10 BAB II
PEDOMAN TEORITIS
Bab dua akan berisi teori-teori sebagai pedoman dalam melakukan penelitian. Setiap konsep yang dipaparkan disesuaikan dengan kebutuhan penelitian dan batasan yang telah ditetapkan sebelumnya.
2.1 Struktur Industri
Michael E. Porter (1980), dalam buku yang berjudul Competitive Strategy: Techniques for Analyzing Industries and Competitors mengungkapkan untuk menciptakan sebuah strategi kompetitif, perusahaan perlu memperhatikan perusahaan-perusahaan lain yang juga berada di dalam lingkungan yang sama. Lingkungan industri dikenal dengan struktur industri. Struktur industri memberikan pengaruh yang kuat dalam menentukan aturan berkompetisi serta strategi potensial yang tersedia untuk perusahaan. Kunci keberhasilan bagi perusahaan di dalam perusahaan agar dapat bersaing dan bertahan adalah sepakat dengan lingkungan industri. Industri adalah perusahaan atau sekelompok perusahaan yang memproduksi atau menjual produk yang sama atau produk yang memiliki kemiripan di dalam pasar yang sama (Carpenter &
Sanders, 2009). Lima kekuatan yang disebut dengan five forces of industry structure ialah:
i. Persaingan antar perusahaan sejenis (Rivaly)
Persaingan perusahaan sejenis adalah intensitas persaingan antar
perusahaan yang terjadi di dalam industri perusahaan produksi
produk. Perusahaan-perusahaan bersaing dengan cara yang
beragam. Tujuannya adalah untuk mendapatkan keuntungan
terbanyak dibandingkan dengan perusahaan yang lain. Untuk dapat
11
bersaing dan mendapatkan keuntungan yang maksimal, perusahaan perlu memperhatikan tiga hal dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
a. Siapa saja yang menjadi pesaing?
b. Bagaimana cara perusahaan lain bersaing?
c. Dari sejumlah perusahaan yang ada, perusahaan mana yang benar-benar pesaing?
Tinggi rendahnya persaingan di dalam industri dipengaruhi oleh empat hal, yaitu:
a. Perang harga jual barang atau jasa.
Perang harga dengan intesitas tinggi dapat mengakibatkan harga rata-rata menurun dan keuntungan yang diperoleh perusahaan menurun.
b. Jumlah perusahaan yang bersaing di dalam industri
Pertambahan jumlah perusahaan dalam industri mengakibatkan jumlah pesaing dan perang harga semakin meningkat.
c. Anggapan industri yang strategis dan penting.
Industri dinilai masih mampu memberikan keuntungan yang lebih bagi perusahaan sehingga perusahaan enggan meninggalkannya.
d. Karakter produk dan prioritas.
Perusahaan yang mampu menciptakan produk yang sulit ditiru oleh pesaing akan menimbulkan tekanan kepada pesaing untuk menciptakan produk saingan, atau pesaing menciptakan produk tiruan namun bersaing dalam harga jual.
Perusahaan akan menghadapi kendala ketika tidak mampu
bersaing dengan perusahaan-perusahaan di industri. Kendala
tersebut berupa besarnya biaya untuk keluar dari industri. Selain
12
biaya masih ada kendala lain seperti tenaga kerja yang harus diberhentikan, peralatan perusahaan, dan lain sebagainya. Kendala yang muncul dikenal dengan exit barriers. Perusahaan dituntut untuk dapat bersaing dengan agresif sehingga mampu menjauh dari exit barriers.
ii. Ancaman pendatang baru
Perusahaan pendatang baru dapat menjadi ancaman bagi perusahaan yang sudah berada terlebih dahulu di dalam industri.
Dengan bertambahnya perusahaan baru yang masuk sebagai pesaing, maka tingkat persaingan akan semakin tinggi dan keuntungan yang diterima semakin berkurang bagi masing-masing perusahaan.
iii. Ancaman produk pengganti.
Ancaman dapat muncul dari perusahaan lain yang memproduksi produk berbeda namun dengan fungsi sama dari produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Salah satu faktor yang mengakibatkan terjadinya subtitusi produk adalah harga, oleh karena itu harga yang ditetapkan tidak jauh berbeda dari pesaing untuk mencegah konsumen berganti produk.
iv. Kekuatan tawar pemasok
Perusahaan produksi membutuhkan bahan baku dan bahan
lainya untuk memproduksi produk. Dalam melakukan transaksi
antara perusahaan dan pemasok, masing-masing memiliki kekuatan
atau daya tawar yang akan mempengaruhi harga transaksi dan
keuntungan yang akan diperoleh masing-masing.
13
Kekuatan tawar pemasok merupakan kemampuan perusahaan pemasok mendikte persyaratan dalam kontrak kerja sama dan melalui persyaratan pemasok mampu mendapatkan keuntungan yang seharusnya didapatkan oleh pesaing di industri pemasok (Carpenter dan Sanders, 2009).
Persyaratan yang mampu menambah kekuatan tawar pemasok terdiri dari faktor-faktor yang menurut Carpenter dan Sanders terdiri dari lima faktor utama dan tiga faktor tambahan. Lima faktor utama dan tiga faktor tambahan dapat meningkatkan kekuatan tawar pemasok bila mampu menguasai faktor-faktor tersebut.
Kelima faktor faktor yang mempengaruhi kekuatan tawar pemasok ialah sebagai berikut:
1. Harga jual bahan baku
Pemasok sebagai pengelola produk bahan baku yang dibutuhkan oleh perusahaan pembeli dapat menetapkan harga jual sendiri. Penetapan harga jual dipengaruhi oleh biaya operasi yang dikeluarkan dan keuntungan yang ingin didapatkan. Harga jual bahan baku yang tinggi menjadi faktor yang memberatkan bagi perusahaan pembeli bahan baku, namun menguntungkan pemasok. Umumnya, pembeli bahan baku akan mendapat keringanan ketika melakukan pembelian bahan baku dalam jumlah banyak sehingga mendapat potongan harga beli.
2. Syarat pembayaran
Faktor yang mempengaruhi kekuatan tawar pemasok salah
satunya adalah kemampuan pemasok mengatur pembayaran
bahan baku yang dibeli oleh pembeli. Syarat pembayaran
yang ditentukan pemasok seperti tunai atau kredit, dan bila
14
melakukan kredit pemasok dapat menentukan periode pembayaran.
3. Durasi waktu pengiriman
Pemasok dapat mengatur pengiriman bahan baku yang dibeli oleh pembeli. Pengiriman dapat disesuaikan dengan jadwal pengiriman rutin yang dikelola pemasok atau mengikuti permintaan pembeli. Jarak tempuh dan kondisi infrastruktur jalan menuju lokasi pembeli menentukan durasi waktu yang dibutuhkan oleh pemasok mengirim bahan baku, dan tidak jarang menjadi faktor yang menentukan biaya yang harus dikeluarkan oleh pembeli.
4. Pemesanan minimal
Pembeli tidak dapat menentukan sendiri berapa jumlah pesanan bahan baku, sehingga pembeli melakukan penyesuaian pembelian bahan baku dengan jumlah pesanan minimal yang ditentukan pemasok. Salah satu tujuan dilakukan minimal pesanan oleh pemasok untuk menyesuaikan dengan jumlah minimal pengiriman bahan baku menyesuaikan dengan alat transportasi yang digunakan juga biaya yang dikeluarkan.
5. Jasa setelah pembelian.
Tidak semua pembelian berjalan sesuai dengan keinginan
pembeli setelah bahan baku didapatkan. Beberapa pembeli
membutuhkan jasa tambahan dari pemasok untuk
melakukan penyesuaian dengan proses produksi perusahaan
pembeli. Pemasok dapat menambah biaya tambahan untuk
melakukan jasa setelah pembelian, dimana penambahan
biaya tersebut dapat menjadi beban biaya bagi pembeli.
15
Oleh karena itu, pembeli disarankan melakukan negosiasi saat melakukan kesepakatan pembelian.
Selain lima faktor diatas, kekuatan tawar pemasok dipengaruhi pula oleh tiga faktor lain, ketiga faktor tersebut ialah:
1. Mengendalikan bahan baku khusus (scarce input)
Pemasok akan semakin bertambah bila perusahaan mampu mengendalikan pula bahan baku khusus yang dibutuhkan perusahaan produksi untuk menciptakan produk dengan keunikan.
2. Pemasok yang terkonsentrasi.
Perusahaan pemasok yang terkonsentrasi dan memiliki kapasitas lebih besar dapat menambah kekuatan tawar perusahaan pemasok sehingga menyulitkan perusahaan pembeli.
3. Integrasi pemasok-pemasok.
Perusahaan pemasok dapat menjadi sebuah ancaman bagi perusahaan produksi apa bila perusahaan-perusahaan pemasok berintegrasi dan memutuskan untuk memproduksi barang jadi di hari yang akan datang
v. Kekuatan tawar pembeli
Kekuatan tawar pembeli adalah kemampuan konsumen
mengatur perusahaan dalam kesepakatan pembelian sehingga
mampu mengambil keuntungan yang ditujukan bagi perusahaan
penyedia produk. Kekuatan tawar pembeli dapat menjadi cerminan
dari kekuatan tawar pemasok. Hal tersebut dikarenakan kekuatan
16
tawar pembeli memberikan pengaruh kepada perusahaan dalam melakukan penentuan keputusan terkait produk yang akan dijual kepada pembeli.
Sama seperti kekuatan tawar pemasok, kekuatan tawar pembeli ditentukan oleh beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan tawar pemasok diantaranya adalah:
1. Pembeli memaksa perusahaan untuk menekan harga jual hingga harga yang diharapkan atau diinginkan konsumen.
2. Pembeli meminta kualitas jasa atau barang yang terbaik dari perusahaan. Kualitas produk yang diinginkan oleh pembeli berkaitan dengan kepuasan pembeli saat menggunakan produk tersebut. Namun, bila pembeli adalah perusahaan yang menggunakan produk untuk diproduksi ulang dan memberikan nilai tambah, maka pembeli mengiingkan kualitas terbaik untuk mempertahankan kualitas produk yang akan dihasilkan.
3. Perilaku pembeli yang membandingkan perusahaan yang satu dengan yang lain. Tujuan pembeli membandingkan antar perusahaan adalah untuk menentukan perusahaan mana yang dapat memberikan produk yang terbaik sesuai keinginan pembeli dan dengan harga yang sesuai daya beli pembeli.
4. Karakteristik pembeli yang berbeda-beda disetiap industri mempengaruhi perusahaan menentukan strategi penjualan produk.
5. Daya beli yang dimiliki pembeli berbeda-beda, sehingga
perusahaan tidak dapat menentukan harga jual produk
17
sesuai yang diinginkan. Perusahaan melakukan penyesuaian harga jual mengikuti daya beli pembeli.
6. Kekuatan tawar pembeli yang terbesar adalah ketika pembeli membandingkan perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan produk terbaik dan mendapatkan harga yang diinginkan.
Carpenter dan Sanders (2009) menambahkan satu kekuatan yang membentuk struktur industri. Kekuatan tersebut ialah complementor yang bekerja sama dengan perusahaan dalam industri untuk menciptakan nilai (value) ketimbang bersaing untuk berbagi pasar konsumen.
Complementor merupakan perusahaan di suatu industri yang berperan menyediakan barang atau jasa bagi perusahaan lain dan cenderung untuk membantu meningkatkan penjualan di dalam industri. Sebuah perusahaan akan disebut sebagai complementor bila memiliki dua ciri sebagai berikut:
i. Nilai (value) produk yang dimiliki perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan produk perusahaan lain yang dilayani oleh perusahaan compelementor yang sama.
ii. Perusahaan complementor lebih tertarik untuk menyediakan bahan baku kepada perusahaan dibandingkan meyediakan bahan baku kepada perusahaan lain.
Dalam proses penelitian, peneliti akan bertanya kepada pengelola Koperasi berkaitan dengan persaingan yang terjadi diantara Koperasi.
Selain itu, bagaimana Koperasi menghadapi daya tawar pemasok juga
ditanyakan oleh peneliti di dalam penelitian.
18 2.2 Rantai-nilai
Setiap perusahaan memiliki sumber daya, kemampuan, dan kemampuan khusus yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut akan memacu perusahaan untuk menciptakan produk dan jasa yang sulit untuk ditiru perusahaan lain. Perusahaan menciptakan produk dengan menggabungkan beragam aktivitas di dalam perusahaan. Ragam aktivitas tersebut diwujudkan dalam rantai-nilai (Carpenter & Sanders, 2009).
Perusahaan di industri yang sama melakukan aktivitas rantai-nilai dengan cara yang berbeda-beda, bergantung di arena mana perusahaan akan bersaing di suatu industri. Rantai-nilai terbagi menjadi dua bagian, rantai-nilai industri dan rantai-nilai perusahaan. penjelasan masing- masing rantai-nilai adalah sebagai berikut:
2.2.1 Rantai-nilai Industri
Rantai-nilai industri adalah kegiatan yang melibatkan perusahaan pemasok, perusahaan produksi dan pembeli di dalam industri yang sama. Carpenter dan Sanders (2009) menjelaskan bahwa ketiga perusahaan tersebut terlibat dalam kegiatan distribusi logistik. Kegiatan distribusi logistik terbagi menjadi dua bagian, pasokan fisik dan distribusi fisik (Ballou, 1999). Pasokan fisik melibatkan perusahaan pemasok dan perusahaan produksi.
Kegiatan logistik yang dilakukan adalah pengiriman bahan baku dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan untuk memproduksi barang jadi menuju perusahaan produksi. Selanjutnya, dari perusahaan produksi menuju perusahaan pembeli dengan melakukan aktivitas distribusi fisik barang jadi.
Melalui rantai-nilai industri, setiap perusahaan (pemasok-
perusahaan produksi-pembeli) dapat melihat kesempatan yang
19
biasa dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan. Selain itu, setiap perusahaan mampu memprediksi ancaman yang akan muncul di hari depan, atau bagaimana untuk menggunakan kemampuan yang dimiliki masing-masing perusahaan untuk memperoleh keuntungan.
2.2.2 Rantai-nilai Perusahaan
Rantai-nilai perusahaan merupakan seluruh proses pertambahan nilai dari kegiatan utama dan kegiatan pendukung dalam memproduksi, mendistribusi, dan memasarkan produk (Carpenter & Sanders, 2009). Rantai-nilai perusahaan menjadi perwujudan atas gabungan kegiatan-kegiatan perusahaan dalam rangka menciptakan barang atau menyediakan jasa bagi konsumen yang mereka layani. Dalam persaingan, rantai-nilai perusahaan memberikan kesempatan kepada perusahaan agar dapat mengarahkan capabilities atau kemampuan yang tepat dan sesuai untuk menghadapi persaingan dan tantangan dalam industi.
Rantai-nilai perusahaan tergambar pada gambar berikut:
Gambar 2.1 Porter’s Value Chain
Sumber: Carpenter & Sanders, Strategic Management: A Dinamic Perspective Concept and Ceses 2009)
20
Rantai-nilai perusahaan terbagi dalam dua kelompok, kegiatan utama dan kegiatan pendukung. Kegiatan utama terdiri dari inbound logistics, operation, outbond logistics, marketing &
sales, dan service. Kelompok kedua ialah kegiatan pendukung yang terdiri dari firm infrastructure, human resource management, technology development, dan procurement. Semua kegiatan yang ada pada kegiatan pendukung mendukung kegiatan utama dan membantu melihat apakah melalui kegiatan utama perusahaan dapat memperoleh keuntungan dan menyediakan manfaat (benefit).
Fungsi lain dari rantai-nilai perusahaan adalah untuk
mengintegrasikan pemasaran, penjualan, dan proses produksi
dengan proses produksi logistik. Proses logistik pada rantai-nilai
perusahaan dimulai dari proses inbound logistics. Inbound
logistics menjadi proses yang penting karena menjadi bagian
pertama dalam rantai-nilai yang memberikan kontribusi berupa
nilai tambah yang akan diperoleh konsumen dan membantu
perusahaan untuk mengefisienkan keuangan perusahaan. Dalam
kaitannya dengan penelitian di Koperasi, penelitian ini akan
berfokus pada inbound logistics dalam mengelola rantai pasok di
lapangan
21 2.2.2.1 Inbound Logistics
Inbound logistics menjadi penting karena menjadi bagian pertama dari rantai-nilai perusahaan yang dapat memberikan kontribusi nilai tambah yang akan dinikmati konsumen dan membantu perusahaan untuk melakukan efisiensi biaya (Coyle et. all, 2013). Inbound logistics mengatur penjadwalan seperti pengiriman bahan baku dari pemasok, melakukan koordinasi, dan perencanaan untuk memastikan bahwa bahan baku yang dibutuhkan oleh perusahaan datang tepat saat dibutuhkan. Pengembangan kegiatan inbound logistics diantaranya seperti penerimaan bahan baku, menyimpan, kemudian membagikan ke unit- unit perusahaan yang membutuhkan (Evans, 2013).
Tantangan bagi inbound logistics dalam memastikan ketersediaan bahan baku adalah lead time (jeda waktu), terutama pengiriman bahan baku dari pemasok kepada perusahaan yang membeli bahan baku, karena bila terjadi keterlambatan pengiriman bahan baku oleh pemasok dapat mengakibatkan perusahaan mengalami gangguan pada produksi.
2.3 Rantai Pasok
Rantai pasok merupakan usaha mengintegrasi antara internal perusahaan dan eksternal perusahaan yang berhubungan dengan logistik.
Maksud dilakukan rantai pasok adalah mendapatkan biaya operasional
yang rendah namun mendapatkan hasil yang maksimal terhadap
konsumen (Robeson & Copacino, 1994). Keterhubungan antara internal
dan eksternal perusahaan yang berkaitan dengan logistik dirancang,
dikembangkan, dan dipertahankan oleh seorang manajer logistik. Yang
22
dimaksudkan pihak internal adalah perusahaan sendiri, sedangkan pihak eksternal adalah vendor, gerai, dan konsumen. Rantai pasok membantu mengelola keterhubungan pihak perusahaan dan pihak luar dalam kaitannya dengan logistik.
Tujuan dari rantai pasok yang utama adalah mengintegrasikan alur distribusi dari pemasok bahan baku menuju pengguna akhir atau konsumen. Integrasi tersebut diharapkan dapat menjadi efisiensi bagi perusahaan. Efisiensi dalam biaya, jumlah barang, penyimpanan, dan lainya. Bukan perkara mudah untuk mencapai sebuah integrasi antara internal dan eksternal perusahaan. Integrasi yang baik atau maksimal dapat terjadi bila perintang yang menghalangi integrasi, misalnya jarak tempuh atau medan jalan yang dilalui, dapat diantisipasi. Perusahaan memerlukan strategi logistik yang tepat untuk mengatasi perintang yang muncul sehingga efisiensi dapat terwujud sesuai yang diharapkan.
2.3.1 Rantai Pasok untuk Produk Pertanian.
Susu segar merupakan salah satu produk pertanian yang diperoleh dari hasil pemerahan hewan, salah satunya ialah sapi perah. Susu sapi yang baru saja diproduksi mengandung komponen seperti protein, lemak, vitamin, mineral, laktoksa dan enzim-enzim yang bermanfaat bagi manusia yang mengkonsumsinya (Usmiati & Abubakar, 2009). Namun begitu, Usmiati dan Abubakar mengungkapkan bahwa susu sapi segar yang baru saja diproduksi mengandung bakteri yang dapat merusak kualitas susu sapi, bahkan tidak layak untuk dikonsumsi.
Kerusakan susu sapi segar yang diakibatkan oleh bakteri
diantaranya:
23
a) Terjadi pengasaman dan penggumpalan susu akibat proses fermentasi laktosa menjadi asam laktat menyebabkan pH turun dan penggumpalan kasein,
b) Susu sapi berlendir seperti tali yang diakibatkan pengentalan dan pembentukan lendir akibat pengeluaran cairan ekstraseluler,
c) Penggumpalan susu tanpa penurunan pH karena aktivitas bakteri.
Mutiarawati (2007) mengatakan bahwa produk pertanian seperti susu sapi segar membutuhkan penanganan khusus agar tidak mengalami kerusakan setelah proses produksi. Peternak tidak dapat menghentikan jumlah bakteri yang ada di dalam susu sapi yang mengakibatkan turunya kualitas susu sapi, akan tetapi peternak dan pihak terkait dapat menghambat jumlah bakteri agar tidak berkembang dan merusak kualitas susu sapi pasca produksi.
Tidakan untuk menghambat perkembangan bakteri dilakukan pasca produksi yang dimulai dari proses produksi sampai susu produksi dapat dikonsumsi atau dipersiapkan untuk pengolahan berikutnya.
Salah satu upaya menekan jumlah bakteri agar tidak
berkembang dan merusak kualitas susu sapi adalah melakukan
penanganan bahan baku (material handling) semenjak produksi
berlangsung. Penanganan bahan baku merupakan pengelolaan
pergerakan bahan baku mulai dari lokasi sumber bahan baku
menuju lokasi pengolahan selanjutnya (Maddex, 1977). Tujuan
dilakukan penanganan bahan baku salah satunya adalah untuk
menjaga kualitas produk pertanian agar tetap segar dan dapat di
produksi atau dikonsumsi. Penganganan bahan baku merupakan
24
bagian dari aktivitas rantai pasok, yang mengelola penghantaran bahan baku mulai dari pemasok hingga perusahaan pengolah bahan baku (Ballou, 1999). Melalui penanganan bahan baku, perusahaan pengolah bahan baku dapat memastikan bahwa bahan baku yang dibeli dari pemasok memiliki kualitas sesuai dengan harapan dan tetap dalam kondisi yang layak untuk diproduksi.
Dalam aktivitasnya, penanganan bahan baku dibantu oleh transpotasi untuk menjaga kualitas bahan baku sepanjang pasokan fisik. Pemaparan lebih lanjut mengenai penanganan bahan baku dan transportasi akan dibahas pada halaman selanjutnya.
2.3.2 Strategi Logistik
Membangun strategi logistik dimulai dengan membangun strategi bisnis sebuah perusahaan (Ballou, 1999). Tujuan strategi bisnis yang jelas yang diciptakan oleh perusahaan mempermudah untuk menetapkan langkah-langkah strategi logistik yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Strategi bisnis yang umumnya ditetapkan oleh perusahaan berkaitan dengan konsumen, pemasok, pesaing dan perusahaan sendiri. Logistik memastikan bahwa produk yang dibutuhkan konsumen akan selalu tersedia, memastikan bahwa penyediaan bahan baku akan selalu ada dari pemasok, memastikan bahwa perusahaan mampu bersaing dengan perusahaan lain, dan kemampuan perusahaan menciptakan pendekatan yang inovatif untuk menghasilkan keunggulan kompetitif.
Integrasi yang dilakukan oleh perusahaan dengan pihak lain
sering disebut dengan supply chain management (manajemen
rantai pasok). Manajemen rantai pasok terbagi ke dalam dua
25 Physical Supply
(Materials management)
bagian, yakni physical supply (pasokan fisik) dan physical distribution (distribusi fisik) (Ballou,1999). Pasokan fisik mengelola arus bahan baku dari pemasok menuju unit usaha, sedangkan distribusi fisik mengelola bahan baku yang telah mengalami perubahan bentuk dan mendapatkan nilai tambah menuju tempat penyimpanan atau ritel untuk dijual langsung kepada konsumen. Ballou (1999) menggambarkan kegiatan manajemen rantai pasok dengan lebih lengkap seperti pada gambar berikut:
Dalam penelitian ini, peneliti akan berfokus pada dua aktivitas yang termasuk dalam proses rantai-nilai, yakni penanganan bahan baku (material handling) dan penanganan
Business logistics (Rantai-nilai Industri)
Sources of supply
Plants/
operations Customer
Physical distribution
Transportation
Inventory maintenance
Order processing
Acquitition
Protective packaging
Warehousing
Material handling
Information maintenance
Transportation
Inventory maintenance
Order purchasing
Product scheduling
Protective packaging
Warehousing
Materials handling
Information maintenance
Gambar 2.2 Possible Activities in a Firm’s Immediate Supply Chain
Sumber: Ballou, Business Logistics Management (1999)
26
transportasi (transportation) yang terjadi sepanjang arus pasokan fisik bahan baku mulai dari peternak sapi hingga Koperasi
2.3.3 Penanganan Bahan Baku (material handling)
Penanganan bahan baku adalah pergerakan bahan baku, peralatan, dan kompenen-komponen yang dibutuhkan menuju area produksi (Johson & Wood, 1990). Tujuan dilakukan penanganan bahan baku sebagai tindakan untuk menjaga kualitas dari bahan baku selama proses distribusi fisik berlangsung (Schroeder, Goldstein, & Rungtusanatham, 2013).
Penanganan bahan baku menyita perhatian dalam proses distribusi fisik karena penanganan bahan baku yang tidak tepat akan menyebabkan bahan baku dan barang jadi mengalami hilang atau rusak selama proses distribusi fisik berlangsung. Manajer logistik harus memperhatikan proses bongkar muat, sortir bahan baku atau produk jadi, dan pemilihan produk. Penanganan bahan baku berkaitan erat dengan pengemasan produk yang memfasilitasi agar bahan baku dan produk tetap terjaga selama proses logistik. Penanganan dan pengemasan yang tidak tepat dapat mengakibatkan kerusakan dan hilangnya bahan baku atau barang jadi selama proses logistik (Swink et. all, 2014).
Smallholder Dairy Project (SDP) menyebutkan setidaknya ada enam hal yang dapat menyebabkan kerusakan susu sapi segar yang berujung pada kerugian. Keenam hal tersebut adalah:
1. Jarak tempuh yang jauh antara peternak sapi ke tujuan, sehingga menghabiskan waktu yang lama.
2. Jenis wadah penampung susu sapi yang digunakan.
3. Pembersihan wadah yang tidak baik.
27
4. Cara pengawetan yang tidak tepat 5. Kurangnya pelatihan
6. Kurangnya motivasi peternak karena keuntungan yang di dapat rendah.
Penanganan bahan baku bertanggung jawab atas kualitas bahan baku yang di bawa menuju perusahaan produksi.
Kaitannya dengan penelitian ini, susu sapi segar sebagai bahan baku dapat mengalami kerusakan kualitas. Penyebab rusaknya kualitas menurut SDP adalah:
a. Proses produksi yang tidak bersih
b. Penanganan yang buruk setelah memeras susu sapi
c. Perlakuan yang tidak semestinya (contoh: menambahkan air).
Ketiga tindakan yang tidak tepat di atas selain merusak kualitas susu sapi segar berakibat menurunya keuntungan yang akan diperoleh peternak. Selain itu, penanganan yang salah akan berdampak pada peningkatan bakteri pada susu sapi yang dapat membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi susu sapi. SDP juga memberikan cara untuk membantu menjaga kualitas susu sapi. Cara pertama gunakan selalu wadah yang berbahan logam dan bukan plastik, misalnya alumunium. Cara kedua, ketika akan memindahkan susu kewadah lain pindahkan dengan cara dituang dan tidak menggunakan alat bantu apa pun.
Cara terakhir sebelum menggunakan wadah yang sama, pastikan
wadah telah dicuci bersih menggunakan air hangat dan sabun
yang dianjurkan. Membersihkan wadah dapat menggunakan sikat
yang halus.
28
Dalam Milk Processing Guide Series vol. 1, perusahaan dapat menggunakan tangki besar yang disertai dengan pendingin di dalamnya atau menggunakan cans (tangki) yang dikaitkan pada kendaraan bermotor untuk mengangkut bahan baku berupa susu segar. Akan tetapi bagi pengguna cans harus memastikan kebersihan sehingga tidak merusak susu sapi yang akan dimasukan ke dalam cans. Pelitian ini, akan diteliti bagaimana Koperasi mengelola penanganan bahan baku dan pengemasan susu sugar selama proses pasokan fisik.
Mengingat dalam penelitian ini bahan baku berupa bahan baku segar, penanganan bahan baku sangat diperlukan untuk menjaga kualitas bahan baku berupa susu selama proses arus fisik. Salah satu kendala bahan baku segar adalah sifat bahan baku yang perishable (mudah rusak atau tidak tahan lama) (Widodo, Pramudya, & Abdullah, 2011). Selain menjaga kualitas bahan baku, penanganan bahan baku berfungsi untuk menjaga agar bahan baku tidak rusak atau hilang dan mengalami penurunan nilai selama pergerakan fisik berlangsung.
Penelitian ini akan berfokus pada penanganan susu sapi segar sebagai
bahan baku dari peternak menuju Koperasi. Kegiatan apa saja yang
dilakukan oleh Koperasi sepanjang proses penanganan bahan baku untuk
memastikan susu sapi tetap berkualitas baik, tidak rusak atau hilang, dan
sesuai yang diharapkan oleh pembeli akan diteliti dalam penelitian ini.
29 2.3.4 Transportasi
Transportasi adalah kegiatan memindahkan bahan baku atau barang lain yang dibutuhkan dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa memberikan perubahan karakter pada bahan baku (Swink et. all, 2014). Transportasi merupakan bagian dari fungsi logistik yang membawa bahan baku dan informasi masuk dan keluar perusahaan. Transportasi dapat diartikan juga sebagai perpindahan orang dan barang dari satu tempat menuju tempat tujuan yang dipengaruhi kondisi geografis yang berbeda-beda dan teknologi transportasi yang terus berkembang (Kamarwan, 1997).
Perkembangan sarana dan transportasi menguntungkan kondisi geografis disetiap area yang membutuhkan transportasi dalam proses usaha. Terdapat lima katagori alat transportasi yang dapat digunakan oleh perusahaan (Swink et. all, 2014). Kelima katagori alat transportasi tersebut diantaranya: kereta,truk/kendaraan pengangkut jalur darat, kapal, pesawat, dan pipeline.
Transportasi juga dikelompokan dengan memperhatikan medium (tempat berjalan) dan kesamaan sifat fisik disebut moda.
Moda terbagi menjadi tiga bedasarkan medium terdiri dari moda darat, moda air, dan moda udara. Dalam penelitian ini akan membahas khusus moda darat. Hal tersebut karena Koperasi yang mengelola transportasi susu sapi dari peternak menuju koperasi menggunakan moda darat.
Memilih model alat transportasi ditentukan dengan
melakukan identifikasi kebutuhan perusahaan. Kesalahan dalam
melakukan identifikasi kebutuhan perusahaan dapat
mengakibatkan peningkatan biaya operasional yang dibebankan
pada harga jual produk dan membebankan pembeli (Gatorna,
30
1990). Agar perusahaan dapat mengetahui kebutuhan untuk menentukan jenis transportasi yang akan digunakan, perusahaan perlu mempertimbangkan beberapa hal. Pertimbangan tersebut akan berdampak kepada efisiensi biaya perusahaan. Hal-hal yang perlu dipertimbangakan adalah sebagai berikut:
o Sifat produk
o Banyaknya pesanan
o Jasa yang dapat memuaskan konsumen o Alternatif model transportasi yang tersedia.
2.3.4.1 Moda Darat
Kementrian Perhubungan Indonesia di dalam situs resmi (http://hubdat.dephub.go.id) mengungkapkan bahwa moda darat atau transportasi darat sebagai:
”Tulang punggung penyelenggaraan transportasi nasional yang bertumpu pada transportasi laut dan udara, sedangkan peranan pokok transportasi darat adalah sebagai pengumpan (feeder) Lingkup Regional.”
Lebih lanjut Kementrian Perhubungan
mengungkapkan bahwa transportasi darat memiliki
potensi besar dalam mempersatukan seluruh sistem
transportasi dan sebagai pengumpan (feeder) terhadap
sistem transportasi nasional untuk angkutan barang.
31
Kamarwan (1997) membagi transportasi darat menjadi empat bedasarkan medium, yaitu
a. Transportasi jalan raya b. Transportasi rel
c. Transportasi pipa d. Transportasi gantung
Selanjutnya penelitian ini akan membahas transportasi jalan raya mengingat Koperasi pengelola susu sapi menggunakan transportasi dalam melakukan pengambilan dan pengiriman susu. Direktur Jendral Perhubungan, Suroyo Alimoeso mengatakan peranan transportasi darat dalam bidang ekonomi adalah sebagai (i) infrastruktur untuk mobilitas atau mendistribusikan orang atau barang, (ii) sebagai infrastruktur yang mendorong pertumbuhan ekonomi regional (ship promotes the trade), dan (iii) sebagai infrastruktur yang mendukung perdagangan dan sektor ekonomi lainnya (ship follow the trade). Ketiga peranan tersebut memberikan dampak terhadap perekonomian indonesia, lebih tepatnya kelancaran distribusi logistik.
Dalam pengembangan pembangunan transportasi darat
mengalami tantangan dan masalah yang menghambat
kelancaran proses transportasi darat. Tantangan dan
hambatan tersebut dipaparkan dalam tabel berikut ini:
32
Tantangan Permasalahan
Sumber daya manusia
Menuntut kualitas profesionalisme tinggi
Bidang angkutan jalan
Pertumbuhan kendaraan bermotor cukup tinggi (khusus sepeda motor sekitar 21% per tahun)
Menurunnya kualitas dan keberlanjutan pelayanan infrastruktur transportasi darat.
Muatan lebih memerlukan penanganan intensif
Kerusakan infrastruktur karena overloading dan faktor lain.
Teknologi dan peralatan
Menuntut teknologi dan peralatan yang diterapkan selalu mengaplikasi perkembangan terkini
Sistem dan prosedur
Sisdur transportasi mengacu standar internasional
Bidang angkutan sungai, danau, dan penyebrangan.
Keterbatasan infrastruktur
Persaingan antar moda lain, tarif rendah, dan pemasaran yang tidak efektif
Kehandalan armada
Sumber daya manusia.
Finansial
Keselamatan dan lingkungan menjadi tujuan utama dan keuangan akan diperoleh dengan meningkatkan keselamatan dan baiknya kualitas lingkungan.
Tabel 2.1 : Tantangan dan Persoalan dalam Transportasi Darat Sumber : http://hubdat.dephub.go.id