• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar dari Masa Lalu untuk Menegaskan Sikap Politik.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Belajar dari Masa Lalu untuk Menegaskan Sikap Politik."

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

BELAJAR DARI MASA LALU UNTUK MENEGASKAN SIKAP POLITIK Oleh GPB Suka Arjawa

Agenda politik tahun 2013 cukup padat karena disamping dimulainya tahap “pemanasan” untuk pemilu 2014, juga akan diselenggarakan 15 pemilu pemilihan kepala daerah

tingkat satu. Menjelang pertengahan Januari ini akan dilakukan pengumuman partai politik peserta pemilu, yang kemudian diikuti dengan pengundian nomor urut.

Selanjutnya di bulan April akan ada pendaftaran pencalonan anggota DPR, DPRD, dan DPD. Pertengahan tahun, di bulan Juli, ada pengumuman calon tetap anggota DPD. Bulan Agustus akan diumumkan calon anggota DPR dan DPRD. Kecuali bulan April, sejak bulan Januari sampai bulan Oktober di 15 propinsi di Indonesia akan

diselenggarakan pilkada untuk memilih gubernur. Secara kebetulan, pemilihan gubernur Bali berlangsung tanggal 13 di bulan Mei. Orang yang suka ngutak-atik angka, akan mengait-ngaitkan angka tanggal bulan itu dengan angka tahun yang sekarang. Seluruh perhelatan tersebut tentu saja seru karena akan memberi nuansa politik yang semakin tebal menjelang 2014, dimana pemilu nasional untuk pemilihan parlemen dan presiden di gelar.

Masyarakat Indonesia sudah sepatutnya memperhatikan fenomena ini sebagai sebuah tontonan. Agar menarik, tontotan itu diibaratkan saja sebagai sebuah arena olahraga, dimana ada satu pihak yang kalah dan pihak yang lain menang. Biasanya, yang menjadi penyemangatnya, sekaligus yang keluar tenaga banyak dan kemungkinan juga paling menderita, adalah rakyat. Masyarakat yang tidak mempunyai sikap politik kuat, selalu akan dimanfaatkan oleh para politisi untuk memperjuangkan dirinya.

Sikap politik lebih mengacu kepada pilihan kelompok atau seseorang terhadap peristiwa politik atau kontestan politik. Peristiwa itu bisa saja berupa pemilu, kampanye, atau rapat-rapat umum yang berupaya memperkenalkan misi dan visi politik. Sedangkan kontestan politik adalah partai politik, perseorangan yang mengajukan diri menjadi calon wakil rakyat. Kontestan juga bisa kelompok-kelompok yang mengusung partai politik. Bahwa ada yang pemilih untuk tidak memilih, itu juga merupakan sikap politik. Di negara demokrasi sikap ini sangat diakui dan tidak boleh pihak lain memaksa mereka untuk memilih.

Dengan demikian, seluruh penentu kemenangan dan kekalahan dalam ”pesta olahraga” itu sebenarnya adalah rakyat. Jadi, pintar-pintarlah sejak sekarang, di bulan Januari ini melihat bagaimana calon-calon politisi itu bertindak dan bersikap sosial.

(2)

parlemen (lihat mislanya kasus Bank Century, atau upaya kenaikan BBM yang berkali-kali gagal), atau pengelompokan dalam mendukung calon kepala daerah, dan yang paling kelihatan adalah pengelompokkan dalam mendukung pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Dengan tindakan pengelompokan seperti itu, perjuangan yang dilakukan pada kontestan politik bukanlah kepada kepentingan sosial di akar rumput tetapi bagaimana upaya untuk menyingkirkan kontestan lain. Sikap kontestan seperti ini adalah anti-politik kemasyarakatan karena hanya berupaya mengekalkan komposisi diri pada level atas. Keberhasilan membentuk kelompok politik hanya akan menguntungkan elit politik karena elit inilah yang akan mendapat prestise, prestasi dan akhirnya kedudukan. Kedudukan mempunyai makna yang luas, seperti pengaruh, penghasilan, keweanangan, kekuatan dan kekuasan. Rakyat yang memilih mereka dulu, tidak akan mendapatkan apa-apa (kecuali mungkin dihibur dengan joget ngebor!). Secara mikro, harus dicurigai ada semacam upaya pintas untuk mengekalkan citra di hati rakyat. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi percetakan dan fotografi di jaman sekarang, semakin banyak politisi yang memasang ”papan iklan” di pinggir jalan dengan mengiklankan dirinya sendiri. Pemasangan papan iklan ini, untuk sebagian bisa dikatakan sebagai legitimasi diri sebagai seorang tokoh yang telah menduduki posisi di lembaga politik. Dengan tampilan itu, secara dramaturgis pencitraan mereka diupayakan sebagai orang yang telah bekerja, telah menjalankan apa yang dituntut oleh masyarakat. Padahal di balik pencitraan itu, berbagai hal buruk mungkin saja melekat. Masyarakat yang fanatik, percaya dengan idiom dramaturgis seperti ini, yang mirip dengan sandiwara. Tetapi masyarakat kritis akan terpingkal-pingkal melihat foto pinggir jalan yang seolah dipaksakan untuk tersenyum itu. Karena itu, upaya mencurigai akan sangat berguna dalam konteks semata-mata untuk memberikan penilaian yang pantas kepada papan ilkan di pinggir jalan itu.

Dari upaya pengiklanan diri demikian juga harus dilihat bahwa generasi kedua politisi pasca-reformasi ini kurang percaya diri. Disamping menempelkan dirinya di dalam baliho itu, selalu muncul foto tokoh lain di sebelahnya. Munculnya foto pembesar itu bisa dibaca sebagai upaya penyandaran diri kepada ikon politik dalam meraih pangsa pasar (pemilih). Inilah kecelakaan politik di tingkat bawah. Politisi yang kuat seharusnya tidak menempelkan ikon sang tokoh (kalau dipaksa memasang, ya jangan mau!) karena ia harus secara meyakinkan mampu merebut hati rakyat berdasarkan kemampuan dirinya untuk langsung membelusuk di tingkat akar rumput. Masalah yang terjadi pada tingkat paling bawah merupakan tanggung jawab politisi tersebut. Keberhasilan memecahkan persoalan itulah yang membuat mereka akan dipilih dan diikuti oleh rakyat. Jadi, bukan pada tempelan ikon tokoh dari partai politik yang bersangkutan. Cara seperti ini malah mampu menjatuhkan pembesar partai. Misalnya jika politisi daerah itu dicap sebagai preman, maka pembesar partai di pusat juga akan dicap hanya mampu merekrut anggota yang berwatak preman.

(3)

diakui cukup banyak masyarakat yang khawatir dengan kemuculan organisasi seperti ini. Apabila semakin banyak organisasi tanpa tujuan, fungsi, visi, misi, kegiatan dan

sebagainya bisa-bisa akan menimbulkan persaingan antar organisasi itu yang akhirnya memicu konflik dan kekerasan. Politisi yang muncul dari organisasi seperti ini sudah selayaknya mendapat perhatian dari masyarakat, terutama tentang kemampuan politiknya di masa depan. Harus hati-hati, pengangguran yang begitu banyak sekarang, berpotensi membelokkan fungsi organisasi menjadi ke arah negatif.

Karena itulah, maka sejak bulan Januari ini, masyarakat harus memebelalakkan matanya melihat-lihat bagaimana sepak terjang partai politik, politisi, dan kontestan politik itu agar kelak ketika saatnya tiba untuk memilih, mampu bersikap politik secara cerdas. Pilih politisi yang memang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat. Jika tidak ada yang cocok di hati, sesuai dengan konditenya, bersikap tidak memilih juga

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa variabel physical evidence dan gaya hidup memiliki pengaruh secara parsial terhadap loyalitas pelanggan pada Chanel Distro Di Tenggarong.. Bahwa variabel

Untuk mengenkripsi file teks digunakan fungsi enkripsi yang menggunakan sebuah sebuah kunci publik, hasil enkripsi berupa file terenkripsi yang aman dari

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Tulungagung Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar

4.8 Rekapitulasi Hasil Observasi Peneliti terhadap Siswa Kelas X Multimedia SMK Tamansiswa Kudus Tahun Pelajaran 2013/2014 Mengenai Indikator Penerimaan Diri dalam

Hasil: Didapati, sebanyak 48,4% mahasiswa yang mengalami stres Data yang ada diuji menggunakan uji korelasi Kendall’s Tau, nilai p yang didapatkan adalah 0,136, menunjukkan

Kesehatan lingkungan (PHBS) dan kesehatan lingkungan.. 1) Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan : Yang dimaksud tenaga kesehatan disini seperti dokter, bidan dan tenaga

ULN yang terdiri atas utang publik (pemerintah dan bank sentral) dan swasta tumbuh sekitar 4,5% bila dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.. ULN pemerintah dan bank

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pendekatan CTL dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III MI Muhammadiyah Karangploso Kecamatan