• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN KAWASAN SAPI POTONG DI KABUPATEN RAJA AMPAT PROVINSI PAPUA BARAT MOCHAMMAD SAID SOLTIEF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KAJIAN KAWASAN SAPI POTONG DI KABUPATEN RAJA AMPAT PROVINSI PAPUA BARAT MOCHAMMAD SAID SOLTIEF"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

MOCHAMMAD SAID SOLTIEF

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Kajian Kawasan Sapi Potong di Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2009

Mochammad Said Soltief NIM D151070081

(3)

at Kabupaten Raja Ampat in West Papua Province. Supervised by ASNATH M. FUAH and RUDY PRIYANTO.

The objectives of this study were to design resources based of beef cattle regional model in District of Raja Ampat, West Papua Province. The study was conducted in Sakabu, Kalobo and Waijan villages, Sub district of Salawati Utara, from August 2008-May 2009. Primary data used on this study were local beef cattle production, management and farmer characteristic. As many 218 farmers and 314 beef cattle surveied on this study. Also, secondary data were used on this study that were regional characteristic, land using system, local institution and government policy on beef cattle development. Farmers and beef cattle management descriptively analyzed. Statistic Mann-Withney test were used to compare farmers characteristic between the three villages. Beef cattle productivity was evaluated based on body weight estimation. Cluster analysis was used to classify and analyzed the three villages. The determination of regional model using some indicators which were land, carrying capacity, beef cattle, rearing practice, farmer, extension agent, facility and institution. Strength Weakness Opportunity Threats (SWOT) analysis was used to analyzed and design a strategy of regional development. The results showed that sub district Salawati Utara is classified as a new region for beef cattle development and consist of two cluster i.e Kalobo Waijan and Sakabu. Regional development strategy consist of some key factors that are; design of beef cattle regional development, development of human resources, technology of rearing and breeding, breeding and housing facility, veterinary service and its facilities, networking, beef cattle regional development should be made on two patterns, that are beef cattle rolling and breeding center. Both of them should be managed based on integration of local resources and community management.

Keywords: beef cattle, regional development, management, resources, Raja Ampat

(4)

Raja Ampat Provinsi Papua Barat. Dibimbing oleh ASNATH M FUAH dan RUDY PRIYANTO.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan merumuskan model kawasan sapi potong berbasis sumberdaya ternak di Kabupaten Raja Ampat. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Kampung Sakabu, Kalobo dan Waijan Distrik Salawati Utara, selama Agustus 2008 – Mei 2009. Pengumpulan data menggunakan metode survei terhadap 218 orang peternak responden dan 314 ekor sampel ternak. Data yang diperoleh terdiri atas : (1) data primer, yaitu data hasil pengamatan dan wawancara dengan responden, meliputi ; karakteristik produksi ternak sapi potong, karakteristik peternak, dan pola manajemen produksi sapi potong yang ada; (2) data sekunder, meliputi; karakteristik wilayah yang terdiri dari iklim dan topografi, sistem penggunaan lahan, karakteristik kelembagaan yang ada dan kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan peternakan. Data karakteristik peternak dan pola managemen dianalisis secara deskriptif, produktivitas sapi potong dievaluasi dan diukur berdasarkan estimasi bobot badan. Perbandingan skor nilai pengetahuan, motivasi dan partisipasi peternak dalam pengembangan sapi potong menggunakan metode uji Mann-Whitney. Pengelompokan kesamaan potensi wilayah untuk kawasan sapi potong menggunakan analisis gerombol (Cluster Analisis). Penentuan model kawasan sapi potong menggunakan kriteria dan indikator komponen kawasan meliputi; (1) lahan; (2) kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia (KPPTR) efektif dalam satuan ternak (ST); (3) ternak; (4) teknis budidaya ; (5) peternak; (6) tenaga pendamping; (7) fasilitas dan (8) kelembagaan. Keseluruhan hasil analisis digunakan untuk menyusun strategi pengembangan kawasan, menggunakan analisis SWOT dengan metode tabel IFAS dan EFAS.

Hasil survei dan analisis menunjukkan bahwa kondisi lokasi penelitian cocok bagi pengembangan sapi potong. Lahan di kampung Sakabu, Kalobo dan Waijan masing-masing seluasr 2887, 5579 dan 4283 ha dengan tingkat kepadatan 10 jiwa/km2 mempunyai kapasitas tampung masing-masing sebesar 6202.50 , 5713.42 ST, dan 5876.63 ST (Satuan Ternak)

Data karakteristik produksi ternak sapi potong di lokasi penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan populasi dari tahun 2006-2008 rata-rata sebesar 53.64% per tahun. Populasi pada saat akhir penelitian mencapai 1733 ekor. Persentase kelahiran berkisar 15.9% - 28.0%. Persentase kematian ternak adalah 2.14 - 7.22% per tahun. Produksi daging diperkirakan sebesar 55.07 ton dengan persentase peningkatan rata-rata mencapai 35% per tahun. Penampilan produktivitas berdasarkan bobot badan secara keseluruhan masih termasuk rendah dan belum memenuhi standar dari tiga kategori kualitas bibit yang ditetapkan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian.

Data karakteristik peternak sapi potong pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (>75% responden) berumur 15 – 55 tahun, tingkat pendidikan didominasi oleh tingkat SD (57-76%), Perguruan Tinggi (1-2%). Pekerjaan pokok peternak adalah sebagai petani atau nelayan dengan pengalaman beternak rata-rata kurang dari lima tahun. Komposisi dan pemilikan ternak sapi

(5)

potong menunjukkan bahwa jumlah pedet, dan jantan serta betina muda masing-masing 7-10% dan 28-36%, jantan dan betina dewasa masing-masing-masing-masing 7-11% dan 46-55% dengan rasio jantan dan betina 4.27-5.0.

Nilai pengetahuan, motivasi dan partisipasi peternak tentang budi daya sapi potong di Kabupaten Raja Ampat relatif rendah dengan skor < 25.0. Persepsi dan aspirasi responden dalam pengembangan sapi potong di Kabupaten Raja Ampat menunjukkan hasil yang baik walaupun dengan sistem budidaya yang bersifat semi tradisional dengan campur tangan manusia yang terbatas. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas layanan peternakan sapi potong relatif cukup memadai dan perlu dioptimalkan pemanfaatannya. Skala kepemilikan ternak yang layak adalahh 3.25 satuan ternak (ST) atau setara dengan RP. 23 159 250,- untuk satu periode pemeliharaan (12 bulan).

Hasil analisis kawasan menunjukkan bahwa ketiga lokasi penelitian diklasifikasikan sebagai Kawasan Baru, dan terbagi menjadi dua kluster yaitu kluster Kalobo Waijan dan kluster Sakabu. Kluster Sakabu lebih didominasi oleh penduduk asli yang baru mengenal budidaya ternak sapi potong, sedangkan kluster Kalobo Waijan umumnya merupakan transmigran asal Jawa yang sudah lama mengenal budidaya sapi potong dengan sistem pemeliharaan yang ekstensif. Strategi pengembangan kawasan menghasilkan beberapa sub elemen kunci meliputi; Penyusunan Model Pengembangan Kawasan Sapi Potong ; Sumber Daya Manusia yang Berkualitas, Teknologi Budidaya Sapi Potong, Fasilitas Pembibitan Ternak dan Pengembangan Sistem Pemuliabiakan Sapi Potong, Fasilitas Kandang Karantina Ternak/Hewan, Fasilitas Layanan Kesehatan Berupa Poskeswan dan Paramedis/Dokter Hewan, Pasar dan Pemasaran, Kemitraan Usaha, Lembaga Keuangan dan Modal, Kualitas Bibit Sapi Potong yang Rendah, dan Layanan Peternakan. Pengembangan kawasan disusun dalam tiga tahap pengembangan kawasan berdasarkan komponen penyusunnya, dan diformulasikan menjadi satu model pengembangan kawasan sapi potong dengan sistem Inti-Plasma berbasis sumber daya lokal dan terintegrasi dengan subsistem pertanian tanaman pangan dan perkebunan.

(6)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2009

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

(7)

MOCHAMMAD SAID SOLTIEF

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

(8)

NIM : D151070081

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Asnath Maria Fuah, M.S

Ketua Dr. Ir. Rudy Priyanto Anggota

Diketahui Ketua Program Studi

Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Rarah R. A. Maheswari, DEA Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S

(9)

karuniaNya sehingga penelitian mengenai “ Kajian Kawasan Sapi Potong di Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat” dapat diselesaikan sebaik mungkin.

Permasalahan ini didasarkan keinginan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk mengembangkan subsektor peternakan khususnya sapi potong sebagai komoditas unggulan daerah tersebut. Berkenaan dengan itu maka Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat mulai membangun sarana dan prasarana untuk pengembangan sapi potong, agar lebih terarah dan terencana maka sangat dibutuhkan adanya suatu daerah kawasan sapi potong sebagai basis pengembangannya. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian mengenai kawasan sapi potong yang berbasis sumber daya lokal.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Drs. Marcus Wanma,M.Si. selaku Bupati Raja Ampat yang telah memberikan beasiswa kepada penulis. Ibu Dr. Ir. Asnath Maria Fuah dan Bapak Dr. Ir. Rudy Priyanto sebagai komisi pembimbing atas kesediaannya memberikan informasi, bimbingan dan saran. Terima kasih dan penghargaan yang tulus penulis

sampaikan kepada Istri tercinta Yuli Abdul Muis, Anak-anakku tersayang Ali Yusuf Ramdhani dan Syarifah Putri Aulia, Ayahanda Hi.M.L.Soltief dan

Ibunda Sitti N. Salassa, Kak Nona dan Bang Robert, Fatrah dan Ali Usman serta semua pihak yang telah membantu baik fisik maupun moril. Tak lupa kepada Bapak Ir. A. Rahman Wairoy atas dukungannya selama ini. Penulis sangat mengharapkan masukan, saran dan kritik dari berbagai pihak guna penyempurnaan penulisan karya ilmiah ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juli 2009

(10)

ayah Mochammad Luthan Soltief dan ibu Siti Norma Salasa. Penulis merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Tahun 1992 Penulis lulus dari SMA Negeri 1 Jayapura dan pada tahun yang sama lulus masuk Universitas Cendrawasih Jayapura pada Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), dan lulus tahun 1997. Pada tahun 2001 Penulis diterima sebagai staf pegawai di Dinas Peternakan Kabupaten Sorong, kemudian pada tahun 2003 dipindahkan ke Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Raja Ampat. Selama mengabdi penulis pernah diangkat sebagai Kepala Seksi Usaha Ternak dan Produksi Hasil Peternakan Bidang Peternakan Distannakbun Kabupaten Raja Ampat pada periode 2003 sampai sekarang. Selanjutnya tahun 2007 diterima sebagai mahasiswa Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Sponsor biaya pendidikan pascasarjana diperoleh dari Pemerintah Daerah (PEMDA) Kabupaten Raja Ampat.

(11)

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv PENDAHULUAN... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 3 Manfaat ... 3 KERANGKA PEMIKIRAN ... 4 TINJAUAN PUSTAKA ... 7

Perkembangan Peternakan Sapi Potong di Indonesia ... 7

Karakteristik Produksi dan Reproduksi Sapi Potong... 9

Budidaya Sapi Potong... 13

Kawasan Agribisnis Sapi Potong... 15

Strategi Pengembangan Kawasan Sapi Potong... 17

METODOLOGI PENELITIAN ... 20

Waktu dan Tempat Penelitian ... 20

Metode Pengumpulan Data dan Responden ... 20

Peubah yang Diamati ... 21

Analisis Data ... 21

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26

Karakteristik Wilayah Penelitian ... 26

Kondisi Iklim, Tanah dan Topografi ... 26

Potensi Wilayah dan Daya Dukung Lahan ... 29

Karakteristik Produksi Ternak Sapi Potong... 33

Populasi Sapi Potong ... 33

Produktivitas Sapi Potong... 36

Karakteristik Peternak... 38

Identitas Peternak... 38

Pengetahuan, Motivasi dan Partisipasi Peternak dalam Kegiatan Pengembangan Peternakan Sapi Potong... 42

Persepsi dan Aspirasi Masyarakat tentang Peternakan Sapi Potong ... 43

Manajemen Produksi Sapi Potong ... 43

Penerapan Teknologi Budidaya Sapi Potong... 43

Infrastruktur (Sarana dan Prasarana) Pendukung ... 45

Kelayakan Usaha Sapi Potong ... 46

Kawasan Sapi Potong Rakyat ... 46

Komponen Kawasan Agribisnis Sapi Potong ... 48

Strategi Pengembangan Kawasan Sapi Potong... 52

Analisis Faktor Internal-Eksternal (Analisis SWOT) ... 52

(12)

Faktor Penentu Pengembangan Kawasan Sapi Potong... 61

Pengembangan Kawasan Sapi Potong ... 64

Model Pengembangan Inti -Plasma ... 65

KESIMPULAN DAN SARAN ... 73

Kesimpulan ... 73

Saran... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 74

(13)

1 Populasi ternak sapi, kerbau dan keluarga peternak di Indonesia

tahun 2007.………. 8 2 Luas lahan dan penggunaannya di Indonesia ... 8 3 Rumus pendugaan bobot badan sapi berdasarkan ukuran tubuh ……….. 23 4 Kondisi iklim, jenis tanah dan topografi lokasi penelitian...…... 27 5 Daya dukung lahan dan potensi kampung Sakabu, Kalobo dan Waijan… 30 6 Populasi sapi potong (ekor) di Kabupaten Raja Ampat tahun

2006-2008………. …………. 34 7 Performans reproduksi sapi potong di Kabupaten Raja Ampat tahun

2006-2008………...………… 35 8 Jumlah pemasukan, pengeluaran dan pemotongan sapi potong di

Kabupaten Raja Ampat tahun 2006-2008……….. 35 9 Rataan bobot badan sapi Bali berdasarkan jenis kelamin dan umur di

kampung Sakabu,Kalobo dan Waijan Kabupaten Raja Ampat…….…….. 37 10 Karakteristik peternak sapi potong di Kabupaten Raja Ampat ……..…... 40 11 Hasil uji Mann-Whitney tentang pengetahuan, motivasi dan partisipasi

peternak dalam pengembangan sapi potong di Kabupaten Raja Ampat.... 42 12 Potensi peternakan sapi potong menurut persepsi dan aspirasi

masyarakat di Kabupaten Raja Ampat ……….. 43 13 Teknis pemeliharaan sapi potong di lokasi penelitian……… 44 14 Fasilitas sarana dan prasarana (infrastruktur) layanan peternakan ……… 45 15 Skoring penilaian kawasan penggemukan dan pembibitan sapi potong… 42

(14)

1 Kerangka pemikiran pengembangan kawasan sapi potong berbasis

sumber daya lokal di Kabupaten Raja Ampat ………. 6

2 Warna tubuh yang normal pada sapi Bali betina(1), Bali jantan(2), PO(3) dan Madura (4)………..…… 10

3 Keserasian bentuk tubuh sapi Bali (1), PO (2)dan Madura (3)……..…... 11

4 Metode pengukuran ukuran-ukuran tubuh sapi……….……….. 22

5 Kondisi topografi kampung Sakabu………. 28

6 Kondisi topografi kampung Kalobo………. 28

7 Kondisi topografi kampung Waijan………. 29

8 Kondisi lahan sagu dan sawah di lokasi penelitian……….. 32

9 Perbandingan bobot badan sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat dengan sapi Bali di beberapa wilayah di Pulau Bali………. 38

10 Dendogram hasil analisis klaster lokasi penelitian ………. 47

11 UPTD Peternakan Sapi Potong di kampung Kalobo………... 54

12 Model pengembangan inti-plasma sapi potong yang terintegrasi Dengan pertanian dan perkebunan……… 66

13 Pola pengembangan usaha sapi potong rakyat dengan sistem perguliran ternak……… 68

(15)

1 Peta lokasi penelitian ……….………... ……… 79

2 Aspek agroklimat wilayah penelitian ……… 80

3 Kondisi topografi, tanah dan hidrologi wilayah penelitian ……… 80

4 Hasil analisis cluster kawasan sapi potong ………..……….. 81

5 Hasil penilaian kawasan sapi potong di lokasi penelitian……….. 82

6 Analisis kelayakan usaha sapi potong rakyat ………...………. 84

7 Matriks tahapan pengembangan kawasan sapi potong di lokasi penelitian.. ………...……… 86

(16)

Berdasarkan Undang-Undang No. 32 dan 33 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, telah memberikan kewenangan bagi daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan dan perencanaan pembangunannya secara mandiri agar mampu memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki secara optimal demi kesejahteraan masyarakatnya. Khusus untuk Provinsi Papua selain aturan diatas, terdapat juga kebijakan khusus yaitu Undang-Undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, sehingga memiliki kewenangan yang khusus dalam pengelolaan pembangunan dan keuangan daerah.

Kabupaten Raja Ampat adalah kabupaten baru hasil pemekaran dari

Kabupaten Sorong pada tanggal 9 Mei 2003, merupakan daerah kepulauan yang terdiri atas 640 pulau besar dan kecil, dengan jumlah penduduk kurang lebih 52 271 jiwa (Dispendcapil Raja Ampat 2009). Upaya membangun dan mengembangkan kabupaten yang memiliki potensi sumber daya alam yang belum termanfaatkan secara optimal memerlukan suatu perencanaan pengelolaan yang tepat dan bijak demi kemakmuran masyarakat umumnya dan khususnya di Raja Ampat.

Salah satu sektor yang berpotensi dan sangat sesuai untuk dikembangkan di Kabupaten Raja Ampat adalah pertanian termasuk subsektor peternakan. Komoditas peternakan yang dapat dikembangkan di daerah ini adalah sapi potong. Kondisi wilayah yang luas memungkinkan pembentukan/pengembangan suatu kawasan budidaya sapi potong guna peningkatan ketahanan pangan untuk mewakili kebutuhan masyarakat akan protein hewani, peningkatan pendapatan petani peternak dan pendapatan asli daerah (PAD). Faktor utama yang menjadi bahan pertimbangan pembentukan suatu kawasan sapi potong di Kabupaten Raja Ampat antara lain; (1) ketersedian lahan yang cukup luas termasuk sumber daya tenaga kerja yang sudah menekuni peternakan sebagai bagian dari kegiatan usaha tani, (2) kegiatan budidaya sapi potong memiliki prospek bisnis tinggi, (3) produk sapi potong memiliki nilai elastisitas permintaan relatif tinggi terhadap perubahan pendapatan masyarakat dan (4) usaha berternak sapi mampu menciptakan

(17)

kesempatan kerja, kesempatan berusaha dan peningkatan pendapatan, mulai pada agribisnis hulu, budidaya, agribisnis hilir, dan kegiatan jasa terkait seperti transportasi, perbankan, agrotourism dan kegiatan jasa lainnya.

Sapi Bali umumnya dipelihara secara ekstensif oleh penduduk transmigran yang berasal dari Jawa dan bersifat sampingan dari kegiatan usaha tani sawah sebagai usaha utama. Kondisi ini didukung oleh wilayah daratan yang masih luas jika dilihat berdasarkan tingkat kepadatan penduduk di kabupaten Raja Ampat yaitu 7 jiwa/km2 (Dispendcapil Raja Ampat, 2009) dan sumber hijauan makanan ternak serta konsentrat yang belum termanfaatkan.

Sistem budidaya sapi potong pada saat ini masih menghadapi berbagai kendala antara lain; (a) kesulitan untuk memperoleh bibit, (b) masih tingginya angka pemotongan ternak betina produktif, (c) rendahnya angka kelahiran dan tingginya angka kematian ternak, (d) rendahnya tingkat keberhasilan teknologi

Inseminasi Buatan (IB), (e) belum diterapkan teknologi pakan aplikatif, (f) tingginya harga obat hewan, (g) kesulitan untuk akses ke sumber modal, (h) rendahnya nilai tambah yang diperoleh peternak dan (i) masih kurangnya

upaya pemanfaatan limbah pertanian dan ternak sebagai sumber pakan, sumber energi dan pupuk organik (Santosa 2001).

Kebutuhan asal ternak berupa daging, susu dan telur saat ini untuk penduduk Kabupaten Raja Ampat masih disuplai dari Kabupaten Sorong, karena terbatasnya ketersediaan dari dalam. Populasi sapi potong (umumnya sapi Bali) di Kabupaten Raja Ampat sampai tahun 2007 berjumlah 1021 ekor dengan jumlah terbanyak (948 ekor) berada di Distrik Salawati Utara. Disparitas antara suplai dan permintaan/kebutuhan menunjukkan bahwa upaya pengembangan sapi potong perlu dilakukan. Hal ini didukung oleh adanya peluang pemasaran daging sapi yang relatif besar untuk perusahaan-perusahaan pertambangan disekitar wilayah Kabupaten Raja Ampat yang siap menerima pasokan daging sapi (Distannakbun Raja Ampat 2008). Kebutuhan daging sapi untuk PT Freeport Indonesia sebesar 216 ton per bulan, sebagian besar (70%) berasal dari Australia (Freepot Indonesia 2008), untuk Petrocina Oil sebesar 86 ton per bulan yang semuanya dipasok dari luar Provinsi Papua (Disnak Sorong 2007).

(18)

Potensi wilayah yang mendukung dan ketersediaan bahan baku pakan serta sumber daya manusia memungkinkan pengembangan sapi potong berbasis sumber daya lokal di wilayah tersebut. Untuk mengetahui kapasitas wilayah diperlukan adanya kajian mengenai kawasan sapi potong berbasis kerakyatan yang tepat di Kabupaten Raja Ampat sehingga dapat menjadi acuan dalam arah pengembangan sapi potong selanjutnya guna peningkatan kesejahteraan masyarakat Raja Ampat dan pendapatan asli daerah.

Tujuan Penelitian ini bertujuan :

1. Mengidentifikasi dan menganalisa potensi usaha sapi potong di Kabupaten Raja Ampat.

2. Mengkaji pola manajemen dan karakteristik produksi peternakan sapi potong di Kabupaten Raja Ampat.

3. Merumuskan model kawasan sapi potong berbasis sumber daya ternak di Kabupaten Raja Ampat

Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai informasi ilmiah bagi institusi terkait dalam merumuskan kebijakan dan strategi pengembangan sapi potong di Kabupaten Raja Ampat.

(19)

paling barat pulau Papua (Irian Jaya) memiliki luas kurang lebih 4,6 juta hektar, merupakan jantung segitiga karang dunia (Coral Triangle) dan pusat keanekaragaman hayati laut tropis dunia. Sebagai daerah baru, pemerintah berusaha untuk membangun berbagai sektor dengan memanfaatkan potensi alam yang ada seoptimal mungkin. Salah satunya adalah sub sektor peternakan dengan komoditas sapi potong, yang merupakan salah satu komoditi unggulan untuk dikembangkan di Kabupaten Raja Ampat. Selain sebagai penghasil daging, sapi juga berfungsi menciptakan lapangan kerja, sumber tenaga kerja, daur ulang nutrisi (nutrient recycling), kotoran sebagai pupuk dan gas, serta fungsi lainnya dalam membantu mempertahankan kelangsungan hidup dan kelestarian fungsi lingkungan (Deptan 2002a).

Selama kurun waktu empat tahun (2004-2008) populasi sapi potong Indonesia mengalami peningkatan yang tidak berarti dari 10 533 000 ekor pada tahun 2004 menjadi 11 869 000 ekor pada tahun 2008. Hal serupa terjadi di Provinsi Papua Barat, populasi sapi potong mengalami peningkatan dari 30 149 ekor pada tahun 2005 menjadi 34 952 ekor pada tahun 2008 (BPS 2008). Populasi sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat berjumlah 923 ekor (Distannakbun Raja Ampat 2008). Kondisi wilayah dengan 6084.5 km², terdiri dari 640 pulau (Bappeda Raja Ampat 2007), memungkinkan untuk menampung jumlah sapi potong yang lebih banyak. Rendahnya jumlah sapi potong di daerah ini karena tidak adanya pembinaan dan program pengembangan sebelum menjadi kabupaten baru. Keadaan ini didukung oleh tidak berjalannya program redistribusi ternak pemerintah, disamping penduduknya yang mayoritas bekerja sebagai nelayan dan sebagian besar belum mengenal cara beternak sapi.

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk menjadikan sapi potong sebagai salah satu komoditas unggulan daerah dilakukan melalui program peningkatan populasi ternak sapi potong, pengadaan ternak, peningkatan sarana dan prasarana peternakan, pembangunan kebun hijauan makanan ternak, dan peningkatan kapasitas dan keterampilan petani peternak maupun tenaga teknis peternakan. Peluang pengembangan komoditas sapi potong ini secara tidak

(20)

langsung didukung oleh perkembangan pariwisata daerah, pembukaan perusahaan pertambangan nikel dan perusahan budidaya mutiara akan meningkatkan permintaan pasar lokal akan daging sapi. Selain itu, yang juga menjadi potensi pemasaran daging sapi adalah perusahaan pertambangan besar seperti Freeport di Timika, Petrocina Oil di Sorong dan Britis Petroleum di Bintuni, yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Raja Ampat. Melihat potensi yang sangat besar untuk pengembangan sapi potong, maka diperlukan pengadaan satu kawasan pengembangan sapi potong.

Pemeliharaan sapi potong di Kabupaten Raja Ampat saat ini masih didominasi oleh peternak kecil sehingga berbagai kendala sering dihadapi oleh petani meliputi kesulitan memperoleh bibit yang baik, manajemen pemeliharaan yang kurang memadai, tingginya angka kematian ternak, rendahnya kepercayaan dari pihak pemberi modal, dan kurangnya pemahaman tentang masalah lingkungan. Sementara beberapa hal yang menunjang untuk diterapkannya konsep pembangunan yang berkelanjutan dalam pengembangan kawasan peternakan sapi potong ini antara lain tingginya potensi sumber daya alam, motivasi masyarakat, pasar dan dukungan pemerintah.

Pengembangan kawasan sapi potong untuk pendayagunaan pembangunan sentra peternakan mengandung lima dimensi utama, yaitu wilayah, ternak sapi potong, petani peternak, teknis peternakan dan faktor eksternal (kebijakan pemerintah, sarana prasarana penunjang, permodalan dan pemasaran). Masing-masing dimensi tersebut memiliki atribut dan kriteria tersendiri yang mencerminkan keberlanjutan dari dimensi yang bersangkutan. Hal ini merupakan komponen-komponen yang akan digunakan untuk menyusun strategi penyelesaian masalah dalam pengembangan kawasan sapi potong, untuk itu diperlukan adanya suatu kajian kawasan sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan peternakan sapi potong berbasis sumber daya lokal yang secara teknis disusun dalam bentuk pola kawasan. Secara skematis kerangka pemikiran pengembangan kawasan sapi potong berbasis sumber daya lokal disajikan pada Gambar 1.

(21)

Gambar 1. Kerangka pemikiran pengembangan kawasan sapi potong berbasis sumber daya lokal di Kabupaten Raja Ampat.

Peluang :

- Dukungan kebijakan Pemda - Luas wilayah & ketersediaan

pakan

- Minat masyarakat untuk beternak - Pasar tersedia

Kendala :

- Ketersediaan bibit - Sistem pemeliharaan

ekstensif

- Keterampilan peternak rendah Sapi Potong Komoditas Unggulan

di Kabupaten Raja Ampat

ANALISIS

Perumusan Strategi Pengembangan Kawasan Sapi Potong

Pengembangan Model Kawasan Sapi Potong Berbasis Sumber Daya Lokal Perlu Kajian tentang :

- Karakteristik wilayah - Karakteristik sapi potong - Karakteristik petani/peternak - Teknis peternakan

(22)

Peternakan sapi potong di Indonesia mulai mengalami perkembangan yang negatif pada saat krisis moneter, usaha sapi potong bayak yang gulung tikar termasuk peternakan rakyat. Kondisi ini disebabkan ketergantungan yang besar terhadap sapi bakalan dari luar dan ketidak tersediaan bibit unggul. Kegiatan

usaha yang mampu bertahan selama krisis adalah peternakan sapi potong rakyat yang dipelihara secara subsistem. Ditinjau dari populasi sapi potong di

Indonesia, jumlah populasi terbanyak adalah pada tahun 1997 sebesar 11 938 856

ekor yang kemudian terus mengalami penurunan hingga tahun 2004 menjadi 10 532 889 ekor. Sejak tahun 2005 peningkatan terus terjadi hingga dengan tahun

2008 populasi sapi potong sudah mencapai 11 869 158 ekor (BPS 2008), kondisi ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun tidak terjadi perkembangan populasi yang berarti. Menurut BPS (2008), jumlah penduduk Indonesia tahun 2007 mencapai 223 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan populasi 1.01% per tahun dengan tingkat konsumsi daging sapi 0.52 kg/kapita/tahun, hal ini berarti bahwa penduduk Indonesia tiap tahun membutuhkan daging sapi lebih kurang 116 000 ton yang setara dengan 1 035 357 ekor sapi, dari jumlah kebutuhan daging ini lebih kurang 600–700 ribu ekor diimpor dari Australia dan beberapa negara lain.

Berdasarkan potensi yang ada, Indonesia selayaknya harus mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan asal ternak dan bahkan dapat menjadi negara pengekspor ternak, hal ini sangat mungkin untuk dicapai karena ketersediaan sumber daya ternak dan peternak (Tabel 1), lahan dengan berbagai jenis tanaman dan produk industri pertanian (Tabel 2), biofuel, pangan dan keberadaan sumber daya manusia serta ketersediaan inovasi teknologi yang memadai. Apabila potensi penggunaan lahan dapat dimanfaatkan sebesar 50 % maka secara potensial dapat menampung 29 juta satuan ternak (Bamualim et al. 2008).

(23)

Tabel 1. Populasi ternak sapi, kerbau dan jumlah keluarga peternak di Indonesia tahun 2007

Jenis Ternak Jumlah ternak (ekor) Jumlah Keluarga Peternak (KP) Rasio Ternak:KP (ekor/KP) Sapi potong Sapi perah Kerbau 11 515 000 377 772 2 346 017 4 572 766 118 752 450 605 2.52 3.18 2.51 Total 14 238 789 5 142 123 2.77 Sumber: Ditjennak (2008)

Tabel 2. Luas lahan dan penggunaannya di Indonesia

Nomor Penggunaan Luas Lahan Potensi**)ST/ha*) Jumlah ST ditampung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Persawahan Perumahan Pekarangan Shifting cultivation Padang ilalang Rawa Danau, sungai dll. Lahan kosong Hutan Perkebunan 7 885 878 5 357 596 10 775 057 3 839 093 2 432 113 431 156 236 228 11 341 757 9 303 625 18 489 589 1.75 - - - 0.40 0.20 - 0.40 0.10 2.00 13 800 287 - - - 972 845 862 631 - 4 536 703 930 363 26 979 178 Total 74 516 803 - 58 082 006 Sumber: BPS (2008); **)Puslitbangnak (2006).

Keterangan:*)ST (Satuan ternak).

Populasi ternak sapi potong di Papua Barat dalam kurun waktu empat tahun dari tahun 2004 (30 149 ekor) sampai dengan 2008 (34 952 ekor), menunjukkan terjadi peningkatan sebesar 3.4% per tahun (BPS 2008). Kabupaten Raja Ampat hanya menyumbang 2.3% atau 923 ekor dari total populasi sapi potong di Provinsi Papua Barat (Distannakbun Raja Ampat 2007). Luas wilayah Kabupaten Raja Ampat ± 6084.5 km2 dengan luas daratan ± 3650.7 km2 dan 60% merupakan pulau-pulau kecil dan dataran rendah (Bappeda Raja Ampat 2007). Dataran rendah dan pulau-pulau kecil luasnya 2190.42 km2 merupakan potensi bagi pengembangan sapi potong. Populasi ternak keseluruhan dipelihara secara ekstensif, jumlah kepemilikan berkisar 2-4 ekor per keluarga peternak dengan tenaga kerja berasal dari dalam keluarga dan bersifat usaha sampingan

(24)

dari usaha utama sebagai petani atau nelayan (Distannakbun Raja Ampat 2007). Konsekuensi dari sistem ini mengakibatkan rendahnya produktivitas ternak dan perkembangan peternakan sapi potong menjadi terhambat, oleh karena itu di perlukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan sumber daya ternak, peternak, lahan dan produksi pakan (Wirdahayati dan Bamualim 2007).

Konsumsi produk hasil ternak berupa daging, telur dan susu untuk Kabupaten Raja Ampat tahun 2006 sebesar 4.3 kg/kapita/tahun, sementara target produksi daging nasional yang mengacu pada kesepakatan Widya Karya Pangan dan Gizi tahun 2005 per orang adalah 10 kg/kapita/pertahun. Hal ini menunjukkan kebutuhan gizi asal hewani masyarakat Kabupaten Raja Ampat belum terpenuhi, sehingga perlu upaya untuk mencukupinya melalui ketersediaan protein yang berasal dari ternak sapi potong (Bappeda Raja Ampat 2007).

Pembangunan peternakan sapi potong saat ini dilakukan secara bersama oleh pemerintah, masyarakat (peternak skala kecil) dan swasta. Pemerintah menetapkan aturan main, memfasilitasi dan mengawasi aliran dan ketersediaan produk baik jumlah maupun mutunya, agar terpenuhi halal, aman, bergizi dan sehat. Swasta dan petani peternak berperan seluas-luasnya dalam mewujudkan kecukupan produk peternakan melalui produksi, importasi, pengolahan, pemasaran dan distribusi produk sapi potong (Bamualim et al. 2008).

Karakteristik Produksi dan Reproduksi Sapi Potong

Sapi potong di Indonesia diklasifikasikan menjadi beberapa spesies berdasarkan habitat wilayahnya antara lain adalah sapi Bali, Peranakan Ongol (PO), Sumba Ongol, Madura, Aceh dan Brahman (Deptan 2006). Jenis sapi yang dipelihara di kabupaten Raja Ampat adalah sapi Bali yang di introduksi pertama kali pada tahun 1978 oleh Pemerintah Provinsi Irian Jaya (Papua) sebanyak 70 ekor (Distannakbun Raja Ampat 2007).

Salah satu upaya untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas sapi potong adalah dengan menggunakan bibit sapi potong yang berkualitas, karena hal ini merupakan salah satu faktor produksi yang menentukan dan mempunyai nilai strategis dalam upaya pengembangan peternakan sapi potong secara berkelanjutan (Deptan 2006). Bibit sapi potong yang bagus

(25)

menurut Wiyono dan Aryogi (2007) harus memiliki beberapa kriteria umum sebagai berikut :

a. Kesesuaian warna tubuh dengan bangsanya, sapi PO berwarna putih, sapi Madura berwarna coklat, dan sapi Bali betina berwarna merah bata serta jantan dewasa berwarna hitam (Gambar 2).

Gambar 2. Warna tubuh yang normal pada sapi Bali betina (1), Bali jantan (2), PO (3) dan Madura (4).

b. Keserasian bentuk dan ukuran antara kepala, leher dan tubuh ternak, dengan tingkat pertambahan dan pencapaian berat badan ternak yang tinggi pada umur tertentu tinggi (Gambar 3).

c. Ukuran tinggi punuk/gumba minimal pada calon bibit sapi potong (indukan dan pejantan), mengacu pada standar bibit populasi setempat, regional atau nasional.

d. Tidak tampak adanya cacat tubuh yang dapat diwariskan, baik yang dominan (terjadi pada sapi yang bersangkutan) maupun yang resesif (tidak terjadi pada sapi yang bersangkutan, tetapi terjadi pada sapi tetua dan atau di sapi keturunannya).

e. Untuk pejantan, testis sapi umur diatas 18 bulan harus simetris (bentuk dan ukuran yang sama antara skrotum kanan dan kiri), menggantung dan mempunyai ukuran lingkaran terpanjangnya melebihi 32 cm (32–37 cm).

(26)

f. Kondisi sapi sehat yang diperlihatkan dengan mata yang bersinar, gerakannya lincah tetapi tidak liar dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan pada organ reproduksi luar, serta bebas dari penyakit menular terutama yang dapat disebarkan melalui aktivitas reproduksi.

Gambar 3. Keserasian bentuk tubuh sapi Bali (1), PO (2) dan Madura (3).

Produktivitas ternak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sampai 70% dan faktor genetik hanya sekitar 30%. Diantara faktor lingkungan tersebut, aspek pakan mempunyai pengaruh paling besar yaitu sekitar 60% (Maryono dan Romjali 2007). Hal ini menunjukkan bahwa walaupun potensi genetik ternak tinggi, namun apabila pemberian pakan tidak memenuhi persyaratan kuantitas dan kualitas, maka produksi yang tinggi tidak akan tercapai (Andini et al. 2007). Disamping pengaruhnya yang besar terhadap produktivitas ternak, faktor pakan juga merupakan biaya produksi yang terbesar dalam usaha peternakan. Biaya pakan ini dapat mencapai 60-80% dari keseluruhan biaya produksi (Umiyasih et al. 2007). Pakan utama ternak ruminansia adalah hijauan yaitu sekitar 60-70%, dan pakan yang baik adalah murah, mudah didapat, tidak beracun, disukai ternak, mudah diberikan dan tidak berdampak negatif terhadap produksi dan kesehatan ternak serta lingkungan (Maryono dan Romjali 2007).

(27)

Perkandangan merupakan salah satu faktor produksi yang belum mendapat perhatian dalam usaha peternakan sapi potong khususnya peternakan rakyat. Konstruksi kandang yang belum sesuai dengan persyaratan teknis akan mengganggu produktivitas ternak, kurang efisien dalam penggunaan tenaga kerja dan berdampak terhadap lingkungan sekitarnya (Alim et al. 2004). Beberapa persyaratan yang diperlukan dalam mendirikan kandang antara lain (1) memenuhi persyaratan kesehatan ternaknya, (2) mempunyai ventilasi yang baik, (3) efisien dalam pengelolaan (4) melindungi ternak dari pengaruh iklim dan keamanan dan, (5) tidak berdampak terhadap lingkungan sekitarnya. Konstruksi kandang harus kuat dan tahan lama, penataan dan perlengkapan kandang hendaknya dapat memberikan kenyamanan kerja bagi petugas dalam proses produksi seperti memberi pakan, pembersihan, pemeriksaan birahi dan penanganan kesehatan. Bentuk dan tipe kandang hendaknya disesuaikan dengan lokasi berdasarkan agroekosistemnya, pola atau tujuan pemeliharaan dan kondisi fisiologis ternak (Rasyid dan Hartati 2007).

Produktivitas ternak sapi dapat dinilai melalui dua indikator, pertama adalah performans produksi diantaranya penampilan bobot hidup dan pertambahan bobot badan; kedua adalah performan reproduksi diantaranya produksi anak (calf crop) dalam satu tahun. Calf crop adalah angka yang menggambarkan jumlah anak lepas sapih yang diproduksi dalam satu tahun terhadap jumlah induk dalam persen. Calf crop dipengaruhi oleh jumlah anak sekelahiran, persentase induk yang melahirkan dalam total populasi induk, persentase kematian (mortalitas) pada saat anak belum disapih, dan jarak beranak (Arrington dan Kelley 1976). Jarak kelahiran dipengaruhi oleh lama kebuntingan dan jarak antara melahirkan dan pengawinan berikutnya (service period) yang dipengaruhi oleh keterampilan peternak dalam mengawinkan ternak yang ditunjukkan oleh besarnya angka service per conception dan waktu menyusui (Fraser 1979).

Kemampuan reproduksi seekor ternak akan berpengaruh terhadap penampilan produksi dari ternak tersebut, terutama pada jumlah anak yang dilahirkan. Terdapat empat hal yang menjadi kendala reproduksi ternak sapi potong, yaitu : 1) lama bunting yang panjang, 2) panjangnya interval

(28)

dari melahirkan sampai estrus pertama, 3) tingkat konsepsi yang rendah dan 4) kematian anak sampai umur sapih yang tinggi. Aktivitas reproduksi dan jarak beranak sebagian besar (95%) dipengaruhi oleh faktor non genetik dan lingkungan, mencakup tatalaksana pakan dan kesehatan. Adanya perbedaan penampilan reproduksi bangsa ternak di suatu wilayah dipengaruhi oleh keragaman lingkungan yang meliputi keragaman genetik, ketersediaan nutrisi, dan tatalaksana reproduksi (Toelihere 1983).

Kendala dan peluang pemeliharaan sapi potong di suatu wilayah, secara umum harus memperhatikan tiga faktor, yaitu pertimbangan teknis, sosial dan ekonomis. Pertimbangan teknis mengarah pada kesesuaian sistem produksi yang berkesinambungan, ditunjang oleh kemampuan manusia, dan kondisi agroekologis. Pertimbangan sosial mempunyai arti bahwa eksistensi teknis ternak di suatu daerah dapat diterima oleh sistem sosial masyarakat dalam arti tidak menimbulkan konflik sosial. Pertimbangan ekonomis mengandung arti bahwa ternak yang dipelihara harus menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian daerah serta bagi pemeliharanya sendiri. Disamping ketiga faktor tersebut terdapat faktor lain yang mempengaruhi perkembangan peternakan secara eksternal di antaranya adalah infrastruktur, keterpaduan dan terkoordinasi lintas sektoral, perkembangan penduduk serta kebijakan perkembangan wilayah atau kebijakan pusat dan daerah (Santosa 2001).

Hambatan-hambatan dalam usaha meningkatkan produksi ternak pada umumnya disebabkan oleh masalah yang kompleks dan bersifat biologis, ekologis serta sosioekonomis. Hal ini akan berpengaruh terhadap produktivitas secara kuantitatif terutama usaha peternakan yang bersifat tradisional. Pembangunan peternakan nasional, peternakan rakyat ternyata masih memegang peranan sebagai aset terbesar, tetapi sampai saat ini tipologinya masih bersifat sambilan (tradisional) yang dibatasi oleh skala usaha kecil, teknologi sederhana dan produk berkualitas rendah (Riady 2004).

Budidaya Sapi Potong

Budidaya sapi potong merupakan suatu kegiatan pemeliharaan sapi potong secara terkontrol untuk tujuan produksi. Berdasarkan tujuan produksi, usaha budidaya sapi potong terutama terdiri dari usaha pembibitan dan usaha

(29)

penggemukan sapi. Pada suatu kawasan agribisnis sapi potong terdapat juga kombinasi usaha pembibitan dan penggemukan sapi. Pembibitan sapi merupakan kegiatan pemeliharaan sapi bibit baik secara intensif melalui manajemen yang terkontrol maupun ekstensif dilepas di padang penggembalaan dengan tujuan untuk menghasilkan sapi bibit pengganti (replacement stock) dan sapi bakalan. Induk sapi dan anak dalam sistem ini dipelihara bersama hingga mencapai masa penyapihan. Output yang dihasilkan dalam kegiatan ini adalah anak sapi sapihan jantan dan betina. Berbeda dengan penggemukan sapi, tujuan pemeliharanya untuk menghasilkan sapi potongan yang sesuai dengan spesifikasi pasar. Oleh karena itu, output yang dihasilkan adalah sapi ‘finish’ (Priyanto 2002).

Indonesia memiliki tiga pola pengembangan sapi potong rakyat (Yusdja et al. 2004). Pola Pertama, pengembangan sapi potong yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan usaha pertanian terutama sawah dan ladang, artinya di setiap wilayah persawahan atau perladangan yang luas maka disana ditemukan banyak ternak sapi. Pola ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Peternak memelihara sapi dengan tujuan sebagai sumber tenaga kerja terutama untuk mengolah tanah dan penarik barang. Oleh karena itu, pertumbuhan sektor pertanian akan meningkatkan jumlah populasi sapi, selain itu usaha pertanian berhubungan erat dengan perkembangan penduduk. Penduduk akan semakin padat diwilayah tanah pertanian yang subur. Keadaan ini menciptakan struktur usaha peternakan berskala kecil.

Pola Kedua, adalah pengembangan sapi tidak terkait dengan pengembangan usaha pertanian. Pola ini terjadi di wilavah tidak subur, sulit air, temperatur tinggi, dan sangat jarang penduduk seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian Sulawesi. Pada umumnya, pada wilayah semacam ini, terdapat padang-padang yang luas yang tidak dapat diandalkan sebagai lahan pertanian. Tujuan pemeliharaan sapi potong di wilayah ini, yang semula dimaksudkan sebagai sumber daging, ternyata juga berkembang sebagai status sosial. Usaha sapi tetap bertahan sebagai usaha rakyat, namun pemerintah mengubah pandangan tersebut bahwa usaha ternak sapi merupakan lapangan kerja dan sumber pendapatan.

(30)

Ciri-ciri peternakan rakyat yakni skala usaha relatif kecil, merupakan usaha rumah tangga, merupakan usaha sampingan, menggunakan teknologi sederhana dan bersifat padat karya serta berbasis organisasi kekeluargaan (Yusdja et al. 2004). Usaha peternakan rakyat memiliki posisi yang sangat lemah dan sangat peka terhadap perubahan. Alternatif pengembangannya adalah dengan melakukan reformasi modal, penciptaan pasar, sistem kelembagaan dan input teknologi.

Pola Ketiga, Pengembangan usaha penggemukan sapi potong yang benar-benar padat modal, dalam usaha skala besar hanya terbatas pada pembesaran sapi bakalan menjadi sapi potong. Perusahaan penggemukan ini dikenal dengan istilah feedlotters menggunakan sapi bakalan impor untuk usaha penggemukan.

Kawasan Agribisnis Sapi Potong

Konsep kawasan adalah wilayah yang berbasis pada keberagaman fisik dan ekonomi tetapi memiliki hubungan erat dan saling mendukung satu sama lain secara fungsional demi mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kawasan ini secara sendiri-sendiri maupun

secara bersama membentuk suatu klaster yang dapat berupa klaster pertanian dan klaster industri, tergantung dari kegiatan ekonomi yang dominan dalam

kawasan itu (Bappenas 2004). Kawasan peternakan merupakan suatu kawasan yang secara khusus diperuntukan untuk kegiatan peternakan atau terpadu sebagai komponen usahatani (berbasis tanaman pangan, perkebunan, hortikultura atau perikanan) dan terpadu sebagai komponen ekosistem tertentu (kawasan hutan lindung, suaka alam), sedangkan kawasan agribisnis peternakan adalah kawasan peternakan yang berorientasi ekonomi dan memiliki sistem agribisnis berkelanjutan yang berakses ke industri hulu maupun hilir (Deptan 2002b).

Paradigma pembangunan peternakan yang mampu memberikan peningkatan pendapatan peternak sapi potong rakyat yang relatif tinggi dan menciptakan daya saing global produk peternakan adalah paradigma pembangunan agribisnis berbasis peternakan, subsistem agribisnis peternakan mencakup empat subsistem, yaitu: (1) subsistem agribisnis hulu peternakan, kegiatan ekonomi yang menghasilkan sapronak, (2) subsistem agribisnis budidaya peternakan, kegiatan yang menggunakan sapronak untuk menghasilkan komoditi peternakan primer,

(31)

(3) subsistem agribisnis hilir peternakan, kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas peternakan primer menjadi produk olahan, dan (4) subsistem agribisnis jasa penunjang, kegiatan ekonomi yang menyediakan jasa yang dibutuhkan ketiga sistem yang lain seperti transportasi, penyuluhan dan pendidikan, penelitian dan pengembangan, perbankan, dan kebijakan pemerintah (Saragih 2000),

Menurut Bappenas (2004) Dipandang dari segi potensi agrosistem dan tingkat kemandirian kelompok, kawasan peternakan bisa dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: kawasan baru, kawasan binaan, dan kawasan mandiri. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketiga macam kawasan itu adalah merupakan tahapan pengusahaan pengembangan kawasan peternakan rakyat. Tahapan ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Kawasan Peternakan Baru.

Kawasan ini dikembangkan dari daerah atau wilayah kosong ternak atau jarang ternak, tapi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi suatu kawasan peternakan. Petani telah memiliki usaha tani lain terlebih dahulu, atau belum memiliki usaha apapun di sektor agribisnis. Demikian pula kelompok petaninya juga belum terbentuk, kalaupun sudah ada tapi belum memiliki kelembagaan yang kuat (kelompok pemula). Lahan cukup luas dan bahan pakan cukup potensial untuk digunakan sebagai salah satu sumber makanan ternak. Peran pemerintah diperlukan dalam bentuk pelayanan, pengaturan dan pengawasan.

2. Kawasan Peternakan Binaan.

Kawasan ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari Kawasan baru, setelah memenuhi berbegai persyaratan yang ditentukan untuk kawasan binaan. Daerah atau wilayah telah berkembang sesuai dengan perkembangan dan peningkatan kemampuan kelompok tani dari kelompok pemula menjadi kelompok madya, dan masing-masing kelompok telah memiliki populasi minimal dengan skala usaha yang ekonomis. Kerjasama antar kelompok tani sudah mulai dirintis, dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA). Demikian pula unit-unit pelayanan, unit-unit pengembangan sarana dan unit-unit pemasaran, sudah mulai dibangun. Peran pemerintah sama seperti pada kawasan baru, namun peran pelayanan sudah mulai berkurang.

(32)

3. Kawasan Peternakan Mandiri.

Kawasan ini merupakan pengembangan tahap lanjut dari kawasan binaan, yang telah lebih maju dan berkembang menjadi wilayah yang lebih luas. Kelompok tani telah meningkat kemampuannya menjadi kelompok lanjut, dan telah bekerjasama dengan beberapa kelompok lain dalam wadah KUBA. Bahkan telah dikembangkan beberapa KUBA yang satu sama lainnya saling bekerja sama. Terdapat populasi minimal dengan skala usaha yang ekonomis pada setiap kepala keluarga, setiap Kelompok, setiap KUBA, dengan perkembangan populasi minimal untuk satu kawasan. Unit-unit pelayanan, unit-unit pengembangan sarana produksi, dan unit-unit pemasaran telah berkembang sangat efisien, sedemikian hingga ada kemandirian para petani ternak, kelompok petani, KUBA, dan kawasan. Pada tahap ini, peran pemerintah tinggal hanya pengaturan dan pengawasan.

Komponen-komponen pembentuk kawasan peternakan sapi potong yang menjadi indikator penentuan suatu bentuk kawasan meliputi lahan, pakan, ternak sapi potong, teknologi, peternak dan petugas pendamping, kelembagaan, aspek manajemen usaha, dan fasilitas (Priyanto 2002).

Strategi Pengembangan Kawasan Sapi Potong

Strategi merupakan rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat (Glueck and Jauch 1994). Esensi strategi merupakan keterpaduan dinamis faktor eksternal dan faktor internal yang berisikan strategi itu sendiri. Strategi merupakan respon yang secara terus-menerus atau adaptif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal (Rangkuti 2006).

Manajemen strategi dapat didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan dan mengevaluasi suatu keputusan sehingga mampu mencapai tujuan obyektifnya. Proses manajemen strategi terdiri atas tiga tahap yaitu perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Perumusan strategi adalah mengenali peluang dan ancaman eksternal, menetapkan kekuatan dan kelemahan internal serta memilih strategi

(33)

tertentu untuk dilaksanakan. Implementasi strategi sering disebut tahap tindakan manajemen strategi dengan mengubah strategi yang telah dirumuskan menjadi suatu tindakan. Evaluasi strategi adalah tahap akhir dari manajemen strategi dengan melakukan tiga macam aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi yaitu meninjau faktor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi, mengukur prestasi dan mengambil tindakan korektif (David 2001).

Menurut Wahyudi (1996) tahap perumusan atau pembuatan strategi merupakan tahap yang paling menantang dan menarik dalam proses manajemen strategi. Inti pokok dari tahapan ini adalah menghubungkan suatu organisasi dengan lingkungannya dan menciptakan strategi-strategi yang cocok untuk dilaksanakan. Proses pembuatan strategi terdiri atas empat elemen sebagai berikut ; (1) identifikasi masalah-masalah strategik yang dihadapi meliputi lingkungan eksternal dan internal; (2) pengembangan alternatif-alternatif strategi yang ada dengan mempertimbangkan strategi yang lain; (3) evaluasi tiap alternatif strategi; dan (4) penentuan atau pemilihan strategi terbaik dari berbagai alternatif yang tersedia.

Sejak dikeluarkannya UU No. 24 Tahun 1992 tentang tata ruang, semua kegiatan pembangunan yang menggunakan, memanfaatkan, dan mengelola sumberdaya alam yang berada di darat, laut dan udara harus disesuaikan dengan rencana penataan ruang sebagai suatu strategi nasional dalam memanfaatkan, menggunakan kekayaan sumberdaya alam, mendorong pembangunan, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara nasional dan berkelanjutan (Ditjennak 2005). Pengembangan sapi potong merupakan upaya untuk meningkatkan produksi ternak secara kuantitas maupun kualitas, meningkatkan kecernaan bahan pakan, membangun sistem agribisnis peternakan, mengembangkan penggunaan sumberdaya tersedia, dan dapat meningkatkan nilai tambah bagi peternak sebagai pengelola usaha peternakan tersebut. Bamualim (2007) menganjurkan agar dalam pengembangan ternak di suatu daerah, perlu diukur potensi sumberdaya yang tersedia yang mencakup ketersediaan lahan dan pakan, tenaga kerja dan potensi ternak yang akan dikembangkan. Potensi lahan ditentukan oleh tersedianya tanah pertanian, kesuburan tanah, iklim, topografi, ketersediaan air, dan pola pertanian yang ada.

(34)

Gunardi (1998) menyatakan bahwa usaha untuk mencapai tujuan

pengembangan ternak dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu (1) pendekatan teknis dengan meningkatkan kelahiran, menurunkan kematian,

mengontrol pemotongan ternak dan perbaikan genetik ternak, (2) pendekatan terpadu yang menerapkan teknologi produksi, manajemen ekonomi, pertimbangan sosial budaya yang mencakup dalam "Sapta Usaha Peternakan", serta pembentukan kelompok peternak yang bekerjasama dengan instansi-instansi terkait, dan (3) pendekatan agribisnis dengan tujuan : mempercepat pengembangan peternakan melalui integrasi dari keempat aspek yaitu input produksi (lahan, pakan, plasma nutfah, dan sumberdaya manusia), proses produksi, pengolahan hasil, dan pemasaran.

Menurut Preston dan Leng (1987), tujuan dasar yang harus diperhatikan

dalam pengembangan sapi potong dengan sistem usaha tani lain adalah (1) mengoptimalkan produktivitas pertanian dan peternakan dengan menggunakan

input yang tersedia, dan (2) memadukan antara beberapa jenis tanaman, ternak, limbah peternakan dan pertanian sehingga semua bagian saling memanfaatkan.

Kabupaten Raja Ampat melalui Dinas Pertanian dan Peternakan sebagai instansi teknis telah melakukan beberapa terobosan yang merupakan strategi untuk meningkatkan populasi ternak sapi potong khususnya sapi Bali. Terobosan tersebut berupa pelaksanaan program perbibitan dengan penyebaran ternak sapi Bali kepada petani di beberapa Distrik dan pembangunan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Peternakan Sapi Bali di kampung Kalobo distrik salawati Utara dengan menggunakan pola Village Breeding Center (VBC) dan kemitraan dengan para petani peternak.

(35)

Penelitian ini dilaksanakan selama sembilan bulan dari Agustus 2008 - Mei 2009 dengan rincian jadwal sebagai berikut; (1) persiapan (Agustus- September 2008), (2) pengumpulan data (Oktober - Desember 2008), dan (3) analisis data dan penulisan (Januari - Mei 2009). Lokasi penelitian adalah Kampung Sakabu, Kalobo dan Waijan di Distrik Salawati Utara Kabupaten Raja

Ampat Provinsi Papua Barat. Beberapa pertimbangan pemilihan lokasi ini adalah (1) 95% lebih populasi sapi potong (sapi Bali) berada di lokasi ini, dan (2) berdasarkan RTRW Kabupaten Raja Ampat, lokasi ini diproyeksikan sebagai kawasan agropolitan dengan sentra pengembangan sapi potong di Kabupaten Raja Ampat (Bappeda Raja Ampat 2007).

Metode Pengumpulan Data dan Responden

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan cara pengamatan langsung di lapangan dan melakukan wawancara dengan 218 orang responden atau yang memiliki sapi potong di lokasi penelitan (Distannakbun 2008). Kegiatan wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan (questioneraire) yang telah disiapkan terlebih dahulu. Pengamatan langsung dilakukan dengan cara pengukuran sampel sapi dan melihat secara visual untuk menentukan kondisi dan pola pemeliharaan di lokasi penelitian dan padang penggembalaan.

Data yang dikumpulkan mencakup data sekunder dan primer. Data sekunder selama lima tahun terakhir diperoleh dari Bappeda Kabupaten Raja Ampat, Dinas Pertaniaan Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Raja Ampat, BMG Kabupaten Sorong, dan BPS Kabupaten Sorong. Data sekunder tersebut meliputi (1) karakteristik wilayah yang terdiri dari iklim dan topografi, (2) sistem penggunaan lahan, (3) karakteristik kelembagaan yang ada dan (4) kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan peternakan. Data primer adalah hasil pengamatan dan pengukuran serta wawancara dengan responden, yakni (1) karakteristik produksi ternak sapi potong, (2) karakteristik peternak, dan (3) pola manajemen produksi sapi potong.

(36)

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini meliputi:

1. Karakteristik wilayah; meliputi luas lahan, sistem penggunaan lahan, iklim, jenis tanah dan topografi, dan daya dukung lahan (kapasitas tampung). 2. Karakteristik produksi ternak; meliputi populasi, tingkat kelahiran, tingkat

kematian, jumlah pengeluaran dan pemasukan ternak, jumlah pemotongan, dan estimasi bobot badan melalui pengukuran beberapa ukuran tubuh. 3. Karakteristik peternak meliputi umur, tingkat pendidikan, tujuan beternak,

lama beternak dan jumlah kepemilikan ternak serta pengetahuan, motivasi dan partisipasi peternak dalam kegiatan pengembangan sapi potong dengan menggunakan sistem skoring (kategori nilai skor ; rendah < 25, cukup 26 - 33 , tinggi 34 – 41, dan sangat tinggi 42 - 50).

4. Pola manajemen produksi sapi potong; meliputi reproduksi, pemeliharaan dan perkandangan, pakan, penyakit dan kesehatan ternak, pendampingan, sarana dan prasarana, pasca panen dan pemasaran hasil.

5. Karakteristik kelembagaan dan kebijakan pemerintah; meliputi kelembagaan peternak dan permodalan, program-program pemerintah daerah yang menunjang pegembangan peternakan sapi potong.

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, dan disajikan dalam bentuk Tabel, Gambar dan Grafik.

Kapasitas tampung ternak ruminansia dalam suatu wilayah menunjukkan populasi maksimum ternak sapi potong yang dapat ada di wilayah tersebut berdasarkan ketersediaan pakan hijauan. Untuk mengetahui kapasitas pengembangan ternak sapi potong, data yang diperoleh dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan penghitungan Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia (KPPTR) mengacu pada Direktorat Jenderal Peternakan (1994), sebagai berikut:

(37)

1) PMSL = a LG + b PR + c LH Keterangan :

PMSL = Potensi maksimum berdasarkan sumber daya lahan (ST). a = Daya tampung ternak ruminansia di lahan garapan (ST),

a = 0,077 ST/ha lahan pekarangan ; a = 0,082 ST/ ha lahan perkebunan ; a = 1,52 ST / ha lahan sawah.

LG = Luas lahan garapan (ha)

b = Daya tampung ternak ruminansia di lahan padang rumput (ST). b = 0,5 ST/ha rumput alam ; b = 1 ST/ha alang-alang PR = Luas padang rumput/tegalan (ha)

c = Daya tampung ternak ruminansia di lahan hutan dan rawa (ST), c = 2,86 ST/ ha lahan.

LH = Luas lahan hutan dan rawa (ha) 2) KPPTR (SL) = PMSL – POPRIL

Keterangan :

KPPTR = Kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia berdasarkan sumber daya lahan (ST)

POPRIL = Populasi riil ternak ruminansia 3) PMKK = a x KK

Keterangan ;

PMKK = Potensi maksimum usaha ternak (ST) berdasarkan kepala keluarga

KK = Kepala Keluarga

a = Kemampuan rumah tangga untuk usaha ternak rumnansia tanpa tenaga kerja dari luar rumah tangga a = 3 ST/KK. Produktivitas sapi potong dievaluasi dan diukur berdasarkan estimasi bobot badan sapi Bali yang diamati untuk menggambarkan kondisi produktivitas ternak yang dipelihara. Data bobot badan diperoleh melalui pendugaan menggunakan karakter lingkar dada yang didapat dengan cara pengukuran. Pendugaan bobot badan dengan rumus yang diperoleh dari hasil penelitian Rajab (2009) diperlihatkan pada Tabel 3.

(38)

Tabel 3. Rumus pendugaan bobot badan sapi berdasarkan ukuran tubuh

Jenis Kelamin Gigi Persamaan Regresi

Jantan I0 307 + 2,86LD + 0,14PB + 3,7LCan + 0,69LbPG I1 527,5 + 2,5PB + 0,87LD + 2,57TP + 3,9LCan I2 511,3 + 2,76LD + 2,48LbPG + 1,48PB + 4,2LCan Betina I0 275 + 2,17LD + 0,47PB + 0,73TPG + 0,85LbD I1 332,2 + 2,23LD + 1,53PB + 3,1LCan I2 385,4 + 2,51LD + 1,16TPG + 0,90PB

Ket : LD = Lingkar dada TP = Tinggi pundak LbPG = Lebar pinggul TPG = Tinggi pinggul PB = Panjang badan LbD = Lebar dada Lcan = Lingkar pergelangan kaki (canon)

Secara umum metode pengukuran ukuran-ukuran tubuh sapi Bali dapat dijelaskan pada Gambar 4 (Otsuka et al. 1981).

Keterangan : 1. Lingkar dada (cm) 2. Tinggi pundak (cm) 3. Tinggi pinggul (cm) 4. Panjang badan (cm)

5. Lebar pinggul (cm) 6. Lebar dada (cm)

7. Lingkar pergelangan kaki (cm)

Gambar 4. Metode pengukuran bagian tubuh sapi

1) Lingkar dada diukur pada bidang yang terbentuk mulai dari pundak sampai dasar dada di belakang siku dan tulang belikat dengan menggunakan pita ukur (cm).

2) Tinggi pundak diukur dari titik tertinggi pundak tegak lurus sampai tanah dengan menggunakan tongkat ukur (cm) .

3) Tinggi pinggul diukur dari bagian tertinggi pinggul tegak lurus sampai ke tanah, menggunakan tongkat ukur (cm).

5

(39)

4) Panjang badan diukur dari penonjolan bahu (tubersitas humeri) sampai penonjolan tulang duduk (tuber ischii) dengan menggunakan tongkat ukur (cm).

5) Lebar pinggul diukur jarak dari tuber coxae (penonjolan pinggul) yang kiri dengan tuber coxae yang kanan, menggunakan alat kaliper dalam (cm) .

6) Lebar dada diukur jarak dari penonjolan bahu (tubersitas humeri) yang kiri dengan penonjolan bahu yang kanan, menggunakan kaliper (cm). 7) Lingkar pergelangan kaki (canon): diukur pada bagian yang ramping dari

tulang metacarpus atau metatarsus, menggunakan pita ukur (cm).

Analisis motivasi dilakukan untuk membandingkan tingkat pengetahuan, motivasi dan partisipasi peternak dalam pengembangan sapi potong (bibit, pakan dan penanganan ternak) di lokasi penelitian. Pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan peternak tentang pengembangan. Motivasi adalah keinginan dan kemauan peternak melakukan kegiatan pengembangan. Partisipasi adalah keikutsertaan responden dalam kegiatan pengembangan sapi potong baik yang dilakukan secara individu maupun dalam bentuk kelompok. Nilai pengetahuan, motivasi, dan partisipasi peternak ditentukan dari jawaban responden terhadap 10 pertanyaan yang diajukan dalam kuisioner. Jawaban diberi nilai 1 sampai 5, sehingga total skor berkisar dari 10 sampai 50. Kategorinya dibagi atas (1) cukup ; untuk responden yang memiliki nilai skor 26 - 33, (2) tinggi ; nilai skor 34 – 41 dan (3) sangat tinggi ; nilai skor 42 – 50. Untuk membandingkan skor nilai partisipasi, pengetahuan dan motivasi peternak dilakukan analisis statistik non parametrik dengan menggunakan metode uji Mann-Whitney (Musa dan Nasoetion 2007).

Penentuan model kawasan sapi potong dengan menggunakan kriteria dan indikator komponen kawasan meliputi; (1) lahan; (2) kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia (KPPTR) efektif dalam satuan ternak (ST); (3) ternak; (4) teknis budidaya ; (5) peternak; (6) tenaga pendamping; (7) fasilitas dan (8) kelembagaan. Masing–masing indikator komponen dikuantifikasikan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil kali antara faktor pembobot dengan nilai yang diberikan pada indikator komponen. Total skor dari semua indikator setelah

(40)

dibandingkan dengan dengan skor standar kawasan akan digunakan untuk menentukan model kawasan sapi potong. Standar penilaian dilakukan dengan menggunakan pedoman penilaian untuk kawasan pembibitan dan kawasan penggemukan (Priyanto 2002). Faktor pembobot mempunyai nilai 100 poin yang dialokasikan pada komponen kawasan dan selanjutnya didistribusikan pada setiap indikator komponen. Nilai yang diberikan pada indikator komponen kawasan berkisar antara 0 – 10 poin sehingga skor tertinggi kawasan sebesar 1000 poin. Berdasarkan tingkat pengembangan kawasan sapi potong ditetapkan skor standar untuk kawasan baru < 500, kawasan binaan 500 – 700 dan kawasan pengembangan > 700 poin. Selain itu nilai skoring tersebut dianalisis menggunakan Analisis Gerombol (Cluster Analisis) untuk memperoleh informasi tentang pengelompokan potensi wilayah sebagai basis sapi potong.

Strategi pengembangan kawasan sapi potong diperoleh dari hasil olahan data baik kuantitatif maupun kualitatif kemudian dianalisis SWOT dengan menggunakan metode table IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) dan EFAS (External Strategic Factors Analysis Summary) untuk menentukan strategi (Rangkuti 2006).

Analisis usaha dihitung berdasarkan faktor-faktor produksi untuk melihat skala usaha yang menguntungkan dalam pemeliharan sapi potong melalui analisis titik impas (Break Event Poin) dengan rumus mengacu pada Deanta (2006) sebagai berikut :

Biaya tetap BEP (unit) =

(41)

Kondisi Iklim, Tanah dan Topografi

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Raja Ampat, Distrik Salawati Utara ditetapkan sebagai kawasan agropolitan yaitu sebagai wilayah pengembangan peternakan seperti sapi potong dan kawasan pengembangan pertanian tanaman pangan khususnya padi dan perkebunan. Wilayah Distrik Salawati Utara ditetapkan sebagai kawasan pengembangan peternakan khususnya sapi potong mencakup tiga kampung yaitu kampung Sakabu, Kalobo dan Waijan (Bappeda Raja Ampat 2006) yang menjadi lokasi target penelitian ini. Ketiga kampung ini terletak di sebelah selatan Pulau Salawati dan saling berbatasan satu dengan lainnya, dimana kampung Kalobo dan Waijan berada pada daerah lembah dataran rendah dengan ketinggian tempat kurang dari 100 m diatas permukaan laut (dpl) dan sebagian besar dihuni oleh penduduk transmigran asal Jawa, sedangkan kampung Sakabu berada di pesisir pantai dan umumnya dihuni oleh masyarakat pribumi (asli Papua). Jarak antara kampung Sakabu dengan Kalobo sebesar ±5 km, antara kampung Kalobo dan Waijan berjarak ±12 km. Secara umum, kondisi iklim, jenis tanah dan topografi lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.

Secara geografis lokasi penelitian memiliki iklim tropis yang lembab dan panas, curah hujan relatif tinggi (±211.42 mm/bulan) dan merata sepanjang tahun. Kondisi ini sangat mendukung pertumbuhan hijauan dan leguminosa sehingga dapat menjamin ketersediaan dan kontinuitasnya sebagai sumber pakan ternak sapi potong sepanjang tahun. Rata-rata temperatur udara 27.4oC dengan kisaran temperatur terendah sebesar 23.9 oC, tertinggi 33.1oC. Kelembaban berkisar antara 79% – 87% dengan rata-rata radiasi penyinaran matahari sebesar 60% tiap tahun. Menurut Hidayati et al. (2001) saat terbaik bagi pertumbuhan dan produksi padang rumput dan leguminosa berada pada kondisi iklim dengan temperatur 27 oC, kelembaban antara 70 – 80 % dan radiasi matahari 60 – 80%. Keadaan ini sesuai dengan kondisi optimal untuk sapi potong daerah tropis guna mendukung aktifitas reproduksinya (Talib et al. 1999). Disamping itu, kondisi iklim ini sangat memungkinkan bagi pengembangan sapi lokal Indonesia (sapi Bali) karena sapi

(42)

lokal pada umumnya mempunyai kemampuan beradaptasi baik pada lingkungan iklim tropis dengan ketersediaan pakan berkualitas rendah (Handiwirawan dan Subandriyo 2004).

Tabel 4. Kondisi iklim, jenis tanah dan topografi lokasi penelitian Lokasi Penelitian No. Uraian (Peubah Diamati)

Sakabu Kalobo Waijan

1 Iklim a. Curah hujan (mm/thn) b. Temperatur rata-rata (oC) c. Kelembaban (%) d. Tekanan udara (mbs) e. Penyinaran matahari (%) 2537 27.7 84 1010.7 60 2 Jenis tanah dan topografi

a. Ketinggian tempat (dpl) b. Kemiringan lahan (%) c. Jenis tanah d. Tekstur tanah e. Tingkat kesuburan f. Kedalaman efektif (cm) g. Kondisi air tanah

0-25 0-40 Podsolik+Aluvial Sedang Subur, sedang 0-100 Agak rendah 25 <8 Podsolik Sedang Sedang 25-50 Agak rendah, sedang 25-50 0-40 Podsolik Sedang Sedang 50-100 Agak rendah, sedang Sumber: Bappeda Kabupaten Raja Ampat (2006)

Topografi kampung Sakabu adalah dataran disertai areal perbukitan, dengan ketinggian antara 0 sampai 25 m dpl serta kemiringan lahan antara 0-40% (Gambar 5). Diperkirakan kondisi lahan yang datar sebesar 45% sedangkan sisanya (65%) merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian tidak lebih dari 25 m dpl. Jenis tanah adalah podsolik berwarna merah kuning dan aluvial coklat dengan tekstur tanah sedang, menunjukkan tingkat kesuburannya yang sedang sampai subur. Air tersedia secara cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi air minum ternak, memandikan/membersihkan ternak, pertumbuhan hijauan pakan ternak, dan kebutuhan lainnya.

Kurang lebih 90% dari lahan di kampung Kalobo memiliki topografi yang datar dan sisanya (10%) merupakan daerah sedikit berbukit dengan ketinggian mencapai 25 m dpl (Gambar 6). Jenis tanah podsolik berwarna merah kuning dengan tekstur tanah sedang, sehingga tingkat kesuburan tanah sedang. Kondisi air tanah rendah hingga sedang menunjukkan tidak semua lokasi di Kampung

(43)

Kalobo mudah memperoleh sumber air tanah , beberapa lokasi kondisi airnya diduga agak kurang baik begitu pula dengan kampung Waijan.

Gambar 5. Kondisi topografi kampung Sakabu

Gambar 6. Kondisi topografi kampung Kalobo

Kampung Waijan memiliki topografi yang datar dan sedikit berbukit dengan ketinggian antara 25 sampai 50 m dpl serta kemiringan lahan antara 0-40%

(44)

(Gambar 7). Jenis tanah podsolik berwarna merah kuning dengan tingkat kesuburan tanah sedang. Menurut Harjowigeno dan Widiatmaka (2006), kondisi media perakaran yang sesuai untuk padang penggembalaan yaitu tekstur tanah sedang (lempung liat berpasir), kedalaman efektif >30 cm, dan drainase tanah agak terhambat sampai sedang. Secara umum kondisi lokasi penelitian yang didominasi oleh wilayah yang datar akan sangat cocok bagi pengembangan sapi potong, apalagi dengan didukung oleh ± 50 – 60% daerah dataran yang berupa padang rumput sebagai sumber pakan sapi potong.

Gambar 7. Kondisi topografi kampung Waijan Potensi Wilayah dan Daya Dukung Lahan

Hasil survei menunjukkan bahwa luas lahan kampung Sakabu, Kalobo dan Waijan masing-masing sebesar 2.887, 5.579, dan 4.283 ha (Tabel 5). Sumberdaya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk ternak ruminansia antara lain: lahan sawah, padang pengembalaan/padang rumput, lahan perkebunan, hutan dan lahan pekarangan. Luas lahan tersebut dengan tingkat kepadatan penduduk yang relatif masih rendah (≤10 jiwa/km2) memungkinkan pengembangan pola integrasi ternak dengan tanaman perkebunan dan perikanan di kampung Sakabu, atau pola integrasi ternak dengan tanaman pertanian atau tanaman padi di kampung Kalobo dan Waijan, yang mana pola integrasi ini merupakan suatu proses saling menunjang dan

(45)

saling menguntungkan. Pemanfaatan pola integrasi diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan pakan sepanjang tahun, sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternak (Riady 2004).

Tabel 5. Daya dukung lahan dan potensi kampung Sakabu, Kalobo dan Waijan

Lokasi Penelitian No Uraian (Peubah Diamati)

Sakabu Kalobo Waijan

1 Luas Lahan (Ha) 2.887 5.579 4.283

2 Jumlah Penduduk (KK) 97 143 113

3 Jumlah Penduduk (Jiwa) 394 672 486

4 Kepadatan Penduduk (jiwa/km2) 10.8 9.5 8.9

5 Luas Lahan Pangan (Ha) 83 1.424 1.021

6 Nisbah Lahan Pangan Terhadap

Penduduk (jiwa/ha) 4.75 0.47 0.48

7 Tata Guna Lahan :

a. Luas hutan (ha) 2057 1399 1726

b. Luas padang rumput (ha) 686 2599 1413

c. Luas sawah (ha) 0 655 456

d. Luas perkebunan (ha) 119 769 565

e. Luas pekarangan (ha) 25 157 123

8 PMSL (ST)a 6237.703 6371.387 6391.781

9 Populasi saat ini (ST) 35.2 657.95 515.15

10 KPPTR (ST)b 6202.50 5713.42 5876.63

11 PMKK (ST)c 291 429 339

12 Pola dasar Pembangunan Lahan Pertanian.

pemukiman Lahan Pertanian. pemukiman Pertanian. Lahan pemukiman 13 Pola Pertanian Perikanan

tradisional persawahan. palawija persawahan. palawija 14 Sarana Irigasi Non-irigasi Irigasi teknis Irigasi

teknis

Sumber : Bappeda Raja Ampat (2007)

Keterangan : a. PMSL = Potensi Maksimum berdasarkan Sumber Daya Lahan b. KPPTR = Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia c. PMKK = Potensi Maksimum Usaha Ternak berdasarkan Kepala

Keluarga

Sudah saatnya peruntukan pemanfaatan lahan harus dilakukan dengan menerapkan tingkat kesesuain lahan melalui pengkajian yang mendalam dan tidak terpola pada kepentingan sesaat. Optimalisasi pemanfaatan lahan tidak lagi secara monokultur tetapi dilakukan dengan sistem yang terintegrasi dengan komoditas lain, seperti perkebunan atau tanaman padi sebagai sumber pakan bagi ternak ruminansia. Menurut Rayes (2007), lahan merupakan lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi yang mempengaruhi potensi penggunaannya, termasuk didalamnya adalah akibat-akibat kegiatan manusia.

Gambar

Gambar 1.  Kerangka pemikiran pengembangan kawasan sapi potong berbasis  sumber daya lokal di Kabupaten Raja Ampat
Tabel 1.   Populasi ternak sapi, kerbau dan jumlah keluarga peternak di Indonesia  tahun 2007
Gambar 2.  Warna tubuh yang normal pada sapi Bali betina (1), Bali jantan (2),   PO (3) dan Madura (4)
Gambar 3.  Keserasian bentuk tubuh sapi Bali (1), PO (2) dan Madura (3).
+7

Referensi

Dokumen terkait

(2) Pada model pembelajaran kooperatif tipe TPS, peserta didik dengan Kecerdasan Emosional tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada

Berdasarkan analisa pada penelitian ini didapatkan bahwa rasio prevalensi variabel kadar albumin darah adalah 1,3, sedangkan rentang kepercayaannya adalah 1,09 s/d 1,7 (melebihi

Pegunakaya (guna kaya) yaitu harta yang didapat oleh suami istri selama perkawinan berlangsung 15. Terkait dengan harta bawaan atau tetatadan, umumnya yang

Nama L/P Tempat, Tgl Lahir Alamat Kec Kab No Telephone/ HP 1 Doni Santoso L Tapin 7 Juli 1990 Jl... Rantau Kiwa

Dilatar belakangi oleh hal-hal yang telah disampaikan di atas, untuk mengkaji ulang sekaligus mengembangkan penelitian yang telah dilakukan oleh Alfa Anindita,

Di sisi lain yakni sebagai salah satu faktor penentu baik buruknya mutu dan citra rumah sakit adalah Motivasi kerja perawat merupakan salah satu faktor terpenting yang bisa

Jumlah imago Hama Lalat Buah memiliki hubungan signifikan terhadap persentase serangan sedangkan Pengendalian Hama Terpadu tidak memiliki hubungan signifikan

Konsep kunci pengaktulisasikan museologi tersebut bila diuraikan dengan menggunakan museological research maka akan tampak penyebaran hasil penelitian yang berupa knowledge dan