Evaluasi Kinerja, Rektor Ajak
Pimpinan Terus Berbenah
UNAIR NEWS – Rapat Kerja Pimpinan Triwulan I di tahun 2017
menjadi tonggak evaluasi capaian kinerja tiga bulanan bagi seluruh jajaran pimpinan di lingkungan Universitas Airlangga. Dalam acara yang dilaksanakan di Aula Selasar Gedung Amerta (17/4), hadir seluruh pimpinan rektorat, dekanat, ketua pusat, badan, dan lembaga di lingkungan UNAIR.
Pada kesempatan ini, Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., memaparkan berbagai capaian universitas, utamanya mengenai posisi UNAIR dalam nilai akreditasi A, publikasi jurnal terindeks Scopus, dan jumlah program studi yang terakdreditasi serta tersertifikasi internasional.
Sebelum memberikan pemaparan mengenai posisi UNAIR, rektor terlebih dahulu memberikan apresiasi atas kerja keras yang dilakukan seluruh jajaran pimpinan selama tiga bulan pertama di tahun 2017.
“Saya ucapkan terimakasih kepada seluruh pimpinan di lingkungan UNAIR atas kinerjanya selama triwulan pertama. Beberapa capaian sudah diraih dan terus diperbaiki. Semoga hal tersebut bisa mendorong kita untuk terus berkontribusi kepada almamater dan bangsa,” ungkap Nasih.
Selanjutnya, Nasih kembali menegaskan mengenai capaian nilai akreditasi A UNAIR. Menurut Nasih, posisi nilai akreditasi A UNAIR diangka 54,50% perlu ditingkatkan. Selain itu, rasio dosen yang berpendidikan doktor dengan jumlah publikasi terindeks Scopus, posisi UNAIR masih tertinggal dengan beberapa kampus besar di Indonesia.
“Inilah posisi kita bersama, semoga posisi ini bisa menggugah kita semuanya untuk terus berbenah,” tandas Nasih.
Terkait dengan jumlah prodi yang terakreditasi dan tersetifikasi internasional, Nasih kembali menegaskan kepada seluruh pimpinan agar terus melakukan upaya peningkatan kualitas program studi di masing-masing fakultas. Tercatat, UNAIR memiliki 1 prodi terakreditasi internasional dan 9 prodi tersertifikasi AUN.
“Inilah kondisi dan peta kita semua. Semoga dengan data ini, bapak ibu dapat semangat untuk terus bergerak lebih baik. Ikhtiar ke depan harus lebih fokus, utamanya melalui aksi nyata,” ajak Nasih.
“Kami menunggu aksi nyata dari para pimpinan di waktu yang akan mendatang,” pungkas Nasih. (*)
Penulis : Nuri Hermawan
Editor : Binti Q. Masruroh
UNAIR Tuan Rumah Mukernas
APPTI III
UNAIR NEWS – Universitas Airlangga menjadi tuan rumah
Musyawarah Kerja Nasional Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) III yang sebelumnya berlangsung di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pada Mukernas APPTI III ini, “Peran APPTI dalam memformulasikan perkembangan demokrasi” diangkat menjadi tema kegiatan. Acara ini bertujuan untuk mensinergikan lembaga penerbit perguruan tinggi se Indonesia dalam memajukan kiprahnya.
“Selain untuk memperbaiki kesenjangan antar penerbit universitas, APPTI III ini menjadi wadah diskusi dalam
mendukung perkembangan kedepannya,” ucap Drs. Aribowo M.S selaku tuan rumah yang juga direktur Airlangga University Press.
Hadir dalam acara tersebut, Dirjen Kelembagaan Kemenristek Dikti Dr. Ir. Patdono Suwgnjo M. Eng., Sc., menyampaikan dukungan serta apresiasi atas terselenggaranya APPTI III yang dikuti oleh 49 pergguruan tinggi. Petugas eslon I dikti ini menyampaikan bahwa perkembangan penerbitan begitu cepat, untuk itu harus direspon cepat dalam menyikapi dunia persaingan yang kompetitif.
“Penerbit universitas sudah saatnya untuk berkiprah merangkum gagasan terbaik di masing-masing universitas,” imbuhnya.
Turut hadir juga Wakil Gubernur Jatim Drs. H. Syaifullah Yusuf. Dalam sambutannya, wagub yang akrab disapa Gus Ipul itu menyampaikan, tantangan era digital perlu dianggap serius. Pasalnya, perkembangan pengetahuan sangat penting di era digital. Gus Ipul berpesan bahwa penerbit harus mengantisipasi adanya hal semacam ini dan harus mempublikasikan karya ilmiah dengan versi digital.
Menambahkan pernyataan Gus Ipul, Wakil Rektor IV Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D dalam kata sambutannya mengatakan, data terakhir yang disampaikan Ikatan Penerbit Indonesia (IKPI) menyebutkan bahwa jumlah buku yang diusulkan untuk mendapatkan international book number sebanyak 44.128 judul buku. Bila dirata-rata dari 711, penerbit itu hanya menerbitkan 62 judul pertahun.
“Ini menandakan bahwa masih jauh dari harapan yang harusnya setiap penerbit harus bisa menerbitkan lebih dari 200 buku setiap tahunnya untuk bisa mencerdaskan bangsa,” jelasnya. Junaidi melihat bahwa perkembangan era digital, khusunya bagi mahasiswa yang sekarang ini lebih banyak menggemari tulisan-tulisan elektronik. Hal ini memberi tantangan tersendiri bagi panerbit untuk bisa terus berinovasi. Sehingga, nantinya dapat
mewujudkan kecerdasan bangsa.
“Acara ini diharapkan semakin meningkatkan minat baca masyarakat dengan didukung penuh oleh tersedianya karya ilmiah yang bermutu. Namun, dapat dijangkau oleh masyarakat luas melalui peran yang dirumuskan APPTI,” imbuh Junaidi.
Penulis : Helmy Rafsanjani Editor : Nuri Hermawan
Diskusi
Santai
antara
Mahasiswa Internasional dan
Pimpinan
UNAIR NEWS – Universitas Airlangga terus meningkatkan kualitas
diri untuk menuju pentas universitas berkelas dunia. Salah satunya, adalah dengan menggelar forum diskusi serius namun santai antara mahasiswa internasional dengan pimpinan akademik dan kemahasiswaan.
Forum “Lunch with International Students” diikuti oleh 230 mahasiswa internasional di UNAIR dari berbagai program, antara lain penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang, Darmasiswa, program AMERTA, dan peserta Kelas Internasional sarjana, magister hingga doktoral.
Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D, Sp.PD., K-GH, mengharapkan adanya masukan dari para mahasiswa internasional mengenai urusan akademik maupun non akademik. “Karena saat ini kita sedang menuju perguruan tinggi berkelas dunia. Oleh karena itu, keberadaan kalian sangat penting di sini,” tutur Djoko.
Topik publikasi penelitian menjadi bahasan awal dari peserta forum kali ini. Salah satu mahasiswa yang menempuh studi doktor di Fakultas Kesehatan Masyarakat, mengatakan banyaknya tugas rutin perkuliahan dan waktu studi yang singkat membuat jumlah publikasi penelitian di jurnal bereputasi menjadi tidak tinggi. Menanggapi hal tersebut, Warek I menuturkan, publikasi merupakan tuntutan seorang sivitas akademika. Apalagi, saat ini, pemerintah sudah menerbitkan peraturan yang mewajibkan mahasiswa master dan doktor untuk menerbitkan artikel penelitian di jurnal.
“Kuliah di jenjang doktor lebih banyak tuntutannya daripada master. Di negara Anda, pasti setiap mahasiswa juga akan menemui kewajiban tersebut,” tutur Djoko.
Di forum ini tak hanya membahas masalah akademis, tetapi juga kemahasiswaan. Koordinator Unit Kegiatan Mahasiswa Direktorat Kemahasiswaan, Deny Yasmara, M.Kep., mengatakan bahwa seluruh UKM di UNAIR terbuka dan secara senang menerima mahasiswa internasional untuk bergabung dengan setiap klub.
Di UNAIR, ada 40 UKM yang terdiri dari berbagai kelompok seperti kerohanian, bela diri, seni, olahraga, dan khusus.
“Mahasiswa internasional bisa bergabung dengan UKM-UKM. Tinggal datang ke Student Center, dan bertanya apakah bisa bergabung. Kalian bisa bergabung dengan UKM-UKM tersebut tanpa dipungut biaya,” tutur Deny.
Ketua International Office and Partnership, Dian Ekowati, Ph.D, mengatakan acara ini merupakan pertama kalinya digelar oleh unit kerja yang dipimpinnya. Menurutnya, proses internasionalisasi memang tak sepenuhnya berjalan mudah. Maka, salah satu langkah mengevaluasi diri adalah dengan mendengarkan masukan-masukan dari mahasiswa asing.
“Karena mereka ini adalah salah satu elemen penting buat kami untuk internasionalisasi, maka kami ingin mendengarkan banyak masukan dari mereka,” tutur Dian.
Penulis: Defrina Sukma S
Memaknai
Kembali
Hari
Konstitusi Indonesia
UNAIR NEWS – Hari Konstitusi Indonesia mulai diperingati pada
tanggal 18 Agustus Tahun 2008. Hari itu bertepatan dengan ditandatanganinya Deklarasi Hari Konstitusi Indonesia oleh Lembaga Kajian Konstitusi, Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dan Pimpinan serta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang dilengkapi pula oleh berbagai komponen masyarakat Indonesia. Gagasan diperingatinya tanggal 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi Indonesia, diawali dari sebuah artikel yang ditulis Mochamad Isnaeni Ramadhan dengan judul “Konstitusi Indonesia” yang dimuat dalam harian Suara Karya. Menanggapi peringatan Hari Konstitusi Indonesia, pakar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Dr. Sukardi, S.H., M.H., mengatakan, konstitusi merupakan hukum tertinggi yang dapat dipahami pula dari sisi materiilnya. Sukardi juga menambahkan bahwa dalam konstitusi mengatur antara pemerintah dengan masyarakat yang berisi hak asasi manusia serta menandai adanya suatu negara.
“Konstitusi itu bisa dipahami sebagai hukum tertinggi. Kemudian juga dilihat dari sisi materiilnya konstitusi juga mengatur antara pemerintah dengan yang diperintah yang berisi hak asasi manusia dan menandai adanya sebuah negara,” ujarnya. Terkait adanya wacana mengembalikan UUD NRI 1945 ke naskah aslinya, pengampu mata kuliah hukum perancangan undang-undang ini menegaskan, apabila hal itu akan dilakukan tentu saja diperlukan poin-poin penting terkait urgensi yang mendasari
pengembalian tersebut perlu dilakukan.
“Kalau mau melakukan pengembalian naskah UUD asli tentu saja harus menentukan urgensinya. Karena apabila kita tarik mundur bahwa UUD 1945 itu megatur mengenai sistem pemerintahan yang kuat. Padahal yang sekarang terjadi adalah sistem check and
balances dimana tidak ada satu lembaga pun yang memiliki
kekuatan super power. Antara lembaga legislatif, eksekutif, dan yudisial memiliki kedudukan yang seimbang yang sesuai dengan makna konstitusi mengenai pembagian kekuasaan,” pungkas Sukardi.
Mengenai usulan apa yang disarankan oleh Sukardi tentang konstitusi, dirinya mengatakan apabila saat ini yang paling penting adalah bagaimana pembentuk undang-undang memaknai bunyi konstitusi sesuai dengan konsep kekinian karena konstitusi multitafsir.
Penulis : Pradita Desyanti Editor : Nuri Hermawan
Rayakan Waisak, Anggota UKM
Buddha Ajak Masyarakat Donor
Darah
UNAIR NEWS – Hari Raya Tri Suci Waisak ke-2560 yang jatuh pada
tanggal 22 Mei 2016 turut dirayakan oleh para anggota Unit Kegiatan Kerohanian Buddha (UKKB) Universitas Airlangga. Anggota UKKB UNAIR mengadakan aksi sosial dan menarik perhatian pengunjung di Tunjungan Plaza 3, Surabaya. Bekerjasama dengan Young Buddhist Association (YBA),
‘Selfless’ dipilih sebagai tema perayaan Vesak Festival tahun 2016. ‘Selfless’ dimaknai sebagai bentuk menghargai orang lain, menyayangi makhluk hidup, tidak egois dengan sesama dan menjadi pesan damai bagi umat manusia. Dalam agama Buddha, ada ajaran bernama Amisa Dana yang berarti pemberian dalam bentuk materi.
Dalam perayaan kali ini, para anggota UKKB UNAIR mengajak masyarakat termasuk anggotanya sendiri, untuk memberikan sebagian rambutnya untuk disumbangkan dan dijadikan wig. Selain itu, ada pula donor darah bersama Palang Merah Indonesia untuk meramaikan acara tersebut.
“Ada dua orang dari UKKB yang memberikan sebagian rambutnya untuk dipotong kemudian disumbangkan dan dijadikan wig. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Farmasi angkatan 2014 Jolinda Cahyani, dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis 2012 angkatan Liza Augustina,” jelas Natasya Andrina Maharani dari Ketua Divisi Media dan Keterampilan UKKB.
Selain aksi sosial, pengunjung juga diajak menikmati Teropong Kardus Digital. Untuk bisa menonton video, pengunjung harus mengintip melalui teropong yang disediakan. Video itu bercerita tentang kesabaran dan cinta kasih sayang. Pada perayaan itu, ada pula patung Buddha tidur bernama Buddha Parinbbana berukuran 6 meter, dan patung Buddha setinggi 8 meter yang dibuat dari 1500 kardus dipajang di pelataran atrium TP 3. Uniknya, semua benda yang dipamerkan dibuat dari kardus bekas, sebagai salah satu karya seni kreatif sekaligus sebagai wujud aksi peduli lingkungan yang sesuai dengan tema festival. (*)
Penulis: Disih Sugianti Editor: Defrina Sukma S.
Permudah Transaksi Mahasiswa,
Bank Bukopin Pasang ATM di
UNAIR
UNAIR NEWS – Sebagai bentuk pelayanan kepada mahasiswa dalam
memberikan kemudahan untuk melakukan transaksi perbankan, Bank Bukopin Cabang Surabaya menjalin kerjasama dengan Universitas Airlangga dengan memberikan fasilitas Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of
understanding/MoU) antara keduanya dilaksanakan di Ruang
Rektor UNAIR, Kamis (9/6).
Pihak UNAIR diwakili oleh Junaidi Khotib, S.Si, Apt., M.Kes, Ph.D, Wakil Rektor IV UNAIR bidang university holding, dan Bank Bukopin Cabang Surabaya diwakili Andi Darma, Pemimpin Cabang. ATM Bank Bukopin ini akan diletakkan di ATM Center Kampus B UNAIR, mengingat ada sekitar 22.000 mahasiswa di kampus B ini.
“Kami ingin memberikan fasilitas bagi mahasiswa terkait
supporting dalam pendidikan dan pembelajaran agar menjadi
lebih mudah, misalnya terkait pembayaran SOP atau SP3 (sekarang Uang Kuliah Awal/UKA dan atau Uang Kuliah Semester/UKS,-red), atau untuk transaksi lainnya,” ujar Junaidi.
Dikatakan bahwa pemasangan ATM ini selain mempermudah transaksi perbankan bagi mahasiswa juga memberikan fasilitas keamanan supaya dalam bertransaksi tidak jauh-jauh ke luar kampus.
Pimcab Bank Bukopin Surabaya Andi Darma mengatakan, selain untuk mempermudah transaksi perbankan bagi mahasiswa,
pemasangan ATM ini untuk memperkenalkan Bank Bukopin sebagai
brand awareness Bank Bukopin di lingkungan UNAIR.
“Ada sekitar 22.000 mahasiswa di kampus B. Pasti mereka butuh kemudahan transaksional. Saat ini transaksional rata-rata menggunakan bank. Kebutuhan itu yang coba kami support dari Bank Bukopin,” ujar Andi.
Kerjasama dengan UNAIR ini merupakan yang pertama dilakukan Bank Bukopin dengan perguruan tinggi di Surabaya. Menurut Junaidi, pemasangan ATM ini merupakan kerjasama awal, yang dimungkinkan akan ada upaya lain untuk meningkatkan kerjasama lainnya.
Saat ini ada 37% mahasiswa UNAIR yang kurang beruntung secara finansial, 17% telah dicover melalui beasiswa Bidikmisi Dikti, dan 20% dicover UNAIR dengan pembiayaan uang kuliah yang minim. Dengan Bank Bukopin ini dimungkinkan nanti ada kerjasama bidang pengembangan pendidikan. Hal ini juga didukung oleh Andi Darma.
“Kedepan kami sedang menyusun kerjasama untuk host to host. Artinya, kami terhubung langsung secara sistem dengan UNAIR. Sehingga kami bisa ditunjuk sebagai bank penerimaan pembayaran ataupun transaksi-transaksi mahasiswa terkait dengan kewajiban finansial di UNAIR,” kata Andi Darma. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh Editor: Bambang Bes
Informasi Manajemen Melalui
“Industri 4.0”
UNAIR NEWS ̶ Fakultas Ekonomi dan Bisnis melalui prodi
Manajemen menyelenggarakan kuliah tamu di mata kuliah Sistem Informasi Manajemen (SIM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Jum’at lalu (25/11). Dr.-Ing. Hendro Wicaksono dari Karlsruhe Institute of Technology (KIT), Jerman memberi pemaparan tentang revolusi industri ke-4. Hadir sebagai moderator, T. Aria Auliandri, M.Sc, yang juga dosen Penanggung Jawab Mata Kuliah (PJMK) SIM.
Kuliah tamu diikuti oleh seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Tema yang diambil adalah Sistem Teknologi Informasi untuk Menghadapi Revolusi Industri ke-4, konsep aplikasinya di Jerman.
Mengawali pemaparan revolusi industri ke-4, Hendro Wicaksono menjelaskan bagaimana teknologi tumbuh secara signifikan. Hal ini dapat dilihat melalui peningkatan sebesar 100 % maket
selling rate produk berteknologi sejak 2005 sampai 2013.
Gebrakan di bidang industri dicetuskan sejak penemuan mesin uap atau disebut industri 1.0.
Dalam tahap ini mechanical sangat berperan penting. Kemudian bergerak menuju industri 2.0, kali ini industri mulai merambah ke sektor electrification yang mengarah pada produksi massal. Selanjutnya periode komputerisasi, yakni industri 3.0. Yang lantas mengantarkan pada revolusi industri 4.0 berbasis internet. Segala aktivitas beralih ke internet, sebagaimana peran buku digantikan Wikipedia, peran DVD digantikan Youtube. “Inti dari industri 4.0, mesin dapat berkomunikasi dengan produknya. Misalnya, industri di Jerman saat terjadi kekurangan bahan baku atau suatu komponen, maka mesin tersebut dapat mengidentifikasi sendiri sehingga dapat menginstruksikan
pada pemilik bahan baku,” Jelas Hendro Wicaksono yang juga dosen sekaligus peneliti di Karlsruhe Institute of Technology. Salah satu bagian dari Industri 4.0 ialah big data. Hendro Wicaksono menjelaskan bagaimana big data analitis mendasari pengendalian objek di jalan raya tanpa pengemudi. Melalui sensor pada objek, dapat menggambarkan keadaan sekitar, seperti temperatur, suhu hingga kelembapan.
Aria Auliandri pun menambahkan bahwa dewasa ini pengguna
smartphone berbasis android, iphone, dan windows, merupakan
bagian dari big data. Segala informasi keberadaan, dapat diakses melalui smartphone karena aktivitas yang terekam dalam sistem smartphone tersebut. Misalnya, penggunaan GPS untuk menemukan lokasi.
Kendati mempermudah kegiatan sehari-hari, big data memiliki tantangan pada keamanannya, yaitu bagaimana suatu sistem mampu meyakinkan kepercayaan penggunanya. Sementara itu, sebagai upaya penanganan, dibuat deklarasi sebelum menginput data-data pribadi, sehingga pengguna tidak harus mengisi seluruh datanya.
“Di UNAIR sendiri terdapat dua hal mendasar yang harus ditingkatkan untuk mendukung big data dalam lingkup universitas. Pertama ialah integrasi konektivitas internet, internet yang terhubung membuat proses collecting data menjadi lebih mudah. Kedua, penyelarasan versi data antara berbagai pihak yang ada.” Jelas Hendro Wicaksono
Secara singkat, Aria Auliandri selaku moderator menyimpulkan tiga poin pemaparan, yaitu bagaimana industri 4.0 berkembang, transformasi teknologi, dan penggunaan aplikasi penunjang aktifitas sehari-hari. (*)
Penulis: Sri Nur Umami Editor: Rio F. Rachman
Siswa SMAN 1 Jombang Ingin
Informasi Langsung dari UNAIR
UNAIR NEWS – Sebanyak 186 siswa-siswi Sekolah Menengah AtasNegeri (SMAN) 1 Kabupaten Jombang, berkunjung ke Universitas Airlangga, Rabu (26/10). Dibawah pimpinan rombongan Saidun, M.MPd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, mereka diterima di Aula Selasar, Lantai II Gedung Manajemen Universitas Airlangga, kampus C Jl. Mulyorejo Surabaya.
Menurut Saidun, tujuan kunjungan ini selain ingin melihat secara dekat kampus Universitas Airlangga sebagai kampus yang difavoritkan oleh siswa-siswinya, juga ingin menggali informasi secara langsung mengenai tata-cara dan strategi memenangkan persaingan dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri umumnya, termasuk di UNAIR, baik melalui jalur SNM-PTN, SBM-PTN maupun jalur Mandiri.
”Kami berkunjung ke UNAIR ini mengantar sebagian anak-bangsa dari SMAN 1 Jombang yang hendak menata masa depannya melalui pendidikan. Karena itu meski anak-anak sudah bisa melihat itu semua di website, namun kami ingin memperoleh informasi yang langsung dan akurat. Mudah-mudahan tujuan kami ini memperoleh manfaat dan berkah,” kata Saidun, M.MPd, dalam sambutannya. Kunjungan ke perguruan tinggi semacam ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Pesertanya siswa kelas XII, yang dalam beberapa bulan kedepan akan mengikuti Ujian Nasional (Unas) dan lulus, sehingga perlu mendapat informasi yang sejelas-jelasnya mengenai masa depan pilihannya dalam studi di perguruan tinggi.
“Ini proyek orang-tua, Pak,” katanya, seraya menjelaskan, kunjungan ini atas kehendak orang tua yang dikoordinir
sekolah. Artinya para orang tua siswa-siswi SMAN 1 Jombang ini juga memikirkan study untuk putera-puterinya dimasa depan.
Dalam kunjungan kemarin, para siswa memperoleh penjelasan langsung dari Dra. Ridha M, staf Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) UNAIR, serta perwakilan dari Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR. (*)
Penulis: Bambang Bes
Mimpi Pakar Komunikasi untuk
Membendung Sampah Informasi
UNAIR NEWS – Belakangan ini, sampah informasi berupa ujaran
kebencian, kabar hoax, berita adu domba dan aneka bentuknya yang lain, membanjiri media massa. Fenomena ini mesti diberantas hingga ke akar-akarnya. Sebab, selain bisa memecah-belah kebersamaan, juga bisa menumbuhkan mental sinis masyarakat.
“Persoalan ini diperparah dengan kenyataan bahwa ruang publik di media massa pun makin tergerus,” kata Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si.
Media massa seperti televisi, radio, berbagai platform berbasis internet, dan lain sebagainya, tidak lagi menempatkan audiens sebagai warga negara, tetapi sebagai klien atau konsumen. Yang ujungnya, diposisikan sebagai ladang bisnis. Padahal, ruang publik yang mereka kelola seharusnya diperuntukkan guna menyebar informasi edukatif, hiburan yang mencerdaskan, dan berita terpercaya.
komersialnya media massa, menciptakan suatu keadaan di mana masyarakat jadi terpinggir. Bisa pula, masyarakat terbawa larut dan ikut menyebar sampah informasi ataupun menjadi individu yang terlalu konsumtif.
Dalam penelitian yang dituliskannya, peserta Internasional Visitor Program Deplu AS 2003 tentang “Demokrasi dan Media Publik” ini memang fokus pada televisi publik lokal. Meski demikian, tatkala melakukan kajian-kajian terkait disertasi itu, cakupan galiannya jauh lebih luas. Maka itu, ada berbagai problem yang turut diamati lelaki kelahiran Madiun tersebut. Termasuk, soal pentingnya membangun sebuah lembaga yang melakukan pengawasan terhadap sistem dan fenomena penyaluran informasi dan komunikasi publik. Lembaga ini bisa berupa komisi komunikasi publik. Lembaga ini boleh jadi dibentuk oleh pemerintah.
Daya jelajahnya akan lebih luas dari Komisi Penyiaran Indonesia yang hanya berfokus pada radio dan televisi, ataupun Komisi Informasi Publik yang hanya berfokus pada kesigapan lembaga/institusi untuk menyebarkan informasi secara transparan.
“Mimpi saya, negara ini punya komisi komunikasi publik yang mengawasi, mendiskusikan, dan mencari solusi atas permasalahan dalam fenomena sistem informasi dan ruang publik,” urai pria yang pernah menjalani program belajar tentang “Public Media” di Radboud University Nijmegen, Belanda, pada 2004 ini.
Dijelaskan Suko, saat dia menjalani short course di Amerika Serikat, dia sempat malakukan studi di Federal Communication Comission atau Komisi Komunikasi Federal. Di sana, ada banyak kegiatan kajian yang terhubung dengan bidang-bidang antara lain, penyiaran (televisi dan radio), media cetak, dan media elektronik lain seperti internet. Para anggota komisi berasal dari beragam elemen masyarakat.
kekurangan atau belum optimal. Misalnya, bahwa persoalan komunikasi di negeri Paman Sam belum sepenuhnya selesai. Meski demikian, negara ini tetap bisa belajar dari sana.
Ketua I Dewan Kesenian Surabaya periode 2009 – 2014 inimengatakan, komisi komunikasi publik nanti mengangkat para anggota yang memiliki kapasitas untuk mencerdaskan bangsa. Antara lain, dari kalangan guru, akademisi, filantropis, dan stake holder lainnya.
Komisi komunikasi publik hadir untuk “mengendalikan” informasi di ruang publik. Agar konten informasi di media massa dari berbagai jenis atau platform nantinya tetap berdasar kaidah kebangsaan dan kearifan lokal. Bukan konten-konten sampah maupun komersialisasi produk yang tidak berbatas.
“Freedom of speech (kebebasan berbicara) memang dibutuhkan. Namun ingat, sebenarnya, freedom is not free (kebebasan bukan berarti sepenuhnya bebas). Kebebasan kita tidak boleh melanggar kebebasan orang lain. Hak-hak publik, di frekuensi atau ruang publik, harus terpenuhi secara maksimal. Hal itulah yang menjamin kenyaman dalam dunia kehidupan atau life world kita semua,”papar anggota Tim Cagar Budaya Surabaya periode 2011 – 2016 ini.
Apakah komisi ini tidak malah mirip sistem otoriter di masa orde baru? Tentu saja tidak. Karena, semangat dari komisi ini adalah pembelajaran dan pengarahan pada model komunikasi yang sehat. Bukan pembatasan kebebasan berekspresi. Bukan pula, pembatasan kritik terhadap pemerintah.
Selama ini, acara-acara pemerintah di media massa, contohnya di televisi publik, umumnya merupakan settingan penguasa. Bukan murni sebagai jalur aspirasi masyarakat. Dialog untuk pembahasan Musrenbang, misalnya, sekadar formalitas rutin.
“Nah, komisi komunikasi publik juga bertugas memastikan kalau acara-acara di televisi benar-benar bermanfaat kongkret. Jangan hanya berisi kesenangan semu sesaat,” papar Ketua I
Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia wilayah Jawa Timur tersebut. (*)
Penulis: Rio F. Rachman Editor: Defrina Sukma S
Dilepas Rektor, 21 Tim Pimnas
UNAIR Siap Raih Prestasi
UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. H.
Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., MCA., Jumat (58) sore, di Lantai I Gedung Rektorat Kampus C Mulyorejo Surabaya, melepas 21 Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UNAIR yang lolos untuk menuju final Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) Ke-29, di IPB yang akan berlangsung pada tanggal 8 – 12 Agustus 2016.
Pelepasan kontingen Pimnas “Biru Kuning” ini ditandai dengan penyerahan bendera UNAIR dari Rektor kepada Ketua Kontingen Pimnas UNAIR, Agus Subiantoro, SH., M.Si. Seusai pelepasan secara resmi itu, para ketua dari 21 tim PKM, silih bergantian menandatangani “Papan Janji Prestasi”.
P a d a p a p a n t e r s e b u t t e r t u l i s s e b u a h j a n j i u n t u k “Mempersembahkan hasil yang Terbaik untuk Almamater”. Sebanyak 21 ketua tim PKM lalu membubuhkan tandatangannya. Selain menuliskan PKM-nya, diantara mereka juga ada yang menyertainya dengan tulisan-tulisan singkat bernada harapannya. Misalnya “Medali Emas”, “Gold Medals” “Kumau Emas”, dsb.
Direktur Kemahasiswaan UNAIR Dr. M. Hadi Subhan, SH., MH., CN., menjelaskan, sebanyak 21 tim PKM tersebut merupakan yang
lolos dari 167 judul PKM yang penelitiannya memperoleh dana dari Dirjen DIKTI, atau lolos dari monev eksternal. Sedangkan sebanyak 167 judul PKM tersebut merupakan yang lolos dari 1.500 proposal PKM mahasiswa UNAIR yang diajukan ke Dikti.
”Alhamdulillah dengan lolosnya 21 tim PKM ini maka ini merupakan peningkatan yang signifikan. Ini pantas untuk disyukuri, karena tim PKM pada universitas lain rata-rata justru mengalami penurunan,” kata Hadi Subhan.
Ia berharap dengan peningkatan enam tim PKM dibandingkan pada PIMNAS 2015 lalu, tahun ini UNAIR bisa meraih prestasi lebih maksimal. Catatan UNAIR NEWS, tahun lalu dengan meloloskan 14 Tim PKM di arena PIMNAS, UNAIR berada di posisi IV. Bahkan tahun 2013 dengan meloloskan 11 tim PKM, UNAIR meraih
runner-up pada Pimnas ke-26 berlangsung di Universitas Mataram
(Unram).
Dalam sambutan pengarahannya, Rektor UNAIR Prof. M Nasih berharap kepada mahasiswa yang berkompetisi di Pimnas ke-29 ini mampu menunjukkan jati dirinya sebagai mahasiswa yang berasal dari universitas yang unggul, sehingga dengan semangat terbaiknya pula demi almamater tercinta.
”Tunjukkan bahwa kita dari universitas yang terbaik, maka berikan pula yang terbaik kemampuan kalian. Jangan lupa juga memohon kepada Tuhan YME untuk diberikan yang terbaik pula. Artinya, kalau semua sudah disiapkan dengan yang terbaik, Insha Allah nanti pulang ke Surabaya juga dengan prestasi yang terbaik,” pesan Guru Besar Akuntansi FEB UNAIR ini.
Rektor dan segenap pimpinan UNAIR menyaksikan diantara Ketua Tim PKM menandatangani “Papan Janji Berprestasi” di Pimnas Ke-29 di IPB. (Foto: Bambang Bes)
Rektor juga berpesan agar tidak perlu memaksakan untuk menjadi juara dengan menggunakan cara-cara yang tidak baik. Karena itu kepada anggota kontingen yang masih kurang yakin atau punya masalah secara pribadi atau tim, hendaknya segera diselesaikan di Surabaya sebelum berangkat ke Bogor. Misalnya saja masih ada yang ujian, ada tugas lain, dsb.
”Untuk meraih prestasi, apakah ada diantara kalian yang masih merasa tidak yakin?,” tanya Rektor. Spontan dijawab ratusan mahasiswa Tim Pimnas UNAIR dengan berteriak secara koor: ”Yakin!”.
“Terima kasih. Insha Allah kalau segala persiapan sudah kita laksanakan sedemikian baik dan yakin, maka kita juga siap untuk menjadi juara Pimnas ke-29 ini,” tandas Rektor, membakar semangat.
Ketua kontingen Agus Subiyantoro menambahkan, sebagian kontingen Pimnas UNAIR akan menuju Bogor via penerbangan pesawat dan transit di Jakarta, pada Minggu sore. Sedangkan rombongan besar terdiri mahasiswa dan tim pendamping akan berangkat hari Senin pagi, dengan rute yang sama. Dari
Jakarta, Tim UNAIR akan menggunakan bus untuk menuju IPB di Bogor.
Kemudian tradisi UNAIR, dalam menyertai setiap perhelatan Pimnas, juga dilaksanakan “Temu Alumni” untuk para alumni Universitas Airlangga yang berkarya dan mengabdi di sekitar kota tempat dilaksanakannya Pimnas. Untuk Temu Alumni di Bogor ini akan dilaksanakan pada Selasa (9/8) malam di Hotel Pajajaran, Kota Bogor. (*)