• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sintesis Koagulan Cair Berbasis Lempung Alam Cengar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sintesis Koagulan Cair Berbasis Lempung Alam Cengar"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Sintesis Koagulan Cair Berbasis Lempung Alam Cengar

Muhdarina

1*

, S.Bahri

2

, Nurhayati

1

, T.A.Amri

1

, A.Hamid

1 1

Jurusan Kimia Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau 2

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik, Universitas Riau [email protected]

Abstrak. Lempung alam mengandung oksida-oksida aluminium dan besi sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan pemula untuk menghasilkan koagulan. Lempung alam Cengar dikalsinasi selama 3 jam pada temperatur 500oC. Koagulan cair telah diperoleh melalui pelindian lempung Cengar terkalsinasi menggunakan larutan H2SO4 40%. Pengaruh

konsentrasi pelindi, temperatur dan waktu pelindian selama proses pelindian dipelajari. Konsentrasi ion Al(III) dan Fe (III) yang ada di dalam koagulan cair ditentukan secara spektroskopi serapan atom. Konsentrasi ion-ion Al dan Fe di dalam koagulan cair meningkat sesuai dengan peningkatan konsentrasi asam pelindi. Temperatur dan waktu pelindian menunjukkan kesan yang bervariasi terhadap konsentrasi Al(III) dan Fe(III) di dalam koagulan cair. Umumnya pada temperatur 60oC jumlah Al(III) dan Fe(III) dalam koagulan cair dijumpai lebih sedikit, sedangkan dengan perpanjangan waktu pelindian sampai dengan 180 menit, jumlah Al(III) dan Fe(III) bertambah hanya pada konsentrasi 0,6 mol asam pelindi. Dengan demikian didapat koagulan cair dengan konsentrasi Al(III) dan Fe(III) maksimal pada kondisi pelindian: konsentrasi 0,6 mol, temperatur 30oC dan waktu 60 menit dengan konsentrasi Al(III) dan Fe(III) masing-masing sebanyak 23,93 mg/L dan 34,99 mg/L.

Kata Kunci: Oksida aluminium, oksida besi, kalsinasi, pelindian, koagulan cair, lempung alam.

PENDAHULUAN

Lempung merupakan salah satu mineral alam yang berpotensi untuk dikembangkan. Lempung alam Cengar yang dijumpai di Kuantan Singingi dilaporkan mengandung mineral kaolinit dan muskovit serta kuarsa sebagai material non lempung dengan kandungan oksida-oksida seperti di dalam Tabel 1.

Lempung ini telah banyak dipelajari kemampuannya sebagai adsorben. Setelah diaktivasi dengan garam amonium asetat dan amonium klorida, lempung Cengar dapat mengadsorpsi kation-kation seperti Cu(II), Co(II), Ni(II). Lempung Cengar terpilar- aluminium mampu mengadsorpsi Cu(II) lebih tinggi dari pada aktivasi dengan garam [6]. Interkalasi lempung terpilar ini dengan kation Co(II) dan Ni(II)

menghasilkan padatan nanopartikel Co2O3

dan NiO. Semua hasil tadi didasarkan

karena kemampuan lempung alam

mempertukarkan sejumlah kation yang dimilikinya.

Selain itu, adanya oksida logam

khususnya oksida Al dan Fe, menyebabkan lempung alam juga berpotensi sebagai

sumber koagulan. Lempung bentonit

digunakan sebagai pembantu kerja

koagulan garam logam prahidrolisis untuk

mereduksi biaya pengolahan air .

Kombinasi mineral lempung dengan

koagulan FeCl3 lebih efisien untuk

mengurangi kadar COD dalam limbah detergen dari pada menggunakan koagulan

FeCl3 saja. Mineral lempung juga

merupakan koagulan tambahan yang lebih

ekonomis dibandingkan polielektrolit

(anionic 1858 S) untuk membantu kerja

(2)

TABEL 3 Kadar oksida di dalam lempung Cengar Oksida Kadar, % SiO2 77,92 Al2O3 14,73 Fe2O3 1,01 MgO CaO Na2O K2O 0,92 0,09 1,69 2,39

Koagulan merupakan senyawa yang mempunyai peran penting dalam proses pengolahan air permukaan. Senyawa ini bekerja dalam proses koagulasi untuk

menyisihkan partikel koloid, padatan

tersuspensi dan komponen organik dari air baku. Koagulan juga berperan untuk membuang logam berat, bahan beracun atau limbah berbahaya, termasuk pemucatan. Proses koagulasi dapat digunakan sebagai metoda pendahaluan atau pasca pengolahan untuk proses pemucatan. Tujuan utama

proses koagulasi adalah untuk

mendestabilisasi partikel yang bermuatan negatif di dalam air agar dapat bergabung dengan partikel lain yang bermuatan positif untuk membentuk agregat yang lebih besar sehingga lebih mudah mengendap dan lebih mudah disisihkan melalui proses filtrasi.

Garam-garam Al(III) dan Fe(II) atau Fe(III) tergolong partikel yang dapat mendonorkan muatan positif dan sering digunakan dalam pengolahan air untuk menghilangkan kekeruhan dan warna dalam proses pengolahan air [12]. Dalam proses koagulasi, kedua garam ini kebanyakan

digunakan sebagai koagulan padat.

Penelitian ini akan mensintesis koagulan cair Fe/Al dengan memanfaatkan bahan dasar lempung alam Cengar. Pengaruh konsentrasi asam pelindi, temperatur dan

waktu pelindian dipelajari untuk

mendapatkan koagulan cair dengan

kandungan Al(III) dan Fe(III) maksimum. METODE PENELITIAN Bahan dan Alat

Bahan baku lempung Cengar tersedia di laboratorium. Bahan kimia dan peralatan

yang digunakan adalah H2SO4 (e-Merck),

atmospheric furnace Vulcan TM seri

A-130, hot plate stirrer, vacuum pump Brinkmann B-169, spekrofotometer serapan atom AAS Ray Leight.

Kalsinasi dan Pelindian Lempung

Cengar

Sebelum pelindian, lempung Cengar digerus dan diayak dengan ukuran (x mesh) 100 < x < 200. Kemudian lempung

dikalsinasi pada temperatur 500oC selama 3

jam di dalam furnace atmosferis. Sebanyak 15 g sampel lempung diekstraksi ke dalam

180 mL H2SO4 40% sebanyak 0,2 mol.

Campuran diaduk dengan kecepatan 700

rpm selama 60 menit pada temperatur 30oC

dan diakhiri dengan penyaringan secara vakum menggunakan buchner dengan

kertas saring whatman 42. Padatan

disimpan untuk keperluan lain, sedangkan filtratnya adalah koagulan cair. Koagulan cair lain diperoleh melalui tahapan yang sama, dengan membedakan konsentrasi

larutan pelindi H2SO4 (0,4 dan 0,6 mol),

temperatur (60 dan 100oC) serta waktu

pelindian (120 dan 180 menit). Karakterisasi Koagulan Cair

Semua filtrat hasil pelindian yang merupakan koagulan cair dianalisis secara spektroskopi serapan atom (SSA) untuk menentukan konsentrasi ion Al(III) dan Fe(III) yang ada di dalam koagulan cair tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN Prestasi Kadar Asam Pelindi

Pada Gambar 1 disajikan hubungan

antara konsentrasi H2SO4 pelindi dengan

konsentrasi Al(III) dan Fe(III) dalam

koagulan cair pada semua variasi

temperatur dan waktu pelindian 60 menit. Umumnya terdapat hubungan sebanding

antara konsentrasi H2SO4 dengan

(3)

GAMBAR 18 Konsentrasi asam pelindi versus konsentrasi Al(III) dan Fe(III) dalam koagulan cair pada waktu pelindian 60 menit.

koagulan cair yang diperoleh. Hal yang sama juga diperoleh pada waktu pelindian lebih tinggi, 120 dan 180 menit (gambar

tidak ditampilkan). Konsentrasi asam

pelindi yang semakin besar menyebabkan semakin banyak interaksi yang terjadi antara agen pelindi dengan ekstraktan dalam lempung, sehingga semakin banyak pula kation Al(III) dan Fe(III) yang

dihasilkan dalam koagulan cair.

Kecenderungan yang sama ditunjukkan dari ekstraksi Al(III) dari Udi clay dalam larutan

HNO3 [13] dan Saudi clay menggunakan

H2SO4 [14]. Namun, laporan yang lain

menyebutkan kondisi optimum ekstraksi Al dan Fe dari lempung lokal Kecamatan Paminggir bertambah pada konsentrasi

tertentu H2SO4 dan menurun jika jumlah

mol H2SO4 ditingkatkan[15], demikian juga

ekstraksi Al(III) dari Lampang clay [16]. Perbedaan ini diduga karena kandungan mineral di dalam setiap lempung berbeda-beda, tergantung kondisi geografis lempung tersebut ditemukan.

Prestasi Temperatur Pelindian

Variasi temperatur pelindian terhadap konsentrasi Al(III) dan Fe(III) yang dihasilkan dalam koagulan cair diamati pada berbagai konsentrasi H2SO4 dan

waktu 60 menit ditunjukkan pada

GAMBAR 2. Hasil penelitian mendapatkan konsentrasi Al(III) dan Fe(III) cukup bervariasi di dalam koagulan cair dari

lempung Cengar. Untuk konsentrasi pelindi 0,2 mol H2SO4 didapati konsentrasi Al(III) dan Fe(III) di dalam koagulan cair berkurang dengan kenaikan temperatur. Disamping itu nampak pula konsentrasi Al(III) dan Fe(III) yang terektraksi dari

lempung Cengar cukup besar pada

konsentrasi asam 0,6 mol. Umumnya kenaikan temperatur berpengaruh pada peningkatan mobilitas atau energi kinetik molekul. Dalam hal ini, besarnya energi kinetik menyebabkan molekul H2SO4 secara aktif menyerang molekul alumina dan ferri oksida dari fasa padat lempung Cengar, sehingga Al(III) dan Fe(III) yang terekstraksi meningkat. Namun jika ada hal lain yang mengganggu, seperti adanya logam lain dalam fasa padat, maka aktivitas reaksi yang diharapkan akan terganggu pula, akibatnya interaksi yang dihasilkan juga akan menyimpang dari biasanya. Dalam lempung Cengar, selain oksida Al dan Fe ditemui pula oksida-oksida lain seperti Mg, Ca dan Na (Tabel 1). Pelindian

pada temperatur tinggi menyebabkan

oksida-oksida Mg, Ca dan Na ikut terekstraksi, artinya sebagian asam pelindi juga digunakan untuk melarutkan oksida ini. Penelitian lain umumnya menunjukkan pola yang normal. Ekstraksi Al(III) dari Udi clay dengan HNO3 terus bertambah sampai dengan temperatur 70oC [13], ekstraksi Al(III) dan Fe(III) dari Lampang clay dengan H2SO4 semakin meningkat dari temperatur 60oC - 100oC [16]. Sementara itu konsentrasi Al(III) dan Fe(III) dalam koagulan cair dari lempung Paminggir

meningkat sampai dengan temperatur

pelindian 100oC, tetapi jika temperatur dinaikkan ternyata konsentrasi Al(III) dan Fe(III) berkurang [15].

Prestasi Waktu Pelindian

Hubungan antara waktu pelindian lempung Cengar dengan konsentrasi Al(III) dan Fe(III) pada berbagai temperatur pelindian dan konsentrasi 0,6 mol pelindi ditunjukkan

pada GAMBAR 3. Umumnya

Al (I II ) & Fe (III) , m g/ L

Konsentrasi asam, mol

Al; 30oC Fe; 30oC Al; 60oC Fe; 60oC Al; 100oC Fe; 100oC

(4)

GAMBAR 2 Temperatur pelindian lempung Cengar

versus konsentrasi Al(III) dan Fe(III) dalam koagulan cair pada waktu pelindian 60 menit.

GAMBAR 3Waktu pelindian lempung Cengar versus konsentrasi Al(III) dan Fe(III) dalam koagulan cair pada konsentrasi pelindi 0,6 mol

konsentrasi Al(III) dan Fe(III) dalam koagulan cair tidak mengalami banyak

peningkatan jika waktu pelindian

ditingkatkan dari 60 menit sampai dengan 120 menit, bahkan 180 menit sekalipun. Dengan demikian waktu 60 menit dapat

direkomendasikan untuk mengekstraksi

sejumlah Al(III) dan Fe(III) dari lempung Cengar agar diperoleh koagulan cair.

Kecenderungan yang sama juga

ditunjukkan pada ekstraksi Al(III) dari Lampang clay menggunakan 3 molar H2SO4

KESIMPULAN

Penelitian ini menyimpulkan bahwa koagulan cair dapat diperoleh melalui

proses pelindian lempung Cengar

menggunakan senyawa pelindi H2SO4 40%. Konsentrasi Al(III) dan Fe(III) dalam

koagulan cair meningkat dengan

penambahan konsentrasi H2SO4 dalam proses pelindian, sebaliknya konsentrasi berkurang dengan kenaikan temperatur pelindian. Sementara itu waktu pelindian tidak banyak mempengaruhi konsentrasi Al(III) dan Fe(III) yang muncul dalam koagulan. Konsentrasi Al(III) dan Fe(III) maksimal masing-masing sebanyak 23,93 mg/L dan 34,99 mg/L. ditemukan pada konsentrasi 0,6 mol H2SO4, temperatur 30oC dan waktu 60 menit. Koagulan cair ini direkomendasikan untuk uji proses koagulasi pada air permukaan.

UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini didanai melalui skim Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi, Desentralisasi tahun 2013. Oleh karena itu ucapan terima kasih ditujukan kepada pihak

DIRJEN DIKTI melalui Lembaga

Penelitian Universitas Riau. DAFTAR PUSTAKA

Muhdarina. Mohammad, A.W and Bahri. S. (2008). Characterization of Modified

Cengar Natural Clay. Prosiding Seminar

Nasional Teknik Kimia Oleo &

Petrokimia Indonesia, Pekanbaru, Juli 2008, ISSN 1907-0500, p1-6.

S. Bahri. Muhdarina dan A. Fitrah. (2010). Lempung Alam Termodifikasi sebagai

Adsorben Larutan Anorganik:

Kesetimbangan Adsorpsi Lempung

terhadap Ion Cu2+. Jurnal Sains dan

Teknologi, 9 (1), Maret 2010 p. 9-13.

Muhdarina. A.W. Mohammad dan A.

Muchtar. (2010). Prospektif Lempung Alam Cengar Sebagai Adsorben Polutan Anorganik Di Dalam Air: Kajian

Kinetika Adsorpsi Kation Co(II).

Reaktor, Vol. 13 No. 2, Desember 2010

(5)

Muhdarina dan S. Bahri. (2012). Isoterma Adsorpsi Cobalt(II) dari Media Air oleh Lempung Alam Cengar Secara Batch. Prosiding Seminar & Rapat Tahunan Bidang Ilmu MIPA BKS-PTN B ―Peran

MIPA dalam Pengembangan SDM dan SDA‖. Medan 11-12 Mei 2012. ISSN

978-602-9115-24-6. p 241-246.

Muhdarina. A.W. Mohammad dan

A.Muchtar. (2011). Potensi Adsorpsi Polutan Anorganik oleh Lempung Cengar: Kajian Isoterma dan Mekanisme Adsorpsi Batch Kation Ni(II) di Dalam Media Air, Prosiding SEMIRATA BKS

BARAT Bidang MIPA ke 24,

―Optimalisasi Energi untuk

Kemakmuran Negeri‖, Banjarmasin 9-10

Mei 2011, ISBN 978-6-0298-9161-4 p.19-22.

S. Bahri. Muhdarina. Nurhayati dan F.

Andiyani. (2011). Isoterma dan

Termodinamika Adsorpsi Kation Cu2+

Fasa Berair pada Lempung Cengar Terpilar. Jurnal Natur Indonesia, 14(1), Oktober 2011 p. 7-13.

Muhdarina. Nurhayati dan Suminih. (2012).

Karakteristik Padatan Co3O4-Lempung

Terpilar Alumina. Prosiding Seminar UR-UKM ke-7 2012.”Optimalisasi Riset

Sains dan Teknologi Dalam Pembangunan Berkelanjutan” .

Pekanbaru 8-10 Oktober 2012. ISBN 978-602-18936-0-9. p 25-27.

Muhdarina. Nurhayati. A. Linggawati dan

Syakiroh. (2012). Lempung Alam

Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuantan Sebagai Penyangga Katalis: Struktur

Katalisator Ni-Lempung. Artikel

Penelitian Berbasis Lab 2011-2012. repository.unri.ac.id/bitstream [akses 16 April 2013].

McCool, P (KRWA Consultant). (2009). The Use of Coagulants in Clarification Plants in Kansas. The Kansas Lifeline. March 2009 p. 58-61.

A. Aygun and Yilmaz, T. (2010). Improvement of

Coagulation-Flocculation Process for Treatment of Detergent Wastewaters

Using Coagulant Aids. International Journal

of Chemical and Environmental Engineering 1(2).

December 2010 p. 97-10.

P.A. Moussas and A.I. Zouboulis (2008). A Study on the Properties and Coagulation

Behaviour of Modified Inorganic

Polymeric Coagulant-Polyferric Silicate

Sulphate (PFSiS). Separation and

Purification Technology, 63. 2008 p.

475– 483.

A.G. El Samrani. B.S. Lartiges. E.

Montarges-Pelletier. V. Kazpard.O.

Barres and J. Ghanbaja (2004).

Clarification of Municipal Sewage with

Ferric Chloride: The Nature of

Coagulant Species. Water Research, 38 . 2004 p. 756–768.

R. O. Ajemba and Onukwuli, O. D.(2012). Dissolution Kinetics and Mechanisms of Reaction of Udi Clay in Nitric Acid Solution. Am. J. Sci. Ind. Res. 3(3). 2012 p. 115-121.

A . Al-Zahrani and M.H. Abdel-Majid (2004). Production Of Liquid Alum Coagulant From Local Saudi Clays.

JKAU: Eng. Sci, vol. 15 (1), 2004 p.

3-17.

M. R. Diana dan Notodarmojo, S. 2011. Studi Awal Pemanfaatan Lempung Lokal Paminggir sebagai Koagulan Cair. 16 Februari 2011. www.ftsl.itb.ac.id [akses Maret 2012].

P. Numluk and A.Chaisena (2012). Sulfuric Acid and Ammonium Sulfat Leaching of Alumina from Lampang Clay. E-journal

Chemistry. Vol.9 (3). 2012 p.

1364-1372. ISSN: 0973-4945; CODEN

(6)

Gambar

GAMBAR  18  Konsentrasi  asam  pelindi  versus  konsentrasi  Al(III)  dan  Fe(III)  dalam  koagulan  cair  pada waktu pelindian 60 menit
GAMBAR 2 Temperatur pelindian lempung Cengar  versus  konsentrasi  Al(III)  dan  Fe(III)  dalam  koagulan cair pada waktu pelindian 60 menit

Referensi

Dokumen terkait

Persoalan utama dalam rencana penelitian ini adalah, profilisasi seorang pemimpin perusahaan yang secara efektif mempengaruhi kinerja organisasi usaha, sehingga apa

Uzun süreli kira, intifa, ekipman, işletme ve benzer nitelikteki sözleşmelerin rekabet etmeme yükümlülüğünün süresini doğrudan etkilediği ve bu nedenle bu

konflik dan kekerasan atas nama agama lainnya, ataupun kekerasan karena perbedaan pandangan (madzhab) dalam satu agama. Fakta kekerasan ini pada dasarnya bisa dirujukkan

Berdasarkan laporan Nopiyani (2015) yang menggunakan sampel air gambut yang sama dengan penelitian ini, air gambut memiliki nilai TSS sebesar 176 mg/L sehingga

Setelah dilakukan proses koagulasi air gambut dengan 2 jenis koagulan cair tersebut didapatkan bahwa koagulan cair Al&lt;Fe lebih efektif dalam menurunkan kandungan ion Mn (II) dan

Semakin banyak ion Fe +3 maka partikel koloid yang bermuatan negatif dalam air gambut akan terikat dengan ion Fe +3 dari koagulan tersebut.. Fe memiliki jari-jari

nem különülnek el egymástól, sőt szoros kapcsolatban vannak egymással. A disz- po zíció nemcsak a beszéd nagy szerkezetét jelenti, hanem az érvek elrendezését is, ekkor

6 Pada bahasan ini kita akan membicarakan bagaimana agama sebagai fakta sosial berperan dalam membentuk solidaritas waria khususnya yang terjadi di Pondok Pesantren Waria