• Tidak ada hasil yang ditemukan

REFLEKSI AJARAN ISLAM DALAM GURINDAM BANJAR DI KALIMANTAN SELATAN. Agus Yulianto

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "REFLEKSI AJARAN ISLAM DALAM GURINDAM BANJAR DI KALIMANTAN SELATAN. Agus Yulianto"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 Agus Yulianto

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan

Jalan A. Yani, Km 32,2 Loktabat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan [email protected]

(Diterima: 20 Februari 2019; Direvisi 22 Februari 2021; Disetujui 29 April 2021)

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penggambaran aspek-aspek ajaran Islam yang menyangkut akidah, ibadah, dan akhlak dalam gurindam Banjar serta makna yang dikandungnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif serta teknik studi pustaka. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa gurindam Banjar yang mengandung aspek ajaran Islam berupa akidah menjelaskan tentang pentingnya syahadat dan konsep tauhid. Gurindam Banjar yang mengandung aspek ajaran Islam berupa ibadah menjelaskan tentang keutamaan salat, puasa, zakat, dan haji, sedangkan yang mengandung aspek ajaran Islam berupa akhlak menjelaskan tentang pentingnya berakhlak terhadap orang tua serta sifat dermawan merupakan akhlak yang baik yang dapat dijadikan pandangan hidup bagi masyarakatnya.

Kata kunci: Gurindam Banjar, Islam, makna, pandangan hidup

Islamic Teaching Reflection in Gurindam Banjar as aview of the Lives of Banjarese People in South Kalimantan

Abstract

The purpose of this study was to determine the depiction of aspects of Islamic teachings concerning the creed, worship, and morals in the Gurindam Banjar and the meaning they contain. This research is a qualitative research using descriptive methods and literature study techniques. Based on the results of the analysis it can be seen that the Gurindam Banjar which contains aspects of Islamic teachings in the form of aqidah explains the importance of creed and the concept of monotheism. Gurindam Banjar which contains aspects of Islamic teachings in the form of worship explains the virtues of prayer, fasting, zakat, and pilgrimage, while those containing aspects of Islamic teachings in the form of morals explain the importance of morality towards parents and generous nature is a good character that can be used as a way of life for the people.

Keywords: Gurindam Banjar, Islam, meaning, outlook on life

PENDAHULUAN

Sastra Sastra lisan Banjar di Kalimantan Selatan cukup banyak dan beragam, baik yang berbentuk puisi, prosa, maupun drama. Sastra lisan merupakan hasil karya para cerdik pandai, sastrawan, maupun budayawan Banjar zaman dahulu. Dalam sastra lisan tersebut, terkandung nilai-nilai, pandangan hidup, bahkan

pedoman hidup bagi masyarakat

pendukungnya. Oleh sebab itu, tidak heran bila sastra lisan Banjar ikut serta dalam pembentukan pola pikir, sikap, dan tingkah

laku dari masyarakat pendukungnya tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, sastra lisan Banjar sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan oleh masyarakat

pendukungnya. Sastrawan maupun

budayawan Banjar saat ini dalam membuat karya sastra lebih cenderung menggunakan bentuk karya sastra modern, baik yang berbentuk puisi, prosa, maupun drama. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada daerah-daerah lain di Indonesia.

(2)

2

seorang sastrawan atau budayawan sebagai media penyampai estetiknya termasuk langka saat ini. Oleh sebab itu, jagat sastra Banjar cukup mengalami kehebohan dengan terbitnya sebuah buku yang berjudul Banjar Negeri Harum 1001 Gurindam karya Haji Iberamsyah Barbary (2014). Selain gurindam, sebenarnya Iberamsyah Barbary juga membuat sebuah buku pantun Banjar pada tahun 2016 yang berjudul Membuka Jendela Pantun Kehidupan yang diterbitkan oleh Pustaka Banua. Buku ini kemudian dijadikan sebuah objek penelitian yang ditulis oleh Saefuddin (2020) dengan judul makalah “Membuka Jendela Pantun Kehidupan: Suatu Refleksi Kegelisahan Iberamsyah Barbary dalam Berkarya.”

Dalam buku Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (Jarkasi 2001), dijelaskan bahwa Haji Iberamsyah Barbary adalah sastrawan Kalimantan Selatan generasi penerus zaman orde lama 1960—1969. Ia mulai menulis puisi sejak tahun 1960-an. Iberamsyah Barbary lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 2 Januari 1948. Ia merupakan pensiunan pegawai BUMN yang mengawali debutnya sebagai penyair sejak tahun 1963. Pada tahun 1970-an, karya puisinya banyak diterbitkan harian lokal seperti Banjarmasin Post, Gawi Manuntung dan Dinamika Berita. Dalam data-data Kesenian Daerah Kalimantan Selatan, proyek Pusat Pengembangan Kesenian Kalimantan Selatan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun

1975/1976, ia dimasukkan dalam

periodisasi kesastraan Kalimantan Selatan angkatan 70. .Bentuk puisi lama gurindam sesungguhnya tidak dikenal dalam khazanah sastra lisan Banjar. Oleh sebab itu, Zul Faisal Putra, salah seorang budayawan Banjar menyatakan dalam kata pengantar di dalam buku Banjar Negeri Harum 1001 Gurindam sebagai berikut. “Tak ada catatan yang jelas apakah gurindam juga dikenal dalam sastra lisan Banjar. Gurindam sebagai salah satu bentuk puisi lama lebih dikenal dalam sastra Melayu lama yang popular di

masyarakat Melayu”. Hal ini sesuai dengan pendapat Ganie (2011) yang menyatakan bahwa sastra daerah Banjar yang berbentuk puisi hanya terdiri atas madihin, pantun, syair, peribahasa, dan mantra Banjar (hlm. VII). Akan tetapi, gurindam karya Iberamsyah Barbary ini tetap dapat dikategorikan sebagai sastra Banjar disebabkan menurut Ganie (2006) terdapat teori yang menyatakan bahwa sastra Banjar adalah semua jenis karya sastra yang bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa apa saja (tidak mesti dalam bahasa Banjar) oleh siapa saja (tidak mesti oleh sastrawan yang berlatar belakang etnis Banjar) (hlm. 5). Dengan demikian, gurindam Banjar ini dapat juga diklasifikasikan sebagai sastra Banjar. Selain itu, terdapat perbedaan antara gurindam Banjar dengan gurindam yang ada di tanah Melayu. Gurindam Banjar menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sebagai media pengantarnya,

sedangkan gurindam Melayu

menggunakan bahasa Melayu sebagai media pengantarnya.

Gurindam Banjar yang diciptakan oleh Iberamsyah Barbary ini sangat kaya dengan muatan-muatan ajaran Islam, baik yang menyangkut masalah akidah, ibadah, maupun akhlak. Hal itu disebabkan ajaran

Islam memang merupakan napas

kehidupan bagi masyarakat Banjar dan menjadi pandangan hidup bagi masyarakat Banjar itu sendiri. Bahkan terdapat istilah yang menyatakan bahwa bukan orang Banjar bila ia tidak beragama Islam.

Iberamsyah Barbary rupanya ingin menyampaikan substansi ajaran Islam melalui gurindam kepada pembacanya. Gurindam Banjar yang diciptakan oleh Iberamsyah Barbary merupakan gurindam pertama yang diciptakan oleh orang Banjar itu sendiri. Selain itu, penelitian-penelitian yang menjadikan gurindam Banjar karya Iberamsyah ini sebagai objek penelitian sejauh pengamatan yang dapat dilakukan belum pernah dilakukan oleh siapa pun.

(3)

3

Penelitian mengenai gurindam pernah dilakukan oleh Ulul Azmi dan Rusli Zainal ( 2016) dengan judul “Nilai Akidah dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji”. Penelitian ini membahas kegunaan

gurindam dua belas yang dapat

meningkatkan kepercayaan pembaca pada agama, Tuhan, dan akhirat. Selanjutnya, Lisken Sirait (2018) dengan judul “Revitalisasi Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji Sebagai Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Etnis Melayu”. Penelitian ini membahas tentang isi gurindam dua belas yang berisi imbauan dan nasihat terkait kewajiban anak kepada orang tua, orang tua kepada anak, kewajiban bangsawan kepada masyarakatnya, budi pekerti, nasihat, dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, Nurliana (2019) dengan judul “Nilai Teologi dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji”. Penelitian ini membahas tentang pemahaman dan pengamalan akan agama Islam serta memahami nilai-nilai teologi dalam Gurindam Dua Belas kehidupan umat manusia akan terarah pada kebenaran sehingga kehidupan terhindar dari konflik dan akan merasakan ketenangan lahir dan batin menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Selanjutnya, Rahayu, Sri, dan Alber (2019) dengan judul “Nilai-Nilai Budaya dalam Gurindam Tunjuk Ajar Melayu Karya Tenas Effendy”. Penelitian ini membahas nilai-nilai budaya yang terdapat dalam gurindam yang berupa tanggung jawab, patuh, memberi nasihat, menghormati, menyayangi, dan kesetiaan. Selanjutnya, Nofmiyati (2019) dengan judul “Nilai-nilai

Moral-Education di Lingkungan

Masyarakat Sosial dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji”. Penelitian ini

membahas Gurindam Dua Belas dari aspek psikologis kemasyarakatan dengan mengesampingkan sikap egoisme dan

mengedepankan cinta diri yang

menandakan suatu tanda kebesaran spiritual dan kepribadian yang besar, yang mendorong manusia ke arah sederhana dan pengorbanan. Selanjutnya Ilyas, Griven H. Putera, dan Muliardi (2020) dengan judul “Nilai Pendidikan Islam dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji”. Penelitian ini membahas nilai-nilai keislaman yang sangat komprehensif yang terdapat dalam

gurindam dua belas, baik yang

menyangkut keimanan, ketakwaan, rasa syukur, kemanusiaan, maupun akhlak.

TEORI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015), gurindam adalah sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat (hlm. 377). Sementara itu, menurut Suroso, dkk. (2015) gurindam juga termasuk jenis puisi lama. Gurindam adalah bentuk puisi yang berasal dari Tamil, India Selatan (hlm. 104). Gurindam biasanya terdiri atas sebuah kalimat majemuk yang dibagi menjadi dua baris bersajak. Tiap-tiap baris itu merupakan sebuah kalimat dan hubungan antara kalimat itu biasanya merupakan hubungan anak kalimat dan induk kalimat. Jumlah suku tiap-tiap baris tidak ditentukan, demikian juga iramanya tidak tetap. Gurindam biasanya dimaksudkan untuk menyampaikan suatu nasihat atau kebenaran dengan cara pendek. Dilihat dari isinya, gurindam dekat dengan pepatah atau peribahasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gurindam memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Setiap bait terdiri atas dua larik. Hubungan larik pertama dengan larik kedua seperti hubungan antara anak kalimat dan induk kalimat.

(4)

4

b. Larik pertama sebagai syarat, larik kedua merupakan satu kesatuan, seperti imbalan larik pertama.

c. Larik pertama dan larik kedua merupakan satu kesatuan, seperti kesatuan bersoal-jawab.

d. Gurindam berima terus (sama): a-a. e. Setiap larik terdiri atas 4 perkataan atau

8—11 suku kata.

f. Gurindam berisi nasihat atau amsal (ucapan yang mengandung kebenaran)

Raja Ali Haji (dalam Sapto, 2018) mengatakan bahwa gurindam adalah perkataan yang berima pada akhir

pasangannya, tetapi sempurna

perkataannya dengan satu pasangannya. Jadilah seperti rima yang pertama itu, “syarat” dan rima yang kedua itu jadi seperti “jawabannya bermula” (hlm. 7).

Irama gurindam sama dengan irama pantun dan syair. Gurindam ini merupakan puisi yang dibaca untuk direnungkan dan diresapi makna yang terkandung di dalamnya.

Menurut Salih (dalam Fauzan, 2000), akidah secara etimologi berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Akidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan “Dia mempunyai akidah yang benar” berarti akidahnya bebas dari keraguan. Akidah merupakan perbuatan hati yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya. Akidah secara syara’ yaitu iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-malaikat-Nya, para rasul-Nya dan kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik mupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman (hlm. 3).

Menurut Yazid (2017), kata ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk, sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain.

1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasul-Nya.

2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai

dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.

3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati), sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan badan.

Allah memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah. Dan Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi

merekalah yang membutuhkan-Nya.

Karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka mereka menyembah-Nya sesuai dengan aturan syariat-Nya. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang menyembah-Nya tetapi dengan selain apa yang disyariatkan-Nya maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan siapa yang hanya menyembah-Nya dan dengan syariat-Nya, maka dia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

Menurut Muhammad (2007),

pengertian akhlak secara etimologi berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnya “khuluqun” yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan “khalkun” yang berarti kejadian, serta erat hubungan “Khaliq” yang berarti Pencipta dan “Makhluk” yang berarti yang diciptakan (Hlm. 12).

(5)

5

Pengertian akhlak adalah kebiasaan kehendak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak. Jadi pemahaman akhlak adalah seseorang yang mengerti benar akan kebiasaan perilaku yang diamalkan dalam pergaulan semata-mata taat kepada Allah dan tunduk kepada-Nya. Oleh karena itu, seseorang yang sudah memahami akhlak maka dalam bertingkah laku akan timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan, dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.

Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan, dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang

dihayati dalam kenyataan hidup

keseharian. Semua yang telah dilakukan itu akan melahirkan perasaan moral yang terdapat di dalam diri manusia itu sendiri sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak berguna, mana yang cantik dan mana yang buruk.

Menurut Nengsih (2016), makna kata merupakan bidang kajian yang dibahas dalam ilmu semantik (hlm. 1). Menurut Chaer (2013), semantik adalah hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata, serta benda atau hal-hal yang dirujuk oleh makna itu yang berada di luar bahasa. Makna dari sebuah kata, ungkapan, dan wacana ditentukan oleh konteks yang ada (hlm. 60).

Makna kata yang dimaksud dalam penelitian ini adalah makna kata seperti yang dipaparkan oleh Chaer, yaitu makna kata yang ditentukan oleh konteks yang ada dalam pemakaian kata-katanya di dalam gurindam serta makna kata yang sesuai dengan kamus atau hal-hal yang menjadi rujukannya di luar bahasa atau makna acuan.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Menurut Semi (2012), metode deskriptif adalah metode yang dilakukan dengan tidak menggunakan angka-angka, tetapi menggunakan penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang sedang dikaji secara empiris (hlm. 23). Sesuai dengan pendapat Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2018), penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (hlm. 4).

Penelitian ini menggunakan teknik studi pustaka, yaitu dengan mencari data-data penelitian dan informasi dari buku-buku yang dianggap relevan dengan penelitian yang dilakukan. Buku tersebut dapat diperoleh dari perpustakaan atau koleksi pribadi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Refleksi ajaran Islam yang terdapat dalam Gurindam Banjar diklasifikasikan menjadi akidah, ibadah, dan akhlak. Berikut pemaparan refleksi ajaran Islam dalam gurindam Banjar berserta makna yang dikandungnya.

Makna Gurindam Banjar yang Berkaitan dengan Akidah.

a. When pledge is said confession faith will bring us to salvation ‘Bila ikrar diucap dengan syahadat tumbuhlah iman menuju selamat’

Gurindam ini memiliki makna bahwa bila seseorang berjanji atau bersaksi kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Muhammad Saw. yang berarti mengakui dan meyakini akan kebenaran Allah Swt. dan kebenaran kerasulan Muhammad Saw sebagai seorang utusan Allah Swt. Hal itu juga berarti bahwa orang tersebut mengakui dan menyakini bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Tuhan di dunia ini yang berhak untuk disembah dan diibadahi dan tidak ada tuhan-tuhan yang lain. Selain

(6)

6

itu, pengakuan terhadap kerasulan Nabi Muhammad Saw. juga memiliki pengertian bahwa segala apa yang diucapkan oleh rasul yang termaktub di dalam Alquran adalah benar-benar firman Allah Swt. Alquran merupakan ajaran Islam yang diyakini kebenarannya sebagai sesuatu kebenaran mutlak. Oleh sebab itu, Alquran adalah kebenaran mutlak yang akan membawa orang-orang yang melaksanakan ajarannya kepada keridaan Allah Swt.

Dengan demikian, mengikrarkan syahadat merupakan sebuah manifestasi keyakinan yang akan membawa orang-orang yang mengucapkannya kepada keselamatan dunia dan akhirat. Hal itu tidak lain disebabkan syahadat merupakan pintu gerbang atau kunci menuju keselamatan itu sendiri. Keselamatan dari kecelakaan fatamorgana keyakinan lain dan janji keselamatan yang semu.

b. When conviction is firm

Islam is the religion of the world and after life

‘Bila keyakinan menghadap kiblat Islamlah agama dunia akhirat’

Gurindam ini memiliki makna bila menyakini bahwa kabah adalah sebagai kiblat atau arah salat sebagai sebuah bentuk ibadah atau p enghambaan kepada Allah Swt tentu keyakinannya itu benar. Hal itu disebabkan kabah meerupakan rumah ibadah pertama yang dibangun di atas muka bumi. Kabah ini dibangun oleh nabi Ibrahim bersama nabi Ismail. Kabah merupakan simbol ketundukkan manusia kepada Allah Swt. Sesungguhnya manusia itu tidak menyembah kabah, melainkan hanya sebagai penanda arah bagi kesatuan ibadah umat Islam di seluruh dunia.

Agama para nabi di atas muka bumi ini adalah Islam. Para nabi seluruhnya merupakan pesuruh Allah Swt untuk mengajak para manusia untuk menyembah-Nya. Oleh sebab itu, Islam adalah agama yang sebenar-benarnya agama yang memberikan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.

c. Allah is the only, there is no allies no doubt, Islam is my religion

‘Allah yang satu,tidak sekutu tak ada ragu Islamlah agamaku’

Gurindam ini memiliki makna bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta isinya dan Tuhan yang berhak untuk disembah dan diibadahi adalah Tuhan yang esa, Tuhan yang tunggal, yaitu Allah Swt. Allah Swt maha kuasa dalam kesendirian-Nya. Dia tidak perlu berkonsultasi dengan siapapun dalam mengatur alam semesta. Keputusan-Nya mutlak dalam mengatur kehidupan ini. Justru apabila Allah Swt. memiliki sekutu hal itu secara tidak langsung menunjukkan kelemahan dari sifat ketuhanan itu sendiri. Hal itu disebabkan Tuhan seakan-akan harus berkonsultasi dengan Tuhan yang lain dalam mengatur alam semesta ini juga dalam mengatur kehidupan ini. Tuhan yang berkonsultasi memiliki pengertian seakan-akan Dia tidak maha berkehendak, suatu sifat yang mustahil dimiliki oleh Tuhan.

Dengan demikian, setelah

menyakini bahwa Tuhan itu Esa, Dia maha berkehendak dalam keesaan-Nya tentu tidak ada keraguan dalam diri bahwa hanya Islamlah agama yang benar. Hal itu disebabkan hanya Islam yang mengajarkan kepada manusia tentang konsep keesaan Tuhan. Sebuah konsep yang sebenarnya dibawa oleh para nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad Saw. Semua nabi sebenarnya mengajarkan tentang Islam, yaitu sebuah konsep keselamatan karena beriman hanya kepada Allah Swt.

d. When faith is for Allah

one will unwavered by temptation ‘Bila iman Islam karena Allah godaan dunia tak akan goyah’

Gurindam ini memiliki makna bahwa keyakinan terhadap Islam harus semata-mata karena Allah Swt. Islam mengajarkan manusia untuk selalu memurnikan ketaatan semata-mata hanya kepada Allah Swt. Hal itu disebabkan bila iman Islam seseorang itu disebabkan faktor lain, orang tersebut tidak mendapatkan pahala, ia hanya mendapatkan apa yang menjadi faktornya beriman Islam saja. Hal

(7)

7

ini pernah terjadi di masa Rasulullah Saw, ada seorang laki-laki yang ikut berhijrah ke Madinah disebabkan memunyai niat karena ingin mendapatkan seorang wanita. Rasulullah Saw menyatakan orang tersebut tidak mendapatkan pahala apa-apa di sisi Allah Swt, ia hanya mendapatkan apa yang diniatkannya saja.

Dengan demikian, bila seseorang memahami keikhlasan iman Islam karena Allah Swt. dapat dipastikan seluruh rangkaian ibadah yang dilakukannya juga semata-mata ikhlas karena Allah Swt. Dunia sudah bukan menjadi tujuan hidupnya. Tujuan hidupnya adalah semata-mata mendapatkan keridaan Allah Swt.

Makna Gurindam Banjar yang Berkaitan dengan Ibadah

a. Prayer is done because of loyality As the sign of love from a moslem ‘Salat dikerjakan karena taat Tanda cintanya seorang umat’

Gurindam ini memiliki makna bahwa ibadah salat merupakan bentuk nyata dari ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Salat merupakan manifestasi ketundukan dan kepatuhan antara makhluk dengan penciptanya. Manusia sejatinya adalah makhluk ciptaan Allah Swt yang tujuan penciptaannya tidak lain hanya untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah seorang hamba yang pertama kali dihisab di akhirat nanti adalah salat. Apabila salat seorang hamba itu baik maka akan baik pula amal ibadah yang lainnya. Sebaliknya, apabila salat seorang hamba itu buruk maka akan buruk pula amal ibadah yang lainnya. Hal itu menandakan bahwa ibadah salat menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia di dunia ini.

Di sisi yang lain, salat merupakan perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya. Salat merupakan miraj umat Nabi Muhammad Saw untuk bertemu Tuhannya. Salah satu tingkatan tertinggi dari ibadah seorang hamba adalah apabila

melakukan suatu ibadah didasarkan kepada rasa cinta kepada Tuhannya. Orang yang mencintai sesuatu tentu berkeinginan untuk selalu bertemu dengan yang dicintainya. Demikian pula dengan seorang hamba yang sudah dapat mencintai Tuhan, tentu akan senantiasa merindukan untuk bertemu dengan yang dicintainya, yaitu Allah Swt melalui media salat. Jadi, salat itu dapat menjadi tanda kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya.

b. It is a big sin for leaving prayer

It makes pledge and faith destroy ‘Meninggalkan salat,dosalah besar

Retaklah iman hancurlah ikrar’

Gurindam ini memiliki makna bahwa orang yang tidak salat tanpa halangan yang dibenarkan oleh syariat seperti gila, idiot atau yang lainnya berarti dia telah melakukan sebuah dosa yang besar. Hal itu disebabkan salat merupakan bukti, pengakuan, dan ketundukkan seorang manusia kepada Tuhannya. Orang yang tidak mau melakukan salat untuk bersujud kepada Allah Swt terkategori sebagai orang yang sombong, sedangkan sifat sombong adalah suatu sifat yang sangat dibenci oleh Swt. Bahkan dalam suatu riwayat dikatakan bahwa tidak akan masuk surga seorang manusia apabila terdapat kesombongan walaupun hanya sebiji zarrah. Hal itu disebabkan seorang manusia seharusnya menyadari bahwa dia adalah makhluk yang lemah dan fana yang seluruh kebutuhan hidupnya disediakan oleh Allah Swt. Seharusnya manusia itu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Swt, bukan malah menganggap dirinya hebat dan tidak mau bersujud kepa zat yang menciptakannya.

Orang yang tidak mau salat sesungguhnya telah menampilkan dirinya layaknya orang kafir. Maksudnya adalah orang yang tidak salat perilakunya sama dengan orang kafir yang juga tidak salat. Dengan demikian, keimanan orang yang tidak salat dapat dipastikan sedang berada dalam masalah yang dengan sendirinya

(8)

8

sedikit banyak telah merusak ikrar atau syahadat yang telah diucapkannya.

c. Fasting in Ramadan is training and trial That’s the quality of firmly faith

‘Puasa Ramadan, tempaan dan cobaan Itulah kualitas ketahanan iman’

Gurindam ini memiliki makna bahwa puasa merupakan suatu bentuk ibadah yang memerlukan ketahan fisik dan mental. Hal itu disebabkan puasa merupakan suatu bentuk ibadah menahan makan dan minum selama sehari penuh. Selain menahan haus dan lapar, orang yang berpuasa juga harus dapat mengontrol dimensi kejiwaan seperti menahan marah, bergunjing, memfitnah, dan lain-lain. Oleh sebab itu, tidak heran bila puasa merupakan suatu ibadah yang dapat dijadikan sarana untuk menempa fisik dan keteguhan jiwa. Hal itu disebabkan ibadah puasa penuh dengan godaan dan cobaan.

Keberhasilan dalam menahan godaan dan cobaan pada saat berpuasa itulah yang akan membuat orang yang berpuasa akan memperoleh pahala yang besar. Selain itu, orang yang telah berhasil berpuasa selama sebulan penuh saat bulan

Ramadaan sungguhnya telah

memperlihatkan suatu kualitas ketahanan iman yang baik. Hal itu disebabkan sesungguhnya orang yang berpuasa itu tidak ada yang mengetahui kecuali hanya dirinya dengan Allah Swt. Berbeda dengan amalan seperti salat yang dapat terlihat oleh orang lain. Amalan berpuasa sangat rahasia sifatnya. Bisa saja orang yang telah batal puasanya masih mengaku dirinya berpuasa karena pada saat dia telah batal tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya. Oleh sebab itu, sekali lagi dikatakan sesungguhnya orang yang berpuasa itu tidak ada yang mengetahui kecuali hanya dirinya dengan Allah Swt. d. Soul and body will be purified

It happens when tithe has been giving ‘Sucilah jiwa, sucilah badan

Bila zakat telah dikeluarkan’

Gurindam ini memiliki makna bahwa kesucian jiwa dan badan dapat diperoleh melalui perantara pengamalan

zakat. Hal itu disebabkan zakat harta mengajarkan manusia untuk tidak tamak terhadap harta kekayaan itu sendiri. Orang yang berzakat diajarkan bahwa dalam harta yang dimilikinya itu terdapat hak atau harta orang-orang fakir dan miskin. Dengan demikian, orang yang berzakat diajarkan untuk berbagi terhadap sesama manusia, mengetahui dan berempati terhadap orang-orang yang berkekurangan. Sikap empati terhadap orang-orang miskin akan menimbulkan rasa kasih dan sayang kepada orang-orang tak berpunya. Zakat mengajarkan manusia untuk tidak menjadi sombong karena kekayaan yang dimiliki. Orang yang berzakat akan semakin menyadari bahhwa harta yang dimilikinya semata-mata hanyalah titipan dari Allah Swt yang suatu saat nanti akan ditinggalkannya.

Zakat sesungguhnya dapat

dibaratkan seperti orang yang makan kemudian mengeluarkan kotoran yang dibuangnya. Kotoran tersebut memang harus dibuang agar tetap sehat dan tidak sakit. Kotoran itu dalam harta kekayaan juga harus dikeluarkan, yaitu berupa zakat agar sang pemiliki kekayaan tidak sakit jiwa dengan menganggap bahwa harta kekayaan merupakan segalanya di dunia ini.

e. Not all people are able to go for hajj Except, the hajj requirement is fullfilled ‘Taklah semua orang wajib berhaji Kecualilah semua syarat terpenuhi’

Gurindam ini memiliki makna bahwa ibadah haji hukumnya tidak wajib bagi semua umat Islam. Kewajiban ibadah haji hanya dibebankan kepada orang yang mampu. Hal itu disebabkan ibadah haji memerlukan dana yang tidak sedikit. Selain itu, aktivitas ibadah haji juga berkaitan dengan ketahan fisik seperti tawaf mengelilingi kabah, lari-lari kecil antara safa dan marwah dan lain-lain. Berkenaan dengan dana, tidak semua orang Islam terkategorikan sebagai orang yang kaya sehingga mampu membiayai ibadah haji. Bagi yang tidak mampu secara ekonomi, mereka termasuk orang-orang

(9)

9

yang tidak berkewajiban melaksanakan ibadah haji. Selain itu, orang-orang yang sudah tidak memiliki ketahanan fisik yang memungkinkannya melaksanakan ibadah haji juga termasuk orang-orang yang tidak diwajibkan ibadah haji.

Ibadah haji dapat dilaksanakan oleh

orang-orang yang mampu secara

persyaratan. Baik persyaratan ekonomi, kesehatan, keluarga yang ditinggalkan dan lain-lain. Bagi orang-orang yang justru sudah memenuhi persyaratan untuk dapat melaksanakan ibadah haji, tetapi tetap tidak mau melaksanakan ibadah haji, Allah Swt. menegaskan dalam Alquran bahawa Dia sesungguhnya maha kaya dan tidak memerlukan apapun dari makhluknya.

Dengan demikian, dapat ditarik

kesimpulan bahwa kebaikan ibadah haji itu sebenarnya adalah untuk manusia itu sendiri.

Makna Gurindam Banjar yang Berkaitan dengan Akhlak

a. Be loyal and obey to your parent That’s good manner that bring bless

‘Dengan orang tua hendaklah hormat Itulah akhlak mulia mengangkat derajat’

Gurindam ini memiliki makna bahwa menghormati orang tua merupakan bagian dari akhlak yang baik. Hal itu disebabkan orang tua adalah orang yang membesarkan dan mendidik

dari semenjak bayi sampai dewasa. Bahkan ibu adalah orang yang mengandung dan melahirkan. Oleh sebab itu, tidak heran bila dalam ajaran Islam dikatakan bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Dengan sendirinya menghormati kedua orang tua merupakan kewajiban seorang anak kepada orang tuanya. Islam mengajarkan untuk jangan durhaka terhadap orang tua. Bahkan durhaka terhadap orang tua terkategori dosa besar.

Bila seorang anak hormat dan berbakti kepada orang tua, dapat dipastikan anak tersebut juga termasuk orang yang baik. Hal itu disebabkan hanya anak yang berakhlak baik yang dapat menempatkan

posisi orang tua sebagai orang yang dimuliakan.

b. When one’s life becomes a giver That’s a blessing moral

Bilalah hidup menjadi pemberi Itulah akhlak yang diberkati

Gurindam ini memiliki makna bahwa menjadi seorang yang pemurah atau dermawan merupakan berkah dari Allah Swt. kepada hambanya. Bahkan Allah melalui Alquran memuji orang-orang yang terhindar dari kekikiran dirinya. Orang yang dermawan merupakan rahmat bagi manusia yang berada di sekilingnya. Apalagi bila sifat kedermawanannya itu didasarkan kepada keinginan untuk mendapatkan keridaan Tuhannya. Hal itu disebabkan, harta seorang manusia yang sesungguhnya adalah harta yang telah disedekahkan dan diinfakkan di jalan Allah Swt. Harta yang disimpan atau ditimbun sebenarnya bukan harta manusia yang sesungguhnya, melainkan suatu saat kelak akan menjadi harta warisan.

Allah menjamin orang-orang yang rajin bersedekah tidak akan jatuh miskin. Bahkan bisa jadi hartanya akan bertambah menjadi berlipat ganda. Dengan demikian, orang-orang yang dianugerahi sifat pemberi atau dermawan sesungguhnya memiliki akhlak yang terpuji dan terberkati.

PENUTUP

Gurindam sebagai bentuk puisi lama sesungguhnya tidak dikenal dalam khazanah sastra lisan masyarakat Banjar. Sastra lisan Banjar yang berbentuk puisi hanya terdiri atas madihin, pantun, syair, peribahasa, dan mantra Banjar. Namun, di tahun 2014 lalu muncul sebuah karya berupa buku gurindam dari seorang sastrawan dan budayawan Banjar, yaitu Haji Iberamsyah Barbary yang berjudul Banjar Negeri Harum 1001 Gurindam.

Gurindam karya Iberamsyah

Barbary ini kemudian dinamakan

(10)

10

ini banyak memuat aspek-aspek ajaran Islam, yang menyangkut akidah, ibadah, dan akhlak. Pemaknaan terhadap gurindam

Banjar ini dilakukan untuk

mengeksplisitkan makna yang terkandung dalam gurindam Banjar itu sendiri.

Berdasarkan analisis makna yang dilakukan dapat diketahui bahwa gurindam Banjar yang mengandung aspek ajaran Islam berupa akidah menjelaskan tentang pentingnya syahadat berupa ikrar atau janji yang akan mengantarkan manusia kepada keselamatan. Selain itu, meyakini tentang

keesaan Tuhan merupakan ajaran

kebenaran yang sesungguhnya. Hal itu disebabkan, Tuhan itu adalah esa dan tidak ada sekutu baginya.

Gurindam Banjar yang

mengandung aspek ajaran Islam berupa ibadah menjelaskan tentang pentingnya salat di dalam kehidupan ini. Selain itu, mengerjakan puasa di bulan Ramadan, mengeluarkan zakat, pergi haji bila mampu merupakan bentuk-bentuk ibadah dalam Islam yang dapat memberikan kebaikan

yang banyak bagi orang yang

mengerjakannya.

Gurindam Banjar yang

mengandung aspek ajaran Islam berupa akhlak menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua dan memiliki sifat yang dermawan merupakan sebuah perwujudan akhlak yang baik. Dengan demikian,

Gurindam Banjar merefleksikan

pandangan hidup dari masyarakat Banjar itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

A-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 2017. “‘Pengertian Ibadah Dalam Islam.’” Ahlussunnah Palembang. http://salafiunsri.blogspot.com/2009/0

6/pengertian-ibadah-dalam-islam1.html (September 30, 2017). Atar., Semi. M. 2012. Metode Penelitian

Sastra. Bandung: Angkasa Jaya. Azmi, Ulul dan Rusli Zainal. 2016. “Nilai

Akidah Dalam Gurindam Dua Belas

Karya Raja Ali Haji.” Jurnal Ilmu Budaya 3(1): 21—28.

Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Fauzan., Salih bin fauzan bin Abdullah Al. 2000. Kitab Tauhid I. 2nd ed. Jakarta: Yayasan Al-Sofwa.

Ganie, Tajuddin Noor. 2006. Pintu Masuk Ke Rumah Sastra Banjar. Cetakan I. Banjarmasin: Rumah Pustaka Folklor Banjar.

———. 2011. Sastra Banjar Genre Lama Bercorak Puisi. Banjarmasin: Rumah Pustaka Karya.

Iberamsyah Barbary. 2014. Banjar Negeri Harum 1001 Gurindam. Jakarta: Yayasan Kamar Sastra Nusantara. Ilyas, Griven H. Putera, dan Muliardi.

2020. “Nilai Pendidikan Islam Dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji.” Jurnal Ilmu Budaya 16(2): 120—139.

Jarkasi. 2001. Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Balai Bahasa Banjarmasin.

Moleong, Lexy. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Muhammad. 2007. Aspek Hukum dalam Muamalat. (Cet. I). Yogyakarta: Graha ilmu.

Nengsih, Sri Wahyu. 2016. “Makna Ungkapan Idiomatik Dalam Kisdap Julak Ahim Karya Jamal T. Suryanata.” In Bunga Rampai Bahasa

Hasil Penelitian Kebahasaan

Semantik dan Wacana, Banjarbaru: Balai Bahasa Kalimantan Selatan, 1— 27.

Nofmiyati. 2019. “Nilai-Nilai Moral-Education Di Lingkungan Masyarakat Sosial dalam Gurindam Dua Belas

(11)

11

Karya Raja Ali Haji.” Jurnal Madania 9(1): 354—372.

Nurliana. 2019. “Nilai Teologi Dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji.” Jurnal El Furqania 5(2): 181— 195.

Penyusun, Tim. 2015. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Rahayu, Sri dan Alber. 2019. “Nilai-Nilai Budaya Dalam Gurindam Tunjuk Ajar Melayu Karya Tenas Effendy.” Jurnal Geram 7(1): 90—100.

Saefuddin. 2020. “Membuka Jendela Pantun Kehidupan: Suatu Refleksi Kegelisahan Iberamsyah Barbary Dalam Berkarya.” Telaga Bahasa 8(2): 269--282.

Sapto. 2018. Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji. Bandung: Kiblat Buku Utama. Sirait, Lisken. 2018. “Revitalisasi

Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji Sebagai Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Etnis Melayu.” Jurnal Sosietas 8(1): 446—451.

Suroso dan Santoso, Puji. 2009. Estetika: Sastra, Sastrawan, Dan Negara. Yogyakarta: Pararaton.

(12)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan produksi stearin sebagai indikator pengembangan produk turunan sawit sebesar 20 persen berdampak pada peningkatan ekspor produk

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Surabaya angkatan 2011 – 2014 yang berbelanja pakaian wanita

Sedangkan SSH Forwarding lebih pada penyaluran informasi yang hanya server local dan client yang meminta respon saja yang dapat berkomunikasi, sehingga client

Pada dasarnya kesimpun hanyalah suatu bagian dari suatu yang utuh, karena biayar bagaimanapun penarikan kesimpulan juga dilakukan selama penelitian berlangsung.

Dari hasil penelitian peneliti bahwa responden rata-rata suka menyempatkan waktu ke perawatan kecantikan dimana untuk membersihkan komedo diwajah, sulam alis, sulam

konstruksilainnya.supplier peralatan Quality Control dan Geoteknik untuk peralatan kualitas Konstruksi Jalan, Jembatan, Gedung-gedung, Dam, dan konstruksi teknik sipil lainnya,

Dari hasil komparasi antara beberapa perangkat hijau dunia serta dengan penerapan perangkat penilaian greenship kawasan berkelanjutan pada kawasan perumahan hijau,

Sebagai wujud penggunaan teknologi kepolisian yang telah digunakan Satres Narkoba Polres Agam, software tersebut mampu memetakan jaringan komunikasi pada berbagai