108
TATA KELOLA PROSES DAN PENGELOLAAN LIMBAH CAIR INDUSTRI BATIK JUMPUTAN KAMPUNG CELEBAN YOGYAKARTA SEBAGAI UPAYA EFISIENSI DAN PENINGKATAN DAYA SAING PRODUK
Oleh: Purnawan
ABSTRACT
Jumputan cloth handicraft industry grows a number of impacts on economic growth and environmental pollution.
The economic value generated from Jumputan cloth industry can give contribution to improving the local economy, income and can also give income for country exchange. However, the potential for environmental pollution which is generated by industrial waste of jumputan cloth is quite worrying because the volume of waste is big and waste management requirements are not satisfied. The industrial waste generated from jumputan cloth is still not considered as a problem, because it does not have direct impact or short term effect felt by the society and the environment.
Better internal performing management is expected to achieve: efficient use of energy and water to reduce the cost of production, technology planning process for ergonomic and good process control, equipment modification to improve the optimization process, wastewater treatment design with simple technology and low cost waste processing, also make the effort to allow the waste product which can be reused as diversified products.
The results of the application design process tool show the average time efficiency of 57.135% and water use efficiency of 16.175%, result in the efficient use of energy and effectiveness from craftsmen’s performance, with the water use efficiency will reduce the waste product. It can reduce the cost of wastewater treatment, with recycling of solid waste as product diversification will provide a significant benefit and it can cover the cost of wastewater treatment with a profit of Rp 4,528, - each time of the process.
The results of wastewater treatment applications that have been designed show that the results of waste treatment have met the quality standard in accordance with DIY Governor Regulations No.7 Year 2010.
Keywords: Cloth Jumputan, Governance Process, Efficiency.
A. Pendahuluan
Potensi Industri batik secara ekonomi cukup memberikan pendapatan yang besar kepada negara, baik dari segi penyerapan tenaga kerja maupun pemasukan devisa dan pajak. Permintaan pasar untuk konsumsi lokal dan luar negeri terbuka luas sehingga memberikan peluang yang besar untuk perkembangan industri ini.Saat ini pemasaran batik selain untuk konsumsi lokal juga telah menembus pasar luar negeri antara lain pasar Eropa dan Amerika.
Dalam perkembangannya, masyarakat melakukan modifikasi dan kreasi untuk menghasilkan berbagai ragam industri batik, salah satunya adalah industri batik jumputan namun demikian penamaan batik jumputan sesungguhnya tidak sesuai dengan kaidah karena Batik merupakan seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam ( bahasa inggris : wax) atau dalam istilah sehari-hari orang menamakannya "lilin", sedangkan Jumputan pada dasarnya suatu proses pencelupan, dengan sebagian kain diikat rapat menurut pola tertentu sebelum dilakukan pencelupan atau dyeing dengan zat warna, dengan demikian bagian-bagian yang diikat tidak terkena celupan dan pada bagian tersebut terbentuklah motif hias sesuai yang dikehendaki, dengan demikian penamaan yang lebih tepat adalah kain motif jumputan”.
Industri kain jumputan pada umumnya dilaksanakan dalam skala rumah tangga dengan penggunaan teknologi yang masih sederhana sehingga ditengarai terjadi In-efisiensi yang dapat menimbulkan pemborosan baik dalam penggunaan bahan baku, proses produksi maupun dalam penggunaan energi. In-efisiensi pada proses produksi ini dapat menyebabkan besarnya volume limbah yang dihasilkan yang berasal dari bahan baku, bahan tambahan (aditif) dan waktu proses produksi. Hal ini akan menimbulkan kerugian baik secara ekonomi maupun lingkungan yang disebabkan oleh biaya produksi dan pencemaran lingkungan
Sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalisasi limbah yang dihasilkan pada proses industri kain jumputan, maka diperlukan Tata Kelola Proses dan Pengelolaan Limbah agar dapat menghasilkan produk dan jasa secara lebih efisien. Dengan strategi Tata Kelola Proses dan Pengelolaan Limbah diharapkan akan menghasilkan produk yang kompetitif dan memberi perhatian terhadap aspek lingkungan menuju ecoefisiensi serta bertujuan menyediakan produk dan jasa dengan harga kompetitif, memberikan kepuasan terhadap kebutuhan manusia dan meningkatkan kualitas kehidupan dengan mengurangi dampak lingkungan dan pemakaian sumberdaya melalui daur hidup (life cycle), serta memperhatikan daya dukung lingkungan.
Peluang-peluang Tata Kelola Proses dan Pengelolaan Limbah yang dapat diterapkan pada proses industri kain jumputan antara lain dalam hal pengaturan dalam perencanaan, perubahan dalam input bahan, perubahan dalam proses produksi, penggunaan tata kerumah tanggaan, dan pengolahan limbah yang efisien. Tata Kelola Proses dan Pengelolaan Limbah dapat dicermati mulai dari awal proses pembuatan hingga menjadi barang jadi (produk).
Aplikasi Tata Kelola Proses dapat dilakukan melalui perencanaan dan penggunaan metode yang tepat dalam proses produksi, memodifikasi peralatan yang ergonomis dan Pengelolaan Limbah ini dalam lokasi proses produksi.
B. Tujuan dan Manfaat
Dengan mempertimbangkan efisiensi dengan melakukan pengelolaan internal yang lebih baik diharapkan dapat tercapainya:
1. Efisiensi penggunaan energi dan air sehingga dapat menekan biaya produksi
2. Tersusunnya tata laksana rumah tangga yang baik (good housekeeping) yaitu perubahan manajemen tata laksana rumah tangga industri dengan tujuan untuk mencegah timbulan limbah dan efisiensi biaya produksi.
3. Merencanakan teknologi proses yang ergonomis dan pengendalian proses dengan memodifikasi peralatan guna peningkatan optimisasi proses
4. Melakukan perancangan pengolahan limbah cair dengan teknologi sederhana serta biaya investasi pengolahan limbah yang rendah, sehingga tidak menimbulkan biaya operasional yang tinggi akan tetapi dapat meminimalisir dampak terhadap pencemaran lingkungan.
5. Melakukan upaya yang memungkinkan limbah padat yang dihasilkan dapat digunakan digunakan kembali atau sebagai diversifikasi produk
C. Tinjauan Pustaka
Teknik jumputan pada dasarnya adalah suatu proses pencelupan, yaitu sebagian kain diikat rapat menurut pola tertentu sebelum dilakukan pencelupan atau dyeing dengan zat warna. Dengan demikian bagian- bagian yang diikat tidak terkena celupan dan pada bagian tersebut terbentuklah motif hias jumputan yang sangat khas.
Jumputan dapat dilakukan dengan cara mengisi kain, mengikat dan melipat kain dengan cara tertentu, kemudian mencelup dalam larutan zat warna yang akan membentuk ikatan reaksi antara serat tekstil dan zat warnanya, sehingga terciptalah suatu motif pada kain tersebut. Perbedaan cara mengisi, melipat, dan mengikat kain akan menghasilkan warna dan motif yang berbeda. Dalam pembuatan kain jumputan terdapat berbagai motif teknik ikat dasar diantaranya: teknik ikatan tunggal, teknik ikatan silang, teknik ikatan konsentris, teknik ikatangaris, teknik pengerutan (marbing), teknik ikatan ganda, teknik mengikat benda dan teknik jelujur
Tata kelola proses atau Good housekeeping merupakan tata kelola internal yang baik yang meliputi rasionalisasi pemakaian bahan baku, air, energi, mengurangi jumlah atau toksisitas limbah serta memperbaiki kondisi kerja dan keselamatan kerja. Implementasi teknik good housekeeping ini serta dapat mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan.
Tata kelola proses yang ergonomis mempertimbangkan unsur manusia dalam perancangan objek, prosedur kerja dan lingkungan kerja dengan mempelajari hubungan manusia, pekerjaan dan fasilitas pendukungnya, dengan harapan dapat sedini mungkin mencegah kelelahan yang terjadi akibat sikap atau posisi kerja yang tidak sesuai guna meningkatkan produktivitas kerja manusia untuk mencapai tujuan yang efektif, sehat, aman dan nyaman (Cormick dan Sanders, 1992).
110 Tata kelola internal dapat dilakukan dengan menerapkan produksi bersih yang merupakan bagian dari konsep produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Dengan menggunakan metodologi dan tekhnologi bersih diharapkan suatu kegiatan operasional dapat menghasilkan produk akhir yang lebih berkualitas, dapat mendaur ulang sumber daya bahan baku dan dapat memanfaatkan produk samping ((Kementrian Lingkungan Hidup, 2003)
Setiap jenis industri mempunyai karakteristik limbah cair yang spesifik, yang berbeda dengan jenis industri lainnya, walaupun mungkin suatu jenis industri mempunyai beberapa parameter pencemar yang sama dengan industri lainnya. Berdasarkan karakteristik limbah cair industri kain jumputan alternatif pengolahan dapat dilakukan dengan cara:
1. Ekualisasi: penampungan limbah guna meredam fluktuasi karakteristik air limbahsehingga karakteristik air limbah relatif konstan.
2. Pengolahan fisik-kimia: obyek yang akan dibuang dibuat lebih besar ukurannya dengan menambahkan koagulan dan flokulan polymer.
3. Aerasi: air limbah setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi dan sebelum dibuang ke lingkungan ditambahkan udara menggunakan aerator agar oksigen terlarut dalam air limbah semakin besar
D. Metode Penelitian
Dalam perancangan yang dilakukan merupakan desain low cost yang berorientasi pada desain teknologi tepat guna namun memiliki kemampuan untuk pengolahan limbah yang optimal dan memenuhi baku mutu serta peralatan proses produksi dengan efisiensi penggunaan energi, air sehingga mengurangi limbah cair yang dihasilkan.
Adapun blok diagram penelitian seperti terlihat pada Gambar 1
Gambar 1 : Blok diagram penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian untuk dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan air sehingga dapat menekan biaya produksi serta upaya pengolahan limbah cair maka dilakukan perancangan disain sebagai berikut:
Pengamatan proses produksi
Pencatatan Penggunaan air, bahan baku dan bahan tambahan
Permasalahan Inefisiensi Limbah Cair
Kajian Penyempurnaan/
Perbaikan Proses Produksi Kajian Pengolahan limbah
Produksi Batik Jumputan Ekonomis dan Ramah
Lingkungan Efisien
1. Disain peralatan proses
Merancang peralatan kerja atau proses guna meningkatkan produktivitas kerja yang efektif, sehat, aman dan nyaman dengan memperhatikan gerakan tubuh manusia dilihat dari aspek biomechanics dengan tujuan untuk menghindarkan manusia melakukan gerakan kerja yang tidak sesuai, tidak beraturan dan tidak memenuhi persyaratan efektivitas efisiensi gerakan.
Gambar 2: Disain peralatan kerja/proses 2. Disain Pengolahan Air Limbah
Melakukan perancangan unit pengolahan limbah cair dengan teknologi sederhana serta biaya investasi rendah, sehingga tidak menimbulkan biaya operasional yang tinggi akan tetapi dapat meminimalisir dampak terhadap pencemaran lingkungan.
Gambar 3: Disain Pengolahan Air Limbah
112 E. Hasil Penelitian
1. Hasil Survey dan Evaluasi Tata Kelola Internal
Dampak Rekomendasi
Lokasi Tersebar dibeberapa tempat
sesuai tempat tinggal Berpotensi timbulnya pencemaran di beberapa tempat
Kegiatan yang
dilakukan bukan merupakan kegiatan poko, lokasi sudah baik Safety proses Pengrajin sudah
menggunakan APD Dampak telah
terminimalisir Perlu ditingkatkan pemahamannya
Manajemen
bahan proses Penyimpanan bahan kimia belum sesuai
Belum dilakukan manajemen bahan
Belum dilakukan pencatatan bahan kimia yang dipergunakan
Untuk bahan kimia yang higroskopis akan berpengaruh terhadap konsentrasinya
Untuk bahan pewarna yang mudah teroksidasi akan berpengaruh terhadap kualitas warna
Bahan kimia kedaluwarsa akan menjadi limbah
Penyimpanan bahan kimia
menggunakan tempat yang sesuai (botol coklat)
Dilakukan pencatatan bahan untuk mengetahui batas kedaluwarsanya
Sistem proses Belum adanya alat proses yang memenuhi standard ergonomis
Penggunaan air belum efisien
Waktu proses belum efisien
Timbulnya dampak kelelahan terhadap pekerja
Kuantitas limbah menjadi lebih besar
Dirancang peralatan proses yang ergonomis
Dirancang peralatan proses dengan hemat penggunaan air Pengolahan
limbah Limbah padat belum dimanfaatkan
Limbah cair sudah dilakukan pengolahan namun belum optimal
Pencemaran akibat limbah padat
Masih terbentuknya limbah cair dan berpotensi terhadap pencemaran lingkungan
Pemanfaatan limbah padat sebagai diversifikasi produk
Dirancang peralatan pengolahan limbah portable yang lebih optimal Tabel 1: Hasil Survey dan Evaluasi Tata Kelola Internal (sumber : data primer)
2. Data Hasil Kinerja Proses
Jenis Proses Total waktu proses Total limbah padat Total limbah cair
Pewarnaan Naphtol 35 menit 12, 3 gram 18,95 liter
Pewarnaan Indigosol 25 menit 12,3 gram 14,101 liter
Tabel 2: Hasil Kinerja Proses (sumber: data primer)
3. Data Analisa Limbah Awal
Analisa air limbah awal bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kualitas air limbah yang belum dilakukan pengolahan dan dibandingkan dengan standar baku mutu
Parameter Pewarnaan Naphtol
Pewarnaan Indigosol
Cucian Naphtol
Cucian Indogosol
Gabungan Baku Mutu Per Gub DIY No.7 Th. 2010
pH 6,5 4,5 6,5 6,5 5,5 6 – 9
Warna 477 127 477 108 342 -
COD 251,0 753,0 216 653 520 100
BOD 122,99 377 240,5 314 254,8 50
TDS 139 237 139 218 215 1000
TSS 488 424 324 376 488 50
Suhu 19 19 19 19 19 ± 3o C thd suhu
udara Tabel 3. Hasil Analisa Limbah Awal (sumber: data primer)
Dari hasil analisa limbah hasil proses menunjukkan bahwa hamper seluruh parameter uji tidak memenuhi persyaratan sesuai baku mutu peraturan Gubernur DIY No. 7 Tahun 2010 dan berpotensi terjadinya pencemaran terhadap tanah maupun air tanah.
4. Efisiensi Penggunaan Peralatan Proses Ergonomis
Hasil perancangan alat proses setelah diaplikasikan menunjukkan data sebagai berikut :
Jenis Proses Total waktu proses Sebelum aplikasi
Total waktu proses Sesudah aplikasi
Efisiensi Waktu (%)
Pewarnaan Naphtol 35 menit 15,2 menit 56,57
Pewarnaan Indigosol 25 menit 10,575 menit 57,70
Tabel 4: Efisiensi Waktu Proses (data primer) Jenis Proses Total Limbah Cair
Sebelum aplikasi Total Limbah Cair
Sesudah aplikasi Efisiensi Air (%)
Pewarnaan Naphtol 18,95 liter 15,83 16,46
Pewarnaan Indigosol 14,101 liter 11,86 15,89
Tabel 5: Efisiensi Penggunaan Air (data primer)
Hasil aplikasi rancangan alat proses yang ergonomis menunjukkan bahwa terjadi efisiensi waktu rata-rata sebesar 57,135% dan efisiensi penggunaan air sebesar 16,175%, sehingga terjadi efisiensi penggunaan energi dan efektifitas kinerja pengrajin, dengan adanya efisiensi penggunaan air akan mengurangi limbah yang dihasilkan sehingga mengurangi biaya pengolahan air limbah.
114 5. Data Hasil Aplikasi Pengolahan Limbah
Hasil uji jar tes diaplikasikan menggunakan peralatan hasil rancangan menggunakan limbah pewarnaan dan pencucian Naphtol
Kondisi proses:
Volume limbah: 15 liter, Pengadukan Cepat: 500 rpm, waktu: 1 menit, Pengadukan Lambat: 75 rpm, waktu: 5 menit, Volume penambahan NaOH: 180 ml, Konsentrasi NaOH: 20 %, Volume penambahan Tawas: 300 ml, Konsentrasi Tawas: 5 %, Jumlah penambahan Superflok Kation 0,1 %: 120 ml
Tabel 6: hasil uji aplikasi pengolahan limbah
Parameter Satuan Limbah Awal Limbah
Akhir Efisiensi
(%) Keterangan
pH - 6,5 7,0 - memenuhi baku mutu
Warna PtCo 477 34 92,87 -
COD mg/L 251,0 81,74 67,43 memenuhi baku mutu
BOD mg/L 122,99 30,37 75,31 memenuhi baku mutu
TSS mg/L 139 34 75,54 memenuhi baku mutu
TDS mg/L 488 172 64,75 memenuhi baku mutu
Suhu oC 19 18 - memenuhi baku mutu
Dari tabel 6 hasil uji aplikasi pengolahan limbah pewarnaan dan pencucian Naphtol menggunakan peralatan hasil perancangan menunjukkan bahwa hasil seluruh parameter uji telah memenuhi baku mutu sesuai peraturan Gubernur DIY No. 7 Tahun 2010.
6. Analisis Biaya Operasional IPAL
Analisis biaya operasional merupakan biaya yang dimbulkan dari biaya penggunaan bahan-bahan kimia sedangkan biaya tenaga tidak diperhitungkan mengingat tidak memerlukan energi listrik.
Biaya penggunaan bahan kimia untuk setiap kali proses (15 liter limbah) sebagai berikut : 1. Soda api(NaOH) : 180 ml x 20 gram/100 ml x Rp 10.000,-/1000 gram = Rp 360,- 2. Koagulan (Al2(SO4)3) : 300 ml x 5 gram/100 ml x Rp 18.000/1000 gr am = Rp 270,- 3. Super flox kation : 120 ml x 0,1 gram/100 ml x Rp 80.000,-/1000 gram = Rp 9,6,-
--- Jumlah = Rp 639,6,-
7. Analisis Keuntungan Pemanfaatan Limbah Padat
Analisis keuntungan didasarkan asumsi bahwa limbah padat berupa tali pengikat dimanfaatkan untuk diversifikasi produk, komponen biaya didasarkan atas komponen tenaga dan bahan pembantu.
1. Jumlah limbah padat setiap kali proses = 12,3 gram
2. Kebutuhan limbah padat per produk = 44,29 gram (3,6 proses)
3. Harga jual produk = Rp 35.000,-
4. Biaya = Rp 18.700,-
5. Keutungan setiap proses = (Rp 35.000,- - Rp 18.700,-) : 3,6
= Rp 4.528,- F. Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan
1. Belum dilakukan manajemen bahan/pencatatan bahan kimia yang dipergunakan guna meminimalisir bahan-bahan kadaluwarsa
2. Pengrajin telah menggunakan APD guna meminimalisir dampak bahan kimia terhadap pekerja 3. Belum tersedianya alat proses yang memenuhi standard ergonomis serta penggunaan air belum efisien 4. Belum termanfaatkannya limbah padat yang terbentuk untuk diversifikasi produk, untuk limbah cair
telah dilakukan pengolahan namun belum optimal
5. Hasil aplikasi rancangan alat proses yang ergonomis menunjukkan bahwa terjadi efisiensi waktu rata- rata sebesar 57,135% dan efisiensi penggunaan air sebesar 16,175%, sehingga terjadi efisiensi penggunaan energi dan efektifitas kinerja pengrajin, dengan adanya efisiensi penggunaan air akan mengurangi limbah yang dihasilkan sehingga mengurangi biaya pengolahan air limbah.
6. Daur ulang limbah padat sebagai diversifikasi produk akan memberikan keuntungan signifikan dan dapat menutup biaya pengolahan air limbah dengan keuntungan sebesar Rp 4.528,- setiap kali proses.
Rekomendasi
Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam rangka meningkatkan daya saing produk, meminimalisir dampak pencemaran serta meningkatkan ekonomi masyarakat perlu dukungan berbagai pihak.
Adapun rekomendasi kebijakan yang bisa dibuat adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah kota melalui Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta untuk melakukan pemantauan secara rutin terhadap aktivitas pengrajin kain jumputan yang tersebar diberbagai wilayah mengingat limbah yang dihasilkan berpotensi menimbulkan pencemaran dan melakukan pembinaan untuk melakukan pengolahan limbah cair dan pemanfaatan limbah padat yang dihasilkan.
2. Balai Besar Batik dan Kerajinan untuk melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada pengrajin berkaitan dengan pelurusan penggunaan nama Batik Jumputan yang lebih tepat atau sesuai
3. Pemerintah kota melalui Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (KPMP) untuk melakukan pembinaan, pendampingan serta pengembangan pemberdayaan perempuan
4. Dinas Kesehatan kota Yogyakarta untuk melakukan monitoring dan sosialisasi pentingnya melakukan pencegahan dampak penggunaan bahan pewarna sintetik terhadap kesehatan, mengingat pengrajin merupakan kaum perempuan yang rentan terhadap bahan-bahan karsinogenik.
Daftar Pustaka
Anonim. 1997. Perencanaan Teknik Pengelolaan Pencemaran Industri Sekala Kecil Sentra Batik DIY. Balai Besar Penelitian dan Perkembangan Industri Kerajinan dan Batik. Yogyakarta
Cheremisinoff N.Paul, 1995. Handbook of Water and Wastewater Treatment Technology, Marcel Dekker Inc, New Jersey, 1995 Inc, New Jersey.
Droste, Ronald L., 1997. Theory and Practice of Water and WastewaterTreatment, John Wiley & Sons, Inc.
Freeman, H.M. Hazardous Waste Minimization. Mc. Graw Hill Publishing Co., Singapore, 1990.
Parker W. Homer, 1975. Wastewater System Engineering, Prentice-Hall Inc, New Jersey.
116 Pheasant, S. T., 1988. Anthropometry Ergonomics and Design. London: Taylor and Farncis.
Potter, C. et al Limbah Cair Berbagai Industri di Indonesia, Sumber, Pengendalian dan Baku Mutu EMDI- BAPEDAL, Project of The Ministry of State for Environment, Republic of Indonesia and Dalhousie University, Canada, Jakarta, 1994.
Prasetyo W., Bagas, 2000. Evaluasi Ergonomi dalam Desain. Surabaya: Proceeding Seminar Nasional Ergonomi, Jurusan TI – ITS.
Riyanto, Pamungkas, W., dan Muhammad Amin Ja’far. 1997. Katalog Batik Indonesia. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik. Proyek Pengembangan dan Pelayanan Teknologi Industri Kerajinan dan Batik. Yogyakarta.
Sanders, Ms. and Mc. Cormick, Ernest J., 1992. Human Factors in Engineering and Design. New York: Mc. Graw- Hill Book Co.
Sulaeman. 2004. Manfaat Penerapan Produksi bersih pada Industri Batik. Majalah Mitra Lingkungan. Jakarta. Edisi September 2004.
Sulaeman. 2006. Kebutuhan Air, Enerji, Zat Warna Dan Zat Pembantu Untuk Pembuatan 1 Meter Kain Batik Dari Mori. Balai Kerajinan dan Batik Yogyakarta.
Susanto, S.K. Sewan. 1981. Teknologi Batik Seri Soga Batik. Departemen Perindustrian R.I. Badan Penelitian Dan Pengembangan Industri. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik.
Yogyakarta.
Sutalaksana, et al., 1979. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: Jurusan TI – ITB.
Sutalaksana, Iftikar Z., 2000. Duduk, Berdiri dan Ketenagakerjaan Indonesia. Surabaya: Proceedings Seminar Nasional Ergonomi, Jurusan TI – ITS.
Tchobanoglous, George, 1991. Wastewater Engineering, Treatment, Disposal,and Reuse, 3rd edition, Metcalf &
Eddy, Inc. McGraw-Hill, Inc. New York.
Tjokrokusumo, KRT. 1995. Pengantar Konsep Teknologi Bersih. Yogyakarta: Sekolah Tinggi teknik Lingkungan YLH.