Daftar Isi
Bab I
Pendahuluan ...1
A. Perkembangan Sertifikasi dan LEI ...1
B. Organisasi Berbasis Konstituen ...1
C. Pelaksanaan CBO ...2
Bab II
Tata Kelola Lembaga ...3
A. Pengembangan Organisasi: Periode 2005-2006 ...3
B. Badan Eksekutif (BE) LEI ...5
C. Forum Komunikasi Daerah (FKD) ...6
D. Dewan Pertimbangan Sertifikasi (DPS) ...8
E. Perkembangan Organisasi: Periode 2007-2008 ...9
F. Anggota LEI ...11
Bab III
Program Kerja dan Implementasinya ...17
A. Acuan Program Kerja ...17
B. Pelaksanaan Program Kerja: Pengembangan Sistem Sertifikasi ...18
C. Pelaksanaan Program Kerja: Pelaksanaan Sertifikasi ...21
D. Pelaksanaan Program Kerja: Kolaborasi dan Komunikasi ...25
Bab IV
Keuangan dan Asset Lembaga ...33
A. Laporan Keuangan Periode 2005 dan 2004 ...33
C. Laporan Keuangan Periode 2007 dan 2006 ...36
D. Laporan Keuangan Periode 2008 dan 2007 ...37
E. Strategi ke Depan ...38
Bab V
Permasalahan Sertifikasidan Kendala Organisasi ...39
A. Permasalahan Sertifikasi ...39
B. Kendala Memanfaatkan CBO ...42
Bab VI
Usulan Strategi LEI ke Depan ...43
A. Strategi Peningkatan Sertifikasi ...43
B. Rekognisi dan Afiliasi ...43
C. Restrukturisasi Organisasi LEI dan Peningkatan Peran CBO ...43
D. Pengembangan LS berorientasi Non Profit...44
E. Keuangan LEI ...44
LAMPIRAN
2.1 Daftar Nama & Tingkat Pendidikan Staf LEI
2.2 Hasil Studi Afiliasi LEI Terhadap Skema Sertifikasi Internasional 3.1 Jumlah Penilai Lapangan & Panel Pakar Sertifikasi Teregister 4.1 Data Aset Lembaga Tahun 2005
4.2 Data Aset Lembaga Tahun 2006 4.3 Data Aset Lembaga Tahun 2007 4.4 Data Aset Lembaga Tahun 2008 4.5 Hasil Audit Keuangan LEI Tahun 2005 4.6 Hasil Audit Keuangan LEI Tahun 2006 4.7 Hasil Audit Keuangan LEI Tahun 2007
Bab I
Pendahuluan
A. Perkembangan
Sertifikasi dan LEI
Kelompok Kerja (Pokja) Ekolabel yang dibentuk pada tahun 1994 menjadi awal inisiatif sertifikasi ekolabel di Indonesia sekaligus awal terbentuknya Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Dalam kurun waktu 1994-1998 Pokja tersebut telah menyusun standar untuk menilai unit manajemen pengelolaan hutan lestari. Terdapat kesepakatan bersama bahwa standar yang dikembangkan harus kredibel, berbasis penilaian oleh pihak ketiga yang independen, dan sukarela, sehingga diharapkan hasilnya juga akan lebih dapat diterima dan dipercaya oleh pasar dan konsumen akhir yang menggunakan kayu-kayu dari Indonesia. Pada bulan Februari 1998 Pokja Ekolabel berbadan hukum Yayasan. Pada saat itu bentuk yayasan dianggap sebagai pilihan yang tepat, dan tidak lagi terikat baik langsung ataupun tidak langsung dengan lembaga pemerintah, misalnya Departemen Kehutanan. Pada tahun 1999, sistem sertifikasi Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari (PHAPL) ditetapkan dan diujicobakan di beberapa lokasi Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Pada periode ini, LEI menandatangani piagam kerjasama dengan ForestStewardship Council (FSC), sebuah
lembaga akreditasi internasional, untuk implementasi program sertifikasi bersama (joint certification programme/
JCP). Dengan JCP dilaksanakan kegiatan
bersama, dengan standar yang dikembangkan baik LEI maupun FSC, yang diharapkan dapat terjadi mutual
recognition agreement diantara kedua
standar tersebut. Program ini terus berjalan sampai dengan tahun 2005. Melalui JCP, tahun 2001 PT Diamond Raya Timber menjadi unit manajemen hutan alam pertama yang mendapat sertifikat ekolabel. Tahun 2002, LEI berhasil menyelesaikan dan menetapkan standar untuk sertifikasi Pengelolaan Hutan Tanaman Lestari (PHTL), Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML), dan sertifikasi lacak balak (chain of custady). Uji coba di beberapa unit manajemen dilakukan dan untuk hutan yang dikelola masyarakat, dalam melakukan uji coba, LEI menandatangani piagam kerja sama dengan beberapa lembaga seperti WWF Indonesia, SHK Kalimantan Timur, Persepsi, dan Arupa.
B. Organisasi Berbasis
Konstituen
Sejak tahun 2001 muncul wacana agar Yayasan LEI dapat menjadi organisasi yang berbasis konstituen (constituent
based organization/CBO). Alasannya
antara lain sertifikasi ekolabel yang dihasilkan LEI menjadi domain publik dan dipergunakan untuk kepentingan publik, sehingga perlu dicari tata pengelolaan lembaga yang mampu mewadahinya. Disadari bentuk yayasan yang tergantung
2
kepada para pendiri dan pengurusnya menjadi kurang tepat bagi LEI dengan program dan aktivitas berorientasi pada kepentingan publik.
Pada bulan Oktober 2004 di Hotel Bidakara, Jakarta, telah dilaksanakan Kongres LEI I dan telah berhasil menyepakati perubahan LEI menjadi organisasi berbasis konstituen. Anggaran Dasar LEI yang baru menjadi dasar perubahan tersebut, dimana didalamnya antara lain diatur tentang bentuk
organisasi, keanggotaan, dan perangkat organisasi LEI yang baru. Dalam acara kongres ini juga dilakukan penyerahan sertifikat PHBML untuk pertama kali bagi unit manajemen FKPS Desa Selopuro dan Sumberrejo, Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri.
C. Pelaksanaan CBO
Selama empat tahun, periode 2005-2008, CBO LEI telah berjalan. Perjalanan ini pada dasarnya berpijak padaAnggaran Dasar dan amanat Kongres LEI
I tahun 2004, serta Rapat Kerja Nasional yang dilaksanakan pada tahun 2005 dan 2007. Laporan Majelis Perwalian Anggota (MPA) LEI ini disusun untuk menggambarkan pelaksanaan CBO LEI pada periode tersebut.
Setelah Pendahuluan, dalam laporan ini digambarkan secara lebih rinci pelaksanaan tata kelola lembaga sebagai penjabaran amanat Kongres LEI I tahun 2004 dan hasil Rapat Kerja Nasional yang dituangkan dalam Bab II. Dalam Bab III diuraikan pokok-pokok hasil kerja serta hal-hal yang belum dapat dicapai selama periode 2005-2008, dan selanjutnya dalam Bab IV diuraikan mengenai kondisi keuangan dan asset LEI selama periode 2005-2008.
Untuk melanjutkan visi dan misi LEI ke depan, dalam Bab V diuraikan sejumlah pokok-pokok hambatan dan kendala yang dihadapi oleh LEI. Laporan ini ditutup dengan Bab VI, yang berisi usulan dari MPA masa kerja 2005-2008 terhadap strategi LEI ke depan.
Bab II
Tata Kelola Lembaga
A. Pengembangan Organisasi: Periode 2005-2006
dibuat oleh Badan Eksekutif (BE) LEI kemudian dibahas dan ditetapkan oleh MPA LEI melalui keputusan MPA LEI Nomor 03/MPA-LEI/IV/2005, tanggal 28 April 2005.
4. Mengesahkan secara hukum bentuk organisasi perkumpulan LEI, melalui pengesahan statuta LEI menjadi Anggaran Dasar LEI oleh notaris. Dalam hal ini LEI meminta bantuan konsultan hukum dari Institut Hukum Sumberdaya Alam (IHSA) untuk membantu mengawal proses perubahan dari yayasan menjadi perkumpulan. Outputnya antara lain dokumen-dokumen legal organisasi LEI yang baru, yaitu AD LEI yang telah ditanda-tangani notaris, surat domisili, dan NPWP. AD LEI telah dicatat oleh notaris Fuzi Markunah, SH dengan nomor 01 tanggal 18 April 2005.
5. Membuat perangkat kerja MPA untuk memudahkan dalam melaksanakan aktivitasnya. Perangkat kerja MPA disamping Ketua dan Bendahara juga dibentuk 2 komisi yaitu Komisi Pengembangan Organisasi dan Komisi Komunikasi, Informasi, dan Advokasi.
Setelah Kongres I LEI-CBO Oktober 2004, MPA menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan organisasi LEI. Oleh karena itu terdapat sejumlah aktivitas yang dilakukan oleh MPA, yaitu:
1. Melanjutkan proses serah terima aset dan sumber daya manusia dari Yayasan LEI kepada Perkumpulan LEI. Serah terima telah dilakukan pada tanggal 25 Januari 2005 dengan berita acara serah terima yang ditandatangani oleh Badan Pengurus Yayasan LEI dan MPA LEI.
2. Memilih dan menetapkan Direkturlih dan menetapkan Direktur Eksekutif (DE) LEI. Pemilihan DE LEIPemilihan DE LEI dilakukan secara terbuka melalui pengumuman di harian Kompas pada tanggal 9 Desember 2004. Terdapat 33 orang yang berminat melamar sebagai calon DE LEI. Akhirnya MPA memilih dan menetapkan Taufiq Alimi sebagai Direktur Eksekutif LEI dan diangkat melalui surat keputusan MPA LEI nomor 01/MPA-LEI/Kpts/ II/2005, tanggal 1 Februari 2005. 3. Membuat Anggaran Rumah Tangga
(ART) LEI. ART LEI dibuat untuk menurunkan hal-hal yang belum diatur dan/atau sudah diatur tetapi belum detail dalam AD LEI. ART LEI
4
Pada tanggal 27-28 April 2005 dilakukan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I LEI. Pokok-pokok keputusan Rakernas LEI I yang terkait organisasi adalah sebagaiadalah sebagai berikut:
1. Forum Komunikasi Daerah (FKD)munikasi Daerah (FKD) Sangat penting FKD untuk segera dikuatkan fungsinya. Penguatan ini dapat berupa: a. Merumuskan tugas pokok FKD di setiap wilayah, b. Memetakan keanggotaan sesuai dengan kamar-kamar MPA, c. Memberikan stimulan dana dari LEI dan bantuan sumber daya (informasi, jaringan, bantuan teknis, dana) dari anggota LEI-CBO, d. LEI dan FKD perlu secara proaktif melakukan dialog dengan Pemda, e. Mengoptimalkan forum yang ada dengan menambah fungsi sebagaimana yang diemban oleh FKD. 2. Peran MPA-Kamar
Selain menjadi tanggung jawab masing- jawab masing-masing kamar, BE LEI perlu menjalankan program komunikasi LEI dengan konstituennya.
Tabel 2.1. Surat Keputusan MPA terkait Pengembangan Lembaga,
2005-2006
No. Nomor Surat Keputusan
Perihal Waktu
1. 01/MPA-LEI/Kpts/ II/2005
Pengangkatan Sdr. Taufiq Alimi sebagai Direktur Eksekutif Perkumpulan LEI
1 Februari 2005 2. 03/MPA-LEI/IV/2005 Anggaran Rumah Tangga Perkumpulan LEI 28 April 2005 3. 04/MPA-LEI/IV/2005 Iuran Anggota Lembaga Ekolabel Indonesia 28 April 2005 4. 05/MPA-LEI/IV/2005 Penetapan Anggota Perkumpulan Lembaga
Ekolabel Indonesia
28 April 2005 5. 06/MPA-LEI/V/2005 Perangkat Kerja Majelis Perwalian Anggota 1 Mei 2005 6. 07/MPA-LEI/V/2005 Penetapan Sdr. Alex Sanggenafa sebagai Anggota
Majelis Perwalian Anggota LEI
1 Mei 2005 7. 01/MPA-LEI/V/2006 Penetapan Anggota Dewan Pertimbangan
Sertifikasi (DPS) LEI
16 Mei 2006 8. 03/MPA-LEI/VI/2006 Penetapan Anggota Dewan Pertimbangan
Sertifikasi LEI untuk Keberatan Keputusan Sertifikasi PT. Riau Andalan Pulp �� PaperRiau Andalan Pulp �� Paper
6 Juni 2006
9. 04/MPA-LEI/2006 Penetapan Sdri. Dian Novarina sebagai Anggota
Majelis Perwalian Anggota LEI 29 November 2006 10 03/MPA-LEI/I/2009 Penetapan Anggota Lembaga Ekolabel Indonesia 30 Januari 2009
3. LEI dan Inisiatif Lain
LEI-CBO perlu menjalankan program khusus untuk meningkatkan hubungan kerja sama dengan inisiatif lain, seperti PEFC (Programme for the Endorsement of
Forest Certification), dengan tujuan untuk
memperkuat posisi LEI terutama dalam perdagangan internasional. Juga perlu mendapat dukungan pemerintah. 4. Lembaga Sertifikasi
Perlu revisi pedoman dan manual yang berkaitan dengan Lembaga Sertfikasi (LS) yang disahkan oleh MPA melalui Nota untuk diacu sebagai bagian dari perubahan sistem sertifikasi yang telah ada. Arah revisi tersebut juga memperhatikan adanya ruang agar terwujud LS berbasis masyarakat.
5. Anggota MPA antar Waktu
Menyetujui Alex Sanggenafa sebagai anggota MPA.
Keputusan MPA terkait perkembangan lembaga dan organisasi LEI dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan MPA seperti disajikan dalam Tabel 2.1.
B. Badan Eksekutif (BE) LEI
Organisasi BE LEI berubah setelah adanya Anggaran Rumah Tangga (ART) LEI dan pedoman manajemen internal staf BE LEI. Pedoman tersebut disusun sebagai panduan manajemen, khususnya bagi staf Badan Eksekutif LEI dan untuk memberi kejelasan hak, kewajiban dan fungsi masing-masing staf.Pada awal kepengurusan, kantor LEI masih menyewa rumah di Jalan Taman Malabar No. 18 Bogor. Dengan besarnya biaya sewa kantor serta ide untuk semakin mengembangkan lembaga maka disepakati oleh MPA bahwa LEI harus mempunyai kantor sendiri. Akhirnya pada bulan November 2006 LEI mempunyai kantor sendiri di Jalan Taman Bogor Baru Blok B4 No. 12 Bogor.
Sementara itu, sumber daya manusia secara kuantitas tidak terlalu banyak berubah, seperti ketika LEI masih berbentuk yayasan. Semua staf LEI bekerja berdasarkan kontrak. Mekanisme kontrak dilakukan antara DE LEI dengan staf yang bersangkutan. Pada bulan Juli 2007 – Mei 2008 LEI mendapatkan tambahan staf magang dari Amerika Serikat melalui program Luce Scholar Program yang didukung oleh The Asia Foundation. Staf ini lebih banyak membantu LEI terkait pengembangan jejaring dan kerja sama internasional serta pengembangan sertifikasi PHBML. Sampai saat ini jumlah staf BE LEI adalah 19 orang, yang terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, sebagaimana tercantum pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Staf Badan Eksekutif LEI, 2008
Jenjang Pendidikan Jumlah Staf S3 (Doktoral) dan on going to S3 2S2 dan kandidat S2 6
S1 dan kandidat S1 6
Diploma (D1 – D4) dan kandidat diploma 2
SLTA 3
Jumlah Total 19
Struktur organisasi LEI terbagi dalam bagian dan unit kerja yang dikoordinir oleh seorang manajer, yaitu Bagian Sertifikasi �� Akreditasi; Bagian Komunikasi �� Advokasi; Bagian Pengembangan Kapasitas; Bagian Keuangan �� Akuntansi; dan Bagian Kesekretariatan.
DE LEI juga dibantu seorang Deputi Direktur yang bertugas membantu tugas-tugas keseharian DE serta mengkoordinir dan mensupervisi kerja bagian-bagian LEI. Disamping itu dibentuk juga asisten DE yang bertugas secara spesifik menangani masalah-masalah tertentu (Asisten DE untuk rekognisi internasional LEI dan Asisten DE untuk pengembangan FKD dan konstituen). Struktur organisasi LEI dapat dilihat pada Gambar 2.1. Daftar nama dan tingkat pendidikan staf LEI dapat dilihat pada Lampiran 2.1.
6
Gambar 2.1. Struktur Organsisasi LEI
C. Forum Komunikasi
Daerah (FKD)
FKD dibentuk sebagai prasyarat berlakunya sistem sertifikasi ekolabel yang dikembangkan LEI, yaitu adanya keterlibatan aktif para pihak di daerah dimana terdapat unit manajemen yang akan dilakukan penilaian sertifikasi ekolabel. Forum ini terdiri dari para stakeholders yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dalam pengelolaan sumberdaya hutan di daerahnya masing-masing. FKD yang telah dibentuk dan perkembangannya dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3. FKD yang Telah Dibentuk dan Perkembangannya
No FKD InisiasiWaktu Kontak lembaga/personalPerkembang-an (Aktif atau Tidak
Aktif) 1. Sumatera Utara 2002 Focal point: Yayasan Leuser Lestari
Jl. Samanhudi Lingkungan IV No.19 Medan 20152. Phone : 62-61-4158565
Fax : 62-61-41534364. E-mail : [email protected]. Contact person : Zahedi Charamsar (08126039748)
Tidak Aktif
2. Riau 2003 Focal point: Sekretariat FKD Riau
Jl.Paus Permai I Blok C no.36, Perum Vila Indah Paus, Pekanbaru – Riau. Phone/Fax : 0761-41830. E-mail : [email protected]. Contact person : Harry Oktavian (08127525289)
Aktif
3. Jambi 2004 Focal Point : PSHK ODA
Jl. Kaca Piring RT 30/10 No. 09 Kel. Simpang IV Sipin Telanaipura, Kota Jambi. E-mail : [email protected]. Contact person : Helmy/ Husni Thamrin (08127352271)
Aktif
4. Sumatera Selatan
2004 Focal Point : Yayasan DAMAR-Palembang Jl. Komperta D-1 Indralaya-Palembang 30662. E-mail : [email protected]
Contact person : Ahmad Zaenal Fanani
Tidak Aktif
5. Jawa Barat 2005 Focal Point: Paguyuban Mitra Ciremai
Jl. Dipati Ewangga Gg. Adipati No. 2, Kuningan, Jawa Barat 45511. Phone / Fax : 62-232-871566. E-mail: [email protected]/ [email protected]. Contact Person : Usep Sumirat
Aktif
6. Jawa Tengah �� DI Yogyakarta
2003 Focal point: Lembaga ARuPA
Dusun Karanganyar Rt 10/Rw 29 No. 200 Kelurahan Sinduadi Kecamatan Mlati Sleman. Phone /Fax : 62-274-551571. E-mail : [email protected]. Contact person : Ronald Ferdaus
Aktif
7 Jawa Timur 2004 Focal Point : Lembaga Paramitra
Jl. Raya Mojorejo 98, Junrejo, Batu, Malang 65321. Phone / Fax : 62-341-594792
Contact person : Hari Cahyono
Aktif
8. Kalimantan Barat
2002 Focal Point : PPSHK Kalbar (Program Pemberdayaan Sistem Hutan Kerakyatan)
l. 28 Oktober Blok B No. 1 Pontianak. Phone / Fax : 62-561-881387 E-mail : [email protected]. Contact person : Ronny Christianto (0816223167)
Aktif
9. Kalimantan Tengah
2001 Focal Point : Yayasan Tahanjungan Tarung
Jl. Pinus Komp. Loksado Permai No. 6A, Panarung, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Phone / Fax : 62-536-35594.
E-mail : [email protected]
Contact person : Made Suarjaya (0811-524767) Kiki (0816-4589251).
Tidak Aktif
10. Kalimantan Selatan
2001 Focal Point : LPMA
Jl. Cendana I No. 36 Rt. 16 Kayu Tangi, Banjarmasin 70123. Phone : 62-511-300392. Fax : 62-511-772870. E-mail : [email protected]
Tidak Aktif
11. Kalimantan Timur
2001 Focal point : APKSA
Address : Jl. Markisa No. 2 Samarinda 75123 Kalimantan Timur. Phone : 62-541-745344
Contact person : Faisal Kairupan
Tidak Aktif
12. Sulawesi Utara 2001 Focal point : Yayasan Kelola
Address : Jalan Santo Yoseph No. 66 Kleok Ling. IV Manado 95115 Phone / Fax : 62-431-851774
E-mail : [email protected]
Contact person : Yahya Laode/Rignolda Djamaludin
Tidak Aktif
13. Sulawesi Tenggara
2001 Focal point : Yascita
Jl. Tanukila No. 1 Kendari 93117 Phone : 62-401-391485
E-mail : [email protected] Webiste : www.yascita.or.id
Contact person : Pendoks
Tidak Aktif
14. Papua 2003 Focal point : Forum Komunikasi Kehutanan Papua. Gd. Paniri, Jl. Percetakan Negara No. 4-6 Jayapura 99111
8
Format kelembagaan masing-masing FKD bervariasi. Ada yang sangat terstruktur (seperti di Riau) namun ada juga yang sangat longgar. Aktivitas setiap FKD juga berbeda untuk setiap daerah. Ada yang sangat aktif, ada juga yang tidak aktif. Beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan-perbedaan itu antara lain adalah: ada tidaknya sertifikasi di wilayah itu, kompleksitas masalah kehutanan, dan kecukupan organisasi sejenis. Di wilayah yang sedang berlangsung sertifikasi, biasanya FKD cenderung lebih aktif. Saat ini FKD yang terlihat aktif adalah FKD Riau, Jambi,Kalimantan Barat, dan Jogjayakarta/Jawa Tengah. Hal ini karena adanya proses-proses sertifikasi, baik pada konsesi hutan tanaman industri ,konsesi hutan alam dan hutan berbasis masyarakat ( hutan rakyat dan hutan adat).
Keterlibatan FKD dalam setiap kegiatan sertifikasi adalah pada konsultasi publik, pada pemberian rekomendasi pada pemilihan panel pakar, dan tindak lanjut kegiatan sertifikasi, serta monitoring dan penyelesaian berbagai konflik yang diharuskan oleh rekomendasi Panel Pakar II maupun Dewan Pertimbangan Sertifikasi (DPS). FKD Riau telah memfasilitasi penyelesaian konflik di Lubuk Jering dan di wilayah lain di sekitar HPH/HTI di provinsi itu. Sementara di Kalimantan Barat, selain terlibat dalam sertifikasi HPH, FKD Kalbar terlibat sangat aktif pada pengembangan kapasitas komunitas Sungai Utik dan dalam pelaksanaan mock certification. FKD Jambi terlibat aktif dalam proses sertifikasi PT Wira Karya Sakti (WKS), yang prosesnya melalui beberapa fase dalam rentang waktu yang cukup panjang.
FKD Jawa Tengah-DIY dan anggota-anggotanya terlibat aktif dalam mempromosikan sertifikasi, dan telah mendampingi masyarakat di kedua provinsi itu dalam proses sertifikasi. Pada kurun Februari 2005-Februari 2007, FKD di kedua provinsi itu telah berhasil membantu masyarakat untuk mendapat tiga sertifikat bagi tiga unit pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Ketiganya adalah sertifikat PHBML untuk Koperasi ”Wana Mandiri Lestari” di Kabupaten
Gunung Kidul (seluas 815.18 hektar yang berlokasi di Kecamatan Panggang, Nglipar dan Playen), untuk Gabungan Organisasi Pelestari Hutan ”Wono Lestari Makmur” di wilayah Kecamatan Weru, Kabupaten Wonogiri (1.179 hektar) dan untuk Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat ”Catur Giri Manunggal” di Kecamatan Giriwoyo Kabupaten Wonogiri (seluas 2.434,24 hektar). Idealnya, FKD merupakan forum para pihak dalam mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lestari. Sejalan misi LEI, maka peran para pihak itu terwujud dalam monitoring pengelolaan SDA, keterlibatan penuh dalam proses sertifikasi, peningkatan pengetahuan dan kapasitas para pihak dalam sertifikasi pengelolaan SDA, dan dalam batas tertentu mediasi berbagai konflik dalam pengelolaan SDA. Tidak semua FKD memiliki format kelembagaan yang siap untuk menjalankan fungsi-fungsi itu. Untuk menjawab persoalan itu, perlu dilakukan rekonstruksi, konsolidasi dan fungsionalisasi FKD.
D. Dewan Pertimbangan
Sertifikasi (DPS)
Dewan Pertimbangan Sertifikasi (DPS) merupakan perangkat organisasi LEI yang berfungsi untuk melakukan penyelesaikan keberatan terhadap hasil keputusan sertifikasi. Keanggotaan DPS bersifat ad-hoc. Anggotanya dipilih dan ditetapkan oleh MPA LEI, terdiri dari orang-orang yang kompeten di bidangnya dan dianggap mampu sebagai fasilitator.
Pada tanggal 15 Mei 2006, JIKALAHARI, sebuah konsorsium NGO di Riau mengirimkan surat keberatan terhadap hasil keputusan sertifikasi PT. Riau Andalan Pulp �� Paper (RAPP) kepada lembaga Sertifikasi (LS) PT Mutu Agung Lestari.
Lembaga Sertifikasi kemudian
meneruskan keberatan ini kepada MPA LEI melalui Surat No. 600.3/MUTU/ V/2006 tanggal 17 Mei 2006. MPA LEI kemudian menetapkan anggota DPS untuk penyelesaian keberatan tersebut. Anggota DPS yang terpilih adalah Haryanto R Putro, Kamardi,
Nanang Roffandi Ahmad, Dwi Rahmad Muhtaman, dan Boedijono melalui surat keputusan MPA LEI nomor 01/MPA – LEI/ V/2006 tanggal 1 Mei 2006.
DPS kemudian bekerja menyelesaikan keberatan tersebut dengan melakukan pertemuan dengan pihak-pihak yang terlibat langsung (LS, PT. RAPP, Jikalahari, dan LEI) serta pihak-pihak lain yang dipandang kompeten dan mengetahui permasalahan tersebut. DPS juga melakukan kunjungan dan verifikasi lapangan terhadap masalah-masalah yang menjadi obyek keberatan. Setelah melalui pengkajian, diskusi, dan kunjungan ke lapangan, DPS mengambil keputusan bahwa beberapa obyek keberatan dianggap tidak relevan dan beberapa lainnya dianggap relevan, tetapi tidak mengubah keputusan sertifikasi.
Disamping itu pada tahun 2006 terdapat keberatan terhadap hasil keputusan sertifikasi PT Erna Djuliawati, Kalimantan Tengah oleh Konsorsium LSM Kalimantan Tengah. Hanya saja keberatan ini tidak sampai diproses dan diajukan LS kepada MPA LEI, dan diselesaikan sendiri oleh LS melalui mekanisme yang mereka punyai, yaitu LS melakukan peninjauan lapangan terhadap masalah-masalah yang diajukan sebagai obyek keberatan dan memutuskan bahwa tidak ada perubahan terhadap hasil keputusan sertifikasi yang telah dikeluarkan. Keberatan lain yang juga muncul tetapi tidak sampai diselesaikan dengan mekanisme DPS adalah yang dilakukan oleh Persatuan Petani Jambi (PPJ) terhadap proses sertifikasi PT Wira Karya Sakti, Jambi. Kasus ini dapat diselesaikan melalui pertemuan multi pihak antara unit manajemen, pengaju keberatan, LS, FKD Jambi dan LEI pada bulan Januari 2008 di Bogor.
E. Perkembangan Organisasi:
Periode 2007-2008
Pada tanggal 26 Juli 2007 diadakan Rakernas LEI II, dengan pokok-pokok keputusan yang terkait dengan lembaga, sebagai berikut:
1. Pembentukan unit usaha retail produk-produk berbahan baku kayu bersertifikat ekolabel (PT. Greenliving Indonesia)
2. Pengakuan terhadap LEI baik di dalam maupun di luar negeri menjadi isu pokok yang perlu menjadi prioritas LEI. Dalam kaitan ini ditetapkan “Strategi Tiga Kaki” yaitu: program mandiri (komunikasi dan perbaikan kualitas kelembagaan LEI), afiliasi dengan skema sertifikasi internasional, dan pengembangan jaringan kerja dengan mitra-mitra LEI.
Mulai akhir tahun 2007 LEI melangkah untuk meningkatkan rekognisi di tingkat internasional, baik organisasi maupun sistem sertifikasi yang dihasilkan. Rekomendasi Rakernas LEI II untuk membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Rekognisi Internasional LEI sudah dilakukan. Terdapat 2 program yang dilakukan Pokja tersebut, yaitu pertama, meningkatkan keberterimaan LEI dengan cara peningkatan kualitas manajemen kelembagaan LEI sebagai lembaga akreditasi; dan kedua, bekerja sama dengan pengembang sistem sertifikasi internasional yang dapat mengakui eksistensi LEI dan sistem sertifikasi yang dikembangkannya.
Sehubungan dengan hal di atas, LEI sedang menyiapkan diri mendapatkan sertifikasi ISO 17011 sebagai dasar untuk mendapat pengakuan setara dengan
10
lembaga akreditasi internasional. Untuk menyiapkannya telah dibentuk tim persiapan ISO 17011 yang beranggotakan anggota Pokja Rekognisi dan staf BE. Tim telah menyusun dokumen teknis untuk persyaratan mengikuti penilaian ISO 17011. Dokumen juga sudah dievaluasi oleh pihak yang memahami proses dan implementasi ISO 17011.
Terkait dengan kerja sama dengan lembaga akreditasi internasional, terdapat 3 pilihan yang didiskusikan, yaitu menjadi anggota dan mendapat endorsement dari PEFC, kembali bernegosiasi dengan FSC, atau berjalan sendiri dan hanya kerja sama yang tidak terikat dengan lembaga-lembaga tersebut. Untuk memperoleh jawaban terhadap pilihan tersebut, LEI telah melakukan studi kelembagaan yang dilakukan oleh konsultan independen (Lihat Lampiran 2.2). Kajian tersebut disamping membahas kelembagaan LEI juga membahas pilihan-pilihan kerja sama untuk rekognisi internasional tersebut. Hasilnya, setelah melalui pengkajian yang cukup mendalam direkomendasikan bahwa yang paling memungkinkan adalah LEI menjadi anggota PEFC dan/atau di-endorse oleh PEFC. Dari hasil itu setelah melalui pembahasan oleh anggota MPA, akhirnya MPA mengeluarkan surat keputusan yang isinya agar LEI akan berafiliasi dengan PEFC.
Konsekuenasi dari pilihan-pilihan kerja sama di atas dan kebutuhan profesionalisme organisasi LEI, di dalam tubuh LEI diperlukan pemisahan antara Unit Kerja Pengembangan Sistem Sertifikasi dan Unit Kerja Akreditasi Lembaga Sertifikasi. Bagi PEFC, pemisahan tersebut mutlak dilakukan dan akreditasi diserahkan kepada badan akreditasi yang telah terakreditasi IAF (International Accreditation Forum). Terdapat dua alternatif badan akreditasi yang dapat melakukan akreditasi, Pertama adalah Komisi Akreditasi Nasional (KAN), dan yang kedua adalah lembaga akreditasi yang dibentuk sendiri oleh CBO LEI. Alternatif pertama lembaganya sudah ada dan
sudah terakreditasi oleh IAF, namun perlu kajian dan negosiasi kesesuaian sistem akreditasi KAN. dengan sistem akreditasi yang dikembangkan oleh LEI. Sementara untuk badan akreditasi alternatif kedua, masih perlu waktu dan sumber daya untuk membentuk dan mengembangkannya.
Apabila LEI di-endorse oleh PEFC maka organisasi LEI dapat dipastikan masih akan tetap berdiri utuh lengkap dengan seluruh sistem governance-nya. Satu-satunya perubahan signifikan yang harus dilakukan adalah perubahan kewenangan akreditasi LEI yang perlu dilakukan secara terpisah sebagaimana dijelaskan sebelumnya, yaitu oleh KAN atau oleh lembaga akreditasi yang dibentuk oleh CBO LEI.
Dalam halnya hubungan LEI-FSC, LEI harus menunggu kepastian akhir dari keinginan BE FSC untuk memungkinkan pengembangan standar dilakukan oleh lembaga tertentu yang bukan national initiative. Apabila usulan BE FSC dapat diterima oleh board mereka, maka LEI akan dapat menyediakan standar bagi FSC, tanpa harus menjadi national initiative. Dengan kata lain LEI tetap bisa berdiri tegak dengan seluruh sistem governance yang dimilikinya.
Mengenai akreditasi, sampai saat ini FSC masih mensyaratkan bahwa sertifikasi FSC hanya dapat dilakukan oleh LS yang terakreditasi oleh ASI (Accreditation Services International, Lembaga Akreditasi milik FSC). Namun dengan rencana LEI untuk mengembangkan sistem akreditasinya bersertifikat ISO 17011, maka kemungkinan untuk adanya mutual recognition sangat besar. Sebelum mekanisme saling rekognisi terjadi, dapat dimungkinkan adanya co-branding melalui pemasangan logo bersama. Mekanisme untuk ini masih terbuka untuk dibicarakan, dan FSC menginformasikan bahwa mereka bersedia untuk bekerja menuju arah itu. Beberapa keputusan MPA sehubungan dengan pengembangan organisasi LEI termasuk untuk pelaksanaan Kongres LEI II disajikan dalam Tabel 2.4.
Tabel 2.4. Surat Keputusan MPA terkait Pengembangan Lembaga,
2007-2008
No. Nomor Surat Keputusan Perihal Waktu
1. 04/MPA-LEI/VII/2007 Pembentukan dan Pendirian PT Greenliving Indonesia sebagai Unit Usaha Pemasaran Produk Hasil Hutan Bersertifikat Ekolabel
26 Juli 2007 2. 05/MPA-LEI/IX/2007 Pembentukan Kelompok Kerja Rekognisi
Internasional Lembaga Ekolabel Indonesia 1 Oktober 2007 3.. 02/MPA-LEI/VIII/2008 Penetapan Kepengurusan Pokja
Rekognisi Internasional LEI
19 Agustus 2008 4.. 03/MPA – LEI/VIII/2008 Panitia Pengarah Kongres LEI 19 Agustus 2008 5.. 04/MPA – LEI/VIII/2008 Afiliasi LEI terhadap Standar Sertifikasi
Internasional 19 Agustus 2008
F. Anggota LEI
Setelah menjadi organisasi berbasis konstituen terjadi perubahan mendasar terhadap keanggotaan, dimana anggota-anggota LEI dikelompokkan ke dalam: kamar masyarakat, kamar swasta, kamar pemerhati, dan kamar eminent person. Setelah Kongres I, BE LEI mengirimkan formulir keanggotaan kepada para peserta kongres. Hasilnya dari 120 formulir pendaftaran yang dikirimkan, yang kembali dan mendaftar secara formal menjadi anggota LEI berjumlah 64 orang. MPA kemudian menetapkan keanggotaan LEI melalui surat keputusan MPA LEI nomor 05/MPA – LEI/IV/2005 tanggal 28 April 2005
Menjelang Kongres II banyak pihak yang berminat untuk menjadi anggota LEI. Para pihak yang berminat ini perlu memenuhi syarat keanggotaan sebagaimana tercantum dalam AD/ART LEI, yaitu yang memenuhi persyaratan keanggotaan dan/atau yang pernah mengikuti kongres LEI yang pertama. Setelah calon anggota LEI memenuhi kriteria dan persyaratan keanggotaan yang ada, penerimaan anggota LEI
diputuskan oleh MPA melalui Surat Keputusan MPA No. 03/MPA-LEI/I/ 2009. Daftar anggota LEI dapat dilihat pada Tabel
2.5.
Pengelolaan anggota LEI menjadi bagian tugas BE LEI. Pengelolaan meliputi administrasi data anggota, registrasi keanggotaan LEI, pengelolaan iuran anggota, dan fasilitasi jejaring antara anggota dan LEI. Bentuk pengelolaan anggota yang lain adalah upaya tukar-menukar informasi tentang
aktivitas-aktivitas LEI kepada anggota. Tukar-menukar informasi tersebut baru dapat dilakukan melalui media mailing list komunitaslei@ yahoogroups.com, membuat brosur dan bahan-bahan kampanye dan melalui Website LEI: www.lei.or.id .
Aktivitas pertemuan kamar anggota masih sedikit dilakukan karena keterbatasan berbagai kendala, terutama kendala finansial. Pada saat LEI menyelenggarakan aktivitas-aktivitas pengembangan kapasitas, seperti pelatihan, apabila dimungkinkan beberapa anggota LEI diprioritaskan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
12
Tabel 2.5. Daftar Anggota LEI sampai dengan Januari 2009
No. Nama Anggota Nama Utusan Alamat
A. KAMAR MASYARAKAT
1. AMA Sulawesi Selatan Den Upa Rombelayuk Tanete Kindan Lembang Madandan, Kec. Rante Tayo – Tana Toraja P.O. BOX 68 Rante Pao, T : 0423 – 24666, F : 0423-24666, Hp : 08124178936
Email : [email protected]
2. AMA Papua Alex Sanggenafa Jl. KPR No. 9A Kabupaten Yapen Waropen – Serui T : 081240051974
Email : [email protected]
3. FKPS Desa Selopura H. Siman Jarak RT 02 RW 6 Kel. Selopura, Batuwarno, Wonogiri Hp : 081329957353
4. Masyarakat Desa Tanjung Paku Aloysius Bahan Desa Tanjung Paku, Kec. Seruyan Hulu, Kab. Seruyan, Kalimantan Tengah
5. Kelompok Nelayan Mina Bhakti Sosan Sari, Desa Les
I Made Merta Dusun Panyumbahan, Desa Les, Buleleng, Bali Hp : 081338547944
6. PERMADA Mido Basmi Jl. Cendana I RT 16 No. 36 Kayu Tangi, Banjarmasin 7. FKPS Desa Sumberrejo Wonogiri Mulyono Wates wetan, RT 02 RW X, desa Sumberrejo, Kec.
Batuwarno, Wonogiri
8. AMA Togean Moh. Nasir Uka Benteng Kecamatan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una (TOUNA), propinsi Sulawesi Tengah
9. AKA Jambi Usman Gumanti Jl. Jl. Dr. Purwadi Permata Kenali RT 17 Blok F05 Kenali Besar – JAMBI 36129
T : 0741-583126 ; Hp : 081366098967 10. Perkumpulan Petani dan Pengrajin Rotan
Kalimantan Timur
Yohannis Kampung Jengan Danum RT IV, Kec. Damai, Kutai Barat, Kalimantan timur
B. KAMAR BISNIS
1. PT Finnantara Intiga Purwadi Soeprihanto Manggala Wanabhakti Blok IV Lt 9 Jl. Jend. Gatot Soebroto, Senayan Jakarta Hp. 08129995954
Email : [email protected] 2. PT Riau Andalan Pulp �� Paper Dian Novarina Jl Teluk Betung No. 31, Jakarta 10230, T :
021-31930134, F : 021-3923420 Email:[email protected]
3. APKINDO A.A. Malik Manggala wanabhakti Blok IV Wing A, 9th floor; Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta 10270
T : 021-5711290,5733017, F : 021-7239874 Hp : 0811147062, Email : [email protected] 4. PT Inhutani I Dr. Irsyal Manggala Wanabhakti Blok VII Lt. 12, Jakarta Pusat, T :
021-5731724; 7200677; 7200402 F : 021-5734335
5. PT Diamond Raya Timber Arus Mujijat Jl. Dr. Sutomo No. 62 Pekanbaru, T : 0761-37555 F : 0761-33595-96, Hp : 08127519787
Email : amujijat@hotmailcom
6. ASMINDO Sae Tanangga Karim Gd. ASMINDO, Jl. Pegambiran No. 5A, Rawamangun Jakarta Tmur, T : 021-47864013, F : 021-47864031, Hp: 08129088122, Email : [email protected]
7. PT Poros Nusantara Utama A. Ruwindrijarto Jl. Palem Putri III No. 1 – 3, Taman Yasmin Sektor V, Bogor
8. ASMINDO Komda Jawa Timur Chilman Suaedi Ruko GATEWAY Blok B-8, Lantai 2, Jl. S. Parman Waru – Sidoarjo 61256, T : 031-8556062 ; 70577901-2, F : 031-8556063, Hp : 08175079516
Email: [email protected] ; [email protected]. net.id
9. PT Kutai Timber Indonesia Getot Ismoyo Jl. Tanjung Tembaga Baru, Pelabuhan Probolinggo, T : 0335-422412, F : 0335-421669
Hp : 081330618057, Email : [email protected] 10. PT Musi Hutan Persada Mochamad Taviv Jl. Residen H. Abdul Rozak No. 99, Palembang 30114
Sumsel, T : 0711-718142, F : 0711-718102 Hp : 0811711569
No. Nama Anggota Nama Utusan Alamat
11. PT Wira Karya Sakti Bob Sidin Jl. Marsda Iswahyudi, Lorong Bajuri, No. 1 ; PO BOX 147 Jambi 36135, T : 0741-62645 ; 0742-51501 , Sidin. [email protected]
12. PT Sucofindo M. Haris Witjaksono Graha Sucofindo Lt. 6, Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34, Jakarta Selatan 12780, T : 021-7983666, F : 021-7986554, Hp : 08129296487, Email : harisw@ sucofindo.co.id
13. PT Intracawood Totok Listyo Jl. Terusan Lembang D 51 – 53 Menteng, Jakarta Pusat, T : 021-3905751, F : 021-3908469/70
Hp : 0811181570
14. PT Arara Abadi Alias Abdul Djalil Jl. Teuku Umar 51, Pekanbaru 28141 Riau T : 0761-91088 ext 1071 direct line 0761-91511 Hp : 08127581083
15. PT Mutu Agung Lestari Taufik Margani Jl. Raya bogor Km 33,5 No. 19 Cimanggis Depok 16953, T : 021-8740202, F : 021-87740745/46
Hp : 08151858977, Email : taufik@mutucertification. com
16. PT Sari Bumi Kusuma I.B.W. Putra Jl. Balikpapan Raya No. 14, Jakarta Pusat – 10130 T : 021-63863807/63863804
F : 021-5389411, Hp : 08128110004
Email : [email protected] ; [email protected] 17. PT Bahtera Lestari A. Ruwindrijarto Jl. Hayam Wuruk gg. Gangga No. 159 B, Denpasar, Bali
T : 0361-242404, F : 0361-242404 Email : [email protected] C KAMAR PEMERHATI
1. FKKM Muayat Ali Muhshi Jl. Cisangkui Blok B VI No 1 Bogor Baru – Bogor 16152, T/F : 0251-323090, Hp : 0811111796
Email : [email protected]
2. Nurcahyo Adi - Bogor Baru Blok B.XI No. 19
Bogor 15162 Hp : 08129339613
Email : [email protected]
3. Yayasan Kehati Anida Haryatmo Jl. Bangka VIII no. 3B, Pela Mampang, Jakarta 12720, tel: (+62-21) 718 3185; 718 3187
fax:(+62-21) 719 6131, Email: [email protected] 4. Bahtera Nusantara Arsonetri Jl. Hayam Wuruk gg. Gangga No. 159 B, Denpasar, Bali,
T : 0361-242404, F : 0361-242404 Hp : 0818552440
5. YASCITA Kendari Azis Hamid Jl Tanukila No. 1 Kendari, T : 391485, F : 0401-391485
6. HUMA Didin Suryadin Jl. Jatimulya IV No. 21, Jati padang – Pasar Minggu, Jakarta, T : 021-78845871, F : 021-7806094, Hp : 0811118966
7. Studio Kendil Sugeng Raharjo Jl. Perum Ciluar Asri 17, Tanah Baru, Bogor HP : 081381916205
8. SHK Kalimantan Timur Doni Tiaka Jl. Wahid Hasyim, Perumahan Kayu Manis, Blok K No. 1 Samarinda, T : (0541) 7079910, F : (0541) 250238, Email : [email protected]
9. Paramitra Hari Cahyono Jl Raya Mojorejo 98, Junrejo, Batu, 65321 T /F : 0341-594792, Hp : 08123210914 Email : [email protected]
10. HAKIKI Riau Fatra Jl. Paus, Komplek Villa Permata Paus Blok F No 13, Pekanbaru – Riau, Telp/Faks (0761) 7061709 Email. [email protected]
11. PSHK-ODA Jambi Helmi Jl. Kacapiring RT 30/10 No. 09 Simpang IV Sipin Kota Jambi, T : 0741-66098, Hp : 08127316805
Email : [email protected]
12. KONSEPSI Mataram Rahmat Sabani Jl. Bung Hatta II No. 4 Mataram Lombok NTB 83231, T : 0370-627386, F : 0370-627386
14
No. Nama Anggota Nama Utusan Alamat
13. Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman
Iman Kuncoro Fak. Kehutanan Unmul, Jl. Kampus Gunung Kelua, Samarinda, Kaltim, T : 0541-735089, F : 0541-742379, Hp : 0811553476, Email : [email protected] 14. AMAN Jopi Peranginangin Jl. B No. 4 RT 01/RW 06 Komp Rawa bambu I
Pasar Minggu Jakarta, T /F : 021-7802771, Hp : 085216441428, Email : [email protected] 15. KAHUTINDO Khoirul Anam Gd. Waskita Karya – Annex Building Lantai 2 ; Jl. Biru
Laut X Kav. 10 A, Cawang – Jakarta timur 13340, T : 021-70989191, Hp : 0811552122
Email : [email protected] 16. LPMA Borneo Selatan Yasir Al Falah Jl. Cendana I RT 16 No. 36 Banjarmasin
T/F : 0511-300392, Hp : 08164551835 Email : [email protected]
17. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Mohammad Na’iem Jl. Agro No. 1 Bulaksumur, Yogyakarta 55281 T /F : 0274-512102; 550541, Hp : 0811268553 Email : [email protected] ; [email protected] ; [email protected]
18. Yayasan Damar Sugijanto Suwadi Jl. Tegal Mlati No. 60, RT 01 RW 35, Jongkang, Sariharjo, Nganglik, Sleman, Yogyakarta 55581 T /F : 0274 - 867737 ; HP : 08179931100 Email : [email protected]
19. PADI Ahmad Sja Jl. Komplek Perum Doketer Rt 24 No. 87, ekarsari
Balikpapan 76122, Kaltim, T/F : 0542-443284 Hp : 0816202321, Email : [email protected] 20. PSDA Watch Tafakur Rozak Soedjo Gedung Mustika Lt. 1 Suite 104 Jl. Mampang Prapatan
raya No. 71-73, Jakarta Selatan 12790 T/F : 021-7975194-7975195, Hp : 0811941430 Email : [email protected]
21. CAPPA Jambi Rivani Noor Jl. Raja yamin, Lorong Pancasila I No. 38 RT 02/01, Jambi, 36122, T /F : 0741-63384, Hp : 08163205244, Email : [email protected]
22. SEKARJATI Drs. Shahputra Jl. Kolonel Sugiono (Pelita) 51, Ningas, Waru, Surabaya, T : 8533001; 8531179, F : 8535695, Hp : 031-8535695, Email : [email protected]
23. Persepsi Wonogiri Taryanto Wijaya Jl. Cempaka VI No. 01, Pokoh Wonoboyo, Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia, 57615
T /F : 0273-322059
24. Persepsi Klaten Teguh Suprapto Jl. Klaten-Jatinom Km 3, Kwaren, Ngawen, Klaten 57466, PO. Box 196 Klaten, Jawa Tengah T : 0272-322211, Hp : 08122617823 Email : [email protected]
25. TELAPAK Ridzki Rinanto Sigit Jl Palem Putri III no 1 �� 3 Taman Yasmin 5, Bogor Hp : O8161325727, Email :[email protected] 26. LATIN Wibowo Djatmiko Jl. Sutera No. 1 Situ Gede, Bogor 16115
T : 0251-420523; 420524, F : 0251-626593 Email : [email protected]
27. Perkumpulan KELOLA Yahya Laode Jl. Santo Yoseph, No. 66, Kleak, Ling. IV, Manado 95115, T /F : +62-431-851774, Hp : 08194065260 Email : [email protected]
28. Yayasan Bahari Risfandi Jl. Malik IV No. 12 mandonga , Kota Kendari 93111, T /F : 0401-325983, Hp : 0811405406
Hp : [email protected]; [email protected] 29. Yayasan Leuser Lestari Zahedi Jl. Samanhudi Lk. IV No. 19 Medan 20152
T : 061-4158565, F : 061-4534364, Hp : 08126089748, Email : [email protected]
30. CSF – Unmul Mustofa Agung Sardjono Jl. Ki Hajar Dewantara Kampus Unmul Gunung Kelua, Samarinda 75123, T : 0541-201275, Hp : 081155126, Email : [email protected]
31. Dwi Rahmad Muhtaman - Jl. Gaharu D17A, Taman Darmaga Permai, Cihideung Ilir, Ciampea, Kab. Bogor 16620
T : 0251-8620844 Hp : 0811111843
No. Nama Anggota Nama Utusan Alamat
32. Yayasan Citra Bina Mandiri, Jambi Pahrin Siregar Jl. H. Hasan, Lrg.Muhajirin No. 42 RT 21 RW 07 Simp.IV Sipin Jambi
T : 0741-667749, F : 0741-667749, HP : 0811745514 Email : [email protected]
D. EMINENT PERSON
1. Hariadi Kartodihardjo - Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Kampus Darmaga, Bogor, Hp : 0811193383 Email : [email protected]
2. Abdon Nababan - Jl. Sempur Kaler No. 26 Bogor, T : 0251-323664, F : 0251-317926, Hp : 0811111365
Email : [email protected]
3. Nana Suparna - Jl. Balikpapan Raya No. 14, Jakarta Pusat – 10130
T : 021-63863807/63863804, F : 021-5389411 Hp : 0811168534, Email : [email protected]
4. Agus Setyarso - Gedung Pusdokinfo Lt 2, Manggala Wanabhakti
Jl. Jend. Gatot Soebroto, Senayan, Jakarta HP : 0811-267948/0812-9929938 Email : [email protected]
5. Djamaludin Suryohadikusumo - Kl. Karang Asri II, Blok C2/28 Lebak Bulus
T : 021-75909167, F : 021-75909168, Hp : 0816986066, Email : [email protected]
6. Diah Raharjo - Jl. Perum Ciluar Asri No. 17, HP : 08129360417
Email : [email protected]
7. Emil Salim - Jl. Taman Patra XIV Kav. 10 – 11, Kuningan Timur,
Jakarta Selatan 12950, T /F : 021-5274971 ; 5264063, Hp : 0811150637, Email : [email protected]
8. Haryanto R. Putro - Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
Kampus Darmaga, Bogor, Hp : 0811111920 Email : [email protected]
9. Tri Joko Mulyono - Gedung Manggala Wanabhakti Jl Gatot Subroto,
Jakarta. Hp: 08129296575 Email: [email protected]
10. Tri Nugroho - Jl. Jaya Mandala II No.14E, Menteng Dalam, Jakarta
12870. Telp (021) 8292776, Fax (021) 83783648, Hp : 0811985899, email : [email protected]
11. R .Yando Zakaria - Dusun Jambon RT 05 RW 23, Desa Trihanggo,
Gamping, Sleman, Yogyakarta 55291, Indonesia Telephone: 62 - 274 – 7484045. Fax: 0274-7498477. Email: [email protected]
12. M. Buce Saleh - Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
Kampus Darmaga, Bogor, Hp : 08158875300 Email : [email protected]
13. Ismid Hadad - Jl. Bangka VIII no. 3B, Pela Mampang, Jakarta 12720,
tel: (+62-21) 718 3185; 718 3187 fax:(+62-21) 719 6131, HP : 0811158007 Email: [email protected]
14. Sofyan Warsito - Jl. Agro No. 1 Bulaksumur, Yogyakarta 55281
T /F : 0274-512102; 550541, Hp : 0811268553 Email : [email protected]
Bab III
Program Kerja dan Implementasinya
A. Acuan Program Kerja
Salah satu hasil Kongres LEI tahun 2004 adalah ditetapkannya Garis Besar Program Kerja LEI yang menjadi acuan program dan kegiatan untuk mewujudkan visi dan misi LEI. Program kerja LEI 2004–2009 dikelompokkan ke dalam tiga bagian yaitu:
1. Sertifikasi dan akreditasi,
2. Advokasi, mediasi dan kolaborasi, dan
3. Informasi, promosi, dan penguatan kapasitas.
Untuk setiap bagian tersebut dikaitkan dengan isu-isu pokok, yaitu: hak terhadap sumber daya alam (SDA), kebijakan pengelolaan SDA, tata-praja SDA, manajemen di tingkat pelaku (unit manajemen), kesadaran konsumen dan kepedulian publik.
Disamping sasaran program kerja yang dihasilkan Kongres I, LEI juga telah melaksanakan dua kali Rapat Kerja Nasional (Rakernas), yaitu tanggal 27 dan 28 April 2005 dan tanggal 25 dan 26 Juli 2007. Pokok-pokok hasil Rakernas LEI I yang terkait dengan substansi program dan kegiatan LEI adalah sebagai berikut:
1. Sertifikasi dengan Pendekatan
Bertahap (Phase Approach)
LEI–CBO sepakat dengan pendekatan bertahap yang dilakukan dan harus dikaitkan dengan pengelolaan hutan lestari (SFM), baik secara langsung maupun untukmenyiapkan prakondisi yang diperlukan. Dalam hal ini, LEI-CBO berperan sebagai pengembang dan pengawas (atau pembina dan pembimbing) pendekatan ini – konstituen LEI yang melakukan peran aktif. Pelaksanaannya bersifat suka-rela (voluntary) atau mandatory. LEI-CBO dapat menjalankan program mediasi untuk menyelesaikan masalah-masalah Unit Manajemen selama mengikuti pendekatan bertahap.
2. Joint �����������on ��o������
�����������on ��o������
(JCP)
LEI-CBO sepakat untuk menghentikan JCP apabila syarat dasar kesetaraan dan pengakuan atas masing-masing sistem (LEI dan FSC) tidak disepakati; dapat pula melakukan revisi JCP sejalan dengan syarat-syarat tersebut. Jikapun JCP dihentikan, hendaknya LEI tetap bekerja sama dengan FSC (di luar sistem sertifikasi). Dalam kaitan ini, LEI-CBO diharapkan bekerja sama dengan PEFC atau lembaga lain untuk memperkuat kredibilitas LEI-CBO di pasar internasional, disamping perlu bekerja sama dengan pemerintah. MPA memandatkan BE untuk selama-lamanya 6 bulan melakukan pertemuan dengan FSC untuk memastikan JCP. Demikian pula melakukan penjajakan dengan PEFC (terutama untuk hutan tanaman).
3. Perubahan Sistem Sertifikasi
Sistem sertifikasi yang telah ada (khususnya bagi pengelolaan hutan alam) perlu diperbaiki baik menyangkut indikator dan standar maupun proses pelaksanaannya. Dalam pelaksanaan revisi tersebut, MPA diharapkan mengambil peran melalui keputusannya dalam bentuk Nota Revisi Sistem dimaksud.
18
MPA dapat mengundang pihak lain untuk melakukan dengar pendapat, apabila dianggap perlu. SNRM (sustainable
natural resources management) produk
non hutan hendaknya segera dilakukan. Pada Rekarnas LEI II, diputuskan ketetapan hasil kerja setelah Rakernas LEI I untuk kemudian dilaksanakan, yaitu: 1. Pedoman sistem sertifikasi bertahap, 2. Perubahan formula pengambilan
keputusan sistem sertifikasi PHBML, dan
3. Perubahan sistem sertifikasi lacak balak.
Pada Rakernas ini juga ditetapkan kegiatan yang harus dapat dijalankan selama periode 2007-2008, yaitu: 1. Proses penilaian sertifikasi hutan
adat S. Utik, Kalimantan Barat, 2. Membantu penyelesaian
konflik-konflik di bidang kehutanan, 3. Pembenahan Website LEI.
B. Pelaksanaan Program
Kerja: Pengembangan
Sistem Sertifikasi
Pengembangan sistem sertifikasi LEI dilaksanakan dengan melakukan penyempurnaan dan/atau perubahan sistem sertifikasi, yaitu dengan
melakukan revisi sistem sertifikasi Lacak Balak dan revisi sistem PHBML, serta pengembangan sistem sertifikasi baru, yaitu sistem sertifikasi bertahap dan sistem sertifikasi hasil hutan bukan kayu (HHBK).
��ny��pu�n��n Sist�� S������k�si
L���k B�l�k
Kelangkaan bahan baku industri terutama dari sumber-sumber yang bersertifikat telah menyebabkan kesulitan bagi industri kehutanan yang akan maupun yang telah menerapkan sertifikasi lacak balak. Sebagian dari mereka adalah perusahaan berskala kecil dan menengah yang berharap mampu bersaing dalam menyediakan produk yang ramah lingkungan. Di tengah situasi ini, unit usaha kehutanan juga disulitkan oleh aturan sertifikasi lacak balak. Sistem lacak balak yang dikenal selama ini mempersyaratkan komposisi asupan bahan baku yang berasal dari hutan bersertifikat dan asupan bahan baku yang legal dengan perbandingan 70:30. Artinya, 70% bahan baku bersertifikat harus senantiasa tersedia sebagai stok yang siap diolah di pabrik untuk seluruh proses produksinya. Merespon situasi di atas, melalui surat keputusan MPA LEI No. 01/MPA-LEI/ VII/2007 tanggal 26 Juli 2007, telah dilakukan perbaikan sistem lacak balak yang mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Perlu dilakukan perubahan sistem sertifikasi lacak balak (Pedoman LEI 88) yang mengakomodasikan perhatian di atas.
2. Sertifikasi lacak balak LEI dilakukan pada unit sertifikasi produk, dan bukan lagi pada unit sertifikasi perusahaan. Sertifikasi lacak balak dapat diberikan pada produk yang kandungan bahan utamanya seratus
persen (100%) berasal dari sumber yang bersertifikat ekolabel dengan skema LEI.
3. Ketetapan 70% bahan baku harus bersertifikat tidak berlaku lagi. Dengan keputusan itu maka perusahaan dapat memisahkan satu rantai
produksinya untuk hanya mengolah produk dari bahan baku bersertifikat. Untuk proses produksi yang terpisah itu, sertifikat lacak balak dapat diberikan, dan ekolabel dapat dilekatkan pada produk dari rantai terpisah.
��ny��pu�n��n Sist�� S������k�si
�HBML
Penerapan sertifikasi PHBML
(Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari) pada areal hutan rakyat dan hutan adat selama ini ternyata telah membuahkan pelajaran penting, yaitu kredibilitas sistem LEI perlu didukung oleh standar dan persyaratan yang sesuai dengan berbagai tipologi PHBM yang ada. Munculnya keinginan sertifikasi pada hutan-hutan adat maupun pengelola hasil hutan bukan kayu berbasis masyarakat telah mendorong dilakukannya penyempurnaan sistem sertifikasi PHBML.
Sistem sertifikasi PHBML yang selama ini dikembangkan baru menyentuh pada tipe pengelolaan hutan yang bersifat komersial. LEI menyadari bahwa semangat ini belum menjawab persoalan bagaimana untuk pengelola hutan (adat) yang memanfaatkan hasil hutannya secara subsisten. Berdasarkan hal tersebut, LEI telah melakukan revisi sistem PHBML dengan pertimbangan:
Pertama, adanya tuntutan untuk
melakukan sertifikasi di areal dengan kategori K-V1 meningkat dari waktu ke
waktu. Kedua, perlunya kejelasan sistem sertifikasi yang menjadi acuan dalam proses pelaksanaan program sertifikasi di areal dengan kategori K-V. Ketiga, pengelolaan hutan secara subsisten cenderung tidak mengembangkan intensitas pengelolaan hasil kayunya,
1 Kategori K-V yaitu pola PHBM yang
memanfaatkan atau menghasilkan kayu secara subsisten di lahan-lahan yang termasuk kawasan budidaya kehutanan (KBK) maupun pada kawasan-kawasan budidaya non
melainkan hanya memanen atau memungut seperlunya. Karena itu melalui surat keputusan MPA LEI No. 01/ MPA-LEI/III/2008 ditetapkan perubahan status tipologi pengelolaan hutan berbasis masyarakat secara subsisten (K-V) pada sistem sertifikasi PHBML yang sebelumnya dikeluarkan sebagai objek sertifikasi.
Dengan perbaikan sistem yang telah dilakukan ini, maka sertifikasi hutan adat di Kampung Menua Sungai Utik, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat telah dapat dilakukan. PT Mutuagung Lestari telah menetapkan kelulusannya. Serah terima sertifikat disaksikan pula oleh Menteri Kehutanan di Rumah Panjae Sungai Utik tanggal 7 Agustus 2008.
��n���b�n��n d�n I�pl���nt�si
S������k�si B��t�h�p
Sistem sertifikasi bertahap merupakan instrumen yang menjembatani
kesenjangan antara kesulitan-kesulitan di lapangan dengan standar yang harus dicapai dalam PHPL (Pengelolaan Hutan Produksi Lestari), melalui pelaksanaan kegiatan secara terencana dan bertahap yang disusun bersama-sama dengan
stakeholder kunci yang berkepentingan
langsung dengan kegiatan pengelolaan suatu unit manajemen.
Sertifikasi bertahap mensyaratkan pemenuhan aspek legalitas yang berkaitan dengan pengelolaan hutan di Indonesia. Inti kegiatan sertifikasi bertahap adalah pelaksanaan rencana aksi yang disusun oleh unit manajemen berdasarkan masukan dari
stakeholder kunci yang telah
bersama-sama mencapai komitmen untuk menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan aspek produksi, sosial, dan lingkungan. Komitmen bersama diwujudkan melalui kerja sama penyusunan rencana aksi yang disusun oleh unit manajemen dengan para
stakeholder kunci. Pelaksanaan rencana
aksi tersebut dievaluasi oleh pihak ketiga untuk melihat dampak strategi yang diterapkan, tingkat keberhasilan, dan tingkat pencapaiannya menuju pengelolaan hutan lestari, sehingga pada tahun yang telah ditentukan
20
(selambat-lambatnya tahun keempat) UM diharapkan sudah dapat memenuhi standar sertifikasi ekolabel.
Setelah proses-proses penyusunan standar, uji coba, dan konsultasi publik dilakukan, sistem sertifikasi bertahap diluncurkan pada tanggal 1 Maret 2007 oleh Menteri Kehutanan. Dua perusahaan besar, yaitu PT. RAPP di Riau dan PT WKS di Jambi tengah menjalani proses sertifikasi secara bertahap ini.
��n���b�n��n Sist�� S������k�si
H�sil Hut�n Buk�n K�yu
Saat ini LEI sedang mengembangkan Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (PHHBK). Seri diskusi diawali pada tanggal 9 Januari 2007. Dalam diskusi ini disepakati akan dikembangkan sertifikasi yang khusus untuk HHBK namun sifatnya generik (generic standard). Standar inipun akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Sertifikasi PHBML yang telah dikembangkan sebelumnya.
Seri diskusinya kemudian berlanjut diantara Tim Penyusun. Sampai saat ini telah dilakukan 9 kali pertemuan. Pada pertemuan ini telah disepakati tersusunnya Draf 1. Dalam Draf 1 telah disusun tipologi pengelolaan HHBK, kategorisasi, dan kriteria dan indikator. Tim Penyusun juga telah menyempurnakan Naskah Akademis (NA) Sistem Sertifikasi PHBML yang sebelumnya belum mengakomodir adanya standar HHBK karena pada saat itu belum menjadi kebutuhan. Rencana selanjutnya untuk melakukan ujicoba di Lampung dan Nusa Tenggara Barat yang akan dilaksanakan pada awal tahun 2009 ini.
��n���b�n��n Sist�� Ak��dit�si
LEI
Untuk memenuhi keandalan standar akreditasi LEI, sejak tahun 2002 telah dimulai membangun manual akreditasi LEI dan baru dapat diimplementasikan
pada tahun 2006. Pengembangan Manual Akreditasi LEI adalah dalam rangka memenuhi standar akreditasi penuh yang saat itu masih bersifat interim. Pada tahun 2006-2007 WWF Indonesia melakukan studi FCAG (Forest
Certification Assessment Guideline) yang
menghasilkan beberapa rekomendasi bagi LEI sebagai Lembaga Akreditasi. Salah satu butir rekomendasinya adalah LEI harus menggunakan standar lembaga akreditasi Internasional yang ditetapkan dalam ISO 17011.
Pengembangan Sistem Mutu yang sesuai dengan Standar ISO 17011 mulai dikerjakan pada bulan Mei 2008 atas dorongan hasil studi FCAG dan amanat Rakernas LEI 2007 untuk meningkatkan rekognisi internasional. Beberapa serial diskusi dan pemantapan pengembangan sistem mutu ini dilakukan oleh seluruh staf dan bagian LEI. Hasilnya telah tersusun Dokumen Panduan Mutu,
standar operating procedures, dan
dokumen lainnya.
Sertifikasi personel terhadap para asesor dan panel pakar menurut sistem LEI seharusnya dilakukan oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Personel). Proses akreditasi yang dilakukan terhadap calon LSP sejak tahun 2000 belum menemukan LSP yang memenuhi standar akreditasi LEI. Mengingat kebutuhan yang sangat mendesak, pada tahun 2006 dilakukan
initial review sebagai bentuk akreditasi
interim terhadap Pustan LIPI yang melahirkan MoU antara LEI dengan Pustan LIPI. Sayangnya, Staf Pustan LIPI tidak ada yang memiliki kompentensi sebagai Penilai Sertifikasi Personel untuk Profesi Penilai Lapangan sertifikasi PHPL dan Panel Pakar PHPL, sehingga proses penilaian dan registrasi personel tidak bisa berjalan dengan semestinya. LEI sudah mulai melakukan komunikasi dan akan terus bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Hutan Indonesia (LSPHI) untuk dapat menjadi lembaga sertifikasi personel sistem sertifikasi LEI.
C. Pelaksanaan Program Kerja: Pelaksanaan Sertifikasi
Grafik Peningkatan Luasan Areal Bersertifikat LEI
0
200.000
400.000
600.000
800.000
1.000.000
1.200.000
1.400.000
1.600.000
1.800.000
200
1
200
2
200
3
200
4
200
5
200
6
200
7
200
8
Tahun
Hektar
Luas A real S ertifikasi
LE I
Tahun
Gambar 3.1. Perkembangan Luas Hutan Yang Disertifikasi LEI
Kegiatan Sertifikasi
Kegiatan sertifikasi LEI dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi yang telah diakreditasi oleh LEI. Lembaga Sertifikasi yang aktif adalah PT Mutu Agung Lestari (MAL) dan PT TUV International Indonesia. Sebelum tahun 2004 luasan hutan yang tersertifikasi baru mencapai 90.957 Ha (PT Diamond Raya Timber). Setelah itu luasan semakin berkembang dengan tersertifikasinya beberapa pengelolaan hutan alam (HPH), hutan tanaman (HTI), dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat, sehingga sampai dengan akhir tahun 2008 luasan hutan bersertifikat LEI menjadi 1.537.165,34 Ha. Luasan tersebut belum termasuk luas unit manajemen yang sedang menjalankan proses sertifikasi bertahap seluas 108.623 Ha. Selain itu beberapa unit manajemen yang tidak lagi
melanjutkan proses sertifikasi atau gagal menempuh sertifikasi seluas 899.691 Ha.
Ada dua Unit Usaha Kehutanan yang telah mendapat sertifikat Lacak Balak/ CoC yaitu PT Uniseraya di Riau dan PT Jawa Furni Lestari di Yogyakarta. Keduanya adalah dua perusahaan perkayuan yang memproduksi furniture, pintu, dan produk woodworking lainnya. Dalam empat tahun terakhir semakin banyak unit manajemen hutan berbasis masyarakat yang telah mendapat sertifikat PHBML. Dimulai dari Desa Selopuro dan Sumberejo di Wonogiri bergerak ke wilayah Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, Kabupaten Gunung Kidul, dan Sukoharjo, kemudian melompat ke luar pulau Jawa, sertifikasi Hutan Adat Sungai Utik di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sertifikasi Hutan Adat Sungai Utik menjadi momen penting untuk meneguhkan komitmen LEI terhadap pengakuan hutan adat yang melaksanakan pengelolaan hutan secara adil dan lestari.
22
Perkembangan Sertifikasi
PHAPL� �Pengelolaan Hutan
�Pengelolaan Hutan
Alam Produksi L�estari)
Sampai Nopember 2008 tercatat sebanyak enam unit manajemen pengelolaan hutan alam yang mendapat sertifikat ekolabel LEI yang areal kerjanya berada di Sumatra dan Kalimantan. Luas keseluruhan hutan alam yang telah tersertifikasi adalah 1.102.053 Ha (Tabel 3.1.).
Tabel 3.1. IUPHHK Hutan Alam yang Lulus Sertifikasi PHAPL
No Unit Manajemen Lokasi Luas (ha) Status sertifikasi Lembaga Sertifikasi 1 PT. Diamond
RayaTimber
Rokan Hilir, Riau 90.957 Lulus sertifikasi (2001) dan Lulus Resertifikasi (2006), proses suspend hingga (paling lambat) Oktober 2008,akan diverifikasi akhir Januari 2009
PT. MAL 2 PT. Intracawood Mfg/Patungan dengan Inhutani (Kaltim) Kabupaten Bulungan dan sebagian di wilayah Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur
195.110 Lulus Sertifikasi LEI dan Smartwood sampai dengan scoping/PP I, mulai tahap field assessment diteruskan oleh TUV International Indonesia (II) dan Smartwood
3 PT. Sari Bumi Kusuma (Alas Kusuma Group)
Blok I Seruyan, Kec. Seruyan Hulu, Kec. Katingan Hulu, Kabupaten Kota Waringin Timur, Kalimatan Tengah
147.600 Lulus Sertifikasi PT. TUV II dan Smartwood
4 PT. Erna Djuliawati Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah
184.206 Lulus Serifikasi PT. TUV 5 PT. Sumalindo Lestari
Jaya Unit II
Site Long Bangun, Kutai Barat, Kalimantan Timur
267.600 Lulus Sertifikasi PT. MAL dan Smartwood
6 PT. Sarmiento Parakantja Timber
Kalimantan Tengah 216.580 Lulus Sertifikasi Oktober 2008 PT. TUV II
Total Luas PHAPL 1,102,053
Perkembangan
Sertifikasi PHTL�
�Pengelolaan Hutan
Tanaman L�estari)
Sampai bulan Nopember 2008 telah tercatat sebanyak 2 (dua) UM yang bersertifikat LEI, yaitu PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Riau dan PT Wirakarya Sakti di Jambi, dengan total luasan 420.329 Ha (Tabel 3.2.)
Tabel 3.2. IUPHHK Hutan Tanaman yang Lulus Sertifikasi Pengelolaan Hutan
Tanaman Lestari
No Unit Manajemen Lokasi Luas (ha) sertifikasiStatus SertifikasiLembaga
1
PT. Riau Andalan Pulp and Paper, SK Menteri Kehutanan No. 137/Kpts-II/1997, luas 159.500 HA
Riau 159,500 Lulus sertifikasi PT. MAL
2 PT. Wirakarya Sakti Jambi 260,829
Lulus sertifikasi Distrik I-VII
PT. TUV II
���k��b�n��n
S������k�si
�HBML(��n��lol��n
Hut�n B��b�sis
M�sy���k�t L�st��i)
Dari sisi luasan, perkembangan sertifikasi PHBML lebih kecil jika dibandingkan dengan sertifikasi pengelolaan hutan alam dan hutan tanaman. Namun dari sisi jumlah, perkembangan sertifikasi PHBML meningkat. Dari 6 pengelola hutan berbasis masyarakat yang bersertifikat, luasannya mencapai 14.782 Ha (Tabel 3.3).
Tabel 3.3. Kelompok Petani/Masyarakat Adat Pengelola Hutan Berbasis
Masyarakat Lulus Sertifikasi PHBML
No Kelompok Lokasi Luas (ha) sertifikasiStatus SertifikasiLembaga 1 KPS Desa Selopuro Kabupaten Wonogiri, Jawa
Tengah 262,77 Lulus sertifikasi PT. MAL, pendamping PERSEPSI Wonogiri 2 KPS Desa Sumberejo Kabupaten Wonogiri, Jawa
Tengah 547,18 Lulus Sertifikasi PT. MAL, pendamping PERSEPSI Wonogiri 3 Koperasi Wana Manunggal Lestari
Kabupaten Gunung Kidul 815,00 Lulus Sertifikasi
PT TUV II 4 GOPHR Wono Lestari
Makmur
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 1.179,00 Lulus Sertifikasi PT. MAL 5 PPHR Catur Giri Manunggal
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
2.434,00 Lulus Sertifikasi
PT. MAL 6 UM Rumah Panjae
Menua Sungai Utik
Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat 9.453,40 Lulus Sertifikasi dengan Catatan PT. MAL Total Luas PHBML 14.691,35
���k��b�n��n
S������k�si �o� (�h�in
of �ustody) �t�u L���k
B�l�k
Permintaan akan Sertifikasi Lacak Balak atau CoC tergantung pada ketersediaan bahan baku bersertifikat LEI. Mengingat sumber bahan baku bersertifikat masih terbatas, maka baru ada dua industri kehutanan yang berhasil memperoleh sertifikat CoC LEI. Dari mereka, logo LEI telah mulai
mendapatkan apresiasi pasar dan dikenal di pasar kayu Eropa. Gambaran mengenai unit manajemen yang bersertifikat CoC LEI dapat dilihat di Tabel 3.4.
Tabel 3.4. Unit Usaha Kehutanan yang memiliki Sertifikat CoC
No Industri Lokasi Volume Status sertifikasi Lembaga Sertifikasi 1 PT. Uniseraya Kabupaten Bengkalis, Riau Sawmill : 40.000m3/ tahun, woodworking : 27.000 m3/tahun Lulus sertifikasi Tahun 2000 PT. MAL 2 PT. Jawa Furni LestariYogyakarta Furniture Lulus Sertifikasi Maret 2007
24
Perkembangan
Sertifikasi
Bertahap
Tabel 3.5. Unit Manejemen yang Melaksanakan Sertifikasi Bertahap
No Unit Manajemen Lokasi Luas (ha) Status serrtifikasi SertifikasiLembaga 1 PT. Wirakarya Sakti Propinsi Jambi 32.983 Sertifikasi bertahappada Distrik VIII
PT. TUV II 2 PT. RAPP Sektor Pelalawan
SK Menhut No. 356/Kpts-II/2004
Propinsi Riau 75.640 Lulus penapisan untuk sertifikasi bertahap
PT. MAL
Total 108.623
Sejak digulirkan pada bulan Maret 2007, sistem sertifikasi bertahap LEI telah diimplementasikan pada dua unit manajemen pengelolaan hutan tanaman di propinsi Riau dan Jambi. Dengan sertifikasi bertahap ini dimungkinkan untuk memberikan insentif bagi UM yang telah berkomitmen dan memenuhi
sebagian standar SFM melalui Business
to Business Communications, memberi
kesempatan kepada pengelola hutan untuk memperbaiki kinerjanya, serta meningkatkan kesadaran publik untuk melaksanakan pengelolaan hutan secara lestari. Luasan yang dicapai pada proses ini adalah 108.623 Ha (Tabel 3.5).
Unit Manajemen
yang Tidak L�ulus
Sertifikasi
Catatan kegagalan sertifikasi ini penting untuk menunjukkan bahwa sistem sertifikasi LEI mengedepankan obyektivitas dan fairness dalam penilaiannya. Namun demikian, kegagalan seharusnya tidak menyebabkan mundurnya proses sertifikasi, karena sistem sertifikasi LEI
Tabel 3.6. Perusahaan Pemohon Sertifikasi yang Tidak Lulus/Melanjutkan
No Unit Manajemen Lokasi Luas (Ha) Status sertifikasi SertifikasiLembaga 1 PT. Austral Byna KalimantanTengah
294.600 Peringkat Tembaga/Tidak Lulus, tahun 2001
PT. TUV 2 PT. Dwima Jaya Utama Kalimantan
Tengah
128.975 Lulus PP I tahun 2003, tidak melanjutkan
PT. TUV 3 PT. Wana Inti Kahuripan
Intiga
Kalimantan Tengah
92.475 Dapat melanjutkan setelah menjalankan rekomendasi PP I tetapi tidak melanjutkan, tahun 2003
PT. TUV
4 PT. Aya Yayang Indonesia Kalimantan Selatan
87.241 Tidak Lulus PP I, tahun 2003 PT. TUV 5. PT Musi Hutan Persada Sumatera
Selatan
296.400 Lulus PP1 tahun 2006, tidak melanjutkan proses berikutnya
PT. MAL
Total 899.691
membuka kesempatan untuk melakukan resertifikasi bagi yang dinyatakan tidak lulus. Jumlah unit manajemen yang gagal maupun tidak berminat melanjutkan ke proses berikutnya sebanyak 4 unit manajemen dengan luasan 603.291 Ha (Tabel 3.6)
Ak��dit�si L��b��� S������k�si (LS)
Kegiatan Akreditasi LEI mulai tahun 2006 telah menggunakan Manual LEI 11 sebagai pedoman akreditasi penuh. Proses akreditasi penuh dilakukan sekitar 8 bulan untuk menyempurnakan proses akreditasi sebelumnya yang bersifat interim. Pada tanggal 26 Juli 2007 bertepatan dengan acara Rakernas LEI II dilaksanakan penandatanganan kontrak akreditasi LEI dan menetapkan tiga Lembaga Sertifikasi telah dinyatakan lulus akreditasi LEI. Ketiga LS yang telah mendapat akreditasi penuh adalah PT. Mutuagung Lestari (No. Akreditasi. 001/LEI/AKR/ LS PHPL-LB/VII/07, tanggal 26 Juli 2007), PT. TUV International Indonesia (No. Akreditasi 002/LEI/AKR/ Akreditasi 002/LEI/AKR/ LS PHPL-LB/VII/07, tanggal 26 Juli 2007), dan PT Sucofindo (No. Akreditasi 003/LEI/AKR/LS PHPL-LB/ VII/07, tanggal 26 Juli 2007).Kegiatan akreditasi LEI tidak hanya terbatas pada proses seleksi dan pendaftaran calon LS, namun juga dilakukan proses pemantauan dan pembinaan. Proses pemantauan LS dilakukan melalui keterlibatan LEI di dalam proses sertifikasi, yangmana LEI sebagai pemantau pada proses penilikan (surveillance). Sementara itu kegiatan penilikan akreditasi adalah untuk memenuhi ketentuan Manual Akreditasi LEI dan untuk melihat apakah kinerja LS yang
terakreditasi masih memenuhi standar akreditasi LEI. Kegiatan Penilikan Akreditasi LEI kepada seluruh LS dilaksanakan pada tanggal 10-12 Nopember 2008.
D. Pelaksanaan Program Kerja:
Kolaborasi dan Komunikasi
Selama masa 2004 – 2008 LEI telah menjalin relasi dengan pihak lain. Hubungan ini setidaknya dapat dipilah menjadi 2 kategori, yaitu hubungan kerja sama formal dan hubungan yang sifatnya sebagai mitra jejaring. Hubungan kerja sama antara lain telah dilakukan LEI dengan kalangan lembaga donor, pemerintah, swasta, kelompok masyarakat, LSM baik daerah, nasional, maupun internasional, serta lembaga akreditasi tingkat internasional.
L��b��� Dono�
Kerja sama dengan lembaga donor terkaiterja sama dengan lembaga donor terkait
dengan dukungan hibah bagi program dan proyek yang dilaksanakan LEI. Sampai saat ini sumber daya paling besar organisasi masih berasal dari dukungan hibah dari lembaga-lembaga donor ini. Implementasi program kerja dan aktivitas lembaga juga sebagian besar dikaitkan dengan implementasi program dan proyek-proyek yang mendapat dukungan dari lembaga-lembaga donor ini, baik yang berasal dari dalam negeri maupun lembaga donor internasional. Dalam Tabel 3.7. disajikan daftar kegiatan yang didukung lembaga donor periode 2004 – 2008.
Tabel 3.7. Kegiatan LEI yang Didukung Lembaga Donor, 2004-2008
No Judul Kegiatan Sponsor Tahun Status
1. Indonesia Natural Resource Management Ecolabelling Certification Conference
MFP - DFID 2004-2005 Telah Selesai 2. Promotion of Ecologically-Sustainable, Socially-Equitable and
Economically-Viable Forest Management in Indonesia through Implementation of Credible Certification Systems
EU 2004-2006 Telah Selesai
3. Proposal Development Facility (PDF) for Small Grants Programme for Operation to Promote Tropical Forests (SGP PTF)
SGPPTF - UNDP 2005-2006 Telah Selesai
4. Utilization of The Market Force through Certification to Increase the Livelihood of the Community
Ford Foundation 2006-2008 Telah Selesai 5. The Development of Timber Tracking with Two Dimensional Barcode
System
Jafta-Jlira 2006-... Belum Selesai 6. Institutional Development of the Legality Standard TNC 2007-2008 Telah Selesai 7. Promosi Sertifikasi Hutan Adat Sungai Utik MFP II 2008 Telah selesai
8. Workshop on Community Forest Certification GTZ 2008 Telah selesai
9. Worskhop of Timber Legality USFS 2008 Telah selesai
10. Capacity building and socialization activities on community forest certification and chain of custody certification system
IFC PENSA 2008 Telah selesai 11. Institutional Development of the Legality Standard DFID 2008 - 2009 Belum Selesai 12 Promoting Community Forest Certification: increasing recognition,
community income and welfare