10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
Berikut adalah persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dari pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja::
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No. Penelitian Terdahulu Keterangan
1. Judul Analisis Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Kinerja Pekerja Konstruksi (Studi Kasus Proyek Pembangunan The Park Solo Baru)
Sugiyarto (2013)
Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apakah keselamatan dan kesehatan kerja berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pekerja Konstruksi (Studi Kasus Proyek Pembangunan The Park Solo Baru)
Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan survey design atau disain survey
Hasil Penilitian Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja pekerja konstruksi
2. Judul Pengaruh Kebijakan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja terhadap Kinerja karyawan proyek konstruksi pada PT. Pembangunan Perumahan (PERSERO) Tbk. Di Makassar Anhar Januar Malik (2013)
Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apakah keselamatan dan kesehatan kerja berpengaruh signifikan terhadap Kinerja karyawan konstruksi
Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan survey design atau disain survey
Hasil Penelitian Kebijakan Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja karyawan konstruksi
Tabel 2. 2 Penelitian Terdahulu
No. Penelitian Terdahulu Keterangan
3 Judul Analisis Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Proyek Kontruksi gedung di Kabupaten Klungkung dan Karangasem
Putu Indra Sanjaya (2012)
Tujuan Penelitian Untuk mengetahui Keselamatan dan Kesehatan kerja mempunyai pengaruh baik secara Bersama – sama maupun terpisah terhadap kinerja.
Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survey dan wawancara
Hasil Penelitian Keselamatan dan kesehatan kerja mempunyai pengaruh positif secara simultan maupun parsial terhadap kinerja secara parsial, kesehatan yang paling berpengaruh terhadap kinerja
Berdasarkan uraian pada penelitian terdahulu di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa persamaan dan perbedaan. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah objek penelitiannya. Sugiyarto (2013) menggunakan objek Proyek Pembangunan The Park Solo Baru, Anhar Januar (2013) Malik menggunakan objek PT. Pembangunan Perumahan (PERSERO), Dan Putu Indra Sanjaya (2012) objek Analisis Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Proyek Kontruksi Gedung Kabupaten klungkung dan Karangasem.
Sedangkan pada penelitian ini menggunakan objek CV. Ickhlas Sedjati Surabaya.
Kesamaan pada penelitian – penelitian ini adalah sama – sama menunjukkan adanya pengaruh antara Keselamatan dan Kesehatan kerja terhadap kinerja. Selain itu persamaan lainnya ialah pada penggunaan objek penelitan yang sama – sama menggunakan perusahaan yang bergerak di bidang industri.
B. Landasan Teori 1. Kinerja
Menurut Moeheriono (2009:61) definisi kinerja yaitu hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang dalam suatu organisasi baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sesuai kewenangan dan tugas tanggung jawab masing-masing, dalam upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hokum dan sesuai dengan moral maupun etika.
Pendapat dari ahli yang lain, Bernandin dan Russell yang dikutip oleh Sulistiyani Rosidah (2009:276), kinerja merupakan catatan out-come yang dihasilkan dari fungsi pegawai tertentu atau kegiatan yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Menurut Bangun (2012:231) kinerja adalah hasil pekerjaan yang dicapai seseorang berdasarkan persyaratan-persyaratan pekerjaan. Untuk menentukan kinerja karyawan baik, atau tidak baik, tergantung pada hasil perbandinganya dengan standar pekerjaanya. Standar kinerja adalah tingkat yang diharapkan suatu pekerjaan tertentu untuk dapat diselesaikan dan merupakan pembanding atas tujuan atau target yang kingin dicapai.
Menurut Rivai (2013) Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melakukan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan disepakati bersama.
Kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator- indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu.Wirawan (2009:5)
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Kinerja (performance) dapat dipengaruhi oleh dua faktor menurut Keith Davis dalam Mangkunegara (2007:67), yaitu :
1. Faktor Kemampuan (Ability)
Secara psikologis, kemampuan terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge+skill). Artinya pimpinan dan karyawan yang memiliki IQ diatas rata-rata dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai.
2. Faktor Motivasi (Motivation)
Motivasi diartikan suatu sikap pimpinan dan karyawan terhadap situasi kerja di lingkungan organisasinya. Mereka yang bersikap positif terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya jika mereka bersikap negatif terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah.
Kinerja pegawai merupakan hasil sinergi dari sejumlah faktor. Faktor-faktor tersebut adalah Wirawan (2009:7) :
1. Faktor internal pegawai, yaitu faktor-faktor dari dalam diri pegawai yang merupakan faktor bawaan dari lahir dan faktor yang diperoleh ketika ia berkembang.
2. Faktor-faktor lingkungan internal organisasi, yaitu manajemen organisasi harus menciptakan lingkungan internal organisasi yang kondusif sehingga dapat mendukung dan meningkatkan produktivitas karyawan.
3. Faktor lingkungan eksternal perusahaan, yaitu keadaan,kejadian, atau situasi yang terjadi dilingkungan eksternal organisasi yang mempengaruhi kinerja karyawan.
Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja menurut Handoko (2001:193) yaitu :
a. Motivasi
Merupakan faktor pendorong penting yang menyebabkan manusia bekerja adalah adanya kebutuhan yang harus dipenuhi.
Kebutuhankebutuhan ini berhubungan dengan sifat hakiki manusia untuk mendapatkan hasil terbaik dalam kerjanya.
b. Kepuasan kerja
Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Hal ini terlihat dari sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya.
c. Tingkat stres
Stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi sekarang. Tingkat stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan sehingga dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan mereka.
d. Kondisi pekerjaan
Kondisi pekerjaan yang dimaksud dapat mempengaruhi kinerja disini adalah tempat kerja, ventilasi, serta penyinaran dalam ruang kerja.
e. Sistem kompensasi
Kompensasi merupakan tingkat balas jaa yang diterima oleh karyawan atas apa yang telah dilakukannya untuk perusahaan. Jadi, pemberian kompensasi harus benar agar karyawan lebih semangat untuk bekerja.
f. Desain pekerjaan
Desain pekerjaan merupakan fungsi penetapan kegiatan-kegiatan kerja seorang individu atau kelompok karyawan secara organisasional. Desain pekerjaan harus jelas supaya karyawan dapat bekerja dengan baik sesuai dengan pekerjaan yang telah diberikan kepadanya.
3. Tujuan Kinerja
Tujuan kinerja adalah menyesuaikan harapan kinerja individual dengan tujuan organisasi. Kesesuaian antara upaya pencapaian tujuan individu dengan organisasi akan mampu mewujudkan kinerja yang baik.
Tujuan mengalir dari atas ke bawah, sedangkan tanggung jawab bergerak dari bawah ke atas.Tujuan diatas memberikan inspirasi untuk penetapan tujuan di
bawahnya.Sementara itu, tangguung jawab dilakukan secara berjenjang dari bawah ke atas.Wibowo (2007:48)
4. Sasaran Kinerja
Sasaran kinerja merupakan suatu pernyataan secara spesifik yang menjelaskan hasil yang harus dicapai, kapan, dan oleh siapa sasaran yang ingin dicapai tersebut diselesaikan. Sebagai sasaran, suatu kinerja mencakup unsur- unsur di antaranya Wibowo (2007:63) :
a. Orang yang menjalankan kinerja
b. Tindakan atau kinerja yang dilakukan oleh pemain c. Waktu kapan pekerjaan dilakukan.
d. Cara penilaian bagaimana hasil pekerjaan dapat dicapai.
e. Tempat di mana pekerjaan dilakukan.
5. Dimensi Kinerja
Dimensi kinerja adalah kualitas-kualitas atau wajah suatu pekerjaan atau aktivitas-aktivitas yang terjadi di tempat yang konduktif terhadap pengukuran.
Secara umum dimensi kinerja dapat dikelompokan menjadi tiga jenis yaitu Wirawan (2009:54) :
a. Hasil kerja. Hasil kerja adalah keluaran kerja dalam bentuk barang dan jasa yang dapat dihitung dan diukur kualitas dan kuantitasnya.
b. Prilaku kerja. Ketika berada ditempat kerja, seorang karyawan mempunyai dua prilaku, yaitu prilaku pribadi dan prilaku kerja. Prilaku pribadi adalah prilaku yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, misalnya, cara berjalan, cara berbicara, dan cara makan siang. Prilaku kerja adalah prilaku
karyawan yang ada hubungannya dengan pekerjaan, misalnya kerja keraas, ramah terhadap pelanggan, dan cara berjalan tentara dalam upacara.
c. Sifat pribadi yang ada hubungannya dengan pekerjaan adalah sifat pribadi karyawan yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaanya.
6. Indikator Pengukuran Kinerja
Menurut Mangkunegara (2001) bahwa pengukuran kinerja dapat dilakukan melalui:
a. Kuantitas
Jumlah pekerjaan yang harus di selesaikan sesuai standart yang telah di tetapkan perusahaan.
b. Kualitas
Menilai baik tidaknya hasil pekerjaan karyawan.
c. Ketepatan Waktu
Kesesuaian dalam menyelesaikan pekerjaan dengan waktu yang telah di tetapkan oleh perusahaan.
7. Hubungan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan.
Secara umum, keselamatan dan kesehatan kerja karyawan menunjukkan kondisi fisiologis fisik dan psikologis tenaga kerja yang di akibatkan oleh lingkungan kerja perusahaan. Apabila sebuah perusahaan melaksanakan tindakantindakan keselamatan dan kesehatan yang efektif, maka penderita cidera atau penyakit-penyakit jangka pendek maupun jangka panjang akan makin berkurang. Namun, pada kenyataannya masih banyak dijumpai perusahaan-perusahaan yang kurang memperhatikan tentang faktor
keselamatan dan kesehatan kerja, sehingga sering dijumpai kasus-kasus kecelakaan kerja yang merugikan pihak karyawan. Keselamatan dan kesehatan kerja merujuk pada kondisi fisiologis-fiskal dan psikologis tenaga kerja yang di akibatkan oleh lingkungan kerja yang di sediakan oleh perusahaan (Rivai, 2005:411).
Banyak indikator kinerja buruk yang juga bisa menjadi tanda-tanda permasalahan tubuh atau mental. Keberadaan indikator-indikator itu sendiri tidak cukup untuk menetapkan ada atau tidaknya kondisi tertentu. Surpevisor tidak boleh sekalipun mencoba mendiagnosis, memberikan vonis, atau mengatasi masalah-masalah tersebut. Indikator-indikator tersebut memberi supervisor dasar untuk memeberikan referensi kepada orang yang bersangkutan, seperti seorang professional program bantuan karyawan.
Mondy,W.R (2008:105).
Berbagai jenis peralatan yang digunakan untuk memperoleh hasil kerja yang diinginkan, kesalahan dalam menggunakan perlatan dan lingkungan lain yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut dapat menyebabkan kecelakaan kerja.
Suatu tindakan untuk mengatasi permasalahan itu melalui ergonomik, yaitu dengan meyesuaikan mesin dan lingkungan dengan keahlian yang dimiliki pekerja. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mengatur kondisi kerja agar para karyawan dapat memaksimalkan konservasi energi, memperbaiki posisi tubuh, dan memungkinkan mereka untuk dapat bekerja secara aman. Sebagai akibat dari isu-isu ergonomik berakibat pada kelelahan atau cedera tekanan berulang, sehingga berdampak pada kinerja rendah.Bangun (2012:396). Dari definisi
diatas yang telah dikemukakan kita bisa mengetahui bahwa kinerja tidak akan bisa tercapai apabila setiap pekerja mengalami kecelakaan yang mana akan menghambat proses kerja dan akan menurunkan hasil atau capaian yang harus di penuhi oleh karyawan. Semakin banyak karyawan yang mengalami kecelakaan maka akan mengurangi jumlah karyawan yang harus bekerja untuk memenuhi target atau tujuan perusahaan yang telah di tetapkan sehingga menimbulkan kekurangannya tenaga kerja dan berefek pada menurunnya pencapaian target. dapat disimpulkan bahwa semakin baik pencegahan perusahaan terhadap tingkat kecelakaan kerja pada karyawan maka akan semakin mudah perusahaan dalam mencapai tujuan yang di tetapkan. Dan sebaliknya, apabila perusahaan tidak mampu menekan potensi terjadinya kecelakaan dalam artian perusahaan tidak mampu membuat suatu prosedur.
8. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja menunjukkan kondisi aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat kerja.Mangkunegara (2007:161) sedangkan Rivai mengemukakan (2005:413) “keselamatan kerja (safety) adalah suatu perlindungan karyawan dari cidera yang disebabkan oleh kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan”. Menurut Mondy,W.R (2008:82) Keselamatan (safety) mencakup perlindungan karyawan dari cedera yang disebabkan oleh kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjanya . Hal yang termasuk dalam cakupan definisi mengenai keselamatan tersebut adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan cedera stress berulang serta kekerasan di tempat kerja
Keselamatan kerja merujuk pada perlindungan atas keamanan kerja yang dialami setiap pekerja. Perlindungan mengarah pada kondisi fisik dan mental para pekerja yang diakibatkan lingkungan kerja yang ada pada perusahaan.
Perusahaan yang melaksanakan program keselamatan kerja akan terdapat sedikit karyawan yang mengalami cidera jangka pendek atau jangka panjang akibat pekerjaan mereka Bangun (2012:377).
Tujuan keselamatan kerja yaitu :
1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatanya dalam melaksanakan pekerjaan.
2. Menjamin keselamatan setiap orang yang berada di tempat kerja.
3. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.
Keselamatan kerja di artikan sebagai keadaan terhindar dari bahaya selama melakukan pekerjaan (Slamet, 2012:240). Secara umum keselamatan kerja sangat bergantung pada jenis, bentuk, dan lingkungan dimana pekerjaan itu di laksanakan. Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja adalah sebagai berikut :
a. Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja.
b. adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja c. teliti dalam bekerja
d. melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan kemananan dan kesehatan kerja. Unsur-unsur penunjang kemanan yang bersifat yang bersifat nonmaterial di antaranya sebagai berikut :
a. buku petunjuk penggunaan alat/buku manual b. rambu-rambu dan isyarat bahaya
c. adanya himbuan-himbauan d. petugas keamanan
9. Undang-Undang Keselamatan Kerja
Menurut undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Sedarmayanti, 2010) sebagai berikut:
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
4. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian yang berbahaya
5. Memberi pertolongan pada kecelakaan
6. Memberi alat perlindungan diri pada karyawan
7. Mencegah dan mengendalikan timbulnya atau menyebar luasnya suhu, kelembapan, debu, kotoran, asap, hembusan angin, cuaca, sinar laut atau radiasi, suara dan getaran .
8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun psikis, keracunan infeksi dan penularan
9. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai
10. Menyeleggarakan suhu udara yang baik dan cukup
11. Memelihara kebersihan, kesehatan, ketertiban
12. Memperoleh keserasian antara proses kerja
13. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang
14. Mengamankan dan memperlancar segala jenis bangunan
15. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan (bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang)
16. Mencegah terkena aliran listrik
17. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamatan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi
10. Indikator Keselamatan Kerja
Adapun indikator-indikator keselamatan kerja menurut Suma’mur (2001:67) : a. Pemberian pelatihan Keamanan
Memberikan pelatihan keamanan bagi karyawan dalam hal ini adalah pelatihan penggunaan peralatan kerja, adanya penyuluhan tentang pencegahan terjadinya kecelakaan serta memberikan buku petunjuk K3 pada setiap karyawan bagian produksi.
b. Pencahayaan
Adanya jendela-jendela kaca yang ada di ruangan berfungsi untuk membantu pencahayaan sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan dengan baik.
c. Adanya alat pengaman
Penyediaan alat-alat pengaman di tempat kerja seperti sarung tangan, masker, penutup kepala, sepatu karet, alat pemadam kebakaran untuk pencegahan pertama terjadinya kecelakaan.
d. Peraturan di tempat kerja
Adanya larangan atau himbauan terhadap karyawan sebagai salah satu pencegahan terjadinya kecelakaan di tempat kerja misalnya larangan merokok di tempat produksi, tanda peringatan terhadap mesin-mesin yang berbahaya, tanda adanya tegangan tinggi.
11. Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.Mangkunegara (2007:161). Kesehatan ini menyangkut kesehatan fisik maupun mental.Kesehatan para karyawan bisa terganggu karena penyakit, stres, maupun karena kecelakaan.
Perusahaan-perusahaan semakin berfokus untuk menjaga pegawainya tetap sehat dan bugar. Pekerja yang tidak sehat dapat meningkatkan pengeluaran perusahaan dengan beberapa cara. Jackson, dkk (2011:296) Menurut Swasto (2011:110) kesehatan kerja menyangkut kesehatan fisik dan mental.Kesehatan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia termasuk lingkungan kerja. Untuk kepentingan ekonomi, gangguan kesehatan karyawan akan menyebabkan menurunnya hasil kerja karyawan. Absenya beberapa karyawan karena alasan sakit akan berakibat terhambatnya kegiatan produksi yang berdampak pada tingkat tercapainya hasil produksi yang diharapkan. Di samping itu, kerugian juga akan timbul atas dikeluarkanya biaya pengobatan bagi karyawan yang sakit.
Dengan alasan kemanusiaan, kesehatan karyawan merupakan tanggung jawab setiap pemberi kerja. Tenaga kerja yang sehat fisik dan mental akan dapat bekerja dengan baik dan meningkatkan produktivitas kerja.
12. Masalah Kesehatan Kerja dan Penanggulanganya
Pada awalnya program kesehatan dibentuk karena tingginya masalah- masalah kesehatan karyawan relative besar.Di samping itu, jumlah hari kerja yang hilang relatif tinggi karena alasan penyakit yang diderita karyawan sehingga mereka tidak dapat bekerja.Sebagai akibat dari masalah kesehatan, tingginya tingkat absesnsi dan perputaran kerja, dan produktivitas yang rendah menyebabkan kerugian yang dialami perusahaan. Mangkunegara (2007)
1. Kesehatan Fisik
Masalah kesehatan yang paling banyak ditangani perusahaan adalah kesehatan jasmani atau fisik akibat kecelakaan kerja.Perusahaan menyediakan tenaga medis dan obat-obatan untuk keperluan penyembuhan penyakit yang dialami karyawan.
2. Kesehatan Mental
Kesehatan mental karyawan menjadi suatu perhatian khusus karena semakin kompleksnya permsalahan yang dihadapi suatu organisasi. Tekanan mental dan stress kerja bukan suatu hal yang sedikit terjadi karena perkembangan teknologi yang menimbulkan tuntutan berbagai perubahan yang harus dilakukan dalam suatu organisasi.
13. Undang-undang dan Peraturan Tentang Kesehatan Kerja
Berbagai undang-undang dan peraturan pemerintah tentang kesehatan kerja menekankan bahwa setiap pemberi kerja wajib memberikan perlindungan atas kesehatan karyawan. Terdapat pada Undang-undang nomor 14 Tahun 1969 tentang ketentun pokok mengenai tenaga kerja, bahwa setiap tenaga kerja berhak
mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan, kesusilaan, dan pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama. Untuk mencegah kondisi kesehatan karyawan, perlu dilakukan pemerikasaan kesehatan karyawan secara rutin, sebelum kerja, dan khusus tang tertuang pada Peraturan Mentri Tenaga Kerja Nomor Per- 02/Men/1979 tentang pemeriksaan kesehatan tenaga kerja. Bangun (2012:397,401)
Perlindungan tenaga kerja meliputi beberapa aspek dan salah satunya yaitu perlindungan keselamatan, Perlindungan tersebut bermaksud agar tenaga kerja secara aman melakukan pekerjaannya sehari-hari untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Tenaga kerja harus memperoleh perlindungan dari berbagai soal disekitarnya dan pada dirinya yang dapat menimpa atau mengganggu dirinya serta pelaksanaan pekerjaannya.
14. Tujuan Kesehatan Kerja
Tujuan utama kesehatan kerja menurut Suma’mur (2009) adalah pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaan akibat kerja, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja, perawatan dan mempertinggi efisiensi dan daya produktifitas tenaga manusia, pemberantasan kelelahan kerja dan menambah semangat serta kenikmatan kerja, perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindari bahaya-bahaya pengotoran oleh bahan- bahan dari perusahaan yang bersangkutan dan perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk industri. Tujuan kesehatan kerja menurut Husni (2005) adalah:
a. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya baik fisik, mental, maupun sosial.
b. Mencegah dan melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja.
c. Menyesuaikan tenaga kerja dengan pekerjaan atau pekerjaan dengan tenaga kerja
d. Meningkatkan kinerja tenaga kerja.
15. Indikator Kesehatan Kerja
Menurut Manullang (2000), indikator kesehatan kerja terdiri dari:
a. Lingkungan kerja secara medis. Dalam hal ini lingkungan kerja secara medis dapat dilihat dari sikap perusahaan dalam menangani hal-hal sebagai berikut:
A. Kebersihan lingkungan kerja
B. Sistem pembuangan sampah dan limbah industri b. Sarana
Upaya dari perusahaan untuk meningkatkan kesehatan dari tenaga kerjanya. Hal ini dapat di lihat dari penyediaan air bersih dan sarana kamar mandi dan wc
c. Pemeliharaan kesehatan tenaga kerja yaitu pelayanan kesehatan tenaga kerja.
16. Usaha-Usaha Dalam Meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Bekerja diperlukan usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan kerja, Adapun usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan kerja menurut Mangkunegara (2007:162) adalah sebagai berikut:
a. Mengatur suhu, kelembaban, kebersihan udara, penggunaan warna ruangan kerja, penerangan yang cukup terang dan menyejukkan, dan mencegah kebisingan.
b. Mencegah dan memberikan perawatan terhadap timbulnya penyakit.
c. Memelihara kebersihan dan ketertiban, serta keserasian lingkungan kerja.
d. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kebakaran dan peledakan
e. Memberikan peralatan perlindungan diri untuk pegawai yang bekerja pada lingkungan yang menggunakan peralatan yang berbahaya.
f. Menciptakan suasana kerja yang menggairahkan semangat kerja pegawai.
17. Alasan Pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Sunyoto (2012:242) ada tiga alasan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja:
1. Berdasarkan Perikemanusiaan
Pertama-tama para manajer mengadakan pencegahan kecelakaan atas dasar perikemanusiaan yang sesungguhnya. Mereka melakukan demikian untuk mengurangi sebanyak-banyaknya rasa sakit, dan pekerja yang menderita luka serta keluarganya sering diberi penjelasan mengenai akibat kecelakaan.
2. Berdasarkan undang-undang
Karena pada saat ini di Amerika terdapat undang-undang federal, undang- undang negara bagian dan undang-undang kota praja tentang keselamatan dan kesehatan kerja dan bagi mereka yang melanggar dijatuhkan denda.
3. Ekonomis
Yaitu agar perusahaan menjadi sadar akan keselamatan kerja karena biaya kecelakaan dapat berjumlah sangat besar bagi perusahaan.
18. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Mangkunegara (2007:162) bahwa tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
a. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja yang baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya seselektif mungkin.
c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
f. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja.
g. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.
Tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja ini tidak dapat terwujud dan dirasakan manfaatnya, jika hanya bertopang pada peran tenaga kerja saja tetapi juga perlu peran dari pimpinan.
19. Gangguan Terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Beberapa sebab yang memungkinkan terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan karyawan menurut Mangkunegara (2009) adalah sebagai berikut:
b. Keadaan Tempat Lingkungan Kerja
1. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya kurang diperhitungkan keamanannya.
2. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
3. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
c. Pengaturan Udara
1. Pergantian udara diruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor, berdebu, dan berbau tidak enak).
2. Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya.
d. Pengaturan Penerangan
1. Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.
2. Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.
e. Pemakaian Peralatan Kerja
1. Pengaman peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.
2. Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengaman yang baik.
f. Kondisi Fisik dan Mental Pegawai
1. Kerusakan alat indera, stamina pegawai yang usang atau rusak.
3. Emosi pegawai yang tidak stabil, kepribadian pegawai yang rapuh. Cara berfikir dan kemampuan persepsi yang lemah, motivasi kerja rendah, sikap pegawai yang ceroboh, kurang cermat, dan kurang pengetahuan dalam
penggunaan fasilitas kerja terutama fasilitas kerja yang membawa resiko bahaya.
20. Hubungan Keselamatan Kerja dengan Kinerja Karyawan
Keselamatan kerja adalah keadaan dimana tenaga kerja merasa aman dan nyaman, dengan perlakuan yang didapat dari lingkungan dan berpengaruh pada kualitas bekerja, Mangkunegara (2009). Perasaan nyaman mulai dari dalam diri tenaga kerja, apakah dia nyaman dengan peralatan keselamatan kerja, peralatan yang dipergunakan, tata letak ruang kerja dan beban kerja yang didapat saat bekerja. Menurut Dharma (2009) ukuran-ukuran kinerja bagi seseorang manajer pabrik dapat dilihat dari beberapa item, salah satunya tentang keselamatan dan kesehatan kerja karyawan, atau seberapa besar kecelakaan yang dilakukan oleh para karyawan. Dapat disimpulkan bahwa keselamatan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam bekerja, dan memiliki pengaruh pada kinerja karyawan.
21. Hubungan Kesehatan Kerja dengan Kinerja Karyawan
Menurut suma‟mur (2009) bahwa pencapaian kinerja karyawan diperlukan pelaksanaan keselamatan dan Kesehatan kerja, dengan fungsi: (1) Melindungi karyawan terhadap kondisi yang membahayakan K3, (2) Membantu penyesuaian mental/fisik karyawan sehingga sehat dan produktif, (3) membantu tercapainya dan terpelihara derajat kesehatan fisik/mental serta kinerja karyawan setinggi-tingginya.
Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi Kumala (2017) dengan hasil Kesehatan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan
yang artinya bahwa semakin tinggi kesehatan kerja dalam perusahaan maka kinerja akan semakin tinggi juga.
C. Kerangka pemikiran
Kerangka pemikiran adalah pondasi utama di mana sepenuhnya penelitian ini ditujukan, di mana hal ini merupakan jaringan hubungan antar variabel yang secara logis diterangkan, dikembangkan, dan dielaborasi dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi melalui proses wawancara, dan survey (Kuncoro, 2009).
Mangkunegara (2010), menyatakan bahwa kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja akan tercapai apabila didukung oleh faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja. Faktor-faktor tersebut antara lain keselamatan dan kesehatan kerja.
Gambar 2.1 Hubungan Kasualitas antara Keselamatan Kerja, Kesehatan Kerja, dan Kinerja
D. Hipotesis
Keselamatan kerja menunjukkan pada kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan, atau kerugian di tempat kerja (Mangkunegara, 2002:161), artinya, apabila aspek keselamatan kerja di lingkungan kerja perusahaan tersebut baik, maka akan mengurangi kerugian dan kecelakaan di tempat kerja. Penelitian Sugiyarto (2013) menyatakan keselamatan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Kinerja Karyawan (Y)
Jumlah Pekerjaan (Y1.1)
Kualitas Pekerjaan (Y1.2)
Ketepatan Waktu (Y1.3) Keselamatan Kerja (X2)
Penyusunan dan penyimpanan barang yang aman dalam bekerja (X2.1)
Pengaturan penerangan yang aman dalam bekerja (X2.2)
Pengaman peralatan kerja yang aman dalam bekerja (X2.3)
Kesehatan Kerja (X1)
Pembuangan kotoran dan limbah yang memenuhi aspek kesehatan kerja (X1.1)
Pengaturan udara yang memenuhi aspek kesehatan kerja (X1.2)
Pembentukan stamina pegawai yang sehat dalam bekerja (X1.3)
H1: Kesehatan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan CV.Ickhlas Sedjati Surabaya.
Kesehatan kerja merujuk pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Resiko kesehatan kerja merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stres, emosi dan gangguan fisik (Mangkunegara 2002:161). Apabila kesehatan karyawan di suatu organisasi tidak ditangani dengan baik, maka akan berdampak pada terganggunya kinerja karyawan di organisasi tersebut. Penelitian Putu Indra Sanjaya (2012) dan Syafrudin dkk (2016) menyatakan bahwa kesehatan kerja mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Keselamatan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan CV.Ickhlas Sedjati Surabaya.
Kinerja karyawan dapat didefinisikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan padanya (Mangkunegara, 2001:67). Ukuran-ukuran kinerja bagi seorang manajer pabrik dapat dilihat dari beberapa item, salah satunya tentang keselamatan kerja, atau seberapa besar kecelakaan yang dilakukan oleh para karyawan (Dharma, 2002). Penelitian yang dilakukan Anhar Januar Malik (2013) dan Alifiyaumi (2017) menyatakan bahwa keselamatan kerja merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh
terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan hasil peneltian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3: Keselamatan kerja yang paling berpengaruh terhadap kinerja karyawan CV.Ichklas Sedjati Surabaya.