• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA KOAGULAN CAIR BERBASIS LEMPUNG ALAM DALAM PENGOLAHAN AIR GAMBUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KINERJA KOAGULAN CAIR BERBASIS LEMPUNG ALAM DALAM PENGOLAHAN AIR GAMBUT"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 KINERJA KOAGULAN CAIR BERBASIS LEMPUNG ALAM DALAM

PENGOLAHAN AIR GAMBUT

Addinul Fashrah1, Muhdarina2, Amilia Linggawati 2 1

Mahasiswa Program S1 Kimia FMIPA-Universitas Riau 2

Dosen Jurusan Kimia FMIPA-Universitas Riau

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya, Pekanbaru, 28293, Indonesia

[email protected]

ABSTRACT

Liquid coagulant from Cengar clay has been used for coagulation of peat water. Based on temperature differences leached, it was obtained two types of liquid coagulant that were KC80 and KC100 with pH of 1.3 which were then used for improving the color and turbidity

of peat water. KC80 contained Al and Fe of 223.7 mg L- 1 and 10.3 mg L-1, respectively. The

content of Al and Fe at KC100 were 224.9 mg L-1 and 10.5 mg L-1. Analysis results of color

and turbidity natural peat water by UV - Vis and turbidimeter were 1676 TCU and 73.4 NTU, respectively. After coagulation, KC80 was more efficient coagulant than KC100 in

reducing color and turbidity of peat water. Coagulation efficiency was obtained 83,4 % for color and 68,6 % for turbidity. Value of peat water turbidity after coagulation has met the requirements of water quality which is regulated in PERMENKES 416/MENKES/PER/IX/1990.

Keywords : Cengar clays, liquid coagulant, peat water, color, turbidity

ABSTRAK

Koagulan cair dari lempung Cengar telah digunakan untuk koagulasi air gambut. Berdasarkan perbedaan temperatur pelindian, diperoleh dua jenis koagulan cair yakni KC80

dan KC100 dengan pH 1,3 yang selanjutnya digunakan untuk memperbaiki warna dan

kekeruhan air gambut. KC80 mengandung kation Al dan Fe sebesar 223,7 mg L-1 dan 10,3

mg L-1. Kandungan Al dan Fe pada KC100 adalah 224,9 mg L-1 dan 10,5 mg L-1. Hasil

analisis warna dan kekeruhan awal air gambut dengan Spektrofotometer UV-Vis dan turbidimeter masing-masing sebesar 1676 TCU dan 73,4 NTU. Setelah koagulasi ternyata KC80 merupakan koagulan yang lebih efisien dalam mengurangi warna dan kekeruhan air

gambut. Efisiensi koagulasi yang diperoleh adalah sebesar 83,4% untuk warna dan 68,6% untuk kekeruhan. Nilai kekeruhan air gambut setelah koagulasi telah memenuhi persyaratan kualitas air bersih yang diatur dalam PERMENKES No.416/MENKES/PER/IX/1990. Kata kunci :Lempung Cengar, koagulan cair, air gambut, warna, kekeruhan

(2)

2 PENDAHULUAN

Provinsi Riau memiliki potensi sumber daya lempung yang tersebar di beberapa lokasi diantaranya di Desa Cengar Kabupaten Kuantan Singingi. Menurut Muhdarina (2011), lempung Cengar mengandung Al dan Fe masing-masing sebesar 14,37 % dan 1,01%. Kandungan Al dan Fe pada lempung berpotensi untuk dijadikan sebagai koagulan (Ramdhani dkk, 2010). Zahrani dan Majid (2004) melaporkan bahwa lempung dengan ukuran diameter 100-200 mesh yang diekstraksi dengan asam sulfat dapat menghasilkan logam Al dan Fe yang tinggi dengan persentase Al sekitar 90% dan Fe sekitar 50%. Koagulan berbasis Al dan Fe telah banyak digunakan dalam pengolahan air karena mampu mengikat partikel koloid, zat organik dan pengotor lainnya (Hamid, 2013).

Koagulan cair didapat dari lempung kalsinasi 700 °C selama 3 jam dengan pelindian menggunakan H2SO4

0,2 mol selama 2 jam pada temperatur 100 °C (Syahroni, 2014). Asam sulfat merupakan asam divalen sehingga memungkinkan pertukaran ion yang terjadi akan semakin banyak jika dibandingkan dengan asam lainnya (Zahrani, 2004).

Selain memiliki potensi sumber daya alam lempung, Provinsi Riau memiliki lahan gambut seluas ± 4,3 juta Ha (BB Litbang SDLP, 2008). Air gambut memiliki intensitas warna (berwarna merah kecoklatan) dan kekeruhan yang tinggi.

Hasil penelitian Nopiyani (2015) melaporkan bahwa air gambut Desa

Rimbo Panjang berwarna merah

kecoklatan dengan intensitas warna sebesar 6170 TCU, pH 4,9, kekeruhan

sebesar 108 NTU, serta zat organik sebesar 355,07 mg/L. Berdasarkan parameter diatas maka air gambut Desa Rimbo Panjang belum memenuhi aturan PERMENKES No.416/MENKES/PER/ IX/1990 “Tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih”.

Menanggapi permasalahan ini, maka perlu dilakukan pengolahan air gambut Desa Rimbo Panjang agar layak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu langkah yang dilakukan untuk pengolahan air gambut adalah koagulasi

dengan penambahan koagulan.

Koagulasi merupakan proses netralisasi muatan koloid dan pengikatan partikel koloid hingga membentuk partikel mikroflok (Pillai, 2004).

Penelitian ini melaporkan hasil kajian tentang kemampuan koagulan cair yang dibuat dari kalsinasi lempung Cengar pada 700 °C selama 1 jam dan temperatur pelindian 80 dan 100 °C selama 2 jam untuk memperbaiki parameter warna dan kekeruhan. Hasil penelitian yang didapatkan kemudian dibandingkan dengan persyaratan

kualitas air bersih menurut

PERMENKES No.416/ MENKES/ PER/ IX/ 1990.

METODE PENELITIAN a. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah spektrofotometri serapan atom (AAS), spektrofotometer UV-Vis (Spectroquant Pharo 300), pH meter (pen pH-009(1)), turbidimeter (Lovibond), hot plate stirrer (REXIM

RSH- IDR L120), Oven (Heraeus

Instrument D-63450), furnace

(Nabertherm tipe L31R), desikator (CSN Simax), ayakan 100 dan

(3)

3

200 Mesh, lumpang kayu, botol

sampling dan peralatan gelas lainnya yang digunakan dalam laboratorium.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air gambut Desa Rimbo Panjang, lempung alam Desa Cengar, larutan H2SO4 98%

(E-Merck), larutan buffer pH 4,7 dan 9, kertas saring Whatman No. 42 dan akuades.

b. Prosedur Kerja

1. Persiapan sampel lempung

Lempung Cengar dalam bentuk bongkahan besar direndam dengan akuades selama 2 hari dan dikering-anginkan pada temperatur kamar. Lempung yang telah kering digerus menggunakan lumpang kayu. Bubuk lempung yang telah diayak dikeringkan di dalam oven pada suhu 105 °C untuk menghilangkan kadar airnya dan

dimasukkan ke dalam desikator

kemudian ditimbang. Pengerjaan ini diulangi hingga mencapai berat konstan. Aktivasi lempung dilakukan pada suhu 700 °C selama 1 jam. Bubuk lempung disimpan dalam desikator.

2. Preparasi koagulan cair

Koagulan cair disintesis melalui proses ekstraksi lempung terkalsinasi dengan menggunakan larutan H2SO4.

Larutan H2SO4 40% diencerkan dengan

akuades hingga didapat larutan H2SO4

0,2 mol. Lempung terkalsinasi sebanyak 30 g diekstraksi dengan larutan H2SO4

0,2 mol sebanyak 360 mL. Pelindian

dilakukan menggunakan pemanas

berpengaduk magnetik pada kecepatan pengadukan 700 rpm dengan variasi temperatur 80°C dan 100°C serta waktu

kontak selama 2 jam. Campuran didiamkan selama ± 24 jam untuk mengendapkan padatan dan disaring menggunakan kertas saring Whatman No. 42. Filtrat yang didapat merupakan koagulan cair yang akan dikontakkan dengan sampel air gambut. Sebelum dikontakkan dengan sampel air gambut,

pH dari koagulan cair diukur

menggunakan pH meter. Berdasarkan variasi temperatur pelindian didapat 2 jenis koagulan, yaitu KC80 dan KC100. 3. Karakterisasi koagulan cair

Seluruh koagulan cair yang didapat

dikarakterisasi menggunakan

Spektrofotometri Serapan Atom (AAS). Konsentrasi yang akan ditentukan antara lain alumunium (Al), dan besi (Fe). Larutan standar dari masing-masing logam disiapkan untuk membuat kurva kalibrasi. Larutan sampel yang akan dianalisis disiapkan. Intensitas dari masing-masing larutan dianalisis menggunakan AAS dengan panjang gelombang 3093 nm untuk Al dan 248,3 nm untuk Fe. Selanjutnya konsentrasi dari masing-masing logam dihitung.

4. Pengambilan sampel air gambut (SNI 6989.57:2008)

Sampel air gambut diambil di sumur Bapak Burhan, salah satu warga

Desa Rimbo Panjang, Km 18,

Pekanbaru-Bangkinang. Adapun

koordinat dari tempat pengambilan sampel tersebut, yaitu pada 0o26' LU dan 101o20' BT. Kedalaman sumur ±1,5 meter dengan dinding dilapisi dengan

drum logam. Sampel diambil

menggunakan botol polietilen pada satu titik (permukaan, tengah dan dasar sumur). Sebelum pengambilan sampel,

(4)

4

alat pengambil sampel dibilas sebanyak tiga kali dengan sampel air gambut yang akan diambil. Sampel air dari ketiga sumber tersebut dikompositkan dan dimasukkan ke dalam botol polietilen dan dibalut dengan alumunium foil. Sebelum dibawa ke laboratorium, sampel air diukur pH nya. Sampel diawetkan dengan memasukkannya ke dalam kulkas sebelum dianalisis.

5. Koagulasi dan flokulasi air gambut

Sampel air gambut dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 1 L dengan volume sebanyak 500 mL. Masing-masing koagulan yang telah diukur pH

nya ditambahkan kedalam labu

Erlenmeyer sebanyak 50 mL. Campuran

diaduk menggunakan pengaduk

magnetik dengan kecepatan 160 rpm selama 2 menit, kemudian kecepatan pengadukan diperlambat menjadi 40 rpm selama 10 menit sebelum dihentikan. Campuran didiamkan selama 24 jam agar mengendap secara sempurna. Cairan bagian atas dipipet menggunakan pipet volume untuk dianalisis parameter warna dan kekeruhan.

HASIL DAN PEMBAHASAN a. Karakteristik koagulan cair

Variasi temperatur pelindian yakni 80 dan 100°C dilakukan untuk melihat pengaruh temperatur pelindian dengan asam sulfat. Konsentrasi Al dan Fe yang terekstraksi dan pH masing-masing koagulan cair yang disintesis dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik koagulan cair

Koagulan Konsentrasi kation (mg L-1)

pH Fe3+ Al3+

KC80 10,3 223,7 1,3

KC 100 10,5 224,9 1,3

Berdasarkan hasil pada Tabel 1 diperoleh jumlah kation Al dan Fe yang terekstraksi pada koagulan cair berkisar antara 223,72-224,99 mg L-1 dan 10,37-10,50 mg L-1. Perbedaan ini disebabkan oleh susunan logam pada deret Volta. Al yang letaknya lebih jauh dari H lebih bersifat reaktif dari pada Fe yang lebih dekat dengan H (Darnas, 2013). Perolehan dengan jumlah yang cukup banyak ini menyebabkan koagulan memiliki pH yang asam yaitu 1,3. Kondisi asam dari koagulan yang didapat ini disebabkan oleh penggunaan aktivator yang bersifat asam, yaitu H2SO4. Menurut Oxtoby (2003), adanya

ion Al yang bersifat amfoterik, mengakibatkan Al2O3 lebih mudah larut

dalam larutan yang asam (pH<4) dari pada SiO2, sehingga lempung dengan

kadar Al tinggi cenderung terbentuk pada pH asam.

b. Karakteristik air gambut

Sampel air gambut yang

digunakan pada penelitian ini diambil di

Desa Rimbo Panjang, Kabupaten

Kampar Riau. Hasil analisis awal

menunjukkan bahwa air gambut

memiliki warna merah kecoklatan dengan nilai sebesar 1676 TCU dan kekeruhan sebesar 73,4 NTU. Nilai ini sangat tinggi dan masih berada di luar ambang batas yang diperbolehkan

PERMENKES No.416/ MENKES/

PER/ IX/ 1990 “Tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih”.

(5)

5

Warna pada air gambut dapat disebabkan oleh adanya logam dan senyawa organik yang berasal dari degradasi tanaman. Salah satu logam yang dapat menyebabkan warna pada air gambut adalah besi (Fe) (Spellman, 2008). Logam Fe ini berasal dari dinding sumur yang telah berkarat. Selain itu, faktor yang mengakibatkan warna ini adalah cuaca pada saat pengambilan sampel. Pengambilan sampel dilakukan pada saat cuaca panas, namun dua hari sebelumnya terjadi hujan deras. Kondisi ini menyebabkan air hujan dapat melarutkan asam organik dan kation logam yang terdapat di dalam air gambut. Hal yang sama juga ditemukan oleh Nopiyani (2015).

Sementara itu, nilai kekeruhan yang tinggi bisa disebabkan karena banyaknya lumpur, tanah liat dan asam organik yang terdapat sebagai TSS. Menurut Spellman (2008) semakin banyak kadar TSS yang terdapat dalam

air gambut, maka cahaya yang

dihamburkan akan semakin besar sehingga tingkat kekeruhan air gambut akan semakin tinggi.

c. Proses koagulasi air gambut dengan koagulan cair

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk pengolahan air gambut menjadi air baku air bersih adalah dengan koagulasi. Koagulasi dilakukan dengan penambahan koagulan. Pada penelitian ini koagulan cair disintesis dari lempung alam Desa Cengar Kabupaten Kuansing. Berbagai logam yang terdapat pada lempung seperti Ca, Fe, Na, K, Al, dan Mg diekstrak menggunakan asam sulfat sehingga akan membentuk garam sulfat. Namun, garam sulfat yang berperan dalam

proses koagulasi hanya Al2(SO4)3

(aluminium sulfat) dan Fe2(SO4)3 (feri

sulfat). Garam-garam ini apabila dimasukan ke dalam air akan terionisasi menjadi Al3+ dan Fe3+. Kation trivalen seperti Al3+ dan Fe3+ memiliki konsentrasi kritis koagulasi yang lebih rendah dari kation monovalen dan bivalen sehingga lebih efisien dalam proses destabilisasi partikel koloid (Nowicki dan Nowicka, 1994).

Partikel koloid dalam air memiliki kestabilan yang tinggi sehingga akan sulit mengendap. Hal ini disebabkan karena partikel koloid umumnya memiliki permukaan yang

bermuatan negatif sehingga

menyebabkan partikel-partikel koloid akan saling tolak-menolak. Proses destabilisasi muatan listrik partikel koloid dapat terjadi dengan penambahan koagulan yang bermuatan positif

sehingga gaya tolak-menolak

antarpartikel koloid akan berkurang. Pengadukan cepat (160 rpm) yang dilakukan akan menyebabkan partikel koloid saling bergabung membentuk mikroflok. Mikroflok yang telah terbentuk akan saling bergabung membentuk makroflok yang mengendap (Eckenfelder, 2000).

Sampel air gambut sebelum pengolahan memiliki intensitas warna sebesar 1676 TCU. Warna pada air gambut ini disebabkan karena adanya senyawa koloid seperti senyawa organik yang terdispersi dan logam. Selain disebabkan oleh senyawa organik, warna pada air dapat disebabkan oleh bahan-bahan terlarut dan bahan-bahan

tersuspensi yang menyebabkan

kekeruhan (seperti pasir dan tanah), partikel/dispersi halus besi dan mangan dimana oksidanya dapat menyebabkan warna kemerahan dan kecoklatan dalam

(6)

6

air, serta partikel-partikel

mikroorganisme (Nopiyani, 2015). Koagulasi air gambut dengan 2 jenis koagulan cair yakni KC80 dan

KC100 dapat menurunkan intensitas

warna menjadi 278 dan 286 TCU dengan efisiensi penurunan sebesar 83,4% dan 82,9%. Penurunan intensitas warna ini sudah tergolong tinggi namun nilai ini belum memenuhi persyaratan kualitas air bersih yang diatur dalam PERMENKES No.416/ MENKES/ PER/ IX/ 1990. Hasil penurunan warna air gambut oleh masing-masing koagulan dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Hasil analisis parameter

warna sebelum dan

sesudah koagulasi

Kekeruhan air gambut sebelum pengolahan adalah sebesar 73,4 NTU. Nilai intensitas kekeruhan ini masih berada diluar ambang batas yang

diperbolehkan PERMENKES

No.416/MENKES/PER/IX/1990.

Kekeruhan pada air dapat disebabkan oleh adanya partikel koloid tersuspensi (TSS). Berdasarkan laporan Nopiyani (2015) yang menggunakan sampel air gambut yang sama dengan penelitian ini, air gambut memiliki nilai TSS sebesar 176 mg/L sehingga menyebabkan nilai kekeruhan yang tinggi. Menurut

Spellman (2008), senyawa koloid yang

tersuspensi akan menghamburkan

cahaya sehingga intensitas cahaya yang diteruskan akan semakin kecil dan air akan terlihat keruh. Nilai kekeruhan dapat diturunkan dengan proses koagulasi dan flokulasi. Dengan proses ini, senyawa koloid dapat diendapkan dan dipisahkan sehingga kekeruhan pada air dapat berkurang. Koagulasi air gambut dengan 2 jenis koagulan (KC80

dan KC100) memberikan hasil penurunan

menjadi 23,0 dan 28,7 NTU efisiensi penurunan sebesar 68,6% dan 60,8%.

Gambar 2. Hasil analisis parameter kekeruhan sebelum dan sesudah koagulasi

KESIMPULAN

Koagulan cair dapat dibuat dengan pelindian lempung kalsinasi 700°C menggunakan 0,2 mol H2SO4

selama 2 jam dengan variasi temperatur 80 dan 100°C. Efisiensi penurunan warna dan kekeruhan pada sampel air gambut menggunakan koagulan cair (KC80) masing-masing diperoleh sebesar

83,4% dan 68,6%. Kekeruhan air gambut setelah koagulasi dengan KC80

telah memenuhi persyaratan kualitas air bersih yang diatur dalam PERMENKES No.416/MENKES/PER/IX/1990. 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 Air gambut sebelum koagulasi KC80 KC100 Air gambut sebelum koagulasi KC80 KC100 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Air gambut sebelum koagulasi KC80 KC100 Air gambut sebelum koagulasi KC80 KC100

(7)

7 UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini berlangsung atas bantuan dana Desentralisasi Tahun Anggaran 2016 melalui Skim Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi. Terima kasih kepada Bapak Rektor melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian

Masyarakat Universitas Riau,

Pekanbaru.

DAFTAR PUSTAKA

BB Litbang SDLP. 2008. Laporan Tahunan 2008, Konsorsium Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, Bogor.

Darnas, Y. 2013. Ekstraksi Aluminium dari Tanah Lempung Gambut sebagai Koagulan Cair. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND. 10 (1) : 11-19

Eckenfelder, W. 2000. Industrial Water Pollution Control. McGraw Hill, Singapore.

Hamid, A. 2013. Efektivitas Lempung Cengar sebagai Koagulan Cair dalam Penjernihan Air Gambut. Skripsi. Universitas Riau, Pekanbaru.

Muhdarina. 2011. Pencirian Lempung Cengar Asli dan Berpilar serta Sifat Penjerapannya terhadap

Logam Berat. Disertasi,

Universiti Kebangsaan Malaysia.

Nopiyani, S. 2015. Penggunaan

Koagulan Cair dan Adsorben

Berbasis Lempung Alam

(Kalsinasi 700 oC/1 jam) dalam

Memperbaiki Air Gambut.

Skripsi. Universitas Riau, Pekanbaru

Nowicki, W., dan Nowicka, G. 1994. Verification of the Schulze-Hardy Rule. Journal of Chemical Education. 71(7) : 624-626. Oxtoby, G and Nachtrieb. 2003.

Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Erlangga, Jakarta.

Pillai, J. 2004. Flocculants and Coagulants: The Keys to Water

and Waste Management in

Aggregate Production. Nalco Company, USA.

Ramdhani, W.P, Mahmud, dan

Soewondo, P,. 2010. Kadar Aluminium (Al) Dan Besi (Fe)

Dalam Proses Pembuatan

Koagulan Cair Dari Lempung Lahan Gambut. Penelitian.

Program Studi Teknik

Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Bandung. Spellman, F.R. 2008. The Science of

Water. Edisi ke-2. CRC Press, Boca Raton.

Syahroni, R. 2014. Pengolahan Air Gambut Menggunakan Koagulan

Cair Dari Lempung Alam

Cengar. Skripsi. Universitas Riau, Pekanbaru.

(8)

8

Zahrani, A dan Majid, A. 2004. Production of Liquid Coagulant from Local Saudi Clays. JKAU Eng.Sci. 15(1) : 3-17.

Gambar

Gambar 2.  Hasil  analisis  parameter  kekeruhan  sebelum  dan  sesudah koagulasi

Referensi

Dokumen terkait

pemerintahan daerah yang menyebutkan Desa (atau dengan nama. lain) sebagai sebuah pemerintahan yang otonom

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam atau Tarikh di

Kompetensi paedagogik guru adalah kemampuan, pemahaman, dan penguasaan guru dalam mengelola pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien,

Pasien atau keluarga pasien melakukan pendaftaran membutuhkan waktu 5 sampai 7 menit. Pada tahap ini, potensi kegagalan yang mungkin terjadi adalah: 1)

(5) Beberapa aspek kelembagaan yang penting dikembangkan untuk mendukung peran lembaga SAIL dalam perbaikan lingkungan hidup adalah : (a) Penegakan sistem hukum

Pada tugas luar kelas, langkah langkah implementasi terbagi menjadi (1) guru mempersiapkan lembar pengamatan dan instrumen evaluasi, (2) guru memberikan tugas

nem különülnek el egymástól, sőt szoros kapcsolatban vannak egymással. A disz- po zíció nemcsak a beszéd nagy szerkezetét jelenti, hanem az érvek elrendezését is, ekkor

6 Pada bahasan ini kita akan membicarakan bagaimana agama sebagai fakta sosial berperan dalam membentuk solidaritas waria khususnya yang terjadi di Pondok Pesantren Waria