BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lahan dengan lereng miring banyak tersebar di daerah tropis khususnya Indonesia. Pertambahan penduduk yang berkelanjutan menyebabkan pengolahan lahan miring ini lebih insentif yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah erosi, sedimentasi serta pembentukan lahan kritis.
Lahan dengan lereng yang terjal ini umumnya digunakan untuk tanaman semusim yang potensial untuk mempertahankan ketahanan pangan, tetapi kegiatan tersebut menyebabkan erosi tanah dan limpasan yang tinggi sehingga mengancam bangunan air dan menyebabkan banjir.
Pangan adalah kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi cukup memadai tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya.
Sudah banyak pengalaman yang kita saksikan akibat dari kerusakan lingkungan berimbas pada kehidupan manusia, seperti kalau lingkungan rusak maka menimbulkan panas yang luar bisa di musim kemarau dan banjir yang sangat dahsyat pada musim hujan, tidak terkecuali juga kadang-kadang di daerah yang bergunung bisa menimbulkan tanah longsor. Hal ini jelas bisa berdampak kepada manusia sekitarnya kalau ditimpa bencana banjir dan longsor tidak menutup kemungkinan berakibat pada kematian.
Rusaknya lingkungan jelas akibat ulah manusia itu sendiri. Tidak jarang kita menyaksikan begitu serakahnya manusia mengeksploitasi hutan melampaui batas-batas kewajaran, sehingga ekosistem yang tadinya begitu baik menjadi rusak, akibatnya hutan tidak lagi bisa menyerap air hujan yang banyak, maka pada gilirannya terjadilah banjir yang besar.
Untuk itu perlu diterapkan sistem agroforestri, dimana pada sistem agroforestri terdapat perpaduan antara tanaman semusim yang dibudidayakan dengan pohon tahunan. Sehingga selain untuk ketahanan pangan juga dapat mengatasi erosi dan permasalahan lingkungan lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana memanfaatkan lahan miring berbahan kapur untuk ketahanan pangan agar tidak merusak lingkungan?
2. bagaimana sosial ekonomi masyarakat sekitar demean memanfaatkan lahan miring tersebut?
1.3 Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mencari solusi alternatif bagi ketersediaan pangan nasional demean memperhatikan faktor lingkungan. Sehingga dapat dibuat penanganan yang mampu mengatasi ketahanan pangan sekaliguss ekosistem.
1.3 Manfaat
Dapat dijadikan rekomendasi dalam upaya Peningkatan Produktifitas Lahan Miring Berbahan Induk Kapur dengan Sistem Agroforestri sebagai upaya mengatasi ketahanan pangan nasional dan menjaga ekosistem agar tetap stabil.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Agroforestri
“Agroforestri merupakan gabungan ilmu kehutanan dengan agronomi, yang memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan”
(Bene, 1977; King 1978; King, 1979)
“Agroforestri adalah suatu nama kolektif untuk sistem-sistem penggunaan lahan teknologi, dimana tanaman keras berkayu (pohon-pohonan, perdu, jenis-jenis palm, bambu, dsb) ditanam bersamaan dengan tanaman pertaian, dan/atau hewan, dengan suatu tujuan tertentu dalam suatu bentuk pengaturan spasial atau urutan temporal, dan didalamnya terdapat interaksi-interaksi ekologi dan ekonomi diantara berbagai komponen yang bersangkutan”
(Nair, 1989)
“Agroforestri adalah suatu metode penggunaan lahan secara optimal, yang mengkombinasikan sitem-sistem produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang (suatu kombinasi-kombinasi produksi kehutanan dan produksi biologis lainnya) dengan suatu cara berdasarkan azas kelestarian, secara bersamaan atau berurutan, dalam kawasan hutan atau diluarnya, dengan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat”
2.2 Karakteristik Tanah di Lahan Miring
“Lahan dengan kemiringan lebih dari 15% tidak baik ditujukan sebagai lahan pertanian, melainkan sebagai lahan konservasi, karena semakin besar kemiringan lahan maka laju aliran permukaan akan semakin cepat, daya kikis dan daya angkut aliran permukaan makin cepat dan kuat.Oleh karen itu strategi konservasi tanah dan air pada lahan berlereng adalah memperlambat laju aliran permukaan dan memperpendek panjang lereng untuk memberikan kesempatan lebih lama pada air untuk meresap kedalam tanah”
(Kurniatun dkk, 2004)
“Terdapat variasi dalam hal kandungan N tanah antar daerah-daerah yang berbeda topografinya. Daerah-daerah dengan kemiringan relatif lebih rendah kandungan unsur hara. Hal ini diakibatkan oleh erosi yang mengikis lapisan permukaan tanah. Aliran permukaan akan menimbulkan erosi pada permukaan tanah yang biasanya mempunyai kandungan N tertinggi”
(Nyakpa dkk, 1988)
2.3 Karakteristik Tanah Kapur
Tanah kapur (tanah mediteran) banyak tersebar di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara, dan Maluku. Tanah kapur di Indonesia umumnya memiliki ciri-ciri:
1. Tanahnya tidak subur dan tidak cocok untuk lahan pertanian 2. Tanah kapur Merupakan hasil pelapukan dari batuan kapur
3. Dalam pertanian, tanah kapur yang sifatnya basa tinggi dapat dimanfaatkan untuk menetralkan kadar kemasaman tanah
Kapur memiliki sifat basa yang tinggi sehingga banyak digunakan petani untuk menurunkan kadar kemasaman tanah. Kapur dalam tanah memiliki asosiasi dengan keberadaan kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) tanah.
Secara umum pemberian kapur ke tanah dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Bila ditinjau dari sudut kimia, maka tujuan pengapuran adalah menetralkan kemasaman tanah. Tanah dengan kandungan kapur yang tinggi belum tentu memiliki tingkat kesuburan yang tinggi pula. Bisa jadi kapur tersebut bersifat racun karena kapur menyerap unsur hara dalam tanah yang dibutuhkan tanaman sebagai penunjang pertumbuhannya. Sedangkan bila ditinjau dari sudut fisika, agregat akan lebih stabil dan perombakan bahan organik akan berjalan lebih lancar.
Apabila suatu tanah memiliki kandungan kapur yang tinggi, tanaman yang tumbuh cenderung kekurangan besi (Fe), mangan (Mn), seng (Zn), tembaga (Cu), dan boron (B). Seharusnya untukmengatasi hal ini kapur (CaCO3) harus dihilangkan, tetapi hal ini belum bisa dilakukan.
Untuk itu perlu dilakukan pemilihan jenis tanaman yang cocok dan dapat beradaptasi pada tanah-tanah alkali, sehingga dapat mengoptimalkan potensi lahan untuk budidaya pertanian.
2.4 Erosi
Erosi adalah pengikisan tanah oleh desakan-desakan kekuatan air atau angin,baik yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat tindakan/ perbuatan manusia.
1. Geological erosion, yaitu:
Erosi yang berlangsung secara alamiah, terjadi secara normal dilapangan melalui tahap- tahap:
a. Pemecahan agregat- agregat tanah kedalam partikel- partikel tanah yaitu butiran- butiran tanah yang kecil.
b. Pemindahan partikel- partikel tanah dengan penghanyutan ataupun karena kekuatan angin.
c. Pengendapan partikel- partikel tanah yang terpindahkan atau terangkut tadi ditempat- tempat yang lebih rendah atau didasar- dasar sungai.
2. Accelerated erosion, yaitu:
Proses terjadinya erosi tersebut dipercepat akibat tindakan-tindakan dan atau perbuatan-perbuatan itu sendiri yang bersifat negatif ataupun telah melakukan kesalahan dalam pengelolaan tanah dalam pelaksanaan pertanian. Jadi dalam hal ini manusia membantu mempercepat terjadinya erosi tersebut. Jenis erosi ini banyak sekali menimbulkan petaka, karena memang lingkungannya telah mengalami kerusakan- kerusakan, menimbulkan kerugian besar seperti banjir, kekeringan ataupun turunnya produktifitas tanah.
Dalam hal terjadinya erosi, sehubungan dengan proses- prosesnya yang secara alamiah dan yang secara dipercepat, secara keseluruhannya yang menjadi penyebab dan yang mempengaruhi besarnya laju erosi, terdapat lima faktor, yaitu:
1. Faktor iklim
2. Faktor tanah
4. Faktor tanaman penutup tanah
5. Faktor kegiatan atau perilaku manusia
Iklim menentukan nilai indeks erosivitas hujan, sedang tanah dengan sifat- sifatnya itu dapat menentukan besar kecilnya laju pengikisan atau erosi dan dinyatakan sebagai faktor kepekaan tanah terhadap erosi atau mudah tidaknya tanah itu terkena erosi. Faktor Topografi menentukan kecepatan laju air di permukaan yang mampu mengangkut atau menghanyutkan partikel- partikel tanah.
Faktor tanaman penutup tanah memiliki sifat melindungi tanah dari timpaan-timpaan keras titik- titik curah hujan kepermukaan tanah, selain itu dapat memperbaiki susunan tanah dengan bantuan akar-akarnya yang menyebar. Sedangkan faktor- faktor kegiatan manusia selain dapat mempercepat terjadinya erosi karena perlakuan-perlakuannya yang negatif, dapat pula memegang peranan yang penting dalam usaha pencegahan erosi yaitu dengan perbuatan-perbuatan atau perlakuan-perlakuan yang positif.
2.5 Ketahanan Pangan
“Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau”
(Undang-Undang Pangan No.7 Tahun 1996)
“Ketahanan pangan adalah situasi dimana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya, dimana rumah tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut”
2.6 Jagung 2.6.1 Klasifikasi Ilmiah Kerajaan : Plantae Ordo : Poales Famili : Poaceae Genus : Zea
Spesies : Zea mays
2.6.2 Deskripsi Tumbuhan Jagung
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1 m sampai 3 m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6 m. Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m.
(Anonymousa, 2011) 2.7 Jati 2.7.1 Klasifikasi Ilmiah Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Lamiales Famili : Lamiaceae Genus : Tectona Spesies : T. grandis
2.7.2 Deskripsi Tumbuhan Jati
Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36°C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5-7 dan tidak dibanjiri dengan air. Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30-60 cm saat dewasa.
Di Indonesia sendiri, selain di Jawa dan Muna, jati juga dikembangkan di Bali dan Nusa Tenggara. Daerah sebaran hutan jati di Jawa tercatat menyebar di pantai utara Jawa, mulai dari Kerawang hingga ke ujung timur pulau ini. Namun, hutan jati paling banyak menyebar di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu sampai ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Hanya di daerah Besuki jati tumbuh tidak lebih daripada 200 meter di atas permukaan laut. (Anonymousb, 2011) 2.8 Jambu Mede 2.8.1 Klasifikasi Ilmiah Kerajaan : Plantae Ordo : Sapindales Famili : Anacardiaceae Genus : Anacardium Spesies : A. occidentale
2.8.2 Deskripsi Tanaman Jambu Mede
Pohon berukuran sedang, tinggi sampai dengan 12 m, dengan tajuk melebar, sangat bercabang-cabang, dan selalu hijau.
Tajuk bisa jadi tinggi dan menyempit, atau rendah dan melebar, bergantung pada kondisi lingkungannya.
Daun-daun terletak pada ujung ranting. Helai daun bertangkai, bundar telur terbalik, kebanyakan dengan pangkal meruncing dan ujung membundar, melekuk ke dalam, gundul, 8– 22 × 5–13 cm. (Anonymousc, 2011) 2.9 Padi Gogo 2.9.1 Klasifikasi Ilmiah Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta Ordo : Poales Famili : Poaceae Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa
2.9.2 Deskripsi Tanaman Padi Gogo
Padi gogo merupakan salah satu jenis keanekaragaman budidaya tanaman padi (Oryza sativa) yang merupakan suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah
2.10 Sorghum 2.10.1 Klasifikasi Ilmiah Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Poales Famili : Poaceae Genus : Sorghum L.
2.10.2 Deskripsi Tanaman Sorghum
Sorgum (Sorghum sp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan ke-5, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai.
(Anonymouse, 2011) 2.11 Petai 2.11.1 Klasifikasi Ilmiah Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Genus : Parkia Spesies : P. speciosa
2.11.2 Deskripsi Tanaman Petai
Pohon petai menahun, tinggi dapat mencapai 20m dan kurang bercabang. Daunnya majemuk, tersusun sejajar. Bunga majemuk, tersusun dalam bongkol (khas Mimosoidae). Bunga muncul biasanya di dekat ujung ranting. Buahnya besar, memanjang, betipe buah polong. Dari satu bongkol dapat ditemukan sampai belasan buah. Dalam satu buah terdapat hingga 20 biji, yang berwarna hijau ketika muda dan terbalut oleh selaput agak tebal berwarna coklat terang. Buah petai akan mengering jika masak dan melepaskan biji-bijinya.
(Anonymousf, 2011) 2.12 Kacang Tanah 2.12.1 Klasifikasi Ilmiah Kerajaan : Plantae Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliophyta Ordo : Leguminales Famili : Papilionaceae Genus : Arachis Spesies : Arachis sp.
2.12.2 Deskripsi Tanaman Kacang Tanah
Kacang tanah memiliki susunan perakaran sebagai berikut:
Akar ini mempunyai akar-akar cabang yang lurus dan bersifat sementara, berfungsi sebagai alat penghisap.
2.Akar Serabut
Akar serabut tumbuh kebawah sepanjang ±20cm.
Tanaman ini juga memiliki akar lateral yang tumbuh kesamping sepanjang 5-25cm. Pada akar lateral terdapat akar serabut yang berfungsi menhisap air dan unsur hara. Pada akar lateral juga terdapat bintil akar (nodule) yang mengandung rhizobium untuk mengikat nitrogen dari udara.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kondisi Ekologi untuk Keberlanjutan Lingkungan dalam Upaya Mendukung Ketahanan Pangan
Di Desa Dukuh Suru dan di desa Pulutan Wetan, Kecamatan Wurgantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah pola Agoforestri yang digunakan adalah Agroforestri sempurna. Tanaman memiliki strata dan keanekaragaman yang berbeda (lihat tabel 1), sehingga mampu mendorong perbaiakan iklim mikro.
Iklim mikro yang dimaksud adalah: air, suhu, udara, kelembapan, unsur hara dan sebagainya. Iklim mikro akan mengalami keseimbangan sebanding arah dengan semakin banyaknya vegetasi yang ada. Perbedaan strata (tinggi) pohon, berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan energi, terutama energi sinar matahari.
Sinar matahari yang mengenai kanopi pohon bagian atas sebagaian akan diteruskan ke daerah bawahnya, sehingga apabila tidak ada yang memanfaatkan akan terbuang sia-sia. Namun, dengan perbedaan tinggi pohon akan mengurangi dampak terbuangnya energi matahari karena sinar matahari yang diteruskan akan ditangkap oleh daun yang ada lebih di bawahnya.
Tumbuhan berkayu keras mampu menahan laju pergerakan air sehingga menghambat erosi. Tajuk pohon-pohon Jati, Mete, dan Petai dapat melakukan peran tersebut. Sehingga, kerusakan ekosistem mampu diminimalisir dengan penerapan agroforestri sempurna. Ketika kerusakan lingkungan dapat diminimalisir, maka kerugian masyarakat dapat lebih diminimalisir. Jadi, efisiensi waktu, tenaga, modal dan sebagainya dapat semakin diterapkan. Minimalisir kerugian dan efisiensi tersebut akhirnya mengarah pada keberlanjutan.
Keberlanjutan tersebut akan memertahankan eksistensi lahan tersebut sebagai lahan budidaya untuk mengatasi permasalahan pangan. Jadi, jika Agoforestri diterapkan pada lahan kapur meskipun dengan permukaan miring ( berbukit), tetap ramah terhadap lingkungan karena biodiversitas masih tetap terjaga.
Tabel 1
No Nama Tumbuhan Tinggi Pohon Sumber
1 Pohon Jati 700 cm Santi, 2009
2 Pohon Jambu Mete 800 cm Suprapti, 2009
3 Pohon Petai 600 cm Arisaputra, 2011
4 Kacang Tanah 30 cm Faisal, 2010
5 Jagung 10-30 cm Sumarsono, 2008
6 Padi Gogo 50 cm Purwadi, 2011
7 Sorgum 700 cm Zaenal, 2009
3.2 Dampak Sosial Ekonomi Masyarakat dengan Pemanfaatan Lahan Miring Berbahan Kapur
Daerah perbukitan kapur kebanyakan tempat jarang dimanfaatkan sebagai lahan budidaya. Padahal seharusnya lahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai lahan budidaya untuk menunjang ketahanan pangan. Contohnya, Di Desa Dukuh Suru dan di desa Pulutan Wetan, Kecamatan Wurgantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, lahan miring berbahan kapur dimanfaatkan dengan baik. Sehingga,
Di desa tersebut dimanfaatkan sebagai lahan budidaya dengan metode Agroforestri sempurna. Karena komoditas yang ditanam berbeda sehingga masa tanam maupun masa panen berbeda (lihat tabel 2). Hal tersebut memungkinkan untuk tetap terpenuhinya kebutuhan pangan tersebut selama selama beberapa masa atau setidaknya mendekati cukup. Dari segi perawatannya, karena berbeda masa tanam, maka hal tersebut dapat dilakukan dengan cara bergantian.
Jika cara ini dilakukan di berbagai tempat di daerah bukit kapur dari seluruh daerah di Indonesia. Maka, dimungkinkan untuk memperbaiki keadaan perekonomian khususya dari sektor pangan atau setidaknya dapat menjaga ketahanan pangan di daerahnya mesing-masing.
Tabel 2
No Nama Tumbuhan Masa Panen Sumber
1 Pohon Jati -
-2 Pohon Jambu Mete 60–70 hari sejak bunga mekar.
Adi. 2011
3 Pohon Petai -
-4 Kacang Tanah Umur 3-6 bulan Prabowo. 2007
5 Jagung Umur 86-96 hari Wijoyono, 2011
6 Padi Gogo Umur 110-120 hari Omyosa. 2009
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan tersebut di atas,antara lain :
1. Penerapan sistem agroforestry dengan pengaturan jarak dan pemupukan dapat meningkatkan produksi tanaman semusim di desa Pulutan Wetan, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat.
2. Masyarakat Desa Pulutan Wetan didominasi oleh penduduk bermata pencaharian petani,namun usia mereka rata-rata 50 tahun ke atas.Sedangkan warga yang masih muda,lebih memilih bekerja di luar bidang pertanian.
3. Dilihat dari pekerjaan pokoknya,100% masyarakat Desa Pulutan Wetan adalah petani.Terdiri dari, 43% yang memiliki pekerjaan sampingan,dan 57% tidak memiliki pekerjaan sampingan atau dapat dikatakan petani murni.
4. Selain bertani,mereka juga berternak ayam,sapi,dan kambing.Dimana ternak ini dapat dijadikan sebagai tabungan mereka,karena sewaktu-waktu membutuhkan uang,dapat dijual.
5. Penanaman dengan sistem agroforestry ini sangat banyak membantu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pola yang mereka lakukan di desa Pulutan Wetan, diperoleh pendapatan bersih perbulan rata-rata Rp. 1.632.784,00.
4.2 Saran
1. Pada lahan kapur, pola agroforestry yang diterapkan di desa Pulutan Wetan perlu diadakan penelitian lebih lanjut terkait kendala tentang ketidakpastian iklim.
2. Perlunya tindakan pengaturan jarak tanam, pemilihan jenis tanaman, pengolahan tanah dan pemupukan dalam sistem agroforestry dapat mempengaruhi pertumbuhan perakaran, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
3. Untuk mengoptimalkan hasil tanaman semusim dan tanaman tahunan perlu diperhatikan bentuk tajuk dan distribusi perakaran masing-masing jenis, sehingga persaingan cahaya, unsur hara dan air dapat diperkecil. Dan social ekonomi masyarakat desa Pulutan Wetan meningkat.
4. Masyarakat pedesaan Pulutan Wetan bisa memanfaatkan lahan kapur ini sebagai sumber mata pencaharian, disamping bekerja sebagai tukang batu, mencari kapur untuk pembangunan, juga sebagai produktivitas tanaman agroforestri dengan kualitas tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2011. Masa Panen Sorgum dalam
http://www.deptan.go.id/ditjentan/admin/rb/Sorgum.pdf diakses pada 22 Desember 2011
Adi. 2011. Masa Panen Jambu Mete dalam
http://indotani.com/blog/2011/09/14/budidaya-jambu-mete/ diakses pada 22 Desember 2011
AnneAhira. 2011. Tanah Vulkanis, Tanah Berunsur Hara Tinggi. http://www.anneahira.com/tanah-vulkanis.htm. Diakses tanggal 12 Desember 2011
AnneAhira. 2011. Tanah Berkapur, Tanah Tanpa Unsur Hara. http://www.anneahira.com/tanah-kapur.htm. Diakses tanggal 12 Desember 2011
Anonymousa, 2011. Jagung. http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung. Diakses tangal 19 Desember 2011
Anonymousb, 2011. Jati. http://id.wikipedia.org/wiki/Jati. Diakses tanggal 12 Desember 2011
Anonymousc, 2011. Jambu Monyet. http://id.wikipedia.org/wiki/Jambu_monyet. Diakses tanggal 24 Desember 2011
Anonymousd, 2011. Padi. http://id.wikipedia.org/wiki/Padi. Diakses tanggal 24 Desember 2011
Anonymouse, 2011. Sorgum. http://id.wikipedia.org/wiki/Sorgum. Diakses tanggal 24 Desember 2011
Anonymousf, 2011. Petai. http://id.wikipedia.org/wiki/Petai. Diakses tanggal 24 Desember 2011
Arisaputra. 2011. Ketinggian Pohon Petai dalam
http://www.scribd.com/doc/64145862/PENELITIAN-TANAMAN-PETAI diakses pada 25 Desember 2011
Faisal. 2010. Ketinggian Kacang Tanah dalam
http://www.scribd.com/doc/8755477/Kacang-Tanah diakses pada 25 desember 2011
Kurniatun Hairiah, Sunaryo dan Widianto, 2011. Sistem Agroforestri di Indonesia.
http://www.worldagroforestrycentre.org/sea/Products/AFMod els/wanulcas/files14110002/LectureNotes/LectureNote1.pdf diakses tanggal 6 desember 2011
Mohammad Septa Ayatullah, 2009. Kapur dalam Tanah. http://www.septa-
ayatullah.blogspot.com/2009/04/kapur-dalam-tanah.html?m=1. Diakses tanggal 12 Desember 2011
Nair, 1989. Agroforestri.
http://www.lablink.or.id/Agro/Agroforestri/agrofores.htm diakses tanggal 6 desember 2011
Nuhfil Hanani, 2009. Pengertian Ketahanan Pangan.
http://nuhfil.lecture.ub.ac.id/files/2009/03/2-pengertian-ketahanan-pangan-2.pdf. Diakses tanggal 12 Desember 2011
Omyosa. 2009. Masa Panen Padi Gogo dalam
http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/03/budidaya-padi-gogo.html diakses pada 22 Desember 2011
Prabowo, Abror Yudi. 2007. Masa Panen Kacang Tanah dalam http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kacang-tanah.html, diakses pada 22 Desember 2011
Purwadi. 2011. ketinggian Padi Gogo dalam http://moeth.blogdetik.com/catatan/ diakses pada 25 Desember 2011
Santi. 2009. Ketinggian Pohon Jati dalam http://www.let-me-be.com/www/sk2/httpd/jati/index.cfm?action=catalog&cat=8 &cfid=26126256&cftoken=93535092, diakses pada 25 Desember 2011
Satjapradja, 1981. Pengertian Agroforestri.
http://www.lablink.or.id/Agro/Agroforestri/agf-def.htm diakses tanggal 6 desember 2011
Sumarsono. 2008 .Ketinggian Jagung dalam http://mitra-bisnis.tripod.com/sweet.html diakses pada 25 Desember 2011
Suprapti. 2009. Ketinggian Pohon Jambu Mete dalam http://binaukm.com/2011/07/syarat-tumbuh-budidaya-jambu-mete/ diakses pada 25 Desember 2009
Tri Madiarti, 2007. Respon Morfosiologis Beberapa Varietas Kacang Tanah (Arachis hypogea L.) terhadap Cekaman Kekeringan. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7677/1/09E00 484.pdf. Diakses tanggal 24 Desember 2011
Zaenal. 2009. Ketinngian Sorgum dalam http://anaszu.wordpress.com/penelitian-sorgum/teknologi-bertanam-sorgum/ diakses pada 25 Desember 2011