PERKEMBANGAN GEREJA HKBP DI PULAU SAMOSIR
1893-1913
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Sejarah
Oleh:
JONATHAN S. PARHUSIP NIM : 3103321028
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
ABSTRAK
Jonathan S. Parhusip. NIM. 3103321028. Perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir (1893-1913). Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Medan. Medan. 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang proses Perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir (1893-1913), bagaimana kondisi religi masyarakat Samosir sebelum kedatangan Johannes Warneck kesamosir dan sesudah seluruh Pulau Samosir mengenal penginjilan. Untuk mengetahui bagaimana proses perkembangan penyebaran Kekristenan dalam kehidupan Masyarakat Samosir dan hasilnya yang bisa kita nikmati kini. Penelitian ini merupakan penelitian historis dengan data kualitatif. Dengan mengumpulkan data-data, penulis melakukan penelitian kepustakaan dengan mengumpulkan buku-buku, dokumen, artikel, naskah, dan sejenisnya. Selain itu untuk mendukung data, penulis juga melakukan penelitian lapangan (field Research) dengan observasi, wawancara dan dokumentasi yang berhubungan dengan Perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir (1893-1913). Dalam penelitian ini penulis mendatangi dan mewawancarai setiap Pendeta, Pengurus Gereja, Gereja Resort yang sudah berdiri saat itu dan tokoh masyarakat yang kemungkinan mengetahui tentang perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebelum adanya Penginjil di Pulau Samosir, masyarakat sudah memiliki Tradisi Kepercayaan sendiri yang bersifat Animisme (kepercayaan terhadap roh leluhur yang sudah meninggal dan dan roh -roh Alam di sekitarnya). Setelah kedatangan Johannes Warneck di tahun 1893, menjadi babak baru dalam kehidupan masyarakat. Hingga di tahun 1914 Bangunan gereja yang menjadi tempat kebaktian dan Sekolah telah berdiri dan mengelilingi seluruh Wilayah Pulau Samosir yaitu di Nainggolan, Palipi, Pangururan, dan Ambarita.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas berkat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa karena
kasih setianya penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik
yang berjudul “Perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir 18931913”
Penulisan skripsi ini merupakan sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa guna menyelesaikan perkuliahan sehingga
dapat menyandang gelar Sarjana Pendidikan di Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh
dari sempurna baik dari segi isi dalam hal penyajian maupun teknik penulisan karena keterbatasan tertentu yang dimiliki oleh penulis. Oleh karena itu, dengan
kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan sumbangan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis menyadari betapa besar dukungan moral, material, waktu, dan tenaga dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai dan menjadi tempat curahan
penulis untuk meminta pertolongan dari semua permasalahan. Penulis sadar bahwa berkat pernyertaanNya, maka skripsi ini dapat diselesaikan
(Terima Kasih Tuhan).
2. Teristimewa terhadap kedua orangtua saya Ayahanda Jonson Parhusip dan Ibunda tercinta Nurlan Sirumapea yang telah mengajarkan arti hidup
memberikan yang terbaik berupa moril dan materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik.
3. Bapak Prof. Ibnu Hajar Damanik, M.Pd selaku Rektor Universitas
Negeri Medan.
4. Bapak Drs. Restu M.S, selaku Dekan dan seluruh citivas akademik
Fakultas Ilmu Sosial UNIMED
5. Ibu Dra. Hafnita SD. Lubis, M.Si. selaku sebagai dosen Pembimbing Skripsi, yang telah meluangkan waktu untuk memberi bimbingan
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya serta memberikan motivasi pada penulis untuk lebih baik lagi.
6. Bapak Dra. Flores Tanjung,M.A selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan di Jurusan Pendidikan Sejarah dan hingga
Penulisan Skripsi ini selalu memberikan arahan dan bimbingan bagi Penulis. Terimakasih atas dukungan dan waktunya untuk membimbing penulis selama perkuliahan. Semua ilmu yang Ibu beri pada saya akan
saya ingat dan akan saya teruskan kepada generasi selanjutnya.
7. Ibu Dra. Lukitaningsih,M.Hum selaku Dosen Ahli Pembanding Utama
skripsi penulis yang telah banyak memberikan saran, kritik, dan masukan yang membangun pengetahuan dan semangat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, dan juga selaku Ketua Jurusan yang
8. Bapak Fristi Suhendro, S.Hum, M.Si selaku Dosen Pembanding Bebas yang sudah banyak juga memberikan masukan dan saran bagi penulis agar penulisan skripsi ini baik dan selesai dengan nilai yang baik.
Dengan kelembutan Bapak mengajarkan saya sehingga saya mampu menyelesaikan skripsi ini.
9. Seluruh Dosen-dosen dan Staf administrasi di Jurusan Pendidikan Sejarah, terima kasih yang sebesar-besarnya atas jasa-jasa yang telah kalian berikan kepada penulis, selaku mahasiswa di Jurusan Pendidikan
Sejarah.
10.Terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis ucapkan kepada Abangda
tercinta Ridho Kardo Parhusip, dan adik-adikku tercinta Edoniran Parhusip, Panca Bazar Parhusip, Tiropa Oktavia Parhusip, Surung Parhusip, dan Viktor Parhusip yang selama ini telah banyak membantu
dalam segala hal dan memberi perhatian serta sumber motivasi bagi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya.
11.Terima kasih banyak penulis ucapkan juga kepada sahabat Berkat Gea dan Reinhard Situmeang yang sudah menemani penulis selama
jalan-jalan mengelilingi Pulau Samosir dengan kelaparan. Semoga kita sama-sama sukses di kemudian hari.
January, Deli, Devi, Saulina, Putri, Deva, Novi, Novia, Asima, Emmy, Rizky, Aryani, Evi, Ester. Terima kasih atas segala pengalaman yang telah kita alami bersama-sama selama kita menjalani perkuliahan dan semua pengalaman yang kita alami takkan pernah terlupakan. Sukses buat kita semua.
13.Terkhusus buat ESJA BOY. Terima kasih penulis ucapkan buat kerbersamaan kita selama ini. Sebagai teman curhat, teman jalan-jalan, teman tertawa, dan sebagai sahabat disaat ada masalah. Juga kepada basecamp kita dulu Rumah Rozi, terima kasih sudah menjadi tempat dan bagian dari cerita perjalan kita.
14.Untuk Bereku Rita Haryani Harahap, terimakasih telah sangat membantu dalam penyelesaian setiap berkas dan tempat bertanya, dan tempat mengutang pulsa.
15.Terima kasih untuk teman-teman satu Kontrakan yang sudah berpartisipasi dengan mendukung kegiatan Penulis. Terimakasih EL ma Tigan, Bg. Tison, dan Risky.
16.Terima Kasih untu GMKI Komisariat FIS UNIMED yang menjadi tempat penulis mengabdikan diri, terimakasih untuk kakanda-kakanda senior atas arahannya selama ini, terimakasih untuk rekan-rekan Pengurus Komisariat GMKI Komisariat FIS UNIMED M.B. 2013-2014, dan terimakasih untuk semua civitas GMKI atas semus Pembelajaran yang selama ini Penulis dapatkan.
17.Terima kasih untuk adek-adek Dwi Vany dan Sandra yang telah datang waktu siding, walaupun berujung Malapetaka.
19.PPL-T SMP GBKP Kaban Jahe, Maria, Delilah, Morina, Yehezkiel, Piyung, Serius, Brema, Meduk, Mulyadi, Rendy, David, dll dah. Kalian adalah keluarga kecil yang pernah menghiasi hidupku dengan
pembelajaran yang sangat berharga tentang kehidupan. Terimakasih semuanya.
20.Dan semuanya yang telah membantu saya terimakasih.
Skripsi ini bisa terselaikan berkat bantuan dan doa dari semua pihak. Dan kepada teman-teman dan pihak yang tidak bisa sebutkan satu-persatu namanya.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi semua pembaca.
Medan, Juli 2014
Daftar Isi
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii ii DAFTAR ISI ... vii vi DAFTAR TABEL DAN GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Pembatasan Masalah ... 6
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 21
A. Metode Penelitian ... 21
B. Lokasi Penelitian ... 21
C. Sumber Data ... 22
D. Teknik Pengumpulan Data ... 23
E. Teknik Analisis Data ... 23
BAB IV PEMBAHASAN ... 25
2. Penduduk ... 27
3. Pendidikan ... 30
4. Kesehatan ... 31
B.Sejarah masuknya Agama Kristen Protestan ke Pulau Samosir ... 32
1. Masuknya Misionariske Tanah Batak ... 32
2. Kedatangan Dr. Ingwer Ludwig Nommensen... 34
3. Kedatangan Johannes Warneck di Nainggolan (1867-1944) ... 40
4. Kondisi Masyarakat Samosir sebelum Kedatangan Johannes Warneck ... 42
a) Wilayah Samosir sebelum Penginjilan ... 42
b) Tradisi Kepercayaan Masyarakat Samosir sebelum Penginjilan ... 44
C.Perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir ... 46
1. Perkembangan Gereja HKBP Nainggolan (1893-1913) ... 46
2. Perkembangan Gereja HKBP Palipi (1898-1913) ... 50
3. Perkembangan Gereja HKBP Pangururan (1911-1913) ... 53
4. Perkembangan Gereja HKBP Ambarita (1913) ... 56
5. Hambatan dalam Penginjilan ... 59
D.Perkembangan Masyarakat setelah Berdirinya Gereja HKBP ... 62
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 64
A.Kesimpulan ... 64
B. Saran ... 66
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR
Tabel 1.Penduduk Kabupaten Samosir Menurut Kecamatan dan Agama tahun 2012. ... 28
Gambar 1: Persentasi Persebaran Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten
Samosir tahun 2012. ... 29
Gambar 2. Buku daftar Babtis Gereja HKBP Nainggolan tahun 1900 ... 48
Gambar 3. Kebakaran Gereja HKBP Pangururan yang dibangun Penginjil Lotz
di tahun 1913 ... 55
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.Daftar Pedoman Observasi ... 1
Lampiran 2.Daftar Informan ... 2
Lampiran 3.Foto-foto Penelitian ... 3
Lampiran 4.Foto Kabupaten Daerah Penelitian ...10
Lampiran 5.Arsip Gereja ...15
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.Daftar Pedoman Observasi ... 1
Lampiran 2.Daftar Informan ... 2
Lampiran 3.Foto-foto Penelitian ... 3
Lampiran 4.Foto Kabupaten Daerah Penelitian ...10
Lampiran 5.Arsip Gereja ...15
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu.1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.
Aritonang, Jan S. 2012. Berbagai Aliran Di Dalam dan Di Sekitar Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Berkhof, H., I.H. Enklar. 2010. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Castles, Lance. 2001. Kehidupan Polotik Suatu keresidenan di Sumatera:
Tapanuli 1915-1940. KPG: Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional .2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi
Keempat. Jakarta: Gramedia.
End,van Den. 2009. Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Hutahaean, Ramlan. 2011. Berakar, Dibangun, Tumbuh di Dalam Dia. Pematang Siantar: HKBP.
Hutauruk, J.R. 2011. Lihatlah Ladang-ladang Yang Menguning.Depok : HKBP
Distrik VIII Jawa dan Kalimantan.
Hutauruk, J.R. 2011. Lahir, Berakar, dan Bertumbuh di dalam Kristus. Tarutung :Kantor Pusat HKBP
Hutauruk. J. R. 2013. Tebarkanlah Jalamu. Tarutung: Kantor Pusat HKBP.
Joosten, Leo. 2012. Kamus Batak Toba-Indonesia: J. Warneck. Medan: Bina Media Perintis.
Kozok, Uli. 2010. Utusan Damai di Kemelut Perang. Jakarta : Obor.
Lempp, Walter.1976 .Benih Yang Tumbuh: Suatu Survey Mengenai
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosdakarya: Bandung.
Nainggolan, Togar. 2012. Batak toba: Sejarah dan Transformasi Religi. Medan:
Bina Media Perintis.
Pasaribu, Patar M. 2007.Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, Apostel di Tanah Batak. Medan: Universitas HKBP Nomensen.
Pedersen, Paul Bodholt.1975. Darah Batak dan Jiwa Protestan. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
Perret, Daniel. 2010. Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatera
Timur Laut. Jakarta: KPG.
Sangti, Batara. 1977. Sejarah Batak. Balige : Karl Sianipar Company.
Sijabat, W.B. 1982. Ahu Sisingamangaraja. Jakarta: Sinar Harapan.
Silalahi, Henry James. 2000. Pandangan Injil Terhadap Upacara Adat Batak. Medan: Kawanan Misi Kristus.
Simanjuntak, B.A. 2011. Konsepku Membangun Bangso Batak: Manusia,Agama, dan Budaya. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Sjamsudin, Helius. 2012. Metodologi Sejarah. Ombak: Yogyakarta.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Orang Batak adalah salah satu suku dari bangsa Indonesia yang tinggal pedalaman Sumatera Utara. Sumatera adalah Pulau terbesar kedua sesudah kalimantan dan terletak pada ujung Barat Indonesia. Orang Batak mendiami
dataran tinggi Bukit Barisan sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir yang terletak di tengah-tengah Pulau Sumatra. Diperkirakan bahwa pada tahun 2010
orang Batak sudah mencapai Jumlah 6.188.000 jiwa di seluruh dunia . Menurut A.Sibeth dalam Nainggolan (2012:4), Suku batak merupakan etnis terbesar
Indonesia sesudah Jawa, Sunda, Tionghoa-Indonesia, Madura, dan Melayu. Pada waktu itu penduduk indonesia sudah mencapai jumlah 237.641.326 jiwa. Suku batak terdiri dari enam sub-suku, yaitu Angkola dan Mandailing di
sebelah Selatan, Toba di pusat, Dairi dan Pakpak di sebelah Barat, Karo di sebelah utara, dan Simalungun di sebelah Timur-laut. Sub-suku Batak Toba
menjadi yang terbesar diantara sub-suku lainnya.
Jauh sebelum kedatangan bangsa Barat dan para Missionaris, Bangsa
Batak atau suku Batak sudah mempunyaiReligiatau tradisi Kepercayaan. Tradisi mengikuti aliran pemimpin terbesar pada saat itu, yaitu Raja Sisingamangaraja
yang bersifat Animisme dan Tradisi ini mengikat terhadap pola kehidupan masyarakat pada saat itu.
yang menjadi perintis Batakmission. Pada tanggal 2 November 1841 Frans Wilhem Junghun telah tiba di teluk Tapanuli sebagai Utusan pemerintah Hindia
Belandauntuk meneliti topografi, potensi wilayah dan informasi tentang
Masyarakat tanah Batak.
Hasil penelitian Junghunh yang dituangkan dalam buku Die Battalander Auf Sumatra semakin menarik perhatian Nederlands Bijbelgenotschap (NBG).
Dan mempekerjakan Herman Neubronner van der Tuuk seorang ahli bahasa untuk
meneliti bahasa Batak dan menerjemahkan Kitab Injil. Tapi Junghuhn dan van der Tuuk bukanlah Misionaris atau Penginjil. Mereka ke tanah Batak hanya
melaksanakan tugas meneliti oleh pemerintah Hindia belanda. Pada tahun 1851 van der Tuuk tiba di Tanah Batak dan menerjemahkan sebagian isi dari kitab Injil dan membuat kamus bahasa Batak. Hal ini menarik perhatian pihak Rheinische
Missionsgesselschaft (RMG) untuk menghadirkan penginjil di Tanah Batak,
ketika itu perang Banjar sedang berkecamuk di Kalimantan. Keadan tersebut
semakin mengukuhkan keinginan Direktur RMG(1857-1885) Friedrich Fabri untuk memindahkan para Missionaris dari wilayah tersebut(Kozok 2010:25).
Tapi jauh sebelum kunjungan Junghuhn ke Tanah Batak, para penginjil luar negeri telah mencoba memasuki tanah Batak untuk merintis jalan untuk
Pekabaran Injil.Ada dua nama yang umum dikenal umat kristen, yaitu Burton dan Ward. Mereka memasuki daerah Batak melalui pelabuhan Sibolga dan hanya
kemudian Juli 1834, dua penginjil Amerika, Munson dan Lymanmengikuti jejak Burton dan Ward melalui pintu masuk yang sama yaitu pelabuhan Sibolga. Ketika berjalan menuju Lembah Silindung mereka dihadang di daerah Lobu Piningoleh
sekelompok Penduduk dan dibunuh tanggal 28 juni 1834.Mereka dibunuh karena Penduduk masih trauma dengan Perang Padri yang baru berkecamuk di wilyah
tersebut dan mereka dianggap bagian dari orang-orang Padri.
Cukup lama orang tidak mendengar lagi kedatangan pekabar injil ke tanah
Batak. Upaya penyebaran Injil ke tanah Batak muncul kembali baru pada akhir abad ke-19, diantaranya bisa kita sebut namanya ialah G. Van Asselt (1857),
Dammerboer dan Betz (1859)yang berasal dari negeri Belanda, tapi dipekerjakan oleh RMG. Dan diperbantukan oleh tiga misionaris RMG yang ditarik dari wilayah penginjilan Kalimantan, yaitu Karl Klammer, Carl Wilhemn Heine, dan
Ernst Ludwig Denninger. Pada 7 Oktober 1861, empat penginjil yaitu van Asselt, Betz, Klammer, dan Heine mengadakan pertemuan untuk membicarakan
kelanjutan penginjilan di Tanah Batak. Tanggal 7 Oktober 1861 itu kini dijadikan sebagai hari jadi Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).
Ingwer Ludwig Nommensen sebagai utusan RMG yang telah mencoba merintis jalannya Injil mulai dari Barus, Tukkadolok, Rambe, Pangarutan, dan
Pasaribu. Yaitu daerah pegunungan Barus, akhirnya masuk di daerah-daerah bagian utara (1862), yang diawali dari daerah-daerah lembah silindung dan
Pertumbuhan HKBP lebih pesat setalah Ingwer Ludwid Nommensentinggal di Lembah Silindung (1864). Pekerjaan penginjilan yang dilakukan olehNommensen mendapat tantangan besar dari orang Batak. Bagi
orang Batak yangsudah dibaptis dikucilkan masyarakat Batak lainnya dari persekutuan adat yang disebut dengan Punguan.Nommensen kemudian mengumpulkan Jemaat yang pertama di “ Huta Dame ”artinya Kampung Damai.
Pada tahun 1873 Nommensen mendirikan gedungGereja, sekolah dan rumahnya sendiri di Pearaja yang letaknya ditepi lerengsawah-sawah Silindung itu. Disitulah
menetap pusat gereja batak sampai sekarangini. Sesudah itu pada tahun 1881 Nommensen ditetapkan oleh pusat RMG menjadi“Ephorus” atas usaha pekabaran
injil itu, Gelarnya itu yang artinya sebenarnyatidak lain daripada pengawas”. “Selanjutnya, Padatahun 1890 Nommensen memulai misinya ke Toba, dia pindah
keSigumpar.Nommensen memperluas pengabaranInjil kedaerah danau Toba
kampung Sigumpar. Dalam segala usaha pengabaran injil Nommensen menganggap perlu adanya pekerja-pekerja yang asalnya darisuku itu sendiri, oleh sebab itu sejak permulaan ia melakukan pengajaran untukmendidik masyarakat
Batak.
Menjelang akhir abad ke-19, HKBP telah mencapai kesuksesan dalam penginjilan di Silindung, Balige, dan Toba holbung. Tetapi Injil sama sekali
belum menyentuh wilayah Pulau Samosir.
Misionaris Muda, Johannes Warneck di Tanah Batak pada tanggal 25 November 1892 tepatnya di pantai Sibolga menjadi awal pengabaran Injil di Pulau samosir. Setelah melakukan perjalanan selama dua hari dia sampai pusat penginjilan di
Pearaja Tarutung, dan mendapat tugas pelayanan di Wilayah Pulau Samosir. Sebelum berangkat ke Samosir J.Warneck bersama rekan sealumninya Bruch
memperoleh kesempatan mengenal seluruh pos penginjilan RMG di Tanah Batak (JR. Hutauruk 2013: 2).
Setelah sampai di Balige Maret 1893, Warneck bersama Bruch dan didampingi para penginjil lainnya seperti G. Pilgrim, Pohling, dan Jung dari Toba
melakukan Observasi selama tiga hari perjalanan di daerah pulau Samosir. Dengan menggunakan Solu (perahu) mereka menyebrangi Danau Toba dan sampai di Huta Sipinggan dan Nainggolan.Setelah itu mereka kembali ke Balige
untuk merencanakan Penginjilan di wilayah Pulau Samosir, dan ini seakan babak baru dalam Pengkristenan di Tanah Batak. Hingga tahun 1913 berdirilah Pos-pos
Penginjilan mengelilingi Pulau Samosir yaitu di Palipi, Pangururan, dan Ambarita. Itulah Pos penginjilan yang berdiri hingga tahun 1940 di Samosir.
Berdasarkan latar belakang diatas yang menjelaskan bagaimana awalsejarah pengabaran Injil di tanah Batak sampai dengan berdirinyajemaat
Gereja HKBP diSamosir, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitiandengan judul “Perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir 1893-1913 ”.
Pulau Samosir kini menjadi satu wilayah pemerintahan yang disebut Distrik VII Samosir. Hingga Desember 2008 , rekapitulasi ressort pada Distrik
enam) gedung gereja HKBP. Distrik VII Samosir meliputi Palipi, Nainggolan, Ambarita, Harianboho, Onan Runggu, Simanindo, Sianjurmulamula, Tomok,
Lumban Suhisuhi, Ronggurnihuta, Pusuk Buhit, Pangururan, dan sekitarnya.
B. Identifikasi Masalah
Untuk lebih memperjelas masalah yang akan diteliti maka penulis
menetapkan Identifikasi masalah menurut latar belakang yang ada. Maka masalah yang dapat teridentifikasi yaitu;
1. Kedatangan Nomensen ke Tanah Batak, sebagai awal perkembangan Kristen di tanah Batak
2. Keadaan Masyarakat pulau Samosir setelah Kedatangan Johannes Warneck
3. Kedatangan Johannes Warneck ke Tanah Batak, sebagai awal berdiri dan berkembangnya HKBP di pulau Samosir
4. Perkembangan Gereja HKBP di Samosir hingga Tahun 1913
C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terpusat dan tidak terlalu meluas, maka penulis
menetapkan judul penelitian ini adalah : “ Perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir 1893-1913 ”.
Adapun yang menjadi objek penelitian penulis adalah gereja HKBP di
D. Rumusan Masalah
Dari batasan masalah diatas cukup jelas apa yang menjadi pokok
permasalahannya. Masalah yang sudah dibatasi harus dirumuskan. Oleh karena itu penulis merumuskanmasalah yang akan diteliti yaitu :
1. Bagaimana sejarah masuknya agama kristen Protestan ke Pulau Samosir? 2. Bagaimana keadaan masyarakat Pulau Samosir sebelum dan sesudah
Kedatangan Johannes Warneck?
3. Bagaimana perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir hingga tahun
1913?
4. Bagaimana perkembangan Masyarakat Pulau Samosir setelah
perkembangan Kristen Protestan?
E. Tujuan Penelitian
Dalam setiap kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan selalu mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Demikian juga dalam penelitian ini harus memiliki tujuan yang akan dicapai, sehingga penulisan karya ilmiah terpusat dan terarah
dan mempunyai tujuan yang jelas. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah masuknya agama Kristen ke Pulau
Samosir.
2. Untuk mengetahui kondisi masyarakat Samosir sebelum kedatangan
3. Untuk mengetahui perkembangan Gereja HKBP di Samosir Sejak 1893-1913.
4. Untuk mengetahui perkembangan Masyarakat Pulau Samosir setelah
berdirinya Gereja HKBP.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan harus mempunyai manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Demikian juga halnya dengan penelitian ini, penulis ingin
mendapatkan manfaat yakni:
1. Sebagai landasan dalam perwujudan sejarah Gereja HKBP di Pulau
Samosir.
2. Untuk menambah khazanah ilmu sejarah khususnya sejarah Gereja HKBP
di Pulau Samosir
3. Memberi informasi bagi pembaca tentang sejarah dan perkembangan Gereja HKBP di Pulau Samosir
4. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk referensi bahan perbandingan terhadap hasil penelitian yang telah ada maupun digunakan
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan penelitian di atas, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat yang ada di Pulau Samosir sebelum kedatangan Penginjil Johannes Warneck di tahun 1893 sudah memiliki kebudayaan dan
kepercayaan tersendiri meskipun masih sangat jauh dari kesan modern. Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat ialah Tradisi yang bersifat
Animisme (kepercayaan terhadap roh leluhur yang sudah meninggal dan dan roh -roh Alam di sekitarnya).
2. Wilayah Samosir merupakan daerah beretnis Batak yang terakhir
mengenal kekristenan. Hal ini dikarenakan wilayahnya yang dikelilingi Danau dan banyaknya kesan mistis yang berkembang di daerah tersebut.
3. Kehadiran Johannes Warneck di Tanah Batak menjadi jendela perubahan di wilayah pulau Samosir khusunya Nainggolan yang menjadi tempat misinya yang pertama di Tanah Batak.
4. Penginjilan di Pulau Samosir berbeda dengan Penginjilan di daerah lainnya karena kentalnya kehidupan masyarakat dengan kesan mistis dan
kehidupan Hasipelebeguon.
meninggalkan kehidupan aslinya yang sudah dibangun dari nenek moyang terdahulu.
6. Karena hal tersebut pembabtisan pertama setelah masuknya injil di Pulau
Samosir baru bisa dilaksanakan di tahun 1900. Hal itu dilakukan untuk meyakinkan masyarakat tentang nilai kesakralan dari sebuah pembabtisan.
B. Saran
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saat melakukan Penelitian dan analisa terhadap hasil penelitian, peneliti mencoba memberikan saran sebagai
berikut :
1. Bagi masyarakat setempat
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sumber pengetahuan sejarah masyarakat terhadap berkembangnya injil di wilayah Pulau Samosir dan
menjadi bahan refleksi terhadap kondisi kekristenan yang sekarang. 2. Bagi pemerintah setempat
Diharapkan hasil penelitian ini menjadi masukan dan tambahan dalam sejarah Perkembangan Kekristenan di Pulau Samosir yang mayoritas masyarkatnya beragama Kristen Prostestan dan Katolik.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Untuk peneliti selanjutnya diharapkan hasil Penelitian ini dapat menjadi landasan dan bermanfaat untuk ke depannya. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat lebih teliti meneliti arsip-arsip gereja masa Penginjil