• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KONSUMSI PREMNA OBLONGIFOLIA MEER TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH KONSUMSI PREMNA OBLONGIFOLIA MEER TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

E-ISSN 2655 – 2310

PENGARUH KONSUMSI PREMNA OBLONGIFOLIA MEER

TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN

HIPERTENSI

Nurchairina*◊, Nyimas Aziza* *Jurusan Kebidanan Poltekkes Tanjungkarang Corresponding Outhor: [email protected]

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Salah satu pengobatan non farmakologi untuk mengontrol tekanan darah tinggi dengan salah satu tanaman obat yaitu dengan daun cincau/premna oblongfolia Merr, akan tetapi belum banyak masyarakat yang mengetahuinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsumsi premna oblongifolia meer terhadap tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen model pretest dan post test untuk mengetahui perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah mengkonsumsi premna oblongifolia meer/cincau hijau. Populasi penelitian adalah lansia yang penderita hipertensi jumlah sampel 16 responden. Teknik mengumpulkan data dengan wawancara dan observasi menggunakan alat sphygnomanometer. Analisis data dengan menggunakan uji T dependen. Hasil uji statistik didapatkan nilai p= 0,000, maka disimpulkan ada pengaruh konsumsi premna oblongifolia meer terhadap tekanan darah lansia yang mengalami hipertensi. Saran untuk petugas di puskesmas, agar setiap bulan dapat memberikan penyuluhan tentang kebiasaan hidup sehat bagi lansia terutama mengenai mamfaat cincau hijau bagi yang mengalami hipertensi.

Kata kunci: hipertensi, premna oblongifolia meer, lansia

LATAR BELAKANG

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit

dalam keadaan cukup

istirahat/tenang.Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai. (Kemenkes RI,2012)

Hipertensi pada usia lanjut menjadi lebih penting lagi mengingat bahwa patogenesis, perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya tidak seluruhnya sama dengan hipertensi pada usia dewasa muda. Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi beriringan dengan bertambahnya usia, hal ini karena sifat elastis dari pembuluh darah menjadi berkurang dan dinding pembuluh darah arteri menjadi kaku dengan bertambahnya usia, sehingga menyebab kan

penyempitan dari pembuluh darah serta aliran darah kejaringan dan organ–organ tubuh menjadi berkurang (Gray et al., 2005).

Pada umumnya tekanan darah akan bertambah tinggi dengan bertambahnya usia pasien, dimana tekanan darah diastolik akan sedikit menurun sedangkan tekanan sistolik akan terus meningkat. Ada dua hal yang membuat tekanan darah meningkat, yaitu

meningkatnya volume darah dan

penyempitan pembuluh darah. Jika hipertensi tak tertangani dan terus meninggi yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke), bahkan, bisa mengakibatkan kehilangan nyawa.

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2012 hipertensi adalah salah satu yang memegang andil yang penting untuk penyakit jantung dan stroke yang dapat menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomor satu. Hipertensi berkonstribusi hampir 9,4 juta kematian akibat penyakit kardiovaskuler setiap tahunnya. Hipertensi yang tidak mendapat penanganan yang baik

(2)

E-ISSN 2655 – 2310

menyebabkan komplikasi seperti Stroke, Penyakit Jantung Koroner, Diabetes, Gagal Ginjal dan Kebutaan. Stroke (51%) dan

Penyakit Jantung Koroner (45%)

merupakan penyebab kematian

tertinggi.Kerusakan organ target akibat komplikasi Hipertensi akan tergantung kepada besarnya peningkatan tekanan darah dan lamanya kondisi tekanan darah yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Organ-organ tubuh yang menjadi target antara lain otak, mata, jantung, ginjal, dan pembuluh darah arteri perifer itu sendiri.

Data World Health Organization (WHO) tahun 2011 menunjukkan satu milyar orang di dunia menderita Hipertensi, 2/3 diantaranya berada di negara berkembang yang berpenghasil an rendah sampai sedang. Prevalensi Hipertensi akan terus meningkat tajam dan diprediksi pada tahun 2025 sebanyak 29% orang dewasa di seluruh dunia terkena Hipertensi. Prevalensi Hipertensi nasional berdasarkan Riskesdas 2013 sebesar 25,8%, tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung (30,9%), sedangkan terendah di Papua sebesar (16,8%) (Kemenkes 2013) dan meningkat menjadi 34,1 % pada tahun 2018 (Kemenkes RI, 2018). Prevalensi hipertensi lansia di Indonesia sebesar 45,9% untuk umur 55-64 tahun, 57,6% umur 65-74 tahun dan 63,8% umur >75 tahun (Rahajeng & Tuminah, 2009). Prevalensi hipertensi di provinsi Lampung berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah yaitu 24,7%. Sedangkan prevalensi hipertensi provinsi Lampung berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7,4%. Berdasarkan Profil kesehatan provinsi Lampung, penyakit hipertensi merupakan peringkat pertama penyakit tidak menular yaitu 84.348 penderita dari 316.825 penduduk yang dilakukan pemeriksaan tekanan darah dengan prevalensi 30%, dan untuk kabupaten Lampung Selatan jumlah penderita sebanyak 17.804 dari 45.808 penduduk yang dilakukan pemeriksaan tekanan darah (Dinkes Provinsi Lampung, 2016). . Hasil pemantauan di wilayah Puskesmas Tanjung Bintang pada bulan Agustus 2018 diketahui dari 34 lansia pengunjung terdapat 17 lansia (50%) yang menderita hipertensi.

Upaya pencegahan dan penang gulangan hipertensi sangat diperlukan. Pada prinsipnya ada dua macam terapi yang bisa dilakukan, yaitu terapi farmakologis dan non farmakologis. Terapi non farmakologis dapat dilakukan dengan terapi herbal menggunakan tanaman tradisional. Salah satu tanaman yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam mengatasi hipertensi adalah tanaman cincau hijau atau Cyclea barbata Miers (Shadine, 2010).

Daun cincau (Cyclea barbata) merupakan salah satu pengobatan non farmakologi untuk mengatasi hipertensi. Kandungan yang ada pada daun cincau, salah satu kandungannya yaitu flavonoida yang dapat menurunkan aktivitas ACE (Anginotensin Converting Enzym) sehingga dapat menurunkan kadar angiotensin II yang memberikan hasil akhir terkontrolnya tekanan darah (LIPI, 2009 dalam Nurhidayah, 2012).

Dalam sebuah penelitian manfaat daun cincau untuk mengobati penyakit tekanan darah tinggi pernah dilakukan di tahun 1966 oleh Sardjito, Rajiman dan Bambang Suwito dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogya karta. Pada penelitian itu pasien diberi daun cincau segar sebanyak 5 gram yang digerus dengan 150cc air matang kemudian diperas. Air perasan itu diberikan kepada pasien untuk di minum dua kali sehari. Uji coba itu dilakukan kepada pasien tekanan darah tinggi dengan usia diatas 40 tahun. Hasilnya pasien mengalami penurunan tekanan darah secara signifikan. Seorang pasien usia 70 tahun dan tekanan darahnya mencapai 215/120 mmHg mengalami penurunan tekanan darah menjadi 160/100 mmHg dalam satu bulan setelah mengonsumsi cincau. Keluhan setelah mengonsumsi daun cincau yaitu pusing berkurang, sering lelah berkurang dan berat badan turun . Penelitian Lokesh dan Amitsankar (2012) menyatakan bahwa kandungan zat aktif flavonoid menunjukkan hubungan nyata sebagai antihepatotoksik, anti-HIV 1, anti-tumor, anti-inflamasi dan dapat memberikan efekvasodilatasi terhadap pembuluh darah yang membantu melindungi fungsi jantung.

(3)

E-ISSN 2655 – 2310

Penelitian lain yang dilakukan oleh Haber dan Gallus (2012) membuktikan bahwaflavonoid pada coklat hitam dapat memperlancar aliran darah pada arteri brachialis. Demikian pula Tatriyani, Harmilah (2012) juga meneliti tentang Pengaruh Pemberian Cincau Terhadap Tekanan Darah pada Lansia Usia yang Hipertensi Di Posyandu Lansia Desa Trimulyo Jetis Bantul. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa 22 orang responden disimpulkan pemberian cincau berpengaruh terhadap penurunan tekanan sistolik dan diastolik pada lansia perempuan yang menderita hipertensi.

Sundari, Amalia dan Ekawidyanin dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia Institusi Pertanian Bogor, (2014) meneliti Pengaruh Konsumsi Minuman Cincau Hijau Terhadap Penurunan Darah Pada Wanita Dewasa Penderita Hipertensi Ringan Dan Sedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi cincau hijau setiap hari bisa membantu menurunkan tekanan darah pada wanita penderita hipertensi ( sistolik dengan rata-rata penurunan sebesar 20-25 mmHg (p<0,05) diastolik dengan rata-rata penurunan sebesar 14-15 mmHg (p <0,05).

Penelitian Katrin et al (2012) menyatakan aktivitas antioksidan yang paling kuat terdapat pada daun cincau hijau yang dideteksi ini merupakan komponen alkaloid dan flavonoid yang banyak terdapat dalam klorofil daun cincau. Peran aktif pada klorofil cincau hijau dapat memperbaiki pembuluh darah dan menurunkan kadar kolestrol darah. Penurunan kolestrol dalam darah dapat menurunkan terjadinya aterosklerosis, sehingga elastisitas pembuluh darah akan meningkat dan resistensi pembuluh darah akan menurun sehingga tekanan darah akan menurun.

Hasil studi pendahuluan di Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Bintang pasien hipertensi mengobati hipertensinya dengan obat yang dapat menyebabkan penderita hipertensi enggan untuk mengonsumsi obat hipertensi dan ada juga yang pernah menggunakan cincau hijau /Premna oblongifolia Merr, namun belum banyak yang mengetahuinya.

METODE

Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian pre eksperimen dengan desain pre eksperimen one grup pre test post test. Populasi penelitian semua lansia yang mengalami hipertensi sedang sampel adalah wanita lansia berumur 60 tahun ke atas yang mengalami hipertensi tingkat ringan dan

sedang (16 orang). Teknik yang digunakan

untuk mengumpulkan data penelitian ini menggunakan wawancara, dan observasi. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik subjek dan tekanan darah. Data karekteristik meliputi usia, pendidikan, pekerjaan diperoleh dengan wawancara terstruktur. Data tekanan darah (sebelum, sesudah intervensi) diperoleh langsung

dengan pengukuran menggunakan

tensimeter/sphignomanometer. Selanjutnya data dianalisa secara univariat menggunakan nilai mean (rata-rata), median, standar deviasi, minimal dan maksimal dan 95 % CI dan analisa bivariat menggunakan uji T dependen yaitu membandingkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi antara sebelum dengan sesudah treatment.

HASIL

Analisis Univariat

Tabel 1: Distribusi usia responden Variabel Mean SD Minimal –

Maksimal 95 % CI Umur

responden 67 4,69 60 – 75 64,5 -69,5 Hasil analisis didapatkan rata rata umur responden adalah 67 tahun (95 % CI 64,5 -69,5) dengan standar deviasi 4,69. Umur terendah 60 tahun dan tertinggi 75 tahun. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95 % CI diyakini bahwa rata rata umur responden adalah diantara 64,5 tahun sampai dengan 69,5 tahun.

(4)

E-ISSN 2655 – 2310

Tabel 2: Distribusi pekerjaan responden

Pekerjaan f %

Petani 9 56,3

Ibu Rumah Tangga 7 43,8

Total 16 100

Distribusi pekerjaan responden hampir merata, petani (56,3 %), sedangkan yang murni ibu rumah tangga lebih sedikit (43,8 %)

Tabel 3: Distribusi pendidikan responden

Pekerjaan f %

SD 13 81,3

SMP 3 18,7

Total 16 100

Distribusi pendidikan responden lebih banyak SD (81,3 %), sedangkan yang SMP lebih sedikit (18,7 %)

Tabel 4: Distribusi Tekanan Darah Sistole Lansia sebelum perlakuan

TD sistole Mean SD Minimal

Maksimal 95 % CI Sebelum

perlakuan 164,38 5,123 160 - 170

161,64 -167,11 Hasil analisis didapatkan rata rata tekanan darah sistole sebelum perlakuan 164,38 mmHg dengan standar deviasi 5,123 mmHg, dengan nilai terendah 160 mmHg dan tertinggi 170 mmHg. Dari hasil estimasi interval 95 % CI diyakini bahwa rata rata tekanan darah systole lansia sebelum perlakuan diantara 161,64 - 167,11 mmHg. Tabel 5: Distribusi Tekanan Darah Sistole

Lansia setelah perlakuan TD sistole Mean SD Minimal -

Maksimal 95 % CI Setelah

perlakuan 146,88 7,932 130 – 160

142,65 151,10 Hasil analisis didapatkan rata rata tekanan darah sistole lansia setelah perlakuan adalah 146,88 mmHg dengan standar deviasi 7,932 mmHg. Tekanan Darah sistole terendah 130 mmHg dan tertinggi 160

mmHg. Dari hasil estimasi interval 95 % CI diyakini bahwa rata rata tekanan darah sistol lansia setelah perlakuan adalah diantara 142,65 mmHg sampai dengan 151,10 mmHg. Tabel 6: Distribusi TD Diastole sebelum

perlakuan

TD diastole Mean SD Minimal

Maksimal 95 % CI Sebelum

perlakuan 102,81 5,764 100 - 120 99,74 -105,88 Hasil analisis didapatkan rata rata tekanan darah diastole lansia sebelum perlakuan adalah 102,81 mmHg dengan standar deviasi 5,764 mmHg. Tekanan Darah diastole terendah 100 mmHg dan tertinggi 120 mmHg. Dari hasil estimasi interval 95 % CI diyakini bahwa rata rata tekanan darah diastole lansia sebelum perlakuan adalah diantara 99,74 mmHg sampai dengan 105,88 mm Hg.

Tabel 7: Distribusi Tekanan Darah Diastole Lansia setelah perlakuan

TD diastole Mean SD Minimal

Maksimal 95 % CI Setelah

perlakuan 89,38 5,737 80 - 100 86,32 -92,43 Hasil analisis didapatkan rata rata tekanan darah diastole lansia setelah perlakuan adalah 89,38 mmHg dengan standar deviasi 5,737 mmHg. Tekanan Darah diastole terendah 80 mmHg dan tertinggi 100 mmHg. Dari hasil estimasi interval 95 % CI diyakini bahwa rata rata tekanan darah diastole lansia setelah perlakuan adalah diantara 86,32 mmHg sampai dengan 92,43 mmHg.

Analisa Bivariat

Tabel 8: Distribusi rata rata tekanan darah sistole lansia sebelum dan sesudah perlakuan

TD sistole Mean SD SE p Value n Sebelum 164,38 5,123 1,281

0.000 16 Sesudah 146,88 7,932 1,983

(5)

E-ISSN 2655 – 2310

Rata rata tekanan darah sistole sebelum perlakuan sebesar 164,38 mmHg dengan standar deviasi 5,123 mmHg dan setelah perlakuan sebesar 146,88 mmHg dengan standar deviasi 7,932 mmHg. Sehingga terdapat selisih keduanya sebesar 17,500 mmHg dengan standar deviasi 6,831 mmHg. Hasil uji statistik didapatkan nilai p= 0,000 maka disimpulkan ada perbedaan antara tekanan darah sistole sebelum dan sesudah perlakuan.

Tabel 9: Distribusi rata rata tekanan darah diastole lansia sebelum dan sesudah perlakuan

TD diastole Mean SD SE p Value n Sebelum 102,81 5,764 1,441

0.000 16 Sesudah 89,38 5,737 1,434

Rata rata tekanan darah diastole sebelum perlakuan sebesar 102,81 mmHg dengan standar deviasi 5,764 mmHg dan setelah perlakuan sebesar 89,38 mmHg dengan standar deviasi 5,737 mmHg. Sehingga didapatkan selisih keduanya sebesar 13,438 mmHg dengan standar deviasi 4,732 mmHg. Hasil uji statistik didapatkan nilai p= 0,000 maka disimpulkan ada perbedaan antara tekanan darah diastole sebelum dan setelah perlakuan.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui usia responden rata rata 67 tahun, usia terendah 60 tahun dan tertinggi 75 tahun. Hal ini sesuai dengan teori bahwa Peningkatan tekanan darah setelah umur 45 tahun merupakan perubahan fisiologis pada tubuh ketika umur seseorang semakin tua maka dinding pembuluh darah mengalami penumpukan zat - zat kolagen pada lapisan otot sehingga terjadi penebalan dan penyempitan dipembuluh darah dan ketika bertambahnya usia maka kelenturan pembuluh darah akan berkurang (Aisyah, 2011).

Hasil Penelitian menunjukan ada perbedaan rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah pemberian

premna oblongifolia meer. Hal ini sejalan dengan penelitian Tatriyani, Harmilah (2012) bahwa ada pengaruh konsumsi cincau hijau terhadap tekanan darah. Secara umum kandungan daun cincau hijau adalah karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta mineral-mineral dan vitaminvitamin,di antaranya kalsium, fosfor, dan vitamin A serta vitamin B. Penelitian lain menyatakan bahwa daun cincau mengandung serat pektin dan aktivitas antioksidan yang sangat tinggi.Kandungan bioaktif daun cincau salah satunya fenol yang dalam sebuah penelitianbaru-baru ini mengandung 217.80 µg/ml. Dalam peranannya sebagai penurun hipertensi, senyawa bioaktif berperan dalam 3 peran. Yang pertama sebagai angiostensin receptor blocker (ARB), sebagai senyawa yang membantu mempercepat pembentukan urin (diuretik), dan juga menjadi antioksidan dalam proses stress oksidatif.

Senyawa bioaktif memiliki peran penting dalam mekanisme antihipertensi. Cara kerja senyawa bioaktif langsung menuju ke pusat jaringan, seperti jantung, vascular, dan sistem syaraf. Kenaikan tekanan darah akan menyebabkan vasokonstriksi pada pembuluh darah. Senyawa bioaktif langsung bekerja pada sistem syaraf melalui mekanisme simpatolitik dan atau parasimpatomimetik, yaitu relaksasi otot atau melalui syaraf pusat. Kerja simpatolitik yaitu dengan cara menurunkantekanan darah melalui penurunan curah jantung melalui penghambatan reseptor ß1, mendilatasi pembuluh darah melalui penghambatan reseptor a1 atau ß2. Bisa juga dengan cara menghambat pelepasan neurotransmitter andregenik.

Pada proses penurunan tekanan darah, senyawa bioaktif berperan sebagai penghambat reseptor a dan ß serta membantu dalam proses diuretik. Senyawa bioaktif bekerja menuju pusat jaringan yaitu sebagai a1 blocker. Pada mekanisme hipertensi, angeostensin II menempel pada reseptor a1 yaitu reseptor yang mengatur kerja pembuluh darah sehingga akan menyebabkan vasokonstriksi. senyawa bioaktif akanmenempel pada reseptor tersebut, sehingga angeostensin II tidak bisa

(6)

E-ISSN 2655 – 2310

menempel kembali yang mengakibatkan renggangnya kembali pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga darah akan mudah mengalir kejantung.Senyawa bioaktif juga menurunkan curah jantung yang menempel pada reseptor ß1 yaitu berfungsi dalam menurunkan tekanan perifer pada jantungsehingga otot-otot pada jantung dapat memompa darah dengan mudah serta menurunkan kemungkinan pecahnya arteri.Senyawa ini juga mempengaruhi reseptor ß2.Diuretik sendiri mempunyai 2 arti dalam penerapannya, arti yang pertama yaitu menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan kedua

menunjukkan jumlah pengeluaran

(kehilangan) zat-zat nterlarut dalam air. Diuretik bermanfaat dalam pengobatan barbagai penyakit yang berhubungan dengan retensi abnormal garam dan air dalam kompertemen ekstraseluler salah satunya hipertensi.

Senyawa bioaktif yang berperan dalam diuretik yaitu tannin. Tannin secara umum didefinisakan sebagai senyawa polifenol yang membentuk kompleks dengan protein dan merupakan senyawa terbesar kedua yang menyusun fenol. Senyawa yang diduga berpengaruh pada aktivitas diuretik adalah flavonoid.Kandungan flavonoid dikaitkan dengan efek perlindungan terhadap fungsi endotel dan menghambat agregasi platelet, sehingga dapat menurunan resiko penyakit

jantung koroner,penyakit

kardiovaskuler.Flavonoid dapat

meningkatkan urinasi dan pengeluaran elektrolit melalui pengaruhnya terhadap kecepatan filtrasi glomerulus (GFR) dalam kapsula bowman. Flavonoid berfungsi layaknya kalium, yaitu meabsorbsi cairan ion-ion elektrolit seperti natrium yang yang ada didalam intraseluler darah untuk menuju

ekstraseluler memasuki tubulus

ginjal.Glomerular filtration rate (GFR) yang tinggi akibat adanya aktivitas flavonoid tersebut menyebabkan ginjal (pada tubulus proksimal sebanyak 65% dan ansa henle sebanyak 25%) mampu mengeluarkan produk buangan dari tubuh dengan cepat, selain itu dapat menyebabkan semua cairan tubuh dapat difiltrasi dan diproses oleh ginjal (pada tubulus kolingetes) sepanjang waktu

setiap hari hari serta mampu mengatur volume dan komposisi cairan tubuh secara tepat dan cepat.

Antioksidan lain yang dapat membantu turunnya tekanan darah adalah serat pangan ataupolisakarida. Serat pangan berpengaruh pada peningkatan pengeluaran kolesterol melalui feses dengan jalan meningkatkan waktu transit bahan makanan melalui usus kecil. Selain itu konsumsi serat sayuran dan

buah akan mempercepat rasa

kenyang.Keadaan ini menguntungkan karena dapat mengurangi pemasukan energy dan obesitas, dan akhirnya akan menurunkan risiko hipertensi dengan mengurangi vasodilatasi pembuluh darah.

Menurut peneliti penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi ini juga karena rata rata pasien adalah ibu rumah tangga dan petani, dimana kepatuhan dan keinginan sehat sngat tinggi ,juga komunikasi antar warga intens ,sehingga budaya saling mengingatkan untuk meminum cincau secara teratur dapat dilakukan. Untuk itu bagi petugas kesehatan diwilayah kerja Tanjung Bintang setiap bulan sekali dapat memberi penyuluhan bagi lansia untuk membiasakan pola hidup sehat, termasuk minum cincau bagi yang hipertensi.

KESIMPULAN

Ada pengaruh konsumsi premna oblongifolia meer terhadap tekanan darah lansia yang mengalami hipertensi. Sehingga disarankan agar petugas di puskesmas setiap bulan dapat memberikan penyuluhan tentang kebiasaan hidup sehat bagi lansia terutama mengenai mamfaat cincau hijau bagi yang mengalami hipertensi..

DAFTAR PUSTAKA

Dinkes Provinsi Lampung.(2016). Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2015. Bandar Lampung: Dinkes Provinsi Lampung.

Haber, S. L. dan Gallus, K. (2012). Effects of Dark Chocolate on Blood Pressure in Patients with Hypertension. Am J Health-Sys Pharm. 69 (15).1287-1293.

(7)

E-ISSN 2655 – 2310

Katrin, Elya B, Shodiq AM. (2012). Aktivitas antioksidan ekstrak dan fraksi daun cincau hijau rambat (Cyclea Barbata Miers.) serta identifikasi golongan senyawa dari fraksi paling aktif. Journal Bahan Alam Indonesia 8:118-124

Kemenkes RI (2012). Infodatin Hipertensi: Mencegah dan Mengontrol Hipertensi Agar Terhindar dari Kerusakan Organ

Jantung, Otak dan Ginjal.

www.depkes.go.id/download.php?file= download

Kemenkes RI. (2013). Laporan Riskesdas 2013. Jakarta: Balitbang Kemenkes RI. Kemenkes RI. (2018). Laporan Riskesdas

2018. Jakarta: Balitbang Kemenkes RI. Lokesh, D. dan Amitsankar, D. (2012).

Pharmacognostical Evaluation and Establishment of Quality Parameters of Medical Plants of North-East India Used by Folklore Healers for Treathment of Hypertension. Pharmacognosy Journal. 4:27.

Nurhidayah, R. (2012). Pengaruh Pemberian Cincau Terhadap Tekanan DarahTinggi pada Lanjut Usia yang Menderita Hipertensi di Posyandu LansiaDesa Trimulyo Jetis Bantul. Telaah Jurnal tidak diterbitkan. Malang: Jurusan Ilmu Keperawatan Unbra Malang.

Rahajeng, E dan Tuminah, S. (2009).

Prevalensi Hipertensi dan

Determinannya di Indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia, 59(12).

Shadine, M. (2010). Mengenal Penyakit Hipertensi, Diabetes, Stroke & Serangan jantung. Jakarta: Keen Books.

Sundari, dkk. 2014. Minuman Cincau Hijau (Premna Oblongifolia Merr.) dapat menurunkan Tekanan Darah pada Wanita Dewasa Penderita Hipertensi Ringan dan Sedang. J. Gizi Pangan. 9(3). 203-210.

Tatriyani, Harmilah. 2012. Pengaruh Pemberian Cincau Terhadap Tekanan Darah Tinggi pada Lanjut Usia yang Menderita Hipertensi di Posyandu Lansia Desa Trimulyo Jetis Bantul. Yogyakarta: Jurusan IlmuKeperawatan Poltekes Kemenkes Yokyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pola asuh ayah, pola asuh ibu, dan konsep diri dengan kemandirian belajar pada siswa kelas

Mata kuliah ini memberi kemampuan kepada mahasiswa untuk menerapkan konsep pengorganisasian dan pengembangan Masyarakat dengan pokok bahasan tentang konsep dasar

Teknologi Virtual Reality semakin banyak digunakan dalam visualisasi data pertambangan, simulasi kecelakaan, pelatihan penambang, simulasi peralatan, dan evaluasi

10 Jika sekoci penolong yang memenuhi Peraturan 42 atau 43 yang ada di kapal, harus dilengkapi suatu rentang dewi-dewi yang dilengkapi dengan tali penyelamat dengan panjang

Jika Anda sanggup memahami program kali ini, maka Anda bisa memanfaatkannya untuk membuat aplikasi yang mampu mem-parse masukan dari QLineEdit menjadi isi dari berkas teks..

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa—terlepas dari sikap dan persepsi yang berbeda tentang eksistensinya—bahasa daerah tetap memiliki posisi penting dan

Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan polutan NH 4 Cl dan Pantai, dapat diketahui bahwa kenaikan persentase bahan pengisi silane menyebabkan sudut kontak

Di dalam penelitian yang dilakukan oleh Medi Suhartanto, Berlina Kusuma Riasti yang dimuat di Jurnal Speed Web volume 02 Tahun 2012 yang berjudul “PEMBUATAN WEBSITE SEKOLAH