7
PENGARUH KONDISI LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MURID DALAM MELAKSANAKAN TATA
TERTIB SEKOLAH KELAS V SDN BISSOLORO KEC BUNGAYA KAB GOWA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiya Makassar
Oleh:
YULIANA F.S
10540956215
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu
(Muhammad :7)
Waktu bagaikan pedang.
Jika engkau tidak memanfaatkannya dengan baik (untuk memotong), maka ia akan memanfaatkanmu (dipotong). (HR. Muslim)
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. (Q.S Al-Isra’: 24)
Kupersembahkan karya ini buat: Kedua orang tuaku yang tercinta dan
ABSTRAK
Yuliana F.S. 2020. Pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib sekolah SDN Bissoloro. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing Hj. Rosleny Babo dan Pembimbing II Syarifuddin Cn. Sida.
Masalah utama dalam penelitian ini Bagaimana dan apa pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib sekolah SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib sekolah SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa sebanyak 20 orang
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kuantitatif yaitu dalam penelitian berusaha untuk memecahkan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan faktor-faktor yang tampak sebagaimana adanya. Prosedur penelitian ini meliputi perencanaan, pengisian angket, observasi dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah murid SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penelitian ini, setelah diberikan angket penelitian kepada 20 orang murid SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa dapat dikatakan bahwa kondisi lingkungan keluarga (X) berpengaruh positif terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib (Y). Sehingga persamaan regresinya adalah Y = 26,951+ 0,453 X. atau hasil perhitungan SPSS Menunjukkan nilai 0.025 < probabilitas 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “terdapat pengaruh kondisi lingkungan keluarga (X) terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib (Y).
Hasil penelitian ini hendaknya dapat menjadi informasi dan masukan kepada sekolah dan orang tua murid agar menciptakan lingkungan keluarga, kondusif dan menuntun murid untuk mematuhi peraturan yang ada di sekolah.
Kata kunci: kondisi lingkungan keluarga, kepatuhan melaksanakan tata tertib sekolah
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbul Alamin, Untaian Zikir terucap sebagai ungkapan rasa syukur penulis selaku hamba dalam balutan kerendahan hati dan jiwa yang tulus kepada Sang Khaliq, yang menciptakan manusia dari segumpal darah, Yang Maha Pemurah, mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya dengan perantaraan kalam. Tiada upaya, tiada kekuatan, dan tiada kuasa tanpa kehendakNya. Bingkisan salam dan shalawat tercurah kepada kekasih Allah, Nabiullah Muhammad Saw, para sahabat dan keluarganya serta umat yang senantiasa istiqomah dijalan-Nya.
Tiada jalan tanpa rintangan, tiada puncak tanpa tanjakan, tiada kesuksesan tanpa perjuangan. Dengan kesungguhan dan keyakinan untuk terus melangkah, akhirnya sampai di titik akhir penyelesaian karya ini. Namun, semua itu tak lepas dari uluran tangan berbagai pihak lewat dukungan, arahan, bimbingan serta bantuan moril dan materil.
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat ujian skripsi guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh kondisi lingkungan
keluarga terhadap kepatuhan sisa dalam melaksanakan tata tertib sekolah kelas V
SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa” masih banyak terdapat
kesalahan, kekurangan maupun kekhilafan. Karenanya, penulis berharap kritikan yang bersifat konstruktif demi kelengkapan penyusunan skripsi ini.
Terima kasih penulis ucapkan kepada beberapa pihak yang telah sangat membantu selama penulis menyusun skripsi ini. Kepada ayahanda Faharuddin Ibunda Sinar dan adikku Muhammad Qayyum F.S serta semua keluarga yang telah mencurahkan kasih sayang dan cintanya dalam membesarkan, mendidik dan membiayai penulis serta doa restu yang tak henti-hentinya untuk keberhasilan penulis.
Terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. H. Abd. Rahman Rahim,.MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. Bapak Erwin Akib, S.Pd, M.Pd, Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Serta Bapak Aliem Bahri, S.Pd, M.Pd, Ketua Jurusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Dr Hj. Rosleny Babo, M,Si pembimbing I yang telah meluangkan waktunya disela kesibukan beliau untuk mengarahkan dan membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini sampai tahap penyelesaian. Dr. Syarifuddin CN. Sida, M.Pd pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan motivasi yang sangat berharga bagi penulis selama penyusunan skripsi.
Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd Dosen penasehat akademik yang senantiasa memberikan masukan dan bimbingan selama proses perkuliahan. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas bimbingan, arahan, dan jasa-jasa yang tak ternilai harganya kepada penulis.
Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan angkatan 2015 di Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar terkhusus kelas A yang telah bersama-sama berusaha keras dan penuh semangat dalam menjalani studi dalam suka dan duka. Kebersamaan ini akan menjadi sebuah kenangan yang indah.
Kepada teman-teman dari organisasi tercinta keluarga besar PD IPM Gowa 2016-2018 dan PW IPM Sul-Sel 2018-2020 yang telah memberikan ilmu, pengalaman dan semua yang tidak dapat di gambarkan dengan kalimat sastra apapun. Serta semua pihak yang tidak bisa dituliskan namanya satu-persatu namun tak mengurangi rasa terima kasih penulis yang setinggi-tingginya kepada mereka.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan sebagai bahan acuan untuk perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini.
Hanya kepada Allah swt kita memohon semoga berkat dan rahmat serta limpahan pahala yang berlilmu pengetahuan alamat ganda selalu dicurahkan kepada kita semua.
Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.
Makassar, Desember 2020
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL. ... i
HALAMAN PENGESAHAN. ... ii
SURAT PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
SURAT PERNYATAAN... iv
SURAT PERJANJIAN. ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN. ... vi
ABSTRAK. ... vii
KATA PENGANTAR. ... viii
DAFTAR ISI. ... xi
DAFTAR TABEL. ... .xiii
DAFTAR GAMBAR. ... xv
DAFTAR LAMPIRAN. ... xvi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. ... 1
B. RUMUSAN MASALAH. ... 4
C. TUJUAN PENELITIAN. ... 5
D. MANFAAT PENELITIAN ... 5
BAB II LANDASAN TEORI A. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian lingkungan. ... 7
2. Pengertian keluarga. ... 8
3. Kondisi lingkungan keluarga. ... 10
4. Kepatuhan terhadap tata tertib. ... 15
5. Hubungan antara kondisi lingkungan keluarga dengan kepatuhan tata tertib sekolah. ... 19
6. Penelitian Relevan. ... 21
B. KERANGKA BERFIKIR. ... 24
C. HIPOTESIS PENELITIAN. ... 25
BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS DAN PENDEKATAN PENELITIAN. ... 26
B. POPULASI DAN SAMPLE. ... 26
C. DEFENISI OPERASIONAL VARIABEL. ... 29
D. INSTRUMEN PENELITIAN. ... 29
E. TEKHNIK PENGUMPULAN DATA. ... 30
F. TEKNIK ANALISIS DATA... 33
BAB IV HASIL PENELITIAN DAB PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN. ... 35
B. PEMBAHASAN. ... 56
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN. ... 61
B. SARAN. ... 62
DAFTAR PUSTAKA. ... 63 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1: kisi-kisi instrument angket kondisi lingkungan keluarga dan kepatuhan tata tertib lingkungan
Tabel 4.1: kondisi keluarga membatasi pergaulan dengan teman Tabel 4.2: sering terjadi pertengkaran dalam keluarga
Tabel 4.3: Keluarga sering berkumpul bersama-sama untuk berbincang-bincang dalam berbagai persoalan.
Tabel 4.4: kondisi keluarga tidak baik jika kepala keluarga tidak di rumah Tabel 4.5: saran orang tua kepada siswa
Tabel 4.6: orang tua menegur dan menanyakan alasan jika anak pulang terlambat dari sekolah
Tabel 4.7: Memberikan hukuman apabila anaknya melakukan kesalahan yang dianggap melanggar aturan keluarga
Tabel 4.8: kedisiplinan yang ketat dalam keluarga
Tabel 4.9: orang tua menasehati ketika ada masalah anak di sekolah Tabel 4.10: jam belajar saat di rumah selalu diperhatikan orang tua Tabel 4.11: mengarahkan siswa untuk taat terhadap peraturan sekolah Tabel 4.12: menasihati siswa untuk selalu berperilaku baik di sekolah Tabel 4.13: kondisi keluarga selalu terbina dengan kasih sayang Tabel 4.14: datang ke sekolah tepat waktu
Tabel 4.15: mematuhi semua peraturan yang telah ditetapkan sekolah Tabel 4.16: baju, sepatu dan atribut sekolah harus dipatuhi siswa Tabel 4.17: jam datang dan pulang sekolah harus dipatuhi oleh siswa Tabel 4.18: mematuhi peraturan yang berlaku di dekolah
Tabel 4.19: sanksi untuk siswa yang sering datang terlambat ke sekolah.
Tabel 4.20: mengikuti kegiatan sekolah dengan baik merupakan dampak patuhnya siswa melaksanakan tata tertib sekolah.
Tabel 4.21: berhasilnya proses pembelajaran di sekolah karena tata tertib sekolah yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Tabel 4.22: menyukseskan kegiatan sekolah mengurangi kebiasaan yang kurang baik selama ini
Tabel 4.23: hukuman bagi siswa yang melanggar tata tertib
Tabel 4.24: belajar di kelas dan di luar kelas selalu terjaga ketertibannya
Tabel 4.25: pelanggaran tata tertib sering terjadi pada anak-anak yang nakal/bermasalah
Tabel 4.26: Variables Entered/Removeda Tabel 4.27: Model Summaryb
Tabel 4.28: ANOVAa Tabel 4.29 :Coefficientsa Tabel 2.30: Coefficientsa
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 bagan kerangka pikir Gambar 3.1 paradigma sederhana
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Angket Penelitian
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah suatu bentuk usaha untuk pengembangan diri melalui proses belajar tanpa ada sekat yang membatasinya, karena pada kenyataanya pendidikan sudah berlangsung dari saat manusia dilahirkan sampai akhir hayat. Dalam GBHN Tap MPR No II/MPR/1983 bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Kepatuhan adalah ketaatan pada suatu perintah atau aturan. Sedangkang ketaatan itu didasarkan pada rasa hormat, bukan rasa takut. Namun kepatuhan dalam dimensi pendidikan adalah kerelaan dalam tindakan terhadap perintah-perintahdan keinginan dari kewibawaan seperti orang tua atau guru. Kepatuha murid perlu dilakukan agar rutinitas belajar dapat berjalan sesuai jadwal atau peraturan sekolah. Untuk menjaga kepatuhan maupun rasa memiliki murid terhadap nama baik sekolah dibutuhkan kepedulian guru untuk menertibkan setiap masalah yang timbul dari peraturan sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan untuk mencerdaskan Bangsa hendaknya didukung oleh orang tua dengan menciotakan kondisi keluarga yang harmonis dan saling mencintai.
Pola asuh merupakan suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua memberi pendidikan terhadap anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal. Namun dijaman globalisasi seperti ini banyak orang tua lalai dalam mendidik anak sesuai
perkembangan mentalnya, dapat dilihat dikota – kota besar anak dibawah umur sudah asik dan sibuk bermain gadget tanpa ada batasan maupun pengawasan orang tua, hal ini berdampak penurunan kesadaran sosial akan lingkungannya maupun kesadaran untuk belajar, semboyan bermain sambil belajar bagi anak semakin luntur, dan mulai berganti bermain lupa belajar.
Pendidikan tidak hanya diberikan disekolah, melainkan pendidikan yang paling utama itu diberikan di dalam keluarga. Keluarga merupakan rumah dimana pendidikan pertama kali diterapkan sejak lahir, lingkungan keluarga membentuk perilaku yang kemudian akan diterapkan didalam masyarakat dan sekolah. ”Anak merupakan amanah bagi orang tua yang masih suci laksana permata, baik buruknya anak tergantung pada pembinaan orang tua. Keluarga juga bisa dikatakan sebagai terminal awal dalam proses belajar mengajar di luar Sekolah. Untuk itu prestasi belajar murid untuk memperoleh nilai terbaik dan pelajar terbaik akan terbangun di rumah yang memiliki kondisi keluarga yang baik. Keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dilingkungan keluargalah pertama kali anak mendapat pengaruh sadar. Karena itu keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua yang bersifat informal dan kodrati.
Pendidikan bukan hanya sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu. pendidikan juga merupakan salah satu upaya untuk memberikan, pengetahuan, wawasan, keahlian, dan keterampilan tertentu pada setiap individu guna mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Banyak faktor penyebab munculnya penyebab permasalahan pembelajaran. Diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal adalah faktor yang muncul dari diri murid itu sendiri, seperti kesehatan, cacat tubuh, intelegensi, perhatian, minat, bakat dan kepribadian. Sedangkan faktor ekseternal, merupakan faktor yang munculnya dari luar diri murid salah satunya adalah faktor kondisi lingkungan keluarga.
Departemen Pendidikan Nasional (2010: 16-17) dinyatakan bahwa dalam tingkat pencapaian perkembangan anak usia 10-11 tahun pada lingkup perkembangan sosial emosional meliputi menunjukkan sikap mandiri dalam memilih kegiatan, menunjukkan rasa percaya diri, mau berbagi, menolong, dan membantu teman. Aspek perkembangan sosial emosional dimaksudkan sebagai wahana untuk membina anak agar dapat mengendalikan emosinya secara wajar dan dapat berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa dengan baik, serta mampu menolong dirinya sendiri dalam kecakapan hidup. Kemandirian bertalian dengan aspek emosional, karena perilaku mandiri tersebut biasanya muncul dari diri anak sendiri sesuai dengan emosi anak. Selanjutnya murid akan tertib dalam belajar bila disertai sarana dan prasarana yang digunakan secara optomal, dan dapat menciptakan kondisi sekolah yang aman terkendali. Jadi sekolah yang memiliki murid berprestasi, selalu di awali dengan kencintaan orang tua terhadap anaknya.
Di dalam keluarga peran orang tua sangat dominan dalam mendidik perilaku anak, benar adanya jika “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” ibarat ini sangat mendukung, karena apa yang dilakukan orang tua, anak akan senantiasa memperhatikan kemudian menerapkan, karena orang tua dianggap orang yang paling dipatuhi, didalam keluarga.
Berdasarkan realita yang ada masih sering terjadi pelanggaran tata tertib di sekolah, seperti halnya murid masih sering terlambat masuk sekolah, tidak masuk tanpa keterangan, membolos pada jam pelajaran, tidak memakai topi saat upacara, membuat kegaduhan, mengganggu teman, berkelahi, dan tidak ikut upacara. Itulah beberapa conoth jenis pelanggaran yang masih sering dilakukan oleh murid dikarenakan masih kurangnya perhatian orang tua sehingaa anak merasa kurang diperhatikan dan berusaha menarik perhatian orang tua dengan cara yang berbeda-beda diantaranya dengan melanggar perarturan sekolah.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka peneliti akan melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Kondisi Lingkungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Murid Dalam Melaksanakan Tata Tertib Sekolah SD Negeri Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa”
A. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib sekolah kelas V SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa?
2. Apakah ada pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan murid dalam melakasanakan tata tertib sekolah SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa?
B. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib sekolah kelas V SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.
C. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat dalam dua aspek berikut:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian di harapkan dapat menyumbang khasanah pengetahuan di bidang kependidikan, khususnya dalam konteks pelaksanaan tata tertib di sekolah serta menyumbangkan khasanah pengetahuan tentang pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan dalam pelaksanaan tata tertib sekolah.
2. Manfaat Parktis a. Bagi Guru
1. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi guru tantang arti penting peranan lingkungan keluarga dalam meningkatkan kepatuhan tata tertib murid di sekolah.
2. Memberikan sumbangan pendidikan pemikiran bagi para pendidik untuk dapar menciptakan lingkungan keluarga yang baik sehingga proses belajar mengajar dan interaksi dengan keluarga dapat berlangsung dengan lancer.
3. Sebagai bahan petimbangan bagi lembaga sekolah dalam dalam menentukan langkah selanjutnya untuk meingkatkan
kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib sekolah, sehingga output dapat tercapai secara maksimal.
4. Membrikan masukan yang bermanfaat untuk memperhatikan tingkat kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib di sekolah.
b. Bagi murid
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kesempatan murid untuk lebih disiplin dan menjalin hubungan baik dengan keluarga.
c. Bagi pihak lain
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi pelaksanaan penelitian lanjutan yang lebih spesifik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI 1. Pengertian lingkungan
Undang Undang No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.
Lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.
Pengertian lingkungan bahwa semua benda dan kondisi, termasuk manusia dan kegiatan mereka, yang terkandung dalam ruang di mana manusia dan mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia dan benda-benda hidup lainnya.
Hamalik (2004:195) mengemukakan bahwa lingkungan keluarga adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna atau
26
pengaruh tertentu kepada setiap individu. Lingkungan (environment) menurut Hamalik merupakan dasar pengajaran, faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu serta merupakan faktor belajar yang signifikan dan penting.
Hamalik (2004:196), lingkungan belajar atau bisa juga disebut sebagai lingkungan pendidikan terdiri dari beberapa hal berikut ini:
1. Lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat baik kelompok
besar ataupun kecil.
2. Lingkungan personal, meliputi individu-individu sebagai suatu
pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya.
3. Lingkungan alam (fisik), meliputi semua sumber daya alam yang
dapat diberdayakan sebagai sumber belajar.
4. Lingkungan kultural, mencakup hasil budaya dan tekhnologi yang
dapat dijadikan sumber belajar dan yang dapat menjadi faktor pendukung pengajaran. Dalam konteks ini termasuk system nilai, norma, dan adat kebiasaan.
2. Pengertian Keluarga
Keluarga berdasarkan asal usul kata yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa keluarga berasal dari bahsa Jawa yang terbentuk dari 2 kata yaitu “Kawla” dan “warga”. Di dalam Bahasa Jawa kuno kawla berarti hamba dan warga artinya anggota. Secara bebas dapat diartikan bahwa keluarga adalah anggota hamba atau warga saya. Artinya setiap anggota dari kawla merasakan sebagai satu kesatuan yang utuh sebagai
bagian dari dirinya dan dirinya juga merupakan bagian dari warga yang lainnya secara keseluruhan.
Berdasar Undang-Undang 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Bab I pasal 1 ayat 6 ”pengertian Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri; atau suami, istri dan anaknya; atau ayah dan anaknya (duda), atau ibu dan anaknya (janda).
Helmawati (2014: 41) ada beberapa pengertian keluarga, baik dengan makna yang sempit maupun dengan makna yang luas.
1. Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia Modern secara harfiah keluarga berarti sanak saudara: kaum kerabat, orang seisi rumah, anak istri.
2. Dalam kamus Oxford Learner’s Pocked Dictionary, keluarga berasal dari kata family yang artinya:
a. group consisting of one or two parents and their children (kelompok yang terdiri dari satu atau dua orang tua dan anak anak mereka);
b. group consisting of one or two parents, their children, and
close relations (kelompok yang terdiri dari satu atau dua orang
tua, anak-anak mereka, dan kerabat-kerabat dekat);
c. all the people descendend from the same ancestor (semua keturunan dari nenek moyang yang sama).
kesimpulannya bahwa keluarga adalah sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih memiliki hubungan darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi, dan lain-lain.
2. Kondisi Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkunan pendidikan yang pertama. Dalam keluarga inilah anak-anak pertama kali mendapatan pendidikan dan bimbingan. Dikatakan pendidikan utama Karena sebagian kehidupan dari anak ada dalam keluarga. Oleh karena itu di dalam keluarga selayaknya anak-anak mendapat pendidikan mendasar salah satunya adalah pendidikan akhlak serta penidikan keagamaan. Itulah sebabnya pengaruh keluarga sangat besar bagi pembentukan kepribadian anak.
Keadaan keluarga, besar hubungannya terhadap individu, dan oleh karenanya terjadi perbedaan individual yang dilatar belakangi perbedaan keadaan keluarga. Hubungannya terjadi pada perbedaan dalam hal-hal: pengalaman, sikap, apresiasi, minat, sikap ekonomis, cara berkomunikasi, kebiasaan berbicara, hubungan kerja sama, pola pikir, dan lain-lain. Perbedaan dalam hal-hal tersebut mempengaruhi tingkah laku dan perbuatan belajar di sekolah. (Hamalik, 2014 :94)
Keluarga merupakan lembaga pendidikan informal yang tidak kalah penting dari lembaga formal dan non-formal. Menurut Slameto (2010: 60-64).
Cara orang tua mengasuh/mendidik anaknya besar hubungannya terhadap belajar anaknya. Mendidik anak dengan cara memanjakannya adalah cara mendidik yang tidak baik. Orang tua yang terlalu kasihan terhadap anaknya tak sampai hati untuk memaksa anaknya untuk belajar. Mendidik anak dengan cara memperlakukannya terlalu keras, memaksa dan mengejar-ngejar anaknya untuk belajar, adalah cara mendidik yang juga salah. Dengan demikan anak tersebut diliputi ketakutan dan akhirnya benci terhadap belajar. Anak yang memiliki kesukaran-kesukaran dalam belajar dapat ditolong dengan memberikan bimbingan belajar yang sebaik-baiknya. Tentu saja keterlibatan orang tua akan sangat mempengaruhi keberhasilan bimbingan tersebut.
2. Relasi antara anggota keluarga
Relasi antar anggota keluarga yang terpenting adalah relasi antar orang tua dengan anaknya. Selain itu relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga yang lain pun turut mempengaruhi belajaranak. Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik didalam keluarga. Wujud relasi itu misalnya apakah hubungan itu penuh dengan kasih sayang dan pengertian, ataukah diliputi oleh kebencian, sikap terlalu keras, ataukah sikap acuh tak acuh dan sebagainya. Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh
pengertian dan kasih sayang, disertai dengan bimbingan. Sehingga anak sukses dalam belajarnya.
3. Suasana Rumah
Suasana di rumah dimaksudkan sebagai situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga di mana anak berada dan belajar. Suasana rumah yang gaduh tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang belajar. Suasana tersebut dapat terjadi pada keluarga yang besar yang terlalu banyak penghuninya. Suasana rumah yang tegang, ribut, dan sering terjadi pertengkaran antar anggota keluarga menyebabkan anak menjadi bosan di rumah, suka keluar rumah, akibatnya belajar menjadi kacau. Agar hasil belajar anak baik perlu suasana rumah yang tenang dan tentram. Di dalam rumah yang tenang dan tentram selain anak betah di rumah, anak juga dapat belajar dengan baik.
4. Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar harus terpenuhi kebutuhan pokoknya. Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, maka hal tersebut dapat mengganggu belajar anak. Sebaliknya keluarga yang kaya raya, orang tua sering cenderung memanjakan anak. Anak hanya bersenang senang dan berfoya-foya, akibatnya anak kurang dapat memusatkan perhatiannya pada belajar. Hal
tersebut juga dapat mengganggu belajar anak. Maka dari itu sebagai orang tua harus pandai-pandai mengatur kebutuhan belajar anak.
5. Pengertian orang tua
Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Orang tua harus mengerti apabila anak mempunyai tugas sekolah maka jangan diganggu dengan memberikan tugas rumah. Jika anak mulai lemah semangat, orang tua harus memberikan dorongan yang positif untuk mengembalikan semangat anak. 6. Latar belakang budaya
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar mendorong semangat anak untuk belajar. Ketika orang tua kurang peduli dengan pendidikan anaknya maka yang terjadi anak akan malas belajar sehingga anak kurang/ tidak berhasil dalam belajarnya. Jika orang tua memperhatikan pendidikan anaknya tentunya timbul rasa semangat dan minat yang tinggi untuk belajar. Apabila lingkungan keluarga harmonis, maka murid akan cenderung memiliki minat yang tinggi dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dengan adanya minat dan perhatian murid dalam belajar maka kondisi belajar akan berjalan secara efektif. Pengaruh keluarga bagi pertumbuhan dan perkembangan anak adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahan. Kondisi keluarga yang
baik akan berpengaruh kepada kepribadian seorang anak dan begitupula sebaliknya keluarga yang tidak rukun akan membuat anak resah dan gelisah sehingga tidak meuntup kemungkinan kondisi tersebut seorang anak akan punya ketakutan berada di tengah-tengah keluarga. Dan biasanya hal tersebut akan membuat anak gampang tergoda akan hal-hal yang tidak diinginkan.
Slameto (2010:61) sebagai berikut: “orang tua yang kurang / tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali kepentingan-kepentingan dan kebutuhan anak dalam belajar, tidak mengatur waktu belajarnya, tidak memperhatikan apakah anak belajar atau tidak, tidak mau tahu apakah bagaimanakah kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan yang dialami dalam belajardan lain-lain dapat menyebabka anak tidak/kurang berhasil dalam belajarnya”.
Orang tua harus berperan aktif dalam mendukung keberhasilan murid. Orang tua disamping menyediakan alat-alat yang dibutuhkan anak untuk belajar, yang lebih penting bagaimana memberikan bimbingan dan pengaraha agar anak lebih bersemangat untuk berprestasi dan tidak melanggar tata tertib sekolah.
Keluarga merupakan bagian dari sebuah masyarakat. Unsur-unsur yang ada dalam sebuah keluarga baik budaya maupun ekonomi bahkan jumlah anggota keluarga sangat mempengaruhi perlakuan dan pemikiran anak khususnya ayah dan ibu. Keluarga merupakan tempat ayah dan ibu menghabiskan waktu untuk berdiskusi, mencari solusi terhadap masalah
yang dihadapi. Kecintaan terhadap keluarga aan membantu kondisi keluarga dalam mengatasi upaya murid untuk tertib di sekolah serta menjalani ketertiban dan kepatuhan belajar di sekolah maupun di rumah.
Pengaruh keluarga dalam pendidikan anak sangat besar dalam berbagai macam sisi. Keluargalah yang meyiapkan potensi pertumuhan dan pembentukan kepribadian anak. Lebih jelasnya, kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan tingkah laku kedua orang tua serta lingkungnnya. Maka dari itu kedua orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kepribadian anak.
3. Kepatuhan Terhadap Tata Tertib Sekolah
Keptuhan adalah ketaatan pada suatu perintah atau aturan. Sedangkan ketaatan yang didasarkan pada rasa hormat, bukan rasa takut. Namun kepatuhan dalam dimensipendidikan adalah kerelaan dalam tindakanterhadap perintah-perintah dan keinginan dari kewibawaan seperti orang tua dan guru.
Setiap sekolah pasti memberlakukan suatu tata tertib dan disiplin yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota sekolah. Tata tertib merupakan peraturan utnuk kebaikan bersama. Ketertiban akan didapat oleh sekolah manakalah semuanya berdisiplin dan tidak melanggar peraturan yang ada.
DEPDIKNAS mengatakan bahwa tata tertib sekolah adalah peraturan yang mengatur segenap tingkah laku murid selama mereka masih bersekolah untuk meciptakan suasana yang mendukungpendidikan. (anonimunus, 2004:5) secara umum tata tertib sekolah dapat diartikan
sebagai ikatan atau aturan yang harus dipatuhi setiap warga sekolah tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.
Tata tertib sekolah mempunyai tujuan utama agar semua murid sekolah mengetahui apa tugas, hak, dan kewajiban serta melaksanakan dengan baik sehingga kegiatan sekolah dapat berjalan dengan lancar. Prinsip tata tertib sekolah adalah diharuskan, dianjurkan, dan ada yang tidak boleh dilakukan dalam pergaulan di lingkungan sekolah. Sedangkan menurut Kusmiati, bahwa tujuan diadakannya tata tertib adalah Bertujuan peraturan keamanan adalah untuk mewujudkan rasa aman dan tentram serta bebas dari rasa takut baik lahir maupun batin yang dirasakan oleh seluruh warga, sebab jika antar individu tidak saling mengganggu maka akan melahirkan perasaan tenang dalam diri setiap individu dan siap untuk mengikuti kegiatan sehari-hari.
Pelaksanaan tata tertib sekolah akan berjalan dengan baik jika guru, aparat sekolah dan murid telah saling mendukung terhadap tata tertib sekolah itu sendiri. Kurangya dukungan dari murid kan mengakibatkan kurang berartinya tata tertib sekolah yang diterapkan di sekolah. Peraturan sekolah yang berupa tata tertib sekolah merupakan kumpulan-kumpulan aturan yang dibuat secara tertulis dan mengikat di lingkungna sekolah. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa tata tertib sekolah merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain sebagai aturan yang berlaku disekolah agar peroses pendidikan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.
Dalam Permendikbud baik murid, guru, kepala sekolah, dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah mempunyai fungsi dan tugas edukatif yang meliputi tiga dimensi yaitu mendidik dan menghasilkan etika, dalam pergaulan, mengajar menghasilkan kecerdasan dan melatih menghasilkan keterampilan No. 19 Tahun 2007 mengatur pedoman Pelaksanaan Tata Tertib dalam poin c dan d sebagai berikut:
a. Sekolah/Madrasah menetapkan pedoman tata tertib yang berisi:
1. Tata tertib pendidik, tenaga kependidikan, dan murid termasuk dalam hal mengguna-kan dan memelihara sarana dan prasarana pendidikan; 2. Petunjuk ,peringatan, dan larangan dalam ber-prilaku di
sekolah/Madrasah, serta pemberian sangsi bagi warga yang melanggar tata tertib.
b. Tata Tertib sekolah/Madrasah ditetapkan oleh kepala sekolah/Madrasah melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan masukan komite sekolah/madrasah, dan murid.
Tata tertib sekolah harus ada hukuman atau sanksi bagi yang melanggar. Menjatuhkan hukuman sebagai jalan keluar terakhir, harus dipertimbangkan dengan perkembangan murid. Sehingga perkembangan jiwa murid tidak dan jangan sampai dirugikan. Tata tertib sekolah dibuat dengan tujuan sebagai berikut:
2. Agar murid mengetahui hal-hal yang di perbolehkan dan kreatifitas meningkatserta terhindar dari masalah-masalah yang dapat menyulitkan dirinya.
3. Agar murid mengetahui dan melaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh seluruh kegiatan yang telah diprogramkan oleh sekolah baik intrakulikuler maupun ekstrakulikuler.
Tipe-tipe kepatuhan murid terhadap tata tertib sekolah dengan melihat empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu, yaitu:
1. Normativist. Biasanya kepatuhan terhadap norma-norma hokum. Selanjutnya dikatakan bahwa kepatuhan ini terdapat dalam 3 bentuk, yaitu. (1) kepatuhan terhadap nilai atau norma itu sendiri; (2) kepatuhan pada proses tanpa memperhatikan normanya sendiri; (3) kepatuhan pada hasilnya atau tujuan yang diharapkankannya dari peraturan itu.
2. Integralist, yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.
3. Fenomenalist. Yaitu kepatuhan berdasarkan suara hatiatau sekedar basa basi
4. Hedonist yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri Kepatuhan murid terhadap tata tertib sekolah diharapkan murid menjadi anak yang mampu mengendalikan diri sendiri dengnan sepenuh hati, menghormati setiap kondisi serta memenuhi setiap otoritas yang ada. Perkembangan mental anak yang stabil dan kesediaan anak untuk
memenuhi tata tertib sekolah diharapkan kelak akan mampu bergaul dengan masyarakat luas atau masyarakat tempat murid bekerja dengan penuh kesadaran dan berprestasi tinggi dengan imbalan kerja yang sesuai dengan keahlian yang dimilki.
Murid yang berprestasi akan selalu dikenal dari nilai yang diperoleh melalui proses ujian dan diwujudkan dengan nilai raport, nilai UA, nilai MID test dan lain-lain. Namun prestasi baik akan bisa diraih dengan sempurna bila disertai dengan tidak adanya pelanggaran murid di sekolah dan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah. Pelanggaran hendaknya jangan selalu diartikan dengan kenakalan remaja, namun pelanggaran sering terjadi karena ketidakberdayaan murid yang tertib di sekolah, yang di awali dengan kondisi ekonomi orang tua yang kurang baik, atau fisik yang kurang sehat, serta ketidaksengajaan kondisi sepertikendaraan yang medadak rusak saat akan ke sekolah.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan tata tertib sekolah adalah suatu pedoman yang mengatur segala tingkah laku murid di sekolah baik sebelum proses belajar mengajar berlangsung, maupun setelah sekolah selesai, dalam rangka menciptakan suasana yang mendukung proses pendidikan atau pengajaran.
5. Hubungan Antara Kondisi Lingkungan Keluarga Dengan Kepatuhan Tata Tertib Sekolah
Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi kepribadian anak. Karena lingkungan keluargalah yang yang pertama kali memberikan pendidikan kepada anak. Keluarga yang bahagia akan sangat menentukan
terhadap keberhasilan belajar mengajar anak di sekolah. Kondisi keluarga yang menyenangkan akan membawa murid belajar dan memenuhi setiap peraturan yang ada di sekolah. Pengaruh lingkungan keluarga sangat menentukan dalam meningkatkan kedisiplinan murid, karena melalui lingkungan keluarga anak dapat berkumpul setiap saat dengan orang tua, secara tidak langsung pendidikan kedisiplinan dapat diterpakan melalui kegiatan sehari-hari.
(Ahmadi, 2015:25) keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak masingmasing saling mempengaruhi, dan saling membutuhkan. Anak membutuhkan makanan, pakaian, bimbingan, dan sebagainya dari orang tua, dan orang tua membutuhkan rasa kebahagiaan dengan kelahiran anak. Anak makin besar dibutuhkan tenaga dan pikirannya untuk membantu orang tuanya, lebih-lebih orang tua makin tidak berdaya karena usianya yang semakin tua.
Selama anak belum dewasa, orang tua mempunyai peranan yang sangat besar untuk membina dan mendidik anak. Untuk membawa anak menuju kedewasaan, orang tua harus memberikan contoh perilaku yang baik, karena anak akan meniru atau mengimitasi orang tuanya. Dengan contoh yang baik, maka anak tidak merasa dipaksa. Dalam memberikan sugesti kepada anak tidak dengan cara otoriter, melainkan dengan cara pergaulan. Sehingga dengan cara pergaulan inilah, anak akan merasa nyaman dan senang dalam melaksanaan contoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Anak paling suka identik dengan orang tuanya, anak
laki-laki meniru ayahnya, sedangkan anak perempuan meniru ibunya. Sehingga antara orang tua dengan anak ada rasa simpati.
Hubungan anak dengan anak dalam keluarga itu sendiri satu sama lain saling berinteraksi, saling mempengaruhi, dan tidak lepas dari adanya faktor faktor interaksi. Setiap anak secara tidak langsung berguru dengan saudara saudaranya. Anak-anak dalam keluarga belajar tukar-menukar pengalaman sehingga makin banyaklah hal-hal yang diketahui tentang baik buruk, hak dan kewajiban, tentang saling menyayangi dan sebaginya. Dengan cara pergaulan antara orang tua terhadap anak-anaknya dan terhadap adiknya dalam usahan mendewasakan, menunjukkan bahwa pergaulan dalam keluarga mengandung gejala-gejala pendidikan.
Melalui kegiatan yang dilakukan di rumah, anak dapat menerapkan sikap disiplin dalam keluarga, jadi kondisi keluarga sangat besar peranannya di dalam menentukan dan meningkatkan kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib di lingkungan sekolahnya. Hubungan antar anggota keluarga, perhatian dari orang tua, dan kondisi belajar di rumah yang nyaman merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam peningkatan kepatuhan sang anak terhadap tata tertib sekolahnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator kondisi keluarga yang dapat mempengaruhi anak dalam meningkatkan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah meliputi.
1. Cara orang tua dalam mengasuh anak. 2. Relasi antara anggota.
4. Fasilitas belajar.
Empat unsur inilah yang akan berpengaruh besar terhadap kepatuhan tata tertib yang ada disekolah, keluarga merupakan satu kesatuan utuh yang memulai pendidikan pada anak sehingga kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam diri anak sangat bergantung pada baganaimana kondisi lingkungan keluarga yang mereka tinggali.
6. Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian terdahulu yang cenderung berkaitan dengan penelitian. Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi penyempurna dan pendukung kevalidan peneliti terdahulu. Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah.
Mizan ibnu khajar dengan judul “pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar murid kelas VI SDN Magelang tahun pelajaran 2014/2015” Menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dengan signifikan rendah antara pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar murid kelas VI SDN Magelang dengan nilai relasi antara anggota keluarga mempunyai pengaruh yang paling tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien R=0,369, koefisien determinan (r2) sebesar 0,136 atau sebesar 13,6%, Rhitung lebih besar dari Rtabel (0,369>0,19) dan ditunjukkan dengan persamaan Y=78,217+0,007 X.
Boy irawan dengan judul “ pengaruh kondisi keluarga dan lingkungan sekolah terhadap kepatuhan tata tertib sekolah pada murid kelas IV SDN 1 Way Tenong Lampung Barat” tahun pelajaran 2012/2013 dengan sumbangan pengaruh efektif sebesar 28,30% da nada pengaruh
lingkungan sekolah terhadap peningkatan kepatuhan sekolah akan tata tertib sekolah pada murid kelas IV SDN 1 Way Tenong tahun pelajaran 2012/2013 dengan sumbangan pengaruh efektif sebesar 15,70%. (3) pengaruh kondisi keluarga dan lingkungan sekolah terhadap peningkatan kepatuhan akan tata tertib sekolah pada murid kelas IV SDN 1 Way Tenong Tahun pelajaran 2012/2013 dengan sumbangan pengaruh efektif sebesar 38,90%.
M Nizrul Patih dengan judul “pengaruh kondisi keluarga dan lingkungan sekolah terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib pada murid sisa semester ganjil kelas V SD Negeri 4 Bandar tahun pelajaran 2013/2014 “ yang Menyimpulkan bahwa ada pengaruh positif kondisi keluarga terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib sekolah pada murid kelas V SD Negeri 4 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011. Dengan koefisien determinasi sebesar 27,9%. Serta ada pengaruh positif kondisi lingkungan sekolah pada murid kelas V SD Negeri 4 Bandar Lampung Tahun pelajaran 2010/2011, dengan koefisien determinasi sebesar 12,5%. Dan ada pengaruh positif kondisi keluarga dan lingkungan sekolah terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib Sekolah pada murid kelas V SD Negeri 4 Bandar Lampung Tahun pelajaran 2010/2011, dengan koefisien determinasi sebesar 36,8%.
Fanni Violita dengan judul “pengaruh lingkungan keluarga dengan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar murid kelas VI SDN 4 Payakumbuh Padang“ Menyimpulkan bahwa lingkungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar murid kelas VI SDN 4
Payakumbuh Padang Payakumbuh hal ini terlihat dari thitung =11, 107> ttabel 1,675. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin positif lingkungan keluarga bahwa maka prestasi belajar yang diperoleh murid juga akan semakin tinggi. Walaupun begitu dalam lingkungan keluarga perhatian dan pengawasan dari orang tua sebaiknya didapat oleh anak sehingga dengan adanya dukungan dari orang tua akan meningkatkan semangat belajar untuk memperoleh prestasi yang lebih baik. Fasilitas belajar berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar murid kelas VI SDN 4 Payakumbuh Padang hal ini terlihat dari thitung = 5,018>=ttabel 1,675, maka disimpulkan bahwa semakin tinggi dan memadai fasilitas belajar maka prestasi belajar yang diperoleh murid akan semakin tinggi. Walaupun begitu ketersediaan fasilitas belajar di sekolah maupun fasilitas belajar di rumah perlu dilengkapi agar dapat memperlancar proses belajar murid. Lingkungan keluarga dan fasilitas belajar sangat berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar murid kelas kelas VI SDN 4 Payakumbuh Padang hal ini terlihat dari Fhitung=160,737>Ftabel=3,187. Maka dapat disimpulkn bahwa lingkungan keluarga dan fasilitas belajar maka prestasi belajar yang diperoleh murid semakin meningkat.
Tabel 2.1
Perbedaan variabel penelitian Variabel penelitian Lingkungan keluarga Lingkungan sekolah Kepatuhan tata tertib Prestasi belajar Fasilitas Belajar Boy V V V M nasrul V V V
Mizan r V V
Fanni V V
Peneliti V V
B. KERANGKA PIKIR
Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (sugyono 2010:52).
Oleh sebab itu dalam peneltiian ini kita dapat merumuskan Kerangka pemikiran teoritis tentang pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan dalam melaksanakan tata tertib sekolah. Untuk pengembangan hipotesis, kerangka pemikiran teoritis ini dapat dilihat berikut ini:
Gambar 2.1 bagan kerangka pikir Kondisi lingkungan keluarga
Suasana rumah dan fasilitas belajar
Relasi antara anggota keluarga Cara orang tua
mengasuh anak
Kepatuhan terhadap tata tertib
Analisis data
C. HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis merupakan jawaban atas penjelasan sementara pelaku, fenomena atau peristiwa tentang yang telah terjadi atau akan terjadi Berdasarkan kerangka fikir yang telah diuraikan di atas, sebagai hipotesis dalam penelitian ini maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
Ha :Terdapat pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhanmurid dalam melaksanakan tata tertib sekolah.
Ho :Tidak ada pengaruh kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan murid dalam melaksanakan tata tertib sekolah
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS DAN PENDEKATAN PENELITIAN 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kuantitatif yaitu dalam penelitian berusaha untuk memecahkan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan faktor-faktor yang tampak sebagaimana adanya.
Sugiyono (2017:8) menyatakan bahwa metode penelitian yang berlandaskan pada falsafah positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Adapun pendekatan deskriptif adalah metode penelitian deskriptif dilakukan untuk mengetahui keberadaan variable mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri atau variabel bebas) tanpa membuat perbandingan variabel itu sendiri dan mencari hubungan dengan variabel lain. Sugiyono (2017:35).
2. Desain Penelitian
Desain penelitian berawal dari masalah yang bersifat kuantitatif dan membatasi permasalahan yang ada pada rumusan masalah. Rumusan masalah dinyatakan dalam kalimat pertanyaan, selanjutnya peneliti menggunakan teori untuk menjawabnya. (Sugiyono, 2016 : 23)
menyatakan bahwa “desain penelitian harus spesifik, jelas dam rinci, ditentukan secara mantap sejak awal, menjadi pegangan langkah demi langkah”. Pada penelitian ini menggunakan satu variabel bebas (independen) yakni kondisi lingkungan keluarga dan satu variabel terikat (dependen) yakni tata tertib sekolah. Adapun desain penelitiannya adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 paradigma sederhana Keterangan :
X : kondisi lingkungan keluarga Y : tata tertib sekolah
3. Waktu dan Tempat a). Waktu
Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah dimulai sejak bulan november 2019 sampai dengan bulan januari 2020.
b). Tempat
Adapun sekolah yang digunakan dalam penelitian ini adalah SDN Bissoloro Kab Gowa yang berlokasikan di Desa Bissoloro Kec Bungaya Kab Gowa.
B. POPULASI DAN SAMPEL 1. Populasi
Sugiyono (2016:17) menyatakan bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi
juga bukan sekedar jumllah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karalteristik yang dimiliki oleh obyek atau subyek itu.
Populasi dalam dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SDN Bissoloro yang berjumlah 103 orang murid. Unuk lebih jelasnya keadaan populasi dapat dilihat pada table 3.1 berikut:
No Kelas Jenis kelamin Total Laki-laki perempuan
1 Kelas 1 11 orang 7 orang 18 orang 2 Kelas 2 12 orang 7 orang 19 orang 3 Kelas 3 7 orang 7 orang 14 orang 4 Kelas 4 5 orang 5 orang 10 orang 5 Kelas 5 7 orang 13 orang 20 orang 6 Kelas 6 10 orang 12 orang 22 orang Total 52 orang 51 orang 103 orang Sumber: data dapodikdasmen SDN Bissoloro tahun 2018/2019 2. Sampel
Sampel dapat didefenisikan sebagai himpunan sebagian dari unsur-unsur populasi yang memiliki ciri-ciri sama. Sugiyono (2016:118) menyatakan bahwa “sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristikyang dimiliki oleh populasi tersebut “.
Adapun cara pengambilan sampel yaitu dengan menggunakan teknik
purposive sampling yakni penentuan sampel dilakukan secara sengaja
Sampel diambil dengan maksud dan tujuan yang diinginkan peneliti atau sesuatu yang diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau atau sesuatu tersebut memiliki atau mengetahui sebuah informasi yang diperlukan bagi penelitian yang dia buat, jadi sampel dalam penelitian ini adalah murid kelas V SDN Bissoloro Gowa yang brjumlah 20 orang dengan perincian sebagai berikut: Table 3.2 deskripsi keadaan sampel
Kelas Jumlah murid Jumlah Laki-laki perempuan
Kelas V 7 orang 13 orang 20 orang Sumber: data dapodikdasmen SDN Bissoloro C. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
Dalam penelitian ini terdapat dua jenis variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Berdasarkan landasan teori dan perumusan hipotesis yang ada mak yang menjadi variabel independen dalam penelitian ini adalah:
1. Kondisi lingkungan keluarga (X)
kondisi lingkungan keluarga yang terdiri dari cara orang tua mengasuh anak, relasi antara anggota keluarga, dan suasana rumah. 2. Kepatuhan Tata tertib sekolah (Y)
Kepatuhan terhadap tata tertib sekolah meliputi kedisiplinan, tidak membolos pada jam pelajaran, memakai topi
saat upacara, tidak membuat kegaduhan, tidak mengganggu teman senantiasa mengikuti upacara pada hari senin dan beberapa peraturan lain yang telah ditetapkan sekolah untuk senantiasa dipatuhi oleh siswa.
D. INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah instrument angket mengenai kondisi lingkungan keluarga dan kepatuhan tata tertib yang ditampilkan dalam bentuk pernyataan dan pertanyaan dengan jumlah 25 item yang terdiri dari 5 alternatif pilihan yaitu sangat setuju, setuju, agak setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Skala ini berdasar pada skala likert. Sugiyono (2016:135)
Adapun pedoman yang digunakan pada pemberian skor yaitu pada skala likert 1 sampai 5 yang dikelompokkan menjadi , favorable dan
unfavorable. Skor masing-masing item , favorable (positif).
a. Kategori jawaban sangat setuju (SS) :5 b. Kategori jawaban setuju (S) :4 c. Kategori jawaban agak setuju (AS) :3 d. Kategori jawaban tidak setuju (TS) :2 e. Kategori jawaban sangat tidak setuju (STS) :1 Sedangkan skoring item unfavorable adalah sebagi berikut: a. Kategori jawaban sangat setuju (SS) :1 b. Kategori jawaban setuju (S) :2 c. Kategori jawaban agak setuju (AS) :3 d. Kategori jawaban tidak setuju (TS) :4
e. Kategori jawaban sangat tidak setuju (STS) :5 E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Jenis-jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindra, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memeproleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi, atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan peneliti.
Tekhnik observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelititan. Tekhnik pelaksanaan observasi ini dapat dilakukan secara langsung yaitu pengamat berada langsung bersama objek yang diselidiki dan tidak langsung yakni pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang diselidiki. (Ahmad Tanzeh, 2009:58).
Beberapa bentuk observasi, yaitu : 1). Observasi partisipasi, (parcitipant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan dan pengindraan di mana peneliti terlibat
dalam keseharian informasi. 2). Observasi tidak terstrukutr adalah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi, sehingga penelito mengembangkan pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi dilapangan. Dan 3). Observasi kelompok ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian. Bungin (2007:115-117)
Tekhnik ini dilakukan untuk mengamati berbagai keadaan siswa. Langkah dalam pengumpulan data melaui tekhnik observasi tentang semua aktivitas siswa selama pelaksanaan penelitian yaitu saat melakukan pembelajaran.
2. Angket
Merupakan suatu daftar yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh siswa yang menjadi sasaran. Angket ini digunakan untuk memperoleh data tentang kondisi lingkungan keluarga yang ada pada lingkungan siswa. Sugiyono (2005:74) penilaian angket mengacu pada skala likert 1 sampai 5 yang dikelompokkan menjadi, favorable dan
Tabel 3.1:
kisi-kisi instrument angket kondisi lingkungan keluarga dan kepatuhan tata tertib lingkungan
No Indikator Sub indicator Nomor butir
1. Kondisi lingkungan keluarga
a. kondisi dan situasi yang tidak mengizinkan anak bergaul
b. kondisi keluarga tidak baik jika kepala keluarga tidak ada di rumah
c. orang tua menegur jika anak pulang terlambat
d. saling menasehati
e. tingkat kedisiplinan dan pemberian hukuman pada anak yang berbuat salah.
f. menyayangi keluarga 1,2,3 4,5 6 10 11 13 2 Tata tertbi sekolah
a. ketaatan pada aturan sekolah
b. tingkat peraturan pada tata tertib sekolah c. frekuensi pelanggaran terhadap tat tertib sekolah
1,2,3,4,
5,6,7,8,9
3. TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis akhir dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana. Menurut Riduwan (2011:147) Regresi sederhana adalah suatu proses memperkirakan secara sistematis tentang apa yang paling mungkin terjadi di masa yang akan datang berdasarkan informasi masa lalu dan dan sekarang yang dimiliki agar kesalahannya dapat diperkecil dengan kata lain regresi dapat diartikan sebagai usaha memperkirakan perubahan. Persamaan regresi dirumuskan sebagai berikut:
Y = a + b X Keterangan :
Y = Subyek variabel terikat yang diproyeksikan
X = Variabel bebas yang mempunyai nilai tertentu untuk diprediksikan. a = Nilai Konstanta harga Y jika X = 0
b = Nilai arah sebagai penentu ramalan (prediksi) yang menunjukkan nilai peningkatan (+) atau nilai penurunan (-) variabel Y. Dalam perhitungan analisis regresi linier sederhana, peneliti menggunakan program SPSS. Berikut ini merupakan data SPSS 16.0 For Windows.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kab Gowa, penelitian dilaksanakan pada tanggal 07 Desember 2019 dengan sampel penelitian 20 orang murid kelas V SDN Bissoloro. Sekolah ini merupakan sekolah Standar Nasional.
Kriteria Sekolah berstandar Nasional salah satunya adalah kondisi sarana dan prasarana yang pada umumnya dalam keadaan baik dan sekurang-kurangnya memiliki ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang kelas, perpustakaan, tempat berolahraga dll. Suasana kondusif ditunjukkan melalui komunikasi dan kerja sama yang baik antara guru dalam melaksanakan berbagai tugas sekolah. Letak sekolah yang strategis dan relative dekat dengan jalan raya tidak mengganggu kenyamanan kegiatan pembelajaran.
2. Deskripsi Data Penelitian
Dalam menganalisis data peneliti mendeskripsikan data dengan menggunakan angket berupa pernyataan dan pertnyaan. Angket disebarkan kepada murid di SDN Bissoloro Kecamatan Bungaya Kab Gowa sebanyak 20 0rang murid, soal angket berjumlah 25 soal yang terdiri dari 13 soal mengenai kondisi lingkungan keluarga dan 12 soal mengenai tata tertib sekolah. Kemudian data tersebut dikumpulkan, lalu data dianalisis dalam
bentuk tabel data yang dinyatakan dengan persen kemudian dianalisis dan hasilnya sebagai berikut.
1. Deskripsi nilai responden terhadap kondisi lingkungan keluarga Tabel 4.1. kondisi keluarga membatasi pergaulan dengan teman
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
8 4 0 8 0 40,0 20,0 0 40,0 0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.1 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan pertama dapat dilihat bahwa murid yang menjawab tidak setuju 40,0%, setuju 20,0%, sangat setuju 40,0%. selebihnya sangat tidak setuju dan ragu-ragu 0%. Maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan murid menjawab tidak setuju dan sangat setuju kondisi keluarga membatasi pergaulan dengan teman.
Tabel 4.2. sering terjadi pertengkaran dalam keluarga
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
5 3 1 5 6 25,0 15,0 5,0 25,0 30,0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.2 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan yang kedua dapat dilihat bahwa murid yang menjawab sangat tidak setuju 30,0%, tidak setuju 25,0%, ragu-ragu 5,0%, setuju
15,0%, sangat setuju 25,0%. Maka dapat disimpiulkan bahwa kebanyakan murid menjawab sangat tidak setuju dalam keluarga sering terjadi pertengkaran.
Tabel 4.3 Keluarga sering berkumpul bersama-sama untuk berbincang-bincang dalam berbagai persoalan.
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
12 7 1 0 0 60,0 35,0 5,0 0 0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasrkan tabel 4.3 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan yang ketiga dapat dilihat bahwa murid yang menjawab ragu-ragu 5,0%, setuju 35,0%, sangat setuju 60,0%, selebihnya tidak setuju dan sangat tidak setuju 0%. Maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan murid yang menjawab sangat setuju terhadap keluarga yang sering berkumpul bersama-sama untuk berbincang-bincang dalam berbagai persoalan.
Tabel 4.4. kondisi keluarga tidak baik jika kepala keluarga tidak di rumah No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
7 4 0 8 1 35,0 20,0 35,0 40,0 5,0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.4 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan yang ke empat dapa dilihat bahwa murid yang menjawab sangat tidak setuju 5,0%, tidak setuju 40,0%, setuju 20,0%, sangat setuju 35,0% selebihnya ragu-ragu 0%. Dapat disimpilkan bahwa kebanyakan murid menjawab tidak setuju kondisi keluarga tidak baik jika kepala keluarga tidak ada di rumah.
Tabel 4.5. saran orang tua kepada murid
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
12 8 0 0 0 60,0 40,0 0 0 0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.5 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan yang ke lima dapa dilihat bahwa murid yang menjawab setuju 40,0%, sangat setuju 60,0%, selebihnya tidak setuju, sangat tidak setuju, ragu-ragu 0%. Dapa disimpulkan bahwa kebanyakan murid menjawab sangat setuju terhadap saran orang tua kepada murid.
Tabel 4.6. orang tua menegur dan menanyakan alasan jika anak pulang terlambat dari sekolah
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
8 6 2 4 0 40,0 30,0 10,0 20,0 0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.6 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan ke enam dapat dilihat bahwa murid yang menjawab tidak setuju 20,0%, ragu-ragu 10,0%, setuju 30,0%, sangat setuju 40,0%, selebihnya sangat tidak setuju 0%. Maka dapat disimpilkan bahwa kebanyakan murid menjawab sangat setuju jika orang tua menegur dan menanyakan alasan jika anak pulang terlambat dari sekolah.
Tabel 4.7. Memberikan hukuman apabila anaknya melakukan kesalahan yang dianggap melanggar aturan
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
4 5 2 7 2 20,0 25,0 10,0 35,0 10,0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.7 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan ke tujuh dapat dilihat bahwa murid yang menjawab sangat tidak setuju 10,0%, tidak setuju 35,0%, ragu-ragu 10,0%, setuju 25,0%, sangat setuju 20,0%. Maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan murid menjawab tidak setuju apabila orang tua memberikan hukuman kepada anak yang melanggar peraturan keluarga.
Tabel 4.8. kedisiplinan yang ketat dalam keluarga
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
10 8 0 2 0 50,0 40,0 0 10,0 0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.8 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan ke delapan dapat dilihat bahwa murid yang mejawab tidak setuju 10,0%, setuju 40,0%, sangat setuju 50,0%, selebihnya yang ragu-ragu dan sangat tidak setuju 0%. Maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan murid menjawab sangat setuju peraturan tentang kedisiplinan yang ketat diterapkan dilingkungan keluarga.
Tabel 4.9. orang tua menasehati ketika ada masalah anak di sekolah No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
6 3 4 2 5 30,0 15,0 20,0 10,0 25,0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.9 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan ke sembilan dapat dilihat bahwa murid yang mejawab sangat tidak setuju 30,0%, tidak setuju 10,0%, ragu-ragu 20,0%, setuju 15,0%, sangat setuju 25,0%. Maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan murid menjawab sangat setuju ayah dan ibu selalu menasehati ketika ada masalah anak di sekolah.
Tabel 4.10. jam belajar saat di rumah selalu diperhatikan
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
6 10 2 1 1 30,0 50,0 10,0 5,0 5,0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.10 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan ke sepuluh dapat dilihat bahwa murid yang mejawab sangat tidak setuju 5,0%, tidak setuju 5,0%, ragu-ragu 10,0%, setuju 50,0%, sangat setuju 30,0%. Maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan murid menjawab setuju jam belajar saat di rumah selalu diperhatikan oleh orang tua.
Tabel 4.11. mengarahkan murid untuk taat terhadap peraturan sekolah No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
16 3 1 0 0 80,0 15,0 5,0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.11 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan ke sebelas dapat dilihat bahwa murid yang mejawab ragu-ragu 5,0%, setuju 15,0%, sangat setuju 80,0%, selebihnya tidak setuju dan sangat tidak setuju 0%. Maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan murid menjawab sangat setuju apabila murid selalu diarahkan orang tua untuk taat terhadap peraturan yang ada disekolah.
Tabel 4.12. menasihati murid untuk selalu berperilaku baik di sekolah
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
12 6 1 1 0 60,0 30,0 5,0 5,0 0 Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.12 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan ke duabelas dapat dilihat bahwa murid yang mejawab tidak setuju 5,0%, ragu-ragu 5,0%, setuju 60,0%, sangat setuju 60,0% dan selebihnya sangat tidak setuju 0%. Maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan murid menjawab sangat setuju apabila murid selalu dinasehati orang tua untuk selalu berperilaku baik di sekolah.
Tabel 4.13. kondisi keluarga selalu terbina dengan kasih sayang
No Alternatif Jawaban F % 1 2 3 4 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak Setuju
12 8 0 0 0 60,0 40,0 0 0 0 Jumlah 20 100 Sumber : Hasil SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.13 di atas maka murid kelas V SDN Bissoloro, dari ungkapan ke tigabelas dapat dilihat bahwa murid yang mejawab setuju 40,0%, sangat setuju 60,0% dan selebihnya sangat tidak setuju 0%, ragu-ragu 0%, tidak setuju 0%. Maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan murid menjawab sangat setuju apabila kondisi keluarga selalu terbina dengan kasih sayang.
Berdasarkan dari hasil analisis statistik deskriptif tentang kondisi lingkungan keluarga terhadap kepatuhan murid dalam melaksanaka tata tertib sekolah.