• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT PANITIA KERJA

RUU TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH T ahun Sidang

Masa Persidangan Jenis Rapat RapatKe Sifat Rapat Dengan Hari I Tanggal Pukul

T em pat Rap at Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara

Anggota yang hadir Nama Anggota

Pimpinan Pansus Pemilu:

2007-2008 I

Rapat Panitia Kerja XIII (Ketigabelas) Tertutup

Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri;

Rabu, 28 November 2007 09.00 WIB- selesai

Ruang Rapat Eks Komisi I DPR Rl (KK.I/Gd. Nusantara) DRS. H. B. T AMAM ACHDA, M.SI/Ketua Panja Suroso, SH/Kabagset Pansus Pemilu

Pembahasan RUU Tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD 26 dari 28 orang anggota Pansus Pemilu

2 orang ljin

1. Drs. Ferry Mursyidan Baldan/F-PG/Ketua 2. Dr. Yasona H. Laoly, SH., MS/F·PDI P/Waket 3. Drs. H. B. Tamam Achda, M. Si/F·PPP/Waket 4. Ignatius Mulyono/F-PD/Waket

5. Dr. lr. Hj. Andi Yuliani Paris, M.Sc/F·PAN/Waket

Fraksi Partai Golkar : Fraksi Kebangkitan Bangsa :

6. Drs. Agun Gunandjar Sudarsa 20. Dr. H. Ali Masykur Musa, M.Si 7. Dr. Mariani Akib Baramuli, MM 21. Drs. H. Saifullah Ma'shum, M.Si 8. Drs. Simon Patrice Morin

9. H. Hardisoesilo

10. H. Muhammad Sofhian Mile, SH, MH

Fraksi PDI Perjuangan : Fraksi Partai Keadilan Sejahtera :

11. Pataniari Siahaan 22. Agus Purnomo, S.IP

12. Nursuhud 23. Drs. Almuzzamil Yusuf

13. lrmadi Lubis

(2)

Fraksi Partai Persatuan Pembangunan : 14. Lukman Hakim Saifuddin

15. Ora. Lena Maryana Mukti Fraksi Partai Demokrat : 16. DR. Benny K. Harman, SH 17. lr. Agus Hermanto, MM Fraksi Partai Amanat Nasional : 18. H. Patrialis Akbar, SH

19. Abdillah Toha, SE

Anggota yang berhalangan hadir (ljin) : 1. Drs. T.M. Nurlif

2. Dr. Sutradara Gintings

Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi : 24. Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid, MA

Fraksi Partai Bintang Reformasi : 25. H. Bachrum R. Siregar, SE

Fraksi Partai Damai Sejahtera : 26. Pastor Saut M. Hasibuan

KETUA RAPAT (DRS. H. B. TAMAM ACHDA, M.SUF·PPP):

Bapak dan lbu dan

Saudara sekalian yang saya hormati,

Tepat jam 09.30 WIB perkenankan saya mencabut skorsing Rapat tadi malam, dan kita lanjutkan Rapat ini sampai pukul 12.00 WIB, dan kemudian Rapat kita nyatakan sebagai Rapat Tertutup.

Bapakllbu dan Saudara sekalin,

(SKORS DICABUT PUKUL 09.30 WIB)

Kalau melihat komposisi yang hadir, ini sudah, saya kira sudah lebih dari cukup dan sesuai dengan kesepakatan Panja, berapapun yang hadir, Rapat ini akan tetap kita laksanakan. Dengan demikian kita mulai Rapat hari ini dengan mengingatkan Rapat terakhir tadi malam kita sudah membahas DIM No. 852 dan kemudian pada saat ini masih ada beberapa DIM berkaitan dengan pemunggutan suara ini.

Pertama, DIM No. 872 dan DIM No. 873 yang disampaikan oleh F-PKS dan kemudian DIM No. 875 pada Pasal 167 yang diajukan oleh F-PAN, kemudian DIM No. 881 berkaitan dengan Pasal169 Ayat (1) yang diajukan oleh F-PAN juga, kemudian DIM No. 887 yang berkaitan dengan Pasal170 Ayat (1) yang diajukan oleh F-PAN dan kemudian DIM No. 888 Pasal170 Ayat (2) yang diajukan oleh PKS dan kemudian DIM No. 889 berkaitan Pasal 170 Ayat (3) yang juga diajukan oleh F-PAN. Kemudian terakhir DIM No. 893 berkaitan dengan Pasal 171 Ayat (3) yang juga diusulkan oleh F-PAN.

Bapak dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,

Saya kira langsung saja kita mulai membahas dengan DIM No. 872, DIM No. 873 berkaitan dengan Pasal 166 yang diusulkan oleh F-PKS. Berdasarkan catatan kami, DIM-DIM ini terkait dengan metode pemberian suara dengan cara menulis dan kemudian disepakati untuk masuk didalam sistem Pemilu yang akan di lobby-kan. Karena itu apakah kita setuju kalau ini kita langsung lobby kan.

(RAPAT:SETUJU)

Kemudian selanjutnya berkenaan dengan DIM No. 875 Pasal167 Ayat (1) yang diajukan oleh F-PAN, oleh karena F-PAN belum ada, apakah boleh saya bacakan usulannya itu?.

Pemilih yang telah memberikan suara diberikan tanda khusus oleh KPPS atau KPPSLN dan kemudian diusulkan dirubah. Pemilih yang telah memberikan suara diberikan tanda tinta khusus pad a jarinya oleh KPPS atau KPPSLN.

Saya persilahkan masing-masing Fraksi untuk memberikan respon, Barangkali Bapak Saifullah.

Silahkan Bapak.

(3)

DRS. H. SAIFULLAH MA'SHUM/F·KB:

Terima kasih Pimpinan,

Bapak dan lbu yang kami hormati,

Saya kira, saya tidak begitu persis mengikuti pada DIM sebelumnya menyangkut soal tanda khusus bagi KPPS dan KPPSLN pada DIM-DIM berikutnya, tetapi menurut saya dengan draft Pemerintah itu, kita bisa memberikan keleluasaan bagi KPU nanti, mungkin menentukan metode atau teknis nanti khusus yang bisa saja tetap menggunakan tinta khusus dan ada di jari, atau juga ditemukan sebuah teknik-teknik lain yang lebih efektif dan lebih efisien.

Saya kira, saya lebih cenderung kembali kepada Pemerintah, tetapi ini tidak prinsip sekali, saya usul ini kembali ke timus saja.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih, Kita terima usulnya, Kemudian Bapak Pastor.

PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F·PDS:

Setuju masuk ke timus.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bapak Pastor, Bapak.

IRMADI LUBIS/F·PDIP:

Saya rasa PDIP setuju dilangsungkan ke timus.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bapak lrmadi, Silahkan Bapak Agus.

AGUS PURNOMO, SIP/F·PKS:

Idem Bapak.

KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Bapak Ferry.

KETUA PANSUS (DRS. FERRY MURSYIDAN BALDAN/F·PG):

Saya kira, saya setujui di timus, tetapi catatan tambahan usul, untuk diberikan penjelasan saja, mungkin semangatnya ternan-ternan PAN ini kalau saya coba baca supaya ada sebuah tanda yang tidak memungkinkan pemilih memberikan suara dua kali, sebetulnya itu semangatnya, penjelasan saja, tanda khusus itu yang tidak memungkinkan pemilih itu memberikan suara dua kali, bahwa bentuknya apa, biarkan seperti Bapak Saifullah sampaikan, supaya jangan hilang.

KETUA RAPAT:

Bapak silahkan.

WAKIL KETUA (IGNATIUS MUL YONO/F-PD):

Kami agaknya harus mengikuti apa yang disampaikan Bapak Ferry ini, Demokrat ini, kami sependapat, jadi itu dimasukkan ke penjelasan saja, apa yang dimaksudkan tanda khusus itu, dan tanda khusus itu salah satunya bisa berwujud tinta, tetapi mungkin kalau suatu saat tinta tidak ada bisa diberikan bentuk tanda yang lain.

T erima kasih.

KETUA RAPAT:

Silahkan Bapak Dirjen barangkali.

(4)

PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan,

Jadi Ayat (1) ini terkait dengan Ayat (2), jadi menurut pendapat kami tetap seperti ini, kemudian apa itu tinta, barangkali di KPU yang menentukan. Kemudian tadi yang dari Golkar tadi, kita berikan dalam penjelasan, kita bisa ditambah, dirumusannya tetap seperti Ayat (1) dan Ayat (2), tanda khusus PKS ini dari PAN tadi tinta khusus, kemudian kita atur dalam Ayat (2) bahwa tanda khusus itu diserahkan kepada KPU, itu nanti KPU yang menentukan, apakah tanda khusus itu tinta atau hal-hal yang lain. Untuk mengakomodir tadi bahwa ini seperti kata Golkar tadi, tidak dua kali, sehingga didalam penjelasan bisa kita berikan suatu penjelasan bahwa tanda khusus ini dalam pengertian untuk begini-begini, bentuknya bagaimana apakah tinta atau dsb, KPU bisa kita serahkan kepada KPU sesuai dengan Ayat ini.

KETUA RAPAT:

Terima kasih,

Jadi ada dua pendapat intinya,

Pertama, kita masukkan ke timus, kami ini persoalan seperti redaksional saja, tetapi juga ada keinginan untuk menambah penjelasan, jadi kita masukkan ke timus dengan berbagai penjelasan tadi.

(RAPAT:SETUJU)

Kemudian Pasal berikutnya, adalah berkenaan dengan DIM No. 881 dari Pasal 169, jadi saya bacakan RUU mengatakan Ayat (1) KPPS/KPPSLN bertanggungjawab atas pelaksanaan pemungutan suara secara tertib dan lancar, kemudian oleh F-PAN diusulkan penambahan kata secara jujur dan adil. Apakah ini disetujui begitu?, jadi F-PAN mengharapkan tambahan suara secara jujur dan adil, tertib dan lancar.

Saya persilahkan.

DRS. H. SAIFULLAH MA'SHUM/F-KB:

Saya ingin kembali ke Pemerintah, karena begini ada konsekuensi kita sudah membahas azas-azas Pemilu di depan, azas Pemilu itu sudah baku, azas LUBER dan JURDIL. Dalam konteks ini muncul nomenkelatur baru, Jujur, adil, tertib dan lancar. lni arus Pemilu atau bukan?, ini sebenarnya tambahan untuk mengingatkan bahwa dalam semua tahapan, seyogyanya mereka tidak melupakan azas itu, sehingga kalau hanya menambahkan kata jujur dan adil disini, maka LUBER menjadi terlupakan disini. Oleh karena itu, ini menjadi persoalan ketika ini sudah menjadi nomenkelatur yang sudah baku di azas. Disini muncul hanya soal jujur dan adilnya, tetapi yang lain tidak terikutkan.

Oleh karena itu, mahan dipertimbangkan untuk kembali ke konsep Pemerintah, karena soal itu, otomatis azas didepan itu sudah diuraikan begitu rupa tegasnya, kalau ini akan disampaikan, maka setiap tahapan kita musti menggunakan itu, jujur, adil atau apa itu. Oleh karena itu dengan satu kalimat yang ada pada redaksi yang ada dalam azas yang ada di depan sendiri.

KETUA RAPAT:

Jadi, prinsipnya tetap.

Silahkan PKS.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F·PKS:

Azas itu rohnya, jadi kalau rohnya itu ditaruh diluar itu tidak bagus juga, jadi kita kembali ke rumusan Pemerintah, rohnya jangan dicabut.

KETUA RAPAT:

Jadi rohnya tidak dicabut.

PDIP barangkali Bapak.

(5)

IRMADI LUBIS/F-PDIP:

Terima kasih Pimpinan,

Saya kira untuk DIM kami tetap, karena yang diatur disini adalah pelaksanaan pemunggutan, sedangkan azas-azas Pemilu itu sendiri sudah mencakup di yang kita telah kita bahas mengenai azas dan Pemilu itu sendiri, ini hanya soal pelaksanaan, soal pertanggungjawaban pelaksanaan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Bapak Pastor.

PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F·PDS:

T etap Bapak.

KETUA RAPAT:

Bapak Lukman, tetap juga?

LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN/F-PPP:

Ya, karena PKS berbicara tentang roh, sesuatu yang amat sedikit ilmu tentangnya, jadi apa boleh buat, kita tetap saja.

KETUA RAPAT:

Terima kasih,

Baik, jadi semua berpendapat bahwa ini tetap.

Pemerintah tetap juga?.

(RAPAT:SETUJU)

Kemudian berikutnya adalah DIM No. 887, usulan dari F-PAN yang meminta penghapusan, Anggota masyarakat yang tidak memiliki hak pilih atau yang tidak sedang melaksanakan pemberian suara dilarang berada didalam TPS/TPSLN.

Saya kita putar lagi, silahkan pendapat Bapak-bapak sekalian DIM No. 887 Bapak Ferry.

DRS. FERRY MURSYIDAN BALDAN/F-PG:

Saya kira kita setuju tetap saja,

Karena kita sudah jelas kemarin, memisahkan kemarin yang mana yang pemilih, kalau pemilih tentu, kalau dia punya hak pilih tidak boleh masuk ini. Saya kira sudah clear dengan yang kemarin, jadi pemantau, kemudian masyarakat ini . bisa diluar dan didalam itu adalah sangsi peserta Pemilu, kemudian pengawas itu, saya kira sudah clear kemarin itu. Tetap saja Bapak.

KETUA RAPAT:

Setuju semua tetap.

Baik kita putuskan untuk ini tetap.

(RAPAT:SETUJU)

Berikutnya adalah DIM No. 888 berkenaan dengan Pasal 170, yang diajukan oleh F-PKS, namun demikian sesuai dengan catatan kita ini terkait dengan pembahasan di DIM No. 1209 Pasal 228 dalam mana F-PKS telah menarik usulannya. Apakah dengan demikian otomatis?

(RAPAT:SETUJU)

Baik kemudian DIM No. 889 berkenaan dengan Pasal170 Ayat (3) diajukan oleh F-PAN, saya persilahkan tetap.

(RAPAT:SETUJU)

(6)

lni yang punya tidak ada ini,

Terakhir dari F-PAN dari cluster ini berkenaan dengan DIM No. 893 Pasal 171. F-PAN mengusulkan pembahasan kata lapangan, penambahan kata lapangan setelah kata pengawas Pemilu. Jadi bunyi lengkapnya menjadi KPPS/KPPSLN menindaklanjuti saran perbaikan yang disampaikan oleh pengawas Pemilu lapangan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dan Ayat (2).

Barangkali Bapak Saifullah.

Silahkan.

DRS. H. SAIFULLAH MAKSUM/F·KB:

Saya kali ini agak bisa setuju dengan PAN, karena ini konstruksinya sama Undang-undang No. 22 yaitu pada tingkat bawah itu ada pengawas lapangan, sehingga domainnya memang Panwaslu lapangan, saya setuju dengan PAN.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Setuju.

KETUA PANSUS (DRS. FERRY MURSYIDAN BALDAN/F-PG):

Setuju Pimpinan,

Timus singkonkan dengan Undang-undang No. 22, itu saja.

PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F·PDS:

Tetap.

KETUA RAPAT:

PKS.

DIM No. 893 Pasal 171 Ayat (3) yang menambah kata lapangan. Pengawas Pemilu Lapangan.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F-PKS:

Kita tetap Ketua, tetap Pemerintah, sesuai dengan ini, karena sebetulnya tambahan lapangan tidak merubah substansi.

KETUA RAPAT:

Demokrat silahkan.

WAKIL KETUA (IGNATIUS MUL YONO/F·PD):

Kalau Demokrat disini tetap dengan alasannya bahwa Pengawas Pemilu Lapangan itu termasuk didalam pengawas Pemilu, jadi nanti tidak harus pengawas Pemilu saja yang bisa memberikan perbaikan, tetapi bisa pengawas Pemilu yang lain, jadi lebih bagus kita mencakup keseluruhan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

PPP sudah,

Bapak Pastor sudah, semuanya sudah ya?

IRMADI LUBIS/F-PDIP:

Terima kasih Pimpinan,

Kami di DIM ini tetap, apakah memang kita bedakan pengawas lapangan, pengawas dalam, pengawas luar, saya kira apa rumusan dari Pemerintah, F-PDIP tetap saja.

KETUA RAPAT:

Jadi masih ada, pertama PKB menyatakan setuju dan yang lain menyatakan tetap, atau kita usulkan di timus sesuai dengan usul dari F-PG dengan singkronisasi dengan Undang-undang No. 22, dapat disetujui?

(RAPAT:SETUJU)

(7)

Bapak/lbu dan Saudara sekalian,

Kita sudah menyelesaikan cluster pemungutan suara, sebagai lanjutan pembahasan yang tadi malam, dan kemudian sekarang kita mengijak cluster perhitungan suara dan penambahan hasil Pemilu.

Silahkan dibagi dulu.

Rapat akan dilanjutkan dipimpin oleh Bapak Mulyono.

Silahkan.

KETUA RAPAT (IGNATIUS MULYONO/F-PD):

Terima kasih,

Bapak dan lbu sekalian,

Saya ijin meneruskan, ini juga kalau pas lbu Andi hadir dihadapan saya, bisa lbu Andi, karena kebetulan ada masalah hal yang harus kami selesaikan, urusan anak ini, karena sangat penting menu rut saya.

Kita masuk ke perhitungan suara, yaitu masuk ke Pasal 174 DIM No. 905, disini kalau kami bacakan, perhitungan suara di TPS dan TPSLN dilaksanakan setelah pemunggutan suara berakhir, perubahan diajukan oleh PAN.

Pertama, pemunggutan suara dilakukan ketika seluruh pemilih yang hadir pada daftar pemilih tetap telah melaksanakan hak pilihnya atau batas waktu pemilihan telah berakhir, terus tambahnya waktu sebagaimana Ayat (1) adalah waktu paling lambat yang ditetapkan oleh KPU secara nasional, ini adalah usulan dari pihak PAN, kami kira kami minta Pemerintah untuk menjelaskan dulu.

DIM No. 905, kami ulangi lagi Pasal174 DIM No. 905.

PEMERINTAH:

Rumusan Pemerintah masih tetap, terhadap usulan PAN, justru kami ingin mendengarkan dari Fraksi-fraksi lain.

KETUA RAPAT:

Baik,

lni kami tambahkan sedikit,

Kalau dari F-PAN mengusulkan seluruh daftar itu sudah melakukan hak pilihnya, jadi seluruh yang ada dalam Daftar Pemilih telah melaksanakan hak pilihnya, itu bisa langsung dihitung, tetapi kalau yang dipakai oleh Pemerintah adalah berdasarkan waktu yang sudah ditentukan, jadi tentunya atau memang ini mencakup waktu yang sudah ditentukan atau memang seluruhnya sudah melakukan pemunggutan, karena ini setelah pemunggutan suara berakhir, pemunggutan suara itu berakhir itu dirumuskan oleh dua unsur, yaitu apakah seluruh peserta pemilih itu sudah melakukan, atau waktu yang sudah dibatasi itu telah di tentukan.

Silahkan kalau ada tanggapan, PDIP.

IRMADI LUBIS/F·PDIP:

Pimpinan,

Walaupun DIM Fraksi kami tetap, tetapi setelah memperhatikan rumusan yang diinikan oleh PAN, saya kira itu lebih lengkap, karena disitu sudah ada dua pilihan, data-data partai yang telah ada didala daftar telah melaksanakan hak pilihnya, atau batas waktu pemilihan telah berakhir, jadi jelas itu, Pemerintah itu akan perhitungan suara akan dilaksanakan pemunggutan suara, kapan berakhirnya itu tidak ini acuannya. Saya kira usulan dari PAN ini cukup lengkap.

KETUA RAPAT:

P-KB silahkan.

DRS. H. SAIFULLAH MAKSUM/F-KB:

Terima kasih Pimpinan,

Memang dari PAN agak lengkap, tetapi justru ada sedikit problem, jadi kalau perhitungan

suara itu dilakukan ketika seluruh pemilih yang ada dalam daftar pemilih itu melaksanakan hak

(8)

pilihnya, ini kita simulasikan, karena sangat rasionalnya dan sangat giatnya itu, jam 10 sudah selesai semua hak pilihnya, maka dia bisa dilakukan penghitungan suara, ini saya kira bisa menganggu proses TPS yang lain, oleh karena itu saya ingin kembali kepada Pemerintah karena perhitungan suara sifatnya harus sama, serentak secara nasional dengan mungkin pengecualian batas waktu antara Barat, Timur dan Tengah, karena kalau ini implikasinya berat Bapak, kalau selesai pukul 10.00 WIB harus dihitung saat itu juga, bagaimana dengan TPS yang lain, sedangkan selesai pukul 13.00 WIB dst, punya implikasi yang tidak sederhana konsep PAN ini, walaupun lebih efektif dan efisien.

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Silahkan Golkar.

KETUA PANSUS (DRS. FERRY MURSYIDAN BALDAN/F-PG):

Saya setuju dengan F-KB kali ini,

Yang saya kira menegaskan bahwa itu mungkin rumusannya perlu ditambah pada waktu pemunggutan suara berakhir, karena begini, selain masalah yang disampaikan oleh Bapak Saifullah tadi, itu jangan-jangan itu ada anggapan belum semua, dianggap tidak ada dsb itu, mendahului ditutup dihitung dulu, itu juga saya kira memancing orang untuk mendorong melakukan hal yang saya kira melakukan sesuatu hal yang rawan dalam Pemilu, di TPS. Jadi lebih kepada waktu, kalau waktu jelas, ketika sudah tiba saatnya, walaupun dia terdaftar tetapi kalau sudah ini, tidak bisa lagi, kalaupun ini, tetapi kalau kita beri ruang, walaupun semua sudah tetapi tidak ini, nanti untuk disitu benar, tetapi nanti bisa dimanfaatkan oleh teman-teman lain untuk yang lainnya belum, kemudian dipercepat perhitungan suara, saya kira juga harus dihindari sebetulnya.

Jadi, tetap saja dengan batasan ada batas waktu saja.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Oke pendekatan Golkar batas waktu,

Saya tambahkan sedikit, supaya ada pertimbangan yang lain,

Bagaimana kalau ada waktu, terbatas waktunya habis, tetapi antrian masih ada, apakah dipotong atau apa, atau mungkin ada klausul.

Silahkan PPP.

LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN/F-PPP:

Sebenarnya usulan PAN ini justru mengakomodasi fleksibilitas, jadi yang ingin saya dalami lagi, yang saya ingin bertanya dalam forum ini adalah, apakah perhitungan suara itu harus lengkap secara bersamaan secara nasional. Saya masih belum melihat urgensinya, toh Indonesia Barat, Tengah, Timur berbeda-beda juga, secara rasional realitasnya tidak mungkin bersamaan.

Justru dengan tidak harus bersamaan, kemudian fleksibel, karena saya khawatir, kalau satu TPS misalnya karena tadi itu rajin semua, datang tepat waktu, jam 11.00 WIB sudah selesai semua, apakah harus menunggu pukul13.00 WIB, karena itu batas akhir waktu perhitungan, lalu biasanya setelah itu mereka banyak yang pulang , tinggal itu, keamanan kotak suara menjadi sangat kurang, intinya kalau memang sudah semuanya sudah memberikan hasilnya, lalu kemudian sudah selesai, bisa saja dilanjutkan dengan tahap berikutnya dengan penghitungan.

Menurut saya fleksibelitas itu harus dibuka begitu. Oleh karenanya usulannya, apakah seluruh pemilih sudah melaksanakan haknya, atau memang batas waktu pemilihan sudah berakhir, jadi ini memang opsi yang fleksibel sebenarnya.

Begitu Ketua.

KETUA RAP AT:

Silahkan dari PKS.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F·PKS:

PKS kita melihat apa yang disampaikan PAN ini memang cukup fleksibel untuk

mengakomodir, tetapi dia belum menjawab pertanyaan Pimpinan, satu dan lain hal, karena hujan

lebat, ternyata orang pagi-pagi tidak ada yang datang, orang pada datang pukul 12.00 WIB,

(9)

DRS. H. SAIFULLAH MA'SHUM/F·KB:

Terima kasih Pimpinan,

Bapak dan lbu yang kami hormati,

Saya kira, saya tidak begitu persis mengikuti pada DIM sebelumnya menyangkut soal tanda khusus bagi KPPS dan KPPSLN pada DIM-DIM berikutnya, tetapi menurut saya dengan draft Pemerintah itu, kita bisa memberikan keleluasaan bagi KPU nanti, mungkin menentukan metode atau teknis nanti khusus yang bisa saja tetap menggunakan tinta khusus dan ada di jari, atau juga ditemukan sebuah teknik-teknik lain yang lebih efektif dan lebih efisien.

Saya kira, saya lebih cenderung kembali kepada Pemerintah, tetapi ini tidak prinsip sekali, saya usul ini kembali ke timus saja.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih, Kita terima usulnya, Kemudian Bapak Pastor.

PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F·PDS:

Setuju masuk ke timus.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bapak Pastor, Bapak.

IRMADI LUBIS/F·PDIP:

Saya rasa PDIP setuju dilangsungkan ke timus.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bapak lrmadi, Silahkan Bapak Agus.

AGUS PURNOMO, SIP/F·PKS:

Idem Bapak.

KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Bapak Ferry.

KETUA PANSUS (DRS. FERRY MURSYIDAN BALDAN/F·PG):

Saya kira, saya setujui di timus, tetapi catatan tambahan usul, untuk diberikan penjelasan saja, mungkin semangatnya ternan-ternan PAN ini kalau saya coba baca supaya ada sebuah tanda yang tidak memungkinkan pemilih memberikan suara dua kali, sebetulnya itu semangatnya, penjelasan saja, tanda khusus itu yang tidak memungkinkan pemilih itu memberikan suara dua kali, bahwa bentuknya apa, biarkan seperti Bapak Saifullah sampaikan, supaya jangan hilang.

KETUA RAPAT:

Bapak silahkan.

WAKIL KETUA (IGNATIUS MUL YONO/F-PD):

Kami agaknya harus mengikuti apa yang disampaikan Bapak Ferry ini, Demokrat ini, kami sependapat, jadi itu dimasukkan ke penjelasan saja, apa yang dimaksudkan tanda khusus itu, dan tanda khusus itu salah satunya bisa berwujud tinta, tetapi mungkin kalau suatu saat tinta tidak ada bisa diberikan bentuk tanda yang lain.

T erima kasih.

KETUA RAPAT:

Silahkan Bapak Dirjen barangkali.

(10)

PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan,

Jadi Ayat (1) ini terkait dengan Ayat (2), jadi menurut pendapat kami tetap seperti ini, kemudian apa itu tinta, barangkali di KPU yang menentukan. Kemudian tadi yang dari Golkar tadi, kita berikan dalam penjelasan, kita bisa ditambah, dirumusannya tetap seperti Ayat (1) dan Ayat (2), tanda khusus PKS ini dari PAN tadi tinta khusus, kemudian kita atur dalam Ayat (2) bahwa tanda khusus itu diserahkan kepada KPU, itu nanti KPU yang menentukan, apakah tanda khusus itu tinta atau hal-hal yang lain. Untuk mengakomodir tadi bahwa ini seperti kata Golkar tadi, tidak dua kali, sehingga didalam penjelasan bisa kita berikan suatu penjelasan bahwa tanda khusus ini dalam pengertian untuk begini-begini, bentuknya bagaimana apakah tinta atau dsb, KPU bisa kita serahkan kepada KPU sesuai dengan Ayat ini.

KETUA RAPAT:

Terima kasih,

Jadi ada dua pendapat intinya,

Pertama, kita masukkan ke timus, kami ini persoalan seperti redaksional saja, tetapi juga ada keinginan untuk menambah penjelasan, jadi kita masukkan ke timus dengan berbagai penjelasan tadi.

(RAPAT:SETUJU)

Kemudian Pasal berikutnya, adalah berkenaan dengan DIM No. 881 dari Pasal 169, jadi saya bacakan RUU mengatakan Ayat (1) KPPS/KPPSLN bertanggungjawab atas pelaksanaan pemungutan suara secara tertib dan lancar, kemudian oleh F-PAN diusulkan penambahan kata secara jujur dan adil. Apakah ini disetujui begitu?, jadi F-PAN mengharapkan tambahan suara secara jujur dan adil, tertib dan lancar.

Saya persilahkan.

DRS. H. SAIFULLAH MA'SHUM/F-KB:

Saya ingin kembali ke Pemerintah, karena begini ada konsekuensi kita sudah membahas azas-azas Pemilu di depan, azas Pemilu itu sudah baku, azas LUBER dan JURDIL. Dalam konteks ini muncul nomenkelatur baru, Jujur, adil, tertib dan lancar. lni arus Pemilu atau bukan?, ini sebenarnya tambahan untuk mengingatkan bahwa dalam semua tahapan, seyogyanya mereka tidak melupakan azas itu, sehingga kalau hanya menambahkan kata jujur dan adil disini, maka LUBER menjadi terlupakan disini. Oleh karena itu, ini menjadi persoalan ketika ini sudah menjadi nomenkelatur yang sudah baku di azas. Disini muncul hanya soal jujur dan adilnya, tetapi yang lain tidak terikutkan.

Oleh karena itu, mahan dipertimbangkan untuk kembali ke konsep Pemerintah, karena soal itu, otomatis azas didepan itu sudah diuraikan begitu rupa tegasnya, kalau ini akan disampaikan, maka setiap tahapan kita musti menggunakan itu, jujur, adil atau apa itu. Oleh karena itu dengan satu kalimat yang ada pada redaksi yang ada dalam azas yang ada di depan sendiri.

KETUA RAPAT:

Jadi, prinsipnya tetap.

Silahkan PKS.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F·PKS:

Azas itu rohnya, jadi kalau rohnya itu ditaruh diluar itu tidak bagus juga, jadi kita kembali ke rumusan Pemerintah, rohnya jangan dicabut.

KETUA RAPAT:

Jadi rohnya tidak dicabut.

PDIP barangkali Bapak.

(11)

Bapak/lbu dan Saudara sekalian,

Kita sudah menyelesaikan cluster pemungutan suara, sebagai lanjutan pembahasan yang tadi malam, dan kemudian sekarang kita mengijak cluster perhitungan suara dan penambahan hasil Pemilu.

Silahkan dibagi dulu.

Rapat akan dilanjutkan dipimpin oleh Bapak Mulyono.

Silahkan.

KETUA RAPAT (IGNATIUS MULYONO/F-PD):

Terima kasih,

Bapak dan lbu sekalian,

Saya ijin meneruskan, ini juga kalau pas lbu Andi hadir dihadapan saya, bisa lbu Andi, karena kebetulan ada masalah hal yang harus kami selesaikan, urusan anak ini, karena sangat penting menu rut saya.

Kita masuk ke perhitungan suara, yaitu masuk ke Pasal 174 DIM No. 905, disini kalau kami bacakan, perhitungan suara di TPS dan TPSLN dilaksanakan setelah pemunggutan suara berakhir, perubahan diajukan oleh PAN.

Pertama, pemunggutan suara dilakukan ketika seluruh pemilih yang hadir pada daftar pemilih tetap telah melaksanakan hak pilihnya atau batas waktu pemilihan telah berakhir, terus tambahnya waktu sebagaimana Ayat (1) adalah waktu paling lambat yang ditetapkan oleh KPU secara nasional, ini adalah usulan dari pihak PAN, kami kira kami minta Pemerintah untuk menjelaskan dulu.

DIM No. 905, kami ulangi lagi Pasal174 DIM No. 905.

PEMERINTAH:

Rumusan Pemerintah masih tetap, terhadap usulan PAN, justru kami ingin mendengarkan dari Fraksi-fraksi lain.

KETUA RAPAT:

Baik,

lni kami tambahkan sedikit,

Kalau dari F-PAN mengusulkan seluruh daftar itu sudah melakukan hak pilihnya, jadi seluruh yang ada dalam Daftar Pemilih telah melaksanakan hak pilihnya, itu bisa langsung dihitung, tetapi kalau yang dipakai oleh Pemerintah adalah berdasarkan waktu yang sudah ditentukan, jadi tentunya atau memang ini mencakup waktu yang sudah ditentukan atau memang seluruhnya sudah melakukan pemunggutan, karena ini setelah pemunggutan suara berakhir, pemunggutan suara itu berakhir itu dirumuskan oleh dua unsur, yaitu apakah seluruh peserta pemilih itu sudah melakukan, atau waktu yang sudah dibatasi itu telah di tentukan.

Silahkan kalau ada tanggapan, PDIP.

IRMADI LUBIS/F·PDIP:

Pimpinan,

Walaupun DIM Fraksi kami tetap, tetapi setelah memperhatikan rumusan yang diinikan oleh PAN, saya kira itu lebih lengkap, karena disitu sudah ada dua pilihan, data-data partai yang telah ada didala daftar telah melaksanakan hak pilihnya, atau batas waktu pemilihan telah berakhir, jadi jelas itu, Pemerintah itu akan perhitungan suara akan dilaksanakan pemunggutan suara, kapan berakhirnya itu tidak ini acuannya. Saya kira usulan dari PAN ini cukup lengkap.

KETUA RAPAT:

P-KB silahkan.

DRS. H. SAIFULLAH MAKSUM/F-KB:

Terima kasih Pimpinan,

Memang dari PAN agak lengkap, tetapi justru ada sedikit problem, jadi kalau perhitungan

suara itu dilakukan ketika seluruh pemilih yang ada dalam daftar pemilih itu melaksanakan hak

(12)

pilihnya, ini kita simulasikan, karena sangat rasionalnya dan sangat giatnya itu, jam 10 sudah selesai semua hak pilihnya, maka dia bisa dilakukan penghitungan suara, ini saya kira bisa menganggu proses TPS yang lain, oleh karena itu saya ingin kembali kepada Pemerintah karena perhitungan suara sifatnya harus sama, serentak secara nasional dengan mungkin pengecualian batas waktu antara Barat, Timur dan Tengah, karena kalau ini implikasinya berat Bapak, kalau selesai pukul 10.00 WIB harus dihitung saat itu juga, bagaimana dengan TPS yang lain, sedangkan selesai pukul 13.00 WIB dst, punya implikasi yang tidak sederhana konsep PAN ini, walaupun lebih efektif dan efisien.

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Silahkan Golkar.

KETUA PANSUS (DRS. FERRY MURSYIDAN BALDAN/F-PG):

Saya setuju dengan F-KB kali ini,

Yang saya kira menegaskan bahwa itu mungkin rumusannya perlu ditambah pada waktu pemunggutan suara berakhir, karena begini, selain masalah yang disampaikan oleh Bapak Saifullah tadi, itu jangan-jangan itu ada anggapan belum semua, dianggap tidak ada dsb itu, mendahului ditutup dihitung dulu, itu juga saya kira memancing orang untuk mendorong melakukan hal yang saya kira melakukan sesuatu hal yang rawan dalam Pemilu, di TPS. Jadi lebih kepada waktu, kalau waktu jelas, ketika sudah tiba saatnya, walaupun dia terdaftar tetapi kalau sudah ini, tidak bisa lagi, kalaupun ini, tetapi kalau kita beri ruang, walaupun semua sudah tetapi tidak ini, nanti untuk disitu benar, tetapi nanti bisa dimanfaatkan oleh teman-teman lain untuk yang lainnya belum, kemudian dipercepat perhitungan suara, saya kira juga harus dihindari sebetulnya.

Jadi, tetap saja dengan batasan ada batas waktu saja.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Oke pendekatan Golkar batas waktu,

Saya tambahkan sedikit, supaya ada pertimbangan yang lain,

Bagaimana kalau ada waktu, terbatas waktunya habis, tetapi antrian masih ada, apakah dipotong atau apa, atau mungkin ada klausul.

Silahkan PPP.

LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN/F-PPP:

Sebenarnya usulan PAN ini justru mengakomodasi fleksibilitas, jadi yang ingin saya dalami lagi, yang saya ingin bertanya dalam forum ini adalah, apakah perhitungan suara itu harus lengkap secara bersamaan secara nasional. Saya masih belum melihat urgensinya, toh Indonesia Barat, Tengah, Timur berbeda-beda juga, secara rasional realitasnya tidak mungkin bersamaan.

Justru dengan tidak harus bersamaan, kemudian fleksibel, karena saya khawatir, kalau satu TPS misalnya karena tadi itu rajin semua, datang tepat waktu, jam 11.00 WIB sudah selesai semua, apakah harus menunggu pukul13.00 WIB, karena itu batas akhir waktu perhitungan, lalu biasanya setelah itu mereka banyak yang pulang , tinggal itu, keamanan kotak suara menjadi sangat kurang, intinya kalau memang sudah semuanya sudah memberikan hasilnya, lalu kemudian sudah selesai, bisa saja dilanjutkan dengan tahap berikutnya dengan penghitungan.

Menurut saya fleksibelitas itu harus dibuka begitu. Oleh karenanya usulannya, apakah seluruh pemilih sudah melaksanakan haknya, atau memang batas waktu pemilihan sudah berakhir, jadi ini memang opsi yang fleksibel sebenarnya.

Begitu Ketua.

KETUA RAP AT:

Silahkan dari PKS.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F·PKS:

PKS kita melihat apa yang disampaikan PAN ini memang cukup fleksibel untuk

mengakomodir, tetapi dia belum menjawab pertanyaan Pimpinan, satu dan lain hal, karena hujan

lebat, ternyata orang pagi-pagi tidak ada yang datang, orang pada datang pukul 12.00 WIB,

(13)

biasanya selesai jam berapa ini, pukul13.00 WIB biasanya, ternyata orang ngantri, lewat itu pukul 13.00 WIB, harus, ini saya kira akan mengundang keributan kalau terjadi seperti itu. Sehingga harus ada jalan keluar yang memungkinkan kondisinya, diluar dugaan semua pihak, karena ada hambatan cuaca misalnya, tetapi dua hal ini dalam keadaan normal, rumusan PAN ini sudah cukup akomodatif dalam keadaan normal, hujan lebat luar biasa, orang tidak ada yang mau keluar, keluar hanya 1 jam bareng-bareng, ngantri.

KETUA RAPAT:

Oke PPP, sudah tadi,

Kami persilahkan dari Golkar.

KETUA PANSUS (DRS. FERRY MURSYIDAN BALDAN/F-PG}:

Saya kira tadi kalau begitu disampaikan, saya kira saya sebenarnya bisa setuju, tetapi ini, begini, asal muasalnya ketika pada waktu yang lalu, itu untuk menjaga ada kekhawatiran kalau tiba-tiba pemunggutan suara sedang berjalan ada TPS yang sudah selesai, tentu dengan syarat pengetatan bahwa harus seluruhnya mendaftar, itu sudah menggunakan, itu yang saya kira.

Jangan sampai kemudian ini ada dianggap ini masih ada, oh ini sakit, ini pindah, ini pergi dsb, itu akan terjadi, dan itu terjadi pada waktu Pilkada Cilegon, kita temukan, kita tanya ini kenapa diakhiri sebelum waktunya, yang ini pindah, yang ini sakit, yang ini keluar kota dsb, itu barangkali penegasannya. Saya kira kalau maksud fleksibelitas dengan ketentuan yang disampaikan Pimpinan tadi, saya kira saya setuju saja, yang penting jangan sampai ini mendorong ada orang melakukan percepatan, itu semuanya yang mau kita tegaskan, jangan sampai ini mendorong, kemudian menjadi Pasal yang membenarkan bisa dipercepat dengan alasan semua yang ada ini terdaftar tetapi dikatakan yang tiga ini kenapa belum, karena ini dan ini, pernah terjadi kasusnya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silahkan.

DRS. H. SAIFULLAH MASHUM/F-KB:

Saya ingin menambahkan argumentasi, jadi masih ingin bertahan, mempertanyakan harus dihilangkan diakibatkan oleh usul PAN itu, kita ingin konsisten. Waktu kita membahas quick qount, saya ingat persis bahwa ada kekhawatiran yang. Jadi kalau buru-buru ada pengumuman yang bisa menganggu atau konsentrasi pemilih misalnya perhitungan juga bisa mempengaruhi, jadi apapun celah itu, kita waspadai mencegah mencederai prinsip-prinsip Pemilu yang JURDIL. Saya melihat masih ada potensi, apa lagi kita menyepakai adanya range 300 sampai berapa, bisa kita bayangkan kalau yang 300 bisa selesai pada pagi hari, pagi hari sudah selesai terus diperkirakan untuk dihitung pada waktu itu dan jumlahnya begitu signifikan, saya khawatir, langsung ada quick qount disana, berjalan, apalagi ada informasi suatu TPS dimenangkan oleh partai X misalnya, sementara pencoblosan di TPS yang lain belum selesai, ini mohon dipertimbangkan efektivitas Oke, tetapi dalam implikasi hal politiknya masih biasa, kenapa kita tidak kembali pada pola lama, pola lama itu pukul 13.00 WIB, pukul 14.00 WIB itu sudah, itu adalah sebuah batas waktu yang cukup modern selama ini, itu tidak terlalu lama betul menunggunya dan juga sebuah batas waktu yang cukup teruji dalam tiga kali Pemilu.

Saya kira itu,

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Bapak dan lbu sekalian,

Bagaimana kalau usulan PAN kata atau itu diganti kata dan saja.

Sependapat atau tidak, sebentar kalau sudah agak bulat meminta pertimbangan.

Silahkan PKS dulu.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F-PKS:

Memang ada suatu resiko politik yang bisa terjadi, kalau antara TPS yang berdekatan,

satu TPS selesai pukul 11.00 WIB, TPS lain selesai pukul 13.00 WIB, ketika pukul 12.00 WIB

sudah selesai penghitungan, sementara di TPS lain orang-orang lain masih banyak, psiko politik

(14)

biasanya selesai jam berapa ini, pukul13.00 WIB biasanya, ternyata orang ngantri, lewat itu pukul 13.00 WIB, harus, ini saya kira akan mengundang keributan kalau terjadi seperti itu. Sehingga harus ada jalan keluar yang memungkinkan kondisinya, diluar dugaan semua pihak, karena ada hambatan cuaca misalnya, tetapi dua hal ini dalam keadaan normal, rumusan PAN ini sudah cukup akomodatif dalam keadaan normal, hujan lebat luar biasa, orang tidak ada yang mau keluar, keluar hanya 1 jam bareng-bareng, ngantri.

KETUA RAPAT:

Oke PPP, sudah tadi,

Kami persilahkan dari Golkar.

KETUA PANSUS (DRS. FERRY MURSYIDAN BALDAN/F-PG}:

Saya kira tadi kalau begitu disampaikan, saya kira saya sebenarnya bisa setuju, tetapi ini, begini, asal muasalnya ketika pada waktu yang lalu, itu untuk menjaga ada kekhawatiran kalau tiba-tiba pemunggutan suara sedang berjalan ada TPS yang sudah selesai, tentu dengan syarat pengetatan bahwa harus seluruhnya mendaftar, itu sudah menggunakan, itu yang saya kira.

Jangan sampai kemudian ini ada dianggap ini masih ada, oh ini sakit, ini pindah, ini pergi dsb, itu akan terjadi, dan itu terjadi pada waktu Pilkada Cilegon, kita temukan, kita tanya ini kenapa diakhiri sebelum waktunya, yang ini pindah, yang ini sakit, yang ini keluar kota dsb, itu barangkali penegasannya. Saya kira kalau maksud fleksibelitas dengan ketentuan yang disampaikan Pimpinan tadi, saya kira saya setuju saja, yang penting jangan sampai ini mendorong ada orang melakukan percepatan, itu semuanya yang mau kita tegaskan, jangan sampai ini mendorong, kemudian menjadi Pasal yang membenarkan bisa dipercepat dengan alasan semua yang ada ini terdaftar tetapi dikatakan yang tiga ini kenapa belum, karena ini dan ini, pernah terjadi kasusnya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silahkan.

DRS. H. SAIFULLAH MASHUM/F-KB:

Saya ingin menambahkan argumentasi, jadi masih ingin bertahan, mempertanyakan harus dihilangkan diakibatkan oleh usul PAN itu, kita ingin konsisten. Waktu kita membahas quick qount, saya ingat persis bahwa ada kekhawatiran yang. Jadi kalau buru-buru ada pengumuman yang bisa menganggu atau konsentrasi pemilih misalnya perhitungan juga bisa mempengaruhi, jadi apapun celah itu, kita waspadai mencegah mencederai prinsip-prinsip Pemilu yang JURDIL. Saya melihat masih ada potensi, apa lagi kita menyepakai adanya range 300 sampai berapa, bisa kita bayangkan kalau yang 300 bisa selesai pada pagi hari, pagi hari sudah selesai terus diperkirakan untuk dihitung pada waktu itu dan jumlahnya begitu signifikan, saya khawatir, langsung ada quick qount disana, berjalan, apalagi ada informasi suatu TPS dimenangkan oleh partai X misalnya, sementara pencoblosan di TPS yang lain belum selesai, ini mohon dipertimbangkan efektivitas Oke, tetapi dalam implikasi hal politiknya masih biasa, kenapa kita tidak kembali pada pola lama, pola lama itu pukul 13.00 WIB, pukul 14.00 WIB itu sudah, itu adalah sebuah batas waktu yang cukup modern selama ini, itu tidak terlalu lama betul menunggunya dan juga sebuah batas waktu yang cukup teruji dalam tiga kali Pemilu.

Saya kira itu,

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Bapak dan lbu sekalian,

Bagaimana kalau usulan PAN kata atau itu diganti kata dan saja.

Sependapat atau tidak, sebentar kalau sudah agak bulat meminta pertimbangan.

Silahkan PKS dulu.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F-PKS:

Memang ada suatu resiko politik yang bisa terjadi, kalau antara TPS yang berdekatan,

satu TPS selesai pukul 11.00 WIB, TPS lain selesai pukul 13.00 WIB, ketika pukul 12.00 WIB

sudah selesai penghitungan, sementara di TPS lain orang-orang lain masih banyak, psiko politik

(15)

mempengaruhi, ternyata yang menang disana adalah partai X itu bisa menjadi move bagi yang menang maupun yang kalah. Tetapi kalau bareng-bareng itu ada kondisi secara situasional itu tidak ada provoking baik dari yang menang maupun yang kalah, kalau TPS-TPS itu berdekatan.

Jadi, saya kira memang kalau sudah diuji pukul 13.00 WIB ya sudah itu saja, walaupun berbeda Indonesia Timur, Barat, T engah berbeda, tetapi tetap kita masing-masing dengan jamnya.

Adapun yang Pimpinan tanyakan tadi, perlu ada jalan keluar, ketika ada misalnya gangguan cuaca, bukan gempat, misalnya hujan lebat, ada pertimbangan misalnya apa, kita tambahkan didalam kondisi. Kita mungkinkan itu, hujan lebat, angin atau apa, kalau Gempa atau apa, itu sudah masuk ke post mayer.

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Silahkan Pemerintah.

PEMERINTAH:

Sebetulnya DIM ini menyatakan, mempertegas bahwa perhitungan suara itu semua sama disetiap TPS, setelah berakhirnya pemunggutan suara, hanya penegasan seperti itu. Jadi Pemerintah tetap pada rumusan semula.

KETUA RAPAT:

Fraksi-fraksi, ini Pemerintah agaknya tetap, walaupun tadi oleh Golkar sebetulnya perlu ditambah sedikit setelah waktu pemunggutan suara berakhir, tadi usulan dari Golkar seperti itu, tadi sudah satu unsur, apakah yang dimaksud sesuai usulan Golkar atau bagaimana? Supaya agak lebih anu.

PEMERINTAH:

Bisa.

KETUA RAPAT:

Jadi Pemerintah, mengajukan perhitungan TPS, TPS lain setelah waktu pemunggutan suara berakhir. lni PAN silahkan.

WAKIL KETUA (DR. IR. HJ. ANDI YULIANI PARIS, M.SC/F-PAN):

Terima kasih,

Jadi, maksudnya seperti itu,

Tetapi artinya setelah batas waktu pemunggutan suara berakhir, tetapi Pemerintah tidak punya waktu disini, hanya ditambahkan batas waktu pemungutan suara berakhir, tetapi rumusan yang baru saja disampaikan Pemerintah itu, tidak cukup sampai disitu, harus bahwa yang disampaikan dengan waktu itu adalah ditetapkan oleh siapa, jangan sampai nanti multiinterpretasi bahwa waktu itu adalah waktu oleh petugas KPPS. Jadi harus tetap ada penambahan Ayat, waktu pemunggutan suara ditetapkan oleh KPU secara nasional, jadi tidak diinterpretasikan waktunya, jadi jangan sampai kasus yang saya lihat dilapangan, dia merasa waktu pemunggutan, kalau rumusan Pemerintah setelah pemunggutan berakhir, loh pemunggutan suara telah berakhir, kita hitung saja. Tetapi yang diperlukan adalah keseregaman waktu, sehingga apa yang dikhawatirkan PKB tadi, kemudian soal PKS juga, ketika diumumkan disini sudah berakhir, kemudian dihitung, dihubungkan oleh quick qount itu akan mempengaruhi, tetapi batas waktunya itu harus sama dan yang menetapkan batas waktu itu harus kita serahkan kepada KPU. Tetapi harus disebut secara jelas sebagai tambahan Ayat didalam pengaturan tentang penghitungan suara ini.

KETUA RAPAT:

lni agak perubahan dari pengusul, mahan dijadikan perhatian kita, agaknya pengusul hanya memberikan aspek batas waktu saja, sedangkan untuk.

WAKIL KETUA (DR. IR. HJ. ANDI YULIANI PARIS, M.SC/F-PAN):

Bukan begitu Bapak,

Jadi artinya, saya kembali menegaskan bahwa Pemerintah tidak menuliskan kata waktu,

jadi Pemerintah kalau memang, karena apa yang ditulis dengan apa yang disampaikan Pemerintah

(16)

itu tidak sama, kalau yang diusulkan tidak ada kata waktu, yang kita pentingkan disini adalah waktu.

Kemudian kalau kita sebutkan waktu pemunggutan suara berakhir, itu juga harus ada tambahan Ayat, waktu itu siapa yang tetapkan, sehingga tidak diinterpretasikan, waktu pemunggutan suara menurut KPPS, kami hitung saja, buka saja, itu harus tambahan Ayat. Kami tidak berubah, tetapi usulan dari Pimpinan tadi, kalau misalnya ditambahkan kata dan, ini mengakomodasi kata pendapat dari PKS, bahwa ketika misalnya waktunya habis, hujan atau apa, walaupun kecil kemungkinan, kemudian belum pemilih yang datang, tentu dihitung dari pelaksanaan seluruh pemilih yang ada daftar pemilih melaksanakan. Tetapi itu juga rawan ketika misalnya semuanya baru datang dan waktunya sudah lewat dan ini juga dipertimbangkan. Kita carilah rumusan yang baik, tetapi dengan catatan tentang, kalau memang ditambahkan waktu, kita harus beri penambahan Ayat, bahwa penentuan waktu akhir, batas waktu akhir, mungkin kita rumuskan dengan kalimat yang baik, itu ditetapkan oleh KPU secara nasional.

Terima kasih.

ORA. HJ. LENA MARY ANA MUKTI/F·PPP:

Saya mencoba mengingatkan Bapak Mul, soal waktu siapa yang menetapkan, tadi lbu Andi tanyakan, di DIM No. 789 Pasal152 Ayat (2) kita sudah membuat, itu mengenai hari, tanggal, dan waktu pemunggutan suara itu sudah sesuai dengan usulan PAN, yaitu dengan keputusan KPU, jadi untuk penetapan waktu itu sudah diatur oleh KPU, yang diusulkan oleh PAN tadi. ltu berarti sudah tertampung.

Kemudian pertanyaan dari PKS soal kasus misalnya tiba-tiba ada angin ribut, atau banjir bandang dan yang lain. Seingat saya kita pernah membahas soal kondisi post mayor ini, dan itu bisa saja oleh KPU setempat ditetapkan sebagai kondisi pos mayor itu. Jadi usulan-usulan tersebut saya kira sudah tetampung, oleh karena itu, mungkin yang diusulkan oleh F-PG untuk menambahkan kata waktu, perhitungan suara di TPS dst dilaksanakan setelah waktu pemunggutan suara berakhir, secara prinsip sudah bisa kita terima dan rumusannya kita bawa ke timus.

Terima kasih Bapak Mul.

KETUA RAPAT:

Silahkan PDIP.

IRMADI LUBIS/F·PDIP:

Saya kira apa yang diajukan lbu Lena tadi cukup baik,

Dengan usul Pimpinan tadi untuk menambah, merubah atau menjadi dan, saya kira itu kurang tepat, karena itu merubah alternatif menjadi kumulatif. Jadi kedua-duanya harus dipenuhi baru bisa dilakukan penghitungan suara, kalau dirubah dengan dan.

KETUA RAPAT:

lni tadi tawaran saja, maksud saya untuk menampung kedua-duanya, tetapi kalau itu juga sebagai akumulatif itu lebih memberikan pemberatan, kami kira sudah, tadi sebagian besar sudah terima usulan tambahan dari Golkar, jadi hanya setelah waktu pemunggutan suara berakhir, Pemerintah juga setuju.

Kalau begitu kita timuskan?

WAKIL KETUA (DR. IR. HJ. ANDI YULIANI PARIS, M.SC/F-PAN):

Jadi soal waktu, kita sepakat, tetapi kami tetap berpendapat bahwa perlu penegasan siapa yang menentukan waktu itu, harus diatur, kalau yang disebutkan lbu Lena tadi lain, ini kita sedang membahas cluster perhitungan suara, kalau yang disebutkan tadi general waktu pemunggutan suara, ini waktu perhitungan suara, tidak ada diatur disitu. Jadi kapan kotak suara itu boleh dibuka, itukan, jadi kapan kotak suara itu boleh dibuka, ini harus diatur disini, jadi jangan tiba-tiba KPPS merasa semua sudah memilih, kemudian tadi yang dikhawatirkan PKS dan PKB soal quick qount itu kita antisipasi ketika ada pengaturan soal waktu. Kalau yang Pasal sebelumnya itu hanya secara general waktu pemunggutan suara, itu diatur oleh KPU.

Terima kasih Pimpinan.

(17)

KETUA RAPAT:

Bapak dan lbu sekalian,

lni agaknya dari PAN masih mengharapkan untuk penegasan masalah waktu, ditambah satu Ayat.

PKS.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F·PKS:

Saya kira untuk penegasan tidak masalah Pimpinan.

Kalau toh ada yang menganggap kalau itu sudah diatur pada Pasal sebelumnya, tetapi kalau toh ada lagi yang lebih spesifik lagi penekanannya, saya kira tidak masalah, itu bukan Pasal, secara esensi ini kita menerima Ayat kedua yang diusulkan oleh PAN. Yang saya tanyakan, saya juga setuju dengan lbu Lena bahwa kita pernah membahas post mayor, hanya yang saya tanyakan itu post mayor itu kadang-kadang hanya hal yang terlalu dianggap dibesarkan, kalau yang sekarang ini hujan lebat, apa itu masuk, kalau itu memang sudah masuk, selesai, tetapi kalau itu tidak masuk, itu nanti perdebatan nanti itu, orang ngantri kalau hujan lebat, dua jam, baru ngumpul di jam-jam terakhir, ini post mayor, ini bukan post mayor, ini perdebatan. ltu saja, kalau sudah diatur dalam post mayor, saya tidak ada masalah.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Karena ini penegasan, saya kira saran dari PAN bisa kita tampung, ini penegasan.

(RAPAT:SETUJU) Masuk ke timus.

lbu ini terpaksa lbu yang memimpin ini, karena saya mengurusi anak di Polda dulu.

KETUA RAPAT(DR.IR. HJ. ANDI YULIANI PARIS, M.SC/F-PAN):

Jadi supirnya ganti lagi, tetapi tetap ke tujuan, tujuannya adalah menyelesaikan RUU ini secepatnya atas kerjasama kita semua.

Sekarang kita kembali ke DIM No. 907, didalam DIM ini ada usulan dari F-PAN bahwa kata didalam itu dihapus, sehingga rumusannya menjadi KPPS melakukan perhitungan suara Anggota DPR, DPD, DPRD dst Kabupaten/Kota, di TPS.

Silahkan Bapak Patrialis.

H. PATRIALIS AKBAR, SH/F·PAN:

Seperti yang sudah dijelaskan itu.

KETUA RAPAT:

Kita masukkan ke tim us saja ya?

(RAPAT:SETUJU)

Kemudian DIM No. 908 dari Demokrat, sudah hadir dari Demokrat, ada penambahan mencatat, kemudian kembali lagi dari F-PAN kata dalam dihapus.

Kita ke timus saja ya?

(RAPAT:SETUJU) Supaya agak cepat ini ketoknya.

Kemudian DIM No. 909 dari F-PAN itu kembali kata dalam dihapus, untuk DIM No. 909, timus ya?

(RAPAT:SETUJU)

(18)

Kemudian dari F-PAN dan F-PKS, DIM No. 910, diluar TPS dirubah menjadi TPS, kemudian dari PKS, diluar TPS dirubah menjadi dapat berada didalam TPS. Silahkan PKS.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F-PKS:

Sarna dengan sebelumnya itu, dicabut, dicabut semuanya itu, tetap saja lbu langsung diketok.

IRMADI LUBIS/F-PDIP:

Merujuk ke 175.

KETUA RAPAT:

Diluar TPS dirubah menjadi di TPS, jadi pemantau, ada mungkin Bapak Patrialis mau menerangkan, tetapi ini kongkordan dengan yang lain, mungkin bahwa pemantau itu di TPS, sudah clear ya.

H. PATRIALIS AKBAR, SH/F·PAN:

Tadi malam sudah dibicarakan.

KETUA RAPAT:

Ya tetap.

{RAPAT:SETUJU)

DIM No. 911, Demokrat menambahkan kata diperbolehkan, ini sudah ya kita ke timus dan PAN diluar TPS menjadi di TPS.

{RAPAT:SETUJU)

Kemudian dari DIM No. 916, ada tambahan dari huruf D yaitu jumlah surat suara yang diterima KPPS untuk TPS tersebut, jadi bukan hanya jumlah surat suara yang tidak terpakai, tetapi total jumlah surat suara yang diterima KPPS ini juga harus dihitung dan KPPS dilihat oleh saksi.

Bapak Patrialis,

lni bagaimana usul penambahan butir D.

Jadi sudah ya, jadi yang mana yang tetap, D, sudah setuju. Kenapa.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F·PKS:

Perhitungan surat suara itu sebelum melaksanakan pencoblosan, kalau pada perhitungan sudah jelas.

KETUA RAPAT:

lni kita tempatkan tempatnya pada waktu awal, pemunggutan, pra pemunggutan. Oke kita carikan kamarnya disana.

{RAPAT:SETUJU)

Kemudian DIM No. 917, karena memang kita tidak punya kamar ini, jadi kita perlu kamar.

DIM No. 917 dari.

IRMADI LUBIS/F-PDIP:

Pimpinan,

Saya kira DIM No. 917 ini kita pending, karena soal kesalahan kemarin kita masukkan ke lobby.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bapak lrmadi,

lni pending karen a tekait dengan kekeliruan kemarin.

{RAPAT:SETUJU)

(19)

Kemudian, DIM No. 918 dihapus, sisa surat suara tambahan, ini dihapus. Mungkin perlu dijelaskan oleh Pemerintah, yang dimaksudkan perlu dihitung sisa surat suara tambahan ini, maksudnya apa.

NUR SUHUD/F·PDIP:

Pimpinan,

PAN dulu minta dijelaskan, ini usul alternatif PAN.

KETUA RAPAT:

Begini, siapa tau Bapak Patrialis menarik kembali, setelah Pemerintah menjelaskan.

Bapak Patrialis masih tetap mau dihapus atau masih mau mendengar.

IRMADI LUBIS/F·PDIP:

Pimpinan,

Mungkin kami kurang mengikuti atau kurang ini,

Tetapi kami agak merasa janggal tiba-tiba ada surat tambahan, sebelumnya kita tidak ada bicara soal surat tambahan, dari mana Pemerintah ini ada sisa surat tambahan ini, sebelumnya kita tidak ada bicara surat tambahan.

KETUA RAPAT:

Makanya itu dihapus.

Bapak Patrialis mau menjelaskan.

Silahkan.

H. PATRIALIS AKBAR, SH/F·PAN:

Sebenarnya kita kemarin itu sudah sepakat dengan angka 2%, jadi sudah cukup disitu saja. Jadi ini sudah tidak ada lagi.

KETUA RAPAT:

Tidak perlu ada lagi ya, sisa surat suara tambahan, tidak perlu dihitung lagi, berarti ada tambahan dari luar.

Silahkan Pemerintah.

PEMERINTAH:

lni sebetulnya cadangan lbu, sisa surat suara cadangan itu.

KETUA RAPAT:

Tetapi simulasinya begini, ketika surat itu, ada surat suara cadangan 2% itu sudah tercampur didalam surat suara.

PATANIARI SIAHAAN/F-PDIP:

Mungkin kami bantu sedikit, jadi di Pasal 154 kita sepakati perumusannya, mengabungkan jumlah surat suara, itu ada ketentuan setiap TPS itu sesuai dengan jumlah pemilih 300, ada cadangan, Pemerintah usul 5%, tetapi kita belum setuju 5%, jadi kita 2%, itu maksudnya sebetulnya, dalam hal

te~adi

kesalahan pencoblosan atau terjadi kerusakan surat suara, itu cadangan maksudnya, bukan tambahan saya pikir, kalau tambahan itu lain maksudnya, mung kin di timus, diluruskan sesuai dengan Pasal diatasnya.

KETUA RAPAT:

Jadi, tadi malam Bapak Pataniari kebetulan sedang terbang di RRI, lagi mengudara, jadi tadi malam kita sudah sepakat ada tambahan surat suara itu 2%, cadangan, cadangan itu tambah dari yang ada, kalau dia 600 tambah 2% seperti itu. ltu sudah kita sepakati, berarti ini sudah tidak perlu lagi.

PAT ANIARI SIAHAAN/F-PDIP:

Tambahkan sedikit lbu.

(20)

Kami memahami maksud tambahan dan cadangan ini, tetapi kalau istilahnya berbeda, itu berarti ada cadangan ada tambahan, karena di Pasal154 yang kita sepakati timus itu istilahnya surat cadangan, apakah cadangan itu ada, tambahan itu ada, mung kin itu maksudnya, ini harus di clearkan.

KETUA RAPAT:

lni juga akan terkait dalam format berita acara, nanti harus ada kolom sisa suara cadangan, ini terkait formatnya.

ORA. HJ. LENA MARY ANA MUKTIIF·PPP:

lbu disesuaikan, istilahnya cadangan atau tambahan, dan ini.

PATANIARI SIAHAAN/F·PDIP:

Pimpinan langsung rubah saja, nomenkelaturnya cadangan, tidak ada tambahan itu, sudah saja kita rubah cadangan, kita ketok palu, itu saja.

KETUA RAPAT:

Sebenarnya bukan soal Bahasa, Bapak Patrialis lupa ini membuat DIM-nya, ada prinsip soal total kebawah itu atau memenuhi jumlah.

PATANIARI SIAHAAN/F·PDIP:

ltu Pasal154 Ayat (2), sebagai cadangan itu ujungnya itu, Pasal154 Ayat (2).

KETUA RAPAT:

Kita ke timus saja ya.

PATANIARI SIAHAAN/F·PDIP:

Nanti ada timsin lbu, terkait dengan Pasal 154.

KETUA RAPAT:

Sisa suara cadangan.

PATANIARI SIAHAAN/F·PDIP:

lbu,

Ada masalah, jadi supaya kita sama, ada Daftar misalnya, ada Daftar pemilih tambahan, tetapi surat suaranya surat suara cadangan, memang di Pasal 154 ada istilah Daftar Pemilih tambahan, tetapi digunakan Surat suaranya cadangan, bukan tambahan.

KETUA RAPAT:

Pemilih tambahannya belum tentu juga memakai surat suara cadangan, belum tentu, ketika misalnya masih ada 15% sisa surat suara yang utuh diluar surat cadangan, tidak ada yang datang, pemilih tambahannya memakai surat suara yang ada, begitu juga ketika ada kekeliruaan, masih ada sisa surat suara bukan surat suara cadangan, dia memakai itu dulu.

lnilah yang dipikirkan bahwa sebenarnya ini yang terkait dengan perhitungan jumlah kebawah nanti, ini nanti bisa merubah secara matematika, total surat suara yang ada di KPPS itu.

Bagaimana?

Oke kita rubah langsung di timsin.

(RAPAT:SETUJU) Kemudian DIM No. 919.

Tidak perlu di timsin, oke disetujui.

(RAPAT:SETUJU)

DIM No. 919.

(21)

Soal surat cadangan ada penambahan dari PAN, saksi peserta pemilu, sebenarnya sejalan dengan yang kemarin ketika ada disaksikan oleh dua orang Anggota KPPS dan dua saksi peserta pemilu. lni kongkordan, saksi peserta pemilu yang hadir.

Bagaimana Pemerintah, setuju ya? Langsung diganti cadangan dan saksi peserta pemilu yang hadir, sudah diganti, setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

Kemudian DIM No. 922, Bapak Patrialis, dari PAN menambahkan dua butir B dan C, DIM No. 922 yang lain tetap.

Ada penambahan apabila Ketua KPPS berhalangan atau tidak bersedia menandatangani, maka salah satu Anggota KPPS dapat menandatangani, penandatangani pada butir yang dilakukan setelah acara pembukaan dan sebelum dilaksanakan pemunggutan suara disaksikan oleh saksi peserta pemilu.

Silahkan Bapak Patrialis.

H. PATRIALIS AKBAR, SH/F·PAN:

Tadi malam kita sudah sepakat, Ketua KPPS itu wajib, sudah ada tadi malam itu, jadi wajib Ketua KPPS itu menandatangani. Sekarang apabila Ketua KPPS berhalangan ini memang artinya yang lebih kita tekankan kepada berhalangan, bukan tidak bersedianya, mungkin tidak bersedianya kita hapuskan, apabila dia berhalangan, pokoknya berhalangan, maka salah satu Anggota KPPS, dapat menandatangani, ini supaya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Kemudian nanti didalam berita acara itu, kita akan disebutkan, kenapa Ketua KPPSnya tidak menandatangani, itu satu.

Kedua, dalam butir C itu, dilakukan acara pembukaan, sebelum dilaksanakan pemunggutan suara, jadi semua kejadian itu dicatat disana.

T erima kasih.

KETUA RAPAT:

Bapak lrmadi.

IRMADI LUBIS/F·PDIP:

Kami sebenarnya PDIP tetap, tetapi usul dari PAN cukup baik, tetapi menurut kami akan lebih baik lagi kalau salah satu Anggota KPPS yang disepakati, jadi jangan nanti ada complaint- complaint jadi yang disepakati oleh Anggota KPPS lainnya. Jadi yang berhak menggantikan Ketua KPPS menandatangani.

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Silahkan F-PKS.

Saya putar satu kali.

Golkar, PPP juga boleh.

HARDISOESILO/F·PG:

PPP dulu, supaya 30% wanita terealisir.

KETUA RAP AT:

PPP silahkan.

ORA. HJ. LENA MARY ANA MUKTI/F-PPP:

Sejalan dengan penjelasan Bapak Patrialis tadi, karena wajib sudah disebutkan Ketua KPPS, jadi usulan PAN ini bisa kita terima hanya saja, kata atau tidak bersedia menandatangani itu kita buang, kita drop, apalagi tadi PAN menyampaikan yang dititik tekankan adalah soal berhalangannya ya Bapak Patrialis. Jadi, apabila Ketua KPPS berhalangan maka salah seorang Anggota KPPS dapat menandatangani, dan selanjutnya bisa kita sepakati yang di butir C-nya.

Terima kasih.

(22)

KETUA RAPAT:

Silahkan Golkar.

HARDISOESILO/F·PG:

Terima kasih,

Pada prinsipnya kami setuju dengan usul PAN ini.

Pertama, karena Ketua KPPS ini sudah wajib, kalau dia tidak menandatangani, dihukum mati, kemudian yang kita masukkan adalah tidak berhalangannya, kami setuju berhalangan.

Kedua, butir C-nya, saya kira itu normatif, sebagaimana pelaksanaan yang sudah kita lakukan selama ini. Yang menjadi persoalan adalah sebelum dilaksanakan pemunggutan suara disaksikan oleh saksi peserta pemilu. Saya kira ditambah kata-kata saksi yang hadir, sebab nanti kalau tidak ada kata yang hadir, seolah-olah seluruh saksi yang harus hadir.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silahkan PKS.

DRS. ALMUZZAMMIL YUSUF/F·PKS:

Saya kira dari PPP tadi, usulan PAN yang sudah diperbaiki oleh PPP dan ditambahkan oleh Golkar, saya kira PKS yang bagus-bagus itu tadi. Setuju saya.

KETUA RAPAT:

Oke kita setuju ya, kita masukkan langsung ke ini ya.

Oh.

PATANIARI SIAHAAN/F·PDIP:

Biasa KPPS anggotanya 7 orang kalau Ketua tidak hadir, tinggal 6, terus yang satu itu siapa, ada atau tidak mereka sepakat itu, kalau dia berantem berebutan tanda tangan atau yang lain tidak setuju, musti ada forum juga kesepakatan mereka atas persetujuan sesama Anggota KPPS untuk menandatangani. Supaya tidak berkelahi

KETUA RAP AT:

Bagaimana Pemerintah.

PEMERINTAH:

Pemerintah dapat menerima, rumusan-rumusan yang tadi, bahwa pertama, karena Ketua KPPS itu wajib, maka kalau berhalangan harus ada yang mengganti, tadi terakhir dari PDIP yang menganti ini karena ada tujuh orang, yang mana yang mengganti itu, harus ada kesepakatan, penggantinya itu dari mereka. Kemudian yang C tadi pendataan dalam berita acara.

KETUA RAPAT:

Oke kita masukkan ke timus, dengan catatan, kata tidak bersedia itu dihilangkan, kemudian cara menentukan salah satu anggota KPPS itu apakah melalui, apakah tadi usulan dari PDIP.

Ya.

HARDISOESILO/F-PG:

lnterupsi,

Saya sependapat, saya memahami usulan PDIP, tetapi kalau musyawarah itu dibawah agak-agak, oleh karena itu saya mengusulkan diambil urutan, jadi Ketua, lalu dibawahnya siapa, dibawahnya siapa, kalau yang kedua itu tidak berarah, yang nomor tiga, itu sudah otomatis, tidak perlu musyawarah-musyawarah.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Mungkin saya mengingatkan Bapak Pata kemarin sedang on air di Radio, bahwa yang

menandatangani itu ada tiga Bapak, dua Anggota, satu Ketua, ini mengatur Pasal tentang

Referensi

Dokumen terkait

With regard to the state of forest ecosystems the 4 th National Report for the Convention on Biodiversity (2009) and the Framework Pro- gram for the Forest Sector (2008) highlight

Tidak boleh melakukan tindakan yang menyangkut risiko pribadi atau tanpa pelatihan yang sesuai.. Evakuasi

Gambar 6. Rancang Bangun Sistem Pemanas Sistem pemanas yang fungsinya untuk memanaskan fluida didalam tangki dengan menggunakan heater, kemudian dikendalikan oleh

Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Kamis, 13 April 2017 mengalami penurunan didukung oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika

Uji coba lapangan dilaksanakan di MTs Assyafi’iyah Gondang selama 2 minggu pada kelas VII E dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang. Peneliti menggantikan guru kelas untuk

Bahwa Terdakwa sebelum melakukan ketidakhadiran tanpa ijin sedang menjalani pembinaan di Kodim 0419/Tanjab dalam perkara Ketidakhadiran tanpa ijin sejak tanggal 11 Juni 2014

Blok diagram sistem untuk identifikasi karakter seseorang berdasarkan analisis pola sidik jari tangan dengan eskstraksi ciri momen invarian yang dirancang ditunjukkan

Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menganalisis Hubungan Postur kerja dan Frekuensi Mengayun dengan Keluhan pada Anggota Tubuh Bagian Atas pada