Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tujuan pembangunan ketahanan pangan adalah untuk menjamin ketersediaan dan konsumsi pangan seluruh penduduk yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota, Desa, Keluarga hingga peorangan. Ketahanan pangan harus diwujudkan secara merata di seluruh wilayah sepanjang waktu, yang didasarkan pada optimalisasi dan berbasis keragaman sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal. Mengingat pangan juga merupakan komoditas ekonomi, maka dalam pembangunannya dikaitkan dengan peluang pasar dan peningkatan daya saing produk, dengan memanfaatkan keunggulan komperatif dan kompetitif dan memanfaatkan teknologi spesifik lokasi. Produksi pangan sebagian besar dilaksanakan oleh petani/masyarakat dengan skala usaha kecil di pedesaan, sehinngga pembangunan ketahanan pangan sangat strategis untuk memperkuat ekonomi pedesaan dan sekaligus mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan kelaparan.
Ketahanan pangan, di samping sebagai prasyarat untuk memenuhi hak azasi manusia, juga merupakan pilar bagi eksistensi dan kedaulatan suatu bangsa. Oleh sebab itu, seluruh komponen bangsa baik Pemerintah, Masyarakat dan Pihak Swasta, mulai dari Pusat, Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, sepakat untuk bersama-sama membangun ketahanan pangan Nasional maupun Daerah. Dalam sistem pemerintahan yang demokratis dan desentralistis saat ini, pelaku utama pembangunan pangan mulai dari produksi, penyediaan, distribusi dan konsumsi adalah masyarakat, sedangkan pemerintah lebih berperan sebagai inisiator, fasilitator, serta regulator, agar kegiatan masyarakat yang memanfaatkan
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
2 sumber daya daerah dapat berjalan lancar, efisien, berkeadilan dan bertanggungjawab.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai bagian integral dari Pemerintah Pusat yang telah menyatakan komitmen dan berperan aktif, dalam berbagai hal untuk melaksanakan aksi kemanusiaan, terutama mengatasi masalah kekurangan pangan dan kelaparan, kekurangan gizi serta kemiskinan di dunia. Kesepakatan tersebut antara lain tertuang dalam Deklarasi Roma Tahun 1996 pada KTT Pangan Dunia (World Food Summit 1996) dan ditegaskan kembali dalam World Food Summir: five years later (WFS:fyl) 2001, serta deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) 200 yang isinya antara lain menyepakati mengurangi angka kemiskinan ekstrem/penduduk lapar dan kerawanan pangan di dunia sampai setengahnya pada tahun 2015.
Berdasar kerangka berfikir dan komitmen tersebut, Badan Ketahanan Pangan sebagai Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Jawa Barat, dengan tugas pokoknya yaitu menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan daerah bidang ketahanan pangan mempunyai peran strategis dalam mendorong perwujudan ketahanan pangan daerah termasuk dalam mengurangi angka kemiskinan dan membebas masyarakat dari kelaparan dan kerawanan pangan.
Dalam rangka memelihara kesinambungan proses pembangunan dan melanjutkan berbagai pencapaian pembangunan yang telah dilaksanakan serta sebagai upaya untuk mewujudkan kondisi yang diharapkan, maka diperlukan Rencana Strategis (Renstra) Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018. Renstra tersebut merupakan dokumen perencanaan Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat untuk periode 5 (lima) tahun yang memuat Visi, Misi, Tujuan, Strategi, Kebijakan, Program dan Kegiatan pokok pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Penyusunan Renstra Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat mengacu pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
3 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta mempedomani Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 – 2013. Pada Peraturan Perundang-undangan tersebut diwajibkan bahwa setiap OPD Provinsi DAN Kabupaten/Kota menyusun Rencana Strategis yang memuat Visi, Misi, Tujuan, Strategi, Kebijakan, Program Dan Kegiatan Pokok Pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
1.2. Landasan Hukum.
Dasar hukum penyusunan Renstra Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018 adalah :
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen; 2. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4700);
4. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataa n Ruang (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725);
5. Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan
6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4815);
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
4 8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Penyu sunan, Pengendahan dan Eva luasi Pe la ksanaan
Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4817);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725);
10. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 11);
11. Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.
12. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota.
13. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013 Tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia. 14. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2003 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Nomor 2 Tahun 2003 Seri E);
15. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 8 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 45).
16. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 10 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintah Provinsi (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 9 Seri D, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 46);
17. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 11 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 47);
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
5 18. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Daerah, Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Jawa Barat
19. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 24 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Lain Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 23 Seri D, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 58);
20. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 27 Tahun 2010 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
21. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 4 Tahun 2012 tentang Kemandirian Pangan Daerah, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 118.
22. Peraturan Gubernur Nomor 54 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 (Berita Daerah Tahun 2008 Nomor 54 Seri E).
23. Peraturan Gubernur Jawa Barat No 60 tahun 2010 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Potensi Lokal
24. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 79 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah.
25. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 55 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018.
26. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 67 Tahun 2013 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Kemandirian Pangan Daerah.
1.3. Maksud dan Tujuan
Tujuan dari penyusunan Rencana Strategis Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat adalah :
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
6 1. Sebagai dokumen perencanaan kebijakan dan program strategis Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat selama 5 (lima) tahun 2013-2018.
2. Sebagai pedoman penyusunan Rencana Kerja (Renja) dan penyusunan anggaran Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat tahun 2013-2018.
1.4. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Renstra Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018 terdiri dari 6 (enam) Bab yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Landasan Hukum 1.3. Maksud dan Tujuan 1.4. Sistematika Penulisan
BAB II. GAMBARAN PELAYANAN OPD
2.1. Tugas Pokok, Fungsi dan Struktur Organisasi Badan Ketahanan Pangan Daerah Provnsi Jawa Barat
2.2. Sumber Daya Badan Ketahanan Pangan 2.3. Kinerja Pelayanan Badan Ketahanan Pangan
2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Badan Ketahanan Pangan
BAB III. ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. Identifikasi Permasalahan Tugas dan Fungsi Pelayanan BKPD 3.2. Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah Terpilih
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
7 3.4. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan
Hidup Strategis
3.5. Penentuan Isu-isu Strategis
BAB IV. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN
4.1. Visi dan Misi Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat
4.2. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Badan Ketahanan Pangan
4.3. Strategi dan Kebijakan Badan Ketahanan Pangan
BAB V. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN
PENDANAAN INDIKATIF
BAB VI. INDIKATOR KINERJA BADAN KETAHANAN PANGAN YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
8
BAB II
GAMBARAN PELAYANAN OPD
BADAN KETAHANAN PANGAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT
2.1. Tugas Pokok, Fungsi dan Struktur Organisasi
Badan Ketahanan Pangan Daerah (BKPD) Propinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Daerah, Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Jawa Barat, berkedudukan sebagai Pelaksana Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam Penanganan Bidang Ketahanan Pangan.
Sebagaimana diatur dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat No 49 Tahun 2009 tentang Tugas Pokok, Fungsi, Rincian Tugas Unit Dan Tata Kerja Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat, Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat mempunyai tugas pokok menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan daerah bidang ketahanan pangan.
Dalam menyelenggarakan tugas pokok tersebut Badan
Ketahanan Pangan Daerah mempunyai fungsi :
a. penyelenggaraan perumusan dan penetapan kebijakan teknis bidang ketahanan pangan;
b. penyelenggaraan pemberian dukungan atas penyelenggaraan
pemerintahan daerah bidang ketahanan pangan meliputi kesekretariatan, kelembagaan dan infrastruktur, ketersediaan dan kerawanan pangan konsumsi dan keamanan pangan, serta distribusi dan harga pangan; c. penyelenggaraan koordinasi dan pembinaan UPTB;
d. pelaksanaan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.
A. Kepala Badan
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
9 memimpin, mengkordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan tugas pokok badan serta mengkordinasikan dan membina UPTB.
(2) Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud Ayat (1) pasal ini, Kepala Badan mempunyai fungsi :
a. perumusan, penetapan kebijakan teknis di bidang ketahanan pangan yang meliputi kesekretariatan, kelembagaan dan infrastruktur, ketersediaan dan kerawanan pangan, konsumsi dan
keamanan pangan, serta distribusi dan harga pangan;
b. penyelenggaraan perumusan dan penetapan pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah bidang ketahanan pangan;
c. penyelenggaraan fasilitasi dan pengendalian pelaksanaan tugas-tugas di bidang ketahanan pangan;
d. penyelenggaraan koordinasi dan kerjasama dalam rangka tugas pokok dan fungsi Badan.
e. penyelenggaraan koordinasi dan pembinaan UPTB. (3) Rincian Tugas Kepala Badan :
a. memimpin, membina dan mengendalikan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Badan;
b. menyelenggarakan penetapan kebijakan teknis badan sesuai dengan kebijakan umum Pemerintah Provinsi Jawa Barat;
c. menyelenggarakan perumusan dan penetapan pemberian dukungan tugas atas penyelenggaraan pemerintah daerah bidang ketahanan pangan;
d. menyelenggarakan penetapan program kerja dan rencana pembangunan ketahanan pangan di Provinsi;
e. menyelenggarakan fasilitasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan program, kesekretariatan, kelembagaan dan infrastruktur, ketersediaan dan kerawanan pangan, konsumsi dan keamanan pangan, serta distribusi dan harga pangan;
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
10 f. menyelenggarakan koordinasi dan kerjasama dengan Instansi
Pemerintah, Swasta dan Lembaga terkait lainnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan Badan.
g. menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana strategik dan LAKIP, pelaksanaan tugas-tugas teknis serta evaluasi dan pelaporan yang meliputi kesekretariatan, kesekretariatan, kelembagaan dan infrastruktur, ketersediaan dan kerawanan pangan, konsumsi dan keamanan pangan, serta distribusi dan harga pangan;
h. menyelenggarakan koordinasi kegiatan teknis dibidang ketahanan pangan;
i. menyelenggarakan koordinasi dan pembinaan UPTB; j. melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait;
k. menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.
B. Sekretariat
Koordinasi perencanaan dan program badan, pengkajian perencanaan dan program, pengelolaan keuangan, kepegawaian, dan umum.
(1) Sekretariat mempunyai tugas pokok menyelenggarakan koordinasi perencanaan dan program badan, pengkajian perencanaan dan program pengelolaan keuangan, kepegawaian, dan umum.
(2) Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) pasal ini, Sekretariat mempunyai fungsi :
a. penyelenggaraan koordinasi perencanaan dan program badan; b. penyelenggaraan pengkajian perencanaan dan program
kesekretariatan;
c. penyelenggaraan pengelolaan urusan keuangan, kepegawaian dan umum.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
11 (3) Rincian Tugas Sekretariat
a. menyelenggarakan pengkajian dan koordinasi perencanaan, program badan;
b. menyelenggarakan pengkajian perencanaan dan program kesekretariatan;
c. menyelenggarakan pengelolaan administrasi keuangan; d. menyelenggarakan pengkajian anggaran belanja;
e. menyelenggarakan pengendalian administrasi belanja; f. menyelenggarakan pengelolaan administrasi kepegawaian;
g. menyelenggarakan penatausahaan, kelembagaan dan
ketatalaksanaan;
h. menyelenggarakan pengelolaan urusan rumah tangga dan perlengkapan;
i. menyelenggarakan penyusunan bahan rancangan
pendokumentasian perundang-undangan, pengelolaan
perpustakaan, protokol dan hubungan masyarakat;
j. menyelenggarakan pengelolaan naskah dinas dan kearsipan; k. menyelenggarakan pembinaan jabatan fungsional;
l. menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;
m. menyelenggarakan pengkajian bahan laporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (LAKIP) badan;
n. menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;
o. menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.
C. Bidang Kelembagaan dan Infrastruktur
(1) Bidang Kelembagaan dan Infrastruktur mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan operasional dan pembinaan bidang kelembagaan dan infrastruktur.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
12 a ya t (1 ) p a sa l in i, Bidan g Ke lemba ga an d an Infrastru ktur mempunyai fungsi :
a. penyelenggaraan pengkajian bahan kebijakan teknis bidang kelembagaan dan infrastruktur;
b. penyelenggaraan fasilitasi bidang kelembagaan dan infrastruktur; (3) Rincian Tugas Bidang Kelembagaan dan Infrastruktur :
a. Menyelenggarakan penyusunan program kerja Bidang Kelembagaan dan Infrastruktur.
b. m e n ye le n g g a ra ka n p e n g ka jia n b a h an ke b ija ka n te kn i s operasional pembinaan kelembagaan dan infrastruktur ;
c. menyelenggarakan pengkajian bahan fasilitasi bidang kelembagaan dan infrastruktur;
d. menyelenggarakan fasilitasi bidang kelembagaan dan infrastruktur; e. menyelenggarakan koordinasi penyelenggaraan bidang kelembagaan
dan infrastruktur;
f. menyelenggarakan fasilitasi clan pengembangan kelembagaan dan infrastruktur;
g. menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;
h. menyelenggarakan pemantauan, evaluasi clan pelaporan yang berkaitan dengan tugas Bidang Kelembagaan dan Infrastruktur; i. menyelenggarakan koordinasi dengan Badan Koordinasi
Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah, dalam pelaksanaan kegiatan di Kabupaten/Kota;
j. menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;
k. menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.
D. Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
(1) Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan mempunyai tugas pokok menyelengarakan pengkajian bahan kebijakan teknis dan fasilitasi ketersediaan dan penanggulangan kerawanan pangan.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
13 (2) Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan mempunyai fungsi :
a. penyelenggaraan pengkajian bahan kebijakan teknis bidang ke te rse d ia a n , ca da n g a n p a n ga n da n p e na n g gu la n ga n kerawanan pangan;
b. penyelenggaraan fasilitasi bidang ketersediaan, cadangan pangan dan kerawanan pangan.
(3) Rincian Tugas Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
a. me n ye le ngg a ra ka n pe n yu sun a n p rog ram ke rja Bid ang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan;
b . me n ye le ngg a ra ka n p en gka jian ba han keb ija ka n te kn is o pe rasiona l p emb in aan ke te rse d iaa n, ca dan ga n pan gan d an pe na ngg u lan ga n ke ra wa nan p an g an ;
c. me n ye le ngg a ra ka n fa silita si b idan g kete rsed iaan ,, cad an gan p an gan d an p ena ng gu lang an ke ra wa nan p ang an ;
d . me n ye le ngg a ra ka n koo rd in asi p en ye leng ga raa n d i b idan g ke te rsed ia an , cada nga n pan gan d an
p ena ng gu la nga n ke ra wa nan p ang an ;
e . me n ye le ngg a ra ka n p en gem ban gan kete rsed iaan, cad an gan p an gan d an p ena ng gu lang an ke ra wa nan p ang an ;
f. me n ye le ngg a ra ka n te laah an staf se ba ga i bahan p e rtim ban ga n p en gam b ilan ke bija kan ;
g . me n ye le ngg a ra ka n p eman ta uan , e va lu asi dan p e la po ran ya n g b e rka itan den gan tuga s Bid ang Ke te rsed ia an dan Ke ra wa na n Pan ga n;
h . me n ye le ngg a ra ka n koo rd ina si de ngan Ba da n Ko o rd in asi Peme rintaha n dan Pemb ang una n W ila ya h, da lam p e la ksan aan keg iata n d i Kab upa te n/Ko ta ;
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
14 i. me n ye le ngg a ra ka n koo rd ina si de nga n un it ke rja te rka it; j. me n ye le ngg a ra ka n tuga s la in sesua i d eng an tug as po kok
d an fung si.
E. Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan
(1) Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan teknis dan fasilitasi peningkatan konsumsi serta keamanan pangan.
(2) Dalam menyelenggarakan tugus pokok sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, Bidang Kons umsi dan Keamanan Pangan mempunyai fungsi :
a. penyelenggaraan perencanaan program peningkatan konsumsi dan keamanan pangan;
b. penyelenggaraan pengkajian bahan kebijakan teknis peningkatan konsumsi dan keamanan pangan;
c. penyelenggaraan fasilitasi peningkatan konsumsi dan keamanan pangan;
(3) Rincian Tugas Bidang Konsumsi clan Keamanan Pangan
a. menyelenggarakan penyusunan program kerja Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan;
b. menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan tek nis pembinaan peningkatan konsumsi clan keamanan pangan;
c. menyelenggarakan pengkajian bahan fasilitasi tingkat konsumsi clan keamanan pangan;
d. menyelenggarakan fasilitasi tingkat konsumsi clan keamanan pangan;
e. menyelenggarakan koordinasi peningkatan konsumsi dan keamanan pangan;
f. menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
15 berkaitan dengan tugas Bidang Konsumsi clan Keamanan Pangan;
h. menyelenggarakan koordinasi dengan Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah, dalam pelaksanaan kegiatan di Kabupaten/Kota;
i. menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;
j. menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.
F. Bidang Distribusi dan Harga Pangan
(1) Bidang Distribusi dan Harga Pangan mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan teknis dan fasilitasi distribusi dan pengendalian harga pangan.
(2) Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, Bidang Distribusi dan Harga Pangan mempunyai fungsi : a. penyelenggaraan pengkajian bahan kebijakan teknis distribusi
dan pengendalian harga pangan;
b. penyelenggaraan fasilitasi distribusi dan pengendalian harga pangan;
c. penyelenggaraan pelayanan informasi pangan dan harga pangan. (3) Rincian Tugas Bidang Distribusi dan Harga Pangan
a. menyelenggarakan penyusunan program kerja Bidang Distribusi dan Harga Pangan;
b. men ye leng ga ra kan p en g ka jia n b ahan keb ijakan te kn is operasional distribusi clan pengendalian harga pangan;
c. menyelenggarakan pengkajian sistem distribusi dan
pengendalian harga pangan;
d. menyelenggarakan pengkajian bahan penyusunan pedoman pengembangan distribusi dan pengendalian harga pangan;
e. menyelenggarakan fasilitasi dan supervise kegiatan distribusi dan pengendalian harga pangan;
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
16 pengendalian harga pangan;
g. menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;
h. menyelenggarakan pemantauan, evaluasi dan pelaporan yang berkaitan dengan tugas Bidang Distribusi dan Harga Pangan;
i. menyelenggarakan koordinasi dengan Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah, dalam pelaksanaan kegiatan di Kabupaten/Kota;
j. menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;
k. menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.
Adapun Struktur Organisasi Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat adalah sebagaimana terlihat pada Gambar 1.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
18 2.2. Sumberdaya Badan Ketahanan Pangan daerah Provinsi Jawa Barat
Kekuatan Sumberdaya Manusia Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat tahun 2013 sebanyak 70, dengan komposisi sebagai berikut :
Tabel 1. Jumlah Pegawai BKPD Berdasarkan Pangkat dan Golongan No Jenis Kelamin Gol.I Gol.II Gol.III Gol.IV Jumlah
a b c d a b c d a b c d a b c d e
1 Laki-laki 1 0 1 0 8 0 0 1 4 9 4 5 3 1 1 0 0 39
2 Perempuan 0 0 0 0 3 0 0 2 4 7 5 6 4 0 - 0 0 31
Jumlah 1 0 1 0 11 0 0 3 8 16 9 11 9 0 1 0 0 70
Adapun Kualifikasi pendidikan dan Jenis Kelamin adalah sebagaimana terlihat pada Tabel berikut :
Tabel 2. Kualifikasi Pendidikan dan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin SD SLTP SLTA S1 S2 S3 Jumlah
1 Laki-laki 2 1 21 6 9 0 39
2 Perempuan 0 0 13 13 5 0 31
Jumlah 2 1 34 20 14 0 70
2.3. Kinerja Pelayanan Badan Ketahanan Pangan daerah Provinsi Jawa Barat Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat sebagai lembaga penyelenggara urusan Pemerintahan Provinsi di bidang ketahanan pangan mempunyai fungsi sebagai inisiator, fasilitator dan regulator atas penyelenggaraan ketahanan pangan di Jawa Barat sesuai arah kebijakan, strategis dan sasaran ketahan pangan nasional.
Sebagai pedoman/acuan bagi Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dalam menyelenggarakan urusan wajib di bidang ketahanan pangan, Kementerian Pertanian telah menerbitkan
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
19 Peraturan Menteri Pertanian Nomor 65/Permentan/OT.140/12/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Ketahanan Pangan bagi Pemerintah Provinsi terdiri atas 4 (empat) jenis pelayanan dasar berikut :
a. Ketersediaan dan Cadangan Pangan, dengan Idikator Penguatan cadangan pangan sebesar 60% pada tahun 2015.
Cadangan Pangan Pemerintah terdiri dari cadangan pangan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah desa yang perwujudannya memerlukan inventarisasi cadangan pangan, memperkirakan kekurangan pangan dan keadaan darurat, sehingga penyelenggaraan pengadaan dan pengelolaan cadangan pangan dapat berhasil dengan baik.
Definisi Operasional :
Tersedianya cadangan pangan pemerintah di tingkat provinsi minimal sebesar 200 ton ekuivalen beras dan di tingkat kabupaten/kota minimal sebesar 100 ton ekuivalen beras;
b. Distribusi dan Akses Pangan, dengan indikator Ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan di daerah sebesar 100% pada tahun 2015.
Informasi harga, pasokan, dan akses pangan adalah kumpulan data harga pangan, pasokan pangan, dan akses pangan yang dipantau dan dikumpulkan secara rutin atau periodik oleh provinsi maupun kabupaten/kota untuk dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat analisis perumusan kebijakan yang terkait dengan masalah distribusi pangan.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
20
Definisi Operasional :
Tersedianya data dan Informasi mencakup komoditas : gabah/beras, jagung, kedele, daging sapi, daging ayam, telur, minyak goreng, gula pasir, cabe merah yang disajikan dalam periode mingguan/ bulanan/kuartal/tahunan.
c. Penganekaragaman dan Keamanan Pangan, dengan Indikator Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan sebesar 80% pada tahun 2015.
Keamanan Pangan merupakan kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang menganggu, merugikan, dan membahayakan manusia.
Definisi Operasional :
Dalam rangka meningkatkan keamanan pangan segar maka dilakukan pembinaan dan sertifikasi oleh Lembaga Otoritas Kompetensi Keamamanan Pangan Daerah (OKKPD), sehingga tersedia informasi tentang keamanan pangan khususnya pada produk-produk pangan segar yang tersertifikasi sehingga aman dikonsumsi masyarakat. Hasil pelaksanaaan tugas dan fungsinya OKKPD mengeluarkan sertikat terhadap produk pangan segar dengan kriteria sebagai berikut :
1) Sertifikat Prima Tiga (P-3) adalah peringkat penilaian yang diberikan terhadap pelaksanaan usaha tani dimana produk yang dihasilkan aman dikonsumsi.
2) Sertifikat Prima Dua (P-2) adalah peringkat penilaian yang diberikan terhadap pelaksanaan usaha tani dimana produk yang dihasilkan aman dikonsumsi dan bermutu baik.
3) Sertifikat Prima Satu (P-1) adalah peringkat penilaian yang diberikan terhadap pelaksanaan usaha tani dimana produk yang dihasilkan aman dikonsumsi bermutu baik serta cara produksinya ramah terhadap lingkungan.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
21
d. Penanganan Kerawanan Pangan, dengan indikator Penanganan daerah rawan pangan sebesar 60% pada tahun 2015.
Kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan yang dialami daerah, masyarakat atau rumah tangga pada waktu tertentu untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan masyarakat. Berdasarkan factor penyebabnya kerawanan pangan dibagi menjadi dua yaitu Rawan Pangan Kronis dan Transien
Rawan Pangan kronis adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi standar minimum kebutuhan pangan anggotanya pada periode yang lama karena keterbatasan kepemilikan lahan, asset produktif dan kekurangan pendapatan.
Rawan Pangan Transien adalah suatu keadaan rawan pangan yang bersifat mendadak dan sementara, yang disebabkan oleh perbuatan manusia (penebangan liar yang menyebabkan banjir atau karena konflik sosial), maupun karena alam berupa berbagai musibah yang tidak dapat diduga sebelumnya, seperti: bencana alam (gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, banjir bandang, tsunami).
Penanganan rawan pangan dilakukan pertama melalui pencegahan kerawanan pangan untuk menghindari terjadinya rawan pangan disuatu wilayah sedini mungkin dan kedua melakukan penanggulangan kerawanan pangan pada daerah yang rawan kronis melalui program-progam sehingga rawan pangan di wilayah tersebut dapat tertangani.
Adapun Pencegahan rawan pangan tersebut dilaksanakan melalui pendekatan sebagai berikut :
1. Pengembangan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) dengan melaksanakan 3 kegiatan sebagai berikut :
a) Peramalan situasi pangan dan gizi melalui SIDI, termasuk peramalan ketersediaan pangan dan pemantauan pertumbuhan balita dan hasil pengamatan sosial ekonomi
b) Kajian situasi pangan dan gizi secara berkala berdasarkan hasil survei khusus atau dari laporan tahunan.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
22 c) Diseminasi hasil peramalan dan kajian situasi pangan dan gizi bagi perumus kebijakan (forum koordinasi tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan propinsi).
2. Penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas) disusun pada periode 3- 5 tahunan yang menngambarkan kondisi sampai tingkat kecamatan/desa sebagai acuan dalam penentuan program
3. Penghitungan tingkat kerawanan dengan membandingkan jumlah
penduduk miskin yang mengkonsumsi pangan berdasarkan 3 kriteria prosentase angka kecukupan gizi (AKG) sebesar 2.000 Kalori yaitu:
a) Penduduk sangat rawan < 70% AKG
b) Penduduk pangan resiko sedang < 70% - 89,9% AKG
c) Penduduk tahan pangan > 89,9% AKG
Capaian kinerja Badan Ketahanan Pangan Daerah terhadap Standar Pelayanan Minimal Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagaimana terlihat pada Tabel berikut :
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
23
Tabel 3. Pencapaian Kinerja Pelayanan Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013
No Indikator Kinerja Target SPM (2015)
Target OPD (2013)
Target Rensta OPD Tahun ke Realisasi Capaian Tahun Ke Ratio Capaian (%) Tahun Ke 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 Penguatan Cadangan
Pangan (% dan ton) 60 125 110 110 120 120 125 272,2 232,2 170,9 217,1 - 247,5 211,1 142,4 180,9 - 2 Ketersediaan Informasi
Pasokan, Harga dan Akses Pangan di Daerah (%) 100 100 100 100 100 100 100 66,7 66,7 66,7 66,7 - 66,7 66,7 66,7 66,7 - 3 Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan (%) 80 70 - - 60 65 70 - - 65,3 77,4 - - - 108,8 119,1 - 4 Penanganan Daerah Rawan Pangan (%) 60 60 40 50 60 70 80 45,4 48,6 63,5 74,3 - 113,5 97,2 105,8 106,1 -
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
24 Realisasi capaian indikator kinerja Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2012 sebesar 217,1 %, (sebesar 260,52 Ton Beras) sehingga rasio capaian realisasi terhadap target adalah sebesar 180,9 %. Realisasi capaian pada Indikator Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Provinsi pada tahun 2012 Tahun 2015 berdasarkan SPM sebesar 60% atau sebesar 120 Ton beras dari total sebesar 200 ton beras (setara beras), dan sedangkan Target BKPD sebesar 125 %. Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) yang tersisa sebesar 434,18 ton beras, yang tersimpan di Gudang BULOG. CPPD dimaksudkan untuk mengantisipasi terjadinya kerawanan pangan transien maupun kerawaanan pangan kronis di masyarakat.
Target Indikator Ketersediaan Informasi Pasokan, Harga dan Akses Pangan dengan target SPM dan target OPD sebesar 100%, pada Tahun 2012 baru mencapai 66,7% karena dari ketiga komponen Informasi tersebut, baru tersedia Informasi Pasokan dan Harga Pangan, sementara untuk Informasi akses pangan baru dilaksanakan pada Tahun 2013.
Indikator kinerja Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan, baru dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2011, karena Kelembagaan Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) Provinsi Jawa Barat baru dibentuk Tahun 2010, melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 501/Kep.236-BKPD/2010 Tanggal 26 Januari 2010 tentang Penunjukan Badan Ketahanan Pangan Daerah sebagai pelaksana Otoritas Kompetensi Keamanan Pangan Daerah Jawa Barat, yang berfungsi :
- Memberikan sertifikat kepada pelaku usaha yang menerapkan sistem jaminan mutu seperti Sertifikat Prima 2 dan Prima 3, GAP (Good Agricultural Practice), GHP (Good Handling Practice), GMP (Good Manufacturing Practice
- Melakukan audit dalam rangka registrasi pangan hasil pertanian dan melaporkannya ke OKKP-P
- Pelayanan registrasi produk pangan segar hasil pertanian
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
25 Jumlah sample pangan segar yang di Uji Laboratoriun sampai dengan Tahun 2012 adalah sebanyak 115 sample, dan 89 sample diantaranya bebas residu pestisida dan bahan berbahaya lainnya serta memperoleh sertifikat Prima 2 dan Prima 3. Dengan demikian capaian kinerja Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan adalah sebesar 77,4 % dari target 70%, dengan rasio capaian sebesar 108,8% pada Tahun 2012.
Berdasarkan DDRT/SRT bahwa jumlah Desa Rawan Pangan di Jawa Barat adalah sebanyak 2.500 Desa. Sampai dengan Tahun 2012 jumlah Desa sudah diintervensi sebanyak 1.857 Desa, melalui Program Desa mandiri Pangan sebanyak 202 Desa, Lumbung Pangan 697 Desa, Usaha Ekonomi Produktif (UEP) 778 Desa, dan Lingkungan Bebas Rawan Pangan (Lingbasrangan) sebanyak 180 Desa. Dengan demikian capaian indikator penanganan daerah rawan pangan Tahun 2012 adalah sebesar 74,3 % lebih besar dibandingkan target yaitu 70%, dengan rasio capaian 106,1 %.
Adapun anggaran dan realisasi pendanaan pelayanan OPD tersebut adalah sebagaimana tersebut di atas.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
26
Tabel 4. Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat
Program dan Kegiatan Anggaran Pada Tahun ke Realisasi Anggaran ke Ratio Realisasi dan anggaran
I II III IV I II III IV I II I II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 A BELANJA TIDAK LANGSUNG 3,836,681,160 7,066,315,015 7,456,395,452 7,735,551,612 3,449,194,119 6,446,739,931 7,104,568,539 7,610,402,089 89.90 91.23 95.28 98.38 B BELANJA LANGSUNG 14,407,193,000 12,489,302,000 16,737,320,638 13,756,054,016 11,129,800,363 11,340,755,519 13,484,299,664 13,200,705,704 77.25 90.80 80.56 95.96 1 Kegiatan Fasilitasi Peningkatan Kualitas Konsumsi Pangan Masyarakat
700,000,000 - - - 604,112,000 - - - 86.30 - - -
2
Kegiatan Fasilitasi Konsumsi dan Keamanan Pangan Jawa Barat
790,000,000 - - - 618,429,000 - - - 78.28 - - -
3
Kegiatan Fasilitasi Pemanfaatan Pekarangan Rumah Tangga di Desa Rawan Pangan
- 1,000,000,000 - - - 917,298,590 - - - 91.73 - -
4
Kegiatan Fasilitasi Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) dan Lingkungan Bebas Rawan Pangan (Lingbasrangan)
- 2,000,000,000 2,325,000,000 2,599,400,000 -
1,849,548,600 1,992,677,500 2,520,605,000 - 92.48 85.71 96.97
5
Kegiatan Fasilitasi Percepatan Penganekaragaman Pangan yang Beragam, Bergizi, Berimbang, Aman dan Halal
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
27
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
6
Kegiatan Fasilitasi Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah
- - 750,000,000 - - - 333,738,750 - - - 44.50 -
7
Kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan dan Otoritas Kompeten Keamanan Pangan (OKKP-D)
- - - 1,275,000,000 - - - 1,204,925,500 - - - 94.50
8
Kegiatan Pilot Project TKPK Prov. Jabar Penguatan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Miskin Melalui Optimalisasi Lahan Pekarangan - - - 375,000,000 - - - 359,307,500 - - - 95.82 10 Kegiatan Fasilitasi Ketersediaan dan Penanganan Daerah Rawan Pangan
848,795,000 - - - 705,670,600 - - - 83.14 - - -
11
Kegiatan Fasilitasi Pengembangan Cadangan Pangan Pemda Prov. Jabar
4,500,000,000 - - - 3,771,740,000 - - - 83.82 - - -
12
Kegiatan Penanganan Daerah Rawan Pangan Melalui Program Pengembangan Desa Mandiri Pangan
- 851,971,200 - - - 593,107,982 - - - 69.62 - -
13 Fasilitasi Pengembangan
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
28
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
14
Kegiatan Pemetaan Daerah Rawan Pangan Tingkat Desa di 26 Kab./Kota
- - 1,800,000,000 - - - 39,156,250 - - - 2.18 -
15
Kegiatan Pengembangan Desa Mandiri Pangan dan Cadangan Pangan Pemerintah Prov. Jabar
- - - 2,687,667,939 - - - 2,678,483,500 - - - 99.66
16
Kegiatan Fasilitasi Distribusi dan Harga Pangan Jawa Barat 725,000,000 800,000,000 500,000,000 - 683,803,750 708,012,250 414,220,000 - 94.32 88.50 82.84 - 17 Kegiatan Fasilitasi Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat - - 500,000,000 - - - 485,653,400 - - - 97.13 - 18
Kegiatan Fasilitasi Lumbung pangan Masyarakat dan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM)
- - - 1,250,000,000 - - - 1,175,944,200 - - - 94.08
19
Kegiatan Penyusunan Rencana Induk Ketahanan Pangan Jawa Barat
500,000,000 - - - 449,886,250 - - - 89.98 - - - 20 Kegiatan Pengembangan Food Centre 850,000,000 1,500,000,000 550,000,000 - 650,574,950 1,391,333,000 537,146,000 - 76.54 92.76 97.66 - 21 Kegiatan Peningkatan Kompetensi Pendampingan Badan Ketahanan Pangan (Tahun 2009 : ABT)
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
29
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
22
Kegiatan Fasilitasi Menumbuh kembangkan Infrastruktur dan Kelembagaan Pangan di Jawa Barat
- 558,770,000 - - - 424,449,000 - - - 75.96 - -
23
Kegiatan Fasilitasi Dewan Ketahanan Pangan Jawa Barat
- - 1,114,027,500 700,000,000 - 1,033,235,000 655,608,150 - - 92.75 93.66
24
Kegiatan Optimalisasi Manajemen Kelembagaan dan Infrastruktur Pangan Jawa Barat
- - - 733,000,000 - - - 633,350,000 - - - 86.41
25
Kegiatan Fasilitasi Penyusunan Kebijakan Kemandirian Pangan Daerah
- - - 100,000,000 - - - 89,651,200 - - - 89.65 26 Kegiatan Peningkatan Kesejahteraan dan Kemampuan Aparatur 700,000,000 421,240,000 519,710,000 378,002,500 425,276,450 249,644,250 490,107,526 360,269,400 60.75 59.26 94.30 95.31 27 Kegiatan Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran BKPD Prov. Jabar 1,586,181,000 1,420,667,100 1,564,997,500 1,325,200,000 1,518,036,618 1,350,118,426 1,508,784,884 1,302,130,510 95.70 95.03 96.41 98.26 28
Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana dan Jasa Perkantoran
750,000,000 539,173,700 1,554,455,638 1,417,633,577 710,260,700 517,073,700 1,513,210,300 1,346,262,670 94.70 95.90 97.35 94.97
29
Kegiatan Perencanaan, Evaluasi, Pelaporan Internal
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
30
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
30
Kegiatan Pemeliharaan
Sarana dan Prasarana Kantor (Thn 2009 :ABT Rp. 200 Juta)
893,667,000 697,480,000 831,670,000 665,150,000 864,106,795 656,401,721 797,485,804 631,713,574 96.69 94.11 95.89 94.97
31
Kegiatan Penyusunan dan Penyajian Data dan Informasi/Statistik Kerawanan Pangan
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
31 2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Badan Ketahanan
Pangan
Tantangan dalam pembangunan ketahanan pangan secara umum menyangkut pertambahan penduduk, semakin menurunnya sumber daya alam, masih terbatasnya prasarana dan sarana usaha di bidang pangan, semakin ketatnya persaingan pasar dengan produk impor, serta besarnya proporsi penduduk miskin.
Jumlah penduduk Jawa Barat cukup besar, pada tahun 2012 sekitar 44,21 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk Jawa Barat adalah 1,91% per tahun. Permintaan bahan pangan per kapita juga meningkat didorong oleh meningkatnya pendapatan, kesadaran akan kesehatan dan pergeseran pola makan karena pengaruh globalisasi dan ragam aktivitas masyarakat. Pada sisi lain, ketersediaan sumber daya lahan semakin berkurang, karena tekanan penduduk serta persaingan pemanfaatan lahan antara sektor pangan dengan sektor non pangan.
Sementara itu, jumlah penduduk miskin yang rentan terhadap masalah kerawananan pangan masih cukup tinggi proporsinya yaitu sebesar 9,98 %. Penyebab utama kerawanan pangan dan kemiskinan adalah keterbatasan keterampilan yang dikuasai, sehingga kesulitan untuk memasuki lapangan kerja, serta keterbatasan aset dan akses terhadap sumber daya untuk mengembangkan usaha. Masalah kemiskinan tidak boleh dibiarkan begitu saja. Karena itu harus ada upaya perbaikan dan peningkatan kemampuan masyarakat miskin. Di antaranya melalui pemberdayaan masyarakat, penciptaan lapangan kerja dan lain lain. Jika upaya tersebut tidak dilakukan, dikhawatirkan masyarakat miskin tersebut akan semakin terpuruk dan semakin menderita.
Secara umum potensi dan peluang dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, adalah besarnya jumlah penduduk sebagai pasar produk pangan sekaligus penggerak ekonomi nasional. Di samping itu, perkembangan teknologi informasi merupakan penunjang bagi efektivitas manajemen pembangunan ketahanan pangan, yang juga menunjang pengembangan ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
32 Di sisi ketersediaan pangan, selain masih tersedia sumber daya alam yang belum termanfaatkan secara optimal untuk produksi pangan, juga tersedia teknologi untuk meningkatkan produksi bahan pangan primer maupun olahan. Adapun peluang pengembangan sistem distribusi pangan ditunjang oleh kemajuan teknologi komunikasi dan alat transportasi yang apabila didayagunakan dapat membuka keterisolasian daerah terpencil.
Di bidang konsumsi, potensi peningkatan juga ditunjang oleh kemajuan teknologi komunikasi, kegiatan promosi dan advokasi, serta dukungan organisasi masyarakat sebagai infrastruktur sosial yang membantu proses peningkatan kesadaran gizi masyarakat.
Dengan jumlah penduduk sekitar 44,21 juta jiwa pada tahun 2012 dan terus bertambah 1,91 persen per tahun, maka Jawa Barat merupakan potensi pasar yang sangat besar. Penduduk ini juga merupakan agen pelaku usaha di bidang pangan yang menggerakkan perkonomian daerah maupun nasional. Sebagian besar PDB (Produk Domestik Bruto) setelah periode krisis dibangkitkan dari konsumsi domestik lebih dari 65 persen dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kegiatan
ekonomi pangan masyarakat memiliki peran penting dalam
mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Penggunaan rekayasa teknologi informatika untuk pengembangan sistem dan jaringan data dan informasi sangat menunjang dalam pemantapan ketahanan pangan. Informasi yang di susun di antaranya mengenai peta-peta produksi, distribusi, konsumsi, dan sistem deteksi dini kerawanan pangan yang terkoneksi antar daerah dan dengan pusat.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
33
BAB III
ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi A. Ketersediaan Pangan
Untuk mengetahui Tingkat ketersediaan pangan berdasarkan komposisi kalori dan protein digunakan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang merupakan acuan kuantitatif kebutuhan energi bagi setiap individu agar mampu menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013 Tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia, dalam satuan rata-rata perkapita perhari untuk ketersediaan energi sebesar 2.150 kkal dan protein 57 gram.
Kondisi dan perkembangan pencapaian ketersediaan pangan dari tahun 2010 s.d 2012 berdasarkan Neraca Bahan Makanan, adalah sebagai berikut :
a) Ketersediaan Energi Tahun 2012 adalah sebesar 2.561 kkal/kapita/ hari terjadi penurunan sebesar 60 kkal/kapita/hari ( -2,29%) dibandingkan Tahun 2010 yang mencapai 2.621 kkal/kapita/hari. Perkembangan rata-rata setiap tahun selama kurun waktu Tahun 2010-2012 adalah sebesar -1,00 %.
Tabel 5 Ketersediaan Energi kkal/kapita/tahun Penduduk Jawa Barat Tahun 2010-2012
No Komoditi 2010 2011 2012
1 Padi-padian 1,847 1,814 1,740
2 Makanan Berpati 191 191 193
3 Gula 54 50 52
4 Buah Biji Berminyak 131 175 133
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
34 No Komoditi 2010 2011 2012 6 Sayur-sayuran 62 61 59 7 Daging 64 101 112 8 Telur 27 17 16 9 Susu 9 10 9 10 Ikan 45 48 49 11 Minyak& lemak 125 176 120 Jumlah Total 2,621 2,738 2,561
Sumber : BKPD Prov. Jabar
b) Ketersediaan Protein Tahun 2012 adalah sebesar 78.83
gram/kapita/hari terjadi penurunan sebesar 14,02 gram/kapita/hari (-15,1%) dibandingkan Tahun 2010 yang mencapai 92,85
gram/kapita/hari. Perkembangan rata-rata setiap tahun selama kurun waktu Tahun 2010-2012 adalah sebesar -7,72 %.
Tabel 6 Ketersediaan Protein Jawa Barat Tahun 2010-2012
No Komoditi 2010 2011 2012
1 Padi-padian 42.87 45.07 43.25
2 Makanan Berpati 1.33 1.33 1.34
3 Gula 30 0.04 0.04
4 Buah Biji Berminyak 2.85 12.83 11.98
5 Buah-buahan 0.73 1.05 0.85 6 Sayur-sayuran 3.29 3.45 3.29 7 Daging 4.47 6.88 7.59 8 Telur 1.18 1.25 1.21 9 Susu 0.45 0.51 0.48 10 Ikan 5.66 8.57 8.78 11 Minyak& lemak 0.02 0.08 0.02 Jumlah Total 92.85 81.06 78.83
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
35 Untuk memenuhi ketersediaan pangan tersebut, pada beberapa komoditas terjadi keluar masuk dan masih harus dipasok dari luar daerah atau bahkan impor. Komoditas pangan yang berasal dari luar daerah yang masuk ke Jawa Barat Tahun 2012, adalah Beras sebanyak 22,258 ton, Tepung Gandum 680,535 ton, Tepung Sagu 1,899 ton, Gula pasir 70,534 ton, Kedelai 412,939 ton, Daging Sapi 18,566 ton, Ikan 375,524 ton dan Minyak Sawit 274,488 ton.
Masih tergantungnya ketersediaan pangan Jawa Barat menunjukkan bahwa semakin terbatasnya kapasitas produksi pangan di Jawa Barat antara lain disebabkan : (i) Meningkatnya alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian; (ii) menurunnya kualitas dan kesuburan lahan akibat kerusakan lingkungan; (iii) semakin terbatas dan tidak pastinya penyediaan air untuk produksi pangan akibat kerusakan hutan; (iv) rusaknya sekitar 30 persen prasarana pengairan; (v) persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan sektor industri dan pemukiman; (vi) tidak adanya jaminan pasokan dan harga gas untuk memproduksi pupuk yang cukup; (vii) tidak terealisasinya harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi; (viii) terbatasnya fasilitas permodalan di pedesaan dan meningkatnya suku bunga kredit ketahanan pangan (KKP) rata-rata 2 %; (ix) lambatnya penerapan tekonologi akibat kurangnya insentif ekonomi; (x) rendahnya kemampuan mengelola cadangan pangan; (xi) adanya gangguan hama dan penyakit pada tanaman dan ternak; (xii) anomali iklim dan menurunnya kualitas lingkungan.
B. Distribusi Pangan
Sistem distribusi yang efisien menjadi prasyarat untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu, dengan harga yang terjangkau. Bervariasinya kemampuan produksi pangan antar daerah dan antar musim merupakan tantangan dalam menjamin distribusi pangan agar tetap lancar
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
36 sampai ke seluruh wilayah konsumen sepanjang waktu. Pada banyak daerah kepedulian dan kemampuan mengelola kelancaran distribusi masih terbatas, sehingga sering terjadi ketidakstabilan pasokan dan harga pangan, yang berdampak pada gangguan ketahanan pangan di daerah bersangkutan. Masalah dan tantangan dalam subsistem distribusi pangan mencakup terbatasnya prasarana dan sarana perhubungan untuk menjangkau seluruh wilayah terutama daerah terpencil, keterbatasan sarana dan kelembagaan pasar, banyak pungutan resmi dan tidak resmi, gangguan keamanan serta pengaturan dan kebijakan.
Masih terdapatnya daerah-daerah terpencil terutama di Jawa Barat bagian selatan, menyebabkan pasokan pangan sering mengalami hambatan. Tantangan yang harus diantisipasi adalah, mengembangkan prasarana dan sarana distribusi pangan dan hasil pertanian ke seluruh wilayah agar tidak terjadi kelangkaan pasokan.
Kelembagaan pemasaran hasil-hasil pangan belum berperan optimal sebagai penyangga kestabilan distribusi dan harga pangan, khususnya di daerah-daerah terpencil. Hal ini berpotensi menyebabkan penurunan harga secara signifikan di sentra produksi pada saat panen, sebaliknya meningkatkan harga secara tajam pada musim paceklik. Di samping itu, masih terdapat kelembagaan pemasaran yang dikuasai kelompok-kelmpok tertentu, sehingga tidak memberikan sistem yang adil di antara para pelakunya.
Sistem pemerintahan otonomi telah mendorong setiap pemerintahan daerah meningkatkan pendapatan asli daerah, yang berdampak pada meningkatnya pos-pos pungutan atau retribusi di sepanjang jalur distribusi dan pemasaran, oleh berbagai tingkat pemerintahan, baik resmi maupun tidak resmi. Berbagai pungutan tersebut telah mengakibatkan biaya distribusi yang tinggi pada berbagai produk pangan.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
37 Masalah keamanan jalur distribusi pada saat ini masih menjadi hambatan yang cukup memprihatinkan. Berbagai tindak kriminal, seperti pencurian dan perampokan masih terus berlangsung di jalur distribusi darat maupun laut, sehingga para pelaku usaha harus menambah biaya untuk tambahan tenaga pengamanan, atau seringkali mengalami kerugian karena kehilangan barang. Beban ini tentunya akan diteruskan kepada konsumen, sehingga biaya yang harus dibayar semakin bertambah. Penurunan pungutan dan perlindungan sistem distribusi dari tindak kriminal merupakan tantangan yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Kebijakan yang terkait dengan distribusi pangan dimaksudkan untuk memperlancar pasokan dan memfasilitasi keterjangkauan masyarakat, sekaligus memproteksi sistem ekonomi dalam negeri/ daerah dari persaingan yang kurang menguntungkan khususnya tekanan perdagangan global. Dalam merumuskan kebijakan tersebut, pemerintah perlu mengembangkan strategi dengan justifikasi yang tepat, sehingga tidak bertentangan dengan kaidah organisasi perdagangan internasional yang telah disepakati. Beberapa kiat kebijakan yang telah diterapkan oleh Indonesia antara lain: konsep
strategic product (SP) untuk beras, jagung, kedelai, gula. Sebagai
justifikasi untuk menerapkan instrumen khusus antara lain : (a) penyesuaian tarif bea masuk; (b) penerapan hambatan non tariff (tataniaga, karantina, termasuk pelarangan impor beras pada periode tertentu; (c) pemberian subsidi pupuk; (d) penetapan harga pembelian pemerintah/HPP. Kebijakan tersebut akan mendapat tantangan dari negara lain yang merasa dirugikan kepentingannya, sehingga perlu secara terus menerus dilakukan pengkajian dan evaluasi guna menyempurnakan kebijakan perdagangan yang berlaku.
C. Konsumsi Pangan
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mempunyai Komitmen yang tinggi dalam meningkatkan Konsumsi Masyarakat yang beragam,
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
38 berigizi seimbang, aman dan halal, yang merupakan salah satu tujuan dari Pembangunan Ketahanan Pangan. Komitmen tersebut diwujudkan dengan diterbitkannya Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 60 Tahun 2010, tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber daya Lokal, dan ditindaklanjuti melalui Surat Edaran Gubernur tanggal 15 Juli 2011 kepada Bupati/Walikota untuk melakukan gerakan penurunan Konsumsi beras yang lebih dikenal dengan “One Day No Rice”
Gerakan yang di lingkungan Pemerintah Jawa Barat disebut juga “Poe Rebo Teu Ngejo” karena dilaksanakan setiap hari Rabu, memberikan dampak yang signifikan terhadap Konsumsi beras masyarakat Jawa Barat yang mengalami penurunan dari 105,85kg/tahun pada tahun 2010 menjadi 90,59 kg/kap/tahun pada tahun 2012.
Walaupun demikian, penurunan konsumsi beras tersebut belum diikuti dengan peningkatan konsumsi pangan lokal seperti Jagung, Umbi-umbian, Sukun, Talas dan lain-lain, sehingga berdampak pada Skor Pola Pangan Harapan Jawa Barat yang masih jauh dari skor ideal sebagaimana terlihat pada Tabel berikut :
Tabel 7 Pola Pangan Harapan Penduduk Jawa Barat Tahun 2010-2012
No. Kel. Pangan 2010 2011 2012 Ideal
1. Padi-padian 25 25 25 25.0
2. Umbi-umbian 0,9 1 0,7 2.5
3. Pangan Hewani 16,6 17,3 16 24.0
4. Minyak dan Lemak 4,9 4,8 5,1 5.0
5. Buah / Biji Berminyak 0,3 0,3 0,3 1.0
6. Kacang-kacangan 6,1 5,9 5,9 10.0
7. Gula 1,3 1,2 1 2.5
8. Sayuran dan Buah 17,6 18 16,3 30.0
9. Lain-lain 0 0 0 0
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
39 Tabel di atas menunjukkan bahwa untuk mencapai PPH Ideal, perlu upaya-upaya untuk meningkatkan konsumsi Umbi-umbian sebesar 1,8 point, pangan hewani 8 point, kacang-kacangan 4,1 point serta Sayur dan buah sebesar 13,7 point.
Sementara di bandingkan dengan Skor PPH Nasional, perkembangan Skor PPH Jawa Barat selama lima tahun terakhir masih di bawah rata-rata Nasional sebagaimana terlihat pada Gambar berikut ini.
Gambar 2 Grafik Skor Pola Pangan Harapan Jawa Barat dan Nasional
Rendahnya skor PPH Jawa Barat tersebut disebabkan: (i) besarnya jumlah penduduk miskin dan pengangguran dengan kemampuan akses pangan rendah; (ii) rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap diversifikasi pangan dan gizi; (iii) masih dominannya konsumsi sumber energi karbohidrat yang berasal dari beras; 2007 2008 2009 2010 2011 2012 PPH Jabar 78.7 76.4 70.7 72.7 73.5 70.2 PPH Nasional 82.8 81.9 75.7 77.5 77.3 75.4 62 64 66 68 70 72 74 76 78 80 82 84
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
40
D. Kerawanan Pangan
Kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan yang dialami daerah, masyarakat, atau rumah tangga, pada waktu tertentu untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan masyarakat.
Kerawanan pangan dapat terjadi secara berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu (kronis), dan dapat pula terjadi akibat keadaan darurat seperti bencana alam maupun bencana sosial (transien).
Kondisi rawan pangan dapat disebabkan karena : (a) tidak adanya akses secara ekonomi bagi individu/rumah tangga untuk memperoleh pangan yang cukup, (b) tidak adanya akses secara fisik bagi individu/rumah tangga untuk memperoleh pangan yang cukup, (c) tidak tercukupinya pangan untuk kehidupan yang produktif individu/rumah tangga, (d) tidak terpenuhinya pangan secara cukup dalam jumlah, mutu, ragam, keamanan serta keterjangkauan harga.
Penduduk miskin memiliki resiko tinggi dan rentan terhadap kerawanan pangan, karena Kerawanan pangan sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang ditentukan tingkat pengeluarannya.
Data BPS 2012 seperti terlihat pada Tabel 8 menunjukkan bahwa berdasarkan pengeluaran perkapita dan pengeluaran pangsa pangan di atas 60 %, kondisi Ketahanan Pangan penduduk Jawa Barat dikategorikan sebagai berikut :
- Tahan Pangan 34,59% - Rentan Pangan 37,94% - Kurang Pangan 14,49% - Rawan Pangan 13,02%
Isu-isu sebagaimana diuraikan tersebut di atas, dapat di identifikasi sebagaimana terlihat pada Tabel 8.
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
41
Tabel 8. Kondisi Ketahanan Pangan Penduduk Jawa Barat (%)
Kabupaten/ Keadaan Pangan
Kota Tahan Pangan Rentan Pangan Kurang Pangan Rawan Pangan (1) (2) (3) (4) (5) Kab Bogor 36,17 37,63 13,51 12,69 Kab Sukabumi 25,09 50,39 10,25 14,27 Kab Cianjur 18,98 55,23 5,51 20,29 Kab Bandung 38,63 34,66 16,01 10,70 Kab Garut 23,96 38,06 13,33 24,66 Kab Tasikmalaya 21,73 46,48 10,47 21,32 Kab Ciamis 33,67 51,13 6,43 8,78 Kab Kuningan 26,42 52,83 7,11 13,64 Kab Cirebon 25,96 52,85 9,20 11,98 Kab Majalengka 28,11 48,19 9,30 14,40 Kab Sumedang 30,89 52,02 5,69 11,40 Kab Indramayu 25,21 56,01 5,69 13,09 Kab Subang 32,74 44,55 9,32 13,39 Kab Purwakarta 39,54 45,08 9,08 6,30 Kab Karawang 38,87 40,14 9,97 11,02 Kab Bekasi 40,42 25,44 22,43 11,71
Kab Bandung Barat 23,39 34,08 16,22 26,31
Kota Bogor 47,90 24,45 19,07 8,58 Kota Sukabumi 42,34 30,51 14,56 12,58 Kota Bandung 55,90 15,13 21,68 7,29 Kota Cirebon 42,98 18,80 26,88 11,34 Kota Bekasi 42,15 13,50 38,69 5,66 Kota Depok 57,44 12,39 25,62 4,55 Kota Cimahi 49,37 21,18 23,66 5,79 Kota Tasikmalaya 38,25 31,94 13,04 16,77 Kota Banjar 35,96 39,30 12,79 11,95 Total 34,59 37,94 14,45 13,02
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
42
Tabel 9. Isue-isue Strategis Berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi
Aspek Kajian Kondisi Saat ini Standar yang Digunakan Internal Faktor yang Mempengaruhi Eksternal Pelayanan OPD Permasalahan
1 2 3 4 5 6
Ketersediaan Ketersediaan Energi dan protein selama tiga tahun terakhir menunjukkan penurunan. Energi turun 1%/tahun, Protein turun 7,72/tahun
NBM Tersedianya alokasi untuk peningkatan produksi pangan lokal
- Kebutuhan pangan terus meningkat - Meningkatnya alih fungsi lahan pertanian ke
penggunaan non pertanian
- Menurunnya kualitas dan kesuburan lahan akibat kerusakan lingkungan
- Lambatnya penerapan tekonologi akibat kurangnya insentif ekonomi;
- Anomali iklim dan menurunnya kualitas lingkungan
Untuk memenuhi ketersediaan energi 2.000 kkal dan protein 57 gr/kapita/hari masih tergantung pada pangan impor/luar daerah Lemahnya koordinasi lintas sektor
Distribusi Harga
Pangan Distibusi belum berjalan secara efisien yang menyebabkan terjadinya ketidak stabilan harga pangan
Sistem pasar pangan
yang belum efektif - Terbatasnya prasarana dan sarana perhubungan untuk menjangkau seluruh wilayah terutama daerah terpencil
- Berbagai pungutan telah mengakibatkan biaya distribusi yang tinggi pada berbagai produk pangan
Rendahnya kemampuan masyarakat dalam mengakses pangan Lemahnya koordinasi lintas sektor
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
43
1 2 3 4 5 6
Konsumsi dan
Keamanan Pangan Kualitas konsumsi masyarakat masih rendah, skor PPH 70,2 poin
BPS Terbatasnya diversifikasi pangan
Terbatasnya produksi pangan lokal
- Terbatasnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pola makan yang bergizi berimbang, aman dan halal
- Budaya masyarakat “belum makan bila tidak makan nasi”
penganekaragam pangan belum optimal
Kerawanan
Pangan Tingginya Penduduk rawan pangan Prosentase 13,02%
BPS Belum terdatanya
penduduk rawan pangan - Rendahnya daya beli masyarakat - Tingginya pangsa pengeluaran pangan (lebih dari 60%)
Lemahnya koordinasi lintas sektor
Rencana Strategis (RENSTRA)
Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
44
3.2. Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih
Dalam mewujudkan Visi Jawa Barat yaitu ”Maju dan Sejahtera untuk Semua”, Badan Ketahanan Pangan mempunyai peranan yang strategis dengan mengemban misi ke pertama dan kedua.
Misi pertama, Membangun Masyarakat yang Berkualitas dan Berdaya Saing, salah satu sasarannya adalah Pemenuhan hak dasar manusia. Pemenuhan hak dasar manusia adalah hal mendasar yang menjadi kewajiban dari Pemerintah Jawa Barat, karena pada hakekatnya Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan kehidupan dasar dari warganya berlangsung dengan baik. Salah satu hak dasar tersebut adalah pemenuhan pangan yang menjadi perhatian bagi Pemerintah Jawa Barat, yang diimplementasikan melalui program-program yang mendukung bagi terwujudnya Jawa Barat Bebas Rawan
Pangan.
Misi ke dua, Membangun Perekonomian yang Kokoh dan Berkeadilan, salah satu sasarannya adalah memperkuat pembangunan ekonomi perdesaan dan regional. Pembangunan ekonomi perdesaan mensyaratkan kombinasi pendekatan antara proses pemberdayaan masyarakat dengan dukungan intervensi oleh pemerintah. Pemberdayaan dilaksanakan dengan
sasaran kaum miskin yang aktif secara ekonomis, untuk
meningkatkan kemampuan dan keterampilannya merencanakan dan melaksanakan usaha ekonomi produktif. Dukungan pemerintah selain dalam bentuk akses terhadap prasarana dan sarana (lahan, pasar, informasi, sumber permodalan dan lain- lain) yang lebih memadai, juga kebijakan penunjangnya seperti perdagangan dan subsidi. Pada tahap berikutnya, dilakukan penumbuhan kewirausahaan, peningkatan skala ekonomi komersial, peningkatan akses pasar, pemberian insentif dan akses terhadap informasi yang bermanfaat.
Oleh sebab itu pembangunan ketahanan pangan yang berbasis pedesaan diyakini merupakan salah satu jalan utama untuk mengatasi masalah kemiskinan, khususnya yang sebagian besar berada di perdesaan.