• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS SITUASIONAL

Keadaan Umum Kawasan Sentra Produksi di Propinsi Jambi

KSP komoditas pertanian di Propinsi Jambi dibagi dalam tiga wilayah pengembangan, yaitu Wilayah Timur, Wilayah Tengah, dan Wilayah Barat (Bap- peda, 2000

b

). Pembagian wilayah pengembangan tersebut didasarkan pada karak- teristik agroekologi wilayah. Kawasan pengembangan Wilayah Timur didominasi oleh karakteristik agroekologi pesisir dan lahan basah. Kawasan pengembangan Wilayah Tengah merupakan daerah dataran rendah yang didominasi oleh karak- teristik agroekologi daerah aliran sungai (DAS) Batanghari. Kawasan pengem- bangan Wilayah Barat merupakan daerah dataran tinggi. Wilayah ini merupakan daerah perbukitan dan pegunungan dengan karakteristik agroekologi lahan kering (Bappeda, 2000

b

).

Masing-masing wilayah pengembangan terdiri dari dua KSP Makro. Wilayah Timur

terdiri dari KSP Makro A dan KSP Makro B. Wilayah Tengah terdiri dari KSP

Makro C dan KSP Makro D. Wilayah Barat terdiri dari KSP Makro E dan KSP

Makro F (Bappeda, 2000

b

). Secara konseptual, KSP Makro menggambarkan

suatu kesatuan fungsional kawasan yang merupakan batas pasar yang secara

ekonomis dapat dijangkau oleh komoditas pertanian yang dihasilkan oleh sentra-

sentra produksi (KSP Mikro) yang terdapat di kawasan tersebut (Tim Pembina

Pusat P-KSP, 1999

b

). Hal ini berarti batas wilayah KSP Makro meng-gambarkan

aksesibilitas kawasan. Semakin baik aksesibilitas suatu kawasan, maka akan

semakin jauh jangkauan wilayah pemasaran komoditas pertanian yang dihasilkan

oleh kawasan tersebut. Hal ini digambarkan dengan semakin luasnya wilayah

KSP Makro. Gambar 14 dan Tabel 14 menyajikan pembagian wilayah

pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi.

(2)

Gambar 14. Peta pembagian wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi

Tabel 14. Pembagian wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi

Wilayah

Pengembangan KSP

Makro Cakupan

Wilayah Pusat

Pemasaran*) Orientasi Pasar Eksternal*) Wilayah Timur A Kab. Tanjab Barat Kuala Tungkal - Jakarta

- Pekanbaru - Singapura B Kab. Tanjab Timur Muara Sabak - Jakarta

- Singapura Wilayah Tengah C - Kota Jambi

- Kab. Batanghari - Kab. Ma. Jambi

Pasar Jambi - Padang - Palembang - Pekanbaru - Jakarta - Singapura D - Kab. Bungo

- Kab. Tebo Muara Bungo - Padang - Palembang - Jakarta Wilayah Barat E - Kab. Merangin

- Kab. Sarolangun Bangko - Padang - Palembang - Jakarta F Kab. Kerinci Sungai Penuh - Padang

- Jakarta

Sumber : Bappeda, 2000

b

.

*

)

Hasil analisis

(3)

Karakteristik Agroekologi Wilayah Pengembangan KSP

Karakterisasi agroekologi wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi dilakukan berdasarkan parameter topografi, ketinggian tempat, jenis tanah dan iklim dari masing-masing wilayah pengembangan.

Topografi Masing-masing wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi memiliki dominasi topografi yang khas. Wilayah Timur merupakan daerah dataran rendah yang landai. Wilayah Tengah merupakan daerah perbukitan dengan kelas kemi-ringan lahan dari landai sampai agak curam. Wilayah Barat merupakan daerah perbukitan dan pergunungan dengan kelas kemiringan lahan dari agak curam sampai sangat curam (Gambar 15). Luas dan proporsi tingkat kemiringan lahan masing-masing wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi disajikan pada Tabel 15.

Gambar 15. Topografi wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi

(4)

Tabel 15. Luas dan proporsi kemiringan lahan wilayah pengembangan KSP

Wilayah Pengembangan KSP

Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat

Tingkat Kemiringan

Lahan

Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Landai (0-2%) 1.052.700 96,2 928.703 42,7 122.962 6,8 Agak Curam (2-15%) 20.000 1,8 811.192 37,3 558.191 30,8 Curam (15-40%) 12.000 1,1 294.203 13,5 431.369 3,8 Sangat Curam (>40%) 10.150 0,9 141.075 6,5 701.409 38,6 Luas Wilayah 1.094.850 100,0 2.175.173 100,0 1.813.931 100,0

Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 3.

Ketinggian Tempat

Ketinggian tempat masing-masing wilayah pengembangan KSP di Pro-pinsi Jambi memiliki karakteristik yang khas. Wilayah Timur merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai 10 m di atas permukaan laut (dpl). Wilayah Tengah didominasi oleh daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 10 sampai 100 m dpl. Sedangkan Wilayah Barat merupakan daerah dataran tinggi (Gambar 16). Lebih dari 50% Wilayah Barat berada di ketinggian di atas 500 m dpl (Tabel 16).

Gambar 16. Ketinggian tempat wilayah pengembangan KSP

(5)

Tabel 16. Ketinggian tempat wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi

Wilayah Pengembangan KSP

Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat

Ketinggian

Tempat

Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) %

0 - 10 m dpl 1.052.700 96,2 182.170 8,4 0 0,0 10 - 100 m dpl 20.000 1,8 1.448.179 66,6 644.657 35,5 100 - 500 m dpl 22.150 2,0 452.465 20,8 169.804 9,4 500 – 1.000 m dpl 0 0,0 67.859 3,1 475.664 26,2 > 1.000 m dpl 0 0,0 24.500 1,1 523.806 28,9 Luas Wilayah 1.094.850 100,0 2.175.173 100,0 1.813.931 100,0

Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 3.

Jenis Tanah

Sebagian besar tanah di wilayah pengembangan KSP Propinsi Jambi ter-golong jenis podsolik merah kuning (PMK). Jenis ini tersebar di seluruh wilayah, terutama di Wilayah Tengah, lebih dari 64% kawasan ini memiliki jenis tanah PMK. Jenis tanah ini memiliki tekstur liat, sehingga relatif kurang subur diban-dingkan dengan jenis tanah lainnya. Adapun jenis tanah yang relatif lebih subur terdapat di Wilayah Barat. Tabel 17 menyajikan luas dan proporsi jenis tanah pada masing-masing wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi.

Tabel 17. Jenis tanah pada wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi

Wilayah Pengembangan KSP

Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat

Jenis Tanah

Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % PMK 362.170 33,1 1.398.162 64,3 468.890 25,9 Organosol 311.618 28,5 1.300 0,1 251.202 13,9 Aluvial 146.600 13,4 148.275 6,8 348.252 19,2 Andosol 0 0,0 15.600 0,7 428.835 23,6

Latosol 0 0,0 416.698 19,2 297.246 16,4

Lainnya 274.462 25,0 195.138 8,9 19.506 1,0 Luas Wilayah 1.094.850 100,0 2.175.173 100,0 1.813.931 100,0

Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 4.

Iklim

Secara umum hampir seluruh wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi beriklim

tipe A. Hanya sebagian kecil wilayah, yaitu Kecamatan Tebo Tengah dan Sumay

di Wilayah Tengah serta Kecamatan Sitinjau Laut di Wilayah Barat merupakan

(6)

kawasan beriklim tipe B (Gambar 17). Tabel 18 menyajikan luas dan proporsi tipe iklim pada ketiga wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi.

Gambar 17. Penyebaran iklim di wilayah pengembangan KSP

Tabel 18. Tipe iklim pada wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi

Wilayah Pengembangan KSP

Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat

Tipe Iklim

Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Tipe A 1.094.850 100,0 1.939.373 89,2 1.807.006 99,6

Tipe B 0 0,0 235.800 10,8 6.925 0,4

Luas Wilayah 1.094.850 100,0 2.175.173 100,0 1.813.931 100,0

Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 3.

Zona Agroekologi

Zona agroekologi dirakit berdasarkan pada kondisi agroekologi wilayah dengan menggunakan parameter topografi, ketinggian tempat, dan iklim suatu kawasan.

Zona I sampai IV menggambarkan topografi kawasan. Zona I untuk kawasan

dengan kelas kemiringan lahan sangat curam (lebih dari 40%); zona II untuk

kawasan dengan kelas kemiringan lahan curam (15 - 40%); zona III untuk

kawasan dengan kelas kemiringan lahan agak curam (2 - 15%) dan zona IV untuk

kawasan yang landai dengan kemiringan lahan 0 - 2%. Sedangkan sub-zona a dan

b menggambarkan ketinggian tempat kawasan. Sub-zona a untuk kawasan yang

(7)

berada pada ketinggian di bawah 700 m dpl. Sebaliknya sub-zona b untuk kawasan yang berada pada ketinggian di atas 700 m dpl. Adapun sub-zona x dan y menggambarkan iklim kawasan. Sub-zona x untuk kawasan yang tidak memi- liki bulan kering. Sedangkan sub-zona y untuk kawasan yang memiliki bulan kering 3 sampai 6 bulan per tahun (Busyra, dkk, 2000). Tabel 19 menyajikan proporsi zona agroekologi pada ketiga wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi.

Zona I mendominasi Wilayah Barat (38,6%), hanya sebagian kecil berada di Wilayah Tengah (6,5%) dan kurang dari 1% di Wilayah Timur. Zona I berupa perbukitan dan pegunungan dengan lereng dominan lebih dari 40%. Karena memiliki lereng yang curam, zona ini tidak diperuntukan sebagai kawasan budi-daya melainkan sebagai kawasan lindung.

Zona II tersebar di Wilayah Barat (24,1%) dan Wilayah Tengah (22,0%), hanya sebagian kecil (1,1%) di Wilayah Timur. Zona ini merupakan daerah perbukitan dengan lereng dominan 16 sampai 40%. Menurut Busyra, dkk. (2000), zona ini mempunyai tingkat kesuburan tanah yang rendah serta hanya sesuai untuk budidaya tanaman tahunan (perkebunan dan buah-buahan).

Tabel 19. Zonasi agroekologi wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi

Wilayah Pengembangan KSP

Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat

Zona Agroekologi

Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Zona Iax 10.150 0,9 120.775 5,6 303.348 16,7

Zona Ibx 0 0,0 0 0,0 396.635 21,9

Zona Iby 0 0,0 20.300 0,9 0 0,0

Zona Iiax 12.000 1,1 236.713 10,9 279.996 15,4

Zona Iibx 0 0,0 0 0,0 157.789 8,7

Zona Iiby 0 0,0 23.090 11,1 0 0,0

Zona IIIax 20.000 1,8 350.692 16,1 479.274 26,4

Zona IIIay 0 0,0 341.300 15,7 0 0,0

Zona IIIbx 0 0,0 0 0,0 56.100 3,1

Zona Ivax 1.052.700 96,2 1.071.103 49,2 117.794 6,5

Zona Ivay 0 0,0 11.200 0,5 0 0,0

Zona Ivbx 0 0,0 0 0,0 17.185 1,0

Luas Wilayah 1.094.850 100,0 2.175.173 100,0 1.813.931 100,0

Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 5.

Zona III mendominasi Wilayah Barat (29,5%) dan Wilayah Tengah (31,8%), hanya

sebagian kecil (1,8%) di Wilayah Timur. Zona ini berupa daerah perbukitan dan

dataran dengan kemiringan lahan 8 - 15%. Zona ini mempunyai tingkat

(8)

kesuburan tanah yang rendah dan hanya sesuai untuk budidaya tanaman tahunan (perkebunan dan buah-buahan) serta palawija.

Zona IV mendominasi Wilayah Timur (96,2%), hampir separuh (49,7%) Wilayah Tengah dan hanya sebagian kecil (7,5%) di Wilayah Barat. Zona ini berupa daerah dataran dengan lereng dominan kurang dari 8%. Zona ini merupa-kan kawasan budidaya pertanian, baik untuk pertanian lahan kering maupun pertanian lahan basah.

Wilayah Pengembangan Komoditas Pertanian Unggulan

Pewilayahan komoditas pertanian unggulan pada kawasan sentra produksi di Propinsi Jambi dilakukan secara berjenjang berdasarkan pada kondisi yang telah ada (existed) dan perkembangannya selama lima tahun (1998-2002). Pewi- layahan dimulai dengan penentuan komoditas pertanian potensial pada masing- masing wilayah pengembangan, dilanjutkan dengan penentuan komoditas per- tanian unggulan, dan diakhiri dengan penentuan sentra produksi (KSP Mikro) untuk pengembangan komoditas pertanian unggulan.

Wilayah Pengembangan Komoditas Pertanian Potensial

Penentuan komoditas pertanian potensial pada masing-masing wilayah pe- ngembangan didasarkan pada kesesuaian persyaratan tumbuh suatu komoditas de- ngan kondisi agroekologis wilayah (Samijan, dkk, 1999). Dari hasil pemadanan komoditas dengan kondisi wilayah (Lampiran 6), diketahui bahwa jenis tanaman padi dan palawija sesuai untuk dikembangkan pada semua wilayah pengembang- an KSP di Propinsi Jambi (Tabel 20). Demikian pula halnya dengan tanaman hor- tikultura buah-buahan sesuai untuk dikembangkan pada semua wilayah pengem- bangan, kecuali untuk tanaman mangga dan nenas hanya sesuai di Wilayah Tengah. Sedangkan jenis tanaman hortikultura sayuran hanya sesuai di Wilayah Barat dan di sebagian kecil Wilayah Tengah.

Untuk komoditas perkebunan, hampir semua jenis tanaman perkebunan sesuai untuk dikembangkan di Wilayah Barat. Sedangkan pada Wilayah Timur hanya sesuai untuk pengembangan tanaman kelapa, kelapa sawit, kopi, kakao dan karet.

Rincian jenis komoditas pertanian yang sesuai untuk dikembangkan pada masing-

(9)

masing wilayah pengembangan kawasan sentra produksi di Propinsi Jambi dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Kesesuaian agroekologi wilayah pengembangan komoditas pertanian

Jenis Komoditas dan Wilayah Pengembangan

Komoditas Pertanian

Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat A. Padi dan

Palawija - Padi - Jagung - Ubi Jalar - Ubi Kayu - Kacang Tanah - Kacang Kedelai

- Padi - Jagung - Ubi Jalar - Ubi Kayu - Kacang Tanah - Kacang Kedelai

- Padi - Jagung - Ubi Jalar - Ubi Kayu - Kacang Tanah - Kacang Kedelai B. Hortikultura

Sayuran - Bawang Merah

- Bawang Daun - Bawang Merah - Bawang Daun - Kentang - Kubis - Petsai - Wortel C. Hortikultura

Buah-Buahan - Alpokat - Duku - Durian - Jambu - Jeruk - Pepaya - Pisang - Rambutan - Salak - Sawo

- Alpokat - Duku - Durian - Jambu - Jeruk - Mangga - Nenas - Pepaya - Pisang - Rambutan - Salak - Sawo

- Alpokat - Duku - Durian - Jambu - Jeruk - Pepaya - Pisang - Rambutan - Salak - Sawo

D. Perkebunan - Kelapa - Kelapa Sawit - Kopi

- Kakao - Karet

- Kelapa - Kelapa Sawit - Kopi

- Kakao - Karet - Kayu Manis

- Kelapa - Kelapa Sawit - Kopi

- Kakao - Karet - Kayu Manis - Kemiri - Kapulaga - Lada - Teh - Vanili

Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 6.

Berdasarkan pada kondisi yang telah ada dan perkembangannya selama lima

tahun (1998-2002) diketahui hanya tanaman perkebunan yang potensial untuk

dikembangkan di seluruh wilayah pengembangan KSP yang ada di Pro-pinsi

(10)

Jambi (Lampiran 7). Jenis tanaman perkebunan potensial tersebut beserta wilayah pengembangan dan tingkat produktivitasnya selama lima tahun (1998-2002) disajikan pada Tabel 21.

Tabel 21. Jenis tanaman potensial, wilayah pengembangan dan produktivitas pada tahun 1998-2002

Produktivitas (kwintal/ha)

Wilayah

Pengembang an

MakrKSP o

Kabupate n

Komoditas Pertania

n

1998 1998 2000 2001 2002 Wilayah

Timur A Tanjab

Barat Karet 6,84 6,84 8,24 8,21 8,34 Kelapa 14,6

9 14,7 1 14,5

5 14,2 3 14,2

3 K. Sawit 27,4

9 23,2 2 36,2

0 29,3 0 27,9

2 B Tanjab

Timur Karet 6,84 6,84 6,88 9,50 8,69 Kelapa 14,6

9 14,7 1 14,9

1 14,8 7 14,8

7 K. Sawit 27,4

9 23,2 2 25,3

3 19,4 2 19,4

3 Wilayah

Tengah C Batanghari

Karet 6,85 8,84 8,41 7,28 7,28 Kelapa 10,1

2 9,96 10,0

7 9,95 9,95 K. Sawit 19,8

7 25,8 2 28,4

5 30,8 9 31,1

6 Muaro

Jambi Karet 6,85 8,84 7,99 6,71 6,74 Kelapa 10,1

2 9,96 9,76 9,80 9,80 K.

Sawit 19,8 7 25,8

2 31,7 8 32,9

1 32,7 4 Kopi 5,64 5,55 5,97 6,11 6,25 Kapulag

a 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 Lada 7,65 7,65 7,65 7,65 7,65 D Bungo Karet 7,50 6,92 6,56 6,90 6,94

K.

Sawit 19,5 7 23,2

6 29,8 0 31,2

7 31,9 6 Tebo Karet 7,50 6,92 7,32 7,92 7,54

K Sawit 19,5 7 23,2

6 21,4 9 21,6

2 18,5 0 Wilayah

Barat E Merangin

Karet 7,18 7,18 6,80 6,81 6,88

Ky. 7,86 7,68 9,18 9,28 9,28

(11)

Manis

Kelapa 4,87 4,86 5,44 5,38 5,38 K.

Sawit 23,1 7 23,2

8 29,4 7 32,9

8 36,3 3 Sarolangun Karet 7,18 7,18 7,55 7,58 7,54

K Sawit 23,1 7 23,2

8 31,9 0 30,7

2 25,7 1 Kemiri 6,07 6,43 7,50 8,50 7,50 F Kerinci Karet 5,78 5,75 6,22 6,09 6,26

Ky.

Manis 16,3 3 20,2

4 19,9 0 24,3

4 22,9 2

Teh 20,9

3 21,2 9 21,2

9 24,5 5 20,9

0 Vanili 37,9

3 11,7

2 8,57 2,50 3,45 Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 7

Penentuan Komoditas Pertanian Unggulan

Komoditas pertanian unggulan pada masing-masing KSP Makro ditentu-kan berdasarkan pada daya saing dari komoditas pertanian yang menjadi basis ekonomi di wilayah pengembangan KSP Makro. Daya saing komoditas unggulan ditentukan berdasarkan hasil analisis ekonomi dengan menggunakan indikator biaya sumberdaya domestik (Domestic Resources Cost atau DRC) dan hasil anali- sis finansial dengan menggunakan indikator rasio manfaat/biaya (Benefit Cost Ratio atau B/C Ratio). Suatu komoditas memiliki keunggulan komparatif, jika nilai DRC lebih kecil dari satu (DRC < 1) dan memiliki keunggulan kompetitif jika nilai rasio B/C lebih besar dari satu (B/C > 1) (Budiharsono, 2001; Tarigan, 2004; Pearson, et al., 2004).

Penentuan komoditas pertanian yang menjadi basis ekonomi mengguna-

kan model basis ekonomi (economic base model) dengan parameter indeks LQ

(Location Quotien) pendapatan dan tenaga kerja. Indeks LQ menyatakan perban-

dingan pangsa relatif pendapatan atau tenaga kerja suatu sektor pada suatu wila-

yah dibandingkan dengan pangsa relatif pada wilayah yang lebih luas (Budihar-

sono, 2001; Tarigan, 2004). Dalam hal ini, perbandingan pangsa relatif pendapat-

an atau tenaga kerja pada wilayah KSP Makro dibandingkan dengan pangsa relatif

(12)

propinsi. Suatu komoditas pertanian dapat menjadi basis ekonomi pada suatu wilayah jika nilai LQ pendapatan atau tenaga kerja komoditas tersebut lebih besar dari satu (LQ > 1).

Dari hasil analisis basis ekonomi (Lampiran 8) diketahui tidak semua komoditas pertanian potensial merupakan basis ekonomi bagi wilayah pengem- bangannya. Dari 10 komoditas pertanian potensial (Tabel 21) hanya 4 komoditas yang merupakan basis ekonomi bagi wilayah pengembangannya, yaitu karet, kela- pa, kelapa sawit, dan kayu manis. Sedangkan keenam komoditas lainnya (kopi, kapulaga, kemiri, lada, teh, dan vanili) walaupun potensial, tetapi bukan meru- pakan basis ekonomi bagi wilayah pengembangannya. Indeks LQ keempat jenis komoditas yang menjadi basis ekonomi tersebut beserta wilayah pengembangan- nya dapat dilihat pada Tabel 22 dan 23.

Tabel 22. Indeks LQ pendapatan komoditas pertanian yang menjadi basis ekonomi dan wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi

Indeks LQ Pendapatan

Wilayah KSP

Makro Kabupaten Komoditas

Pertanian

1998 1999 2000 2001 2002 Timur A Tanjab Barat Kelapa 25,97 23,87 23,85 22,24 20,81

Sawit 10,06 11,32 15,15 15,43 13,91 B Tanjab

Timur Kelapa 19,08 18,26 16,49 16,19 15,74 Tengah C Batanghari Karet 37,26 42,31 48,93 45,54 40,46 Sawit 14,50 16,68 33,64 35,07 31,17 Muaro Sawit 17,45 21,60 34,00 41,85 40,20 D Bungo Karet 37,55 39,16 36,97 37,59 37,19 Tebo Karet 88,40 90,46 94,50 90,64 80,69 Barat E Merangin Karet 39,74 44,37 46,23 41,80 41,94 Sawit 17,19 15,93 34,55 22,97 24,80 Kayu

Manis 61,69 66,59 49,03 41,73 40,82 Sarolangun Karet 54,52 61,77 60,09 57,35 59,69 F Kerinci Kayu

Manis 558,3 5 684,4

8 513,8 9 532,1

8 490,5 2 Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 8, Bagian a.

Tabel 23. Indeks LQ tenaga kerja komoditas pertanian yang menjadi basis ekonomi dan wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi

Indeks LQ Tenaga Kerja

Wilayah

Makro KSP Kabupaten/

Kota Komoditas

Pertanian

1998 1999 2000 2001 2002

Timur A Tanjab Barat Kelapa 3,08 3,54 3,76 2,79 3,22

Sawit 1,80 1,95 1,65 1,60 1,75

B Tanjab Kelapa 2,98 2,98 3,13 3,22 3,48

(13)

Timur

Tengah C Batanghari Karet 2,00 2,13 1,94 2,01 2,06 Sawit 2,08 2,25 2,24 1,74 2,11 Muaro Sawit 2,53 2,74 2,83 2,23 2,34 D Bungo Karet 1,77 1,64 1,56 1,77 1,81 Tebo Karet 2,15 2,00 1,99 2,04 2,23 Barat E Merangin Karet 2,01 1,74 1,95 1,90 1,96 Sawit 2,66 2,43 2,25 2,19 1,57 Kayu

Manis 1,81 1,65 1,75 1,71 1,73 Sarolangun Karet 2,36 2,05 2,56 2,38 1,90 F Kerinci Kayu

Manis 4,56 4,81 4,88 4,91 4,99 Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 8, Bagian b.

Dari hasil analisis daya saing dengan menggunakan matriks analisis kebi- jakan (Policy Analysis Matrix atau PAM) (Tabel 24) diketahui keempat jenis ko- moditas pertanian yang menjadi basis ekonomi bagi wilayah pengembangannya (Tabel 22 dan 23) merupakan komoditas yang memiliki keunggulan komparatif (DRC < 1) dan kompetitif (Rasio B/C > 1), sehingga keempat jenis komoditas pertanian tersebut dapat dijadikan sebagai komoditas pertanian unggulan wilayah.

Tabel 24. Hasil analisis daya saing komoditas pertanian unggulan dan wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi

Wilayah KSP

Makro Kabupaten Komoditas Pertanian

DR

C B/

C Keunggulan Timur A Tanjab Barat

Kelapa 0,1 3 1,5

7 Komparatif dan Kompetitif K. Sawit 0,4

2 1,3

0 Komparatif dan Kompetitif B Tanjab

Timur Kelapa 0,1 3 1,5

7 Komparatif dan Kompetitif Tengah C Batanghari

Karet 0,4 0 1,7

4 Komparatif dan Kompetitif K. Sawit 0,4

2 1,3

0 Komparatif dan Kompetitif Muaro

Jambi K. Sawit 0,4 2 1,3

0 Komparatif dan Kompetitif D Bungo

Karet 0,4 0 1,7

4 Komparatif dan Kompetitif Tebo

Karet 0,4 0 1,7

4 Komparatif dan Kompetitif Barat E Merangin

Karet 0,4 0 1,7

4 Komparatif dan

Kompetitif

K. Sawit 0,4 1,3 Komparatif dan

(14)

2 0 Kompetitif Ky. Manis 0,2

4 1,8

0 Komparatif dan Kompetitif Sarolangun

Karet 0,4 0 1,7

4 Komparatif dan Kompetitif

F Kerinci Ky

Manis 0,2 4 1,8

0 Komparatif dan Kompetitif Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 9.

Kawasan Sentra Pengembangan Komoditas Pertanian Unggulan

Pengembangan komoditas pertanian unggulan dilakukan dalam suatu KSP Mikro. Secara konsepsional, KSP Mikro merupakan suatu kesatuan spasial ka- wasan yang memiliki kondisi agroekologi yang memungkinkan untuk pengem- bangan ekonomi produktif berbasis komoditas pertanian unggulan (Tim Pembina Pusat P-KSP, 1999

b

). Oleh karenanya, penentuan kawasan sentra produksi untuk pengembangan komoditas pertanian unggulan dalam penelitian ini dilakukan ber- dasarkan kesesuaian agroekologi, potensi produksi dan basis ekonomi kawasan.

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan parameter kesesuaian agroekologi (Lampiran 6), potensi produksi (Lampiran 7) dan basis ekonomi ka- wasan (Lampiran 8) diperoleh sentra produksi andalan untuk komoditas per- tanian unggulan di Propinsi Jambi sebagai dapat dilihat pada Tabel 25 dan Gambar 18.

Tabel 25. KSP komoditas pertanian unggulan di Propinsi Jambi Wilayah KSP

Makro Kabupaten Komoditas

Pertanian

Sentra Produksi Timur A Tanjab Barat Kelapa Tungkal Ilir, Pengabuan, Betara

Kelapa

Sawit Tungkal Ulu B Tanjab

Timur Kelapa Muara Sabak, Mendahara,

Dendang, Nipah Panjang,

(15)

Rantau Rasau, Sadu Tengah C Batanghari

Karet Muara Tembesi, Batin XXIV, Muara Bulian, Pemayung, Muaro Sebo Ulu

Kelapa

Sawit Mersam, Batin XXIV, Pemayung, Muaro Sebo Ulu Muaro

Jambi Kelapa

Sawit Mestong, Sekerna, Muaro Sebo, Kumpeh Ulu

D Bungo Karet Pelepat, Rantau Pandan, Tanah Sepenggal, Tanah Tumbuh, Jujuha, Muara Bungo

Tebo Karet Tebo Ilir, Tebo Tengah, Sumay, Tebo Ulu, VII Koto, Rimbo Bujang

Barat E Merangin Karet Muara Siau, Bangko, Sungai Manau, Tabir, Tabir Ulu Kelapa

Sawit Pamenang, Bangko, Tabir Kayu Manis Jangkat, Muara Siau, Bangko, Sungai Manau, Tabir

Sarolangun Karet Batang Asai, Sungai Limun, Pelawan Singkut, Sarolangun, Pauh, Mandiangin

F Kerinci Kayu Manis Gunung Raya, Batang Merangin, Danau Kerinci, Keliling Danau, Air Hangat, Air Hangat Timur, Gunung Kerinci, Kayu Aro Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 6, 7 dan 8.

Gambar 18. Peta KSP komoditas pertanian unggulan

(16)

Perkembangan KSP Komoditas Pertanian Unggulan

Dari hasil analisis diketahui komoditas pertanian unggulan di Propinsi Jambi terdiri dari karet, kelapa, kelapa sawit dan kayu manis. Keempat jenis komoditas ini tergolong sebagai tanaman perkebunan. Menurut Budiharjo (2001), komoditas perkebunan sudah menjadi komoditas unggulan masyarakat Jambi sejak awal abad XX. Bahkan akar historis pertumbuhan dan perkembangan perekonomian daerah Jambi berakar pada komoditas perkebunan yang memiliki peran sentral pada dinamika kehidupan sosial ekonomi masyarakat Jambi sejak abad XIX.

Tinjauan terhadap peran perkebunan dalam pertumbuhan dan perkem- bangan perekonomian daerah dapat dilihat dari kontribusinya dalam pembentukan produk domestik regional bruto (PDRB) dan penyerapan tenaga kerja. Sejak tahun 2000, sub-sektor perkebunan merupakan penyumbang terbesar dari sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB Propinsi Jambi, sebagaimana diperlihat- kan pada Gambar 19 yang memberikan gambaran perkembangan kontribusi sub- sektor perkebunan terhadap pembentukan PDRB Propinsi Jambi dibandingkan keempat sub-sektor pertanian lainnya.

0 3 6 9 12 15

1998 1999 2000 2001 2002

Persentase (%)

Pangan Perkebunan Peternakan

Kehutanan Perikanan

Gambar 19. Distribusi persentase sumbangan sektor pertanian terhadap

PDRB Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

(17)

Dibandingkan dengan sub-sektor lainnya di dalam sektor pertanian, per- kebunan merupakan sub-sektor yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi. Bah- kan pada saat puncak krisis ekonomi pada tahun 1998, dimana sub-sektor tanaman pangan, peternakan dan kehutanan tumbuh negatif, sub-sektor perkebunan bersa- ma-sama sub-sektor perikanan mampu tumbuh positif dengan laju pertumbuhan masing-masing 7,14 dan 6,45% (Gambar 20).

-40 -30 -20 -10 0 10 20 30

1998 1999 2000 2001 2002

Laju Pertumbuhan (%)

Pangan Perkebunan Peternakan

Kehutanan Perikanan

Gambar 20. Laju pertumbuhan sektor pertanian Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

430.000 440.000 450.000 460.000 470.000 480.000 490.000

1998 1999 2000 2001 2002

Jumlah Tenaga Kerja (Orang)

25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 50,00

Persentase Tenaga Kerja (%)

Jumlah Tenaga Kerja Persentase Tenaga Kerja

Gambar 21. Jumlah dan pesentase penyerapan tenaga kerja di sub-sektor

perkebunan di Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

(18)

Dari aspek penyerapan tenaga kerja, peran sub-sektor perkebunan di Propinsi Jambi ditinjau dari keterlibatan rumah tangga pertanian dalam budidaya tanaman perkebunan. Dalam kurun waktu lima tahun (1998-2002), diketahui lebih dari 450.000 kepala keluarga rumah tangga pertanian di Propinsi Jambi bekerja di sub-sektor perkebunan. Gambar 21 memperlihatkan perkembangan jumlah kepala keluarga yang berkerja di sub-sektor perkebunan dan persentase penyerapan tenaga kerja di sub-sektor perkebunan di Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002.

Perkembangan Sentra Produksi Karet

Diperkirakan tanaman karet pertama kali dibudidayakan oleh rakyat di daerah Jambi pada tahun 1904 (Budihardjo, 2001). Sejak awal tanaman ini sudah dibudidayakan di sentra-sentra produksi karet yang ada sekarang yang meliputi:

Kabupaten Batanghari, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Mera- ngin, dan Kabupaten Sarolangun (Gambar 22). Perkembangan jumlah tanaman karet di kelima kabupaten sentra produksi tersebut pada tahap awal dibudidayakan diperlihatkan pada Gambar 23. Adapun perkembangan luas areal dan produksi serta laju pertumbuhan luas areal dan produksi pada sentra produksi karet di kelima kabupaten tersebut dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (1998-2002) diperlihatkan pada Gambar 24 - 27.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (1998-2002) luas areal pertanam-

an karet di Propinsi Jambi relatif statis dengan laju pertumbuhan luas rata-rata

0,45% per tahun, bahkan beberapa sentra produksi karet mengalami laju

pertumbuhan negatif sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 23 dan 24. Hal

yang sama terjadi pada perkembangan produksi karet, dalam kurun waktu 1998 -

2002 pertumbuhan produksi karet relatif statis dengan laju pertumbuhan produksi

sebesar 1,33% per tahun. Di beberapa sentra produksi, pertumbuhan produksi

karet bahkan terjadi dengan laju pertumbuhan negatif sebagaimana diperlihatkan

pada Gambar 25 dan 26.

(19)

Gambar 22. Peta KSP karet di Propinsi Jambi

0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000

1907 1908 1909 1910 1911 1912

Jumlahan Tanaman (Pohon)

Batanghari Bungo Tebo Merangin Sarolangun

Gambar 23. Perkembangan jumlah tanaman karet pada tahap awal budidaya di sentra produksi karet Propinsi Jambi pada tahun 1907-1912

Berdasarkan pola pengusahaannya, sebagian besar (97,71%) areal per- kebunan karet di Propinsi Jambi merupakan perkebunan rakyat, hanya 0,94%

yang merupakan perkebunan negara dan 1,35% perkebunan swasta. Gambar 27

mempelihatkan perbandingan luas areal dari ketiga pola pengusahaan perkebunan

karet tersebut.

(20)

0 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000 140.000

1998 1999 2000 2001 2002

Luas Areal (ha)

Batanghari Bungo Tebo Merangin Sarolangun Luar Sentra

Gambar 24. Perkembangan luas areal tanaman karet di sentra produksi karet Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

-15,00 -10,00 -5,00 0,00 5,00 10,00 15,00

1998 1999 2000 2001 2002

Laju Pertumbuhan Luas (%)

Batanghari Bungo Tebo

Merangin Sarolangun Luar Sentra

Gambar 25. Laju pertumbuhan luas areal tanaman karet di sentra produksi karet Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000

1998 1999 2000 2001 2002

Produksi (ton)

Batanghari Bungo Tebo Merangin Sarolangun Luar Sentra

Gambar 26. Perkembangan produksi karet di sentra produksi karet

Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

(21)

-30,00 -20,00 -10,00 0,00 10,00 20,00 30,00

1998 1999 2000 2001 2002

Laju Pertumbuhan Produksi (%)

Batanghari Bungo Tebo

Merangin Sarolangun Luar Sentra

Gambar 27. Laju pertumbuhan produksi karet di sentra produksi karet Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

520.000 525.000 530.000 535.000 540.000 545.000 550.000 555.000 560.000 565.000

1998 1999 2000 2001 2002

Luas Areal (ha)

Perkebunan Rakyat Perkebunan Negara Perkebunan Swasta

Gambar 28. Perkembangan luas areal perkebunan karet berdasarkan pola pengusahaan di Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

Perkembangan Sentra Produksi Kelapa

Perkembangan sentra produksi kelapa di kawasan pantai timur Propinsi

Jambi sudah dimulai pada abad XIX. Menurut Budihardjo (2001), pada tahun

1934 lebih dari 75% perkebunan kelapa di daerah Jambi berada pada kawasan

pantai timur yang mencakup wilayah dari Kuala Tungkal (Kabupaten Tanjung

Jabung Barat) sampai Muara Sabak (Kabupaten Tanjung Jabung Timur). Pemu-

satan sentra produksi kelapa di kawasan pantai timur terus berlanjut hingga saat

ini dimana lebih dari 90% luas areal perkebunan kelapa berada di sentra produksi

Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur (Gambar 29). Pada

(22)

Gambar 30 dan 31 diperlihatkan perkembangan luas areal dan produksi perkebun- an kelapa di kedua kawasan sentra produksi tersebut pada tahun 1998-2002.

Gambar 29. Peta KSP kelapa di Propinsi Jambi

0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000

1998 1999 2000 2001 2002

Luas Areal (ha)

Tanjab Barat Tanjab Timur Luar Sentra

Gambar 30. Perkembangan luas areal perkebunan kelapa di sentra produksi

Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

(23)

0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000

1998 1999 2000 2001 2002

Produksi (Ton)

Tanjab Barat Tanjab Timur Luar Sentra

Gambar 31. Perkembangan produksi kelapa di sentra produksi kelapa Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

Pada Gambar 30 dan 31 dapat dilihat perkebunan kelapa di Propinsi Jambi terkonsentrasi di dua wilayah KSP, yaitu di KSP Makro A (Kabupaten Tanjung Jabung Barat) dan KSP Makro B (Kabupaten Tanjung Jabung Timur). Gambar 32 dan 33 juga memperlihatkan perkembangan luas areal dan produksi perkebunan kelapa di kedua KSP tersebut cenderung stagnan. Dalam kurun waktu lima tahun (1998-2002) laju pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa rata-rata sebesar 0,41% per tahun (Gambar 32), sedangkan laju pertumbuhan produksi rata-rata untuk KSP Makro A dan B masing-masing sebesar 0,12 dan 0,98% per tahun (Gambar 33). Sementara dalam periode waktu yang sama laju pertumbuhan luas areal dan produksi perkebunan kelapa di Indonesia rata-rata sebesar 0,18 dan 3,27% per tahun (Gambar 34).

-8,00 -6,00 -4,00 -2,00 0,00 2,00 4,00 6,00

1998 1999 2000 2001 2002

Pertumbuhan Luas Areal (%)

Tanjab Barat Tanjab Timur Luar Sentra

Gambar 32. Laju pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa di sentra

produksi kelapa Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

(24)

-2,00 -1,00 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00

1998 1999 2000 2001 2002

Laju Pertumbuhan Produksi (%)

Tanjab Barat Tanjab Timur Luar Sentra

Gambar 33. Laju pertumbuhan produksi kelapa di sentra produksi kelapa Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

-2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8

1998 1999 2000 2001 2002

Tahun

Laju Pertumbuhan (%)

Luas Areal Produksi

Gambar 34. Laju pertumbuhan luas areal dan produksi kelapa di Indonesia pada tahun 1998-2002

Perkembangan Sentra Produksi Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan komoditas pertanian unggulan yang baru mulai

dikembangkan secara besar-besaran pada hampir semua wilayah kabupaten di

Propinsi Jambi pada dasawarsa 1990 (BKPMD Prop. Jambi, 2000). Dewasa ini,

hampir semua kabupaten (kecuali Kabupaten Kerinci) dikembangkan perkebunan

kelapa sawit melalui berbagai pola pengembangan, baik dalam bentuk perkebunan

besar swasta (PBS), perkebunan besar negara (PBN), perkebunan rakyat plasma

ataupun dalam bentuk swadaya murni oleh petani perkebunan. Gambar 35

memperlihatkan kawasan sentra produksi kelapa sawit di Propinsi Jambi. Adapun

perkembangan luas areal dan produksi perkebunan kelapa sawit di Propinsi Jambi

berdasarkan pola pengembangannya dapat dilihat pada Gambar 36 dan 37.

(25)

Gambar 35. Peta KSP kelapa sawit di Propinsi Jambi

0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 350.000

1998 1999 2000 2001 2002

Luas Areal (ha)

Swadaya Plasma PBN PBS

Gambar 36. Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di Propinsi Jambi berdasarkan pola pengembangannya pada tahun 1998-2002

Perkembangan luas areal dan produksi perkebunan kelapa sawit pada sentra-sentra

produksi kelapa sawit dibandingkan dengan perkembangan luas areal dan

produksi perkebunan kelapa sawit di luar sentra produksi di Propinsi Jambi dalam

kurun waktu lima tahun (1998-2002) dapat dilihat pada Gambar 38 dan 39.

(26)

0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000

1998 1999 2000 2001 2002

Produksi (ton)

Swadaya Plasma PBN PBS

Gambar 37. Perkembangan produksi perkebunan kelapa sawit di Propinsi Jambi berdasarkan pola pengembangannya pada tahun 1998-2002

0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 90.000 100.000

1998 1999 2000 2001 2002

Luas Areal (ha)

Tanjab Barat Batanghari Muaro Jambi Merangin Luar Sentra

Gambar 38. Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di sentra produksi Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

0 40.000 80.000 120.000 160.000 200.000

1998 1999 2000 2001 2002

Produksi (ton)

Tanjab Barat Batanghari Muaro Jambi Merangin Luar Sentra

Gambar 39. Perkembangan produksi kelapa sawit di kawasan sentra

produksi Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

(27)

Perkembangan Sentra Produksi Kayu Manis

Kawasan sentra produksi (KSP) kayu manis unggulan di Propinsi Jambi terkonsentrasi di Kabupaten Kerinci (Gambar 40). Dari 11 kecamatan yang ada di Kabupaten Kerinci, 8 kecamatan merupakan kawasan sentra produksi kayu manis unggulan. Lebih dari 75% luas areal perkebunan kayu manis di Propinsi Jambi berada di Kabupaten Kerinci dan lebih dari 85% produksi kayu manis berasal dari Kabupaten Kerinci. Adapun perbandingan luas areal kayu manis pada sentra produksi dibandingkan dengan luas areal di luar sentra produksi dapat dilihat pada Gambar 41. Sedangkan perbandingan produksi kayu manis yang berasal dari sentra produksi dengan dari luar sentra produksi dapat dilihat pada Gambar 42.

Gambar 40. Peta KSP kayu manis di Propinsi Jambi

(28)

0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000

1998 1999 2000 2001 2002

Luas Areal (ha)

Sentra Produksi Luar Sentra

Gambar 41. Perkembangan luas areal perkebunan kayu manis di kawasan sentra produksi Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000

1998 1999 2000 2001 2002

Produksi (ton)

Sentra Produksi Luar Sentra

Gambar 42. Perkembangan produksi kayu manis dari kawasan sentra produksi Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

Keadaan Umum Agroindustri Pangan di Propinsi Jambi

Perkembangan Sektor Industri di Propinsi Jambi

Sampai dengan tahun 2002 di Propinsi Jambi terdapat 6.937 perusahaan industri yang menyerap 58.019 orang tenaga kerja (BPS Prop. Jambi, 2004).

Perkembangan jumlah perusahaan industri dan penyerapan tenaga kerja sektor

industri di Propinsi Jambi dalam kurun waktu 15 tahun terakhir (1988-2002) dapat

dilihat pada Gambar 43.

(29)

0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000

88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 OO O1 O2

Jumlah Perusahaan

0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000

Tenaga Kerja

Jumlah Perusahaan (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

Gambar 43. Perkembangan industri dan penyerapan tenaga kerja industri di Propinsi Jambi pada tahun 1988-2002

Dari Gambar 43 dapat dilihat puncak pertumbuhan jumlah perusahaan industri tercapai pada tahun 1997 dimana terdapat sebanyak 9.100 perusahaan industri yang mempekerjakan 57.420 orang tenaga kerja. Pada tahun 1998 jumlah perusahaan industri turun menjadi 6.869 perusahaan, karena sebanyak 2.231 perusahaan kolap akibat krisis ekonomi yang mulai terjadi pada tahun 1997. Pe- nurunan jumlah perusahaan pada tahun 1998 menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 1998, tenaga kerja yang bekerja di sektor industri turun menjadi 52.766 orang, berkurang sebanyak 4.654 orang dibandingkan dengan keadaan sebelum krisis ekonomi tahun 1997. Baru pada tahun 2002 jumlah pe- nyerapan tenaga kerja sektor industri kembali ke keadaan seperti sebelum krisis ekonomi tahun 1997.

Dampak dari krisis ekonomi yang mulai terjadi pada tahun 1997 terhadap sektor industri di Propinsi Jambi juga dapat dilihat dari penurunan kontribusi sektor industri terhadap PDRB Propinsi Jambi pada tahun 1998. Dari tahun 1993 sampai 1997 terjadi peningkatan yang tajam persentase kontribusi sektor industri terhadap PDRB, dari 15,97% pada tahun 1993 menjadi 18,91% pada tahun 1997.

Akan tetapi pada tahun 1998, akibat krisis ekonomi, kontribusi sektor industri

terhadap PDRB turun menjadi 18,12% dan mencapai titik terendah pada tahun

2001 sebesar 17,16% (Gambar 44).

(30)

0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000

93 94 95 96 97 98 99 OO O1 O2

Nilai Tambah (Rp Juta)

14,50 15,00 15,50 16,00 16,50 17,00 17,50 18,00 18,50 19,00 19,50

Persentase (%)

Nilai Tambah Sektor Industri Persentase terhadap PDRB

Gambar 44. Kontribusi sektor industri terhadap PDRB Propinsi Jambi pada tahun 1993-2002

Struktur Industri di Propinsi Jambi

Berdasarkan skala usaha, sebagian besar (lebih dari 98%) perusahaan industri yang ada di Propinsi Jambi tergolong dalam industri skala kecil, hanya sebagian kecil (kurang dari 2%) yang tergolong dalam industri skala besar/sedang.

Akan tetapi dalam penyerapan tenaga kerja, industri skala kecil menyerap kurang dari 50% tenaga kerja sektor industri, sedangkan industri besar/sedang menyerap lebih dari 50% tenaga kerja sektor industri. Tabel 26 memperlihatkan perkem- bangan jumlah perusahaan industri dan penyerapan tenaga kerja sektor industri berdasarkan skala usaha di Propinsi Jambi dalam kurun waktu lima tahun (1998- 2002).

Tabel 26. Perkembangan jumlah perusahaan industri dan penyerapan tenaga kerja sektor industri di Propinsi Jambi (1998-2002)

Jumlah Perusahaan Industri Penyerapan Tenaga Kerja Besar/Sedang Kecil Besar/Sedang Kecil Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen

ahun T

(Unit) (%) (Unit) (%) (Orang) (%) (Orang) (%) 1998 128 1,86 6.741 98,14 32.391 61,39 20.375 38,61 1999 145 1,95 7.284 98,05 34.115 64,58 18.712 35,42 2000 127 1,99 6.252 98,01 33.035 63,94 18.631 36,06 2001 128 1,94 6.479 98,06 28.892 52,28 26.367 47,72 2002 130 1,87 6.807 98,13 31.255 53,87 26.764 46,13

Sumber : BPS Prop. Jambi, 2004.

(31)

Berdasarkan kode klasifikasi industri, perusahaan industri skala besar/

sedang yang ada di Propinsi Jambi dapat diklasifikasikan ke dalam 9 sub-sektor industri, yaitu industri makanan dan minuman (ISIC 15), industri pakaian jadi (ISIC 18), industri pengolahan kayu (ISIC 20), industri kertas (ISIC 21), industri kimia (ISIC 24), industri karet (ISIC 25), industri barang galian (ISIC 26), industri alat angkutan (ISIC 35), dan industri funitur (ISIC 36).

Sub-sektor industri pengolahan kayu (ISIC 20) mendominasi perkembang- an sektor industri di Propinsi Jambi. Lebih dari 55% dari jumlah total perusahaan industri termasuk dalam sub-sektor industri pengolahan kayu, diikuti oleh sub- sektor industri makanan dan minuman (ISIC 15) sebesar lebih dari 20%. Adapun ketujuh sub-sektor industri lainnya (ISIC 18, 21, 24, 25, 26, 35, dan 36) masing- masing kurang dari 5% dari jumlah industri besar/sedang yang terdapat di Propin- si Jambi (Gambar 45).

0 20 40 60 80 100

15 17 20 21 24 25 26 35 36

Kode Sub-Sektor Industri

Jumlah Perusahaan

1998 1999 2000 2001 2002

Gambar 45. Perkembangan jumlah perusahaan industri berdasarkan kelompok industri di Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

Perkembangan Agroindustri Pangan

Perkembangan sub-sektor industri makanan dan minuman (ISIC 15) di

Propinsi Jambi didominasi oleh golongan industri pengolahan dan pengawetan

hasil pertanian (agroindustri pangan) (ISIC 151). Pada tahun 2002, dari sejumlah

35 perusahaan industri makanan dan minuman yang ada di Propinsi Jambi,

sebanyak 29 perusahaan (82,86%) termasuk dalam golongan agroindustri pangan.

(32)

Adapun golongan industri makanan lainnya (ISIC 154) dan golongan industri minuman (ISIC 155) masing-masing sebanyak 3 perusahaan atau 8,57% dari jumlah keseluruhan industri makanan dan minuman yang ada di Propinsi Jambi pada tahun 2002. Perkembangan sub-sektor industri makanan dan minuman di Propinsi Jambi dalam kurun waktu lima tahun (1998-2002) dirinci berdasarkan golongan industri dapat dilihat pada Gambar 46.

0 5 10 15 20 25 30 35

1998 1999 2000 2001 2002

Jumlah Perusahaan

Agroindustri Pangan Industri Pangan Lainnya Industri Minuman

Gambar 46. Perkembangan jumlah perusahaan sub-sektor industri makanan dan minuman di Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

Perincian lebih lanjut golongan agroindustri pangan skala besar/sedang yang ada di Propinsi Jambi ke dalam sub-golongan industri memperlihatkan bah- wa agroindustri pangan skala besar/sedang di Propinsi Jambi terdiri dari industri:

minyak kasar (crude oil) (ISIC 15141), minyak goreng dari minyak kelapa (ISIC 15143) dan minyak goreng dari minyak kelapa sawit (ISIC 15144). Perkembang- an jumlah perusahaan dari ketiga sub-golongan industri tersebut dalam kurun waktu lima tahun (1998-2002) dapat dilihat pada Gambar 47.

Industri minyak kasar (ISIC 15141) yang berkembang di Propinsi Jambi

terdiri dari industri: minyak kelapa (crude coconut oil, CCO), minyak kelapa sa-

wit (crude palm oil, CPO) dan minyak inti sawit (palm kernel oil, PKO). Perusa-

haan industri PKO baru berdiri pada tahun 2001 dan sampai akhir tahun 2002

belum berproduksi. Perkembangan jumlah perusahaan dari ketiga jenis industri

minyak kasar ini dalam kurun waktu lima tahun (1998-2002) dapat dilihat pada

Gambar 48.

(33)

0 5 10 15 20 25 30

Minyak Kasar (15141) Minyak Kelapa (15143) Minyak Sawit (15144)

Jumlah Perusahaan

1998 1999 2000 2001 2002

Gambar 47. Perkembangan jumlah perusahaan golongan agroindustri pangan skala besar/sedang di Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

0 2 4 6 8 10 12 14 16

CCO CPO PKO

Jumlah Perusahaan

1998 1999 2000 2001 2002

Gambar 48. Perkembangan jumlah perusahaan industri pengolahan CCO, CPO, dan PKO di Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002

Crude Coconut Oil (CCO) merupakan produk olahan primer dari kelapa.

Sedangkan Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) merupakan

produk olahan primer dari kelapa sawit. Dengan demikian dapat disimpulkan,

bahwa agroindustri pangan yang berkembang di Propinsi Jambi adalah agroin-

dustri minyak nabati kasar (crude vegetable oil) (ISIC 15141) yang menggunakan

bahan baku dari perkebunan kelapa dan kelapa sawit. Kedua komoditas per-

kebunan ini merupakan komoditas pertanian unggulan di Propinsi Jambi (Tabel

25).

(34)

Keterkaitan Perkembangan Agroindustri Pangan dengan Komoditas Pertanian Unggulan

Agroindustri Kelapa

Berdasarkan hasil analisis keterkaitan dengan menggunakan uji korelasi- jenjang Spearman (Daniel, 1989) diketahui terdapat korelasi antara produksi kela- pa dengan kapasitas produksi industri minyak kelapa (CCO) pada suatu kawasan sentra produksi. Peningkatan produksi kelapa pada suatu KSP berkorelasi positif dengan peningkatan kapasitas produksi industri CCO pada kawasan tersebut, tetapi tidak berkorelasi dengan kapasitas produksi industri CCO di luar KSP.

Sebaliknya, peningkatan produksi kelapa di luar KSP tidak berkorelasi dengan peningkatan kapasitas produksi industri CCO, baik di dalam ataupun di luar KSP (Tabel 27).

Tabel 27. Koefisien korelasi-jenjang Spearman antara produksi kelapa dengan kapasitas produksi industri CCO

Kapasitas Produksi IndustriCCO Kawasan Sentra Produksi

(KSP) Dalam KSP Luar KSP

Dalam KSP 0,9000*

)

-0,5000 Produksi

Kelapa Luar KSP 0.7000 -0,3000

Sumber: Hasil analisis

*

)

sangat nyata

Tabel 28. Koefisien korelasi-jenjang Spearman antara industri CCO dengan industri minyak goreng kelapa

Kapasitas Produksi Industri Minyak Goreng Kelapa Kawasan Sentra Produksi

(KSP)

Dalam KSP Luar KSP

Dalam KSP 0,5000 0,5000

Kapasitas Produksi

Industri

CCO Luar KSP 0,5000 0,5000

Sumber: Hasil analisis

(35)

Korelasi antara produksi kelapa dengan kapasitas produksi industri CCO pada suatu KSP mengindikasikan adanya keterkaitan ke belakang (backward linkage) antara industri CCO dengan sub-sektor perkebunan kelapa (Tabel 27).

Sebaliknya, dari Tabel 28 diketahui kapasitas produksi CCO tidak berkorelasi dengan kapasitas produksi industri minyak goreng kelapa, baik di dalam KSP ataupun di luar KSP. Hal ini mengindikasikan rendahnya keterkaitan ke depan (forward linkage) industri CCO terhadap industri minyak goreng.

Dari hasil analisis tataniaga komoditi CCO diketahui kurang dari 40%

produksi CCO yang diserap oleh industri minyak goreng kelapa, hampir 20%

diperdagangkan di pasar regional, dan lebih dari 40% diekspor. Rendahnya persentase CCO yang diolah menjadi minyak goreng kelapa mengindikasikan rendahnya keterkaitan ke depan antara industri CCO dengan industri minyak goreng kelapa di Propinsi Jambi.

Agroindustri Kelapa Sawit

Dari hasil analisis dengan menggunakan uji korelasi-jenjang Spearman diketahui terdapat korelasi antara perkembangan produksi kelapa sawit dengan perkembangan kapasitas produksi industri CPO pada suatu kawasan sentra produksi. Peningkatan produksi kelapa sawit di dalam suatu KSP berkorelasi positif dengan peningkatan kapasitas produksi industri CPO di dalam dan di luar kawasan tersebut. Sedangkan peningkatan produksi kelapa sawit di luar KSP hanya berkorelasi dengan peningkatan kapasitas produksi industri CPO yang terdapat di dalam KSP. Adapun korelasi antara peningkatan produksi kelapa sawit di dalam suatu KSP dengan peningkatan kapasitas produksi industri PKO di dalam ataupun di luar kawasan belum dapat dianalisis, karena belum tersediannya data produksi PKO (Tabel 29).

Korelasi antara produksi kelapa sawit dengan kapasitas produksi industri

CPO mengindikasikan adanya keterkaitan ke belakang (backward linkage) antara

industri CPO dengan perkembangan perkebunan kelapa sawit. Dari hasil analisis

(Tabel 29) diketahui keterkaitan tersebut terjadi pada industri CPO yang terdapat

di dalam kawasan sentra produksi. Sebaliknya, korelasi antara kapasitas produksi

industri CPO dengan kapasitas produksi industri minyak goreng kelapa sawit

(36)

hanya terjadi pada industri yang terdapat di luar KSP (Tabel 30). Hal ini mengin- dikasikan rendahnya kaitan ke dapan (forward lingkage) industri CPO yang ada di Propinsi Jambi.

Tabel 29. Koefisien korelasi-jenjang Spearman antara produksi kelapa sawit dengan kapasitas produksi industri CPO dan PKO

Kapasitas Produksi

Industri CPO Industri PKO

Kawasan Sentra Produksi

(KSP) Dalam KSP Luar KSP Dalam KSP Luar KSP

Dalam KSP 0,9750**) 0,9000**) t.a.d. t.a.d.

Produksi Kelapa

Sawit Luar KSP 0,8000*) 0,5000 t.a.d. t.a.d.

Sumber: Hasil analisis

Keterangan : **

)

= sangat nyata, *

)

= nyata t.a.d. = tidak ada data

Tabel 30. Koefisien korelasi-jenjang Spearman antara industri CPO dengan industri minyak goreng kelapa sawit

Kapasitas Produksi Industri Minyak Goreng Kelapa Sawit Kawasan Sentra Produksi

(KSP) Dalam KSP Luar KSP

Dalam KSP 0,5500 0,6750

Kapasitas Produksi

Industri CPO Luar KSP 0,6000 0,8500*

)

Sumber: Hasil analisis

*

)

nyata

Dari hasil analisis tataniaga CPO di Propinsi Jambi diketahui lebih dari 95% produksi CPO diekspor. Adapun yang diperdagangkan secara lokal kurang dari 5% dari total produksi CPO. Rendahnya persentase CPO yang diserap di dalam perdagangan lokal ini mengindikasikan rendahnya keterkaitan ke depan antara industri CPO dengan industri minyak goreng kelapa sawit di Propinsi Jambi.

(37)

DIAGNOSIS AGROINDUSTRI PANGAN KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN DI PROPINSI JAMBI

Diagnosis agroindustri pangan komoditas pertanian unggulan dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran posisi strategis agroindustri pangan komoditas pertanian unggulan yang ada di Propinsi Jambi pada saat sekarang dan prakiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 tahun yang akan datang. Ber- dasarkan hasil analisis situasional diketahui agroindustri pangan komoditas per- tanian unggulan yang berkembang di Propinsi Jambi adalah agroindustri minyak nabati kasar (crude vegetable oil, ISIC 15141) yang terdiri dari agroindustri kelapa dengan produk berupa minyak kelapa kasar (crude coconut oil, CCO) dan agroindustri kelapa sawit dengan produk berupa minyak kelapa sawit kasar (crude palm oil, CPO) dan minyak inti sawit (palm karnel oil, PKO).

Penempatan posisi strategis agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit dilakukan pada level perusahaan berdasarkan hasil analisis portofolio de- ngan menggunakan matriks McKinsey-Ansoff. Matriks ini merupakan pengem- bangan dari matriks daya tarik industri (the industry attractiveness – business strength matrix) GE-McKinsey dan matriks posisi menyebar (dispersed posi- tioning) Ansoff. Matriks ini digunakan untuk menggambarkan posisi strategis perusahaan pada saat sekarang dan prakiraan perkembangannya pada masa men- datang. Di samping itu, matriks ini juga digunakan untuk mensintesis alternatif strategi pada level perusahaan (Pearce and Robinson, 1996; Muhammad, 2002;

Supratikno, dkk, 2003).

Penyusunan matriks posisi strategis perusahaan agroindustri kelapa dan

agroindustri kelapa sawit dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama dilaku-

kan analisis perkembangan agroindustri. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui

perkembangan daya tarik agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit pada

saat sekarang dan prakiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 tahun yang

akan datang. Pada tahap kedua dilakukan diagnosis posisi persaingan perusahaan

yang tergolong dalam agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit yang ada

di Propinsi Jambi. Adapun pada tahap ketiga dilakukan sintesis posisi strategis

(38)

perusahaan agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit berdasarkan hasil analisis daya tarik agroindustri dan diagnosis posisi persaingan perusahaan.

Perkembangan Agroindustri Pangan

Pendeskripsian perkembangan daya tarik agroindustri pangan mengguna- kan pendekatan refleksi pasar (pre-commercialization, Metode PRECOM) berda- sarkan konsep produk, konsep teknik dan konsep ekonomi yang dikembangkan oleh Hubeis (1997 dan 1998) dengan indikator pertumbuhan pasar dan pangsa pasar (konsep ekonomi), perkembangan mutu dan jajaran/variasi produk turunan (konsep produk) serta perkembangan teknologi proses (konsep teknik).

Pertumbuhan Pasar Agroindustri Pangan

Daya tarik agroindustri pangan berdasarkan indikator pertumbuhan pasar dianalisis dengan menggunakan data pertumbuhan pasar ekspor dan pertumbuhan pasar domestik produk agroindustri kelapa (CPO) dan produk agroindustri kelapa sawit (CPO dan PKO). Pertumbuhan pasar ekspor dihitung dari data keseimbang- an penawaran dan permintaan minyak nabati dunia. Pada tahun 2002, pasar eks- por CCO, CPO dan PKO masing-masing sebesar 1.732.500 ton, 10.544.900 ton dan 1.579.300 ton atau masing-masing tumbuh sebesar 1,4%, 8,8% dan 7,7% di- bandingkan dengan pasar ekspor pada tahun 2001 (Ditjen Perkebunan, 2004

a

dan 2004

b

). Dengan demikian, berdasarkan indikator pertumbuhan pasar ekspor, daya tarik agroindustri kelapa (CCO) berada pada posisi sedang. Adapun daya tarik agroindustri kelapa sawit (CPO dan PKO) berada pada posisi tinggi (Tabel 31).

Prediksi pertumbuhan pasar ekspor CCO, CPO dan PKO dalam kurun

waktu 5 tahun mendatang didasarkan pada ekstrapolasi data pasar ekspor ketiga

komoditi tersebut selama 10 tahun terakhir. Berdasarkan data tahun 1993-2002

(Gambar 49), diketahui pasar ekspor CCO berfluktuasi dengan pertumbuhan rata-

rata sebesar 1,6% per tahun (Ditjen Bina Produksi Perkebunan, 2004

a

). Pada ta-

hun yang sama pertumbuhan pasar ekspor CPO sebesar 10,7% per tahun, sedang-

kan pertumbuhan pasar ekspor PKO sebesar 7,4% per tahun (Ditjen Bina Pro-

duksi Perkebunan, 2004

b

).

(39)

Ekstrapolasi data pertumbuhan pasar ekspor CCO, CPO dan PKO untuk 5 tahun mendatang menghasilkan angka pertumbuhan pasar ekspor CCO pada tahun 2007 sebesar 1,4% per tahun. Pada tahun yang sama pertumbuhan pasar ekspor CPO sebesar 4,8% per tahun dan pertumbuhan pasar ekspor PKO sebesar 4,5%

per tahun. Dengan demikian, berdasarkan indikator pertumbuhan pasar ekspor, daya tarik agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit dalam kurun waktu 5 tahun mendatang tergolong sedang (Tabel 31).

0 4.000 8.000 12.000 16.000 20.000

1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002

Pasar Ekspor (.000 Ton)

CCO CPO PKO

Gambar 49. Pasar ekspor CCO, CPO dan PKO pada tahun 1993 - 2002 Tabel 31. Pertumbuhan pasar ekspor produk agroindustri kelapa dan kelapa sawit

Pertumbuhan Pasar Ekspor

Pada Saat Sekarang 5 Tahun Mendatang Golongan/Jenis

Industri Nilai Daya Tarik Nilai Daya Tarik Agroindustri Kelapa

CCO 1,4% Rendah 1,3% Rendah

Agroindustri Kelapa Sawit

CPO 8,8% Tinggi 4,8% Sedang

PKO 7,7% Tinggi 4,5% Sedang

Sumber : Hasil analisis

Berdasarkan indikator pertumbuhan pasar domestik, daya tarik agroindustri

kelapa tergolong rendah, sebaliknya daya tarik agroindustri kelapa sawit berada

pada posisi sedang sampai tinggi (Tabel 32). Hal ini diindikasikan oleh pertum-

buhan pasar domestik pada tahun 2002 dimana pasar domestik produk CCO

mengalami konstraksi sebesar –1,4% (Ditjen Perkebunan, 2004

a

), sebaliknya

(40)

pasar domestik produk CPO tumbuh sebesar 5,4% dan pasar domestik PKO tumbuh sebesar 8,2% (Ditjen Perkebunan, 2004

b

).

Prediksi pertumbuhan pasar domestik CCO, CPO dan PKO untuk 5 tahun mendatang menggunakan data perkembangan pasar domestik 10 tahun terakhir (1993-2002) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 50 (Ditjen Perkebunan, 2004

a

dan 2004

b

). Hasil prediksi mengindikasikan berdasarkan pertumbuhan pa- sar domestik, daya tarik agroindustri kelapa dalam kurun waktu 5 tahun men- datang berada pada posisi rendah. Pada waktu yang sama, daya tarik agroindustri kelapa sawit berada pada posisi sedang (Tabel 32). Hal ini dapat dilihat dari prediksi pertumbuhan pasar domestik CCO dlam kurun waktu 5 tahun mendatang yang mengalami konstraksi sebesar –4,5%, sedangkan pasar domestik produk CPO dan PKO masing-masing tumbuh sebesar 3,5% dan 5,2%.

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000

1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002

Pasar Domestik (.000 Ton)

CCO CPO PKO

Gambar 50. Pasar domestik CCO, CPO dan PKO pada tahun 1993 – 2002 Tabel 32. Pertumbuhan pasar domestik produk agroindustri kelapa dan kelapa sawit

Pertumbuhan Pasar Domestik

Pada Saat Sekarang 5 Tahun Mendatang Golongan/Jenis

Industri Nilai Daya Tarik Nilai Daya Tarik Agroindustri Kelapa

CCO -1,4% Rendah -4,5% Rendah

Agroindustri Kelapa Sawit

CPO 5,4% Sedang 3,5% Sedang

PKO 8,2% Tinggi 5,2% Sedang

Sumber : Hasil analisis

Gambar

Gambar 14.  Peta pembagian wilayah pengembangan KSP Makro                                     di Propinsi Jambi
Tabel 24.  Hasil analisis daya saing komoditas pertanian unggulan dan wilayah       pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi
Gambar 19.  Distribusi persentase sumbangan sektor pertanian terhadap                            PDRB Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002
Gambar 25.  Laju pertumbuhan luas areal tanaman karet di sentra produksi                        karet Propinsi Jambi pada tahun 1998-2002
+7

Referensi

Dokumen terkait

8) Ibid.. 10) Sedangkan Peter Mahmud Marzuki memperkuat pendapat ini dengan menguraikan ciri-ciri ketentuan yang bersifat memaksa. 11) Ciri pertama, biasanya

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

Pembagian jam mengajar terkadng mengalami kontraversi, kadang menjurus kekonfilik, ada sebagian guru yang puas, ada juga yang tidak puas. Seperti yang dikatakan seorang guru

beberapa waktu lalu, terjadi banyak kejadian dan fenomena sosial yang berawal dari perbedaan dan keragaman. Misalnya kasus dugaan penistaan agama yang gagal dipahami

Sebagai organisasi polisi dunia, Interpol bertanggung jawab dalam menangani kejahatan siber ini sampai kemudian ia membuat Internet Child Sexual Exploitation Image

Pengujian sistem yang menunjukkan nilai kecocokkan dengan optimasi bobot pada metode LVQ dengan algoritma lebih tinggi, membuktikan bahwa bobot optimal untuk metode

Pasal 153 ayat (6) Undang-undang Ketenagakerjaan yang memuat hak pekerja atau larangan yang tidak dapat dijadikan alasan PHK oleh pengusaha, yaitu pada pekerja

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Book-Tax Differences, Arus Kas Operasi dan Arus Kas Akrual dan