• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

38 BAB III

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Di penghujung pencapaian visi pembangunan jangka menengah Kabupaten Kebumen tahun 2010-2015 dimana arah pembangunan Pemerintah Kabupaten Kebumen dengan visi yaitu “Kebumen yang Modern, Berkepribadian, Makmur dan Sejahtera” menjadi upaya sangat krusial dengan memetakan program dan kegiatan mana saja yang sudah tercapai/ terlaksana dengan baik dan program dan kegiatan mana yang belum tercapai, inilah yang harus difokuskan untuk pencapaiannya. Di sisi lain kemampuan keuangan yang terbatas, maka Pemerintah Daerah di dalam pengelolaan keuangan daerah dituntut untuk ekonomis, efisien dan efektif, hal ini dapat dilaksanakan melalui tata kelola pemerintahan yang baik yaitu pemerintahan yang mengedepankan tiga pilar utama transparansi, akuntabilitas dan partisipatif.

Transparansi diartikan dimungkinkannya semua stakeholders dapat melihat struktur dan fungsi pemerintahan, tujuan dari kebijakan dan proyeksi fiskalnya, serta pertanggungjawaban periode yang lalu.

Akuntabilitas mengandung arti pertanggungjawaban. Partisipatif ditandai dengan proses perencanaan pembangunan memungkinkan keterlibatan masyarakat dalam menentukan program dan kegiatan yang akan direncanakan dan dilaksanakan. Proses transparansi, akuntabilitas dan partisipatif dalam pengelolaan keuangan telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen mulai dari perencanaan hingga pertanggungjawaban dengan melibatkan para stakeholer dan publikasi melalui media komunikasi dengan program “Selamat Siang Kebumen” melalui media Ratih TV dan Radio IN FM. Publikasi melalui media cetak terhadap APBD, perubahan APBD, dan pertanggungjawaban APBD.

Pengelolaan keuangan daerah yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan

(2)

39 pengawasan dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi dan diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan pertanggungjawaban APBD yang setiap tahunnya ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Dari sisi ekonomi makro, kondisi perekonomian pada tahun 2013 mengalami kenaikan dibandingkan kondisi perekonomian tahun 2012, untuk Kabupaten Kebumen pertumbuhan ekonomi meningkat dari 4,23%

di tahun 2012 menjadi 5,47% pada tahun 2013. Nilai PDRB Kabupaten Kebumen pada tahun 2013 atas dasar harga berlaku sebesar Rp7.904.610.000.000,00 atau naik 10,98% dibanding nilai PDRB tahun 2012 sebesar Rp7.122.249.810.000,00 dan Nilai PDRB tahun 2013 atas harga konstan tahun 2000 sebesar Rp3.238.340.000.000,00, naik 10,55%

dari nilai PDRB tahun 2012 sebesar Rp3.070.381.160.000,00.

PDRB Kabupaten Kebumen Tahun 2013 ditopang oleh sektor- sektor ekonomi dominan yaitu sektor pertanian 37,01 %, sektor jasa-jasa 20,68%, sektor perdagangan, hotel dan restoran 11,21% dan sektor industri pengolahan 9,99%. Sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik regional bruto, hal ini menunjukkan Kabupaten Kebumen merupakan daerah agraris dan tahun 2013 terjadi peningkatan dimana sektor pertanian tahun 2012 sebesar 36,82%.

Salah satu tantangan Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam mewujudkan visi Kebumen adalah Kebumen yang makmur dan sejahtera.

Untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat telah dilakukan berbagai langkah secara intensif dan efektif pada tahun 2014 seperti untuk menanggulangi kemiskinan melalui peningkatan pelayanan pendidikan seperti disalurkannya bantuan keuangan sosial pendidikan untuk siswa kurang mampu dengan anggaran sebesar Rp3.740.000.000,00 yang terdiri dari Rp3.200.000.000,00 dari Pemerintah Kabupaten Kebumen dan Rp540.000.000,00 dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah. Pelayanan kesehatan seperti penyediaan anggaran Jamkesda sebesar Rp2.800.000.000,00 meningkat 75% dibanding Tahun 2013 sebesar

(3)

40 Rp1.600.000.000,00 untuk berobat warga miskin yang tidak masuk pada quota Jamkesmas yang dikelola oleh RSUD dan Dinas Kesehatan serta pemenuhan kebutuhan pangan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam peningkatan kesejahteraan di bidang ketenagakerjaan adalah mengurangi pengangguran terbuka di Kabupaten Kebumen yang cukup tinggi dan mempunyai kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun, dilakukan peningkatan penyediaan informasi pasar kerja dan akses pasar kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan pasar, monitoring dan evaluasi bursa kerja. Upaya lain adalah dengan meningkatkan kesempatan kerja dan perlindungan kerja, serta meningkatkan fungsi Balai Latihan Kerja.

Untuk pencapaian tujuan pembangunan dalam kerangka mensejahterakan masyarakat dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki, maka dalam menyusun APBD Tahun Anggaran 2014 didasarkan pada Kebijakan Umum APBD dengan menentukan prioritas pembangunan yang dilaksanakan pada tahun tersebut. Kebijakan Umum APBD Kabupaten Kebumen Tahun Anggaran 2014 memuat komponen pelayanan dan tingkat pencapaian yang diharapkan pada setiap bidang kewenangan daerah yang akan dilaksanakan dalam satu tahun anggaran.

Komponen dan kinerja pelayanan berdasarkan aspirasi masyarakat, dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan daerah termasuk kinerja pelayanan yang telah dicapai dalam tahun-tahun anggaran sebelumnya serta tingkat permasalahan yang dihadapi.

Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2014 disusun untuk menjadi pijakan APBD dimana arah Kebijakan Umum APBD mengacu kepada misi Bupati dan Wakil Bupati Kebumen yaitu :

1. Mewujudkan tata pemerintahan yang berpihak kepada rakyat;

2. Membina dan melestarikan kehidupan sosial kemasyarakatan yang agamis dan berbudaya;

(4)

41 3. Mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan potensi daerah untuk

kemakmuran rakyat; dan

4. Memperluas jaringan sosial ekonomi secara nasional maupun internasional, demi kesejahteraan.

Kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Kebumen ditempuh melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, pertanian, pariwisata, perdagangan dan industri, penataan ruang dan reformasi birokrasi masing-masing sesuai dengan prioritas yang ditetapkan.

Kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Kebumen Tahun 2014 merupakan hasil evaluasi dari permasalahan dan pencapaian pembangunan tahun-tahun sebelumnya dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi pada Tahun 2014. Berdasarkan kajian tersebut maka tema pembangunan Kabupaten Kebumen Tahun 2014 adalah “Revitalisasi Ekonomi dan Peningkatan Daya Saing Daerah dalam rangka Percepatan Upaya Penanggulangan Kemiskinan” yang meliputi :

a. Revitalisasi ekonomi dilaksanakan melalui penguatan pertanian dan pengembangan pariwisata serta peningkatan sektor industri dan usaha mikro kecil menengah; dan

b. Peningkatan daya saing daerah diupayakan dengan peningkatan sumberdaya manusia termasuk aparatur, penguatan infrastruktur dasar serta peningkatan pelayanan publik;

Melalui revitalisasi ekonomi dan peningkatan daya saing daerah, diharapkan mampu mendorong tumbuhnya perekonomian daerah melalui peningkatan investasi yang masuk ke daerah, khususnya pada sektor riil, sehingga lapangan kerja akan semakin meningkat, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah merupakan alat yang diharapkan menjamin terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan dengan kebijakan pendapatan dan belanja daerah.

(5)

42 Proses penyusunan APBD pada dasarnya bertujuan untuk menyelaraskan kebijakan ekonomi makro dan sumber daya yang tersedia, mengalokasikan sumber daya secara tepat sesuai kebijakan pemerintah maupun pemerintah daerah dan mempersiapkan kondisi bagi pelaksanaan pengelolaan anggaran secara baik.

Untuk mencapai hal tersebut, maka beberapa prinsip dalam pengelolaan keuangan yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran daerah antara lain:

1. Pendapatan yang direncanakan didasarkan pada potensi yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja;

2. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang belum tersedia atau tidak mencukupi anggarannya dalam APBD/Perubahan APBD; dan

3. Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening Kas Umum Daerah.

Pada proses berikutnya pelaksanaan APBD, estimasi pendapatan daerah harus dikelola dengan baik sehingga pencapaian target dapat terealisasi secara optimal sebagai penopang pembangunan daerah dan pelayanan masyarakat, akan tetapi tidak memberatkan masyarakat.

Belanja daerah harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk dapat menghasilkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan yang optimal guna kepentingan masyarakat dengan melaksanakan “Revitalisasi Ekonomi dan Peningkatan Daya Saing Daerah dalam rangka Percepatan Upaya Penanggulangan Kemiskinan” yang bermuara pada pencapaian visi pembangunan jangka menengah Kabupaten Kebumen tahun 2010-2015 yaitu “Kebumen yang Modern, Berkepribadian, Makmur dan Sejahtera”.

(6)

43 A. Pengelolaan Pendapatan Daerah

Perencanaan pendapatan daerah dilakukan melalui optimalisasi pendapatan daerah dengan tetap memperhatikan efektivitas dan efisiensi pemungutannya serta mendapat dukungan dari masyarakat yang dilakukan secara terencana, dengan memperhatikan kondisi perkembangan perekonomian dan segala aspek kendala, potensi dan cakupan pelayanan yang ada sehingga tidak membebani masyarakat dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Hal ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan kemandirian daerah dalam penyediaan anggaran. Penyediaan anggaran daerah setiap tahunnya atau pembiayaan mandiri (Self Financing) diharapkan semakin meningkat sehingga tingkat ketergantungan terhadap dana perimbangan semakin tahun akan semakin berkurang.

Peningkatan kemandirian dalam rangka mendukung penyediaan anggaran pembangunan daerah merupakan kebijakan dalam perencanaan pendapatan daerah. Rasionalisasi pungutan pajak dan retribusi yang dipandang dapat menggairahkan dunia usaha masyarakat luas khususnya dalam menunjang produk unggulan daerah yang berorientasi pasar, baik domestik maupun ekspor terus diupayakan dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian dalam rangka menggerakkan perekonomian daerah terutama pada sektor riil, Pemerintah Daerah mengupayakan dengan tidak lagi menambah beban masyarakat yang berimplikasi negatif yaitu pada proses perdagangan lokal yang dilaksanakan pada sektor riil terutama pada pelaku ekonomi kecil dan pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan inflasi.

Penyiapan anggaran untuk pelaksanaan pembangunan dilaksanakan dengan perencanaan penerimaan pendapatan yang tepat, perkiraan terukur, rasional serta memiliki kepastian hukum. Untuk menjaga kesinambungan kemampuan fiskal daerah, Penetapan pendapatan dengan pendekatan hard budget constraint terus

(7)

44 dikembangkan. Potensi pendapatan daerah merupakan pertimbangan utama, identifikasi pendapatan dengan tepat dilakukan terlebih dahulu baru kemudian menentukan pengeluaran sesuai dengan prinsip money follow function.

Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah yang menambah ekuitas dana lancar yang merupakan hak pemerintah daerah dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Sehubungan dengan hal tersebut, pendapatan daerah yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan. Seluruh pendapatan daerah yang dianggarkan dalam APBD dianggarkan secara bruto, yang mempunyai makna bahwa jumlah pendapatan yang dianggarkan tidak boleh dikurangi dengan belanja yang digunakan dalam rangka menghasilkan pendapatan tersebut dan/atau dikurangi dengan bagian pemerintah pusat/daerah lain dalam rangka bagi hasil.

Pendapatan Daerah Kabupaten Kebumen Tahun Anggaran 2014 terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Pendapatan Transfer dan Lain-lain Pendapatan yang sah. Pendapatan Asli Daerah terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.

Pendapatan Transfer berasal dari Transfer Pemerintah Pusat (Dana Perimbangan) berasal dari Bagi Hasil Pajak/ Bukan Pajak, (Sumber Daya Alam), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Sedangkan Transfer dari Pemerintah Provinsi berasal dari Pendapatan Bagi Hasil Pajak. Untuk Lain-Lain Pendapatan yang Sah berasal dari Pendapatan Hibah dan Pendapatan Lainnya.

Pendapatan Asli Daerah diperoleh dari pajak dan retribusi didasarkan pada peraturan daerah yang dikelola oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah penghasil pendapatan, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah

(8)

45 diantaranya Pendapatan dari Badan layanan Umum (BLU), optimalisasi manajemen kas, dan pemanfaatan fasilitas umum.

Pendapatan dari bagian Transfer Pemerintah Pusat (Dana Perimbangan) dan Lain-lain Pendapatan yang Sah ditentukan dari pemerintah di tingkat atasnya berdasarkan keputusan, perhitungan atau proporsi yang telah ditentukan dari pemberi dana. Setiap tahun pemerintah daerah diminta mengirimkan realisasi belanja dan gaji semester pertama tahun sebelumnya serta mengisi format yang telah ditentukan oleh pemerintah guna penghitungan alokasi DAU .

1. Strategi Pengelolaan Pendapatan Daerah

Dalam otonomi daerah, aspek yang paling penting sebenarnya bukan hanya pada bagaimana pendapatan dapat terus ditingkatkan, tetapi juga bagaimana pengelolaan pendapatan itu sehingga masyarakat memperoleh kepuasan yang tinggi terhadap pelayanan publik yang diberikan oleh Pemerintah Daerah. Oleh karenanya peningkatan pendapatan daerah untuk meningkatkan pelayanan publik dilaksanakan salah satunya dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah.

Kebijakan pendapatan daerah tahun 2014 diarahkan melalui upaya peningkatan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, pendapatan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, dana perimbangan, bagi hasil pajak propinsi, bantuan propinsi dan lain-lain pendapatan yang sah.

Upaya – upaya yang dilakukan oleh Pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan daerah antara lain :

a) Meningkatkan pendapatan daerah dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan, khususnya yang bersumber dari pajak dan retribusi daerah melalui usaha daerah dan pendayagunaan aset daerah, dengan tetap menjaga agar peningkatan penerimaan pajak dan retribusi daerah tersebut, tidak menambah beban masyarakat dan

(9)

46 tidak menimbulkan distorsi ekonomi baik jangka pendek maupun jangka panjang;

b) Meningkatkan kinerja Badan Usaha Milik Daerah dalam upaya peningkatan kontribusi secara signifikan terhadap pendapatan daerah;

c) Memantapkan kelembagaan dan sistem operasional pemungutan pendapatan daerah. Upaya ini dilaksanakan melalui peningkatan kemampuan dan optimalisasi organisasi di bidang pendapatan atau organisasi penghasil, antara lain dengan memberikan kewenangan yang lebih luas dalam mengoptimalkan perolehan pendapatan daerah;

d) Meningkatkan koordinasi secara sinergis di bidang pendapatan daerah dengan pemerintah pusat, provinsi dan SKPD penghasil; dan

e) Meningkatkan pengelolaan aset dan keuangan daerah.

Strategi pengelolaan pendapatan daerah diupayakan secara profesional dengan pengawasam terhadap para pengelola pendapatan, sehingga perolehan pendapatan daerah yang disetor ke Kas Daerah memenuhi prinsip tepat waktu dan tepat jumlah. Disisi lain dilakukan koordinasi dan evaluasi secara berkala terhadap pencapaian pendapatan daerah untuk meningkatkan kinerja pendapatan daerah dan mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan pendapatan daerah.

2. Target dan Realisasi Pendapatan

Penetapan target atau estimasi Pendapatan Daerah untuk komponen Pendapaatn Asli Daerah didasarkan pada potensi dan perhitungan secara riil atas Pendapatan Daerah baik Pajak Daerah, Retribusi Daerah, pendapatan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Komponen Pendapatan Transfer mengacu pada pagu yang ditetapkan oleh pemerintah, sedangkan bagi hasil pajak propinsi, bantuan propinsi dan lain-lain pendapatan yang sah mengacu pada potensi pajak propinsi dan alokasi dari pemerintah propinsi sesuai yang tertuang dalam APBD Propinsi Jawa Tengah setiap tahunnya.

(10)

47 Adapun Anggaran Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2013 sebesar Rp1.599.628.126.000,00 dengan realisasi sebesar Rp1.626.520.746.021,00 atau 101,68%. Sedangkan Anggaran Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp1.875.551.127.000,00 dengan realisasi sebesar Rp1.967.047.779.137,00 atau 104,88% dengan perincian sebagai berikut :

No. URAIAN ANGGARAN

(Rp) REALISASI

(Rp)

1. PENDAPATAN ASLI DAERAH 163.586.346.000 242.079.502.075

a. Pajak daerah 40.347.610.000 46.312.651.913

b. Retribusi daerah 35.486.648.000 43.343.968.696 c. Pengelolaan kekayaan daerah

Yang dipisahkan 7.918.783.000 8.008.929.340

d. Lain-lain Pendapatan Asli

Daerah yg sah 79.833.305.000 144.413.952.126

2. PENDAPATAN TRANSFER 1.582.819.928.000 1.594.807.402.099 a. Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak 26.362.854.000 27.498.627.950 c. Dana Alokasi Umum 1.125.568.884.000 1.125.568.884.000 d. Dana Alokasi Khusus 80.709.170.000 80.709.170.000 e. Transfer Pemerintah Provinsi 58.926.366.000 69.778.066.149 f. Dana Penyesuaian 291.252.654.000 291.252.654.000 3. LAIN-LAIN PENDAPATAN

YANG SAH

129.144.853.000 130.160.874.963

a. Pendapatan Hibah 0 1.038.000.000

b. Pendapatan Lainnya 129.144.853.000 129.122.874.963 JUMLAH PENDAPATAN DAERAH 1.875.551.127.000 1.967.047.779.137

Sumber Data : Dinas PPKAD Kab. Kebumen, 2014

Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2014 dapat melampaui target pendapatan yang telah ditentukan yaitu sebesar 104,88

% atau Rp1.967.047.779.137,00 dari target Anggaran Pendapatan Daerah sebesar Rp1.875.551.127.000,00, atau melebihi target sebesar Rp91.496.652.137,00. Dibandingkan dengan Tahun 2013 yang realisasinya Rp1.626.520.746.021,00, maka Tahun 2014 terjadi

(11)

48 peningkatan sebesar 20,94%. Hal ini menunjukkan kinerja pendapatan daerah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Realisasi Pendapatan Asli Daerah Tahun 2014 sebesar Rp242.079.502.075,00 atau 147,98% dari target sebesar Rp163.586.346.000,00 mengalami peningkatan sebesar 84,13%

dibandingkan Tahun 2013 yang realisasinya sebesar Rp131.471.828.502,00. Dengan peningkatan realisasi Pendapatan Asli Daerah ini, kontribusi Pendapatan Asli Daerah Tahun 2014 sebesar 12,31% atau naik dari kontribusi Tahun 2013 yang sebesar 8,08%.

Realisasi Pendapatan Transfer Tahun 2014 sebesar Rp1.594.807.402.099,00 atau 100,76% dari target sebesar Rp1.582.819.928.000,00, apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2012 yang sebesar Rp1.276.155.750.396,00 mengalami peningkatkan sebesar 12,21%. Pada struktur Pendapatan Daerah, pendapatan transfer ini masih memiliki kontribusi yang dominan yaitu sebesar 81,08%.

Realisasi Lain-lain Pendapatan yang Sah Tahun 2014 sebesar Rp130.160.874.963,00 atau 100,79% dari target sebesar Rp129.144.853.000,00 mengalami peningkatan sebesar 76,38%

dibandingkan realisasi tahun 2013 sebesar Rp73.793.245.463,00.

Pelampauan target Lain-lain Pendapatan yang Sah dikarenakan terealisasinya pendapatan hibah air minum yang dianggarkan Rp1.038.000.000,00. Jika dibandingkan dengan total Pendapatan Daerah, kontribusi Lain-lain Pendapatan yang Sah mencapai 6,62%.

3. Permasalahan dan Solusi

Untuk mencapai target pendapatan daerah Pemerintah Kabupaten Kebumen melakukan beberapa langkah kebijakan terpadu yang melibatkan seluruh komponen dalam pendapatan dan pengelolaan keuangan daerah, dengan tetap tidak memberatkan masyarakat dan dunia usaha guna menjaga tingkat konsumsi masyarakat, sehingga pemerintah

(12)

49 mampu mendorong laju pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan laju inflasi daerah. Di sisi lain, Otonomi Daerah telah mendorong daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari potensi pendapatan yang ada.

Namun demikian potensi – potensi penerimaan daerah belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen, karena ada beberapa permasalahan:

a. Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah belum seluruhnya diterapkan di Kabupaten Kebumen, contohnya Retribusi Pengolahan Limbah Cair masih dalam proses penyusunan dan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah.

b. Masih adanya Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang sudah dipungut belum sesuai dengan potensi karena wajib pajak dan retribusi daerah belum mau dan belum mampu membayar sesuai dengan Peraturan Daerah yang ada.

c. Belum optimalnya kesadaran wajib pajak daerah dan retribusi daerah.

d. Belum optimalnya mekanisme/sistim dan prosedur pemungutan karena kualitas sumber daya manusia.

e. Keterbatasan sarana dan prasarana yang tersedia.

f. Belum diterapkannya sanksi yang tegas bagi wajib pajak dan retribusi daerah yang tidak memenuhi ketentuan yang berlaku.

Adapun solusi yang diambil dalam memecahkan permasalahan tersebut adalah :

a. Melakukan penyusunan Peraturan Daerah atas jenis retribusi daerah yang belum diundangkan dalam lembaran daerah sesuai Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

b. Melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan seperti dilakukannya monitoring, evaluasi dan pelaporan terhadap pelaksanaan penerimaan daerah baik Pendapatan Asli Daerah, Pendapatan Transfer maupun Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah.

(13)

50 c. Melakukan pembinaan dan sosialisasi terhadap produk hukum yang berkaitan dengan pajak daerah dan retribusi daerah kepada wajib pajak daerah dan retribusi daerah.

d. Melakukan pendidikan dan pelatihan terhadap petugas/pegawai yang mengelola pajak dan retribusi daerah.

e. Memberikan pemacu kepada petugas pemungut yakni para petugas yang ada pada SKPD pengelola, Pihak Pemerintah Desa untuk penerimaan PBB serta memberikan reward kepada wajib pajak untuk pajak daerah seperti pajak restoran/rumah makan/warung makan.

f. Menambah sarana dan prasarana dalam pelaksanaan pemungutan pajak dan retribusi daerah; dengan menambah fasilitas fisik untuk mendukung pemungutan pajak dan retribusi daerah dan meningkatkan daya tarik terhadap obyek-obyek pemerintah daerah yang menjadi sumber retribusi daerah.

g. Perubahan struktur pada beberapa SKPD pengelola pendapatan guna optimalisais kinerja dan SKPD seperti yang membidangi perijinan untuk memudahkan dan mempercepat proses perijinan yang dipungut retribusinya.

h. Pendataan dan pemutakhiran data Wajib Pajak dan Retribusi, sehingga dapat dihitung potensi pendapatannya.

B. Pengelolaan Belanja Daerah

Daerah dewasa ini diberi keleluasaan (local descretion) dalam pelaksanaan Otonomi daerah. Ditandai dengan diberlakukannya UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang mengamanatkan pemberian otonomi daerah yang lebih luas, nyata dan bertanggungjawab. Hal ini membawa konsekuensi terhadap tanggung jawab dan kemandirian daerah. Pendekatan regional dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat di daerah menjadi dominan. Otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab sebagai prinsip penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah, mendorong daerah untuk

(14)

51 melaksanakan sesuai bidang tugas dan kewenangannya yang erat kaitannya dengan kebutuhan nyata masyarakat dan potensi yang dimiliki daerah.

Otonomi daerah yang luas ini memberikan harapan bahwa kekayaan sumber daya yang dimiliki daerah dapat diolah secara optimal, namun disisi lain terdapat kekhawatiran terhadap kemampuan daerah dalam menggali sumber daya secara berlebihan karena sebagian besar daerah mempunyai kemampuan keuangan yang rendah. Daerah dituntut untuk mampu mengalokasikan anggaran belanja dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah berdasarkan pada kewajiban, kewenangan yang dimiliki dan tujuan daerah yang hendak dicapai.

Untuk mencapai visi pembangunan jangka menengah Kabupaten Kebumen tahun 2010-2015 yaitu “Kebumen yang Modern, Berkepribadian, Makmur dan Sejahtera”. Pemerintah Kabupaten Kebumen akan mengembangkan sektor-sektor unggulan yang menjadi kekuatan kompetisi dengan melihat potensi sumber daya dan karakteristik daerah yang ada.

Belanja Daerah dilaksanakan secara efektif, efisien, dan diarahkan sesuai target kinerja yang akan dicapai dari program/kegiatan dengan mengutamakan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah. Belanja daerah diarahkan untuk mendukung Belanja Aparatur dan Belanja publik yang proporsional.

Merasionalkan belanja sangat penting agar belanja yang dikeluarkan dapat efektif dan efisien. Oleh karena itu formulasi kebijakan umum anggaran belanja daerah diarahkan pada program prioritas, yaitu pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonorni masyarakat yang didukung dengan pembangunan infrastruktur wilayah untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor lainnya.

Belanja daerah merupakan semua pengeluaran kas daerah pada periode tahun anggaran tertentu yang menjadi beban daerah. Belanja daerah diupayakan untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan

(15)

52 masyarakat. Memperhatikan Permendagri 13 Tahun 2006 sebagaimana diubah dengan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007, pasal 36 bahwa belanja menurut kelompok belanja terdiri atas belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

1. Kebijakan Umum Belanja Daerah

Belanja daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penangannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.

Di sisi lain, belanja daerah disusun berdasarkan target kinerja yang ditetapkan dengan tetap berlandaskan pada azas umum pengelolaan keuangan daerah yaitu tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efesien, ekonomis, transparan dan bertanggungjawab serta memperhatikan azas keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat.

Anggaran berbasis kinerja bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran serta memperjelas efektifitas dan efesiensi penggunaan alokasi anggaran. Orientasi dari anggaran berbasis kinerja adalah pencapaian hasil (output dan outcome) dari input yang dimanfaatkan guna pencapaian target kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah masing-masing sebagaimana tugas pokok, fungsi dan kewenangan yang dimiliki.

Kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Kebumen Tahun Anggaran 2014 telah dilakukan sinkronisasi dengan prioritas nasional diantaranya peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia, peningkatan

(16)

53 Prasarana Dasar Wilayah, peningkatan Pelayanan Publik, Kinerja Aparatur dan Penerapan Keterbukaan Informasi Publik, Peningkatan Produksi Pertanian dan Peningkatan Ketahanan Pangan dengan menggunakan pola pembangunan kuota Kecamatan.

Di samping itu dikembangkan secara berkelanjutan pola pemberdayaan masyarakat termasuk dilingkungan unit atau lembaga pendidikan di jajaran sekolah-sekolah khususnya terkait dengan program rehab ringan, rehab berat gedung Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan yang merupakan program bersama antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten. Adapun kendala yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen terutama terbatasnya kemampuan pendanaan daerah.

Dengan sumber daya dan sumber dana yang terbatas, maka Arah Kebijakan Belanja Daerah di fokuskan pada prioritas pembangunan yang disesuaikan dengan prinsip kemendesakan dan kemampuan keuangan daerah.

Belanja tidak langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan pada pemerintahan desa dan belanja tak terduga.

Belanja ini merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

Sedangkan pengalokasian Belanja Langsung diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terutama pendidikan, kesehatan dan infrastruktur pendukungnya. Selain itu, upaya pelayanan kepada masyarakat melalui penerapan tata pemerintahan yang baik juga masih menjadi prioritas yang akan dilaksanakan. Kebijakan Belanja Langsung tersebut diterjemahkan melalui program dan kegiatan dalam Rencana Kerja seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang telah dirangkum dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2014.

(17)

54 2. Target dan Realisasi Belanja Daerah

Anggaran Belanja Daerah Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp2.050.427.145.000,00 terealisasi sebesar Rp1.907.031.888.291,00 atau 93,01% dengan perincian sebagai berikut:

No. URAIAN ANGGARAN

(Rp) REALISASI

(Rp)

1. Belanja Tidak Langsung 1.260.278.942.000 1.179.099.679.995 a. Belanja Pegawai 1.131.221.395.000 1.059.118.686.274

b. Belanja Hibah 17.440.550.000 12.272.363.746

c. Belanja Bantuan Sosial 28.992.973.000 26.485.322.598 e. Belanja Bagi Hasil kepada

Provinsi/ Kabupaten/Kota/

Pemerintah Desa

4.511.711.000 4.422.146.578

f. Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa

77.166.835.000 76.771.160.799

g. Belanja Tak Terduga 945.478.000 30.000.000

2. Belanja Langsung 790.148.203.000 727.932.208.296 a. Belanja Pegawai 55.082.253.000 52.757.998.608 b. Belanja Barang dan Jasa 234.533.735.000 209.391.152.700 c. Belanja Modal 500.532.215.000 465.783.056.988 JUMLAH BELANJA DAERAH 2.050.427.145.000 1.907.031.888.291

Sumber Data : Dinas PPKAD Kab. Kebumen, 2014

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa anggaran belanja daerah Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp2.050.427.145.000,00 terealisasi sebesar Rp1.907.031.888.291,00 atau 93,01%, sehingga sisa anggaran belanja daerah sebesar Rp143.395.256.709,00. Realisasi Belanja Daerah Tahun 2014 meningkat 23,18% dibandingkan Realisasi Belanja Daerah Tahun 2013 sebesar Rp1.548.176.706.140,00.

Sisa anggaran Belanja Daerah sebesar 6,99% tersebut terjadi antara lain adanya penghematan belanja pada SKPD, sisa belanja pegawai pada Belanja Tidak Langsung karena banyaknya begawai yang memasuki

(18)

55 masa pensiun, dan tidak terserap seluruhnya Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan dan DAK bidang Perumahan dan pemukiman.

Anggaran Belanja Tidak Langsung Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp1.260.278.942.000,00 terealisasi sebesar Rp1.179.099.679.995,00 atau 93,56%, sehingga sisa anggaran Belanja Tidak Langsung sebesar Rp81.179.262.005,00; dari sisa anggaran Belanja Tidak Langsung tersebut sebagian besar merupakan sisa belanja pegawai/gaji pegawai yaitu Rp72.102.708.726,00 atau 88,82% dari sisa anggaran Belanja Tidak Langsung. Realisasi Belanja Tidak Langsung Tahun 2014 meningkat 10,39% dibandingkan Realisasi Belanja Tidak Langsung Tahun 2013 sebesar Rp1.068.350.146.221,00.

Kontribusi (share) Belanja Tidak Langsung mencapai 61,82% dari total realisasi anggaran Belanja Daerah Tahun Anggaran 2013. Kontribusi Tahun 2014 menurun dibandingkan Tahun 2013 yaitu 69,01%.

Anggaran belanja pegawai Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp1.131.221.395.000,00 terealisasi sebesar Rp1.059.118.686.274,00 atau 93,63%. Realisasi belanja pegawai pada Belanja Tidak Langsung Tahun 2014 meningkat 10,77% dibandingkan Realisasi belanja pegawai pada Belanja Tidak Langsung Tahun 2013 sebesar Rp956.479.531.443,00 hal ini dikarenakan adanya kenaikan gaji pokok 7% dan kenaikan pangkat dan gaji berkala.

Anggaran belanja hibah Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp17.440.550.000,00 terealisasi sebesar Rp12.272.363.746,00 atau 70,37%. Realisasi belanja hibah pada Belanja Tidak Langsung Tahun 2014 meningkat 224,14% dibandingkan Realisasi belanja hibah pada Belanja Tidak Langsung Tahun 2013 sebesar Rp3.786.267.430,00.

Anggaran belanja bantuan sosial Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp28.992.973.000,00 terealisasi sebesar Rp26.485.322.598,00 atau 91,35%. Realisasi belanja bantuan sosial pada Belanja Tidak Langsung Tahun 2014 menurun 29,72% dibandingkan Realisasi belanja bantuan

(19)

56 sosial pada Belanja Tidak Langsung Tahun 2013 sebesar Rp37.685.262.098,00.

Anggaran belanja bagi hasil kepada Desa Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp4.511.711.000,00 terealisasi sebesar Rp4.422.146.578,00 atau 98,01%. Realisasi belanja bagi hasil kepada Desa pada Belanja Tidak Langsung Tahun 2013 meningkat 84,25% dibandingkan Realisasi belanja bagi hasil kepada Desa pada Belanja Tidak Langsung Tahun 2013 sebesar Rp2.400.303.758,00.

Anggaran belanja bantuan keuangan kepada Desa Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp77.166.835.000,00 terealisasi sebesar Rp76.771.160.799,00 atau 99,38%. Realisasi belanja bantuan keuangan kepada Desa Tahun 2013 meningkat 99,49% dibandingkan Realisasi belanja bantuan keuangan kepada Desa Tahun 2013 sebesar Rp67.955.879.792,00.

Anggaran belanja tidak terduga Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp945.478.000,00 terealisasi sebesar Rp30.000.000,00 atau 3,17%.

Anggaran Belanja Langsung Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp790.148.203.000,00 terealisasi sebesar Rp727.932.208.296,00 atau 92,13%, sehingga sisa anggaran Belanja Langsung sebesar Rp62.215.994.704,00; dari sisa anggaran Belanja Langsung tersebut sebagian besar merupakan sisa belanja modal yang sebagian besar merupakan Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan dan DAK bidang perumahan dan permukiman belum terserap seluruhnya. Realisasi Belanja Langsung meningkat 51,71% dibandingkan Realisasi Belanja Langsung Tahun 2013 sebesar Rp479.826.559.919,00.

Kontribusi (share) Belanja Langsung sebesar 38,17% dari total realisasi anggaran Belanja Daerah Tahun Anggaran 2014.

Anggaran belanja pegawai Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp55.082.253.000,00 terealisasi sebesar Rp52.757.998.608,00 atau 92,13%. Realisasi belanja pegawai Tahun 2014 meningkat 12,75%

(20)

57 dibandingkan Realisasi belanja pegawai Tahun 2013 sebesar Rp46.791.859.108,00.

Anggaran belanja barang dan jasa Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp234.533.735.000,00 terealisasi sebesar Rp209.391.152.700,00 atau 89,28%. Realisasi belanja barang dan jasa Tahun 2014 meningkat 43,34%

dibandingkan Realisasi belanja barang dan jasa Tahun 2013 sebesar Rp146.075.786.609,00.

Anggaran belanja modal Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp500.532.215.000,00 terealisasi sebesar Rp465.783.056.988,00 atau 93,06%. Realisasi belanja modal Tahun 2014 meningkat sangat signifikan 62,33% dibandingkan Realisasi belanja modal Tahun 2013 sebesar Rp286.958.914.202,00. Sisa anggaran belanja modal Tahun 2014 merupakan hasil efisiensi yaitu sebersar Rp34.749.158.012,00, hal ini ditunjukkan dari realisasi fisik yang 100% di Tahun 2014.

3. Permasalahan dan Solusi

Bahwa Anggaran Belanja Daerah sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai, khususnya komponen gaji dan tunjangan. Besarnya belanja pegawai pada Belanja Tidak Langsung Tahun Anggaran 2014 sebesar Rp1.059.118.686.274,00 atau sebesar 55,54% dari total realisasi Belanja Daerah Kabupaten Kebumen sebesar Rp1.907.031.888.291,00, belanja pegawai tersebut terdiri dari gaji dan tunjangan, Tambahan Penghasilan Guru, Gaji Pimpinan dan Anggota DPRD serta KDH/WKDH, dan Biaya Insentif Pajak Daerah dan insentif retribusi daerah. Belanja Pegawai di Tahun 2014 ini terhadap total Belanja Daerah mengalami penurunan dibanding Tahun 2013 yang besarnya 61,82%.

Besarnya beban gaji pegawai inilah yang membuat alokasi belanja pelayanan publik menjadi terbatas. Disisi lain Pemerintah Kabupaten Kebumen dituntut untuk mencapai visi pembangunan jangka menengah Kabupaten Kebumen tahun 2010-2015 yaitu “Kebumen yang Modern,

(21)

58 Berkepribadian, Makmur dan Sejahtera” maka peningkatan pelayanan masyarakat di bidang pembangunan mutlak diperlukan.

Solusi terhadap beban belanja pegawai yang relatif masih dominan dilakukan dengan mengoptimalkan kinerja pegawai, sedangkan untuk peningkatan belanja pelayanan publik, peningkatan kualitas pelayanan dasar dan infrastruktur dilaksanakan melalui perencanaan dengan keterlibatan seluruh stakeholder dalam musrenbang untuk menentukan skala prioritas dan kebutuhan mendesak masyarakat dan pengalokasian anggaran berdasarkan visi, misi dan tujuan daerah, kebutuhan mendesak masyarakat serta dilakukan penajaman skala prioritas.

Langkah berikutnya pada Tahun 2014 Pemerintah Kabupaten Kebumen mengusung tema pembangunan “Revitalisasi Ekonomi dan Peningkatan Daya Saing Daerah dalam rangka Percepatan Upaya Penanggulangan Kemiskinan”, yaitu dengan mengoptimalkan kemampuan dan kondisi yang ada, Pemerintah Kabupaten Kebumen telah berupaya maksimal untuk mengalokasikan anggaran guna penanggulangan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan serta peningkatan upaya perlindungan sosial, peningkatan aksesibilitas dan kualitas pelayanan umum pemerintahan, pendidikan dan kesehatan, rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur, pertanian dan perdesaan serta peningkatan dan perluasan kesempatan kerja.

oOOo

Referensi

Dokumen terkait

perbedaan hal ini menarik untuk diteliti terutama perlakuan akuntansinya untuk perbedaan kurs atau selisih kurs terhadap transaksi pembelian dalam mata uang asing

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, menentukan bobot molekul, dan membuktikan kebenaran struktur senyawa A1 santon yang terdapat dalam kulit akar tumbuhan

[r]

Sertifikat Akreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) Nomor : LVLK-006-IDN tanggal 18 Agustus 2011 yang diberikan kepada PT EQUALITY Indonesia sebagai Lembaga

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh bimbingan klasikal teknik cinematherapy terhadap minat siswa kelas X mengikuti

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang bertujuan untuk memperoleh informasi dengan memberikan suatu perlakuan terhadap

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan petani untuk mengkonversi lahan pertanian dan pengaruh konversi

Tipe Alterasi dan mineralisasi yang berkembang pada daerah penelitian yaitu:  Tipe alterasi yang berkembang di daerah penelitian ada 3 yaitu alterasi propilitik