KEEFEKTIVAN PENERAPAN JURNAL BELAJAR MIND MAPPING (JBMM) DITINJAU DARI GAYA BELAJAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATA KULIAH ILMU
KEPENDIDIKAN MAHASISWA CALON GURU BIOLOGI
Suciati1, Chrisnia Octovi2 Pendidikan Biologi, FKIP, UNS.
1 [email protected], 2 [email protected]
ABSTRAK
Gaya belajar merupakan modalitas dan menjadi salah satu faktor internal yang turut mempengaruhi hasil belajar, namun dalam pembelajaran aspek tersebut cenderung kurang dipertimbangkan oleh dosen.
Penggunaan jurnal belajar mind mapping (JBMM) dengan memperhatikan gaya belajar, diprediksi efektif memperkuat pemahaman konsep mahasiswa calon guru biologi dalam memahami materi kuliah Ilmu Kependidikan yang cenderung bersifat teoritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektivan penerapan JBMM ditinjau dari gaya belajar terhadap pemahaman konsep pada mata kuliah Ilmu Kependidikan mahasiswa calon guru Biologi. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen.
Subjek penelitian adalah mahasiswa Semester 1 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNS Tahun Akademik 2015/2016 sebanyak 27 mahasiswa. Pengumpulan data melalui teknik tes menggunakan soal tes pemahaman konsep dan teknik non-tes menggunakan angket gaya belajar, produk JBMM. Data dianalisis menggunakan one way anova. Hasil uji anova diperoleh signifikansi 0, 139> 0,05. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata pemahaman konsep mahasiswa dalam mata kuliah Ilmu Kependidikan ditinjau dari gaya belajar mahasiswa calon guru biologi.
Kata kunci: JBMM, gaya belajar, pemahaman konsep, ilmu kependidikan
PENDAHULUAN
Gaya belajar adalah sikap dan tingkah laku yang menunjukkan cara belajar seseorang yang paling disukai (Honey dan Mumford, 2006). Sementara Mc Loughlin (1999) berpendapat bahwa istilah gaya belajar merujuk pada kebiasaan dalam memperoleh pengetahuan. Gaya belajar berhubungan dengan bagaiman sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh peserta didik yang meupakan kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap, kemampuan mengatur, dan mengolah informasi (Supardi, 2010). Dengan demikian gaya belajar berhubungan erat dengan bagaimana siswa memahami suatu konsep. Hal ini didukung oleh pernyataan Joseph Pitts (2009) bahwa dengan memahami gaya belajar siswa dapat membantu guru dalam memfasilitasi struktur dan validitas keberhasilan belajar seluruh siswa. Sementara hasil penelitian Sims and Sims (1995) menunjukkan bahwa mengajar berdasarkan identifikasi gaya belajar dapat meningkatkan skor tes dan pemahaman pengetahuan siswa. Hal ini didukung oleh pernyataan Suparman (2010) bahwa idealnya guru mengajar sesuai gaya belajar yang dimiliki siswa.
Namun faktanya, guru cenderung kurang mempertimbangkan gaya belajar siswa dalam pembelajaran, sementara gaya belajar merupakan modalitas dan menjadi salah satu faktor internal yang
turut mempengaruhi hasil belajar (Suciati, dkk., 2012).
Hal ini diprediksi berkaitan dengan permasalahan kurang optimalnya mahasiswa calon guru biologi dalam memahami konsep mata kuliah IlmunKependidikan khususnya di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNS. Menurut Bobbi DePorter (2004) ada dua kategori utama tentang bagaimana belajar meliputi: 1) modalitas, yaitu bagaimana menyerap informasi dengan mudah; 2) dominasi otak, yaitu cara dan bagaimana mengatur dan mengolah informasi. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan jurnal belajar mind mapping (JBMM) mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa (Suciati & Octovi, 2016). Penggunaan JBMM dengan memperhatikan gaya belajar, diprediksi efektif memperkuat pemahaman konsep mahasiswa calon guru biologi dalam memahami materi kuliah Ilmu Kependidikan yang cenderung bersifat teoritis.
Karenanya gaya belajar menjadi fokus tinjauan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektivan penerapan JBMM ditinjau dari gaya belajar terhadap pemahaman konsep pada mata kuliah Ilmu Kependidikan mahasiswa calon guru Biologi.
Riding & Rayner (1998) menyatakan bahwa setiap orang memiliki cara dan jalan belajar yang berbeda. Cara yang digunakan oleh seseorang untuk memahami, memproses, menyimpan, dan mengingat apa yang
mereka pelajari adalah gaya belajar (James & Bank, 1993). Menurut Meier (2000), ciri kecenderungan gaya belajar seseorang dibedakan menjadi 3 yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik. Gaya belajar visual memiliki ciri-ciri: mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar, lebih suka membaca daripada dibacakan, pembaca cepat, seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi kurang pandai memilih kata-kata, berbicara agak cepat, lebih suka menyaksikan demonstrasi daripada pidato, lebih suka musik daripada seni, sulit untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, tidak mudah terganggu oleh keributan, mementingkan penampilan. Bagi gaya belajar visual, mata (pengelihatan) memegang peranan penting, sehingga untuk memahami materi pelajaran perlu melihat bahasa tubuh dan ekspresi guru. Metode pembelajaran yang digunakan sebaiknya menekankan pada penggunaan materi visual atau media atau alat peraga seperti: ilustrasi gambar, diagram, dan peta. Penggunaan warna (highlite) untuk hal-hal penting dan mendorong siswa mencoba mengilustrasikan ide-idenya dalam bentuk gambar. Gaya belajar auditorial memiliki ciri-ciri: dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan kata-kata, mudah terganggu oleh keributan, belajar dengan mendengar dan mengingat yang didiskusikan daripada yang dilihat, lebih fasih bericara daripada menulis. Bagi gaya belajar auditorial, pendengaran memegang peranan penting, sehingga untuk memahami materi pelajaran perlu dilibatkan aktif dalam diskusi. Gaya belajar kinestetik memiliki ciri-ciri: belajar melalui gerak, menyentuh dan melakukan. Siswa dengan gaya belajar kinestetik memiliki keinginan kuat untuk beraktivitas dan eksplorasi yang kuat. Bagi gaya belajar kinestetik gerakan memegang peranan penting, sehingga untuk memahami materi pelajaran perlu terlibat aktif mengeksplorasi lingkungan melalui obyek langsung.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Subjek penelitian adalah mahasiswa Semester 1 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNS Tahun Akademik 2015/2016 sebanyak 27 mahasiswa.
Pengumpulan data melalui teknik tes menggunakan soal tes pemahaman konsep dan teknik non-tes menggunakan angket angket gaya belajar, produk JBMM. Data dianalisis menggunakan one way anova.
HASIL
Berdasarkan hasil tes diperoleh perbedaan hasil rata-rata pemahaman konsep mahasiswa seperti disajikan pada Gambar 1.
72 74 76 78 80 82 84
Rata-rata
Visual Kinestetik Auditorial
Gambar 1. Grafik Rata-rata Pemahaman Konsep Mahasiswa
Penilaian pemahaman konsep materi Ilmu Kependidikan dilakukan menggunakan soal tes. Nilai pemahaman konsep dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Nilai Rata-rata Pemahaman Konsep Berdasarkan Gaya Belajar
Aspek Visual Kinestetik Auditorial Nilai Maksimum
Nilai Minimum Rata-rata Standar Deviasi
95 69 82,31
8,90
92 66 75,85
8,27
95 70 79 8,77
Berdasarkan Tabel 1 nilai rata-rata pemahaman konsep mahasiswa dengan gaya belajar visual adalah 95 dengan standar deviasi 8,90; nilai maksimum 95; dan nilai minimum 69. Rata-rata pemahaman konsep mahasiswa dengan gaya belajar kinestetik adalah 92 dengan standar deviasi 8,27; nilai maksimum 92; dan nilai minimum 66. Rata-rata pemahaman konsep mahasiswa dengan gaya belajar auditorial adalah 95 dengan standar deviasi 8,77; nilai maksimum 95; dan nilai minimum 70. Rincian hasil analisis pemahaman konsep disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Rincian Hasil Analisis Pemahaman Konsep
Uji Hasil Keputusan Kesimpulan
Normalitas Sig.
visual=
0,200 Sig.
kinestetik
= 0,188 Sig.
auditorial
=0,049
H0 diterima H0 diterima H0 ditolak
Data normal Data normal Data tidak normal
Homogenitas Sig. = 0,629
H0 diterima
Data homogen Perbandingan Sig. =
0,299
H0 ditolak Hasil tidak ada beda Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan hasil analisis uji anova pemahaman konsep yaitu normalitas gaya belajar visual diperoleh taraf signifikansi 0,200 lebih besar dari α = 0,05 sehingga Ho diterima, artinya nilai
pemahaman konsep siswa dengan gaya belajar visual berdistribusi normal. Normalitas gaya belajar kinestesia diperoleh taraf signifikansi 0,188 lebih lebih besar dari α
= 0,05 sehingga Ho diterima, artinya nilai pemahaman konsep dengan gaya belajar kinestesia berdistribusi normal. Normalitas gaya belajar auditorial diperoleh taraf signifikansi 0,049 lebih kecil dari dari α = 0,05 sehingga Ho ditolak, artinya nilai pemahaman konsep dengan gaya belajar auditoria berdistribusi tidak normal. Uji homogenitas nilai pemahaman konsep diperoleh taraf signifikansi sebesar 0.629 nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga Ho diterima, hal ini dapat disimpulkan bahwa variasi setiap sampel adalah sama (homogen).
Data nilai pemahaman konsep selanjutnya dianalisis dengan uji one way anova. Berdasarkan perhitungan diperoleh thitung 0,299, nilai tersebut lebih besar dari 0,05, sehingga Ho ditolak, Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara pemahaman konsep siswa yang memiliki gaya belajar visual, kinestesia, dan auditoria.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil uji one way anova diperoleh perbedaan rata-rata nilai pemahaman konsep mahasiswa calon guru biologi terhadap materi kuliah Ilmu Kependidikan. Nilai rata-rata tertinggi dicapai oleh mahasiswa calon guru biologi dengan gaya belajar visual sebesar 82,31, gaya belajar audirorial sebesar 79,00, dan gaya belajar kinestetik sebesar 75,85. Dikaitkan Capaian tertinggi nilai pemahaman konsep adalah kelompok mahasiswa calon guru biologi dengan dengan gaya belajar visual, hal ini berkaitan erat dengan karakteristik JBMM yang diterapkan dalam pembelajaran. Penerapan JBMM mendorong mahasiswa berpikir untuk menemukan kaitan antar konsep hingga membentuk peta pikiran. Karakteristik JBMM mengakomodir pola gagasan yang saling berkaitan pada cabang-cabangnya menggunakan berbagai sajian visual dalam bentuk gambar yang terdiri dari pusat dan cabang-cabang konsep yang memungkinkan otak memahami ulang gagasan dalam wacana secara utuh dan komprehensif (Suciati &
Octovi, 2016; Buzan, 2007). Sementara mahasiswa denngan gaya belajar visual memiliki karakteristik mudah untuk mengingat dengan tulisan dan mementingkan penampilan, dan mudah memahami materi pelajaran dengan cara melihat materi visual atau media alat peraga seperti: ilustrasi gambar, diagram, peta, penggunaan warna (highlite) untuk hal-hal penting.
Melalui JBMM mendorong mahasiswa untuk mencoba mengilustrasikan ide-ide dalam bentuk gambar. Hal ini relevan dengan pernyataan DePorter (2002) bahwa manusia memiliki cara belajar yang berbeda-beda dan
semua cara tersebut memiliki kelebihan tersendiri.
Menurut Porter dan Hernackli (2008) siswa yang memiliki gaya belajar visual biasanya lebih menyukai belajar dengan cara melihat, siswa dengan gaya belajar kinestesia menyukai kegiatan fisik, dan siswa yang memiliki gaya belajar auditoria lebih suka mendengar dan mengungkapkan pendapat. Dengan demikian penerapan JBMM pada mahasiswa dengan gaya belajar visual sangat membantu memahami konsep-konsep materi kuliah Ilmu Kependidikan.
Capaian terendah nilai pemahaman konsep adalah kelompok mahasiswa calon guru biologi dengan dengan gaya belajar kinestetik. Hal ini karena ciri-ciri gaya belajar kinestetik kurang mendukung karakteristik JBMM yang diterapkan dalam pembelajaran. Ciri-ciri gaya belajar kinestetik yang mengedepankan belajar melalui gerakan, sentuhan dan aktivitas, sehingga untuk memahami materi pelajaran perlu terlibat aktif mengeksplorasi lingkungan melalui obyek langsung.
Siswa dengan gaya belajar kinestetik, gerakan memegang peranan penting, memiliki keinginan kuat untuk beraktivitas dan eksplorasi yang kuat. Sementara penerapan JBMM lebih banyak aktivitas mendengarkan dan melihat tayangan ppt yang diakomodir oleh penyaji.
Kondisi ini diprediksi menyebabkan mahasiswa calon guru biologi dengan dengan gaya belajar kinestetik merasa kurang nyaman dan berpengaruh dalam memahami konsep materi kuliah Ilmu Kependidikan. Hal ini didukung oleh hasil wawancara terhadap siswa yang menyatakan bahwa mereka cenderung menemui kesulitan ketika harus membuat JBMM (K06, K26, K34, K46, K50, dan K52).
Hasil uji statistik diperoleh bahwa tidak ada beda yang signifikan antara rata-rata nilai pemahaman konsep mahasiswa dengan gaya belajar visual, kinestetik, dan auditorial. Hal ini diprediksi karena pada dasarnya setiap individu memiliki ketiga gaya belajar tersebut (visual, kinestetik, dan auditorial) dengan persentase yang bervariasi yang sekaligus merupakan penanda kencenderungan arah gaya belajar seseorang. Selain itu gaya belajar juga dipengaruhi oleh banyak faktor pembentukan gaya belajar, salah satunya adalah bagaimana interaksi seseorang dengan unsur-unsur alam yang ada di lingkungannya (James, W. B., & Blank, W.
E. 1993). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Purwoko (2014) bahwa tidak ada perbedaan pemahaman konsep antara siswa yang memiliki gaya belajar visual, kinestesia, dan auditoria. Menurut Purwoko hal tersebut dikarenakan: 1) batasan antara ketiga gaya belajar (visual, kinestetik, dan auditorial) belum jelas. Pada dasarnya tidak ada satu gaya belajar yang lebih baik dari yang lain, karena pada dasarnya ketiga gaya belajar tersebut dimiliki oleh setiap orang. Hanya saja ada salah
satu gaya belajar yang lebih dominan pada diri kita (Olivia dalam Purwoko, 2014); 2) kemungkinan strategi belajar yang digunakan kurang dapat mengakomodir ketiga gaya belajar tersebut. Misalnya pemanfaatan tekhnologi dalam pembelajaran, hanya dapat efektif untuk gaya belajar tertentu dan justeru akan menghambat gaya belajar yang lain (Kirna dalam Suyanto, 2012); 3) guru kurang mempertimbangkan adanya perbedaan gaya belajar siswa dan lebih fokus pada penguasaan bahan ajar; dan 4) kondisi kelas kurang mengakomodir perbedaan gaya belajar siswa, sehingga situasi pembelajaran menjadi kurang kondusif. Dalam konteks penelitian ini point 3 dan 4 lebih dominan.
Kaitannya dengan penerapan JBMM, pada dasarnya mind mapping dapat diterapkan pada ketiga gaya belajar. Hasil penelitian Rahmawati (2014) menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan mind mapping dapat membelajarkan mahasiswa yang memiliki berbagai gaya belajar. Mahasiswa dengan gaya belajar visual dapat menyerap materi dengan cara memperhatikan presentasi dan penjelasan yang dilakukan oleh temannya. Ketika mahasiswa membuat mind mapping, informasi yang diterima oleh mata, selanjutnya diteruskan menjadi pengetahuan. Pembelajaran menggunakan mind mapping memungkinkan mahasiswa membuat koneksi, melihat pola, mengakses memori yang berhubungan dengan informasi dan mengembangkan memori yang sudah ada sebelumnya (Wilis, 2011). Siswa dengan gaya belajar auditorial, penerapan JBMM memungkinkan mahasiswa dapat menyerap konsep pengetahuan melalui mendengarkan penjelasan, diskusi, presentasi dan kemudian mengulang informasi dengan membuat mind mapping, sehingga terjadi pengulangan informasi pada otak. Otak yang menerima informasi yang berulang-ulang dengan berbagai cara terdapat proses penyiagaan untuk mengkode informasimenjadi lebih efisien (Koutstaal, et al., dalam Wilis, 2011). Siswa dengan gaya belajar kinestetik, penerapan JBMM memungkinkan mahasiswa dapat menyerap materi dengan aktivitas yang dilakukan dengan cara melibatkan siswa untuk menggambarkan atau membuat peta, jalur dan koneksi antar konsep. Proses pembelajaran tersebut dapat meningkatakan kerja otak, sehingga mahasiswa dapat menemukan konsep pengetahuan. Hal ini relevan dengan pernyataan Sprenger (2011) bahwa isyarat dan gerakan tubuh dapat menambah jalur penyimpanan informasi.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata pemahaman konsep mahasiswa dalam mata kuliah Ilmu Kependidikan terhadap gaya belajar mahasiswa calon guru biologi
DAFTAR PUSTAKA
Honey, P., and Mumford, A. 2006. Learning Style Helper Guide. Peterhoney Publication Limited.
C. McLoughlin. The Implications of the research Literature on Learning Styles for the Design of Instructional Material. Australian Journal of Educational Technology. 1999. 15(3), 222-241.
De Porter, B. & Hernacki, M. (2008). Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan.
Bandung: Kaifa.
DePorter, B & Mike.2002. Quantum Learning.
Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan.
Bandung: Kaifa
James, W. B., & Blank, W. E. 1993. Review and Critique of Available Learning-Style. Instruments for Adults.
In D. Flannery (Ed.) New Directions for Adult and Continuing Education. 59, 47-57.
Joseph Pitts. 2009. Identifying and Using a Teacher Friendly Learning-Styles Instrument. Heldref Publications. 82 (5)
Meier,D. 2000. The Accelerated Learning Hand Book.
New York: The McGraw Hill Companies.
Purwoko, Sigit. 2014. Pengaruh Penggunaan Peta Pikir dan Gaya Belajar terhadap Hasil Belajar Geografi Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Humaniora. 2(2).
191-195.
Rahmawati, M.M.E.R. 2014. Pengaruh Mind Mapping dan Gaya Belajar Terhadap Pemahaman Konsep Siswa pada Pembelajaran IPA. Jurnal Inovasi Teknologi. 1 (2) 2014.
Riding, R. & Rayner, S. 1998. Cognitive Styles and Learning Strategies. Understanding Style Differences in Learning and Behavior. London:
David Fulton.
Sims, Ronald, R. and Sims, Serbrenia J. 1995. The Important of Learning Styles; Understanding The Implications for Learning, Course Design, and Education. London: Greenwood Press.
Sprenger, M. (2011).How to teach so students remember?. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Suciati, Sukardi, Prajoko, S; Rochim, F. 2012.
Identifikasi Pengakomodasian Gaya Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Biologi. (Mini Riset: tidak dipublikasikan).
Suparman, S. 2010. Gaya Mengajar yang Menyenangkan Siswa. Yogyakarta: PinusBook Publisher.
Suyanto, M. E. 2012. Pengaruh Penggunaan Variasi Media dalam Pembelajaran Inkuiri dan Gaya belajar terhadap Hasil Belajar Fisika Kelas X SMA.
Disertasi Tidak Dipublikasikan. Malang:
Universitas Negeri Malang.
Wilis, J. (2011). Research-based strategies to ignite student learning. (Terjemahan Akmal Hadrian).
Yogayakarta: Mitra Media.