1
ANALISA REDAMAN SERAT OPTIK FIBER TO THE HOME (FTTH) POINT TO POINT LINK STO PADANG BULAN KE PURI TANJUNG SARI KOTA MEDAN
Haby Emastyo Pratama
1, Yussa Ananda,
21
Mahasiswa Prodi Elektro,
2Staff Pengajar Program Studi Teknik Elektro Program Studi Teknik Elektro Konsentrasi Teknik Telekomunikasi
Sekolah Tingggi Teknik Harapan Email : [email protected]
ABSTRAK
Pada penelitian ini telah dilakukan analisis redaman serat optik terhadap kinerja sistem komunikasi serat optik pada Link STO Padang Bulan – Perumahan Puri Tanjung Sari Medansecara Point to Point di PT. Telkom Akses Regional 1 Sumbagut. Di kantor Unit Assurance Regional 1 Sumbagut menggunakan kabel serat optik Single-mode tipe G.655 D, alat ukur yang digunakan untuk pengambilan data pada penelitian ini adalah OpticalPower Meter(OPM) dan Optical Time Domain Reflectometer (OTDR) tipe Anritsu MU909014C. Menggunakan metode Optical Link Power Budget untuk mengetahui kinerja dari sistem komunikasi serat optik akibat dari rugi-rugi pada kabel serat optik. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas jaringan akses serat optik di Perumahan Puri Tanjung Sari Medan memiliki P
rsensitifitas rata-rata untuk downlink, dengan nilai -23.7 dB pada jarak 4.395 Km dan redaman 22.8 dB/km. Dan P
rsensitivitas rata-rata dari sisi uplink pada, dengan nilai -23.6 dB pada jarak 4.395 Km dan redaman 22.92 dB/km. Nilai ini masih memenuhi syarat ITU-T dimana standar redamannya yakni 28 dB/km dan jarak maksimal GPON dari OLT – ONT adalah 17 Km untuk panjang gelombang 1550 nm. Akhirnya dapat disimpulkan kinerja dari sistem komunikasi serat optik ini dalam keadaan normal dan mempunyai performansi yang baik.
Kata Kunci : Link point to point, GPON, power linkbudget
ABSTRACT
This research has been conducted on the analysis of optical fiber attenuation on performance system of communication optical fiber to Link STO Padang Bulan Residential – Puri Tanjung Sari Medan are Point to Point at PT. Telkom Regional Access 1 Sumbagut. In the Office of the Regional Unit of the Assurance 1 Sumbagut using fiber-optic cable Single-mode type g. 655 D, measuring instrument which is used for data retrieval in this research is Optical Power Meters (OPM) and Optical Time Domain Reflectometer (OTDR) type Anritsu MU909014C. Using the method of Optical Link Power Budget to know the performance of fiber-optic communication systems result from loss-loss in fiber-optic cables. From the results of the study showed that the quality of fiber-optic access network in residential Puri Tanjung Sari Terrain has an average sensitivity of Pr for the downlink, with 23.7 dB at a distance of 4,395 Km and dB/km attenuation 22.8. And the average sensitivity of Pr from the side of uplink, with 23.6 dB at a distance of 4,395 Km and 22.92 dB/km attenuation. This value still qualify the ITU-T standard redamannya i.e. where 28 dB/km and a maximum distance of GPON OLT – ONT is 17 Km to the wavelength of 1550 nm. Finally can be summed up the performance of optical fiber communication system in normal state and had a good performance.
Keywords : Link point to point, GPON, Link Power Budget
2 1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi telekomunikasi di era masyarakat modern ini terjadi dengan sangat pesat karena adanya kebutuhan untuk berkomunikasi dan bertukar data dengan kecepatan tinggi dan berkapasitas besar, dalam sistem perkembangan telekomunikasi yang demikian cepat, penerapan serat optik sebagai media transmisi banyak digunakan dan dipercaya dapat memenuhi kebutuhan layanan saat ini dan di masa mendatang. Serat optik merupakan media transmisi yang menggunakan media cahaya sebagai penyalur informasi (data) dengan kecepatan data yang lebih besar dan jarak yang lebih jauh.
Sistem komunikasi serat optik dengan cepat mampu menggantikan sistem-sistem lain yang telah ada dengan kelebihan serat optik yaitu memiliki bandwidth yang besar, terjaminnya kerahasiaan data yang dikirimkan, kemudahan penambahan kapasitas, redaman transmisi kecil, material relatif murah, ukuran kecil, performansi yang lebih baik, tingkat ketersediaan yang tinggi dan jaringan transport yang handal, namun permasalahan yang sering dialami ialah sering hilangnya informasi diakibatkan oleh rugi-rugi yang terjadi di sepanjang jaringan akses transmisi serat optik, salah satu rugi-rugi tersebut adalah rugi daya yang disebabkan oleh tingginya redaman di sepanjang kabel serat optik, sehingga menyebabkan penurunan daya dari pemancar (transmitter) hingga ke penerima (receiver) optik.
Pada Tugas Akhir ini akan dianalisis anggaran daya dan redaman secara point to point pada jaringan akses serat optik dari STO Padang Bulan Medan menuju perumahan Puri Tanjung Sari Medan dengan menggunakan metode Power Link Budget. Adapun parameter yang dianalisis adalah redaman maksimum yang di terima Optical Network Terminal (Rx Losses) dan kualitas daya yang diterima (Rx Power).
2. Metodologi Penelitian
Dalam Tugas Akhir ini penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Power Link Budget pada Link Point To Point. Dimana pengukuran nilai redaman dilakukan berangsur – angsur pada tiap titik – titik distribusi hingga kemudian didapatkan nilai redaman total. , tahapan proses penelitian diilustrasikan pada Gambar 2.1[1]
Gambar 2.1 Blok Diagram tahapan penelitian
2.1 Arsitektur Teknologi GPON
GPON (Gigabit Passive Optical Network) adalah salah satu perkembangan teknologi jaringan akses PON yang mana menggunakan komponen pasif sebagai salah satu komponen utama[2]. Komponen pasif tersebut adalah kabel serat optik dan passive splitter. Penggunaan pada teknologi GPON ini telah distandarkan oleh ITU-T G.984(International Telecommunication Union-Terminal for TelematicsServices.
Baik GPON ataupun GEPON, menggunakan serat
optik sebagai medium transmisi. Satu perangkat akan
diletakkan pada sentral, kemudian akan
mendistribusikan trafik Triple Play (Suara/VoIP,
Multi Media/Digital Pay TV dan Data/Internet) hanya
melalui media 1 core kabel optik disisi subscriber
atau pelanggan. Yang menjadi ciri khas dari
teknologi ini dibanding teknologi optik lainnya
semacam SDH adalah teknik distribusi trafik
dilakukan secara pasif. Dari sentral hingga ke arah
subscriber akan didistribusikan menggunakan splitter
pasif (1:2, 1:4, 1:8, 1:16, 1:32, 1:64)[3].
3 2.2 Prinsip Kerja GPON ( Gigabyte Passive
Optical Network )
Metro Ethernet yang merupakan protocol transportasi data yang terhubung pada OLT menggunakan kabel fiber optik. Dapat dilihat pada Gambar 2.2[4].
Gambar 2.2 Topologi GPON
OLT didistribusikan kearah ONT/ONU menggunakan splitter.Dari ONT/ONU mentransmisikan sinyal elektrik untuk layanan triple play.ONT/ONU dapat langsung terhubung pada voice untuk layanan telepon dan PC untuk layanan data.Kemudian ONT/ONU terhubung ke STB untuk layanan IPTV pada video.Dimana STB berfungsi untuk mengkonversikan sinyal digital menjadi sinyal analog.Semua perangkat saling terhubung dengan menggunakan kabel serat optik. Sedangkan ODN merupakan jaringan optik yang mengubungkan antara OLT dan ONT/ONU[5].
2.3 Perangkat-perangkat Teknologi GPON
2.3.1 OLT (Optical Line Terminal)
OLT adalah daerah pusat dari sistem jaringan GPON dengan kata lain peripheral yang berada pada exchange/STO jaringan telekomunikasi, yangditempatkan tepat berada dibawah server[4].
Adapun spesifikasi perangkat OLT dapat dilihat pada Tabel 2.1[6].
Tabel 2.1 Spesifikasi OLT
Parameter Spesifikasi Unit
Optical Transmit 5 dBm
Power
Downlink Wavelength 1490 Nm
Uplink wavelength 1310 Nm
Video wavelength 1550 Nm
Spectrum width 1 Nm
Downstream rate 2.4 Gbps
Upstream rate 1.2 Gbps
Optical rise time 150 Ps
Optical fall time 150 Ps
Max. work 45 0
C temperature
Min. work -5 0
C temperature
Power supply (DC) -48 V
2.3.2 ODN (Optical Distribution Network)
ODN adalah konfigurasi utama pada jaringan optik teknologi GPON. ODN (Optical Distribution Network) berfungsi sebagai penghubung antara perangkat OLT dan perangkat ONU (Optical Network Unit) yang berada di sisi pelanggan[4].
2.3.3 ONU (Optical Network Unit)
Optical Network Unit (ONU) atau Optical Network
Terminal (ONT) merupakan perangkat di sisi
pelanggan yang menyediakan interface baik data,
voice, maupun video. Fungsi utama ONU ini adalah
menerima trafik dalam format optik dan
mengkonversinya menjadi bentuk yang diinginkan,
seperti data, voice, dan video. Beberapa spesifikasi
dari perangkat ONU yang paling sering dipakai dapat
dilihatpada Tabel 2.2[3].
4 Tabel 2.2 Spesifikasi perangkat ONU
2.3.4 Splitter
Aturan splitting ratio menggunakan aturan pemecahan jaringan optik dimana sinyal optik dipecahkan menjadi sebanyak 1:2, 1:4 sampai 1:32.Spesifikasi splitting ratio dan rugi-rugi yang dihasilkan oleh passivesplitter dapat dilihat pada Tabel 2.3[4].
Tabel 2.3 Splitting ratio dan rugi-rugi yang dihasilkan.
2.3.5 Konektor
Konektor yang digunakan adalah konektor SC.
Konektor SC digunakan pada bagian OLT sampai ONT memakai konektor SC/UPC dengan loss sebesar 0,2 dB. Spesifikasi redaman pada konektor dapat diliht pada Tabel 2.4[3].
Tabel 2.4 Spesifikasi redaman pada konektor
2.3
Power Link Budget
Dalam perhitungan Optical Link Power Budget ada beberapa hal yang harus dihitung, yaitu perhitungan rugi-rugi berdasarkan daya yang telah diketahui perhitungan redaman berdasarkan spesifikasi alat yang digunakan (standarisasi ITU-T)[8]. Dan hasil perhitungan tersebut akan ditunjukkan pada data hasil pengukuran secara teoritis[7].
Untuk menghitung rugi-rugi berdasarkan daya yang telah diketahui dalam pengukuran redaman menggunakan power meter, maka digunakan Persamaan (3.1) untuk mengetahui besarnya nilai redaman/km.
Redaman/km =
(3.1) Dimana :
Redaman/km : Rugi-rugi yang terjadi setiap km kabel dalam satuan dB.
Loss Total Cable : Nilai rugi daya yang telah dikalibrasi dalam satuan dB.
L : Jarak lokasi pengukuran dalam satuan km.
Untuk menghitung nilai redaman berdasarkan spesifikasi alat yang digunakan (standar ITU-T) Persamaan (3.2) digunakan untuk mengukur redaman total yang terjadi.
∑ Loss = (αf + αC + αS + loss pigtail (3.2) Dimana :
Loss : Rugi-rugi dalam satuan dB αf (dB) : Panjang Kabel (km) x 0,20(Loss Kabel) (dB)
αC (dB) : Jumlah Conector x 0,5(Loss Conector) (dB)
Parameter Spesifikasi Unit
Downstream Rate 2.4 Gbps
Upstream Rate 1.2 Gbps
Uplink wavelength 1310 Nm
Video wavelength 1550 Nm
Downlink Rate 1490 Nm
Max. Transmission 20 Km
Distan ce
Power Consumption 16 Watt
Sensitivity Receiver -28 dBm
Optical rise time 200 Ps
Optical fall time 200 Ps
Max. work 45 0
C
temperature
Min. work temperature -5 0
C
Splitting ratio Loss (dB)
1 : 2 2,7 – 4,1
1 : 4 3,9 – 6,8
1 : 8 8,1 – 11,4
1 : 16 10,5 – 14,9
Parameter Spesifikasi Unit
Fyber type SM 10/125 -
Insertion loss 0.2 dB
5 αS (dB) : (
) – 1 x 0,15 (Loss Sambungan) (dB)
Loss/km (dB) :
∑Loss pigtail : ketetapan berdasarkan spesifikasi 0,3 dB
Persamaan (3.3) digunakan untuk mencari perhitungan Optical link power budget terhadap nilai daya receiver.
Total Loss = (Panjang Kabel x Loss Kabel) + (Jumlah Joint x lossJoint)+ (Jumlah Connector x Loss Connector) (3.3)
Persamaan (3.4) digunakan untuk mencari perhitungan perbandingan Optical link power budget terhadap perbedaan nilai daya pada perhitungan dengan pengukuran.
P
r pengukuran- P
r perhitungan(3.4) Persamaan (3.5) digunakan untuk mencari perhitungan hasil selisih perbandingan antara nilai perhitungan dan nilai pengukuran Optical link power budget dalam bentuk persen [7].
P
r= % =
x 100% (3.5) Safety Margin
Safety Margin adalah daya yang masih tersisa dari power transmit setelah dikurangi dari loss selama proses pentransmisian, pengurangan dengan nilai safety margin dan pengurangan dengan nilai sensitivitas receiver. Safety margin juga dapat dikatakan sebagai margin daya yang diisyaratkan harus memiliki nilai lebih dari 0 dB[7]. Nilai safety margin melalui persamaan (3.6)
M = ( P
t- P
r) – a
tot- M
s(3.6) Dimana :
M = margin daya
P
t= Daya keluaran sumber optik (dBm)
P
r= Sensitivitas daya maksimum detector (dBm)
a
tot= Redaman total system (dB)
2.5 Kondisi Jalur Pengukuran
Jarak pengukuran dilakukan hanya pada satu link saja dengan modus aplikasi FTTH (Fiber To The Home), Dalam mendesain jaringan FTTH sangat perlu diketahui tentang teknologi perangkat aktifnya, karena ada kaitannya dengan penggunaan core optik, Pada panduan atau Panduan disini teknologi yang digunakan adalah GPON. Didalam konfigurasi desain FTTH ini terdapat passive spliter yang penempatannya bisa di ODF, ODC maupun di ODP tergantung dari kondisi demandnya.Proses pengukuran jarak dari Sentral Telepon Otomat (STO)Padang BulanMedan– Perumahan Puri Tanjung Sari Medan dapat ilustrasikan pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Pengukuran link serat optik Sto Padang Bulan Ke Perumahan Puri Tanjung Sari Medan Keterangan :
ME : Metro Ethernet OLT : Optical Line Terminal ODF : Optical Distribution Frame ODC : Optical Distribution Cabinet ODP : Optical Distribution Point OTP : Optical Terminal Premises
Secara umum jaringan FTTH/B dapat dibagi menjadi 4 Segmen catuan kabel selain perangkap Aktif seperti OLT dan ONU/ONT, yaitu sbb:
1.Segmen A : Catuan ODF menuju ODC
menggunakan kabel Feeder
6 2.Segmen B : Catuan ODC menuju ODP
menggunakan kabel Distribusi
3.Segmen C : Catuan ODP menuju OTP menggunakan kabel Penanggal / Drop
4.Segmen D : Catuan OTP menuju Roset menggunakan kabel Rumah/ Gedung
Untuk tempat pengukuran terhadap daya dan redaman dilakukan di Kantor Telkom STO Padang Bulan Jalan Setia Budi Pasar II No.349 Medansampai menuju rumah pelanggan di perumahan Puri Tanjung Sari yang berjarak sekitar 4395 Km. Dimana jarak dari STO Padang Bulan Medan sampai ODC berjarak 2.911 Km dengan redaman sisi downlink 9 dB dan untuk sisi uplink nilai redamannya 1.018 dB, dan dari ODC ke ODP berjarak 1.391 Km dengan redaman untuk sisi downlink 10 dB dan untuk sisi uplink dengan redaman 0.66 dB, dari ODP sampai ONT berjarak 0.93 Km untuk sisi downlink dengan redaman 22 dB dan untuk sisi uplink nilai redaman 0.46 dB . Kabel serat optik yang digunakan adalah tipe G.652 yang telah distandarkan oleh ITU.T dengan jumlah core48.
Titik awal pengukuran dari STO Padang Bulan Medan sampai menuju ODP-PDB-FAH01/D01 yang berada di daerah perumahan Puri Tanjung Sari.
Pada jarakpengukuran ini sisi ODC (Optical Distribution Cabinet) pendistribusian daya sinyal optik memakai splitter 1:4 dan pada sisi ODP pendistribusian daya optiknya memakai splitter 1:8.
Pendistribusian daya sinyal optik kesplitter 1:4 yang terletak di ODC didistribusikan kembali kesplitter 1:8 yang berada di ODP yang kemudian dari ODP disambung kabel optik sampai menuju pelanggan dengan jarak tidak lebih dari 500 meter. Pembagian jaringan akses ke pelanggan didasarkan padaletak rumah pelanggan dengan ODP. Sedangkan untuk peta jalur pengukuran dapat di lihat pada Gambar 3.8 yang dimana pengukuran nilai redaman dan
jarak dimulai dari :
- STO Padang Bulan – ODC FAH - ODC FAH – ODP FAH01/D01 - ODP FAH01/D01 - ONT
3. Data & Analisa
Pada tahapan pengukuran dilakukan hanya pada satu link saja dengan modus aplikasi Fiber To The Home (FTTH), Untuk tempat pengukuran terhadap daya dan redaman dilakukan di Kantor Telkom STO Padang Bulan Jalan Setia Budi Pasar II No.349 Medansampai menuju rumah pelanggan di perumahan Puri Tanjung Sari sesuai pada bab 3 yang jarak panjang kabel total 4.395 Km
- STO – ODC
Pada jarak pengukuran dari OLT menuju ODC mencapai 2.911 Km , di sisi OLT menggunakan splitter 1:4 sehingga redaman yang didapat berdasarkan hasil pengukuran pada sisi downlink9dB dan pada sisi uplink 1.018dB
- ODC – ODP
Jarak pengukuran redaman dari ODC menuju ODPmenggunakan OPM. Pada sisi ODP menggunakan splitter 1:8 sesuai standarisasi PT.Telkom yang pada Tabel 2.2 mengenai splitting ratio dengan nilai redaman dari splitteritu 10dB, sehingga redaman yang didapati bertambah menjadi 19dB pada sisi downlink dan 0.66 dB pada sisi uplink dengan jarak 1.391 Km.
- ODP – ONT
Dimana jarak 0.93 Km pengukuran dari ODP menuju ONTmenggunakan kabel drop core dikarenakan keluaran dari ODP 19dByang sudah menggunakan splitter 1:8dengan nilai redaman dari splitter itu 19dB,maka redaman yang didapati bertambah 3.8 dB sehingga redaman total menjadi -22.8dB pada sisi downlink dan 0.460 dB pada sisi uplink.
Pengamatan dilakukan berdasarkan jarak
7 lokasi kejadian (event) yang terjadi di
sepanjang kabel serat optik., maka dapat kita pecah sesuai arah pengukuran, yang dimana Tabel 3.1 pengukuran total redaman sisi downlink, sedangkan Tabel 3.2 adalah hasilpengukuran dari sisi uplink.
Tabel 3.1 Hasil pengukuran total redaman downlink
Tabel 4.2 Hasil pengukuran total redaman uplink
3.2 Perhitungan PowerLink Budget
Perhitungan link power budget pada GPON akan dibagi menjadi dua bagian yaitu antara jalur uplink dan downlink. Panjang gelombang untuk uplink sekitar 1310 nm sedangkan untuk downlink sekitar 1490 nm.Perhitungannya dapat diuraikan sebagai berikut : Perhitungan Link Power Budget dengan jarak terjauh yaitu 4.395 Km (2.911 Km STO ke ODC, 1.391 Km ODC ke ODP, 0.93 Km ODP ke ONT) dengan jalur dari STO Padang Bulan ke ODC lalu ke ODP sampai pada ONT.Dengan menggunakan persamaan (3.2), maka diperoleh hasil perhitungan.
Selain hal redaman yang harus diperhatikan dengan baik, adalah margin dayadengan besar nilai yang di tetapkan harus memiliki nilai lebih dari 0. Margin
daya adalah daya yang masih tersisa dari power transmit setelah dikurangi dari loss selama proses pentransmisian, pengurangan dengan nilai safety margin dan pengurangan dengan nilai sensitifitas receiver.
Data-data yang digunakan pada perhitungan antara lain :
1.
Daya keluaran sumber optik (OLT/ONU) : 5 dBm
2. Sensitivitas detektor (OLT/ONU) : -28 dBm
3.
Redaman Serat optik G.652 (1310,1490) : (0.35, 0.28) dB/Km
4. Redaman Splice : 0.10 dB/splice 5. Konektor SC/UPC ; SC/APC: 0.25 dB / 0.35
dB
6. Jenis PS 1:8 , 1:4 : 10.38 dB, 7.25 dB
7. Jumlah Sambungan : 12 buah
8.Jumlah Konektor : 7 buah 9. Konektor SC/APC digunakan untuk
kebutuhan sinyal RF di OLT & ONT
3.1 Perhitungan Link Power Budget
Perhitungan Link Power Budget ini hanya menghitung besarnya total Loss, besarnya keluaran daya pada ONT, dan perbedaan Safety Margin pada setiap jalur. Analisis ini bertujuan untuk menyesuaikan apakah sistem jika disesuaikan dengan redaman yang terjadi di sepanjang kabel serat optic dan daya yang berkerja pada perangkat transmisi,dapat bekerja dengan baik ataupun sebaliknya.
Perhitungan link power budget pada GPON akan
dibagi menjadi dua bagian yaitu antara jalur uplink
dan downlink. Panjang gelombang untuk uplink
sekitar 1310 nm sedangkan untuk downlink sekitar
1490 nm. Perhitungannya dapat diuraikan sebagai
8 berikut : Perhitungan Link Power Budgetdengan jarak
terjauh yaitu 4.395 Km (2.911 Km STO ke ODC, 1.391 Km ODC ke ODP, 0.93 Km ODP ke ONT) dengan jalur dari STO Padang Bulan ke ODC lalu ke ODP sampai pada ONT.Dengan menggunakan persamaan (3.2), maka diperoleh hasil perhitungan total losspada sisi downlinksebagai berikut :
Total Redaman Sisi Downlinkuntuk link STO Padang Bulan – Puri Tanjung Sari Kota Medan:
tot L .
serat N
c.
c N
s.
s Ps
tot=(2.911x0.28)+(1.391x0.28)+(0.93x0,28)+(5x0.2 5)+(2x0.35)+(8x0.10)+(2x0.05)+(2x0.05)+(10,38+
+7.25)
tot= 0.815 dB + 0.389 + 0.260 + 1.25 + 0.7 + 0.8 dB + 0.2 dB + 0.2 + 10.38 dB + 7.25 dB
tot= 22.244dB
Sehingga untuk perhitungan Margin Daya dapat menggunakan persamaan (3.6) sebagai berikut : M = ( Pt¬ - Pr ) – atot - Ms
Pr = 5 –22.244– 6 Pr = -23.244 dBm
M = ( Pt – Pr(Sensitivitas)) – α total – SM M = ( 5 + 28 ) – 22.711– 6
M = 4.75dBm
Nilai M yang diperoleh dari hasil perhitungan downlink ternyata menghasilkan nilai yang masih berada lebih dari 0dB. Hal ini mengindikasikan bahwa link diatas memenuhi kelayakan link power budget.
Dengan menggunakan persamaan (3.2), maka diperoleh hasil perhitungan total loss pada sisi Uplink sebagai berikut :
tot L .
serat N
c.
c N
s.
s Ps
tot=(2.911x0.35)+(1.391x0.35)+(0.93x0,35)+(5x0.2 5)+(2x0.35)+(8x0.10)+(2x0.05) +
(2x0.05)+(10,38+7.25)
tot= 1.018 dB + 0.486 + 0.325 + 1.25 + 0.7 + 0.8 dB
+ 0.2 dB + 0.2 + 10.38 dB + 7.25 dB
tot= 22.609 dB
Total Redaman Sisi Uplinkuntuk link STO Padang Bulan – Puri Tanjung Sari Kota Medan:
Dan untuk perhitungan margin daya kita menggunakan persamaan (3.6) sebagai berikut : M = ( Pt¬ - Pr ) – atot - Ms
Pr = 5 – 22.609 – 6 Pr = -23.609 dBm
M = ( Pt – Pr(Sensitivitas)) – α total – SM M = ( 5 + 28 ) –22.609 – 6
M = 4.39 dBm
Berdasarkan perhitungan link power budget downlink maupun uplink, nilai P
rkurang dari -28 dBm, yaitu Pr = -23.2 dBm untuk downlink dan Pr = -23.6 dBm untuk uplink. Pada margin daya lebih dari 0 dB, yaitu 4.5 dBm untuk downlink dan 4.39 dBm untuk uplink.Ini menunjukkan bahwa jaringan FTTH sudah memenuhi standar ITU-T G.984. Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa hasil nilai daya keluaran yang terjadi berdasarkan perhitungan lebih kecil dibandingkan dengan hasil pengukuran menggunakan Metode Optical Power Link Budget secara pengukuran. Untuk lebih jelasnya lihat pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3 Perbandingan hasil pengukuran dan perhitungan daya keluaran
Berdasarkan hasil nilai antara perhitungan dengan
pengukuran, maka selanjutnya kita dapat menghitung
selisih dari nilai daya keluaran dengan menggunakan
persamaan (3.4)
9 P
r pengukuran- P
r perhitunganΔ
downlink: -23,8 – (-23,2) = -0,6dBm Δ
uplink: -23,9 – (-23,6) = -0,3dBm
Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa selisih nilai dari pengukuran dengan perhitungan menggunakan metode Optical Power Budget secara perhitungan teori. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.4
Tabel 3.4 Perbandingan selisih hasil pengukuran dan perhitungan daya keluaran
Berdasarkan hasil nilai selisih antara perhitungan dengan pengukuran, perbedaan sebesar -0.3 dBm dan untuk downlink perbedaan sebesar – 0.6 dBm.maka selanjutnya kita dapat menghitung selisih nilai pengukuran dan perhitungan dalam bentuk persentase dari nilai daya keluaran dengan menggunakan persamaan (3.5)
% =
x 100%
(3.5)
(%)
uplink=
x 100% = 1.27%
(%)
downlink=
x 100% = 2.58%
Sehingga perbedan perhitungan dan pengukuran daya keluaran di pelanggan, yakni untuk uplink sebesar 1.27% dan untuk downlink sebesar 2.58%. Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa selisih nilai dari pengukuran dengan perhitungan menggunakan metode optical power budget secara
perhitungan teori. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.5
Tabel 3.5 Perbandingan hasil pengukuran dan perhitungan daya keluaran
4.3 Analisis Hasil Perhitungan
Dari hasil perhitungan tampak bahwa kelayakan sistem yang digunakan masih dalam keadaan relatif baik dikarenakan masih dalam interval range total redaman yang ditetapkan. Maka dari itu jika semakin jauh jarak otomatis panjang kabel yang digunakan akan semakin panjang dan menjadikan redaman bertambah besar. Begitu juga dengan peralatan sisipan yang digunakan seperti konektor, splice dan passive splitter akan menambah total redaman pada sisi penerima akanmenjadi semakin besar, dan dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknologi GPON ini sebaiknya pada nilai total redaman yang berada di bawah 28 dB untuk menjaga perangkat ONT agar tetap dalam keadaan baik dan kualitas layanan dapat di terima oleh receiver dengan baik..
4. Kesimpulan Dan Saran
4.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis redaman pada sistem komunikasi serat optik yang menggunakan teknologi GPON ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
10 1. GPON adalah suatu sistem komunikasi yang
menggunakan kabel serat optik sebagai media transmisinya selain itu bandwidth yang ditawarkan oleh teknologi ini cukup besar, yang dapat mencapai 2.4 Gbps untuk arah downlink dan arah uplink mencapai 1.2 Gbps dan pada petransmisiansemua data hanya menggunakan satu core optik.
2. Nilai redaman untuk arah downlink menurut perhitungan secara teoritis, dari STO Padang Bulan sampai menuju pelanggan dengan jarak yang terjauh yaitu 4395Km mencapai 22.01 dB dan menurut hasil pengukuran 22.9 dB. Sedangkan redaman untuk arah uplink menurut perhitungan secara teoritis, dari pelanggan dengan jarak yang terjauh yaitu 4395Km menuju STO Padang Bulan sampaimencapai 22.6 dB dan menurut hasil pengukuran 22.8 dB.Jadi sistem komunikasi serat optik teknologi GPON ini dalam keadaan yang layak atau baik untuk dioperasionalkan dikarenakan nilai redaman masih dibawah nilai redaman maksimum yang ditetapkan.
3. Pengaruh yang signifikan terjadi dalam instalasi kabel distribusi dari ODC menuju (ODP) ini terhadap besar link budget yaitu dikarenakan oleh tekukan (bending) kabel distribusi serat optik pada saat penarikan ke arah ODP dan sambungan konektor pada saat proses penyambungan core murni antara kabel distribusi dengan passive splitteryang ada di ODP sehingga menyumbangkan redaman +/-50% dan mempengaruhi margindaya dari keseluruhan yang menyebabkan nilai link budget begitu besar dan proses pentransmisian data menjadi tidak stabil.
4.2 Saran
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang dapat penulis berikan pada Tugas Akhir ini, antara lain :
1. Sebaiknya dalam implementasi jaringan serat optik yang menggunakan teknologi GPON ini diusahakan ketika instalasi mengurangi efek redaman dari instalasi.
Untuk memelihara kelayakan dari pada sistem komunikasi teknologi ini, sebaiknya dilakukan perawatan secara rutin untuk menjaga sistem tetap dalam kondisi stabil dalam hal petransmisian data.
2. Dalam hal penarikan kabel distribusi dari ODC menuju ODP sebaiknya dilakukan pengukuran dan memperhatikan faktor keamanan, kemudahan serta kondisi lalu lintas agar apabila ada rute berbelok kabel distribusi dapat menyesuaikan rentang tarikan dengan kondisi aktual di lapanggan, serta penyambungan core murni diusahakan dengan cara sambungan fusi karena itu akan mengurangi redaman yang terjadi.
3. Sebaiknya dalam implementasi jaringan
serat optik yang menggunakan
teknologi GPON ini diusahakan
dilakukan pengukuran untuk mengacu
pada standart yang telah ditetapkan oleh
ITU-T L.40 dan ITU-T L.13 ketika
instalasi untuk mengurangi efek
redaman dari instalasi.
11 DAFTAR PUSTAKA
1. Uziek. (2011). CInta Elektro. “Sistem
Transmisi Serat Optik”.
https://cintaelektro.wordpress.com.2011.sist em-transmisi-serat-optik. diakses pada tanggal20Juni2016http://www.dtcnetconnect .com/AMP/index.php?option=com_content
&view=article&id=301:passive-optical- network
diakses pada tanggal 14 september 2016 2. http://renzana.blogspot.co.id/2013/01/gpon.h
tml diakses tanggal 4 juni 2016
3. Anonim. (2014). “Jaringan Akses (GPON dan GEPON) Journal dari Telkom University. diakses tanggal 20 Juni 2016