11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mastery Learning
Belajar tuntas atau Mastery Learning sudah ada sejak enam puluh tahun yang lalu tatkala C. Washburn dan H.C. Morisson mengembangkan suatu sistem pengajaran sehingga semua siswa diharapkan dapat menguasai sejumlah tujuan pendidikan (B.Suryosubroto:2009).
Bahan pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut dibagi atas unit-unit. Setiap unit terdiri dari bahan-bahan pelajaran yang diurutkan secara singkat sistematis dari yang mudah ke bahan yang sukar. Setiap siswa diharuskan menguasai satu unit pelajaran sebelum diperbolehkan untuk mempelajari unit pelajaran berikutnya. Bagi siswa yang gagal menguasai satu unit pelajaran tertentu harus diberikan unit pelajaran perbaikan.
Ada empat cara yang digunakan oleh H.C. Morisson dalam program perbaikan (B.Suryosubroto:2009), yaitu:
1) Mengulang kembali mengajar bahan pelajaran 2) Menuturkan siswa.
3) Menyusun kembali aktivitas belajar siswa.
4) Mengadakan perbaikan terhadap kebiasaan siswa dalam cara belajarnya. Berikut ini akan dipaparkan lebih lengkap tentang Mastery Learning.
2.1.1 Pengertian Mastery Learning
Ada banyak pendapat tentang pengertian dari Mastery Learning berdasarkan beberapa ahli pendidikan. Sebagaimana dikemukakan ole S. Nasution (dalam Sri Noviana Slamet, 2010) bahwa “Mastery learning atau belajar tuntas artinya penguasaan penuh. Penguasaan penuh ini dapat dicapai apabila siswa mampu menguasai materi tertentu secara menyeluruh yang dibuktikan dengan hasil belajar yang baik pada materi tersebut”.
Belajar tuntas menurut B.Suryosubroto (2002) adalah:
“Salah satu filsafat yang mengatakan bahwa dengan sistem pengajaran yang tepat semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik dari hampir seluruh materi pelajaran yang diajarkan di sekolah”.
Pendapat lain menyebutkan bahwa “Belajar tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (Mastery Learning) terhadap kompetensi tertentu”. Seperti dikemukakan oleh Hendra Jones (2009), bahwa:
“Dalam pelaksanaan KTSP menganut prinsip belajar tuntas. Pembelajaran tuntas dimaksudkan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mensyaratkan siswa menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran”.
Menurut DEPDIKNAS dalam DikLat BimTek KTSP 2009 menyebutkan bahwa Pembelajaran Tuntas atau Mastery Learning adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh Standar Kompetensi maupun Kompetensi Dasar mata pelajaran tertentu.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian dari Mastery Learning adalah sebuah sistem pengajaran yang memotivasi siswa sehingga dapat menguasai mata pelajaran yang telah diajarkan, dibuktikan dengan ketuntasan hasil belajar siswa dengan menggunakan berbagai macam metode-metode yang diterapkan.
2.1.2 Dasar-dasar Mastery Learning
Menurut John B. Carroll (dalam B.Suryosubroto:2009) berdasarkan penemuannya mengenai model belajar yaitu “Model of School Learning” menguraikan tentang faktor-faktor pokok yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Ia menyatakan bahwa bakat siswa untuk suatu pelajaran tertentu dapat diramalkan dari waktu yang disediakan untuk mempelajarinya dan atau waktu yang dibutuhkan untuk belajar untuk mencapai tingkat penguasaan tertentu. Dalam hal ini bakat bukan diartikan sebagai kapasitas belajar tetapi sebagai kecepatan belajar atau laju belajar.
Ini berarti bahwa siswa yang berbakat tinggi akan dapat menguasai bahan dengan cepat sedangkan siswa yang berbakat rendah akan menguasai bahan dengan lambat. Dengan perkataan lain J.B. Carrol mendefinisikan bakat seseorang sebagai waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari suatu bahan pelajaran yang diberikan kepadanya sehingga mencapai tingkat penguasaan yang ditetapkan atau di tentukan. Jadi, apabila siswa memerlukan sepuluh jam untuk menguasai dengan tuntas bahan pelajaran, tetapi ternyata ia hanya menggunakan delapan jam untuk belajar, maka pada dasarnya ia hanya akan mencapai 80% penguasaan terhadap bahan yang dipelajarinya.
Jadi ringkasnya J.B. Carrol berpendapat bahwa tingkat penguasaan bahan adalah fungsi dari waktu yang digunakan secara sungguh-sungguh untuk belajar dan waktu yang benar-benar dibutuhkan untuk mempelajari suatu bahan pelajaran.
ܶ݅݊݃݇ܽݐ ܲ݁݊݃ݑܽݏܽܽ݊ = ݂ ܹܽ݇ݐݑ ݕܽ݊݃ ܾ݀݅ݑݐݑℎ݇ܽ݊൨ܹܽ݇ݐݑ ݕܽ݊݃ ݀݅݃ݑ݊ܽ݇ܽ݊
Makin lama siswa menggunakan waktu secara sungguh-sungguh untuk belajar, makin tinggi tingkat penguasaan terhadap bahan yang dipelajarinya. Dalam kondisi belajar tertentu, waktu yang digunakan untuk belajar dan waktu yang dibutuhkan untuk menguasai bahan pelajaran tidak saja dipengaruhi oleh sifat dari individu tetapi juga oleh karakteristik dari pengajaran.
Lamanya waktu belajar yang digunakan ditentukan oleh lamanya siswa mau mempelajari suatu bahan dan waktu yang disediakan atau dialokasi. Sedangkan waktu yang dibutuhkan ditentukan oleh bakat siswa, kualitas pengajaran dan kemampuan siswa untuk menangkap bahan sajian. Kemampuan siswa untuk menangkap bahan sajian ini dekat hubungannya dengan intelegensi umum siswa.
Dengan demikian secara lengkap model J.B. Carrol itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
ܶ݅݊݃݇ܽݐ ܲ݁݊݃ݑܽݏܽܽ݊ = ݂ ܤܽ݇ܽݐ, ݇ݑ݈ܽ݅ݐܽݏ ݁݊ݕܽ݉ܽ݅ܽ݊, ݇݁݉ܽ݉ݑܽ݊ ݉݁݊ܽ݊݃݇ܽ ܾܽℎܽ݊ ݏ݆ܽ݅ܽ݊൨ܹܽ݇ݐݑ ݐ݁ݎݏ݁݀݅ܽ, ݈ܽ݉ܽ݊ݕܽ ݏ݅ݏݓܽ ݉ܽݑ ܾ݈݆݁ܽܽݎ Model dari Carrol yang masih bersifat konseptual ini akhirnya diubah oleh Benyamin S. Bloom pada tahun 1968 (dalam Kang Bull, 2010) menjadi model operasional hasil kerjanya “learning for mastery theory and practice”. Menurut
Bloom (dalam Block,1971) “Jika siswa didistribusikan secara normal sesuai dengan kemampuan untuk suatu subyek dan jika mereka telah diberikan pembelajaran dengan kualitas dan waktu belajar yang sama, maka pencapaian pada ketuntasan masing-masing subyek juga akan didistribusikan secara normal. Selanjutnya hubungan antara kecerdasan dan kemampuan akan menjadi tinggi. Tetapi, jika siswa didistribusikan secara normal pada kecerdasan masing-masing kualitas optimal yang diterima pada pembelajaran dan waktu belajar disesuaikan dengan level masing-masing siswa maka kebanyakan siswa diharapkan dapat mencapai ketuntasan”
Seperti yang dijelaskan dalam DikLat/BimTek KTSP 2009 yang diselenggarakan oleh DEPDIKNAS Dalam pembelajaran konvensional, bakat (aptitude) peserta didik tersebar secara normal. Jika kepada mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang tersedia untuk belajar, maka hasil belajar yang dicapai akan tersebar secara normal pula. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara bakat dan tingkat penguasaan adalah tinggi. Secara skematis konsep tentang prestasi belajar sebagai dampak pembelajaran dengan pendekatan konvensional dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1 Skematik prestasi belajar menggunakan pendekatan konvensional
Normal Bakat
Normal Prestasi
Sebaliknya, apabila bakat peserta didik tersebar secara normal, dan kepada mereka diberi kesempatan belajar yang sama untuk setiap peserta didik, tetapi diberikan perlakuan yang berbeda dalam kualitas pembelajarannya, maka besar kemungkinan bahwa peserta didik yang dapat mencapai penguasaan akan bertambah banyak. Dalam hal ini hubungan antara bakat dengan keberhasilan akan menjadi semakin kecil. Secara skematis konsep prestasi belajar sebagai dampak pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran tuntas, dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Skematik prestasi belajar menggunakan pendekatan pembelajaran tuntas
Secara singkat dijelaskan di sini, Bloom malaksanakan konsep Mastery Learning ke dalam kelas melalui proses pembelajaran yang pelaksanaannya sebagai berikut: 1) Membagi satuan pelajaran yang disediakan waktu belajar yang tetap dan pasti, 2) Tingkat penguasaan materi dirumuskan sebagai tingkat penguasaan tujuan pendidikan yang essensial.
Dari model Carroll dan Bloom seperti yang telah dijelaskan di atas secara singkat, untuk lebih menerapkan konsep Mastery Learning James H. Block mencoba memampatkan waktu yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran dalam waktu yang tersedia, yaitu dengan cara meningkatkan semaksimal mungkin kualitas pembelajaran. Jadi dalam pelaksanaannya mengandung arti
Normal Bakat
Normal Prestasi
bahwa: 1) Waktu yang sebenarnya digunakan diusahakan diperpanjang semaksimal mungkin, 2) Waktu yang tersedia diperpendek sampai semaksimal mungkin dengan cara memberikan pelayanan yang optimal dan tepat.
Kemudian dapat disimpulkan dasar pembelajaran belajar tuntas (mastery learning) menurut Gusskey (Rambun Pamenan, 2006:12) sebagai berikut:
1. Semua individu dapat belajar
2. Individu belajar dalam kecepatan dan cara yang berbeda
3. Dengan memberikan kondisi pembelajaran yang baik dapat menghilangkan perbedaan individu
4. Pemberian koreksi pada kesalahan pembelajaran dapat memecahkan kesulitan belajar.
Dari konsep-konsep di atas, kiranya cukup jelas bahwa harapan dari proses pembelajaran dengan pendekatan belajar tuntas adalah untuk mempertinggi rata-rata prestasi peserta didik dalam belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai, bantuan, serta perhatian khusus bagi peserta didik yang lambat agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar.
2.1.3 Variabel-variabel Mastery learning
Dilihat dari kajian konsep dasar mastery learning, maka dapat ditemukan beberapa varibel sebagai berikut:
1. Bakat siswa (aptitude): Hasil penelitian menunjukan bahwa ada korelasi yang cukup tinggi antara bakat dengan hasil pelajaran
2. Ketekunan belajar (perseverance): Ketekunan erat kaitannya dengan dorongan yang timbul dalam diri siswa untuk belajar dan mengolah informasi
secara efektif dan efisien serta pengembangan minat dan sikap yang diwujudkan dalam setiap langkah instruksional.
3. Kualitas pembelajaran (quality of instruction): Kualitas pembelajaran merupakan keadaan yang mendorong siswa untuk aktif belajar dan mempertahankan kondisinya agar tetap dalam keadaan siap menerima pelajaran. Kualitas pembelajaran ditentukan oleh kualitas penyajian, penjelasan, dan pengaturan unsur-unsur tugas belajar
4. Kesempatan waktu yang tersedia (time allowed for learning) : Penyediaan waktu yang cukup untuk belajar dalam rangka mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan dalam suatu mata pelajaran, bidang studi atau pokok bahasan yang berbeda-beda sesuai dengan bobot bahan pelajaran dan tujuan yang ditetapkan.
2.1.4 Proses Mastery Learning
Mastery Learning adalah “Melakukan pendekatan diagnostik karena strategi pembelajaran tuntas atau Mastery Learning sebenarnya menganut pendekatan individual.”(DikLat DEPDIKNAS,2009). Pendekatan diagnostik ini dilakukan dengan melakukan tes setelah proses pembelajaran, setelah mengetahui hasil dari tes maka dapat diketahui apakah siswa tuntas atau tidak tuntas dalam pembelajarannya. Siswa yang tidak tuntas maka akan melakukan pengulangan sampai tuntas. Dan yang telah tuntas maka siswa akan mengerjakan pengayaan. Gambar di bawah merupakan proses Mastery Learning dari DEPDIKNAS.
Proses Pembelajaran Penilaian/ Uji KD ≥ KKM (lulus) <KKM Pengayaan Remedial Portofolio Lulus T U N T A S KD Berikutnya bisa
Gambar 2.3 Proses Mastery Learning pada DEPDIKNAS 2009
Dalam Mastery Learning ini menerapkan sistem pengulangan kepada siswa yang tidak mengalami ketuntasan belajar, seperti yang dikemukakan oleh Mevarech (2001) bahwa “Dalam Pembelajaran Mastery Learning prosedur koreksi disesuaikan dengan kelemahan spesifik dari masing-masing siswa, sedang kan dalam pembelajaran konvensional tidak ada peluang tambahan untuk siswa kembali melakukan pekerjaan saja”. Pengujian penguasaan memiliki tujuan belajar melalui proses yang dikenal sebagai keterulangan, dengan demikian pengujian penguasaan hingga dua kali untuk setiap bab dari pekerjaan tentu saja melalui tes alternatif yang mencakup tujuan dan konten yang sama (Martinez & Martinez,2001).
Hsein dkk (2008) menerapkan penguasaan pembelajaran berbasis web bagi yang mereka telah gagal pada pembelajaran sebelumnya. dia menciptakan
pembelajaran remedial bagi mereka yang tidak tuntas dan akan kembali mengulangi penilaian sampai siswa sudah menguasai subjek. Proses ini ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.4 Mastery Learning Process (Hsein, 2008)
Dari kedua model Mastery Learning di atas terdapat baberapa komponen penting yang tidak dapat terlepas dalam Mastery Learning yaitu tes, remedial, dan pengayaan. Dalam Mastery Learning, setelah melakukan proses pembelajaran guru melakukan tes untuk mengetahui daya tangkap siswa dalam memahami pelajaran yang telah disampaikan. Dari hasil tes yang didapat maka dapat diketahui siswa yang tuntas dan siswa yang belum tuntas. Proses remedial dilakukan kepada siswa yang belum tuntas, dan proses pengayaan dilakukan kepada siswa yang telah tuntas.
Remedial Learning Tes Formatif Proses Pembelajar an Tes Formatif Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas
2.2 Pengayaan dan Remedial
2.2.1 Pengayaan
Kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya. Istilah pengayaan sudah menyiratkan kecukupan, berarti siswa yang hendak diberikan pengayaan itu sudah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai materi yang diajarkan. Pendapat Sudrajat (2008) menegaskan bahwa “Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikian rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya”.
Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal. Selanjutnya menurut Sudrajat (2008) “Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.”
Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:
1. Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah
biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.
2. Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
3. Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.
4. Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.
2.2.2 Remedial
Dilihat dari arti katanya, istilah remedial berasal dari kata remedy (bahasa inggris) yang berarti obat, memperbaiki, atau menolong. Karena itu remedial berarti hal-hal yang berhubungan dengan perbaikan. Sehingga pengajaran remedial merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan pengajaran yang membuat agar hasil yang dicapai lebih baik dari pengajaran yang diberikan sebelumnya.
2.2.3 Tujuan dan fungsi remedial
Pengajaran remedial memiliki tujuan yang tidak berbeda dengan tujuan instruksional umum. Tetapi karena sasarannya adalah siswa yang mempunyai
kesulitan, maka menurut (Mukhtar dan Rusmini, 2001) diharapkan melalui proses penyembuhan, perbaikan maupun pelajaran tambahan siswa dapat:
1) Memahami akan kekurangan dirinya, kelemahannya maupun kesulitannya dan bersedia untuk menerima “uluran” pelajaran remidial.
2) Mempunyai sikap terbuka untuk dapat merubah dirinya dalam belajar, bersikap dalam menekuni pelajaran tersebut. Hal ini perlu untuk prestasi yang lebih baik.
3) Para siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar yang sesuai dengan yang diperlukan. Misalnya buku teks tambahan. Alat belajar dan sebagainya.
4) Siswa dapat mengatasi hambatan belajar yang dialaminya, sesuai dengan latar belakang kesulitan belajar yang dihadapi. Sebab setiap siswa mempunyai sebab-sebab kesulitan yang berbeda.
5) Sesudah terbiasa mengatasi kesulitan, akan menimbulkan sikap baru dalam belajar yang dianggap ada pengaruhnya terhadap prestasi, misalnya sekarang membiasakan diri belajar pada waktu dini hari, dimana sebelumnya tak pernah dilakukan.
6) Dengan adanya perubahan sikap dan prestasinya maka siswa dengan mudah dapat menyelesaikan dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diterimanya.
7) Sesudah tercapai hasil yang lebih baik, akan menimbulkan kepuasan diri sehingga dapat mempertebal harga diri dan menambahkan motivasi baru.
Sedangkan dalam keseluruhan proses pembelajaran, kegiatan remedial berfungsi (Mukhtar dan Rusmini, 2001) sebagai:
1) Fungsi korektif
Fungsi korektif ini berarti melalui pengajaran remedial dapat dilakukan perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran.
2) Fungsi pemahaman
Fungsi pemahaman berarti bahwa dengan pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa atau pihak-pihak lainnya akan dapat memperoleh pemehaman yang lebih baik dan komprehensif mengenai pribadi siswa.
3) Fungsi penyesuaian
Fungsi penyesuaian berarti bahwa pengajaran remedial dapat membentuk siswa untuk bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya (proses belajarnya). Artinya, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil belajar lebih baik semakin besar.
4) Fungsi pengayaan
Fungsi pengayaan berarti bahwa pengajaran remedial akan dapat memperkaya proses pembelajaran, sehingga materi yang tidak disampaikan dengan pengajaran reguler akan dapat diperoleh melalui pengajaran remedial.
5) Fungsi akselerasi
Fungsi akselerasi berarti bahwa dengan pengajaran remedial akan dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efisien. Dengan kata lain, dapat mempercepat proses pembelajaran, baik dari segi waktu maupun materi.
6) Fungsi terapeutik
Fungsi terapeutik berarti bahwa secara langsung atau tidak, pengajaran remedila akan dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadia siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan. Hal ini tentunya akan dapt menunjang pencapaian prestasi belajar yang lebih baik dan pencapaian prestasi yang baik akan dapat mempengaruhi pribadi (timbal balik).
2. Bentuk Kegiatan Remedial
Bentuk kegiatan remedial antara lain:
1) Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda.
2) Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. 3) Pemberian tugas-tugas latihan secara khusus.
4) Pemanfaatan tutor sebaya. 2.3 Tutor sebaya
Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Edward L. Dejnozken dan David E. Kopel (American Education
Encyclopedia,1999) menyebutkan pengertian tutor sebaya adalah sebagai berikut: Tutor sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar siswa lainnya. Tipe pertama adalah pengajar dan pembelajar dari usia yang sama. Tipe kedua adalah pengajar yang lebih tua usianya dari pembelajar. Tipe yang lain kadang dimunculkan pertukaran usia pengajar.
Metode tutor sebaya lebih banyak digunakan dalam program perbaikan atau remidial. Para siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan yang dipelajarinya akan mendapat bantuan dari teman sekelasnya sendiri yang telah tuntas (mastery) terhadap bahan tersebut. Kegiatan ini dinamakan dengan “tutoring”. Menurut Soekarwati (1995) “tutorial adalah cara lain dari sistem pengajaran yang dapat dipakai oleh pengajar”. Bertolak dari definisi tersebut maka metode tutor sebaya ini dapat digunakan untuk menyampaikan suatu pengajaran pokok bahasan dalam kegiatan belajar mengajar.
Ciri-ciri model tutor sebaya antara lain:
1. Tujuan dari tutor sebaya adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional, mengembangkan sikap sosial dan semangat gotong royong dalam kehidupan, mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga tiap anggota merasa diri sebagai bagian kelompok yang bertanggung jawab, mengembangkan kemampuan kepemimpinan keterampilan pada tiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok.
2. Siswa dalam pembelajaran ini memiliki ciri-ciri;
2) Tiap siswa merasa sadar diri memiliki tujuan bersama berupa tujuan kelompok
3) Memiliki rasa saling membutuhkan dan tergantung 4) Interaksi dan komunikasi antar anggota
5) Ada tindakan bersama sebagai perwujudan tanggung jawab kelompok
3. Peranan guru dari pembentukan kelompok, perencanaan tugas kelompok, pelaksanaan, dan tahap evaluasi hasil belajar kelompok.
Untuk menentukan siapa yang akan dijadikan tutor, diperlukan pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Seorang tutor belum tentu siswa yang paling pandai. Yang penting diperhatikan siapa yang menjadi tutor tersebut, adalah:
1. Dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan utnuk bertanya kepadanya.
2. Dapat menerangkan bahan perbaikan yang diperlukan oleh siswa yang menerima program perbaikan.
3. Tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
4. Mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:29), metode tutor sebaya memiliki beberapa kebaikan dan kelemahan. Beberapa manfaat atau kebaikannya antara lain:
1. Ada kalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa anak yang mempunyai perasaan takut atau enggan terhadap gurunya
2. Bagi siswa yang menjadi tutor, kegiatan tutoring ini akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang sedang dibahas, dengan memberitahukan kepada siswa lain maka seolah-olah ia menelaah serta menghafalkan kembali.
3. Bagi siswa yang menjadi tutor, kegiatan tutoring merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran.
4. Mempercepat hubungan antara sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.
Kelemahan atau kesulitan metode tutor sebaya menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain dapat disebutkan antara lain:
1. Siswa yang dibantu sering kali belajar kurang serius karena hanya berhadapan dengan kawannya sehingga hasilnya kurang memuaskan. 2. Ada beberapa anak yang masih malu bertanya karena takut rahasianya
diketahui oleh kawannya.
3. Pada kelas-kelas tertentu metode ini sukar dilaksanakan karena perbedaan kelamin antar tutor dengan siswa yang diberi materi pelajaran.
4. Bagi guru sukar untuk menentukan seorang tutor yang tepat bagi seorang atau beberapa orang siswa yang harus dibimbing.
5. Tidak semua siswa yang pandai atau cepat tempo belajarnya dapat mengajarkan kembali kepada kawan-kawannya.
2.4 Metode Tutor Sebaya dalam Implementasi Mastery Learning pada Pembelajaran TIK
Terdapat lima proses pokok implementasi mastery learning dalam proses pembelajaran di kelas, yang pertama adalah proses pembelajaran yang terlebih dahulu telah ditentukan tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan, pada proses pembelajaran yang pertama ini siswa diberikan pembelajaran yang seragam atau sama baik kualitas maupun waktu yang digunakan, kemudian yang kedua adalah proses penilaian dalam hal ini berupa tes subformatif awal yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran pertama tersebut, hasil dari tes subformatif awal ini menghasilkan siswa yang tuntas dan siswa yang tidak tuntas, seperti yang telah diungkapkan oleh Bloom bahwa jika bakat siswa berada pada posisi yang berdistribusi normal dalam suatu mata pelajaran, kemudia diberikan pembelajaran yang sama dan waktu yang sama maka prestasi belajar siswa pada mata pelajaran tersebut akan berdistribusi normal juga.
Ketiga adalah proses remedial, dimana pada proses remedial dibagi menjadi dua proses yaitu proses remedial teaching dan remedial test. Pada remedial teaching ini diterapkanlah metode tutor sebaya, dimana tutornya adalah siswa-siswa yang telah tuntas dalam mengerjakan quiz formatif yang pertama. Setelah semua siswa telah tuntas, maka yang keempat adalah proses pengayaan, dimana semua siswa diberikan tambahan latihan dengan materi yang sama yang selanjutnya proses yang kelima adalah tes subformatif akhir. Untuk lebih jelasnya terdapat pada flowchart di bawah ini.
Gambar 2.5 Flowchart Metode Tutor sebaya menggunakan model Mastery Learning
Mulai Unit 1
Proses Pembelajaran
Tes Subformatif Awal
Hasil > 75% Tuntas 75% Belum tuntas Menjadi Tutor Sebaya Remedial dengan tutor sebaya Pengayaan
Tes Subformatif Akhir Hasil
Tuntas
Belum tuntas
Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan dalam pembelajaran TIK : Tabel 2.1 Langkah-langkah Skenario Penerapan Tutor Sebaya dalam
Implementasi Mastery Learning
Kegiatan Langkah-langkah
Kegaiatan Awal 1. Siswa menyimak penjelasan guru tentang
tujuan pembelajaran yang akan didapat oleh siswa.
2. Apersepsi: siswa menyimak contoh-contoh kasus sederhana dari dokumen excel yang di dalamnya terdapat masalah yang berkaitan dengan fungsi lookup & reference serta sorting data & filter data.
Kegaiatan Inti 1. Siswa menyimak penjelasan guru tentang
pengertian dan fungsi dari fungsi lookup & reference serta sorting data & filter data. 2. Siswa memperhatikan demonstrasi yang
dilakukan oleh guru tentang bagaimana cara kerja fungsi lookup & reference pada contoh kasus perhitungan nilai raport. 3. Siswa melakukan kegiatan yang sama
seperti demonstrasi yang dilakukan oleh guru sebelumnya.
4. Siswa memperhatikan demonstrasi yang dilakukan oleh guru tentang bagaimana cara kerja sorting data & filter data pada
contoh kasus daftar gaji karyawan.
5. Siswa melakukan kegiatan yang sama seperti demonstrasi yang dilakukan oleh guru sebelumnya.
6. Siswa melaksanakan sub-formatif test awal yang telah disediakan oleh guru terkait dengan materi fungsi lookup & reference serta sorting data & filter data . 7. Setelah siswa mendapatkan hasil dari
sub-formatif test akhir yang sudah dikerjakan.
Guru membagi kelompok untuk
melaksanakan tutor sebaya, siswa yang telah tuntas menjadi pementoring bagi siswa yang belum tuntas, dan siswa yang belum tuntas menjadi peserta mentoring dalam proses tutor sebaya.
8. Setelah proses tutor sebaya, peserta
mentoring melaksanakan tes ulang
(remedial test).
9. Setelah tuntas, semua siswa melakukan pengayaan. Siswa mengerjakan latihan tambahan untuk memperkuat konsep tentang materi fungsi lookup & reference serta sorting data & filter data.
2.5 Prestasi Belajar
Prestasi Belajar merupakan hasil serangkaian proses kegiatan belajar yang telah dicapai oleh siswa. Menurut Kamus besar Bahasai Indonesia, prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, biasanya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Prestasi belajar dapat diukur dengan cara kuantitatif yaitu hasil penilaian diberikan dalam bentuk angka. Alat penilaiannya disajikan dalam bentuk tes hasil belajar yang fungsinya untuk menetukan angka kemajuan hasil belajar masing-masing siswa dan merupakan laporan kepada orang tua siswa tentang kemanjuan belajar anaknya (Reja Putra Perdana:2009).
Djamarah dan Zain (2002) memandang yang menjadi acuan keberhasilan proses belajar mengajar menurutnya adalah:
Yang menjadi acuan keberhasilan proses belajar mengajar adalah daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok dan prilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran khusus telah dicapai oleh siswa baik secara indibidu maupun kelopmpok.
Jadi dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil serangkaian proses kegiatan belajar yang telah dicapai oleh siswa yang di ukur dengan menggunakan test.
2.6 Ringkasan Tinjauan Teoretis
Kesuksesan dan eksistensi Mastery Learning dalam dunia pendidikan terlihat dengan semakin banyak peneliti yang menggunakan model Mastery
Learning sebagai objek penelitiannya dan terus berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi, diantaranya adalah:
Yayat Supriatna (2005) dengan penelitian yang berjudul Pembelajaran Mastery Learning dengan Strategi Inquiry pada Mata Diklat Pengetahuan Dasar Teknik Mesin (PDTM) berhasil membuat siswanya memperoleh hasil belajar maksimal setelah menerapkan Mastery Learning dalam penelitiannya.
Norjihan Abdul Ghani, Norhana Hamim, Noor Irmayanti Ishak (2006), dalam penelitiannya yang berjudul Applying Mastery Learning Model In Developing E-Tuition Science For Primary School Students. Penelitian ini menyatakan bahwa dengan menggunakan E-Tuition model Mastery Learning dapat membantu guru mengajar dalam proses pembelajaran dan dapat membantu siswa dalam belajar dan perbaikan karena dengan E-Tuition ini siswa dapat memperbanyak pengetahuannya karena mereka dapat belajar kapanpun dan dimanapun.
Patriciah W. Wambugu and Johnson M. Changeiywo (2006) dengan penelitiannya yang berjudul Effects of Mastery Learning Approach on Secondary School Students’ Physics Achievement. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, siswa yang menggunakan Mastery Learning dalam pembelajaran memperoleh nilai fisika lebih bagus dari pada siswa yang menggunakan pembelajaran reguler.
Tony (2008) dalam penelitiannya yang berjudul Upaya Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pendekatan Belajar Tuntas (Mastery Learning)
mengungkapkan bahwa dengan menggunakan pendekatan belajar tuntas ini kemampuan matematika siswa menjadi bertambah.
Kristen C. Schellhase (2008) dengan penelitiannya yang berjudul Applying Mastery Learning to Athletic Training Education. Dalam penelitiannya tersebut menemukan bahwa hubungan antara Mastery Learning dengan pendidikan latihan atletik kuat pada praktek sejarah.
Alysia Hayes, Simon Goldish, dan Samuel M. Bailey (2009) dalam penelitiannya yang berjudul The Effectiveness of Mastery Learning in the ASSISTment Tutoring System. Dalam penelitiannya ditemukan siswa yang diberikan Mastery Learning memperoleh nilai post-test yang lebih tinggi dari pada siswa yang tidak diberikan Mastery Learning. Hal ini dikeranakan Mastery Learning menyediakan langkah demi langkah pembelajaran dan memecahkan setiap masalah.
Sri Noviana Slamet (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Penerapan Belajar Tuntas (Mastery Learning) Hubungannya dengan Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Studi Keahlian TIK mengungkapkan bahwa motivasi belajar siswa setelah menggunakan Mastery Learning menjadi meningkat hal ini dapat dibuktikan dengan hasil belajar mereka yang meningkat dan respon mereka terhadap Mastery Learning.
Norazzila Shafie, Tengku Norainun Tengku Shahdan, Mohd Shahir Liew (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Mastery Learning Assessment Model (MLAM) in Teaching and Learning Mathematics mengungkapkan hasil penelitiannya adalah siswa yang diberikan pembelajaran dengan Mastery Learning memperoleh
hasil balikan yang bagus karena ketika mereka melakukan remedial, sebelumnya mereka belajar dengan gaya belajar mereka sendiri.