• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : JUREFA RAYSON ESTOMIHI HABONARAN DONGORAN NIM : TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh : JUREFA RAYSON ESTOMIHI HABONARAN DONGORAN NIM : TUGAS AKHIR"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

i

KELUARGA PELAKU KEWIRAUSAHAAN SOSIAL:

FAKTOR PENDORONG DAN MANFAATNYA (STUDI KASUS

PADA KELUARGA IBU SEPTI PENI WULANDARI,

PENGGAGAS JARIMATIKA, SALATIGA)

Oleh :

JUREFA RAYSON ESTOMIHI HABONARAN DONGORAN NIM : 212011062

TUGAS AKHIR

Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari

Persyaratan-persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS

PROGRAM STUDI : MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2016

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

ABSTRACT

This study focuses on a family that all the members do social entrepreneurship. In detail writer want to obtain the factors that drive the head of the family Mrs. Septi Peni Wulandari become social entrepreneurs, how parents drive their children to become social entrepreneurs, and also the benefits of Social enrepreneurs for personal, family, and community. Data were obtained through interviews with the performer of family social entrepreneurs and secondary informant that analyzed by qualitative method descriptively. The results of this research are emphaty,none such of the parents, passion and talent, experience, the environment, social issues, and the development of IT are the driving force of this family to become the performer of social entrepreneurship. The same Core Value inside family, democratic parenting model, tour de talent and business projects, and Family Strategic Planning are attempts by the family to direct the members to become social entrepreneurs. Benefits that provided by this family for individual and families are having inner satisfaction, add more networking, challenged to solve social issues, become sources of financial support, and for self- development. While the benefits to the local community are to increase economic activity, improve people lives, creating new performer of social entrepreneurs, and reducing poverty.

Keywords: Social Entrepreneurship, Social Entrepreneurship Family, Motivating Factor, Development, Benefits

SARIPATI

Penelitian ini berfokus pada satu keluarga yang seluruh anggotanya menjadi pelaku kewirausahaan sosial. Secara lebih rinci penulis ingin mengetahui faktor yang mendorong kepala keluarga yaitu Ibu Septi Peni Wulandari menjadi pelaku wirausaha sosial, cara kedua orang tua mendorong anak-anaknya menjadi pelaku wirausaha sosial, serta manfaatnya untuk pribadi, keluarga, dan masyarakat. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pelaku wirausaha sosial keluarga dan informan pendukung, serta dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah empati, teladan orang tua, passion dan bakat atau minat, pengalaman, keadaan lingkungan, permasalahan sosial, dan perkembangan IT merupakan faktor pendorong Ibu Septi untuk menjadi pelaku wirausaha sosial. Core value yang sama dalam keluarga, pola asuh demokratis, tour de talent dan proyek bisnis, Family Strategic Planning merupakan upaya yang dilakukan keluarga untuk mendorong anggotanya menjadi pelaku wirausaha sosial. Manfaat yang diberikan oleh keluarga ini terhadap pribadi dan keluarga adalah adanya kepuasan batin, menambah jejaring, merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah sosial, menjadi sumber dukungan finansial, dan pengembangan diri masing-masing pribadi. Sementara manfaat untuk masyarakat sekitar adalah meningkatkan kegiatan ekonomi, meningkatkan taraf hidup masyarakat, menghasilkan social entrepreneur baru, dan mengurangi kemiskinan.

Kata Kunci: Kewirausahaan Sosial, Kewirausahaan Sosial Keluarga, Faktor Pendorong, Pengembangan, Manfaat

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Kewirausahaan sosial ternyata tidak hanya berkembang di luar negeri saja, tetapi di Indonesia juga sudah banyak berkembang. Salah satu pelaku wirausaha sosial yang menarik menurut peneliti adalah keluarga Ibu Septi Peni Wulandari, penggagas Jarimatika yaitu metode berhitung cepat menggunakan jari yang diajarkan ke anak-anak Salatiga. Peneliti tertarik untuk meneliti keluarga ini dikarenakan seluruh anggota keluarga menjadi pelaku wirausaha sosial dan masing-masing pribadi memiliki usaha yang berbeda-beda. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor apa yang mendorong kepala keluarga yaitu Ibu Septi Peni Wulandari menjadi pelaku wirausaha sosial, bagaimana cara kedua orang tua mendorong anak-anaknya menjadi pelaku wirausaha sosial, serta manfaatnya untuk pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Penulis sepenuhnya menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan dan keterbatasan. Terlepas dari hal tersebut, penulis berharap agar karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Salatiga, 1 Juni 2016

(8)

viii

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan berkatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Tugas akhir ini berjudul “Keluarga Pelaku Kewirausahaan Sosial: Faktor Pendorong dan manfaatnya (Studi kasus pada keluarga Ibu Septi Peni Wulandari, Penggagas Jarimatika, Salatiga). Penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, saran, motivasi serta doa dari berbagai pihak selama penulisan tugas akhir ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungannya yaitu kepada:

1. Orang tua saya, Johnson K.S Dongoran dan Ni Made Rai Yuni Sulasmi, beserta anggota keluarga saya yang lain yang telah mendukung baik moril maupun materil serta memberikan semangat, dorongan, dukungan dan doanya dalam penulisan tugas akhir ini.

2. Ibu Ir. Lieli Suharti, MM, Ph.D selaku Dosen Pembimbing penulis yang telah membantu menemukan ide penelitian ini serta meluangkan waktu dalam memberikan masukan, saran dan bimbingan yang baik mulai dari awal penulisan hingga penyelesaian tugas akhir ini.

3. Ibu Septi Peni Wulandari beserta keluarga, karyawannya, dan anggota komunitasnya yang bersedia menjadi narasumber dan topik pembahasan dari tugas akhir ini dengan meluangkan waktunya untuk wawancara dan memberikan data sehingga tugas akhir ini dapat dibuat dengan baik.

4. Bapak Prof. Christantius Dwiatmadja SE., ME., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.

5. Bapak Albert Kristian NAN, SE, MM, Dr, selaku Ketua Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.

6. Ibu Maria Rio Rita SE, MSi, selaku Wali Studi penulis.

7. Ibu Yudi Agustina, selaku Staf Administrasi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.

(9)

ix

8. Seluruh staf pengajar dan staf administrasi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.

9. Teman-teman penulis baik yang berada di dalam dan luar negeri yang selalu mendukung, memberi semangat, doa, serta meluangkan waktu untuk berdiskusi dan juga mendorong penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini.

Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini memiliki keterbatasan dan masih jauh dari sempurna. Meski demikian, penulis berharap kiranya tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Salatiga, 1 Juni 2016

(10)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI.. HALAMAN PERSETUJUAN PENGESAHAN... ABSTRACT DAN SARIPATI...vi

KATA PENGANTAR...vii

UCAPAN TERIMAKASIH...viii

DAFTAR ISI...x

DAFTAR GAMBAR...xii

DAFTAR TABEL...xiii

DAFTAR LAMPIRAN...xiv

1.PENDAHULUAN...1

1.1 Latar BelakangMasalah...1

1.2 Rumusan Persoalan Penelitian:...6

1.3 Tujuan Penelitian:...6

1.4 Manfaat Penelitian:...6

2.TINJAUAN PUSTAKA...8

2.1 Pengertian Kewirausahaan Sosial...8

2.2 Faktor-faktor yang mendorong munculnya Kewirausahaan Sosial...11

2.2.1 Faktor Internal...11

2.2.2 Faktor Eksternal...15

2.3 Upaya mendorong anggota keluarga terlibat dalam kewirausahaan sosial ...17

2.4 Manfaat Kewirausahaan Sosial...19

3. METODE PENELITIAN...23

3.1 Jenis Penelitian...23

3.2 Sumber Informasi dan Narasumber...23

3.3 Teknik Pengumpulan Data...24

3.4 Teknik Analisis Data...25

4. HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN...26

iv ... ... ...v

(11)

xi

4.1 Gambaran umum Narasumber ... 26

4.1.1 Narasumber Kunci ... 26

4.1.2 Narasumber Pendukung ... 36

4.2 Faktor-faktor yang Mendorong Ibu Septi Untuk Menjadi Wirausaha Sosial ... 38

4.2.1 Faktor Internal ... 38

4.2.2 Faktor Eksternal ... 40

4.3 Upaya Keluarga Ibu Septi Mendorong dan Membentuk Anggota Keluarganya Menjadi Pelaku Wirausaha Sosial ... 44

4.4 Manfaat Wirausaha Sosial Terhadap Diri Sendiri dan Keluarga, Serta Terhadap Masyarakat Sekitar ... 50

4.5 Pembahasan ... 55

5. PENUTUP ... 63

5.1 Kesimpulan ... 63

5.2 Keterbatasan Penelitian dan Saran ... 64

REFERENSI ... xiii

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Silsilah Keluarga Dodik-Septi ... 27

Gambar 2: Foto Ibu Septi Peni Wulandari ... 28

Gambar 3: Foto Pak Dodik Mariyanto ... 29

Gambar 4: Foto Enes Kusuma ... 31

Gambar 5: Foto Ara Kusuma ... 33

Gambar 6: Foto Elan J M ... 35

Gambar 7: Pembentuk Core Value dalam Keluarga ... 47

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Profil Singkat Narasumber Pendukung ... 36 Tabel 2: Tahapan ilmu sebagai Ibu rumah tangga Profesional ... 41

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Panduan Wawancara Mendalam Terhadap Ibu Septi Peni Wulandari ... xxi Lampiran 2: Panduan Wawancara Terhadap Karyawan Ibu Septi di Jarimatika dan School of Life Lebah Putih ... xxiii Lampiran 3: Panduan Wawancara Terhadap Member Komunitas Ibu Profesional ... xxiii

(15)

1 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangMasalah

Kewirausahaan merupakan ilmu pengetahuan yang sudah memberikan banyak kontribusi terhadap dunia usaha. Menurut Drucker (1994), kewirausahaan merupakan kemampuan membuat atau menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda, begitupun Steinhoff dan Burgess (1993:35), mengatakan seorang wirausaha adalah orang yang mengelola, menghasilkan, dan berani menanggung segala resiko untuk menciptakan peluang usaha dan usaha baru. Secara garis besar, ilmu kewirausahaan berbicara mengenai peluang atau sesuatu yang baru.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, ilmu kewirausahaan yang tradisional telah menghasilkan cabang ilmu baru dari kewirausahaan itu sendiri yaitu kewirausahaan sosial. Munculnya ilmu ini disebabkan pengertian kewirausahaan itu sendiri yaitu terus berinovasi dan menghasilkan sesuatu yang baru. Raymond (1995) mengungkapkan wirausaha adalah seseorang yang inovatif, kreatif dan mampu mewujudkan kreatifitasnya agar meningkatkan kesejahteraan diri di lingkungan dan masyarakatnya.

Mair dan Marti (2005) menyatakan seiring perkembangan dan perubahan lingkungan usaha, pemahaman mengenai kewirausahaan tidak lagi hanya menekankan pada pencapaian keuntungan pribadi atau profit individual saja, tetapi juga fokus kepada bagaimana caranya usaha tersebut memberikan kontribusi kepada masyarakat. Dengan demikian, ada pembeda antara Kewirausahaan tradisional dengan Kewirausahaan sosial. Hibbert dan Quinn (2005) mengatakan bahwa kewirausahaan sosial adalah pemanfaatan perilaku kewirausahaan yang orientasinya lebih kepada pencapain tujuan sosial serta tidak mengutamakan laba, dan laba yang diperoleh pun diutamakan untuk kepentingan sosial. Ashoka Fellows, sebuah organisasi di bidang kewirausahaan sosial yang didirikan oleh Bill Drayton pada tahun 1980 berdasarkan website online mereka menyebutkan bahwa karakteristik kegiatan wirausaha sosial ada dua yaitu tugas wirausaha sosial ialah mengenali adanya kemacetan atau kemandegan dalam

(16)

2

kehidupan masyarakat dan menyediakan jalan keluar dari kemacetan atau kemandegan itu. Ia menemukan apa yang tidak berfungsi, memecahkan masalah dengan mengubah sistemnya, menyebarluaskan pemecahannya, dan meyakinkan seluruh masyarakat untuk berani melakukan perubahan, dan wirausaha sosial tidak puas hanya memberi “ikan” atau mengajarkan cara “memancing ikan”. Ia tidak akan diam hingga “industri perikanan” pun berubah.

Salah satu bentuk kegiatan kewirausahaan sosial yang terkenal adalah Grameen Bank di Bangladesh yang didirikan oleh Profesor Muhammad Yunus pada tahun 1983. Berdasarkan sumber informasi dari situs resmi Grameen Bank, berdirinya Bank ini berawal dari keinginan Profesor Muhammad Yunus membantu masyarakat kurang mampu di desa yang berada di Bangladesh dengan memberikan mereka pinjaman dengan bunga yang sangat rendah, karena saat itu belum ada orang atau lembaga yang meminjamkan uang dengan bunga yang rendah. Terbukti usaha ini berhasil karena sekarang Grameen bank sudah memiliki 2.564 cabang dengan 19.800 pegawai yang melayani sekitar 8,29 juta nasabah dalam 81.367 desa. Pendapatan dari bank ini sudah mencapai $1,5 juta dalam seminggu, 97% nasabahnya adalah perempuan dikarenakan menurutnya perempuan lebih bertanggung jawab terhadap pengelolaan uang dan terbukti dari para peminjam 97% dibayar kembali atau tidak macet. Tingkat pengembalian sebesar ini sudah sangat tinggi dan melebihi sistem bank-bank lainnya. Oleh karena itu sekarang metode ini sudah banyak diterapkan hingga 58 negara di dunia termasuk Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Belanda, dan Norwegia.

Penelitian tentang kewirausahaan sosial sudah banyak dilakukan, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Ukrania, Kostetska dan Berezyak (2014) mengemukakan social entrepreneurship sebagai generator bagi masyarakat yang berorientasi pengembangan ekonomi dan bagi pengembangan rekomendasi praktis bagi perkembangan Ukrania. Sementara itu, Konda, Stare dan Rodica (2015) memperkenalkan kaitan social innovations dan sustainable growth sebagai fenomena penting dalam ekonomi real dewasa ini. Mereka menciptakan pengembangan social innovation dand social

(17)

3

entrepreneurship di Slovenia. Menurut mereka, hambatan dalam pengembangan social entrepreneurship sangat luas, tidak terkait atau tidak ada mekanisme pedorong serta tidak tersedia imbalan yang sesuai dalam penciptaan dan pengembangan social enterprises. Mereka juga berpendapat bahwa kerjasama dengan mitra dari sektor yang berbeda di masyarakat merupakan dasar yang penting dalam mengerjakan atau melaksanakan social entrepreneurship. Selanjutnya, Habibova dan Zeynalova (2015) menemukan kewirausahaan sosial yang dipromosikan organisasi publik berhasil mengurangi tingkat kemiskinan di Azerbaijan, dan mampu memobilisasi sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Sementara itu, Greblikaite (2012) mengemukakan bahwa penelitian tentang perkembangan kewirausahaan sosial di Lithuania masih sangat kurang dan masih diperlukan usaha lebih banyak oleh para peneliti.

Kewirausahaan sosial ternyata tidak hanya berkembang di luar negeri, tetapi juga di Indonesia. Palesangi (2012) memaparkan cerita sukses dari tiga Wirausaha Sosial Muda Indonesia, yaitu Goris Mustaqim, terkait pemberdayaan pemuda di Garut, Jawa Barat; Elang Gumilang, yang menyediakan rumah sederhana dan sehat khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah; dan M. Junerosano yang mempromosikan gaya hidup ramah terhadap lingkungan. Contoh kegiatan wirausaha sosial lainnya di Indonesia dipaparkan oleh Utomo (2014) antara lain Klinik Asuransi Sampah (KAS) yang dikembangkan oleh Gamal Albinsaid di Malang Jawa Timur yaitu mengolah sampah organik menjadi kompos dan anorganik menjadi kerajinan tangan, lalu dana yang terkumpul digunakan untuk menopang pelayanan kesehatan masyarakat secara komprehensif; Penangkaran Burung Hantu yang ditemukan oleh Bapak Sutejo seorang Kades Tlogoweru Kec. Guntur Kab.Demak, di mana beliau bersama masyarakat desa bersama-sama mengembangbiakkan burung hantu untuk mengatasi hama tikus yang merajalela di desa Tlogoweru; dan Qoriyah Thoyibah yang didirikan oleh Bapak Bahrudin Desa Kalibening, Salatiga yakni sebuah kelompok bermain yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah praktis masyarakat Desa Kalibening, yaitu kebutuhan akan sekolah yang berkualitas dan murah.

(18)

4

Berdasarkan penelitian di atas, kewirausahaan sosial ada yang cakupannya terbatas pada jenis usaha terkait penyelesaian masalah sosial di komunitas tertentu namun ada juga yang mencakup perbaikan ekonomi masyarakat suatu Negara. Kewirausahaan sosial juga memiliki beragam bentuk usaha sosial yang berbeda sesuai dengan yang telah diutarakan di atas. Disamping itu, kewirausahaan sosial juga mencakup keluarga yang melibatkan generasi yang berbeda antara orang tua dan anak, misalnya (Santos, 2013). Sejalan dengan itu, penulis tertarik untuk meneliti satu keluarga yang melakukan kegiatan kewirausahaan sosial di Indonesia. Hal yang membuat penulis tertarik adalah karena seluruh anggota dalam keluarga tersebut melakukan kegiatan wirausaha sosial dan masing-masing anggotanya memiliki usaha yang berbeda. Berdasarkan informasi dari tulisan Erri Subakti pada 24 April 2013 di Kompasiana, profil yang dirangkum di situs tabloid Nova, serta melalui sistus resmi narasumber sendiri, pelaku usaha tersebut adalah Ibu Septi Peni Wulandari, seorang ibu rumah tangga lulusan Universitas Diponogoro yang sempat bekerja sebagai PNS tetapi memutuskan berhenti dan menjadi ibu rumah tangga profesional. Beliau merupakan penemu Jaritmatika dan pendiri Yayasan Lebah Putih dan pimpinan komunitas ibu profesional. Ada beberapa penghargaan yang diraih beliau antara lain: Pemenang Danamon Award 2006 sebagai “Individu Pemberdaya Masyarakat”, Ashoka Fellowship tahun 2007 sebagai “Woman of Entrepreneur”, Nominator International Entrepreneur of The Year dari Ernst & Young, Penerima Kartini Award tahun 2009. Suaminya pun, Pak Dodik Mariyanto merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung dan sempat bekerja di salah satu Bank di Jakarta, memutuskan untuk berhenti dan sekarang memiliki lembaga di bidang pelatihan untuk melatih orang-orang melakukan pola perencanaan. Ketiga anaknya semuanya berlatar belakang tidak sekolah secara umum. Ibu Septi sendiri yang melatih dan mendidik mereka bertiga di rumah dengan kurikulum yang beliau ciptakan.

Enes, anak pertamanya begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini berusia 19 tahun, telah menyelesaikan studi S1-nya di Singapura dan

(19)

5

bekerja di salah satu perusahaan fashion Muslim ternama di Bandung sebagai owner dari cabang perusahaan tersebut.

Ara, anak keduanya yang berumur 18 tahun sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian memutuskan untuk berternak sapi. Sejak usia 10 tahun, Ara sudah melakukan proyek usaha yaitu mengelola pembangunan sebuah desa terkait dengan peternakan sapi yang bermula dari tiga ekor sapi dan telah menghasilkan ribuan sapi bagi warga desa tersebut. Ara pun juga telah menyelesaikan studi S1-nya di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu yang baru berumur 12 tahun merupakan pecinta robot. Di usia yang masih amat belia, dia menciptakan robot dari sampah. Dia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Selain itu dia juga merupakan penemu sepeda yang disebut So Bike. Sepeda tersebut merupakan sepeda yang terbuat dari bambu. Penemuannya tersebut menarik perhatian seorang profesor Jepang yaitu Fumikazu Mazuda dan memintanya menjadi pembicara di International Conference on Analytics Driven Solutions, Jepang pada tanggal 2-7 Mei 2015.

Begitu banyaknya kegiatan kewirausahaan sosial yang dilakukan oleh keluarga ini membuat peneliti tertarik untuk meniliti lebih mendalam mengenai latar belakang apa saja yang mendasari Ibu Septi Peni Wulandari memilih untuk terjun ke dunia usaha dan mendorongnya untuk menjadi wirausahawan sosial, bagaimana upaya keluarga ini untuk mendorong anggota keluarganya sehingga menjadi pelaku wirausaha sosial, dan manfaat apa saja yang diberikan melalui kegiatan kewirausahaan sosial yang dilakukan oleh keluarga ini terhadap diri sendiri, keluarga, serta lingkungan sekitar dan masyarakat.

(20)

6 1.2 Rumusan Persoalan Penelitian:

Untuk mempertajam dan menjabarkan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, maka perumusan persoalan penelitian ini adalah:

1. Faktor apakah yang menjadi pendorong Ibu Septi untuk menjadi wirausaha sosial?

2. Bagaimana upaya Keluarga Ibu Septi mendorong dan membentuk anggota keluarganya menjadi pelaku wirausaha sosial?

3. Apa saja manfaat wirausaha sosial terhadap diri sendiri, keluarga, serta terhadap masyarakat sekitar?

1.3 Tujuan Penelitian:

Sejalan dengan masalah yang telah dirumuskan di atas, maka tujuan dari penelitian ini yang hendak dicapai adalah:

1. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mendorong Ibu Septi menjadi wirausaha sosial.

2. Untuk menggambarkan upaya apa saja yang dilakukan Keluarga Ibu Septi untuk mendorong dan membentuk anggota keluarganya menjadi pelaku wirausaha sosial.

3. Untuk menggambarkan manfaat apa saja yang dihasilkan wirausaha sosial terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat sekitar.

1.4 Manfaat Penelitian:

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis. Dari segi teoritis, penelitian ini diharapkan member manfaat bagi peneliti yaitu untuk mengetahui lebih lanjut terkait dorongan menjadi keluarga pelaku wirausaha sosial serta manfaatnya terhadap diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Manfaat lainnya adalah untuk mengembangkan social entrepreneurship family yang dapat dikatakan masih merupakan cabang ilmu baru dari kewirausahaan sosial.

(21)

7

Dari segi praktis, penelitian ini diharapkan menjadi inspirasi pada keluarga-keluarga baru dan orang-orang yang masih bingung dalam menentukan kegiatan wirausaha seperti apa yang akan dilakukan untuk masa mendatang karena banyaknya usaha sejenis yaitu dengan menawarkan alternatif pilihan bahwa masih ada cabang dari wirausaha yang dapat dilakukan yaitu kewirausahaan sosial atau bisa ke lebih mendalam lagi yaitu menjadi social entrepreneurship family.

(22)

8 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kewirausahaan Sosial

Entepreneuship memiliki hakikat merujuk pada sifat, watak, dan ciri-ciri yang melekat pada seseorang yang mempunyai kemauan keras untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia usaha yang nyata dan dapat mengembangkannya dengan tangguh (Drucker, 1994). Drucker (1959) mengungkapkan bahwa kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Drucker (1996) memperjelas pernyataanya dengan menjabarkan kewiraushaan sebagai semangat, kemampuan, sikap, perilaku individu dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. Keuntungan diperoleh dengan mengembangkan kreativitas yang dimiliki dan menemukan hal-hal yang baru.

Lebih lanjut menurut Stein dan Burgess (1993,35), Wirausaha ialah seseorang yang mengorganisasikan, mengelola dan berani mengambil resiko untuk menciptakan sebuah peluang usaha dan usaha baru. Hampir sama pula, Kasmir (2006) mengungkapkan bahwa Wirausaha ialah seorang yang berjiwa pemberani yang berani mengambil resiko untuk membuka sebuah usaha di berbagai kesempatan yang ada.

Dari pengertian-pengertian tersebut penulis mengambil kesimpulan bahwa kewirausahaan merupakan kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu berupa usaha yang baru dan berbeda dengan jalan pikir yang kreatif dan inovatif untuk menciptakan peluang dan tantangan hidup yang dapat berupa risiko menjalani kegiatan tersebut.

Teori Kewirausahaan terus berkembang dan menghasilkan salah satu cabang ilmu yaitu kewirausahaan sosial. Menurut Smale, dkk (2000) kewirausahaan sosial adalah kemampuan untuk menggagas, memimpin dan melaksanakan strategi pemecahan masalah, melalui kerja sama dengan orang lain dalam semua jenis

(23)

9

jaringan sosial. Lebih lanjut menurut Austin di dalam bukunya yang berjudul Entrepreuneurship Social Enterprise Corporate Social Responsibility: kewirausahaan sosial adalah upaya inovatif, aktifitas menciptakan nilai sosial yang dapat terjadi di dalam atau di bisnis, nirlaba, dan sektor publik. Menurut Mair (2006:5) kewirausahaan sosial adalah sebagai penggunaan inovasi untuk membuat sebuah usaha sosial dari kombinasi sumber daya untuk mengejar peluang dengan mengarah pada pembentukan organisasi dan/atau praktek-praktek yang dihasilkan dan mempertahankan manfaat sosial.

Kata “sosial” sendiri identik sebagai suatu inisiatif untuk menolong sesama (Prabhu, 1999), sehingga secara sekilas Kewirausahaan sosial dianggap sebagai ekspresi dari keinginan untuk menyejahterakan orang lain dan tidak semata-mata memiliki motif profit. Namun kegiatan kewirausahaan tidak lepas dari profit pribadi, seperti yang diungkapkan oleh Schumpeter (1934) yang didasari oleh pendapat Adam Smith yaitu Profit pribadi adalah mesin inti untuk menggerakan perusahaan swasta dan kesejahteraan sosial. Kewirausahaan adalah produk dari pandangan mengenai kesejahteraan sosial dimana ketika proses untuk mengejar profit pribadi berakhir, seseorang wirausaha akan berusaha mewujudkan kesejahteraan sosial dengan menciptakan pasar baru, industri baru, bentuk institusi baru, lapangan pekerjaan baru, dan meningkatkan produktivitas. Mair dan Marti (2005) juga menyatakan bahwa praktek kewirausahaan sosial tidak murni hanya menyejahterakan orang lain saja, tetapi juga ada motif untuk mencapai profit pribadi dari pelaku kewirausahaan sosial tersebut. Aktivitas kewirausahaan dalam praktik bisnis juga memiliki aspek sosial di dalamnya, sehingga pemahaman tentang kewirausahaan sosial tidak dapat lepas dari konsep kewirausahaan secara umum.

Dees (1998), seorang professor di Stanford University dan pakar di bidang kewirausahaan sosial menyatakan bahwa kewirausahaan sosial merupakan kombinasi dari semangat besar dalam misi sosial dengan disiplin, inovasi, dan keteguhan seperti yang lazim berlaku di dunia bisnis. Kegiatan kewirausahaan sosial dapat meliputi kegiatan: a) yang tidak bertujuan mencari laba, b) melakukan

(24)

10

bisnis untuk tujuan sosial, dan c) campuran dari kedua tujuan itu, yakni tidak untuk mencari laba, dan mencari laba, namun untuk tujuan sosial.

Hal yang mirip dengan pendapat Dees di atas ditemukan pula dalam pengertian kewirausahaan sosial yang dirumuskan oleh Yayasan Schwab, sebuah yayasan yang bergerak dalam upaya mendorong kegiatan kewirausahaan sosial termasuk pendidikan kepada masyarakat. Dalam websitenya dijelaskan wirausahawan tersebut menciptakan dan memimpin organisasi untuk menghasilkan laba ataupun tidak, yang ditujukan sebagai katalisator perubahan sosial dalam tataran sistem melalui gagasan baru, produk, jasa, metodologi, dan perubahan sikap. Wirausaha sosial dan pendidikan menciptakan organisasi campuran (hybrid) yang menggunakan metode-metode bisnis, namun hasil akhirnya adalah penciptaan nilai sosial di masyrakat yang tidak dapat diukur secara ekonomi.

Lebih lanjut menurut Dees (2002:31) cara terbaik mengukur kesuksesan kewirausahaan sosial adalah bukan dengan menghitung jumlah profit yang dihasilkan, melainkan pada tingkat dimana mereka telah menghasilkan nilai-nilai sosial (social value). Para wirausaha sosial bertindak sebagai agen perubahan dalam sektor sosial dengan: (i). Mengadopsi sebuah misi untuk menciptakan dan mempertahankan nilai-nilai sosial; (ii). Mengenali dan mengusahaka peluang-peluang baru untuk menjamin keberlangsungan misi tersebut; (iii). Melibatkan diri dalam sebuah proses inovasi, adaptasi dan belajar yang berkelanjutan; (iv). Bertindak penuh semangat walaupun dengan keterbatasan sumber daya; dan (v). Penuh intensitas dalam semangat akuntabilitas kepada konstituen dan pada usaha-usaha untuk menghasilkan target yang telah ditetapkan.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan sosial merupakan suatu gagasan dalam menjalankan strategi pemecahan masalah sosial secara inovatif dengan menjalankan kegiatan usaha sosial untuk menciptakan nilai-nilai sosial di lingkungan masyarakat. Elemen kewirausahaan sosial lebih ditekankan pada dua elemen kunci yaitu kewirausahaan sosial yang menekankan pada inovasi, kewirausahaan adalah proses kreatif mengejar kesempatan untuk

(25)

11

menghasilkan sesuatu yang baru, lalu kewirausahaan sosial menciptakan nilai-nilai sosial. Kedua dimensi dasar ini menandakan, bahwa kewirausahaan sosial berbeda dengan kewirausahaan secara umum.

Dalam penelitian ini penulis membahas konsep yang disebut sebagai Social Entrepreneurship Family. Social Entrepreneurship Family pada dasarnya merupakan kegiatan kewirausahaan sosial yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga (Santos, 2013). Jadi, pembeda konsep ini dengan kewirausahaan sosial adalah hanya pada pelakunya saja yaitu seluruh anggota keluarga menjadi pelaku kewirausahaan sosial, sehingga dapat disebut dengan Social Entrepreneurship Family.

2.2 Faktor-faktor yang mendorong munculnya Kewirausahaan Sosial

Dari sejumlah penelitian yang telah dilakukan terhadap motivasi seseorang untuk berwirausaha, niat yang mendorong seseorang untuk berwirausaha dipengaruhi sejumlah faktor yang dapat dilihat dalam suatu kerangka integral yang melibatkan berbagai faktor, salah satunya adalah faktor internal dan faktor eksternal (Johnson,1990; Stewart et al.,1998). Faktor internal berasal dari dalam diri wirausahawan tersebut berupa karakter sifat, maupun faktor sosio demografi seperti umur, jenis kelamin, pengalaman kerja, latar belakang keluarga dan lain-lain yang dapat mempengaruhi perilaku kewirausahaan seseorang, sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri pelaku entrepreneur yang dapat berupa unsur dari lingkungan sekitar.

2.2.1 Faktor Internal

Faktor internal kewirausahaan merupakan aspek-aspek yang memunculkan dan membentuk jiwa kewirausahaan. Menurut Hisrich dan Peters (1992) jiwa kewirausahaan seseorang terbentuk dari karakter individu, pendidikan dan pelatihan, pengalaman, dan pola asuh orang tua.

(26)

12 1. Karakter Individu

Mardikanto (1993) berpendapat bahwa karakteristik individu adalah sifat-sifat individu yang melekat pada diri seseorang dan berhubungan dengan aspek kehidupan, antara lain usia, jenis kelamin, posisi, jabatan, status sosial, dan agama. Meredith dkk (1996) menyusun watak wirausahawan berdasarkan enam karakteristik wirausahawan dan menyatakan bahwa karakteristik wirausahawan dengan aspek kewirausahaan adalah setara. Karakteristik dan watak wirausahawan berupa kepercayaan diri, berorientasi pada tugas dan hasil, keberanian mengambil risiko serta pengolahan risiko, kepemimpinan, keorisinilan, dan berorientasi masa depan.

Menurut Meredith dkk (1996) mustahil untuk menemukan seorang wirausahaan yang memiliki angka tinggi untuk semua karakteristik. Karakteristik utama yang dapat ditemukan pada sebagian besar wirausahawan adalah kepercayaan pada diri sendiri, fleksibilitas, keinginan untuk mencapai sesuatu dan keinginan untuk tidak tergantung pada orang lain.

2. Pendidikan dan Pelatihan

Soemanto (2002:78), mengatakan bahwa: “Satu-satunya perjuangan atau cara untuk mewujudkan manusia yang mempunyai moral, sikap, dan keterampilan wirausaha adalah dengan pendidikan.” Pendidikan membuat individu menjadi lebih percaya diri, dapat mengambil keputusan dengan tepat, meningkatkan kreativitas dan inovasi, membina moral, karakter, intelektual, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang lain hingga mampu berdiri sendiri.

Pengertian Pendidikan dan pelatihan menurut Notoatmodjo (2003:28) merupakan upaya mengembangkan sumber daya manusia, terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Lebih lanjut menurut Nasution (2003:18), pendidikan merupakan suatu proses, teknik dan metode belajar mengajar dengan maksud mentransfer suatu pengetahuan atau ilmu dari seseorang kepada orang lain sesuai standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan

(27)

13

pelatihan adalah suatu proses belajar mengajar dengan menggunakan teknik metode meningkatkan keterampilan dan kemampuan kerja seseorang.

Menurut penelitian Kim (dalam Meng dan Liang, 1996) pada para wirausaha yang berada di Singapura, seorang wirausaha yang berhasil adalah yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik daripada wirausaha yang kurang berhasil. Menurut Nasution (2003) pendidikan dan pelatihan dapat diukur dari kesesuaian pendidikan yang ditempuh, keahlian individu sejalan dengan kemajuan teknologi, membantu memecahkan masalah operasional, mengasah ketepatan pengambilan keputasan, dan memenuhi kebutuhan untuk pengembangan diri.

3. Pengalaman

Menurut Kamus Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2005), pengalaman dapat diartikan sebagai yang pernah dialami (dijalani, dirasa, ditanggung, dan sebagainya). Johnson (2007) menyatakan bahwa pengalaman memunculkan potensi seseorang. Potensi penuh akan muncul bertahap seiring berjalannya waktu sebagai tanggapan terhadap bermacam-macam pengalaman. Jadi sesungguhnya yang penting diperhatikan dalam hubungan tersebut adalah kemampuan seseorang untuk belajar dari pengalamannya, baik pegalaman yang baik maupun yang buruk. Oleh karena itu pada hakikatnya pengalaman adalah pemahaman terhadap sesuatu yang dihayati dan dengan penghayatan serta mengalami sesuatu tersebut diperoleh pengalaman, ketrampilan ataupun nilai yang menyatu pada potensi diri.

Dahama dan Bhatnagar (1980) mengatakan bahwa pengalaman seseorang akan memberikan kontribusi terhadap minat dan harapannya untuk belajar lebih banyak. Dengan pengalaman yang didapat, seseorang akan lebih cakap dan terampil serta mampu melaksanakan tugas pekerjaannya. Sejalan dengan hal tersebut, menurut law of exercise dalam Mustaqim (2004:50) diungkapkan bahwa dalam law of exercise atau the law disuse (hukum penggunaan) dinyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon akan bertambah kuat atau erat bila sering digunakan

(28)

14

(use) atau sering dilatih (exercise) dan akan berkurang, bahkan lenyap sama sekali jika jarang digunakan atau tidak pernah sama sekali.

Alwi (2001) mengungkapkan bahwa pengalaman adalah tingkat penguasaan pengetahuan serta keterampilan seseorang yang dapat diukur dari masa kerja seseorang. Jadi semakin lama orang bekerja maka semakin bertambah pengalamannya terhadap pekerjaannya. Sama halnya dengan berwirausaha, dengan semakin banyaknya pengalaman wirausaha yang dimiliki seseorang maka orang tersebut akan lebih menguasai pekerjaan terkait usahanya, sehingga ia dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Lebih lanjut Alwi (2001) mengungkapkan bahwa indikator pengalaman seseorang dalam berwirausaha dapat diukur dengan lama waktu atau masa berwirausaha, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, keterampilan dan kemampuan teknis untuk menilai kemampuan dalam pelaksanaan aspek-aspek teknis pekerjaan, dan menduga akan timbulnya kesulitan sehingga lebih siap menghadapinya, dan melaksanakan pekerjaan dengan tenang.

4. Pola Asuh Orang Tua

Musaheri, (2007:133) menyatakan bahwa pola asuh atau mengasuh anak adalah semua aktivitas orang tua yang berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan otak anak. Apabila pola asuh orang tua yang diberikan orang tua kepada anak salah maka akan berdampak pada kepribadian anak itu sendiri. Lebih lanjut Hethering & Whiting dalam Gibson (1978:94) mengungkapkan pola asuh adalah suatu tingkah laku orang tua yang secara dominan muncul dalam keseluruhan interaksi antara orang tua dan anak.

Pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anak-anaknya berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena setiap orang tua memiliki harapan yang berbeda-beda kepada anaknya. Pola asuh yang digunakan orang tua sebenarnya untuk mendidik anak agar bisa menjadi apa yang mereka harapkan.

Menurut Desmita (2006:142), ada tiga tipe pola asuh orang tua yaitu pola asuh demoratic (demokratis), pola asuh authoritarian (otoriter), dan pola asuh

(29)

15

permissive (permisif). Mustofa (1996) mengungkapkan bahwa pola asuh keluarga juga ikut berpengaruh terhadap pemilihan pekerjaan anak meskipun hal ini kadang tidak disadari oleh individu yang bersangkutan.

Menurut Petranto (2006:6), pola asuh demoratic (demokratis) akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan kooperatif terhadap orang lain. Pola asuh authoritarian (otoriter) akan menghasilkan karakteristik anak menjadi penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas, dan menarik diri dari lingkungan. Selanjutnya pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.

Staw (1991) mengungkapkan ada bukti kuat bahwa seorang wirausahawan memiliki orang tua yang bekerja mandiri atau berbasis sebagai seorang wirausaha. Duschesneau et al (dalam Staw 1991) juga mengungkapkan bahwa wirausaha yang berhasil adalah mereka yang dibesarkan oleh orang tua yang juga berwirausaha, karena mereka memiliki pengalaman luas dalam usaha. Oleh karena itu jika ingin menghasilkan anak yang memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi, maka sistem pola asuh yang cocok untuk diterapkan adalah sistem pola asuh demokratis.

2.2.2 Faktor Eksternal

Priyanto (2009) melakukan penelitian mengenai Entrepreneurial process dimana penelitian tersebut menjabarkan beberapa faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kewirausahaan yaitu:

1. Lingkungan Organisasi

Lingkungan Organisasi adalah hasil dari tindakan dalam iklim organisasi yang dapat mempengaruhi tingkah laku anggotanya (Steers, dalam Wijono; 2005).

(30)

16

Tindakan-tindakan dalam organisasi yang dapat mempengaruhi anggotanya adalah: keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan, opini dalam pengambilan keputusan, kepercayaan, kerjasama dan dukungan, sikap dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, umpan balik dari pimpinan, umpan balik dari rekan kerja, dan evaluasi kerja.

Oleh karena itu jika seseorang hidup dan dibesarkan dalam lingkungan organisasi yang kondusif dan menantang, terbuka dan fleksibel, maka akan menjadi seorang wirausaha yang berhasil yang memiliki motivasi besar, mandiri dan responsif terhadap risiko. Strategi dan rencana yang diterapkan, sumber keuangan yang ada, sektor industri dan format bisnis akan mempengaruhi perilaku kewirausahaan seseorang (Watson dan Scott, 1998).

2. Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial ialah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita (Purwanto, 2006:28). Pengaruh lingkungan sosial itu ada yang kita terima secara langsung dan ada yang tidak langsung. Pengaruh secara langsung, seperti dalam pergaulan sehari-hari dengan orang lain, dengan keluarga kita, teman-teman kita, kawan sekolah, lingkungan sepekerjaan dan sebagainya. Yang tidak langsung adalah melalui radio, televisi, buku-buku, majalah-majalah, surat-surat kabar, dan sebagainya, dan dengan cara yang lain.

Menurut Repetti (2007), lingkungan sosial dapat dijelaskan dengan indikator sebagai berikut: acceptable values, networking, budaya, gaya hidup, kelas sosial, dan hukum yang berlaku. Budaya merupakan salah satu indikator penting terkait lingkungan sosial. Seperti yang diungkapkan Lambing dan Kuehl (2000) tingkat kewirausahaan seseorang sangat bervariasi sesuai dengan budaya yang ada dalam lingkungan sosial yang dimilikinya. Itu sebabnya dampak dari budaya dan adat istiadat bisa ditemukan dalam beberapa studi yang menunjukkan bahwa budaya yang berbeda mempunyai nilai dan keyakinan yang berbeda pula. Contohnya orang Jepang memiliki achievement-oriented culture yang menolong seorang wirausaha dalam menjalankan usahanya sehingga sukses. Budaya juga

(31)

17

mempengaruhi image dan status dari wirausaha. Satu studi dari wirausaha imigran di Kanada menemukan bahwa orang India memandang bahwa kewirausahaan merupakan sesuatu yang positif namun sebaliknya responden Haiti cenderung melihat bahwa kewirausahaan merupakan pekerjaan yang rendah. Di Indonesia juga demikian, pekerjaan pegawai negeri, pekerja kantoran dipandang mempunyai nilai status yang lebih tinggi dibanding dengan pedagang atau pengusaha.

3. Kondisi Ekonomi

Menurut bimbie.com, lingkungan ekonomi adalah bentuk keadaan ekonomi di suatu Negara yang didalamnya terdapat organisasi-organisasi internasional yang bergerak aktif dan bebas. Baik buruk serta sehat atau tidaknya lingkungan ekonomi berpengaruh besar terhadap produktivitas kegiatan bisnis di dalamnya (Sharma, 2002). Pernyataan ini serupa dengan yang diungkapkan oleh Sadoulet dan Janvry (1995) bahwa lingkungan ekonomi adalah kondisi ekonomi di lingkup organisasi berada. Tingginya pengangguran menjadi salah satu faktor pendorong seseorang untuk menciptakan lapangan kerjanya sendiri dengan menjadi seorang wirausahawan.

Selain tingkat pengangguran, Sadoulet dan Janvry (1995) juga mengungkapkan mudahnya akses atau kredit akan mendorong peningkatan kewirausahaan. Sejalan dengan itu, Kadarsih (2013) mengungkapkan bahwa tingkat pertumbuhan ekomomi suatu Negara juga menjadi penentu berkembangnya kewirausahaan.

2.3 Upaya mendorong anggota keluarga terlibat dalam kewirausahaan sosial Sepanjang yang dapat ditelusuri penulis, belum ada literatur yang membahas upaya mendorong anggota keluarga terlibat dalam kewirausahaan sosial. Oleh karena itu, jawaban teoritis atas persoalan ini mencakup semua faktor internal dan faktor eksternal yang mendorong seseorang menjadi pelaku kewirausahaan sosial seperti diuraikan pada butir 2.2. di atas. Namun demikian, dari berbagai bidang ilmu lain dapat ditambahkan dan dikemukakan beberapa hal berikut ini.

(32)

18

Dalam ilmu sosial, keluargalah tempat utama menanamkan nilai, meski si anak sebagai anggota keluarga akan menguji nilai yang ia peroleh dalam keluarga ketika berinteraksi dengan teman-teman dan anggota masyarakat lainnya (Dongoran, 1985). Kalau dalam keluarga ditanamkan nilai kepedulian pada orang miskin dan yang termarjinalkan, maka anak dalam keluarga akan mengingat dan memperaktekkannya dalam kehidupannya setelah dewasa, dan bila si anak menjadi wirausaha besar kemungkinan akan memiliki kewirausahaan sosial dalam dirinya. Selain itu, dalam keyakinan orang yang percaya kepada Tuhan, Tuhan sendiri yang memerintahkan agar keluarga menanamkan nilai “supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan” (Kejadian 18: 19 b). Nilai semacam ini juga menanamkan kepedulian sosial dalam diri anak dalam keluarga.

Dalam mitologi Yunani, dikisahkan seseorang yang oleh karena tugas sehingga tidak punya waktu mengasuh anak kandung sendiri, menyerahkan pengasuhan anaknya kepada seorang sahabat bernama Mentor. Setelah dua puluh tahun kemudian, sang ayah kembali dan mengunjungi sahabatnya, ia merasa sangat puas karena sahabatnya mengasuh anaknya dengan baik sehingga anaknya adalah anak yang terampil, bijak dan bertanggung jawab. Sebagai penghargaan buat sahabat yang bernama Mentor, maka setiap pengasuhan orang yang belum berpengalaman oleh orang yang berpengalaman dan ahli di bidangnya dinamai sebagai mentoring (Hughes, Ginnett dan Curphy, 2002; 2012). Sejalan dengan ini, salah satu cara mengasuh anak agar memiliki kewirausahaan sosial yang baik dan handal, yaitu dengan menyerahkan anak untuk dibina oleh orang yang ahli dan berpengalaman di bidang kewirausahaan sosial.

Ketika George Foreman, seorang Pendeta yang punya profesi lain sebagai petinju didatangi oleh sejumlah pemuda yang menanyakan tentang rahasia keberahsilan hidup sebagai Pendeta dan sebagai petinju professional, George Foreman hanya berkata: “Plan yourself than realize yor plan” (Pearce dan Robinson, 2013). Apabila pendapat Foreman diterapkan dalam kehidupan pribadi, maka akan besar kemungkinan seseorang yang merencanakan hidup pribadinya akan berhasil di

(33)

19

kemudian hari. Perusahaan pada umumnnya memiliki rencana jangka panjang, jangka menengah dan rencana jangka pendek, dan penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki rencana lebih tinggi kinerjanya dan memiliki usia lebih lama dibanding yang tidak memiliki rencana bisnis (Pearce dan Robinson, 2013). Dengan demikian, dalam mendorong anak-anak untuk berhasil dalam kewirausahaan sosial, keluarga perlu mengadopsi ilmu-ilmu ini agar memiliki rencana bersama dalam mengembangkan usaha sosial yang dimiliki keluarga. .

2.4 Manfaat Kewirausahaan Sosial

Manfaat kewirausahaan sosial mencakup manfaat bagi pelaku kewirauahaan sosial itu sendiri, bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Bagi pelaku, manfaat tersebut terdiri dari kebanggaan diri, mendapatkan kebahagiaan, dan keuntungan pribadi berupa sumber penghasilan atau keuangan.

1. Kebanggaan Diri

Zimmerer dan Scarborough (1998) menyebutkan bahwa desakan dan kemampuan dalam diri seorang wirausahawan untuk mampu menghidupi diri sendiri, keluarga, karyawan, dan berperan aktif dalam masyarakat akan memunculkan kebanggaan dalam diri pelaku wirausaha.

2. Mendapatkan Kebahagiaan

Zimmerer dalam Sunarya, Sudaryono dan Saefullah (2011) mengungkapkan bahwa dalam berwirausaha, pelaku melakukan kegiatannya tidak menganggapnya sebagai sebuah pekerjaan. Hal ini dikarenakan mereka tertarik dan menyukai dunia usaha yang mereka geluti. Jadi pada intinya mereka menyalurkan hobi atau kegemaran mereka menjadi pekerjaan, sehingga menumbuhkan rasa senang dan kebahagiaan dalam mengerjakannya.

3. Sumber Finansial (Keuntungan Pribadi)

Leadbeater, (1997:2) dalam London dan Morfopoulos, (2010:7) menyatakan bahwa “social entrepreneur combine approaches of business and social welfare”.

(34)

20

They identify under-utilized resources – people, buildings, equipment – and find ways of putting them to use to satisfy unmet social needs. They bridge gaps between social needs and current services.

Berdasarkan uraian di atas, kegiatan kewirausahaan sosial merupakan kombinasi atau gabungan dari pendekatan bisnis dan kesejahteraan sosial. Inilah gebrakan inovatif yang mematahkan pendapat bahwa aktivitas sosial dan aktivitas bisnis tidak dapat digabung, setelah bertahun-tahun berjalan di bidangnya masing-masing. Penggabungan ini, ternyata menghasilkan kolaborasi yang dashyat berupa manfaat yaitu keuntungan bagi pemilik dan pengelola, serta nilai sosial bagi masyarakat.

Manfaat kewirausahaan sosial bagi masyarakat dan lingkungan sekitar mencakup paling tidak dua hal, yaitu menyelesaikan beragam masalah sosial yang ada di masyarakat, dan membantu pemerintah menyelesaikan masalah sosial yang ada.

1. Menyelesaikan Beragam masalah Sosial yang ada di Masyarakat

Bornstein(2010:1) menjelaskan bahwa Kewirausahaan Sosial adalah sebuah proses dimana warga negara (warga masyarakat) membangun atau mentrasformasi institusi untuk meningkatkan atau mempertinggi level solusi pada masalah sosial seperti kemiskinan, penyakit, perusakan lingkungan, pelanggaran hak asasi dan korupsi, dalam upaya untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik untuk lebih banyak orang. Lebih lanjut Santosa (2007) dalam Luthfi Destianto di Kompasiana 2013 menambahkan bahwa seorang pelaku Kewirausahaan sosial adalah sebagai seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan kewirausahaannya untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (education and health care). Berdasarkan uraian di atas, tampak jelas bahwa kewirausahaan sosial adalah sebuah aktivitas yang dilakukan oleh warga masyarakat, dan bukan merupakan suatu aktivitas yang diinisiasi oleh pemeritah. Oleh karena itu, dapat ditegaskan kembali bahwa kewirausahaan sosial merupakan aktivitas yang dilakukan oleh anggota masyarakat. Masyarakat dalam

(35)

21

hal ini mengacu pada siapapun anggota masyarakat yang memiliki cita-cita luhur untuk sebesar-besarnya kebermanfaatan sosial.

2. Membantu Pemerintah Menyelesaikan Masalah Sosial

Thompson, Alv (2000) dalam Mair dan Naboa (2003:3) menguatkan pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa Social entrepreneur are people who realize where there is an opportunity to satisfy some unmeet need that the state welfare system will not or cannot meet, and who gather together the necessary resources (generally people, often volunteers, money and premises) and use this to “make a difference” Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dinyatakan bahwa gerakan kewirausahaan antara lain tergerak karena masyarakat melihat bahwa terdapat beberapa hal yang memang tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah. Akhirnya, masyarakat bergerak sendiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut, antara lain dengan menggalang sumber daya seperti relawan, sumbangan finansial dan lain-lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa kewirausahaan sosial merupakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak atau belum dapat dipenuhi pemerintah. Sejalan dengan masih banyak kebutuhan masyarakat yang belum dapat dipenuhi oleh pemerintah, maka keberadaan wirausahaan sosial sangat diperlukan untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial sekaligus untuk menghidupi diri sendiri dan meningkatkan kesejahteraan sosial seluruh pihak-pihak yang terkait.

Dari seluruh pernyataan di atas terkait manfaat kewirausahaan sosial bagi pelaku, masyarakat, dan lingkungan sekitar, penulis menyimpulkan serta menjabarkan manfaat kewirausahaan sosial sebagai berikut: Pertama, mendapatkan kepuasan batin berupa kebanggaan diri dan kebahagiaan bagi pelaku wirausaha sosial; Ke dua, menggabungkan pendekatan bisnis dengan aktivitas sosial sehingga menyejahterakan pelaku wirausaha sosial secara finansial; Ke tiga, menghidupi diri sendiri (bagi pelaku) serta meningkatkan kesejahteraan sosial bagi seluruh pihak yang terkait; Ke empat, melakukan perubahan sosial dengan menyelesaiakan masalah sosial yang ada di masyarakat; Ke lima, membuka

(36)

22

lapangan pekerjaan baru dengan memberdayakan masyarakat sehingga mengurangi kemiskinan serta pengangguran; dan Ke enam, membantu Pemerintah dalam menyelesaikan masalah sosial.

(37)

23 3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2002:9) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Metode kualitatif sering disebut sebagai metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) (Sugiyono, 2009:8).

3.2 Sumber Informasi dan Narasumber

Pada tahap ini peneliti sebagai pelaksana penelitian sekaligus sebagai human instrument mencari informasi data, yaitu dengan melakukan wawancara mendalam pada narasumber yaitu Ibu Septi Peni Wulandari. Peneliti juga mencari data sekunder terkait apa saja yang dilakukan keluarga Ibu Septi beserta prestasi keluarga mereka melalui data-data yang diperoleh dari internet yaitu web resmi Ibu Profesional, web Abiummi, berita dari tabloid Nova, berita dari Kompasiana, tumblr, dan web Ayopreneur.com. Penulis juga melakukan konfirmasi terhadap pernyataan Ibu Septi mengenai keluarganya melalui wawancara informal yang dilakukan melalui percakapan di sosial media Facebook dengan anak-anak beliau yaitu Enes Kusuma, Ara Kusuma dan Elan J M. Selain itu peneliti juga mewawancarai beberapa karyawan terdekat Ibu Septi Peni Wulandari pada usaha Jarimatika dan School of Life Lebah Putih untuk mengetahui apakah pernyataan ibu Septi Peni terkait kegiatan usahanya benar-benar memberi manfaat terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Penulis juga mencari data melalui wawancara dengan member komunitas Ibu Septi yaitu Ibu Profesional agar mengetahui apakah benar komunitas tersebut memberikan manfaat pada member tersebut dan masyarakat.

(38)

24 3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis kepada narasumber utama yaitu Ibu Septi adalah dengan melakukan in depth interview atau wawancara mendalam. Sebelum melakukan wawancara, penulis membuat janji terlebih dahulu dengan Ibu Septi melalui email dan juga sosial media Whatsapp. Wawancara dilakukan di rumah Ibu Septi yang berlokasi di Jalan Margosari PR 4, Salatiga. Penulis menggunakan aplikasi Smart Voice Recorder pada smartphone penulis untuk merekam setiap pembicaraan yang dilakukan bersama Ibu Septi sebagai sumber data primer.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis kepada narasumber utama lainnya yaitu suami Ibu Septi dan anak-anaknya adalah dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari internet. Tambahan data diperoleh melalui pembicaraan informal yang dilakukan penulis melalui media sosial Facebook bersama anak-anak Ibu Septi.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis kepada narasumber sekunder yaitu karyawan Jarimatika adalah melalui wawancara yang dilakukan di kantor Jarimatika yang berlokasi di Jalan Margosari PR 4, Salatiga. Penulis juga menggunakan aplikasi Smart Voice Recorder pada smartphone penulis untuk merekam setiap pembicaraan yang dilakukan bersama karyawan Ibu Septi. Teknik yang sama juga dilakukan pada karyawan School of Life Lebah Putih, namun yang berbeda hanya lokasi kantornya yaitu berada di Jalan Sidomulyo gang Sunan Bonang RT 6, Ngawen, Salatiga. Untuk Komunitas Ibu Profesional penulis mencari member yang tinggal di Salatiga sehingga penulis dapat bertemu tatap muka langsung dan mewawancarainya. Teknik wawancara yang digunakan juga sama dengan yang digunakan pada karyawan Jarimatika dan School of Life yaitu menggunakan aplikasi Smart Voice Recorder pada smartphone penulis untuk merekam setiap pembicaraan yang dilakukan. Lokasi wawancara ada di dua tempat yang berbeda. Pertama adalah di rumah Ibu Retno Dewi yang berlokasi di Jl. Imam Bonjol No. 49, Salatiga dan yang kedua adalah di rumah Ibu Tri

(39)

25

Wuriyandari yang berlokasi di Perumahan Griya Asri Sraten No. A 15, Kabupaten Semarang.

3.4 Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan setelah peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap Ibu Septi Peni Wulandari, setelah menkonfirmasi pernyataan Ibu Septi melalui wawancara informal dengan anak-anaknya, setelah melakukan wawancara terhadap karyawan Ibu Septi, dan setelah melakukan wawancara terhadap member komunitas Ibu Profesional.

Dari seluruh hasil data yang diperoleh, untuk mendapatkan kredibilitas data penulis menggunakan teknik triangulasi, yaitu dengan membandingkan informasi atau data dengan cara yang berbeda. Penulis membandingkan pernyataan Ibu Septi dari hasil wawancara dengan data-data sekunder yang didapat, lalu membandingkannya dengan pernyataan anak-anaknya, dan juga membandingkannya dengan pernyataan karyawan serta anggota komunitasnya.

Pelaksanaannya adalah penulis menggabungkannya dengan cara mengetiknya menjadi sebuah naskah dan membuat transkripnya. Setelah itu penulis menyesuaikan hasil transkripnya apakah sudah menjawab persoalan penelitian yang ada dalam penelitian ini. Penulis terus mengolah data yang ada sehingga dapat mengarah pada menjawab persoalan penelitian ini. Setelah menjawab persoalan penelitian, penulis menggabungkan pernyataan-pernyataan yang sama dari narasumber yang berbeda sehingga dapat menemukan sebuah kesimpulan dari penelitian ini.

(40)

26

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini dibagi menjadi lima bagian agar lebih sistematis dan tearah yaitu sebagai berikut: (i). Gambaran umum Narasumber; (ii). Faktor-faktor yang mendorong Ibu Septi untuk menjadi wirausaha sosial; (iii). Upaya Keluarga Ibu Septi mendorong dan membentuk anggota keluarganya menjadi pelaku wirausaha sosial; (iv). 4. Manfaat wirausaha sosial terhadap diri sendiri, keluarga, serta terhadap masyarakat sekitar; dan (v). Pembahasan.

4.1 Gambaran umum Narasumber 4.1.1 Narasumber Kunci

Berikut dipaparkan mengenai silsilah keluarga dari Ibu Septi dan Pak Dodik, dimana mereka memiliki tiga orang anak yang juga ikut dibahas dalam penelitian ini seperti yang dapat dilihat dari gambar 1 di bawah. Seperti dapat dilihat dari silsilah ini, Pak Dodik merupakan anak dari Bapak Sugiyanto yang merupakan anggota TNI dan Ibu Sri Sumari yang merupakan Ibu rumah tangga. Ibu Septi merupakan anak dari Pak Salim Riyanto yang juga merupakan anggota TNI dan Ibu Musriyati yang bekerja di Departemen Agama Salatiga. Mereka menikah pada tahun 1995 yang kemudian dikaruniakan tiga orang anak yaitu Enes, Ara, dan Elan.

(41)

27

Gambar 1: Silsilah Keluarga Dodik-Septi

Sumber: Wawancara dengan Ibu Septi, 11 April 2016

Mengenai profil dari masing-masing keluarga Ibu Septi dipaparkan secara lebih rinci dalam bagian berikut:

1.Ibu Septi Peni Wulandari

Ibu Septi Peni Wulandari merupakan seorang ibu rumah tangga yang sekarang berusia 42 tahun. Beliau lahir dari ayah seorang tentara dan ibu seorang pegawai. Meskipun beliau adalah seorang sarjana dari Universitas Diponegoro, beliau memutuskan untuk tetap menjadi seorang ibu rumah tangga dikarenakan perjanjian awalnya dengan sang suami yaitu setelah menikah nanti anak-anak mereka kelak harus diurus ibunya, oleh karena itu beliau memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Namun beliau bukanlah seperti kebanyakan

Bapak Sugiyanto [♂] (DENPAL

TNI, Salatiga)

Ibu Sri Sumari [♀] (Ibu Rumah Tangga) Pak Dodik Mariyanto 48 tahun [♂] (Pengusaha, Trainer) Salim Riyanto (†) [♂] (KOREM TNI, Salatiga) Musriyati [♀] (Departemen Agama, Salatiga)

Ibu Septi Peni Wulandari 42 tahun [♀] (Pengusaha, Ibu Rumah

Tangga, Pembicara) Enes Kusuma 19 tahun [♀] (Pengusaha) Ara Kusuma 18 tahun [♀] (Pengusaha) Elan J M 12 tahun [♂] (Pengusaha, Inventor)

(42)

28

ibu rumah tangga yang ada di benak banyak orang yaitu hanya sebagai seorang istri yang tinggal di rumah mengurus rumah dan anak saja. Beliau memiliki visi yaitu menjadikan ibu rumah tangga sebagai pekerjaan bergengsi yang tidak kalah dengan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya dan akan diminati oleh ibu-ibu kelak.

Selain sebagai ibu rumah tangga yang mendidik secara khusus anak-anaknya di rumah, beliau juga memiliki usaha utama yaitu PT. Jarimatika yang sudah berdiri sejak tahun 2003 hingga sekarang, beliau juga memiliki usaha lain yaitu Yayasan Lebah Putih School of Life yang berdiri sejak tahun 2009, dan Komunitas Ibu Profesional dimana beliau menjadi pendiri pada tahun 2011 sekaligus menjadi ketuanya hingga sekarang. Selain dari ketiga usaha ini beliau juga memiliki usaha

Profil Singkat

Nama: Septi Peni Wulandari Jenis Kelamin: Wanita Usia: 42 Tahun

Pendidikan Terakhir: Sarjana S1 jurusan Kesehatan Masyarakat dari Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 1995 Pekerjaan Sekarang: Ibu rumah tangga, motivator /pembicara,dan pengusaha Riwayat usaha dan pekerjaan yang sedang dijalankan atau pernah dilakukan:

1. PNS di Rumah Sakit Karyadi Semarang sebagai Ahli Gizi (Hanya magang selama 3 bulan pada tahun 1995)

2. PT Jarimatika (2006-Sekarang) 3. Yayasan Lebah Putih (2009-Sekarang)

4. Ibu Profesional (Sebagai pendiri sekaligus ketua komunitas pada tahun 2011-Sekarang)

5. Harimau Kecil (2015-Sekarang) 6. Abaca-baca (2015-Sekarang) 7. Jari Quran (2015-Sekarang)

Gambar 2: Foto Ibu Septi Peni Wulandari

(43)

29

lain yang merupakan cabang dari tiga usaha utama ini. Beliau juga sudah tercatat sebagai pelaku wirausaha sosial serta berperan aktif karena penghargaan yang didapat yaitu salah satunya Pemenang Danamon Award pada tahun 2006 sebagai “Individu Pemberdaya Masyarakat” dan juga beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI).

2. Pak Dodik Mariyanto

Pak Dodik yang saat ini berusia 48 tahun merupakan lulusan jurusan di Teknik Fisika dari ITB. Ada hal yang unik dari beliau yaitu sejak awal masuk kuliah, beliau sudah berjanji tidak akan mengambil ijazahnya ketika lulus. Beliau hanya

Profil Singkat

Nama: Dodik Mariyanto Jenis Kelamin: Pria Usia: 48

Pendidikan Terakhir: Sarjana S1 jurusan Teknik Fisika dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1993. Pekerjaan Sekarang: Trainer, Pengusaha Riwayat usaha dan pekerjaan yang sedang dijalankan atau pernah dilakukan:

1. Konsultan di sebuah perusahaan pemasangan pipa di Bandung milik Denmark (1993-1994)

2. HRD di Bank Tiara Jakarta (1994-1998)

3. Mambantu membuat Sistem Finance Perusahaan Honda Indonesia di WOM Finance pada tahun 2000

4. Training Development Synergy Creative (1998-2006) 5. PT Jarimatika (2006-Sekarang)

6. Yayasan Lebah Putih (2009-Sekarang) 7. Ibu Profesional (2011-Sekarang) 8. Harimau Kecil (2015-Sekarang) 9. Abaca-baca (2015-Sekarang) 10. Jari Quran (2015-Sekarang)

Gambar 3: Foto Pak Dodik Mariyanto

Sumber

(44)

30

mengutamakan dirinya bisa lulus dengan baik dengan adanya foto wisuda dan dapat membuat kedua orang tua beliau senang karena anaknya bisa lulus dari perguruan tinggi. Beliau merupakan lulusan SMA Negeri 1 Salatiga dan berprestasi sangat baik di sana. Oleh karena itu melalui jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK) beliau dapat diterima langsung untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi tanpa melalui tes.

Meskipun beliau jurusan teknik, selama di ITB beliau belajar banyak hal mengenai pengembangan kualitas manusia. Hal ini dikarenakan beliau bergabung dengan organisasi dan macam-macam kegiatan kampus. Hal semacam ini diperlukan karena dari awal tekadnya adalah tidak melamar kerja. Beliau merasa fungsi dari kuliah adalah untuk meningkatkan kualitas diri, bukan untuk mendapatkan selembar kertas berupa ijazah.

Pak Dodik sempat membantu HRD di sebuah Bank di Jakarta (bukan bekerja tetap), lalu sempat juga membantu membuatkan sistem finance di Honda Jakarta. Tepatnya pada tahun 2003 Pak Dodik benar-benar merasa dirinya tidak sukses bila dalam keluarga hanya dia seorang saja yang sukses, karena kebanyakan memang terlihat bapak-bapak ketika sudah sukses hanya dirinya saja yang terlihat sukses. Anak dan istiri hanya sebagai „pelengkap penderitanya‟ saja. Beliau berpikir untuk resign dari Honda yang saat itu posisi beliau di sana adalah sebagai seseorang yang membuatkan sistem finance, sebagai trainer dan juga memimpin beberapa kegiatan lainnya di Honda Jakarta. Beliau memutuskan untuk kembali ke rumah melatih istri dan anaknya. Ibu Septi merupakan murid pertama Pak Dodik. Dari ilmu trainer, Pak Dodik melatih Ibu Septi bagaimana cara menyampaikan sesuatu dengan benar, lalu konsep-konsep berpikir.

Dalam keluarganya Pak Dodik membuat sebuah model untuk menyatakan bahwa di dalam sebuah keluarga setiap pribadi dapat menunjukkan jati diri anggotanya masing-masing. Penerapannya adalah Ibu Septi menjadi coach anak pertama. Sampai anak pertama naik dan membuat usaha dan terkenal di media. Lalu Ibu

(45)

31

Septi juga meng coach anak keduanya, dan yang terakhir anak ketiga di coach oleh kakak-kakaknya.

3. Enes Kusuma

Enes Kusuma merupakan putri dari Pak Dodik dan Ibu Septi. Sekarang sudah berusia 19 tahun. Enes sudah lahir ketika keluarga ini memulai hidup di Jakarta, sehingga dia juga ikut mengalami perjuangan keluarga ini memulai terjun ke dunia wirausaha. Pada saat itu keluarga ini berkumpul bersama dan mendiskusikan bahwa mereka akan mengalami kesusahan proses membangun usaha mereka bersama yaitu maksimal selama empat tahun.

Enes tetap percaya diri dan sabar terhadap tekanan yang ada di lingkungan sekitar ketika melihat teman lainnya bisa makan enak dan jalan-jalan. Dia terus

Profil Singkat Nama: Enes Kusuma Jenis Kelamin: Wanita Usia: 19 tahun

Pendidikan Terakhir: Sarjana S1 dari Kaplan University Singapura pada tahun 2015 Pekerjaan Sekarang: Pengusaha

Riwayat usaha dan pekerjaan yang sedang dijalankan atau pernah dilakukan:

1. Jualan alat tulis dan roti keliling pada usia 4 tahun

2. Project Mentoring SEMI (Save The Earth More Intensive) (2008-2011) 3. Menjual makanan khas Indonesia ke warga Negara Indonesia yang

berdomisili di Singapura (2011-2014)

4. Melakukan Part time Job seperti mencuci piring dan sebagai pelayan restoran di Singapura (2011-2014)

5. Young Change Maker (2009-Sekarang) 6. The Bright Bride (2014-Sekarang)

Gambar 4: Foto Enes Kusuma

(46)

32

menanamkan pada dirinya bahwa keluarga ini sedang membangun usaha bersama. Ada keinginan mimpi besarnya yaitu dalam empat tahun mereka akan menuai hasilnya. Maka Enes pun ikut membantu mencari uang mulai dari apa yang dia bisa seperti menjual alat tulis dan jualan roti.

Enes sudah mulai jualan roti keliling ke tetangga sejak usianya 4 tahun. Disitulah dia belajar banyak hal ketika rotinya laris terjual, dia merasa senang karena mendapat uang dari semula Rp. 4.000,- menjadi Rp.80.000,- dalam kurun waktu seminggu. Kemudian dia mulai berpikir kalau dia hanya menjual satu loyang dan berjualan sendiri tentunya dia akan capek. Dia berinovasi sendiri dengan cara memanggil teman-teman sekampungnya untuk memasarkan roti jualannya. Biasanya setiap rotinya laku satu, Enes memberikan upah ke temannya sebesar Rp. 100,-. Jadi pada saat itu dia hanya mempersiapkan roti di pagi hari lalu membagi rotinya ke teman-temannya, setelah itu tinggal duduk manis menunggu setoran di sore harinya. Dia merasa senang karena selain bisa kumpul dengan temannya setiap hari, teman-temannya pun ikut bahagia karena mendapatkan uang, dan dia pun mendapatkan uang juga dari setoran teman-temannya.

Enes dan adik-adiknya semuanya tidak bersekolah secara umum, tetapi hanya dididik di rumah secara informal oleh ibunya sendiri yaitu Ibu Septi. Pada usia 14 tahun, Enes diterima untuk berkuliah di Kaplan University Singapura. Selain berkuliah Enes juga melakukan beberapa pekerjaan part time, menyewakan apartemennya untuk turis yang berkunjung ke Singapura untuk menghidupi dirinya, dan menambah jejaring.

Saat ini Enes menjadi owner dari cabang sebuah perusahaan Muslim terkenal yang berada di kota Bandung. Posisi ini bisa diraih Enes melalui jejaring yang dikembangkannya selama berada di Singapura.

4. Ara Kusuma

Ara Kusuma yang saat ini berusia 18 tahun baru saja lulus dari Singapura tahun ini. Dia mengikuti jejak yang sama dengan kakaknya yaitu masuk Kaplan University Singapura. Ara merupakan anak yang kognitif minded, sehingga

Gambar

Tabel 1: Profil Singkat Narasumber Pendukung ..................................................
Gambar 1: Silsilah Keluarga Dodik-Septi
Gambar 2: Foto Ibu Septi Peni  Wulandari
Gambar 3: Foto Pak Dodik  Mariyanto
+7

Referensi

Dokumen terkait

Mesin ini digerakkan oleh motor berdaya 135 watt dengan hasil akhir putaran 500 rpm dan pompa vakum digunakan untuk menghisap udara didalam tabung agar hampa

Hal ini bisa dikarenakan pada konverter dc-dc rasio tinggi yang diusulkan arus beban mengalir pada dua buah saklar pada setiap saat.. Evaluasi perbandingan rugi-rugi total pada

Hasil analisis didapatkan karir adalah faktor yang paling mempenga- ruhi kinerja perawat sebesar 30 kali lebih tinggi dibandingkan dengan karir yang kurang baik

Yang bertanda tangan dibawah ini, menerangkan bahwa Tugas Akhir Mahasiswa Program D-III Teknik Informatika :. Nama :

Jika anda tertarik untuk membudidayakan tanaman buah berwarna merah ini, anda tidak perlu khawatir karena pada kesempatan kali ini JualBenihMurah.com akan memberikan ulasan

Wawancara singkat yang dilakukan peneliti melibatkan empat orang yang memiliki latar belakang berbeda berdasarkan jenis kelamin, usia pendidikan dan pekerjaan yang berbeda

Berdasarkan hasil observasi terdapat 12 motif yang dibuat dengan mengambil konsep dari potensi wilayah yang ada di Nganjuk seperti obyek wisata, prasasti Anjuk Ladang,

Setiap Oarang atau Badan yang menjalankan kegiatan Usaha Jasa Konstruksi yang telah dicabut Izin Operasionalnya berdasarkan ketentuan sebagaiamana diatur dalam