58
BAB III METODOLOGI
3.1. Metodologi Pengumpulan Data
Kumar (2011), dalam bukunya menyampaikan bahwa metode pengumpulan data dikategorikan ke dalam dua pendekatan yaitu, pendekatan primer (observasi, wawancara dan kuesioner) dan sekunder (studi pustaka). Mengacu pada teori yang ada penulis melakukan pengumpulan data dengan metode campuran (mixed method) dimana metodenya terbagi kedalam pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dengan metode kuantitatif penulis lakukan dengan menyebarkan kuesioner baik secara langsung maupun online. Sedangkan pengumupulan data dengan metode kuanlitatif penulis melakukan wawancara, observasi, focus group discussion dan studi eksisting (hlm.131-133).
Penulis melakukan wawancara terhadap petugas pemadam kebakaran, Budiarto. Tujuan dari wawancara ini adalah penulis mendapatkan tindakan apa yang harus dilakukan oleh anak ketika terjadi kebakaran dan sistem kerja panggilan darurat. Selain petugas pemadam kebakaran, penulis juga melakukan wawancara dengan seorang psikolog anak, Agstried E. Piether. M. Psi. dari wawancara ini penulis mendapatkan data mengenai pentingnya pengetahuan mengenai bencana terhadap psikologis anak, usia yang tepat untuk anak dapat memiliki pengetahuan bencana, kesiapan anak secara psikologis dalam menghadapi bencana dan cara penyampaian materi yang tepat sesuai dengan usia anak.
59 Observasi penulis dapatkan dengan mengamati secara langsung pelaksanaan simulasi kebakaran yang dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran di tingkat Sekolah Dasar. Selain observasi pada saat simulasi, penulis juga melakukan pengamatan mengenai ketersediaan buku dan video untuk anak usia 6- 10 tahun yang membahas mengenai tindakan yang harus dilakukan pada saat terjadi kebakaran. Studi eksisting penulis lakukan dengan mempelajari dan menganalisis video motion graphic dan buku yang memiliki pendekatan, target audience, tujuan dan genre buku yang sama. Pada studi eksisting ini pula penulis melakukan analisis terhadap struktur, konten, visual dan informasi lain yang muncul dalam video ataupun buku lain.
Studi Referensi juga penulis lakukan terhadap beberapa video motion graphic yang penulis dapatkan dari youtube yang memiliki target audience sama dengan perancangan yang penulis lakukan dan dilakukan analisis terhadap media maupun secara visual dan teknis pengerjaan motion graphic tersebut. Selaiin itu penulis juga melakukan focus group discussion yang dilakukan pada orang tua peserta simulasi yang dilakukan oleh BPBD DKI Jakarta mengenai kebencanaan dan dengan anak TK Tiara Veritas untuk membahas mengenai gaya visual dan ketertarikan anak.
Penulis juga melakukan penyebaran kuesioner yang merupakan salah satu pencarian data sampling, untuk mengetahui urgensi, pemahaman orang tua akan kesiapsiagaan yang dimiliki oleh anak dan media behavior yang dimiliki orang tua dan anaknya.
60 3.1.1. Kuesioner
Metode ini digunakan penulis untuk mendapatkan data relevan berupa statistik mengenai keadaan masyarakat, kesadaran, hambatan, dan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya pengenalan dan pengetahuan kesiapsiagaan kebakaran dimiliki oleh anak usia 6-10 tahun. Kuesioner penulis sebarkan secara online menggunakan google form dan secara langsung. Penulis membutuhkan responden berjumlah minimal 100 orang, jumlah ini didapatkan dari penghitungan kuesioner dengan rumus Slovin dengan derajat error 10%.
Rumus Slovin digunakan dalam suatu penelitian dalam upaya mengamati suatu objek berdasar pada populasi, atau teknik sampel (https://statisticshowto.datascienecentral.com/ diakses pada 2 November 2019 pukul 23:11). Berikut hasil dari penghitungan yang telah penulis lakukan:
Jumlah penduduk DKI Jakarta = 10.534.500 Jumlah penduduk Jabodetabek = 23.565.500 Derajat error = 10 %
61 Penulis melakukan penyebaran kuesioner secara langsung pada tanggal 23 Agustus 2019 dan 5 Agustus 2019 di Summarecon Mall Serpong. Kuesioner secara langsung penulis lakukan untuk mendapatkan narasumber yang sesuai dengan target perancangan penulis. Selama melakukan pengisian kuesioner secara langsung penulis sempatkan untuk melakukan perbincangan dengan orang tua yang memiliki anak usia 6-10 tahun, dimana saat mengisi kuesioner mereka baru menyadari bahwa belum pernah membahas mengenai kebakaran secara serius pada anak, padahal hal tersebut merupakan hal penting untuk dilakukan.Sedangkan kuesioner online sudah mulai penulis sebar pada tanggal 21 Agustus 2019.
Gambar 3.1. Dokumentasi Kuesioner dan Wawancara Orang Tua.
62 Sedangkan dari kuesioner yang penulis sebarkan secara online penulis mendapatkan hasil sebagai berikut:
Berdasarkan grafik diatas dapat penulis menarik kesimpulan dimana kesadaran masyarakat Indonesia sendiri mengenai bahaya kebakaran masih dirasa kurang, dengan dimana sebesar 92% menyatakan tidak menggunakan alarm kebakaran dirumah. Alarm kebakaran menjadi salah satu hal yang krusial untuk dimiliki, dengan tidak adanya alarm kebakaran maka penghuni rumah harus ekstra dalam memahami tindakan yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran.
Gambar 3.2. Grafik Kuesioner 1
Gambar 3.3. Grafik Kuesioner 2
63 Ketika dipaparkan mengenai nomor telepon untuk bantuan kebakaran sebanyak 76,7% orang tua tidak mengetahui. Hal ini merupakan sebuah pertanyaaan sederhana namun sifatnya krusial, dimana ketika orang tua tidak mengetahui hal- hal tersebut maka semakin kecil kemungkinan untuk anak mereka mengetahui mengenai kesiapsiagaan bencana kebakaran.
Grafik diatas menunjukan minimnya keberadaan media informasi mengenai kesiapsiagaan bencana kebakaran untuk anak usia 6-10 tahun.
Gambar 3.4. Grafik Kuesioner 3
Gambar 3.5. Grafik Kuesioner 4
64 Pada grafik diatas dapat ditarik kesimpulan dimana orang tua memahami benar akan pentingnya anak mengetahui bahaya yang dapat ditimbulkan api dan pentingnya kesiapsiagaan saat terjadi kebakaran dimiliki oleh anak.
Gambar 3.6. Grafik Kuesioner 5
65 3.1.2. Wawancara
Penulis melakukan wawancara terhadap beberapa narasumber untuk memperoleh data dan informasi secara rinci dari narasumber ahli, mengenai tindakan yang harus dilakukan anak saat menghadapi kebakaran dan cara yang tepat dalam menyampaikan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana. Metode wawancara dilakukan dengan melakukan pertemuan langsung dengan narasumber. Berikut beberapa wawancara narasumber yang telah penulis lakukan:
3.1.2.1. Wawancara dengan Petugas Pemadam Kebakaran
Wawancara dilakukan dengan narasumber seorang petugas pemadam kebakaran. Dalam memperoleh data untuk penyusunan konten buku interaktif, penulis melakukan wawancara dengan Budiarto selaku Komandan Tim B Pemadam Kebakaran Sektor Kalibata. Wawancara dilakukan pada hari Minggu, 25 Agustus 2019 pukul 11:30 WIB. Kegiatan wawancara dilakukan di Pos Pemadam Kebakaran Sektor Kalibata, di Jl.
Gambar 3.7. Wawancara dengan Budiarto.
66 Pasewaran No.6, Rawajati, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan. Dari wawancara ini penulis memperoleh data mengenai tindakan yang harus dilakukan anak saat terjadi kebakaran di rumah dan sekolah dan seberapa penting pengetahuan tersebut untuk dimiliki anak.
Dari hasil wawancara dengan Pemadam Kebakaran penulis mendapatkan informasi mengenai konten yang biasa disampaikan oleh pemadam kebakaran kepada anak TK dan SD. Anak TK lebih difokuskan pada pengenalan profesi, alat-alat pemadam, nomor telepon, kendaraan pemadam, sirine, sedangkan untuk SD lebih pada praktek memadamkan api ringan dan teori mengenai kebakaran seperti klasifikasi bahan penyebab kebakaran. Selain itu Budi juga memberikan informasi mengenai cara kerja telepon siaga yaitu 112, efektivitasnya, dan mengenai peletakan titik kumpul.
Budi menyampaikan pentingnya sejak dini anak mengetahui mengenai bahaya kebakaran, penyebab kebakaran dan tindakan yang harus dilakukan pada saat kebakaran terjadi. Dengan dimilikinya pengetahuan tersebut anak menjadi lebih peka dalam memperhatikan lingkunganya, seperti mengingatkan orang tua saat memasak agar tidak meninggalkan kompor menyala tanpa pengawasan ataupun mengingatkan orang tua yang merokok dan agar anak juga menggunakan api dengan bijak, tidak untuk bermain, karena anak paham bahaya yang dapat ditimbulkan oleh api.
67 Selama bertugas menjadi pemadam kebakaran, Budi kerap menjumpai kasus orang dewasa yang memilih bersembunyi di dalam kamar mandi pada saat kebakaran, hal ini menandakan masih banyak juga orang tua yang kurang paham mengenai kesiapsiagaan bencana. Budi juga menyampaikan penyebab utama kebakaran rumah di Indonesia didominasi dengan konsleting listrik. Beliau juga menjelaskan kepada penulis apa saja yang dapat menyebabkan kebakaran dan tindakan pencegahan serta kesiapsiagaan yang harus dimiliki anak TK dan SD baik di lingkungan rumah dan sekolah.
Budi juga memberikan masukan jika media penyampaian edukasi yang tepat selain dilakukan pelatihan, dengan penggunaan buku yang disertai dengan gambar yang menarik dan kegiatan, sehingga anak usia TK dan SD lebih tertarik dibandingkan dengan teori. Pemadam Kebakaran DKI Jakarta juga memiliki buku informasi berupa komik untuk anak-anak, namun pada saat penulis berkunjung buku tersebut sudah tidak tersedia.
68 3.1.2.2. Wawancara dengan Psikolog Anak
Proses wawancara dilakukan penulis dengan narasumber seorang psikolog anak, untuk mengetahui kesiapan dan tanggapan anak secara psikologis dan kognitif. Penulis melakukan wawancara bersama Agstried E. Piether.
M. Psi. selaku psikolog anak di Rumah Dandelion.
Wawancara dilakukan pada hari Rabu, 28 Agustus 2019 pukul 14:15 WIB, di Rumah Dandelion Jalan Taman Wijaya Kusuma Blok E No.4, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Dalam wawancara dengan psikolog, penulis lebih berfokus pada pentingnya pengetahuan tanggap bencana bagi anak, usia yg tepat bagi anak untuk memiliki pengetahuan tersebut, kesiapan anak secara psikologis dalam menghadapi bencana dan cara penyampaian yg tepat sesuai dengan usia anak.
Agstried sendiri menyampaikan bahwa pembagian usia anak berdasarkan metode pembelajaran dan perkembangan kognitifnya dari usia
Gambar 3.8. Wawancara dengan Agstried E. Piether. M. Psi.
69 3-9 tahun menjadi 3 tahap, yaitu usia 3-5tahun, 6-7 tahun dan 8-9 tahun.
Anak usia 6-10 tahun sudah dapat mengerti dan memaknai bencana, merupakan usia berkembangnya konkret operasional anak dimana ia mampu mengkonkretkan kejadian atau sesuatu yang abstrak dan dapat melaksanakan minimal dua instruksi sekaligus. Metode yang efektif digunakan dalam penyampaian pengetahuan untuk stage ini adalah dengan lagu (penggunaan rima dan yel), puppet show, short animation dan buku, namun untuk buku masih bergantung pada pembawaan orang tua dalam menyampaikan cerita. Untuk usia 6-7 tahun mulai mempelajari dengan sistem problem solving dan usia 8-9 tahun dengan metode experimenting.
Respon anak usia 3-7 tahun terhadap bencana dan bahaya sangatlah bergantung pada penyampaian orang tua mengenai hal tersebut, ada orang tua yang cenderung melarang anak seperti “jangan bermain api nanti kebakaran lho!” ini membuat emosi dasar pada anak terhadap api adalah takut, sedangkan ada orang tua yang lebih membahas dan memberi pengertian kepada anaknya seperti ke arah kesiapsiagaan (memberikan anak pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi) dan kearah sosial seperti dampak bencana yang bisa membuat orang lain membutuhkan bantuan sesamanya. Sehingga respon dasar dari anak sangatlah bergantung pada penyampaian orang tuanya dan sama halnya dengan pengambilan keputusan mereka.
Agstried juga menyampaikan bahwasanya membekali anak usia 3-7 tahun mengenai kesiapsiagaan bencana tidak dapat dipastikan pada
70 pelaksanaanya akan langsung melakukan sesuai dengan yang dibekali, karena orang dewasa pun butuh waktu untuk memproses bencana yang bahkan sudah kerap dialami (contoh pada saat gempa), namun dengan membekali anak pengetahuan tersebut akan meningkatkan awareness anak dan memperbesar kemungkinan anak untuk survive pada saat terjadi bencana.
Dalam wawancara Agstried juga memberikan masukan mengenai metode penyampaian dalam buku dimana lebih baik diawali dengan cerita di awal untuk membentuk basic knowledge baru diikuti dengan lagu yang memiliki rima dan kegiatan yang bisa dilakukan untuk memastikan anak mendapat pengetahuan dan inti dari cerita yang disampaikan, dan menambah ketertarikan anak pada buku.
71 3.1.2.3. Wawancara dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Wawancara penulis lakukan dengan narasumber dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Joko Indro Martono sebagai Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan dan Embai Suhaimi sebagai Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta.Wawancara dilakukan di Jalan Kyai H. Zainul Arifin No.71, Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta pada Senin, 7 Oktober 2019.
Tujuan dari wawancara yang dilakukan adalah mendapatkan informasi mengenai frekuensi kebencanaan terbanyak yang dialami di wilayah DKI Jakarta, media yang efektif dalam upaya mensosialisasikan mengenai kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat dan menjalin kerjasama dengan narasumber dalam upaya menyusun media informasi mengenai kesiapsiagaan bencana.
Gambar 3.9. Wawancara dengan Embai Suhaimi, S.E.
72 Dari hasil wawancara yang penulis lakukan bencana yang memiliki jumlah kejadian terbanyak di Jakarta adalah banjir kemudian disusul dengan kebakaran, untuk frekuensi tertinggi kejadian kebakaran tempeh tinggal terjadi di Tambora, Jakarta Barat dan Penjaringan, Jakarta Utara.
Daerah yang rawan mengalami kebakaran adalah di permukiman padat penduduk dengan penyebab terjadinya kebakaran terbanyak adalah akibat konsleting listrik kemudian disusul dengan human error. Korban dari kebakaran tempat tinggal sendiri di dominasi oleh orang dewasa dan anak- anak.
Sosialisasi yang dilakukan BPBD biasanya ke lokasi rawan bencana, sekolahan, dan keluarahan dengan jumlah penduduk padat.
Setelah pelaksanaan sosialisasi BNPB maupun BPBD menyediakan panduan, poster, stiker yang diberikan kepada masyarakat mengenai kesiapsiagaan bencana. Sosialisasi kepada anak-anak sendiri lebih pada bagaimana anak menangani bencana, apa yang harus dilakukan teknik, simulasi, dan cara penangananya, pihak sekolahan juga baiknya memiliki SOP dalam menghadapi bencana. Diharapkan anak-anak dapat memahami dan megenali potensi bencana yang dapat terjadi di sekitar mereka dengan membuat peta bencana wilayah sekolah maupun rumah. Memahami pula mengenai titik kumpul, jalur evakuasi, kesiapsiagaan dan penanganan sesuai dengan bencana yang dialami.
Menurut Embai Suhaimi, media yang tepat untuk diberikan kepada anak melalui video dan buku untuk membantu anak memahami dan
73 mempraktekan secara langsung mengenai apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Karena sangat penting ketika anak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, dengan dimilikinya kesiapsiagaan masing-masing anggota keluarga memperbesar kemungkinan untuk masing-masing anggota keluarga selamat. Sosialiasi yang dilakukan oleh BPBD sendiri mencakup beberapa bencana sekaligus seperti gempa, banjir dan kebakaran.
Dari pihak BPBD sendiri memberikan respon positif terhadap perancnagan media informasi untuk anak-anak mengenai kesiapsiagaan bencana kebakaran yang disertai dengan cerita dan kegiatan interaktif untuk anak di dalamnya. Pihak BPBD juga menerima tawaran dari penulis untuk menjadi mandatory dari perancangan media informasi yang akan penulis susun untuk keperluan Tugas Akhir sehingga nantinya benar-benar dapat digunakan untuk masyarakat. Penulis diberikan masukan untuk menanyakan lebih lanjut mengenai konten dan teknik yang harus dilakukan ketika kebakaran kepada Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Pemerintah DKI Jakarta dan Dinas Pendidikan mengenai teknik penyusunan buku untuk anak.
74 3.1.2.4. Wawancara dengan Editor Buku
Proses wawancara penulis lakukan dengan narasumber seorang editor buku, Joko Wibowo sebagai Managing Editor Children Publication PT.
Elex Media Komputindo.Wawancara penulis lakukan bertempat di kantor narasumber di Kompas Gramedia Building Jalan Palmerah Barat No. 29, Palmerah, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta pada Senin, 7 Oktober 2019.
Joko Wibowo menyampaikan dalam wawancaranya dengan penulis dimana ukuran buku standar percetakan adalah 21x21cm, 14x21cm, 18x24cm, 19x23cm, 21x27cm, 15x15cm, 17x17cm, dan 20x20cm. Dimana untuk anak sekolah dasar ukuran yang disarankan 18x24 cm atau 21x27 untuk activity book. Untuk bahan cover buku disarankan menggunakan kertas art karton 210 keatas dengan teknik binding jahit benang atau lem (perfect binding), Jumlah halaman yang
Gambar 3.10. Wawancara dengan Joko Wibowo.
75 disarankan adalah kelipatan 8 dan 16 yaitu 16,32,48,56, dan 64 halaman dengan ukuran font minimal 12pt dengan spacing antar baris 2,0 dan menghindari penggunaan font dengan kait (serif). Pemilihan font yang digunakan juga harus memperhatikan copywrite dari designernya, sehingga lebih aman menggunakan font standar di Ms Office atau membuat font sendiri. Buku anak disarankan tiap paragrafnya paling banyak berisi 3-5 kalimat, dan keseluruhan konten sebaiknya dibawah 500 kata, jenis bahan untuk konten buku workbook sebaiknya menggunakan hvs 100 dimana mudah untuk dicoret-coret dan hapus.
Joko menyampaikan pula warna dan ilustrasi pada buku anak menjadi poin penting, dimana dewasa ini warna yang digemari pada buku anak cenderung pada penggunaan warna pastel. Untuk gaya ilustrasi sendiri dapat menyesuaikan dengan style illustrator hanya saja ilustrasi harus dapat menyampaikan pesan dengan tepat, tidak ambigu dan tidak menyebabkan persepsi visual yang berbeda antara yng ditangkap oleh anak dengan orang tuanya. Bentuk-bentuk objek dibuat sederhana dan mudah dipahami dan didukung dengan roman tokoh yang ceria. Gaya bahasa pada buku anak juga sebaiknya singkat, pesan yang ingin disampaikan jelas, jalan cerita sederhana, menggunakan kosa kata sederhana pula, tidak banyak menggunakan kalimat langsung dan untuk buku anak baiknya menggunakan repetisi pada pesan penting yang ingin disampaikan.
76 Berdasarkan segmentasi usia pembagian kategori buku anak terbagi menjadi usia 0-3 tahun, 4-5 tahun, dan 6-12 tahun. Beda sassaran usia juga mempengaruhi konten buku dimana untuk anak 0-3 sifatnya edu toys untuk membantu motoric halus dan kasar anak, sedagkan usia 6-12 tahun lebih mengenai pelajaran dasar, dan usia 6-12 tahun lebih kompleks sesuai dengan kemampuan belajar anak. Joko dalam wawancaranya juga menjelaskan proses produksi buku dimana diawali dengan konsep dan tema yang diangkat sesuai dengan segmentasi target, kerangka buku, judul, isi konten karya, proses ilustrasi, editing, pra cetak (menentukan layouting, format), acc, dan cetak.
77 3.1.2.5. Wawancara dengan Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Proses wawancara penulis lakukan dengan narasumber, Reza Raditya sebagai Seksi Publikasi dan Pemberdayaan Masyarakat. Wawancara penulis lakukan bertempat di Kantor Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Jalan Kyai H. Zainul Arifin No.71, Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, pada tanggal 24 Oktober 2019. Pada kesempatan wawancara ini penulis juga melakukan proses asistensi mengenai konten buku dan video.
Reza (2019), menjelaskan sosialisasi yang ditujukan kepada anak biasanya bersifat preventif dimana anak diajarkan mengenai penyebab konsleting listrik, kebakaran akibat bermain korek api, lilin, petasan.
Namun untuk beberapa materi tertentu seperti kebocoran gas memang tidak diperuntukkan untuk anak, apalagi pada usia sekolah dasar. Kegiatan
Gambar 3.11. Wawancara dengan Reza Raditya.
78 sosialisasi yang biasa dilakukan dengan permainan, tanda untuk menutup air, menambah tekanan air dan kode untuk api sudah aman atau belum.
Pada kegiatan sosialisasi juga diajarkan kepada anak untuk tidak mendekat ketika terjadi kebakaran, jangan berkerumun dan segera melakukan evakuasi.
Pihak Jakartafire juga memiliki mascot se ekor gajah bernama
“Pampi” (pemadam api), Anak usia sekolah dasar juga diajarkan mengenai alat tradisional seperti lap basah, selimut, handuk, dan karung goni.
Penyampaian mengenai teori seperti 3 komponen menyebabkan api adalah oksigen, panas dan material terbakar, dan penjelasan mengenai 4 golongan berdasarkan bahan penyebab kebakaran. Keempat golongan tersebut, biasanya hanya 3 golonngan yang dijelaskan kepada anak karena ketiga golongan ini yang sering ditemu dalam kehidupan sehari-hari. Golongan A terdiri daari kayu, kertas dank ain, Golongan B terdiri dari gas, minyak bumi (solar, bensin, minyak tanah), dan Golongan C yang terdiri dari panel listrik dan akibat konsleting listrik. Pemberian materi kepada anak sekolah dasar dan tk lebih kepada pengenalan profesi dan tindakan preventif. Perkenalan profesi dimaksudkan sebagai pemaparan pengetahuan dasar untuk anak mengenai eksistensi dari pemadam kebakaran itu sendiri.
Berdasarkan data yang dibagikan kepada penulis penyebab kebakaran yang paling umum terjadi di tempat tinggal yaitu penggunaan lilin atau korek api, perangkat listrik yang bertumpuk dan tidak terawat,
79 serta aktivitas dapur dalam rumah. Dalam wawancara penulis juga diberikan buku komik yang biasanya dibagikan kepada anak TK dan SD peserta sosialisasi dan CD yang berisi video pampi menjelaskan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pemadam kebakaran.
3.1.2.6. Kesimpulan Wawancara
Berdasarkan wawancara penulis dengan lima narasumber penulis dapat menyimpulkan beberapa poin penting dari hasil wawancara tersebut.
Pertama, dari hasil wawancara dari petugas pemadam kebakaran dan Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarata didapatkan informasi bahwa pemerintah telah memiliki program rutin dalam upaya sosialisasi dan simulasi terkait kesiapsiagaan kebakaaran untuk anak dan orang tua, dimana untuk anak biasanya dilakukan di lingkungan sekolah sedangkan untuk orang tua dilakukan di tiap kelurahan, kecamatan ataupun di lingkungan kerja.
Kemampuan anak dalam menerima materi juga penulis bahas dengan Agstried seorang psikolog anak, dimana dipaparkan bahwa anak pada usia 6-7 tahun sudah memiliki kemampuan problem solving dan sudah dapat mengerti, memahami mengenai bencana walaupun belum pernah mengalami secara langsung. Anak pada usia 6-10tahun sudah dapat mengkontretkan hal yang abstrak, atau sudah berkembang pada tahap konkret operasionalnya. Hal ini mendukung dimana anak usia 6-10 tahun umumnya sudah menduduki pendidikan tingkat Sekolah Dasar. Namun dalam penyampaiannya Agstried (2019), menyatakan pentingnya
80 pemaparan mengenai basic knowledge kebakaran terhadap anak, untuk setidaknya memberikan gambaran, sebelum masuk pada materi serius.
Dari hasil wawancara penulis juga mendapatkan informasi mengenai tindakan apa saja yang harus dilakukan dan diketahui anak ketika terjadi kebakaran. Dari pihak pemerintah sendiri menyadari betul akan pentingnya anak dalam memiliki pengetahuan tersebut, dan kedua narasumber juga menyatakan bahwa dibutuhkan sebuah metode yang dapat menarik dan mudah dipahami oleh anak sehingga dapat menghulangkan kebosanan pada saat menerima materi, selain itu kedua narasumber juga menyatakan bahwa usia Sekolah Dasar dirasa sudah mampu untuk membahas mengenai kesiapsiagaan lebih serius dari usia anak dibawahnya, hal ini dipaparkan berdasarkan dari kegiatan rutin ke sekolah dan taman kanak yang dilakukan sesuai program pemerintah.
Selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan BPBD DKI Jakarta dimana menyampaikan kejadian kebakaran tempat tinggal memiliki frekuensi tertinggi pada daerah pemukiman padat penduduk di lingkungan DKI Jakarta, hal ini juga disetujui oleh pihak JakartaFire dalam wawancaranya dengan penulis. Baik dari pihak BPBD maupun DKPPP DKI Jakarta telah menjaabarkan secara rinci mengenai tindakan kesiapsiagaan kebakaran yang harus dimiliki oleh anak, dimana perincian ini nantinya akan penulis jabarkan pada bab selanjutnya pada sub konten perancangan.
81 3.1.3. Observasi
Observasi penulis lakukan dalam upaya merasakan langsung pengalaman dari sudut pandang target audience dan mengamati secara langsung perilaku target audience sehari-hari. Penulis melakukan observasi di berbagai toko buku dan observasi pada saat pelaksanaan simulasi di sekolah-sekolah. Berikut hasil observasi yang penulis lakukan :
3.1.3.1. Toko Buku
Observasi penulis lakukan di tiga tempat yaitu Periplus, Toko Buku Gramedia BSD dan Summarecon Mall Serpong. Dari observasi yang dilakukan pada dua toko buku penulis hanya menemukan satu buku yang berisi kesiapsiagaan anak dalam menghadapi bencana kebakaran. Penulis menemukan 3 buah buku yang terkait dengan kebakaran dan pemadam kebakaran namun konten buku-buku tersebut lebih berisi pada pengenalan profesi pemadam kebakaran dan tidak membahas mengenai kesiapsiagaan bencana kebakaran. Penulis hanya menemukan 1 buah buku yang berisi mengenai kesiapsiagaan saat terjadi kebakaraan, namun dalam buku tersebut tidak berfokus pada kebakaran saja namun juga penangnanan bencana lainnya, seperti gempa bumi, longsor, tsunami, dan sebagaimnya.
Dimana dalam penyampaiannya dirasa menjadi kurang fokus dan terlupakannya poin-poin penting.
82 3.1.3.2. Mengikuti Simulasi di SDN 05 Duren Tiga
Penulis melakukan observasi di SDN 05 Duren Tiga yang terletak di Jl.
Guru Alip No.10B, Duren Tiga, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, pada tanggal Rabu, 28 Agustus 2019 pukul 11:00-12:30 WIB. Kebetulan penulis diundang oleh Pemadam Kebakaran Kalibata yang pada acara yang bersangkutan bekerjasama dengan BPBD DKI Jakarta. Simulasi
Gambar 3.12. Dokumentasi Observasi Toko Buku
Gambar 3.13. Dokumentasi Simulasi Kebakaran.
83 selalu dilakukan di luar ruangan, karena properti yang digunakan melibatkan api, gas, asap, air dan APAR, sehingga tidak dapat dilakukan di dalam ruangan. Berdasarkan pengamatan dari penulis, konsentrasi anak pada saat mendengarkan penjelasan dan simulasi dari tim terganggu akibat cuaca yang sangat panas, apalagi simulasi dilakukan pada siang hari.
Kegiatan dilakukan secara outdoor ini sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Peneliti juga mengamati tanggapan anak-anak pada saat simulasi, dimana ketika mendapat penjelasan secara teoritis seperti nomor telepon siaga, jenis-jenis kebakaran, penyebab kebakaran kurang mendapatkan respon aktif dari anak-anak, namun ketika sesi praktek memadamkan api, anak-anak terlihat sangat antusias, terutama pada kegiatan mematikan api pada kebocoran gas dan penggunaan APAR. Sesi praktek tidak hanya di simulasikan untuk anak-anak SD namun juga guru sekolah.
Kebetulan pada saat mengikuti kegiatan simulasi penulis mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Ibu Nuri dari BPBD DKI Jakarta, pada kesempatan tersebut Ibu Nuri menyampaikan bahwa kegiatan simulasi bencana merupakan agenda rutin setiap hari rabu yang dilakukan secara bergilir di sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK. Ibu Nuri juga menyampaikan bahwa BPBD sedang membutuhkan ilustrator untuk membuat sebuah komik mengenai kesiapsiagaan bencana.
Menurut Ibu Nuri tindakan kesiapsiagaan harus sudah ditanamkan sejak dini, karena kita tidak pernah tahu kapan bencana dapat terjadi, dan
84 penanaman sejak dini membantu membentuk sebuah kebiasaan dan kesadaran untuk mempersiapkan diri terhadap kemungkinan bencana yang dapat terjadi.
3.1.3.3. Mengikuti Sosialisasi BPBD di RPTRA Kalijodo
Proses Observasi penulis lakukan pada Jumat, 11 Oktober 2019 pukul 7:30-11:00 WIB di RPTRA Kalijodo, Tambora, Jakarta Barat. Penulis menghadiri sosialisasi bencana yang dibawakan langsung oleh pihak BPBD DKI Jakarta. Sosialisasi berlangsung di Aula RPTRA Kalijodo yang dihadiri oleh masyarakat kelurahan sekitar Kalijodo dan petugas RPTRA. Sosialisasi dilakukan dengan presentasi menggunakan slide power point dan disertai dengan praktek. Proses sosialisasi mendapat antusias yang cukup besar dari masyarakat.
Materi yang disampaikan dalam sosialisasi mengenai tanda-tanda bencanam cara menyikapi, dan penanganan. Sosialisasi kali ini lebih difokuskan pada bencana gempa dan kebakaran. Dalam sosialisasi ini juga diajarkan mengenai teknik melindungi diri saat bencana, evakuasi, jalur evakuasi, titik kumpul dan cara penanganan korban bencana yang mengalami luka pendarahan. Dari sosialisasi yang diberikan BPBD juga
Gambar 3.14.Dokumentasi Sosialisasi Bencana.
85 berpesan pada masyarakat yang hadir untuk membagikan ilmu yang didapatkan kepada tetangga dan keluarga.
Dalam materi yang disampaikan BPBD juga menyampaikan bahwa ketika seseorang memiliki kesiapsiagaan bencana, sebesar 34,8%
kemungkian seseorang dapat menyelamatkan diri dari bencana, sedangkan kemungkinan untuk selamat dengan mendapat bantuan dari teman dan tetangga hanya sebesar 28,1% dan tim penyelamat 17% saja. Namun secara keseluruhan respon peserta terhadap materi yang disampaikan dan simulasi yang dilakukan berlangsung kondusif dan mendapat tanggapan aktif dan positif dari peserta sosialisasi.
3.1.4. Studi Eksisting
Studi eksisting penulis lakukan dalam upaya melakukan analisis terhadap kompetitor yang mengangkat tema, target dan pendekatan yang sama dengan perancangan yang sedang penulis kerjakan. Penulis melakukan analisis mengenai struktur, visual, konten, dan info penting lain yang disampaikan pada buku kompetitor. Berdasarkan Crook dan Beare (2016), pemikiran analisis dibutuhkan untuk mendapatkan cara komunikasi yang tepat, salah satu bentuk analisis dilakukan dengan menyusun kerangka SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan treats) (hlm.154).
Analisis yang penulis lakukan didukung pula dengan kegiatan pembacaan buku- buku cerita yang digunakan dalam studi eksisting kepada anak TK Tiara Veritas
86 untuk mendapatkan point of view dari anak mengenai sebuah ilustrasi, karakter dan jalan cerita.
3.1.4.1. Studi Eksisting Video
Selain melakukan studi eksisting pada buku interaktif, penulis juga melakukan studi eksisting pada beberapa video mengenai kesiapsiagaan kebakaran bagi anak-anak. Berikut beberapa video yang penulis temukan di Youtube dan digunakan sebagai studi eksisting:
1. Baby Bus – “Learn Fire Safety with Elephant Firefighter Fire Drill Kids Role Play BabyBus”
Penulis melakukan analisa SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dari video “Learn Fire Safety with Elephant Gambar 3.15. Dokumentasi Story Telling Buku Studi Eksisting di TK Tiara Veritas
Gambar 3.16. Baby Bus – “Learn Fire Safety with Elephant Firefighter Fire Drill Kids Role Play BabyBus”
(https://kidvideo.org/video/learn-fire-safety-with-elephant-firefighter-fire-drill-kids- role-play-babybus-i8183.html)
87 Firefighter Fire Drill Kids Role Play BabyBus”, yang kemudian penulis uraikan sebagai berikut:
1) Strength
Ilustrasi yang ditampilkan menggunakan hewan sebagai karakter dalam cerita, ini memberikan dampak positif pada anak mengenai pengembangan imajinasi anak pada usia 6-10 tahun, maka anak merasa lebih tertarik dengan karakter yang berbeda dan bersifat imajinatif.
2) Weakness
Kelemahan dari video ini hanya ada dalam bahasa Inggris, dengan durasi yang cukup panjang dan jalan cerita yang mirip dapat membuat anak merasa mudah bosan. Dan materi kesiapsiagaan yang diberikan sebatas keluar dari rumah saat terjadi kebakaran.
3) Opportunity
Cartoon Baby Bus sudah cukup terkenal dan tidak hanya membahas mengenai kebencanaan sehingga dengan videonya yang sangat beragam.
4) Threat
Video ini merupakan serial dari cerita cartoon Baby Bus sehingga menarik anak yang sudah terbiasa melihat berbagai serial cartoon milik Baby Bus.
88 2. NFPA Kids – “Sparky Says Join My Fire Safety Club Video.”
Penulis melakukan analisa SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dari video “Sparky Says Join My Fire Safety Club Video.”, yang kemudian penulis uraikan sebagai berikut:
1) Strength
Ilustrasi yang ditampilkan menggunakan hewan sebagai karakter utama dalam cerita, ini memberikan dampak positif pada anak mengenai pengembangan imajinasi anak dan membuat tokoh utama Sparky menjadi lebih mencolok karena berbeda dengan lainnya. Dalam video berdurasi 4 menit, materi mengenai kesiapsiagaan kebakaran dirasa sudah dapat terangkum dengan baik, secara singkat dan lengkap.
2) Weakness
Resolusi dari video ini sangat rendah dan dengan ratio frame yang sempit dan berbentuk square, dimana jika diletakkan Gambar 3.17. NFPA Kids – “Sparky Says Join My Fire Safety Club
Video.”
(https://www.youtube.com/watch?v=gHrPLeKzLg4&feature=share)
89 pada platform youtube menjadi tidak efektif pada bagian tampilannya. Hanya hadir dalam bahasa Inggris.
3) Opportunity
Sparky dan NFPA merupakan organisasi yang sangat aktif di Amerika dan dikenal di dunia, hal ini membuat sosialisasi setiap konten yang dipublikasikan dapat menjangkau masyarakat luas.
4) Threat
Menggunakan visual motion graphic dengan gaya flat design dan stylised illustration. Dalam video juga menggunakan pendekatan karakter yang seusia dengan target audience. Pada akhir video juga diselipkan jingle singkat mengenai kesiapsiagaan kebakaran.
2. Good Kids Learn About Safety Lessons – “Fire Rescue Safety Knowledge for kids”
Gambar 3.18. Good Kids Learn About Safety Lessons – “Fire Rescue Safety Knowledge for kids”
(https://www.youtube.com/watch?v=RTfsaHULc48&t=83s)
90 Penulis melakukan analisa SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dari video “Sparky Says Join My Fire Safety Club Video.”, yang kemudian penulis uraikan sebagai berikut:
1) Strength
Video yang disajikan merupakan video interaktif, sehingga selain menyaksikan anak dapat menjawab mini quiz yang ada di dalam video.
2) Weakness
Hanya tersedia dalam Bahasa Inggris dan penyampaian materi di dalam video dirasa kurang lengkap dengaan durasi yang cukup panjang. Interaktivitas video tidak dapat dijalankan dalam platform youtube.
3) Opportunity
Menarik karena menggunakan metode yang berbeda dengan video pada umumnya dimana anak dapat berinteraksi secara langsung dengan materi yang disampaikan dengan mengisi mini quiz dan mendapat respon langsung atas pilihan yang diberikan.
4) Threat
Menggunakan interaktif video sehingga membuatnya menarik dan berbeda dibanding video lain, dan mengajak target melakukan interaksi dua arah.
91 3.1.4.2. Studi Eksisting Buku
Penulis melakukan observasi dan menemukan beberapa buku kompetitor yang kemudian penulis kelompokan dalam 2 kategori, sebagai berikut:
3. Buku cerita bertema kesiapsiagaan kebakaran.
a. No Dragons for a Tea
Penulis Jean E Pendziwol Illustrator Martine Gourbault Saran usia 3-7 tahun
Tahun terbit 1999 Jumlah halaman 32 halaman
Penerbit Kids Can Press; and Dragons edition
Bahasa Inggris
Dimensi produk 8.1 x 0.1 x 10 inch
Berat 5 ons
Gambar 3.19. Halaman Sampul Depan dan Belakang dari Buku
“No Dragons for Tea”
(Pendziwol, 1999)
92 Buku ini menceritakan seorang anak perempuan yang berteman dengan seekor naga dan mengajaknya untuk minum teh di rumah.
Ketika naga tiba-tiba bersin, seketika dapur rumah terbakar.
Banyak kesalahan yang dilakukan oleh naga ketika terjadi kebakaran, dimana ia malah bersembunyi di bawah karpet dan seketika ia keluar dari luar rumah ia berencana kembali masuk untuk mengambil boneka. Namun, anak perempuan yang bersamanya telah mendapat pengetahuan mengenai kebakaran sehingga ia mengajak naga untuk keluar rumah dan menyampaikan bahwa jangan pernah masuk lagi saat terjadi kebakaran.
Penulis melakukan analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dari buku No Dragons for a Tea, yang kemudian penulis uraikan sebagai berikut:
1.) Strength
Kekuatan yang dimiliki buku ini menurut penulis adalah jalan cerita dirasa mudah dimengerti karena dekat dengan keseharian anak-anak usia 3-7 tahun. Dalam buku ini juga terdapat halaman panduan untuk orang tua mengenai apa saja yang harus dibahas dengan anak pada saat terjadi kebakaran, menurut penulis halaman tambahan ini sangat membantu orang tua dalam membahas apa saja yang harus anak ketahui.
93 Teknik yang digunakan dalam buku pernah disebutkan oleh Kak Agstried E. Piether. M. Psi dalam wawancara dengan penulis, dimana sebaiknya buku diawali dengan cerita di awal sehingga anak dapat memiliki pemahaman mengenai konteks dan kondisi supaya anak memiliki basic knowledge untuk dapat menerima poin penting yang disampaikan berikutnya.
2.) Weakness
Gambar 3.20. Gambar 3.12. Halaman Panduan Orangtua dalam Buku “No Dragons for Tea”
(Pendziwol, 1999)
Gambar 3.21. Halaman Isi Buku “No Dragons for Tea”
(Pendziwol, 1999)
94 Menurut analisa penulis, kekurangan dari buku ini hanya tersedia dalam Bahasa Inggris. Jumlah, ukuran, dan leading pada teks didesain untuk dibaca oleh orang tua, sehingga anak akan mengalami kesulitan untuk melakukan pembacaan secara mandiri.
Kualitas ilustrasi yang tampil dalam buku juga dirasa kurang, hal ini terkait dengan tahun terbit buku yaitu pada tahun 1999 dimana terdapat keterbatasan teknologi yang belum secanggih sekarang.
3.) Opportunity
Buku ini merupakan salah satu buku dari buku serial Dragon, dimana serial ini membahas mengenai keselamatan untuk anak.
Buku ini juga tersedia dalam bentuk ebook, dimana mudah didapatkan dan dengan biaya yang lebih murah.
4.) Threat
Banyak orang tua yang tidak mengetahui keberadaan buku ini, karena sudah terbit dari tahun 1999. Buku membutuhkan pendampingan penuh dari orang tua.
95 b. Arthur’s Fire Drill
Tabel 3.2. Tabel Spesifikasi Buku Arthur’s Fire Drill.
Penulis Marc Brown
Penerbit Random House Books for Young Readers Tahun terbit 2000
Saran usia 5-8 tahun Jumlah halaman 24 halaman
Bahasa Inggris
Dimensi produk 6 x 0.1 x 9 inch
Berat 4 ons
Penulis melakukan analisa SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dari buku Arthur’s Fire Drill, yang kemudian penulis uraikan sebagai berikut:
Gambar 3.22. Cover Buku “Arthur’s Fire Drill”
(Brown, 2000)
96 1.) Strength
Teks dalam buku didesain untuk dibaca secara mandiri oleh anak, sehingga ukuran, jenis dan leading pada teks disesuaikan agar mudah dibaca oleh anak usia 5-8 tahun. Memberi penjelasan lebih banyak praktek kesiapsiagaan di dalam alur cerita dibanding buku sebelumnya. Sesuai dengan Male (2007), penggunaan hewan sebagai karakter dalam buku cerita untuk usia 6 tahun, dimana dapat mengembangkan imajinasi anak (hlm. 153). Buku ini juga dilengkapi dengan dua halaman stiker yang menarik untuk anak-anak.
2.) Weakness
Terlalu bermain dengan alur dan latar yang cepat berpindah dalam cerita, hal ini dapat menimbulkan kebingungan dan salah
Gambar 3.23. Halaman Isi Buku “Arthur’s Fire Drill”
(Brown, 2000)
97 tafsir pada anak saat membaca. Buku ini juga hanya tersedia dalam bahasa Inggris.
3.) Opportunity
Buku ini merupakan salah satu buku dari serial Arthur dimana selain buku juga tampil dalam serial TV.
4.) Threat
Serial Arthur sudah tidak mengeluarkan buku baru sejak 2008, dan buku yang berjudul “Arthur’s Fire Drill” sendiri terbit tahun 2000, dimana banyak orang tua di Indonesia yang tidak mengetahui keberadaan buku ini, terlebih tidak tersedia dalam bentuk ebook.
4. Buku cerita interaktif kesiapsiagaan kebakaran a. Plan and Prepare! (Fire Safety)
Gambar 3.24. Cover Buku “Plan and Prepare! (Fire Safety)”
(Ghigna, 2017)
98 Tabel 3.2. Tabel Spesifikasi Buku Plan dan Prepare! (Fire Safety).
Penulis Sharles Ghigna, Drew Temperante Illustrator Glenn Thomeas
Penerbit Cantata Learning Tahun terbit 2017
Saran Usia 3-8 tahun Jumlah halaman 24 halaman
Bahasa Inggris
Dimensi Produk 10.5 x 0.2 x 8.8 inch
Berat 3.2 ons
Penulis melakukan analisa SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dari buku Arthur’s Fire Drill, yang kemudian penulis uraikan sebagai berikut:
1) Strength
Ilustrasi dan gaya visual yang ditampilkan terasa modern dengan teknik digital yang digunakan. Jumlah teks sedikit, pemilihan ukuran dan typeface juga memperhatikan legibilitas dengan baik.
99 2) Weakness
Kelemahan dari buku ini menurut penulis terletak pada penggunaan bahasa yang hanya tersedia dalam bahasa Inggris.
3) Opportunity
Buku interaktif ini dilengkapi dengan saran aktivitas yang harus dilakukan, disertakan pula dengan CD berisikan lagu mengenai kesiapsiagaan kebakaran, hal ini memudahkan anak dalam mengingat instruksi.
Gambar 3.25. Halaman Isi Buku “Plan and Prepare! (Fire Safety)”
(Ghigna, 2017)
Gambar 3.26. Lirik Lagu Buku “Plan and Prepare! (Fire Safety)”
(Ghigna, 2017)
100 4) Threat
Buku serial ini terbagi menjadi beberapa buku untuk materi pembahasan yang sama yaitu mengenai kesiapsiagaan kebakaran untuk anak, pembagian kedalam beberapa buku ini menyebabkan materi yang disampaikan dapat lengkap jika memiliki semua serial buku tersebut.
3.1.5. Studi Referensi
1. Visual Motion Graphic pada The treadmills dark and twisted past - Conor Heffernan.
Motion graphic ini penulis temukan pada sebuah channel Youtube TED Ed yang merupakan sebuah channel edukasi dan disajikan dalam bentuk animasi dan motion graphic. Channel youtube ini juga memiliki target audience anak usia 6 – 13 tahun. Video ini secara visual dihadirkan dalam
Gambar 4.1. The treadmills dark and twisted past - Conor Heffernan.
(https://www.youtube.com/watch?v=Al-30Z-aH8M)
101 bentuk infografis namun disertai sedikit animasi pada tokoh-tokoh di dalamnya. Penggunaan palet warna yang konsisten dan kaku sehingga perpindahan antar scene dapat mengalir. Unsur warna yang digunakan juga merupakan warm color, dan menggunakan warna yang bold dan vibrant. Pada video ini penulis lebih mempelajari dan menjadikan referensi pada teknik framing dan masking yang digunakan sebagai transisi pada video. Transisi pada setiap scenenya sangat dinamis dan menarik.
Pada video ini juga banyak menggunakan warna, tekstur dan bentuk berulang dimana sesuai dengan Bancroft (2006), penggunaan elemen berulang dapat menciptakan kesatuan (unity) pada keseluruhan ilustrasi.
2. Visual Motion Graphic pada video Why is it So Hard to Make Decisions.
Video penulis temukan dari salah satu video di channel Youtube GCF LearnFree dimana channel ini berisi edukasi dalam bentuk motion graphic
Gambar 4.2. Why is it So Hard to Make Decissions.
(https://www.youtube.com/watch?v=SgNQGnwJ4Gk&t=5s)
102 untuk anak-anak. Video ini secara keseluruhan dihadirkan dalam bentuk infografis, dengan animasi objek sederhana dan banyak menggunakan teknik looping. Palet warna yang digunakan cenderung menggunakan warna pastel dan solid, dan warna background yang beragam pada setiap scene videonya. Visual video lebih sederhana dan penggunaan background polos untuk menimbulkan kesan emphasis pada objek utamanya. Dari video ini penulis lebih mempelajari dalam pengaturan komposisi dan animasi sederhana pada tiap objeknya, serta teknik dalam memaparkan materi mengenai perbandingan atau langkah-langkah materi yang dijelaskan.
3.1.6. Focus Group Discussion
Millman (2008), menjelaskan mengenai penggunaan metode focus group discussion menjadi salah satu cara mengidentifikasi konsep desain yang sesuai untuk mengkomunikasikan pesan pada audience tanpa menyangkut kemampuan penalaran secara rasional dan intelektualitas (hlm. 34).
3.1.6.1. Anak Taman Kanak-Kanak
Focus group discussion penulis lakukan di TK Tiara Veritas yang terletak di Ruko Taman Borobudur, Jl. Rorojonggrang No. C 27, Kecamatan Kelapa Dua Tanggerang pada hari Senin, 23 September 2019 pukul 08:00- 10:00. Pada FGD ini penulis mendapatkan beberapa data mengenai anak usia 4-6 tahun lebih peka secara visual terhadap warna dan ukuran ilustrasi. Hal ini dapat penulis simpulkan ketika melakukan proses story telling terhadap buku “Clifforrd the Firehouse Dog” hal pertama yang
103 menarik perhatian anak adalah ukuran “Clifford” (tokoh anjing) yang lebih besar dari rumah, dan warnanya yang merah sama seperti warna mobil pemadam kebakaran.
Berdasarkan hasil FGD penulis juga dapat menyimpulkan bahwa anak usia 4-6 tahun sudah mampu mengingat rangkaian instruksi pendek seperti stop, drop, roll dan menghafal 3 dijit nomor telepon siaga (118).
Pada usia ini anak juga sudah dapat mengeja per-alfabet baru kemudian membacanya kedalam kata. Dari FGD yang dilakukan penulis dapat menarik kesimpulan anak usia 4-6 tahun lebih menyukai visual dengan warna-warna yang mencolok, menggunakan objek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan jalan cerita yang sederhana. Selain melakukan FGD penulis juga menyempatkan menyebarkan kuesioner singkat mengenai gaya visual yang lebih disukai oleh anak TK.
Gambar 3.27. Dokumentasi FGD anak-anak TK Tiara Veritas
104 3.1.6.2. Peserta Sosialisasi Penanggulangan Bencana
Penulis juga melakukan FGD dengan peserta sosialisasi bencana yang memiliki anggota keluarga yang masih berusia 6-10 tahun. FGD berlangsung di lokasi sosialisasi yang dilakukan oleh BPBD DKI Jakarta di RPTRA Kalijodo, Jalan Angke, Kec. Tambora, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Peserta FGD berjumlah 5 orang yang berdomisili di kelurahan dekat RPTA dengan ses ekonomi sesuai dengan target penulis yaitu ses B dan C. Dari hasil FGD yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa orang tua dan keluarga paham betul pentingnya untuk anak mengetahui apa yang harus dilakukan pada saat terjadi kebakaran, sejalan dengan yang telah disampaikan pada materi sosialisasi
Gambar 3.28. Dokumentasi Pengisian Kuesioner TK Tiara Veritas
Gambar 3.29. Dokumentasi FGD Peserta Sosialisasi.
105 pada peserta untuk memberitahu masing-masing anggota keluarga mengenai peran dan apa yang harus dilakukan sepulang sosialisasi, karena kemungkinan selamat dengan menyelamatkan diri sendiri lebih besar dibanding menunggu penyelamatan dari sekitar.
Penulis juga menanyakan mengenai kesulitan apa yang dihadapi ketika mengajarkan pada anak mengenai bencana, dan dapat penulis simpulkan bahwa para orang tua menjawab sulit mengajarkan dengan praktek dikarenakan tidak ada bahan atau peraga yang dapat digunakan untuk membantu membahas dengan anak padahal anak lebih tertarik jika melakukan praktek secara langsung daripada sekedar diberi tahu, binggung cara penyampaian yang tepat untuk anak, dan takut salah dalam menjelaskan materi mengenai kesiapsiagaan, karena porsi anak tentu berbeda dengan porsi kesiapsiagaan yang harus dilakukan oleh orang dewasa.
Dalam kesempatan ini penulis juga menanyakan mengenai media pembelajaran yang biasa digunakan dalam keluarga sesuai dengan tingkat perekonomiannya. Dimana pada FGD media pembelajaran yang biasa digunakan anak memang masih buku, namun hanya sebatas kepentingan sekolah, kebiasaan membaca buku memang sudah minim dikalangan keluarga anak tentu lebih tertarik untuk bermain gadget, namun anak-anak tersebut belum memiliki gadgetnya sendiri sehingga menggunakan milik orang tuanya. Ketika penulis menanyakan media apa yang menurut orang tua tepat untuk diberikan kepada anak terkait dengan edukasi
106 kesiapsiagaan jawaban orang tua didominasi dengan video dan buku dimana diharapkan buku dapat menarik anak dari penggunaan gadget pula.
3.2. Metodologi Perancangan Motion Graphic
Berdasarkan Freeman (2016), dalam perancangan motion graphic dibagi menjadi 3 tahap yaitu Preproduction, Production dan Post production (hlm. 47). Ketiga tahap tersebut penulis gunakan sebagai acuan yang dijabarkan sebagai berikut:
3.2.1. Preproduction
3.2.1.1. Research
Riset dilakukan dengan penyusunan daftar pertanyaan dan sumber yang berkaitan dengan topik serta menyusun ide berdasarkan hasil riset. Pada tahap ini penulis melakukan pengembangan ide dan menggumpulkan informasi berkaitan dengan fenomena, tujuan (objectives), target audience, dan pesan yang ingin disampaikan. Penulis melakukan riset dengan beberapa metode yaitu wawancara, kuesioner, focus group discussion, observasi dan studi eksisting. Proses riset juga penulis lakukan dengan membaca jurnal, berita, buku, majalah di internet maupun media cetak.
Pada tahap ini penulis hendaknya sudah dapat menjawab pertanyaan berdasarkan sumber-sumber yang valid.
Riset penulis awali dengan menjawab pertanyaan berkaitan dengan topik yang diangkat; meliputi Siapa target audience yang dituju?
Bagaimana perilaku target? Apa tujuan dari perancangan ini? Pesan apa yang ingin disampaikan? Apa kebiasaan target audience? Kenapa motion
107 graphic menjadi solusi perancangan? Media apa yang tepat bagi target audience? Apa yang ingin dicapai dari perancangan ini? Apa aksi yang diharapkan setelah audience menonton? Dengan membuat list pertanyaan maka proses riset yang penulis lakukan dapat lebih terstruktur (hlm. 48- 49).
3.2.1.2. Brainstorming
Proses brainstorming bertujuan untuk mendapatkan big idea atau konsep utama yang nantinya digunakan dalam perancangan motion graphic.
Tahap ini dapat dilakukan dengan metode “The Sketchbook” dimana penulis menggumpulkan semua ide dan sketsa berkaitan dengan perancangan, metode ini biasa dikenal dengan proses penyusunan moodboard. Setelah itu penulis melakukan metode “Individual Brainstorming” dimana pada proses ini penulis meletakkan satu kata kunci pada bagian tengah sketchbook dan melanjutkan kata tersebut tanpa adanya inhibition. Dari berbagai kata yang muncul kemudian penulis memilih beberapa kata yang dirasa menarik dan kemungkinan dapat menjadi kesatuan yang menarik pula (hlm. 50-51).
3.2.1.3. Screen Play
Screen Play atau biasa disebut dengan penyusunan script video. Screen play merupakan sebuah format yang terstuktur berisi penjabaran lengkap;
dialog karakter, penjelasan setting tempat, camera angles dan pergerakan kamera. Penyusunan script penulis lakukan dengan mengikuti format atau
108 ketentuan yang telah ditetapkan dapat pula dengan bantuan aplikasi dalam penulisan script (hlm. 52-53).
3.2.1.4. Storyboard
Storyboard merupakan sebuah sequence of drawing, yang mempresentasikan masing-masing shot dlaam video secara visual dengan urutan yang logis. Penulis menyusun storyboard pada selembar A4 berisi 4 panel tiap halamanya, dan dilengkapi dengan keterangan camera angles, pergerakan, dialog, dan sound effect pada setiap panelnya (hlm 54-56).
3.2.1.5. Animatic
Animatic merupakan langkah terakhir sebelum masuk kedalam proses produksi. Pada tahap ini penulis telah melakukan rekaman audio dan menyatukanya pada storyboard sehingga penulis dapat menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tiap shotnya (hlm. 56-57).
3.2.2. Production
3.2.2.1. Mengenali format dan media.
Dengan mengenali format maka penulis dapat menentukan metode apa yang dapat digunakan dalam projek ini. Penulis memilih penggunaan mobile baik dalam laptop, komputer, smart phones ataupun dengan tablet (hlm. 58-61).
3.2.2.2. Material dan metode
Untuk metode yang penulis gunakan adalah motion graphic dengan ditigal full animation. Asset perancangan akan di desain menggunakan Software
109 Adobe Illustrator dan dianimasikan menggunakan Software Adobe After Effect (hlm. 62-65).
3.2.2.3. Penyusunan jadwal
Dalam proses pengerjain motion graphic penulis menyusun rencana ataupun jadwal pengerjaan sehingga segala proses produksi dapat berjalan dan selesai sesuai dengan target yang telah ditentukan, hal ini berkaitan pula pada proses budgeting (hlm. 66-67).
3.2.3. Post Production
Pada tahap ini penulis melakukan proses pemberian visual effects editing, sound mixing, dan credits. Setelah itu rangkaian perancangan berakhir pada proses rendering project (hlm. 67).