang memiliki waktu proses tertinggi ditempatkan pada
b. Membuat tabel stasiun kerja berdasarkan informasi dari tahap pertama dengan memperhatikan waktu siklus yang telah ada, dan precedence diagram. Dari hasil tahapan perhitungan diatas, maka dapat digambarkan urutan penyusunan stasiun kerjanya.
2. Metode Kilbridge dan Wester / Region Approach
Ciri khas penggunaan metode region approach yaitu adanya pengelompokan precedence diagram kedalam region-region tertentu.
Setelah pengelompokan precedence diagram kedalam region-region tertentu, langkah selanjutnya menggabungkan elemen kerja kedalam region precedence yang paling kiri dengan berbagai macam cara sehingga diperoleh hasil gabungan yang terbaik yaitu memiliki jumlah waktu gabungan yang hampir sama atau sama dengan waktu siklus yang ada. Bila masih ada elemen kerja yang belum tergabung dan waktunya lebih kecil dari waktu siklus, masukan elemen kerja tersebut kedalam salah satu region yang ada, asalkan sesuai dengan precedence diagram serta jumlahnya tidak melebihi dari waktu siklus yang telah ditetapkan. Penggabungan elemen kerja terus berlanjut sampai semua elemen kerja tergabung kedalam stasiun kerja, dan jumlah waktu yang ada untuk setiap stasiunnya hampir sama atau sama dengan waktu siklus.
3. Metode Hegalson dan Birnie / Ranked Positional Weight
Metode Ranked Positional Weight (RPW) merupakan kombinasi dari kedua metode sebelumnya. Ciri khas dari metode ini yaitu adanya pembobotan dari nilai setiap elemen kerja.
Tahapan penggunaan metode ini adalah :
a. Melakukan pembobotan pada setiap elemen kerja dengan cara menjumlahkan waktu pengerjaan elemen tersebut dengan waktu pengerjaan elemen lain yang mengikuti berdasarkan urutan precedence diagram yang ada.
b. Membuat daftar elemen kerja kedalam sebuah tabel berdasarkan ranked position weight. Tempatkan bobot tertinggi pada posisi pertama, kemudian yang lain mengikuti sesuai dengan bobot masing-masing elemen kerja.
c. Menempatkan elemen kerja kedalam stasiun kerja yang memiliki bobot paling tinggi ditempatkan pada posisi stasiun kerja pertama.
Penggabungan elemen kerja diusahakan sama atau hampir sama dengan waktu siklus yang ada, dan jangan sampai melebihi waktu siklus yang telah ditetapkan serta harus mengikuti precedence diagram.
2.6.2. Metode Simulasi
Metode ini dikembangkan di Chrysler Coorporation dan dipersentasikan oleh Arcus pada tahun 1966.
1. CALB (Computer Assembly Line Balancing or Computer Aided Line Balancing)
Metode ini dikembangkan oleh Advanced Manufacturing Methods (Program AMM) dari IIT Reseach Institute pada tahun 1968. CALB dapat digunakan untuk metode lintasan tunggal dan model lintasan campuran.
2. ALPACA (Assembly Line Planning and Control Activity)
Metode ini dikembangkan oleh General Motors pada tahun 1968 diimplementasikan.
2.7. Perhitungan Beban Kerja pada Stasiun Kerja
Untuk dapat mengetahui beban kerja per bulan maka dapat dilakukan dengan cara mengkalikan waktu standar per stasiun kerja dengan jumlah rencana produksi perbulannya, kemudian dibagi dengan satu jam kerja.
dimana : Wb = Waktu baku
2.8. Produktivitas
Menurut Sritomo, produktivitas adalah : “ratio antara keluaran (output) dan masukan (input).
Menurut Heizer, Jay dan Render, Barry, produktivitas adalah :
“perbandingan antara output (barang dan jasa) dibagi dengan input (sumber daya seperti tenaga kerja dan modal).
Menurut Handoko, produktivitas adalah : “hubungan antara masukan- masukan dan keluaran-keluaran suatu sistem produktif.”
Maka secara umum konsep produktivitas yaitu menggambarkan kaitan antara hasil atau keluaran (output) dengan sumber atau masukan (input) yang dipakai. Keluaran dapat berupa produk, jasa dan produk atau jasa sampingan yang dihasilkan dan dijual untuk perusahaan. Sedangkan masukan-masukan itu dapat berupa bahan, tenaga kerja, modal, energi, lahan, informasi, manajemen yang diperlukan untuk menghasilkan keluaran-keluaran tersebut.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan produktivitas berarti sama dengan memperbesar rasio antara keluaran dengan masukan, dimana hal ini dapat dicapai dengan dua cara, yaitu :
1. Pengurangan input, sementara menjaga output konstan.
2. Peningkatan output, sementara menjaga input konstan.
Produktivitas kerja menurut Wignjosoebroto, Sritomo adalah “rasio jumlah keluaran yang dihasilkan per total tenaga kerja yang dipekerjakan.”
Berdasarkan pengertian tersebut, keluaran (output) dan masukan (input) harus sudah nampak dalam bentuk nilai. Pada umumnya keluaran (output) dari suatu industry dikaitkan dengan keluaran secara fisik yaitu produk akhir yang dihasilkan dan dapat berupa satuan jumlah. Total tenaga kerja yang dipekerjakan (input) bisa berbentuk satuan waktu (man-hours) yakni berupa jam kerja yang dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan.Sinungan (1997) juga mengatakan bahwa
“produktivitas tenaga kerja dapat diukur menurut sistem masukan fisik perorangan (per-orang) atau per jam kerja.
Secara umum produktivitas dapat diformulasikan sebagai berikut :
Input (measurable) pada dasarnya bisa diukur atau dihitung besarnya, dalam arti dapat dinilai secara eksak dalam bentuk nyata dan kuantitatif.
Untuk beberapa masukan atau keluaran tertentu kadang agak sulit jika diukur/dinilai besarnya karena sifatnya abstrak. Dalam hal ini ukuran nilai masukan atau keluaran dapat dikonversikan ke dalam bentuk nilai uang.
Input (invisible) yakni masukan yang tidak.