• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ISI NILAI-NILAI ISLAM DALAM STANDAR PROGRAM SIARAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS ISI NILAI-NILAI ISLAM DALAM STANDAR PROGRAM SIARAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA SKRIPSI"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS ISI NILAI-NILAI ISLAM DALAM STANDAR PROGRAM SIARAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

(S.Sos)

Oleh:

Nabillah Ilhami Apriliantinis 11160510000078

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H / 2020 M

(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini Nama Nabillah Ilhami Apriliantinis NIM 11160510000078

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Analisis Isi Nilai-Nilai Islam Dalam Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia” adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunannya. Adapun kutipan yang ada dalam penysunan karya itu telah saya cantumkan sumber kutipannya dalam skripsi.

Saya bersedia melakukan proses yang semestinya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku jika ternyata skripsi ini sebagian atau keseluruhan merupakan plagiat dari karya orang lain.

Demikian pernyataan ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya.

Tangerang Selatan, 09 November 2020

Nabillah Ilhami Apriliantinis NIM 11160510000078

(3)
(4)
(5)

i

Dalam Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia.”

Televisi merupakan salah satu media massa yang sangat efektif dalam memberikan informasi, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi pemirsanya. Keberadaan stasiun-stasiun televisi swasta hadir dengan menyajikan berbagai siaran baik berupa informasi, pendidikan, keagamaan, dan hiburan. Hakikatnya tayangan televisi yang hadir harus mengikuti pedoman yang di buat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Komisi Penyiaran Indonesia merupakan lembaga independen yang berfungsi sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran di Indonesia.

Berdasarkan latar belakang di atas mucul masalah yaitu ada atau tidak nilai-nilai Islam yang terdapat pada standar program siaran dan nilai mana yang lebih dominan?

Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif yang mengutamakan ketepatan dalam mengidentifikasikan isi pesan nilai- nilai islam dalam standar program siaran. Selain itu untuk mendapatkan data yang akurat dan objektif, maka peneliti menggunakan tiga orang juri yang kompeten dibidangnya masing- masing yaitu terkait pada bagian aqidah, syari’ah, akhlak.

Peneliti menggunakan rumus dari holsti untuk mencari koefisien reliabilitas kategori masing- masing juri, sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dan maksimal. Rumus holsti juga peneliti gunakan pada pengumpulan data yang berupa observasi, dokumentasi dan wawancara, teknik pengolahan yang menggunakan lembar coding.

Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai-nilai Islam yang dominan dalam standar program siaran adalah nilai syari’ah dengan perolehan prosentase sebesar 76,18%, diikuti oleh nilai akhlak di urutan kedua dengan prosentase sebesar 21,48%, dan diurutan ketiga nilai aqidah dengan prosentase sebesar 2,34%.

Kata Kunci: Analisis isi, Standar program siaran, KPI, Nilai Islam.

(6)

ii Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirobbil „alamiin, puji serta syukur kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan nikmat sehat secara lahir maupun batin sehingga peneliti dapat memulai dan menyelesaikan penelitian ini dengan sebaik-baiknya. Sholawat seiring salam senantiasa terhaturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya atas perjuangan beliau islam rahmatal lil „alamin masih terhirup dibumi ini.

Dengan penuh kerendahan hati dan kesadaran diri, dalam melaksanakan penelitian yang berjudul “Analisis Isi Nilai-Nilai Islam Dalam Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia.” Peneliti sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karenanya peneliti memohon maaf manakala setiap bagian dari penelitian ini masih jauh dari kata sempurna serta peneliti membuka kritik serta saran yang membangun untuk panggung akademisi akan akan datang.

Peneliti sadar bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, dipastikan tidak lepas dari dukungan dari banyak pihak dengan ketulusan dan kerendahan hati,penulis mengucapkan terima kasih kepada

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanudin Lubis, Lc, M.A selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

(7)

iii

BSW. MSW selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik, Bapak Dr. Sihabudin Noor, M.Ag, selaku Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, dan Bapak Drs. Cecep Castrawijaya, M.A selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan.

3. Ibu Dr. Armawati Arbi, M.Si selaku Kepala Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, dan Bapak Dr. H. Edi Amin, MA selaku Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

4. Ibu Thalita Sacharissa Rosyidiani, M.I.kom selaku dosen pembimbing sekaligus sumber pengetahuan dan motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Serta atas waktu yang telah di dedikasikan untuk membimbing dan mengarahkan penulis.

5. Drs. Jumroni, M. Si. selaku dosen pembimbing akademik yang selalu memberikan saran terbaiknya serta kesabarannya untuk mendampingi penulis dalam proses perkuliahan hingga penulisan skripsi ini. Dukungan dan motivasinya, selalu memacu penulis untuk terus semangat menyelesaikan tanggung jawab perkuliahan.

6. Para Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Khususnya Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam yang telah memberikan ilmu, pengetahuan, dan pengalaman bagi penulis. Semoga ilmu dan pengalaman yang ibu dan bapak berikan menjadi amal jariyyah di akhirat

(8)

iv

7. Arif Faturahman, M.Si (Bidang isi siaran KPID Jakarta), Dr.

H. M. Nurul Irfan, M.Ag. (Dosen Hukum Pidana Islam), dan Ade Rina Farida, M.Si. (Dosen Ilmu Komunikasi) yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk untuk mengisi kuisioner walau di tengah kesibukan.

8. Teristimewah, Ayah terkuat Syarifuddin yang selalu menguatkan bahunya agar pendidikan penulis selesai.

9. Teristimewah, Mamah Tri Rianawati atas doa, support, dan ridhanya dalam membesarkan dan mendidik penulis sampai saat ini.

10. Khairina, kakak penulis yang selalu memarahi dan mensupport ketika penulis mulai lalai dan lengah dalam menulis skripsi ini, serta adik-adik penulis Suhairi, Firdaus Nurahma, Subki Alvanza dan Khansa Arwa Khairunnisa yang selalu menjadi alasan penulis untuk tetap semangat dalam menyelesaikan karya ini.

11. Sahabat seperbimbingan (My Research Tim) : Aji, Nina, Arin, Hanif, Dan Faris. Meskipun bimbingan kita LDR, penguat dan semangat dari kalian selalu menjadi motivasi bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

12. Keluarga besar KPI UIN Jakarta 2016 beserta KPI B 2016 yang telah mewarnai perjalanan kuliah penulis selama empat tahun. Serta keluarga KKN 72 Tanduk Rusa yang telah mewarnai dan memberikan pelajaran selama kegiatan kemasyarakatan.

(9)

v

Ika, Ziman, Laras, Janah yang telah menemani penulis dalam berproses di organisasi. Serta kakak-kakak PMII Komfakda:

Kak Buldan, Kak Au, Kak Fery, Kak Gita, Kak Nisa, Kak Misbah, Kak Firgi, Kak cees, kak Ariansani, yang selalu mengajarkan penulis tentang arti berjuang dan bertumbuh di organisasi.

14. Senat Mahasiswa Uin Jakarta (SEMAU) 2019: Press Jamsari, Bang Al, Bang Yori, Bang Syauqi, Bang Ilham, Inas, Kak Syifa, Amirul, Syirod, Kak Intan, Fina yang telah memberikan ruang bagi penulis untuk terus belajar dan berproses.

15. Seoulanga Squad: Dillah, Anisa, Uti, Qory, Helvina, Mutiara, Dewi yang telah menjadi saksi lika-liku penulis dalam menempuh pendidikan empat tahun ini.

16. M. Fadhli Dzil Ikram selaku pendamping tersabar sepanjang masa sekaligus rival skripsi penulis. Terimakasih telah mensupport dan mendampingi hingga skripsi penulis selesai.

17. Riza Faradilah selaku sahabat dan teman kos penulis yang selalu menemani setiap langkah perjalanan penulis selama kuliah empat tahun. Terimakasih selalu hadir menemani kegundahan dan mendengarkan segala keluh kesah penulis.

18. Aji Nur Hidayat selaku sahabat penulis yang selalu memberikan ide dan support bagi penulis.

19. Pembaca Penelitian skripsi ini. Semoga apa yang penulis dapat bermanfaat.

(10)

vi hingga sampai pada fase ini.

Semoga atas segala doa, dukungan, bantuan serta bimbingan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan balasan kebaikan yang berlimpah dari Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal „Aalamiin. Walaupun demikian, penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih memiliki banyak kekurangan sehubungan dengan keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman yang dimiliki penulis.

Oleh sebab itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan dari berbagai pihak. Terima Kasih

Wallahul Muwwafiq Ilaa Aqwamith Tharieq

Wassalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuuh

Tangerang Selatan, Agustus 2020

Nabillah Ilhami Apriliantinis

(11)

vii

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL ... 9

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan dan Perumusan Masalah ... 8

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

E. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 10

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

A. Pengertian Analisis Isi ... 13

B. Nilai-Nilai Islam ... 16

1. Pengertian Nilai-Nilai Islam ... 16

2. Aspek Nilai-Nilai Islam ... 19

C. Standar Program Siaran ... 22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 25

A. Metode Penelitian Kuantitatif... 25

B. Subjek dan Objek Penelitian ... 28

C. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28

D. Pedoman Penulisan ... 28

(12)

BAB IV ANALISIS ISI NILAI-NILAI ISLAM DALAM STANDAR PROGRAM SIARAN

KOMISI PENYIAARAN INDONESIA ... 29

A. Temuan Hasil Penelitian... 29

B. Nilai Aqidah, Akhlak, Syariah dalam Standar Program Siaran ... 34

1. Nilai Aqidah ... 34

2. Nilai Syari’ah ... 38

3. Nilai Akhlak ... 42

B. Pembahasan ... 44

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 47

A. Kesimpulan ... 47

B. Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 49

LAMPIRAN ... 52

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Kategori ... 29 Tabel 2 Koefisien Reliabilitas Kesepakatan ... 31 Tabel 3 Rincian Hasil Penelitian Kategorisasi Nilai

Aqidah ... 37 Tabel 4 Rincian Hasil Penelitian Kategorisasi Nilai

Syari’ah ... 40 Tabel 5 Rincian Hasil Penelitian Kategorisasi Nilai

Akhlak ... 42 Tabel 6 Hasil Prosentase Data ... 44

(14)

1 A. Latar Belakang Masalah

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) adalah sebuah lembaga independen di Indonesia yang kedudukannya setingkat dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran di Indonesia.

Komisi ini berdiri sejak tahun 2002 berdasarkan Undang- undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. KPI terdiri atas Lembaga Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI Pusat) dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) yang bekerja di wilayah setingkat Provinsi.

Wewenang dan lingkup tugas Komisi Penyiaran meliputi pengaturan penyiaran yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyiaran Publik, Lembaga Penyiaran Swasta, dan Lembaga Penyiaran Komunitas.

Komisi Penyiaran Indonesia membuat peraturan Standar Program Siaran (SPS) tahun 2012. Standar Program Siaran adalah standar isi siaran yang berisi tentang batasan- batasan, pelarangan, kewajiban, dan pengaturan penyiaran, serta sanksi berdasarkan Pedoman Perilaku Penyiaran yang ditetapkan oleh KPI.1 SPS ditetapkan agar lembaga penyiaran dapat menjalankaan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol, perekat sosial dan pemersatu bangsa. Standar Program Siaran bertujuan untuk, Pertama,

1 Sulistyo Basuki, Pengantar Dokumentasi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995), h. 39

(15)

memperkokoh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera. Kedua, mengatur program siaran untuk kemanfatan sebesar-besarnya bagi masyarakat. Ketiga, mengatur program siaran agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.2

Nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan, dimana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas untuk dikerjakan.

Sedangkan Islam adalah agama Allah SWT yang diperintahkan langsung oleh-Nya untuk mengajarkan pokok- pokok serta aturannya melalui Nabi Muhammad SAW, lalu menugaskannya untuk menyampaikan agama tersebut kepada umat manusia untuk memeluknya. Dapat disimpulkan nilai- nilai Islam merupakan penghargaan tinggi yang diberikan masyarakat kepada beberapa masalah pokok kehidupan yang bersifat suci, sehingga menjadi pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat yang bersangkutan.

Sebagai sumber informasi, televisi memberikan pengaruh terhadap nilai-nilai masyarakat. Menurut Prof. Dr.

R. Ma’rat acara televisi pada umumnya dapat mempengaruhi sikap, perilaku, pandangan dan perasaan para penonton.3

2 Sulistyo Basuki, Pengantar Dokumentasi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995), h. 43

3 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 41

(16)

Sesuai seperti yang dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat Ayat 6:

ٍةَلاَهَجِب اًمْوَق اوُبيِصُت ْنَأ اوُنَّيَبَتَف ٍإَبَنِب ٌقِساَف ْمُكَءاَج ْنِإ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي َنيِمِداَن ْمُتْلَعَف اَم ٰىَلَع اوُحِبْصُتَف Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Televisi memiliki peran yang sangat efektif dalam memberikan informasi, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi pemirsanya. Keberadaan stasiun-stasiun televisi swasta hadir dengan menyajikan berbagai siaran baik berupa informasi, pendidikan, keagamaan, dan hiburan yang beraneka ragam. Namun sangat disayangkan tayangan- tayangan vulgar begitu bebas berkeliaran di pertelevisian kita, etika yang seharusnya dijunjung tinggi oleh pihak yang bertanggung jawab melemah karna lebih mementingkan rating, tidak bisa dipungkiri televisi sebagai sarana yang sarat informasi bisa berubah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan bagi para investor-investor nakal. Sebagai contoh salahsatu siaran yang melanggar adalah “Konser Pop Star” yang ditayangkan stasiun televisi swasta Indosiar yang menampilkan sebuah adegan ciuman bibir dan telah mendapatkan sanksi teguran tertulis pada 23 Juli 2019.

Menurut komisioner KPI Pusat, Mayong Suryo Laksono, jenis pelanggaran itu dikategorikan sebagai pelanggaran atas norma kesopanan dan kesusilaan, pelarangan adegan ciuman

(17)

bibir, serta larangan program siaran menampilkan muatan yang mendorong remaja belajar tentang perilaku yang tidak pantas.4 Bijak dalam memberikan informasi diperlukan bagi masyarakat selaku penikmat tayangan- tayangan televisi, sebagai negara yang beradab dan beragama tayangan- tayangan televisi seharusnya selalu berada dalam koridor yang semestinya.

Seperti yang kita ketahui bahwasannya negara mayoritas muslim berbeda dengan negara Islam. Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di Asia Tenggara, yang memiliki persentase 13% dari jumlah Muslim dunia.5 Etika penyiaran menurut pandangan Islam diantaranya menggunakan cara yang bijaksana, mengandung pelajaran yang baik, menyampaikan informasi yang benar, memberikan hiburan dan peringatan, dilarang memfitnah, dilarang menyiarkan aib orang lain, dilarang mengadu domba, mengajak berbuat baik dan mencegah berbuat jahat.6 Pada pasal 3 di UU No 32 Tahun 2002 jelas dikatakan bahwa penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis,

4 http://www.kpi.go.id/index.php/id/edaran-dan-sanksi/35226-teguran- tertulis-untuk-program-siaran-konser-popstar-indosiar Diakses tanggal 08-04- 2020

5https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_menurut_negara#CITEREFMiller20 09 Diakses tanggal 08-04-2020

6Syukriadi Sambas, Komunikasi penyiaran Islam, (Bandung: Dehilman Production, 2004), h. 45

(18)

adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia. 7 Jadi dari penjabaran diatas bahwasannya mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, oleh karena itu pedoman atau peraturan yang dibuat tidak keluar dari koridor yang telah ditetapkan dari agama Islam itu sendiri.

Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran atau yang biasa disebut sebagai P3SPS ialah konsekuensi dari adanya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.8 Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga yang mengelola sistem penyiaran yang berbentuk lembaga independen lalu membentuk P3SPS.

Proses pembuatan dari undang- undang hingga akhirnya mengeluarkan P3SPS tersebut juga memakan waktu yang cukup lama terhitung sejak reformasi dimulai. Apabila melihat kilas sejarah, sebelumnya penyiaran Indonesia bertumpuan pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997.

UU No. 24 Tahun 1997 menandakan bahwa penyiaran saat masa itu merupakan bagian dari instrumen pemerintah dan kekuasaan yang semata-mata bagi kepentingan pemerintah. Hal ini diperkuat juga dengan Pasal 6 yang menjelaskan bahwa penyiaran dilakukan dengan satu sistem penyiaran nasional dan disebutkan bahwa frekuensi dikuasai dan digunakan guna kepentingan negara. Selain itu, Pasal 7 Ayat (1) menjelaskan bahwa Penyiaran dikuasai oleh Negara

7http://www.kpi.go.id/download/regulasi/UU%20No.%2032%20Tahun%

202002%20tentang%20%20Penyiaran.pdf Diakses tanggal 23-04-2020

8 http://www.kpi.go.id/index.php/id/dasar-pembentukan Diakses tanggal 18-05-2020

(19)

yang pembinaan dan pengendaliannya dilakukan oleh Pemerintah. Undang-undang tersebut bisa diartikan sebagai alat oleh pemerintah (dalam hal ini ialah Departemen Penerangan) untuk mengatur isi siaran guna tujuan dan bagi kepentingan tertentu.

Berganti kepemimpinan dan rezim, membuat adanya pembenahan dalam Undang-undang Penyiaran dengan mengganti UU No. 24 Tahun 1997 dengan UU No. 32 Tahun 2002 yang disahkan pada 28 Desember 2002. Meskipun saat itu tidak ditandatangani oleh presiden Megawati Soekarnoputri, UUD 1945 Pasal 20 Ayat (5) menyatakan bahwa dalam rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama namun tidak ditandatangani dalam 30 hari, rancangan tersebut sah menjadi undang-undang.

Undang-undang tersebut lalu memecahkan paradigma saat itu mengenai pemerintah yang selalu mengendalikan penyiaran. UU penyiaran yang baru justru membatasi peran pemerintah guna membuat tatanan demokratis melalui kebebasan berpendapat sesuai yang diatur dalam UUD 1945.

UU Penyiaran saat itu mengamanatkan adanya lembaga yang berfungsi sebagai pengawas dan membentuk regulasi bagi setiap dinamika penyiaran di Indonesia. Oleh karenanya, lahir KPI sebagai lembaga independen non-pemerintah yang bertugas mengawasi penyiaran. Hal ini diharapkan oleh masyarakat agar adanya kepastian hukum, diperolehnya isi siaran yang bermanfaat, menjamin masyarakat mendapatkan hak-haknya mendapatkan informasi secara bebas dan adil,

(20)

menjamin kemandirian lembaga penyiaran, dan dapat melibatkan masyarakat dalam mengelola lembaga-lembaga penyiaran. Secara gamblang UU Penyiaran memberikan KPI kewenangan yang dituangkan di Pasal 8 Ayat (2):

1. Menetapkan standar program siaran

2. Menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran;

3. Mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran;

4. Memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran;

5. Melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan Pemerintah, lembaga penyiaran, dan masyarakat.

Berdasarkan kewenangan tersebutlah lalu lahir P3SPS.

P3SPS 2012 adalah regulasi penyiaran yang digunakan siaran dan lembaga penyiaran di Indonesia saat ini menggantikan P3SPS 2004.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis isi yang merupakan studi tentang isi dengan mengacu pada makna, konteks, dan maksud yang terkandung dalam pesan.

Teori analisis isi Holsti adalah teknik untuk membuat kesimpulan secara sistematis dan obyektif dengan cara mengidentifikasi karateristik khusus suatu pesan.

Klaus Krippendorff mendefinisikan analisis isi sebagai teknik penelitian yang dimanfaatkan untuk menarik

(21)

kesimpulan yang Reflicable atau Reflicarfi (yang dapat ditiru) dan shahih dari data atas dasar konteksnya.9

Dengan latar belakang di atas, penulis memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian yang berjudul

“Analisis Isi Nilai-Nilai Islam Dalam Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis membuat identifkasi masalah agar lebih merinci dan jelas, yakni:

1. Ada atau tidak nilai-nilai Islam yang terdapat pada standar program siaran?.

2. Nilai-nilai Islam mana yang dominan dalam standar program siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)?.

C. Batasan dan Perumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti membatasi masalah ini agar tidak melebar luas, maka pembatasan permasalahan yang diambil dari penelitian ini adalah nilai-nilai Islam apa saja yang terkandung pada ayat-ayat yang terdapat dalam Standar Program Siaran tahun 2012.

9 Klaus Krippendorf, Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodolog, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), h. 56

(22)

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Berapa banyak persentase isi nilai-nilai Islam dalam kategori akidah?

2. Berapa banyak persentase isi nilai-nilai Islam dalam kategori syariah?

3. Berapa banyak persentase isi nilai-nilai Islam dalam kategori akhlak?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui berapa besar jumlah nilai-nilai Islam dalam kategori akidah pada standar program siaran.

2. Untuk mengetahui berapa besar jumlah nilai-nilai Islam dalam kategori syariat pada standar program siaran.

3. Untuk mengetahui berapa besar jumlah nilai-nilai Islam dalam kategori akhlak pada standar program siaran.

Sedangkan manfaat yang diharapkan oleh penulis dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi penulis dan pembaca khusunya pada penelitian dalam bidang ilmu dakwah dan ilmu komunikasi.

Serta dapat menjadi bahan referensi pada Mahasiswa Ilmu

(23)

Dakwah dan Ilmu Komunikasi maupun pihak lain yang berhubungan dengan judul penelitian ini.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang positif dalam perkembangan studi tentang komunikasi dan juga tentang nilai-nilai Islam. Khususnya bagi peneliti dan akademisi serta umumnya bagi masyarakat luas. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi awal bagi penelitian serupa dimasa yang akan datang.

E. Tinjauan Kajian Terdahulu

Dalam menyusun skripsi ini, pada tahap awal penulis melakukan pengkajian dari penelitan-penelitian terdahulu yang memiliki kedekatan judul dengan skripsi yang akan penulis teliti. Hal ini dilakukan guna untuk mengetahui agar skripsi yang penulis tulis berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Berikut beberapa karya ilmiah yang memiliki kedekatan judul terhadap skripsi yang ditulis penulis, antara lain:

1. Skripsi yang dibuat oleh Syifa Khairani pada tahun 2018 yang merupakan mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, yang berjudul “Standarisasi P3SPS KPI Pada Program Indonesia Bagus NET TV”. Persamaan dengan skripsi ini sama-sama membahas P3SPS. Perbedaannya penelitian menggunakan metode kualitatif, sedangkan peneliti menggunakan kuantitatif.

(24)

2. Skripsi yang dibuat oleh Muhammad Fiqri Fahrizal Yusuf pada tahun 2018 yang merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang berjudul

“Analisis Isi Pesan Dakwah Dalam Serial Kartun Upin Dan Ipin”. Persamaan dengan skripsi ini sama-sama menganalisis isi pesan dan sama-sama menggunakan metode Kuantitatif. Perbedaannya peneliti menggunakan objek serial kartun Upin dan Ipin, sedangkan peneliti menggunakan Standar Program Siaran (SPS) Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat.

3. Skripsi yang dibuat oleh Wildah pada tahun 2011 yang merupakan mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang berjudul “Analisis Isi Pesan Dakwah Dalam Naskah Drama Qasidah Berzanji Karya Ws Rendra”. Persamaan dengan skripsi ini sama-sama menganalisis isi pesan dan sama-sama menggunakan metode Kuantitatif. Perbedaannya peneliti menggunakan objek naskah drama Qasidah Berzanji, sedangkan peneliti menggunakan Standar Program Siaran (SPS) Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat.

Berdasarkan dengan penelitian diatas, dalam penelitian ini berbeda pada sasaran subjek yang akan penulis teliti dan fokus pada Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat.

(25)

F. Sistematika Penulisan

Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang hal-hal yang diuraikan dalam penelitian ini, maka penulis membagi sistematika penyusunan ke dalam lima bab. Di mana masing- masing bab dibagi ke dalam sub-bab dengan penulisan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menjelaskan secara umum teoritis mengenai pengertian analisis isi, pengertian nilai- nilai Islam, aspek nilai-nilai Islam, Pengertian standar program siaran dan analisis isi nilai-nilai Islam.

BAB III METODE PENELITIAN

Berisi tentang tempat dan waktu penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data

BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA

Dalam bab ini berisi temuan dan analisis isi nilai- nilai Islam yang berkaitan dengan bab pelarangan dan pembatasan seksualitas pada standar program siaran.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini peneliti akan memberikan kesimpulan dan saran berdasarkan hasil penelitian.

(26)

13 A. Pengertian Analisis Isi

Analisis isi (content analysis) merupakan teknik penelitian alternatif bagi kajian komunikasi yang cendrung lebih banyak mengarah pada sumber (source) maupun penerima pesan (receiver).10 Analisis isi adalah studi tentang isi dengan mengacu pada makna, konteks, dan maksud yang terkandung dalam pesan. Teori analisis isi Holsti adalah teknik untuk membuat kesimpulan secara sistematis dan obyektif dengan cara mengidentifikasi karateristik khusus suatu pesan. Klaus Krippendorff mendefinisikan analasis isi sebagai teknik penelitian yang dimanfaatkan untuk menarik kesimpulan yang Reflicable atau Reflicarfi (yang dapat ditiru) dan shahih dari data atas dasar konteksnya.11

Penggunaan analisis isi dilakukan jika seorang peneliti ingin memperoleh keterangan dari isi komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang. Analisis isi dapat juga digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi seperti surat kabar, buku, film, puisi, lagu, cerita, lukisan, pidato, surat, peraturan, undang-undang, musik, iklan, dan sebagainya.12

10 M. Antonius, Metode Penelitian Komunikasi : Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta: Gitanyali, 2004), h.146

11 Klaus Krippendorf, Analisis Isi : Pengantar Teori dan Metodolog, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), h. 56

12 Jumroni dan Suhaimi, Metode-Metode Penelitian Komunikasi, (Jakarta:

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Press, 2006), h. 68

(27)

Adapun lima tujuan analisis isi, antara lain: (1) menggambarkan isi komunikasi, (2) menguji hipotesis karakteristik-karakteristik suatu pesan, (3) membandingkan isi media dengan “dunia nyata”, (4) melalui imej suatu kelompok tertentu dan masyarakat, (5) menciptakan titik awal terhadap studi efek media.13

Analisis isi juga dapat digunakan untuk studi-studi yang bersifat eksplorasi dan deskriptif. Hardjana menjelaskan teknik analisis isi umumnya memberikan manfaat untuk ketiga kegiatan yaitu: (1) Membuat paparan tentang apa, bagaimana, dan kepada siapa suatu komunikasi itu ditayangkan; (2) Membuat inferensi tentang anteseden mengenai sebab musabab mengapa suatu komunikasi dinyatakan; dan (3) Membuat inferensi tentang apa dampak dari komunikasi yang dinyatakan itu.14

Menurut Burhan Bugin, metode analisis isi merupakan suatu teknik sistematik untuk menganalisis isi pesan dan mengolah pesan, atau suatu alat untuk mengobservasi dan menganalisis isi perilaku komunikasi yang terbuka dari komunikator yang dipilih.15

Analisis isi adalah sebuah metode yang relatif mudah dalam kajian-kajian yang sederhana, ia tidak lebih dari

13 Andi Bulaeng, Metodologi Penelitian Komunikasi Kontemporer, (Yogyakarta: Penerbit Andi Offset, 2004), h. 171

14 Jumroni dan Suhami, Metode-Metode Penelitian Komunikasi, h. 71

15 Burhan Bungin (ed.), Metodologi Penelitian Kualitatif : Aktualisasi Metodologi Ke Arah Ragam Kontemporer, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 134

(28)

perhitungan dan fenomena. Namun karya-karya terbaik menggunakan data empiris analisis isi yang terpercaya dapat menghasilkan kontribusi yang penting dan bernilai bagi pemahaman kita terhadap teks-teks media.

Salah satu ciri penting dari analisis isi adalah objektif.

Penelitian dilakukan untuk mendapatkan gambaran dari suatu isi secara apa adanya, tanpa adanya campurtangan dari peneliti. Penelitian ini menghilangkan bias, keberpihakan atau kecenderungan tertentu dari peneliti.16

Dilihat dari pendekatan dalam analisis isi, dapat dibagi kedalam tiga bagian besar yaitu pendekatan analisis isi deskriptif, eksplanatif dan prediktif. Analisis isi deskriptif sebatas menggambarkan pesan, analisis eksplanatif berusaha untuk menghubungkan antar variabel, dan penelitian prediktif ditujukan untuk memprediksi variabel lain dengan menggunakan suatu variabel. Pada penelitian kali ini, penulis menggunakan penelitian analisis deskriptif, yaitu analisis yang dimaksudkan secara detail suatu pesan, atau suatu teks tertentu. Desain analisis ini tidak dimaksudkan untuk menguji suatu hipotesis tertentu atau menguji hubungan antar variabel.

Analisis ini hanya semata untuk deskripsi, menggambarkan aspek-aspek dan karakteristik suatu pesan.17

16 Eriyanto, Analisis Isi Pengantar Metodologi Untuk Penelitian Ilmu Komunikasi dan Ilmu-Ilmu Sosial lainnya, (Jakarta: Kencana, 2011), h.16

17 Ibid, h. 45-47

(29)

B. Nilai-Nilai Islam

1. Pengertian Nilai-Nilai Islam

Nilai merupakan sebuah pedoman yang mendasar dalam diri manusia untuk melakukan sesuatu. Nilai secara praktis merupakan sesuatu yang bermanfaat dan berharga dalam kehidupan sehari-hari. Nilai juga menjadi sebuah nilai tolak ukur kita dalam berbuat atau mengerjakan sesuatu. Nilai adalah standar dari tingkah laku yang mengikat manusia dan sepatutnya dijalankan serta dipertahankan, nilai menjadi sangat berpengaruh dalam setiap perbuatan dan penampilan seseorang. Nilai merujuk kepada kepercayaan yang relative bertahan lama akan suatu benda, tindakan, peristiwa, fenomena (yang abstrak sekalipun) berdasarkan keriteria tertentu. Kita hanya bisa menduga bagaimana kepercayaan dan nilai seseorang berdasarkan tindakannya, terutama yang konsisten dari waktu ke waktu.18

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang berguna dan penting bagi kemanusiaan.19 Nilai (Value) merupakan suatu ukuran, patokan, anggapan dan keyakinan. Hal yang demikian itu menjadi panutan banyak orang dalam suatu masyarakat tertentu agar dapat memperoleh sesuatu yang dianggap

18 Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif, Suatu Pendekatan Lintas Budaya, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 43

19 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), h. 615

(30)

pantas, luhur dan baik yang harus dilakukan atau diperhatikan oleh anggota masyarakat.

Dalam bahasa lnggris nilai adalah “value”, dalam bahasa latin “velere”, dan dalam bahasa Prancis kuno disebut “valoir”. Sehingga dapat diartikan bahwa nilai adalah hal yang bermanfaat, berlaku, dan paling benar baik dari segi kualitas maupun kuantitas menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang.20

Raths dan Kelven juga mengungkapkan hal yang serupa, sebagaimana yang dikutip oleh Sutarjo Adisusilo bahwa: “values play a key role in guiding action, resolving conflicts, giving direction and coherence to live”.21 Yang berarti bahwa, nilai memiliki peran yang penting dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai pegangan hidup, pedoman penyelesaian konflik, memotivasi dan mengarahkan pandangan hidup manusia.

Sedangkan menurut Milton Rokeach dan James Bank dalam bukunya M. Chabib Thoha mengungkapkan bahwa:

“Nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan, dimana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas untuk dikerjakan”.22

20 Sutarjo Adisusilo, JR, Pembelajaran Nilai Karakter, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2012), h. 56

21 Ibid, h. 59

22 M. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta:

Pusataka Pelajar, 1996), h. 60

(31)

Sedangkan kata Islam sepadan dengan religius berarti bersifat religi atau keagamaan, atau yang bersangkut paut dengan religi (keagamaan), dengan kata lain Islam sama halnya dengan keagamaan. Nilai keagamaan adalah konsep mengenai penghargaan tinggi yang diberikan masyarakat kepada beberapa masalah pokok kehidupan yang bersifat suci, sehingga menjadi pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat yang bersangkutan.23Nilai-Nilai keislaman itu bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Untuk itu kita tidak bisa sembarangan melakukan dan menyosialisasikan nilai-nilai keislaman. Karena harus berdasarkan kaidah Al-Qur’an dan Sunnah. Nilai-nilai Islam itu menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia, seperti dalam Al-Qur’an pun telah menyimpulkan bahwa nilai-nilai keislaman itu mencakup tiga nilai yang mewakili keseluruhan aspek kehidupan manusia, yaitu aqidah, syariat, dan akhlak.

Selanjutnya Islam adalah agama Allah SWT yang diperintahkan langsung oleh-Nya untuk mengajarkan pokok-pokok serta aturannya melalui Nabi Muhammad SAW, lalu menugaskannya untuk menyampaikan agama tersebut kepada umat manusia untuk memeluknya.24

23 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 615

24 Syaik Mahmud Syaltut, Islam Sebagai Aqidah dan Syari‟ah, terjemahan A. Gani dan B. Hamdani Ali, (Jakarta: Bulan Bintang, 1967), h. 5

(32)

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat peneliti simpulkan bahwa nilai-nilai Islam ialah sesuatu atau hal- hal yang penting dan berguna bagi kemanusiaan yang bersumber pada ajaran atau aturan yang diperintahkan oleh Allah SWT bagi umat manusia itu sendiri.

2. Aspek Nilai-Nilai Islam

Nilai-nilai Islam itu menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia, seperti dalam Al-Qur’an pun telah menyimpulkan bahwa nilai-nilai keislaman itu mencakup tiga nilai yang mewakili keseluruhan aspek kehidupan manusia, yaitu:

a. Aqidah

Aqidah menurut bahasa berasal dari kata aqada, ya‟qidu, aqdan atau aqiatan yang berarti ikatan atau sangkutan. Bentuk jama’ dari aqidah adalah aqaid yang berarti simpulan atau ikatan iman. Dari kata itu muncul pula kata i‟tiqad yang berarti tashdiq atau kepercayaan.25 Sedang dalam pengertian lainnya dapat disebut juga sebagai iman, keyakinan, kepercayaan, iman.26

Sedangkan menurut istilah, aqidah ialah iman yang kuat kepada Allah dan apa yang diwajibkan berupa tauhid (mengesakan Allah dalam peribadatan),

25 Abuddin Nata, Al-Qur‟an dan Hadits, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), h. 29

26 Endang Saifudin Anshari , Wawasan Islam Pokok-Pokok Fikiran tentang Islam dan Umatnya, (Jakarta: CV Rajawali, 1969), h. 27

(33)

beriman kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul- rasul-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruknya, dan mengimani semua cabang dari pokok-pokok keimanan ini serta hal-hal yang masuk dalam kategori berupa prinsip-prinsip agama.27

b. Syariah

Syariah adalah hukum dan perundang-undangan yang terdapat dalam Islam, baik yang berhubungan manusia dengan Tuhan maupun antara manusia dengan manusia itu sendiri.28Secara etimologis kata syari‟ah berasal dari bahasa arab yang berarti peraturan atau undang-undang yaitu peraturan- peraturan mengenai tingkah laku yang mengikat, harus dipatuhi dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.29 Seperti berpuasa, shalat lima waktu, haji, zakat dan seluruh kebijakan lainnya. Syariat Islam ialah suatu norma yang mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam lainnya.30

27 Syeikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin, Cara Mudah memahami Aqidah Sesuai al-Quran, As-sunnah dan Pemahaman Salafus Shahih, (Jakarta:

Pustaka At-Tazkia, 2006), h. 3

28Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), cet-1, h.90

29 M. Abdul Mujieb, Kamus Istilah Fiqih, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), h. 343

30 Endang Saifudin Anshari , Wawasan Islam Pokok-Pokok Fikiran tentang Islam dan Umatnya, (Jakarta: CV Rajawali, 1969), h. 28

(34)

Hukum syari’ah sering disebut juga sebagai cermin peradaban dalam pengertian bahwa ketika ia tumbuh matang dan sempurna maka peradaban mencerminkan dirinya dalam hukum-hukumnya.

Pelaksanaan syariah merupakan sumber yang melahirkan peradaban Islam, yang melestarikan dan melindunginya dalam sejarah. Syariah inilah yang akan selalu menjadi kekuatan peradaban di kalangan kaum muslimin.31

c. Akhlak

Kata akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang erat juga hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta, demikian pula makhluqun yang berarti diciptakan.32 Pada hakikatnya akhlak ialah suatu sifat yang sudah menjadi pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.33

Sedangkan pengertian akhlak menurut Al- Ghazali dalam kitabnya Ihya Umuluddin, seperti yang 
 dikutip oleh Mahyudin dalam bukunya, Kuliah

31 Ismail R. Al-Faruqi, Menjelajah Atlas Dunia Islam, (Bandung: Mizan, 2000), h. 205

32 A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Pustaka Setia, 1999), h. 11

33 Asmaran AS, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 1

(35)

Akhlak Tasawuf. Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia), yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan, tanpa melalui maksud untuk memikirkan. Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak yang baik. Tapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang buruk.34

Berdasarkan penjabaran di atas maka dapat peneliti simpulkan aspek dalam nilai-nilai Islam sangat diperlukan karena kita dapat melihat bahwa keyakinan merupakan kunci dari aspek nilai-nilai Islam tersebut. keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap sesuatu dengan berpegangan pada aqidah atau ajaran-ajaran Islam yang akhirnya menciptakan akhlak atau tingkah laku yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

C. Standar Program Siaran

Standarisasi merupakan penentuan ukuran yang harus diikuti dalam memproduksi sesuatu, proses pembentukan standar teknis, yang menjadi standar uji, standar definisi, prosedur standar (atau praktik), dan sebagainya. Standarisasi berasal dari kata standar yang berarti satuan ukuran yang

34Mahyuddin, Kuliah Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Kalam Mulya, 1999), h.4

(36)

dipergunakan sebagai dasar pembanding, kuantitatif, kualitatif, nilai dan hasil karya yang ada.35 Standar menjadi ukuran proses produksi dalam suatu perusahaan, agar produk tersebut dapat menghasilkan seperti yang diinginkan, menjadi pedoman agar fokus tetap pada standar yang sudah ditentukan.

Program Siaran adalah program yang berisi pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, suara dan gambar, atau yang berbentuk grafis atau karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang disiarkan oleh lembaga penyiaran. Undang-undang penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 merupakan dasar utama bagi pembentukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Standar Program Siaran adalah standar isi siaran yang berisi tentang batasan-batasan, pelarangan, kewajiban, dan pengaturan penyiaran, serta sanksi berdasarkan Pedoman Perilaku Penyiaran yang ditetapkan oleh KPI. 36 SPS ditetapkan agar lembaga penyiaran dapat menjalankaan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol, perekat sosial dan pemersatu bangsa. Standar Program Siaran bertujuan untuk, Pertama, memperkokoh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa,

35 Sulistyo Basuki, Pengantar Dokumentasi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995), h. 45

36 Sulistyo Basuki, Pengantar Dokumentasi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995), h. 39

(37)

dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera. Kedua, mengatur program siaran untuk kemanfatan sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Ketiga, mengatur program siaran agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.37

37Ibid, h. 43

(38)

25 A. Metode Penelitian Kuantitatif

1. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi Teks

Melakukan pengamatan secara langsung dan tidak terikat terhadap objek penelitian dan unit analisis dengan cara mengamati dan meneliti ayat- ayat. Kemudian mencatat, memilih, dan menganalisanya sesuai dengan model penelitian yang digunakan. Data yang diperoleh dari standar program siaran, Kemudian dipilih mana yang sesuai dengan kategori nilai- nilai Islam yang akan dipilih oleh juri yang telah ditentukan.

b. Dokumentasi

Berbentuk buku, arsip, internet, surat kabar yang penulis kumpulkan data-datanya dan mengkaji berbagai literatur yang relevansinya dengan standar program siaran.

2. Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan cara mengkategorisasikan setiap ayat yang masuk kedalam tiga aspek nilai-nilai Islam, kemudian di analisis untuk mencari nilai-nilai Islam apa yang terkandung di dalamnya. Berikut adalah tahapan-tahapan dalam menganalisa data:

a. Menurut Endang Saifudin Anshari dalam bukunya yang berjudul Wawasan Islam Pokok-Pokok Fikiran

(39)

tentang Islam dan Umatnya, nilai-nilai islam terdiri dari tiga aspek yakni aqidah, syariah, akhlak. Berdasarkan kategori tersebut, maka di buat definisi operasional sebagai berikut:

1) Pesan aqidah: hal-hal yang membahas tentang keyakinan, iman yang kuat kepada Allah dan apa yang diwajibkan 
berupa tauhid, beriman kepada Malaikat Nya, Kitab-kitab Nya, Rasul-rasul Nya, Hari Akhir, Takdir baik dan buruknya dan mengimani sebua cabang dari pokok-pokok keimanan serta hal-hal yang masuk dalam kategorinya berupa prinsip-prinsip agama.38 2) Pesan syariah: hal-hal yang memuat tentang

berbagai aturan dan ketentuan dalam Islam, baik yang berhubungan manusia dengan Tuhan maupun antara manusia dengan manusia itu sendiri.39

3) Pesan akhlak: Sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia), yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan tanpa melalui maksud untuk memikirkan. Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak baik. Tapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat maka dinamakan akhlak buruk. 40 Atau hal-hal yang membahas tentang etika, moral, budi

38 Syeikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin, Cara Mudah Memahami Aqidah Sesuai As-sunnah dan Pemahaman Salafus Shahih, (Jakarta: Pustaka At-Tazkia, 2006), h. 3

39Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), cet-1, h.90

40Mahyuddin, Kuliah Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Kalam Mulya, 1999), h.4

(40)

pekerti manusia dalam hubungan dengan tuhan, sesama manusia, dan alam sekitarnya.41

b. Memasukkan data ke dalam lembar koding sesuai dengan kategori yang telah ditentukan.

c. untuk memperoleh reliabilitas dan validitas kategori- kategori isi ayat-ayat standar program siaran dimintakan pengujian kategori kepada tiga juri untuk mengisi lembar koding dengan beberapa kategori yang telah ditentukan.

d. Hasil dari kesepakatan tim juri dijadikan sebagai koefisien reliabilitas dihitung dengan rumus Holsty,42 yaitu:

e. Koefisien Reliabilitas:

Keterangan:

2M = Nomor keputusan yang sama antar juri N1, N2 = Jumlah item yang dibuat oleh tim juri

Setelah itu diperoleh rata-rata nilai keputusan antar juri (komposit reliabilitas), dengan menggunakan rumus:

Komposit Reliabilitas:

Keterangan:

N = Jumlah juri

X =Rata-rata koefisien reliabilitas antar juri

41 Mohammad Ali Azis, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Kencana), h. 94-95

42 Jumroni dan Suhaimi, Metode-Metode Penelitian Komunikasi, (Jakarta:

UIN Press, 2006), h. 76

(41)

f. Kemudian dilakukan perhitungan prosentase mengenai nilai-nilai Islam yang dominan yang terdapat pada standar program siaran, selanjutnya menganalisa data.

Prosentase nilai-nilai Islam yang dominan dihitung dengan rumus

P =

Keterangan:

P = Prosentase F = Frekuensi N = Jumlah

B. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah Standar Program Siaran tahun 2012, sedangkan objek dari penelitian ini adalah nilai- nilai Islam.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian akan dilaksanakan salah satunya di tempat yang disetujui juri. Mengingat dalam penelitian dibutuhkan juri untuk menganalisis isi Standar Program Siaran tersebut. Adapun waktu penelitian akan berlangsung selama kurang lebih dua bulan, yakni dari bulan Juni hingga Juli 2020.

D. Pedoman Penulisan

Pedoman dalam teknik skripsi ini penulis merujuk pada buku “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi)” oleh UIN Syarih Hidayatullah Jakarta, 2017.

(42)

29

PROGRAM SIARAN KOMISI PENYIAARAN INDONESIA

A. Temuan Hasil Penelitian

Pada pembahasan bab IV ini, penulis akan menguraikan data dalam memperoleh validitas dan reliabilitas tentang isi nilai-nilai Islam dalam Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Data yang diolah berupa ayat yang mengandung nilai-nilai Islam. Pengolahan data pada Standar Program Siaran sesuai dengan kategori yang telah ditentukan, yaitu kategori Aqidah, Syari’ah dan Akhlak. Yang kemudian akan ditampilkan dalam data dan jumlah frekuensi.

Tabel 1 Kategori

No Kategori Sub Kategori 1. Aqidah a. Iman kepada Allah

b. Iman kepada Malaikat c. Iman kepada Kitab d. Iman Kepada Rasul e. Iman kepada Hari Kiamat f. Iman kepada Qadha dan Qadar 2. Syari’ah a. Muamalah

b. Ibadah

3. Akhlak a. Mahmudah

b. Madzmumah

(43)

Untuk memperoleh reliabilitas dan validitas kategori isi nilai-nilai Islam dalam Standar Program Siaran, penulis mengadakan pengujian kategori kepada 3 orang juri atau koder yang dipilih dari orang yang dipandang kredibel. Koder tersebut terdiri dari:

1. Arif Faturahman, M.Si (Bidang isi siaran KPID)

Mengawali sekolah di MI dan MTS Al Islamiyah Pulau Tidung dan melanjutkan MA di Pesantren Alhamidiyah Depok, kemudian melanjutkan S1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Fakultas Hukum Syariah konsentrasi Peradilan Agama, lalu S2 di Universitas Indonesia (UI) sekolah Stratejic Ketahanan Nasional Konsentrasi Kepemimpinan.

Pernah berkarir di KPI Pusat sebagai analisis isi siaran.

Dalam organisasi pernah aktif di Ikatan Pelajar NU (IPNU) DKI Jakarta, dan sekarang bagian dari pengurus ANSHOR.

2. Dr. H. M. Nurul Irfan, M.Ag. (Dosen Hukum Pidana Islam) Mengawali sekolah di MI Negeri, MTSN, MAN, lalu melanjutkan S1 di IAIN Jakarta, lalu S2 di IAIN Jakarta, dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau merupakan Doktor dalam bidang hukum pidana Islam dan bagian dari Dewan Pakar PSQ yang juga menjadi dosen tetap di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta. Beliau juga memiliki beberapa karya baik berupa buku, artikel, dan jurnal mengenai hukum Islam salah satu buku karya nya berjudul Hukum Pidana Islam. Beliau juga aktif di LD PBNU dan MUI Pusat.

(44)

3. Ade Rina Farida, M.Si. (Dosen Ilmu Komunikasi)

Mengawali pendidikan di SDN 1 Ciputat, MTSN 3 Pondok Pinang Jaksel, MAN Darussalam Ciamis, lalu melanjutkan S1 di IAIN Jakarta, kemudian S2 di Universitas Indonesia (UI). Beliau merupakan dosen tetap Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi bidang Ilmu Komunikasi yang mengawali karir sebagai dosen sejak 2010.

Hasil dari kesepakatan tim juri tersebut dijadikan sebagai koefisien reliabilitas.Untuk mencari koefisien reliabilitas kategori antar juri, penulis menguraikan rumus dari holsty (1969: 17-150).43

Koefisien Reliabilitas =

2M = Nomor keputusan yang sama antar juri N1+N2 = Jumlah item yang dibuat oleh tim juri M = Kesepakatan antar juri

N = Jumlah yang diteliti

Berikut adalah tabel hasil kesepakatan antar juri:

Tabel 2

Koefisien Reliabilitas Kesepakatan Antar

Juri

Item Kesepakatan Ketidak Sepakatan

Nilai

1 & 2 298 236 62 0,79

1 & 3 298 183 115 0,61

2 & 3 298 200 98 0,67

43 Jumroni, Metodologi Penelitian Komunikasi, (Jakarta: UIN Press, 2006), cet. Ke 1, h.76

(45)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kesepakatan antar juri secara keseluruhan cukup tinggi, akan dijelaskan dalam uraian sebagai berikut:

Juri I dengan Juri II;

= 0,79 Juri I dengan Juri III;

= 0,61 Juri II dengan Juri III;

= 0,67

(46)

Untuk Koefisien Reliability antar juri, yaitu antara juri I (satu) dengan II (dua) nilai yang dihasilkan adalah 0,79, dengan jumlah kesepakatan 236 item dan ketidaksepakatan 62 item. Untuk juri I (satu) dengan III (tiga) nilai yang dihasilkan adalah 0,61, dengan kesepakatan 183 item dan ketidaksepakatan 115 item. Sedangkan untuk juri II (dua) dengan III (tiga) nilai yang dihasilkan adalah 0,67, dengan jumlah kesepakatan 200 item dan ketidaksepakatan sebanyak 98 item.

Kemudian untuk menghitung rata-rata perbandingan nilai kesepakatan antar juri tersebut dihitung dengan komposit reliabilitas.

N = Jumlah juri

X = Rata-rata

(x) = 2,07: 3 = 0,69

= 0,86

Dari data di atas dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat kesepakatan juri yaitu sebesar 0,86 dan itu berarti terjadi tingkat kesepakatan yang tinggi diantara para juri.

(47)

B. Nilai Aqidah, Akhlak, Syariah dalam Standar Program Siaran

1. Nilai Aqidah

Iman menjadi dasar akhlak, dengan iman yang baik makan akan muncul akhlak terpuji begitupun sebaliknya. Aqidah adalah pokok kepercayaan dalam agama Islam. Aqidah Islam disebut tauhid dan merupakan inti dari kepercayaan. Tauhid adalah suatu kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Aqidah dalam Islam ada 6 yaitu:

a. Iman kepada Allah

Iman kepada Allah, yaitu bertauhid atau bersaksi akan adanya Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Beriman kepada Allah yakin bahwa Allah SWT satu, Esa, dan tempat bergantung artinya kita percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan hanya kepada-Nya lah kita menyembah dan memohon pertolongan. Sehingga apapun yang kita lakukan dan dimanapun kita berada selalu sadar bahwa Tuhan kita hanya satu yaitu Allah SWT.

b. Iman kepada Malaikat

Malaikat adalah salah satu jenis makhluk Allah yang ia ciptakan khusus untuk taat dan beribadah kepada-Nya. Iman kepada malaikat adalah rukun iman yang kedua. Maksudnya, meyakini secara pasti bahwa Allah mempunyai para malaikat yang diciptakan dari nur, tidak pernah mendurhakai apa yang Allah

(48)

perintahkan kepada mereka dan mengerjakannya setiap yang Allah perintahkan kepada mereka.

Malaikat yang wajib kita ketahui ada sepuluh beserta tugasnya yaitu Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada selurh Rasul Allah, Mikail bertugas memberikan Rizki kepada makhluk Allah yang ada di alam semesta, Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat, Izrail bertugas mencabut nyawa seluruh makhluk hidup, Munkar bertugas menanyakan di alam kubur orang yang semasa hidupnya berbuat buruk, Nakir bertugas menanyakan di alam kubur orang yang semasa hidupnya berbuat baik, Raqib bertugas mencatat amal baik semasa hidupnya, Atid bertugas mencatat amal buruk semasa hidupnya, Malik bertugas menjaga pintu neraka, Ridwan bertugas menjaga pintu surga.

c. Iman kepda kitab-kitab Allah

Beriman kepada Allah berarti juga beriman kepada kitab-kitab Allah maksudnya membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada hamba-hamba- Nya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas. Kita wajib mengimani secara rinci kitab-kitab yang sudah disebutkan namanya oleh Allah, yakni Al- Qur’an dan kitab-kitab lainnya, yaitu Taurat, Zabur, dan Injil.

(49)

d. Iman kepada rasul

Sebagai makhluk yang beriman kepada Allah, kita wajib mengimani dan mengikuti Rasul-rasul Allah, karena Allah SWT mengutus Rasul sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang percaya akan Utusan-Nya.

Rasul Allah diutus kemuka bumi dengan kitab yang dibawanya masing-masing. Sesuai pada zaman diutusnya Rasul tersebut sebagai petunjuk dan pengingat bagi manusia untuk menuju jalan yang diridhai Allah. Maka dari itu barang siapa yang mengikuti dan mengimani Rasul Allah niscaya hidupnya akan bahagia dunia dan akhirat.

e. Iman kepada hari akhir

Iman kepada hari akhir merupakan sesuatu yang wajib diyakini bagi seluruh manusia, karena sesungguhnya kehidupan di dunia ini tidak ada yang abadi, semua hanyalah sementara dan titipan Allah semata. Hari akhir pasti akan terjadi, tidak ada yang bisa menghindari akan terjadinya hari akhir tersebut, semua makhluk hidup harus bersiap dengan apa yang diperbuatnya semasa hidup di dunia. Maka dari itu dengan mengimani hari akhir kita harus muhasabah diri atas apa yang kita perbuat selama hidup dan selanjutnya melakukan hal-hal yang baik untuk diri sendiri dan orang lain.

(50)

f. Iman kepada qadha dan qadar

Qadha’ adalah hukum Allah, yang telah dia tentukan untuk alam semesta ini, dan dia jalankan alam ini sesuai dengan konsekuensi hukum-Nya. Dari sunah-sunah yang Dia kaitkan antara akibat dan sebab- sebabnya . adapun qadar adalah takdir, yaitu menentukan atau membatasi ukuran segala sesuatu sebelum terjadinya dan menulisnya.

Berikut ini adalah tabel hasil analisis nilai yang mengandung kategori nilai Aqidah:

Tabel 3

Rincian Hasil Penelitian Kategorisasi Nilai Aqidah N = 7

No Kategorisasi Nilai Aqidah

Frekuensi Data

Prosentase

1. Iman Kepada Allah

7 100

Jumlah 7 100

Salah satu nilai yang berkaitan dengan Iman kepada Allah SWT:

“Memperkokoh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera.” (Bab 2/

Pasal 2/ Ayat 1).

(51)

Nilai yang ingin disampaikan dalam Standar Program Siaran ini adalah terbentuknya sebuah bangsa atau negara yang dilandasi kepercayaan terhadap sang pencipta atau keimanan kepada Allah sehingga dapat terbentuknya bangsa yang mandiri, demokratis, adil, sejahtera, dan kokoh.

Contoh kasus pelanggaran terjadi pada tanggal 28 september 2020 oleh program siaran “Siraman Qolbu Bersama Ustadz Dhanu” yang ditayangkan oleh stasiun MNCTV mulai pukul 06.34 WIB menampilkan visual seorang wanita a.n. Ida Farida yang mengalami kesurupan. Dalam tayangan tersebut, terdapat adegan percakapan seorang pria a.n. Ustadz Dhanu dengan seorang wanita a.n. Ida Farida yang sedang mengalami kesurupan tersebut. Bahwa berdasarkan Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran Pasal 37 Ayat (4) huruf b, program siaran klasifikasi R dilarang menampilkan muatan yang mendorong remaja percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktek spiritual magis, supranatural, dan/atau mistik.

2. Nilai Syari’ah

Nilai Islam yang bersifat Syari’ah ini sangat luas dan mengikat seluruh umat Islam. Kelebihan dari materi syari’ah bahwa ia tidak dimiliki umat-umat yang lain

(52)

karena ia merupakan jantung yang tak terpisahkan dari kehidupan umat Islam di berbagai penjuru dunia. Syari’ah terdiri dari Ibadah dan muamalah berikut penjelasnnya:

a. Ibadah

Ibadah menurut bahasa artinya tunduk, ikut, dan doa.44 Ibadah dibagi ke dalam dua kategori yaitu ibadah muqaiyadah dan ibadah mutlaqah. Ibadah muqaiyadah adalah ibadah yang tatacara pelaksanaannya telah diatur secara terperinci dalam syarak, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah mutlaqah adalah ibadah yang tatacara pelaksanaannya tidak diatur secara terinci dalam syarak.

b. Muamalah

Muamalah adalah segala peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam hidup dan kehidupan.45 Pengertiannya muamalah adalah hukum Allah untuk mengatur manusia dalam kaitannya dengan urusan duniawi dalam pergaulan sosial.

Berikut ini adalah hasil analisis nilai yang mengandung Syari’ah menurut kesepakatan juri, yaitu:

44 Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al- Ikhlas, 1983), h. 60-61.

45 Abdul Madjid, Pokok-pokok Fiqh Muamalah dan Hukum Kebendaan dalam Islam, (Bandung: IAIN Sunan Gunung Djati, 1986), h. 1.

(53)

Tabel 4

Rincian Hasil Penelitian Kategorisasi Nilai Syari’ah N = 227

No Kategorisasi Nilai Syari’ah

Frekuensi Data Prosentase

1. Muamalah 227 100

Jumlah 227 100

Prosentase Muamalah:

P = 100%

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai yang dominan pada kategori Syari’ah, yaitu Muamalah dengan prosentase sebesar 100%.

Syari’ah dalam Islam, berhubungan erat dengan amal lahir (nyata) dalam rangka mentaati semua peraturan atau hukum Allah guna mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Salah satu nilai yang berkaitan dengan muamalah adalah:

“Tidak melakukan labelisasi berdasarkan suku, agama, ras, dan/atau antargolongan terhadap pelaku, kerabat, dan/atau kelompok yang diduga terlibat.” (18 / 45 / 2).

Nilai yang ingin disampaikan di atas adalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai ras, suku, bangsa, dan agama. Dengan perbedaan

(54)

tersebut dapat menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki toleransi tinggi serta tidak membedakan sesama makhluk karena kita merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain serta tidak menjatuhkan satu sama lain karena semua makhluk sama dihadapan-Nya.

Salah satu nilai yang mengandung nilai Syari’ah lain:

“Program siaran jurnalistik tentang peliputan bencana atau musibah wajib mempertimbangkan proses pemulihan korban, keluarga, dan/atau masyarakat yang terkena bencana atau musibah.”( 18 / 49 / 1).

Pada bab 18 Pasal 49 Ayat 1 nilai yang ingin disampaikan adalah Dalam meliput korban bencana alam harus mempertimbangkan kondisi psikologis korban karena bisa jadi korban memiliki trauma terhadap bencana yang terjadi. Oleh sebab itu penting untuk memperhatikan kondisi korban sebelum meliput suatu berita bencana alam.

Contoh kasus pelanggaran terjadi pada 20 September 2020 oleh program siaran “Apa Kabar Indonesia Malam” yang ditayangkan oleh stasiun tvOne mulai pukul 18.49 WIB terdapat pemberitaan “Aksi Bejat Oknum Polisi” di Pontianak, Kalbar yang menampilkan wajah korban pelecehan seksual. Bahwa berdasarkan Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor:

02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran Pasal 43 huruf f, program siaran bermuatan kekerasan dan/atau kejahatan dalam program siaran jurnalistik wajib mengikuti ketentuan yakni menyamarkan gambar wajah dan identitas korban kejahatan seksual dan keluarganya,

Gambar

Tabel  1   Kategori ....................................................................
Tabel  1  Kategori
Tabel  6   Hasil Prosentase Data
TABEL RINCIAN KATEGORISASI NILAI AKIDAH  NO  BAB/
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kedua KPID Provinsi Jawa Tengah menggunakan media dalam mensosialisasi P3 (Pedoman Perilaku Penyiaran) dan SPS (Standar Program isi siaran) salah satunya

Peran Komisi Penyiaran Indonesia dalam menanggulangi siaran yang mengandung kekerasan di Televisi adalah KPI harus melakukan pengaturan, pengawasan, serta

Lembaga penyiaran swasta yang tidak menyediakan waktu siaran untuk program siaran iklan layanan masyarakat paling sedikit 10% dari seluruh waktu siaran iklan niaga

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan isi adegan apa dan frekuensi adegan yang paling banyak melanggar Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan Kewenangan Komisi Penyiaran Indonesia, dalam menjalankan fungsi pengawasan siaran kampanye pemilihan umum Presiden dan

Lembaga penyiaran swasta yang tidak menyediakan waktu siaran untuk program siaran iklan layanan masyarakat paling sedikit 10% (sepuluh pers eratus) dari seluruh waktu siaran

Maraknya perindustrian penyiaran di tanah air, sehingga diperlukan adanya sebuah peraturan untuk menyelenggarakan penyiaran dan menghasilkan kualitas siaran serta

Penelitianiniberjudul “Kecenderungan Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Media Televisi Yang Dimuat Di Website kpi.go.id” Sebuah stud ianalisisisi