• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Imunoserologi Uji Kulit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Imunoserologi Uji Kulit"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH IMMUNOLOGI

MAKALAH IMMUNOLOGI

UJI KULIT

UJI KULIT

Disusun Oleh : Disusun Oleh : Kelompok 3 Tingkat 3A Kelompok 3 Tingkat 3A Faith

Faith Fathanah Fathanah Gisya Gisya P07234016P07234016011011 Fenny

Fenny Paradina Paradina Alydrus Alydrus P07234016P07234016012012 Husnul

Husnul Lail Lail P07234016P07234016013013 Istiqomah

Istiqomah Nabila Nabila Ainun Ainun Azzahra Azzahra P07234016P07234016014014 Kenny

Kenny Rizki Rizki Jannah Jannah P07234016P07234016015015

KEMENTERIA

KEMENTERIAN KESEHATAN N KESEHATAN REPUBLIK INDONESIAREPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN

KALIMANTAN TIMUR SEMESTER V JURUSAN ANALIS KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR SEMESTER V JURUSAN ANALIS KESEHATAN

TAHUN 2018/2019 TAHUN 2018/2019

(2)

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas segala Penyayang, penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas segala curahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah curahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang transudate dan eksudat. Adapun makalah tentang Alkohol ini telah penulis tentang transudate dan eksudat. Adapun makalah tentang Alkohol ini telah penulis usahakan dengan semaksimal mungkin. Penulis sangat berterima kasih kepada usahakan dengan semaksimal mungkin. Penulis sangat berterima kasih kepada  berbagai pihak

 berbagai pihak atas bantuannya, atas bantuannya, sebab penusebab penulis dapat denglis dapat dengan lancar dalam an lancar dalam membuatmembuat makalah ini.

makalah ini.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang uji atau Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang uji atau  pemeriksaan

 pemeriksaan yang yang dilakukan dilakukan pada pada kuliy. kuliy. Adanya Adanya makalah makalah ini ini sangat sangat diharapkandiharapkan dapat menambah serta memperkaya ilmu pengetahuan tentang uji atau pemeriksaan dapat menambah serta memperkaya ilmu pengetahuan tentang uji atau pemeriksaan yang dilakukan pada kulit. Namun tidak lepas dari semua itu, penulis sangat yang dilakukan pada kulit. Namun tidak lepas dari semua itu, penulis sangat menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih sangat jauh dari menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Banyak kekurangan baik dari segi

kesempurnaan. Banyak kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa maupun daripenyusunan bahasa maupun dari segi lainnya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang segi lainnya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari pembaca sehingga penulis dapat memperbaiki makalah ini membangun dari pembaca sehingga penulis dapat memperbaiki makalah ini menjadi lebih baik lagi. Penulis berharap semoga dari makalah ini, pembaca dapat menjadi lebih baik lagi. Penulis berharap semoga dari makalah ini, pembaca dapat mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan informasi dan mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan informasi dan inspirasi terhadap pembaca. Amin.

inspirasi terhadap pembaca. Amin.

Samarinda, 19 Agustus 2018 Samarinda, 19 Agustus 2018

Tim Penyusun Tim Penyusun

(3)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii BAB I ... 1 PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 1 C. Tujuan ... 2 BAB II ... 3 ISI ... 3 A. Pengertian ... 3

B. Manifestasi Klinis Alergi Makanan ... 4

C. Uji kulit intradermal ... 5

D. Uji tusuk ( prick test ) ... 7

E. Uji gores ( scratch test ) ... 9

F. Skin Endpoint Titration (SET) ... 10

G.  Patch Testing (Uji tempel) ... 11

H.  Photo-patch Test  ... 13

I. Uji kulit tipe lambat ... 14

BAB III ... 18

PENUTUP ... 18

A. Kesimpulan ... 18

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Uji kulit merupakan cara in vivo utama dalam mengenali IgE atau antibodi reagenik. Reaksi ini terjadi beberapa menit setelah masuknya alergen. Alergen  berinteraksi dengan antibodi reagenik yang melekat pada sel pelepas zat mediator. Akibatnya terjadi suatu peradangan atau pembengkakan segera, demikian pula suatu reaksi fase lambat. Pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan suatu jarum atau garukan dan injeksi intradermal.

Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme imunologis, yaitu akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu, yang berikatan dengan sel mast. Reaksi timbul akibat paparan terhadap bahan yang pada umumnya tidak berbahaya dan banyak ditemukan dalam lingkungan, disebut alergen.3 Paparan berulang oleh alergen spesifik akan mengakibatkan reaksi silang terhadap sel mast yang mempunyai ikatan dengan afinitas kuat pada IgE. Sel mast akan teraktivasi dengan melepaskan mediator terlarut seperti histamin untuk kemudian menuju target organ, menimbulkan gejala klinis sesuai dengan target organ tersebut. Penyakit tersebut berhubungan erat dengan faktor genetik dan lingkungan. Alergen dapat masuk ke dalam tubuh melalui beberapa cara seperti inhalasi, kontak langsung, saluran cerna, atau suntikan. Kondisi lingkungan yang semakin kompleks membuat jumlah alergen meningkat.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari alergi ?

2. Uji apa saja yang dapat dilakukan pada uji kulit ? 3. Bagaimana prosedur prosedurnya ?

(5)

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari alergi

2. Untuk mengetahui uji yang dapat dilakukan pada uji kulit 3. Untuk mengetahui beberapa prosedur uji kulit

(6)

BAB II

ISI

A. Pengertian

Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme imunologis, yaitu akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu, yang berikatan dengan sel mast. Reaksi timbul akibat paparan terhadap bahan yang pada umumnya tidak berbahaya dan banyak ditemukan dalam lingkungan, disebut alergen.3 Paparan berulang oleh alergen spesifik akan mengakibatkan reaksi silang terhadap sel mast yang mempunyai ikatan dengan afinitas kuat pada IgE. Sel mast akan teraktivasi dengan melepaskan mediator terlarut seperti histamin untuk kemudian menuju target organ, menimbulkan gejala klinis sesuai dengan target organ tersebut. Penyakit tersebut berhubungan erat dengan faktor genetik dan lingkungan. Alergen dapat masuk ke dalam tubuh melalui beberapa cara seperti inhalasi, kontak langsung, saluran cerna, atau suntikan. Kondisi lingkungan yang semakin kompleks membuat jumlah alergen meningkat.

Sebagian besar alergi disebabkan oleh makanan. Aler gi makanan dasarnya reaksi hipersensitivitas tipe I yang diperankan oleh antibody IgE spesifik. Reaksi alergi makanan dapat juga didasari oleh non IgE, seperti pada trombositopenia akibat alergi susu sapi yang diperankan oleh reaksi antigenantibody-dependent cytotoxic (reaksi hipersensitivitas. tipe II), dan reaksi kompleks antigen antibodi (reaksi hipersensitivitas tipe III) dan reaksi imunologik lain seperti terdapat anti IgA gliadin antibodi pada penyakit Celiac. Reaksi hipersensitivitas tipe lambat (reaksi hipersensitivitas tipe IV) gejalanya timbul setelah beberapa jam sampai beberapa hari kemudian dan sering memberikan gejala pada saluran cerna. Sampai sekarang sulit membuktikan  patogenesis alergi makanan yang disebabkan hipersensitivitas tipe II dan tipe III. Diperkirakan sebagian besar alergi makanan didasari oleh reaksi hipersensitivitas tipe I yang diperankan oleh IgE dan reaksi hipersensitivitas tipe IV atau kombinasi dari keduanya.2,3

(7)

Sebagian besar reaksi simpang makanan tergolong intoleransi makanan. Contohnya kontaminasi toksik histamin yang dihasilkan ikan, toksin dari Salmonella atau Shigella, reaksi farmakologis terhadap kafein dalam kopi, tiramin dari keju, reaksi metabolik pada defisiensi enzim laktase dan reaksi idiosinkrasi akibat gangguan psikis.

Uji kulit sampai saat ini masih dilakukan secara luas untuk menunjang diagnosis alergi terhadap alergen-alergen tertentu. Metode ini dapat dilakukan secara massal dalam waktu singkat dengan hasil cukup baik. Prinsip  pemeriksaan uji kulit terhadap alergen ialah adanya reaksi wheal and flare pada kulit untuk membuktikan adanya IgE spesifik terhadap allergen yang diuji (reaksi tipe I). Imunoglobulin G4 (IgG4) juga dapat menunjukkan reaksi sepert i ini, akan tetapi masa sensitisasinya lebih pendek hanya beberapa hari, sedangkan IgE mempunyai masa sensitisasi lebih lama yaitu sampai beberapa minggu. Reaksi maksimal terjadi setelah 15-20 menit dan dapat diikuti reaksi, lambat setelah 4-8 jam.

Tujuan tes kulit pada alergi adalah untuk menentukan macam alergen sehingga dikemudian hari bisa dihindari dan juga untuk menentukan dasar  pemberian imunoterapi

B. Manifestasi Klinis Alergi Makanan

Manifestasi alergi makanan tipe IgE dapat bermacam- macam tergantung dari tempat dan luas degranulasi sel mast, mulai dari urtikaria akut sampai reaksi anaflaksis yang fatal. Organ target yang sering terkena adalah kulit, salura cerna, saluran napas atas, bawah, dan sistemik. Alergi dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

1. Kelompok I : Awitan timbul beberapa menit setelah memakan makanan yang jumlahnya sedikit. Gejala biasanya berupa urtikuria, angioedema,eksaserbasi eksema dan gejala saluran napas. Uji kulit positif, kadar IgE spesifik tinggi.

2. Kelompok II : Awitan timbul beberapa jam setelah memakan makanan yang jumlahnya cukup banyak. Gejala pada saluran cerna berupa muntah

(8)

dan diare. Uji kulit negative dan kadar IgE spesifik negative. Kelompok ini disebut intoleran protein susu sapi atau enteropati susu sapi.

3. Kelompok III : Awitan timbul lebih lama sampai setelah 20 ja m kemudian dan jumlah yang diminum sangat banyak. Gejala muntah, diare, gejala saluran napas dan eksaserbasi eksema. Uji kulit kadang dapat positif pada  pasien dengan eksema kulit.

Kelompok di atas pada perjalanan penyakitnya dapat berubah, misalnya dari kelompok I menjadi kelompok II atau sebaliknya. Ada 3 cara untuk melakukan uji kulit, yaitu cara intradermal, uji tusuk (prick test), sel uji gores (scratch test). Uji gores sudah banyak ditinggalkan karena hasilnya kurang akurat.

Tes kulit secara luas digunakan untuk mendiagnosis alergi inhalan dan  juga alergi terhadap makanan, racun, agen pekerjaan dan obat (Tabel 1).

Tabel 1. Perbedaan indikasi tes kulit dalam mendiagnosis alergi.

C. Uji kulit intradermal

Tehnik pemeriksaan tes intradermal mengalami beberapa modifikasi. Pada saat ini prosedur tes intradermal digambarkan dengan menggunakan jarum

(9)

26-30 G untuk menyuntikkan secara intradermal sebagian dari antigen, berbagai macam laporan mengatakan batasannya 0,01-0,05 ml. Batasan dari konsentrasi ekstrak adalah 1 : 500 sampai 1 : 1000. Test dinilai sete lah 10 –  15 menit. Pada kasus tertentu baru dapat dibaca setelah 24  –   48 jam. Wheal   dan eritema merupakan tanda dan tingkatan dalam skala subjektif adalah 0 - +4.

Tes intradermal atau tes intrakutan secara umum biasa digunakan ketika terdapat kenaikan sensitivitas merupakan tujuan pokok dari pemeriksaan (misalnya ketika skin prick test memberikan hasil negatif walaupun mempunyai riwayat yang cocok terhadap paparan). Tes intradermal lebih sensitive namun kurang spesifik dibandingkan dengan skin prick test terhadap sebagian besar alergen, tetapi lebih baik daripada uji kulit lainnya dalam mengakses hipersensitivitas terhadap  Hymenoptera  (gigitan serangga) dan  penisilin atau alergen dengan potensi yang rendah.Robert Cooke memberikan gambaran pertama kali untuk tes intradermal pada tahun 1915. Tehnik  pemeriksaannya mengalami beberapa modifikasi sejak saat itu.

Tes intradermal merupakan tes yang baik, sensitive dan lebih reproducible. Keakuratan lebih jelas didapatkan pada percobaan dengan  berbagai macam dilusi dari ekstrak allergen. Tetapi mempunyai kekurangan

dalam standarisasi protokol tes.

Kelebihan Intradermal Testing  (IDT) :

1. Lebih sensitif (dapat mendeteksi alergi dengan kadar rendah) 2. Lebih reproducible dalam satu tempat

Kekurangan Intradermal Testing  :

1. Bersifat kualitatif daripada kuantitatif

2. Tingkat dalam respon lebih bersifat subjektif

3. Tidak ada standarisasi dalam banyaknya dosis atau konsentrasinya 4. Dapat muncul reaksi positif palsu

Prosedur kerja :

Sejumlah 0,02 ml ekstrak alergen dalam 1 ml semprit tuberculin disuntikkan secara superfisial pada kulit sehingga timbul 3 mm gelembung. Dimulai dengan konsentrasi terendah yang menimbulkan reaksi, kemudian

(10)

ditingkatkan berangsur masing-masing dengan konsentrasi 10 kali lipat sampai menimbulkan indurasi 5-15 mm. uji intradermal ini seringkali digunakan untuk titrasi alergen pada kulit. Teknik uji kulit intradermal lebih sensitive disbanding  skin prick test (SPT), namun tidak direkomendasikan untuk alergen makanan

karena dapat mencetuskan reaksi anafilaksis.

D. Uji tusuk (

 pri ck test 

)

Tehnik ini digambarkan dimana satu tetesan konsentrat antigen ke dalam kulit, kemudian jarum steril 26 G melalui tetesan tadi ditusukkan ke dalam kulit  bagian superfisial sehingga tidak berdarah. Variasi dari tes ini adalah dengan

menggunakan applikator sekali pakai dengan delapan mata jarum yang bisa digunakan. Digunakan secara simultan dengan 6 antigen dan kontrol positif (histamin) dan kontrol negatif (glyserin).

(11)

 Prick test  merupakan cara cepat untuk menyeleksi antigen yang banyak. Jika pasien mempunyai riwayat yang positif dan  prick test  menunjukkan hasil yang negatif, maka pemeriksa harus menggabungkan prosedur dengan  pemeriksaan tes intradermal.Uji tusuk dapat dilakukan pada allergen hirup,

allergen di tempat kerja, dan allergen makanan. Uji tusuk dapat dilakukan dalam waktu singkat dan lebih sesuai untuk anak. Tempat uji kulit yang paling  baik adalah pada daerah volar lengan bawah dengan jarak sedikitnya 2 cm dari

lipat siku dan pergelangan tangan. Persiapan penderita :

1. Menghentikan pengobatan antihistamin 3 hari sebelum tes atau 5-7 hari sebelum tes.

2. Menghentikan pengobatan lain seperti trisiklik antidepressant, stabilizer sel mast , ranitidin, anti muntah atau beta bloker, antihistamin topikal, krim imunomodulator dan topikal steroid minimal 7 hari sebelum tes.

3. Usia : bayi dan usia lanjut tes kulit kurang memberikan reaksi, walaupun sebenarnya tes ini tidak mempunyai batasan umur.

4. Penderita dengan keganasan, limfoma, sarkoidosis, diabetes neuropati dapat terjadi penurunan reaktivitas terhadap tes kulit.

Prosedur kerja :

Setetes ekstrak alergen dalam gliserin (50% gliserol) diletakkan pada  permukaan kulit. Lapisan superfisial kulit ditusuk dan dicungkil ke atas memakai lanset atau jarum yang dimodifikasi atau dengan menggunakan jarum khusus yaitu dengan ukuran 26 ½ G atau 27 G atau blood lancet . untuk uji tusuk. Tes dibaca setelah 15  –  20 menit dengan menilai bentol yang timbul. Hasil positif bila wheal yang terbentuk >2 mm.

Untuk menilai pemeriksaan  prick test dilakukan pengukuran bentol  berdasarkan The Standardization Committee of Northern  (Scandinavian) Society of Allergology  dengan membandingkan bentol yang timbul akibat alergen dengan bentol positif histamin dan bentol negatif larutan kontrol. Adapun penilaiannya sebagai berikut :

(12)

2. Bentol larutan kontrol dinilai negatif (-)

3. Derajat bentol + (+1) dan ++(+2) digunakan bila bentol yang timbul  besarnya antara bentol histamin dan larutan kontrol.

4. Untuk bentol yang ukurannya 2 kali lebih besar dari diameter bentol histamin dinilai ++++ (+4).

Kesalahan yang sering terjadi pada Skin Prick Test 

1. Tes dilakukan pada jarak yang sangat berdekatan ( < 2 cm ) 2. Terjadi perdarahan yang memungkinkan terjadi false positive.

3. Teknik cukitan yang kurang benar sehingga penetrasi eksrak ke kulit kurang, memungkinkan terjadinya false-negative.

4. Menguap dan memudarnya larutan alergen selama tes.

Preparat antihistamin, efedrin/epinefrin, kortikosteroid dan β-agonis dapat mengurangi reaktivitas kulit, sehingga harus dihentikan setelah pasien berusia 3 tahun. Sensitivitas SPT terhadap allergen makanan lebih rendah disbanding allergen hirup. Uji SPT memiliki sensitivitas yang lebih rendah dari uji intradermal namun spesifitasinya lebih tinggi dan memiliki korelasi yang lebih  baik dengan gejala yang timbul.

Ekstrak alergen yang digunakan 1.000-10.000 kali lebih pekat daripada yang digunakan untuk uji intradermal. Dengan menggunakan sekitar 5 ml ekstrak pada kulit, diharapkan risiko terjadinya reaksi anafilaksis akan sangat rendah. Uji tusuk mempunyai spesifitas lebih tinggi dibandingkan dengan uji intradermal, tetapi sensitivitasnya lebih rendah pada konsentrasi dan potensi yang lebih rendah.

E. Uji gores (

 scratch test 

)

Prosedur yang membawa resiko yang relative rendah, namun reaksi aler gi sistemik telah dilaporkan. Uji gores kulit adalah prosedur yang membawa risiko yang relatif rendah, namun reaksi alergi sistemik telah dilaporkan. Karena test adalah perkutan, langkah-langkah pengendalian infeksi sangat  penting. Pasien harus benar-benar dan tepat mengenai risiko dan manfaat.

(13)

Masing-masing pasien kontraindikasi dan tindakan pencegahan harus diperhatikan.

Uji gores kulit harus dilakukan oleh yang terlatih dan berpengalaman staf medis dan paramedis, di pusat-pusat dengan fasilitas yang sesuai untuk mengobati reaksi alergi sistemik (anafilaksis). Praktisi medis yang bertanggung  jawab harus memesan panel tes untuk setiap pasien secara individual, dengan mempertimbangkan karakteristik pasien, sejarah dan temuan pemeriksaan, dan alergi eksposur termasuk faktor-faktor lokal. Staf teknis perawat dapat melakukan pengujian langsung di bawah pengawasan medis (dokter yang memerintahkan prosedur harus di lokasi pelatihan yang memadai sangat  penting untuk mengoptimalkan hasil reproduktibilitas.

Kontrol positif dan negatif sangat penting. Praktisi medis yang  bertanggung jawab harus mengamati reaksi dan menginterpretasikan hasil tes dalam terang sejarah pasien dan tanda-tanda. Hasil tes harus dicatat dan dikomunikasikan dalam standar yang jelas dan bentuk yang dapat dipahami oleh praktisi lain. Konseling dan informasi harus diberikan kepada pasien secara individual, berdasarkan hasil tes dan karakteristik pasien dan lingkungan setempat.

Pengakuan terhadap keterbatasan uji gores kulit penting, yaitu te rbatasnya kemampuan dalam prediksi tipe alergi reaksi lambat positif palsu atau negatif karena karakteristik alergi pasien atau kualitas. Adanya IgE tanpa gejala klinis dan tes negatif tidak mengecualikan gejala yang disebabkan oleh non-IgE mediated alergi / intoleransi atau penyebab medis lainnya ada uji ini tidak lagi digunakan karena pemeriksaannya kurang akurat.

F.

 Ski n E ndpoint Titration

 (SET)

Skin endpoint titration  (SET) adalah bentuk tes kulit intradermal yang menggunakan peningkatan dosis antigen untuk menentukan konsentrasi  perubahan reaksi dari negatif ke positif. Tes ini digunakan untuk mendiagnosis

(14)

gangguan alergi, dan merupakan alternatif yang potensial untuk tes diagnostik lainnya seperti skin prick test  atau tes in vitro.

SET juga telah digunakan untuk memandu inisiasi imunoterapi dengan menggunakan pengenceran sebagai permulaan dosis antigen. Tes intradermal atau tes intrakutan secara umum biasa digunakan ketika terdapat kenaikan sensitivitas yang merupakan tujuan pokok dari pemeriksaan (misalnya ketika  skin prick test  memberikan hasil negatif walaupun mempunyai riwayat yang cocok terhadap paparan). Tes intradermal lebih sensitif namun kurang spesifik dibandingkan dengan  skin prick test   terhadap sebagian besar alergen, tetapi lebih baik daripada uji kulit lainnya dalam mengakses hipersensitivitas terhadap h ymenoptera (gigitan serangga) dan penisilin atau alergen dengan  potensi yang rendah.

G.

Patch Testing

 (Uji tempel)

 Patch testing   atau tes tempel merupakan metode yang digunakan untuk mendeteksi zat yang memberikan alergi jika terjadi kontak langsung dengan kulit. Metode ini sering digunakan untuk menegakkan diagnosis dermatitis kontak yang merupakan reaksi alergi tipe lambat, dimana reaksi yang terjadi  baru dapat dilihat dalam 2-3 hari. Penyempurnaan dalam indikasi dan kontra indikasi, standarisasi dan interpretasi prosedur uji tempel telah dilakukan oleh  International Contact Dermatitis Research Group (ICDRG), untuk memperoleh hasil yang serupa bagi semua pusat pendidikan. Namun standarisasi unit uji tempel sampai saat ini masih bervariasi. Pemeriksaan patch test   biasa dilakukan jika pemeriksaan dengan menggunakan  prick test  memberikan hasil yang negatif.

(15)

Pada pelaksanaan pemeriksaan disiapkan 25 – 150 material yang dimasukkan ke dalam chamber   plastik atau aluminium dan diletakkan di  belakang punggung. Sebelumnya pada punggung diberikan tanda tempat-tempat yang akan ditempelkan bahan alergen tersebut. Setelah ditempelkan kemudian dibiarkan selama 48 - 72 jam. Kemudian diperiksa apakah ada tanda reaksi alergi yang dilihat dari bentol yang muncul dan warna kemerahan.

Reaksi iritasi terdiri dari sweat rash, follicular pustules dan reaksi seperti terbakar. Reaksi yang meragukan berupa warna merah jambu dibawah kamar tes. Reaksi positif lemah berupa warna merah jambu yang sedikit menonjol atau plak berwarna merah. Reaksi positif kuat berupa papulovesicle dan re aksi ekstrem berupa kulit yang melepuh atau luka. Reaksi yang relevan tergantung dari jenis dermatitis dan allergen yang spesifik. Interprestasi dari hasil yang didapatkan membutuhkan pengalaman dan latihan.

(16)

Hasil yang dinilai atau didapatkan bisa berupa : 1.  Negatif (-)

2. Reaksi iritasi (IR)

3. Meragukan/tidak pasti (+/-) 4. Positif lemah (+)

5. Positif kuar (++)

6. Reaksi yang ekstrem (+++)

Reaksi iritasi terdiri dari  sweat rash, pustul folikuler dan reaksi seperti terbakar. Reaksi positif lemah berupa warna merah jambu yang sedikit menonjol atau plak berwarna merah. Reaksi positif kuat berupa papulovesikel dan reaksi yang lebih berat berupa kulit yang melepuh atau luka. Reaksi yang relevan tergantung dari jenis dermatitis dan alergen yang spesifik. Interprestasi dari hasil yang didapatkan membutuhkan pengalaman dan latihan.

H.

Photo-patch Test 

Tes ini mencerminkan kontak fotosensitisasi (sensitivitas terhadap sinar matahari) yang dicurigai bila ruam hanya muncul pada daerah-daerah yang terkena sinar matahari.5 Reaksi dapat disebabkan oleh berbagai obat, zat yang diaplikasikan pada kulit (obat atau kosmetik) dan bahan kimia.

 Photo-patch test   menggabungkan teknik  patch test   dan  phototesting . Indikasi utama photo-patch test  adalah untuk menetapkan diagnosis dermatitis kontak fotoalergi dan menemukan alergen penyebab (Tabel 2).  Photo-patch test   juga berperan untuk membedakan fotoalergi dengan reaksi fototoksik, meskipun hal ini tidak selalu mudah.

Alergen yang telah distandarisasi diencerkan pada vehikulum lalu diaplikasikan pada chamber  seperti pada patch-test  dalam bentuk cairan. Dua set alergen yang sama disusun dan diaplikasikan pada daerah punggung secara simetris, sebaiknya dihindari pada area tengah vertebra. Oklusi dipertahankan selama 2 hari.

(17)

Tabel 2. Indikasi Photo-patch Test 

Pembacaan pertama harus dilakukan setelah membuang  patch test   yang mendeteksi reaksi kontak yang muncul sebelum penyinaran. Kemudian, satu set dilindungi dari cahaya dengan bahan yang gelap, sedangkan yang lain diiradiasi dengan UVA 5 J / cm2. Pembacaan harus dilakukan dalam waktu 30 menit setelah iradiasi untuk mendeteksi reaksi urtikaria segera. Satu bacaan lainnya harus dilakukan 2 atau 3 hari setelah iradiasi untuk mendeteksi alergi dan reaksi fotoalergi.

Dalam pembacaan penting untuk membandingkan reaksi alergen yang diiradiasi dan yang tidak diiradiasi, untuk membedakan dermatitis kontak alergi (positif pada kedua set) dan fotoalergi (positif hanya pada set yang diradiasi).

I. Uji kulit tipe lambat

Uji kulit tipe lambat digunakan untuk mengukur reaksi imunologi selular secara in vivo dengan melihat terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe lambat

(18)

setelah penyuntikan antigen yang sudah dikenal sebelumnya (recall antigen)  pada kulit.

1. Antigen yang digunakan

Uji ini menggunakan antigen spesifik yang disuntikkan secara intradermal. Antigen yang digunakan biasanya yang telah berkontak dengan individu normal, misalnya tetanus, difteri, streptokokus, tuberculin (OT), candida albicans, trychopyton, dan proteus. Pada 85% orang dewasa normal reaksi akan positif dengan paling sedikit pada satu dari antigen tersebut. Pada populasi anak persentase ini lebih rendah walaupun terdapat kenaikan  persentase dengan bertambahnya umur. Hanya 1/3 dari anak berumur <1 tahun yang akan bereaksi dengan candida dan akan mencapai  persentaseseperti orang dewasa pada usia >5 tahun.

Sebuah aplikator seklai pakai yang berisi semua antigen tersebut dengan larutan gliserin sebagai control, misalnya seperti Multi-test CMI  buatan Merieux Institute sekarang banyak dipakai. Kit ini mengandung 7  jenis antigen (candida albicans, toksoid tetanus, toksoid difteri, streptokinase, old tuberculine, trychopyton, dan proteus) serta control gliserin secara bersamaan sekaligus dapat diuji.

2. Cara kerja a. Persiapan

i. Pastikan bahwa kondisi antigen yang digunakan dalam keadaan layak pakai, pastikan cara penyimpanan dan tanggal kadaluarsanya.

ii. Harus diingat bahwa kortikosteroid dan obat imunosupresan dapat menekan reaksi sehingga memberikan hasil negative palsu.

iii. Lakukan anamnesis tentang apakah pernah berkontak sebelumnya dengan antigen yang akan digunakan.

(19)

 b. Melakukan uji

Kalau memungkinkan gunakan aplikator sehingga dapat digunakan  banyak antigen sekaligus. Hati-hati sewaktu melepas penutup antigen,

harus dengan posisi menghadap ke atas sehingga antigen tidak tumpah. Kalau tidak ada aplikator seperti itu, maka dapat digunakan antigen yang mudah didapat (tetanus, tuberculin, dan sebagainya). Dengan menggunakan alat suntik tuberculin, pastikan bahwa sejumlah 0,1 ml antigen masuk secara intrakutan hingga berbentuk gelembung dan tidak subkutan. Beri tanda dengan lingkungan.masing-masing lokasi antigen.

Hasil uji dibaca setelah 24-48 jam. Bila setelah 24 jam hasil tes tetap negatif maka cukup aman untuk memberikan dosis antigen yang lebih kuat. Indurasi yang terjadi harus diraba dengan jari dan ditandai ujungnya, diukur dalam mm dengan diameter melintang (a) dan memanjang (b). untuk setiap reakso gunakan formula (a+b):2. Suatu reaksi disebut positif bilamana (a+b):2=2 mm atau lebih. Dapat terjadi suatu reaksi kemerahan yang persisten selama 3-10 hari tanpa meninggalkan sikatriks. Pada orang yang sangat sensitive Dapat timbul vesikel dan ulserasi pada lebih dari satu lokasi antigen. Uji kulit ini saja tidak cukup untuk menyimpulkan status imunologik selular seseorang karena untuk dapat disimpulkan hasil uji harus disesuaikan dengan anamnesis dan keadaan klinik. Untuk menilai suatu uji kulit, seperti  juga prosedur diagnostic yang lain, sangat tergantung pada pemeriksaannya. Bila disimpulkan bahwa kemungkinan terdapat gangguan pada siste m imunitas selular, maka dapat dipertimbangkan pemberian imunoterapi. Tetapi untuk memulai terapi sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan secara in vivo.

Beberapa hal harus diperhatikan pada uji kulit, diantaranya:

1. Beberapa jenis makanan tidak dapat dilakukan uji kulit sebab tidak stabil misalnya buah, jeruk, pisang, pir, melon, kentang, dan wortel.

2. Anak di bawah usia 1 tahun sering memberikan hasil uji kulit negative  palsu yang sebenarnya ia alergi makanan IgE mediated . Namun uji kulit makanan masih tetap diperlukan terutama pada anak di bawah umur 1

(20)

tahun. Bila hasil uji kulit positif, lebih mempunyai arti alergi makanan, karena kadar IgE nya yang masih rendah.

3. Anak di bawah usia 2 tahun mempunyai ukuran uji kulit lebih kecil.

4. Hasil uji kulit terhadap makanan yang negative berarti alergi makanan IgE mediated   dapat disingkirkan (prediksi negative akurasinya >95%) sedangkan bila uji kulit terhadap makanan positif kemungkinan seorang memang alergi makanan  IgE mediated hanya 50% (prediksi positif akurasinya <50%).

5. Bila uji kulit negative tetapi pada anamnesis dugaan kuat terhadap alergi suatu makanan pada sindrom oral alergi, dapat dilakukan uji dengan menggunakan zat makanan tersangka dalam bentuk segar, misalnya susu sapi langsung dari kartonnya, putih telur langsung dari telur segar langsung  pada bibir dan mulutnya.

6. Uji kulit tidak dikerjakan pada pasien dengan reaksi anafilaksis.

7.

Uji kulit intradermal tidak dilakukan pada alergi makanan disebabkan  bahaya terjadinya reaksi anafilaksis.

(21)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme imunologis, yaitu akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu, yang berikatan dengan sel mast. Reaksi timbul akibat paparan terhadap bahan yang pada umumnya tidak berbahaya dan banyak ditemukan dalam lingkungan, disebut alergen.3 Paparan berulang oleh alergen spesifik akan mengakibatkan reaksi silang terhadap sel mast yang mempunyai ikatan dengan afinitas kuat pada IgE. Sel mast akan teraktivasi dengan melepaskan mediator terlarut seperti histamin untuk kemudian menuju target organ, menimbulkan gejala klinis sesuai dengan target organ tersebut. Penyakit tersebut berhubungan erat dengan faktor genetik dan lingkungan. Alergen dapat masuk ke dalam tubuh melalui beberapa cara seperti inhalasi, kontak langsung, saluran cerna, atau suntikan. Kondisi lingkungan yang semakin kompleks membuat jumlah alergen meningkat.

Uji kulit sampai saat ini masih dilakukan secara luas untuk menunjang diagnosis alergi terhadap alergen-alergen tertentu. Metode ini dapat dilakukan secara massal dalam waktu singkat dengan hasil cukup baik. Prinsip  pemeriksaan uji kulit terhadap alergen ialah adanya reaksi wheal and flare pada kulit untuk membuktikan adanya IgE spesifik terhadap allergen yang diuji (reaksi tipe I). Imunoglobulin G4 (IgG4) juga dapat menunjukkan reaksi sepe rti ini, akan tetapi masa sensitisasinya lebih pendek hanya beberapa hari, sedangkan IgE mempunyai masa sensitisasi lebih lama yaitu sampai beberapa minggu. Reaksi maksimal terjadi setelah 15-20 menit dan dapat diikuti reaksi, lambat setelah 4-8 jam.

Tujuan tes kulit pada alergi adalah untuk menentukan macam alergen sehingga dikemudian hari bisa dihindari dan juga untuk menentukan dasar  pemberian imunoterapi

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Akib, Arwin AP., Nia Kurniati dan Zakiudin Munasir. 2008. Buku Ajar Alergi- Imninologi Anak Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit IDAI

Siregar, S. P. (2001). Alergi Makanan pada Bayi dan Anak. Sari Pediatri, 3, 168 –  174.

Sudewi, N. P., Kurniati, N., & Munasir, Z. (2009). Berbagai Teknik Pemeriksaan untuk Menegakkan Diagnosis Penyakit Alergi. Sari Pediatri, 11(3).

Thaha, M. (2014). Uji Tempel Dengan Finn Dan Iq Chambers Pada Pasien Dermatitis Kontak Alergi Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Majalah Kedokteran Sriwijaya, (2), 118 – 123. Retrieved from

http://eprints.unsri.ac.id/4874/1/Uji_Tempel_Dengan_Finn_dan_Iq_Chambe rs_Pada_Pasien_Dermatitis_Kontak_Alergi_Di_Rumah_Sakit_Umum_Pusat  _Dr._Mohammad_Hoesin_Palembang.pdf

Gambar

Tabel 1. Perbedaan indikasi tes kulit dalam mendiagnosis alergi.
Tabel 2. Indikasi Photo-patch Test 

Referensi

Dokumen terkait

pemahaman petugas terhadap bahaya yang akan timbul sebagai akibat dari adanya sample yang berbahaya. Alasan malas, tidak terbiasa, dan repot untuk menggunakan APD ditemukan

Pembentukan cincin piranosa pada D-Glukosa akibat reaksi antara aldehida dan alkohol membentuk senyawa turunan yang disebut hemiasetal (Gambar 1.8), yang mengandung suatu atom

Pada reaksi efek samping hipoglikemia yang timbul akibat penggunaan dari Metformin, ditemukan pada tiga pasien dengan total skor Algoritma Naranjo yang berbeda yaitu

Infeksi ini umumnya timbul akibat sentuhan mikroba yang berasal dari luar dan dalam tubuh manusia, yang dimana, dalam keadaan normal sentuhan tersebut tidaklah berbahaya

Pada umumnya nyeri yang timbul akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau disebut nyeri akut, hal yang sama timbul tanpa adanya kerusakan jaringan yang nyata atau timbul

Salah satu jenis- jenis penyakit paru -paru yang berbahaya adalah pneumonia atau disebut juga dengan radang paru-paru.. Pneumonia dapat timbul di berbagai daerah

Kematian jentik nyamuk Aedes aegypti adalah perhitungan jumlah jentik nyamuk yang mati pada waktu diberi perlakuan akibat paparan konsentrasi ekstrak etanol kulit

Sebagian besar pasien DA mempunyai nilai immunoglobulin E (IgE) total yang tinggi serta IgE spesifik terhadap alergen lingkungan dan makanan yang positif, namun