• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU AJAR ANTROPOLOGI SOSIAL KESEHATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUKU AJAR ANTROPOLOGI SOSIAL KESEHATAN"

Copied!
226
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Prof. Dr. Husaini, SKM., M.Kes
    • Fauzie Rahman, SKM., MPH
    • Lenie Marlinae, SKM, MKL
    • Atikah Rahayu, SKM, MPH
    • Kusnindyah Praedevy, SKM, M.Kes
    • Dian Rosadi, SKM., MPH
    • Nur Laily, SKM
    • Anggun Wulandari, SKM
  • Pengajar:
    • Maman Saputra, SKM
  • Sekolah: Universitas
  • Mata Pelajaran: Antropologi Sosial Kesehatan
  • Topik: Buku Ajar Antropologi Sosial Kesehatan
  • Tipe: buku ajar
  • Tahun: 2017
  • Kota: Banjarbaru

I. Konsep dasar budaya dan masyarakat

Bab ini membahas konsep dasar budaya dan masyarakat dalam konteks antropologi, yang penting untuk memahami bagaimana budaya mempengaruhi kesehatan. Tujuan instruksional mencakup penjelasan batasan antropologi, unsur-unsur budaya, dan keterkaitan antara masyarakat dan kesehatan. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan ciri-ciri masyarakat kota dan desa serta karakteristik sosial budaya masyarakat Indonesia. Pemahaman ini membantu mahasiswa dalam mengaitkan aspek sosial dan budaya dengan kesehatan masyarakat.

1.1. Batasan Antropologi

Antropologi didefinisikan sebagai ilmu tentang manusia, yang mencakup studi tentang keanekaragaman manusia dan perilakunya. Dalam konteks kesehatan, pemahaman tentang antropologi fisik dan budaya sangat penting. Antropologi fisik mempelajari manusia sebagai organisme biologis, sedangkan antropologi budaya fokus pada cara hidup manusia dalam masyarakat, sehingga memberikan wawasan tentang pengaruh budaya terhadap kesehatan.

1.2. Batasan dan Unsur-unsur Budaya

Budaya didefinisikan sebagai cara hidup yang diperoleh melalui proses belajar dan tidak bersifat statis. Ada sekitar 160 definisi budaya dalam antropologi, namun secara umum, budaya mencakup pola perilaku, kepercayaan, dan nilai-nilai yang dimiliki bersama oleh kelompok masyarakat. Perubahan budaya dapat terjadi akibat interaksi dengan budaya lain, yang berpengaruh pada persepsi sehat dan sakit dalam masyarakat.

1.3. Konsep-konsep Kebudayaan

Kebudayaan diperoleh melalui proses belajar dan merupakan milik bersama dari suatu kelompok. Dalam masyarakat, pola-pola budaya yang ideal diperkuat oleh norma-norma yang ada. Kebudayaan bersifat dinamis dan adaptif, yang memungkinkan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan sosial. Hal ini penting untuk memahami bagaimana kebudayaan mempengaruhi perilaku kesehatan individu dan kelompok.

II. Sosiologi Kesehatan

Sosiologi kesehatan mengkaji interaksi antara faktor sosial dan kesehatan individu serta masyarakat. Dalam bab ini, mahasiswa belajar tentang bagaimana struktur sosial, nilai-nilai, dan norma-norma dalam masyarakat mempengaruhi kesehatan. Penekanan pada pemahaman konteks sosial di mana individu hidup menjadi penting dalam merancang intervensi kesehatan yang efektif. Mahasiswa diharapkan dapat menganalisis masalah kesehatan dari perspektif sosiologis.

2.1. Pengaruh Sosial terhadap Kesehatan

Faktor sosial seperti status ekonomi, pendidikan, dan lingkungan sosial berpengaruh besar terhadap kesehatan individu. Sosiologi kesehatan menekankan pentingnya memahami bagaimana ketidaksetaraan sosial dapat menyebabkan perbedaan dalam kesehatan. Mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor sosial yang mempengaruhi kesehatan masyarakat.

2.2. Teori Sosiologi Kesehatan

Berbagai teori sosiologi, seperti teori konflik dan teori fungsionalisme, memberikan kerangka untuk memahami hubungan antara masyarakat dan kesehatan. Teori-teori ini membantu mahasiswa dalam menganalisis bagaimana struktur sosial dan kekuasaan mempengaruhi akses terhadap layanan kesehatan dan hasil kesehatan.

III. Konsep dan teori antropologi kesehatan

Bab ini membahas berbagai konsep dan teori dalam antropologi kesehatan, yang membantu mahasiswa memahami bagaimana budaya mempengaruhi persepsi dan praktik kesehatan. Teori-teori ini mencakup pendekatan naturalistik dan personalistik dalam menjelaskan penyebab sakit. Pemahaman tentang konteks budaya penting untuk merancang intervensi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

3.1. Pendekatan Naturalistik dan Personalistik

Pendekatan naturalistik menjelaskan sakit sebagai akibat dari faktor lingkungan dan gaya hidup, sedangkan pendekatan personalistik melihat sakit sebagai hasil dari intervensi agen aktif. Mahasiswa diharapkan dapat membandingkan kedua pendekatan ini dan memahami implikasinya terhadap praktik kesehatan di masyarakat.

3.2. Teori Kesehatan Tradisional

Teori kesehatan tradisional mencakup pemahaman tentang bagaimana masyarakat tradisional menjelaskan dan mengobati penyakit. Mahasiswa belajar tentang praktik pengobatan tradisional dan bagaimana nilai-nilai budaya mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit. Ini penting untuk menghormati dan mengintegrasikan praktik-praktik kesehatan lokal dalam sistem kesehatan modern.

IV. Konsep determinan sosial dalam kesehatan masyarakat

Determinasi sosial dalam kesehatan mencakup faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan di luar faktor biologis, seperti kondisi ekonomi, pendidikan, dan lingkungan sosial. Bab ini menekankan pentingnya memahami bagaimana determinan sosial berinteraksi dan mempengaruhi kesehatan individu dan kelompok. Mahasiswa diharapkan dapat menganalisis bagaimana kebijakan kesehatan dapat ditujukan untuk mengatasi ketidaksetaraan sosial.

4.1. Faktor Ekonomi dan Kesehatan

Status ekonomi berpengaruh signifikan terhadap akses terhadap layanan kesehatan dan hasil kesehatan. Mahasiswa belajar tentang hubungan antara kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan, serta bagaimana kebijakan kesehatan dapat dirancang untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi kelompok yang kurang beruntung.

4.2. Lingkungan Sosial dan Kesehatan

Lingkungan sosial, termasuk jaringan dukungan sosial dan norma-norma masyarakat, mempengaruhi kesehatan individu. Mahasiswa diharapkan dapat menganalisis bagaimana lingkungan sosial dapat berfungsi sebagai pelindung atau risiko terhadap kesehatan, serta pentingnya intervensi berbasis komunitas dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

V. Konsep sehat dan sakit

Bab ini membahas konsep sehat dan sakit dari perspektif antropologi, yang mencakup pemahaman tentang bagaimana budaya mempengaruhi definisi dan pengalaman kesehatan. Mahasiswa diharapkan dapat menganalisis bagaimana persepsi sehat dan sakit bervariasi di antara budaya dan bagaimana hal ini mempengaruhi praktik kesehatan.

5.1. Definisi Sehat dan Sakit

Definisi sehat dan sakit dapat bervariasi antara budaya. Dalam beberapa budaya, sehat didefinisikan sebagai keseimbangan fisik, mental, dan sosial, sementara dalam budaya lain, kesehatan mungkin lebih terkait dengan spiritualitas. Mahasiswa belajar untuk menghargai keragaman definisi ini dan dampaknya terhadap praktik kesehatan.

5.2. Pengalaman Sakit dalam Konteks Budaya

Pengalaman sakit tidak hanya bersifat fisik tetapi juga emosional dan sosial. Mahasiswa diharapkan dapat menganalisis bagaimana budaya mempengaruhi pengalaman individu saat sakit, termasuk stigma, dukungan sosial, dan akses terhadap perawatan kesehatan.

VI. Perilaku sehat dan sakit

Bab ini mengeksplorasi perilaku sehat dan sakit dalam konteks budaya. Mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana norma-norma budaya dan nilai-nilai sosial mempengaruhi perilaku kesehatan individu dan kelompok. Ini penting untuk merancang intervensi kesehatan yang sesuai dengan konteks budaya masyarakat.

6.1. Perilaku Kesehatan Positif

Perilaku kesehatan positif mencakup tindakan yang mendukung kesehatan, seperti pola makan sehat, olahraga, dan pemeriksaan kesehatan rutin. Mahasiswa belajar tentang faktor-faktor yang mendorong perilaku sehat dalam masyarakat dan bagaimana intervensi dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya perilaku sehat.

6.2. Perilaku Kesehatan Negatif

Perilaku kesehatan negatif, seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan pola makan tidak sehat, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan budaya. Mahasiswa diharapkan dapat menganalisis bagaimana intervensi kesehatan dapat mengatasi perilaku negatif ini dan mempromosikan gaya hidup sehat.

VII. Perilaku pengobatan tradisional

Bab ini membahas praktik pengobatan tradisional dalam konteks antropologi kesehatan. Mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana pengobatan tradisional berfungsi dalam masyarakat dan bagaimana nilai-nilai budaya mempengaruhi pilihan pengobatan. Ini penting untuk menghormati dan mengintegrasikan praktik-praktik kesehatan lokal dalam sistem kesehatan modern.

7.1. Praktik Pengobatan Tradisional

Praktik pengobatan tradisional mencakup penggunaan ramuan herbal, ritual, dan kepercayaan budaya dalam penyembuhan. Mahasiswa belajar tentang keberagaman praktik ini dan bagaimana mereka berkontribusi pada kesehatan masyarakat. Ini penting untuk memahami bagaimana masyarakat mengelola kesehatan mereka sendiri.

7.2. Integrasi Pengobatan Tradisional dan Modern

Integrasi pengobatan tradisional dengan pengobatan modern dapat meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan. Mahasiswa diharapkan dapat menganalisis tantangan dan peluang dalam mengintegrasikan kedua sistem ini untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

VIII. Aspek perilaku masyarakat dalam pencarian pelayanan kesehatan pada masyarakat

Bab ini mengeksplorasi perilaku masyarakat dalam mencari pelayanan kesehatan. Mahasiswa diharapkan dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan individu dan kelompok dalam mengakses layanan kesehatan. Ini penting untuk merancang intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

8.1. Faktor yang Mempengaruhi Pencarian Pelayanan Kesehatan

Faktor-faktor seperti status sosial ekonomi, pendidikan, dan norma budaya mempengaruhi pencarian pelayanan kesehatan. Mahasiswa belajar untuk menganalisis bagaimana faktor-faktor ini berinteraksi dan mempengaruhi keputusan individu dalam mencari perawatan kesehatan.

8.2. Hambatan dalam Mengakses Pelayanan Kesehatan

Hambatan dalam mengakses pelayanan kesehatan dapat mencakup faktor ekonomi, geografis, dan sosial. Mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi hambatan-hambatan ini dan merancang strategi untuk mengatasi masalah akses dalam konteks masyarakat yang berbeda.

IX. Antropologi yang berkaitan dengan gizi masyarakat

Bab ini membahas hubungan antara antropologi dan gizi masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana faktor budaya mempengaruhi pola makan dan status gizi individu dan kelompok. Ini penting untuk merancang program gizi yang sensitif terhadap konteks budaya masyarakat.

9.1. Pola Makan dan Budaya

Pola makan dipengaruhi oleh faktor budaya, termasuk tradisi, kepercayaan, dan nilai-nilai sosial. Mahasiswa belajar untuk menganalisis bagaimana pola makan berkontribusi pada kesehatan masyarakat dan bagaimana perubahan budaya dapat mempengaruhi pola makan.

9.2. Intervensi Gizi Berbasis Budaya

Intervensi gizi yang menghormati dan memahami konteks budaya dapat meningkatkan efektivitas program gizi. Mahasiswa diharapkan dapat merancang program yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai masyarakat untuk meningkatkan status gizi.

X. Masalah kesehatan reproduksi dari aspek antropologi sosial budaya

Bab ini membahas masalah kesehatan reproduksi dalam konteks antropologi sosial budaya. Mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana budaya mempengaruhi sikap dan perilaku terkait kesehatan reproduksi. Ini penting untuk merancang program kesehatan reproduksi yang sensitif terhadap konteks budaya.

10.1. Sikap Budaya terhadap Kesehatan Reproduksi

Sikap budaya dapat mempengaruhi pemahaman individu tentang kesehatan reproduksi. Mahasiswa belajar untuk menganalisis bagaimana norma-norma budaya dan nilai-nilai sosial mempengaruhi perilaku terkait kesehatan reproduksi.

10.2. Program Kesehatan Reproduksi Berbasis Budaya

Program kesehatan reproduksi yang memperhatikan konteks budaya dapat meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan reproduksi. Mahasiswa diharapkan dapat merancang program yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai masyarakat untuk meningkatkan kesehatan reproduksi.

XI. Masalah kesehatan lingkungan dan ekologi dari aspek antropologi sosial budaya

Bab ini membahas masalah kesehatan lingkungan dan ekologi dalam konteks antropologi sosial budaya. Mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana budaya mempengaruhi interaksi manusia dengan lingkungan dan dampaknya terhadap kesehatan. Ini penting untuk merancang program kesehatan lingkungan yang sensitif terhadap konteks budaya.

11.1. Pengaruh Budaya terhadap Kesehatan Lingkungan

Budaya dapat mempengaruhi cara masyarakat berinteraksi dengan lingkungan mereka. Mahasiswa belajar untuk menganalisis bagaimana nilai-nilai budaya dapat mendukung atau menghambat praktik yang berkelanjutan dan sehat.

11.2. Program Kesehatan Lingkungan Berbasis Budaya

Program kesehatan lingkungan yang menghormati konteks budaya dapat meningkatkan efektivitas intervensi. Mahasiswa diharapkan dapat merancang program yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai masyarakat untuk meningkatkan kesehatan lingkungan.

XII. Kebudayaan rumah sakit dan interaksi antar pasien

Bab ini membahas kebudayaan rumah sakit dan interaksi antar pasien dalam konteks antropologi. Mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana budaya mempengaruhi pengalaman pasien dalam sistem kesehatan. Ini penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pengalaman pasien.

12.1. Kebudayaan Rumah Sakit

Kebudayaan rumah sakit mencakup norma, nilai, dan praktik yang mempengaruhi interaksi antara pasien dan penyedia layanan. Mahasiswa belajar untuk menganalisis bagaimana kebudayaan rumah sakit dapat mempengaruhi pengalaman pasien dan hasil kesehatan.

12.2. Interaksi Antar Pasien

Interaksi antar pasien dalam rumah sakit dapat mempengaruhi pengalaman mereka selama perawatan. Mahasiswa diharapkan dapat menganalisis bagaimana interaksi ini dapat berkontribusi pada pemulihan pasien dan bagaimana intervensi dapat meningkatkan dukungan sosial di rumah sakit.

XIII. Studi Kasus Tentang Kajian Antropologi Kesehatan di Indonesia

Bab ini menyajikan studi kasus yang relevan dengan kajian antropologi kesehatan di Indonesia. Mahasiswa diharapkan dapat menganalisis dan menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam konteks nyata. Ini penting untuk mengembangkan keterampilan analitis dan aplikatif mahasiswa dalam bidang kesehatan masyarakat.

13.1. Analisis Kasus Kesehatan

Studi kasus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menganalisis masalah kesehatan dalam konteks budaya dan sosial. Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan teori dan konsep yang telah dipelajari untuk memahami dan merancang solusi untuk masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat.

13.2. Implikasi untuk Kebijakan Kesehatan

Dari analisis studi kasus, mahasiswa dapat menarik kesimpulan tentang implikasi untuk kebijakan kesehatan. Ini penting untuk membantu mahasiswa memahami bagaimana penelitian antropologi dapat berkontribusi pada perumusan kebijakan kesehatan yang lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Referensi Dokumen

  • Pijat Periode Pasca Kelahiran ( Mayasaroh )
  • Pengaruh Pijat terhadap Nyeri Persalinan ( Atikoh )
  • Efektivitas Pijat Effleurage dalam Penurunan Nyeri ( Novita R dan Sari )
  • Pengobatan Tradisional ( Depkes )
  • Komunikasi dengan Plasenta ( Andarmoyo )

Gambar

Gambar 1. Rentang Sehat Sakit menurut Model “Holistik Health”
Tabel 1.   Kandungan  Energi  dan  Protein  Beberapa  Makanan  Jajanan Tradisional (100 gram)

Referensi

Dokumen terkait